KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-19


Pada hari itu juga berangkatlah Sie Wan Cu serta dua orang anaknya, menunggang kuda ditemani oleh Mei Li dan diikuti pula oleh lima belas orang tokoh Beng-kauw. Rombongan ini melakukan perjalanan cepat dengan kuda menuju ke pegunungan Thai-san.

Tidak sukar bagi rombongan itu menemukan Goa Inti Salju di puncak yang tertutup salju itu. Goa ini besar dan dalam, dan karena selamanya mengandung salju, maka dindingnya juga menjadi berkilauan karena membeku dan agaknya ada sesuatu di dalam goa itu yang menimbulkan keadaan seperti itu dan di bagian dalamnya teramat dingin sehingga disebut Goa Inti Salju. Ketika Mei Li ikut memasuki goa, dia harus mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan hawa dingin itu.

Kwan Eng lalu ditinggal seorang diri di dalam goa. Dara ini duduk bersila pada permukaan es yang membatu untuk melatih bagian terakhir dari ilmu Salju Putih. Sementara itu para pembantu segera mempersiapkan goa lain untuk Kwan Lee berlatih. Memang di tempat ini terdapat banyak goa-goa batu.

Mereka mengumpulkan kayu bakar, ditumpuk pada sekeliling goa, menyiraminya dengan minyak lalu membakar tumpukan kayu itu. Terdengarlah bunyi berkeratak yang aneh dan nyaring ketika kayu basah itu terbakar karena sudah mengandung minyak. Mereka terus mengumpulkan kayu dan segera menambah kayu setiap kali kayu menipis sehingga goa itu selalu di kelilingi api yang besar. Tentu saja di dalam goa segera menjadi panas bukan main.

Sesudah panas di dalam goa mencapai puncaknya, Kwan Lee lalu memasuki goa ini dan mulailah dia melatih bagian terakhir dari ilmu Matahari Merah. Lima belas orang itu secara bergiliran menjaga siang malam di depan goa.

Setelah lewat lima hari Mei Li merasa bosan juga. Mula-mula dia memang merasa senang karena seperti yang dikatakan Kwan Lee, pegunungan itu mempunyai pemandangan yang indah sekali. Akan tetapi sesudah lima hari dia merasa kesepian, juga merasa tidak enak karena sikap Sie Wan Cu sangat manis kepadanya, bahkan kini mulai merayu yang bagi umum tentu akan dianggap kurang ajar. Dia menghindar dengan halus meski harus diakui bahwa wanita yang kurang kuat menjaga harga diri tentu akan terjatuh oleh rayuan maut laki-laki yang ganteng dan jantan ini.

Pada suatu pagi, begitu Mei Li keluar dari goa yang dipilihnya untuk ternpat melewatkan malam, Sie Wan Cu sudah menunggu di luar goa. Lelaki ini nampak segar dan wajahnya berseri. Ketika Mei Li muncul, dia segera bangkit dari tempat duduknya lalu memandang dengan mata bagaikan orang terpesona.

"Nona Mei Li, pagi ini engkau sungguh cantik jelita! Kalau orang bertemu denganmu dan belum mengenalmu, tentu akan mengira engkau ini dewi penjaga gunung! Ah, semua pria tentu akan suka berlutut untuk memuja kecantikanmu."

Meski jantungnya merasa berdebar karena girang mendengar pujian yang berlebihan ini, akan temesutapi Mei Li sengaja melempar senyum mengejek. "Sie-pangcu, sudahlah, simpan semua pujian dan rayuanmu itu. Aku tidak membutuhkan itu!"

Mei Li menggosok-gosok tangannya untuk mengusir dingin, semua tubuhnya tertutup kain hangat dan hanya sebagian mukanya saja yang terbuka. Pagi ini hawanya memang dingin bukan main dan semalam juga turun hujan salju yang cukup tebal.

"Lima hari sudah lewat, berapa lama lagikah Lee-twako dan Kwan Eng keluar dari dalam goa?" Dia menoleh ke arah dua buah goa yang nampak dari situ. Lebih menyenangkan menjaga goa api karena dekat dengan goa itu akan terasa hangat.

"Bersabarlah, nona. Kalau tidak ada halangan, dua hari lagi mereka akan menyelesaikan latihan mereka."

"Dan mereka akan menguasai iImu-ilmu yang hebat, menjadi orang sakti?"

Sie Wan Cu tertawa. "Ha-ha, mereka akan menjadi orang tanpa tanding, atau setidaknya akan sama lihai dengan ayahnya!" Ketua itu tertawa-tawa dan ketika dia tertawa seperti itu, wajahnya seperti orang berusia tiga puluh tahun saja.

Sombongnya, pikir Mei Li. Akan tetapi dia merasa sangat tertarik. Ingin dia menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana hebatnya kedua ilmu itu sehingga dipuji-puji oleh dunia kangouw. Kenapa dia tidak mengajak ketua ini untuk mencoba-coba dan menguji ilmu itu? Setidaknya dapat mengalihkan percakapan dan perhatiannya yang selalu memuji muji dan merayu.

"Pangcu, aku pernah mendengar tentang kehebatan ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, akan tetapi hanya mendengar beritanya saja. Dan aku meragukan, karena biasanya berita itu dilebih-lebihkan dari kenyataannya."

Pria itu memandang dengan alis berkerut. "Kau tidak percaya?"

"Aku bukan orang yang percaya dengan tahyul, pangcu. Aku hanya percaya kepada apa yang sudah kubuktikan sendiri, bukan hanya dari kata-kata orang lain."

"Apa katamu, nona? Kalau begitu engkau tidak akan percaya pada kemampuan Matahari Merah dan Salju Putih kalau belum membuktikan dan mengujinya sendiri?"

"Begitulah, pangcu."

"Beranikah engkau mengujinya? Ilmu itu amat sakti dan berbahaya sekali!"

"Kurasa tidak akan lebih berbahaya dari pada hui-kiam (pedang terbang) milikku."

"Begitukah? Berani engkau mencobanya?"

"Kenapa tidak, pangcu? Apa lagi kalau mencobanya denganmu, tentu engkau tidak akan sungguh-sungguh mencelakai aku."

"Bagus, mari kita saling menguji, nona. Kebetulan hawa udara begini dingin, satu-satunya cara terbaik untuk melawan dingin hanyalah dengan bermesraan atau berlatih silat, ha-ha- ha!"

Mei Li tidak marah. Kini dia sudah terbiasa dengan ucapan yang ugal-ugalan dan tanpa disembunyikan itu, dan kata-kata yang diucapkan ketua itu sama sekali tak mengandung kemesuman, tetapi memang demikian kenyataannya. Apa yang lebih menghangatkan dari pada bermesraan di waktu hawa sedingin itu? Walau pun ucapan itu terlalu kasar, akan tetapi karena sejujurnya, dia dapat menerimanya tanpa tersipu atau marah.

"Singgg…!"

Nampak dua sinar berkelebat dan tahu-tahu dia sudah memegang sepasang pedangnya. Sepasang pedang itu menyilang depan dada dengan gaya yang indah dan gagah.

Kembali ketua Beng-kauw mengeluarkan suara tertawa lantang sehingga lima belas orang tokoh Beng-kauw memandang penuh perhatian dan mereka pun merasa gembira karena maklum bahwa ketua mereka hendak saling menguji ilmu kepandaian silat dengan nona yang berjuluk Hui-kiam Sian-li itu. Tanpa diperintah lagi mereka semua langsung menjadi penonton yang merasa tegang karena kalau ketua mereka yang bertanding, walau pun hanya sekedar latihan atau ujian, tehtu akan ramai sekali.

Sie Wan Cu memutar-mutar tangan kanannya. Lambat laun tangan itu berubah menjadi merah sampai sebatas pergelangan tangan.

"Nona, engkau boleh berkenalan dengan Matahari Merah!" katanya. "Awas, sambutlah!"

Nampak sinar menyambar ke arah Mei Li Dara ini maklum betapa hebatnya sinar pukulan Matahari Merah itu, maka dengan gerakan ringan dia pun mengelak dengan loncatan ke samping dan dari situ dia melepaskan pedang kirinya sambil berseru nyaring.

"Lihat hui-kiam!" Pedang itu meluncur dengan cepat.

"Bagus!" seru Sie Wan Cu dan dia mengelak sambil mengulur tangan untuk menangkap. Akan tetapi dia terlampau memandang rendah kalau mengira dapat menangkap pedang terbang yang dilepas Mei Li. Dengan kedutan tangannya pedang itu dapat ‘mengelak’ dari tangkapan lalu menukik dan kini masuk ke arah leher!

"Ahh, lihai!" Sie Wan Cu melompat ke samping dan mencoba untuk menendang pedang itu. Kembali pedang itu mengelak dan kini pedang ke dua menyambar dengan ganasnya.

Ketua Beng-kauw itu gembira sekali Dengan gerakan yang lincah dia menghindar, lantas mengirim pukulan lagi dengan tangannya yang seperti membara itu. Hawa panas keluar dari kepalan tangan yang terbuka, menyambar ke arah Mei Li. Gadis ini juga tidak berani menerima pukulan itu secara langsung, hanya menangkis dari samping, itu pun dengan pengerahan sinkang sehingga dia tidak terpukul langsung oleh tenaga Matahari Merah. Setiap kali gadis itu membalas, Sie Wan Cu juga tidak berani sembarangan menangkis pedang terbang, hanya menyampok atau mencoba untuk menangkap saja.

Kalau tadinya Sie-pangcu masih tertawa-tawa dan bersikap seperti main-main, kini suara tawanya lenyap, terganti dengan seruan-seruan kaget! Apa bila tadinya ketika rnendengar laporan puteranya yang mengatakan bahwa kedua anaknya tidak mampu menandingi Mei Li masih dia anggap sebagai sikap rendah hati puteranya, kini dia tertegun.

Dia mendapat kenyataan bahwa gadis ini benar-benar lihai bukan kepalang! Bukan hanya mampu menghindarkan diri dari setiap serangannya, bahkan serangan balasan dari kedua pedang itu benar-benar sangat berbahaya! Dan andai kata mereka berkelahi benar-benar, dia kini meragukan apakah dia akan mampu menundukkan gadis ini dalam waktu cepat.

Sungguh merupakan kenyataan yang mengejutkan hatinya dan sangat pahit rasanya. Dia selalu merasa bahwa dia adalah tokoh yang terpandai, maka dia berani malang melintang. Jarang ada orang yang mampu menghadapi ilmu Matahari Merah dan Salju Putih. Akan tetapi siapa kira dara yang usianya sebaya dengan puterinya ini mampu mengimbanginya. Kenyataan ini sedikit banyak menyinggung harga dirinya, dan ketua Beng-kauw ini mulai merasa penasaran.

"Auggghhh…!" Dia mengeluarkan bentakan nyaring lalu memutar tangan kirinya. Seketika tangan kirinya berubah warnanya menjadi pucat dan terasa hawa dingin sekali keluar dari tangan itu.

Mei Li cukup waspada. Sebelum tangan itu menampar, dia sudah dapat menduga bahwa tentu inilah ilmu Salju Putih. Oleh karena itu cepat dia menghindar dan memutar pedang terbangnya melindungi tubuhnya, sementara pedang ke dua sudah terbang ke atas lantas menukik, menyerang ke arah kepala!

Sie-pangcu yang sudah merasa penasaran sekali itu menggerakkan kedua tangannya dan kini dua tangan yang mengandung dua kekuatan dahsyat menyambar-nyambar ganas! Mei Li terkejut karena dia dapat merasakan betapa ketua Beng-kauw itu kini menyerang dengan sungguh-sungguh, bukan main-main lagi. Ini dapat membahayakan jiwanya!

Oleh karena itu dia pun mengerahkan seluruh tenaganya, membuat sepasang pedangnya beterbangan dengan hebat, kalau perlu mencabut nyawa lawan, bukan karena kebencian atau marah melainkan untuk menyelamatkan nyawa sendiri. Dua macam ilmu yang amat dashyat, dimainkan oleh dua orang ahli, bertemu di udara sehingga pilihannya hanya ada dua, dibunuh atau lebih dulu membunuh! Berulang kali keduanya nyaris menjadi korban dari serangan maut lawan, hanya berselisih serambut saja.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan nyaring dan terjadi pertempuran besar di mana lima belas orang tokoh Beng-kauw harus menghadapi serangan tujuh orang yang begitu tiba di situ langsung saja mengamuk. Dari gerakan mereka mudah diketahui bahwa tujuh orang ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali!

"Pangcu, tahan!" Seru Mei Li sambil meloncat dengan cepat sekali ke belakang.

Sie-pangcu mengangkat muka memandang dan tiba-tiba wajahnya berubah.

"Tahan senjata, aku ingin bicara!" Teriakannya lantang bukan main sehingga tujuh orang itu berhenti menyerang, menghadapinya dengan senyum simpul.

Mei Li berdiri menonton di pinggir. Dara ini merasa heran ketika melihat bahwa mereka itu tampaknya bukan seperti orang jahat, bahkan ada seorang hwesio tinggi besar, dua orang tosu dan dua orang pula yang berpakaian mewah, sedangkan dua orang lainnya adalah pemuda-pemuda tampan dan gagah. Dia lalu menduga-duga siapa gerangan tujuh orang itu.

"Sie-pangcu, sekali ini engkau takkan dapat lari dari kami. Menyerahlah saja untuk kami bawa ke sidang pengadilan orang-orang kangouw!” kata seorang di antara mereka, yaitu hwesio yang tinggi besar.

"Hemmm kulihat kalian ini bukan pengecut-pengecut rendah, tetapi kalian bersikap seperti penjahat-penjahat kecil, menyerang tanpa memperkenalkan nama! Aku Sie Wan Cu tidak sudi membunuh orang tanpa nama!"

"Omitohud, membunuh ular jahat memang tidak sepatutnya memakai banyak aturan, dan engkau lebih jahat dari pada ular berbisa, Sie Wan Cu. Ketahuilah bahwa pinceng adalah Hi Jin Hwesio dari Siauw-lim-pai!"

"Pinto adalah Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai.” Tosu kedua memperkenalkan diri. Tubuhnya pendek gendut dengan muka kuning dan usianya lima puluhan tahun.

"Aku Ang-sin-liong Yu Kiat dari Hoat-kauw!" berkata laki-laki lima puluh tahun yang tinggi tegap, tampan dan pakaiannya serba rnerah itu, sambil mengamangkan golok gergajinya yang menyeramkan.

"Tiat-sin-liong Lai Cin dari Hoat-kauw!" kata orang kedua yang usianya empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus mukanya pucat, sambil memegang tombak cagak ronce biru.

Diam-diam Sie-pangcu dari Beng-kauw terkejut mendengar nama dua orang dari Bu-tek Ngo-sin-liong yang dia tahu amat tangguh ini.

"Sie Pangcu dari Beng-kauw, kau ingin mengetahui namaku?" kata seorang pemuda yang tampan halus berpakaian sasterawan serba putih dan memegang golok. "Namaku Tong Seng Gun, murid Nam-kiang-pang dan ini adalah suheng-ku, juga pemimpin besar kami. orang-orang yang anti Beng-kauw, bernama Ciu Kang Hin!" Dia memperkenalkan pemuda lain yang tampan dan gagah, namun yang wajahnya muram dan sejak tadi tidak banyak bicara.

Kalau Sie Wan Cu terkejut mendengar nama-nama itu, terutama nama Ciu Kang Hin yang amat dibencinya karena kabarnya pemuda inilah yang paling gigih membasmi Beng-kauw, Mei Li sebaliknya menjadi terheran-heran. Dari ayah ibunya ia banyak mendengar tentang orang-orang kangouw yang.gagah, pendekar-pendekar perkasa, akan tetapi kenapa sikap tujuh orang ini begitu congkak?

Secara diam-diam dia memperhatikan Ciu Kang Hin, karena dia sudah mendengar bahwa pemuda ini pembasmi Beng-kauw nomor satu. Akan tetapi pemuda itu tidak terlihat ganas dan kejam, bahkan pendiam dan mukanya muram seperti orang tengah berduka sehingga menimbulkan perasaan pribadi hatinya.

Melihat bahwa tujuh orang itu semuanya adalah musuh besar yang selalu mengejar-ngejar dan membasmi orang Beng-kauw, Sie Pangcu maklum bahwa pertempuran mati-matian tidak dapat dielakkan. Yang dia khawatirkan adalah putera dan puterinya. Mereka belum selesai latihan dan kalau mereka diganggu, bisa menimbulkan mala petaka bagi mereka. Dia lalu memberi isyarat kepada anak buahnya sambil berseru,

"Serbu! Bunuh manusia sombong ini!"

Lima belas orang tokoh Beng-kauw itu segera menggerakkan senjata masing-masing dan menyerang tujuh orang itu.

Tang Seng Gun yang sebetulnya memegang peran penting, bahkan sesungguhnya dialah yang memimpin dalam rombongan itu, berseru kepada Ciu Kang Hin. "Suheng, serbu dua buah goa itu!"

Dia sendiri bersama Ciu Kang Hin lantas menggerakkan goloknya, menerjang para tokoh Beng-kauw yang berjaga di depan dua buah goa. Tong Seng Gun menyerbu para penjaga di depan goa inti salju sedangkan Ciu Kang Hin menerjang mereka yang berjaga di depan goa yang dikurung api unggun besar dan panas. Sementara itu lima orang tokoh Siauw-lim-pai, Butong-pai, Kong-thong-pai dan Hoat-kauw sudah menggerakkan senjata mereka mengeroyok Sie-pangcu.

Mei Li sendiri hanya berdiri terbelalak karena kagum dan bingung harus berbuat apa. Jika dia membantu Beng-kauw, berarti dia mencampuri urusan perkumpulan lain dan ayahnya tentu akan marah sekali kalau mendengar ini, dan berarti dia menanam bibit permusuhan dengan partai-partai besar seperti Siauw-lim-pai, Butong-pai dan lain-lain. Tetapi jika diam saja, dia pun merasa tak enak dan kasihan kepada Sie-pangcu yang dikeroyok lima orang lihai.

Apa lagi ketika dia melihat Tong Seng Gun. Meski pun dia merasa heran melihat pemuda itu, namun dia masih mengenalnya dengan baik. Tidak mudah melupakan pemuda yang mendatangkan kesan mendalam di benaknya itu. la merasa heran meilihat pemuda itu kini menggunakan sebatang golok yang lihai bukan main, tidak seperti dulu ketika dia pertama kali bertemu dengannya. Pada waktu itu pemuda berpakaian serba putih ini menggunakan senjata suling!

Yang jelas, biar pun sangat kejam pemuda itu adalah seorang pendekar yang menentang kejahatan, yang dahulu tanpa kenal ampun sudah membantai Tiat-ciang Hek-mo, raksasa kepala Hek-i Kwi-pang yang menjadi perampok lembah Huangho itu, berikut belasan anak buahnya. Pemuda itu telah menyelamatkan sepasang pengantin baru!

Tentu saja Mei Li tidak tahu, bahkan tidak pernah bermimpi bahwa pengantin wanita telah diperkosa oleh Seng Gun dan pengantin pria telah dilempar ke dalam jurang. Pengantin wanita itu kemudian membunuh diri ke dalam jurang pula!

Sungguh tidak enak kalau sekarang dia harus membantu Beng-kauw menentang pemuda pendekar itu. Dengan bingung Mei Li melihat betapa Seng Gun dan Kang Hin membabati para anggota Beng-kauw bagai membabat rumput saja! Padahal belasan orang itu adalah tokoh-tokoh tingkat dua dari Beng-kauw, rata-rata telah memiliki tingkat kepandaian tinggi.

Sementara itu Sie Wan Cu yang dikeroyok lima orang itu pun mengamuk seperti harimau terluka. Tangan kanannya berubah menjadi merah, mengeluarkan sinar seperti api ketika melancarkan pukulan, sedangkan tangan kirinya putih seperti salju.

Karena mempelajari dua macam ilmu yang mengandung tenaga sinkang yang berlawanan ini maka Sie Wan Cu tidak memiliki tenaga yang sepenuhnya, tidak dapat menguasai ilmu itu secara sempurna. Itulah sebabnya dia menyuruh Kwan Lee melatih Matahari Merah saja dan Kwan Eng melatih Salju Putih saja. Dengan melatih salah satu saja, maka kedua orang anaknya akan dapat menguasai ilmu itu sepenuhnya.

Akan tetapi, biar pun penguasaannya tidak sempurna, tetap saja kedua ilmu yang ampuh itu ternyata dahsyat sekali. Tangan kanannya mengeluarkan uap dan nampak kemerahan seperti api membara, dan hawa yang amat panas terasa oleh lawan-lawannya. Ada pun tangan kirinya yang berwarna putih itu nampak seperti es beku, mengeluarkan uap dingin yang terasa mengerikan apa bila menyentuh lengan para pengeroyok.

"Omitohud, jahat... jahat sekali…!" seru hwesio tinggi besar dari Siauw-lim-pai. Kalau tadi dia hanya mengandalkan ujung lengan bajunya yang panjang lebar untuk menyerang Sie Wan Cu, kini dia mengeluarkan sebuah tongkat kuningan.

Ketika hanya mempergunakan ujung lengan bajunya, hwesio itu tadi sempat menangkis sambaran tangan kanan Sie Wan Cu dan ujung lengan baju itu menjadi gosong terbakar. Dia amat terkejut, maka cepat melompat ke belakang lalu mencabut tongkat yang tadinya dia tancapkan di atas tanah. Dengan tongkat kuningannya, hwesio tinggi besar itu seperti harimau tumbuh sayap.

Ho Jin Hwesio adalah seorang hwesio tingkat dua dari perguruan Siauw-lim-pai, sebab itu tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi. Tongkatnya mengeluarkan suara mendengung-dengung ketika dia gerakkan dalam serangan bertubi-tubi, menusuk, mengemplang, menyerampang, dan setiap serangan itu mengandung tenaga dahsyat.

Sie Wan Cu mengamuk dan melihat hwesio itu memukul dengan pengerahan tenaga, dia pun memapaki dengan tangan kanannya.

"Krakkk…!"

Hebat bukan main pertemuan tenaga itu. Tangan yang menangkis itu membuat gerakan memutar dan ujung tongkat itu pun patah!

Ho Jin Hwesio terkejut dan dia cepat melompat ke belakang. Untung baginya bahwa para pengeroyok lain sudah mendesak Sie Wan Cu sehingga ketua Beng-kauw ini tidak dapat menyusulkan serangan kepadanya. Ho Jin Hwesio merasa penasaran sekali dan dia pun nekat maju lagi menggunakan tongkatnya yang sudah buntung.

Sekali ini, selagi ada kesempatan mengeroyok bersama beberapa orang tokoh lihai, maka dia harus berhasil membalaskan dendam suheng-nya. Suheng-nya, seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lain, pernah bentrok dengan ketua Beng-kauw itu dan dalam perkelahian itu suheng-nya merasakan penghinaan besar. Suheng-nya tidak saja kalah, akan tetapi ketua Beng-kauw tidak mau membunuhnya, hanya mematahkan tulang kakinya hingga hwesio itu menjadi tapadaksa, jalannya terpincang pincang.

Hal ini membuat suheng-nya merasa terhina dan tersiksa sekali sehingga ingatannya lalu berubah dan kini hanya tinggal saja bertapa, tidak pernah mau mencampuri urusan dunia dan juga sikapnya berubah menjadi tidak waras! Kalau sekarang Ho Jin Hwesio dengan penuh semangat bersedia menerima ajakan Nam-kiang-pang untuk menyerbu Beng-kauw, yang mereka lakukan bersama, hal itu semata untuk membalaskan sakit hati suheng-nya, di samping untuk membasmi perkumpulan yang dianggap amat jahat dan sesat itu.

Kiang Cu Tojin, tosu tinggi kurus dari Butong-pai, juga mengandung sakit hati yang amat mendalam kepada Sie Wan Cu. Dulu seorang murid wanitanya yang masih gadis pernah bertemu dengan ketua Beng-kauw itu, merasa tertarik sekali karena Sie Wan Cu memang memiliki daya tarik yang amat kuat bagi wanita. Ketika itu usia Sie Wan Cu empat puluh tahun dan murid Butong-pai itu tergila-gila kepadanya. Dan ketua Beng-kauw ini pun tidak menolak. Mana mungkin bagi Sie Wan Cu untuk menolak rindu dendam seorang wanita? Dia melayani, merayu dan bermain cinta dengan gadis itu.

Akan tetapi ketika wanita itu minta agar dinikahi, menjadi isteri yang ke sekian, Sie Wan Cu tidak mau. Bukan dia tidak sayang kepada wanita itu, tetapi karena wanita itu adalah murid Butong-pai yang dilarang untuk menikah. Dia tidak ingin membuat Butong-pai sakit hati kepadanya. Dia pun menolak hingga gadis itu menjadi patah hati lalu membunuh diri!

Akhirnya Kiang Cu Tojin, guru wanita itu, mengetahui persoalannya. Dia pun bersumpah untuk membunuh Sie Wan Cu, maka begitu Nam-kiang-pang mengajak dia bekerja sama membasmi Beng-kauw, serta merta dia menyanggupi. Kini dengan pedangnya di tangan, dia mencari kesempatan untuk dapat memenggal pria yang sangat dibencinya itu.

Ang-sin-liong Yu Kiat lebih sakit hati lagi terhadap ketua Beng-kauw ini karena mendiang isterinya dulu pernah dibikin tergila-gila oleh Sie Wan Cu. Pendeknya, di antara lima orang itu tidak ada seorang pun.yang suka kepadanya, maka mereka mengeroyok dengan tekad keras untuk membunuhnya.

Tapi ternyata Sie Wan Cu bukan orang yang mudah ditundukkan. Lima orang pengeroyok itu rata-rata merupakan tokoh-tokoh besar dunia persilatan, dan sekarang mereka semua berusaha mati-matian untuk membunuhnya, tetapi ketua Beng-kauw itu dapat melakukan perlawanan dengan gigih sekali.

Setelah lewat pertempuran yang makan waktu lebih dari lima puluh jurus, barulah tongkat buntung Ho Jin Hwesio mampu menggebuk punggungnya dengan amat kuatnya sehingga terdengar tulang patah. Memang tulang iga ketua Beng-kauw ada yang patah, akan tetapi Sie Wan Cu malah mengeluarkan suara tawa lalu dia menyerang dengan amat cepatnya kepada hwesio itu. Terdengar teriakan mengerikan kemudian hwesio tinggi besar itu roboh terkapar dan menggelepar dengan muka berubah hangus.

Melihat ini empat orang tokoh yang lain menjadi marah dan cepat mereka menggerakkan senjata lebih ganas lagi. Namun Sie Wan.Cu yang maklum bahwa dia tidak akan dapat mengalahkan para pengeroyoknya yang tingkat kepandaian masing-masing tak berselisih jauh dengannya, kini menubruk ke arah Kiang Cu Tojin.

Dengan penuh kebencian tosu Butong-pai itu menyambut dengan tusukan pedang. Akan tetapi Sie Wan Cu yang sudah nekat itu tertawa, menerima pedang dengan dadanya dan tangannya berhasil mencengkeram pundak tosu itu. Kiang Cu Tojin menggigil, mukanya berubah pucat sekali, lalu dia pun roboh terkena cengkeraman ilmu Salju Putih dan tewas seketika.

Sie Wan Cu yang dadanya sudah ditembusi pedang masih dapat rnembalik dan mengirim pukulan Matahari Merah ke arah dada Ang-sin-liong Yu Kiat, akan tetapi dari samping Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai sudah menggerakkan ruyungnya menghantam tengkuk Sie Wan Cu.

"Prakk…!"

Ruyung itu hancur berkeping-keping, ada pun tubuh ketua Beng-kauw itu terpelanting. Dia bergulingan, lalu kedua tangannya bergerak dari bawah. Sinar kehitaman menyambar ke arah Pek Kong Sengjin, Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin, namun tiga orang ini cepat menghindar dengan loncatan-loncatan ke samping sehingga jarum-jarum lembut itu tidak mengenai sasaran.

Sungguh mengagumkan sekali. Biar pun dadanya telah tertembus pedang Kiang Cu Tojin, juga tulang iganya patah oleh hantaman tongkat Ho Jin Hwesio dan tengkuknya membuat ruyung Pek Kong Sengjin hancur berkeping, namun ketua Beng-kauw itu masih sempat membunuh Ho Jin Hwesio dan Kiang Cu Tojin, kemudian menyerang tiga orang lawan lain dengan dahsyat, yaitu dengan jarum-jarum yang biar pun amat halus namun mengandung racun maut dan hampir saja mencelakai tiga orang datuk itu. Dan kini dia masih sanggup untuk melompat bangun biar pun dia terhuyung lagi.

"Ha-ha-ha...! Majulah kalian… orang-orang pengecut yang menganggap diri sendiri gagah perkasa dan pendekar besar! Hayo maju!"

"Iblis jahanam!" bentak Pek Kong Sengjin.

“Setan tua, kuantar kau ke neraka!" kata Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin hampir berbarengan.

Dua orang Bu-tek Ngo-sin-liong ini maju dengan cepat sambil mengirim pukulan jarak jauh yang dahsyat ke arah ketua Beng-kauw yang sudah terluka parah itu. Sementara itu Pek Kong Sengjin hanya menonton karena dia yakin bahwa ketua Beng-kauw itu tidak akan mampu menyelamatkan diri lagi.

Akan tetapi pada saat itu tiba-tiba terdengar dua kali ledakan keras, dan dua buah goa itu jebol, lalu dua sosok tubuh manusia menyambar keluar dan melayang seperti terbang. Itu adalah tubuh Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng yang keluar dari tempat pertapaan atau latihan mereka.

Yang amat mengerikan, wajah Kwan Lee tampak seperti bara api, merah sekali hingga ke rambut-rambutnya, sedangkan wajah Kwan Eng tampak putih pucat bagaikan mayat, juga sampai ke rambut-rambutnya. Dua orang ini melayang ke arah ayah mereka yang saat itu sedang terancam pukulan maut dari Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin.

Tentu saja dua orang dari Bu-tek Ngo-sin-liong terkejut bukan main ketika ada bayangan menerkam ke arah mereka dibarengi angin dahsyat mendatangkan hawa yang satu panas seperti api yang lain dingin seperti es. Karena tidak tahu benda atau makhluk apa yang menerkam ke arah mereka, pukulan mereka terhadap Sie Wan Cu mereka urungkan dan mereka mengarahkan pukulan kepada penyerang itu. Ang-sin-liong Yu Kiat menyerang ke arah makhluk bermuka merah sedangkan sute-nya menyerang ke arah makhluk bermuka putih.

"Dessss…!"

Kedua orang datuk ini mengeluarkan teriak kaget lalu roboh terjengkang. Biar pun mereka tadi sudah mengerahkan sinkang sekuatnya dan melindungi seluruh tubuh mereka, tetap saja mereka roboh pingsan!

"Ayah...!".Kwan Lee dan Kwan Eng segera berlutut dekat ayah mereka yang tadi terkulai lagi. Orang tua itu tersenyum lebar.

"Ha-ha-ha, Kwan Lee dan Kwan Eng. Kalian berhasil! Mati pun aku tidak akan penasaran karena Beng-kauw sudah ada yang melanjutkan. Bangun... bangun kembali Beng-kauw... dan kalian bantulah nona itu..." Dia menuding dan kedua orang anaknya menoleh. Mereka meiihat Yang Mei Li sedang memainkan sepasang pedangnya menghadapi pengeroyokan dua orang muda yang lihai bukan main.

Ternyata tadi Mei Li tidak dapat menahan dirinya lagi melihat Seng Gun mempergunakan tangan besi membunuhi anggota Beng-kauw. Hampir semua orang yang tadinya berjaga di depan dua goa itu sudah roboh.

Dilihatnya pemuda yang seorang lagi tetap tidak pernah membunuh pengeroyoknya. Yang bertangan maut adalah Seng Gun, dan hal ini membuat dia merasa semakin tidak suka kepada pemuda yang dalam pertemuannya yang pertama kali juga sudah bertindak kejam sekali terhadap gerombolan penjahat. Dia segera melompat, lalu menggunakan sepasang pedangnya untuk menahan gerakan Seng Gun dan Kang Hin, sekaligus menangkis golok kedua orang pemuda itu.

"Ehh, Hui-kiam Sian-li...! Nah, kita berjumpa kembali, nona. Akan tetapi sekali ini engkau salah kira. Yang kau bantu ini adalah orang-orang Beng-kauw, orang-orang jahat sekali!"

"Tapi yang kusaksikan tadi engkaulah yang jahat dan kejam, bukan orang lain," kata Mei Li dengan sikap tenang dan mata menantang.

Pada saat itu orang-orang Beng-kauw yang tadinya ada lima belas sekarang tinggal enam orang saja lagi. Mereka sudah menghentikan serangan karena memang maklum bahwa mereka tidak akan menang melawan dua orang pemuda Nam-kiang-pang itu. Dan ketika Mei Li memandang, kebetulan sekali Kang Hin juga memandang kepadanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner