KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-10


Ketika raksasa hitam itu melihat Mei Li yang meloncat turun dari kuda putihnya kemudian menambatkan kuda itu di pangkal batang pohon yang bekas ditebang dan masih menonjol di permukaan tanah, dia terbelalak.

"Ha-ha-ha-ha, kalian kembali untuk menebus pengantin? Bagus sekali! Kalau tidak segera kalian tebus maka pengantin perempuan itu akan menjadi milikku. Tetapi ini wah… betapa cantik jelitanya! Kalian boleh bawa sepasang pengantin sialan itu kalau si jelita ini berikut kudanya ditinggal di sini!"

Mendengar kata-kata raksasa hitam itu, anak buahnya yang berjumlah sebelas orang juga menyeringai dan mereka semua memandang kepada Mei Li dengan mata buas, membuat gadis itu diam-diam bergidik. Akan tetapi Couw Sam yang sekarang sudah bersemangat kembali, menjadi marah.

"Gerombolan Hek-i Kwi-pang, jangan bicara sembarangan! Kami datang untuk mengambil kembali semua barang dan sepasang pengantin yang kalian rampas!”

Raksasa hitam itu memandang ke sekeliling. Dia melihat bahwa Couw Sam hanya datang bersama si gadis jelita, diiringi empat belas orang anak buahnya yang telah luka-luka, sisa dari mereka yang roboh tewas dan luka berat. Dia pun tertawa bergelak.

"Apakah engkau telah gila dan hendak mengantar nyawa untuk menemui kawan-kawanmu yang sudah mampus tadi? Ha-ha-ha-ha, kalau begitu lebih bagus lagi. Si jelita ini bersama kudanya, juga pengantin perempuan itu untuk aku. Sedangkan kalian semua akan mati di sini dan bangkai kalian menjadi pupuk hutan, ha-ha-ha!"

"Raksasa hitam, jangan sombong dulu engkau! Kami datang lagi ke sini untuk menantang engkau. Jagoan kami adalah Hui-kiam Sian-li ini!" kata Couw Sam dengan suara lantang.

Si Raksasa hitam itu berjuluk Tiat-ciang Hek-mo (Iblis Hitam Tangan Besi). Sejenak dia mengerutkan alis memandang kepada Mei Li, kemudian dia tertawa bergelak. "Nona jelita ini? Ha-ha-ha, jangan bergurau!"

Kini Mei Li berkata dengan suaranya.yang merdu halus namun mengandung kelincahan, "Engkaukah kepala gerombolan Hek-i Kwi-pang ini, dan siapakah namamu?"

Si raksasa hitam itu masih menyeringai, "Engkau ingin mengenalku, nona manis? Orang-orang menyebutku Tiat-ciang Hek-mo dan akulah pemimpin Hek-i Kwi-pang."

"Bagus, tadi engkau mengatakan akan membebaskan sepasang pengantin itu kalau aku bersama kudaku menjadi pengantinya, Nah, aku terima usulmu itu. Bebaskan sepasang pengantin itu dan aku akan menemanimu di sini."

Tentu saja Couw Sam dan anak buahnya kaget sekali mendengar ucapan Mei Li ini. Tak mereka sangka bahwa gadis jelita yang lihai itu kini mau saja ditukar dengan sepasang pengantin untuk menjadi permainan si raksasa hitam.

"Ha-ha-ha, boleh… boleh sekali!" kata Tiat-ciang Hek-mo sambil memberi isyarat kepada seorang pembantunya. "Keluarkan mereka dan bawa ke sini!"

Sambil tersenyum menyeringai anak buahnya itu memasuki salah satu di antara pondok-pondok itu dan tak lama kemudian dia pun keluar lagi sambil mendorong sepasang orang muda yang masih berpakaian pengantin. Pengantin pria dan pengantin wanita itu diikat kedua tangan mereka ke belakang, dan baju pengantin wanita itu robek di bagian dada.

Untung kedatangan mereka belum terlambat, pikir Couw Sam. Agaknya pengantin wanita itu hanya baru mengalami gangguan kecil saja, belum ternoda oleh kebuasan iblis-iblis itu.

"Paman Couw, sambut dan bebaskan mereka," kata Mei Li.

Couw Sam yang tadinya meragu dan bingung, menaati perintah itu. Dia cepat menerima sepasang pengantin itu dan segera membuka ikatan tangan mereka. Pengantin wanita itu menangis di dada suaminya. Mereka masih nampak ketakutan.

"Ha-ha-ha!" Hek-mo tertawa bergelak. "Mulai detik ini engkau menjadi milikku, nona jelita, Kesinilah!" Dia mengernbangkan kedua lengannya ke arah Mei Li sambil memerintahkan seorang anak buahnya untuk menuntun kuda putih itu.

"Nanti dulu, Hek-mo! Engkau iblis hitam sudah biasa mengambil segala sesuatu dengan menggunakan kekerasan. Karena itu, untuk memiliki diriku, engkau harus menggunakan kekerasan pula. Kalau engkau tidak sanggup mengalahkan aku, bagaimana mungkin aku sudi menaatimu?"

Mendengar ucapan yang biar pun lembut namun bernada menantang itu, Hek-mo tertawa bergelak. Kancing bajunya yang terbuka memperlihatkan perut besar yang bergelombang ketika dia tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, aku bertanding denganmu? Wah, sayang kalau sampai kulitmu yang halus mulus itu lecet, manis. Apa bila engkau masih meragukan kekuatanku, nah, engkau boleh memukulku dan aku tak akan mengelak atau menangkis. Pukul bagian mana sesukamu, akan tetapi hati-hati, jangan terlalu keras karena tanganmu dapat terluka dan kalau hal itu terjadi wah…, sungguh sayang sekali... ha-ha-ha!"

Raksasa hitam itu tertawa, diikuti anak-anak buahnya yang tertawa ha-ha-he-he. Mereka semua maklum bahwa akhirnya pengantin wanita itu tidak akan dilepas begitu saja oleh kepala gerombolan itu, dan merekalah yang akan beruntung karena setelah mendapatkan pengganti yang jauh lebih cantik, tentu pengantin wanita itu akan diberikan untuk mereka!

Mei Li menghampiri raksasa hitam itu yang sekarang sudah melepas bajunya sehingga tubuhnya bagian atas telanjang. Nampaklah dada yang bidang dan penuh bulu hitam, di bawah kulit hitam itu nampak tonjolan otot-otot besar, dan perutnya yang gendut itu pun nampak keras dan berkulit tebal.

Dara itu tersenyum, kemudian memandang ke sekeliling, kepada anak-anak buah Hek-i Kwi-pang dan anak buah Pek-houw Piauw-kiok, lalu berkata lantang.

"Kalian semua mendengar sendiri bahwa Hek-mo menantangku untuk memukulnya tanpa dia mengelak atau menangkis. Kalian menjadi saksi, kalau satu pukulanku bisa membuat dia mampus, maka arwahnya tidak boleh menyalahkan aku!"

Ucapan gadis itu hanya dianggap main-main oleh Tiat-ciang Hek-mo dan anak buahnya, juga Couw Sam dan anak buahnya merasa khawatir karena mereka tidak percaya kalau dara itu akan marnpu merobohkan Hek-mo yang kebal dan kuat itu dengan sekali pukul. Mungkin saja gadis itu pandai bermain pedang, akan tetapi pukulan tangan kosong dari tangan yang kecil lembut itu, mana marnpu membuat roboh raksasa hitam itu?

"Ha-ha-ha, pukullah… pukullah! Mungkin setiap malam engkau harus memukuli tubuhku karena pukulanmu tentu akan terasa hangat dan nyaman seperti dipijati, heh-heh!" kata Hek-mo dan kembali semua anak buahnya tertawa.

Mei Li meiangkah maju lagi dan diam-diam dia mengerahkan sinkang pada tangan kirinya kemudian berseru, "Hek-mo, terimalah pijatan ini!" Tangan kirinya menyambar dengan jari tangan terbuka ke arah dada.

Raksasa hitam itu menerima pukulan dengan dada dibusungkan dan mulut menyeringai, sambil secara diam-diam dia mengerahkan tenaga untuk membuat dadanya kebal. Tetapi ternyata jari-jari tangan itu tidak menghantam atau menampar dada, melainkan mencuat ke atas lalu dua buah jari tangan yang kecil mungil, yaitu telunjuk dan jari tengah kiri Mei Li telah menotok tenggorokannya.

"Tukkk!"

Semua orang melihat betapa wajah Hek-mo tertawa lebar, akan tetapi mulut yang terbuka lebar itu tidak menutup kembali, bahkan kini dilengkapi dengan kedua matanya yang juga terbelalak lebar menyaingi mulutnya, dan dari mulut itu tidak keluar suara tawa melainkan suara seperti orang tercekik.

"Kek...! Kekk...! Kekkkk…! Aughhhh....!"

Dia memegangi leher dengan kedua tangannya, matanya mendelik, lantas dia pun roboh bergulingan seperti ayam disembelih, berkelojotan dengan mata mendelik! Dia tidak dapat bernapas! Semua anak buahnya terkejut bukan main, sedangkan Couw Sam dan kawan-kawannya memandang dengan terheran-heran, belum sempat bergembira karena belum tahu benar apa yang telah terjadi dengan Hek-mo yang mereka takuti itu.

Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar besar yang telah menanamkan watak pendekar kepada dara itu, maka dia pun tidak ingin mengambil keuntungan karena diperbolehkan memukul tanpa ditangkis atau dielakkan, apa lagi jika sampai membuat lawannya tewas. Maka, sesudah totokannya pada kerongkongan itu berhasil menyumbat jalan pernapasan Hek-mo, dia pun melangkah maju dan kaki kanannya meluncur cepat menendang ke arah kanan kiri kerongkongan itu.

"Dukk! Dukkk!"

Hek-mo dapat bernapas lagi setelah dua kali terkena sambaran ujung sepatu dara itu. Kini wajahnya berubah semakin hitam, matanya melotot dan dia pun meloncat berdiri dengan kemarahan memuncak hingga ke ubun-ubun kepalanya. Maka tahulah dia bahwa dia telah bersikap ceroboh, terlalu memandang rendah dara itu yang ternyata benar-benar memiliki kepandaian tinggi. Pantas saja para piauwsu mengajukan dara ini sebagai jagoan mereka!

Meski kerongkongannya masih terasa agak nyeri, akan tetapi pernapasannya telah lancar kembali. Maka Hek-mo memandang kepada dara itu dengan mata mencorong marah.

"Keparat! Ternyata engkau memiliki ilmu totok yang cukup kuat. Aku akan membalasmu, tapi sebelum kuhancurkan semua tulang di tubuhmu, katakan dulu siapa namamu, murid dari perguruan mana agar engkau tidak mati penasaran!"

Kini lenyaplah nada mengejek dan memandang rendah sehingga anak-anak buah Hek-mo sendiri merasa heran dan menjadi tegang karena sikap pimpinan mereka itu menunjukkan bahwa dara jelita yang masih muda itu adalah musuh yang tidak boleh dipandang ringan.

Mei Li teringat akan julukan yang diberikan Couw Sam kepadanya dan dia pun tersenyum. Mengapa tidak? Tanpa diketahui Couw Sam dan kawan-kawannya, julukan itu merupakan julukan yang amat tepat. Oleh ayah ibunya ia dibantu untuk menggabungkan ilmu pedang Siang-hui Kiam-sut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang) dan Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Dewi). la telah menguasai ilmu-ilmu pedang gabungan itu, maka jika dia dijuluki Hui-kiam Sian-li, julukan itu sungguh tepat sebagai gabungan dari Hui-kiam (Pedang Terbang) dan Sian-li (Dewi)!

"Hek-mo, sudah tulikah telingamu? Tadi Couw-piauwsu sudah memperkenalkan namaku kepadamu. Aku adalah Hui-kiam Sian-li dan sekali ini Dewi akan membasmi Iblis Hitam, sudah wajar sekali!"

Mendengar ini para piauwsu tersenyum, bahkan ada yang mentertawakan Hek-mo. Kini mereka mengerti bahwa jagoan mereka tadi telah membuat Hek-mo terkapar.

"Bocah sombong! Kau kira dengan sedikit ilmu totok itu engkau sudah merasa menang? Engkau memakai julukan Pedang Terbang! Sekarang ingin kulihat bagaimana pedangmu terbang kecuali diterbangkan oleh golokku ini!"

"Srattttt…!"

Nampak sinar berkilat ketika raksasa hitam itu mencabut goloknya. Golok besar dan berat yang juga mengerikan seperti pemegangnya. Selain lebar, panjang dan berkilauan saking tajamnya, juga punggung golok yang bentuknya seperti gergaji itu dapat membuat lawan belum apa-apa sudah menjadi gentar.

Agaknya dengan diam-diam raksasa hitam ini merasa jeri juga pada ilmu totok atau ilmu tangan kosong gadis itu, maka dia sengaja menantang untuk bertanding dengan senjata. Dianggapnya julukan Si Pedang Terbang itu kosong belaka. Mana ada pedang yang dapat terbang kecuali dalam dongeng kuno?

Sementara itu Mei Li merasa mendapat hati. Tak disangkanya bahwa hanya dengan satu totokannya saja tadi dia sudah mampu membuat raksasa hitam itu roboh. Maka timbullah kepercayaan besar pada dirinya sendiri. Dia merasa bersyukur bahwa ayah ibunya sudah menggemblengnya secara keras dan tekun, juga kakek gurunya telah memberi bimbingan selama dua tahun dengan keras. Kini timbul keyakinan dalam hatinya bahwa semua ilmu yang dipelajarinya benar-benar dapat dipraktekkan dan dimanfaatkan.

Ayah ibunya selalu menasehatinya agar dia pantang untuk membiarkan perasaan benci menguasai hatinya. Kalau pun harus menentang kejahatan, maka perbuatannyalah yang harus ditentang, bukan karena kebencian terhadap orangnya.

"Jangan sekali-kali mempergunakan ilmu kepandaian untuk menguasai orang lain, untuk memaksakan kehendak, untuk melampiaskan dendam kebencian. Kalau engkau terpaksa harus membunuh orang, maka lakukanlah itu seperti engkau membasmi ular berbisa atau binatang-binatang buas lainnya yang mengancam keselamatan manusia, tanpa rasa benci sehingga erigkau tidak akan melakukannya dengan cara yang kejam. Dan berpantanglah selalu menghadapi lawan dengan cara yang curang dan licik karena perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang pendekar."

Demikianlah ucapan ayah ibunya yang tak pernah dapat dia lupakan. Karena itu maka tadi melihat raksasa hitam itu menjadi korban totokan jari tangannya dan terancam mati lemas karena tidak bisa bernapas, dia telah membebaskan totokannya dengan tendangan kaki.

Melihat Tiat-ciang Hek-mo sudah mencabut golok besar gergajinya, Mei Li yang kini telah merasa berbesar hati dan yakin akan kemampuannya sendiri, segera mencabut sepasang pedang yang berada di punggungnya.

Dengan pasangan kuda-kuda Dewi Pedang Menari, dia berdiri dengan dua kaki bersilang, lutut agak ditekuk, pedang kiri diangkat ke atas kepala dan melintang, sedangkan pedang kanan melintang di depan dada. Mulutnya tersenyum manis namun matanya memandang tajam ke arah lawan.

Karena Couw Sam dan anak buah ingin sekali melihat bagaimana Dewi Pedang Terbang melawan raksasa hitam itu, juga anak buah Hek-mo ingin menyaksikan pemimpin mereka menundukkan gadis jelita itu, maka kedua pihak hanya menjadi penonton karena memang tidak ada yang memberi aba-aba kepada mereka untuk saling serang.

Tiat-ciang Hek-mo mengeluarkan suara gerengan seperti auman harimau, lantas goloknya menyambar dahsyat. Golok berat itu digerakkan oleh tenaga otot yang kuat, maka golok itu menyambar dengan cepatnya, mengeluarkan bunyi mengaung dan tampak sinar golok menyambar ke arah kepala Mei Li ketika Hek-mo menyerang dengan bacokan.

"Wuuuuttt...!"

Akan tetapi dengan mudah saja Mei Li mengelak ke samping karena bagi penglihatannya, sambaran golok itu terlampau lamban sehingga mudah baginya untuk menghindarkan diri dengan elakan. Sambil mengelak dia pun segera membalas dan pedang kanannya sudah menusuk ke arah lambung lawan.

"Tranggg…!"

Bunga api berpijar ketika golok itu cepat membalik kemudian menangkis tusukan itu. Mei Li terkejut karena tenaga otot lawan sedemikian kuatnya sehingga pedang kanan yang terkena tangkisan golok itu terpental, namun tidak sampai terlepas dari genggamannya.

Tahulah dia bahwa dia tidak boleh mengadu tenaga dengan raksasa ini, maka segera dia mainkan sepasang pedangnya dengan cepat dan selalu menghindarkan benturan senjata. Setiap kali lawan hendak mengadu senjata dengan tangkisan yang kuat, ia cepat menarik kembali pedang yang menyerang itu dan menyusulkan serangan dengan pedang lain.

Kekuatan melawan kecepatan! Tentu saja Tiat-ciang Hek-mo menjadi repot bukan main. Kecepatan gerakan dara itu benar-benar di luar dugaannya dan tahu-tahu ujung sebatang pedang sudah mengancamnya. Terpaksa dia memutar goloknya untuk membentuk perisai sinar golok, namun kalau hal ini dia lakukan terus menerus, berarti dia hanya melindungi diri dan tidak sempat membalas serangan. Bagaimana mungkin dia akan dapat menang kalau tidak dapat membalas dan hanya melindungi diri saja!

Walau pun kurang pengalaman, namun Mei Li yang memiliki kecerdikan itu segera dapat menemukan kelebihan dan kekurangan lawan. Harus ia akui bahwa lawannya itu memiliki tenaga gajah yang kuat sekali, akan tetapi sebagai imbangannya, lawannya itu baginya termasuk lamban. Karena itu dia pun mempergunakan kelebihannya dalam hal kecepatan untuk mendesak lawan.

Sepasang pedangnya bergerak cepat sekali, membentuk dua gulungan sinar pedang yang makin lama semakin melebar. Dari dua gulungan sinar pedang ini kadang mencuat sinar seperti kilat menyambar-nyambar ke arah tubuh Hek-mo yang dilindungi oleh perisai sinar golok yang diputar cepat ke sekitar tubuhnya.

Tiat-ciang Hek-mo terkejut bukan main sehingga berulang-ulang dia mengeluarkan suara gerengan marah sambil memaki-maki. Sungguh tak disangkanya bahwa hari ini dia akan bertemu dan bertanding melawan seorang dara yang demikian lihainya.

Gerakan dara itu demikian cepatnya sehingga sukar baginya untuk mengimbangi, bahkan untuk mengikuti gerakan sepasang pedang itu saja dia sudah merasa pening, maka satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah melindungi tubuhnya tanpa sempat membalas satu kali pun!

Kalau orang mengerti bahwa dia adalah puteri Can Kim Hong murid Si Naga Hitam Kwan Bhok Cu, maka kecepatan gerakan pedang Mei Li tidaklah mengherankan. Datuk besar ini adalah seorang yang gagu, dan dia mengadakan hubungan dengan orang lain melalui tulisan yang dibuatnya dengan tongkat, dicorat-coret di atas tanah. Bagi Can Kim Hong, dia sudah biasa melihat gerakan coretan tongkat gurunya itu, maka setiap gerakan dapat langsung dikenalnya sebagai suatu huruf tertentu.

Karena kebiasaan menulis di udara ini maka Si Naga Hitam memiliki kecepatan gerakan tangan yang diwariskan kepada muridnya itu, kemudian selanjutnya Can Kim Hong juga mengajarkan kepada puterinya. Bahkan selama dua tahun, ilmu kepandaian dara ini lalu diperdalam lagi oleh gemblengan Si Naga Hitam sendiri.

Kini gulungan dua sinar pedang itu sudah mengurung ketat hingga membuat ruang gerak golok di tangan Hek-mo makin menyempit. Ketika Mei Li mengeluarkan suara melengking nyaring, pedang kirinya sengaja dibiarkan tertangkis golok, namun dara ini mengerahkan sinkang-nya sehingga pedang kirinya menempel golok. Pedang kanannya lantas menusuk dada lawan.

Melihat keadaan yang berbahaya ini, Hek-mo segera mengerahkan seluruh tenaga untuk menarik goloknya dan membuang diri ke belakang. Ia berhasil lolos, tetapi gerakan cepat Mei Li membuat dara ini sudah dapat mengejar lantas sebuah tendangan kaki mengenai perutnya.

"Dukkk!"

Memang perut yang penuh lemak itu sangat keras dan kebal, namun tendangan Mei Li juga mengandung tenaga sakti sehingga tubuh Hek-mo terjengkang!

Anak buahnya yang melihat ini segera berteriak-teriak kemudian dengan senjata di tangan mereka maju hendak mengeroyok Mei Li. Akan tetapi gerakan mereka itu seperti aba-aba saja bagi Couw Sam dan kawan-kawannya untuk menerjang maju. Kemudian terjadilah pertempuran antara sebelas orang anak buah Hek-mo melawan lima belas orang anggota piauw-kiok yang dipimpin oleh Couw Sam.

Hek-mo sendiri menjadi bertambah marah. Dia adalah seorang tokoh sesat yang jarang bertemu tanding dan dia sudah amat percaya terhadap diri sendiri, mengagungkan dirinya sebagai jagoan tak terkalahkan.

Dia sudah terbiasa menang, maka kini kemarahannya memuncak menghadapi seorang dara yang mampu membuatnya roboh sampai dua kali,. Orang seperti dia tidak pernah dapat atau mau mengakui kekurangan dan kelemahannya sendiri. Begitu bangkit kembali karena tendangan tadi hanya membuat dia terjengkang dan tidak melukainya, dia menjadi semakin geram.

"Bunuh mereka semua! Bunuh!" teriaknya kepada anak-anak buahnya yang sudah mulai bertempur melawan para piauwsu dan dia sendiri lalu menerjang Mei Li dengan goloknya.

Tetapi Mei Li yang melihat betapa para piauwsu kini sudah bertempur melawan anak buah Hek-i Kwi-pang, merasa khawatir kalau-kalau para piauwsu tidak akan mampu menandingi mereka. Maka dara ini mengambil keputusan untuk dapat secepatnya merobohkan Hek-mo agar dia dapat membantu para piauwsu.

"Haiiiittttt…!"

Mei Li mengeluarkan teriakan melengking dan ketika tangan kirinya bergerak, pedang di tangan kirinya meluncur seperti anak panah menyambar ke arah kepala Hek-mo. Hek-mo mengira bahwa dara itu menyambitnya dengan pedang, maka dia segera menggerakkan goloknya untuk memukul pedang yang terbang ke arahnya itu.

Namun tiba-tiba saja pedang itu bergerak melengkung dan membalik ke arah pemiliknya, lalu pedang ke dua datang menyambar lebih cepat lagi. Hek-mo terkejut, tidak mengerti bagaimana pedang itu dapat terbang dan kembali kepada pemiliknya seolah hidup, dan ketika pedang ke dua menyambar, dia pun mengelak dengan loncatan ke samping. Akan tetapi seperti pedang pertama, ketika pedang ke dua ini luput mengenai dirinya, pedang itu meliuk lalu terbang kembali kepada dara itu.

Benar-benar sepasang Hui-kiam (pedang terbang), pikir Hek-mo dengan hati gentar dan kini sepasang pedang itu sudah menyambar-nyambar bagaikan dua ekor burung garuda memperebutkan korban. Betapa pun Hek-mo mengelak dan berusaha memukul pedang terbang dengan golok, tetap saja tidak berhasil. Bahkan pundak kirinya telah terluka oleh sebatang pedang, merobek kulit pundak hingga berdarah. Raksasa hitam itu mulai panik.

Dia tidak tahu bahwa kalau Mei Li menghendaki, kalau dara ini mempunyai hati kejam dan ganas, tentu semenjak tadi dia telah roboh! Mei Li masih sangsi dan merasa ngeri sendiri membayangkan bahwa dia harus membunuh orang. Gadis ini hanya ingin menyelamatkan sepasang pengantin dan merampas kembali harta benda mereka yang dirampok. Kalau telah berhasil melakukan itu dan bisa sekedar menghajar para perampok, maka cukuplah sudah baginya.

Kini Hek-mo benar-benar merasa terkejut dan gentar. Tahulah dia bahwa dara itu benar-benar amat lihai, dan julukan Hui-kiam Sian-li bukaniah kosong belaka. Belum pernah dia bertanding dengan lawan selihai ini. Hek-mo mulai panik. Meski pun anak buahnya masih bertempur seru dan ramai menghadapi Iima belas orang piauwsu itu, tapi hatinya sudah merasa gentar sekali dan dia pun melompat jauh ke belakang dengan maksud mengajak anak buah melarikan diri saja.

"Heii, monyet hitam, engkau hendak lari ke mana?!" Mendadak terdengar bentakan orang dan tahu-tahu di depan Tiat-ciang hek-mo telah berdiri seorang pemuda.

Mei Li memandang dan melihat seorang pemuda berpakaian sasterawan serba putih dari sutera putih yang halus berdiri dengan sikap lembut dan santai di depan raksasa hitam itu. Pakaian dari sutera putih ini nampak bersih sekali, dan sepatunya yang terbuat dari kulit hitam juga mengkilap bersih dan baru.

Pemuda itu tampan dengan muka putih bundar. Hidungnya mancung besar dan matanya lebar, mulutnya selalu tersenyum mengejek, rambutnya tersisir rapi dan mengkilap pula karena diminyaki. Seorang pemuda sasterawan yang tampan dan amat pesolek. Tangan kanannya memegang sebatang suling dari perak.

Melihat ada seorang pemuda yang nampak lemah berani menghalangnya, bahkan sudah memakinya monyet hitam, tentu saja Tiat-ciang Hek-mo menjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu menubruk ke depan sambil menggerakkan goloknya untuk membunuh pemuda lancang itu.

Mei Li sudah merasa terkejut dan khawatir sekali. Jaraknya terlampau jauh baginya untuk melindungi pemuda itu, maka dia hanya menyambit dengan pedang pendeknya yang dia cabut dari pinggangnya, ditujukan ke arah pundak kanan Hek-mo.

Hek-mo membacokkan goloknya ke arah kepala pemuda berpakaian putih itu. Pemuda itu dengan senyum dingin menggeser kaki ke kiri sehingga bacokan itu luput dan sulingnya bergerak ke depan, ke arah pundak kanan Hek-mo, bukan untuk menyerang pundak Hek-mo, melainkan untuk menangkis pedang yang dilontarkan Mei Li tadi untuk menolongnya.

"Cringgg…!" Pedang pendek itu tertangkis dan terpental kembali kepada Mei Li!

Dara itu terkejut. Pedang pendeknya itu merupakan pedang terbang yang digunakan tidak untuk kembali, maka tidak dipasangi tali, diperuntukkan sasaran yang jaraknya jauh dan tidak terjangkau oleh sepasang pedang terbangnya yang diikat tali sutera. Tetapi pedang itu tertangkis suling dan kembali kepadanya.

Dia menerima pedangnya lantas menyimpannya kembali, sambil menonton pertandingan yang terjadi antara Hek-mo dengan pemuda bersenjatakan suling perak itu. Dan dia pun menjadi kagum.

Pemuda itu ternyata lihai bukan main. Suling perak pada tangannya menyambar-nyambar cepat, berubah menjadi gulungan sinar perak yang menyilaukan mata dan mengeluarkan suara melengking-lengking seolah suling itu ditiup dan dimainkan orang.

Tiat-ciang Hek-mo diam-diam mengeluh. Mengapa hari ini dia menjadi sangat sial? Tadi bertanding dengan dara jelita yang luar biasa lihainya sehingga dia selalu terdesak bahkan beberapa kali roboh, juga pundaknya terluka pedang terbang, dan sekarang, kembali dia harus bertanding melawan seorang pemuda yang juga amat lihai.

Apa lagi pundaknya telah terluka dan terasa perih, juga nyalinya sudah menyempit karena dia merasa tidak mampu menandingi Hui-kiam Sian-li. Kini pemuda sasterawan bersuling perak itu ternyata juga memiliki gerakan yang amat cepat.

Pemuda itu ternyata memang hebat. Berbeda dengan Mei Li yang tadi hanya bermaksud memberi hajaran kepada Hek-mo, sekarang pemuda itu membalas dengan serangan yang mematikan. Setiap kali sulingnya bergerak, maka serangan itu merupakan cengkeraman maut.

Kini kembali Hek-mo harus melindungi dirinya dengan putaran goloknya yang membentuk benteng sinar golok. Kenekatannya untuk menyelamatkan diri ini membuat suling pemuda itu berkali-kali dapat ditangkisnya. Karena maklum bahwa kalau dara jelita dengan pedang terbangnya itu membantu si pemuda dia tentu akan celaka, Hek-mo mencari kesempatan dan ketika tangkisan goloknya yang dilakukan sekuat tenaga membuat suling perak itu terpental, dia pun meloncat ke belakang untuk melarikan diri.

"Monyet hitam mampuslah!" pemuda itu berseru.

Dan dia seperti hendak memainkan sulingnya, menempelkan suling pada bibirnya. Begitu suling itu menempel di bibirnya dan dia meniup, terdengarlah suara melengking lalu tubuh Hek-mo roboh terjungkal. Dia berkelojotan sebentar, kemudian tewaslah raksasa hitam itu.

Orang lain tentu akan merasa heran mengapa begitu pemuda itu meniup sulingnya Hek-mo terjungkal dan tewas. Akan tetapi Mei Li dapat melihat sinar hitam yang menyambar keluar dari ujung suling perak lalu menyambar ke arah tengkuk Hek-mo. Dan mengertilah dia bahwa pemuda itu sudah menggunakan senjata rahasia lembut, mungkin jarum halus hitam yang beracun untuk membunuh Hek-mo.

Jarum beracun yang mengenai tengkuk tentu saja dapat membunuh dengan cepat karena racunnya langsung masuk ke dalam kepala! Dia mengerutkan alis, dan merasa semakin tak senang melihat betapa kini pemuda bersuling perak itu mengamuk dengan sulingnya, membantu para piauwsu yang memang telah mendesak anak buah Hek-i Kwi-pang.

Pemuda itu mengamuk hebat. Dalam waktu tidak terlalu lama sebelas orang berpakaian hitam itu pun roboh dan tewas, tak seorang pun sempat melarikan diri. Tewaslah seluruh anggota gerombolan Hek-i Kwi-pang yang dua belas orang itu, sebagian besar tewas di tangan pemuda bersuling perak.

Kalau para piauwsu merasa gembira dan kagum sekali terhadap pemuda bersuling perak yang sekarang sedang mengebut-ngebutkan pakaian sutera putihnya yang terkena debu kemudian menyelipkan suling peraknya di ikat pinggangnya yang berwarna merah, maka Mei Li menghampirinya dengan sepasang alis berkerut dan pandang mata marah. Dia lalu menegur,

"Mengapa engkau membunuh mereka?"

Pemuda itu memandang, dua pasang mata bertemu pandang dan pemuda itu tersenyum sehingga nampaklah deretan giginya yang rapi dan putih, dan dagunya berlekuk ketika dia tersenyum, menambah ketampanannya.

"Nona, bukankah mereka itu gerombolan jahat dan engkau juga membantu para piauwsu ini untuk membasmi mereka? Aku Tong Seng Gun merasa kagum bukan main melihat ilmu kepandaian nona. Bolehkah aku mengetahui nama nona yang mulia?"

Sikapnya sopan dan maris, hanya pandang mata itu yang membuat Mei Li.merasa salah tingkah. Pandang mata itu seperti menembus dan menanggalkan pakaiannya!

"Aku hanya orang yang kebetulan lewat, tidak perlu dikenal siapa namaku," katanya dan dia pun memutar tubuh, menghampiri kuda putihnya yang masih tertambat di pohon.

"Taihiap, lihiap itu adalah Hui-kiam Sian-Li" kata beberapa orang piauwsu ketika melihat dara itu sudah meloncat ke atas punggung kuda putihnya lalu melarikan kuda itu dengan cepat meninggalkan hutan itu.

Pemuda itu adalah Tong Seng Gun, pemuda berusia duapuluh satu tahun, cucu Kwi-jiauw Lo-mo yang diangkat anak oleh datuk itu untuk merahasiakan bahwa sesungguhnya Seng Gun bermarga An karena dia adalah putera dari mendiang pemberontak An Lu Shan dan mendiang puterinya yang bernama Tong Kiauw Ni. Apa bila pemerintah kerajaan Tang mengetahui bahwa pemuda itu putera mendiang An Lu Shan, besar bahayanya dia akan dikejar-kejar, ditangkap dan dihukum sebagai putera seorang pemberontak yang sangat dibenci oleh Kerajaan Tang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner