MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-23


"Ehh? Mengapa melamun dan memandang saja ke arah perginya Sia-ciangkun bersama pasukannya? Wah, agaknya kau merasa kehilangan sesudah ditinggalkan panglima yang gagah itu, ya?" Hui San menggoda.

Kui Lan membalik, lantas memandang pemuda itu dengan alis berkerut dan mata marah. "Souw-twako, aku tahu bahwa engkau hanya main-main, akan tetapi jangan keterlaluan kalau main-main. Engkau tahu sendiri betapa adikku Kui Bi saling mencinta dengan Sia-ciangkun, bagaimana engkau sekarang berani menggodaku seperti itu?"

"Maaf, seribu kali maaf, Lan-moi. Tadi aku aku hanya main-main. Habis, engkau nampak melamun seperti itu, bukannya cepat-cepat mulai melakukan perjalanan kita yang sangat jauh ke barat!"

Karena pemuda itu minta maaf dengan wajah yang sungguh-sungguh untuk menyatakan penyesalannya, Kui Lan yang lembut hati sudah melupakan singgungan itu.

"Twako, aku tidak akan pergi ke barat."

"Ehh?" Wajah yang tadinya penuh senyum itu kini terbelalak dan melongo.

"Apa maksudmu? Kenapa, Lan-moi?"

Di dalam sinar mata pemuda itu terbayang sesuatu yang membuat hati Kui Lan mengkal lagi. Pandang mata cemburu!

"Kenapa kau masih bertanya lagi? Twako, bagaimana mungkin aku pergi dan membiarkan adikku sendirian saja kembali ke kota raja?"

"Aihh, bukankah kita semua sudah membagi tugas, Lan­moi? Dan adikmu tidak kembali ke sana sendirian, melainkan bersama Sia-ciangkun yang dicintanya. Sia-ciangkun akan melindunginya, maka kukira engkau tidak perlu khawatir."

"Bukan hanya karena adikku Kui Bi saja, twako. Juga kita tidak mungkin pergi ke barat dengan meninggalkan sesuatu yang teramat penting. Apakah engkau lupa bahwa Mestika Burung Hong Kemala masih berada di kebun rumah yang sekarang ditempati oleh Bouw Koksu? Hanya kita berdua yang mengetahui tempat itu, bagaimana mungkin kita berdua pergi meninggalkan pusaka itu di sana? Tidak, twako. Sebaiknya kita membagi tugas lagi. Engkau saja yang pergi ke barat dan melapor kepada Sribaginda dan kakakku Cin Han, sedangkan aku akan kembali ke kota raja. Kalau ada kesempatan, aku akan mengambil Mestika Burung Hong Kemala itu dan setelah aku mendapatkan pusaka itu, barulah aku akan menyusul ke barat. Apa artinya kita menghadap Sribaginda di barat kalau kita tidak membawa pusaka itu?"

Hui San mengerutkan alisnya, wajahnya yang tampan kehilangan kecerahannya. Sejenak kemudian dia mengangguk-angguk, "engkau memang seorang gadis yang sangat hebat, Lan-moi. Engkau cantik jelita, lembut, lihai dan juga cerdik bukan main. Aku benar-benar kagum! Mari kita kembali ke kota raja. Engkau benar sekali!"

"Kita? Maksudku kita membagi tugas, engkau tetap melanjutkan perjalanan ke barat dan aku kembali ke kota raja..."

"Tidak mungkin aku membiarkan engkau kembali seorang diri ke kota raja, Lan-moi. Aku belum sinting! Ke mana pun engkau pergi, aku harus menemani, Lan-moi... yaitu... kalau engkau suka tentu saja. Aku tidak ingin engkau terancam bahaya, hidupku tidak akan beres lagi kalau kita berpisah dan aku selalu mengkhawatirkan keselamatanmu."

Kui Lan menatap wajah pemuda itu. Wajah yang tampan dan selalu nampak riang, dihias senyum yang sukar meninggalkan bibir itu, dan sepasang mata yang selalu memandang jenaka, wajah yang nampaknya tidak bisa susah, tidak bisa marah dan tidak bisa serius. Baru sekarang, atau sejak hatinya melepaskan Sia Su Beng karena perwira itu mencinta dan dicinta adiknya, dia memperhatikan pemuda ini.

"Souw-twako, kita baru saja berkenalan, kenapa engkau begini memperhatikan aku?"

"Baru berkenalan? Aihh, Lan-moi, semenjak aku berpura-pura sinting menganggu dahulu itu, aku merasa sudah mulai mengenalmu dengan baik, dan biar pun akhirnya kita belum berkenalan, namun dalam batinku, engkau telah menjadi seorang sahabatku terbaik."

"Tapi mengapa engkau begini mempedulikan aku, mengkhawatirkan keselamatanku? Kita tidak mempunyai kaitan apa pun, hanya orang lain dan tidak ada hubungan apa-apa..."

"Lan-moi, bukankah kita sama-sama berjuang untuk kebangkitan kembali kerajaan Tang? Kita seperjuangan! Walau pun bagimu di antara kita tidak ada kaitan apa pun, bagiku ada kaitan yang erat sekali. Lan-moi, maafkan aku bila aku berterus-terang kepadamu. Sejak aku melihatmu, aku aku tahu bahwa hidupku tidak ada artinya lagi tanpa adanya engkau di dekatku. Aku... agaknya seperti inilah rasanya cinta seperti yang pernah kubaca dalam dongeng, yakni kalau boleh aku lancang mulut mengaku cinta padamu..."

Pemuda yang biasanya lincah jenaka dan pandai bicara itu kini mendadak saja menjadi gagap gugup dan salah tingkah, bahkan tidak berani memandang langsung kepada gadis itu!

Melihat ini Kui Lan lantas tersenyum geli. Betapa mudahnya untuk menyukai pemuda ini, pikirnya. Memang tidak seperti Sia Su beng yang gagah dan berwibawa, juga mempunyai kekuasaan. Akan tetapi Souw Hui San ini tidak kalah tampan walau nampak ugal-ugalan dan sederhana. Juga ia merasa yakin bahwa dalam hal ilmu silat, pemuda murid Gobi-pai ini tak kalah lihai dibandngkan Sia Su Beng. Akan tetapi baru saja dia seperti kehilangan Sia Su Beng, mengalah terhadap adiknya, bagaimana dia dapat begitu cepat membalas cinta seorang pemuda ini?

"Souw-twako, engkau adalah seorang yang gagah dan baik sekali, bahkan telah berulang kali menolongku. Terima kasih atas perhatianmu kepadaku. Tapi, twako, dalam keadaan seperti sekarang ini, di mana tugas menanti kita, bagaimana kita dapat berbicara tentang perasaan hati pribadi kita? Maafkan kalau aku belum dapat menanggapi dan menjawabmu sekarang. Akan tetapi aku senang sekali bekerja sama denganmu, twako. Kalau memang engkau menghedaki kita kembali bersama ke kota raja, demi adikku dan demi pusaka itu, maka aku pun akan merasa senang sekali."

Wajah itu menjadi segar kembali, sepasang matanya berkilat dan bersinar-sinar, mulutnya dihiasi senyumnya yang riang. "Wahh, apa lagi yang kuinginkan? Kalau memang engkau tidak marah oleh ucapanku tadi, dan kalau engkau membiarkan aku menemanimu, hal itu sudah merupakan berkah yang membahagiakan hatiku, Lan-moi. Engkau benar, aku yang lancang mulut, belum tiba saatnya kita bicara mengenai... ehh, itu...! Mari kita kembali ke kota raja!"

Akan tetapi tiba-tiba saja mereka menghentikan percakapan dan memandang arah barat. Telinga mereka menangkap derap kaki kuda yang datangnya dari arah barat. Tidak lama kemudian, muncul dari balik tikungan jauh di depan, nampak dua orang penunggang kuda sedang membalapkan kuda mereka. Debu mengepul tinggi ketika dua ekor kuda besar itu semakin mendekat.

"Heiii… itu Han-koko!" kata Kui Lan.

"Benar, dan bukankah itu nona Can Kim Hong?" teriak pula Hui San.

Karena tadinya mereka sengaja bersembunyi di balik pohon karena curiga dan belum tahu siapa yang datang, kini mereka pun cepat keluar lalu berteriak-teriak memanggil.

"Han-koko! Heii, Han-koko..!”

"Nona Kim Hong...!"

Mendengar panggilan mereka, dua orang penunggang kuda yang tadinya sudah lewat itu cepat menahan kuda yang sedang membalap. Kuda berhenti dengan mengangkat kedua kaki depan ke atas sambil meringkik sebab penunggangnya menahan tali kendali. Mereka membalik dan melihat Kui Lan dan Hui San.

"Lan-moi...! Saudara Hui San...!" Cin Han berseru gembira melihat mereka berdua.

Dia dan Kim Hong segera berlompatan turun dari atas kuda, menambatkan kuda di pohon kemudian mereka pun disambut oleh Hui Lan dan Hui San dengan gembira sekali. Empat muda-mudi itu kini sudah duduk di atas batu di tepi jalan itu.

"Eh, kenapa kalian berdua berada di sini? Dan mana Kui Bi? Apa saja yang terjadi di kota raja?" Cin Han bertanya.

Dihujani pertanyaan seperti itu, Kui Lan pun tersenyum. "Wah, banyak sekali yang terjadi di sana, koko. Tadi baru saja Bi-moi ikut pasukan Sia-ciangkun kembali ke kota raja, dan kami pun hendak kembali ke sana. Kau tahu, Han-ko, Bi-moi telah berhasil membunuh An Lu Shan!"

"Ahhh...!" Kim Hong dan Cin Han berseru hampir berbareng karena mereka terkejut dan juga gembira mendengar berita itu.

"Bukan main adik kita itu! Ia memang penuh keberanian. Ceritakan, bagaimana terjadinya, Lan-moi?" tanya Cin Han.

Kui Lan dan Hui San lalu menceritakan tentang semua yang terjadi, betapa Kui Bi berhasil menyusup sebagai dayang, kemudian ia malah dipergunakan oleh Pangeran An Kong dan Bouw Koksu untuk meracuni An Lu Shan. Kemudian mereka menuturkan betapa mereka semua bisa diselundupkan keluar dari kota raja dengan menyamar sebagai prajurit­prajurit dalam pasukan Sia Su Beng.

"Ah, bagus sekali kalau begitu! Dan di mana Bi­moi sekarang? Aku ingin memberi selamat atas keberhasilannya!" kata Cin Han gembira dan bangga karena adiknya sudah berhasil membunuh An Lu Shan, hal ini merupakan suatu jasa yang amat besar.

"Setelah pasukan yang dipimpin Sia Su Beng sampai di sini dan kami dianjurkan pergi ke barat, Bi-moi tidak mau ikut dengan kami dan memaksa hendak ikut Sia Su Beng kembali ke kota raja. Kau tahu, koko, adik kita itu tidak dapat berpisah dari Sia Su Beng, mereka berdua saling mencinta.”

Cin Han mengangguk-angguk. Ia tak merasa heran. Sia Su Beng adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, juga seorang pendekar dan seorang pejuang yang setia kepada Kerajaan Tang. Sudah sepantasnya kalau pemuda seperti itu mendapatkan kasih sayang Kui Bi.

"Dan kalian hendak melakukan jalan ke barat?'" tanyanya sambil memandang kepada Hui San.

Kui Lan memandang kepada Hui San dan pemuda ini yang menjawab sambil tersenyum.

"Tadinya memang kami akan menyusul ke barat, akan tetapi kami berdua lalu mengambil keputusan untuk kembali saja ke kota raja setelah keadaan aman. Pertama, adik Kui Lan tidak tega meninggalkan adiknya di kota raja yang masih berbahaya ini, dan ke dua, kami juga tidak mungkin meninggalkan Mestika Burung Hong Kemala yang kami sembunyikan itu. Kami harus mengambilnya dulu dan mengeluarkannya dari kota raja."

"Kalau begitu bagus sekali. Kami juga hendak ke kota raja. Kita semua harus membantu Sia-ciangkun dan juga adik Kui Bi," kata Cin Han.

"Koko, bagaimana engkau dan enci Kim Hong dapat cepat kembali ke sini? Bagaimana keadaan di barat sana?" tanya Kui Lan dan sekarang giliran Cin Han dan Kim Hong yang menceritakan pengalaman mereka.

"Di sana juga telah terjadi banyak hal, tetapi yang paling penting adalah bahwa sekarang Sribaginda Hsuan Tsung telah menyerahkan mahkota kaisar kepada Pangeran Mahkota, sehingga yang menjadi kaisar adalah Kaisar Su Tsung. Kami telah menghadap kaisar dan bertemu dengan Panglima Kok Cu It. Kami melaporkan semua yang sudah terjadi di kota raja. Biar pun Panglima Kok Cu It juga sudah banyak mendengar laporan dari para mata-mata yang dikirim ke sana, tetapi laporan kami banyak gunanya, terutama tentang usaha Bi-moi menyusup ke istana untuk membunuh An Lu Shan. Kaisar dan panglima Kok amat menghargai bantuan kita.”

"Bagaimana dengan kekuatan pasukan kerajaan Tang di barat?" tanya Hui San.

"Baik sekali, Panglima Kok Cu It dan Kaisar telah berhasil menghimpun kekuatan di sana. Dengan menunjukkan Mestika Burung Hong Kemala, yang kita ketahui adalah palsu akan tetapi tidak diketahui oleh para kepala suku di barat, mereka berhasil mendapat bantuan rakyat berbagai suku. Baik pribumi Han sendiri, mau pun suku-suku lain, dibantu pula oleh bangsa Turki. Bahkan ada pasukan yang dikirim oleh kepala bangsa itu, yaitu Caliph yang mengirimkan sepasukan bangsa Arab untuk membantu gerakan pasukan Kerajaan Tang yang hendak merebut kembali tahta kerajaan yang telah dirampas An Lu Shan."

"Ahh, bagus sekali kalau begitu, kapan mereka bergerak?" tanya Hui San.

"Mereka sudah siap bergerak, oleh karena itu kami diperintahkan untuk mendahului agar dapat mempersiapkan bantuan bersama Sia-ciangkun.”

"Enci Hong, bagaimana dengan usahamu mencari ayah kandungmu? Apakah berhasil?" tanya Kui Lan.

Kim Hong tersenyum manis dan mengerling kepada Cin Han. "Berkat bantuan kakakmu, aku berhasil bertemu dengan ayah kandungku yang asli. Ayahku memang bernama Can Bu dan sampai kini dia masih seorang perwira kepercayaan Panglima Kok Cu It."

"Wah, ayahnya seorang perwira yang gagah perkasa, sama sekali tidak seperti Ciang Kui yang mengaku-aku ayahnya itu!" kata Cin Han tertawa. "Ayahnya seorang perwira yang lihai, juga setia kepada kerajaan. Aku ikut merasa bangga dan kagum dapat bertemu dan berkenalan dengan ayahnya"

"Maksudmu dengan calon ayah mertuamu, koko?" Kui Lan menggoda.

"Ihhh, Kui Lan!" Kim Hong mendengus dan mukanya berubah kemerahan.

Cin Han hanya tersenyum sambil mengeling ke arah Hui San. Biar pun dia belum jelas, namun dia dapat menduga bahwa adiknya ini pun agaknya akrab dengan pendekar muda Gobi-pai ini. Namun dia tahu bahwa watak Kui Lan halus dan pendiam, tidak seperti Kui Bi, maka tidak baik menggoda adiknya yang satu ini.

"Sudahlah, sekarang kita berempat berangkat ke kota raja, tetapi harus diatur bagaimana baiknya karena sesudah terjadi peristiwa pembunuhan An Lu Shan, tentu di sana dalam keadaan geger dan kota raja pasti dijaga ketat sekali," kata Cin Han.

"Memang sebaiknya kita berhati-hati," kata Hui San. "Kita bersembunyi dulu di luar kota raja sambil mencoba untuk menghubungi Sia-ciangkun. Hanya dia yang dapat mengatur apa yang harus kita lakukan untuk membantunya di kota raja."

"Benar, tanpa petunjuk Sia-ciangkun maka sukarlah bagi kita untuk memasuki kota raja," kata Kui Lan.

Demikianlah, empat orang muda-mudi itu lalu menunggang kuda mereka menuju ke kota raja. Namun mereka tidak langsung memasuki kota raja yang terjaga ketat seperti yang mereka sangka, melainkan berhenti di sebuah dusun yang berada sekitar dua puluh li dari kota raja.

********************

Laki-laki petani berusia lima puluhan tahun itu tidak diganggu oleh para penjaga di pintu gerbang ketika dia memasuki pintu gerbang sambil memikul dagangannya, yaitu sepikul buah apel yang besar-besar dan menyiarkan bau harum. Para penjaga hanya memungut beberapa butir buah apel sambil tertawa-tawa.

Petani itu tidak peduli. Dia sudah biasa membawa barang dagangan buah-buahan atau sayuran ke dalam kota dan sudah biasa pula kalau ada anggota penjaga yang mengambil beberapa butir buah atau beberapa ikat sayuran. Akan tetapi dia tidak diganggu dan pada pagi hari ini, hal itu memang amat dia harapkan.

Tidak seperti biasanya, sekali ini diam-diam jantungnya berdebar keras karena tegangnya. Pagi ini si petani tidak seperti biasanya menjual buah-buahan, melainkan membawa tugas yang amat penting, tugas rahasia yang kalau sampai ketahuan penjaga di pintu gerbang kota raja, pasti akan mengakibatkan dia dihukum siksa sampai mati!

Dia adalah seorang petani dusun di luar kota raja yang biasa berjualan sayur dan buah ke kota, akan tetapi biar pun dia hanya seorang petani biasa, namun dalam hatinya dia setia terhadap Kerajaan Tang. Hal ini diketahui oleh Cin Han, Hui San, Kui Lan dan Kim Hong setelah empat orang muda ini tinggal selama beberapa hari di dusun itu.

Setelah yakin bahwa A-cauw, petani itu, bisa dipercaya dan setia kepada Kerajaan Tang, Cin Han lalu menitipkan sepucuk surat kepada A-cauw dengan pesan agar surat itu dapat disampaikan kepada Panglima Sia Su Beng. Dia harus mengunjungi benteng dan minta bertemu dengan panglima itu, dengan alasan bahwa dia mempunyai laporan penting yang harus disampaikan kepada panglima itu sendiri mengenai keamanan kota raja. Sesudah berhadapan dengan Sia-ciangkun, dia harus menyerahkan surat titipan Cin Han itu.

Biar pun beberapa kali ada orang yang hendak membeli buah­buahan yang berada dalam keranjang pikulannya, namun A-cauw tidak menjualnya. Dengan pikulan keranjang penuh buah, tidak akan ada yang mencurigainya biar pun dia berjalan sampai ke depan benteng yang dimaksudkan. Dia sengaja menghampiri penjaga gardu depan pintu benteng, lantas menurunkan pikulannya.

"Heii, penjual buah! Jangan menawarkan buah-buahanmu di sini, dan jangan berhenti di sini. Itu dilarang!"' kata seorang penjaga kepadanya.

Dengan capingnya yang lebar A-cauw mengipasi tubuhnya yang berkeringat dan dia pun berkata dengan sikap takut­takut akan tetapi hormat, "Saya mohon menghadap Panglima Sia Su Beng. Harap suka memperkenankan saya menghadap beliau. "

Para penjaga memandangnya dengan alis berkerut.

"Hemmm, engkau ini petani penjual buah, mau apa minta bertemu dengan Panglima Sia? Apakah hendak menghadiahkan dua keranjang buah itu? Jangan macam-macam engkau, atau kau akan di tangkap!"


"Saya tidak berniat jahat, saya mohon menghadap karena saya ingin melaporkan sesuatu yang teramat penting dan yang hanya boleh didengar oleh beliau sendiri."

"Hemmm, engkau jangan mengigau! Seorang petani seperti engkau ini bagaimana dapat menghadap Panglima? Kalau memang ada urusan, laporkan saja kepada kami dan kami yang akan meneruskan kepada beliau. Jangan kurang ajar kau!"

Dibantah seperti itu A-cauw tak menjadi gugup sebab sebelumnya dia telah diperingatkan Cin Han kalau-kalau dibentak seperti itu.

"Harap saudara sekalian ketahui bahwa dahulu Panglima Sia Su Beng adalah langganan saya, sering membeli sayur dan buah-buahan dari saya. Saya mengenal baik beliau dan apa yang akan saya sampaikan ini mengenai urusan keamanan di kota raja. Kalau kalian tidak mau menghadapkan saya kepada beliau dan kelak beliau mengetahui, tentu kalian akan mendapat kesalahan besar sekali."

Digertak malah balik menggertak! Kalau tidak mendapat pelajaran dari Cin Han, tentu saja seorang petani semacam A­cauw mana mungkin berani menggertak para prajurit penjaga? Mendengar ucapan itu, para prajurit saling pandang dan merasa gentar juga.

Mereka semua maklum betapa kerasnya Panglima Sia Su Beng terhadap ketertiban, dan panglima itu memang selalu menghargai rakyat jelata, tidak pernah congkak seperti para panglima lainnya. Karena itu dengan kasar mereka minta agar A-cauw menanti sebentar.

Setelah ada yang melapor, A-cauw diperkenankan masuk. Sambil berterima kasih petani itu berkata, "Terima kasih atas kebaikan kalian dan untuk membalas kebaikan itu, silakan kalau ada yang mau mencicipi buah apel saya. Dihabiskan pun boleh!"

Ia pun meninggalkan keranjangnya dan tanpa diminta untuk ke dua kalinya, para penjaga yang sedang keisengan itu lalu menyerbu dua keranjang apel. Kawan-kawan mereka yang berada di dalam ikut-ikutan keluar dan sebentar saja isi dua keranjang sudah habis!

Panglima Sia Su Beng merasa heran bukan main menerima laporan bahwa ada seorang petani penjual apel bernama A­cauw hendak mohon menghadap. Akan tetapi karena dia memang mempunyai hubungan dengan para pejuang, para pendukung kerajaan Tang, dan menduga bahwa yang datang tentulah seorang kurir dari para pejuang yang berada di luar kota raja, maka dia bersikap biasa saja.

"Suruh dia masuk ke sini."

Sesudah A-cauw memasuki ruang tertutup itu, dan setelah melihat di situ tidak ada orang lain kecuali Panglima Sia Su Beng yang mudah dikenalinya dari penggambaran Cin Han kepadanya, A-cauw lalu berkata lirih sekali,

"Saya datang disuruh Yang-kongcu."

Sia Su Beng terkejut, segera melihat ke sekeliling lantas memberi isyarat kepada A-cauw untuk memasuki sebuah kamar samping di mana mereka dapat berbicara dengan lebih bebas tanpa khawatir diketahui orang lain.

A-cauw menyerahkan surat dari Cin Han yang disimpan dengan hati-hati di balik bajunya. Sia Su Beng cepat membaca surat yang tidak ditandatangi itu. Hanya ditulis bahwa Han, Lan, San, dan Hong ingin dijemput. Hanya itu. Andai kata surat itu jatuh ke tangan orang lain pun, tentu tidak akan tahu maksudnya karena tanpa tanda tangan juga tidak ditujukan kepada siapa pun.

"Di mana mereka?" tanya Sia Su Beng.

"Di dusun sebelah timur kota, ciangkun. Dua puluh li dari sini."

"Baik, katakan kepada mereka bahwa aku akan segera datang." Ketika A-cauw hendak keluar, Sia Su Beng menahannya. "Kalau ada yang bertanya, katakan saja bahwa engkau melaporkan adanya gerombolan yang mencurigakan di sebelah selatan kota."

A-cauw mengangguk, kemudian ke luar. Dia disambut seorang petugas jaga di luar dan penjaga ini lalu mengantarkannya kembali ke pintu gerbang benteng.

"Heii, A-cauw, buah-buahan di dalam keranjang itu telah habis kami makan!" kata kepala jaga.

"Tidak apa, ciangkun. Memang itu untuk kalian. Terima kasih, saya hendak pulang."

"A-cauw, apa sih yang kau laporkan kepada komandan kami? Nampaknya rahasia benar!"

"Ah, sebetulnya bukan rahasia, hanya saja aku takut kepada gerombolan itu. Aku melihat ada gerakan mencurigakan dari segerombolan orang di selatan kota raja. Karena aku tahu bahwa langgananku Sia-ciangkun adalah seorang panglima, maka aku melaporkan hal Itu padanya. Aku takut kalau gerombolan itu tahu aku melaporkan, aku akan dibunuh. Sudah, aku ingin cepat pulang. Aku sudah mendapat hadiah dari Sia­ciangkun," katanya dan dia pun memikul keranjang kosongnya meninggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian para penjaga pintu gerbang benteng melihat Sia-ciangkun memimpin kurang lebih lima puluh orang prajurit berserabutan naik kuda keluar dari benteng. Tanpa diberi tahu sekali pun, para penjaga itu dapat menduga bahwa ini tentu ada hubungannya dengan laporan A-cauw tadi dan kini agaknya sang panglima hendak memimpin sendiri pasukannya untuk menumpas gerombolan.

Di pintu gerbang kota raja pun, para penjaga memberi hormat kepada Sia Su Beng yang bersama pasukannya keluar dari pintu gerbang. Kurang lebih lima puluh orang prajurit itu berkuda secara tak teratur, bukan merupakan barisan rapi. Agaknya mereka tergesa-gesa dan tidak membentuk barisan sehingga sukarlah andai kata ada yang hendak menghitung berapa jumlah regu prajurit itu.

Sia Su Beng sengaja keluar dari pintu gerbang sebelah selatan, namun sesudah regunya meninggalkan pintu gerbang sejauh beberapa li, dia membelokkan pasukannya ke kanan, ke arah timur kota raja! Ketika tiba di luar dusun, empat orang muda itu telah menghadang di tempat sepi.

Sia Su Beng bersama seorang prajurit yang bertubuh kecil ramping melompat turun dari atas kuda, kemudian menghampiri mereka. Kui Bi yang berpakaian prajurit itu langsung bergantian merangkul kedua orang kakaknya saking girangnya dapat bertemu kembali.

"Bi-moi, kau hebat!" kata Cin Han gembira. Kemudian kepada Sia Su Beng dia berkata, "Ciangkun, terima kasih atas segala kebaikanmu terhadap kedua orang adikku, terutama kepada Bi-moi."

Pasukan itu terdiri dari orang-orang kepercayaan Sia Su Beng, dan mereka semua adalah orang-orang yang setia kepada kerajaan Tang. Mereka semua sudah mengetahui tentang rahasia Sia Su Beng, juga tahu siapakah empat orang muda itu, maka mereka sengaja menjauhkan diri, membiarkan pimpinan mereka bicara dengan para muda yang dijemput itu.

Sia Su Beng mengeluarkan empat perangkat pakaian prajurit untuk dipakai oleh Cin Han, Kui Lan, Hui San dan Kim Hong. Satu-satunya cara menyelundupkan mereka ke kota raja hanyalah dengan menyamar sebagai prajurit dan berbaur dengan pasukannya. Dan satu-satunya tempat yang aman bagi mereka untuk tinggal di kota raja adalah dalam benteng pasukannya pula. Ji-wangwe telah menutup rumahnya sebab dia selalu diawasi oleh anak buah Bouw Koksu yang mencurigainya namun tidak menangkapnya karena tidak terdapat bukti.

"Sebaiknya kita cepat kembali ke kota raja, di sana kita dapat bicara lebih leluasa. Di sini tidak enak kalau sampai terlihat orang lain," kata Sia-ciangkun.

Mereka berempat lalu mengenakan pakaian prajurit di luar pakaian yang menutupi tubuh mereka, dan sebagai anggota pasukan mereka pun menunggang kuda mereka, sengaja membaur di tengah. Pasukan itu lalu kembali ke kota raja melalui pintu gerbang selatan dengan mengambil jalan memutar.

Jauh lewat tengah hari mereka tiba di kota raja dan Sia Su Beng sudah memerintahkan anak buahnya untuk menyebar berita bahwa mereka tak berhasil menangkap gerombolan pengacau karena mereka telah melarikan diri.

Mereka lalu memasuki benteng dan tak lama kemudian Sia Su Beng sudah mengadakan pembicaraan dengan Cin Han, Hui San, Kim Hong, Kui Lan dan Kui Bi di dalam ruangan tertutup yang merupakan ruangan rahasia di mana mereka boleh berbicara sebebasnya tanpa khawatir diketahui orang lain karena tempat itu dijaga ketat oleh para prajurit yang setia terhadap kerajaan Tang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner