KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-25


Terdengar suara bentakan seorang panglima yang menunggang kuda, yaitu Bu-ciangkun, "Semua orang Hoat-kauw dan orang Mongol agar menyerah atau akan kami basmi. Para tamu yang tidak terlibat harap mundur dan jangan ikut campur!"

Sekarang keadaan menjadi terbalik. Wajah orang-orang Hoat-kauw menjadi pucat karena pasukan yang mengepung itu bersenjata lengkap dan jumlah mereka banyak sekali! Akan tetapi Hoat Lan Siansu yang melihat betapa pihaknya terancam oleh lawan yang banyak jumlahnya, segera tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, orang muda jaman sekarang ternyata curang dan sama sekali tidak gagah, lagi pengecut. Beraninya mengerahkan pasukan pemerintah!"

Sementara itu, pada saat melihat anak buah Nam-kiang-pang ikut mengepung, Seng Gun segera menghardik mereka. "Kalian anak-anak buah Nam-kiang-pang, siapa suruh kalian mengepung tempat ini? Kembalilah!"

Akan tetapi banyak orang Nam-kiang-pang malah berseru, "Bunuh Tong Seng Gun!"

Mendengar ini Tong Seng Gun menjadi pucat, dan maklumlah dia bahwa Nam-kiang-pang telah dikuasai kembali oleh Kang Hin.

Han Lin yang merasa tidak enak mendengar ejekan Hoat Lan Siansu tadi, segera berbisik kepada Kang Hin karena dia dapat menduga bahwa tentu Kang Hin yang minta bantuan pasukan karena anak buah Nam-kiang-pang datang bersama pasukan itu.

"Ciu twako, minta kepada komandan itu untuk menunda gerakan mereka agar kita dapat melawan mereka satu lawan satu secara jantan."

Kang Hin mengangguk, kemudian berseru kepada Bu-ciangkun, "Bu-ciangkun, karena ini merupakan urusan orang-orang dunia persilatan, maka selama mereka tidak melakukan pengeroyokan, biarkan kami melawan mereka dalam pertandingan satu lawan satu."

Bu Kim Thouw, panglima itu sendiri adalah seorang ahli silat yang cukup tangguh, maka mendengar ini dia dapat mengerti. Apa lagi dia pun ingin menonton pertandingan silat dari orang orang tingkat tinggi. Maka dia mengangguk lalu memberi aba-aba kepada seluruh pasukan untuk siap berjaga-jaga saja menanti perintah selanjutnya, akan tetapi agar tidak membiarkan siapa saja keluar dari kepungan.

Sesudah itu Han Lin berkata kepada Hoat Lan Siansu, "Nah, pangcu dari Hoat-kauw, kini kami telah siap. Kita boleh bertanding satu lawan satu untuk menentukan siapa yang lebih gagah di antara kita. Ingat, kalau kalian bertindak curang maka pasukan telah siap untuk menghancurkan kalian!"

Hoat Lan Siansu merasa masih mempunyai harapan. Kalau orang-orang muda ini sudah dapat dibasmi, tentu mereka tidak akan mengalami kesulitan untuk menggempur pasukan itu, walau pun jumlah mereka lebih banyak.

"Baik!" dan dia menoleh kepada murid-murid keponakannya. "Kalian atur saja siapa yang akan maju melawan musuh."

Ang-sin-liong Yu Kiat memandang rendah mereka yang muda-muda itu, karena itu dia lalu berkata kepada Bin-sin-liong Kwa Lian. "Sumoi, engkau majulah dulu."

Bi-sin-liong Kwa Lian yang berusia dua puluh delapan tahun dan cantik jelita tapi genit itu tersenyum. Dia pun tidak takut menghadapi lawan yang terdiri dari orang-orang muda itu. Sesudah semua orang yang berada di atas panggung mengundurkan diri, dia mencabut pedang beronce merah lalu memasang aksi yang menarik dan gagah.

"Nah, siapa yang hendak mengantarkan nyawa ke sini?"

Mei Li yang sejak tadi sudah gatal-gatal tangannya, tidak ingin didahului orang. Tubuhnya segera melayang ke atas panggung dan dia pun sudah berdiri di depan Kwa Lian. Begitu berhadapan dengan Mei Li, maka kecantikan Kwa Lian memudar bagaikan bulan disaingi munculnya matahari. Mei Li nampak jauh lebih jelita, lebih segar dan lebih lincah.

"Hemm, katakan dulu siapa engkau karena dulu ketika kita saling bertemu, aku mengenal engkau sebagai orang Hoat-kauw yang hendak membunuhi orang-orang Beng-kauw yang tidak bersalah," tanya Mei Li, suaranya mengandung ejekan.

Kwan Lian terkejut mengenal Mei Li. "Hemm, ternyata Hui-kiam Sian-li yang sejak dahulu sudah membantu Beng-kauw! Bagus! Ketahuilah bahwa aku adalah Bi-sin-liong Kwa Lian, orang termuda dari Bu-tek Ngo-sin-liong. Kalau dulu aku belum sempat merobohkanmu, maka sekarang bersiaplah menerima kematianmu!"

Wanita mata keranjang dan cabul itu kemudian menggerakkan pedangnya. Nampak sinar pedang berkelebat, dan Mei Li mempergunakan pedang kirinya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sinkang.

"Tranggg...!"

Nampak bunga api berpijar menyilaukan mata dan kedua wanita perkasa yang cantik itu sudah saling terjang lagi. Tidak percuma Bi-sin-liong Kwa Lian menjadi orang termuda dari Bu-tek Ngo-sin-liong karena ilmu pedangnya tangguh bukan main, juga tenaganya sangat kuat dan gerakannya cepat. Namun sekali ini dia bertemu tanding, bahkan seorang lawan yang jauh lebih lincah dan lebih kuat dibandingkan dirinya.

Sepasang pedang yang beterbangan menyambar-nyambar seperti dua ekor burung hidup itu membuat dia berkeringat dan repot harus mengelak dan menangkis. Ia merasa seolah-olah dikeroyok oleh banyak orang,

Sesudah pertandingan lewat tiga puluh jurus, tahulah Bi-sin-liong bahwa julukan lawannya itu bukan kosong belaka. Dewi Pedang Terbang ini memang benar-benar mempunyai ilmu pedang terbang istimewa yang belum pernah ditemuinya selama dia malang melintang di dunia persilatan sampai dia berani menjadi orang ke lima dari mereka yang menyebut diri Lima Naga Sakti Tanpa Tanding!

"Haiiiiiittttt…!" Mei Li berseru nyaring lalu pedang kanannya menyambar dengan dahsyat, kali ini menukik dan menyambar ke arah perut lawan.

"Cringggg…!"

Pedang di tangan Kwa Lian menangkis. Akan tetapi pada saat itu ujung pedang yang satu lagi dari Mei Li sudah datang menusuk dada. Kwa Lian cepat membuang tubuh ke kanan, tetapi pedang itu masih sempat menyambar dan melukai pundaknya. Walau pun hanya merobek baju dan kulit pundak, namun cukup perih dan mengejutkan.

Naga Sakti Cantik (Bi-sin-liong) mengeluarkan rintihan lirih dan melihat sepasang pedang itu masih terbang menyambar, dia segera melempar tubuh ke atas tanah lalu bergulingan menjauh. Terpaksa Mei Li menarik tali pedangnya lantas memegang kembali sepasang pedang itu. Pada saat itu pula Kwa Lian melompat turun.

"Hyaaaattttt...!"

Kwa Lian menggerakkan tangan kirinya, lantas serangkum sinar hijau menyambar. Itulah jarum-jarum beracun yang dilemparkan Kwa Lian untuk menyerang lawannya. Mei Li tidak menjadi gugup. Pedang kirinya berkelebat, kemudian jarum-jarum halus itu pun runtuh ke atas papan panggung.

Agaknya Kwa Lian sudah nekat. Karena jarak di antara mereka kini sudah dekat, dia pun menggerakkan kepalanya. Rambut yang disanggul itu terlepas lalu gumpalan rambut yang hitam dan panjang menyambar bagaikan ular ke depan, menyerang ke arah leher Mei Li!

Mei Li terkejut bukan kepalang. Tidak disangkanya bahwa lawannya dapat menggunakan rambut panjangnya sebagai senjata sehingga rambut itu tahu-tahu telah melibat lehernya. Untung bahwa dia tidak menjadi gugup. Pedang kanannya menyambar dan...

"Brettt…!" rambut itu putus terbabat pedang.

"Ihhh!" Kwa Lian menjerit!

Dengan kekuatan sinkang biasanya rambutnya menjadi ulet dan kuat laksana tali sutera, siapa kira kini dapat dibabat buntung oleh pedang Mei Li. Kaget dan marah membuat dia kurang waspada dan ketika pedang kiri Mei Li menyambar, dia tak sempat mengelak atau menangkis lagi. Begitu cepatnya pedang menyambar, bagaikan kilat saja.

Orang-orang tidak melihat tubuhnya tertusuk pedang, akan tetapi dia mengeluh, terkulai lalu roboh dengan dada kiri bercucuran darah yang membasahi pakaiannya. Ia mendekap dada kiri yang sempat dimasuki pedang Mei Li yang telah melompat ke belakang dengan sikap tenang, lalu terguling roboh, pedangnya terlepas dari tangannya.

Melihat kekasihnya roboh, Seng Gun marah sekali. Dia melompat ke atas panggung dan cepat berlutut memeriksa keadaan Kwa Lian. Namun terlambat, wanita cantik itu sudah tewas. Seng Gun menahan geramnya lantas memberi isyarat kepada anak buahnya. Dua orang melompat ke atas panggung lalu membawa tubuh yang masih hangat itu turun dari panggung dan sekarang Seng Gun sudah menghadapi Mei Li dengan muka merah saking marahnya.

"Hui-kiam Sian-li, engkau ternyata antek Beng-kauw yang jahat. Mari, akulah lawanmu!" tantangnya.

Seng Gun segera mencabut golok dengan tangan kanan dan suling perak dengan tangan kiri. Dia telah mahir menggunakan Thian-te To-hoat, salah satu di antara ilmu-ilmu ampuh di dunia persilatan yang dia pelajari dari Tio Hui Po, tetapi dia pun hendak memanfaatkan ilmu sulingnya yang dia pelajari dari kakeknya sendiri, yaitu Kwi-jiauw Lo-mo.

Mei Li tersenyum, tetapi sebelum dia menjawab tiba-tiba Kang Hin telah meloncat ke atas panggung. "Manusia pengecut!" Dan dia menjura kepada Mei Li sambil berkata, "Siauw-moi, harap kau istirahat, biar akulah yang akan melayani jahanam busuk ini."

Mei Li mengerti bahwa Kang Hin adalah orang yang paling mendendam atas kejahatan Seng Gun, maka biar pun dia sendiri sebetulnya ingin turun tangan membunuhnya, tetapi dia harus mengalah. Sambil tersenyum dia mengangguk. "Hati-hati twako. Ular ini banyak akalnya dan waspadalah terhadap suling peraknya itu."

Dua orang lawan yang dahulunya merupakan suheng dan sute itu kini saling berhadapan, saling pandang dengan mata mencorong penuh kebencian, akan tetapi mulut Seng Gun menyeringai penuh ejekan karena dia merasa yakin bahwa dia akan mampu mengalahkan bekas suheng-nya itu. Ilmu golok sakti sudah mereka kuasai dan dalam hal ilmu golok itu dia tidak akan kalah dibandingkan Kang Hin, sedangkan dia telah memiliki ilmu-ilmu hebat dari Sam Mo-ong. Bahkan Tio Hui Po sendiri yang menjadi guru dapat dibunuhnya tanpa banyak kesukaran, apa lagi muridnya!

Kang Hin juga maklum bahwa Seng Gun amat lihai, maka dia pun bersikap hati-hati, akan tetapi bukan berarti dia takut. Sama sekali tidak, bahkan dia bertekad bulat untuk dapat membalaskan dendam sakit hatinya atas kematian suhu-nya. Kini dia telah memalangkan goloknya di depan dada lalu mulai bergerak melakukan serangan.

Seng Gun memperlebar seringainya karena tentu saja dia sudah hafal akan gerakan dari ilmu silat Thian-te To-hoat itu. Cepat dia menghindar, lantas membalas dengan serangan kilat suling peraknya.

Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat. Golok di tangan Kang Hin membentuk sinar yang lebar sambil mengeluarkan suara mengaung-ngaung, akan tetapi karena Seng Gun sudah mengenal baik ilmu golok itu, dengan mudahnya dia menghindar sambil membalas dengan jurus serangan yang tak dikenal Kang Hin. Oleh karena itu secara perlahan-lahan mulailah Kang Hin terdesak hebat setelah lewat tiga puluh jurus.

Namun Kang Hin menggigit bibir, mengerahkan seluruh tenaganya dan memutar goloknya sedemikian rupa sehingga tidak mudah bagi Seng Gun untuk dapat mengenai tubuhnya. Seng Gun mulai penasaran dan ketika terdapat kesempatan baik, dia memukul punggung golok itu dari pinggir sehingga tubuh Kang Hin terhuyung karena memang arah goloknya telah diketahui lawan. Dan selagi dia terhuyung, Seng Gun meniup sulingnya, menyerang dengan jarum-jarum beracun!

Pada saat itu pula tampak bayangan berkelebat dan bagaikan seekor burung rajawali, Sie Kwan Eng telah meloncat ke atas dan sekali tangannya bergerak, terasa ada hawa dingin menyambar lantas semua jarum itu runtuh ke atas tanah. Itulah pukulan jarak jauh dengan Ilmu Pukulan Salju Putih yang telah menyelamatkan nyawa Kang Hin biar pun masih ada sebatang jarum yang tetap melesat lantas menancap di pundak pemuda Nam-kiang-pang itu.

Meski pun hanya sebatang, akan tetapi karena jarum itu mengandung racun yang sangat ampuh, maka Kang Hin terhuyung dan tentu akan roboh kalau saja Sie Kwan Eng tidak cepat memapahnya. Kang Hin sudah pernah terkena racun dari jarum-jarum suling Seng Gun, dan ini adalah yang kedua kalinya dia terkena racun jarum hitam itu.

Melihat bahwa yang menyelamatkan Kang Hin ternyata adalah gadis Beng-kauw itu, Seng Gun tertawa dan berkata lantang, 'Cuwi lihat sendiri betapa Kang Hin saling bantu dengan puteri ketua Beng-kauw. Tentu ada hubungan di antara mereka!”

"Jahanam, tunggulah! Aku yang akan menghadapimu!” kata Sie Kwan Eng yang masih memapah tubuh Kang Hin. Akan tetapi tahu-tahu Si Pedang Terbang Yang Mei Li sudah berada di sampingnya.

"Kau urus Ciu-twako yang terluka, biar aku yang menghadapi anjing licik dan curang ini!"

Melihat yang maju adalah Hui-kiam Sian-li, Kwan Eng lalu mundur sambil memapah tubuh Kang Hin untuk dirawat dan diobatinya. Sebagai puteri ketua Beng-kauw yang tidak asing dengan bermacam racun, tentu saja dia memiliki obat pemunah racun yang manjur.

Kini Seng Gun berhadapan dengan Mei Li dan diam-diam pemuda ini merasa agak gentar karena dia telah mengenal kelihaian Si Pedang Terbang yang baru saja mengalahkan dan menewaskan kekasihnya, orang ke lima Bu-tek Ngo-sin-liong. Ia menggenggam goloknya erat-erat dan menyilangkan golok itu dengan suling peraknya, siap untuk melawan secara mati-matian.

Akan tetapi sebelum kedua orang ini bergerak saling serang, kembali ada sesosok tubuh melayang naik ke atas panggung, dan ternyata sekarang yang berada di situ adalah Sie Kwan Lee. Pemuda ini berkata kepada Mei Li,

"Li-moi, harap suka mundur dan biarkan aku yang menghadapi orang ini. Kami memiiliki dendam yang bertumpuk-tumpuk terhadap orang ini sebab dialah yang mendalangi semua pembunuhan atas diri ratusan orang Beng-kauw dan keluarga mereka yang tak berdosa."

Sebenarnya bukan hanya karena itu Sie Kwan Lee naik ke panggung, melainkan karena khawatir akan keselamatan dara yang dicintanya itu. Dia tadi telah melihat kelihaian Seng Gun yang nyaris saja membunuh Kang Hin, maka dia merasa khawatir ketika melihat Mei Li hendak melawan pemuda yang curang itu,. Apa lagi tadi Mei Li sudah memenangkan sebuah pertandingan sehingga tidak adil kalau gadis itu maju melawan musuh untuk yang ke dua kalinya sedangkan dia masih belum maju.

Melihat munculnya pemuda itu, tentu saja Mei Li tidak dapat membantah karena alasan Kwan Lee kuat sekali. Memang dia sendiri sesungguhnya tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan Seng Gun, maka pemuda Beng-kauw ini yang lebih tepat untuk membalas dendamnya yang teramat besar. Beng-kauw difitnah oleh Seng Gun yang mengakibatkan kematian ratusan orang anggota Beng-kauw beserta keluarganya, bahkan ayahnya tewas pula.

"Baiklah, twako, akan tetapi hati-hatilah menghadapi ular berbisa ini," kata Mei Li sambil mengundurkan diri.

la kembali ke tempat kakaknya yang kini membantu Kwan Eng mengobati luka di pundak Kang Hin. Untung luka itu tidak berbahaya dan Kwan Eng membawa obat penawar racun yang amat manjur sehingga keadaan Kang Hin sudah pulih kembali dalam waktu singkat. Tergetar juga hati Kang Hin ketika merasakan jari-jari tangan lembut hangat yang sedikit gemetar dari Sie Kwan Eng menyentuh pundaknya ketika gadis itu merawat lukanya.

Sementara itu Seng Gun menjadi nekat ketika melihat pemuda Beng-kauw itu yang maju menghadapinya. Dia tahu benar betapa lihainya pemuda ini yang sudah menguasai ilmu pukulan Matahari Merah. Maka tanpa banyak cakap lagi dia langsung menyerang dengan goloknya, menggunakan jurus Thian-te To-hoat yang ampuh.

"Singgg…!"

Kwan Lee meloncat ke belakang sehingga sambaran golok itu luput dan ketika tubuhnya melayang turun, dia sudah memegang sebatang cambuk dari kulit yang amat ulet. Begitu dia menggerakkan cambuknya, terdengar suara bergeletar nyaring sekali. Perlu diketahui bahwa putera ketua Beng-kauw ini bukan saja menguasai ilmu pukulan Matahari Merah yang sangat ampuh, akan tetapi dia pun mahir memainkan delapan belas macam senjata dan yang menjadi kesukaannya adalah ilmu cambuk itu.

Seng Gun menyerang dengan ganas. Golok dan sulingnya bergantian menyerang dengan tusukan dan totokan yang sangat berbahaya bagi lawan, namun Kwan Lee selalu berhasil menghindar dengan gerakannya yang gesit. Tubuhnya yang ringan seperti beterbangan kian ke mari, sedangkan cambuknya juga tidak tinggal diam, melainkan membalas setiap ada kesempatan. Cambuk itu melecut, mencambuk dan kadang dapat menjadi kaku untuk menotok jalan darah, atau menjadi lentur untuk meiilit tubuh lawan.

Dengan seksama Han Lin mengamati jalannya pertandingan hebat ini, juga seluruh tamu menonton sambil menahan napas karena pertandingan itu jauh lebih ramai dibandingkan pertandingan yang pertama dan ke dua tadi.

Han Lin melihat bahwa Seng Gun masih menyimpan serangannya yang paling berbahaya, yaitu tiupan sulingnya yang mengeluarkan jarum beracun hitam. Kalau sampai dia sempat menggunakannya dan Kwan Lee agak lengah, maka serangan itu dapat membahayakan Kwan Lee. Suling itu perlu dilumpuhkan dulu, agar bahaya jarum tidak mengancam.

"Libat sulingnya!" Ia berkata dengan pengerahan khikang yang hanya tendengar jelas oleh Kwan Lee. Ilmu mengirim suara ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah memiliki sinkang yang amat kuat.

Mendengar ini, Kwan Lee berpikir apa sebabnya ada yang memberi nasehat kepadanya agar melibat suling musuhnya. Kemudian dia teringat bahwa suling itu dapat dipergunakan untuk melakukan penyerangan gelap, memuntahkan jarum-jarum hitam beracun. Karena itu, ketika untuk kesekian kalinya suling itu menyambar ke arah kepalanya, dia melompat ke belakang sambil menggerakkan cambuknya ke arah suling.

"Tarrrrrr…!" Cambuk menangkis suling, akan tetapi bukan sekedar menangkis, melainkan menempel dan melibat.

Seng Gun terkejut bukan main ketika sulingnya dilibat cambuk. Dia segera menggerakkan goloknya untuk membabat putus cambuk itu. Akan tetapi pada saat itu Kwan Lee sudah menggerakkan tangan kirinya, memukul dengan ilmu pukulan ampuh Matahari Merah!

Hawa yang amat panas berhembus di sekeliling tempat itu dan golok di tangan Seng Gun terpental ke belakang, bahkan sulingnya juga dapat dirampas dan ditarik lepas dari tangan kirinya. Seng Gun terkejut setengah mati dan menjadi semakin nekat. Karena kini hanya tinggal golok yang masih berada di tangannya, dia lalu memainkan goloknya dengan ilmu golok Thian-te To-hoat yang ampuh.'

Meski pun dia sudah berhasil merampas suling perak yang sekarang dia lontarkan ke arah adiknya, namun Kwan Lee masih harus bersilat dengan hati-hati sekali. Lawannya sudah menguasai Thian-te To-hoat yang ampuh, yang pada saat itu seakan menjadi ilmu golok yang sukar dicari tandingannya. Untung baginya bahwa tadi dia memilih cambuk sebagai senjatanya. Cambuk ini dapat menghalau semua serangan golok karena lebih panjang.

Sesudah lewat lima puluh jurus dan keduanya belum dapat saling merobohkan, Kwan Lee kembali teringat pengalamannya yang tadi. Mengapa dia tidak mencoba untuk merampas golok itu? Libatan cambuknya pada golok memang memungkinkan cambuknya terpotong, akan tetapi setidaknya memberi kesempatan baginya untuk melakukan pukulan Matahari Merah.

"Singgg…! Wuuuuttttt...! Plakkk!"

Golok itu terlibat cambuk dan agaknya hal ini yang dinanti-nanti pula oleh Seng Gun. Dia pun mengerahkan tenaga pada goloknya, lantas dengan menggunakan gerakan memutar dan menarik dia berusaha membikin putus cambuk yang sedang melibat goloknya yang tajam. Cambuk itu tak dapat bertahan dan langsung putus, akan tetapi pada saat cambuk putus, Kwan Lee sudah mengerahkan tenaga Matahari Merah kemudian memukul ke arah kepala Seng Gun.

"Desss…!"

Biar pun sudah mengangkat tangan kiri untuk menangkis, tetap saja Seng Gun terdorong sampai terjengkang oleh pukulan itu. Dia berusaha merangkak bangkit, namun pukulan Matahari Merah kedua tiba dan dia pun terkulai dengan tubuh hangus! Seng Gun tewas seketika. Terdengar sorak sorai dari anak buah Nam-kiang-pang ketika melihat Seng Gun yang mereka benci itu roboh dan tewas.

Melihat cucunya tewas, Kwi Jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakar Setan) Tong Lui mengeluarkan suara teriakan panjang yang parau dan menyeramkan, lantas tubuhnya melayang ke atas panggung dan begitu tiba di atas panggung, tubuhnya yang pendek gendut seperti katak itu menggelinding seperti bola ke arah Kwan Lee sambil mengirim pukulan dengan kedua tangannya ke arah pemuda itu. Kwan Lee terkejut dan dengan tenaga Matahari Merah dia menangkis, namun tetap saja dia terdorong ke belakang walau pun tidak sampai terluka.

Kwi-jiauw Lo-mo tidak mengejarnya, melainkan menghampiri jenazah cucunya kemudian mengangkatnya, dipondong dan dibawa meloncat turun dari atas panggung dengan wajah diliputi kedukaan.

Hoat Lan Siansu marah sekali. Kini dia sendiri yang maju melompat ke atas panggung. Dia tahu bahwa nama baik Hoat-kauw berada di ambang kehancuran, maka dia bertekad untuk mempertahankan kehormatannya.

"Aku Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw siap menyambut lawan yang hendak menjelekkan nama Hoat-kauw. Hayo, siapa yang berani melawanku?!"

Orang-orang merasa segan karena maklum bahwa kakek berusia tujuh puluh tahun ini lihai bukan main. Baru murid keponakannya saja, Bu-tek Ngo-sin-liong sudah sangat lihai, apa lagi dia sebagai paman gurunya. Akan tetapi ternyata ada yang berani menyambut dan orang itu adalah Han Lin.

Pemuda ini maklum bahwa kakek itu terlalu berbahaya bagi teman-temannya dan dia tahu pula bahwa orang-orang seperti Mei Li, Kang Hin, Kwan Lee, Kwan Eng dan banyak lagi, walau pun tahu akan kelihaian kakek itu, tentu tidak akan mundur untuk menghadapinya. Maka, sebelum salah seorang di antara mereka maju, dia yang mendahului maju.

Hoat Lan Siansu memandang Han Lin dengan mata dipincingkan. "Siapa kau? Benarkah engkau berani melawan pinto?"

"Siansu, engkau adalah seorang locianpwe, aku tentu tidak akan berani melawanmu kalau saja Hoat-kauw tidak melakukan penyelewengan dan bersekutu dengan orang Mongol."

"Hemm, bocah sombong. Siapakah namamu dan siapa pula gurumu? Lebih baik gurumu saja yang maju melawanku, bukan engkau bocah ingusan."

Han Lin tetap tersenyum cerah. Dia sudah digembleng oleh Lo-jin, tidak mungkin hatinya mudah dipengaruhi kemarahan, satu di antara nafsu perasaan yang amat merugikan, apa lagi bagi orang yang sedang menghadapi lawan tangguh. Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan.

"Sudahlah, locianpwe, aku sudah maju untuk melayanimu, apakah locianpwe berani?"

Sepasang alis putih itu bergerak-gerak, "Bocah sombong, agaknya engkau memang telah bosan hidup!" katanya, lalu kakek itu menudingkan jari telunjuknya ke arah muka Han Lin sambil membentak dengan suara berwibawa, "Orang muda, aku adalah orang yang lebih tua dan kedudukanku jauh lebih tinggi, maka kau harus menghormatiku. Hayo cepat kau berlutut! Berlutut, kataku!"

Han Lin merasa betapa lututnya gemetar dan dia pun maklum bahwa kakek itu berusaha untuk memaksanya berlutut dengan kekuatan sihir yang diperkuat oleh tenaga sinkang. Ia tersenyum, kemudian mengerahkan kekuatan sihirnya, memandang tajam dan menjawab dengan nyaring.

"Hoat Lan Siansu, kita berhadapan sebagai lawan. Kalau aku berlutut, maka engkau pun harus berlutut, mari berlutut sama-sama!" Dan dia pun menjatuhkan diri berlutut.

Aneh sekali, seperti otomatis saja, kakek itu pun menekuk lututnya dan berlutut. Sungguh merupakan suatu pemandangan yang lucu dan ganjil. Dua orang yang seharusnya saling serang dalam sebuah pertandingan, kini keduanya saling berlutut seperti seorang murid menghormati gurunya!

Yang paling terkejut adalah Hoat Lan Siansu. Cepat dia bangkit berdiri, berbareng dengan Han Lin yang juga segera berdiri. Sejenak kakek itu seperti kebingungan, tidak mengerti mengapa dia juga ikut berlutut, dan akhirnya dia dapat menduga bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan dan tadi sudah dapat mengimbangi kekuatan sihirnya.

"Orang muda, siapakah namamu?"

"Saya Sia Han Lin, Locianpwe."

Mendengar disebutnya nama ini, Souw Kian Bu yang sejak tadi berdiri menonton, berseru girang, "Ah, kakak Sia Han Lin. Kiranya engkau berada di sini!" Kemudian pemuda ini pun bangkit berdiri menghampiri panggung.

Han Lin menoleh. Begitu melihat pemuda di bawah panggung itu, dia bertanya, "Saudara siapakah?"

"Lin-koko, aku Souw Kian Bu, adik misanmu!"

Han Lin girang sekali. "Ahh, Souw Kian Bu! Bu-te, kau tunggu dahulu, biar kuselesaikan urusanku dengan kakek ini, baru nanti kita bicara."

"Baik, Lin-ko, kau berhati-hatilah."

Kini Souw Kian Bu tidak bersembunyi-sembunyi lagi, lalu menghampiri Yang Mei Li yang duduk berdekatan dengan Kang Hin, Kwan Lee dan Kwan Eng. Bahkan kini Ji Kiang Bwe juga sudah duduk dekat mereka. Dengan sendirinya orang-orang muda ini berkelompok.

"Li-moi!" kata Kian Bu kepada Mei Li yang menyambutnya dengan gembira pula. Pemuda ini adalah tunangannya, tetapi dia tidak pernah menganggap sebagai tunangan melainkan sebagai kakak misannya.

"Bu-ko, engkau juga berada di sini?" dia balas menegur.

Kian Bu memandang kepada Ji Kiang Bwe yang juga memandang kepadanya. Sepasang mata bertemu pandang dan Kian Bu berkata, "Bwe-moi akhirnya kita saling berjumpa juga di sini."

"Bu-twako, tak kusangka engkau juga hadir di sini."

Akan tetapi percakapan mereka sangat terbatas karena mereka semua kini memusatkan perhatian ke arah panggung di mana Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw sudah mencabut pedang dari punggungnya. Dan begitu pedang itu dicabut, semua orang terkejut. Pedang beronce kuning itu mengeluarkan cahaya kemerahan yang mengerikan, seolah pedang itu membayangkan tumpahnya darah!

Sebenarnya Hoat Lan Siansu jarang sekali mencabut pedangnya. Dengan tangan kosong saja dia mampu mengalahkan lawan yang tangguh, akan tetapi sekali ini dia tidak berani memandang rendah kepada lawannya. Biar pun lawannya pantas menjadi cucunya, akan tetapi tadi lawannya itu telah berhasil mengimbangi kekuatan sihirnya!

Pula, pertandingan sekali ini bukan main-main melainkan nyawa taruhannya karena Hoat-kauw sudah terkepung dan ketahuan rahasianya sehingga pasukan kerajaan pasti akan membasminya. Dia harus mempertahankan nama, kehormatan serta kelangsungan Hoat-kauw dengan taruhan nyawa, maka dia siap membunuh siapa saja yang mengancam dia dan Hoat-kauw.

Melihat kakek itu mengeluarkan pedang yang berkilauan dan terlihat ampuh menggiriskan itu, Mei Li segera berseru dari bawah panggung, "Lin-ko, kau pakailah siang-kiamku!”

"Golokku boleh kau pakai, siauw-te!" teriak pula Kang Hin.

"Lin-ko, pedangku ini juga cukup baik!" teriak Souw Kian Bu tak mau kalah.

Melihat mereka semua menawarkan senjata, Han Lin tersenyum kepada Mei Li, "Li-moi, tolong ambllkan saja tongkatku itu!"

Mei Li mengerutkan alisnya. Memang Han Lin membawa tongkat butut yang ditinggalkan di bangkunya. Akan tetapi ia tahu bahwa kakaknya itu memiliki ilmu kepandaian hebat dan mungkin tongkat butut itu bertuah.

Maka ia memungut tongkat yang ternyata cukup berat itu, lalu maju mendekati panggung dan melontarkan tongkat kepada Han Lin yang menyambutnya dengan girang. Memang Mei Li tak keliru. Tentu saja itu adalah tongkat bertuah karena tongkat itu pemberian Lo-jin kepada muridnya itu.

Akan tetapi, melihat lawannya yang muda akan menghadapi pedangnya dengan sebatang tongkat butut, wajah kakek ketua Hoat-kauw menjadi merah saking marahnya. Tentu saja dia merasa dipandang rendah sekali karena pedangnya adalah pedang pusaka. Pedang yang tajam sekali pun takkan mampu bertahan terhadap keampuhan pedangnya, apa lagi hanya sebatang tongkat butut.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner