MESTIKA BURUNG HONG KEMALA : JILID-25


Bouw Hun yang sedang bertanding melawan Souw Hui San sempat pula melihat jatuhnya Bouw Ki. Tentu saja Bouw Hun menjadi terkejut dan berduka, juga marah sekali. Dia pun mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau terluka, lantas pedang bengkoknya mengamuk.

Tadi Hui San hanya main-main saja, tidak bersungguh-sungguh. Ketika melihat Kim Hong telah merobohkan lawannya, dia segera mempercepat gerakan pedangnya, maka amukan pedang bengkok di tangan Bouw Hun itu tidak ada artinya. Ilmu pedang Gobi-pai memang indah dan juga amat cepat gerakannya.

"Orang she Bouw, pergilah engkau menyusul anakmu!" bentaknya.

Kini sinar pedangnya bergulung-gulung, mengurung lawan sehingga membuat Bouw Hun menjadi bingung. Terdengar bunyi berdentang setiap kali kedua pedang itu saling bertemu hingga akhirnya sebuah sabetan pedang di tangan Hui San mengakhiri perlawanan Bouw Hun.


Bouw Hun roboh terpelanting dengan leher hampir putus terbabat pedang. Tewaslah ayah dan anak itu. Tepat ketika Bouw Hun roboh, terdengar gerakan orang dan Sia Su Beng sudah tiba di situ, bersama Yang Kui Bi yang masih mengenakan pakaian prajurit, seperti juga empat orang muda itu yang semuanya menyamar sebagai prajurit.

"Bagus sekali, mereka sudah berhasil ditewaskan," kata Sia Su Beng.

Dia pun segera menghampiri mayat Bouw Hun, lalu merenggut buntalan yang berada di punggung bekas Koksu itu dan membuka kain buntalannya. Ternyata berisi sebuah kotak hitam dan ketika tutupnya dibuka, wajah panglima itu berseri dan matanya bersinar-sinar.

"Mestika Burung Hong Kemala!" Sia Su Beng berseru dan dia pun menutup kembali kotak itu, merapikan buntalan lalu menggantungkan buntalan pada pundaknya.

Hui San dan Kui Lan saling pandang. Gadis itu dapat melihat betapa pemuda itu sedikit menggeleng kepalanya, tanda bahwa dia tidak boleh bicara tentang pusaka itu kepada Sia Su Beng. Biar pun dia merasa heran kenapa sikap kekasihnya seperti itu, namun Kui Lan tidak bertanya dan juga juga tidak bicara sesuatu. Mengapa Hui San membiarkan Sia Su Beng tertipu dan menyimpan pusaka palsu?

"Mulai sekarang Kakak Cin Han dan Enci Kui Lan boleh menempati kembali rumah yang sebetulnya memang milik keluarga Yang ini. Aku akan menyuruh satu regu prajurit untuk melakukan penjagaan, juga beberapa orang pelayan untuk mengatur rumah."

Kui Bi merangkul enci-nya. "Enci lan, kalau saja ayah dan ibu masih ada, alangkah akan bahagianya mereka melihat kita bisa merebut kembali rumah kita..." Kui Bi yang biasanya tabah dan lincah periang, itu kini menangis di pundak enci-nya.

"Tenangkan hatimu, adik Bi. Biar pun sudah meninggal dunia, aku yakin mereka melihat peristiwa ini dan ikut berbahagia."

Setelah Sia Su Beng pergi bersama Kui Bi yang agaknya sekejap pun tidak mau berpisah dari tunangannya itu, Kui Lan, Kim Hong, Cin Han serta Hui San mulai mengatur rumah gedung yang merupakan tempat yang sangat dikenal oleh Cin Han dan Kui Lan karena di rumah inilah mereka lahir dan dibesarkan…..!

********************

Entah sudah berapa ratus kali Pangeran An Kong berjalan hilir mudik di dalam kamar itu, seperti seekor harimau dalam kerangkeng. Wajahnya yang tampan dan biasanya pesolek itu kini tak terawat, sudah beberapa hari tidak mandi dan bahkan tidak bergantii pakaian. Jarang pula dia dapat makan walau pun ada makanan yang dihidangkan oleh pelayan.

Dia menjadi orang tahanan. Tahanan rumah, atau lebih tepat lagi tahanan kamar karena dia selalu berada di dalam kamarnya dan rumahnya sudah dijaga ketat oleh prajurit anak buah Panglima Sia Su Beng. Dia tidak diperkenankan keluar dari rumah itu!

Apa lagi setelah dia mendengar bahwa Bouw Koksu dan Bouw Ciangkun tewas terbunuh, dan semua pasukan yang tadinya mendukung Bouw Koksu telah dilucuti dan ditundukkan oleh Panglima Sia Su Beng, bahkan hampir semua panglima kini menakluk dan menyerah kepada Panglima itu, Pangeran An Kong menjadi putus asa dan bingung.

Pada suatu siang, ketika dia sedang hilir mudik di dalam kamarnya seperti seekor harimau di dalam kurungan, terdengar langkah kaki di luar kamarnya, Pangeran An Kong mengira ada penjaga atau pelayan yang memasuki kamar, maka dia telah siap untuk memaki dan mengusirnya. Akan tetapi yang masuk ternyata adalah Panglima Sia Su Beng!

Melihat munculnya musuh besar ini, An Kong segera bangkit berdiri dan mengambil sikap bermusuhan, berdiri tegak sambil membusungkan dada bagai sikap seorang atasan yang sedang menghadapi seorang bawahannya.

"Sia Ciangkun, apakah engkau datang hendak membebaskan aku?" tanya Pangeran An Kong dengan sikap angkuh.

Di dalam hatinya pangeran ini menaruh dendam dan andai kata dia mendapat kekuasaan tertinggi, maka perintah pertama yang akan keluar dari mulutnya tentulah menangkap dan menghukum berat panglima yang kini berdiri di depannya itu.

"Pangeran. Kami datang untuk mempertemukan pangeran dengan wanita yang dulu kau suruh meracuni Sri baginda An Lu Shan."

Sia Su Beng tidak mempedulikan perubahan wajah pangeran itu yang menjadi pucat, dan dia menoleh ke pintu. Dari pintu itu masuklah gadis cantik jelita sambil membawa sebuah baki di mana dapat sebuah cawan emas.

Pangeran An Kong terbelalak. Mukanya menjadi semakin pucat seakan-akan dia sedang melihat hantu, bukan melihat seorang gadis cantik jelita yang dengan anggunnya sedang melangkah ke dalam kamar sambil membawa baki dengan kedua tangan di depan dada. Baki itu menambah keindahan gayanya berjalan sebab dia harus mengatur keseimbangan langkahnya supaya arak di dalam cawan itu tidak tumpah, membuat langkahnya menjadi lenggang yang gemulai seperti seorang penari. Dia melihat Kui Bi, gadis dayang itu, yang dulu pernah menarik hatinya, memikat gairahnya, gadis yang kemudian dia peralat untuk menaruh racun dalam hidangan ayahnya sehingga akhirnya ayahnya, An Lu Shan, tewas keracunan.

Sekarang dengan lenggang manis sekali gadis itu memasuki kamar membawa baki berisi cawan. Dengan gaya serta gerakan yang memikat, Kui Bi yang kini mengenakan pakaian wanita meletakkan baki dengan secawan emas arak itu ke atas meja, kemudian dia berdiri sambil memandang pangeran dengan senyum manis di bibirnya.

"Kau…?!" Pangeran An Kong berseru keras karena sekarang timbul harapan untuk dapat membersihkan diri dengan menangkap pelaku pembunuhan terhadap ayahnya. "Engkau yang membunuh Sribaginda!"

Senyum itu makin melebar sehingga nampak deretan gigi yang putih rapi seperti mutiara, menambah kuat daya tarik wajah gadis jelita itu.

"Bukan aku yang membunuhnya, tetapi engkau yang menyuruh kaki tanganmu menyamar sebagai dayang, pekerja dapur dan thaikam. Engkau yang membunuh ayahmu sendiri An Kong, bukan orang lain," kata Kui Bi dengan suara tenang dan merdu tapi mengandung ejekan.

"Engkau yang membunuh, keparat! Engkau harus ditangkap dan harus mengaku!"

Dalam keadaan yang putus asa dan nekat, Pangeran An Kong mengerahkan tenaganya lalu meloncat, menubruk hendak menangkap gadis jelita itu untuk memaksanya mengakui sebagai pembunuh An Lu Shan. Namun dia mengalami kejutan yang lebih hebat lagi.

Ternyata tubrukannya luput, bahkan kaki gadis itu menyambar dari samping dengan amat cepatnya sehingga dia yang menguasai ilmu silat yang cukup tangguh pun tidak mampu rnenghindar lagi.

"Dukkk!"

Perutnya tertendang dan dia pun terpelanting keras. Tentu saja dia terkejut setengah mati dan sesudah dia dapat berdiri kembali, dia pun memandang kepada Kui Bi dengan penuh keheranan. Gadis itu tersenyum manis dengan pandangan mata penuh ejekan padanya.

"Kau... kau... sebenarnya siapakah…?" tanyanya gagap.

"Engkau tidak secerdik Bouw Hun yang dapat menduga siapa aku. Aku adalah Yang Kui Bi, puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong. Ayah ibuku tewas akibat pemberontakan An Lu Shan."

"Ahhhh…!" An Kong terperangah dan tahulah dia bahwa dia bahkan telah diperalat gadis itu yang hendak membalas dendam kepada An Lu Shan.

"Lebih dari itu, An Kong. Dia adalah calon isteriku!" kata pula Sia Beng dan mendengar ini, An Kong menjadi semakin putus asa.

"Sia-ciangkun, lalu kau... kau... mau apa? Apa artinya kalian membawa cawan arak itu?" Dia menuding ke arah cawan arak itu dan telunjuknya yang menuding nampak gemetar.

"Ada dua pilihan bagimu, An Kong. Engkau tidak akan terluput dari kematian, akan tetapi hukuman mati ini ada dua macam dan boleh kau pilih. Kalau engkau minum arak itu maka engkau akan mati tanpa menderita badan dan hati. Kalau engkau menolak maka engkau akan diseret sebagai seorang penjahat besar yang sudah membunuh ayahnya sendiri dan engkau akan dihukum mati di depan rakyat, akan menjadi bahan ejekan dan penghinaan. Sekarang engkau tinggal memilih," kata Sia Su Beng.

Wajah bekas pangeran itu pucat seperti mayat. Dia pun maklum bahwa nekad melawan panglima itu tidak ada gunanya, apa lagi di situ terdapat Yang Kui Bi yang baru sekarang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Juga dia tidak memiliki keberanian sebesar itu.

Dia membayangkan dirinya diseret, dicaci dan dihina sebagai seorang penjahat pembunuh ayahnya sendiri, kemudian disiksa sampai mati. Terbayang dia akan wajah ayahnya yang dilihatnya untuk terakhir kali sebelum dimasukkan ke dalam peti, wajah yang menyeringai seperti orang kesakitan.

Dia bergidik ngeri, lalu menghampiri meja, menyambar cawan emas itu dan tanpa berpikir panjang lagi, dalam keadaan orang yang berputus asa, dia lalu menuangkan isi cawan ke dalam mulutnya yang terbuka dan langsung menelannya.

Dia tidak merasakan sesuatu yang aneh, maka dia masih diselimuti harapan kalau-kalau Panglima Sia Su Beng hanya menggertak dan membohonginya saja. Dengan tenang dia meletakkan kembali cawan emas yang telah kosong ke atas baki lantas tertawa bergelak.

Entah mengapa dia merasa keadaannya sangat lucu. Dia digertak dan diancam, ternyata semua itu hanya permainan belaka. Dia terpingkal lalu menjatuhkan diri duduk lagi di atas kursinya.

Panglima Sia Su Beng dan Yang Kui Bi memandang dengan sinar mata dingin. Bahkan wajah mereka tidak memperlihatkan sesuatu ketika suara tawa dari pangeran itu tiba-tiba mulai berubah, dari tawa menjadi rintihan dan wajah yang tadinya tertawa itu berubah, kini menyeringai karena kesakitan.

Tubuh pangeran itu kemudian terkulai. Terdengar suara berdetak ketika dia menjatuhkan dahinya ke atas meja. Sia Su Beng melangkah mendekati lantas meraba nadi tangannya yang terkulai. Pangeran itu sudah tewas!

Sia Su Beng mengangguk kepada Yang Kui Bi, lalu keduanya meninggalkan kamar itu dengan tenang. Panglima Sia Su Beng kemudian menyiarkan kabar bahwa Pangeran An Kong sudah membunuh diri karena merasa menyesal atas perbuatannya membunuh dan meracuni ayahnya sendiri.

Berita itu diterima dengan sikap amat dingin dan acuh oleh para panglima. Kini sebagian dari para panglima adalah mereka yang masih setia kepada Kerajaan Tang, sedangkan sebagian lagi merupakan pasukan yang sudah tunduk kepada Panglima Sia Su Beng dan akan menaati semua perintah panglima ini.

Sia Su Beng berada di dalam ruangan tertutup, berdua saja dengan kekasihnya, Yang Kui Bi.

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, koko?" tanyanya Kui Bi. "Apakah kita tinggal menanti kembalinya Kaisar, atau memberi kabar ke barat agar Sribaginda cepat pulang ke sini karena kita sudah menguasai keadaan di sini dan menundukkan semua bekas anak buah An Lu Shan?"

Sia Su Beng yang duduk di kursi mengerutkan alisnya. "Memang semuanya telah berjalan lancar sesuai dengan rencana kita. An Lu Shan dan An Kong sudah tewas, semua anak buahnya dapat kita tundukkan tanpa pertempuran yang berarti, dan semua panglima bisa kupengaruhi sehingga mereka semua kini tunduk padaku. Mengembalikan tahta kerajaan kepada Sribaginda Kaisar hanya tinggal pelaksanaan saja. Akan tetapi ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu sebelum aku membicarakan dengan para panglima siang ini. Mereka telah kuperintahkan agar siang hari ini berkumpul untuk kuajak berunding.”

Kui Bi memandang penuh perhatian. "Ada masalah pelik apakah. koko? Engkau kelihatan begini serius?"

"Begini, Bi-moi. Engkau mengetahui sendiri betapa susah payahnya kita menghadapi An Lu Shan dan mengatur siasat, kemudian melaksanakannya dengan taruhan nyawa. Kalau saja tidak kebetulan aku mengetahui, bahkan aku akan kehilangan engkau ketika engkau menyusup ke dalam istana. Jelas kita telah mengorbankan segalanya untuk melenyapkan kekuasaan An Lu Shan dan An Kong yang dibantu ayah dan anak she Bouw itu."

"Memang benar, koko. Akan tetapi itu memang sudah tugas kita, dan di samping itu aku sendiri juga sangat membenci An Lu Shan karena dialah penyebab hancurnya keluargaku, penyebab kematian ibu dan ayahku. Dan bukankah memang sudah sepatutnya kalau kita membela Sribaginda Kaisar kerajaan Tang?"

"Nah, itulah soalnya, Bi-moi! Andai kata Sribaginda Beng Ong masih tetap menjadi kaisar Kerajaan Tang, aku pun tidak akan meragu lagi untuk menyerahkan tahta kerajaan yang berhasil kita rampas dari An Lu Shan serta anak buahnya ini kepada beliau. Akan tetapi ada satu hal yang membuat hatiku risau dan tidak rela. Aku mendengar bahwa Sribaginda Kaisar Beng Ong telah menyerahkan mahkota kepada PangĂ©ran Su Tsung sehingga kini dialah yang menjadi kaisar! Aku tidak rela menyerahkan tahta kerajaan kepada pangeran yang lemah dan pengecut itu. Kita yang bersusah payah mempertaruhkan nyawa, ehh…, dia yang enak-enakan dan secara pengecut lari terbirit-birit ketika pasukan An Lu Shan menyerang kota raja, kini begitu saja mendapatkan tahta kerajaan ini. Aku tidak rela!"

"Akan tetapi, koko, kalau tidak kau serahkan kepada Kerajaan Tang, walau pun sekarang kaisarnya telah diganti, lantas apa yang hendak kau lakukan?" Kui Bi memandang dengan penuh selidik dan heran.

"Kui Bi, di dunia ini engkaulah satu-satunya orang yang kucinta dan kupercaya, maka aku pun akan mengatakan terus terang padamu, dengan harapan engkau akan mendukungku. Tanpa dukunganmu maka aku merasa lemah. Kupikir kita sudah terlalu banyak berkorban untuk merebut kembali tahta kerajaan ini. Bila Sribaginda Kaisar Beng Ong memang telah mengundurkan diri, maka kita harus berhati-hati, tidak demikian mudah saja menyerahkan tampuk kerajaan kepada orang yang tidak sepatutnya menjadi junjungan kita. Oleh karena itu aku akan menanti dan melihat apakah Pangeran Su Tsung itu pantas menerima tahta kerajaan ini."

Kui Bi memandang ke sekeliling. Mereka berada di sebuah ruangan di dalam istana yang kini untuk sementara dijadikan tempat tinggal Sia Su Beng. Hal ini sudah sepatutnya dan memang sudah disetujui oleh semua panglima serta pembesar yang berpihak kepadanya karena untuk menjaga agar jangan ada kekuatan lain mempergunakan kesempatan selagi istana itu kosong tidak ada penghuninya lalu melakukan pemberontakan dan perampasan.

Kui Bi seperti dapat meraba isi hati kekasihnya. "Akan tetapi, koko. Bukankah Pangeran Su Tsung yang berhak atas tahta kerajaan? Apa lagi dia diangkat oleh Sribaginda Kaisar Beng Ong, dan..."

"Tidak, Bi-moi. Pengangkatan itu terlampau tergesa-gesa dan tidak sah, karena dilakukan dalam pelarian dan tidak disetujui oleh para pejabat dan panglima. Bagaimana mungkin tahta kerajaan yang menyangkut nasib seluruh rakyat negeri diserahkan begitu saja? Kita harus mempertahankan tahta kerajaan ini dengan mengangkat seseorang yang memang patut untuk menjadi pemimpin negara. Lihat saja apa yang terjadi dengan Kerajaan Tang karena kaisarnya lemah dan mudah dipermainkan selir, dipermainkan para penjilat hingga berhasil dirampas oleh An Lu Shan. Kerajaan ini harus menjadi besar dan jaya, dan tidak mudah diganggu pemberontak."

"Bagaimana kalau kemudian engkau menilai bahwa tidak ada orang yang pantas menjadi kaisar, koko? Apakah engkau sendiri...?!"

"Kenapa tidak, Bi-moi? Apa salahnya? Ingat, Bi-moi, kaisar Kerajaan Tang berikut seluruh keluarga serta pembantunya sudah melarikan diri terbirit-birit dan siapakah yang merebut kembali tahta kerajaan dari tangan pemberontak An Lu Shan? Kita! Sedikit pun tidak ada usaha dari keluarga kerajaan yang sudah melarikan diri itu yang membantu tewasnya An Lu Shan dan An Kong, dan membantu terampasnya kembali kerajaan ini. Hanya kita dan para panglima yang membantu kita! Maka, bukankah sudah sepantasnya kalau kita pula yang menikmati hasilnya? Dan kalau mereka semua itu memilih aku yang menjadi kaisar, apakah engkau tidak suka menjadi permaisuriku?"

Kui Bi terbelalak. Sama sekali tidak mengira bahwa kekasihnya memiliki ambisi sebesar itu. Menjadi permaisuri! Hatinya merasa bimbang. Apakah ini suatu pengkhianatan? Akan tetapi memang tidak bisa disangkal bahwa kekasihnyalah yang paling berjasa, sedangkan orang-orang lain itu hanya membantunya. Kemudian dia teringat kepada kakak­kakaknya. Mereka Itu setia kepada Kerajaan Tang. Apakah mereka akan setuju?

"Tapi... engkau... ehh, kita akan berhadapan dengan mereka yang setia kepada Kerajaan Tang, koko dan..."

"Itu resikonya, Bi-moi. Semua cita-cita yang besar tentu selalu bertemu dengan tantangan dan tentangan, tetapi kita harus mampu mengatasinya. Kalau aku menjanjikan kedudukan tinggi, bahkan mulai sekarang membagi-bagikan kedudukan tinggi kepada para panglima dan cerdik pandai yang tenaga serta kepandaiannya kita butuhkan untuk mengemudikan pemerintahan, kurasa tidak akan ada orang yang mampu melawan kita. Aku tahu, Bi-moi, beberapa orang kang-ouw, bahkan termasuk kakak-kakakmu dan teman­temanmu, boleh jadi akan merasa tidak setuju dan mereka tetap setia kepada Kerajaan Tang. Nah, untuk urusan ini, engkaulah yang kuharapkan dapat membantuku untuk membujuk mereka agar mau membantu kita. Tentu saja kita akan mengangkat mereka menduduki jabatan yang terhormat dan mulia."

Kui Bi menjadi semakin bimbang. Mendengar ucapan kekasihnya itu, dia membayangkan kekasihnya menjadi kaisar dan dia sendiri menjadi permaisuri sehingga timbul gairahnya. Akan tetapi mengingat kakak­kakaknya, dia menjadi bimbang ragu dan khawatir.

"Koko, bagaimana kalau mereka, terutama Han-ko dan Lan­ci, menolak untuk membantu kita?"

Sia Su Beng menarik napas panjang. "Kalau memang begitu, terserah kepadamu, Bi-moi. Engkau tahu bahwa aku cinta padamu. Ingat, perjuanganku ini bukan demi kepentinganku sendiri, melainkan juga untuk masa depanmu dan masa depan anak-anak kita kelak maka engkaulah yang harus memilih antara cintamu kepadaku atau cintamu kepada mereka."

"Koko!" Kui Bi mengerutkan alisnya dan menggigit bibir.

Sia Su Beng cepat menghampiri dan merangkulnya. "Sudahlah, Bi-moi. Engkau seorang gadis yang gagah perkasa dan bijaksana, tentu mengetahui apa yang terbaik bagimu. Aku akan berangkat ke ruang persidangan karena mereka tentu sudah berdatangan."

"Yang kukhawatIrkan bukan pendirian kakak-kakakku saja, koko, akan tetapi bagaimana kalau rakyat menolak? Dan para pembesar di daerah-daerah yang begitu luasnya? Tanpa dukungan rakyat dan para penguasa daerah, bagaimana engkau dapat berhasil?"

Sia Su Beng tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah kotak hitam dari dalam almari, membuka tutupnya dan memperlihatkan isinya kepada kekasihnya.

”Lupakan engkau kalau Mestika Burung Hong Kemala telah berada di tangan kita, Bi-moi? Pusaka ini adalah lambang kekuasaan kaisar. Kalau aku yang memilikinya, maka berarti kita mempunyai lambang kekuasaan tertinggi!"

Sambil tersenyum dia memasukkan kotak ini ke dalam buntalan kain dan mengikatkan di pinggang, di sebelah dalam baju panglimanya. Dia hendak menggunakan benda pusaka itu untuk mempengaruhi para panglima dan calon pembesar. Kemudian, setelah mencium dahi kekasihnya, dia pun meninggalkan Kui Bi yang masih termenung.

Tidak lama setelah Sia Su Beng meninggalkannya, dalam keadaan risau Kui Bi keluar dari ruangan itu menuju ke kamarnya sendiri. Pada saat itu dia melihat Kui Lan yang agaknya memang datang berkunjung kepadanya.

"Enci Lan!"

Bukan main girangnya rasa hati Kui Bi melihat enci-nya, seperti orang kehausan melihat air sebab dalam keadaan risau seperti itu dia membutuhkan orang yang dekat dengannya untuk menumpahkan kerisauannya. Kui Lan agak heran dan bingung melihat adiknya. Dia langsung merangkulnya dan wajah adiknya nampak demikian muram.

"Ehh, engkau kenapakah, adikku?

"Mari kita bicara di dalam, enci," kata Kui Bi dan dia menarik enci-nya memasuki kamar kemudian menutup daun pintu kamarnya. Begitu mereka duduk di tepi pembaringan, Kui Bi pun menangis.

"Ehh, kenapakah engkau ini?" Kui Lan merasa khawatir karena tidak biasa adiknya yang keras hati ini menangis.

Setelah menghapus air matanya dan dapat menenangkan hatinya, Kui Bi lalu menuturkan semua tentang cita-cita Sia Su Beng yang tidak mau menyerahkan tahta kerajaan kepada kaisar Su Tsung, yaitu kaisar baru pengganti kaisar Beng Ong yang sudah menyerahkan mahkota kepada puteranya itu.

Mendengar ini, tentu saja Kui Lan terkejut bukan main. Akan tetapi dia bersikap tenang, sesuai dengan wataknya, apa lagi dia tahu benar bahwa adiknya amat mencinta panglima itu. “Tetapi bagaimana mungkin dia dapat mengangkat diri menjadi kaisar? Yang memiliki wewenang adalah Pangeran Su Tsung yang sekarang sudah mewarisi mahkota ayahnya, yaitu Sribaginda Beng Ong. Para pejabat istana, pejabat daerah, juga rakyat tentu akan menentangnya!"

"Dia memiliki lambang kekuasaan kaisar, yaitu Mestika Burung Hong Kemala, enci Lan."

"Tapi itu adalah pusaka yang palsu!" Saking hanyut oleh kekhawatiran terhadap adiknya, kata-kata ini keluar begitu saja dari mulut Kui Lan. Dia terkejut dan menyesal, akan tetapi terlambat karena telah diucapkannya. Kui Bi mengangkat muka menatap wajah enci-nya.

"Kalau begitu, di mana pusaka Mestika Burung Hong Kemala yang asli enci Lan?"

Terjadi perang di dalam hati Kui Lan, walau pun hanya sebentar. Betapa pun besar rasa sayangnya terhadap Kui Bi, namun kalau adiknya itu membantu Sia Su Beng yang jelas hendak melakukan pemberontakan, maka adiknya itu keliru. Dia segera dapat mengatasi keraguannya dan menggelengkan kepalanya sambil berkata,

"Aku tidak tahu," lalu disambungnya cepat-cepat. "Bi­moi, kenapa dia hendak melakukan ini? Engkau harus mengingatkannya adikku. Dia telah bertindak keliru dan sesat! Engkau tidak boleh membantunya, Bi-moi!"

"Enci Lan, engkau tahu bahwa aku sangat mencintanya dan aku pun siap mengorbankan nyawaku untuk Beng-koko. Dia adalah calon suamiku, dan aku cinta padanya seperti dia mencintaku. Lagi pula setelah aku berbantahan dengan dia, aku melihat kebenaran dalam pendiriannya. Sribaginda Kaisar Beng Ong kini telah mengundurkan diri dan menyerahkan mahkota kepada Pangeran Su Tsung. Ketika bahaya datang, pangeran itu melarikan diri dan kita semualah yang sudah bersusah payah menewaskan An Lu Shan dan An Kong. Kita semua, terutama sekali Beng-koko yang sudah melumpuhkan semua pengikut An Lu Shan dan merebut kembali tahta kerajaan dari pemberontak itu. Apakah hasil semua ini akan diserahkan begitu saja kepada seorang pangeran penakut yang hanya enak-enakan melarikan diri ke barat? Beng-ko tidak melihat harapan baik kalau kita diperintah seorang kaisar seperti itu. Oleh karena itu, enci Lan, marilah kau bantu kami. Mari kita bujuk Han-ko agar suka membantu, juga Souw Hui San dan Can Kim Hong. Aku yang menanggung bahwa kelak tentu kalian berempat akan menerima imbalan yang pantas, menjadi orang-orang yang mulia dan berkuasa dengan kedudukan tinggi."

Kui Lan menggigit bibir. Adiknya ini mengingatkan dia kepada bibinya, rnendiang Yang Kui Hui, selir yang berambisi besar itu. Ingin dia menampar adiknya, akan tetapi ditahannya karena dia segara menyadari bahwa dia dan Souw Hui San, juga kakaknya Cin Han dan Kim Hong, berada dalam bahaya kalau menentang Kui Bi dan Sia Su Beng. Dia menghela napas kemudian mengangguk.

"Akan kubicarakan dengan Han-ko tentang semua ini, Bi-moi."

Lalu dia luar dari dalam kamar itu. Hatinya perih dan seluruh tubuhnya lemas. Dia seperti mendapat firasat bahwa dia tidak akan bertemu lagi dengan adiknya yang tersayang itu. Terlampau lebar jurang yang memisahkan mereka. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi pengkhianat dan balik membantu pemberontak, walau pun pemberontakan itu dilakukan oleh adiknya sendiri dan kekasih adiknya?

Ketika dia tiba kembali di tempat mereka berempat tinggal, yaitu di gedung bekas tempat tinggal ayahnya dulu, Kui Lan melihat Hui San, Cin Han dan Kim Hong sedang duduk di beranda depan, agaknya memang menanti-nanti kembalinya dari istana.

"Mari kita bicara di dalam," kata Kui Lan kepada mereka.

Mendengar suaranya yang lirih dan gemetar, juga wajah gadis itu yang muram dan sinar matanya yang mengandung kegelisahan, tiga orang itu cepat bangkit lantas mengikutinya masuk ke dalam sebuah ruangan di mana mereka dapat bicara tanpa didengar dan dilihat orang lain.

"Ada apakah, Lan-moi? Engkau mendengar sesuatu di istana?" tanya Cin Han, khawatir pula melihat sikap adiknya. Kui Lan menahan tangisnya, teringat kepada Kui Bi.

“Sungguh celaka, Han-ko! Ternyata Sia Su Beng sedang merencanakan pemberontakan dan pengkhianatan. Dia tidak mau menyerahkan tahta kerajaan kepada Kaisar Kerajaan Tang, malah agaknya hendak mengangkat diri sendiri menjadi penguasa, menjadi kaisar!"

Tentu saja tiga orang itu terkejut sekali.

“Aih, aku sudah curiga kepadanya ketika melihat sinar matanya pada saat dia mengambil Mestika Burung Hong Kemala dari tubuh Bouw Koksu!" kata Hui San.

"Lan-moi, apa alasannya?" tanya Cin Han.

"Ia berpendapat bahwa Pangeran Su Tsung yang sekarang telah diangkat menjadi kaisar untuk menggantikan Sribaginda Kaisar Beng Ong, bukan orang yang tepat untuk menjadi kaisar."

Kemudian Kui Lan mulai menceritakan semua yang dia dengar dari Kui Bi, didengarkan oleh tiga orang itu dengan alis berkerut.

"Bahkan Kui Bi minta agar aku membujuk kalian bertiga supaya suka membantu Sia Su Beng dengan janji kelak mendapat imbalan kedudukan tinggi."

"Gila!" Cin Han memaki marah sekali. "Sudah gilakah adik kita itu?"

Kim Hong mencela kekasihnya. “Han-ko, kita tahu bahwa adikmu itu sangat mencinta Sia Su Beng, dan demi cintanya, seseorang dapat melakukan apa saja."

"Han-ko, yang penting sekarang adalah, apa yang harus kita lakukan?" Kini Souw Hui San bicara. Meski pun dia seorang yang lincah jenaka dan kadang ugal-ugalan, tetapi sekali ini dia amat berhati-hati karena ini menyangkut Kui Bi, adik kekasih hatinya.

'Kurasa kita tidak dapat berbuat apa-apa. Mana mungkin kita berempat dapat menentang Sia Su Beng dengan pasukannya yang besar? Dialah yang memegang kekuasaan di sini, maka kita tidak akan dapat berbuat apa pun untuk mencegah kehendaknya itu. Apa lagi menurut Lan-moi sekarang dia sedang mengadakan perundingan dengan para panglima dan pejabat."

"Lalu bagaimana dengan adikku Kui Bi?" tanya Kui Lan bingung

"Kurasa dia sudah dewasa dan dapat menentukan langkahnya sendiri. Kalau memang dia menganggap bahwa tunangannya itu benar, apa yang dapat kita lakukan?" Hui San bicara lembut, menghibur. "Yang penting, sekarang juga kita harus cepat meninggalkan tempat ini, meninggalkan kota raja demi keamanan pusaka itu."

"Hui San benar!" kata Cin Han. "Engkau tadi mengatakan bahwa engkau telah kelepasan bicara, Lan-moi, mengatakan bahwa Mestika Burung Hong Kemala yang ditemukan Sia Su Beng itu palsu. Kalau Kui Bi menyampaikan ucapanmu itu kepada Sia Su Beng, tentu dia akan curiga terhadap kita sehingga akan melakukan pertanyaan atau penggeledahan. Kita harus cepat meninggalkan kota raja, sekarang juga."

"Kukira memang itu jalan satu-satunya," kata Kim Hong membenarkan kekasihnya. "Kita pergi ke barat, bergabung dengan pasukan kerajaan, dan kita laporkan semua ini kepada Sribaginda dan Panglima Kok Cu It."

"Akan tetapi... bagaimana dengan adikku? Tidak mungkin kita meninggalkan dia sendirian saja di sini bersama Sia Su Beng yang hendak memberontak...,” kata Kui Lan.

"Lan-moi, jangan bicara demikian. Kui Bi memang adik kita, akan tetapi dia sudah dewasa dan dia berhak menentukan langkah hidupnya sendiri. Jika dia memang mencintai Sia Su Beng dan menganggap bahwa tunangannya itu benar, itu adalah haknya. Ingatlah bahwa Sia Su Beng sudah meminangnya dengan resmi dan kita sudah menyetujui, hal itu berarti bahwa yang berhak atas diri Kui Bi adalah Sia Su Beng, calon suaminya, bukan kita. Kita tahu bahwa Kui Bi memiliki watak yang keras, tak akan ada gunanya kalau kita mencoba membujuknya, bahkan membahayakan kita. Mari, sekarang juga kita pergi meninggalkan kota raja."

Kui Lan tidak dapat membantah dan berkemas sambil menangis, menangisi adiknya. Tak lama kemudian empat orang muda itu sudah keluar dari pintu gerbang sebelah barat kota raja.

Para penjaga sudah tahu siapa mereka, para pendekar yang dekat dengan Panglima Sia Su Beng. Oleh karena itu tidak ada yang berani bertanya, apa lagi menghalangi mereka keluar dari pintu gerbang.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner