MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-21


Kim Hong mengeluarkan suara melengking panjang dan tubuh tak bernyawa yang sudah kehitaman itu kemudian dia lontarkan ke arah Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun yang ikut mengeroyok Kui Lan dan Hui San.

Bouw Koksu terkejut melihat sosok tubuh melayang ke arahnya. Dia menyambut dengan bacokan pedangnya dan tubuh itu pun roboh.


Ketika dia melihat melalui penerangan obor yang dibawa para prajurit, dia melihat wajah Ciang Kui yang mukanya berubah menghitam dan matanya terbelalak. Tahulah dia bahwa Kim Hong telah mengetahui rahasia kebohongannya.

Kim Hong mengamuk dengan sepasang pedangnya. Sebentar saja gadis ini telah berhasil membuyarkan kepungan dan mendekati Kui Lan. "Kui Lan, engkau sudah terluka, cepat keluar dari sini, aku yang menahan mereka!"

"Aku tidak mau meninggalkan engkau sendiri, Kim Hong!" kata Kui Lan tegas.

Diam-diam Kim Hong kagum, senang sekali mempunyai sahabat seperti Cin Han dan Kui Lan ini, demikian gagah dan setia kawan.

"Kalau begitu, mari kita lari bersama!" katanya dan dia pun mempercepat gerakan kedua pedangnya.

Melihat betapa gadis perkasa itu kini membalik dan membantu musuh, anak buah Bouw Koksu yang sudah tahu akan kelihaiannya menjadi gentar. Kepungan menjadi longgar dan kesempatan itu cepat digunakan oleh Kim Hong, Kui Lan, dan Hui San untuk meloncat ke pohon, lalu dari situ meloncat ke atas pagar tembok dan dilanjutkan meloncat keluar.

Bouw Koksu dan Bouw-ciangkun mengerahkan para prajurit untuk melakukan pengejaran, akan tetapi tiga orang itu telah menghilang dan beberapa menit kemudian mereka bertiga telah berada di dalam rumah Hartawan Ji, dengan aman mereka duduk di dalam ruangan rahasia di mana mereka bicara dengan Hartawan Ji. Tanpa diminta Souw Hui San sudah mengeluarkan obat luka dan menolong Kui Lan yang terluka pundak dan pahanya, dibantu oleh Kim Hong yang membalut luka di paha gadis itu.

Meski pun tiga orang muda itu baru sekarang berkenalan, namun hubungan mereka telah akrab sekali, mereka merasa cocok dan seakan sudah saling berkenalan bertahun-tahun lamanya. Setelah luka-luka pada pundak dan paha Kui Lan diobati, luka yang tidak parah, mereka lalu duduk menghadapi meja dan sambil makan hidangan malam yang disediakan oleh pembantu Hartawan Ji, mereka pun bercakap-cakap.

"Ternyata benar seperti dugaanku tempo hari, engkau hanya berpura-pura sinting," kata Kim Hong kepada Hui San yang tersenyum.

"Aku pun sudah merasa curiga. Mana ada orang sinting yang membawa-bawa pedang bagus?" kata pula Kui Lan.

"Dan engkau melemparkan pedangku membuat dahiku benjol sehingga menyempurnakan penyamaranku, nona Can Kim Hong," kata Hui San tertawa. "Dengan peristiwa benjolnya dahiku itu, Bouw-ciangkun dan yang lain-lain percaya bahwa aku adalah seorang sinting, ha-ha-ha!"

"Siapakah sebenarnya engkau ini? Mengapa engkau dapat muncul mengacau rombongan Bouw-ciangkun ketika mereka mencari pusaka, kemudian bagaimana pula engkau tiba-tiba menjadi seorang prajurit anak buah Bouw-ciangku dan tadi menolongku?"

"Wah, ceritanya panjang, nona Yang Kui Lan."

"Engkau sudah mengenal kami semua, akan tetapi kami tidak mengenalmu! Ini tidak adil. Perkenalkan dulu dirimu baru kita bicara lagi," kata Hartawan Ji yang bagaimana pun juga masih menaruh perasaan curiga terhadap pemuda yang tidak dikenalnya itu.

"Paman Ji Siok, apakah paman dan semua kawan paman tidak dapat mengetahui siapa aku? Dan paman juga tidak mengenal mendiang Paman Souw Lok?"

"Souw Lok? Bukankah pemilik toko yang baru saja meninggal dunia secara aneh tanpa ada yang mengetahui sebabnya itu?" Hartawan Ji memandang penuh perhatian. "Orang muda, agaknya engkau mengetahui tentang diriku dan tentang teman-teman, akan tetapi kami belum mengetahui siapa engkau."

"Paman, jelas dia adalah orang yang telah mengambil Mestika Burung Hong Kemala dan menukarnya dengan yang palsu. Tidak benarkah dugaanku itu, sobat?" tanya Kim Hong.

Kini Souw Hui San menjadi tertegun dan memandang kagum. "Ehh, bagaimana engkau dapat mengetahui hal itu, nona?"

"Tak perlu bertanya, yang jelas sekarang kami telah tahu bahwa engkau yang mengambil Mestika Burung Hong Kemala, karena itu engkau harus menyerahkan kepada kami atau terpaksa kami akan menganggap engkau sebagai musuh," kata pula Kim Hong.

"Sabar dulu, Kim Hong. Aku yakin bahwa saudara ini bukan seorang musuh, dan tentu dia mengambil pusaka itu dengan niat baik. Bukankah engkau juga seperti kami, menentang pemberontak An Lu Shan dan mendukung Kerajaan Tang, sobat?" kata Kui Lan.

"Yang penting, perkenalkan dulu dirimu, orang muda," kata pula Hartawan Ji.

Souw Hui San tertawa. "Aihh, kalian sungguh-sungguh mendesakku. Tiga orang dengan tiga macam tuntutan, akan tetapi hanya nona Yang Kui Lan yang bersikap baik kepadaku. Terima kasih nona"

Wajah Kui Lan menjadi kemerahan, maka dia pun merasa perlu untuk membela diri agar tidak disangka yang bukan-bukan.

"Tentu saja aku bersikap baik kepadamu, sobat, karena bukankah engkau sudah berulang kali berusaha menolongku? Tempo hari, dengan berpura-pura sinting engkau mencegah rombongan Bouw-ciangkun mengeroyokku, kemudian tadi apa bila tidak ada engkau yang menolong, mungkin aku sudah tewas di tangan mereka,"

"Baiklah, aku pun tidak merasa perlu untuk merahasiakan diriku. Namaku Souw Hui San dan mendiang Souw Lok yang mati terbunuh adalah pamanku. Sejak kecil aku berada di pegunungan, menjadi murid para suhu di Gobi-pai. Baru beberapa bulan aku datang ke kota raja, ke rumah paman dan aku melihat bahwa paman Souw Lok yang dahulu bekerja menjadi pembantu Menteri Yang Kok Tiong, sudah berada di kota raja dan menjadi orang kaya yang membuka sebuah toko."

"Bukankah Souw Lok turut pula bersama Menteri Yang mengawal rombongan Sribaginda Kaisar yang mengungsi ke barat?" tanya Hartawan Ji yang banyak mengetahui keadaan di kota raja.

"Benar, paman menceritakan kepadaku bahwa dia pun telah sampai ke Secuan. Di tengah perjalanan itu paman Souw Lok telah membantu Menteri Yang menyembunyikan Mestika Burung Hong Kemala, bahkan oleh Menteri Yang peta dari tempat penyimpanan itu lalu diserahkan kepada Paman Souw Lok dengan pesan bahwa kalau terjadi sesuatu dengan beliau, peta itu harus diserahkan kepada seorang di antara putera-puterinya."

"Ahh, agaknya ayah sudah merasakan sesuatu, seakan dia telah merasa bahwa dia akan tewas dalam perjalanan itu, maka dia menyerahkan peta kepada orang kepercayaannya," kata Kui Lan dengan suara sedih.

"Mungkin juga," kata Ji Siok "Ayahmu adalah seorang yang setia kepada Kerajaan Tang, nona. Sekarang harap lanjutkan ceritamu, Souw-taihiap."

"Wah, sebutan taihiap (pendek besar) itu hanya membuat kepalaku mekar, paman. Sebut saja namaku, Hui San tanpa embel-embel pendekar segala macam. Nah, sesudah tiba di kota raja, paman Souw Lok mempunyai pendapat yang amat berani. Dia pikir bahwa biar pun kecil, terdapat kemungkinan bahwa rahasianya diketahui orang, yaitu bahwa dia telah menerima peta penyimpanan pusaka itu dari Menteri Yang. Oleh karena itu lebih baik dia mengakuinya saja, bahkan berusaha untuk mendapatkan harta dari rahasia itu. Maka dia lalu menjual peta itu kepada Bouw Koksu.”

"Ihhh…!" Kim Hong dan Kui Lan berseru.

"Ahh...!" Hartawan Ji juga mengeluarkan seruan kaget dan tak senang mendengar tentang pengkhianatan Souw lok itu. "Mengapa paman mu melakukan itu?”

"Sabar, paman, dan harap mendengarkan dulu, nona-nona yang kuhormati! Sungguh aku berani mengatakan bahwa paman bukan seorang pengkhianat. Dia melakukan penjualan peta itu dengan dua perhitungan. Pertama, untuk menghilangkan dugaan bahwa dia yang mengetahui mengenai rahasia penyimpanan pusaka itu, dan ke dua, dan hal ini akhirnya menjerumuskannya ke tangan maut, dia ingin mendapatkan harta agar di hari tuanya bisa hidup santai dan cukup. Dia memang menjual peta itu seharga sepuluh ribu tail kepada Bouw Koksu, lalu sesudah menyerahkan peta dia menerima uang muka lima ribu tail yang dia gunakan untuk membeli rumah dan membuka toko, sedangkan yang lima ribu tail lagi akan dia terima setelah pusaka itu bisa diambil. Akan tetapi yang dia berikan adalah peta palsu! Dia pun diam-diam membuatkan pusaka tiruan. Kemudian, ketika aku datang dan dia mengetahui bahwa aku memiliki kepandaian silat, dia menyuruh aku untuk mengambil pusaka yang asli dan menaruh pusaka tiruan ke dalam goa yang disebutkan di dalam peta palsu itu."

"Hemm, ternyata pamanmu itu sangat cerdik, Hui San!" kini hartawan Ji memuji. “Dengan perbuatan itu, selain semua orang akan tahu bahwa pusaka itu berada di tangan Bouw Koksu, juga dia berhasil menyembunyikan pusaka aslinya tanpa ada yang mengetahui, dan dia masih mendapatkan banyak uang lagi!"

"Sayangnya paman Souw Lok tidak tahu betapa licik dan curangnya orang macam Bouw Koksu itu. Setelah semua berhasil baik dan pusaka itu berhasil diambil Bouw Koksu, dia datang mengunjung paman, bukan untuk membayar yang lima ribu tail lagi seperti yang diharapkan paman, melainkan membunuh paman untuk menutup rahasia bahwa Mestika Buru Hong Kemala berada di tangannya. Aku datang terlambat beberapa jam saja, akan tetapi paman masih sempat mengatakan siapa yang membunuhnya. Suatu saat jahanam Bouw Koksu itu pasti akan tewas di tanganku!"

Hening sejenak. Semua orang agaknya tercekam oleh kisah yang diceritakan pemuda itu.

"Ahh, aku mengerti sekarang. Engkau tentu telah mendahului rombongan, lalu mengambil pusaka asli dan memasukkan pusaka palsu ke dalam goa seperti yang disebutkan dalam peta palsu, kemudian engkau menyembunyikan pusaka itu entah dimana dan ketika kami bertemu dengan enci Kui Lan, engkau lalu keluar dan pura-pura sinting untuk mengganggu kami, bukankah begitu?" kata Kim Hong.

Hui San tertawa. "Ha-ha, semua itu benar. Pusaka itu memang lebih dulu kusembunyikan dalam sebuah pohon besar. Karena melihat engkau demikian cerdik, maka aku lalu pergi dan tidak berani sembarang main-main. Orang seperti engkau terlampau berbahaya untuk dipermainkan. Tentu saja aku tidak tahu bahwa engkau sesungguhnya satu golongan dan seperjuangan denganku, nona."

"Souw-toako, kalau begitu pusaka itu sekarang berada di tanganmu?" tanya Kui Lan yang agak ragu ketika menyebut pemuda itu, tetapi melihat sikap yang polos dan bersahaja itu, dia pun menyebutnya toako, sebutan yang akrab.

Hui San tersenyum sambil matanya bersinar-sinar memandang kepada Kui Lan. "Benar, non... ehh, siauw-moi (adik), boleh aku menyebutmu Lan-moi (adik Lan)? Engkau puteri Menteri sedangkan aku anak gunung.”

"Ah, perlukah kita merendahkan diri dan menggunakan banyak peraturan yang tidak layak lagi itu, twako? Katakanlah, sekarang Mestika Burung Hong Kemala itu berada di mana?"

"Kusimpan baik-baik, Lan-moi. Andai kata aku ditawan musuh, disiksa dan dibunuh sekali pun, jangan harap musuh akan dapat memaksaku untuk menyerahkan pusaka itu kepada mereka. Tak seorang pun akan tahu di mana pusaka itu kusembunyikan. Tetapi sekarang sesudah bertemu dengan engkau, aku siap memenuhi pesan mendiang paman Souw Lok untuk menyerahkan pusaka itu kepada seorang di antara para putera mendiang Menteri Yang Kok Tiong. Apakah engkau bersedia menerima pusaka itu dariku?"

"Ahh, aku... apa bedanya kalau berada di tanganmu, twako?"

Hartawan Ji segera berkata, "Memang tidak ada bedanya. Kita semua memiliki kesetiaan yang sama, dan tentu semua bermaksud untuk menyerahkan pusaka itu kembali kepada Sri baginda Kaisar. Karena itu aku mengusulkan, biar pusaka itu tetap disimpan oleh Hui San, tapi dia harus memberi tahukan tempat penyimpanannya kepada nona Kui Lan. Kita semua sedang berjuang, tidak tahu apakah kelak akan dapat lolos dari kematian. Karena itu sebaiknya kalau tempat penyimpanan itu selalu diketahui oleh dua orang "

"Maksudmu agar bila yang seorang meninggal, yang lain harus memberi tahukan kepada seorang sahabat lain lagi?" tanya Hui San.

"Apakah tidak sebaiknya kalau sekarang juga diantarkan ke barat lantas serahkan kepada Sribaginda Kaisar? Pusaka itu sangat dibutuhkan agar dapat mendatangkan kepercayaan dari mereka yang mendukung beliau, bukan?" tanya Kim Hong.

"Dugaanmu tadi benar, Hui San. Pusaka itu teramat penting, karena itu harus selalu kita ketahui di mana tempat penyimpanannya. Dan saat ini tidak perlu kita antarkan ke barat, nona Kim Hong, karena kami mendengar bahwa Sribaginda telah berhasil membujuk para kepala suku di barat untuk membantu pasukan beliau sesudah memperlihatkan Mestika Burung Hong Kemala. Agaknya Sri baginda yang kehilangan pusaka sudah membuatkan pula tiruannya. Jadi sekarang ada tiga buah pusaka, dua yang palsu dipegang oleh Bouw Koksu dan Sri baginda, sedangkan yang asli kita simpan. Kalau saatnya sudah tiba, kita akan serahkan kepada Sri baginda Kaisar."

Semua orang merasa setuju dengan pendapat ini. Hui San menuliskan beberapa huruf di atas kertas, lalu memberikan tulisan itu kepada Kui Lan yang membacanya. Membaca isi tulisan ini Kui Lan tertegun. Betapa berani dan cerdiknya pemuda murid Gobi-pai itu.

Dia sudah menyimpan pusaka itu di tempat yang takkan pernah disangka oleh siapa pun juga, terutama sekali tidak oleh pihak musuh karena pusaka itu berikut petinya ditanam di bawah pohon dekat pagar tembok kebun belakang dari gedung yang kini ditinggali Bouw Koksu Pantas saja pemuda itu dapat menolongnya. Kiranya sedang mencuri masuk dan menanam pusaka itu di bawah pohon yang dia pergunakan untuk memasuki kebun pada malam hari itu.

Memang kelihatan mengkhawatirkan menyimpan pusaka di sana, akan tetapi tempat yang begitu dekat dengan Bouw Koksu justru merupakan tempat yang aman karena tidak akan disangka sama sekali. Gedung itu dapat saja diserbu orang dan seluruh isinya dirampok habis, bahkan boleh jadi gedung itu sendiri dibakar habis. Akan tetapi siapakah yang ingin mengganggu sebatang pohon di sudut kebun? Dia memandang pemuda yang tersenyum itu, kemudian mengangguk dan merobek-robek kertas itu sampai menjadi potongan kecil-kecil.

Kim Hong teringat akan ayah kandungnya yang belum juga dapat dia temukan, maka dia segera bertanya kepada Hartawan Ji, "Paman Ji, engkau sudah berhasil menyelidiki dan mengetahui bahwa orang yang mengaku ayahku itu adalah palsu. Apakah engkau dapat menolongku memberi tahu siapa sebenarnya ayah kandungku yang bernama Can Bu itu dan apakah dia masih hidup? Kalau dia masih hidup, di mana dia sekarang?"

"Pada waktu Yang-kongcu minta kepada kami untuk menyelidiki tentang Ciang Kui yang mengaku sebagai Can Bu, dengan sendirinya kami pun menyelidiki tentang ayah kandung nona itu. Kami bertanya-tanya kepada para prajurit dan perwira yang dulu berada dalam satu kesatuan dengan perwira Can Bu."

"Dan bagaimana hasilnya, paman?” tanya Kim Hong penuh harap.

“Setelah berhasil lolos dari Khitan dan kembali ke kota raja, ternyata ayahmu itu, perwira Can Bu, lantas diangkat menjadi seorang panglima yang membantu Panglima Besar Kok Cu It dan tentu saja dia ikut pula mengawal Sribaginda Kaisar ke barat. Apa lagi karena ayahmu sudah mengenal daerah barat dengan baik, maka tenaganya sangat dibutuhkan Kaisar."

"Jadi ayahku mengawal Sribaginda kaisar ke barat? Jadi benar bahwa ayah kandungku itu masih ada?" wajah gadis itu berseri dan matanya bersinar-sinar. ”Kalau begitu aku akan menyusulnya dan mencarinya ke sana, kemudian aku akan membantunya memperkuat pasukan Sribaginda."

Hartawan Ji mengangguk-angguk. Dahulu sebelum An Lu Shan merebut tahta Kerajaan Tang, hartawan ini sudah bekenja sebagai seorang penyelidik yang cerdik. Karena itu kini dia dapat bekerja dengan tenang tanpa takut dikenal orang, karena dahulu pun tidak ada yang tahu bahwa dia adalah seorang perwira tinggi yang mempunyai jaringan penyelidik. Banyak anak buahnya yang disebar di mana-mana sehingga dia bisa mengetahui dengan baik keadaan di dalam dan di luar istana,

"Memang sebaiknya begitu, nona. Kami kira Sribaginda membutuhkan banyak pembantu yang lihai seperti nona, dan besar sekali harapannya nona akan dapat bertemu dengan perwira Can Bu di sana."

”Kebetulan sekali kakakku Cin Han juga baru saja berangkat ke sana, adik Kim Hong," kata Kui Lan. “Kalau engkau melakukan perjalanan dengan cepat, mungkin engkau akan dapat mengejarnya dan lebih menyenangkan kalau kalian melakukan perjalanan bersama, bukan?"

Wajah gadis itu berubah kemerahan, akan tetapi tak dapat disangkal di dalam hatinya dia merasa girang sekali, Sejak tadi pun dia sudah bertanya-tanya di dalam hatinya mengapa dia tidak melihat Cin Han di situ.

"Aku akan melakukan perjalanan secepat mungkin," katanya, dan dia pun tidak menolak ketika Hartawan Ji menyerahkan seekor kuda kepadanya, berikut beberapa potong perak untuk bekal perjalanan.

Gadis ini meninggalkan rumah gedung Bouw Koksu tanpa membawa apa pun sehingga pakaian pun hanya yang berada di tubuhnya. Dia pun menerima ketika Kui Lan memberi beberapa potong pakaian untuknya, dan memang bentuk tubuh mereka satu ukuran.

Sesudah Kim Hong berangkat meninggalkan kota raja dengan cara sembunyi-sembunyi, yaitu melalui pintu gerbang selatan dengan menyamar sebagai seorang nenek-nenek, dan diantar oleh Ji Siok yang telah menyogok para penjaga agar dibolehkan keluar mengantar bibinya yang telah tua dan sakit­sakitan ke desa, maka Hui San juga meninggalkan rumah Hartawan Ji. Dia pun menyamar karena kini dia juga menjadi seorang buronan.

Dia menghubungi seorang tetangganya dan minta bantuan tetangga itu untuk menjualkan rumah dan toko pamannya. Karena mendapatkan keuntungan besar, tetangga itu dengan senang hati melakukannya dan dala m waktu beberapa hari saja rumah itu sudah terjual sehingga Hui San mempunyai uang dua ribu tail hasil penjualan itu. Seperti Kui Lan, dia pun tinggal di rumah Hartawan Ji.

Pada keesokan harinya, Hartawan Ji menerima seorang tamu dan setelah tamu itu pergi, dia segera mengumpulkan para pembantunya di mana hadir pula Hui San dan Kui Lan. Dari wajah pemimpin jaringan mata-mata itu dapat diduga bahwa ada masalah penting.

"Ada berita penting sekali dari Sia-ciangkun," kata hartawan itu.

"Dari twako Sia Su Beng? Berita apakah itu, paman?" Kui Lan bertanya penuh gairah. Dia tidak tahu betapa diam-diam Hui San mengerling kepadanya dengan penuh perhatian dan menatap wajahnya dalam kerlingan itu.

"Sia-ciangkun memberi kabar bawa usaha nona Kui Bi di istana berhasil mengadu-domba antara An Lu Shan dan puteranya, An Kong. Bahkan An Kong yang disebut pangeran itu mempercayai nona Kui Bi dan minta kepada nona Kui Bi untuk meracuni An Lu Shan…'

"Ahh, itu berbahaya sekali. Bagaimana kalau ketahuan?" kata Kui Lan, mengkhawatirkan adiknya.

"Semuanya telah diatur oleh Bouw Koksu yang mendukung Pangeran An Kong. Malam ini nona Kui Bi berhasil diselundupkan ke dapur dan ditunjuk sebagai seorang dayang untuk melayani kaisar An Lu Shan makan malam menggantikan seorang dayang lain yang sakit. Saat inilah yang akan dipergunakan oleh nona Kui Bi untuk meracuni makanan yang akan disantap kepala pemberontak itu."

"Akan tetapi, tentu akan ketahuan dan adikku akan terancam bahaya," kata pula Kui Lan.

"Menurut pesan Sia-ciangkun, bahaya yang datang justru bukan dari pengikut An Lu Shan melainkan dari Pangeran An Kong dan Bouw Koksu yang mendukungnya. Dari mereka inilah datangnya bahaya yang mengancam nona Kui Bi"

"Akan tetapi bagaimana mungkin Itu, paman?"' tanya Hui San. "Bukankah nona Yang Kui Bi hanya melaksanakan perintah Pangeran An Kong?"

"Menurut Sia-ciangkun, itulah sebabnya keadaan nona Kui Bi terancam bahaya. Sesudah rencana itu dilaksanakan dan An Lu Shan mati keracunan, tentu para pejabat tinggi ingin mencari siapa pelakunya. Dan untuk menutupi kenyataan bahwa An Kong yang meracuni ayahnya, maka tentu mereka akan berusaha untuk menangkap nona Kui Bi dan menuduh dia sebagai pelakunya. Akan tetapi harap jangan khawatir. Sia-ciangkun sudah mengatur kesemuanya. Dia yang akan melindungi nona Kui Bi dan menyelundupkannya keluar, dan kita yang harus membantunya, menerima nona Kui Bi lalu membawanya dengan cepat ke sini."

"Akan tetapi, peristiwa itu tentu akan menimbulkan geger di istana, paman. Apakah tidak akan terjadi keributan yang ditimbulkan oleh mereka yang setia kepada An Lu Shan?"

"Ini pun akan ditanggulangi oleh Bouw-ciangkun yang sudah mempersiapkan pasukannya di luar istana, dan dibantu oleh Sia-ciangkun yang akan bergerak ke dalam istana."

Kui Lan membelalakkan matanya. "Paman Ji, benarkah itu? Rasanya tidak mungkin Sia-toako akan bekerja sama dengan Bouw Koksu, apa lagi membantunya."

"Nona, ini adalah siasat Sia-ciangkun yang bagus sekali. Menghadapi Pangeran An Kong yang didukung Bouw Koksu tidaklah seberat kalau menghadap An Lu Shan. Oleh karena itu, ayah dan anak pemberontak itu sengaja dibiarkan saling hantam. Dan Sia-ciangkun memang sengaja berpihak pada Pangeran An Kong. Kalau An Lu Shan sudah tewas dan para pengikutnya bisa dilumpuhkan, maka kelak menghadapi Pangeran An Kong tidaklah terlalu berat."

Kui Lan mengerti, akan tetapi tetap saja dia mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Dia tahu bahwa Kui Bi bermain api. Tugas yang hendak dilaksanakan adiknya malam ini amat berbahaya. Meracuni An Lu Shan. Membayangkan saja Kui Lan sudah merasa ngeri dan jantungnya berdebar keras.

Bagaimana jika ketahuan sebelum An Lu Shan makan hidangan beracun itu? Bagaimana jika hidangan itu tidak dimakan atau dimakan orang lain sehingga bukan An Lu Shan yang mati tetapi orang lain? Apa yang dapat dilakukan Kui Bi kalau sampai ketahuan? Dia tahu akan keberanian dan kenekatan adiknya itu.

Kalau sampai ketahuan sebelum hidangan dimakan, Kui Bi pasti akan bertindak nekat dan mencoba untuk membunuh saja An Lu Shan. Akan tetapi tanpa adanya bantuan, agaknya mustahil adiknya akan mampu meloloskan diri dengan selamat keluar dari istana kalau dia dikejar-kejar sebagai pembunuh.

Biar pun dia tahu di sana terdapat Sia Su Beng pria yang dikaguminya itu, tetap saja dia masih merasa gelisah. Ketika Ji Siok mengatakan bahwa pertemuan berakhir dan semua orang sudah bangkit, dia sendiri berdiri dan menuju ke kamarnya dengan tubuh lemas…..

********************

Karena memang sudah diatur oleh kaki tangan Bouw Koksu, maka dengan mudah Kui Bi mendapat kepercayaan untuk membantu di dapur, lalu dia menggantikan seorang dayang pelayan di ruangan makan yang sedang sakit. Semua ini sudah diatur oleh Bouw Koksu, melalui kaki tangannya yang banyak terdapat di dalam istana.

Mudah sekali bagi Kui Bi untuk mengetahui sayur masakan mana yang menjadi kesukaan An Lu Shan, kemudian mudah pula dia membawa hidangan itu menuju ke kamar makan, menaruh bubukan racun di dalam masakan. Racun itu tidak mengeluarkan bau, juga tidak ada rasanya, maka tidak akan diketahui bahwa masakan itu mengandung racun.

Akan tetapi hati Kui Bi berdebar juga pada saat An Lu Shan yang berpakaian sebagai raja itu memasuki ruangan makan lalu duduk menghadapi semeja besar penuh masakan yang masih mengepulkan uap yang sedap, ditemani tiga orang selir dan lima orang dayang. Dia melihat selosin prajurit pengawal pribadi yang membawa tombak, berdiri berjajar di pintu ruangan. Dan dia tahu bahwa di luar pintu terdapat pula banyak prajurit pengawal.

Hal ini tidak terlalu mengejutkan hatinya karena sebelumnya Bouw Koksu memang telah memberi tahu kepadanya dan mengatakan bahwa mereka itu adalah pasukan pengawal yang telah menjadi anak buahnya! Yang menjadi pengawal setia dari An Lu Shan hanya terdiri dari dua belas orang pengawal pribadi saja.

Menurut petunjuk Bouw Koksu, kalau nanti An Lu Shan sudah makan dan keracunan, dia harus cepat-cepat menerobos keluar melalui pintu, bila perlu merobohkan para pengawal pribadi yang menghalangi dan kalau sudah tiba di luar, pasukan anak buah Pangeran An Kong atau Bouw Koksu akan melindunginya. Akan tetapi Kui Bi sudah mendapat pesan dan petunjuk lain dari panglima muda yang di kaguminya, yaitu Sia Su Beng.

Menurut Sia Su Beng, sesudah berhasil dia harus melarikan diri melalui jendela ruangan makan itu yang terbuka sehingga tiba di taman di luar ruangan makan, lantas mengambil jalan melalui atas wuwungan menuju ke dalam taman istana yang besar. Di sana Sia Su Beng dan pasukannya akan menyambut dan menyembunyikannya.

Tentu saja dia memilih untuk menaati pesan pujaan hatinya itu, karena menurut Sia Su Beng, bila dia menaati petunjuk Bouw Koksu, dia seperti seperti burung masuk kurungan, akan ditangkap dan besar sekali kemungkinan dituduh sebagai pembunuh tunggal An Lu Shan kemudian akan dijatuhi hukuman berat.

Ruangan makan itu luas sekali. Di sudut ruangan, dekat dinding, para dayang ahli musik telah memainkan yangkim dan suling, dan ada pula yang bernyanyi dengan suara lembut dan merdu. Meja makan itu sendiri berbentuk bundar dan An Lu Shan duduk di atas kursi istimewa, dikelilingi para dayang. Sedangkan tiga orang selirnya duduk di kanan kiri dan depannya.

Masakan kesukaannya adalah kaki biruang yang dimasak dengan rebung (bambu muda). Inilah masakan kegemarannya pada saat dia menjadi panglima pasukan di utara, di mana terdapat banyak biruang. Biar pun kini dia berada di selatan dan kaki biruang merupakan bahan masakan yang langka dan karenanya mahal sekali, dia tetap minta dicarikan kaki biruang. Masakan inilah yang tadi dihidangkan Kui Bi di atas meja, paling dekat dengan kursi sang kaisar baru.

Supaya tidak menarik perhatian, dalam kesempatan ini Kui Bi tidak berdandan. Dia hanya berperan sebagai pelayan yang mengambilkan masakan dari dapur dan ketika sang kaisar makan bersama selirnya sambil dilayani oleh lima orang dayang, tugasnya hanya berdiri di samping bersama ketiga orang rekannya, dan menunggu perintah para dayang pelayan kalau­kalau dibutuhkan bumbu atau masakan tambahan.

An Lu Shan terlihat gembira ketika duduk di depan meja makan. Perutnya terasa semakin lapar ketika dia mencium bau masakan khas kegemarannya yang berada paling dekat di depannya. Dia menerima suguhan arak dari selir yang duduk di sebelah kanannya, minum dengan sekali tuang dari cawannya, lalu menerima sepasang sumpit yang disodorkan selir yang berada di sebelah kirinya.

Diam-diam Kui Bi mengikuti semua gerakan kaisar dengan jantung berdebar tegang. Akan berhasilkah usahanya dalam melaksanakan perintah Pangeran An Kong? Sedikit pun dia tidak menyesal melaksanakan perintah meracuni An Lu Shan, karena andai kata perintah itu tidak ada sekali pun, dengan segala kenekatannya ia akan mencari kesempatan untuk membunuh orang yang sudah mengakibatkan ayah ibunya meninggal ini, menyebabkan keluarganya berantakan dan Kerajaan Tang jatuh.

Agaknya perhitungan Bouw Koksu dan Pangeran An Kong memang tepat. Tanpa melihat ke arah masakan lain, sepasang sumpit di tangan An Lu Shan langsung saja ditujukan ke arah masakan kaki biruang itu, kemudian sepasang sumpit itu menjepit sepotong daging kaki biruang dan dimasukkan ke dalam mulutnya.

Nampak sedap dan nyaman sekali dia mengunyah daging kaki biruang yang bergajih itu. Memang tukang masak sudah mendapat pesan dari Pangeran An Kong sendiri agar hari itu memasak kaki biruang yang seenak­enaknya. Bahkan dia pun sudah memerintahkan untuk mencarikan kaki biruang yang masih muda agar terasa lebih lunak dan lezat.

Makin tegang rasa hati Kui Bi ketika An Lu Shan terus saja makan masakan itu dengan sumpitnya, hanya diselingi minum arak dengan sekali dua kali tegukan. Agaknya tidak ada pengaruh apa­apa! Kaisar makan dengan lahapnya dan belum menyentuh masakan lain. Timbul perasaan gelisah di dalam hati Kui Bi kemudian dia pun mengingat-ingat.

Tidak salahkah dia tadi menaruhkan racun itu? Jangan-jangan dia keliru memasukkan ke dalam masakan lain! Namun rasanya tidak mungkin. Dia yakin benar sudah menuangkan racun itu ke dalam masakan kaki biruang itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner