KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-13


Tiba-tiba daun pintu ruangan itu diketuk orang dari luar walau pun daun pintu itu terbuka. Mereka segera menoleh dan nampak Si Dayung Baja Gu Lok sudah berdiri di luar pintu. Anehnya, biar pun kini dia berada di dalam rumah, bukan di dalam perahu lagi, dia masih membawa-bawa dayung bajanya yang dipakai sebagai tongkat! Kiranya benda itu lebih banyak dipergunakan sebagai senjata dari pada sebagai dayung.

"Ah, paman Gu, masuklah. Oya, sudahkah engkau kembalikan perahu kecil yang disewa Souw-kongcu tadi?" tanya Kiang Bwe.

Gu Lok masuk lantas mengangguk. "Sudah, pangcu. Bahkan dari tukang perahu itu saya menerima titipan sesampul surat untuk pangcu." Dia menyodorkan sebuah sampul surat.

Kiang Bwe menerima surat itu dan memandang heran. "Dari manakah tukang perahu itu menerima surat untukku ini?"

"Katanya dari seorang wanita cantik yang memberinya banyak upah untuk mengantarkan surat ini kepada ketua Kim-kok-pang. Kemudian saya minta surat itu dan saya serahkan sendiri kepada pangcu."

"Duduklah, Paman Gu Lok. Perkenalkan, ini adalah toako Souw Kian Bu yang tadi sudah membantu kita di perahu." Kiang Bwe lalu membuka surat itu, sedangkan Gu Lok saling memberi hormat dengan Kian Bu kemudian duduk dengan punggung lurus dan tegak.

Sesudah membaca isi surat, Kiang Bwe mengangkat muka memandang kepada Gu Lok dan Kian Bu. "Hoat-kauw mengirim undangan kepada pimpinan Kim-kok-pang! Bagus, ini merupakan kesempatan baik bagi kita untuk datang berkunjung memenuhi undangan dan menyelesaikan urusan antara mereka dan kita."

"Pangcu hendak memenuhi undangan mereka?" tanya Gu Lok, wajahnya membayangkan keraguan dan kekhawatiran.

"Tentu saja! Mereka hendak merayakan ulang tahun dan menurut undangan mereka ini, mereka sengaja menggunakan kesempatan ini untuk berkenalan dengan para undangan yang terdiri dari perkumpulan-perkumpulan dan semua aliran di dunia kangouw. Dengan disaksikan oleh para tokoh kangouw, aku akan dapat menuntut dari Hoat-kauw mengapa mereka membunuh ayahku dan hendak memaksa Kim-kok-pang bekerja sama dengan mereka. Mereka tentu tak akan berani berbuat seenaknya di depan para tokoh kangouw."

"Kalau begitu saya akan menemani pangcu," kata Gu Lok.

"Lebih baik jangan, paman. Selama aku pergi, engkau mewakili aku mengatur anak buah dan menjaga keamanan di sini," kata dara itu dengan suara tegas.

"Baiklah, pangcu. Sekarang saya hendak mohon diri dahulu," kata Gu Lok yang tahu diri, melihat bahwa kemunculannya ini mungkin mengganggu pangcu-nya yang sedang bicara dengan tamunya.

Sesudah Gu Lok keluar, Kian Bu berkata, "Bwe-moi, biarlah aku yang menemanimu. Aku akan membantumu kalau sampai ada pihak yang memusuhimu.”

Kini sikap dara itu lebih manis, akan tetapi tetap saja tegas. "Terima kasih atas tawaran bantuanmu, Bu-ko, akan tetapi sekali lagi, kami tidak dapat menerima bantuan dari luar. Tentu engkau mengetahui bahwa urusan ini adalah urusan yang menyangkut kehormatan Kim-kok-pang, sebab itu harus dihadapi secara terhormat pula. Tidak, kami tidak mungkin dapat menarik bantuan dari luar kalangan Kim-kok-pang."

Melihat ketegasan ketua Kim-kok-pang itu, tentu saja Kian Bu tidak bisa membantah lagi karena dia pun maklum akan kebenaran pendapat itu. "Baiklah kalau begitu, hanya aku minta engkau suka memberi tahu kepadaku, kapan dan di mana diadakannya perayaan ulang tahun Hoat-kauw itu?"

"Menurut surat undangannya, perayaan itu akan diadakan di Bukit Harimau, di luar kota An-king pada permulaan bulan depan."

"Terima kasih, Bwe-moi. Sekarang aku mohon diri untuk melanjutkan perjalanan, karena aku tahu bahwa engkau tentu akan sibuk menghadapi urusan perkumpulanmu. Selamat tinggal dan selamat berpisah, Bwe-moi."

Sebenarnya Kiang Bwe ingin sekali menahan pemuda yang sejak pertama kali bertemu telah menarik hatinya itu. Akan tetapi sebagai seorang wanita, tentu saja dia merasa malu untuk menyatakan perasaannya, dan selain itu, dia pun harus melakukan persiapan untuk menghadapi undangan dari Hoat-kauw. Maka dia pun hanya dapat mengucapkan terima kasih atas bantuan Kian Bu dan dia mengikuti bayangan pemuda itu ketika meninggalkan lereng Lembah Bukit Emas…..

********************

Pemuda itu berlatih ilmu silat yang aneh. Gerakan-gerakannya lambat dan seolah gerakan memukul atau menendang dari kaki tangannya hanya main-main saja, tidak mengandung tenaga, tidak terlihat cepat mau pun kuat. Akan tetapi anehnya, pohon besar yang berada dalam jarak tiga meter di hadapannya bergoyang-goyang. Cabangnya yang sebesar tubuh manusia, cabang ranting dan daun-daunnya yang lebat bergoyang-goyang seperti dilanda angin besar sehingga banyak daun pohon yang telah kuning dan setengah kuning rontok, gugur berhamburan!

Sesudah berlatih selama setengah jam, bersilat dengan tangan kosong, pemuda itu lantas menyambar sebuah tongkat bambu di bawah pohon dan kini dia bersilat mempergunakan tongkat bambu yang panjangnya sekitar satu setengah meter.

Kalau tadi ketika bersilat tangan kosong gerakannya nampak sangat lamban dan lemah, kini setelah bersilat tongkat, gerakannya cepat bukan main sehingga lenyaplah bayangan pemuda itu dibungkus gulungan sinar tongkat dan terdengar bunyi mengaung saking kuat dan cepatnya tongkat bambu itu bergerak.

Kemudian gulungan sinar itu tiba-tiba melayang ke atas pohon, bagaikan seekor burung mengelilingi pohon dan nampak daun-daun pohon jatuh berhamburan, bukan hanya yang kuning, melainkan juga yang hijau dan ranting-rantingnya.

Tidak lama kemudian, ketika pemuda itu melayang turun, pohon itu telah berubah seperti kepala seorang yang tadinya berambut lebat tapi kini dicukur pendek dengan bentuk bulat! Ternyata tongkat itu mampu membabat ranting dan daun pohon sehingga menjadi gundul, padahal tongkat itu sama sekali tidak tajam karena terbuat dari bambu!

Setelah selesai bersilat tongkat yang aneh sekaligus juga menggiriskan itu, dia lalu duduk beristirahat di atas sebongkah batu di bawah pohon, sambil memandangi daun-daun yang berserakan dan melamun, membiarkan peluh membasahi lehernya.

Daun-daun gugur, manusia mati. Teringatlah dia akan semua orang yang dikasihinya tapi seorang demi seorang sudah meninggalkan dirinya karena mati. Mula-mula ayah ibunya tewas. Lalu orang yang mengasuhnya sejak dia kecil, yang kemudian menjadi pengganti ayah ibunya, juga mati! Demikian pula gurunya yang pertama kali, guru yang dikasihinya dan dihormatinya, mati pula terbunuh orang!

Sia Han Lin termenung, tenggelam dalam kenangan duka. Teringatlah dia akan keadaan dirinya yang kini hidup sebatang kara di dunia ini. Sejak berusia lima tahun dia terpaksa berpisah dari ayah ibunya yang berperang melawan serbuan musuh, ketika dia dilarikan mengungsi oleh Liu Ma, pengasuhnya.

Kemudian ternyata ayah ibunya itu tewas dalam perang sehingga selanjutnya dia diasuh sebagai putera Liu Ma. Cinta kasihnya kepada ayah ibunya berpindah kepada Liu Ma, dan ketika dia menjadi murid Kong Hwi Hosiang, dia menemukan lagi seorang yang dihormati dan disayangnya, yaitu gurunya itu. Akan tetapi mala petaka datang menimpa.

Liu Ma dan Kong Hwi Hosiang tewas di tangan tiga orang Raja Iblis yang kejam. Bahkan dia sendiri tentu sudah tewas pula kalau tidak ditolong oleh gurunya yang sekarang, yaitu kakek yang hanya dia kenal sebagai Lo-jin (Orang Tua). Akan tetapi gurunya ini seorang manusia yang aneh dan agaknya tidak mungkin dapat mempunyai perasaan kasih sayang terhadap manusia aneh ini seperti yang dirasakan terhadap mendiang Kong Hwi Hosiang dan Liu Ma.

Lo-jin seolah tidak terikat oleh apa pun juga, tidak membutuhkan kasih sayang, juga tidak pernah menunjukkan kasih sayang, tetapi setiap gerak geriknya tak pernah menyusahkan apa dan siapa pun. Ilmu-ilmu yang diajarkan kepadanya selama lima tahun ini pun ilmu yang aneh, namun karena yakin bahwa Lo-jin adalah seorang manusia seperti dewa, Han Lin menaati semua petunjuknya dan selama lima tahun ini berlatih dengan amat tekunnya.

Teringat akan semua keadaan dirinya, timbul perasaan iba diri dan terbenamlah Han Lin ke dalam duka. Hatinya bagaikan diremas-remas. Dia adalah putera seorang yang pernah menjadi raja, hidup bergelimang kemuliaan dan kehormatan, lalu tiba-tiba saja dia menjadi yatim piatu, bahkan sekarang dia tidak memiliki apa-apa lagi kecuali dirinya sendiri!

Dan gurunya, satu-satunya orang yang dekat dengan dirinya, yaitu Lo-jin, jarang berada di puncak itu, membiarkan dia seorang diri saja. Bahkan kini, sudah dua minggu gurunya itu pergi entah ke mana. Pergi tidak pernah pamit, datang tidak pernah memberi tahu, seperti angin saja.

Ketika Han Lin duduk termenung bertopang dagu itu, murung dan perasaannya tertekan, dia tidak merasakan bahwa ada angin lembut bertiup dan bayangan seorang kakek yang rambutnya seperti benang sutera putih sudah berdiri di belakangnya. Andai kata Han Lin tidak sedang tenggelam dalam lamunan, tentu pendengarannya yang terlatih dan tajam itu dapat menangkap gerakan seringan daun kering itu.

Tetapi sekarang dia sedang tenggelam dalam kedukaan, maka dia sama sekali tidak tahu bahwa gurunya, Lo-jin, kini telah berdiri di belakangnya. Kakek bertubuh tinggi agak kurus dengan wajah putih kemerahan, matanya berbinar-binar laksana bintang, kumis, jenggot serta rambutnya sudah putih semua itu, kini berdiri dan mengelus jenggotnya, tersenyum dan mengangguk-angguk. Tongkat bambu di tangannya kemudian digerakkan melintang di depan dadanya sehingga terdengarlah suara mengaung.

Mendengar suara ini barulah Han Lin sadar dari lamunannya dan sebelum membalikkan tubuh, dia sudah tahu siapa yang datang. Karena itu dia segera menjatuhkan diri berlutut dan membalik, memberi hormat kepada gurunya.

"Suhu," suaranya masih mengandung duka, walau pun dia berusaha menekannya.

"Han Lin, apakah jurus-jurus terakhir dari Khong-khi-ciang (Tangan Udara Kosong) dan Pek-lui-tai-hong-tung (Tongkat Petir Badai) sudah dapat kau kuasai dengan baik?"

"Sudah, suhu. Apakah suhu menghendaki agar teecu memainkannya?"

"Tidak, aku sudah percaya bahwa engkau telah menguasainya dengan baik. Akan tetapi kenapa engkau berduka?"

Han Lin maklum bahwa dia tidak mungkin dapat membohongi gurunya, maka dia pun lalu berkata,

"Suhu, tadi teecu teringat akan kematian orang-orang yang teecu sayang sehingga teecu merasa berduka sekali. Maaf, suhu, teecu mengerti benar bahwa duka adalah sia-sia dan timbul dari iba diri, bahwa sesungguhnya amat tidak baik dan tidak sehat membiarkan diri tenggelam di dalam duka. Akan tetapi pengertian teecu itu tidak banyak menolong, suhu. Teecu tetap berduka. Beruntung sekali bahwa suhu kembali pada saat teecu dilanda duka nestapa yang amat menekan hati, maka teecu mohon petunjuk. Suhu, mohon teecu diberi petunjuk bagaimana teecu akan dapat menguasai hati dan mengendalikan nafsu supaya teecu tidak dicengkeram duka."

Kakek itu tersenyum. Senyumnya mendatangkan kelembutan yang sangat mengharukan karena wajah itu persis wajah seorang bayi yang suka tertawa-tawa sendiri secara wajar. Kemudian dia ber kata dengan suara halus.

"Han Lin, segala macam jalan atau cara untuk mengendalikah nafsu juga merupakan ulah nafsu itu sendiri, karena cara didorong oleh suatu keinginan untuk mencapai sesuatu dan ini hanyalah ulah nafsu yang pandai mengubah bentuk dan ragam. Sesungguhnya usaha untuk melenyapkan duka tak ada bedanya dengan duka itu sendiri, keduanya bersumber kepada si-aku yang menjadi duka karena terkenang akan sesuatu, dan si-aku pula yang menginginkan agar tidak berduka. Karena itu, usaha apa pun yang bersumber dari si-aku, tidak akan dapat berhasil dengan sempurna."

"Kalau begitu apa yang dapat teecu lakukan, suhu? Teecu paham benar, menurut ajaran kitab-kitab agama, juga menurut petuah-petuah yang teecu dapatkan dari mendiang suhu Kong Hwi Hosiang dan dari suhu, sungguh tidak baik bila kita membiarkan diri tenggelam di dalam duka, akan tetapi pengetahuan teecu itu tidak menolong melenyapkan duka dari hati teecu. Teecu menjadi bingung, suhu. Mohon petunjuk."

Kakek itu menghela napas panjang. Bukan karena sedih dan bukan pula karena kecewa. "Apa pun yang engkau lakukan atau tidak lakukan, kalau itu bersumber dari si-aku, maka akan sama saja palsunya dan sia-sianya. Bersikaplah wajar-wajar saja, Han Lin. Jangan menentang segala yang kau lakukan sendiri. Bila engkau dilanda duka, maka bedukalah, kenapa mesti dipersoalkan lagi? Selama kita masih hidup di dalam jasmani ini, kita tidak akan terlepas dari segala macam perasaan susah senang puas kecewa dan sebagainya. Tetapi yang paling penting adalah menyadari akan semua itu, mengamati setiap gejolak nafsu yang menguasai hati akal pikiran dan yang mengemudikan semua gerak gerik kita. Menyadari sepenuhnya bahwa semua itu adalah ulah si-aku, yaitu nafsu yang mengaku-aku. Yang berduka itu adalah hati dan pikiranmu. Seperti juga yang marah, yang kecewa, yang iri, yang diserang penyakit, semuanya itu hanyalah alat-alat atau anggota tubuhmu. Kesadaran yang sepenuhnya ini akan membuat kita yakin bahwa semuanya itu hanyalah permainan nafsu belaka. Bahkan kalau kematian tiba, yang mati hanyalah tubuh jasmani belaka. Selama nafsu daya rendah menguasai hati akal pikiran, maka di dalam kehidupan ini kita akan selalu menjadi permainannya, dan semua yang kita lakukan dikemudikan oleh nafsu daya rendah. Bahkan usaha kita untuk mengendalikan atau menguasai nafsu juga datang dari nafsu daya rendah. Karenanya, biar pun kita mengerti akan suatu perbuatan yang tidak benar, kita tetap saja tidak mampu menghentikan perbuatan itu."

"Suhu, kalau begitu alangkah celakanya hidup ini. Kita dibiarkan menjadi korban, setiap saat dicengkeram dan diperhamba nafsu tanpa kita mampu membebaskan diri!"

"Tidak, Han Lin. Di samping nafsu daya rendah yang diikut sertakan di dalam kehidupan kita, masih ada sesuatu yang berkat Kasih Sang Maha Pencipta, disertakan pula kepada kita. Sesuatu yang biar pun nampak tipis dan hampir tidak nampak, namun selalu ada dan tidak pernah meninggalkan manusia, sesuatu yang menjadi bukti dan saksi betapa Tuhan Maha Kasih dan Maha Pengampun. Sesuatu inilah yang merupakan tali yang tidak pernah terputuskan, yang menghubungkan manusia kepada Tuhan Sang Maha Pencipta. Tinggal terserah kepada manusia sendiri, apakah akan mengabaikanNya dan menyerah kepada nafsu, atau memperkuat ikatan yang akan menghubungkan manusia dengan kekuasaan Tuhan yang selalu bersemayam di dalam dan luar diri setiap orang manusia itu."

"Lalu bagaimana caranya agar ikatan itu dapat diperkuat, suhu?"

"Usaha manusia tidak akan membawa hasil. Hanya Kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu mengaturnya. Apa bila Kekuasaan Tuhan sudah bekerja, maka dengan sendirinya nafsu daya rendah akan kembali ke tempat mereka semula, menjadi hamba yang baik, bukan menjadi majikan yang kejam. Dan supaya Kekuasaan Tuhan dapat bekerja, maka semua daya kerja hati akal pikiran haruslah berhenti. Kalau kita hidup selaras dengan To, maka To yang akan bekerja mengatur segalanya dan apa pun yang diatur oleh To sudah pasti sempurna. Kekuasaan Tuhan bekerja dengan sempurna, Maha Murah, Maha Kasih, Maha Adil , Maha Pengampun dan.Maha Kuasa. Satu-satunya yang dapat kita kerjakan hanyalah menyerah, dengan penuh keikhlasan, penuh kepasrahan, penuh ketawakalan."

"Tetapi, suhu. Bukankah menyerah ini pun merupakan suatu usaha dari hati akal pikiran?"

"Bukan, Han Lin. Usaha selalu mengandung pamrih uncuk mendapatkan sesuatu. Tetapi menyerah dengan kepasrahan tidak mengandung usaha apa pun dan tidak menginginkan apa pun, karena kalau ada keinginan mendapatkan sesuatu, itu bukan pasrah namanya. Pasrah dalam arti kata yang sesungguhnya sama dengan mati, seperti orang yang dalam tidur, apa pun yang akan tiba menimpa dirinya, terserah kepada Tuhan. Andai kata pada waktu itu Tuhan hendak mencabut nyawanya, dia pun akan menyerah tanpa membantah, ikhlas, pasrah, tawakal."

"Kalau begitu bukankah kita lalu menjadi malas dan hanya menyerahkan segala-galanya kepada Tuhan saja, suhu?"

"Sama sekali tidak, Han. Lin. Itu bukan menyerah dengan kepasrahan, ketawakalan dan keikhlasan namanya, melainkan ingin mempersekutu Tuhan, bahkan ingin enaknya sendiri saja. Tuhan sudah menciptakan kita lengkap dengan segala alat yang ada pada diri kita, dan semua itu diciptakan bukan percuma, melainkan diciptakan untuk digunakan, untuk dimanfaatkan. Kalau tidak kita pergunakan, tidak kita manfaatkan, itu berdosa namanya, dan penggunaannya, pemanfaatannya haruslah untuk kebaikan, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain, selaras dengan To, berarti membantu pekerjaan Kekuasaan Tuhan. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan di alam maya pada ini bekerja, bergerak, dan itu berarti bekerja. Bahkan bintang matahari dan bulan pun bekerja bergerak tiada hentinya. Kita yang dlberi perlengkapan yang sempurna, tentu saja harus bekerja, berusaha demi memenuhi semua keperluan dan kebutuhan hidup di dunia. Kita harus makan agar tidak mati kelaparan, kita membutuhkan pakaian agar tidak mati kedinginan, kita membutuhkan tempat tinggal untuk berlindung dari binatang buas, angin dan panas atau hujan. Untuk memenuhi kebutuhan itu, tentu saja kita harus mencarinya dengan berusaha dan bekerja! Tetapi semua pekerjaan itu barulah benar kalau didasari kepasrahan, didasari penyerahan kepada Tuhan sehingga apa pun yang kita lakukan, akan sejalan dengan To."

Han Lin mengangguk-angguk. Dia mengerti benar apa yang dimaksudkan oleh gurunya. "Mudah-mudahan teecu tidak terlalu dipermainkan nafsu daya rendah dan semoga teecu akan mendapat pengampunan dan bimbingan Tuhan dengan iman dan penyerahan, suhu."

"Semoga Tuhan memberi jalan kepadamu, Han Lin. Tetapi sekarang aku ingin memberi tahu kepadamu bahwa sudah tiba saatnya bagi kita untuk berpisah. Aku akan melanjutkan perjalananku dan engkau pun harus melanjutkan jalan hidupmu sendiri. Sekali lagi ingat, dengan ilmu yang kau pelajari, berarti engkau menjadi abdi keadilan dan kebenaran, tetapi bukan keadilan dan kebenaran bagi pribadimu. Semua perasaan pribadi ini harus engkau singkirkan, kalau tidak engkau tidak akan mungkin dapat bertindak adil. Cari dan mintalah petunjuk dari Tuhan, maka engkau pasti akan menerima petunjukNya."

"Suhu…!" Han Lin terkejut.

Tentu saja dia merasa terpukul. Baru saja dia menyusahkan kematian orang-orang yang dikasihinya dan kini gurunya, orang terakhir yang terdekat dengannya, menyatakan bahwa mereka harus berpisah.

"Han Lin, lupakah engkau bahwa justru keterikatan itulah yang menjadi penyebab utama dari duka? Mempunyai namun tidak memiliki, itulah seyogianya. Secara lahiriah kita boleh mempunyai apa pun juga, namun secara batiniah kita tidak memiliki apa-apa. Nah, cukup sudah, tongkatku ini boleh kau miliki, benda ini sudah puluhan tahun tak pernah lepas dari tanganku." Nampak bayangan berkelebat dan yang kini tinggal di depan Han Lin hanyalah sebatang tongkat bambu yang menancap di atas tanah. Lo-jin telah lenyap seperti ditelan bumi.

Han Lin memberi hormat ke arah berdirinya gurunya tadi sambil berlutut sampai delapan kali, kemudian dia bangkit, mencabut tongkat bambu yang biasa dipegang oleh gurunya, mencium gagang tongkat itu dan berbisik. "Suhu, terima kasih!"

Setelah itu Han Lin menuruni puncak, menggendong buntalan pakaian pada punggungnya dan membawa sebatang tongkat bambu yang selama ini tidak pernah terpisah dari tangan Lo-jin. Lima tahun lamanya dia menerima gemblengan kakek sakti yang luar biasa itu, dan kini dia sudah dewasa, sudah berusia dua puluh tahun!

Ke mana dia harus pergi? Teringat akan ini, setibanya di puncak sebuah lereng dia lantas berhenti kemudian memandang ke sekeliling Alam di bawah sana seolah tengah menanti, menggapaikan tangan kepadanya.

Akan tetapi ke arah mana dia harus pergi dan apa atau siapa yang menantinya di sana? Dia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Liu Ma telah tewas, juga Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio para pembantu Kong Hwi Hosiang.

Mengunjungi kuburan mereka? Tidak banyak artinya. Pernah Lo-jin bicara dengan lembut mengenai hal itu. Mengunjungi kuburan orang tua hanyalah merupakan kewajiban untuk menjaga agar kuburan mereka itu bersih dan terawat, tapi bukan sebagai bukti kebaktian.

Kebaktian terhadap orang tua yang sebenarnya bukan dilihat dari pemeliharaan kuburan, melainkan dalam sepak terjang kita sehari-hari, dalam kelakuan kita. Kelakuan yang baik akan mengangkat nama baik orang tua, sebaliknya kelakuan buruk akan menodai nama orang tua, walau pun orang tua sudah meninggal.

Teringat akan kata-kata gurunya itu, Han Lin tidak lagi ingin berkunjung ke kuburan orang-orang yang dulu disayangnya itu. Akan tetapi ada hal lain yang mendorongnya untuk pergi ke dusun Libun.

Dia harus melihat apa yang terjadi dengan penduduk dusun itu semenjak lima tahun yang silam Sam Mo-ong mengganas di sana. Sudah menjadi kewajibannya untuk turun tangan menolong bila penduduk dusun itu tertindas oleh perbuatan sewenang-wenang tiga orang datuk iblis itu.

Ya, dia akan pergi ke dusun Libun, Setelah itu baru dia akan melanjutkan perjalanannya, mencari keluarga ibunya! Kenapa dia harus merasa tidak mempunyai keluarga dan hidup sebatang kara? Di sana.masih ada dua orang kakak mendiang ibunya!

Kakak perempuan ibunya bernama Yang Kui Lan dengan suaminya yang bernama Souw Hui San, ada pun kakak laki-laki ibunya bernama Yang Cin Han dengan isterinya Can Kim Hong. Dia mengenai nama-nama itu dari mendiang ibunya dan tak pernah dia melupakan nama-nama itu. Juga tempat tinggal mereka.

Menurut ibunya, pamannya Yang Cin Han tinggal di Lok-yang, dan bibinya Yang Kui Lan tinggal di Wu-han. Kelak dia akan mengunjungi mereka. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana paman dan bibinya itu akan menerimanya, dan ketika membayangkan segala kemungkinan mengenai penyambutan itu, timbullah ketegangan dan kegembiraan dalam hatinya.

Dengan jantung berdebar karena tegang Han Lin memasuki dusun Libun. Alangkah dekat dusun ini dengan hatinya, baru sekarang dia merasakannya. Semua benda yang terdapat di sana, pohon-pohon, rumah-rumah dusun, batu-batu besar, selokan-selokan, semua itu begitu ramah menyambutnya dengan kenangan manis, membuat dia merasa bertemu lagi dengan sahabat-sahabat lama.

Hal ini tidaklah aneh karena selama sepuluh tahun dia tinggal di dusun Libun. Akan tetapi agaknya tidak ada seorang pun penduduk dusun itu yang mengenalnya. Ketika dia pergi, kepergiannya dianggap sebagai kematian oleh para penduduk yang mendengar bahwa dia sudah terlempar ke dalam jurang bersama ibunya, yaitu Liu Ma, dan ketika itu, lima tahun yang lampau, dia adalah seorang pemuda remaja, sedangkan sekarang dia telah menjadi seorang pemuda dewasa.

Akan tetapi dia masih dapat mengenali wajah-wajah tua yang tidak mengalami perubahan, hanya wajah-wajah itu sekarang nampak muram, tidak seperti dahulu. Dia tidak mengenal wajah-wajah muda penduduk Libun, karena seperti juga dia, orang-orang muda itu dahulu masih kanak-kanak atau remaja ketika dia pergi.

Agaknya tidak ada seorang pun di antara penduduk dusun Libun yang menaruh perhatian terhadap Han Lin. Dia hanya seorang pemuda berpakaian sederhana yang menggendong buntalan pakaian dan membawa tongkat bambu. Siapakah yang akan menaruh perhatian terhadap seorang pemuda sesederhana ini?

Satu hal yang agak menghibur hati Han Lin adalah melihat betapa para penghuni dusun Libun itu, tua muda, nampak rajin bekerja. Mereka berlalu-lalang dengan langkah tergesa-gesa, membawa alat pertanian atau alat-alat untuk menangkap ikan. Hal ini berarti bahwa penghuni dusun Libun masih memiliki penghasilan yang cukup baik. Hanya saja, mengapa wajah-wajah itu nampak demikian muram?

Han Lin menuju ke rumah di mana dulu dia tinggal bersama Liu Ma. Dan hatinya sangat terharu ketika melihat rumah itu masih seperti dulu, terpelihara baik-baik, pekarangannya disapu bersih dan semua pohon yang tumbuh di pekarangan masih seperti dahulu, hanya sudah tumbuh menjadi lebih besar.

Jantungnya berdebar tegang, seolah dia akan melihat ibunya muncul dari pintu depan lalu menyambutnya. Dia merasa seperti dahulu kalau pulang ke rumah itu. Sebenarnya masih samakah keadaannya? Apakah semua yang dialami lima tahun ini hanya mimpi belaka?

Dia bahkan merasa betapa hatinya mengharapkan bahwa Liu Ma betul-betul akan muncul menyambutnya dengan senyuman serta pandang matanya yang khas, yang penuh kasih sayang kepadanya! Ketika dia naik ke beranda depan, hampir saja mulutnya memanggil Liu Ma seperti dahulu, dengan sebutan ibu.

Dia cepat menahan suaranya karena pada saat itu dari pintu depan muncul seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun. Pria ini nampak tua dan lemah, namun Han Lin segera mengenalnya.

“Paman Akui!" serunya gembira.

Lima tahun yang lalu laki-laki ini adalah seorang pembantu rumah tangga, terutama dalam mengurus kebon. Dia sangat dipercaya oleh ibunya karena memang jujur dan setia walau pun buta huruf.

Akui memandang pemuda itu dengan alis berkerut. "Siapakah engkau?" katanya meragu. "Dan ada keperluan apa berkunjung ke sini?"

Pandang matanya jelas membayangkan keheranan bahwa pemuda yang tidak dikenalnya itu mengetahui namanya. Dia merasa pernah mengenal pemuda Ini, akan tetapi lupa lagi entah di mana.

"Paman, apakah paman sudah lupa kepadaku? Aku Han Lin, paman."

Sepasang mata itu terbelalak dan tampak ketakutan, lalu orang itu terhuyung ke belakang seperti telah didorong. "Tidak… tidak..." dia menggeleng-geleng kepala dan mengangkat kedua tangannya seperti hendak melindungi dirinya. "Setan kau... roh penasaran…"

Han Lin merasa kasihan, akan tetapi juga geli. Dia tersenyum kemudian berkata lembut. "Paman Akui, apakah aku kelihatan seperti setan? Lihatlah baik-baik, aku adalah Han Lin yang lima tahun lalu tinggal bersama mendiang ibu di sini. Aku sudah pulang, paman. Aku masih hidup, belum mati dan bukan roh penasaran.."

Akui dapat menenangkan hatinya lantas dia memandang penuh perhatian, agaknya mulai percaya bahwa yang berdiri di hadapannya bukan setan, bukan roh penasaran, melainkan seorang pemuda dari darah daging dan kini dia mulai mengenali wajah itu!

"Tapi... bukankah lima tahun yang lalu engkau telah mati, terlempar ke dalam jurang dan tewas bersama ibumu? Lihat, itu di dalam ada meja sembahyang untuk menyembahyangi arwah ibumu dan arwahmu "

'Tidak, Paman. Ibu memang tewas terjatuh ke dalam jurang, akan tetapi aku tidak mati. Tuhan masih melindungi dan menghendaki aku masih hidup."

"Tapi kalau memang begitu, kenapa sampai lima tahun baru engkau pulang? Selama lima tahun ini, engkau di mana saja...?" Agaknya Akui belum yakin benar bahwa pemuda yang berdiri di depannya adalah Han Lin.

"Panjang ceritanya, paman. Marilah kita bicara di dalam saja. Selain banyak yang hendak kuceritakan, juga banyak yang hendak kutanyakan kepadamu. Jangan ragu, paman Akui, aku benar-benar Han Lin yang ketika berusia enam tahun pernah jatuh dari atas pohon di pekarangan depan itu dan untung ada paman di bawah pohon sehingga tubuhku menimpa paman dan tidak cedera."

Mendengar ini barulah Akui yakin. Bagaimana mungkin pemuda ini dapat mengetahui apa yang terjadi belasan tahun yang lalu itu kalau pemuda ini bukan Han Lin yang asli? Lagi pula kini dia dapat melihat bahwa wajah Han Lin tidak berubah dari wajahnya lima tahun yang lalu, walau pun kini dia lebih tinggi dan tegap.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner