KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-11


Seperti telah kita ketahui, sudah terjalin persekutuan kerja sama antara Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui dan dua orang sute-nya, yaitu Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong, bersama Bu-tek Ngo-sin-liong, para tokoh Hoat-kauw. Tiga orang datuk dan Hoat-kauw kemudian membagi tugas.

Apa bila ketiga orang datuk itu sebagai pembantu Ku Ma Khan kepala suku Mongol akan menentang suku-suku bangsa lainnya yang menjadi saingan mereka dalam memperbesar kekuasaan di pedalaman, maka Hoat-kauw bertugas untuk menundukkan aliran-aliran lain dan berusaha agar menguasai dunia kangouw. Dan untuk dapat mengawasi hasil gerakan Hoat-kauw, oleh tiga orang datuk itu Seng Gun diperbantukan kepada Hoat-kauw.

Demikianlah, pada hari itu kebetulan Seng Gun lewat di hutan itu. Begitu menyaksikan Mei Li dan para piauwsu bertempur melawan Tiat-ciang Hek-mo dan Hek-i Kwi-pang yang sebelas orang banyaknya itu, dia langsung berpihak kepada Mei Li. Bukan hanya karena menjadi tugasnya untuk membuat nama besar di dunia kangouw sebagai usaha mereka yang hendak menguasai dunia kangouw, akan tetapi terutama sekali melihat Mei Li yang demikian cantik jelita dan gagah perkasa sehingga otomatis dia berpihak kepada dara itu, tidak peduli siapa yang menjadi lawan gadis itu.

Karena gadis jelita yang sudah menyelamatkan mereka itu kini telah pergi tanpa pamit, sepasang pengantin yang semenjak tadi hanya saling rangkul dengan ketakutan melihat pertempuran, sekarang menghampiri Seng Gun dan mereka berdua segera menjatuhkan diri berlutut di depan kaki pemuda itu. Tadi mereka sudah mendengar ketika pemuda itu menyebutkan namanya kepada Hui-kiam Sian-li, maka pengantin pria itu segera berkata dengan suara lantang dan gembira.

"Kami berdua menghaturkan terima kasih kepada Tong-taihiap. Jika tadi tidak ada taihiap yang menolong, tentu kami berdua telah menjadi korban kebuasan gerombolan iblis itu."

"Terima kasih, Tong-taihiap..." pengantin wanita juga memberi hormat sambil berlutut dan mengucapkan terima kasihnya.

Seng Gun memandang lalu dia pun tersenyum. Sungguh lucu melihat sepasang pengantin yang masih mengenakan pakaian pengantin itu berlutut memberi hormat padanya. Tetapi pengantin wanita itu cantik juga. Usianya paling banyak tujuh belas tahun, wajahnya manis dan matanya jeli. Bagian atas bajunya koyak hingga nampak sedikit kulit dadanya yang putih mulus. Memang tidak sejelita Hui-kiam Sian-li, akan tetapi cukup lumayan.

"Bangkitlah kalian. Sudah menjadi tugasku untuk menolong orang-orang yang terancam bahaya. Bagaimana kalian sepasang pengantin baru dapat menjadi korban gerombolan itu?" tanya Seng Gun dengan sikap dan suara yang lembut dan gagah.

Secara singkat pengantin pria itu menceritakan bahwa setelah selesai upacara pernikahan di Lok-yang, mereka sedang menuju ke Kwi-yang, tempat tinggal pengantin pria di mana mereka akan mengadakan pesta besar di rumah pengantin pria yang kaya raya. Mereka membawa barang-barang hadiah dan berkereta, dikawal oleh Pek-houw Piauw-kiok. Akan tetapi ketika tiba di hutan itu mereka pun diserbu oleh gerombolan itu lalu mereka berdua ditangkap, barang-barang dirampas dan banyak piauwsu yang roboh tewas atau terluka. Kemudian para piauwsu datang lagi bersama Hui-kiam Sian-li dan muncul pula Seng Gun.

Seng Gun lantas menganjurkan agar para piauwsu merawat teman-teman mereka yang terluka dan mengurus semua jenazah yang berserakan di tempat itu.

"Biar aku sendiri yang akan mengawal pengantin ini dalam kereta mereka," katanya.

Mendengar ini tentu saja para piauwsu merasa girang. Memang mereka harus merawat yang luka dan mengubur yang mati, dan selain itu, apa bila mereka diharuskan mengawal kereta pengantin melanjutkan perjalanan ke Kwi-yang, mereka khawatir kalau-kalau ada kawan-kawan gerombolan itu yang akan membalas dendam dan mengganggu.

Maka mereka lalu mengambil kereta yang berisi barang-barang itu, memasang lagi dua ekor kuda penariknya dan tak lama kemudian, sepasang pengantin telah berada di dalam kereta itu yang dikusiri oleh Seng Gun.

Para piauwsu mengikuti kereta itu sambil melambaikan tangan dengan penuh kagum dan gembira. Pemuda perkasa itu sudah menyelamatkan sepasang mempelai ini berikut harta mereka, berarti mencegah nama baik perusahaan mereka mengalami kehancuran. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang pernah menduga bahwa sepasang mempelai itu seolah baru saja terlepas dari gerombolan serigala dan kini jatuh ke cengkeraman seekor harimau yang jauh lebih ganas dari pada gerombolan serigala itu!.

Seng Gun membalapkan kereta itu sambil tersenyum-senyum. Beberapa kali dia melirik ke arah pengantin wanita yang duduk di dalam kereta bersama suaminya. Mereka berdua bersyukur bahwa bukan saja nyawa dan kehormatan mereka telah diselamatkan, bahkan kereta serta barang-barang berharga mereka pun mereka dapatkan kembali! Mereka tidak menyadari bahwa kereta itu bukan menuju ke kota Kwi-yang, melainkan berbelok menuju ke utara dan memasuki daerah berhutan lebat yang sunyi.

Setelah kereta tiba-tiba berhenti barulah mereka memandang ke luar dan menyingkap tirai kereta. Bukan main kaget rasa hati mereka ketika nampak serombongan orang berjalan menghampiri kereta itu. Mereka terdiri dari belasan orang.

Karena menyangka bahwa orang-orang itu adalah gerombolan penjahat, pengantin wanita segera merangkul suaminya dengan wajah pucat. Pengantin pria itu pun ketakutan. Akan tetapi perasaan takut mereka mereda ketika mereka mendengar orang-orang itu menyapa Tong Seng Gun dengan sikap gembira.

"Aihh, dari mana engkau mendapatkan kereta yang bagus ini, kongcu?" tanya mereka.

Mendengar ini, sepasang pengantin itu menjadi lega. Kiranya orang-orang itu mengenal si pendekar yang telah menyelamatkan mereka.

"Tong-taihiap, kenapa kita berhenti di sini?" tanya pengantin pria kepada penolongnya itu ketika dia memandang keluar dan baru melihat bahwa mereka kini berada di dalam hutan yang tidak dikenalnya.

Seng Gun tersenyum. "Kita berhenti sebentar untuk beristirahat. Kalian keluarlah."

Mendengar ucapan Seng Gun yang nadanya ramah dan lembut itu, sepasang pengantin baru merasa lega dan tidak lagi curiga, maka mereka pun melangkah keluar dari kereta, penganin pria menggandeng dan membantu yang wanita turun. Pakaian pengantin wanita yang bentuknya seperti gaun itu tersingkap ketika dia melangkah turun dari kereta yang agak tinggi sehingga sekilas betis dan belakang pahanya nampak oleh Seng Gun.

Mereka memandang ke sekeliling dan merasa heran. Mereka kini berada di sebuah hutan yang sangat sepi dan di situ nampak belasan orang yang muncul. Biar pun mengenakan pakaian pribumi, jelas mereka adalah orang-orang Mongol!

Belasan orang itu adalah anak buah Seng Gun, yaitu orang-orang Mongol pilihan di antara jagoan-jagoan, dan mereka harus membantu Seng Gun yang ditugaskan membantu dan mengamati pekerjaan orang-orang Hoat-kauw yang akan menundukkan aliran-aliran lain di dunia kangouw.

Seng Gun lalu berkata kepada anak buahnya dalam bahasa Mongol yang tidak dimengerti oleh sepasang mempelai itu. Dua orang anak buahnya menghampiri pengantin pria dan berkata dalam bahasa Han yang tidak kaku karena mereka semua sudah terlatih sebelum diikutkan Seng Gun,

"Mari, tuan pengantin, beristirahatlah bersama kami," kata dua orang itu dan mereka telah menggandeng kedua tangan pengantin pria.

"Dan engkau beristirahat dengan aku, nona pengantin," kata pula Seng Gun dan dia pun menggandeng tangan pengantin wanita itu.

Tentu saja nona pengantin itu menjadi terkejut sekali. Matanya yang jeli terbelalak dan dia segera meronta hendak melepaskan tangannya yang digandeng sambil menoleh kepada suaminya yang sudah ditarik oleh kedua orang itu sehingga terpisah darinya.

"Aku mau ikut suamiku. Ahhh, taihiap... mohon lepaskan, aku ingin ikut suamiku..." Nona pengantin itu meronta dan berseru memohon.

Melihat dirinya ditarik oleh dua orang itu ke arah lain sedangkan isterinya meronta-ronta dalam gandengan pendekar yang sudah menolong mereka tadi, si pengantin pria menjadi terkejut dan curiga.

"Lepaskan aku„ aku ingin bersama dengan isteriku! Kami akan beristirahat bersama, kami tak ingin dipisahkan." Dia meronta dan hendak meiepaskan diri dari pegangan dua orang Mongol itu.

"Plakk! Plakk!"

Dua kali tamparan membuat pengantin pria itu berteriak kaget dan merasa kesakitan. Bibirnya pecah berdarah dan dia pun kini diseret oleh kedua orang itu.

Melihat apa yang dilakukan dua orang itu kepada suaminya, pengantin wanita itu menjerit dan meronta makin keras. Akan tetapi sambil tersenyum Seng Gun memondongnya dan membiarkan dia meronta-ronta, membawanya ke arah sebuah pondok, diikuti suara tawa dari belasan orang Mongol itu.

Di tepi sebuah jurang, pengantin pria itu ditendang sehingga tubuhnya terlempar masuk ke dalam jurang. Hanya terdengar teriakan memanjang lalu sunyi. Belasan orang itu lalu membongkar isi peti-peti di dalam kereta, dan mereka pun sibuk bermain-main dengan banyak barang berharga yang dibawa oleh sepasang pengantin itu. Mereka tertawa-tawa, seolah tidak mendengar jerit tangis si pengantin wanita yang dipermainkan sesuka hatinya oleh Seng Gun.

Semua orang yang di dalam hatinya masih mempunyai rasa kemanusiaan pasti akan mengutuk perbuatan yang dilakukan seorang pemuda ahli silat dan sastera seperti Seng Gun itu. Kita semua lupa bahwa menilai dan menghakimi perbuatan orang lain memang mudah sekali, karena kita tidak terlibat di dalamnya. Semua perbuatan yang tidak benar selalu merupakan ulah nafsu daya rendah yang menguasai diri.

Orang yang terlibat di dalamnya, yaitu orang yang dicengkeram oleh nafsu daya rendah, selalu didorong untuk melakukan perbuatan yang pada dasarnya hanya untuk memenuhi kehendak nafsu daya rendah, yaitu untuk memuaskan dan menyenangkan nafsu.

Nafsu selalu menggoda kita dengan bayangan-bayangan kesenangan dalam bentuk apa pun juga. Dan tidak peduli kita ini seorang kaya atau pun miskin, tua atau pun muda, pria atau pun wanita, terpelajar atau buta huruf, pandai dan bodoh, semua dipermainkan nafsu daya rendah.

Bila kita melihat orang lain yang melakukan, dengan mudah kita dapat menilai dan dapat melihat kesalahan yang dilakukan orang lain. Akan tetapi, kalau kita sendiri yang terlibat, kalau kita sendiri yang dicengkeram nafsu, tak mungkin kita dapat menerapkan penilaian seperti kalau kita melihat orang lain.

Pengertian dalam pertimbangan akal pikiran kita dapat digunakan untuk orang lain, akan tetapi bagaimana jika kita sendiri yang terlibat? Bagaimana jika kita yang didorong nafsu melakukan suatu perbuatan yang pada dasarnya hanya mengejar kesenangan, mengejar cita-cita dengan menghalalkan segala cara? Dapatkan pengertian kita, ilmu pengetahuan kita, kepandaian dan kebijaksanaan kita, mencegah dan menundukkan nafsu kita yang mendorong-dorong kita melakukan kesalahan itu?

Sungguh sulit sekali! Banyak contohnya. Kita tahu dan mengerti betul bahwa nafsu yang mendorong kita untuk marah-marah, memukul atau pun memaki adalah tidak benar. Kita paham benar! Akan tetapi dapatkah pengertian kita itu mengendalikan kemarahan kita? Semua pencuri di dunia tentu tahu dan mengerti betul bahwa mencuri adalah perbuatan yang tidak baik, berdosa. Akan tetapi bila mana nafsu sudah menguasai diri, mampukah pengertian itu mencegahnya untuk mencuri?.

Buktinya, mereka semua itu tetap saja mencuri biar pun mereka semua mengerti bahwa mencuri itu berdosa. Demikian pula dengan korupsi dan segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan orang di dunia. Mereka semua bukan orang bodoh, mereka semua TAHU dan MENGERTI bahwa perbuatan jahat itu berdosa, namun pengetahuan dan pengertian itu tidak menolong, karena nafsu telah mencengkeram diri. Bahkan nafsu daya rendah sudah meresap sampai ke tulang sumsum, sampai ke dalam hati akal pikiran sehingga hati akal pikiran yang TAHU dan MENGERTI bahwa perbuatan itu salah, bahkan menjadi pembela dari pada perbuatan itu sendiri.

Hati akal pikiran membisikkan kepada seorang koruptor misalnya, bahwa semua orang juga melakukan korupsi, bahwa upahnya tidak cukup, bahwa dia membutuhkan uang itu untuk keluarganya, bahwa korupsinya hanya kecil dibandingkan para koruptor lainnya dan sebagainya. Pikiran yang bergelimang nafsu tidak mungkin mengendalikan nafsu sendiri, tetapi kalau membela memang pandai!

Banyak sudah diusahakan manusia untuk menguasai nafsu, untuk mengendalikan nafsu. Banyak pula pelajaran-pelajaran dalam semua agama yang menjanjikan pahala bagi yang berkelakuan baik dan mengancam hukuman bagi yang berkelakuan jahat. Tapi mengapa kejahatan cenderung semakin meningkat? Karena jahat itu berarti mengejar kesenangan, dan nafsu dalam diri manusia memang selalu menjanjikan kesenangan bagi manusia.

Semua perbuatan yang mengandung pamrih kesenangan, baik kesenangan itu berupa harta, kedudukan, nama baik, pujian, janji-janji muluk dan sebagainya, adalah ulah yang didorong oleh nafsu daya rendah, nafsu yang sudah menguasai kita lahir batin. Lahirnya menguasai panca indera dan batinnya menguasai hati akal pikiran. Pelajaran-pelajaran itu mungkin dapat menolong, namun hanya untuk sementara saja, hanya seperti tambalan yang menutup untuk sementara saja.

Hanya seperti sekam yang ditaburkan pada api. Nampaknya apinya padam, akan tetapi sebetulnya masih membara di sebelah dalam dan sewaktu-waktu kalau mendapat angin akan bernyala lagi, bahkan mungkin nyalanya lebih besar dibandingkan sebelum ditutup sekam. Walau pun mungkin ada yang berhasil namun hanya jarang sekali.

Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan? Membuang atau membunuh nafsu? Tidak mungkin, karena justru nafsu daya rendah ini yang menghidupkan manusia. Nafsu adalah alat hidup, peserta hidup dan pelengkap kita. Tanpa adanya nafsu, panca indera kita tak akan dapat merasakan apa itu indah dan buruk, lezat dan tidak lezat, enak dan tidak enak, merdu atau tidak, harum atau tidak, dan sebagainya.

Tanpa adanya nafsu, pikiran pun akan terhenti, tidak akan ada kemajuan lahiriah dalam kehidupan ini, bahkan tanpa adanya nafsu birahi, perkembang biakan manusia pun akan terhenti. Nafsu mutlak perlu bagi kita, akan tetapi nafsu pun mutlak membahayakan dan menyeret kita ke dalam perbuatan-perbuatan yang hanya akan mengacaukan kehidupan di antara manusia, perbuatan yang merusak dan pada umumnya kita namakan perbuatan jahat. Nafsu adalah peserta, adalah hamba kita yang amat kita perlukan, tapi bila hamba ini telah menjadi majikan kita, maka celakalah kita. Kita akan diseret dan dipermainkan!

Mencari uang atau nafkah adalah suatu keharusan dalam kehidupan di dunia ini, namun bila nafsu telah enjadi majikan, maka kita tidak segan-segan untuk menipu, merampok, mencuri, korupsi bahkan membunuh untuk memperebutkan harta. Gairah birahi adalah kebutuhan dalam hidup karena nafsu ini yang membuat kita mau melakukan hubungan antara lawan kelamin, akan tetapi bila nafsu yang menjadi majikan, kita tak segan-segan untuk berjinah, melacur, bahkan memperkosa!


Seperti yang dilakukan oleh Seng Gun. Bukan dia tidak mengerti atau tidak tahu bahwa perbuatannya itu jahat dan keji. Dia tahu! Akan tetapi dorongan nafsunya tak akan hilang atau terhenti karena pengetahuannya itu.

Nafsu mutlak diperlukan, namun nafsu juga mutlak berbahaya. Lalu bagaimana? Hanya dengan mengembalikannya kepada Sang Maha Pencipta, yang mencipta kita, mencipta nafsu-nafsu kita, mencipta segala sesuatu, yang tampak dan tak tampak oleh mata kita, yang mengadakan segala sesuatu, mengembalikan dalam arti menyerah dengan segala kepasrahan, keikhlasan, ketawakalan. Hanya dengan kepasrahan yang sebulat-bulatnya inilah, di mana kehendak si aku atau nafsu melalui akal pikiran tidak bekerja giat lagi, maka Kekuasaan Tuhan akan bekerja!

Hanya kekuasaan Tuhan jualah yang mampu mengembalikan nafsu pada fungsi aslinya, yaitu menjadi peserta kita, menjadi pelayan kita demi kepentingan hidup berjasmani di dalam dunia ini.


Seng Gun adalah seorang manusia yang sepenuhnya dikuasai nafsu daya rendah. Budi kesusilaan memang ada pula di dalam hatinya, menjadi peserta, namun budi kesusilaan itu tertutup oleh nafsunya sehingga seolah menjadi hamba nafsu.

Sukarlah dibayangkan kekejian apa yang terjadi di dalam pondok itu, akan tetapi tiga hari kemudian, di dalam jurang yang dalam itu menggeletak mayat sepasang pengantin baru itu. Pengantin pria tewas di dalam jurang karena ditendang dan dilempar oleh orang-orang Mongol anak buah Seng Gun, ada pun pengantin wanita sengaja membunuh diri dengan meloncat ke dalam jurang untuk mengakhiri hidupnya yang penuh aib…..

********************

Perahu kecil itu meluncur dengan perlahan di tengah telaga. Penumpangnya hanya satu orang saja, seorang pemuda yang kepalanya dilindungi sebuah caping lebar yang biasa dipakai oleh para nelayan. Caping itu melindungi pemakainya dari terik matahari, juga bisa melindungi badan ketika turun hujan.

Akan tetapi pemuda itu jelas bukan seorang nelayan. Dia tidak membawa pancing, juga tidak membawa jala. Selain itu pakaiannya juga bukan seperti nelayan, melainkan seperti seorang pemuda pelajar. Wajahnya tampan sekali.

Kini dia sedang mendayung perahunya perlahan-lahan ke tengah telaga. Agaknya ia ingin menghindari keramaian, menjauhi para nelayan dalam perahu mereka yang berseliweran bercampur dengan para pelancong yang menikmati keindahan alam dan kesejukan hawa udara di telaga.

Setelah tiba di tengah telaga yang sunyi, jauh dari perahu-perahu lain, pemuda itu tidak mendayung lagi, membiarkan perahunya berhenti di tengah telaga, dan dia pun duduk di perahu, memandang ke permukaan air telaga yang tenang dan jernih sambil melamun. Pemuda itu adalah Souw Kian Bu.

Seperti kita ketahui, Souw Kian Bu pergi meninggalkan rumah orang tuanya di kota Wu-han untuk pergi merantau mencari pengalaman. Kepada mereka dia mengatakan bahwa selain ingin mencari pengalaman di dunia kang-ouw (sungai telaga, dunia persilatan), dia pun hendak berkunjung ke Gobi-pai di pegunungan Gobi.

Ketika perjalanannya tiba di telaga itu dan melihat keindahan telaga, Kian Bu amat tertarik sehingga pada pagi hari itu dia menyewa sebuah perahu dan berperahu di telaga. Kini dia duduk di atas perahunya, melamun.

Sebuah perahu yang agak besar meluncur perlahan mendekati perahunya, bahkan hampir saja membentur perahunya. Kian Bu tersadar dari lamunan dan merasa agak marah akan kesembronoan orang yang mengemudikan perahu besar itu. Kalau perahunya yang kecil tadi sampai terbentur, bukan tidak mungkin perahunya akan terguling.

Namun perahu besar itu pun berhenti, agaknya tidak didayung lagi. Dari atas perahunya dia melihat ada orang di atas perahu besar, mungkin penumpangnya berada di dalam bilik perahu yang berada di tengah perahu, hanya berupa papan di kanan kiri dan belakang, sedangkan pintu di depan tertutup tirai. Akan tetapi ketika perahu itu terbawa gerakan air agak melintang, dia melihat seorang laki-laki yang agaknya tukang perahu berada di ujung perahu dan tukang perahu inilah agaknya yang merupakan pengemudi dan pendayung perahu. Dia tidak tahu apakah di dalam bilik perahu ada orangnya.

Akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara yang-kim (kecapi) dimainkan orang. Suara yang-kim itu cukup nyaring dan dari paduan suaranya dapat diketahui bahwa pemainnya amat mahir memainkan alat musik itu.

Kian Bu yang juga pernah mempelajari permainan kecapi mendengarkan penuh perhatian, kemudian dia pun tersenyum. Lagu asmara! Dia mengenal lagu ‘Menanti Kasih’ itu yang menceritakan tentang Ci Lan, seorang puteri raja yang cantik jelita menanti munculnya kekasihnya, seorang penggembala yang sebenarnya telah dibunuh oleh raja yang tidak setuju puterinya saling mencinta dengan pemuda penggembala. Tapi arwah penggembala itu agaknya menjadi penasaran dan dia masih sering muncul dan mengadakan pertemuan dengan sang puteri, walau pun mereka tidak bisa saling bicara atau saling bersentuhan. Tapi sang puteri masih tetap mencintanya, merindukannya dan terjadilah lagu asmara itu!

Sesudah permainan yang-kim itu mengakhiri lagu asmara tadi dan berhenti, Kian Bu tidak dapat menahan kekagumannya dan dia pun berkata dengan suara bersungguh-sungguh, "Lagu yang indah, yang-kim yang merdu!"

Tukang perahu yang bertubuh tinggi kurus itu menoleh kepadanya, akan tetapi acuh saja seolah ucapan Kian Bu itu sama sekali tidak ada artinya baginya. Akan tetapi tiba-tiba dari dalam bilik perahu yang pintunya tertutup tirai sutera biru itu terdengar suara wanita yang merdu dan seperti bersajak.

"Lagu yang indah bukan lagu, yang-kim yang merdu bukan yang-kim!"

Mendengar suara ini Kian Bu tertegun. Ia merasa heran sekali dan juga penasaran, maka dia pun memandang ke arah bilik perahu besar itu dan bertanya,

"Maafkan kelancanganku, akan tetapi kalau lagu yang indah bukan lagu, lalu apakah lagu itu! Kalau yang-kim yang merdu bukan yang-kim, lalu apakah yang-kim yang sebenarnya? Mohon petunjuk."

Hening sejenak, seolah wanita yang mengeluarkan suara tadi sedang diam berpikir. Lalu terdengar lagi suaranya, suara yang merdu, juga pengucapan setiap kata amat jelas dan disuarakan seperti orang membaca sajak, setengah bernyanyi.

"Dengan matahari timbullah terang,
tanpa matahari jadilah gelap,
terang dan gelap tiada bedanya
yang satu mengandung yang lain
yang lain ada karena yang satu!
"

Kian Bu menjadi semakin kagum.. Dia bangkit berdiri di atas perahunya, mengangkat dua tangannya ke depan dada dan memberi hormat ke arah bilik di tengah perahu besar:

"Aku Souw Kian Bu merasa kagum sekali akan permainan yang-kim dan kata-kata indah yang diucapkan tadi. Kalau aku tidak dipandang terlalu rendah, aku mengharapkan untuk dapat berbincang-bincang mengenai gelap dan terang!"

Hening sejenak dan Kian Bu masih menunggu dengan kedua tangan terangkap di depan dada. Kemudian terdengar suara wanita yang merdu tadi.

"Sobat, silakan naik ke atas perahu kami. Pandangan rendah mau pun tinggi sama saja, sama-sama menjerumuskan!"

Dia berada di perahu kecil dan dipersilakan naik ke perahu besar itu, padahal di situ tidak terlihat tali atau tangga, hal ini jelas menunjukkan bahwa wanita yang mengundangnya itu hendak mengujinya, atau memang sudah dapat menduga bahwa dia memiliki kepandaian. Oleh karena itu Kian Bu juga tidak merasa perlu menyembunyikan kemampuannya.

"Maafkan kalau aku mengganggu!" Tubuhnya lantas meloncat naik ke atas perahu besar sambil membawa tali perahunya. Tanpa guncangan sedikit pun kedua kakinya menginjak papan perahu besar. Dia tidak peduli betapa tukang perahu di perahu besar itu meliriknya dengan pandang mata jalang, lalu mengikatkan ujung tali perahunya ke perahu besar.

"Bagus, ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang bagus sekali!" terdengar suara wanita itu berseru kagum.

Kian Bu memutar tubuh lalu menghadapi pintu bilik yang tertutup tirai. Pada saat itu pula nampak sebuah tangan yang jari-jarinya kecil panjang dan putih mulus menyingkap tirai, lalu muncullah seorang wanita dari dalam bilik.

Kian Bu yang telah siap untuk mengangkat kedua tangan memberi hormat, terpesona dan lupa mengangkat tangannya, hanya berdiri bengong bagaikan patung. Matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan dia tak mampu mengeluarkan kata-kata, tak mampu melakukan sesuatu seperti tiba-tiba saja kehilangan akalnya!

Selama hidupnya belum pernah dia dapat membayangkan ada seorang wanita sejelita ini, seperti bidadari dari kahyangan! Jangankan bertemu, mimpi pun belum pernah. Sebelum ini tentu dia tidak akan percaya bahwa di dunia ini terdapat seorang wanita yang memiliki kecantikan seperti ini!

Dara itu berpakaian serba putih terbuat dari sutera putih. Demikian putih bersih sehingga dia nampak semakin anggun seperti dewi! Dalam pandangan mata Kian Bu kecantikannya nampak sempurna, dengan daya tarik sedemikian kuatnya sehingga membuat dia seperti berubah menjadi patung.

Mata itu! Rambut itu! Hidung dan terutama sekali bibir itu! Wah, tidak mungkin dia dapat menggambarkan. Madu seguci pun kalah manis, bunga setaman kalah harum. Dan ketika bibir itu merekah, tersenyum dan memperlihatkan deretan gigi yang putih bersih dan rapi, membayangkan kemerahan rongga mulut serta ujung lidah, Kian Bu menjadi pusing tujuh keliling. Agaknya dia akan jatuh pingsan kalau saja dia tidak cepat menahan napas sambil mengerahkan tenaga.

"Souw-kongcu (tuan muda Souw), engkau kenapakah, memandangku seperti itu?" Mulut yang bibirnya berbentuk gendewa terpentang, merah membasah tanpa gincu itu bertanya lembut, masih membayangkan senyum geli.

Mendengar pertanyaan itu barulah Kian Bu merasa seperti diseret turun kembali dari dunia lamunan, dunia awang-awang. Mukanya berubah kemerahan, dia menjadi salah tingkah.

"Ehh, aku… eh, saya… ehh, maafkan aku. Apakah nona yang tadi bersajak dan bermain yang-kim…?" Dari tirai yang setengah terbuka dia menjenguk ke dalam bilik untuk melihat apakah ada wanita lain di dalam bilik itu.

Dara itu lalu membuka tirai pintu bilik sehingga Kian Bu dapat melihat bahwa bilik kecil itu kosong, tidak ada orang lain di dalamnya. Yang ada hanyalah sebuah meja pendek tanpa bangku dan tentu gadis itu tadi duduk bersila di atas tikar pada papan perahu. Sebuah yang-kim kecil tergeletak di atas meja, juga alat tulis yang disusun rapi. Peralatan ini saja menunjukkan bahwa dara itu adalah seorang ahli sastera yang tentu pandai menulis indah dan membuat sajak.

"Mengapa engkau merasa heran, kongcu? Apakah engkau tadi menyangka bahwa yang memainkan yang-kim seorang pria?" Dara itu menahan tawanya, dan dari susunan kata-katanya mudah diketahui bahwa dara itu seorang yang terpelajar.

Walau pun segala keindahan pada diri gadis itu masih mempesona, namun Kian Bu telah mampu menguasai perasaannya sehingga dia kini menjadi lebih tenang.

"Tidak, nona. Suaranya menunjukkan bahwa yang bersajak adalah seorang wanita, akan tetapi tidak kusangka sama sekali masih semuda nona."

Senyum itu tidak meninggalkan bibir yang mungil itu. "Mengapa engkau mengira bahwa yang bicara adalah seorang wanita tua, Souw-kongcu?'

"Karena ucapan tadi mengandung soal-soal kehidupan yang sangat rumit dan mendalam artinya sehingga aku merasa tertarik sekali untuk mengajak berbincang-bincang, tapi tidak tahunya...”

Dara itu tersenyum semakin lebar dan sepasang matanya berbinar-binar seperti bintang kembar. "Kongcu, apakah engkau sudah tua sekali? Kulihat engkau bukan kakek-kakek, juga tidak jauh lebih tua dibandingkan aku. Mari kita duduk di dalam bilik kalau memang engkau masih ingin mengajakku berbincang-bincang. Matahari mulai naik tinggi dan duduk di luar bilik akan membuat kulitku menjadi hangus. Engkau masih terlindung caping lebar, akan tetapi aku?"

"Ahh, maaf, aku telah mengganggumu, nona."

"Tidak sama sekali, mari silakan."

Dara itu memberi isyarat dengan tangannya mempersilakan Kian Bu memasuki bilik. Dia sendiri membuka sama sekali tirai pintu bilik itu sehingga kini bilik itu terbuka.

Melihat ini dada Kian Bu terasa lapang. Sungguh akan mendatangkan perasaan tak enak sekali kalau dia harus berada berdua saja dengan gadis itu di dalam bilik perahu yang pintunya tertutup! Dia mengangguk kemudian memasuki bilik, diikuti dara itu.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah duduk bersila terhalang meja. Kian Bu telah melepaskan caping dari atas kepalanya dan menaruh caping itu berdiri miring pada sudut bilik. Kini mereka duduk berhadapan dan saling pandang. Akan tetapi Kian Bu tidak berani terlalu lama menatap wajah itu, merasa seolah silau kalau memandang terlalu lama.

"Sebelum kita berbincang-bincang, sebaiknya kalau aku memperkenalkan diri lebih dulu, karena engkau tadi sudah memperkenalkan dirimu, kongcu. Namaku Ji Kiang Bwe. Nah, sekarang apa yang ingin kau perbincangkan denganku, Souw-kongcu?"

Tadi, sebelum melihat orangnya, mendengar suaranya dan permainan yang-kim, hati Kian Bu tertarik sekali dan ingin dia berbincang tentang lagu, tentang musik, tentang sajak, dan terutama tentang makna kehidupan seperti disinggung suara itu di dalam sajaknya. Akan tetapi setelah kini melihat orangnya, dia menjadi kehilangan akal dan agaknya sukar sekali dia mengeluarkan kata-kata pendahuluan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner