KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-17


"Aduh, ampunkan taihiap... aku tidak mempunyai isteri... aku orang miskin ini bagaimana mampu mempunyai isteri! Ampunkan aku…"

Seng Gun berkata kepada suheng-nya, "Sebaiknya suheng geledah isi rumahnya."

Kang Hin mengangguk kemudian cepat melakukan pemeriksaan. Namun tidak ada sedikit pun petunjuk bahwa rumah itu juga didiami seorang wanita, maka dia kembali lagi sambil menggelengkan kepalanya.

"Engkau tidak berbohong?!" Sekali lagi Seng Gun menghardik.

"Aku berani sumpah, taihiap."

Seng Gun melepaskan injakannya kemudian sekali berkelebat, dua orang pemuda itu pun lenyap dari depan Tan Seng, yang juga segera menutup pintunya dengan tubuh gemetar.

Dalam perjalanan pulang Seng Gun mengomel, "Nah, bagaimana sekarang, suheng? Aku sudah menduga keras bahwa wanita itu adalah orang Beng-kauw akan tetapi engkau tak percaya."

Kang Hin menghela napas panjang. "Mungkin engkau benar, sute. Akan tetapi dia masih berada di sana. Kita akan dapat memaksanya mengaku mengapa dia sudah menipu kita dan apakah benar dia adalah anggota Beng-kauw."

"Aku yakin akan hal itu, suheng, dan akan kupenggal lehernya. Sungguh menggemaskan perempuan itu telah membohongi kita."

"Sabarlah, sute."

"Itu bukan sabar namanya, suheng, tetapi kelemahan. Kalau bukan karena kesabaranmu itu, tentu kita tidak tertipu."

Akhirnya mereka tiba di perkampungan Nam-kiang-pang, akan tetapi suatu kejutan besar menyambut mereka. Tawanan itu telah lolos, empat orang penjaganya tewas dan tempat tahanan itu telah dibakar sampai habis! Suasana menjadi geger dan dua orang pemuda ini disambut oleh Tio-pangcu yang berdiri dengan alis berkerut sambil bertolak pinggang.

Seng Gun melihat bahwa gurunya marah sekali. Dia pun mengenal betul watak Ciu Kang Hin yang gagah dan bertanggung jawab. Maka dengan cepat dia lalu lari menubruk kaki gurunya dan berkata,

"Suhu, teecu mengaku bersalah, harap hukum teecu," Dan dia pun menangis di hadapan kaki gurunya.

Kang Hin terkejut melihat sikap sute-nya itu. Jelas dia yang bersalah, mengapa sute-nya mengaku kesalahannya. Maka dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu yang bersalah, suhu."

"Huhh!”

Tio-pangcu membalikkan tubuh. Dia merasa marah dan kecewa sekali mendengar bahwa yang membawa tawanan itu adalah dua.orang murid terkasih ini, dan ternyata tawanan itu dapat membebaskan diri, lantas membunuh empat orang penjaga dan membakar tempat tahanan.

"Apa artinya semua ini? Hayo ceritakan yang sebenarnya!" dia membentak lalu duduk di atas kursi.

"Teecu mengaku bersalah, suhu. Teecu yang menangkap wanita itu karena mengira dia adalah orang Beng-kauw, tetapi dia mengaku orang Kam-cui, isteri seorang bernama Tan Seng. Teecu lalu meninggalkan dia di dalam tahanan untuk pergi menyelidiki ke dusun Kam-cui. Ternyata dia berbohong dan ketika teecu kembali ke sini, sudah terlambat."

"Hemm, benarkah cerita Seng Gun itu, Kang Hin?" Tio-pangcu bertanya kepada Kang Hin dengan suara masih mengandung kemarahan.

"Tidak benar, suhu!" Kang Hin berkata dengan suara tegas sehingga mengejutkan semua orang. "Sama sekali bukan sute yang bersalah dalam hal ini, melainkan teecu."

Tio Hui Po mengerutkan alisnya. "Apa artinya semua ini? Hayo ceritakan yang betul!"

"Malam tadi sute memberi tahu teecu bahwa dia mencurigai seorang wanita di perahu lalu mengajak teecu untuk memeriksa dan menyelidikinya. Sampai di perahu wanita berkedok itu hendak melarikan diri, begitu pula tukang perahunya. Sute membunuh tukang perahu itu dan berhasil merobohkan wanita itu. Sute hendak langsung membunuhnya, akan tetapi teecu berkeras melarangnya dengan alasan bahwa belum tentu dia itu orang Beng-kauw. Wanita itu mengaku bernama Bi Hwa, isteri Tan Seng dari dusun Kam-cui. Teecu yang mengusulkan kepada sute agar menahan wanita ini, lalu kami pergi menyelidiki kebenaran keterangannya. Ternyata wanita itu berbohong, maka cepat kami kembali ke sini namun ternyata wanita itu sudah lolos."

"Bodoh!" Tio-pangcu menggebrak tangan kursinya. "Apakah dia tidak dibuat tak berdaya dulu sehingga mampu membunuh para penjaga?"

Seng Gun segera berkata. "Suheng sudah menotoknya, suhu. Teecu melihat sendiri. Dan teecu telah menggunakan sabuk untuk mengikat kaki dan tangannya. Suheng bermaksud baik, suhu, harap jangan persalahkan suheng."

"Engkau benar-benar teledor, Kang Hin. Ingat, engkau adalah seorang calon ketua, tidak pantas melakukan keteledoran yang menunjukkan kelemahanmu. Engkau patut dihukum!"

"Teecu menerima salah, suhu, dan teecu siap untuk menerima hukuman," kata Kang Hin pasrah.

"Kau memang pantas dihukum!" bentak Tio-pangcu.

Pada saat itu pula Seng Gun menjatuhkan diri lagi mencium lantai sambil berkata dengan suara memohon. "Suhu, biar teecu saja yang menjalani hukuman. Suheng adalah calon ketua, tidak sepantasnya kalau suheng yang menjalani hukuman.”

"Sute, jangan begitu!"

Tio-pangcu menghela napas panjang. "Aahh, ternyata Seng Gun lebih memiliki kesetiaan dari pada engkau. Sepatutnya engkau mencontoh sute-mu ini."

"Suhu, maafkanlah suheng. Teecu yakin bahwa suheng tidak sengaja bersikap lunak. Bila dia mengetahui bahwa wanita itu adalah orang Beng-kauw, teecu percaya bahwa suheng mau bersumpah untuk setia kepada Nam-kiang-pang dan untuk membasmi Beng-kauw."

Tio-pangcu mengangguk-angguk. "Pikiran yang bagus. Baik, aku tidak akan menghukum kalian, akan tetapi kalian harus mengulangi sumpah setia terhadap Nam-kiang-pang, juga bersumpah untuk membasmi Beng-kauw!"

Dua orang muda itu lalu digiring masuk ke dalam ruangan sembahyang dan di depan meja sembahyang Seng Gun mengucapkan sumpah dengan lantang yang diikuti oleh suheng-nya.

"Demi arwah para sesepuh Nam-kiang-pang, disaksikan bumi dan langit, saya bersumpah akan membela Nam-kiang-pang dengan setia dan dengan taruhan nyawa, dan saya akan membasmi orang-orang Beng-kauw!"

Akan tetapi Ciu Kang Hin mengakhiri sumpah dengan kata-kata ‘orang-orang Beng-kauw yang jahat’, menambahkan kata-kata ‘yang jahat’ di belakangnya. Dengan demikian maka dia hanya akan membasmi orang-orang Beng-kauw yang jahat, bukan sembarang orang Beng-kauw!

Sejak saat itu secara diam-diam Seng Gun menyebar cerita yang condong menimbulkan rasa kecurigaan kepada Kang Hin. Dia menerangkan kepada para murid betapa Kang Hin nampaknya menaruh kasihan terhadap wanita Beng-kauw itu. Bahwa Kang Hin dengan keras melarang dia membunuhnya karena agaknya Kang Hin tergila-gila oleh kecantikan wanita tawanan itu. Bisanya berita buruk tentang seseorang lebih dipercaya oleh umum, maka dengan sendirinya orang-orang mulai berprasangka buruk terhadap Kang Hin.

Makin bersemangatlah Seng Gun memimpin anak buahnya untuk melakukan pengejaran dan pembantaian terhadap anggota-anggota Beng-kauw sehingga gegerlah perkumpulan itu. Memang sejak dahulu Beng-kauw dicurigai dan dimusuhi orang-orang kangouw, tetapi baru sekarang inilah orang-orang Nam-kiang-pang secara berterang melakukan perburuan dan membunuhi orang-orang Beng-kauw tanpa sebab lagi.

Setiap kali melakukan pembunuhan Seng Gun selalu menonjolkan nama Ciu Kang Hin sebagai calon ketua Nam-kiang-pang dan sebagai pemimpin regu pembunuh, sehingga sebentar saja di kalangan orang-orang Beng-kauw, bahkan di dunia kangouw, nama Ciu Kang Hin dianggap sebagai pembunuh dan pembasmi Beng-kauw nomor satu.

Padahal Ciu Kang Hin sendiri jarang sekali membunuh orang Beng-kauw. Bila dia sampai membunuh, maka yang dibunuhnya itu, orang Beng-kauw atau bukan, pasti orang yang sudah melakukan kejahatan besar. Tukang memperkosa wanita atau tukang membunuh orang yang tidak bersalah…..

********************

Yang Mei Li menjalankan kudanya perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan alam di pegunungan itu. Bukit seribu goa amat terkenal karena keindahannya. Selain terdapat banyak sekali goa ciptaan alam di sana, juga terdapat banyak batu besar yang berwarna kekuningan sehingga dari jauh nampak seperti emas. Karena itu Bukit Seribu Goa ini juga dikenal dengan Bukit Emas.

Akan tetapi kekagumannya itu segera sirna terganti kemuraman wajahnya ketika dari jauh dia melihat tubuh orang malang melintang di sepanjang jalan.

"Ahh, tidak lagi!" dia berseru lirih lalu menghentikan kudanya. Kuda itu bisa menjadi panik apa bila terlampau dekat dengan mayat-mayat itu. Dia melepaskan kendali kuda itu lantas berloncatan mendekat tempat itu.

Ada sebelas orang yang dibantai di tempat itu. Yang membuat hatinya sedih dan marah adalah bahwa di antara mayat-mayat itu terdapat tiga orang wanita muda dan dua orang anak laki-laki yang usianya sekitar lima enam tahun.

Di sepanjang perjalanannya dia sudah mendengar mengenai pembantaian dan serangan yang dilakukan oleh para pendekar terhadap orang-orang Beng-kauw. Dia memang sudah mendengar bahwa Beng-kauw adalah perkumpulan sesat yang mempunyai banyak orang jahat, namun kenyataan bahwa di antara orang-orang Beng-kauw yang dibunuh terdapat pula wanita dan anak-anak, hatinya mulai penasaran dan curiga. Mungkin saja Beng-kauw memiliki anggota yang jahat, akan tetapi apakah anak-anak dan isteri orang Beng-kauw juga jahat? Apakah kehadiran anak-anak sebagai keluarga Beng-kauw itu membuat mereka jahat pula, seperti orang yang ketularan penyakit?

Mungkin saja di Beng-kauw terdapat anggota yang jahat, akan tetapi apakah para isteri dan anak-anak orang Beng-kauw juga orang jahat? Apakah kehadiran anak-anak sebagai anggota keluarga Beng-kauw membuat mereka jahat pula, seperti orang yang ketularan penyakit?

Sudah sejak tiga hari yang lalu dia sering menemukan adanya mayat-mayat berserakan di sepanjang perjalanan. Ketika ditanyakan hal itu kepada penduduk dusun di sekitar tempat kejadian, dia mendapat keterangan bahwa yang dibunuh itu adalah orang-orang jahat dari Beng-kauw, dan yang membunuhnya adalah para pendekar dari berbagai perkumpulan silat, akan tetapi yang terbesar adalah dari perkumpulan Nam-kiang-pang.

Sering dia mendengar disebutnya nama pendekar Ciu Kang Hin, pendekar calon ketua Nam-kiang-pang yang kabarnya amat lihai dengan goloknya, tampan dan gagah menjadi idaman para gadis! Akan tetapi melihat cara orang-orang Beng-kauw dibunuh, nama Ciu Kang Hin itu tidak menimbulkan kagum di hatinya, bahkan mendatangkan rasa penasaran sehingga ingin menyelidiki pembantaian itu.

Sejak tiga hari yang lalu, apa bila bertemu mayat-mayat yang terbunuh di sepanjang jalan, Mei Li menggunakan uangnya untuk menyuruh orang-orang dusun menguburkan mayat-mayat itu. Tadinya orang-orang dusun itu merasa takut, akan tetapi dengan gagah Mei Li mengatakan bahwa dialah yang bertanggung jawab. Lagi pula jika mayat-mayat itu tidak dikubur, maka mereka sendiri yang akan rugi karena mungkin saja mayat-mayat itu akan mendatangkan penyakit. Selain itu Mei Li juga memberi uang untuk membeli peti mati.

Sekarang ada lagi belasan buah mayat! Mei Li lalu menghampiri kudanya, menuruni bukit menuju ke perkampungan yang telah nampak dari situ dan seperti yang sudah-sudah, dia membujuk penduduk untuk membeli peti mati dan menguburkan mayat-mayat itu. Setelah itu dia melanjutkan perjalanan sambil mengikuti jejak banyak kaki manusia yang menuju ke timur. Dia dapat menduga bahwa jejak kaki itu adalah jejak kaki rombongan orang yang agaknya sedang tergesa-gesa melarikan diri, karena jejak-jejak itu tercampur dengan jejak kaki anak-anak dan wanita.

Menjelang senja kudanya sampai di kaki bukit. Dari jauh dia sudah mendengar suara ribut banyak orang yang sedang berkelahi, juga terdengar jerit tangis para wanita dan kanak-kanak.

Mei Li tahu bahwa di depan terjadi pertempuran, maka dia cepat membalapkan kudanya. Dia lantas melihat lebih dari tiga puluh orang yang terdiri dari pria, wanita serta anak-anak, yang berkelompok dan dilindungi belasan orang laki-laki, sedang dikepung dan diserang oleh belasan orang yang menunggang kuda!

Biar pun mereka yang melindungi sekelompok wanita dan anak-anak itu juga bukan orang lemah dan mereka melawan mati-matian menggunakan pedang dan golok mereka, tetapi dengan jelas Mei Li bisa melihat bahwa mereka bukanlah lawan yang seimbang dari para penyerang itu. Kini para penyerang sudah berlompatan turun dari atas kuda mereka, dan gerakan mereka amatlah tangkasnya. Dalam waktu beberapa belas jurus saja sudah ada tiga orang pelindung rombongan itu yang roboh mandi darah.

Mei Li mempercepat larinya dan seperti terbang dia sudah melompat turun dari punggung kudanya lalu mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke tempat itu sehingga kudanya tertinggal di belakang. Akan tetapi terjadi sesuatu yang membuat lega hatinya. Entah dari mana datangnya, tahu-tahu seorang pemuda telah terjun ke dalam pertempuran membela rombongan itu.

Sepak terjang pemuda ini gagah luar biasa. Dua orang pengeroyok yang memegang golok terjungkal ketika menyambutnya dengan bacokan golok. Seorang yang tinggi kurus dari pihak pengeroyok menjadi marah kemudian mendorong dengan tombak cagaknya. Akan tetapi pemuda itu mendorong dengan kedua tangannya dan si tombak cagak itu terdorong ke belakang sambil berteriak kesakitan.

"Matahari merah!” teriaknya dan semua pengeroyok terkejut mendengar seruan ini.

Mei Li yang sudah tiba di situ juga menjadi kagum dan terkejut sekali. Tentu saja dia telah mendengar tentang ilmu Matahari Merah, salah satu dari ilmu pasangan Matahari Merah dan Salju Putih, ilmu yang dianggap sukar dicari bandingnya pada masa itu. Dan ilmu ini merupakan ilmu rahasia yang hanya dikuasai oleh pimpinan tertinggi Beng-kauw!

Kalau begitu pemuda itu tentu orang Beng-kauw, dan bukan anggota biasa pula. Namun dia tidak peduli. Yang diserang dan akan dibantai adalah wanita dan anak-anak! Dia harus membelanya, tidak peduli wanita dan anak-anak itu anggota Beng kauw atau bukan.

Juga dia melihat bahwa pasangan kuda-kuda pemuda yang pandai mempergunakan ilmu Matahari Merah tadi terlihat tidak tegak, tapi agak terhuyung tanda bahwa dia terluka. Hal ini dapat terlihat oleh musuh-musuhnya pula, maka seorang di antara musuh-musuhnya telah berseru,

"Serang terus, dia sudah terluka!"

Mei Li sudah tiba di situ. Tanpa membuang waktu lagi dia sudah melemparkan sepasang pedang terbangnya.

"Trangg…! Tranggg…!" Dua batang golok terpental dan terlempar.

Semua orang terkejut karena yang nampak hanyalah kilatan pedang sedangkan orangnya tidak nampak. Sesudah sepasang pedang itu terbang kembali kepada pemiliknya, barulah mereka menyadari bahwa di gagang hui-kiam (pedang terbang) itu dipasangi tali sehingga bisa terbang kembali kepada pemiliknya.

"Tahan dulu!” seorang pengeroyok berteriak dan ternyata dia adalah seorang wanita.

Usia wanita ini kurang lebih dua puluh delapan tahun. Wajahnya cantik jelita dan sikapnya genit. Rambutnya panjang terurai dan pakaiannya mewah. Dia memegang pedang ronce merah.

"Siapa engkau, nona? Kami lihat engkau bukan orang Beng-kauw!"

Mei Li tersenyum dan begitu dia tersenyum, kecantikan wanita di depannya itu bagaikan bulan kesiangan, memudar oleh cahaya matahari.

"Dan engkau siapa? Aku lihat engkau pun pasti bukan orang Beng-kauw!" tanyanya dan cara dia memandang orang itu seperti seorang dewasa memandang anak kecil. Memang Mei Li belum taliu siapa wanita itu maka dia berani memandang rendah.

Wanita itu menjadi berang. Mukanya merah sekali. Dia adalah orang termuda dari Bu-tek Ngo-sin-liong (Lima Naga Sakti Tanpa Tanding) dan gadis ingusan ini berani memandang rendah kepadanya?

Sekarang pertempuran telah berhenti oleh seruan Bi-sin-liong Kwa Lian. Empat orang dari golongan yang diserang telah roboh dan dua orang penyerang yang tadi diterjang pemuda perkasa itu pun roboh. Pemuda itu sendiri berdiri memandang, mukanya agak pucat tetapi sikapnya penuh kemarahan dan keberanian.

Bi-sin-liong menudingkan pedangnya ke muka Mei Li kemudian membentak dengan suara lantang, "Bocah ingusan bosan hidup! Ketahuilah bahwa yang kau hadapi ini adalah Bin-sin-liong Kwa Lian, seorang di antara Bu-tek Ngo-sin-liong, tokoh Hoat-kauw! Nah, lekas katakan. Siapakah engkau bocah ingusan berani memandang rendah kepadaku? Gurumu agaknya kurang memberi pelajaran kepadamu!"

Pemuda Beng-kauw itu sendiri agaknya terkejut mendengar disebutnya nama Bu-tek Ngo-sin-liong itu. Sedangkan orang tinggi kurus berusia empat puluh lima tahun yang mukanya pucat, yang memegang sebatang tombak cagak dan tadi terkejut ketika melihat gerakan pemuda itu, yang dapat mengenali ilmu Matahari Merah, segera menyambung,

"Dan aku adalah Tiat-sin-liong Lai Cin, lebih baik kalian mengenalku sebelum mati."

Kalau semua orang terkejut dan gentar mendengar nama dua orang tokoh Hoat-kauw ini, maka Mei Li sendiri nampak biasa saja, malah tersenyum mengejek. Hal ini bukan karena dara ini sombong, meilainkan karena dia memang tidak pernan mengenal nama itu.

"Wah, ternyata nenek Kwa Lian dan kakek Lai Cin yang berlagak di sini. Kalian sudah tua tapi tidak tahu diri! Kalian mau tahu siapa aku? Buka telinga kalian baik-baik dan jewerlah sampai lebar, bersiaplah agar jangan sampai jatuh karena terkejut. Aku adalah Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang)!" Lalu disambungnya dengan lantang, "Awas, pedangku ini akan memenggal lehermu!"'

Ucapan itu ditutup dengan gerakan kedua tangannya dan sepasang pedangnya langsung menyambar laksana dua ekor burung garuda ke arah leher Bi-sin-liong Kwa Lian dan Tiat-sin-liong Lai Cin!

Kedua orang ini segera menangkis dengan pedang dan tombak mereka, akan tetapi pada saat itu pula pemuda yang pandai ilmu Matahari Merah sudah menyerang kembali dengan pukulannya yang ampuh ke arah Tiat-sin-liong (Naga Sakti Besi).

Tentu saja tokoh Hoat-kauw yang sudah mengenal pukulan sakti Matahari Merah ini cepat mengelak karena dia tidak berani menangkis secara langsung. Sementara itu Bi-sin-liong juga mengeluarkan teriakan kaget ketika pedangnya yang menangkis pedang terbang itu tergetar hebat. Tiat-sin-liong juga tidak berani memandang rendah pedang terbang yang mengarah ke lehernya itu, maka dia menghindar dengan loncatan jauh ke belakang.

Ketika tidak dapat mengenai sasaran, bagai dua ekor ular naga melayang-layang mencari mangsa akhirnya sepasang pedang terbang itu merobohkan dua orang pengeroyok yang lancang berani menangkisnya, sedangkan pemuda itu pun kembali merobohkan seorang lawan lagi dengan dorongan tangannya.

Melihat kehebatan dua orang muda itu, Bi-sin-liong Kwa Lian lalu mengeluarkan teriakan, mengajak suheng-nya untuk meiarikan diri. Tiat-sin-liong memberi aba-aba kepada anak buahnya dan mereka lalu berloncatan pergi sambil membawa tubuh teman mereka yang terluka atau tewas.

Yang Mei Li tidak mengejar karena dia melihat pemuda itu terhuyung lantas jatuh berlutut sambil terengah-engah. Mereka yang tadi melindungi kelompok itu sekarang menjatuhkan diri berlutut di depan Mei Li sambil memberi homat.

"Kami menghaturkan terima kasih atas pertolongan lihiap."

"Paman," tanya Yang Mei Li kepada salah seorang di antara mereka. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian diserang mereka? Apakah benar kalian orang-orang Beng-kauw?"

“Kami adalah penduduk dusun Sin-yang yang termasuk wilayah kekuasaan Beng-kauw. Memang banyak pemuda kami yang menjadi anggota Beng-kauw, akan tetapi kami tidak tahu menahu mengenai Beng-kauw. Selama beberapa bulan ini Beng-kauw dikejar-kejar dan dibunuhi dan kami pun ikut pula dikejar-kejar. Sudah banyak di antara kami yang mati terbunuh. Kami sedang pergi mengungsi ketika dikejar oleh rombongan orang Hoat-kauw tadi. Untung lihiap keburu datang menolong."

"Dan siapa pemuda itu?" tanya Mei Li sambil menunjuk pemuda yang masih berlutut dan mengumpulkan tenaga itu.

Pemuda itu membuka mata, kemudian bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Mei Li. "Nona, namaku Sie Kwan Lee, dan aku... aku...” Pemuda itu terkulai dan jatuh pingsan.

Mei Li terkejut dan cepat memeriksa nadi tangan pemuda Itu. Detik jantungnya tidak tetap dan tubuhnya terasa panas sekali. Jelas bahwa pemuda itu menderita keracunan.

"Sekarang kalian mau ke mana? Dan siapakah pemuda ini?" Dia bertanya kepada orang tadi.

"Ketahuilah, lihiap. Dia adalah Sie-kongcu (tuan muda Sie), putera dari ketua Beng-kauw yang selalu menolong kami."

"Hemm, dia sakit berat karena keracunan," kata Mei Li.

"Kami akan melanjutkan perjalanan kami lari mengungsi, lihiap, dan kami harus membawa Sie-kongcu. Dia adalah tuan penolong kami."

Melihat betapa pemuda itu sakit dan sekarang rombongan itu tak ada yang menjaga lagi, maka Mei Li segera mengambil keputusan. "Baiklah, aku akan menemani kalian sebelum pemuda itu sembuh dan dapat melindungi kalian lagi."

"Ahh, terima kasih, lihiap. Terima kasih." Orang itu berlutut lalu diikuti oleh semua orang sehingga Mei Li tersipu. Belum pernah dia dinormati orang seperti itu.

"Sudahlah, kalian membuat aku merasa sungkan saja. Sudah sepatutnya bila orang saling menolong."

Rombongan itu kemudian bergerak lagi melanjutkan perjalanan mereka mengungsi, diikuti oleh Mei Li yang menunggang kudanya perlahan-lahan. Orang yang tadi mewakili kawan-kawannya bicara, berjalan di dekat kudanya.

"Sungguh, nona telah menanam budi yang luar biasa besarnya kepada kami," katanya.

"Sudahlah, jangan bicara lagi mengenai budi. Kebeulan aku pun sedang merantau, maka melakukan perjalanan bersama kalian Ini tidak menggangguku sama sekali."

"Akan tetapi, lihiap, di antara seratus orang pendekar, belum tentu ada satu orang yang sudi menolong kami."

"Ehh? Jika dia tidak mau menolong kalian yang terancam bahaya, maka dia tidak pantas disebut pendekar."

"Ahh, agaknya engkau belum mengetahui, lihiap. Semua pendekar di dunia ini memusuhi kami. Semua orang menganggap bahwa Beng-kauw merupakan orang-orang jahat yang pantas dibasmi. Memang kami tidak dapat menutup kenyataan bahwa orang Beng-kauw hidup penuh kekerasan, suka berkelahi, dan banyak pula di antara mereka yang sangat jahat. Akan tetapi tidak semuanya, seperti kami yang hidup mengandalkan kerja keras dan tidak mempunyai apa-apa untuk diandalkan berbuat jahat. Anak-anak dan isteri kami pun bukan orang jahat, kenapa diikut sertakan dalam pembasmian?"

"Apakah semua pemimpin Beng-kauw jahat dan kejam?"

"Terus terang saja, lihiap, banyak di antara mereka yang kejam. Bahkan pangcu sendiri adalah seorang yang tidak pernah mau mematuhi hukum negara atau hukum masyarakat. Suka bertindak ingin menang sendiri. Akan tetapi bukankah orang-orang dunia persilatan selalu begitu? Biar pun demikian, kami semua tidak dapat mengatakan bahwa Sie-kongcu itu jahat! Dia malah sering bertentangan dengan para pimpinan, dengan ayahnya sendiri. Ahh, sudahlah lihiap, kalau terlalu banyak bicara tidak ada yang dapat menjamin kepala ini tetap melekat di leherku."

Karena orang itu tidak berani banyak cakap lagi, Mei Li juga diam saja dan dijalankannya kudanya dekat dengan kereta dorong di mana tubuh Sie Kwan Lee rebah telentang. Dia lantas mengamati wajah pemuda yang masih pingsan itu. Tadi dia sudah menyuruh orang meminumkan obat kepada pemuda itu, obat penawar racun. Sekarang dia masih pingsan, atau tidur pulas sekali.

Wajah pemuda itu nampak tenang. Wajah yang kecoklatan terbakar panasnya matahari. Tampan dan ganteng. Wajah yang jantan.

Sie Kwan Lee adalah putera tunggal dari Sie-pangcu (ketua Sie) yang nama lengkapnya adalah Sie Wan Cu, ketua Beng-kauw yang terkenal sekali karena dia adalah seorang di antara tokoh-tokoh sakti. Dengan mewarisi ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, kiranya tidak akan ada tokoh dunia persilatan yang mampu menandinginya dalam hal ilmu tangan kosong,

Sie Wan Cu sudah berusia enam puluh tahun. Salah satu di antara kesukaannya adalah mengumpulkan banyak isteri yang cantik dan muda. Untuk ini dia tak perlu menggunakan kekerasan, lagi pula dia tak mau kehilangan martabatnya kalau memaksa wanita. Dengan wajahnya yang tampan gagah biar pun kini usianya telah enam puluh tahun, juga dengan tubuhnya yang kuat dan hartanya yang cukup, wanita mana yang tidak akan girang untuk menjadi isterinya?

Dia mempunyai belasan orang isteri, akan tetapi dari sekian banyak isterinya, hanya isteri pertama saja yang berhasil memiliki keturunan, yaitu seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu adalah Sie Kwan Lee, kini berusia dua puluh lima tahun sedangkan adiknya bernama Sie Kwan Eng, berusia sembilan belas tahun dan cantik sekali.

Akan tetapi Sie-pangcu tidak puas dengan puteranya. Memang puteranya itu mempunyai bakat yang baik sekali dalam ilmu silat, namun puteranya dianggapnya terlalu lemah hati. Terlalu mirip ibunya dan tidak mau melakukan perbuatan yang dianggapnya tidak benar dan jahat! Anak perempuannya berwatak lebih tegas dibandingkan Kwan Lee, maka dia pun menurunkan ilmu-ilmunya kepada keduanya.

Semenjak Beng-kauw dikejar-kejar dan dimusuhi, banyak anggotanya dibunuh, baru Sie-pangcu menurunkan ilmu simpanannya, yaitu ilmu Matahari Merah diajarkannya kepada Kwan Lee, sedangkan ilmu Salju Putih diajarkan kepada Kwan Eng.

Kwan Lee baru saja melatih diri dengan ilmu itu yang baru tiga perempatnya dia kuasai. Dalam kaadaan seperti itu dia sama sekali tidak boleh menggunakan sinkang karena dia dapat terluka oleh tenaga mukjijat dari ilmu itu sendiri. Tetapi ketika dia mendengar bahwa penduduk dusun yang berdekatan diserang oleh para pendekar, dia tidak dapat menahan hatinya kemudian dia meninggalkan tempat latihan. Padahal hal ini sangat berbahaya dan merupakan pantangan!

Tidak ada yang berani mencegah karena ayahnya kebetulan sedang tidak berada di sana. Akibat perlawanannya membela para pengungsi itu, dia kemudian terluka dan keracunan oleh tenaganya sendiri.

Kwan Lee membuka matanya dan bergerak. Sejenak dia heran melihat dirinya berada di dalam kereta dorong. Dia bangkit duduk sambil memerintahkan mereka yang mendorong kereta itu agar berhenti. Kemudian dia turun dari kereta dorong dan mengangkat mukanya ketika ada kuda mendekatinya.

Ketika melihat Mei Li di atas kudanya, dia pun teringat lagi akan peristiwa tadi. Maka dia cepat-cepat memberi hormat, "Nona, aku Sie Kwan Lee mengucapkan terima kasih atas bantuan nona kepada orang-orang ini."

"Tidak perlu sungkan, twako," kata Mei Li. "Orang-orang Hoat-kauw tadi memang sangat sombong dan pantas dihajar!"

"Nona, engkau yang masih begini muda berani melawan bahkan tadi mampu menandingi dua orang dari Bu-tek Ngo-sin-liong. Jika boleh aku bertanya, siapakah namamu dan dari golongan manakah?"

"Aku tidak mewakili golongan mana pun, dan namaku adalah Yang Mei Li. Aku sedang merantau dan kebetulan saja lewat di sini, twako. Di sepanjang jalan aku melihat banyak orang Beng-kauw menjadi korban pembunuhan, maka ketika di sini melihat orang-orang ini dikejar-kejar dan hendak dibunuh, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam. Syukurlah di sini ada engkau yang lihai, akan tetapi engkau sedang terluka keracunan. Bagaimana bisa ada hawa beracun mengamuk di tubuhmu, twako?"

Kwan Lee tersenyum sedih. "Panjang sekali ceritanya, nona. Kalau nona suka singgah di tempat kami, akan kuceritakan semua."

"Maafkan, twako. Setelah engkau sembuh, aku harus melanjutkan perjalananku."

"Nanti dulu, nona Yang. Saat ini di antara para pendekar kurasa hanya engkau seorang yang tidak memusuhi kami orang-orang Beng-kauw. Karena itu aku hendak menceritakan segalanya tentang kami agar engkau dapat meluaskan keterangan itu dan membuka mata orang-orang kangouw bahwa Beng-kauw bukanlah perkumpulan para penjahat yang amat kejam dan harus dibasmi. Maukah engkau membantu kami, nona? Bantuanmu itu akan lebih berharga dari pada kalau nona membela nyawa semua orang ini."

Mei Li mengerutkan alis. Ayah dan ibunya berpesan bahwa dia tentu saja boleh bertindak sebagai pendekar, membela kebenaran dan keadilan, membantu yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang. Akan tetapi dia diperingatkan agar jangan melibatkan diri dalam permusuhan antara perkumpulan-perkumpulan di dunia kangouw.

"Aku suka membantu siapa saja yang mengalami penasaran, akan tetapi aku tidak mau terlibat dengan permusuhan pribadi perkumpulan."

“Kami pun tidak ingin engkau terlibat dalam urusan kami, nona. Kami hanya menghendaki keadilan dan dapat membersihkan diri dari fitnah. Tentu saja kalau nona sudi menolong. Kalau tidak, kami pun tidak dapat memaksa dan menyerahkan diri kepada nasib saja."

Suara itu terdengar begitu penuh duka sehingga Mei Li merasa tidak tega untuk menolak. Lagi pula pemuda itu hanya ingin agar dia menjadi pendengar saja, mau disebar luaskan atau tidak, terserah sepenuhnya kepadanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner