KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-18


"Baiklah, akan kudengarkan. Lagi pula keadaanmu belum kuat benar, sedangkan mereka ini membutuhkan perlindungan."

Wajah Kwan Lee menjadi berseri. "Terima kasih, nona!"

Meski pun masih lemah tetapi dia minta disediakan seekor kuda dan kini dia melanjutkan perjalanan dengan menunggang seekor kuda di samping Mei Li. Di sepanjang perjalanan ini Mei Li lebih banyak mengenal sifat dari pemuda itu. Seorang pemuda yang sederhana. Biar pun putera ketua Beng-kauw namun bersikap ramah dan sederhana terhadap anak buah. Juga selalu sopan terhadap dirinya sehingga dia mulai merasa suka kepadanya.

Orangnya agak pendiam, akan tetapi selalu terbuka dan jujur, ramah dan lembut. Juga tak pantas kalau dikatakan putera seorang ketua yang kasar dan liar karena ternyata pemuda ini cukup terpelajar, mengenal sajak-sajak indah dan tokoh-tokoh besar dalam sejarah.

Pada malam ke dua rombongan terpaksa berhenti pada sebuah lereng bukit. Sebenarnya pusat perkampungan Beng-kauw sudah dekat, akan tetapi karena hari sudah malam dan rombongan yang terdiri dari wanita dan anak-anak sudah lelah, terpaksa mereka berhenti. Malam itu bulan purnama dan suasana malam di lereng gunung itu indah sekali.

Kwan Lee sudah sehat kembali, kini dia duduk di atas batu besar bersama Mei Li. Mereka telah akrab karena merasa cocok, dan pada kesempatan ini Mei Li ingin mengetahui lebih banyak tentang pemuda itu dan tentang Beng-kauw.

"Nah, sekarang engkau tentu sudah cukup mengenalku sehingga percaya untuk bercerita sedikit mengenai Beng-kauw dan mengapa para pendekar memusuhinya, twako."

"Perkumpulan Beng-kauw memang berasal dari aliran Agama Terang (Beng-kauw), nona. Namun sekarang di antara para pengikutnya sudah jarang yang mengerti tentang Agama Terang itu. Agama itu sendiri berdasarkan im Yang atau Terang dan Gelap. Yang terang adalah baik sebaliknya yang gelap adalah jahat. Pengetahuan mengenai agama ini berarti pengetahuan tentang alam beserta kekuasaannya yang terbagi antara gelap dan terang. Penyelamatan adalah proses membebaskan unsur terang dari kegelapan. Yang berasal dari Tuhan itu adalah Terang, sebaliknya iblis mendatangkan kegelapan untuk menggoda manusia, oleh karena itu tubuh kita harus penuh dengan roh-roh agar bisa membebaskan diri dari pengaruh kegelapan. Pimpinan Beng-kauw sendiri adalah Duta-duta Terang yang menerangi kegelapan."

“Hemm, kalau begitu apa bedanya dengan agama lainnya? Semua agama juga berpihak kepada yang terang dan memerangi yang gelap atau jahat."

“Pada hakekatnya memang tidak ada bedanya, nona. Akan tetapi tanpa disadari pemeluk-pemeluknya sudah diperalat oleh kekuasaan iblis sehingga mereka saling menyalahkan, menganggap diri sendiri yang benar. Karena itu tindakan para pemimpinnya bahkan selalu bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Hukum agama yang diterapkan bukan lagi hukum agama berdasarkan keadilan, melainkan dipilih mana yang menguntungkan bagi si pemimpin. Dari situlah timbul kepalsuan-kepalsuan dan kejahatan yang berkedok agama, nona."

"Bagaimana dengan Beng-kauw sendiri?"

"Tidak ada bedanya dengan agama-agama atau aliran lainnya. Selama orang-orang yang memimpinnya merasa keberadaan dan kekuasaannya terancam, mereka akan bergerak, mempergunakan segala dalih dalam agama mereka untuk menghantam lawan. Tentu saja dengan dalih melakukan pembersihan atau menghukum."

"Apakah semua pimpinan agama begitu?"

"Tentu saja tidak, ada kecualinya. Ada yang benar-benar menaati perintah agama tanpa menonjolkan kehendak pribadi, dan orang-orang seperti itulah yang benar-benar menjadi orang yang ditunjuk oleh Tuhan untuk menuntun manusia lain ke jalan kebenaran.

"Sekarang ceritakan mengenai keadaan Beng-kauw, twako. Mengapa Beng-kauw sampai dimusuhi oleh semua pendekar? Juga tentang keluarga ketua Beng-kauw, ayahmu."

Pemuda itu menghela napas. "Sebagian besar adalah karena kesalahan para pimpinan Beng-kauw juga. Mereka terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tidak mempedulikan peraturan umum, suka melanggar kebiasaan dunia kangouw sehingga dengan sendirinya memiliki banyak musuh. Apa lagi kebiasaan para tokoh Beng-kauw yang suka memakai kedok kalau sedang berkelahi, kebiasaan ini amat buruk sehingga mudah saja bagi yang tidak suka untuk melempar fitnah kepada Beng kauw. Orang yang melakukan kejahatan, asal dia memakai kedok, lalu mudah saja dicap sebagai orang Beng-kauw. Akhir akhir ini yang sangat bersemangat memusuhi kami adalah orang Nam-kiang-pang. Alasan mereka adalah bahwa Beng-kauw sudah banyak membunuh anggota mereka."

"Benarkah itu?"

"Siapa tahu benar atau tidaknya? Mungkin benar dan mungkin tidak, karena mereka tidak dapat membuktikannya, hanya mengatakan bahwa pembunuhnya memakai kedok Beng-kauw. Mereka mengejar-ngejar orang kita dan membunuhi mereka tanpa pandang bulu. Kanak-kanak, wanita, siapa saja yang berbau Beng-kauw pasti dibunuh. Terutama sekali calon ketua mereka yang bernama Ciu Kang Hin, kabarnya sangat lihai dan kejam sekali dalam membunuhi orang-orang Beng-kauw."

"Ahh, hal itu harus dicegah!" kata Mei Li. "Dan apa yang dilakukan oleh ketua Beng-kauw untuk menghadapi hal ini?"

Pemuda itu menarik napas panjang. "Ayahku kurang bijaksana. Dia menerimanya sebagai sebuah tantangan. Tanpa berusaha untuk mencairkan, dia mengambil sikap bermusuhan dan memerintahkan anak buah untuk balas membunuh. Ahh, aku menyesal sekali."

Pemuda itu lantas menceritakan tentang keluarganya. Ayahnya adalah ketua Beng-kauw bernama Sie Wan Cu, sakti dan ditakuti. Ayahnya memiliki dua orang anak, yaitu dia dan adiknya, Sie Kwan Eng yang berusia sembilan belas tahun. Sesudah terjadi pembantaian terhadap orang-orang Beng-kauw, ayahnya lalu mengajarkan ilmu simpanan keluarganya, yaitu ilmu Matahari Merah kepadanya, dan ilmu Salju Putih kepada adiknya.

"Ahh, kalau begitu engkau dan adikmu sudah mewarisi dua ilmu yang paling hebat," kata Mei Li kagum.

"Sebetulnya baik aku mau pun adikku belum menguasai benar ilmu-ilmu itu. Bahkan aku baru menguasai sebanyak tiga perempat saja. Menurut aturan, ketika sedang berlatih ilmu Matahari Merah, aku tidak boleh terganggu, sama sekali tidak boleh mengeluarkan tenaga sinkang. Akan tetapi ketika mendengar betapa orang-orang ini dikejar-kejar, aku tidak bisa menahan diri kemudian nekat keluar untuk membela mereka sehingga tadi aku menjadi keracunan oleh tenagaku sendiri."

"Hemmm, kalau begitu besok pagi aku tidak akan ikut denganmu. Aku harus melanjutkan perjalananku, karena kalian sudah tiba di luar perkampunganmu."

"Nona, kuharap dengan sangat, sudilah kiranya nona singgah sebentar di rumah kami. Adikku tentu senang sekali berkenalan denganmu."

"Aku tidak ingin bertemu dengan ayahmu."

"Aku tahu, nona. Aku sendiri akan merasa tidak enak kalau nona harus bertemu dengan ayahku…” Dia berhenti tiba-tiba.

"Kenapa?"

Tentu saja Kwan Lee tidak mau mengatakan bahwa ayahnya memiliki kelemahan, yaitu tidak kuat melihat wanita cantik!

"Ahh, tidak apa-apa, nona. Hanya saja ayah memiliki watak yang aneh dan kadang tidak mempedulikan peraturan, akan tetapi saat ini ayah tidak berada di rumah. Marilah, nona, aku ingin memperlihatkan kepadamu bahwa orang Beng-kauw tidak semuanya jahat."

Karena terus didesak dan sikap pemuda ini memang sangat ramah, maka Mei Li merasa tak enak kalau menolak terus. "Baiklah, aku akan singgah untuk sehari dua hari," katanya dan pemuda ini segera memperlihatkan wajah gembira.

Rombongan pengungsi kemudian memasuki perkampungan Beng-kauw itu dengan hati lega. Mei Li dan Kwan Lee duduk di atas kudanya, di pintu gerbang melihat rombongan itu berbondong-bondong masuk. Sesudah mereka semua masuk, baru saja mereka hendak menjalankan kuda, tiba-tiba terdengar suara wanita,

"Lee-koko!"

Kwan Lee menoleh kepada seorang gadis yang baru muncul. Dara itu sebaya dengannya, berpakaian serba merah muda, rambutnya dikuncir tunggal, tebal dan panjang, diikat pita kuning. Di punggungnya tergantung pedang dengan ronce merah. Wajah dara itu cantik jelita dengan mulut cemberut congkak dan pandang matanya keras. Itulah Sie Kwan Eng, adik Kwan Lee.

"Eng-moi, kau juga sudah keluar dari tempat latihan? Sudah berhasilkah engkau?"

"Belum, Lee-koko. Aku pun baru menyelesaikan tiga perempatnya, akan tetapi yang tiga perempat itu sudah lewat, tinggal latihan terakhir di goa inti salju! Kabarnya engkau keluar sebelum yang tiga perempat kau selesaikan, koko? Ayah tentu akan marah. Eh, siapakah dia ini, koko?" Kwan Eng memandang Mei Li dengan alis berkerut dan mata mencorong penuh selidik.

"Eng-moi, ini adalah Hui-kiam Sian-li Yang Mei Li, seorang pendekar wanita yang sangat lihai. Kalau tidak karena pertolongannya, kami semua tentu sudah celaka di tangan orang-orang Hoat-kauw itu."

Kwan Eng cemberut. "Aku benci pendekar sombong!" katanya.

Mei Li tersenyum. "Aku pun benci pendekar sombong!"

Kwan Eng tidak ikut tersenyum, akan tetapi memandang dengan mata tertarik. "Aku tidak mudah percaya akan kemampuan orang tanpa membuktikannya sendiri!"

"Aku juga begitu, kita sama!" kata Mei Li.

"Bagus, kalau begitu mari kita buktikan, apakah benar engkau Ini seorang pendekar!”

Wajah Mei Li berubah merah akibat marah. Sungguh keterlaluan sekali gadis ini, pikirnya. Memangnya di dunia ini tak ada wanita lain kecuali dirinya yang mempunyai kepandaian? Melihat gadis itu sudah mencabut pedangnya, diam-diam dia pun telah melolos sepasang pedangnya dan bersiap-siap.

"Boleh… boleh, aku memang bukan pendekar, akan tetapi pantang bagiku untuk menolak tantangan siapa pun juga."

Pada saat itu Kwan Lee sudah melangkah maju. "Eng-moi, engkau keterlaluan. Begitukah engkau menyambut seorang sahabat? Nona Mei Li adalah seorang sahabat baikku. Tentu boleh saja kalau engkau hendak mengujinya, tetapi menguji seorang kawan tidak sama dengan menempur musuh, karena itu biarlah kalian menggunakan ranting ini saja." Kwan Lee mengambil sebuah ranting pohon, mematahkan menjadi dua dengan ukuran panjang seperti pedang kemudian memberikan kepada dua orang gadis itu.

Mei Li menerimanya dengan senyum, karena biar pun dia mendongkol melihat kekasaran Kwan Eng, tentu saja dia tidak ingin melukai adik Kwan Lee itu. Kwan Eng juga menerima ranting itu dari kakaknya dan berkata dengan nada suara mengejek,

"Koko, sebatang pedang tajam di tangan orang yang tidak becus bukan merupakan suatu bahaya, akan tetapi sebatang ranting kayu dapat mematikan kalau digunakan orang yang pandai ilmu silat. Apakah kau lupa itu?"

"Tentu saja aku tahu, adikku yang manis. Akan tetapi, jika menggunakan kayu ranting di tangan, setidaknya keganasanmu akan berkurang banyak dan engkau akan ingat bahwa engkau sedang main-main, bukan berkelahi sungguh-sungguh."

Kwan Eng tersenyum manis.."Baiklah, koko, dan jangan khawatir, aku tidak akan melukai dengan parah!"

Diam-diam-Mei Li merasa gemas sekali kepada dara ini. Begitu sombongnya dan begitu yakin akan kemenangannya.

"Marilah adik yang baik, aku sudah siap untuk kau lukai."

Tempat itu telah sepi, hanya ada beberapa orang penjaga, yaitu anggota Beng-kauw yang berjaga di pintu gerbang, tak lebih dari sepuluh orang banyaknya. Sekarang mereka telah mengepung tempat itu dan nampak gembira. Memang para anggota Beng-kauw ini tidak begitu memakai peraturan terhadap putera-puteri ketua mereka, maka sekarang mereka menonton seperti kalau melihat kawan-kawan mereka bermain-main.

Agaknya Kwan Eng juga tidak keberatan, bahkan dia memperlihatkan senyumnya karena dia merasa lebih senang kalau kemenangannya ditonton. Tidak mengherankan kalau Sie Kwan Eng yakin akan keluar sebagai pemenang karena untuk daerah itu, bahkan di dunia kangouw sekali pun, sukar ditemukan wanita yang akan mampu menandinginya, apa lagi kini dia telah mewarisi ilmu Salju Putih, walau pun belum sempurna benar.

Perlu diketahui bahwa aliran Beng-kauw memiliki ilmu silat yang aneh dan tidak memiliki sumber tertentu. Hal ini adalah karena nenek moyang mereka memang orang yang suka mengumpulkan ilmu silat tidak peduli dari golongan bersih atau pun golongan sesat, lalu memetik bagian-bagian yang paling ampuh kemudian dikombihasikan.

Sekarang orang sudah tidak tahu lagi dari mana sumber ilmu-ilmu silat itu. Misalnya ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, tidak ada yang tahu asal-usul ilmu itu, akan tetapi selain pimpinan tertinggi Beng-kauw tidak ada orang lain yang mengenalnya.

Begitu menyerang Kwan Eng lantas mengeluarkan suara melengking nyaring dan ranting di tangannya meluncur cepat laksana kilat. Begitu Mei Li mengelak, ranting itu meluncur balik dan sudah menyerang dengan lebih dahsyat.

Melihat serangan yang dahsyat dan berbahaya itu, Mei Li juga cepat mengerahkan tenaga sinkang-nya dan menggerakkan tongkatnya dengan ilmu tongkat Tai-hong-pang (Tongkat Angin Ribut). Terdengar suara nyaring bercuitan dan timbul angin besar mendesir-desir dari tongkat yang dimainkan Mei Li.

"Bagus!" Berkali-kali Kwan Lee memuji ketika menyaksikan ilmu tongkat yang hebat dari Mei Li itu.

Tentu saja ilmu tongkat itu amat hebat karena Mei Li menerima ilmu ini dari ayahnya yang mewarisinya dari Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), merupakan salah satu di antara ilmu tongkat terhebat pada waktu itu.

Kwan Eng sendiri sampai menjadi bingung karena merasa seolah dirinya berada di tengah badai! Karena tahu bahwa dia akan kalah kalau pertandingan tongkat itu diteruskan, maka tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan aneh, tubuhnya berjongkok lalu tangannya mendorong dari bawah ke arah lawan!

Mei Li maklum akan pukulan ampuh, apa lagi ketika dia merasakan hawa dingin menerpa dirinya. Dia dapat menduga bahwa tentu itulah yang dinamakan pukulan Salju Putih. Maka dia pun segera mengelak, kemudian sekali dia mengeluarkan bentakan nyaring, dua sinar kilat menyambar dari kanan kiri, menggunting ke arah tangan yang berubah menjadi putih dan mengeluarkan hawa dingin itu.

"Ihhh...! Kwan Eng berseru dan cepat menarik kembali lengannya dengan muka berubah pucat. Sepasang pedang itu tadi terbang bagaikan dua ekor ular dan kini sudah melayang kembali ke tangan Mei Li.

Melihat ini Kwan Eng mencabut pedangnya dan menyerang dengan ganas. Tapi sekali ini sepasang pedang itu menyambar-nyambar beterbangan di sekeliling kepalanya, membuat dia bingung karena pedang-pedang itu seperti hidup dan gerakannya lincah bukan main. Sebentar saja Kwan Eng telah terdesak hebat dan sepasang pedang itu terus mengaung-ngaung seperti ada puluhan ekor nyamuk menyambari telinganya.

Melihat ini sesaat lamanya Kwan Lee menonton penuh perhatian dan dia menjadi semakin kagum. Jelas nampak olehnya bahwa gadis jelita yang berjuluk Dewi Pedang Terbang itu benar-benar.lihai bukan main. Dia juga melihat betapa Mei Li mengalah terhadap adiknya, tidak benar-benar menggunakan pedang terbangnya untuk mendesak dan mencelakainya. Maka dia pun meloncat ke depan sambil berseru,

"Nona Yang Mei Li, maafkan adikku!"

Dua orang gadis itu meloncat mundur. Wajah Kwan Eng nampak kemerahan, akan tetapi kini nampak senyum membayang pada wajahnya yang cantik.

"Sungguh mati! Nama julukanmu bukan kosong belaka, enci Mei Li. Tenaga sinkang-mu kuat, ilmu meringankan tubuhmu hebat, dan pedang terbangmu sangat mengerikan!"

"Hemm, jangan memuji, adik Sie Kwan Eng. Engkau sendiri mempunyai ilmu yang sangat hebat. Bila Salju Putih itu telah kau kuasai dengan baik, aku tentu menyerah kepadamu. Semuda ini sudah memiliki ilmu hebat, sungguh mengagumkan!"

"Hi-hik-hik, enci yang tua renta. Berapa sih usiamu maka engkau menganggap aku masih seperti anak kecil?"

"Usiaku sudah delapan belas, hampir sembilan belas tahun!"

"Wah, kalau begitu jangan menyebutku adik, karena aku malah lebih tua beberapa bulan darimu. Sekarang usiaku sudah sembilan belas tahun lebih. Engkau sungguh hebat, Mei Li, dan aku senang sekali berkenalan denganmu."

"Ihh, engkau terlampau merendah, Kwan Eng. Akulah yang merasa beruntung sekali bisa berkenalan dengan engkau dan dengan kakakmu."

"Ehh, Eng-moi, engkau ini bagaimana? Ada tamu agung datang malah diajak bertanding silat dan sekarang diajak bicara di sini, sama sekali tidak dipersilakan masuk. Mari, nona Mei Li, mari kita masuk dan bicara di dalam!"

"Ehh, iya! Mari, Mei Li!" Sekarang tanpa sungkan lagi Kwan Eng melingkarkan lengannya di pinggang tamunya dan mengajak Mei Li masuk ke perkampungan itu.

Perkampungan Beng-kauw itu cukup besar, terdapat lebih dari seratus keluarga di sana. Rumah-rumahnya terbuat dari kayu yang kokoh, dan di tengah-tengah perkampungan itu berdiri bangunan tempat tinggal Sie Wan Cu atau Sie Pangcu, ketua Beng-kauw. Nampak pula beberapa orang yang membawa-bawa senjata dan ada pula yang pandang matanya mencorong jahat ditujukan kepada Mei Li. Ada yang tertawa-tawa kurang ajar akan tetapi orang itu segera mengkeret ketakutan ketika Kwan Eng melotot kepadanya.

Perabotan dalam rumah keluarga Sie itu ternyata cukup lengkap dan rumah itu pun besar sekali. Hal ini tidaklah mengherankan karena sang ketua mempunyai banyak isteri. Tetapi karena yang datang adalah tamu Kwan Lee dan Kwan Eng, maka yang menemui mereka hanya isteri pertama, ibu kedua orang anak itu, seorang wanita berusia empat puluh lima tahun yang masih nampak cantik.

"Wah, engkau cantik sekali, nona Yang," kata ibu kedua orang anak itu. "aduh, kami akan senang sekali kalau engkau dapat menjadi keluarga kami. Benar tidak, Kwan Eng?"

"Benar sekali, ibu! Wah, itu pikiran yang bagus sekali, bukankah begitu Lee-koko? Kau tentu setuju, bukan?"

Menghadapi sikap yang demikian terbuka dan amat terus terang tanpa tedeng aling-aling, kedua pipi Mei Li menjadi merah. Bahkan Kwan Lee juga tersipu dan dia pun membentak, "Eng-moi, apa-apaan kau ini? Jangan kurang ajar terhadap tamu!"

"Apa? Jangan munafik, koko. Katakan, apakah engkau tidak suka jika menjadi suami Mei Li?"

"Setan kau! Tidak semudah kau menggoyang lidahmu!" bentak kakaknya.

Mei Li tertawa. Dara ini mulai senang dengan sikap keluarga ini. Tidak ada pura-pura biar pun kelihatan kasar.

"Kwan Eng, kakakmu benar. Urusan perjodohan tidak dapat diatur sedemikian mudahnya. Dan sedikit pun aku belum mempunyai pikiran untuk urusan itu. Karena itu harap jangan kau sebut-sebut lagi urusan perjodohan."

"Ah, sayang sekali, nona. Bila sudah tiba waktunya engkau memikirkan soal perjodohan, harap jangan lupa kepada anakku Kwan Lee, nona."

"Sudahlah, ibu. Aku khawatir kalian akan menyebalkan hati nona Mei Li. Mari kita bicara urusan lain. Di mana ayah, ibu? Apakah ayah belum pulang?"

Wanita itu mengerutkan alisnya dan wajahnya yang cantik menjadi muram. "Aku sangat mengkhawatirkan ayahmu. Dia sudah terlampau marah dan kini dia sedang menyerang Pek-houw-pang dan Ang-kin Kai-pang. Aku khawatir sekali kita dibawa masuk ke jurang permusuhan yang lebih dalam dan payah."

"Ayah benar, ibu!" kata Kwan Eng. "Sayang aku harus melatih Salju Putih sehingga tidak dapat membantu ayah. Pek-houw-pang (Perkumpulan Harimau Putih) dan Ang-kin Kai- pang (Perkumpulan pengemis Sabuk Merah) yang lebih dulu mencari gara-gara, ikut pula memusuhi kami dan membunuh beberapa orang anggota kami."

"Eng-moi!" bentak kakaknya. "Semua yang terjadi pada kita hanyalah kesalah pahaman, fitnah keji yang harus diselesaikan dengan penjelasan dan musyawarah. Kalau kekejaman mereka dibalas pula dengan kekejaman, maka permusuhan akan menjadi-jadi. Mengapa ayah tidak menyadari hal ini dan tidak mau bertindak sabar?"

"Sabar? Tolol, orang kita akan habis terbasmi kalau kita hanya bersabar saja!" Mendadak terdengar jawaban yang lantang dan di ruangan itu nampak bayangan berkelebat.

"Ayah!" Seru Kwan Lee dan Kwan Eng hampir berbareng.

Mei Li mengangkat muka memandang dan gadis ini meiihat seorang laki-laki sudah berdiri di situ. Seorang laki-laki sejati, seorang jantan kalau dilihat dari wajah dan perawakannya. Tubuhnya tinggi dan kokoh bagaikan batu karang, tidak gendut dengan pinggang ramping dan dada bidang. Walau pun usianya sudah enam puluh tahun namun dia nampak seperti orang berusia empat puluh tahun saja. Rambutnya sudah bercampur uban, namun malah menambah kedewasaan dan kejantanannya.

Di wajahnya belum ada keriput, walau pun kulit muka yang terbakar matahari itu nampak dihias guratan-guratan perasaan. Matanya lebar mencorong bagaikan mata naga, bentuk wajahnya segi empat dan keras, gerak-gerik dan langkahnya seperti seekor harimau yang bermalas-malasan. Pria seperti ini mempunyai daya tarik yang kuat dan besar bagi kaum wanita.

Mei Li merasa seperti dia sedang memandang seekor kuda jantan yang kuat dan bagus. Pantas saja putera dan puterinya demikian gagah dan cantik. Ternyata ketua Beng-kauw itu seorang yang tampan dan ganteng sedangkan isterinya demikian cantiknya.

"Baru saja aku memberi hajaran kepada Pek-houw-pang dan Ang-kin Kai-pang. Ketuanya sudah kubunuh karena mereka kukuh menganggap Beng-kauw telah membunuhi anggota mereka. Ha-ha-ha, baru mereka tahu bahwa Beng-kauw tidak boleh dipandang ringan dan diperlakukan sembarangan saja. Ahh…!" Dan tiba-tiba orang itu terbatuk-batuk kemudian menekan dadanya. Dia muntahkan darah segar!

"Ayah!" Kwan Lee dan Kwan Eng menjerit dan isteri ketua itu cepat merangkul suaminya yang hampir saja roboh karena pria gagah itu telah pingsan.

Sementara itu isteri-isteri lainnya sudah bermunculan pula setelah tadi mendengar tentang kepulangan sang ketua yang menjadi suami mereka. Tetapi mereka segera terkejut sekali setelah mengetahui keadaan ketua Beng-kauw itu.

Kwan Lee dan Kwan Eng segera memeriksa keadaan ayahnya. Tubuh ketua Beng-kauw nampak lemah sekali, sedangkan wajahnya sangat pucat dan napasnya tersengal-sengal. Sesudah memeriksa detak nadi pada lengan ayahnya, Kwan Lee cepat membuka pakaian atas ketua Beng-kauw itu sambil berkata,

“Agaknya ayah sudah terkena pukulan yang cukup berat. Ada hawa jahat bekas pukulan yang kini terkurung di rongga dada ayah, sehingga membuat detak jantungnya kacau dan napasnya menjadi berat.” Begitu selesai berkata, pakaian ketua Beng-kauw telah terbuka dan benar saja, pada dada itu nampak bekas telapak tangan berwarna hitam.

“Ahhh…!” terdengar seruan khawatir para isteri ketika melihat tanda hitam itu.

Mei Li yang semenjak tadi diam saja, juga melihat tanda bekas pukulan berwarna hitam itu. Maka tahulah dia bahwa laki-laki itu terluka cukup parah dan kini keadaannya sangat berbahaya. Agaknya dia sudah memaksakan diri untuk segera pulang ke perkampungan ini tanpa sempat mengobati dirinya terlebih dahulu.

“Bagaimana keadaan ayahmu?” dia bertanya sambil memandang Kwan Lee yang sudah selesai memeriksa dan kini sedang berdiri termangu.

Pemuda ini tersentak, kemudian menjawab dengan suara bergetar. “Aku telah memeriksa dan memang benar, di dalam dada ayah terdapat hawa bekas pukulan yang menghambat pernapasannya. Hawa jahat ini harus cepat dikeluarkan, kalau tidak…” Dia menghentikan ucapannya, lalu menoleh dan memandang wajah ayahnya.

Mei Li teringat dan dia pun segera paham kenapa Kwan Lee tadi hanya berdiri termangu. Satu-satunya cara yang paling cepat untuk mengeluarkan hawa yang terkurung di dalam dada adalah mendorong hawa itu dengan sinkang, akan tetapi pemuda itu sekarang tidak bisa mengerahkan sinkang-nya. Apa lagi dia baru saja sembuh dari luka dalamnya akibat tenaganya sendiri yang membalik kemudian menghantamnya.

“Memang sinkang-ku belum terlampau kuat,” kata dara itu. “Akan tetapi kukira cukup kuat untuk mendorong keluar hawa yang terkurung itu. Kalau percaya kepadaku, biar kucoba untuk mewakili kalian menolong ketua Beng-kauw.”

Awan mendung yang tadinya menyelimuti wajah Kwan Lee seketika sirna. Bahkan Kwan Eng segera berkata dengan wajah berseri,

“Tentu saja kami percaya penuh kepadamu, Mei Li. Lagi pula aku tadi sudah merasakan betapa kuatnya sinkang-mu.”

“Aku pun percaya sepenuhnya kepadamu, nona Yang,” Kwan Lee menyambung kata-kata adiknya.

Mei Li segera menghampiri tubuh ketua Beng-kauw yang kini terbaring terlentang di atas lantai, kemudian meletakkan sepasang telapak tangannya di dada pria itu, tepat di antara tanda telapak tangan yang menghitam itu. Perlahan-lahan dara ini lalu mulai menyalurkan sinkang-nya.

Karena pukulan yang diderita pria gagah ini tidak mengandung racun, hanya menimbulkan hawa yang terjebak di dalam rongga dadanya sehingga menyebabkan sesak napas, maka tidak lama kemudian Sie Wan Cu mulai sadar dari pingsannya dan perlahan-lahan dia pun teringat akan kejadian yang telah dialaminya. Dia bisa merasakan pula hawa hangat yang memasuki dadanya, maka tahulah dia bahwa ada orang yang sedang menolongnya.

Tanpa membuka mata dia cepat mengatur napas sambil mengumpulkan hawa murni, lalu membantu mendorong keluar hawa yang menyesakkan dadanya. Tak lama kemudian dia menarik napas panjang dan berkata,

“Cukup…!”

Lelaki gagah ini membuka matanya yang langsung terbelalak ketika pandangan matanya bertemu dengan wajah yang cantik jelita seperti bidadari.

“Amboiiiii…, kalau aku Sie Wan Cu mendapatkan seorang isteri lagi seperti ini, maka akan sempurnalah kebahagiaanku…!”

Tentu saja Mei Li terkejut seperti dipatuk ular, otomatis melompat ke belakang kemudian terus berdiri, mukanya sebentar pucat sebentar merah.

“Kau… kau…!” Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya saking marahnya. Akan tetapi ketua Beng-kauw itu tersenyum tenang saja kemudian bangkit berdiri.

Kwan Lee cepat memberi hormat kepada Mei Li, lalu berkata, “Nona Yang, harap engkau suka memaafkan dan memaklumi ayah. Ayah adalah orang yang tidak dapat menyimpan suara hatinya, apa yang dipikirkan dan dirasakan selalu dikeluarkan melalui mulut. Ayah, perkenalkan, dia adalah seorang sahabatku yang bernama Yang Mei Li dan berjuluk Dewi Pedang Terbang.”

Laki-laki gagah itu membelalakkan matanya. “Dewi Pedang Terbang? Wah, sayang sekali aku sedang terluka. Kalau tidak harus kubuktikan pedang terbangmu itu, nona. Heii, Kwan Lee, kau saja yang mewakili aku menguji pedang terbang bidadari ini.”

“Tidak bisa, ayah. Baru saja aku sembuh dari luka dalam setelah berkelahi dengan orang-orang Hoat-kauw.”

“Hemm, kenapa engkau berkelahi dengan orang Hoat-kauw? Dan apa pula urusan kalian dengan Hui-kiam Sian-li?”

“Duduklah dulu, ayah. Kami akan menceritakan semuanya,” kata Kwan Lee.

Setelah laki-laki itu mengambil tempat duduk, dikelilingi oleh isterinya, ada yang memijati tubuhnya, ada pula yang mengambilkan minuman arak, buah-buahan, pendeknya mereka itu berlomba untuk melayani sehingga Mei Li yang menyaksikan merasa sungkan sendiri, mulailah Kwan Lee bercerita tentang pertemuannya dengan Mei Li.

Sesudah puteranya selesai becerita, ketua itu memandang kepada Mei Li dengan penuh perhatian.

"Nona Yang, engkau sangat beruntung, masih begini muda, mempunyai kecantikan yang sempurna, masih menguasai ilmu silat yang tinggi pula. Pedangmu yang memakai tali dan dapat terbang itu mengingatkan aku akan seorang sakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan, yaitu Hek-Liong Kwan Bhok Cu."

"Beliau adalah kakek guruku, pangcu."

“Wah, wah! Pantas saja kalau begitu. Ha-ha-ha, Kwan Lee, Kwan Eng, kalian beruntung sekali memiliki sahabat seperti ini, dan akan lebih baik lagi kalau dapat menjadi isterimu, Kwan Lee. Bagi kita sama saja, menjadi isteriku atau isterimu pokoknya Beng-kauw dapat menariknya menjadi keluarga.”

Mei Li sudah mulai terbiasa dengan ucapan yang blak-blakan itu sehingga dia tidak begitu terkejut lagi. Orang-orang ini memang tidak mau terikat oleh segala macam sopan santun yang hanya menjadi kedok tipis dari isi hati orang. Maka dia pun tersenyum.

"Pangcu, aku sama sekali tak pernah memikirkan tentang perjodohan, harap engkau tidak bicara tentang itu. Dan aku selalu mau bersahabat dengan siapa saja asal orang itu tidak jahat."

"Bagus," sikap main-main itu sekarang hilang dan sang ketua tampak serius. "Kumpulkan semua pembantu utama kita di ruangan rapat agar mereka mendengarkan pembicaraan kita."

Kwan Lee segera melaksanakan perintah ini dan tak lama kemudian mereka semua telah berkumpul di ruangan besar. Ayah dan dua orang anak itu duduk semeja dengan Mei Li, para isteri tidak nampak lagi, tetapi sebaliknya ada dua puluh orang lebih pimpinan Beng-kauw yang hadir sebagai pendengar.

"Sekarang kalian dengarkan baik-baik hasil penyelidikanku. Mereka semua, orang-orang kangouw yang menganggap diri pendekar, telah siap untuk menghancurkan kita, terutama sekali Nam-kian-pang yang dipimpin oleh Ciu Kang Hin. Kita harus dapat menangkap dan menghukumnya. Entah sudah berapa banyak orang kita tewas di tangan pemuda setan itu. Nam-kiang-pang bahkan sudah minta bantuan kepada partai-partai lain seperti Siauw-lim-pai dan Butong-pai. Akan tetapi kita tidak perlu takut!"

"Benar, ayah. Kita adalah bangsa harimau yang lebih memilih mati dengan selaksa luka dari pada menjadi babi yang menguik-nguik menanti ajal!" kata Kwan Eng dengan gagah.

"Ayah, maafkan aku. Apakah tidak ada jalan lain?"

Orang gagah itu melotot. "Jalan lain apa maksudmu? Benar seperti apa yang diucapkan adikmu. Kalau harimau telah tersudut, apa lagi yang harus dilakukan selain melawan mati-matian? Hanya pihak musuh atau kita yang akan hancur binasa!"

"Tentu saja aku tidak menganjurkan untuk melarikan diri ketakutan, ayah. Akan tetapi kita dapat mencoba untuk menyadarkan mereka dengan cara menerangkan salah sangka ini kemudian mengakhiri permusuhan."

"Ahh…, kita akan dicap pengecut, koko!" bantah adiknya.

"Engkau hanya mengandalkan kekerasan," cela kakaknya. "Kekerasan tanpa perhitungan bukanlah kegagahan namanya, melainkan kebodohan. Mati dengan berbuat nekat adalah mati konyol, bukan mati secara gagah!"

"Cukup!" bentak ayah mereka. "Tidak perlu kita bercekcok. Di sini ada nona Yang Mei Li yang gagah perkasa. Coba kau utarakan pendapatmu, nona. Barangkali ada gunanya bagi kami."

"Sesungguhnya saya tidak ingin mencampuri urusan dalam perkumpulan kalian, pangcu. Akan tetapi karena diminta, saya akan berterus terang saja. Pendapat twako Sie Kwan Lee dan pendapat Sie Kwan Eng keduanya benar dan alangkah baiknya kalau keduanya digunakan. Pertama-tama diusahakan dulu memberi penerangan untuk membantah fitnah yang dijatuhkan terhadap Beng-kauw, untuk membersihkan nama Beng-kauw. Tentu saja kalau memang ada anggota Beng kauw yang bersalah, tidak ragu lagi untuk menjatuhkan hukuman. Setelah itu, kalau pihak sana masih terus menekan dan menyerang, apa boleh buat, haruslah dihadapi secara jantan."

Ayah dan anak itu mengangguk-angguk setuju. "Kalau begitu mulai sekarang kalian harus cepat-cepat menyelesaikan latihan kalian. Agar latihan bisa dilakukan berbareng sehingga mudah menjaganya, akan kita lakukan di goa inti salju di puncak Tanduk Rusa. Puncak ini berada di pegunungan Thai-san yang sering kali tertutup salju.

"Akan tetapi aku membutuhkan tempat yang terpanas untuk menyempurnakan latihanku, ayah," kata Kwan Lee.

"Tentu saja! Akan tetapi tempat paling panas dapat dibuat dengan api, sedangkan tempat paling dingin haruslah buatan alam. Di sana ada goa-goa batu yang dapat kita panaskan dengan bantuan api sehingga akan menjadi tempat latihan yang amat baik untukmu."

Mei Li tertarik sekali. Memang dia adalah seorang yang suka sekali akan ilmu silat, maka mendengar cara berlatih dua macam ilmu yang dianggap paling unggul di dunia persilatan Itu, timbullah keinginannya untuk menyaksikannya.

Seolah dapat membaca suara hati Mei Li, Kwan Eng lantas menghampiri Mei Li. Dia pun menggunakan lengan melingkari pinggang dara itu kemudian berkata, "Mei Li, marilah kau temani kami. Aku masih ingin mempererat persahabatan kita."

"Kalau kau suka maka aku akan senang sekali, nona. Lagi pula pemandangan alam di sana amat indahnya. Jika nona sedang merantau, maka datang ke puncak Thai-san akan sangat menyenangkan hati nona," kata pula Kwan Lee.

"Ha-ha, sebetulnya dilarang keras bagi orang luar untuk menyaksikan latihan yang penuh rahasia ini. Akan tetapi nona Yang Mei Li sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri, tentu saja merupakan kebanggaan besar bila nona suka menyaksikannya," kata pula Sie Wan Cu.

Mei Li memang tertarik sekali pada keluarga Beng-kauw ini. Apa lagi melihat kenyataan bahwa keluarga ini dimusuhi semua orang, membuat hatinya merasa penasaran. Dia tidak melihat sesuatu yang dapat dijadikan alasan untuk membenci dan memusuhi keluarga ini.

"Baik, kalau kalian tidak merasa terganggu dengan kehadiranku, ingin aku menyaksikan," katanya dan ucapan ini disambut dengan seruan girang oleh Kwan Eng.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner