KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-14


"Kongcu, benar-benar engkaukah ini?" Suaranya menjadi serak dan dua matanya basah ketika Akui memegang tangan Han Lin. "Aihh, kongcu betapa mala petaka telah menimpa kita bersama, seluruh warga dusun kita menderita sengsara."

Han Lin tidak ingin orang lain mendengar ucapan ini, maka dia lalu menggandeng tangan Akui dan diajaknya orang tua itu masuk ke rumah lalu duduk di ruangan dalam. Ternyata perabot rumah itu pun masih seperti dahulu, tidak diubah sama sekali dan agaknya yang mengurus rumah itu hanya Akui seorang karena tidak terdapat orang lain di situ. Setelah duduk, agar meyakinkan hati Akui bahwa dia benar Han Lin, pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya secara singkat.

"Memang benar bahwa lima tahun yang lalu orang-orang jahat itu membuat aku terjungkal ke dalam jurang, paman. Akan tetapi aku dapat berpegang kepada pohon yang tumbuh di dinding jurang sehingga nyawaku selamat. Ibu tewas di dasar jurang dan sudah kukubur jenazahnya. Biar pun aku terluka, tetapi aku diselamatkan seorang kakek yang kemudian menjadi guruku dan aku dibawa pergi untuk menjadi muridnya selama lima tahun. Setelah lewat lima tahun barulah aku diperkenankan untuk pulang ke sini.”

Akui menyusut air matanya karena merasa sedih dan terharu. "Ahh, ternyata Tuhan telah melindungi orang yang tidak berdosa. Tidak sia-sialah selama lima tahun ini aku merawat rumah ini, menjaga dan membersihkannya sungguh pun semua orang menertawakan aku dan mengatakan bahwa engkau dan ibunya telah tewas. Aku mengambil keputusan untuk merawat terus rumah ini sampai aku mati, ternyata kini tiba-tiba engkau pulang, kongcu, seperti seorang bangkit kembali dari kuburan."

"Aku berterima kasih sekali kepadamu, paman Akui, tapi sekarang aku ingin mendengar, apa yang terjadi di dusun ini sejak aku pergi. Bagaimana pula dengan kuil di bukit itu!"

"Kongcu, tiga orang losuhu di kuil itu telah terbunuh pula."

"Aku tahu, paman. Aku sempat menguburkan jenazah mereka. Yang ingin kuketahui, apa yang terjadi selanjutnya setelah ketiga orang suhu itu tewas?"

"Yang terjadi adalah bencana bagi dusun kita, bahkan juga dirasakan dusun-dusun lain di sekitar sini, kongcu. Kuil itu dijadikan sarang mereka... dan sampai sekarang kehidupan para penghuni dusun ini seperti dicekam ketakutan dan tersiksa. Banyak yang diam-diam melarikan diri mengungsi. Yang tetap tinggal terpaksa harus tahan menderita penghinaan dan pehindasan. Mereka menganggap seluruh penghuni dusun sebagai pelayan. Semua kebutuhan makan mereka harus kita sediakan, bahkan banyak pula gadis dusun ini yang mereka tawan, juga gadis-gadis dari dusun lainnya. Banyak pula penduduk yang mereka pukuli, mereka rampas hartanya, ada pula yang mereka bunuh karena berani melawan Dan semua peninggalan ibumu yang disimpan dalam kamar ibumu… ahh, semua sudah dirampas tanpa aku dapat mencegahnya, kongcu."

"Tidak mengapa, paman. Barang yang hilang sudahlah, jangan dipikirkan lagi," kata Han Lin akan tetapi hatinya terasa nyeri dan panas, bukan karena barang-barang peninggalan Liu Ma dirampas orang, melainkan karena mendengar akan perbuatan sewenang-wenang dan kejam dari gerombolan penjahat itu.

Seingatnya, yang muncul dan mengacau kuil di puncak Bukit Ayam.Emas hanyalah tiga orang Sam Mo-ong serta seorang pemuda bersuling yang kejam dan licik, yang dia lupa lagi siapa namanya.

"Paman, apakah sampai sekarang mereka itu masih tinggal di kuil di puncak Bukit Ayam Emas, dan kalau masih, berapa banyaknya mereka yang bersarang di sana?"

"Banyak sekali, kongcu. Dan menurut desas-desus para penduduk, lima orang pemimpin mereka berjuluk Bu-tek Ngo-sin-liong. Anak buah mereka banyak sekali, antara dua puluh sampai tiga puluh orang dan aku mendengar mereka itu adalah para anggota Hoat-kauw, kongcu. Entah aliran apa itu, yang jelas mereka semua suka mempergunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak mereka. Mereka membangun pondok-pondok di sekitar kuil yang dijadikan tempat tinggal para anggota. Dan para anggota itulah yang suka membikin kacau, merampok, menculik wanita, menyiksa dan membunuh!"

Han Lin mengepal tinju. Tak mungkin dia mendiamkan saja kejahatan itu melanda daerah yang demikian indah. Hatinya langsung terbakar setelah mendengar betapa gerombolan itu tidak pantang melakukan kejahatan yang bagaimana pun juga, bukan hanya menculik gadis-gadis dusun, bahkan isteri orang pun mereka rampas!

"Paman Kui, terima kasih atas kebaikanmu selama lima tahun merawat rumah ini. Mulai sekarang engkau boleh tinggal di sini selama hidupmu dan anggap saja rumah ini adalah milikmu sendiri. Dan sekarang aku mohon kepadamu, rahasiakan kedatanganku. Jangan ceritakan kepada siapa pun juga bahwa aku masih hidup dan sudah datang kembali ke rumah ini. Aku hanya akan tjnggal beberapa hari saja di sini, paman, kemudian aku akan pergi lagi sehingga tidak perlu menggegerkan penduduk dusun Libun."

Akui mengangguk-angguk maklum lalu berbisik, "Aku tahu, kongcu. Bukan hanya kongcu yang takut, aku pun takut kalau sampai mereka mengenal kongcu. Memang sebaiknya kalau kongcu bersembunyi dan cepat meninggalkan tempat yang tidak aman ini. Aku akan menjaga rumah ini sampai kelak keadaan kembali aman dan kongcu pulang ke sini."

Tentu saja Han Lin menyuruh pelayan itu merahasiakan kehadirannya bukan karena dia takut. Dia akan menentang gerombolan itu, namun hal ini harus dia lakukan sendiri tanpa setahu penduduk dusun Libun sehingga kelak tidak akan ada akibat yang buruk bagi para penduduk karena dia seorang yang bertanggung jawab. Akan tetapi biarlah Akui mengira dia takut, hal itu lebih baik lagi supaya Akui benar-benar merahasiakan bahwa dia masih hidup dan kembali ke situ.

"Memang benar, paman, aku takut kalau mereka mengetahui aku berada di sini. Tetapi selama lima tahun ini, apakah kepala dusun Libun mendiamkan saja semua kejahatan itu terjadi? Bukankah dahulu Lurah Can dari dusun ini terkenal mempunyai keberanian dan berwatak adil?"

"Aihh, kongcu. Lurah Can memang pernah mengumpulkan para muda lalu menyerbu ke sana, akan tetapi akibatnya, lurah Can berikut beberapa orang tewas dan sejak itu tidak ada lagi yang berani melawan untuk mati konyol. Sesudah Lurah Can tewas, mereka lalu mengangkat seorang di antara mereka menggantikan kedudukan kepala dusun, dan kami semua semakin tidak berdaya."

"Hemm, siapa lurah baru itu?"

"Dia Lurah Ouw yang tinggal bersama keluarganya di rumah lurah lama."

"Baiklah, paman. Sekarang paman boleh melanjutkan pekerjaan sehari-hari seperti biasa. Aku akan beristirahat. Apakah kamarku masih terpelihara?"

Wajah Akui berseri. "Masih, kongcu. Biar pun tadinya aku sudah yakin bahwa kongcu dan nyonya telah meninggal dunia, tapi kedua kamar itu setiap hari kubersihkan dan pintunya selalu kututup dan kukunci. Tidak ada seorang pun boleh mengganggu kedua kamar itu. Bahkan pakaian kongcu juga masih ada dalam almari. Yang tidak ada hanyalah barang-barang berharga yang telah diambil oleh mereka, kongcu."

Han Lin memasuki kamarnya dan dia benar-benar merasa terharu. Kamar itu semuanya masih seperti dahulu, mengingatkan dia akan masa lalu. Pada saat dia membuka almari, pakaiannya juga masih lengkap, akan tetapi tentu saja sekarang pakaian itu tidak dapat dipakainya, terlampau kecil. Hari ini sampai malam dia berdiam saja di dalam rumahnya seperti orang bersembunyi, dilayani oleh Akui yang kini nampak berseri wajahnya, seperti tanaman yang hampir mengering mendapatkan siraman air hujan.

Sesudah malam tiba Han Lin mengatakan kepada Akui bahwa malam itu dia tidak ingin diganggu, lalu dia menutupkan pintu kamarnya dan mengunci dari dalam. Tanpa diketahui siapa pun, dia lalu keluar dari kamarnya melalui jendela.

Gerakan Han Lin sudah cepat bukan main, ringan dan cepat seperti seekor burung walet. Kini ditambah kegelapan malam, tidak ada orang akan mampu melihat gerakannya ketika dia berlari dalam kegelapan menuju ke rumah kepala dusun, yaitu Lurah Ouw seperti yang dia dengar dari Akui tadi. Menurut Akui, lurah baru itu tinggal di rumah besar bekas rumah keluarga Lurah Can, bersama keluarganya, yaitu tiga orang isteri dan lima orang anak.

Semua anggota keluarga di rumah Lurah Ouw telah tidur nyenyak. Rumah itu sudah sepi ketika bayangan hitam itu berkelebat cepat ke atas wuwungan rumah, lalu melayang turun ke dalam. Tak lama setelah Han Lin mencari-cari di mana kiranya sang lurah berada, dia mendengar suara dua orang peronda yang agaknya bertugas jaga di rumah kepala dusun itu. Dia segera menyelinap ke balik sudut tembok.

"Wah, yang paling senang di sini adalah Ouw-toako, ya? Menjadi lurah, isterinya banyak, mendapat kehormatan."

"Ssttt, hati-hati kau bicara. Kalau terdengar olehnya, engkau tentu akan dihajar."

"Dia tidak akan mendengar. Dia sedang terlelap di dalam pelukan isterinya yang terbaru, isteri yang ke empat dan kamarnya di ujung belakang. Tidak akan dapat mendengar suara kita."

"Sudahlah, jangan mengiri. Bila engkau ingin mendapatkan tempat yang enak, bekerjalah lebih keras, membuat jasa sebesar-besarnya, dan tentu pemimpin kita akan memberimu kenaikan pangkat."

Han Lin membiarkan mereka lewat dan setelah mereka jauh, baru dia keluar dari tempat sembunyinya kemudian cepat menuju ke kamar di ujung belakang. Dari sinar Iampu kecil yang remang-remang, dia melihat dalam intaiannya seorang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh lima tahun tidur mendengkur di samping seorang wanita muda yang cantik, dan wanita itu nampak menangis lirih, hampir tanpa suara. Han Lin dapat menduga bahwa wanita muda itu adalah selir ke empat dan agaknya diselir oleh sang lurah secara paksa, mungkin direnggut secara paksa dari tunangannya, atau bahkan suaminya, atau mungkin orang tuanya.

Tanpa mengeluarkan suara dia membuka jendela, melompat masuk dan sebelum wanita itu tahu apa yang terjadi, tangan Han Lin telah cepat menyambar sehingga wanita itu pun terdiam, langsung pingsan tanpa melihat apa pun sebelumnya.

Agaknya gerakannya itu sudah menimbulkan sedikit goncangan sehingga sang lurah yang sedang mendengkur itu langsung menghentikan dengkurnya. Tetapi dia pun tidak sempat membuka mata karena begitu tangan Han Lin bergerak, dia sudah tidak tahu apa-apa lagi karena telah pingsan.

Han Lin menyambar pakaian sang lurah yang berserakan, membungkus tubuh lurah yang pendek gendut itu sejadinya, kemudian dia pun sudah meninggalkan kamar itu, kini sambil memanggul tubuh sang lurah. Tak seorang pun penjaga tahu bahwa lurah mereka sudah meninggalkan rumah di atas pundak seorang yang bergerak amat cepat dan ringan bagai seekor burung walet.

Pagi-pagi sekali Han Lin membebaskan totokannya dari tubuh sang lurah yang sebetulnya adalah seorang tokoh Hoat-kauw bernama Ouw Tit, yang oleh para pimpinan Hoat-kauw ditugaskan untuk menjadi lurah di dusun Libun.

Mereka berada di sebuah lereng dekat sebuah pondok bambu. Sejak ditotok pingsan Ouw Tit tidak tahu apa yang terjadi, dan kini begitu totokannya bebas, dia terkejut, membuka mata dan melihat dirinya berada di dekat pondok di lereng bukit yang sunyi, ada pun hari masih pagi sekali, matahari baru memancarkan sinarnya sebagai tanda bahwa fajar telah menyingsing.

Dia merasa tubuhnya yang semalam tidak mmpu bergerak itu kaku-kaku. Begitu melihat dirinya setengah telanjang dengan pakaiannya hanya dibungkuskan di tubuhnya, dia kaget sekali kemudian cepat dia mengenakan pakaiannya sehingga kini nampak patut, baru dia memandang kepada pemuda itu dan nampaklah sikapnya yang jagoan dan sudah biasa memerintah.

"Heiii, apakah yang terjadi? Di mana aku dan bagaimana dapat berada di siini? Siapa pula engkau? Hayo mengaku sejujurnya!”

Dalam hatinya Han Lin merasa muak sekali melihat sikap ini. Sungguh merupakan orang yang berwatak amat buruk dan jelas orang macam ini tentu jahat dan kejam.

"Orang she Ouw, akulah yang membawamu ke sini. Aku mengambilmu dari tempat tidur di kamarmu," katanya tenang.

Orang pendek gendut itu langsung melotot dan mukanya menjadi merah karena marah. "Apa?! Berani kau! Sudah ingin mampus, ya?"

Dia pun telah menerjang maju dan kedua tangannya bergerak cepat melakukan serangan. Bagaimanapun juga dia adalah seorang anggota Hoat-kauw yang sudah memiliki tingkat, maka tentu saja dia pandai ilmu silat. Serangannya dengan kedua tangan bertubi-tubi itu juga mengandung tenaga besar dan cepat.

"Plakkk! Dukkk!"

Penyerang itu mengaduh-aduh dan mengguncang-guncang kedua lengannya yang terasa seperti patah-patah tulangnya ketika bertemu dengan lengan Han Lin. Akan tetapi dasar orang tak tahu diri, setelah rasa nyeri agak berkurang, dia menyerang lagi semakin ganas, bahkan kini menyusuli pukulannya dengan tendangan kakinya yang pendek tetapi besar.

Han Lin tidak sabar lagi. Dia menangkap kaki kanan yang menendang, mendorong kaki itu ke atas sehingga tubuh Ouw Tit terlempar ke atas.

“Bukkk!"

Pantat yang gemuk itu terbanting keras, membuat pemiliknya menyeringai kesakitan. Dia bangkit lagi, menyerang lagi hanya untuk roboh lagi karena terkena tamparan tangan kiri Han Lin. Pemuda ini hendak menaklukkan dan menundukkan, bukan hendak membunuh, maka tenaga pukulannya juga terkendali, tidak terlalu keras namun cukup membuat lawan terpelanting keras.

Dasar orang bandel yang sudah mempunyai kedudukan sehingga merasa paling menang, Ouw Tit bangkit lagi lantas mengeluarkan suara gerengan seperti binatang buas. Karena ketika dibawa ke situ dia tidak bersenjata, maka melihat sebuah dahan kering di bawah pohon, dia segera menyambar dahan kering itu lalu mempergunakannya sebagai senjata, menyerang lagi dengan membabi-buta.

Akan tetapi, begitu dia menghantamkan dahan kering itu, Han Lin segera mendahuluinya. Tongkat bambunya menyambar dan menotok pundak, membuat Ouw Tit terpelanting lagi dan tidak mampu bangkit kembali, hanya dapat melotot marah.

Han Lin maklum bahwa dia menghadapi seorang yang kasar dan bandel, maka dia cepat menggunakan ujung tongkatnya menotok beberapa kali ke arah tubuh si pendek gendut. Kini tubuh itu bergulingan di atas tanah sambil berteriak mengaduh-aduh, berkelojotan dan dalam kesakitan yang hebat.

"Aduhh mati aku… aduhhh aughh... ampun, ampunkan aku.” Akhirnya dia menangis dan minta minta ampun.

Karena memang bukan niat Han Lin untuk menyiksa orang, maka begitu orang itu minta ampun, hal yang diharapkan dengan menotok mendatangkan kenyerian itu, dia pun cepat membebaskan totokannya. Kini Ouw Tit tidak menderita nyeri lagi, hanya tubuhnya masih lemas dan panas dingin karena dia telah mengerti bahwa dia sedang menghadapi seorang yang amat lihai.

"Nah, sekarang apakah engkau masih hendak melawan? Jika engkau masih membandel, bukan saja aku akan membuat engkau tersiksa seperti tadi, hidup tidak mati pun tidak, aku akan menyiksa pula empat orang isterimu dan semua anak-anakmu. Bagaimana?"

"Ampun, taihiap, aku menyerah kalah... aku minta ampun. Tapi rasanya aku tidak pernah mengenal taihiap dan tidak ada urusan di antara kita, kenapa taihiap memperlakukan aku seperti ini?"

"Aku tahu, engkau lurah Ouw dari dusun Libun dan engkau adalah anggota Hoat-kauw."

"Benar, benar sekali, taihiap. Aku memang lurah Ouw dari dusun Libun dan aku adalah seorang anggota Hoat-kauw. Karena itu, dengan memandang Hoat-kauw tentu taihiap tak akan membunuhku, bukan?"

"Hemm, justru karena engkau orang Hoat-kauw, aku ingin sekali menyiksamu, menyiksa seluruh keluargamu!" Han Lin membentak dan si pendek gendut itu menjadi pucat.

"Ampun, taihiap... ampunkan aku, anakku masih kecil-kecil…" dia meratap.

"Baik, aku akan mengampuni dan juga mengampuni semua anak isterimu asalkan engkau suka menurut semua kehendakku. Nah, sekarang ceritakan tentang Hoat-kauw yang telah menduduki kuil di Bukit Ayam Emas. Ada hubungan apa antara Hoat-kauw dengan Sam Mo-ong? Ceritakan semua dengan sejujurnya!"

Karena sudah tak berdaya sama sekali dan takut kalau-kalau dia dan seluruh keluarganya dibasmi oleh pemuda yang lihai bukan main ini, Ouw Tit lalu membuat pengakuan. Andai kata dia belum pernah dijadikan kepala dusun, belum pernah mengenyam kesenangan dan kemuliaan sebagai kepala dusun dengan banyak isteri dan anak, mungkin dia akan berkeras tidak mau mengaku, malah mungkin memilih mati seperti banyak dilakukan para anggota Hoat-kauw yang fanatik. Tetapi kesenangan duniawi telah mengikatnya erat-erat, dan karena ingin selamat sekeluarga, maka dia pun membuat pengakuan dengan suara tersendat-sendat.

Dari mulut Ouw Tit, Han Lin pun mendengar semuanya. Kiranya Sam Mo-ong adalah kaki tangan bangsa Mongol yang ingin menguasai Kerajaan Tang, dan Sam Mo-ong mengajak Hoat-kauw bersekutu untuk bersama-sama menggulingkan Kerajaan Tang! Kuil di Bukit Ayam Emas itu dijadikan semacam sarang oleh Hoat-kauw untuk mengadakan hubungan dengan para utusan Mongol.

Kalau Hoat-kauw membuat gerakan dari pusat atau cabang, tentu akan terlalu menyolok dan diketahui pemerintah, maka tempat di Bukit Ayam Emas itu menjadi semacam sarang rahasia.

Han Lin mengangguk-angguk. Kiranya mereka itu bukannya memusuhi penduduk dusun Libun atau membunuhi para hwesio di kuil karena permusuhan pribadi, melainkan karena gerakan yang lebih besar lagi, yaitu hendak memberontak terhadap kerajaan. Ini sungguh berbahaya sekali, terutama bagi penduduk dusun Libun, karena mungkin saja pemerintah akan menganggap bahwa seluruh penduduk dusun Libun menjadi anggota pemberontak.

"Sekarang ceritakan, siapa saja yang tinggal di puncak Bukit Ayam Emas, berapa orang dan siapa pemimpinnya?!" kata pula Han Lin dengan suara tetap tegas dan penuh wibawa karena secara diam-diam dia mengerahkan kekuatan batin seperti pernah dia pelajari dari mendiang Kun Hwesio yang ahli sihir.

Pengaruh sikap dan suara Han Lin itu sungguh kuat dan pada saat itu, Ouw Tit melihat Han Lin sebagai seorang yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Karena itu dia pun dengan terus terang menceritakan bahwa anak buah Hoat-kauw yang tinggal di puncak Bukit Ayam Emas ada kurang lebih lima puluh orang dan yang memimpin mereka adalah Bu-tek Ngo-sin-liong, lima orang tokoh besar Hoat-kauw.

"Tetapi saat ini Bu-tek Ngo-sin-liong tidak berada di sana, karena mereka sedang pergi ke Bukit Harimau, di luar kota An-king untuk menghadiri ulang tahun Hoat-kauw yang akan dirayakan besar-besaran dan mengundang semua partai persilatan dan aliran."

Han Lin tertarik. "Kapan perayaan itu akan diadakan?"

"Bulan depan."

"Nah, sekarang engkau harus ikut denganku ke kota Nam-san. Di sana, di depan kepala daerah, engkau harus membuat pengakuan seperti yang kau ceritakan kepadaku."

Ouw Tit terbelalak, mukanya menjadi pucat. "Tapi… tapi, taihiap aku tentu akan ditangkap dan dihukum!"

"Hemm, jadi engkau memilih kusiksa bersama seluruh keluargamu, mati perlahan-lahan? Begitukah?" Han Lin mengangkat tongkat bambunya mengancam.

"Ampun…! Tidak, tidak, taihiap."

"Kalau begitu engkau harus membuat pengakuan di hadapan kepala daerah dan mungkin keluargamu akan terhindar dari hukuman. Hayo!" Han Lin menarik tangan orang itu lantas dibawanya berlari cepat menuju ke kota Nam-sam yang merupakan kota kabupaten yang membawahi dusun Li bun.

Para penjaga di kantor Bupati Cu segera membawa Han Lin dan Ouw Tit menghadap pembesar itu. Cu-taijin (pembesar Cu) memandang kepada mereka dengan heran, lalu menegur sambil menudingkan telunjuknya kepada Ouw Tit.

"Bukankah engkau Ouw Tit, lurah dusun Libun yang menggantikan Lurah Can yang tewas oleh gerombolan penjahat itu?"

"Ampun, taijin,” kata Han Lin lantang, "saya ingin melaporkan keadaan di Libun. Dahulu, lima tahun yang silam, Lurah Can tewas di tangan gerombolan penjahat, dan Ouw Tit ini adalah orangnya gerombolan itu yang memang sengaja diselundupkan. Dengan memaksa penduduk akhirnya dia dapat dipilih menjadi lurah baru. Seluruh dusun dan wilayah Libun kini telah dikuasai gerombolan yang sangat berbahaya karena mereka berniat melakukan pemberontakan terhadap Kerajaan Tang, taijin."

Tentu saja Bupati Cu terkejut bukan main. "Siapakah engkau, orang muda?"

"Nama saya Sia Han Lin, penduduk dusun Libun, taljin." Kemudian Han Lin menghardik Ouw Tit. "Hayo engkau cepat membuat pengakuan di hadapan Taijin!"

Bupati Cu memberi isyarat dan lima orang prajurit pengawal segera datang ke ruangan itu dengan golok di tangan untuk menjaga segala kemungkinan karena tentu saja hati bupati itu merasa khawatir bahwa lurah dusun Libun itu dikatakan sebagai anggota gerombolan penjahat yang mempunyai niat memberontak.

"Ceritakan semuanya dengan sejujurnya!" bentaknya kepada Ouw Tit.

Ouw Tit merasa terjepit. Menghadapi Han Lin saja dia sudah tidak berdaya dan dia lebih ngeri menghadapi ancaman pemuda tampan yang nampaknya lemah lembut itu dari pada lima orang prajurit pengawal yang memegang golok. Dia tahu bahwa kalau dia memang menghendaki, dia akan mampu mengalahkan lima orang prajurit itu. Akan tetapi dia sama sekali tidak berdaya menghadapi Han Lin yang lihai. Dia hanya mengharapkan pemuda itu tak akan mengganggu keluarganya seperti yang dijanjikan tadi, maka dia pun mengulang ceritanya yang tadi sudah dia ceritakan kepada Han Lin.

Mendengar bahwa di dusun Libun, tepatnya di puncak Bukit Ayam.Emas terdapat sarang gerombolan pemberontak, Cu-taijin terkejut bukan kepalang. Libun termasuk wilayahnya, maka kalau sampai terdapat gerombolan pemberontak di sana, itu merupakan tanggung-jawabnya. Dialah yang akan ditegur oleh atasannya apa bila gerombolan pemberontak itu semakin mengganas dan semakin kuat.

"Jebloskah dia dalam tahanan dan cepat hubungi Un-ciangkun (perwira Un)!" kata bupati kepada pengawalnya.

"Taijin, harap hati-hati menghadapi penjahat ini. Dia cukup lihai, maka sebaiknya kalau dia dibelenggu saja!" Berkata demikian, Han Lin menggerakkan tangannya menotok pundak Ouw Tit yang langsung terkulai lumpuh. "Memang sebaiknya taijin cepat memerintahkan pasukan untuk menyerbu dan menangkapi gerombolan itu. Mereka telah menguasai Libun dan menekan penduduk, menyengsarakan mereka. Saya mohon diri dan terserah kepada taijin."

"Tunggu dulu, Han Lin!" kata bupati itu. "Kalau gerakan kami ternyata berhasil menumpas gerombolan pemberontak, engkau sudah berjasa dan kami tidak akan melupakan jasamu. Di mana engkau tinggal?"

"Saya tidak mengharapkan imbalan, taijin, saya melakukan ini untuk membela penduduk Libun di mana saya tinggal. Selamat tinggal, taijin!" karena tidak ingin diganggu lagi, Han Lin lantas mengerahkan tenaganya dan tubuhnya berkelebat lenyap dari depan pembesar itu yang langsung tercengang.

Akan tetapi menyadari gawatnya urusan, Bupati Cu segera memerintahkan petugas untuk membelenggu kaki tangan Ouw Tit yang sudah tertotok lumpuh itu lantas menyeretnya ke dalam tahanan dengan pesan supaya dijaga ketat. Kemudian dia mengadakan hubungan dengan komandan pasukan di benteng terdekat sehingga tak lama kemudian, sepasukan prajurit yang terdiri dari dua ratus orang bergerak menuju ke dusun Libun, dipimpin oleh beberapa orang perwira…..

********************

Sementara itu di rumah tinggal lurah Ouw sudah terjadi kegemparan ketika isteri dan para selirnya tidak dapat menemukan suaminya. Mereka segera memanggil para penjaga dan para jagoan yang tadi malam bertugas menjaga rumah mereka. Tentu saja mereka amat terkejut mendengar laporan itu karena selama semalaman tadi suasana aman tenteram saja tanpa ada suatu kejadian pun.

Beramai-ramai mereka kemudian mencari di dalam rumah itu, setiap kamar dan ruangan digeledah, akan tetapi batang hidung lurah Ouw tidak nampak sama sekali. Pencarian lalu dilanjutkan di luar rumah, setiap sudut pekarangan dan taman diperiksa, namun hasilnya tetap sia-sia belaka.

Demikianlah, selagi mereka kebingungan dan sudah mengambil keputusan bahwa kalau sampai sore hari Lurah Ouw belum juga pulang mereka akan melapor ke kuil di puncak Bukit Ayam Emas, maka mereka melihat seorang pemuda memasuki pekarangan rumah dan dari luar berdatangan pula sepuluh orang pemuda dusun di luar pekarangan.

"Haiii, kalian mau apa?! Siapa engkau, orang muda? Apa perlumu masuk ke pekarangan ini?!" bentak seorang di antara sepuluh jagoan pembantu Lurah Ouw itu dengan sikapnya yang galak. Sembilan kawannya juga sudah maju mengepung Han Lin dengan setengah lingkaran.

Han Lin yang memegang tongkatnya, bersikap tenang saja ketika sepuluh orang jagoan itu memperlihatkan sikap mengancam. Dia pun segera maju menyambut mereka dengan bentakan nyaring.

"Kami adalah penghuni dusun Libun yang sudah muak melihat kekejaman kalian dan tidak ingin lagi melihat kalian mengacau di dusun kami!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja sepuluh orang anggota Hoat-kauw itu menjadi terkejut, terheran, marah dan juga geli.

"Bocah gila, engkau sudah bosan hidup!" bentak seorang di antara mereka yang segera menggerakkan goloknya membacok leher Han Lin, sedangkan yang lain hanya menonton saja karena mereka mengira bahwa seorang kawan mereka saja sudah lebih dari cukup untuk membunuh pemuda yang lancang itu.

Akan tetapi mereka terbelalak ketika melihat teman mereka yang menyerang itu tiba-tiba saja terjengkang, goloknya terlepas dan dia tak mampu bangkit kembali. Tahulah mereka bahwa pemuda ini tidak seperti pemuda dusun yang lain, tetapi memiliki kepandaian maka berani bersikap menantang seperti itu.

Sambil berteriak-teriak ganas sembilan orang menyerang Han Lin dengan golok mereka. Serangan mereka ganas dan semua golok menyambar laksana tangan maut. Akan tetapi mereka terkejut ketika pemuda yang mereka serang itu lenyap dan yang nampak hanya bayangannya berkelebat, kemudian tahu-tahu ada tongkat menyambar-nyambar dari arah belakang mereka.

Mereka segera membalik dan menggerakkan golok untuk menangkis, namun terlambat. Ujung tongkat bambu yang gerakannya bagai kilat menyambar-nyambar itu telah menotok mereka satu demi satu dan robohlah mereka seperti rumput dibabat pedang.

Sepuluh orang dusun itu kini telah menjadi lebih dari tigapuluh orang. Mereka berdatangan dan menjadi penonton saja di luar halaman sebab mereka semua merasa gentar terhadap sepuluh orang tukang pukul lurah Ouw itu. Tetapi ketika melihat betapa dalam beberapa menit saja Han Lin telah merobohkan sepuluh orang yang ditakuti itu, orang-orang dusun lalu bersorak dan mereka segera menyerbu ke dalam pekarangan, mengangkat senjata di tangan mereka yang bermacam-macam bentuknya, ada kapak, arit, cangkul, garu, palu dan berbagai macam perkakas lagi,

Han Lin maklum bahwa orang yang mendendam dapat menjadi amat kejam, juga bahwa orang yang merasa menang bisa mabok kemenangan sehingga bisa melakukan apa saja yang dirasakan menjadi haknya karena menang. Karena itu dia cepat menghadang sambil mengangkat kedua tangan ke atas.

"Berhenti dan tahan senjata!" Bentakannya mengandung wibawa kuat sehingga tiga puluh orang lebih itu berhenti dan memandang kepada Han Lin dengan heran. Mereka hendak membantu pemuda itu membantai sepuluh orang jagoan dan menyerbu rumah lurah Ouw yang selama ini menjadi seperti raja lalim di dusun itu, namun mengapa Han Lin menahan mereka?

"Biarkan kami bunuh mereka semua!" terdengar beberapa orang berteriak.

"Tidak!" bentak Han Lin. "Kita tidak suka melihat kekejaman mereka, berarti kita bukan orang-orang kejam seperti mereka! Mari kita buktikan bahwa kita tidak seperti mereka. Kalau sekarang kita bertindak kejam, lalu apa bedanya antara mereka dengan kita?"

Dia teringat akan kenyataan yang pernah dipaparkan oleh Lojin bahwa di dalam diri setiap orang manusia terdapat nafsu yang sama. Kalau seseorang mencela orang lain berbuat sewenang-wenang, adalah karena di pencela itu tidak mempunyai kesempatan melakukan hal yang sama. Kalau sekali dia mendapatkan kesempatan, mungkin dia akan lebih jahat dari pada yang dicela! Hanya orang yang tidak diperbudak nafsu-nafsunya saja yang akan selalu ingat dan waspada, tidak menuruti bisikan atau perintah nafsu-nafsunya sendiri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner