KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-22


Ciu Kang Hin merasa seperti dalam mimpi. Kepalanya terasa berdenyut-denyut nyeri dan panas dan tadi ketika dia roboh, tiba-tiba saja tubuhnya terangkat tanpa dia berdaya untuk melawan, kemudian tubuh itu diterbangkan orang tanpa dia dapat melihat jelas bagaimana caranya dan siapa orang itu.

Dia telah pingsan dalam pondongan orang ini dan tidak tahu bahwa dia dibawa pergi jauh sekali dari tempat itu. Orang yang memondongnya baru berhenti ketika mereka sampai di atas sebuah bukit bambu yang sunyi. Pemondongnya menurunkan tubuhnya di atas petak rumput yang bersih tebal lalu memeriksa dirinya.

Ketika mendapat kenyataan bahwa ada dua bintik kecil berwarna hitam pada dahi pemuda itu, si penolong lalu membungkuk, menggunakan mulutnya untuk mengecup bintik di dahi dan menggunakan tenaga saktinya untuk menyedot. Setelah beberapa lamanya, berhasil juga dia menyedot keluar dua batang jarum hitam halus.

Dia masih terus menyedot hingga darah yang keluar dari dahi itu berwarna merah. Lalu dia menggunakan dua telapak tangannya, ditempelkan pada dada Kang Hin dan menyalurkan tenaga sinkang ke dalam dada pemuda itu untuk membantu membersihkan tubuhnya dari hawa beracun.

Pada saat matahari sudah mulai terbenam akhirnya Kang Hin tersadar. Dia mendapatkan dirinya tergantung di pohon bambu besar, tergantung pada kedua kakinya dengan kepala di bawah! Kang Hin terkejut, tetapi dia masih nanar sehingga belum ingat apa yang telah terjadi dengan dirinya. Kepalanya masih terasa pening sekali.

Perlahan-lahan dia membuka kedua matanya. Tak salah lagi. Dia sudah digantung orang di pohon itu dengan kedua kaki di atas dan kedua tangannya diikat! Ketika dia melihat ke bawah, dia melihat seorang pemuda duduk dekat api unggun sedang makan paha ayam hutan bakar! Lezatnya baunya ayam panggang itu. Biar pun tubuhnya terasa sakit-sakit, namun mengilar juga Kang Hin mencium bau yang sedap itu.

Kang Hin seorang pemuda yang cerdik. Biar pun masih pening namun dia masih mampu menggunakan otaknya untuk menimbang keadaan dan mengambil kesimpulan. Pemuda itu tidak dikenalnya, bukan salah seorang di antara para pengeroyoknya tadi. Pakaiannya sederhana dan bersih, tubuhnya tinggi tegap, wajahnya jantan, rahang dan dagunya keras tetapi matanya lembut dan kocak, mulutnya selalu terhias senyum. Bukan wajah seorang jahat!

Tadi mestinya dia telah mati karena sudah terluka oleh senjata rahasia. Namun kenyataan bahwa dia berada di sini, biar pun tergantung tetapi belum mati, membuktikan bahwa dia tentu sudah ditolong orang. Siapa lagi orangnya kalau bukan pemuda itu? Kalau pemuda itu orang jahat yang memusuhinya, perlu apa bersusah payah lagi? Membunuh dia akan mudah sekali. Tidak, pemuda ini bukan orang jahat dan tidak bermaksud membunuhnya. Kang Hin yakin akan hal ini.

"Sobat, ayammu gurih sekali baunya. Boleh aku minta sedikit?"

Pemuda itu nampak terkejut.

"Hehh...? Hah...? Apa... apa kau kata?" Dia menoleh ke kanan kiri seperti orang bingung.

Pemuda itu menengadah, lantas bangkit berdiri. Ternyata tubuhnya tegap sekali, dadanya bidang dan matanya mencorong. Pemuda itu adalah Sia Han Lin!

Dia sedang menuju Bukit Harimau untuk menyelidiki Hoat-kauw yang akan mengadakan pertemuan dan pesta ketika dia lewat di tempat itu, dan secara kebetulan sekali melihat Kang Hin terancam maut di tangan tiga orang yang lihai bukan main. Meski pun dia belum mengenal Kang Hin, namun tak mungkin dia dapat membiarkan saja orang dikeroyok dan dibunuh, apa lagi orang yang memiliki kepandaian hebat seperti pemuda itu. Maka dia pun mempergunakan ilmu sihirnya mendatangkan angin, lalu menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk menyambar dan melarikan tubuh Kang Hin yang setengah pingsan.

Memang Han Lin terkejut bukan main. Dia tidak mengira bahwa pemuda yang ditolongnya itu akan menegur minta ayam panggang. Alangkah lucunya! Maka dia pun tertawa.

Tadi setelah menyedot keluar dua batang jarum beracun, ia melihat betapa kuatnya racun itu yang kalau dibiarkan akan dapat mengganggu kewarasan otak pemuda itu. Maka dia lalu menggantung Kang Hin dengan kepala di bawah untuk memberi kesempatan kepada darah di tubuh Kang Hin agar mengalir sebanyaknya ke kepala dan darah itu akan dengan sendirinya melawan pengaruh racun yang dapat merusak jaringan otak. Siapa kira begitu siuman pemuda itu minta bagian ayam panggangnya karena lapar! Benar-benar seorang pemuda yang menyenangkan, pikir Han Lin, dan jelas bukan orang jahat.

"Sobat, sayang sekali engkau terpaksa berpuasa semalaman ini. Tahukah kau, kalau aku memberimu paha ayam ini sama saja aku membunuhmu? Engkau keracunan hebat, dan bergantung terbalik itulah satu-satunya jalan untuk menyembuhkanmu. Engkau tak boleh banyak bergerak, apa lagi makan. Besok pagi sesudah matahari terbit baru engkau boleh turun dan engkau akan sembuh sama sekali. Aku akan membuatkan sarapan yang lezat untukmu. Nah, sekarang kau boleh tidur!"

Kang Hin tertegun. Ahh, jadi inikah cara pengobatan itu. "Kawan, siapa namamu?"

"Hei, engkau pun dilarang untuk banyak bicara. Tentang nama, besok pagi kita berkenalan juga belum terlambat, bukan? Nah, istirahatlah, bungkus pikiranmu di dalam keheningan malam."

Kang Hin dapat merasakan kesungguhan di balik kata-kata yang seperti kelakar itu, maka dia pun mematuhinya. Dia segera menenteramkan hatinya, membenamkan diri di dalam keheningan.

Keruyuk ayam jago membangunkan Kang Hin dari tidurnya. Kepalanya berdenyut-denyut akan tetapi tidak terasa nyeri lagi dan begitu sadar hidungnya mencium bau yang sangat sedap sehingga dia membuka matanya. Matahari telah mulai nampak cahayanya dan dia melihat pemuda yang menolongnya sedang memanggang seekor rusa kecil yang ditusuk dari mulut ke ekornya. Panggang rusa itulah agaknya yang mengeluarkan bau sedap tadi, yang membangunkannya bersama keruyuk ayam jantan.

Han Lin mendongak dan memandang, kemudian tertawa. "Ha-ha-ha, kiranya engkau telah bangun. Alangkah tajam penciuman hidungmu!"

"Dan engkau! Alangkah kejamnya hatimu. Engkau adalah orang yang sejahat-jahatnya!" terdengar bentakan nyaring tetapi lembut, kemudian bagaikan seekor garuda menyambar seorang wanita telah menerjang dan menempeleng kepala Han Lin.

"Wahh!” Han Lin menjatuhkan diri lalu bergulingan di atas rumput, menghindarkan diri dari serangan itu. "Jangan galak-galak, nona."

Akan tetapi wanita itu yang ternyata seorang gadis cantik jelita dan berusia tak lebih dari sembilan belas tahun, menjadi penasaran ketika tamparannya tadi luput. la membalik dan kini menyerang lagi dengan tendangan kaki. Han Lin dapat merasakan betapa tendangan itu mengandung tenaga sinkang yang sangat dahsyat. Maka dia pun mengerahkan tenaga dalamnya dan menangkis.

"Dukkk!"

Akibatnya dua orang itu terdorong ke belakang dan merasa tubuh mereka tergetar hebat. Keduanya berdiri tertegun dan baru maklum bahwa lawan adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Maka gadis yang bukan lain adalah Yang Mei Li itu menjadi penasaran sekali, kemudian mencabut sepasang pedang terbangnya.

"Ehh, nanti dulu, aku tidak ingin berkelahi denganmu!" kata Han Lin sambil duduk kembali ke depan panggang rusanya.

Akan tetapi hal ini dianggap sebagai sikap memandang rendah oleh Mei Li, maka dia pun mengelebatkan pedangnya.

"Hayo bangkit dan lawanlah, atau aku akan menggunduli kepalamu!"

Mendengar ini Han Lin terbelalak. Setelah gadis itu mengeluarkan ancaman, suasananya terasa begitu lucu oleh Han Lin sehingga dia tertawa. Mana ada lawan yang mengancam musuh dengan menggunduli rambut?

"Ha-ha-ha-ha, engkau hendak menggunduli rambutku? Berapa biayanya? Apakah engkau tukang cukur?"

Sejenak Mei Li terbelalak, kemudian mukanya menjadi merah. Dia menganggap pemuda itu mempermainkannya, maka dia menggerakkan pedang kirinya. Pedang itu menyambar, Han Lin mengelak, pedang mengejar dan benar-benar mengancam kepalanya. Terpaksa dia berloncatan.

"Ehh! Ohh! Nanti dulu, rusa panggangku… wah, wah celaka, bisa hangus…"

Akan tetapi kini Mei Li sudah marah dan terus mendesak. Karena Mei Li bukan ahli silat biasa, maka betapa pun lihainya tentu saja Han Lin tidak bisa hanya main mengelak saja. Terpaksa dia menyambar tongkat yang tadinya dia letakkan di atas tanah.

Akan tetapi dia tidak ingin memamerkan iImu tongkat Lui-tai-hong-tung yang dia pelajari dari Lojin karena iImu tongkat itu terlalu dahsyat. Maka dia lalu menggerakkan tongkatnya memainkan ilmu Hong-in Sin-pang untuk menangkis sepasang pedang yang mengaung-ngaung dan menyambar-nyambar seperti dua ekor burung garuda itu.

Akan tetapi semua gerakan tongkatnya itu seperti terkepung dan terdesak oleh sepasang pedang, maka dia pun mengubah lagi permainan tongkatnya. Biar pun tahu bahwa lawan amat hebat, namun dia masih belum mau mengeluarkan Lui-tai-hong-tung, melainkan kini memainkan tongkatnya seperti memainkan pedang saja dengan ilmu pedang Sian-li Kiam-sut. Setelah dia memainkan beberapa jurus, Mei Li meloncat ke belakang sambil berseru,

"Tahan...!

Mei Li memandang heran namun Han Lin tidak peduli. Dia segera membuang tongkatnya kemudian lari menghampiri panggang rusa, memutarnya agar tidak hangus dan akhirnya tersenyum puas.

"Dari mana engkau mempelajari Sian-li Kiam-sut?!" bentak Mei Li sambil menatap tajam.

Han Lin tersenyum lantas menjawab, "Nona, apakah nona ini seorang puteri kaisar, atau puteri raja di hutan ini?"

"Ehh! Kenapa?"

"Nona bersikap seperti puteri yang memerintah, menuntut dan memeriksa tahanan. Nona puteri dari mana?" tanya Han Lin sambil tetap melanjutkan pekerjaannya memutar-mutar daging rusa sehingga dapat terpanggang rata.

Karena perhatian Han Lin kini sepenuhnya tertuju kepada panggang rusa, mau tidak mau Mei Li juga memandang kepada panggang rusa itu dan dia pun menelan ludah. Sungguh pemandangan yang menimbulkan selera!

Daging itu meneteskan lemak dan harumnya membuat perutnya mendadak terasa lapar sekali. Dia merasa betapa sayangnya kalau panggang rusa itu sampai hangus, maka dia pun menahan diri dan membiarkan pemuda itu menyelesaikan pekerjaannya.

"Ditanya belum menjawab malah balas bertanya. Engkau selain kejam dan cerewet, juga pengecut!"

Han Lin membelalakkan matanya, lantas tersenyum kepada panggang rusa di depannya. "Ehh, rusa yang baik, apakah memang wanita cantik itu selalu galak? Nona, kau datang-datang memaki aku sebagai orang yang sekejam-kejamnya, apa kesalahanku kepadamu sehingga nona menganggap aku kejam? Apa karena aku menyembelih dan memanggang rusa ini?"

"Kau masih pura-pura bertanya?" Mei Li menoleh dan memandang kepada Kang Hin yang masih tergantung di pohon dengan kepala di bawah. "Kau menyiksa orang seperti itu dan masih bertanya mengapa kau kumaki kejam?!"

Han Lin menoleh dan merasa geli. Kiranya itu yang menyebabkan gadis ini marah-marah lantas menyerangnya kalang kabut. Hal ini mendatangkan kesan baik di hatinya. Seorang gadis yang memiliki watak gagah dan suka membela orang yang tertindas, pikirnya.

Karena mendapat kesan baik maka timbullah keinginan hatinya untuk menguji kepandaian gadis itu. Kebetulan panggang rusanya juga telah matang, tinggal tunggu agak mendingin saja kemudian siap dimakan.

Dia menaruh panggang rusa itu di atas tonggak kayu, kemudian dia menghadapi Mei Li, memandang penuh perhatian dan mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang cantik jelita luar biasa. Dia lalu bertanya dengan nada suara menantang.

"Wahai paduka puteri yang mulia, apakah gerangan dosa hamba maka paduka semarah ini? Datang-datang menyerang hamba, hendak menggunduli kepala hamba. Kalau hamba menggantung orang ini, apa sangkut pautnya dengan paduka?"

"Kurang ajar! Engkau jahat, engkau perlu dihajar!" Sekali ini Mei Li marah bukan main dan segera mencabut sepasang pedang terbangnya. Nampak kilat menyambar ketika dara ini mencabut senjatanya.

"Hemm, hendak kulihat, aku atau engkau yang perlu dihajar," kata Han Lin, sengaja untuk membuat gadis itu semakin marah.

Dan memang usahanya berhasil. Mei Li menjadi merah mukanya dan berseru melengking nyaring sambil menggerakkan pedang kirinya.

"Sambut pedangku!"

Han Lin tidak berani main-main. Dia pun menyambar tongkat wasiatnya yang dia peroleh dari gurunya, menangkis kemudian balas menyerang. Namun karena dia tidak bermaksud buruk, dia masih belum mau memainkan Liu-tai-hong-tung melainkan memainkan Sian-li Kiam-sut yang pernah dia pelajari dari mendiang ibunya ketika dia masih kecil.

Biar pun Mei Li menjadi semakin heran dan amat penasaran bagaimana pemuda ini dapat memainkan Sian-li Kiam-sut, ilmu pedang dari ayahnya, tetapi dia tidak mau bertanya lagi. Dia harus mengalahkan dulu pemuda jahat ini. Nanti pun belum terlambat untuk memaksa pemuda ini mengaku dari mana dia mempelajari ilmu pedang itu.

Akan tetapi ternyata pemuda itu lihai sekali. Bahkan dia menduga bahwa ayahnya sendiri tidak akan mampu memainkan Sian-li Kiam-sut dengan sebatang tongkat sebaik pemuda itu! Maka dia pun mendesak sambil mengerahkan tenaganya untuk meraih kemenangan.

Sementara itu, sejak tadi Kang Hin hanya menjadi penonton. Girang sekali hatinya melihat gadis perkasa itu membelanya mati-matian, akan tetapi dia pun khawatir melihat mereka berkelahi begitu serunya, makin lama semakin hebat. Seorang di antara mereka bisa saja terluka parah dalam perkelahian seperti itu.

"Nona, hentikan seranganmu. Dia bukan orang jahat, dia malah menolongku!" teriaknya.

Setelah dua tiga kali berteriak barulah Mei Li menghentikan serangannya dan meloncat ke belakang. Tadi dia telah mulai menggunakan ilmu pedang terbangnya sehingga sepasang pedangnya itu laksana sepasang garuda menyambar-nyambar membuat Han Lin terkejut dan kagum sekali. Kini, melihat gadis itu melompat mundur, dia pun memuji.

“Sepasang pedang terbang, sungguh hebat bukan main!”

Sementara itu Mei Li mengangkat muka memandang Kang Hin dengan penasaran. “Ciu Kang Hin, kenapa engkau menahan aku untuk membunuh orang jahat ini?”

“Nona, dia bukan orang jahat dan dia tidak menyiksa aku. Bahkan dia sudah menolongku dan menyelamatkan nyawaku. Ini adalah cara pengobatan untuk membebaskan aku dari racun!”

Mendengar ini Mei Li terbelalak lantas tersipu, kedua pipinya berubah merah akan tetapi sinar matanya berkilat karena marah dan merasa dipermainkan. Melihat sikap gadis itu, Han Lin tersenyum dan dia pun berkata kepada Kang Hin,

“Sobat, mengapa engkau tidak lekas turun dan malah banyak omong saja? Apa perutmu tidak merasa lapar?”

Mendengar ucapan Han Lin itu, Kang Hin merasa girang sekali. Dia sudah merasa sangat tersiksa karena digantung terbalik sepanjang malam, akan tetapi karena hal itu amat perlu untuk menyelamatkan nyawanya, maka dia tidak banyak membantah.

“Ahh, sudah bolehkah…?” katanya, lantas dia pun mengerahkan tenaganya, mengangkat kepala ke atas dan sekali menggerakkan tangan, maka tali pengikat kedua kakinya sudah putus. Dengan ringan tubuhnya melayang turun, membuat poksai (salto) satu lingkaran kemudian kakinya hinggap di tanah, berhadapan dengan Mei Li.

“Engkau sudah salah sangka, nona. Aku terluka oleh sute-ku sendiri yang mengeroyokku bersama dua orang Hoat-kauw. Kalau tidak ada dia yang menolongku, tentu saat ini aku sudah menjadi mayat. Dia membawaku ke sini dan mengobatiku.”

Mei Li mengerutkan alis ketika menghadapi Han Lin yang kini mulai memanggang rusanya karena sudah menjadi terlalu dingin sehingga perlu dipanasi lagi.

“Hemm, mengapa engkau tadi tidak berterus terang dan membiarkan aku salah sangka? Engkau hendak mempermainkan aku, ya?” Mei Li mengambil sikap menantang. “Engkau hendak pamer kepandaian, ya? Mentang-mentang bisa ilmu Sian-li Kiam-sut, engkau lalu sombong dan mempermainkan aku?”

Diserang kata-kata yang keluar seperti rangkaian peluru itu, Han Lin menjadi kewalahan. Setiap kali Mei Li berhenti bicara, selagi dia hendak membantah, tahu-tahu gadis itu telah mendahului dengan berondongan kata-kata lainnya. Karena itu dia diam saja, menunggu sampai gadis itu kehabisan kata.

Akhirnya tibalah saat yang dinantikan Han Lin. Mei Li benar-benar sudah kehabisan kata sehingga kini dia hanya mampu berdiri sambil bertolak pinggang dengan napas terengah-engah. Han Lin tidak mau melewatkan kesempatan ini, maka cepat dia mengangkat dua tangannya ke depan dada lalu berkata,

“Maafkan, nona. Kalau aku boleh mengetahui, siapakah nona? Dan siapa pula sobat ini?”

Sejak tadi Kang Hin sudah ingin memperkenalkan diri, karena dia merasa berhutang budi dan ingin sekali tahu nama pemuda penolongnya ini. Akan tetapi berondongan kata-kata Mei Li tadi memaksanya untuk menunda keinginannya sehingga dia hanya berdiri sambil tersenyum-senyum melihat penolongnya kebingungan menghadapi gadis ini. Maka, ketika pemuda penolongnya bertanya, dia pun segera menjawab,

“Dia adalah Yang Mei Li berjuluk Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang), sedangkan aku bernama Ciu Kang Hin. Bolehkah kami mengetahui nama sobat yang terhormat?”

Akan tetapi, kalau tadi Han Lin bersikap gembira dan jenaka, kini tiba-tiba saja wajahnya berubah agak pucat, matanya terbelalak dan dia memandang Mei Li seperti melihat setan di tengah hari. Namun wajahnya yang mengandung kekagetan besar itu hanya sebentar, dan segera menjadi wajah yang gembira bukan main. Matanya bersinar-sinar dan bibirnya tersenyum lebar sehingga sikap ini tentu saja mengejutkan Kang Hin dan terutama sekali Mei Li karena pemuda itu terus memandangnya tanpa berkedip.

Setelah memandang cukup lama dalam suasana hening, akhirnya Han Lin berkata, “Aihh, pantas saja wajahmu mirip benar dengan wajah ibuku. Kiranya engkau anak bibi Can Kim Hong dan paman Yang Cin Han? Memang kata orang wajah ibuku sama benar dengan wajah ayahmu!"

Mei Li terbelalak, mukanya berubah pucat lantas menjadi kemerahan. Kemudian, seperti didorong oleh sesuatu, entah siapa yang lebih dahulu bergerak, kedua orang muda itu lalu saling tubruk dan saling rangkul. Mei Li menangis saking terharu dan girang. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan kakak misannya!

"Sia Han Lin! Engkau tentu kakak Sia Han Lin! Ahh, Lin-koko betapa kami semua selalu memikirkan dan mengkhawatirkan dirimu!"

Han Lin bisa menguasai perasaan hatinya. Dengan lembut dia melepaskan rangkulannya, memegang kedua pundak gadis itu lalu mendorongnya ke depan untuk dilihat lebih jelas. Kedua matanya sendiri menjadi basah, akan tetapi mulutnya tersenyum.

"Terima kasih, adikku Mei Li, terima kasih. Tak kusangka bahwa paman sekeluarga selalu mengkhawatirkan dan memikirkan diriku. Dipikirkari seorang gadis sehebat engkau benar-benar sangat menyenangkan hati. Akan tetapi kebetulan sekali, mari kita bertiga makan bersama. Rusa ini sudah masak benar, masih muda, tentu dagingnya lunak dan gurih."

"Koko, engkau hebat. Perutku memang lapar sekali."

"Ha-ha-ha, jadi agaknya engkau membuat ulah dan ribut-ribut tadi untuk merampas daging rusaku, ya?" Han Lin mengamangkan telunjuknya sambil tertawa.

Mei Li yang wataknya memang lincah jenaka ini, kini tertawa juga mendengar itu. "Habis, dari jauh saja panggang rusamu sudah tercium olehku! Cuma aku tadi kaget bukan main dan mengira engkau orang jahat karena engkau membuat saudara Kang Hin tergantung seperti orang disiksa."

"Saudara Kang Hin! Aihh…, aku hampir lupa kepadamu. Maafkan, jadi namamu Ciu Kang Hin? Aku pernah mendengar nama itu. Bukankah engkau adalah tokoh besar dari Nam-kiang-pang? Kenapa tadi dikeroyok oleh orang-orang Hoat-kauw?."

Kang Hin menghela napas panjang. Dia tadi ikut tertegun menyaksikan pertemuan antara kakak dan adik itu, dan ikut merasa terharu karena dia sendiri adalah seorang yatim piatu yang tidak mempunyai keluarga lagi.

"Ahh, saudara Sia Han Lin, panjang ceritanya...," katanya sambil duduk dekat api unggun seperti kedua orang kakak beradik itu.

"Ya, Lin-ko, ceritanya panjang dan memang nasib yang menimpa diri Ciu-koko ini sangat buruk," kata Mei Li.

"Agaknya kalian sudah saling mengenal dengan baik," kata Han Lin.

"Tidak, koko. Kami baru saja berkenalan, bahkan sebelum berkenalan kami pun sempat saling serang dengan hebat. Aku tidak tahu akan keadaan yang sesungguhnya, maka aku menyerangnya dan berusaha untuk membunuhnya."

"Memang nasibku yang amat buruk dan semua ini karena perbuatan Seng Gun yang licik. Untuk melawan nona Yang, bagaimana mungkin aku dapat menang?"

"Ahh, engkau terlalu merendahkan diri, twako. Lin-ko, ketahuilah bahwa twako Ciu Kang Hin ini adalah pewaris ilmu Thian-te Sin-to yang terkenal. Ia lihai sekali dan aku bukanlah lawannya.”

"Bagus, kalian berdua dapat saling merendahkan diri, itu menunjukkan watak yang baik. Sekarang marilah kita makan dahulu, saudara Kang Hin perlu makan untuk memperkuat tubuhnya yang lemah. Nanti saja kita saling menceritakan pengalaman masing-masing," kata Han Lin.

Kang Hin dan Mei Li tidak membantah, maka mereka bertiga segera mulai makan daging rusa yang amat sedap dan gurih, padahal bumbunya hanya garam dan bawang putih saja. Memang daging itu lunak dan dimakan selagi masih panas, tentu saja terasa lezat. Mei Li pun memuji kepandaian kakaknya memanggang daging rusa.

Mereka makan hingga kenyang. Seekor rusa muda itu hampir habis dimakan oleh mereka bertiga. Setelah kenyang dan minum anggur yang disediakan pula oleh Han Lin, mereka pun pindah duduk ke tempat yang bersih lalu bercakap-cakap.

Mula-mula Kang Hin menceritakan riwayatnya, sebagai seorang yatim piatu yang menjadi murid Tio Hui Po, ketua Nam-kiang-pang yang sangat baik kepadanya. Dia menjadi murid kesayangan, murid kepala yang dipercaya, juga mewarisi ilmu simpanan Thian-te Sin-to-hoat.

Akan tetapi kemudian datang pula Tong Seng Gun yang juga menarik perhatian dan rasa sayang ketua Nam-kiang-pang sehingga Tong Seng Gun menjadi murid ke dua sesudah dia yang menerima warisan ilmu Thian-te To-hoat. Diceritakan pula tentang sepak terjang Tong Seng Gun yang ternyata palsu, bahkan pemuda itu ternyata adalah seorang tokoh Hoat-kauw yang menyusup ke Nam-kiang-pang. Sekarang jelas baginya bahwa Seng Gun sengaja hendak mengadu domba antara Nam-kiang-pang dan Beng-kauw, juga dengan perkumpulan-perkumpulan persilatan lain.

"Tidak ada yang mengira bahwa dia adalah seorang palsu yang amat jahat, tentu keadaan Nam-kiang-pang menjadi berbahaya sekali. Aku harus memberi tahu kepada suhu!" kata Kang Hin.

"Jangan tergesa-gesa, Ciu-twako. Seng Gun sangat licik dan tanpa bukti, mana mungkin Tio-pangcu akan percaya kepadamu? Tentu dia lebih percaya kepada Seng Gun."

"Benar sekali. Orang yang bernama Seng Gun itu berbahaya sekali. Bukan saja dia tokoh Hoat-kauw, tetapi agaknya dia bekerja sama dengan orang Mongol untuk membikin kacau dan lemah dunia kangouw agar mereka dapat menguasainya. Aku melihat sendiri betapa dia dan kawan-kawannya hampir saja membunuh Pek Kong Sengjin dari Kong-thong-pai.

"Ahh, benarkah itu?" Kang Hin berseru kaget sekali.

"Lin-koko, kini tiba giliranmu. Ceritakanlah riwayatmu sejak engkau lenyap dari kota raja itu. Ke mana saja engkau pergi? Ayahku khawatir bukan main bila bicara tentang dirimu. Ceritakan sampai engkau melihat Seng Gun hendak membunuh Pek Kong Sengjin."

Han Lin melirik kepada Kang Hin, lantas berkata, "Li-moi, akan kuceritakan tentang Seng Gun itu, akan tetapi mengenai riwayatku merupakan cerita panjang yang akan kuceritakan kepadamu lain waktu saja."

Kang Hin maklum bahwa dalam riwayat pribadi pemuda aneh yang menolongnya itu tentu ada sebuah rahasia yang hanya boleh diketahui keluarga sendiri, maka dia cepat berkata, "Saudara Han Lin, tentang riwayatmu, tidak perlu diceritakan. Aku hanya ingin sekali tahu tentang Seng Gun sebab dia adalah adik seperguruanku yang ternyata merupakan musuh yang menyusup ke Nam-kiang-pang."

Han Lin lalu bercerita tentang pengalamannya. Betapa secara kebetulan sekali dia melihat Seng Gun dan dua orang sekutunya menyerang Pek Kong Sengjin tokoh Kong-thong-pai itu dan mendengar percakapan mereka.

"Seng Gun secara curang sudah memukul dan mendorong Pek Kong Sengjin ke dalam jurang. Untunglah secara kebetulan aku berada di sana sehingga berhasil menyelamatkan nyawa tokoh Kong-thong-pai itu. Kemudian aku sempat pula mendengarkan percakapan antara Tong Seng Gun dengan dua orang tokoh Hoat-kauw. Dari percakapan itu ternyata mereka memang sengaja hendak menguasai Nam-kiang-pang dan akan mempergunakan perkumpulan itu untuk mengadu domba antara Beng-kauw dengan perkumpulan dan aliran lain. Agaknya mereka hendak menghancurkan semua aliran dan perkumpulan agar Hoat-kauw menjadi penguasa. Dalam memusuhi Beng-kauw ini mereka menggunakan namamu untuk mengacaukan, saudara Kang Hin."

Kang Hin mengangguk-angguk, agaknya hal itu memang sudah diduganya. Tiba-tiba saja dia mengepal tinju kemudian bangkit berdiri.

"Celaka, pasti sekarang suhu sedang terancam bahaya. Mereka tentu mengandung niat busuk terhadap suhu, aku harus menolong suhu!"

"Ciu-twako, aku akan membantumu dan menjadi saksi tentang kejahatan Seng Gun!" kata Mei Li. "Kalau sekarang engkau pulang sendiri, tentu gurumu tidak akan percaya karena dia sudah dipengaruhi oleh Seng Gun."

"Akan tetapi mereka sudah melihat engkau membela Beng-kauw, nona, tentu suhu akan lebih marah kepadaku dan kepadamu."

"Aku tidak peduli, aku tidak takut! Kalau suhu-mu tidak percaya, dia bodoh!"

Kang Hin mengerutkan alisnya. Baginya, suhu-nya adalah satu-satunya orang yang ditaati dan dihormatinya, dan biar pun suhu-nya sudah bersikap tidak adil kepadanya, namun dia yakin bahwa hal.itu dilakukan suhu-nya karena suhu-nya sudah dipengaruhi oleh kelicikan Seng Gun.

"Nona, suhu tidak bodoh, akan tetapi Seng Gun yang terlalu licik dan jahat seperti iblis."

Melihat Kang Hin tersinggung, Han Lin lalu berkata, "Sebenarnya aku sedang menuju ke Bukit Harimau untuk menyelidiki tentang Hoat-kauw yang akan mengadakan pesta ulang tahun dan mengumpulkan semua aliran dan perkumpulan besar, tetapi melihat gawatnya persoalan yang melanda Nam-kiang-pang, juga masih cukup waktu untuk kelak pergi ke Bukit Harimau, maka biarlah aku menemani kalian ke sana.”

Girang bukan main hati Kang Hin mendengar ini karena dia yakin bahwa kalau dua orang muda sakti seperti Mei dan Han Lin membantunya, kiranya gurunya dan Nam-kiang-pang akan dapat diselamatkan dari tangan orang-orang Hoat-kauw.

"Terima kasih... terima kasih," hanya kata-kata itu yang dapat diucapkannya berulang kali sambil mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat sehingga mengharukan hati Han Lin dan Mei Li.

"Aihh, Ciu-twako, di antara kita sendiri mengapa harus bersikap sungkan? Mari sekarang juga kita berangkat!" Tiga orang muda itu lalu menggunakan ilmu berlari cepat, melesat di antara pohon-pohon dalam hutan dan Kang Hin menjadi penunjuk jalan…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner