MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-18


Tujuannya dengan puji-pujiannya ini ternyata akhirnya berhasil karena di antara mereka yang mendengar pujiannya terdapat kaki tangan pangeran yang tentu saja menyampaikan hal itu kepada sang pangeran.

"Paman Bouw Hun, kurasa gadis itu memang orang yang tepat untuk kita gunakan," kata sang pangeran dalam suatu pertemuan rahasianya dengan Bouw Hun atau Bouw Koksu.

"Kalau begitu kita boleh melanjutkan rencana kita, pangeran. Kita hubungi pembantu kita di dapur istana, juga kepala pelayan di ruang makan agar mulai sekarang gadis itu dapat diperbantukan di situ. Setelah kesempatan tiba, kita suruh dia yang menaruh racun. Andai kata usaha ini gagal dan ketahuan, gadis itulah yang akan dituduh dan kita boleh turun tangan membunuhnya karena dia berani mencoba meracuni Sribaginda."

Dua orang itu lalu berbisik-bisik mengatur siasat yang mereka rencanakan masak-masak. Kemudian Bouw Hun melihat pintu ruangan yang sudah tertutup, memeriksanya kembali dan setelah merasa yakin bahwa tidak mungkin ada orang lain yang dapat mengintai atau mendengarkan, dia pun berkata dengan wajah gembira.

"Pangeran, kita telah berhasil. Bouw Ki telah berhasil mendapatkan Mestika Burung Hong Kemala itu."

"Bagus! Mana pusaka itu paman?"

Dari balik jubahnya Bouw Koksu mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning yang terisi sebuah kotak kecil berwarna hitam. Diletakkannya kotak kecil itu di atas meja, kemudian dibukanya.

"Inilah Mestika Burung Hong Kemala itu, pangeran."

Pangeran An Kong menghampiri meja, mengambil benda pusaka itu dari dalam kotak, lalu mengamatinya dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, lambang kekuasaan Kaisar telah berada di tanganku. Paman, kita akan berkuasa. Sekarang tiba saatnya kita merebut kekuasaan dari tangan ayah yang tidak adil, dan dengan pusaka ini, semua pejabat tinggi tentu akan tunduk kepada kita."

"Benar sekali, Pangeran. Tetapi akan lebih baik dan tidak mendatangkan kekacauan kalau Sribaginda tewas karena sakit lalu paduka menggantikan beliau sebagai puteranya."

Dua orang sekutu itu lalu mengatur siasat lagi. Akhirnya pertemuan itu bubar ketika Bouw Koksu berpamit.

"Sebaiknya hamba yang menyimpan pusaka ini, Pangeran. Amat berbahaya bila paduka yang menyimpannya. Di istana ini terdapat banyak orang dan kalau ada yang tahu bahwa Giok-hong-cu berada di tangan paduka, tentu banyak yang ingin mencuri atau merampas pusaka ini. Bila hamba yang menyimpan maka takkan ada yang menduga sehingga akan lebih aman."

Pangeran An Kong mengangguk-angguk, kemudian dengan wajah sungguh-sungguh dia berkata, "Paman Bouw, percayalah, aku tidak akan melupakan semua jasa-jasamu kalau sampai usaha kita berhasil."

"Hamba percaya sepenuhnya kepada paduka, Pangeran. Dan sekarang lebih dulu hamba harus membereskan urusan hamba dengan Souw Lok."

"Benar, dia harus dibereskan supaya tidak membocorkan rahasia tentang Mestika Burung Hong Kemala."

Bouw Koksu memberi hormat lalu keluar dari kamar rahasia itu, meninggalkan Pangeran An Kong yang duduk termenung sambil tersenyum-senyum, membayangkan keberhasilan rencana siasatnya…..

********************

Dengan tergopoh dan muka tersenyum cerah, Souw Lok sang pemilik toko itu menyambut tamunya. Tamu agung yang baru saja turun dari keretanya itu adalah Bouw Koksu, guru negara yang tentu saja harus dihormatinya karena tokoh ini merupakan orang yang besar kekuasaannya, mungkin hanya di bawah kekuasaan kaisar dan pangeran saja. Apa lagi Souw Lok maklum bahwa kunjungan orang penting ini mendatangkan rejeki kepadanya.

Bukankah Bouw Koksu sudah berjanji bahwa kalau pusaka itu sudah ditemukan, dia akan memenuhi harga peta yang ditentukan? Dia baru menerima lima ribu tail, tentu sekarang pembesar itu datang untuk membayar kekurangannya yang lima ribu lagi.

Sebelum pergi mengambil pusaka itu, keponakannya Souw Hui San sudah berulang kali membujuk agar dia segera meninggalkan kota raja dan puas dengan hasil yang lima ribu tail itu saja.

"Amat berbahaya berurusan dengan orang seperti Bouw Koksu itu, paman," kata pemuda itu. "Bukankah sudah lumayan mendapatkan lima ribu tail? Paman sudah berhasil meraih keuntungan karena kecerdikan paman, akan tetapi harap jangan terlampau murka untuk mendapatkan yang lebih banyak lagi."

Souw Lok menertawakan keponakannya itu. "Aihh, Hui San, lima ribu tail itu telah berada di depan mata, seolah daging sudah berada di mulut, tinggal kunyah dan telan. Mengapa mesti ditinggalkan? Dia akan merasa puas mendapatkan pusaka tiruan itu, maka aku pun harus dapat menikmati hasilnya. Engkau saja yang berhati-hati dengan tugasmu. Setelah berhasil, serahkan pusaka itu kepada seorang di antara putera Menteri Yang Kok Tiong seperti yang dipesankan beliau kepadaku. Dengan begitu aku tetap setia kepadanya, tidak melanggar sumpahku kepadanya, dan aku pun dapat menikmati hari tuaku."

Hui San hanya menggeleng kepala saja lalu pergi.

Ahh, anak yang bodoh, pikirnya senang melihat Bouw Koksu turun dari keretanya. Kalau saja Hui San sudah pulang, dan melihat dia nanti menerima uang sebanyak lima ribu tail dari Bouw Koksu, tentu dia akan dapat menggoda dan menertawakan keponakannya itu.

"Selamat siang dan selamat datang, taijin. Mari silakan masuk dan silakan duduk." Sambil berbongkok-bongkok Souw Lok mempersilakan Bouw Koksu memasuki tokonya.

Bouw Koksu melangkah masuk sambil berkata, “Souw Lok, aku ingin bicara denganmu, di dalam saja agar tidak terdengar orang lain."

Souw Lok mengangguk-angguk mengerti. Pembayaran uang sebanyak lima ribu tail tentu saja tidak boleh dilihat orang lain karena akan menimbulkan keheranan dan kecurigaan.

"Saya mengerti, Taijin, saya mengerti. Mari, silakan masuk, di dalam rumah ini tidak ada orang lain kecuali saya."

Dia lalu menyuruh pembantunya menjaga toko sendirian, dan dia mengiringkan pembesar itu memasuki ruangan dalam rumahnya.

"Souw Lok, engkau sudah menipu kami!" Bouw Koksu berkata setelah berada di ruangan dalam rumah itu. Seketika wajah Souw Lok berubah pucat karena dia menyangka bahwa pembesar itu sudah tahu akan perbuatannya memalsukan Mestika Burung Hong Kemala.

"Ehh? Apa... apa... maksud Taijin...?" katanya gagap.

"Engkau telah memberikan peta yang palsu kepadaku!"

Tentu saja Souw Lok menjadi semakin ketakutan.

"Mana saya berani, Taijin? Mana saya berani menipu Taijin? Bila saya menipu, tentu saya sudah melarikan diri, tidak tetap tinggal di sini. Saya benar-benar menerima peta itu dari mendiang Menteri Yang sendiri, kemudian peta itu tidak pernah terpisah dari badan saya. Bagaimana mungkin bisa palsu?"

"Hemmm, benda pusaka itu tidak berada di tempat yang ditunjukkan peta! Engkau sudah menipuku, karena itu, engkau harus mati di tanganku!"

"Tidak... ahh, Taijin... saya tidak menipu, saya hanya menerima peta itu dan... dan Taijin boleh mengambil kembali semua milik saya..."

"Hemm, mampuslah kau!" Bouw Koksu menggerakkan tangan kirinya ke arah dada Souw Lok.

"Plakkk!"

Tubuh Souw Lok terjengkang dan dia tidak bergerak lagi, bahkan tidak sempat mengeluh. Pukulan itu merupakan pukulan beracun tangan kiri Bouw Hun yang dengan sekali pukul saja dia yakin akan mampu menewaskan Souw Lok.

Dengan sikap tenang Bouw Koksu meninggalkan rumah itu. Dia tidak mempedulikan uang lima ribu tail yang oleh Souw Lok telah dipakai sebagai modal toko. Dia membunuh Souw Lok untuk menutup mulut orang itu agar rahasia mengenai Mestika Burung Hong Kemala tidak diketahui orang lain, bukan karena harus membayar lima ribu tail lagi.

Bouw Koksu pergi naik keretanya. Dia sama sekali tidak tahu bahwa tak lama setelah dia pergi, seorang pemuda tiba di toko Souw Lok itu. Pemuda itu, Souw Hui San, juga tidak tahu bahwa baru saja Bouw Koksu mengunjungi pamannya

"Souw-kongcu, engkau baru pulang?" tanya pembantu yang berjaga toko.

"Di mana Paman Souw Lok?" tanya Souw Hui San yang tidak melihat pamannya berjaga toko.

"Dia berada di dalam," kata penjaga itu dengan sikap dan suara wajar. Dia tadi melihat majikannya memasuki rumah bersama tamunya, dan melihat tamu itu baru saja pergi tadi. Tentu majikannya masih berada di dalam rumah karena dia tidak melihatnya keluar.

Dengan gembira dan sambil bersiul-siul Souw Hui San memasuki rumah. Hatinya gembira karena tugas yang dilaksanakannya berhasil baik, dan dia yang dalam perjalanan selalu mencari keterangan, mendengar keterangan bahwa Kui Lan dan pemuda itu juga pergi ke kota raja. Ada harapan baginya untuk dapat bertemu lagi dengan Kui Lan, dara yang telah mencuri dan membawa lari hatinya itu.

"Paman...! Di mana kau, paman?" Dia berseru memanggil dengan nada suara gembira.

"Paman...!" Dia memasuki ruangan dalam dan tiba-tiba langkahnya tertahan dan matanya terbelalak memandang ke bawah. Di lantai ruangan itu nampak Souw Lok menggeletak, telentang dengan muka pucat.

"Paman..., kau kenapa, paman?"

Dia segera meloncat mendekat lantas berjongkok, memeriksa keadaan pamannya. Bukan main kagetnya ketika melihat napas pamannya telah empas-empis. Ketika dia memeriksa dan menyingkap bajunya, pada dada pamannya itu jelas nampak tapak tangan membiru. Pamannya telah terkena pukulan ampuh dan jelas tak mungkin dapat ditolong lagi. Tentu isi dada itu sudah remuk.

"Paman, siapa yang melakukan ini?" pemuda itu mengguncang pundak pamannya dan menotok beberapa jalan darah untuk memungkinkan pamannya memperoleh aliran darah ke kepala sehingga dapat berbicara.


"Bouw Koksu... dia...dia..." Souw Lok terkulai dan tewas.

Hui San menggunakan tangannya untuk menutup mulut dan mata jenazah pamannya, lalu dia bangkit berdiri dan mengepal tinju.

"Jahanam engkau, Bouw Koksu! Tenanglah, paman, kelak aku pasti akan membalaskan kematianmu!"

Jenazah Souw Lok dimakamkan tanpa banyak ribut-ribut dan dikabarkan bahwa orang itu meninggal dunia secara mendadak akibat penyakit berat yang menyerangnya secara tiba-tiba. Pada jaman itu, orang yang meninggal secara mendadak seperti itu dikatakan mati angin duduk.

Sesudah pemakaman selesai, seluruh harta dan toko itu dijual oleh Souw Hui San dengan harga murah, kemudian tak ada orang yang melihatnya lagi. Padahal Hui San tak pernah meninggalkan kota, bahkan dengan uang peninggalan pamannya, dia berhasil menyogok panglima pasukan istana dan masuk menjadi prajurit pasukan istana.

Tentu saja hal ini dia lakukan dengan dua maksud. Pertama, agar dia dapat memperoleh kesempatan mendekati Bouw Koksu dan membalaskan kematiannya pamannya, dan ke dua, agar dia dapat membantu dari dalam kalau Kerajaan Tang datang menyerbu untuk merebut kekuasaan kembali dari tangan An Lu Shan…..

********************

Kakak beradik Yang Cin Han dan Yang Kui Lan memasuki kota raja dengan menyamar. Kui Lan menyamar sebagai seorang pemuda, dan mereka berdua mengenakan pakaian petani-petani muda yang amat sederhana. Untuk mengurangi ketampanan wajah Kui Lan, dia membuat sebuah tanda luka pada pipinya dengan campuran gandarukem dan malam sehingga wajah yang terlalu tampan itu kini berubah jelek.

Pada malam itu Ji Siok menerima kedatangan Cin Han dan Kui Lan dengan hati gembira. Apa lagi ketika dia diperkenalkan kepada Kui Lan yang ternyata adalah puteri mendiang Menteri Ya Kok Tiong, pemimpin jaringan mata-mata mereka yang mendukung Kerajaan Tang itu merasa gembira sekali. Biar pun dahulu Menteri Yang Kok Tiong memiliki banyak musuh atau orang-orang yang tidak suka karena dia seorang penjilat kaisar, namun pada akhirnya mereka semua harus mengakui bahwa Yang Kok Tiong adalah seorang menteri yang setia sampai mati kepada kaisarnya.

Dan kini, melihat betapa ketiga orang putera menteri itu menjadi orang-orang yang gagah perkasa dan bertekad untuk membantu Kerajaan Tang merebut kembali kekuasaan, tentu saja dia merasa gembira dan kagum sekali.

"Bagaimana hasilnya dengan penyelidikanmu terhadap rombongan Bouw Ciangkun yang mengambil Mestika Burung hong Kemala itu, kongcu?" tanya Ji-wangwe.

Cin Han menceritakan semua yang dialami, juga tentang pertemuannya dengan adiknya dan betapa mereka berdua lolos dari ancaman bahaya di tangan rombongan itu.

"Paman, aku ingin sekali mendapat keterangan mengenai gadis lihai yang turut mengawal rombongan Bouw-kongcu itu. Gadis itu penuh rahasia."

"Saya mendengar bahwa dia bernama Kim Hong dan kabarnya ilmu silatnya lihai bukan main, kongcu. Benarkah itu?"

"Benar sekali. Ilmu silatnya hebat bukan kepalang, bahkan aku sendiri merasa kewalahan menandinginya. Akan tetapi ada yang aneh, paman."

"Apa maksud kongcu?"

"Ketika kami bertanding, aku mendapat kesan seolah-olah dia tidak menyerangku dengan sungguh-sungguh. Hal ini benar-benar mendatangkan perasaan aneh dan curiga di dalam hatiku. Karena itu aku ingin supaya paman menyuruh kawan kita yang bertugas di dalam rombongan mereka untuk menyelidiki siapa sesungguhnya Can Kim Hong itu, keterangan yang selengkapnya kalau mungkin. Dia puteri siapa dan murid siapa."

"Itu mudah saja, kongcu. Nanti saya akan minta keterangan dari kawan-kawan kita yang bertugas di sana."

"Paman, di mana adik Kui Bi?" tanya Kui Lan.

Ji Siok lantas menceritakan perbuatan gadis itu yang nekat minta diselundupkan ke istana sebagai seorang dayang.

"Ahhh...! Itu berbahaya sekali, paman!" kata Cin Han. "Kenapa paman memperbolehkan dia mengambil tindakan senekat itu?"

"Sudah, kongcu. Saya sudah mencegah dan menahannya, akan tetapi dia memaksa dan akhirnya saya tidak berani melarangnya."

"Jadi sekarang ini adik Kui Bi tinggal di dalam istana sebagai seorang dayang?" tanya Kui Lan.

"Benar, nona. Menurut berita yang kami peroleh, nona Kui Bi sudah diterima dan menjadi dayang permaisuri. Bahkan ada berita bahwa dia sedang diperebutkan oleh Kaisar An Lu Shan dan puteranya, An Kong."

"Sesungguhnya apa sih maksud adik Kui Bi menyelundup masuk ke dalam istana?" tanya pula Kui Lan.

"Aihh, Lan-moi, engkau seperti tidak mengenal watak Bi-moi saja. Tentu dia ingin secepat mungkin dapat membunuh An Lu Shan."

"Itu berbahaya sekali!" seru Kui Lan. "Andai kata pun dia berhasil membunuhnya, tentu dia akan dikepung dan dikeroyok, tidak mungkin dapat meloloskan diri dari istana! "

"Tenanglah, Lan-moi. Aku percaya bahwa Paman Ji akan dapat mengaturnya agar hal itu tidak akan teriadi," kata Cin Han.

"Memang benar demikian, harap kongcu dan siocia tenang, karena kami telah mendapat hubungan dengan seorang panglima yang diam-diam berpihak kepada Kerajaan Tang dan bahkan secara diam-diam dia telah mempersiapkan diri, menghimpun pasukan yang setia kepada Kerajaan Tang dan sewaktu-waktu dia akan membasmi keluarga pemberontak An Lu Shan berikut penguasa istana. Menurut berita yang kuperoleh dari pembantu kami di istana, panglima itu telah mengetahui akan rencana Nona Kui Bi yang hendak membunuh An Lu Shan, dan dia pun sudah siap untuk melindungi nona Kui Bi."

"Bagus sekali kalau begitu!" kata Cin Han gembira.

"Siapakah panglima itu? Aku ingin mengenalnya, paman."

"Dia adalah seorang panglima yang semenjak dahulu bertugas di utara menjadi bawahan Jenderal An Lu Shan, tetapi dia tidak setuju dengan tindakan An Lu Shan yang berkhianat dan memberontak. Tapi karena dia hanya menjadi bawahan maka dia tidak berdaya untuk mencegahnya. Kini diam-diam dia sedang menghimpun pasukan untuk kelak melawan An Lu Shan..."

"Bukankah dia bernama Sia Su Beng?" tiba-tiba Kui Lan memotong sehingga hartawan Ji terbelalak.

"Ahh..., jadi nona sudah mengenalnya?" katanya heran.

"Lan-moi, benarkah engkau sudah mengenal panglima itu?" tanya pula Cin Han sambil mengamati wajah adiknya penuh selidik.

"Peristiwa itu terjadi di Liu-ba," kata Kui Lan. "Dalam sebuah rumah makan aku diganggu oleh tiga orang perwira yang kurang ajar. Kemudian mereka bertiga dengan anak buahnya menghadangku di luar kota. Kami berkelahi dan aku dikeroyok, kemudian muncul seorang perwira tinggi yang menghajar dan memarahi mereka. Orang itu berpakaian preman, akan tetapi para perwira mengenalnya dan dia bernama Sia Su Beng, seorang panglima muda yang ternyata mempunyai semangat dan tujuan yang sama dengan kita, yaitu mengusir An Lu Shan dan membantu kerajaan Tang berkuasa kembali."

"Kalau begitu bagus sekali, Paman Ji!" kata Cin Han. "Akan baik sekali kalau kami dapat bertemu dengan panglima Sia untuk membicarakan usaha perjuangan kita bersama. Juga tentang keadaan Sribaginda di barat, tentang Mestika Burung Hong Kemala yang terjatuh ke tangan Bouw-koksu."

"Benar, paman. Kami harus dapat bertemu dan bicara dengan panglima Sia Su Beng itu. Aku pun ingin bicara dengan dia tentang adikku Kui Bi."

"Itu dapat diatur, kongcu dan siocia. Kami juga sedang menanti datangnya kawan-kawan yang bertugas melindungi Sribaginda di Se-cuan. Sesudah mereka tiba, kita mengadakan rapat pertemuan dengan Panglima Sia supaya lebih lengkap dan sekaligus kita mengatur rencana siasat yang akan kita ambil dalam perjuangan membantu Kerajaan ini, bila mana saatnya tiba untuk merebut kembali kekuasaan."

Ucapan Ji Siok itu melegakan hati Cin Han dan Kui Lan.

Dengan diantar oleh kakaknya, malam itu Kui Lan berkunjung ke tanah kuburan di mana jenazah ibunya dikubur. Gadis ini menangis di depan makam ibunya dan dihibur oleh Cin Han. Setelah keduanya bersembahyang di depan makam ibu mereka, Cin Han mengajak adiknya untuk kembali ke rumah Ji-wangwe, akan tetapi Kui Lan menolaknya.

"Engkau kembalilah lebih dahulu, Han-ko. Aku ingin berdiam lebih lama di depan makam ibu. Nanti aku akan menyusul kembali ke sana."

"Baiklah, memang tidak menguntungkan bila kita berdua berada di sini karena akan lebih mudah dilihat orang. Akan tetapi berhati-hatilah engkau dan jangan terlalu lama di sini."

Cin Han lalu meninggalkan Kui Lan yang masih berlutut di hadapan kuburan ibunya yang sangat sederhana itu. Setelah Cin Han pergi, kembali Kui Lan menangis, meratapi ibunya yang tewas dalam keadaan amat menyedihkan dan kini dikubur secara sederhana seperti itu, seolah tidak terawat sama sekali.

Bulan sudah naik tinggi dan cuaca cukup terang, bahkan cahaya bulan yang terasa sejuk mendatangkan suasana yang indah sekali. Dengan bantuan cahaya bulan, Kui Lan dapat membersihkan makam Ibunya dan mencabuti alang-alang liar yang tumbuh di sana. Dia mengerjakan ini sambil masih terisak menangis.

"Malam-malam menangis seorang diri di sini sungguh menarik perhatian orang dan amat mencurigakan."

Kui Lan terkejut bukan main dan ketika dara ini memutar tubuh, dia melihat sesosok tubuh seorang pria berdiri tak jauh di belakangnya. Dia pun segera menerjang dengan dahsyat. Dengan menggunakan ginkang-nya yang sangat tinggi tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu dia sudah meloncat bagaikan terbang, tangannya mendorong ke arah dada orang itu.

"Plakkk!"

Orang itu menangkis. Tangan mereka tergetar dan keduanya terdorong mundur.

"Lan-moi, tahan dulu... ini a..." kata pria itu ketika Kui Lan hendak menyerang lagi.

"Ahh...! Kau Sia-twako!" kata Kui Lan dan wajahnya berubah kemerahan.

Kini dia mengenal pemuda itu yang berpakaian seperti seorang panglima, nampak gagah dan tampan di bawah cahaya bulan. Mereka berdiri saling pandang dan akhirnya Sia Su Beng yang berkata dengan lirih.

"Lan-moi, sungguh berbahaya sekali engkau berani muncul di sini. Sejak tadi aku melihat dan mengintaimu dari jauh dan sekarang baru aku tahu bahwa sebenarnya engkau adalah Yang Kui Lan dan pemuda tadi tentu kakakmu Yang Cin Han, bukan?"

Kui Lan melangkah menghampiri "Twako, engkau sudah tahu?"

Panglima itu mengangguk, "Aku sudah mendengar dari rekan kita, yaitu Ji-wan-gwe. Aku semakin kagum bahwa putera dan puteri mendiang Menteri Yang ternyata menjadi orang-orang muda yang gagah perkasa dan setia kepada Kerajaan Tang."

"Twako, apakah engkau telah bertemu dengan adikku di istana?"

"Ahh…, maksudmu adikmu Yang Ku Bi? Tentu saja sudah, bahkan tadi dia pun mengaku bernama Kui Bi dan mengaku sebagai adikmu. Tadinya aku mengira bahwa kalian kakak beradik bermarga Kui, akan tetapi sesudah aku teringat betapa wajah kalian mirip sekali dengan wajah mendiang selir Sribaginda Yang Kui Hui, lantas aku pun mendengar bahwa mendiang Menteri Yang Kok Tiong memiliki dua orang anak perempuan, aku pun dapat menduganya. Aku semakin yakin setelah aku mendapat keterangan dari Ji-wangwe."

"Bagaimana keadaan adikku, twako? Aku khawatir sekali mendengar dia begitu nekat."

"Adikmu seorang pemberani yang amat mengagumkan, Lan-moi, dan aku yakin dia akan berhasil. Akan tetapi harap engkau tidak khawatir karena dia tak akan bertindak gegabah, dan aku akan selalu melindunginya. Sudah kupesan kepada anak buahku yang bertugas di istana agar selalu mengamati dan melindunginya kalau perlu."

"Terima kasih, twako. Aihh, hatiku menjadi lega sekali setelah mendengar ucapanmu itu. Aku bersama Han-koko tinggal di rumah Ji-wangwe. Bukankah engkau akan mengadakan pertemuan dengan para rekan di sana?"

"Ssstt, Lan-moi. Sebaiknya sekarang engkau segera pulang ke sana. Tak baik bila terlihat orang di sini, apa lagi dengan aku, akan menimbulkan kecurigaan. Nanti kita akan saling jumpa dalam pertemuan itu. Nah, selamat malam, Lan-moi, cepatlah kau pulang." Setelah berkata demikian, panglima itu menyelinap lenyap di dalam bayang-bayang pohon yang gelap.

Kui Lan berdiri termenung, jantungnya masih berdebar keras. Ahh, dia sudah jatuh cinta pada pemuda itu. Apa lagi setelah kini yakin bahwa pemuda yang mengagumkan hatinya itu ternyata adalah seorang tokoh yang memegang peran penting untuk menumbangkan kekuasaan An Lu Shan dan membangkitkan kembali kejayaan Kerajaan Tang.

Dia pun tesenyum-senyum bahagia ketika melangkah meninggalkan tanah kuburan, untuk kembali ke rumah Ji Siok. Dalam keadaan segembira itu karena pertemuannya dengan Sia Su Beng, lupalah sudah dia akan kedukaannya yang tadi di depan makam ibunya.

Pikiran kita memang tiada hentinya dipermainkan gelombang pertentangan antara suka dan duka, gembira dan sedih, puas dan kecewa. Setiap saat berubah-ubah dipengaruhi keadaan yang kita nilai sebagai menguntungkan atau merugikan, menyenangkan atau menyusahkan.

Tadi ketika ia menangis terisak-isak di depan makam ibunya, pikiran Kui Lan sepenuhnya membayangkan betapa dirinya ditinggal mati ibunya, betapa dia merasa kehilangan orang yang disayangnya, betapa orang yang disayangnya itu meninggal dunia dalam keadaan yang tidak menyenangkan dan sekarang dikubur dalam cara yang tidak menyenangkan pula.

Kemudian kemunculan Sia Su Beng bagaikan datangnya gelombang dari arah lain yang menelan gelombang pertama, membuat dia lupa akan keadaannya yang tadi, terganti oleh perasaan gembira karena munculnya pemuda yang dicintanya itu dirasakan benar-benar menyenangkan. Setiap hari kita pun berada dalam keadaan yang sama dengan apa yang dialami Kui Lan.

Kita lupa sudah bahwa benda apa pun, orang mana pun, peristiwa apa pun yang terjadi, semua hanya selewat saja, hanya sementara saja, sama sekali tidak kekal. Karena itu, benda atau orang atau peristiwa yang hari ini mendatangkan perasaan suka, di lain hari mungkin akan menimbulkan perasaan duka, yang kemarin menimbulkan duka, mungkin hari ini mendatangkan rasa suka. Semua diukur dengan bagaimana kita menerimanya. Kalau kita merasa diuntungkan, kita senang, sebaliknya kalau dirugikan, kita susah!

Yang menjadi biang keladi semua kesengsaraan ini, semua permainan suka duka, bukan lain adalah nafsu yang telah menguasai hati akal pikiran kita. Nafsu yang mendorong kita untuk mengejar kesenangan, dan sekali dikejar, maka takkan ada batasnya, takkan ada habisnya bahkan makin dituruti nafsu yang menguasai diri, semakin murka dan tamak.

Nafsu bagaikan api. Kalau terkendali merupakan alat yang paling penting bagi kita, tetapi sebaliknya, kalau tidak terkendali dan nafsu yang menguasai kita, bagaikan api yang liar, maka nafsu akan menelan segalanya, semakin banyak yang dimakan, semakin laparlah dia!

Namun, di samping merupakan penggoda terbesar yang dapat menyeret kita ke lembah kesengsaraan, nafsu juga merupakan peserta yang mutlak diperlukan dalam kehidupan kita. Tanpa adanya nafsu, kita tidak akan menjadi manusia seperti sekarang ini.

Nafsu adalah pemberian Tuhan yang diikut sertakan pada kita sejak lahir. Nafsulah yang mendatangkan kenikmatan, lewat penglihatan, penciuman, pendengaran dan semua alat atau anggota tubuh kita. Nafsu yang mendorong otak dan akal budi kita untuk membuat apa saja demi kenikmatan hidup di dunia, nafsu yang menimbulkan semangat dan gairah hidup, malah yang mendatangkan kemajuan-kemajuan seperti yang kita alami sekarang. Tanpa adanya nafsu, mungkin kehidupan manusia masih seperti binatang, tak mengenal kenikmatan hidup melalui panca indera. Jelas bahwa kita tidak bisa meninggalkan nafsu.

Nafsu adalah kawan terbaik, sekaligus juga lawan terjahat. Lalu bagaimana ini? Dibuang tak mungkin, dirangkul berbahaya. Pikiran hanya merupakan gudang berisi pengalaman-pengalaman masa lalu seperti pita yang penuh rekaman, yang dinamakan pengetahuan.

Bagaimana mungkin pengetahuan dapat meredakan bersimaharaja lelanya nafsu? Pikiran dan hati akal pikiran, batin ini telah bergelimang nafsu, lalu bagaimana mungkin hati akal pikiran itu menguasai diri sendiri? Tak mungkin sama sekali, dan kalau pun diusahakan, hasilnya hanyalah semu dan palsu.

Nafsu yang mendatangkan kemarahan di dalam hati mendorong kita untuk marah-marah, melakukan pemukulan atau caci maki. Pikiran atau pengetahuan dalam pikiran kita tahu belaka bahwa amarah itu tidak baik, namun apakah pengetahuan ini mampu meredakan amarah itu sendiri? Mungkin menekan dapat, namun, amarah yang ditekan dan disabar-sabarkan, bagaikan api yang ditutup sekam, nampaknya saja padam namun ternyata di sebelah dalam masih membara dan sedikit saja ada angin bertiup, maka akan bernyala lebih besar lagi dari pada sebelum ditutup sekam.

Pertanyaan abadi kita selalu bergema di sepanjang masa. Apa yang harus kita lakukan? Nafsu tidak dapat dibuang, karena menyebabkan kematian. Nafsu tidak boleh dibiarkan meliar, karena bisa menyebabkan kesesatan. Sementara hati akal pikiran juga tak dapat mengendalikannya. Lalu bagaimana? Seperti menghadapi buah simalakama, dimakan ibu mati tak dimakan bapak mati.

Lalu bagaimana kita harus menghadapi nafsu kita sendiri yang oleh para bijak dianggap sebagai musuh yang paling berbahaya?

Seperti segala apa pun di dunia ini, yang nampak atau pun tidak, segala sesuatu ini ada karena diadakan oleh kekuasaan Tuhan! Kalau kita memang sudah yakin mengenai hal ini, maka kenapa kita bingung menghadapi nafsu kita sendiri. Kita serahkan saja kepada penciptanya.

Hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan dapat menanggulangi nafsu, hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan dapat mengatur nafsu, seperti kekuasaan yang mengatur denyut jantung kita, mengatur pergerakan bintang-bintang di langit, mengatur segala sesuatu, dari yang terkecil sampai yang terbesar!

Apa bila kita sudah menyerah kepada Tuhan dengan segala ketawakalan, kepasrahan, kesabaran, keikhlasan, secara mutlak, lahir batin, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja dan tidak ada hal yang tidak mungkin kalau kekuasaan Tuhan sudah bekerja!

Hanya kuasa Tuhan saja yang akan dapat mengembalikan nafsu dalam kedudukannya semula, dari fungsinya semula, yaitu sebagai peserta dan alat dari kita untuk melayani kebutuhan hidup kita ini, menjadi abdi kita, bukan majikan kita.....


********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner