KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-21


Dengan muka ditundukkan Ciu Kang Hin berjalan menuruni puncak Tanduk Rusa sambil merenung. Dia merasa gelisah sekali teringat akan ucapan terakhir ketua Beng-kauw.

Di antara ketua Beng-kauw dan mendiang ayahnya terdapat hubungan yang amat dekat. Ketua Beng-kauw itu adalah adik angkat ayahnya, jadi masih pamannya sendiri! Dan dia mendapat tugas dari gurunya untuk membasmi Beng-kauw, bahkan tadi ia melihat sendiri ketika ketua Beng-kauw tinggal menunggu saat ajal datang menjemput sampai saat ketua itu tewas dalam keadaan yang menyedihkan. Dan ketua itu memesan untuk menjodohkan puterinya dengannya!

Lalu apa yang akan dikatakan kepada gurunya nanti? Mampukah dia melanjutkan tugas membasmi orang-orang Beng-kauw? Agaknya tidak mungkin lagi! Apa yang disaksikan di puncak bukit Tanduk Rusa itu sudah mencapai puncaknya. Ini keliru, pikirnya. Nam-kiang-pang sedang menyusuri jalan yang keliru.

Menentang kejahatan, dari mana pun datangnya dan oleh siapa pun dilakukannya, adalah tugas murid Nam-kiang-pang. Akan tetapi membasmi sekelompok orang tanpa pandang bulu dan tanpa alasan, sungguh merupakan penyelewengan ke jalan sesat.

Tiba-tiba saja telinganya yang tajam mendengar suara orang dan ketika dia mengangkat mukanya, dia pun menjadi lega. Ternyata Seng Gun, Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin yang muncul dan menghadang di depannya.

"Ahh, sute!” katanya girang. "Syukurlah engkau dapat meloloskan diri! Tetapi di mana Pek Kong Sengjin?"

"Suheng, tidak perlu lagi engkau berpura-pura!"

Mendengar ucapan sute-nya itu Kang Hin cepat memandang. Alangkah kagetnya melihat wajah tiga orang itu berbeda dari pada biasanya. Wajah mereka kelihatan keruh, murung dan jelas nampak marah.

"Sute, apa maksud kata-katamu itu?" tanyanya,

"Hemm, ternyata selama ini engkau amat pandai bersandiwara, berpura-pura. Pantas saja hanya lahirnya engkau disebut pembasmi Beng-kauw nomor satu, padahal sesungguhnya engkau tidak dapat memusuhi mereka, bahkan engkau menyayangi mereka."

Kang Hin terkejut. Apakah sute-nya sudah tahu akan peristiwa tadi?

"Sute, aku akui bahwa aku tidak pernah membunuh orang yang tidak bersalah, baik dia itu orang Beng-kauw atau pun bukan. Dan aku pun tidak pernah mengaku sebagai pembasmi Beng-kauw nomor satu. Akan tetapi, apa hubungannya hal itu dengan sikapmu ini? Mana Pek Kong Sengjin?"

"Engkau tentu sudah mengetahuinya. Ketika kami lari dan engkau berpura-pura menahan mereka, ternyata mereka masih dapat mengejar kami. Kami sudah melawan mati-matian, akan tetapi Pek Kok Sengjin terbunuh, terlempar ke dalam jurang."

"Ahhh…!"

"Tidak perlu berpura-pura, justru engkaulah yang mengatur agar mereka dapat mengejar kami!"

"Sute, omongan apa itu? Aku bertempur melawan mereka hingga tertawan!"

Seng Gun tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, engkau boleh menjual omongan itu kepada anak kecil. Kalau memang engkau sampai tertawan oleh mereka, bagaimana mungkin engkau dapat meloloskan diri dan tidak terbunuh? Kecuali kalau engkau secara diam-diam sudah bersekongkol dengan mereka!"

Kang Hin menghela napas panjang. Dia maklum bahwa kalau dia menceritakan peristiwa yang sebenarnya, sute-nya dan dua orang Hoat-kauw itu tentu tak akan percaya, bahkan semakin mencurigainya.

"Terserah padamu, sute. Percaya atau tidak, akan tetapi aku benar-benar telah bertempur melawan mereka hingga tertawan, tetapi akhirnya dibebaskan kembali. Biarlah aku akan melapor kepada suhu dan terserah kepada suhu, kalau hendak menghukum aku, terserah kepada suhu."

"Enak saja! Kau kira akan dapai mengelabui kami lagi, pura-pura hendak melapor kepada suhu, akan tetapi diam-diam bersekongkol dengan Beng-kauw!"

"Sute, tutup mulutmu! Kau kira engkau boleh sembarangan menuduh aku?" kini Kang Hin hilang kesabarannya.

"Hemm, Ciu Kang Hin, kita sama-sama murid Nam-kiang-pang, tapi bedanya aku adalah seorang murid yang setia sebaliknya engkau murid pengkhianat. Engkau belum menjadi ketua, tidak perlu kuhormati murid yang mengkhianati Nam-kiang pang. Hayo kita tangkap pengkhianat ini!" Dia mengamangkan goloknya.

Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin tentu saja sudah maklum mengapa Seng Gun bersikap seperti itu. Yu Kiat segera menggerakkan golok gergajinya, sedangkan Lai Cin memainkan tombak cagaknya. Seng Gun sendiri sudah menerjang maju menyerang dengan goloknya yang memainkan ilmu golok Thian-te To-hoat.

"Trang…! Trangg…! Tranggg…!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika Kang Hin menangkis ketiga senjata lawan itu dengan goloknya, kemudian dia pun membalas. Maka terjadi pertempuran yang seru!

Namun tentu saja Kang Hin langsung terdesak hebat karena ilmu kepandaiannya hampir setingkat dengan tingkat Seng Gun, bahkan mungkin Seng Gun lebih unggul karena Seng Gun menguasai pula ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Apa lagi di situ juga ada dua orang tokoh utama dari Bu-tek Ngo-sin-liong, maka dengan sendirinya dia merasa sibuk sekali harus menghadapi permainan senjata mereka. Akan tetapi berkat tubuhnya yang kuat karena hidupnya bersih, maka dia masih mampu melindungi dirinya dengan baik sehingga tidak mudah bagi tiga orang itu untuk merobohkannya.

Seng Gun menjadi penasaran. Dia harus mengakui bahwa dalam hal ilmu golok Thian-te To-hoat, dia masih kalah sedikit dibandingkan suheng-nya itu. Hal ini adalah karena Kang Hin menjadi murid Nam-kiang-pang sejak kecil, sedangkan dia baru empat tahun ini.

Karena ingin membunuh saingannya ini, maka dia lalu mengeluarkan senjata andalannya sebelum menjadi murid Nam-kiang-pang, yaitu suling peraknya yang mengandung racun! Suling itu dipegangnya dengan tangan kiri dan begitu suling menyambar, terdengar suara melengking yang mengejutkan hati Kang Hin.

Pemuda ini segera mengelak. Melihat bahwa sute-nya dapat menggunakan senjata suling itu dengan amat mahirnya, dia pun terkejut dan heran. Namun dia tidak sempat menegur atau bertanya karena Seng Gun sudah menggerakkan golok dan sulingnya, ada pun dua orang rekannya juga telah mengeroyok dengan gencar.

Saat Kang Hin menangkis suling Seng Gun sambil mengerahkan tenaga untuk membuat suling itu patah, mendadak dari dalam suling itu menyambar jarum-jarum hitam. Kang Hin yang sedang sibuk menghadapi senjata para pengeroyoknya tidak sempat mengelak lagi sehingga dua batang jarum mengenai dahinya! Dia pun terhuyung lalu terguling roboh.

Tiga orang lawannya dengan girang menubruk untuk menghabisinya, akan tetapi tiba-tiba datang angin bertiup bagaikan ada badai, dan ketika tiga orang itu terkejut melihat pohon-pohon meliuk keras, ada bayangan berkelebat menyambar tubuh Kang Hin. Tiga orang itu memandang penuh perhatian, dan ternyata Kang Hin sudah lenyap dari situ.

"Celaka, dia melarikan diri. Kejar!" teriak Ang-sin-liong Yu Kiat.

"Ha-ha-ha," Seng Gun tertawa dengan sombongnya. "Apa sih yang perlu dikhawatirkan? Paman sendiri tadi melihat bahwa dahinya sudah terkena jarum sulingku. Tentu akibatnya hebat bukan main, paman. Racun jarumku akan membuat dia mati atau gila. Ingat, yang terkena adalah dahinya!" Pemuda itu tertawa-tawa dan dua orang rekannya menjadi lega.

"Akan tetapi, apakah yang terjadi? Kenapa dia bisa melarikan diri dan angin topan tadi... apakah artinya itu?" tanya Lai Cin.

"Paman, kenapa khawatir? Orang Beng-kauw memang memiliki ilmu sihir maka tak aneh kalau tadi mereka dapat melarikan Kang Hin. Akan tetapi jangan harap mereka sanggup menyelamatkan Kang Hin dari racun jarumku!"

Akan tetapi bagaimana pun juga, peristiwa lenyapnya tubuh Kang Hin tadi mendatangkan perasaan tidak nyaman di dalam hati mereka, maka tanpa banyak cakap lagi mereka lalu meninggalkan tempat itu. Mereka saling berpisah, kedua orang tokoh Hoat-kauw kembali ke pusat Hoat-kauw yang akan mengadakan perayaan di Bukit Harimau, sedangkan Seng Gun akan melapor dulu ke Nam-kiang-pang…..

********************

Dengan dilengkapi berbagai macam bumbu dan minyak, Seng Gun menghidangkan cerita tentang ‘pengkhianatan’ Kang Hin sehingga semua tokoh Nam-kiang-pang menjadi marah bukan main.

"Anak tak tahu diuntung! Tak mengenal budi!" kata beberapa orang tokoh tua. "Sejak kecil ketua telah memelihara dan mendidiknya, begitukah balasannya?"

Akan tetapi Tio Hui Po sendiri hanya berdiam diri dan sepasang alisnya bekerut. Dia lebih merasa terpukul dan kecewa dari pada marah, juga merasa amat heran. Sukar dia dapat percaya bahwa muridnya itu, yang semenjak kecil merupakan anak yang patuh sekali, kini dapat bersekutu dengan Beng-kauw!

"Seng Gun, yakin benarkah engkau bahwa suheng-mu bersekorigkol dengan Beng-kauw dan mengkhianati kita?"

"Suhu, tidak ada yang lebih penasaran dari pada teecu. Teecu paling sayang dan paling hormat terhadap suheng, akan tetapi tak dinyana sama sekali suheng tega sekali, sampai hati dia berkhianat. Hampir saja teecu menjadi korban dari pengkhianatannya. Untunglah teecu bersama dua orang rekan dari Hoat-kauw sempat melarikan diri. Akan tetapi Ho Jin Hwesio, Pek Kok Sengjin, dan Kiang Cu Tojin... Ahhh..."

"Mengapa mereka? Hayo ceritakan, apa yang terjadi dengan tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, Butong-pai, dan Kong-thong-pai itu?"

"Mereka telah tewas oleh Ciu Kang Hin dan orang-orang Beng-kauw..."

"Jahanam!" Kini Tio Hui Po marah sekali.

"Akan tetapi harap suhu tenangkan diri. Pengkhianat itu telah terluka oleh senjata rahasia beracun dari tokoh Hoat-kauw. Jarum beracun itu telah memasuki dahinya, pasti dia akan tewas atau gila!"

“Mati atau hidupnya harus dapat kita pastikan. Jadi kalau ada aliran yang menuntut, maka kita dapat memperlihatkan bukti kematiannya," kata Tio Hui Po.

Agaknya semangat Tio Hui Po menjadi patah mendengar akan pengkhianat Ciu Kang Hin itu. Dia lalu mengumpulkan semua tokoh Nam-kiang-pang dan mengadakan rapat besar.

"Perkumpulan kita menghadapi beberapa hal yang penting dan besar. Permusuhan Beng-kauw dengan kita belum selesai, kini muncul pula pengkhianatan murid yang tadinya akan kuangkat menjadi calon ketua. Dan aku sudah lelah, agaknya aku sudah terlalu tua untuk memimpin kalian. Oleh karena itu, hari ini aku mengumpulkan kalian di sini untuk menjadi saksi. Aku menetapkan Tong Seng Gun menjadi ketua Nam-kiang-pang!”

Di antara para tokoh Nam-kiang-pang, jarang yang tidak setuju, karena mereka maklurn bahwa pemuda yang sangat pandai membawa diri ini memang merupakan orang kedua yang telah menguasai Thian-te To-hoat.

Akan tetapi serta merta Seng Gun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki gurunya sambil menangis. Tentu saja gurunya terkejut dan bertanya,

"Seng Gun kenapa engkau menangis?"

Setelah menyusut air matanya, Seng Gun menjawab, "Suhu, teecu menangis karena haru atas budi kebaikan suhu kepada teecu, dan mengingatkan teecu kepada bibi teecu. Akan tetapi suhu, di Nam-kiang-pang ini terdapat banyak murid yang lebih tua dan lebih pandai dari teecu, kenapa suhu memilih teecu? Tugas itu terlalu berat bagi teecu yang bodoh.”

"Seng Gun, jangan berkata begitu. Semua anggota Nam-kiang-pang tentu sudah tahu pula bahwa engkau adalah calon kedua. Karena itu aku mengajarkan Thian-te To-hoat kepada engkau dan suheng-mu yang keparat itu. Sekarang tak perlu ditunda-tunda lagi, aku akan mengundang wakil semua partai dunia persilatan untuk menjadi saksi dalam merayakan pengangkatanmu.

Seng Gun kelihatan terharu dan sama sekali tidak nampak bergembira, padahal di dalam hatinya dia bersorak karena tujuannya telah tercapai dengan baik. Sesuai dengan rencana yang diatur oleh Sam Mo-ong yang dipimpin kakeknya atau ayahnya, dia dapat menyusup ke Nam-kiang-pang dan berhasil pula menguasai partai itu. Juga dia berhasil menghasut semua partai persilatan untuk memusuhi Beng-kauw. Di samping semua hasil itu, dia pun berhasil mewarisi ilmu golok Thian-te To-hoat yang merupakan satu di antara ilmu langka pada jaman itu.

Maka mulailah para anggota Nam-kiang-pang sibuk. Ada yang membersihkan bangunan-bangunan dan halaman untuk menyambut pesta, dan ada yang mengantar undangan ke segala penjuru. Hari sudah ditetapkan dan semua orang sudah siap menerima datangnya para tamu di pagi hari itu.

Setelah matahari naik tinggi, mulai berdatanganlah para tamu. Tidak kurang dari dua ratus orang hadir dan pesta pun dimulai. Pertama-tama upacara pengangkatan ketua dilakukan. Bagaikan pengantin saja, dengan baju kebesarannya dari dalam keluar ketua Nam-kiang-pang yang tua, yaitu Tio Hui Po, diiringkan tujuh tokoh tua Nam-kiang pang. Kemudian muncul calon ketua, Tong Seng Gun dan di belakangnya berjalan sute-nya, Tio Ki Bhok putera Tio Hui Po yang diaku sebagai keponakannya.

Para tamu bangkit berdiri untuk menghormati rombongan ketua ini, dan musik dimainkan perlahan-lahan. Rombongan itu menghampiri meja sembahyang yang sudah dipersiapkan di tengah ruangan.

Ketika rombongan lewat di depan Bu-tek Ngo Sin-liong yang juga hadir, terdengar suara tawa cekikikan dari Bi-sin-liong Kwa-lian yang pernah menjadi kekasih Seng Gun, dibalas dengan senyum oleh pemuda itu. Akan tetapi Tio Ki Bhok yang ketololan mengira bahwa wanita cantik itu tertawa kepadanya, maka dia pun mengangguk sambil menyerigai lebar. Hal ini dilihat banyak tamu yang segera tertawa geli, dan melihat keadaan ini, wajah Seng Gun berubah merah. Akan tetapi Tio Hui Po tidak melihatnya.

Upacara sembahyang segera dilakukan dan Seng Gun disuruh bersumpah di depan meja sembahyang para leluhur pimpinan Nam-kiang-pang, bahwa mulai hari itu akan memimpin Nam-kiang-pang dengan kesungguhan hati, penuh kesetiaan dan akan mengangkat nama perkumpulan itu.

Sesudah upacara itu selesai, Tio Hui Po lalu melepas sabuk emas yang menjadi lambang ketua, kemudian mengenakan sabuk emas itu ke pinggang Seng Gun. Pada sabuk emas itu terdapat sebatang golok yang gagangnya terukir indah. Setelah itu Tio Hui Po memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada.

"Pangcu, mulai hari ini kita semua anggota Nam-kiang-pang menaati semua perintahmu."

Dengan tersipu Seng Gun cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut. "Suhu, harap suhu tidak berkata demikian."

"Hushh, ini adalah upacara yang tidak boleh dilanggar," kata Tio Hui Po.

Sesudah itu satu demi satu para tokoh Nam kiang-pang memberi hormat kepada ketua muda itu. Sesudah semua orang memberi hormat, barulah tiba giliran para tamu, seorang demi seorang maju memberi ucapan selamat.

Seorang hwesio Siauw-lim-pai segera maju bersama dua orang tosu, yaitu seorang tosu dari Butong-pai serta seorang lagi dari Kong-thong-pai. Agaknya hwesio Siauw-lim-pai itu menjadi juru bicara kedua orang rekannya.

"Omitohud, pinceng bersama dua orang totiang ini juga ingin mengucapkan selamat untuk ketua baru Nam-kiang-pang. Semoga dengan pangcu yang duduk memimpin Nam-kiang-pang, hubungan dan kerja sama antara kita menjadi semakin baik. dan kami yakin pangcu akan bersikap jujur terhadap kami sebagai kawan."

Seng Gun cepat membalas penghormatan itu dengan mengangkat kedua tangan di depan dada. "Terima kasih banyak, suhu dan ji-wi totiang. Tentu saja kami akan meningkatkan kerja sama di antara kita. Dan bukankah selama ini kami bersikap jujur terhadap sam-wi?"

"Omitohud, pinceng mendengar berita buruk sekali. Bukankah dahulu yang menjadi calon ketua Nam-kiang-pang adalah Ciu Kang Hin! Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak ikut hadir? Saudara-saudara, hendaknya diketahui bahwa Ciu Kang Hin yang dahulu pernah dicalonkan menjadi ketua Nam-kiang-pang itu telah bersekutu dengan Beng-kauw dan dia juga telah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai, seorang tosu Butong-pai dan seorang tokoh Kong-thong-pai!"

Berita ini langsung disambut dengan suara berisik dari para tamu karena hal itu memang merupakan berita yang mengejutkan sekali. Mereka semua sudah mengetahui siapa Ciu Kang Hin yang tadinya disohorkan sebagai pembasmi Beng-kauw nomor satu.

Mendengar ucapan ini dan melihat semua orang ribut-ribut, dengan tenang Seng Gun lalu mengangkat dua tangannya ke atas sehingga keributan itu mereda. Dengan suara lantang dia bertanya kepada hwesio itu.

"Maaf, losuhu. Berita itu memang benar dan baru saja kami hendak mengumumkannya. Akan tetapi dari siapakah losuhu mendengarnya? Kami tak ingin ada berita yang simpang siur."

"Kami mendengar dari saksi mata yang hidup, yaitu dua orang tokoh dari Bu-tek Ngo-sin-liong!"

Ang-sin-liong Yu Kiat dan Tiat-sin-liong Lai Cin melangkah maju dengan gagah, kemudian keduanya mengangkat tangan, "Benar, kami melihat sendiri kejadian itu, karena kami juga melawan Beng-kauw bersama-sama Tong-pangcu."

"Saudara-saudara sekalian, harap tenang dan dengarkan penjelasanku," kata Seng Gun dengan sikap berwibawa. “Seperti yang dikatakan dua orang locianpwe dari Bu-tek Ngo-sin-liong tadi, memang benar kami bertujuh menyerang Beng-kauw di Bukit Tanduk Rusa. Kita bertujuh adalah aku sendiri, suheng Ciu Kang Hin, kedua locianpwe dari Bu-tek Ngo-sin-liong, Ho Jin Hwesio dari Siauw-lim-pai, Kiang Cu Tojin dari Butong-pai dan Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai. Ketika kami sedang bertanding, dikeroyok oleh banyak orang Beng-kauw, dan kami sudah merobohkan banyak lawan, mendadak suheng Ciu Kang Hin yang sekarang bukan suheng-ku lagi, membalik membantu Beng-kauw lantas menyerang kami cara mendadak sehingga tiga orang tokoh yang disebutkan tadi tewas! Kami bertiga juga nyaris celaka, akan tetapi beruntung dapat meloloskan diri. Dalam peristiwa itu dua orang locianpwe dari Bu-tek Ngo-sin-liong ini berhasil melukai Ciu Kang Hin sehingga kami kira dia tidak akan dapat hidup lagi."

"Omitohud…! Kami juga sudah mendengar mengenai hal itu, tetapi kami tidak puas hanya mendengar Ciu Kang Hin terluka saja. Karena itu kami menuntut kepada Nam-kiang-pang supaya menghadapkan Ciu Kang Hin kepada kami, hidup atau mati, agar arwah saudara kami yang tewas tidak menjadi penasaran!"

Terdengar teriakan di sana sini tanda setuju.

Kembali Seng Gun mengangkat kedua tangannya. "Baik, baik, kami berjanji dalam waktu satu bulan kami akan menghadapkan Ciu Kang Hin, hidup atau mati kepada cuwi sekalian untuk diadili. Nah, sekarang marilah kita mulai perayaan ini untuk menghormati cuwi yang terhormat."

Pesta dimulai dan para tamu rata rata merasa senang dan puas dengan sikap ketua baru yang tegas. Pesta itu baru bubar sesudah senja hari dan banyak tamu yang pulang dalam keadaan puas dan mabok. Hanya ada beberapa orang tamu dekat yang masih tinggal di sana untuk bermalam satu malam, di antara mereka tentu saja Bu-tek Ngo-sin-liong!

Seng Gun sendiri sudah setengah mabok. Dalam keadaan seperti itu dia tak begitu ingat lagi. Dia berani bercanda dengan Bi-sin-liong Kwan Lian bermain tebak jari dengan taruhan minum sehingga kedua orang ini menjadi mabok dan tertawa cekikikan, ditonton oleh Bu-tek Ngo-sin-liong dan yang lain.

Melihat ulah muridnya yang kini menjadi ketua baru itu, Nam-kiang-pangcu yang lama, Tio Hui Po, mengerutkan alisnya lantas pergi ke dalam kamarnya. Dia merasa kecewa sekali, maka di dalam kamarnya dia termenung dan mulai meragukan kebijaksanaannya.

Murid utamanya telah hilang, bahkan menjadi pengkhianat. Puteranya sendiri tidak becus. Dan sekarang yang diangkatnya sebagai ketua sesungguhnya orang yang baru dia kenal empat lima tahun yang lalu. Timbul perasaan sedih dan khawatir di hatinya.

Terbayang sikap Ciu Kang Hin yang lembut dan taat, yang sopan dan pandang matanya yang jujur. Kemudian terbayanglah dia betapa Seng Gun secara tidak tahu malu bercanda dengan si cantik Bi-sin-liong Kwa Lian di depan banyak orang…..

********************

Sementara itu para tamu telah memasuki kamar mereka masing-masing yang disiapkan untuk mereka. Jumlah para tamu yang menginap hanya ada belasan orang.

Dengan langkah semoyongan Seng Gun juga memasuki kamarnya, tetapi tidak sendirian melainkan bersama Kwa Lian. Dia tidak menyadari bahwa Tio Ki Bhok dengan bersungut-sungut mengikutinya dan pemuda ini mengintai dari jendela kamarnya ketika mendengar suara cekikikan dari dalam kamar itu. Ternyata pemuda tolol itu sudah jatuh cinta kepada Kwa Lian!

Ketika Tio Ki Bhok mengintai ke dalam dan melihat betapa Seng Gun bermesraan dengan Kwa Lian, dia terbelalak dan mukanya menjadi merah. Tanpa pikir panjang lagi ditolaknya daun jendela lantas ia pun melompat masuk. Tentu saja Seng Gun dan Kwa Lian terkejut sekali, maka Seng Gun segera melompat turun dari pembaringan sambil membentak,

"Sute, mau apa engkau memasuki kamarku seperti ini?!”

"Suheng, nona ini adalah kekasihku. Aku cinta kepadanya… aku akan minta ayah untuk melamarnya."

"Sute, pergilah dan jangan ganggu aku!"

"Ahh, suheng, engkau telah mempunyai banyak kekasih. Kalau engkau tidak memberikan kepadaku maka akan kulaporkan kepada ayah!"

"Bocah tolol! Mau lapor apa kau?!"

"Akan kulaporkan bahwa dulu engkau pernah menangkap enci ini, lalu dijadikan tawanan, akan tetapi kau bebaskan pada malam harinya. Malah topengnya kau lemparkan di luar kamar Ciu Suheng. Nona ini melepaskan topeng dan melepaskan penyamarannya, maka aku mengenalnya benar. Hayo... aku melihat sendiri, kalian tidak dapat menyangkal!"

Seng Gun dan Kwa Lian terbelalak, dan muka Seng Gun berubah pucat. Akan tetapi Kwa Lian yang mempunyai banyak pengalaman, tidak membuang waktu. Dia melihat adanya bahaya bahwa rahasia mereka akan terbuka, sebab itu secepat kilat wanita cantik jelita ini sudah menggerakkan kepalanya. Sejak tadi rambutnya memang telah terlepas dan terurai panjang ketika dia bermesraan dengan Seng Gun. Sekarang rambut panjang itu meluncur ke arah tubuh Tio Ki Bhok.

Kasihan sekali pemuda tolol ini. Dia memang mempunyai ilmu silat yang dapat dikatakan amat tangguh bagi orang awam, akan tetapi menghadapi seorang datuk sesat seperti Bi-sin-liong (Naga Sakti Cantik) Kwa Lian, dia bukan apa-apa.

Dia bingung melihat lembaran rambut halus itu menyambar, kemudian bagaikan ular saja rambut harum itu sudah membelit lehernya! Dia berusaha untuk melepaskan, akan tetapi tidak mungkin lagi. Rambut itu seperti menembus kulitnya dan membuat dia tidak dapat bernapas. Akhirnya dia berkelojotan kemudian pingsan.

"Jangan bunuh dia!" kata Seng Gun.

Kwa Lian melepaskan rambutnya lalu menyanggulnya. Manisnya bukan kepalang gerakan Kwa Lian ketika menyanggul rambutnya. Entah mengapa, gerakan wanita yang sedang menyanggul rambutnya selalu mendatangkan gairah tersendiri dalam hati pria!

Kwa Lian memandang kekasihnya. "Kenapa, Seng Gun? Orang ini berbahaya sekali. Jika dia bicara dan orang lain mendengarkan omongannya, semua rencana kita bisa celaka."

"Justru itu tidak boleh dibunuh. Akan tetapi kalau dia dibuat tidak mampu bicara dan tidak mampu mendengar, juga tidak mampu melihat, tidak akan ada yang percaya padanya."

"Maksudmu?" Kwa Lian memandang, lalu maklum dan dia pun menubruk dan merangkul, lalu mencium pemuda itu dengan girang. "Ahh, engkau memang cerdik bukan main!"

Seng Gun hanya tertawa ha-ha-he-he, lalu menghampiri Tio Ki Bhok. Agaknya pemuda tolol ini dapat menduga bahaya apa yang mengancam dirinya karena ketika itu dia sudah siuman kembali. Dia menjadi pucat, terbelalak dan menggeleng-geleng kepala.

Akan tetapi sekali tangan Seng Gun bergerak, jari-jari tangannya sudah menusuk ke arah tenggorokan. Hanya terdengar bunyi ‘krok’ dan tulang tenggorokan sudah menjadi remuk sehingga membuat pemuda itu tidak dapat mengeluarkan suara lagi.

Dia membuka mulut lebar-lebar untuk menjerit, namun tidak mampu mengeluarkan suara. Seng Gun lalu mengelebatkan golok sambil menangkap lidah Tio Ki Bhok, lantas lidah itu pun putus! Dua kali lagi tangannya bergerak, sekali ke arah mata dan sekali lagi ke arah bawah telinga, maka pemuda itu kini sudah menjadi seorang tapadaksa yang paling tidak berguna di dunia. Dia tidak mampu lagi bicara, tidak dapat mendengarkan dan tidak dapat melihat. Darah membasahi mulut, mata yang berlubang dan telinga, lalu dia pun pingsan.

Pada saat itu hati Tio Hui Po merasa tidak enak. Tadi dia teringat akan puteranya, satu-satunya orang di dunia ini yang terdekat dengannya, biar pun bodoh. Kemudian dia keluar dari kamarnya dan memanggil-manggil. Ketika tiba di dekat kamar Seng Gun, pintu kamar itu terbuka dan Seng Gun muncul. Cepat dia memberi hormat kepada gurunya.

"Suhu, suhu mencari siapakah?"

"Pangcu, kau melihat Ki Bhok?"

"Sute? Ada teecu melihatnya, suhu. Mari teecu antar, kalau tidak salah tadi dia berada di bangunan bawah tanah."

"Kenapa berada di sana?"

"Entahlah, suhu. Akhir-akhir ini dia sering termenung di ruang tahanan kosong di bawah tanah itu."

"Aneh..." kata Tio Hui Po akan tetapi dia mengikuti Seng Gun menuju bangunan bawah tanah.

Bangunan ini berada di belakang, dan biasanya dipergunakan untuk mengeram tawanan yang berbahaya. Akan tetapi sudah lama tidak ada tawanan yang dikeram di tempat itu.

Mereka menuruni lorong yang menurun ke bawah tanah. Tempat itu amat menyeramkan, diterangi dengan obor-obor yang dipasang pada dinding, dan dinding batu itu lembab dan dingin. Sesudah tiba di ruangan paling dalam, Seng Gun berjalan di belakang membiarkan gurunya berjalan di depan.

Tio Hui Po melihat puteranya berada di dalam ruang tahanan, bersandar pada dinding dan keadaannya sangat menyedihkan. Wajahnya penuh darah yang keluar dari hidung, mulut, mata dan telinga! Dan puteranya itu agaknya pingsan.

"Ki Bhok!" Tio Hui Po masuk ke ruangan itu kemudian cepat menghampiri puteranya.

"Klikk!" Daun pintu besi ruangan yang luas itu tertutup.

Tio Hui Po cepat menengok dan melihat Seng Gun sudah berdiri di dalam ruang tahanan itu bersama seorang wanita yang dikenalnya sebagai Bi-sin-liong Kwa Lian, yaitu orang termuda dari Bu-tek Ngo-sin-liong, Mereka berdiri sambil tersenyum mengejek.

"Seng Gun, apa artinya semua ini?! Kenapa Ki Bhok menjadi luka begini?”

"Tanyakan saja kepadanya!" kata Seng Gun dengan suara mengejek.

Tio Hui Po mengguncang-guncang pundak puteranya. "Ki Bhok, kau kenapa? Siapa yang melukaimu?"

Pemuda itu menggerakkan tubuhnya. Matanya telah buta, mulutnya tak dapat bicara dan telinganya tuli. Dia hanya bisa menggerakkan telunjuknya, menuding ke arah Seng Gun.

Tio Hui Po memeriksa keadaan puteranya dan dia mengeluarkan jerit ngeri ketika melihat keadaan puteranya yang sesungguhnya. Puteranya ini lebih banyak mati dari pada hidup! Dia meloncat ganas dan memandang kepada Seng Gun dengan mata memancarkan api kemarahan.

"Seng Gun, apa yang terjadi dengan keponakanku?”

"Ha-ha-ha, keponakan? Tio Hui Po, Ki Bhok itu bukanlah keponakanmu, melainkan anak gelapmu dengan Ang-lian-pangcu yang bernama Siang-cu Sian-li..."

"Tapi bukankah dia bibimu?"

"Bibi apa? Dia mati karena kami yang membunuhnya dan kami sudah mengetahui rahasia busukmu dengannya."

Tio Hui Po terbelalak, marahnya sudah sampai ke ubun-ubun, akan tetapi dia pun merasa penasaran dan ingin tahu.

"Tapi… tapi... kau masuk ke Nam-kiang-pang, malah engkau menerima warisan Thian-te To-hoat dan engkau… Ahh… kalau begitu Ciu Kang Hin juga hanya menjadi korban fitnah yang kau buat!"

"Ha-ha-ha, engkau pintar, akan tetapi terlambat, Tio Hui Po. Sekarang aku yang menjadi ketua Nam-kiang-pang, dan kau boleh tinggal di sini selamanya bersama anakmu, ha-ha-ha-ha…!"

"Tapi... tapi... mengapa? Siapakah engkau sebenarnya?"

"Ha-ha, sekarang tidak ada persoalan kalau engkau mengenalku, Tio Hui Po. Aku adalah putera An Lu Shan, namaku An Seng Gun. Aku cucu Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Aku ingin mendirikan kembali kejayaan ayahku yang sudah runtuh. Dan karena aku membutuhkan nama Nam-kiang-pang maka aku ingin menguasainya. Ang-lian-pang kami basmi karena tidak mau tunduk terhadap kami, sedangkan Hoat-kauw adalah sekutu kami. Juga kami akan menggunakan Nam-kiang-pang untuk membasmi Beng-kauw dan mengadu domba semua perkumpulan yang tidak mau bekerja sama dengan kami!"

"Jahanam keparat...! Kau adalah iblis!" Tio Hui Po mencabut goloknya lantas menyerang bekas murid itu dengan jurus dari Thian-te To-hoat.

Akan tetapi Seng Gun baru saja menamatkan ilmu golok itu, maka tentu saja dia mampu menangkis, apa lagi di tangannya terdapat golok pusaka yang turun temurun dimiliki para ketua Nam-kiang-pang. Biar pun demikian, andai kata Seng Gun tidak sudah mempelajari ilmu dari kakeknya dan di ruang itu tidak ada Kwa Lian, maka belum tentu dia akan berani menandingi gurunya yang telah banyak pengalaman dan terkenal sebagai seorang gagah di dunia kangouw.

Tio Hui Po mengamuk dengan goloknya, dikeroyok dua oleh Seng Gun dan Bi-sin-liong Kwa Lian. Baru tingkat kepandaian Kwa Lian saja telah sebanding dengan tingkatnya, apa lagi di sana ada Seng Gun yang mengenal semua jurus gerakan goloknya. Maka, setelah mengamuk selama tiga puluh jurus, akhirnya Tio Hui Po terkena sabetan pedang beronce merah dari Bi-sin-liong Kwa Lian.

Sabetan pedang Bi-sin-liong itu tepat mengenai pergelangan tangan kanannya sehingga membuat lengan itu buntung dan goloknya terlepas! Lalu serangan susulan dari suling dan golok di tangan Seng Gun membuat bekas ketua Nam-kiang-pang ini terjungkal dengan luka di pundak oleh bacokan golok dan tusukan suling perak pada lambungnya. Dia tidak mampu bangkit lagi.

Seng Gun tertawa. "Ha-ha-ha-ha, tinggallah kau di sini menemani puteramu, Tio Hui Po. Jangan khawatir, setiap hari akan kusuruh orang mengantar makanan untukmu!" Sesudah berkata demikian dia menggandeng Kwa Lian keluar dari ruangan itu lantas menguncikan pintunya dari luar.

Dapat dibayangkan hebatnya penderitaan Tio Hui Po. Derita yang dialami itu amat berat, bukan hanya derita lahir melainkan derita batin. Nyeri badan dapat ditanggung oleh lelaki yang gagah perkasa ini, akan tetapi nyeri di hatinya membuat dia hampir putus asa. Akan tetapi dia mempunyai semangat besar.

Dia menggunakan tangan kirinya untuk merawat luka-lukanya, kemudian melihat keadaan puteranya, dia tahu bahwa jalan satu-satunya bagi puteranya hanyalah kematian. Dia pun menyambar goloknya dengan tangan kiri, kemudian memejamkan mata ketika goloknya menyambar ke depan dan menembus jantung puteranya. Sesudah puteranya roboh tidak bernyawa lagi, barulah dia berlutut sambil menangis dan menciumi muka puteranya yang masih berlumuran darah itu.

Dia duduk bersila. Terbayang olehnya semua sikapnya yang keliru terhadap Ciu Kang Hin selama ini. Ah, betapa buta dia! Percaya sepenuhnya kepada Seng Gun dan sebaliknya malah mencurigai Kang Hin! Dia merasa menyesal bukan main.

Penyesalan selalu kasep datangnya. Penyesalan baru datang setiap kali perbuatan telah menimbulkan akibat buruk. Kalau tidak berakibat buruk, betapa pun jeleknya perbuatan itu maka tidak akan mendatangkan penyesalan. Sesal tak ada gunanya, karena sesal hanya menunjukkan kekecewaan dari tidak tercapainya keinginan.

Penyesalan tidak mendidik dan tidak membangun kesadaran. Apakah artinya kesadaran setelah perbuatan dilakukan? Perbuatan itu akan terulang kembali lantas penyesalan pun akan terulang kembali. Tetapi bagi orang yang waspada akan tindakannya sendiri setiap saat, bagi orang yang selalu bersandar pada kekuasaan Tuhan, kesadaran akan datang sebelum dia berbuat, sehingga tidak menimbulkan penyesalan yang sudah terlambat.


Semenjak hari itu pula Seng Gun sepenuhnya berkuasa atas Nam-kiang-pang. Ia bahkan membasmi orang-orang yang tak mau tunduk dan yang masih terus menanyakan tentang Tio Hui Po sehingga akhirnya di Nam-kiang-pang hanya tinggal orang-orang yang tunduk dan sepenuhnya berada dalam kekuasaan Seng Gun. Dan tentu saja hubungan dengan Hoat-kauw menjadi makin erat, bahkan Hoat-kauw yang tadinya berpusat di Bukit Ayam dekat dusun Libun, yang telah diobrak-abrik oleh pasukan, sekarang dipindahkan ke Nam-kiang-pang.....!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner