KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-20


Sinar mata penuh kemarahan bagaikan sepasang bintang berapi itu membuat pemuda itu menundukkan pandang matanya ke bawah, seperti orang yang merasa bersalah. Namun Seng Gun sebaliknya mengerutkan alisnya mendengar ucapan itu.

"Hemm, kiranya engkau juga seorang gadis sesat! Kalau begitu, baik kuantar kau sekalian bersama mereka ke neraka!"

Mei Li tersenyum. "Agaknya engkau telah berlangganan dengan neraka sehingga engkau tahu jalannya dan dapat menjadi petunjuk jalan. Baguslah, engkau sendiri telah mengakui bahwa engkau langganan neraka "

Mei Li melihat betapa sinar mata pemuda pendiam itu kini bercahaya menyembunyikan kegelian hatinya. Akan tetapi Seng Gun sudah marah sekali, sambil mengeluarkan seruan nyaring dia segera menyerang dengan goloknya.

Mei Li menangkis dan pada saat itu juga pedang ke dua sudah menyambar ke arah leher Seng Gun. Tentu saja Seng Gun terkejut sekali dan dia pun segera memainkan ilmu yang baru saja dilatihnya dengan sempurna, yaitu Thian-te To-hoat yang ampuh. Dari segenap anggota Nam-kiang-pang hanya ada tiga orang saja yang menguasai ilmu ampuh ini, yaitu Tio-pangcu, Ciu Kang Hin, dan dia sendiri.

Akan tetapi sekali ini Seng Gun harus kecelik. Dia menemukan tanding yang tidak kalah hebatnya. Sepasang pedang yang beterbangan bagai dua ekor naga sakti itu benar-benar membuat dia menjadi bingung. Dia telah mengerahkan tenaganya, namun ternyata tangan yang menggerakkan pedang terbang itu pun kuat luar biasa, bahkan dalam hal kecepatan dia harus mengakui keunggulan lawan.

Sementara itu tiga orang penyerbu, yaitu Ang-sin-liong Yu Kiat, Tiat-sin-liong Lai Cin, dan Pek-kong Sengjin dari Kong-thong-pai, juga terdesak hebat oleh kakak beradik Sie yang sudah menguasai Matahari Merah dan Salju Putih, bahkan semakin lama gerakan kakak beradik itu semakin dahsyat sebab mereka sudah mulai terbiasa sehingga tidak kaku lagi. Warna yang merah pada muka Kwan Lee dan warna putih pucat pada muka Kwan Eng juga sudah mulai menjadi normal kembali.

Melihat ini Ciu Kang Hin mengambil keputusan tetap. Dia bersedih melihat betapa Nam-kiang-pang sudah menjadi gerombolan kejam, bahkan tokoh-tokoh pendekar dari berbagai partai persilatan kini ikut-ikutan hendak membasmi Beng-kauw. Dia merasa sedih apa bila harus terlibat.

Biar pun dia tahu pahwa Beng-kauw adalah aliran sesat dan di antara para anggotanya mungkin banyak yang jahat, namun dia tidak percaya bahwa mereka semua itu jahat dan harus dibasmi habis, berikut anak-anak dan isteri mereka. Seperti sekarang ini, dua orang putera dan puteri ketua Beng-kauw sedang melakukan tapa untuk melatih ilmu Matahari Merah dan Salju Putih, namun dalam keadaan seperti itu, para pendekar menyerbu dan hendak membunuh mereka semua yang sedang tidak berdaya karena sedang latihan!.

"Sute, cuwi enghiong, larilah! Biar aku yang menahan mereka!”

Kang Hin sudah melihat robohnya dua orang, yaitu tokoh Siauw-lim-pai dan Butong-pai. Kalau dilanjutkan, setelah pemuda dan pemudi yang sudah memiliki ilmu Matahari Merah dan Salju Putih itu muncul, tentu sute-nya dan tiga orang tokoh lainnya akan tewas pula. Dari pada mereka yang tewas, biarlah dia yang akan mengorbankan diri dari pada hidup dalam keadaan tersiksa batinnya. Apa lagi kalau dia nanti menjadi ketua Nam-kiang-pang yang harus memimpin para anggota membasmi Beng-kauw!

Dia lalu memutar otaknya dengan hebat, menahan sepasang pedang terbang. Dia kagum bukan main melihat kemunculan gadis ini dan dia sama sekali tidak percaya bahwa gadis ini seorang jahat! Apa lagi mendengar pembicaraan antara sute-nya dan gadis itu. Sute-nya agaknya sudah mengenalnya dan gadis yang berjuluk Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang) itu sama sekali tidak menunjukkan watak jahat, walau pun dia pemberani bukan main.

Seng Gun terkejut namun girang melihat kenekatan suheng-nya. Inilah kesempatan yang baik baginya. Biarlah Kang Hin sendiri menghadapi lawan tangguh dan tewas, sedangkan dia dapat meloloskan diri. Maka dia pun segera berseru,

"Cukup, kita pergi sekarang, biar suheng menahan mereka!" setelah berkata demikian dia meloncat meninggalkan Kang Hin dan membantu tiga orang yang sedang menahan Kwan Lee dan Kwan Eng.

Tiga orang ini tentu saja merasa lega. Bagaimana pun juga mereka sudah merasa bahwa mereka tak akan mampu menandingi dua orang pemuda dan gadis yang mempunyai ilmu aneh itu. Maka ketika mendengar ucapan Seng Gun, mereka langsung memutar senjata dengan dahsyat, memaksa Kwan Lee dan Kwan Eng mundur, lantas mereka meloncat ke belakang dan bersama Seng Gun mereka melarikan diri.

Kwan Lee dan Kwan Eng tidak mengejar karena mereka telah menghampiri ayah mereka yang terluka parah dan sekarang sudah bangkit duduk bersila untuk mengerahkan tenaga terakhir melawan maut yang hendak merenggut nyawanya.

"Ayah!" mereka berlutut di dekat ayah mereka. Keduanya ingin membantu ayah mereka dengan menempelkan telapak tangan pada punggung. Akan tetapi Sie Wan Cu tersenyum mencegah mereka.

"Jangan, tidak ada gunanya lagi… aku akan mati... akan tetapi aku puas, aku puas... ha-ha-ha! Kalian telah berhasil. Dan gadis itu, dia baik sekali… ahh, Dewi Pedang Terbang… kalian bantu dia, lawannya juga amat lihai."

Kwan Lee dan Kwan Eng menengok. Mereka melihat Mei Li sedang bertanding melawan seorang pemuda yang bersenjatakan sebatang golok dan mereka benar-benar merasa kagum sekali. Pemuda itu tegap dan tampan, dan ilmu goloknya amat aneh.

Golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung bagaikan tirai sinar yang menyelubungi seluruh tubuhnya. Biar pun sepasang pedang Mei Li beterbangan menyambar tapi selalu dapat tertahan oleh gulungan sinar golok. Dua pedang itu bagaikan dua ekor burung walet emas yang menyambar-nyambar, akan tetapi tidak dapat menembus tirai sinar. Sungguh merupakan pertandingan yang sangat hebat karena golok itu pun tidak mampu melewati dua batang pedang.

"Ilmu golok yang hebat!" seru Kwan Lee.

"Itulah Thian-te To-hoat yang amat terkenal," kata ayah mereka. "Dan pemuda itu ahh…, agaknya... dialah yang bernama Ciu Kang Hin..."

"Keparat!" Mendengar nama itu Kwan Eng segera meloncat untuk mengeroyok Kang Hin.

Kwan Lee cepat bertanya kepada ayahnya, "Apakah ayah menghendaki agar pemuda itu kita bunuh?"

Sie Wan Cu masih memandang pemuda itu dengan sinar mata tertarik, lalu berkata lirih, "Jangan... jangan bunuh... sayang kalau ilmu golok itu dibawa mati... tangkap saja, Kwan Lee. Tangkap dia hidup-hidup untukku..."

Biar pun merasa heran dan tidak mengerti kenapa ayahnya memerintahkan begitu, Kwan Lee segera meloncat maju kemudian dia pun ikut pula mengeroyok Kang Hin yang sudah terdesak hebat ketika Kwan Eng melancarkan pukulan Salju Putih itu.

Sesungguhnya hati Mei Li sudah tidak senang dengan adanya Kwan Eng yang melakukan pengeroyokan. Biar pun dia tidak dapat dibilang menguasai pertempuran dan keadaannya masih berimbang dengan golok pemuda perkasa itu, namun dia juga tidak kalah dan tidak membutuhkan bantuan. Apa lagi dia tadi melihat sendiri betapa lawannya itu hanya ingin menghalangi mereka mengejar teman-temannya.

Pemuda itu mengorbankan diri bagi teman-temannya. Bahkan pemuda itu tidak sungguh-sungguh menyerang ketika melawannya, hanya lebih banyak menangkis dan menutup diri dengan sinar golok.

Kang Hin sendiri kagum bukan main melihat sepasang pedang terbang itu, maklum bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang gadis yang sangat lihai. Dan selagi dia mencari kesempatan untuk melarikan diri, ada angin dingin menyambar dari kiri. Dia terkejut dan cepat membuang diri ke belakang.

Ternyata yang menyerangnya adalah seorang gadis cantik yang wajahnya agak kepucat-pucatan dan tangannya juga putih sekali. Dia teringat akan percakapan sute-nya dengan rekan-rekannya tadi bahwa puteri ketua Beng-kauw tengah berlatih ilmu Salju Putih, maka dia dapat menduga bahwa inilah agaknya puteri Beng-kauw itu. Dia pun segera memutar goloknya lebih cepat untuk melindungi dirinya.

Akan tetapi ilmu yang baru saja disempurnakan Kwan Eng itu memang hebat bukan main. Kini pertempuran itu menjadi pertempuran yang amat hebat karena tiga macam ilmu yang pada waktu itu dapat dibilang merupakan tiga di antara ilmu-ilmu yang tertinggi di dunia persilatan, saling bertemu.

Namun, karena Kang Hin dikeroyok, apa lagi karena dia memang tidak bermaksud untuk membunuh seorang di antara kedua gadis cantik itu, maka dia mulai terdesak hebat dan pada saat Kwan Lee datang melompat ke situ, dari belakang Kwan Eng melancarkan satu pukulan jarak jauh dengan tenaga Salju Putih sepenuhnya sehingga membuat tubuh Kang Hin terhuyung dan kesempatan ini dipergunakan oleh Mei Li untuk menendang kakinya.

Tanpa dapat dicegah lagi tubuh Kang Hin terpelanting, lalu tusukan pedang terbang pada pergelangan tangannya membuat goloknya terlepas dan pada waktu itu Kwan Eng sudah meloncat dekat kemudian menggerakkan tangan untuk mengirim pukulan maut.

"Jangan bunuh dia!" Mei Li berseru, tetapi agaknya seruannya itu terlambat karena Kwan Eng sudah mengayun tangannya.

"Dukkk...!"

Kwan Eng meloncat ke belakang dengan mata terbelalak melihat bahwa yang menangkis pukulan mautnya itu bukan lain adalah Kwan Lee.

"Koko, kenapa kau melarangku? Gilakah kau?"

"Hushh, moi-moi, ayah melarang kita."

Kwan Eng menjadi semakin heran. Sementara itu Kang Hin bangkit duduk, pergelangan tangannya sedikit terluka oleh ujung pedang Mei Li.

"Aku sudah kalah, bunuhlah aku!" katanya dengan suara datar.

Entah mengapa suara itu begitu mengharukan hati Mei Li sehingga dia cepat maju lantas menggerakkan tangannya. Sekali totok saja tubuh itu langsung terkulai karena memang Kang Hin tidak bermaksud untuk mengelak atau menangkis. Dia sudah pasrah.

Kwan Lee lalu mengeluarkan sabuk sutera yang kuat dan mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang, kemudian membebaskan totokan Mei Li.

"Kenapa engkau menangkap aku? Mengapa tidak kau bunuh saja aku?" tanya Kang Hin kepada Kwan Lee.

"Tidak perlu banyak bertanya. Engkau sudah menjadi tawanan kami dan hanya ayah yang akan memutuskan apa yang akan kami lakukan terhadap dirimu."

Dengan kasar Kwan Lee menyeret tubuh Kang Hin, dibawa menghadap ayahnya. Ketua Beng-kauw memandang dengan penuh perhatian kepada Kang Hin, dari kepala sampai ke kaki.

"Heii, orang muda, apakah engkau yang bernama Ciu Kang Hin?"

"Benar, pangcu. Sesudah sekarang saya tertawan, cepat bunuh saja aku," kata Kang Hin dengan suara dan sikap tenang.

Memang dia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Kematian tidak berarti meninggalkan sesuatu yang berharga baginya. Dan kedudukan ketua di Nam-kiang-pang sama sekali tidak dianggapnya sebagai suatu yang membahagiakan dan membanggakan, bahkan menjadi beban yang amat berat.

"Engkau yang dijuluki pembasmi Beng-kauw nomor satu?" tanya pula ketua Beng-kauw dengan suara lirih karena keadaannya sudah payah.

"Benar sekali."

"Ayah, biar kuhancurkan kepalanya dengan tanganku!" Kwan Eng berseru marah.

"Mengapa?" Sie Wan Cu mendesak, memaksa diri, "Mengapa engkau begitu membenci kami?"

"Aku tidak membenci Beng-kauw, hanya menentang semua perbuatan jahat, tidak peduli dilakukan oleh siapa pun."

"Tapi engkau membunuh orang Beng-kauw, bahkan wanita dan anak-anak."

"Aku tidak pernah membunuh wanita dan anak-anak. Aku hanya mengalahkan orang yang bertanding denganku. Aku bukan pembunuh."

"Bohong!" Bentak Kwan Eng. "Ayah, dia bohong, dia pengecut, tidak berani bertanggung jawab, tidak berani mengakui perbuatahnya sendiri!"

Sie Wan Cu menyeringai menahan sakit. Dia lalu menguatkan dirinya karena agaknya dia merasa tertarik sekali.

"Tetapi orang menganggap dirimu sebagi pembunuh nomor satu, pembasmi Beng-kauw, engkau calon ketua Nam-kiang-pang."

"Itu adalah fitnah, bohong. Kalau aku membunuh orang, tentu tidak akan kusangkal. Aku memang ditunjuk oleh suhu sebagai calon ketua Nam-kiang-pang, dan memang suhu dan semua suheng sute bertekad untuk membasmi Beng-kauw. Akan tetapi aku tidak setuju. Terserah kalian percaya atau tidak, mau bunuh boleh bunuh, akan tetapi aku tidak pernah mengingkari setiap perbuatanku."

"Jahanam!" Kwan Eng sudah mengayun tangannya, akan tetapi ayahnya membentaknya sehingga gadis itu dengan merengut membatalkan niatnya.

"Ciu Kang Hin, apa hubunganmu dengan Ouw-sin-houw (Harimau Sakti Hitam) Ciu Teng?" tiba-tiba ketua Beng-kauw itu bertanya sambil memandang tajam.

Pemuda itu nampak terkejut sekali, lalu dia pun mengangkat muka memandang kepada si penanya. "Mengapa pangcu bertanya demikian? Sebaiknya pangcu lekas berobat dan beristirahat, keadaan pangcu telah berbahaya sekali..." Kang Hin melihat betapa ketua itu menahan rasa sakit dan mukanya sudah mulai pucat, keringatnya membasahi muka dan leher.

"Jawab, apa hubunganmu dengan Ciu Teng?" ketua Beng-kauw mengulang.

Kwan Lee ikut mendesak, "Lebih baik kau cepat menjawab, Ciu Kang Hin!"

Pemuda itu menundukkan mukanya yang berubah muram. "Mendiang Ouw-sin-houw Ciu Teng adalah ayah kandungku," katanya dengan suara sedih.

Sie Wan Cu terkejut, sepasang matanya terbelalak, mulutnya ternganga, lalu dia tertawa. Keras sekali tawanya.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga… sudah kuduga! Wajahmu mirip sekali dengan dia. Ciu Kang Hin, tahukah engkau dengan siapa kau berhadapan? Aku Sie Wan Cu adalah pamanmu, paman angkat. Ayahmu adalah kakak angkatku, apakah dia tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu?"

Pemuda itu memandang heran. "Paman? Ayah meninggal sejak aku masih kecil sekali, berusia tiga empat tahun. Ibu sudah meninggal lebih dulu ketika melahirkan aku dan sejak kecil aku sebatang kara."

Mei Li menekan perasaannya yang merasa kasihan sekali kepada pemuda sederhana itu. Ketua Beng-kauw itu memaksa diri berkata, "Ketika ayahmu muda, persis seperti engkau. Kami bersumpah mengangkat saudara, lalu kami saling berpisah dan tak pernah bertemu lagi karena ayahmu tidak setuju kalau aku menjadi ketua Beng-kauw. Jadi semenjak kecil engkau menjadi murid di Nam-kiang-pang? Dan engkau memusuhi Beng-kauw?"

"Pangcu…"

"Panggil aku paman agar arwah ayahmu tidak menjadi penasaran."

"Paman, terus terang semenjak kecil aku menjadi murid Nam-kiang-pang. Perkumpulan itu selalu membela kebenaran dan keadilan, bahkan aku ditunjuk oleh suhu untuk kelak menggantikan suhu. Akan tetapi kemudian muncul peristiwa yang membuat Nam-kiang-pang berhadapan sebagai musuh Beng-kauw. Banyak anggota kami terbunuh oleh Beng-kauw sehingga timbullah dendam sakit hati mendalam di Nam-kiang‑pang. Kemudian aku ditunjuk oleh suhu untuk memimpin para anggota agar memusuhi Beng-kauw. Apa yang dapat kulakukan dalam hal ini, paman? Aku sendiri, demi Tuhan, tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berdaya, tetapi karena akulah yang memimpin permusuhan itu, tentu saja aku yang dituding sebagai pembunuh nomor satu dari Beng-kauw."

"Bohong! Ayah, dia tentu bohong. Mana ada pencuri mengaku mencuri, atau pembunuh mengaku pembunuh? Tadi saja entah berapa banyak anggota kita yang sudah terbunuh olehnya. Itu mayat mereka masih berserakan!" kata Kwan Eng.

"Tidak, dia tidak berbohong!" tiba-tiba Mei Li berkata penuh keyakinan.

"Mei Li! Apa yang kau katakan ini? Baru saja engkau bertanding mati-matian melawan dia dan kini engkau malah membela dia? Apa artinya ini?"

"Artinya, Kwan Eng, bahwa aku bicara sejujurnya. Pada saat terjadi pertempuran tadi, aku cukup lama menjadi penonton. Kulihat dia ini bersama pemuda yang lain itu menyerang orang-orang Beng-kauw di depan goa. Yang menyebar maut adalah pemuda yang sudah melarikan diri itu, pemuda berpakaian sastrawan berwarna putih. Ada pun dia ini, biar pun merobohkan pula banyak lawan, tapi satu kali pun tidak melakukan pembunuhan. Bahkan ketika melawan aku tadi, dia lebih banyak melindungi diri saja."

"Aughhh…!"

"Ayah!" Kwan Lee dan Kwan Eng cepat menubruk ayahnya. Agaknya terlalu lama ketua Beng-kauw ini menahan diri dan kini dia sudah hampir tidak kuat bertahan lagi.

"Kwan Lee, Kwan Eng, penuhilah pesanku yang terakhir ini." Dia menuding ke arah Kang Hin dengan telunjuk gemetar. "aku pernah berhutang nyawa kepada ayahnya. Karena itu kalian harus... membebaskan dia…"

"Ayah!" Kwan Eng mulai menangis.

"Dan kau Dewi Pedang Terbang," dia mencoba tersenyum.

Mei Li berlutut mendekatinya. Hati gadis ini pun rasanya seperti ditusuk karena dia sudah merasa suka sekali kepada ketua Beng-kauw yang jujur dan bicara secara terbuka itu.

"Ya pangcu," katanya lirih.

Sie Wan Cu tertawa, "Heh-heh, aku... ahh… aku masih mau menikah denganmu... ha-ha-ha, tetapi sayang nyawaku hampir putus.... tetapi, Mei Li, maukah kau berjanji akan tetap bersahabat dengan Beng-kauw?"

Mei Li menundukkan kepalanya dan dua titik air jatuh dari matanya. Ia mengangguk. “Aku berjanji, pangcu."

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Ehh, Kwan Lee, kalau kelak engkau tidak dapat menikah dengan seorang seperti Mei Li ini, engkau adalah seorang pria yang bodoh sekali. Dan kau Kwan Eng, Kang Hin ini adalah seorang yang sungguh patut menjadi suamimu."

"Ayah!" Anak-anaknya cepat menubruk karena tiba-tiba saja ketua Beng-kauw itu terkulai dan ketika mereka memeriksa, ternyata dia sudah meninggal.

Kwan Eng menjerit-jerit menangis sehingga Mei Li terbawa keharuan dan menangis pula, lalu dia merangkul dan menghibur Kwan Eng.

Mei Li dan Kang Hin terpaksa ikut berkabung ke rumah ketua Beng-kauw. Dan malam itu terjadi peristiwa yang sungguh menusuk perasaan Mei Li.

Ketika keluarga sedang bersembahyang sambil menangis, tiba-tiba saja sepuluh orang wanita cantik yang menjadi isteri ketua Beng-kauw itu, mencabut pedang lalu menggorok leher sendiri di depan peti jenazah suami mereka! Mereka melakukan bunuh diri bersama, hal yang agaknya sudah mereka sepakati bersama. Mereka semua amat mencinta suami mereka dan agaknya tidak sanggup hidup lagi setelah ditinggal mati suami itu.

Sesudah pemakaman jenazah yang kini menjadi sebelas buah banyaknya itu selesai, Ciu Kang Hin lantas berpamit dan pergi meninggalkan tempat itu dengan hanya meninggalkan kata-kata kepada Kwan Lee dan Kwan Eng,

"Aku berjanji akan membantu kalian membikin terang urusan ini, dan akan membersihkan kembali nama Beng-kauw yang terkena fitnah." Dan dia memberi hormat pula kepada Mei Li, kemudian pergi dengan meninggalkan kesan mendalam di hati dua orang gadis tanpa diketahui orang lain.

Terutama sekali Kwan Eng. Tadinya dia memang sangat membenci Ciu Kang Hin. Akan tetapi setelah bertemu orangnya dan mendengar pesan ayahnya, rasa benci itu hilang dan sebagai gantinya, kata-kata ayahnya selalu terngiang di hatinya. Ayahnya menghendaki dia menjadi jodoh Ciu Kang Hin! Tentu saja hal itu tidak mungkin terjadi, berulang kali dia membantah suara hati sendiri.

Ada pun Mei Li diam-diam juga merasa kagum dan suka sekali kepada pemuda pendiam itu. Bagaimana mungkin pemuda itu menjadi suheng dari Seng Gun yang demikian keras hati dan kejam? Akan tetapi karena Kang Hin seorang pendiam dan agak murung, dia pun tidak sempat bercakap-cakap ketika selama beberapa hari mereka berdua menjadi tamu di Beng-kauw.

Tidak lama setelah Kang Hin pergi, Mei Li juga berpamit kepada kedua kakak beradik itu. Mereka mencoba untuk menahannya, akan tetapi Mei Li berkeras mengatakan bahwa dia harus melanjutkan perjalanannya. Akhirnya mereka melepas gadis itu pergi dan sekali ini Kwa Lee yang merasa semangatnya terbawa pergi…..

********************

Mereka berempat berlari sampai cukup jauh dari puncak Tanduk Rusa di mana orang-orang Beng-kauw berkumpul. Seng Gun memimpin di depan dan sesudah yakin tidak ada yang mengejarnya, barulah ia berhenti. Kawan-kawannya juga ikut berhenti dan sekarang mereka duduk di bawah pohon sambil memandang ke kiri dari arah mana mereka datang.

Sejenak keempatnya berdiam diri hingga akhirnya Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai membuka mulut. Agaknya kakek pendek ini yang paling payah saat melarikan diri. Perut gendutnya memaksa larinya membutuhkan banyak tenaga sehingga sekarang napasnya agak memburu.

“Kita menanti Ciu-taihiap di sini?”

Seng Gun mengangguk. “Benar, totiang. Mudah-mudahan suheng dapat meloloskan diri dan cepat menyusul kita.”

Pek Kong Sengjin menyusut keringatnya. “Wah, berbahaya sekali! Pemuda dan gadis itu sudah memiliki ilmu yang amat mengerikan. Apakah ilmu itu yang disebut Matahari Merah dan Salj Putih?”

“Kiraku demikian, totiang. Dan agaknya puteri dan putera Sie-pangcu itu bahkan lebih lihai dari pada ayah mereka. Yang menyebalkan adalah Si Pedang Terbang itu. Mengapa dia bisa muncul dan secara tak terduga dia membantu orang-orang Beng-kauw?”

“Pedang Terbang?” tanya Ang-sin-liong Yu Kiat.

“Dia Hui-kiam Sian-li, namanya Mei Li. Ilmu pedang terbangnya amat mengerikan, sampai aku bersama suheng yang mengeroyoknya tak mampu mengalahkannya. Akan tetapi kita sudah boleh puas karena telah berhasil menewaskan Se Wan Cu!”

“Ya, untung sekali, biar pun untuk itu kita harus mengorbankan Ho Jin Hwesio dan Kiang Cu Tojin,” kata pula Pek Kong Sengjin.

“Siauw-lim-pai dan Butong-pai tentu akan marah sekali. Biarkan mereka yang membuat perhitungan dengan Beng-kauw kelak,” kata Seng Gun. “Akan tetapi aku juga heran sekali melihat sikap suheng. Dia seperti tidak bersungguh-sungguh dalam pertempuran tadi…”

“Ahh, jangan kau berkata demikian, Tong-taihiap. Tidak perlu mencurigai suheng sendiri karena menurut pinto, Ciu-taihiap sudah berjasa sekali. Kalau tidak ada dia yang membela kita, membiarkan kita melarikan diri, kukira belum tentu kita bisa lolos begini mudah!” kata Pek Kong Sengjin tak senang. “Ciu-taihiap memang pendekar tulen, tidak mau sembarang membunuh kalau tidak ada bukti bahwa lawan itu seorang jahat yang sudah selayaknya dibasmi.”

Seng Gun mengerutkan alisnya dan bertukar pandang dengan kedua rekannya dari Hoat-kauw. Kemudian dia menghampiri tepi jurang yang amat curam, agaknya dia termenung. Tiba-tiba dia berkata kaget,

“Heiii, bukankah itu seorang berpakaian pendeta yang sedang naik ke sini?” Dia menuding ke bawah.

Mendengar ada pendeta naik, tentu saja yang paling ingin tahu adalah Pek Kong Sengjin. Dia segera mendekati Seng Gun di pinggir jurang sambil bertanya, “Mana dia?”

“Itu, totiang, yang berpakaian kuning di sana!” Seng Gun mendekati sambil menudingkan telunjuknya.

Dengan seksama tosu itu memandang ke arah yang ditunjuk oleh Seng Gun. Tetapi pada saat itu pula, tanpa disangka-sangka dan datangnya dari belakang secara tidak terduga sama sekali, Seng Gun telah menggerakkan tangannya memukul dengan sekuat tenaga. Tentu saja pendeta gendut itu tidak sempat mengelak lagi.

"Dukkk!" dan dia hanya mampu melengking panjang ketika tubuhnya melayang ke bawah.

Seng Gun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha-ha, mampus kau, pendeta tolol!"

Ang-sin-liong Yu Kiat menghampiri rekannya itu. "Aku tidak melihat perlu dan untungnya kau melakukan hal itu, Tong-taihiap."

"Ha-ha-ha, engkau tidak melihatnya, paman? Aneh sekali, padahal alasannya demikian jelas. Kau lihat tadi dia membela suheng? Dia memuji-muji suheng, dan hal itu amat tidak menguntungkan kita! Lagi pula dua yang lain telah tewas, tinggal dia. Jika dibiarkan hidup, bagaimana kita dapat melempar fitnah terhadap suheng? Tentu dia akan membela nama baik suheng mati-matian. Akan tetapi sekarang, kalau kita katakan bahwa kematian orang Siauw-lim pai, Butong-pai dan Kong-thong-pai ini adalah karena perbuatan suheng yang tidak bersungguh-sungguh melawan Beng-kauw, tentu tidak akan ada yang menyangkal."

"Akan tetapi bagaimana kalau dia tidak mati?" bantah Tiat-sin-liong Lai Cin.

"Tidak mati? Siapa yang mampu bertahan hidup kalau terjungkal di jurang ini? Ha-ha-ha! Jangan takut, paman Lai Cin. Apa lagi, andai kata dia tidak mati, aku dapat mengatakan bahwa aku tidak sengaja mendorong dia ke dalam jurang. Kalian berdua dapat menjadi saksinya, bukan? Apa artinya keterangan dia melawan keterangan kalian berdua?"

Demikianlah, dengan hati gembira mereka bertiga lantas meninggalkan tempat itu setelah Seng Gun berkata, "Kalau suheng mampus, itu baik sekali. Andai kata dia berhasil lolos, lebih baik lagi. Kita dapat menyebar fitnah bahwa dia memang tidak bersungguh-sungguh memusuhi Beng-kauw, buktinya dia dapat meloloskan diri, berarti orang-orang Beng-kauw sengaja melepaskannya!”

Mereka kemudian pergi dengan hati gembira, tidak tahu bahwa ada yang mendengarkan percakapan mereka itu…..!

********************

Pada saat tubuh Pek Kong Sengjin melayang jatuh ke dalam jurang dan nyaris menimpa batu-batu di dasar jurang, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat lantas dua buah lengan menyambar tubuh itu sehingga tak sampai terbanting. Pek Kong Sengjin terbelalak ketika melihat tubuhnya selamat dalam pondongan seorang pemuda. Pemuda Itu lalu tersenyum kepadanya dan berbisik.

"Harap totiang tunggu sebentar, ingin aku melihat apa yang terjadi di sana!"

Bagaikan seekor kera saja pemuda itu lalu memanjat tebing jurang. Tidak lama kemudian dari baiik sebuah batu dia sudah mengintai di tepi jurang sehingga dia dapat mendengar percakapan yang terjadi antara Seng Gun, Yu Kiat dan Lai Cin. Sesudah ketiga orang itu pergi barulah dia merayap turun kembali dengan cepat sekali.

Ketika tiba di bawah ia melihat Pek Kong Sengjin telah duduk bersila dan mengumpulkan tenaga sakti untuk mengobati lukanya. Tanpa diminta pemuda itu segera duduk bersila di belakangnya lalu menempelkan tangan kanannya di punggung Pek Kong Sengjin. Hawa hangat mengalir dari telapak tangan itu, dan sebentar saja kesehatan pendeta itu sudah pulih kembali.

Pek Kong Sengjin lalu bangkit berdiri dan memberi hormat. "Engkau telah menyelamatkan aku untuk kedua kalinya dalam waktu singkat, sobat muda. Entah bagaimana aku harus berterima kasih kepadamu."

Pemuda itu tersenyum dan Pek Kong Sengjin merasa kagum. Pemuda itu masih muda, paling banyak berusia dua puluh satu tahun. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan dan jantan, dengan rahang dan dagu yang membayangkan kekerasan hati. Rambutnya hitam lebat, matanya tajam seperti mata naga dan mulut itu selalu tersenyum. Pakaiannya amat sederhana.

"Totiang, mengapa harus berterima kasih? Kita sama-sama saling memberi bantuan. Aku membantumu mencegah engkau terbanting, dan engkau membantu memberi kesempatan kepadaku untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Nah, kita sudah sama-sama memberikan sesuatu, bukan?"

'Siancai..., engkau pemuda aneh. Bolehkah aku mengetahui namamu, taihiap (pendekar besar)?"

"Aduh, harap jangan menyebut taihiap kepadaku, totiang. Cukup kalau totiang memanggil namaku, yaitu Han Lin." Pemuda itu memang Han Lin dan kini dia sudah tidak ragu lagi menggunakan nama keluarga aslinya, yaitu Sia. "Dan paman tentulah Pek Kong Sengjin. Aku telah mendengar dari percakapan mereka di atas sana."

"Benar, Han Lin," kata pendeta itu dan dia pun kini menyebut nama pemuda itu dengan akrab sekali. "Pinto sendiri tidak menyangka bahwa pemuda itu akan berbuat seaneh dan sejahat itu." Dia lalu menceritakan tentang semua yang terjadi. Sejak penyerbuan mereka terhadap Beng-kauw dan sampai mereka terpaksa melarikan diri dari sana. Hati Han Lin tertarik sekali.

"Sudah banyak aku mendengar betapa Beng-kauw dimusuhi orang, totiang. Sebaiknya sekarang totiang segera pulang, aku ingin melihat bagaimana nasib pemuda bernama Ciu Kang Hin yang tertinggal seorang diri menghadapi orang-orang Beng-kauw yang lihai itu." Setelah berkata demikian, pemuda itu lalu berkelebat kemudian lenyap.

"Heii, nanti dulu! Siapa gurumu, Han Lin?"

Dari atas terdengar suara yang jelas. "Guruku langit dan bumi!"

Ini adalah kata-kata pesanan Lojin kepadanya. Dulu Lojin berpesan bahwa kalau ada yang menanyakan siapa gurunya, agar dijawab bahwa gurunya adalah langit dan bumi.

"Jawaban ini bukan ngawur," demikian gurunya berkata. "Segala macam ilmu kepandaian didapat dari anugerah Tuhan melalui pengalaman, dan pengalaman manusia baru terjadi setelah manusia berada di antara Langit dan Bumi. Jadi guru kita adalah Langit dan Bumi, yang memberi kita.segala macam pengalaman hidup."

Pek Kong Sengjin tertegun dan akhirnya dia pun menarik napas panjang, mengukir nama Sia Han Lin di dalam lubuk hatinya. Dia dapat menduga bahwa dia telah bertemu dengan seorang pemuda murid orang sakti dan mengharapkan dapat bertemu kembali.

Juga dia harus berhati-hati karena sikap Tong Seng Gun amat mencurigakan. Dia belum dapat menduga apa yang menyebabkan pemuda itu berbuat seperti itu kepadanya. Dan dia harus segera melapor kepada para pimpinan Kong-thong-pai tentang pengalamannya itu. Dengan hati-hati dia lalu mencari jalan keluar dari dasar jurang itu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner