MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-20


Kalau sekarang dia berpura-pura ketakutan, hal itu dilakukan hanya untuk melihat apakah pangeran ini benar-benar merencanakan pembunuhan terhadap ayahnya sendiri, dan apa rencana mereka. Dia harus yakin sepenuhnya bahwa dia sendiri tidak terancam bahaya dalam pelaksanaan tugas itu.

"Semua kesulitanmu itu bisa diatasi dengan mudah. Kami akan mengatur supaya engkau dapat diperbantukan ke dapur, kemudian ke ruangan makan melayani Kaisar, dan tentang kekhawatiranmu ditangkap, jangan khawatir. Kami yang bertanggung jawab, karena kalau Kaisar tewas, akulah yang akan menggantikannya dan engkau pun bisa kuangkat menjadi permaisuri."

"Aihh, benarkah itu, Pangeran? Kalau begitu, harap berikan racun itu kepada hamba dan hamba akan melaksanakan sebaik mungkin!" katanya dengan girang.

Tiba-tiba Bouw Koksu berkata, suaranya garang penuh ancaman. "Akan tetapi ingat baik-baik, dayang. Kalau engkau membocorkan rahasia ini kepada siapa pun juga, kami malah berbalik akan menuduhmu sebagai mata-mata pemberontak yang akan membunuh kaisar dan engkau akan dihukum berat!'"

Kui Bi memandang ketakutan, kemudian sambil menerima bungkusan kecil dari pangeran An Kong, dengan gemetaran dia berkata lirih,

"Hamba mengerti... hamba akan melaksanakan perintah..."

Sesudah Kui Bi mengundurkan diri, Pangeran An Kong dan Bouw Koksu saling pandang. Wajah mereka berseri.

"Hamba kira rencana ini akan berhasil baik, Pangeran," kata Bouw Koksu.

"Selelah Kaisar tewas, paduka dapat mengangkat diri menjadi kaisar baru."

"Akan tetapi bagaimana kalau gadis tadi gagal dan perbuatan itu ketahuan?"

"Aihh, itu hanya soal kecil. Kita tuduh dia mata-mata seperti yang hamba ancamkan tadi. Mana mungkin orang lebih mempercayai omongan seorang dayang dari pada keterangan paduka dan hamba.”

"Bagaimana kalau para pejabat tinggi menolak aku menggantikan ayah?”

"Ada Giok-hong-cu di tangan paduka, Pangeran. Mestika Burung Hong Kemala itu yang akan menentukan sebagai lambang kekuasaan seorang kaisar. Mereka pasti tidak akan ada yang berani menentang paduka kalau paduka memperlihatkan pusaka itu."

Sang pangeran mengangguk-angguk, dan sambil tertawa keduanya meninggalkan taman itu. Mereka tidak tahu bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang tajam mengintai tak jauh dari pondok itu di balik semak bunga. Mata itu adalah mata Sia Su Beng, panglima muda yang tampan dan cerdik itu…..

********************

Di sudut taman itu mereka bertemu. Sia Su Beng dan Kui Bi. Mereka bicara berbisik-bisik. Kui Bi menceritakan semua pembicaraan yang dilakukan dengan Pangeran An Kong dan Bouw koksu.

"Ahh, sungguh kebetulan sekali kalau begitu!" kata Sia Su Beng.

"Ini merupakan kesempatan yang baik sekali untuk membunuh An Lu Shan dengan aman. Sebaiknya kau laksanakan semua perintahnya itu, membantu di dapur sampai di ruangan makan kaisar. Akan tetapi, sesudah engkau melihat kaisar makan sayur beracun itu dan roboh, engkau harus cepat pergi dan masuk ke taman ini."

"Kenapa begitu?"

"Bi-moi, apakah kau sangka Bouw Koksu demikian bodoh dan Pangeran An Kong benar-benar hendak mengangkatmu menjadi permaisuri kalau dia menjadi kaisar? Tidak, Bi-moi. Setelah engkau berhasil membantu mereka membunuh kaisar, engkau justru merupakan bahaya besar bagi mereka karena hanya engkau yang mengetahui rahasia mereka."

Kui Bi mengangguk. "Tentu kemudian mereka akan berusaha menyingkirkan aku, bukan? Engkau benar, twako. Aku pun tak sudi menjadi isteri pangeran yang begitu jahat hendak membunuh ayah kandungnya sendiri. Kalau sudah berhasil aku akan cepat-cepat datang ke sini."

"Begitulah sebaiknya. Aku bakal menyembunyikanmu di antara pasukan, mempersiapkan pakaian seragam untuk kau pakai agar engkau tidak dapat mereka temukan."

Pertemuan itu berlangsung tidak terlalu lama, karena mereka harus bersikap hati-hati dan waspada. Lenyapnya seorang thaikam muda yang tempo hari dibunuh dan dibawa keluar dari taman oleh Sia Beng menimbulkan kecurigaan para pewira istana, akan tetapi karena thaikam itu tidak meninggalkan bekas, mereka lantas menduga bahwa diam-diam thaikam itu melarikan diri dan minggat dari istana, mungkin melarikan barang-barang berharga dari istana…..

********************

Pada malam itu mereka mengadakan pembicaraan yang serius di dalam rumah Hartawan Ji. Mula-mula Cin Han menceritakan tentang pertemuannya dengan Can Kim Hong yang ternyata bukan menjadi lawan yang berbahaya, bukan pembantu Bouw Koksu yang lihai, melainkan juga sorang pendekar wanita yang setia kepada Kerajaan Tang dan ditugaskan gurunya untuk membantu Kerajaan Tang, terutama untuk mencari Mestika Burung Hong Kemala dan menyerahkan pusaka itu kepada baginda Kaisar Beng Ong.

"Kalau memang demikian, sungguh menyenangkan dan menguntungkan perjuangan kita," kata Hartawan Ji dengan sikap ragu, "akan tetapi jika dia hendak melaksanakan perintah gurunya itu, kenapa dia membiarkan saja Mestika Bung Hong Kemala terjatuh ke tangan Bouw Koksu? Kenapa tidak dirampasnya ketika mereka menemukannya?"

"Aku pun tadinya meragu dan menanyakan langsung kepadanya, dan aku mendapatkan keterangan yang sama sekali tidak kita sangka, paman. Menurut Kim Hong, pusaka yang ditemukan Bouw-ciangkun itu adalah Mestika Burung Hong Kemala yang palsu."

"Ahhhh...!"' kata Kui Lan dan Hartawan Ji berseru kaget.

"Ketika menemukan peti berisi pusaka itu, Kim Hong melihat bahwa peti kecil itu bersih tanpa debu dan tidak basah, tanda bahwa kotak itu baru saja ditaruh orang di sana. Juga saat memasuki goa sebagai orang terdepan dia melihat tapak kaki. Maka dia mengambil kesimpulan bahwa sudah ada orang yang mendahului mereka memasuki goa mengambil pusaka aslinya dan menukarnya dengan pusaka yang palsu."

"Aih, kalau begitu semakin sukar untuk mendapatkan benda itu, karena kita tidak tahu lagi siapa yang mengambilnya...," kata Kui Lan kecewa.

"Ada petunjuk dari Kim Hong. Gadis itu memang luar biasa sekali, cantik jelita, lihai sekali ilmu silatnya, cerdik bukan main, baik budinya, dan gagah perkasa..."

"Aihh, aihh... rupanya kakak sedang dimabok asmara!" kata Kui Lan sambil tersenyum.

Cin Han menyeringai. "Mungkin… mungkin sekali, Lan-moi."

"Kongcu, petunjuk apakah yang diberikan gadis itu?"

"Ketika rombongan hendak mengambil pusaka, di tengah jalan mereka bertemu Lan-moi dan hendak menangkapnya. Lalu muncullah seorang pemuda yang seperti sinting. Orang itulah yang dicurigai keras oleh Kim Hong, karena hanya dia yang nampak ketika itu dan dia pun seorang yang aneh dan mencurigakan."

"Ahh…, benar juga! Aku sendiri merasa terheran-heran melihat betapa pemuda sinting itu mempermainkan rombongan dengan sikapnya yang gila-gilaan. Yang aneh adalah ketika buntalan pakaiannya digeledah terdapat sebatang pedang yang baik. Bagaimana mungkin seorang gila membawa-bawa pedang? Akan tetapi dia kelihatan begitu lemah."

"Pendapatmu itu persis sekali dengan pendapat Kim Hong, Lan-moi. Akan tetapi dia tetap curiga dan dia menduga bahwa tentu pemuda itu berpura-pura saja. Apakah engkau tidak melihat sesuatu yang aneh pada diri pemuda itu, Lan moi?"

Gadis itu menggigit-gigit bibir sambil memejamkan mata, membayangkan dan mengingat-ingat kembali peristiwa ketika dia dikeroyok oleh rombongan Bouw-ciangkun itu.

"Seorang pria yang masih muda, dan sinar matanya tajam mencorong, hemm... wajahnya tampan, dan memang dia tidak pantas menjadi orang gila."

"Nah, demikianlah, paman Ji. Sebaiknya kalau paman menyebar teman-teman kita untuk mencari pemuda yang pura-pura gila itu. Lan-moi, engkau yang pernah melihatnya, coba gambarkan bagaimana wajah dan bentuk badannya."

"Bentuk tubuhnya sedang dan tegap mirip tubuhmu, Han-ko. Wajahnya bulat, cerah dan... ehh, tampan. Matanya mencorong dan mulutnya selalu mengarah senyum. Tidak nampak kegilaan pada wajahnya, hanya sikapnya yang membuat orang menganggapnya sinting. Suaranya lantang."

Ji wangwe mengangguk-angguk. "Gambaran itu tidak begitu jelas, akan tetapi kami akan mencoba mencarinya."

"Aku mempunyai berita yang lebih penting lagi, Han-ko dan Paman Ji. Tadi ketika menuju ke sini, aku bertemu kembali dengan Sia Su Beng!"

Cin Han nampak kaget juga, "Kau maksudkan panglima yang diam-diam berpihak kepada Sribaginda Kaisar Beng Ong itu?"

"Benar, dan dia sudah tahu tentang Kui Bi yng menyelundup ke istana. Dia berjanji akan mengamati dan melindungi Kui Bi.”

Ji-wangwe tersenyum. "Maafkan, kongcu dan nona, aku belum memberi tahu tentang dia kepada kalian, sebab urusan ini memang harus dirahasiakan benar, jangan sampai bocor. Panglima Sia Su Beng adalah harapan kita semua sebab pada saatnya yang tepat, dialah yang dapat membantu Sribaginda merebut kembali tahta kerajaan karena kedudukannya sangat penting. Dia seorang panglima yang dipercaya oleh An Lu Shan, juga mengepalai pasukan besar. Karena itu pada saatnya yang tepat dia dapat bergerak dari dalam, lantas bersama pasukannya dia dapat menguasai istana. Syukurlah kalau nona sudah mendapat penjelasan dari dia sendiri."

"Sekarang aku minta agar Paman Ji suka membantu nona Can Kim Hong. Gadis itu sejak kecil sudah ditinggalkan ayah kandungnya, dan sekarang dia dipertemukan dengan ayah kandungnya oleh Bouw Koksu. Akan tetapi dia merasa curiga dan sangsi apakah Can Bu yang menjadi perwira di bawah perintah Panglima Bouw Koksu adalah benar ayahnya.”

"Apa yang dapat kami bantu, kongcu?”

"Coba selidiki siapa sebenarnya orang yang mengaku bernama Can Bu, perwira yang kini tinggal bersama nona Can Kim Hong itu."

Ji-wangwe mengangguk-angguk. Cin Han lalu berpamit kepada adiknya dan Hartawan Ji.

"Lan-moi, engkau tinggal saja di sini membantu Paman Ji dan bersiap membantu kawan-kawan yang bergerak di kota raja. Aku sendiri hendak pergi menemui Sribaginda Kasar di barat, menceritakan semua persiapan kita di sini supaya pasukan beliau dapat dikerahkan untuk menyerbu dan merampas kembali tahta kerajaan."

Pada hari itu juga Cin Han meninggalkan kota raja. Dia menunggang kuda dan melakukan perjalanan cepat ke arah Barat.

Beberapa hari kemudian Hartawan Ji mendapat keterangan dari pembantunya mengenai orang bernama Can Bu yang kini tinggal bersama nona Can Kim Hong yang membantu Bouw Koksu. Dia segera mengundang Kui Lan ke dalam ruangan tertutup.

"Nona, sayang sekali Yang-kongcu telah pergi. Kami telah mendapat berita tentang orang yang mengaku sebagai ayah kandung nona Kim Hong. Ternyata kecurigaannya memang benar, orang itu sama sekali bukan Can Bu, bukan ayah kandung gadis itu. Dia bernama Ciang Kui, seorang perwira yang tadinya merupakan seorang perampok tunggal kemudian ditarik oleh Bouw Koksu menjadi pembantunya."

"Ahh, kasihan Kim Hong..." kata Kui Lan. "Memang sungguh sayang Han-ko sudah pergi. Sebaiknya aku yang menggantikannya untuk memberi tahu kepada Kim Hong."

"Tapi itu berbahaya sekali, nona."

Kui Lan tersenyum lantas menggelengkan kepalanya. "Tidak ada bahayanya, paman. Kim Hong sudah mengenalku. Lagi pula, setelah aku mendengar tentang dia dari Han-ko, jelas bahwa dia adalah teman seperjuangan kita, bukan lagi musuh."

"Maksudku, berbahaya sekali kalau sampai ketahuan Bouw Koksu, Bouw-ciangkun atau anak-buah mereka."

"Aku akan berhati-hati, paman. Lagi pula Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun pun tidak tahu siapa aku. Bila aku tidak melakukan sesuatu yang merupakan pelanggaran, tentu mereka pun tidak akan mengganggu aku."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pergilah Kui Lan meninggalkan rumah Hartawan Ji dan berjalan di jalan raya menuju ke rumah gedung yang menjadi tempat tinggal Bouw koksu. Tentu saja dia tahu benar di mana rumah itu, sebab rumah itu adalah bekas rumah orang tuanya! Di rumah itulah dia dilahirkan dan dibesarkan!

Akan tetapi, ketika dia melewati jalan raya di depan rumah gedung itu, dia melihat betapa rumah itu dijaga ketat seperti penjagaan di depan istana saja. Dia lantas mengambil jalan memutar, melalui jalan kecil di samping gedung dan mendapat kenyataan bahwa di empat sudut tempat itu terdapat sebuah gardu tinggi di mana nampak para penjaga melakukan penjagaan. Bukan main! Akan sukarlah memasuki gedung itu pada siang hari.

Kui Lan berjalan mondar-mandir di depan gedung itu, berharap Kim Hong akan keluar dari gedung sehingga dapat dia jumpai. Akan tetapi harapannya sia-sia sehingga terpaksa dia meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah Hartawan Ji dan mengambil keputusan untuk memasuki gedung bekas tempat tinggalnya itu pada malam hari nanti untuk menemui Kim Hong.

Malam hari itu bulan bersinar terang. Kui Lan mengenakan pakaian serba hitam sehingga gerakannya yang amat gesit itu membuat tubuhnya berkelebatan dan sukar dilihat dalam bayang-bayang pohon ketika dia menghampiri gedung Bouw Koksu dari arah belakang. Ia masih ingat benar bahwa di dekat pagar tembok sebelah kiri belakang tumbuh sebatang pohon yang cabang-cabangnya terjulur ke dekat tembok sehingga akan memudahkan dia memasuki kebun belakang melalui pohon itu.

Ketika melihat bahwa bagian itu cukup gelap, Kui Lan lalu mengayun tubuhnya meloncat ke atas pagar tembok. Hanya sekejap saja tubuhnya hinggap di atas pagar tembok sebab dia segera melanjutkan loncatannya ke dalam pohon itu. Kalau pun ada penjaga di gardu atas, tentu dia tidak akan dapat melihat jelas.

Beberapa menit lamanya Kui Lan berada di pohon itu. Sesudah yakin bahwa gerakannya meloncati pagar tembok tadi tidak menimbulkan akibat apa-apa, berarti tidak ada orang yang melihatnya, barulah dia meloncat turun. Dia menyelinap antara pohon dan semak di kebun itu, memasuki taman mendekati rumah gedung.

Hatinya terharu karena dia merasa seolah-olah kembali ke masa kanak-kanak ketika dia bermain-main bersama kakaknya dan adiknya. Mereka sering kali bermain-main di taman dan kebun ini, bersembunyi dan saling mencari. Dia mengenal setiap semak, setiap pohon di taman itu.

Akan tetapi Kui Lan terlampau memandang rendah Bouw Koksu. Kalau Bouw Hun bekas kepala suku Khitan ini tidak memiliki kecerdikan yang tinggi, tidak mungkin dia akan dipilih An Lu Shan menjadi seorang koksu (guru negara) yang selalu mengatur siasat bagi bekas panglima yang kini menjadi kaisar itu.

Para penjaga di gardu itu rata-rata memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan di antara mereka ada yang merasa curiga melihat kelebatan bayangan hitam di atas pagar tembok. Akan tetapi, sesuai dengan perintah Bouw Koksu, mereka tidak membuat ribut melainkan diam-diam mereka mengamati bayangan itu, membayangi dan melaporkan kepada Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun.

Maka kedatangan Kui Lan itu sudah mereka ketahui dan diam-diam Bouw Koksu bersama puteranya, para pembantunya, tidak ketinggalan Kim Hong yang mereka andalkan, sudah keluar dan mengepung semak-semak di mana Kui Lan bersembunyi.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kui Lan ketika tiba­tiba terdengar bentakan orang di belakangnya.

"Maling kecil, keluar engkau!"

Setelah dia menoleh, dia melihat di belakangnya sudah berdiri lima orang yang dia kenali sebagai Bouw-ciangkun dan Can Kim Hong, lalu seorang lelaki besar hitam brewok yang nampak bengis dan usianya lebih dari lima puluh tahun yang dia duga tentu Bouw Koksu, bersama dua orang lagi yang berpakaian seperti panglima. Dia sudah ketahuan!

Maklum bahwa dia berhadapan dengan banyak orang lihai, maka Kui Lan cepat meloncat keluar lalu menggunakan ginkang-nya untuk melarikan diri. Akan tetapi agaknya Bouw Ki tidak ingin melihat dia lolos, apa lagi setelah melihat bahwa orang yang memasuki taman itu adalah gadis yang pernah mereka jumpai pada saat rombongannya hendak mengambil pusaka Mestika Burung Hong Kemala.

"Kejar! Tangkap!" teriaknya.

Dan mereka semua, termasuk juga Can Kim Hong, langsung berloncatan dan mengepung sehingga kembali Kui Lan terkepung oleh lima orang itu.


"Ayah, inilah gadis yang kami temui ketika mengambil pusaka itu. Kita harus menangkap dia hidup­hidup!" teriak Bouw Ki.

Sejenak Kui Lan saling pandang dengan Kim Hong, lalu dia pun berseru dengan lantang, "Kim Hong, kakak Cin Han minta aku menyampaikan kepadamu. Orang yang mengaku ayah kandungmu itu adalah palsu, namanya Ciang Kui. Engkau telah ditipu mereka!”

Ucapan itu mengejutkan Kim Hong, juga mengejutkan Bouw Hun dan Bouw Ki. Rahasia mereka telah diketahui!

"Maling betina, jangan sembarang bicara! Engkau sudah menghina kami, karena itu harus mati!" bentak Bouw Koksu dan dia pun telah menggerakkan pedangnya yang melengkung dan amat tajam,

"Singgg...!"

Dengan mudah Kui Lan mengelak karena gadis ini sudah memiliki keringanan tubuh yang luar biasa, berkat gemblengan Pek Lian Nikouw kepala kuil Thian-bun-tang. Pedang yang melengkung itu menyambar luput, namun pada saat itu Bouw Ki juga sudah menyerang dengan sebatang pedang melengkung seperti yang dipegang ayahnya.

"Tranggg...!" Kui Lan menangkis dengan pedangnya dan Bouw Ki merasa betapa telapak tangan kanannya tergetar hebat sehingga ha mpir saja pedangnya terlepas.

Dua orang panglima pembantu Bouw Koksu juga telah menyerang dengan pedang mereka dan ternyata mereka itu juga lihai sehingga kini Kui Lan dikeroyok empat orang. Namun gadis ini tidak merasa gentar dan dia sudah memainkan pedangnya dengan ilmu Hong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan), ilmu tongkat tetapi dimainkan dengan pedang. Ilmu ini adalah ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari Kong Hwi Hosiang, ditambah ginkang yang membuat tubuhnya berkelebatan amat cepatnya.

"Kim Hong, cepat bantu kami!" bentak Bouw Koksu berulang kali.

Akan tetapi Kim Hong masih berdiri bengong. Dia terlalu kaget mendengar keterangan Kui Lan tadi bahwa lelaki yang selama ini dianggap ayah kandungnya itu bernama Ciang Kui. Berarti bahwa Bouw koksu telah menipunya! Dia pun tidak ingin melihat adik dari Cin Han celaka tempat itu, maka tentu saja dia tidak mau membantu Bouw Koksu.

Terdengar bunyi peluit dan kentongan, tanda bahwa pasukan keamanan akan berdatangan dan tentu Kui Lan akan dikeroyok banyak orang. Kui Lan mengamuk, pedangnya bergerak bagaikan seekor naga mengamuk di angkasa dan dua orang perwira yang tadi membantu Bouw Koksu, telah roboh mandi darah.

Akan tetapi segera terdengar suara gaduh, dan sedikitnya dua puluh lima orang penjaga berikut beberapa orang perwira datang mengurung kemudian mengeroyok gadis perkasa itu. Biar pun maklum bahwa dia berada dalam bahaya maut, Kui Lan tidak menjadi gentar dan dia sudah mengambil keputusan untuk melawan sampai titik darah terakhir.

Melihat ini Kim Hong lalu mengeluarkan teriakan melengking panjang dan tubuhnya telah berkelebat dan menerjang ke arah pertempuran. Ketika dua tangannya bergerak, nampak dua sinar bergulung-gulung kemudian terdengar teriakan yang disusul robohnya dua orang pengeroyok. Kiranya dia sudah menggerakkan sepasang pedang kecilnya yang lihai, yang ujungnya bertali.

Melihat betapa gadis yang dicinta kakaknya itu sekarang telah membantunya, bangkitlah semangat Kui Lan dan dia pun mengamuk semakin hebat.

"Kim Hong, engkau pengkhianat!" bentak Bouw Koksu. Pedangnya meluncur deras dan menyerang gadis yang tadinya pernah menjadi murid dan anak angkatnya sendiri.

"Trangggg…!"

Pedang itu terpental dan hampir terlepas dari tangannya ketika ditangkis pedang kiri Kim Hong.

"Engkau telah menipuku!" bentak Kim Hong.

"Tidak ada yang menipumu. Dia memang ayahmu! Gadis inilah yang menipumu!" bentak pula Bouw Koksu.

Tentu saja Kim Hong menjadi ragu. Dia hanya mendengar keterangan Kui Lan bahwa pria yang diperkenalkan sebagai ayahnya itu palsu, tetapi apa buktinya? Sementara itu Bouw-ciangkun yang mengepung dan mengeroyok Kui Lan telah berteriak memerintahkan anak buahnya untuk memanggil bala bantuan,

Karena Kim Hong meragu dan menghentikan gerakannya, kini Kui Lan terdesak, dikepung ketat dan dihujani senjata. Walau pun gadis ini sudah mewarisi ilmu silat yang tinggi dan hebat, tetapi dia masih kurang pengalaman dan pihak musuh terlampau banyak. Dia telah merobohkan enam orang pengeroyok, namun dia pun menerima dua kali bacokan pedang yang menyerempet paha dan pundaknya, meski tidak parah tetapi paha dan pundaknya terluka dan berdarah!

Salah seorang di antara para prajurit itu, yang tadi hanya menonton sambil mengacung-acungkan pedangnya, tiba-tiba saja menyerang Bouw Ki. Serangan pedangnya demikian cepat sehingga leher Bouw Ki hampir tertusuk dan ketika pemuda itu mengelak, pedang prajurit itu menyambar ke bawah dan pahanya pun terbacok hingga terluka dan membuat dia berteriak kesakitan kemudian cepat meloncat ke belakang.

"Heii, gilakah kau?!" teriak Bouw Ki.

Prajurit itu tidak peduli, bahkan kini membuang topi prajuritnya lantas mengamuk dengan pedangnya membantu Kui Lan hingga membuat pengeroyokan ketat tadi menjadi buyar. Ketika Kui Lan memandang, jantungnya segera berdebar tegang karena mengenal mata yang mencorong dan bibir yang tersenyum-senyum itu. Tidak salah lagi, dialah si pemuda sinting tempo hari!

"Kau…?!" serunya dan dia pun memutar pedang ke kiri, merobohkan seorang pengeroyok dengan tusukan.

"Nona, kita mundur... cepat kau pergi dulu ke pagar tembok!" kata prajurit itu yang bukan lain adalah Souw Hui San.

Dengan cerdik, tentu saja dengan cara menyogok, akhirnya pemuda ini berhasil diterima sebagai seorang prajurit penjaga keamanan di rumah Bouw Koksu. Dengan cara demikian akan mudah baginya untuk menyelidiki keadaan pembesar ini dan mencari rahasia yang berguna bagi perjuangan para pendukung kerajaan Tang.

Tadi dia merasa bimbang ketika melihat Kui Lan dikeroyok. Akhirnya dia tak tahan melihat gadis yang dikaguminya itu terluka. Karena itu terpaksa dia membuka rahasia dirinya dan membantu. Dia pun segera mengamuk dengan ilmu pedang Gobi-pai yang lihai, membuat Kui Lan tidak terhimpit lagi.

Sementara itu, melihat munculnya pemuda yang juga dikenalnya sebagai pemuda sinting, Kim Hong segera berkelebat meninggalkan tempat itu. Dia percaya bahwa pemuda yang gerakannya sangat lihai itu akan mampu menolong Kui Lan. Dia sendiri cepat memasuki gedung dan menyerbu ke dalam kamar di mana ayahnya berada.

Orang yang mengaku sebagai Can Bu itu terkejut sekali ketika melihat puterinya masuk ke kamar dengan sepasang mata mencorong penuh kemarahan.

”Kim Hong, apa yang terjadi?” tanyanya heran.

Akan tetapi gadis itu melompat dan sekali tangannya bergerak, jari tangan kanannya telah mencengkeram pundak orang itu. Orang yang mengaku sebagai ayahnya itu amat terkejut karena cengkeraman itu membuat pundaknya seperti remuk rasanya.

"Ada apa? Kenapa kau ini?"

"Katakan, namamu Ciang Kui, kan? Hayo mengaku terus terang atau akan kuhancurkan pundakmu!"

Wajah itu berubah pucat. "Aku... aku…”

"Hayo katakan terus terang bahwa engkau bukan ayahku, engkau bukan Can Bu. Awas kalau berbohong, akan kusiksa hingga mati!" cengkeraman pada pundak itu semakin kuat sehingga wajahnya yang pucat kini mandi peluh.

"Aku... aku... hanya di perintah Bouw Koksu...," akhirnya orang berterus terang.

"Keparat busuk!"

Saking marahnya Kim Hong mengerahkan tenaga sinkang yang didapatnya dari ular hitam kepala merah. Hawa beracun yang amat dahsyat keluar dari tangannya memasuki tubuh orang itu melalui pundak dan orang itu hanya menjerit satu kali lalu tewas dengan seluruh tubuhnya menjadi hitam.

Kim Hong mengangkat mayat itu berlari keluar, lalu memasuki taman, melihat Kui Lan dan pemuda sinting itu masih dikepung ketat meski pun keduanya kini sudah sampai di dekat pagar tembok. Nampaknya tidak mudah bagi mereka untuk lolos karena kini sudah datang bala bantuan yang banyaknya tidak kurang dari lima puluh orang.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner