KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-24


Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ji Kiang Bwe bertemu dan berkenalan dengan Souw Kian Bu yang menjadi tamunya. Kemudian Ji Kiang Bwe menerima surat undangan dari Hoat-kauw untuk.datang ke pesta ulang tahun di Bukit Harimau. Dia menolak ketika Kian Bu hendak menemaninya, dan pemuda itu lalu meninggalkan Kim-kok-pang. Hari ini Kiang Bwe tiba dari perjalanannya berkuda menuju bukit itu.

Para tokoh Hoat-kauw telah mengatur sedemikian rupa sehingga kedatangan setiap orang sudah diketahuinya dari kaki bukit mula. Maka kedatangan gadis ini pun sudah diketahui.

Semua orang merasa heran karena tidak ada yang mengenalnya. Ketika Bi-sin-liong Kwa Lian, si cantik dari Bu-tek Ngo-sin-liong mengirim surat undangan, ia hanya menyerahkan kepada seorang anggota Kim-kok-pang supaya disampaikan kepada pimpinannya, tidak tahu bahwa kini yang menjadi ketua Kim-kok-pang adalah seorang gadis muda, puteri dari ketua yang telah tewas dalam perkelahiannya melawan Ang-sin-liong Yu Kiat.

Meski pun tidak mengenalnya, akan tetapi karena dara ini cantik jelita dan kedatangannya seorang diri dan penuh rahasia, menunggang seekor kuda yang baik dan pakaiannya pun indah dan rapi seperti yang biasanya dipakai oleh seorang puteri bangsawan, maka Lam-hai Sin-liong Kwa Him, orang ke empat dari Bu-tek Ngo-Sin-liong yang mempunyai watak mata keranjang, segera mewakili Hoat-kauw menyambutnya.

Kiang Bwe melihat seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih yang bermuka merah dan tubuhnya tinggi besar, di pinggangnya terdapat sepasang golok, maju menghadang dan menyambutnya dengan senyum. Laki-laki itu member! hormat. Kiang Bwe menahan kakinya lalu membalas penghormatan itu sambil memandang penuh perhatian.

"Selamat datang, nona. Kami merasa mendapat kehormatan besar atas kunjungan nona. Nona dari golongan dan partai apakah? Kami perlu mengetahui supaya dapat mengatur tempat penginapan bagi nona.”

"Tidak perlu repot-repot. Aku dapat melewatkan malam di bawah pohon. Namaku Ji Kiang Bwe dan aku adalah ketua baru Kim-kok-pang."

Kwa Him tertegun. Dia tahu bahwa Ji-pangcu, ketua Kim-kok-pang, beberapa bulan yang lalu telah tewas di tangan twa-suheng-nya, dan sumoinya, Kwa Lian, telah mengirim surat undangan kepada pimpinan Kim-kok-pang. Siapa kira ketuanya yang sekarang gadis yang begini cantik! Kim-kok-pang amat penting untuk ditundukkan, karena perkumpulan ini bisa menjadi sumber keuangan yang kuat, maka dia pun segera memberi hormat lagi.

"Ahh, kiranya nona adalah pangcu dari Kim-kok-pang. Mari silakan, nona, tempat istirahat untuk nona sudah dipersiapkan." Dia lalu menuntun kuda itu dari tangan Kiang Bwe yang menyerahkan kendali kudanya, sambil mengajak gadis itu menuju ke sebuah pondok yang kecil mungil. Kwa Him menambatkan kuda itu di depan rumah dan berkata,

"Silakan, nona, dan anggaplah pondok ini sebagai rumahmu sendiri."

"Terima kasih," jawab gadis itu sederhana, tanpa ingin tahu siapa orang yang mewakili Hoat-kauw menyambutnya itu.

Akan tetapi hal ini justru membuatnya waspada, karena sekarang orang Hoat-kauw sudah tahu bahwa dia adalah ketua Kim-kok-pang dan tentu saja mereka dapat menduga bahwa kedatangannya bukan hanya karena menghadiri undangan, melainkan ada hubungannya dengan kematian ayahnya. Dia lalu membuka daun pintu pondok yang tidak terkunci dan ternyata pondok kecil itu bersih dan.cukup menyenangkan. Dia lalu membuka sepatunya dan bersila di atas dipan kayu untuk bersemedhi.

Kiang Bwe tidak menyadari bahwa sejak dari kaki bukit tadi, ada orang yang secara diam-diam membayanginya dari jauh. Ia adalah seorang pemuda tampan bercaping lebar yang membawa pedang di punggungnya, dan dia adalah Souw Kian Bu.

Seperti telah diceritakan terdahulu, ketika Kiang Bwe menolak ditemani ke Bukit Harimau, Kian Bu lantas bertanya kepada gadis itu di mana dan kapan pesta Hoat-kauw diadakan. Berdasarkan keterangan gadis itu, dia pun dapat mencari tempat itu, bahkan mendahului Kiang Bwe sehingga dia dapat membayangi gadis itu. Dia tidak mau memperlihatkan diri, khawatir kalau-kalau Kiang Bwe menjadi tidak senang. Akan tetapi diam-diam dia sudah mengambil keputusan untuk melindungi gadis yang ternyata telah mencuri hatinya itu.

Cinta memang sesuatu rahasia yang ajaib. Dari manakah asalnya dan apa penyebabnya? Cinta jelas tidak sama dengan sex, karena binatang agaknya tak mengenal cinta, kecuali induk kepada anaknya, tapi binatang mengenal sex. Dari manakah datangnya? Memang pertama kali orang jatuh cinta sesudah melihat lawan jenisnya. Akan tetapi ini pun belum benar, karena bukankah orang buta juga dapat jatuh cinta?

Tentu saja pengenalan pertama melalui panca inderanya, dan ini berarti bahwa cinta ada hubungannya dengan jasmani, cinta timbul dari daya tarik alami antara lawan jenis, lalu diperkuat oleh nafsu birahi. Sukar membayangkan kita dapat mencinta kekasih kita yang sekarang kalau andai kata hidungnya mendadak lenyap atau cacat lain yang membuat wajahnya menjadi mengerikan. Itu menandakan bahwa di dalam cinta terkandung nafsu yang tertarik oleh keindahan tubuh.

Sukar pula membayangkan kita bisa mencinta seseorang yang tidak dapat berhubungan badan sebagai suami isteri! Ini pun menandakan bahwa di dalam cinta terkandung nafsu birahi. Semua ini sudah wajar karena memang sudah kita bawa serta ketika lahir.

Tapi di antara banyak wanita cantik, di antara banyak pria tampan, mengapa hanya ada seorang tertentu yang kita cinta? Mengapa kita tidak mencinta semua wanita cantik atau semua lelaki tampan? Di sini menunjukkan bahwa cinta bukan sekedar urusan badaniah, tapi di dalam cinta ada pengaruh batiniah yang mungkin sekali berupa persamaan selera, persamaan watak, perilaku dan sebagainya lagi.

Maka tidaklah mengherankan jika ada pria tampan yang jatuh cinta kepada wanita yang tidak cantik, sebaliknya banyak pula wanita cantik yang jatuh hati kepada pria yang tidak tampan. Begitu banyak lika-liku cinta sehingga tiada bosannya kita membicarakannya.

Betapa pun juga, bukankah hidup ini cinta juga? Entah itu cinta kepada kekasih, kepada sahabat, kepada sanak keluarga, kepada tanaman, benda atau hewan atau lingkungan, bahkan cinta terhadap diri sendiri atau makanan! Cinta menimbulkan gairah untuk hidup, untuk melanjutkan hidup. Kalau orang tidak mempunyai perasaan cinta lagi terhadap apa pun juga, maka sama halnya orang itu sudah mati!


Selain Kang Bwe yang muncul di situ dan Kian Bu yang datang secara gelap, sembunyi-sembunyi berbaur dengan para tamu sehingga tentu saja dia disangka seorang anggota rombongan tamu, muncul pula Han Lin yang datang bersama Mei Li. Kedatangan gadis ini pun menarik perhatian banyak orang, karena biar pun ada pula tokoh-tokoh wanita dunia kangouw yang datang, namun tidak ada yang secantik Mei Li atau Kiang Bwe.

Dua orang kakak beradik misan ini pun disambut oleh seorang di antara Bu-tek Ngo-sin-liong, yaitu Tiat-sin-liong Lai Cin yang tinggi kurus dan bermuka pucat. Ketika ditanya dari mana mereka datang dan dari golongan apa, Han Lin menjawab bahwa mereka adalah kakak beradik yang baru melakukan perantauan dan tidak termasuk golongan mana pun.

"Dalam perjalanan kami mendengar tentang pesta yang diadakan oleh Hoat-kauw, maka kami tertarik kemudian datang. Kalau tidak dilarang, kami ingin menyaksikan keramaian sambil meluaskan pemandangan."

Kalau saja di situ tidak ada Mei Li, mungkin Han Lin akan diusir oleh Tiat-sin-liong Lai Cin. Tapi wajah cantik molek memang besar sekali pengaruhnya. Lai Cin hanya mengangguk lalu mempersilakan mereka menempati sebuah pondok. Mei Li hendak membantah akan tetapi Han Lin memberi isyarat dan setelah berada berdua saja di pondok itu dia berbisik.

"Kalau membantah akan menimbulkan kecurigaan, Li-moi. Biarlah kita tinggal sepondok, engkau tidur di dalam dan aku akan tinggal di luar."

"Mana bisa begitu, koko? Aku tidak mungkin dapat tidur membiarkan engkau kedinginan dan masuk angin di luar pondok. Aku akan tidur di pembaringan sedangkan engkau tidur di bawah dan tilam pembaringan boleh kau pakai. Bagaimana pun juga kita berdua adalah saudara misan, kakak dan adik, bukan?"

Han Lin tersenyum, akan tetapi sungguh aneh, dia merasa betapa hatinya tak enak sekali mendengar ucapan Mei Li itu, yang mengingatkan bahwa mereka adalah kakak beradik!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncul dua orang muda yang kembali menjadi pusat perhatian. Bahkan orang-orang Hoat-kauw menjadi terkejut dan heran sekali karena yang muncul itu bukan lain adalah Sie Kwan Lee dan Sie Kwan Eng, kakak beradik dari Beng-kauw! Padahal mereka tidak mengundang Beng-kauw, bahkan merencanakan untuk menghasut agar semua partai memusuhi Beng-kauw.

Sekarang dua orang muda putera ketua Beng-kauw bahkan datang sendiri. Ular mencari penggebuk namanya. Akan tetapi mereka menyambut juga dan mempersilakan dua orang muda itu menduduki deretan bangku yang disediakan untuk para ketua partai dan tokoh besar.

Han Lin dan Mei Li hanya mendapatkan bangku tempat para tamu yang tingkatnya lebih rendah. Sebaiiknya Ji Kiang Bwe mendapat tempat kehormatan karena dia adalah ketua Kim-kok-pang. Di situ duduk pula wakil-wakil dari Siauw-lim-pai, Bu-tong-pai, Kong-thong pai, Gobi-pai dan lain-lain. Wakil dari aliran-aliran agama dan kepercayaan juga ikut hadir. Pesta itu sungguh sukses dan mendatangkan banyak tamu karena keadaan pada saat itu membuat para tokoh ingin sekali mendengar apa yang hendak dibicarakan di dalam pesta itu.

Seng Gun juga duduk di kursi kehormatan sebagai ketua Nam-kiang-pang. Di kursi utama duduklah empat orang laki-laki tua yang mengesankan dengan sikap mereka yang angker dan angkuh. Mereka ini bukan lain adalah Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw sendiri yang rambutnya sudah putih semua, jenggotnya panjang putih dan pada punggungnya terdapat sebatang pedang beronce kuning. Pakaiannya longgar berwarna serba kuning mirip jubah pendeta. Di samping kirinya duduk pula tiga orang yang angker. Mereka bukan lain adalah Sam Mo-ong, utusan orang Mongol yang bersekutu dengan Hoat-kauw.

Saat itu kedudukan Hoat-kauw dan sekutunya kuat sekali. Bukan saja di situ hadir ketua Hoat-kauw, lima orang Bu-tek Ngo-sin-liong, ada pula Seng Gun dan masih banyak tokoh Hoat-kauw yang lain, juga Sam Mo-ong yang tidak dikenal banyak orang tapi merupakan kekuatan inti dari persekutuan itu. Selain ini masih ada seratus orang anak buah Mongol dan dua ratus orang anggota Hoat-kauw yang siap menentang siapa saja yang memusuhi Hoat-kauw.

Jumlah tamu yang datang ada kurang lebih seratus orang. Sebelum pertemuan dibuka, nampak Bu-tek Ngo-sin-liong bicara berbisik-bisik dengan Hoat Lan Siansu dan Sam Mo-ong, juga Seng Gun ikut bicara. Agaknya mereka sedang mengatur siasat.

Hal ini tidak luput dari pandangan Han Lin dan Mei Li, juga Kiang Bwe sempat melirik dan tersenyum. Kwan Lee dan Kwan Eng juga melihatnya namun kakak beradik ini bersikap tenang dan santai saja.

Tibalah saatnya bagi Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw untuk bicara, dan dia pun bangkit berdiri. Tubuhnya masih tinggi tegap walau pun usianya sudah tujuh puluh tahun. Dengan gagah dia melangkah ke depan sampai ke tengah panggung dan setelah memberi hormat ke seluruh penjuru, dia lalu berkata dengan suara nyaring.

"Kami ketua Hoat-kauw menghaturkan terima kasih atas kedatangan saudara sekalian dan atas semua bingkisan yang diberikan kepada kami. Semoga perayaan ini akan dapat mempererat hubungan di antara kita dan mudah-mudahan di lain waktu kami akan dapat membalas semua kebaikan saudara. Karena kami sudah tua, maka untuk membicarakan urusan selanjutnya kami serahkan kepada murid keponakan kami, Ang-sin-liong Yu Kiat!"

Terdengarlah orang bertepuk tangan lantas yang lain ikut menyusul sehingga terdengarlah tepuk tangan gemuruh mengiringi ketua itu mundur dan menyambut munculnya Ang-sin-liong Yu Kiat.

Tokoh ini sudah banyak dikenal orang karena sebagai orang pertama dari Bu-tek Ngo-sin-liong, tentu saja dia amat terkenal. Dia seorang yang bertubuh tinggi tegap dan tampan, pakaiannya berwarna merah dan sikapnya sombong.

Tidaklah mengherankan kalau orang-orang Bu-tek Ngo-sin-liong bersikap sombong. Baru julukan mereka saja telah menunjukkan kesombongan mereka. Mereka memakai julukan Bu-tek (Tanpa Tanding), seakan mereka ingin membual bahwa merekalah jagoan-jagoan tanpa tanding, tidak ada yang mampu melawan!

Dengan sikap tangkas Ang-sin-liong Yu Kiat yang berusia lima puluh tahun itu memberi hormat ke seluruh penjuru, lalu terdengar suaranya yang menggeledek,

"Saudara-saudara sekalian, semestinya pada pesta ulang tahun ini kami bergembira, apa lagi saudara sekalian sudah datang menghadirinya. Akan tetapi mengingat suasana dunia persilatan sekarang sedang kacau, maka sebelum melanjutkan pesta kami mohon agar saudara semua dapat mengambil keputusan atas sikap yang akan kami lakukan. Saudara sekalian pasti telah mendengar berita mengenai keganasan Beng-kauw, mengenai sepak terjang Beng-kauw yang telah membunuhi banyak orang. Juga saudara-saudara sekalian tentu sudah mendengar tentang pengkhianatan seorang muda bernama Ciu Kang Hin dari Nam-kiang-pang yang kemudian ternyata membantu orang Beng-kauw. Oleh karena itu, karena di sini kami melihat hadir pula dua tokoh Beng-kauw, maka bagaimana pendapat saudara kalau kami mengusir mereka?"

Sejenak sunyi menyambut ucapan itu, lalu terdengar suara setuju di sana-sini, akan tetapi para tokoh kang-ouw yang termasuk golongan putih seperti Siauw-lim-pai, Butong-pai dan lain-lain tidak mau memberi suara. Mereka memang tak pernah suka kepada Beng-kauw, akan tetapi mereka tidak mempunyai alasan untuk memusuhi Beng-kauw. Malah mereka lebih condong memusuhi Ciu Kang Hin yang dikabarkan sudah membunuh seorang tokoh Siauw-lim-pai dan seorang tokoh Butong-pai.

Sementara itu kakak beradik putera ketua Beng-kauw saling pandang. Kwan Eng lantas mengangguk dan dara jelita ini yang lebih dulu menggerakkan tubuhnya melayang ke atas panggung, diikuti oleh Kwan Lee, kakaknya. Dua orang muda itu sudah berdiri di hadapan Yu Kiat, lalu berbalik dan menghadapi para tamu.

"Kami kakak beradik memang putera puteri ketua Beng-kauw. Kami sengaja datang untuk membela diri, mempertahankan kebenaran Beng-kauw yang tidak bersalah. Hendaknya cuwi semua ketahui bahwa selama ini justru anggota-anggota kami yang dibunuhi, bahkan wanita dan kanak-kanak juga dibunuh tanpa alasan yang jelas. Kami dikabarkan sudah membunuhi banyak tokoh dunia kangouw, akan tetapi semua itu fitnah belaka. Kami tidak menyangkal bahwa mungkin ada di antara anggota kami yang membunuh dalam sebuah perkelahian, akan tetapi hal itu adalah wajar, karena kalau anggota kami yang kalah kuat, maka dialah yang tewas atau terluka. Apa anehnya terluka atau tewas dalam perkelahian di dunia persilatan?.Akan tetapi kalau anggota kami diburu seperti binatang buas, dibunuh tanpa alasan seperti orang membunuhi ayam, sungguh membuat kami sangat penasaran. Maka di sini kami hendak minta keadilan, janganlah para locianpwe mudah saja percaya terhadap ucapan orang-orang yang melakukan fitnah kepada kami!"

”Bocah-bocah lancang!” bentak Ang-sin-liong Yu Kiat marah. ”Kalian hendak menuduh Hoat-Kauw melakukan fitnah kepada kalian? Sudah jelas bahwa sejak dahulu Beng-kauw adalah perkumpulan sesat yang ditentang para pendekar, dan semua orang tahu bahwa Ciu Kang Hin dari Nam-kiang-pang berkhianat dan membela orang-orang Beng-kauw!"

"Ciu Kang Hin bukan membela Beng-kauw, melainkan dia menjadi korban pengkhianatan seorang sute-nya yang memiliki watak palsu!" bentak pula Sie Kwan Eng dengan berani dan sikap menantang.

Seng Gun segera bangkit berdiri. "Nanti dulu!" katanya lantang. "Yang dimaksud sute dari Ciu Kang Hin adalah aku, dan aku yang membela Nam-kiang-pang mati-matian sehingga diangkat menjadi ketua. Ciu Kang Hin memang seorang pengkhianat dan dia membela Beng-kauw, mungkin karena jatuh cinta kepada puteri ketua Beng-kauw ini!"

"Tong Seng Gun binatang berkaki dua" Kwan Eng memaki. "Tidak usah banyak cakap, di sini aku menantangmu untuk bertanding, membuktikan siapa di antara kita yang benar!"

Sebelum Seng Gun menjawab, Ang-sin-liong Yu Kiat yang telah mendengar bahwa puteri ketua Beng-kauw itu sudah berhasil menguasai ilmu pukulan Salju Putih, segera berkata,

"Tidak perlu banyak berbantahan. Sekarang kita dengar saja pendapat para orang gagah yang hadir di sini. Apakah di antara para locianpwe dan para enghiong (orang gagah) ada yang mendukung pendapat puteri ketua Beng-kauw itu? Ataukah semuanya menyangkal kebenarannya dan bahwa Hoat-kauw sama sekali tidak melempar fitnah?"

Tiba-tiba Ji Kiang Bwe bangkit berdiri lalu mengangkat tangan ke atas sambil berseru,

"Kami mempunyai penilaian sendiri tentang Hoat-kauw! Kami dari Kim-kok-pang menuntut kepada Hoat-kauw yang telah membunuh ayah kami, ketua lama Kim-kok-pang! Biar pun pertandingan itu satu lawan satu, akan tetapi terjadi karena Hoat-kauw hendak memaksa Kim-kok-pang menjadi sekutunya yang ditolak oleh Kim-kok-pang. Sebagai puterinya aku menghendaki agar pembunuh ayah itu maju ke depan untuk menandingi aku!"

Mendengar ini, Ang-sin-liong Yu Kiat sebagai orang yang telah membunuh Ji-pangcu dari Kim-kok-pang, menjawab lantang,

"Memang Ji-pangcu dari Kim-kok-pang sudah berselisih paham dengan kami. Dia tewas dalam pertandingan satu lawan satu. Wajar saja kalau nona hendak membalas dendam, dan nanti tentu nona akan kami hadapkan dengan orang yang telah menewaskan ayahmu dalam pertandingan. Harap nona menunggu sampai urusan dengan Beng-kauw selesai."

Sebenarnya Ang-sin-liong Yu Kiat mendatangi ketua Kim-kok-pang untuk membujuk agar Kim-kok-pang mau bersekutu dengan Hoat-kauw. Akan tetapi Ji-pangcu berkeras menolak sehingga terjadi percekcokan yang dilanjutkan dengan pertandingan yang mengakibatkan tewasnya ketua Kim-kok-pang itu.

Kiang Bwe duduk kembali, akan tetapi dia sudah mengambil keputusan untuk membantu orang Beng-kauw karena dia yakin bahwa orang-orang Hoat-kauw bukanlah orang-orang baik dan boleh dipercaya. Sebaliknya dia pun tahu bahwa meski pun Beng-kauw terkenal sebagai perkumpulan yang aneh dan sesat, namun tidak pernah menanam permusuhan dengan perkumpulan lain.

"Kami ulangi, adakah di antara para tamu yang mendukung Beng-kauw?" Ang-sin-liong Yu Kiat mengulang pertanyaannya dengan lantang, dengan keyakinan bahwa tentu tidak akan ada orang yang mau membela atau mendukung Beng-kauw, perkumpulan sesat itu.

Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar bentakan nyaring seorang wanita yang bangkit berdiri lalu mengangkat tangan ke atas, "Kami berdua mendukung kebenaran Beng-kauw karena kami yakin benar bahwa Beng-kauw telah difitnah!"

Semua orang terkejut lalu memandang pembicara itu yang bukan lain adalah Mei Li, dan Han Lin terpaksa ikut bangkit di samping adik misannya yang telah menyatakan sikapnya itu. Sesungguhnya dia tidak ingin bicara dulu, akan tetapi karena Mei Li yang sudah tidak sabar lagi itu sudah mendahului, maka terpaksa dia pun bangkit berdiri untuk mendukung pernyataan gadis itu.

Seng Gun yang mengenal Mei Li langsung berbisik kepada Hoat Lan Siansu yang segera mengangguk-angguk. Dia memperkenalkan dara itu sebagai Hui-kiam Sianli (Dewi Pedang Terbang) yang lihai sekali ilmu pedangnya. Kemudian dia pun memandang kepada Han Lin dengan alis berkerut. Rasanya dia pernah bertemu dengan pemuda itu, akan tetapi dia lupa lagi entah di mana.

Tiba-tiba Kwi-jiauw Lo-mo, ayahnya atau sebenarnya kakeknya, orang pertama dari Sam Mo-ong, berkata, "Ahh, bukankah itu pemuda yang dari Libun, murid mendiang Kong Hwi Hosiang?"

Barulah Seng Gun teringat dan dia pun terheran-heran. Dahulu bocah itu sudah terjungkal ke dalam jurang! Kiranya belum tewas dan kini muncul dan berani membela Beng-kauw.

"Apa buktinya bahwa Beng-kauw hanya difitnah?" Ang-sin-liong Yu Kiat menantang sebab dia yakin gadis itu tidak tahu rahasia di balik semua peristiwa itu.

"Aku tahu bahwa yang melakukan fitnah adalah Hoat-kauw sendiri yang menyelundupkan orangnya, yaitu Tong Seng Gun sehingga pengkhianat itu berhasil menguasai Nam-kiang-pang. Melalui Nam-kiang-pang mereka lalu melakukan fitnah kepada Beng-kauw. Semua pembunuhan itu sesungguhnya dilakukan oleh mereka yang menyelundup ke dalam Nam-kiang-pang!"

Semua orang terbelalak tidak percaya dan Yu Kiat tertawa bergelak. "Ha ha-ha, saudara sekalian, dengarkanlah baik-baik. Ini jelas akal busuk Beng-kauw yang memutar balikkan fakta. Jelas yang memimpin Nam-kiang-pang adalah Tio Hui Po dan muridnya, Ciu Kang Hin, yang memusuhi Beng-kauw karena Beng-kauw sudah melakukan banyak kejahatan dan pembunuhan. Bahkan kemudian Beng-kauw berhasil membujuk Ciu Kang Hin hingga murid Nam-kiang-pang itu menjadi pengkhianat. Apa bila kita dapat menangkap Ciu Kang Hin, tentu dia dapat menjadi saksi utama tentang kejahatan Beng-kauw.

"Semua itu bohong, omong kosong!" terdengar bentakan nyaring dan semua orang makin terkejut lagi melihat munculnya Ciu Kang Hin yang sudah meloncat ke atas panggung itu!

Melihat pemuda itu berani muncul, Ang-sin-liong Yu Kiat terkejut akan tetapi juga girang. "Ini dia penjahat besar itu datang, mari kita tangkap dia!" Dia telah siap untuk menyerang, akan tetapi Yang Mei Li dan Han Lin telah meloncat ke atas panggung kemudian Han Lin berseru keras dengan suara berpengaruh karena dia menggunakan kekuatan sihirnya.

"Jangan bergerak!" Seketika Ang-sin-liong merasa kaki tangannya kaku dan tidak mampu digerakkan. Biar pun hanya sesaat, peristiwa itu mengejutkan hatinya. "Biarkan Ciu Kang Hin memberi penjelasan agar didengar semua orang, baru mengambil keputusan. Apakah cuwi yang terhormat menganggap hal ini cukup adil?"

Karena urusan itu ternyata amat berliku dan sangat menarik, maka semua orang segera menyatakan setuju.

Ang-sin-liong Yu Kiat menjadi bingung dan dia pun kembali ke rombongannya, sedangkan Han Lin mengajak Mei Li kembali ke tempat duduknya. Sengaja kedua orang muda-mudi ini melayang bagaikan dua ekor burung saja dan tahu-tahu sudah berada di kursi mereka, setelah melampaui kepala banyak orang. Tentu saja demonstrasi ginkang yang tinggi ini mengagumkan semua orang. Sekarang tinggal Ciu Kang Hin seorang diri yang berdiri di atas panggung.

Seng Gun berbisik-bisik dengan Sam Mo-ong dan ketua Hoat-kauw, dan mereka secara diam-diam menyuruh para pembantu menyiapkan pasukan mereka untuk menjaga segala kemungkinan. Sedangkan Souw Kian Bu yang berada di antara para tamu, diam-diam kagum pada adik misannya, juga tunangannya, Yang Mei Li, yang begitu berani membela Beng-kauw. Akan tetapi yang dijaganya tetap saja Ji Kiang Bwe!

Kini dengan sikap gagah Ciu Kang Hin berdiri menghadapi semua orang, lantas sesudah mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat, dia berkata, "Saya tidak tahu apakah semua ucapan saya ini akan ada gunanya, karena saya tahu bahwa para locianpwe dan saudara yang gagah perkasa telah dipengaruhi oleh Tong Seng Gun. Dia adalah seorang penyelundup dan yang berhasil menipu suhu. Dialah yang mengatur segalanya sehingga semua pembunuhan seolah-olah dilakukan orang Beng-kauw. Saya sendiri bisa dikelabui sehingga selama ini saya menentang Beng-kauw sebagai perkumpulan jahat. Tetapi saya belum pernah membunuh orang Beng-kauw yang tidak bersalah. Seng Gun yang selalu meniupkan berita seolah-olah saya pembunuh nomor satu dari Beng-kauw sehingga saya dimusuhi Beng-kauw. Akan tetapi semua itu akhirnya terungkap. Dia sendiri beserta kaki tangannya yang membunuh para tokoh kang-ouw yang tidak menurut. Dia dan sekutunya yang membunuh Ho Jin Hwesio, Kiang Cu Tojin, serta Pek Kong Sengjin. Dia bersekutu dengan Hoat-kauw, dengan orang-orang yang menjadi antek Mongol untuk menjatuhkan pemerintah kerajaan Tang.”

"Bohong! Pemutar-balikan kenyataan! Mana buktinya bahwa aku membunuh para tokoh itu? Engkaulah yang sudah membunuh mereka dan banyak saksinya. Ada puluhan orang anggota Nam-kiang-pang yang menjadi saksi."

Tiba-tiba terdengar suara orang, "Siancai semua itu tidak bohong!"

Seng Gun menjadi pucat meilhat Pek Kong Sengjin sudah berada di panggung, di dekat Ciu Kang Hin.

"Yang mencoba untuk membunuh pinto adalah Tong Seng Gun, dilakukan secara curang, memukul pinto dari belakang ketika pinto berada di tepi jurang. Untung ada orang yang menolong pinto."

Wajah Seng Gun berubah pucat, akan tetapi pada saat itu pula Bu-tek Ngo-sin-liong telah berlompatan ke atas panggung, seolah-oleh hendak menangkap Kang Hin. Melihat ini Pek Kong Sengjin lalu meninggalkan panggung dan melompat ke bangku di antara para tamu. Pada saat yang sama, Mei Li dan Han Lin sudah melompat ke atas panggung, demikian pula Ji Kiang Bwe yang berseru nyaring,

"Sekarang kelicikan dan kecurangan Hoat-kauw sudah jelas!"

Kakak beradik Beng-kauw, Kwan Lee dan Kwan Eng yang tadi sudah mengundurkan diri juga telah berlompatan ke atas panggung sehingga kini Bu-tek Ngo-sin-liong berhadapan dengan enam orang muda-mudi yang gagah perkasa!

Suasana menjadi amat gaduh dan ribut karena semua tamu tidak tahu harus berbuat apa. Di atas segala kegaduhan itu, tiba-tiba terdengar suara ketua Hoat-kauw, yaitu Hoat Lan Siansu,

"Cuwi, harap tenang. Kami akan mengatasi orang-orang Beng-kauw dan semua anteknya ini. Harap cuwi jangan ada yang membela mereka, bahkan sepantasnya cuwi membantu kami untuk menangkap dan menghukum mereka!"

Di antara para tamu memang banyak yang merasa sakit hati terhadap Beng-kauw, maka ada belasan orang yang sudah bangkit berdiri kemudian berteriak,

“Basmi Beng-kauw…!"

"Orang-orang Hoat-kauw memang berwatak pengecut, hayo suruh keluar orang yang telah membunuh ayahku!" tantang Ji Kiang Bwe.

Dara perkasa ini sudah mengeluarkan senjatanya yang istimewa, yaitu sabuk rantai baja putih yang panjangnya satu meter, ujungnya tajam dan runcing, Sabuk itu mengeluarkan cahaya berkilauan ketika dia menggerakkannya dengan sikap menantang.

"Ha-ha-ha, akulah yang membunuh Ji-pangcu. Kalau engkau hendak menyusul ayahmu, lekas majulah!" kata Ang-sin-liong Yu Kiat sambil meloloskan golok gergajinya yang amat menyeramkan.

Pertempuran telah hampir terjadi ketika ketua Hoat-kauw kembali berseru. "Harap semua tamu duduk tenang untuk menjadi penonton saja. Siapa yang bergerak membantu Beng-kauw maka terpaksa kami anggap sebagai musuh!"

Tiba-tiba muncullah pasukan Hoat-kauw dan orang-orang Mongol yang jumlah seluruhnya tidak kurang dari tiga ratus orang, mengepung tempat itu!

Han Lin dan kawan-kawannya terkejut sekali.

"Curang sekali!" kata Ji Kiang Bwe. "Sebagai ketua Kim-kok-pang aku datang seorang diri saja tanpa anak buah seorang pun, dan kalian telah mempersiapkan pasukan besar untuk mengeroyok!"

"Ha-ha-ha," ketua Hoat-kauw itu berseru. "Sebaiknya kalau kalian orang orang muda tahu diri, segera menyerah dan mau bekerja sama dengan kami. Kalau tidak maka kalian akan dicincang hancur!"

"Omitohud…! Hoat Lan Siansu, pangcu dari Hoat-kauw, apa artinya semua ini? Mengapa bermunculan banyak orang Mongol di sini? Benarkah bahwa Hoat-kauw sudah bersekutu dengan orang Mongol?" seorang hwesio wakil Siauw-lim-pai yang hadir di situ bertanya.

"Orang luar tidak perlu mencampuri urusan kami!" jawab Hoat Lan Siansu dengan tegas. "Yang penting kami sudah mengajak Siauw-lim-pai dan semua aliran untuk bekerja sama memakmurkan rakyat jelata. Siapa saja yang menentang, terpaksa kami anggap sebagai musuh!"

Mendengar ini semua orang menjadi terkejut sekali, namun mereka merasa tidak berdaya karena telah dikepung oleh ratusan orang anak buah Hoat-kauw.

"Hayo cepat tangkap orang-orang Beng-kauw berikut semua pendukungnya itu!" Hoat Lan Siansu memerintah.

Tiba-tiba terdengar bunyi tambur dan terompet. Semua orang menjadi terkejut dan cepat memutar tubuh, lalu muncullah ratusan orang anggota Nam-kiang-pang bersama pasukan pemerintah.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner