MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-16


"Nona, serahkan pedang dan buntalanmu kepada kami, dan mari membonceng di kudaku bersamaku," kata yang tinggi kurus.

"Membonceng saja di kudaku, nona, kudaku lebih kuat," kata yang pendek gemuk.

Kui Lan mengerutkan alis, akan tetapi sebelum dia menjawab, terdengar suara tawa dan muncullah seorang pemuda yang pakaiannya kedodoran, kepalanya tertutup caping lebar. Pemuda itu pakaiannya sederhana, bahkan nyentrik dengan lengan baju digulung sampai ke siku. Wajahnya yang bulat dan nampak periang itu dilindungi caping, mulutnya selalu tersenyum dan matanya bersinar-sinar.

"Ha-ha-ha-ha, harap engkau jangan berat sebelah dan tidak adil, ciangkun!" kata pemuda yang bukan lain adalah Souw Hui San itu.

Melihat kemunculan pemuda ini secara tiba-tiba dari balik sebatang pohon besar, semua orang memandang dan Bouw Ki menjadi semakin curiga, bahkan Kim Hong juga merasa curiga sekali.

"Orang gila, jangan bicara sembarangan!" Bouw Ki membentak. "Siapa engkau dan apa pula keperluanmu di sini?"

Pemuda itu memandang ke kanan kiri, ke arah pohon-pohon besar dan sambil tersenyum lebar dia berkata, seperti kepada batang-batang pohon itu,

"Ha-ha-ha, kalian dengar? Dia bertanya apa keperluanku di sini? Heii, kakek-kakek pohon, apa pula keperluan kalian berada di sini sampai ratusan tahun? Ciangkun, aku bernama Souw Hui San dan aku adalah seorang perantau, menjelajah ke mana saja tanpa tujuan. Kebetulan saja aku berada di sini dan engkau tidak adil kalau mengundang nona itu untuk diajak makan sedangkan aku tidak diundang!"

Dia menghampiri Bouw Ki sambil tersenyum.

"Berilah aku seekor kuda, boncengan juga boleh dan aku akan mengikut kalian, ikut pula makan minum gratis, heh-heh-heh!"

"Hemm, orang sinting!" bentak Bouw Ki, akan tetapi karena dia merasa curiga, tangannya menyambar dan tangan itu sudah mencengkeram pundak Hui San. Pemuda itu berteriak kesakitan dan pedang serta buntalannya telah dirampas oleh Bouw Ki.

"Sumoi, periksa ini buntalannya!" kata Bouw Ki sambil melemparkan buntalan itu kepada Kim Hong. Gadis itu menerima buntalan dan melompat turun dari atas kudanya.

Hui San yang pundaknya telah dilepas hanya menyeringai dan mengaduh-aduh kesakitan sambil memandang kepada Kim Hong yang melepaskan ikatan buntalan pakaiannya.

"Aih, nona, awas jangan sampai jari-jari tanganmu terbakar!" teriaknya dan teriakannya itu demikan bersungguh-sungguh sehingga mengejutkan banyak orang yang mengira bahwa di dalam buntalan itu ada rahasia atau racunnya.

Akan tetapi Kim Hong adalah seorang yang waspada. Ia hanya tersenyum mengejek dan tetap membuka buntalan itu. Tidak terjadi kebakaran atau bahaya apa pun yang menimpa tangan gadis itu. Isinya hanya pakaian, tempat makanan dan minuman, tidak ada apa pun yang aneh.

"Hemm, mengapa kau tadi mengatakan jari-jari sumoi-ku dapat terbakar?!" bentak Bouw Ki marah.

"Heh-heh, di sana ada pakaianku, celana dan baju yang belum kucuci, bekas kupakai..., maka aku katakan agar jangan sampai tangan nona itu terbakar... ehh, maksudku kotor."

Beberapa orang prajurit tertawa mendengar ini dan wajah Kim Hong berubah merah sekali mendengar bahwa baru saja dia memegang celana yang bekas dipakai dan belum dicuci, bisa dikatakan masih ‘hangat’ maka pemuda itu tadi memperingatkan agar jangan sampai tangannya terbakar. Kim Hong membuang buntalan itu ke arah pemiliknya.

"Ihh, jorok!" katanya.

Akan tetapi kemarahannya lenyap ketika dia memandang wajah pemuda itu, bahkan dia menahan perasaan geli hatinya. Pemuda itu sama sekali tidak mempunyai tampang orang jahat, juga sinar matanya tidak menunjukkan bahwa dia sinting atau setengah gila, malah kelihatan cerdik sekali.

Hal ini menimbulkan kecurigaannya. Dia cepat mengambil pedang pemuda itu dari tangan suheng-nya lantas mencabutnya. Ketika pedang itu tercabut dari sarungnya yang nampak butut, semua orang segera berseru kagum melihat sinar terang menyilaukan mata.

"Hemm, pedang bagus!" kata Bouw Ki. "Bagaimana pedang yang sebaik ini dapat berada di tangan orang tak berguna ini?"

Kim Hong merasa curiga dan mengelebatkan pedangnya. Gerakannya cepat bukan main sehingga nampak sinar menyambar.

Kui Lan terkejut sekali sehingga hampir saja ia menggerakkan tongkat di tangannya untuk melindungi pemuda itu, akan tetapi dia menahan diri. Nampak olehnya betapa pemuda itu berteriak ketakutan sambil melindungi kepala dengan kedua tangannya. Sinar pedang itu membabat ujung bajunya sehingga terputus.

"Aduhhhh... celaka aduh, buntung...!" teriak Hui San yang berjingkrak seperti orang yang kesakitan.

Gayanya demikian meyakinkan sehingga Kim Hong sendiri merasa terkejut, menyangka bahwa sabetan pedangnya yang dilakukan untuk menguji kepandaian pemuda itu benar-benar telah melukainya.

"Apanya yang buntung?!" bentak Bouw Ki.

"Ini... bajuku...," kata Hui San dan kembali para prajurit tertawa. Beberapa orang di antara mereka mengatakan bahwa pemuda itu tentu miring otaknya.

"Siapa bilang otakku miring?" Hui San yang mendengar ucapan itu menoleh dengan sikap marah. "Jangan sembarangan bicara, ya? Pedangku ini adalah pemberian kakekku, dan para pendekar besar di dunia ini adalah sahabat baiknya! Apa kalian tidak tahu siapa itu Pangeran Li Si Bin yang sakti?"

Sikap Hui San demikian congkak, seakan-akan pangeran yang kemudian menjadi Kaisar Tang, yaitu Kaisar Tang Thai Cung pendiri Kerajaan Tang itu adalah kakeknya!

"Dan apa kalian tidak tahu siapa itu guru besar Tat Mo Couwsu?"

Semua orang terkejut mendengar pemuda itu menyebut-nyebut nama pangeran sakti itu dan pendeta Siauw-lim-pai yang juga amat terkenal sebagai pendiri pertama dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang amat terkenal, seolah pangeran sakti itu adalah kakaknya sedangkan pendeta sakti itu merupakan gurunya saja.

Kim Hong juga terkejut. Apakah pemuda ini masih mempunyai darah bangsawan dari para kaisar Tang keturunan marga Li? Dan apakah pemuda ini seorang tokoh Siauw-lim-pai yang begitu berani menyebut-nyebut nama Tat Mo Couwsu?

"Hemm, memangnya siapa itu Pangeran Li Si Bin dan pendeta Tat Mo Couwsu? Apamu mereka itu?" Tanya Kim Hong ingin tahu sekali.

"Aihhh, nona! Engkau tidak tahu? Pangeran Li Si Bin adalah pendiri Kerajaan Tang yang kemudian menjadi kaisar ke dua berjuluk Tang Thai Sung, ada pun Tat Mo Couwsu adalah pendiri aliran Siauw-lim-pai! Tentu saja mereka bukan apa-apaku, aku tadi hanya bertanya siapa mereka!"

Semua prajurit tertawa. Lagak pemuda itu demikian congkak, tapi ucapannya seperti yang sungguh-sungguh ternyata hanya berkelakar saja.

"Sinting!" Bouw Ki memaki. "Tangkap dia!"

"Suheng, untuk apa kita menawan orang sinting ini? Menjadi beban saja bahkan dia akan selalu menimbulkan keributan di jalan. Biarkan dia pergi," kata Kim Hong.

Bouw Ki membenarkan pendapat sumoi-nya. Memang orang sinting ini tidak ada gunanya ditahan, tidak seperti nona cantik itu. "Nah, pergilah!" bentaknya.

Hui San memandang kepada pedang di tangan Kim Hong.

"Apakah nona hendak merampas pedang pemberian kakekku? Aku akan mengabarkan di seluruh penjuru dunia kangouw bahwa ada seorang nona muda yang cantik jelita, yang ada lesung pipit di pipi kirinya, dengan semena-mena telah merampas pedang pemberian dari kakekku, pedang keluarga yang turun temurun. Seorang nona yang cantik jelita dan gagah perkasa ternyata telah bertindak curang, tidak sesuai dengan watak para pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan, pembela kebenaran dan keadilan."

"Nih pedangmu! Siapa sih yang ingin merampok pedangmu? Sungguh menyebalkan!" kata Kim Hong dan dia melemparkan pedang yang sudah berada dalam sarungnya itu kepada pemiliknya.

"Tokk!"

Karena pemuda itu tak mampu mengelak atau pun menyambut pedangnya, maka gagang pedang itu menimpa dahinya sehingga mengeluarkan bunyi dan pada dahi yang terketuk gagang pedang itu tiba-tiba saja muncul sebutir telur ayam! Kembali para prajurit tertawa dan dengan bersungut-sungut Hui San meninggalkan tempat itu, membawa buntalan dan pedangnya.

"Pendekar sinting!" Para prajurit berteriak mengejek.

Hui San berhenti melangkah, memutar tubuh lantas mengamangkan tinju ke arah mereka.

"Huh, orang gila itu tidak perlu dilayani!" kata Bouw Ki.

"Lucuti nona itu, cepat!"

Dua orang prajurit yang tadi pekerjaannya melucuti Kui Lan tertunda akibat munculnya Hui San, kini melanjutkan lagak mereka lagi.

"Berikan buntalanmu, nona!"

"Kesinikan pedangmu itu, nona!"

Mereka berdua menjulurkan tangan hendak merampas buntalan dan pedang.

"Pergilah!" bentak Kui Lan dan sekali tongkatnya bergerak, entah bagaimana kedua orang prajurit itu sudah terlempar jauh ke belakang dan jatuh berdebuk dengan keras, membuat mereka meringis kesakitan karena pinggul mereka menimpa tanah dengan kuatnya.

Tentu saja semua orang terkejut. Para prajurit itu merupakan prajurit pilihan, dan rata-rata memiliki ilmu silat yang cukup tangguh. Bagaimana mungkin hanya sekali menggerakkan ranting di tangannya saja, gadis itu dapat membuat dua orang prajurit itu terlempar begitu saja?

Melihat betapa gadis cantik itu ternyata sangat lihai, maka kecurigaan Bouw Ki semakin meningkat. Kalau gadis ini seorang yang lihai, jelas dia ada hubungannya dengan pusaka kerajaan itu, pikirnya.

"Kepung dan tangkap gadis mata-mata ini!" bentaknya sambil mencabut pedangnya. Para prajurit bergerak dan mengepung.

"Sungguh tidak tahu malu, begini banyaknya laki-laki hendak mengeroyok seorang gadis!" terdengar bentakan nyaring, kemudian muncul seorang pemuda yang berpakaian seperti pengemis dan memegang sebatang tongkat butut.

Melihat pemuda yang wajahnya tampan, sikapnya gagah dan kedua matanya mencorong ini, Kim Hong dapat menduga bahwa pemuda jembel yang pakaiannya tambal-tambalan ini pun seorang yang mencurigakan. Tidak seperti pemuda sinting tadi, agaknya pemuda jembel ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang yang memiliki ilmu kepandaian yang tak boleh dipandang ringan, seperti gadis cantik itu. Dan dia pun menduga bahwa kemunculan pemuda ini tentu ada hubungannya dengan perebutan Mestika Burung Hong Kemala, maka sekali melompat dia sudah berada di depan pemuda itu.

Tentu saja Kui Lan mengenal suara kakaknya. Ketika dia menoleh, dia segera mengenali kakaknya walau pun kakaknya mengenakan pakaian tambal-tambalan. Dia menjadi girang bukan kepalang, akan tetapi dia bersikap pura-pura tidak mengenalnya sebab dia maklum bahwa mereka harus merahasiakan keadaan keluarga mereka.

Bouw Ki menerjang maju dengan pedangnya dan dia pun terkejut bukan main pada waktu pedangnya beradu dengan tongkat yang digerakkan gadis itu. Terasa olehnya seperti ada getaran yang aneh dan amat kuat hingga membuat telapak tangannya seperti lumpuh dan hampir saja pedangnya terlepas. Cepat dia menarik pedangnya lalu meloncat ke belakang dan membiarkan anak buahnya mengeroyok.

Dara itu segera memainkan ranting kayunya secara dahsyat, dan itulah Hong-in Sin-pang yang disertai ginkang hasil gemblengan dari Pek-lian Nikouw yang membuat tubuh gadis itu seperti seekor burung walet beterbangan dengan amat gesitnya.

Sementara itu, ketika Yang Cin Han dihadang oleh gadis cantik itu, dia menyangka bahwa gadis itu hanya gadis biasa saja. Maka, ketika gadis itu menerjang maju, Cin Han sudah menggerakkan tongkat bututnya untuk menotok dan membuat gadis itu tidak berdaya.

Tadinya Cin Han hanya ingin membayangi rombongan itu dan membiarkan mereka dapat menemukan Mestika Burung Hong Kemala, kemudian barulah dia akan mencoba untuk merampasnya. Akan tetapi melihat betapa rombongan itu bertemu dengan seorang gadis yang ternyata adalah adiknya, yaitu Yang Kui Lan, tentu saja dia tidak dapat membiarkan adiknya diganggu mereka.

Dia sudah mendengar dari Ji-wangwe bahwa Bouw-ciangkun dikawal oleh seorang gadis yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Tentu gadis yang menghadangnya itu yang dimaksudkan, akan tetapi dalam hatinya Cin Han tidak yakin bahwa gadis yang cantik itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Karena itu dia menggerakkan tongkatnya sekedar untuk menotok gadis itu tanpa menyakitinya agar gadis itu menjadi lumpuh dan menghentikan perlawanannya.

"Wuuutttt…! Plak-plak-plak...!"

Cin Han terkejut sekali. Bukan saja gadis itu mampu menghindarkan diri dari totokannya, bahkan tiga kali berturut-turut dia harus memutar tongkat untuk menangkis ketika dengan gerakan yang sangat aneh gadis itu menyerang dengan tamparan bertubi-tubi dan setiap tamparan membawa angin pukulan yang amat dahsyat!

Tentu saja sekarang Cin Han tidak berani memandang ringan. Dia lalu memutar tongkat bututnya dan memainkan Tai-hong-pang. Kini berbalik Kim Hong yang terkejut bukan main karena tongkat butut itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, seperti naga bermain di angkasa mengeluarkan angin badai yang amat dahsyat!

Kim Hong menjadi kagum bukan main. Tak pernah disangkanya akan berhadapan dengan seorang lawan setangguh itu. Juga diakuinya bahwa melihat sepak terjang gadis cantik itu, ternyata gadis itu pun lihai sekali.

Suheng-nya sama sekali bukan tandingan si gadis cantik, bahkan biar pun dikeroyok oleh demikian banyaknya lawan, gadis itu masih mampu membela diri dengan baik, walau pun tentu saja dia terkurung rapat. Dia sendiri harus mampu menandingi pemuda berpakaian pengemis itu kalau tidak ingin pihak rombongan suheng-nya kalah.

"Singgg...!"

Nampak dua gulungan sinar berkelebat ketika dia mencabut sepasang senjatanya, yaitu sepasang pedang kecil bertali. Itulah Hui-siang-kiam (Sepasang pedang terbang) yang dia mainkan dengan hati-hati untuk dapat mengimbangi permainan tongkat yang sangat aneh dari lawannya.

Cin Han terkejut dan merasa kagum sekali. Sepasang pedang kecil itu seperti hidup saja, menyambar-nyambar dahsyat laksana dua ekor burung rajawali sedang beterbangan dan terus menyerangnya. Hanya dengan memutar tongkatnya seperti kitiran barulah dia dapat melindungi dirinya. Kiranya benar apa yang dia dengar dari Ji-wangwe. Gadis itu memang lihai bukan main!

Akan tetapi sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, Cin Han segera mendapat kenyataan bahwa seperti juga dia sendiri, lawannya itu tidak memiliki niat untuk membunuhnya. Biar pun sepasang pedang pendek itu menyambar-nyambar dahsyat, akan tetapi yang menjadi sasaran utama adalah lengan tangannya yang memegang tongkat sehingga agaknya dara itu hanya ingin memaksa dia supaya melepaskan tongkatnya, seperti juga dia yang hanya berusaha untuk menotok gadis itu, bukan untuk melukainya apa lagi membunuhnya. Dan entah mengapa, mendapatkan kenyataan ini, hatinya merasa girang bukan main.

Dugaan Cin Han memang benar. Kim Hong sama sekali tidak bermaksud membunuhnya, apa lagi gadis yang sangat lihai ini pun dapat mengetahui bahwa pemuda bertongkat itu tak berniat untuk melukainya, hanya ingin membuat dia tak berdaya dengan totokan. Kim Hong tidak percaya bahwa pemuda tampan gagah ini seorang tokoh kangouw yang ingin memperebutkan Mestika Burung Hong Kemala demi keuntungan dan kepentingan pribadi.

Melihat pakaiannya tentu dia seorang tokoh kaipang (perkumpulan pengemis), dan sangat boleh jadi pemuda ini adalah orang yang setia kepada Kerajaan Tang dan ingin merampas pusaka untuk dikembalikan kepada Kerajaan Tang. Kalau demikian halnya, maka pemuda ini merupakan orang yang segolongan dengannya, karena dia pun sudah menerima tugas dari suhu-nya untuk membantu Kerajaan Tang.

Cin Han maklum bahwa dia hanya dapat mengimbangi lawannya saja, sedangkan adiknya yang dikeroyok banyak orang itu nampak kewalahan juga dan dia tidak dapat membantu adiknya. Maka, tiba-tiba dia meloncat jauh meninggalkan lawannya lantas terjun ke dalam kepungan para pengeroyok. Kepungan itu langsung membuyar, sedangkan Bouw Ki yang menyambut pemuda pengemis itu terhuyung ketika ujung tongkat menotok pahanya.

"Lan-moi, mari kita pergi!" kata Cin Han.

Kui Lan maklum bahwa tak ada gunanya untuk melawan terus. Dia pun sudah ingin sekali bertemu dan bercakap-cakap dengan kakaknya, maka dia pun segera memutar ranting di tangannya sedemikian rupa sehingga empat orang pengeroyok terpaksa mundur. Di lain saat, kakak beradik itu sudah berlompatan jauh dan melarikan diri.

"Kejar mereka!" bentak Bouw Ki.

"Tahan!" seru Kim Hong, membuat para prajurit yang memang sudah gentar menghadapi dua orang yang lihai tadi, menjadi ragu.

”Suheng, buat apa mengejar mereka? Kita datang ke sini bukan untuk menangkap orang. Lagi pula mereka itu lihai sekali. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan."

Bouw Ki menyadari kebenaran kata-kata sumoi-nya. Kalau tadi tidak ada sumoi-nya yang menahan pemuda berpakaian pengemis, agaknya dia dan anak buahnya akan menderita rugi besar. Tugas yang paling penting adalah mengambil benda pusaka itu. Maka dia pun memberi aba-aba kepada pasukannya kemudian mereka melanjutkan pendakian.

Setelah mereka tiba di depan tebing yang terdapat banyak goanya, Bouw Ki lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk membentuk penjagaan rapat di depan goa ke tujuh. Setelah melihat tidak ada tanda-tanda adanya orang lain di sekitar tempat itu, dia dan Kim Hong lalu memasuki goa.

Bouw Ki yang tergesa-gesa dan ingin sekali menemukan benda pusaka itu, langsung saja masuk ke dalam goa. Akan tetapi Kim Hong lebih waspada, maka dia meneliti tempat itu lebih dulu. Karena itu dia dapat melihat adanya beberapa buah bekas tapak kaki di lantai goa! Tapak kaki itu masih baru, maka dia pun tahu bahwa baru saja, paling lama kemarin atau kemarin dulu, ada orang lain memasuki goa ini!

"Ini dia!" terdengar suheng-nya berseru gembira. Bouw Ki mengambil sebuah kotak hitam dari balik tumpukan batu-batu di sudut goa lantas membawanya ke dekat sumoi-nya yang masih berada di mulut goa.

"Hati-hatilah, suheng. Periksa dahulu kalau-kalau benda itu mengandung alat rahasia atau racun!" Kim Hong mengingatkan.

Mendengar ini Bouw Ki terkejut dan segera meletakkan peti hitam itu ke atas lantai. Kim Hong cepat mendekatinya kemudian memeriksa. Tidak salah lagi tanda tapak kaki yang dilihatnya tadi. Ada orang yang mendahului mereka memasuki goa ini!

Ketika dia memeriksa peti atau kotak hitam itu, dia menemukan bukti lain. Kalau kotak itu sudah lama disembunyikan orang di dalam goa itu, tentu kotak itu menjadi basah karena kelembaban goa, dan tentu ada kotoran debu. Akan tetapi kotak itu masih bersih sekali, dan ini pun merupakan tanda bahwa kotak itu belum lama diletakkan orang di tempat itu.

Akan tetapi penemuannya ini tidak dia beri tahukan kepada suheng-nya. Dia juga memiliki kepentingan dalam urusan ini. Dia harus dapat menemukan benda pusaka itu supaya bisa dikembalikan kepada Kerajaan Tang.

Dan melihat kenyataan betapa kotak ini baru saja diletakkan orang di tempat itu, padahal menurut suheng-nya, peta itu sudah dibuat lama sebelum Menteri Yang Kok Tiong tewas, maka dia merasa hampir yakin bahwa semua ini merupakan tipuan belaka! Benda pusaka itu disangsikan keasliannya.

Mungkin yang asli tadinya berada di situ. Namun jelas bahwa sebelum peta itu terjatuh ke tangan Bouw Koksu, telah ada orang lain yang mengetahui tempat persembunyian benda itu dan mendahuluinya. Dia bahkan meragukan apakah kotak hitam itu ada isinya!

Dengan hati-hati, menggunakan ujung pedangnya, Kim Hong mencongkel kotak itu hingga terbuka dan ternyata di dalamnya memang terdapat sebuah benda mengkilat.

"Mestika Burung Hong Kemala...!" kata Bouw Ki girang dan dia pun mengeluarkan benda itu dari dalam kotak lalu menelitinya. Sebuah benda yang sangat indah, terbuat dari batu kemala dan diukir seperti seekor burung Hong.

"Suheng, kita telah berhasil," katanya hambar.

Agaknya tidak mungkin kalau benda ini asli, pikirnya. Ia pun mencurigai gadis cantik dan pemuda tampan seperti pengemis yang sangat lihai tadi, bahkan terbayang pula pemuda sinting dengan sikapnya yang aneh. Mengaku keturunan pendekar dan membawa pedang yang baik, akan tetapi sama sekali tidak menguasailmu silat. Agaknya tidak mungkin!

Siapakah di antara mereka yang telah mendahului suheng-nya masuk ke dalam goa ini? Hanya dia yang sudah mendahului mereka itu saja yang akan dapat menceritakan apakah benda pusaka itu benar palsu, dan di mana adanya mestika yang aslinya.

"Sumoi, kita harus segera membawa pusaka ini kepada ayah. Kita harus waspada, siapa tahu akan ada yang mengganggu kita," kata Bouw Ki dan dia pun membawa kotak hitam itu yang dia sembunyikan di balik jubahnya.

"Mari, suheng. Jangan khawatir, kukira tak ada orang yang akan mengganggu kita dalam perjalanan purang."

Rombongan itu segera meninggalkan pegunungan dan dengan hati gembira sekali Bouw Ki membawa benda pusaka itu dengan hati-hati. Dan memang benar dugaan Kim Hong. Tidak ada yang mengganggu mereka dalam perjalanan pulang itu.

Rombongan itu sama sekali tidak tahu bahwa ada seseorang yang berdiri di puncak dan menertawakan mereka yang tergesa-gesa menuruni perbukitan. Orang itu adalah Souw Hui San. Pamannya memang seorang yang cerdik luar bisa, juga lucu. Mau rasanya dia tertawa terpingkal-pingkal membayangkan betapa Bouw Koksu tertipu, bersenang-senang dengan mestika yang palsu!

Dia memanjat pohon terbesar dari mana tadi dia meneliti sekeliling, kemudian mengambil kembali buntalan kuning berisikan Mestika Burung Hong Kemala yang asli, yang tadi dia simpan di pucuk pohon besar itu sebelum dia sengaja mengacaukan rombongan prajurit ketika mereka hendak menangkap Kui Lan.

Setelah menyimpan benda pusaka itu dalam buntalan pakaiannya, Hui San lalu menuruni bukit dan kembali ke Tiang-an. Sekali ini dia tidak tergesa-gesa, karena tak perlu lagi dia membayangi rombongan Bouw-ciangkun. Dia naik perahu dan perlahan-lahan membiarkan perahunya hanyut di Yang-ce-kiang…..

********************

"Han-ko...!" Kui Lan memegang kedua tangan kakaknya dengan wajah gembra sekali.

"Lan-moi," Cin Han merangkul adiknya, hatinya amat bangga.

"Aku telah bertemu Kui Bi di Tiang-an dan dia sudah menceritakan mengenai pengalaman kalian. Sungguh aku ikut merasa gembira dan bangga bahwa kalian sudah menjadi murid pendeta sakti Kong Hwi Hosiang, dan tadi aku telah melihat kelihaianmu ketika dikeroyok banyak prajurit, Lan-moi."

"Selama ini engkau sendiri ke mana saja, Han-ko?" Kui Lan bertanya sambil memandang pakaian kakaknya dengan hati terharu. Kakaknya, yang dulu adalah putera Menteri Utama yang dihormati oleh semua orang, sekarang berpakaian seperti seorang pengemis!

Melihat pandangan mata adiknya yang memperhatikan pakaiannya, Cin Han tertawa geli. "Aihh, jangan kau mengira bahwa kakakmu ini sekarang telah menjadi seorang pengemis, Lan-moi. Ketahuilah bahwa selama ini aku menjadi murid Sin-tung Kai-ong yang pernah melatihmu ilmu pedang itu. Karena kebiasaan merantau dengan suhu, aku sudah terbiasa mengenakan pakaian seperti ini. Apa lagi jika memasuki kota raja, aku harus menyamar dan dengan pakaian seperti ini barulah tidak akan ada yang mengenalku."

Dia lantas menceritakan betapa dia sudah bertemu dengan Kui Bi dan kini adiknya itu dia titipkan di rumah Ji-wangwe, seorang hartawan yang memimpin para pendukung Kerajaan Tang.

"Dari Ji-wangwe aku mendapat keterangan bahwa Bouw Kongcu tadi memimpin pasukan untuk mengambil Mestika Burung Hong Kemala yang disembunyikan dalam goa di tebing gunung ini."

"Ah, kalau begitu sekarang mereka tentu sedang mengambilnya. Kita harus mencegah hal itu, koko! Kita harus merampas pusaka itu untuk dikembalikan kepada Kerajaan Tang!"

"Tenanglah, Lan-moi. Gadis itu lihai sekali. Kalau kita menyerang mereka, sukar bagi kita untuk bisa memperoleh kemenangan. Yang penting kita harus mengetahui di tangan siapa Mestika Burung Hong Kemala itu berada. Agaknya seperti yang diduga Ji-wangwe, Bouw Koksu mungkin sekali hendak memiliki sendiri pusaka itu, entah apa maksudnya. Dia tidak melaporkan penemuan pusaka itu kepada An Lu Shan."

"Sekarang engkau hendak ke mana, koko?"

"Tentu saja kembali ke kota raja. Adik Bi juga berada di situ. Bukankah engkau juga akan bersamaku ke Tiang-an?"

Kui Lan menggeleng kepalanya. "Aku sudah membagi tugas dengan Bi-moi. Ia membantu perjuangan menentang pemberontak di kota raja, sedangkan aku hendak menyusul ayah yang mengawal Sribaginda ke barat. Ahh, ya, bagaimana dengan keadaan rumah kita di kota raja, Han-ko? Dan apakah ibu juga... ehh…, kenapa, koko?" Kui Lan cepat bertanya melihat perubahan pada wajah kakaknya.

Sukar bagi Cin Han untuk menerangkan. Ketika adiknya yang bungsu, Kui Bi, mendengar tentang kematian ayahnya setelah mengetahui kematian ibunya, adiknya itu pingsan. Lalu bagaimana nanti jadinya dengan Kui Lan kalau sekaligus mendengar bahwa ayahnya dan ibunya telah tewas?

"Lan-moi, aku percaya bahwa engkau adalah adikku yang berwatak tenang dan tabah, dapat memaklumi akan kekuasaan Tuhan yang Maha Pencipta, juga Maha Menentukan segalanya. Segala peristiwa yang menimpa diri kita, bahkan nyawa kita sekali pun berada di dalam kekuasaanNya untuk menentukan. Bukankah engkau masih tetap adikku yang tenang itu, bahkan sekarang, sesudah menjadi seorang pendekar wanita yang lihai, tentu akan lebih mampu menguasai hati dan perasaan sendiri, bukan?"

Kui Lan menangkap lengan kakaknya. "Han-ko, tak perlu berputar-putar. Aku bukan anak kecil lagi. Katakan, apa yang telah terjadi dengan ibu?"

"Ibu kita telah tiada, Lan-moi…"

"Ibuuuu...!"

Kui Lan menahan jeritnya dan memejamkan kedua matanya untuk mencegah tangisnya, akan tetapi sepasang mata yang dipejamkan itu tidak mampu menahan air matanya yang bercucuran. Cin Han merangkul adiknya dan Kui Lan menangis di dada kakaknya. Setelah mereda tangisnya, dia baru melepaskan diri dengan lembut.

"Koko, ceritakan. Apa yang telah terjadi dengan ibu kita."

Dengan hati-hati dan tenang Cin Han menceritakan betapa pemberontak menyerbu kota raja dan ada anggota pemberontak yang menyerbu rumah mereka. Ibu mereka tidak ikut ayah mereka karena hendak menunggu di rumah sampai mereka bertiga kembali. Karena terancam bahaya hendak diperhina oleh para pemberontak, ibu mereka lantas mengambil jalan terhormat, yaitu membunuh diri.

"Ahh, kasihan ibu!" bisik Kui Lan.

"Kita patut bangga, Lan-moi. Ibu kita sudah tewas sebagai wanita terhormat dan dengan tidak menyerah kepada pemberontak, berarti ia tewas sebagai seorang pahlawan. Rumah kita dikuasai pemberontak dan sekarang menjadi tempat tinggal Bouw Koksu, yaitu ayah dari Bouw-ciangkun yang memimpin pasukan tadi."

Kui Lan sudah dapat menenangkan diri.

"Engkau benar, Han-ko. Ibu kita tewas tidak sia-sia, dan kita harus membantu bangkitnya kembali Kerajaan Tang. Dengan cara begitu maka berarti kita sudah dapat membalaskan dendam penasaran hati mendiang ibu kita. Yang kusayangkan, pada saat ayah mengawal Sribagiada Kaisar, kenapa ayah tidak memaksa ibu supaya ikut saja? Aku ingin menyusul ayah, koko."

"Kuatkan hatimu, adikku. Ayah kita juga sudah tiada..."

"Ahhhh...?!"

Wajah gadis itu berubah pucat, akan tetapi perasaannya tidak begitu tertikam kepedihan seperti ketika mendengar ibunya terkasih sudah tiada.

"Apa yang terjadi? Bukankah ayah kita ikut mengawal kaisar melarikan diri mengungsi ke barat?"

Dengan singkat Cin Han lalu menceritakan mengenai pembunuhan terhadap ayah mereka yang dilakukan oleh para prajurit pengawal yang merasa tak puas dan menganggap ayah mereka menjadi biang keladi kehancuran Kerajaan Tang.

"Juga bibi Yang Kui Hui tidak lepas dari hukuman. Dia menggantung diri di depan kaisar dan semua pasukan pengawal."

Kui Lan menarik napas panjang. "Sudah kita khawatirkan semua hal ini pasti akan terjadi. Kedudukan ayah yang tidak semestinya, karena pengaruh bibi Yang Kui Hui. Ah, sungguh kita harus merasa prihatin dan menyesal sekali, koko."

"Tak ada yang perlu disesalkan, adikku. Betapa pun juga ayah kita telah memperlihatkan kesetiaannya terhadap Kerajaan Tang. Dan semua sikap yang tidak benar dari ayah dan bibi masih dapat kita tebus dengan kesetiaan terhadap Kerajaan Tang. Kita bertiga sudah mempelajari ilmu, karena itu kita bisa menyumbangkan tenaga kita demi jayanya kembali Kerajaan Tang. Mari kita ke kota raja, adikku. Di sana kita dan Bi-moi dapat lebih banyak bekerja menentang pemberontak dan mempersiapkan diri untuk membantu pasukan Tang kalau saatnya tiba."

Kui Lan mengepal tangannya. "Aku sudah siap untuk membantumu, koko." Kemudian dia bertanya, "Koko, apakah yang dilakukan rombongan tadi ke sini? Dan gadis itu sungguh lihai bukan main."

"Mereka adalah rombongan dari kota raja yang dipimpin oleh Panglima bernama Bouw Ki, seorang bersuku bangsa Khitan. Aku sendiri tidak tahu siapa gadis itu, hanya mendengar bahwa dia memang membantu pasukan itu. Tak kusangka dia selihai itu."

"Apa yang mereka lakukan di sini?"

"Mereka sedang pergi ke tempat disembunyikannya Mestika Burung Hong Kemala."

"Ahh! Bukankah mestika itu merupakan pusaka kerajaan?"


"Benar, kabarnya pusaka itu sudah lenyap dan menjadi rebutan. Terakhir kalinya pusaka itu disimpan oleh mendiang ayah, entah bagaimana dapat terjatuh ke tangan mereka. Aku sedang membayangi mereka untuk melakukan penyelidikan, tidak mengira akan bertemu denganmu. Tentu saja bagiku lebih penting menolong serta menyelamatkanmu dari pada menyelidiki tentang pusaka itu."

"Ah, kalau begitu tentu mereka sudah mengambil pusaka itu, koko! Sebetulnya kita harus merampasnya."

"Agaknya tidak mungkin, Lan-moi. Mereka terlalu kuat, apa lagi gadis itu. Bagaimana pun juga kita telah mengetahui bahwa Mestika Burung Hong Kemala terjatuh ke tangan Bouw Koksu."

"Siapa itu Bouw Koksu?"

"Dia adalah ayah dari panglima Bouw Ki tadi." Dan Cin Han lalu menceritakan keadaan pemerintahan baru yang dibentuk oleh An Lu Shan.

"Dan tahukah engkau siapa pemuda sinting tadi, koko? Apakah engkau melihatnya?"

Cin Han mengangguk. "Aku melihat dia akan tetapi aku tidak mengenalnya. Dia memang sangat mencurigakan. Nampaknya tolol dan lemah, tetapi dia membawa sebatang pedang yang amat baik. Aku masih menduga-duga siapa gerangan pemuda itu dan sudah kuingat wajahnya. Nanti akan kutanyakan kepada kawan-kawan kita di sana, mungkin ada yang mengenalnya. Kalau dia merupakan seorang pejuang yang setia terhadap Kerajaan Tang, tentu kawan-kawan kita mengenalnya. Kalau tidak ada yang mengenal berarti dia bukan apa-apa dan memang dia adalah seorang yang sinting."

"Akan tetapi perasaanku seolah mengatakan bahwa perbuatannya tadi memang disengaja untuk menolongku, koko."

"Mungkin saja. Nah, mari kita kembali ke kota raja. Kita bekerja sama dengan Bi-moi dan para pejuang. Di kota raja kita bisa mengikuti semua perkembangan dan mempersiapkan diri untuk membantu bila mana pasukan Kerajaan Tang datang untuk merampas kembali kerajaan yang terjatuh ke tangan pemberontak An Lu Shan."

"Apakah ada harapan terjadi hal itu, koko?"

"Tentu saja ada. Jaringan mata-mata para pejuang yang bergerak di kota raja mempunyai hubungan dengan rombongan Sribaginda yang melarikan diri ke Se-cuan, dan kini sudah diperoleh berita bahwa Sribaginda yang dibantu oleh Panglima Kok Cu yang setia, sedang menyusun kekuatan di barat untuk merampas kembali tahta kerajaan. Marilah kita pergi, Lan-moi."

Kakak beradik itu lalu meninggalkan tempat itu, menuju ke kota raja.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner