KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-15


"Akan tetapi selama ini mereka bertindak kejam terhadap kita!" terdengar bantahan.

"Lantas kalian ingin membalas dendam dan bertindak kejam pula terhadap mereka? Kalau demikian kalian berubah menjadi orang-orang kejam dan aku tidak sudi membantu orang-orang kejam dan pengecut! Kenapa tidak dari dulu kalian melawan tindakan mereka yang kejam? Kenapa baru sekarang, sesudah melihat mereka tidak berdaya, lalu kalian hendak membantai mereka? Dengar, bila kalian tidak menurut kepadaku, aku akan pergi dan biar kalian sendiri menghadapi gerombolan yang berada di kuil puncak bukit Ayam Emas!"

Mendengar ucapan pemuda ini, wajah semua orang menjadi pucat dan semangat mereka yang menggebu-gebu didorong dendam itu pun langsung mengempis. Kini mereka seperti sekelompok anak-anak yang ketakutan. Han Lin merasa kasihan juga menyaksikan sikap mereka itu. Memang mereka nampak seperti anak-anak yang membutuhkan perlindungan dan pengawasan.

"Aku ingin melihat kalian menggunakan semangat kalian untuk membela diri, bukan untuk bertindak sewenang-wenang dan kejam. Jika melihat pihak musuh sudah tak berdaya lalu hendak membantai mereka, itu perbuatan kejam dan sewenang-wenang. Juga kalian tidak boleh menyerang keluarga lurah Ouw yang tak bersalah apa-apa. Ketahuilah bahwa lurah Ouw kini sudah kutawan dan kuserahkan kepada yang berwajib. Tidak lama lagi pasukan akan menyerbu sarang gerombolan di puncak Bukit Ayam Emas, dan kita harus menjaga agar jangan sampai ada orang dari rumah ini yang lolos kemudian memberi kabar kepada gerombolan di sana. Mengertikah kalian? Tugas kalian hanya menjaga di sini, mengepung rumah ini supaya tidak ada yang dapat keluar, akan tetapi kalian tidak boleh membunuh orang yang tidak menyerang kalian. Mengerti?"

Mendengar ini semua orang bersorak gembira. Dusun mereka akan segera terbebas dari cengkeraman gerombolan penjahat setelah lima tahun!

"Kami mengerti, kongcu!" Tiba-tiba Akui berseru dan menghadap ke arah orang banyak. "Kita harus menaati perintah Sia-kongcu kalau ingin dusun kita diselamatkan!"

Orang-orang menyambutnya dengan sorakan setuju. Han Lin mengangkat tangan hingga semua orang terdiam dan mendengarkan ucapan pemuda itu.

"Saya senang sekali melihat sikap kalian. Sekarang dengar baik-baik. Sepuluh orang ini harus dibelenggu kaki tangannya dan dibawa ke dalam rumah. Aku akan mengumpulkan semua penghuni rumah ini. Hayo sepuluh orang pemuda yang pertama datang ke sini ikut bersamaku, tetapi ingat, jangan membunuh orang. Aku hanya ingin agar semua keluarga Ouw Tit dikumpulkan di ruangan dan diawasi agar jangan seorang pun di antara mereka dapat mengirim berita ke sarang gerombolan. Apa bila ada yang berbuat kejam dan jahat, pasti akan kuhajar sendiri!"

Dengan semangat besar dan sikap seperti jagoan, sepuluh pemuda itu segera mendekati Han Lin dan mengikuti pemuda ini memasuki rumah lurah Ouw. Sedangkan yang lain-lain segera menyerbu pekarangan dan sebentar saja sepuluh orang itu sudah ditelikung dan diikat seperti ayam-ayam yang hendak dipanggang!.

Saking benci dan dendamnya, biar pun tidak ada di antara mereka yang berani menyiksa apa lagi membunuh, tidak urung sepuluh orang tukang pukul yang sudah tidak berdaya itu menjadi korban caci-maki, diludahi dan diolok-olok yang bagi mereka rasanya jauh lebih menyakitkan dari pada kalau digebuki.

Biasanya mereka seperti penguasa-penguasa di dusun itu, tidak ada seorang pun berani memandang kepada mereka, apa lagi bicara kasar. Namun sekarang orang-orang dusun itu meludahi mereka, mencaci maki mereka!

Han Lin serta sepuluh orang pemuda dusun menyerbu memasuki rumah. Ternyata tidak ada tukang pukul lain kecuali hanya empat orang isteri sang lurah dan anak-anak mereka, juga ada beberapa orang pelayan wanita. Mereka semua sudah ketakutan dan berkumpul di sebuah ruangan terbesar di rumah itu, karena itu mudahlah bagi Han Lin dan kawan-kawannya untuk menawan mereka.

Mereka semua dikumpulkan di dalam sebuah ruangan, dilarang meninggalkan ruangan itu dan pintunya dijaga oleh sepuluh orang pemuda dusun. Kemudian Han Lin meninggalkan rumah itu sesudah berpesan kepada Akui supaya mengawasi orang-orang dusun itu agar jangan sampai mereka melakukan hal-hal yang jahat seperti menyiksa, membunuh, apa lagi merampok.

Sejak lima tahun yang lalu, kuil di puncak Bukit Ayam Emas sudah dijadikan sarang oleh Hoat-kauw yang bertugas mengadakan hubungan dengan pihak Mongol yang diwakili oleh utusan mereka, yaitu Sam Mo-ong, tiga orang datuk besar yang sakti. Selama lima tahun ini mereka sudah melakukan banyak hal yang bagi mereka merupakan kemajuan dalam kerja sama mereka.

Pihak Sam mo-ong membantu orang-orang Mongol menaklukkan semua saingan-saingan mereka, yaitu suku-suku bangsa lain yang juga ingin meluaskah kekuasaannya di wilayah Kerajaan Tang, juga memaksa suku-suku bangsa yang lebih kecil untuk bergabung dan membantu orang Mongol. Sedangkan pihak Hoat-kauw yang diwakili oleh Bu-tek Ngo-sin-liong, lima orang tokoh Hoat-kauw, bergerak menaklukkan partai-partai persilatan beserta aliran-aliran lain untuk menguasai dunia kangouw.

Kalau kerja sama ini berhasil, maka Kerajaan Tang akan menghadapi pasukan Mongol yang dibantu oleh suku-suku bangsa lain dan dunia kangouw! Untuk hubungan kerja sama di antara mereka, pihak Sam Mo-ong mewakilkan kepada An Seng Gun, putera mendiang An Lu Shan yang diaku anak oleh kakeknya sendiri, yaitu Kwi-jiauw Lo-mo, salah seorang di antara Sam Mo-ong. Seng Gun ini juga diperuntukkan kepada pihak Hoat-kauw agar hubungan dengan pihak Mongol dapat selalu terjalin, juga Seng Gun seolah-olah menjadi pengamat yang mengikuti perkembangan gerakan Hoat-kauw.

Pada waktu Han Lin kembali ke Libun, kebetulan sekali sarang Hoat-kauw di puncak Bukit Ayam Emas itu sedang ditinggalkan para pemimpin besarnya. Lima orang Bu-tek Ngo-sin-liong tidak berada di sana karena mereka sedang sibuk membantu pimpinan Hoat-kauw yang hendak mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang semua partai dan aliran. Perayaan akan diadakan di Bukit Harimau, di luar kota An-king, yang merupakan pusat cabang terbesar dari Hoat-kauw saat itu. Seng Gun sendiri sejak dua tahun ini tidak pernah nampak di kuil itu karena dia melaksanakan sebuah tugas rahasia yang diberikan kepadanya oleh Sam Mo-ong.

Han Lin menyelinap di luar perkampungan gerombolan di puncak Bukit Ayam Emas itu. Kuil yang dahulu menjadi tempat di mana dia belajar ilmu silat dari Kong Hwi Hosiang kini telah menjadi perkampungan gerombolan dan dipagari, juga di sekitar kuil di dalam pagar itu dibangun beberapa buah rumah untuk tempat tinggal anggota gerombolan.

Karena agaknya mereka semua merasa yakin tak akan ada seorang pun berani mengusik mereka, maka perkampungan gerombolan itu tidak terjaga ketat. Dengan mudah saja Han Lin melompati pagar bambu dan memasuki perkampungan tanpa terlihat siapa pun, lantas dia menyelinap antara pondok-pondok itu.

Ketika mendengar isak tangis wanita dari sebuah pondok, dia pun segera mendekati dan mengintai. Pondok-pondok darurat itu terbuat dari kayu dan bambu sebab itu amat mudah bagi Han Lin untuk mengintai.

Seorang wanita muda, usianya tidak akan lebih dari enam belas tahun, tampak menangis terisak-isak di atas pembaringan. Seorang lelaki yang usianya sekitar empat puluh tahun, bertubuh tinggi besar bermuka hitam, duduk di atas kursi dekat pembaringan dan nampak marah-marah.

"Sudahlah, kau jangan menangis saja, sungguh menyebalkan!" bentak laki-laki itu sambil melotot kepada wanita muda yang menangis. “Apa sih maumu?"

"Pulangkan aku,” kata wanita itu sambil terisak, "Kembalikan aku ke rumah orang tuaku, aku ingin kembali kepada mereka."

"Sialan! Engkau telah menjadi isteriku, sudah lima belas hari di sini, tapi setiap hari hanya menangis minta pulang!"

"Aku bukan isterimu! Engkau… engkau menculik dan memaksaku hu-hu-huhh, pulangkan aku... pulangkan aku…"

"Engkau menjemukan!” bentak laki-laki muka hitam itu, kemudian dia bangkit berdiri dan tangannya menampar.

"Plakk...!"

Tamparan itu keras bukan main hingga wanita itu menjerit kemudian terjengkang ke atas pembaringan, pipinya yang kiri membengkak biru dan dia menangis semakin sedih.

Melihat ini, Han Lin tidak dapat menahan kesabarannya lagi. Kalau saja mereka itu suami isteri, tentu dia tidak berhak mencampuri urusan mereka. Akan tetapi dari tangis wanita tadi dia tahu bahwa wanita yang masih remaja itu diculik dan dipaksa menjadi isteri orang itu, maka jelas dia adalah seorang di antara banyak korban, yaitu wanita-wanita di Libun dan sekitarnya yang diculik oleh para anggota gerombolan itu lantas dipaksa menjadi isteri mereka. Dari wanita inilah dia akan mendapat keterangan banyak dan penting, dan semua keterangannya tentu akan dapat dipercaya.

Melihat wanita itu ditampar, Han Lin lalu menerobos masuk melalui pintu depan yang tidak dikunci. Tanpa mengeluarkan suara berisik dia sudah berada dalam pondok dan langsung memasuki kamar.

Laki-laki tinggi besar muka hitam itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba saja ada seorang pemuda memasuki kamarnya. Dia sedang kesal dan marah sekali terhadap wanita yang dipaksanya menjadi isterinya. Sudah lima belas hari wanita itu dikeram dalam pondoknya, tetapi setiap hari hanya menangis dan merengek minta dipulangkan saja. Kini, melihat ada pemuda memasuki kamarnya, kemarahannya langsung memuncak.

"Jahanam! Siapa kau yang berani memasuki pondokku?!" teriaknya dengan kedua tangan dikepal siap untuk memukul, ada pun wanita muda itu terbelalak ketakutan dengan pipinya yang masih lebam.

"Engkau yang jahanam, laki-laki kejam tak berperi-kemanusiaan!" Han Lin balas menegur.

"Kau sudah bosan hidup!" bentak laki-laki itu dan dia pun sudah menerjang dengan kedua kepalan tangan menyambar-nyambar dalam serangan bertubi-tubi.

Tetapi setelah menghindar dengan langkah mundur, sekali Han Lin menggerakkan tangan dia berhasil menangkap dua pergelangan tangan si tinggi besar itu. Si tinggi besar muka hitam itu mengerahkan tenaganya untuk melepaskan kedua tangannya yang tertangkap. Betapa pun dia mengerahkan tenaga, namun sia-sia belaka karena kedua lengannya itu seperti terjepit besi sehingga sama sekali dia tak mampu menggerakkan dua lengannya.

Tiba-tiba Han Lin menggerakkan tangan kiri si tinggi besar yang dipegangnya. Maka tanpa dapat dicegah lagi, si tinggi besar itu menampar mukanya sendiri, disusul tangan ke dua sampai berkali-kali.

"Plak-plak-plak-plak...!"

Kedua pipinya menjadi bengkak dan bibirnya pecah-pecah berdarah. Kemudian Han Lin menotoknya sehingga si tinggi besar itu roboh tak berkutik lagi.

Han Lin menoleh kepada wanita muda yang masih menangis di atas pembaringan, yang kini memandang kepadanya dengan sinar mata ketakutan.

"Jangan takut, nona. Aku datang untuk menolongmu serta semua wanita yang diculik dan dipaksa ke tempat ini. Untuk itu aku sangat membutuhkan keterangan serta petunjukmu, maka marilah ikut denganku meninggalkan neraka ini."

Mendengar bahwa pemuda yang amat lihai itu hendak membebaskannya, tentu saja gadis ini segera mengangguk-angguk kemudian cepat mengenakan baju rangkap dan sepatunya karena selama dikeram di pondok. itu dia tidak pernah diperbolehkan mengenakan sepatu untuk menjaga agar dia tidak melarikan diri.

Han Lin mengajaknya keluar, lalu memondong tubuhnya dan berloncatan, menyelinap di antara pondok-pondok dan akhirnya dia berhasil meloncati pagar bambu tanpa ada orang yang dapat melihatnya. Dia mengajak gadis itu ke sebuah hutan di lereng bukit, lalu minta keterangan tentang sarang gerombolan itu. Ia pun menjadi girang sekali ketika mendapat keterangan bahwa pada saat itu semua pimpinan Hoat-kauw tidak berada di sana karena semua pergi entah ke mana gadis itu tidak mengetahuinya.

"Yang berada di situ kurang lebih lima puluh orang anggota gerombolan. Lima orang yang biasanya menjadi pimpinan di sana, yaitu Bu-tek Ngo-sin-liong, telah pergi sejak beberapa hari yang lalu.”

"Ada berapa banyak wanita yang seperti engkau, diculik dan dipaksa tinggal di sana?"

"Banyak sekali...! Hampir semua anggota gerombolan menculik wanita dan memaksanya menjadi isterinya. Bahkan ada pula yang telah mempunyai anak. Ada pula belasan orang gadis muda yang diculik kemudian disekap dalam sebuah pondok yang dijadikan tempat tahanan para gadis itu, Ahh, sungguh buruk nasib kami wanita-wanita dusun yang lemah dan bodoh. Kami bagaikan sekawanan domba yang berada di tengah-tengah gerombolan serigala...," gadis itu meratap sambil menangis.

"Sudahlah, nona, jangan menangis lagi. Mari kuantar engkau ke dusun Libun dan untuk sementara tinggallah dulu di sana. Kelak engkau dan para wanita itu akan diantar pulang."

Han Lin lalu mengantar wanita itu ke dusun Libun dan Akui menerimanya dengan ramah. Setelah menceritakan mengenai wanita itu kepada Akui dan menyuruh Akui menyediakan kamar untuknya, membiarkan gadis itu untuk sementara tinggal di situ, Han Lin lalu pergi menemui penduduk Libun. Dia menceritakan segalanya kepada mereka, lantas mengajak mereka untuk bersiap ikut menyerbu sarang gerombolan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sekitar dua ratus orang pasukan dari Nam-san telah tiba di Libun. Atas nama penduduk Libun, Han Lin lalu menemui komandannya untuk memberi tahu bahwa penduduk akan membantu gerakan pasukan itu dan bahwa wanita-wanita yang berada di sarang gerombolan adalah penduduk dusun yang diculik karena itu mereka tak berdosa. Dia berharap agar pasukan tidak mencelakai mereka dan penduduk dusun akan membebaskan mereka. Komandan pasukan dapat mengerti dan menyetujui permintaan itu.

Demikianlah, malam tadi berlalu tanpa ada prasangka buruk dari para anggota Hoat-kauw, maka tentu saja mereka menjadi panik ketika pagi-pagi sekali pasukan berjumlah besar datang menyerbu. Han Lin memimpin penduduk Libun menyerbu melalui bagian belakang dengan membobol pagar, lalu mereka membebaskan para wanita dan anak-anak.

Tapi tidak semua wanita mau dibebaskan. Bahkan ada di antara mereka yang membantu suami mereka melakukan perlawanan sehingga turut gugur! Mereka adalah wanita-wanita yang sudah jatuh cinta kepada penculik mereka. Akan tetapi sebagian besar para wanita dengan gembira turut membebaskan diri. Ada puluhan orang wanita dan anak-anak yang kemudian melarikan diri.

Sementara itu para anggota Hoat-kauw melakukan perlawanan mati-matian. Akan tetapi karena pihak pasukan jauh lebih besar jumlahnya, dan mereka diserbu dengan mendadak sehingga tidak siap sedia, akhirnya kedudukan mereka berantakan. Sebagian besar dari mereka terbunuh dan hanya sedikit saja yang berhasil lolos dari maut, padahal mereka adalah anggota-anggota Hoat-kauw yang rata-rata memiliki kepandaian lumayan.

Pasukan lalu membakar sarang gerombolan itu sampai rata dengan tanah, sementara itu penduduk Libun mengatur pemulangan para wanita itu ke rumah keluarga masing-masing. Han Lin menyerahkan pekerjaan ini kepada penduduk Libun karena dia sendiri langsung berangkat ke Bukit Harimau untuk menghadiri pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw…..

********************

Kita kembali ke tiga tahun yang lalu. Perkumpulan Nam-kiang-pang (Perkumpulan Selatan Sungai) merupakan perkumpulan silat yang terbesar di sebelah selatan Sungai Yang-ce-kiang. Nam-kiang-pang mempunyai sumber yang kuat dari Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, maka para pimpinannya mempunyai kepandaian tinggi. Hal ini adalah karena pendirinya dahulu memang murid Bu-tong-pai yang kemudian menjadi murid Siauw lim-pai. Sampai sekarang hubungannya dengan kedua partai besar itu amat dekat.

Ketua Nam-kiang-pang bernama Tio Kui Po yang terkenal dengan julukan Thian-te Sin-to (Golok Sakti Bumi Langit). Dia berusia lima puluh tahun, gagah perkasa dengan tubuhnya yang tinggi tegap. Ilmu silatnya hebat apa lagi ilmu goloknya.

Namun Tio-pangcu (ketua Tio) sering kali termenung dengan hati penasaran. Dia memiliki banyak murid, akan tetapi di antara sekian banyaknya murid, hanya ada satu orang saja yang mempunyai bakat yang baik. Nama murid ini Ciu Kang Hin, seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Padahal yang dia harapkan dan dia sayangi adalah seorang pemuda yang bernama Tio Ki Bhok, yaitu keponakannya sendiri.

Akan tetapi pemuda yang usianya dua puluh tahun ini bahkan ketolol-tololan dan biar pun telah digemblengnya secara istimewa namun hasilnya tidak memuaskan hatinya, bahkan mengecewakan. Sering kali Tio-pangcu melamun dan bersedih.

Pada suatu sore Tio-pangcu berjalan-jalan seorang diri di tepi sungai. Bagian tepi sungai itu sunyi sekali. Selagi Tio-pangcu berjalan sambil termenung, bermaksud pulang karena kepergiannya sudah cukup jauh dan dia tidak ingin kemalaman di jalan, tiba-tiba dari balik semak belukar di tepi sungai muncul belasan orang berpakaian serba hitam dan mereka semua mengenakan topeng seperti yang biasa dipakai oleh orang-orang Beng-kauw, Tiga belas orang itu mengepungnya dengan sikap mengancam.

Tio-pangcu dengan tenangnya menghadapi mereka. Dia mengangkat kedua tangannya di depan dada lantas berkata, "Cuwi. (anda sekalian) siapakah? Dan ada keperluan apakah menghadangku? Aku Tio Hui Po rasanya tidak pernah bermusuhan dengan cuwi."

"Tio-pangcu, Nam-kiang-pang selalu memandang rendah terhadap Beng-kauw kami. Kini kami mendapat kesempatan untuk membuktikan sampai di mana kepandaian ketua Nam-kiang-pang maka demikian sombongnya terhadap kami."

Tio-pangcu tersenyum dan mengangguk-angguk. "Hemm, jadi kalian adalah orang-orang Beng-kauw? Ketahuilah, kita dipandang orang karena ulah kita sendiri. Dipandang rendah atau tinggi merupakan penggambaran dari perbuatan kita. Siapa yang tidak tahu bahwa Beng-kauw adalah golongan sesat yang tidak pantang berbuat jahat? Misalnya perbuatan rendah seperti yang kalian lakukan sekarang ini. Tentu saja kalian dipandang rendah!"

Belasan orang itu menjadi marah. "Tio Hui Po manusia sombong, rasakan pembalasan kami.”

Mereka lalu menggerakkan senjata masing-masing mengeroyok Tio-pangcu. Orang-orang Beng-kauw itu menggunakan bermacam senjata yang aneh-aneh, sedangkan Tio Hui Po segera mencabut goloknya.

Sinar golok yang dimainkan Tio-pangcu bergulung-gulung menyilaukan mata hingga sukar bagi para pengeroyoknya untuk dapat menembus perisai sinar golok itu dengan senjata mereka. Pada saat itu pula muncul seorang pemuda yang dengan gagahnya menghardik,

"Belasan orang mengeroyok seorang saja. Pengecut!" Pemuda itu menggunakan pedang membantu Tio-pangcu dan ternyata gerakannya cukup hebat.

Sebenarnya Tio Hui Po tidak perlu dibantu karena goloknya cukup kuat untuk melawan tiga belas orang itu, malah dia yang merasa khawatir kalau-kalau pemuda itu akan celaka di tangan orang-orang Beng-kauw yang lihai. Maka dia memutar goloknya dengan cepat sambil mendekati pemuda itu untuk melindunginya. Akan tetapi terlambat.

Apa yang dikhawatirkan terjadi. Tiba-tiba pemuda itu mengeluh dan pundaknya berdarah. Melihat ini Tio-pangcu menggerakkan goloknya lebih cepat lagi dan dua orang pengeroyok roboh.

Akan tetapi pada saat itu seorang di antara para pengeroyok melepas benda peledak di atas tanah. Terdengar suara ledakan dan asap mengepul tebal. Tio-pangcu yang khawatir kalau asap itu beracun, langsung melompat kemudian menarik tangan pemuda itu, dibawa meloncat menjauhi asap. Ketika mereka memandang, ternyata belasan orang itu sudah melarikan diri di balik asap.

Tio-pangcu membawa pemuda itu menjauh, namun tiba-tiba pemuda itu mengeluh lantas terkulai pingsan. Cepat Tio Hui Po merangkul dan memeriksa lukanya. Luka di pundak.

Untung tidak merusak tulang, hanya saja mengeluarkan banyak darah. Agaknya luka itu mengandung racun sehingga pemuda itu tidak sadarkan diri. Cepat dia menotok beberapa jalan darah supaya racun tidak menjalar semakin jauh dan menggunakan obat penghisap racun, sambil membantu dengan penyaluran tenaga sakti.

Akhirnya pemuda itu mengeluh, sadar dan bangkit. Seuntai kalung keluar dari balik baju di dadanya.

Melihat kalung itu, Tio-pangcu terkejut dan terheran-heran. Kalung itu sama benar dengan kalung yang selama ini disimpan dan dipakainya. Namun dia menahan gejolak hatinya dan diam saja. Ketika pemuda yang usianya sekitar delapan belas tahun dan berwajah tampan itu membuka matanya, dia segera bangkit duduk kemudian memberi hormat kepada Tio-pangcu.

"Terima kasih atas pertolongan locianpwe. Saya harus malu, saya yang mau membantu locianpwe tetapi sekarang malah ditolong."

"Siapakah engkau, orang muda? Ilmu pedangmu cukup baik, akan tetapi agaknya engkau tidak tahu bahwa mereka itu adalah orang-orang Beng-kauw yang amat berbahaya.”

"Saya bernama Tong Seng Gun, locianpwe. Kebetulan sekali saya sedang berada di sini ketika melihat locianpwe dikeroyok banyak orang. Saya sedang mencari seseorang."

"Siapa yang kau cari? Mungkin aku mengenalnya dan mengetahui di mana dia berada."

"Dia adalah ketua perkumpulan Nam-kiang-pang, bernama Tio Hui Po. Apakah locianpwe mengenalnya?"

Tio-pangcu memandang tajam ketika menjawab, "Akulah yang bernama Tio Hui Po ketua Nam-kiang-pang. Orang muda, mau apakah engkau mencari aku?"

Orang muda itu terbelalak, nampak terkejut sekali dan memandang kepada Tio-pangcu, kemudian dia menjatuhkan dirinya sambil menangis. Tio-pangcu menyentuh pundaknya, mengangkatnya bangun agar tidak berlutut.

"Tenanglah dan ceritakan kepadaku mengapa engkau mencari aku."

"Ahh, locianpwe, beruntung sekali saya dapat bertemu dengan locianpwe sesudah lama saya cari. Ketahuilah bahwa saya adalah keponakan dari mendiang Siang-cu Sianli ketua Ang-lian-pang (Perkumpulan Teratai Merah) di Hang-kouw.”

"Apa?!" Tio-pangcu terkejut. "Si-ang-cu Sianli telah mati? Apa yang terjadi?"

"Tiga bulan yang lalu Ang-lian-pang diserbu oleh Beng-kauw, dan akhirnya bibi tewas di tangan mereka."

"Ahh…” Tio-pangcu mengepal tinju, memejamkan matanya dan membayangkan peristiwa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.

Ketika itu dia masih muda dan belum menjadi ketua Nam kiang-pang. Ia bertemu dengan Siang-cu Sianli, keduanya masih muda dan Siang-cu Sianli juga baru menjadi calon ketua Ang-lian-pang. Keduanya saling jatuh cinta, namun sebagai calon ketua keduanya tentu saja tidak boleh menikah. Hubungan mereka akrab sekali, keakraban yang mendalam dan karena tidak dapat menahan diri, akhirnya mereka pun melakukan hubungan badan.

Siang-cu Sianli lalu pergi menyembunyikan diri dengan dalih ingin memperdalam ilmunya. Setelah dia melahirkan seorang anak laki-laki, dia membawa anak itu kepada Tio Hui Po dan menyerahkan anak itu kepada ayahnya. Hal ini terpaksa dilakukan karena dia harus melakukan upacara pengangkatan sebagai ketua Ang-lian-pang.

Tio Hui Po menjadi pusing tujuh keliling ketika menerima anak laki-laki yang masih bayi itu. Dia sendiri adalah calon ketua Nam-kiang-pang. Maka terpaksa dia menemui Tio Sun Po, adiknya yang sudah berkeluarga, sambil membawa anak itu dan mengatakan bahwa terpaksa membawa anak laki-laki itu karena ibunya tewas oleh penjahat dan anak itu tidak mempunyai keluarga lagi.

Tio Sun Po menerima dan memelihara anak itu yang diberi nama Tio Ki Bhok, diaku anak oleh Tio Sun Po. Setelah anak itu berusia belasan tahun, Tio Hui Po yang sudah menjadi ketua Nam-kiang-pang lalu mengambilnya, kemudian melatih ‘keponakannya’ ini dengan ilmu silat.

Demikianlah hal-hal yang teringat oleh Tio Hui Po pada waktu itu. Kini bekas kekasihnya atau ibu Tio Ki Bok, Siang-cu Sian-li, sudah tewas oleh orang-orang Beng-kauw. Bahkan tadi dia sendiri pun diserang oleh orang-orang Beng-kauw!

"Akan tetapi, kenapa engkau mencari aku?" akhirnya dia bertanya.

"Maaf, locianpwe. Sebelum meninggal karena luka-lukanya, bibi Siang-cu menyerahkan kalung ini kepada saya. Beliau minta supaya saya mencari locianpwe dengan pesan agar locianpwe sudi menerima saya menjadi murid, agar kelak saya dapat membalaskan sakit hati ini kepada Beng-kauw."'

Tio-pangcu menerima kalung itu, mengamatinya sejenak dan dia yakin bahwa itu adalah kalung yang dahulu diberikannya kepada kekasihnya. Dia termenung dengan hati sedih membayangkan kekasihnya itu terbunuh oleh orang Beng-kauw. Dan dia segera teringat bahwa di antara muridnya tidak ada yang berbakat kecuali hanya satu orang, maka tidak ada jeleknya memenuhi permintaan terakhir dari Siang-cu Sian-li. Apa lagi dia tadi sudah melihat bahwa pemuda ini memiliki gerakan yang cukup tangkas.

"Baiklah, Seng Gun. Demi Siang-cu Sian-li aku menerima engkau menjadi muridku," kata Hui Po.

Mendengar ini, dengan girang Seng Gun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tio-pangcu. Demikinlah, mulai saat itu, Seng Gun menjadi murid Tio-pangcu. Sama sekali Tio Hui Po tidak pernah menduga bahwa dia sudah memelihara anak harimau yang buas dan kelak akan membahayakan dirinya.

Seperti kita ketahui, Seng Gun adalah cucu yang diangkat putera oleh Kwi-jiauw Lomo salah seorang di antara Sam Mo-ong yang menjadi utusan orang Mongol. Dan Seng Gun menerima tugas khusus dari Sam Mo-ong untuk membantu gerakan Hoat-kauw.

Para penyelidik Hoat-kauw menyelidiki partai-partai persilatan serta aliran yang tidak mau diajak kerja sama, lalu melakukan siasat adu domba di antara mereka. Musuh utamanya yang terkuat adalah Beng-kauw karena Beng-kauw memiliki banyak orang pandai. Maka mereka berusaha mengatur supaya Beng-kauw dimusuhi semua aliran dengan melakukan perbuatan fitnah yang dijatuhkan kepada Beng-kauw.

Perkumpulan Ang-sin-liong yang diketuai oleh Siang-cu Sian-li diserbu dengan menyamar sebagai orang-orang Beng-kauw, kemudian mereka berhasil membunuh Siang-cu Sian-li. Mereka telah menyelidiki dan mengetahui rahasia Tio pangcu, maka Seng Gun mendapat tugas rahasia untuk menyelundup ke dalam Nam-kiang pang sebagai keponakan Siang-cu Sian-li.

Hal ini adalah karena pihak Hoat-kauw maklum betapa lihainya Thian-te Sin-to Tio Hui Po dan nama besar Nam-kiang-pang sangat berpengaruh. Kalau mereka berhasil menguasai Nam-kiang pang, maka akan mudah sekali untuk menggerakkan perkumpulan lain untuk memusuhi Beng-kauw.

Hampir dua tahun Seng Gun menerima gemblengan dari Tio-pangcu. Ia menyembunyikan kepandaiannya sendiri sehingga baik suheng-suheng-nya mau pun suhu-nya sendiri tidak tahu bahwa dia telah mempunyai kepandaian tinggi. Ketika dia membantu Tio-pangcu dua tahun yang lampau, menghadapi pengeroyokan orang-orang Beng-kauw yang sebetulnya adalah anak buah Hoat-kauw yang menyamar, dia sengaja tidak memperlihatkan ilmunya sehingga Tio-pangcu yang lihai pun dapat dia kelabui.

Selama dua tahun dia berhasil mempelajari banyak ilmu, mungkin hanya sedikit di bawah suheng-nya Ciu Kang Hin. Diam-diam Tio-pangcu merasa gembira mendapat kenyataan bahwa Seng Gun amat berbakat, tidak kalah dibandingkan dengan Kang Hin sehingga kini dia mempunyai dua orang murid yang boleh diandalkan.

Walau pun sudah menerima gemblengan yang sungguh-sungguh dari Tio-pangcu, Seng Gun yang haus akan ilmu itu masih merasa penasaran sekali karena gurunya belum juga mengajarkan Thian-te To-hoat (Ilmu Golok Bumi Langit). Gurunya itu selalu mengatakan belum waktunya, namun menjanjikan kepada Kang Hin dan Seng Gun karena hanya dua orang murid inilah yang tingkatnya sudah cukup kuat untuk mewarisi ilmu golok yang telah mengangkat nama besarnya itu.

Seng Gun merasa penasaran. Kerap kali secara diam-diam dia menyelidiki dan mencari-cari dalam ruang perpustakaan Nam-kiang-pai. Padahal kalau tidak mendapat ijin khusus dari Tio-pangcu, siapa pun dilarang mengaduk kitab-kitab di ruangan itu.

Pada suatu malam, pada saat dia sedang mencari kitab dan membuka-buka kitab lama di perpustakaan itu, berkelebat empat bayangan orang dan Seng Gun terkejut melihat dua orang susiok (paman guru) serta dua orang suheng telah berada di situ dengan pedang di tangan.

"Susiok dan suheng, ada apakah?" tanyanya khawatir sebab empat orang itu menatapnya dengan penuh kecurigaan.

"Tong-sute, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya So Liong, seorang di antara kedua suheng-nya sambil memandang penuh kecurigaan.

"Aku tidak melakukan apa-apa, suheng, hanya membersihkan debu dari kitab-kitab ini," jawab Seng Gun dengan sikap wajar.

"Seng Gun, engkau tentu sudah tahu bahwa dilarang keras kepada siapa pun juga untuk membaca kitab di sini tanpa ijin khusus dari pangcu!" kata Cang Hok, seorang susiok-nya.

Seng Gun memang sudah lama mengetahui bahwa dua orang susiok-nya dan dua orang suheng-nya ini tidak suka kepadanya, mungkin karena iri hati melihat dia sangat disayang Tio-pangcu dan dilatih ilmu-ilmu simpanan. Tetapi dia tetap tenang dan menjawab dengan wajar.

"Susiok, saya tidak membaca kitab, hanya melihat-lihat saja sambil membersihkan. Bila saya dianggap bersalah, saya siap dilaporkan kepada suhu dan menerima hukuman."

Di dalam ucapannya itu terkandung pengakuan bersalah, akan tetapi juga ancaman untuk melaporkan kepada ketua. Dia maklum bahwa suhu-nya yang sangat sayang kepadanya tidak akan memarahinya hanya karena urusan sekecil itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner