KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-26


"Orang muda, jangan main-main dengan nyawamu. Pilihlah senjata yang baik dan tajam," katanya kepada Han Lin.

Akan tetapi Han Lin hanya tersenyum sambil melintangkan tongkatnya di depan dadanya. "Locianpwe, tidak ada senjata yang lebih baik dari pada ini. Ketahuilah, tongkat ini adalah tongkat yang biasanya dipergunakan untuk mengusir setan dan hantu yang mengganggu manusia, jadi cocok sekali kalau sekarang kupakai menghadapimu."

Dengan ucapan ini secara tidak langsung Han Lin sudah memaki kakek itu sebagai setan dan hantu pengganggu manusia!

"Baik, engkau yang mencari mampus sendiri, maka jangan salahkan aku orang tua yang dianggap menghina yang muda," katanya dan dia pun sudah memutar sebatang pedang yang beronce kuning itu. Nampak sinar kemerahan bergulung-gulung dan terdengar suara berdesing-desing seperti bunyi gasing ketika gulungan sinar kemerahan itu menerjang ke arah Han Lin.

Semua orang yang berpihak kepada Han Lin tentu saja memandang dengan khawatir dan hati tegang. Mereka ini hampir tak berani berkedip karena tidak ingin melewatkan semua gerakan yang menegangkan itu.

Mereka melihat Han Lin bersikap tenang sekali, tapi ketika sinar merah bergulung-gulung itu menerjang ke arahnya, dia pun menggerakkan tongkat bututnya menangkis berkali-kali. Terdengarlah suara nyaring berdenting berulang kali ketika pedang itu tertangkis dan semua orang memandang kagum karena tongkat butut itu ternyata tidak menjadi patah ketika bertemu dengan pedang yang tajam itu.

Han Lin juga tidak mau membuang waktu lagi, segera dia memainkan ilmu tongkat Lui-tai-hong-tung (Tongkat halilintar dan angin badai) sehingga semua orang terbelalak. Bila tadi yang nampak jelas hanyalah gulungan sinar pedang kemerahan yang seolah gelombang menerjang Han Lin, kini juga nampak sinar kehitaman yang lebih besar dari gulungannya, dan terdengar pula suara deru angin menyambar-nyambar yang terasa sampai di bawah panggung. Pakaian semua orang berkibar, bahkan rambut mereka pun berkibar tertiup angin dan kini barulah Hoat Lan Siansu maklum.

Ternyata pemuda itu memang hebat bukan main dan menghadapi tongkat itu, dia benar-benar tidak berdaya. Bukan saja pedangnya selalu terpental setiap kali bertemu dengan gulungan sinar tongkat, tetapi juga dia merasa limbung diterpa angin badai yang dahsyat itu. Ada semacam kekuatan mukjijat tersembunyi di dalam gulungan sinar hitam itu.

Belum lewat lima puluh jurus, tiba-tiba saja kakek itu mengeluarkan teriakan panjang dan tubuhnya terlempar sampai dua meter ke belakang, lantas jatuh berdebuk di atas papan panggung sedangkan pedangnya masih terus dipegangnya.

Begitu melihat ketua mereka kalah, para anggota Hoat-kauw seolah tidak dapat percaya dan mereka pun maklum bahwa harapan mereka sudah lenyap sehingga mereka menjadi nekat. Tiba-tiba saja mereka menyerbu ke panggung, bersama orang-orang Mongol yang diam-diam menerima perintah dari Sam Mo-ong untuk bergerak.

Akan tetapi melihat ini, pasukan kerajaan dan anak buah Nam-kiang-pang juga menyerbu masuk sehingga orang-orang Hoat-kauw dan Mongol itu terpaksa membalik dan terjadilah pertempuran hebat di tempat itu. Han Lin masih bertanding dengan Hoat Lan Siansu yang bangkit lagi lantas mengamuk. Bu-tek Ngo-sin-liong yang kini tinggal empat orang itu juga mengamuk dengan senjata mereka, dihadapi orang-orang muda yang gagah perkasa itu.

Lam-hai Sin-liong Kwa Him dihadapi oleh Ji Kiang Bwe, akan tetapi Souw Kian Bu yang mengkhawatirkan gadis itu segera membantunya sehingga Lam-hai Sin-liong (Naga Sakti Laut Selatan) Kwa Him, orang ke empat dari Bu-tek Ngo-sin-liong, terpaksa menghadapi pengeroyokan Kian Bu dan Kiang Bwe.

Hui-sin-liong Mo Hwa dilawan oleh Sie Kwan Eng dan orang ke tiga Bu-tek Ngo-sin-liong yang cantik, sadis dan galak ini segera repot menggerakkan siang-kiamnya dari desakan puteri Beng-kauw yang sudah menguasai ilmu Pukulan Salju Putih itu.

Tiat-sin-liong Lai Cin, orang ke dua Bu-tek Ngo-sin-liong bertanding melawan Kang Hin yang telah pulih kembali kesehatannya, dan orang pertama Ngo-sin-liong, yaitu Ang-sin-liong Yu Kiat ditandingi oleh Sie Kwan Lee.

Kalau saja Sam Mo-ong terjun dalam arena pertandingan, tentu pihak para muda itu akan kalah kuat. Akan tetapi Sam Mo-ong ini rupanya orang-orang yang amat licik dan cerdik. Mereka sudah memperhitungkan bahwa kalau mereka bertanding akhirnya mereka akan celaka menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya lawan. Maka dengan menggunakan kesempatan selagi para pemuda yang lihai itu bertanding dengan lawan masing-masing, mereka bertiga lalu berlompatan menerjang para prajurit dan mencari jalan keluar.

Tentu saja para prajurit itu tidak dapat bertahan menghadapi amukan orang-orang seperti Hek-bin Mo-ong, Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo itu. Mereka jatuh bergelimpangan dan akhirnya tiga orang kakek itu dapat meloloskan diri lalu lari pergi tanpa mempedulikan nasib anak buah mereka lagi.

Alangkah banyaknya orang-orang yang merasa diri menjadi pemimpin kelompok namun memiliki watak seperti mereka bertiga ini. Di waktu mereka itu mengejar kedudukan dan membutuhkan bantuan dan dukungan anak buah, mereka mengharapkan kesetiaan dan ketaatan para bawaha. Juga mereka memperlihatkan bahwa mereka itu memperhatikan kesejahteraan anak buah mereka. Tetapi sekali mereka tersudut dan terancam bahaya, mereka pun akan melarikan diri tanpa mempedulikan lagi nasib para anak buahnya.

Berbeda dengan sikap tiga orang iblis tua itu, empat orang Bu-tek Ngo-sin-liong membela nama Hoat-kauw. Mereka adalah tokoh-tokoh Hoat-kauw. Sekarang Hoat-kauw terancam bahaya dan ketua mereka, juga paman guru mereka, kakek yang tua itu telah maju sendiri bertanding melawan Han Lin.

Mereka pun maklum bahwa pasukan pemerintah tentu takkan membiarkan mereka lolos. Oleh karena itu mereka menjadi nekat dan mereka menggerakkan senjata masing-masing untuk mengamuk.

Pertandingan antara Lam-hai Sin-liong Kwa Him melawan Ji Kiang Bwe yang dibantu oleh Souw Kian Bu berjalan berat sebelah. Kwa Him yang bertubuh tinggi besar dan bersenjata siang-to (sepasang golok) itu mengamuk dengan tenaganya yang besar. Kalau dua orang pengeroyoknya maju satu demi satu, maka akan sukarlah untuk dapat mengalahkannya. Tenaga orang ini bagaikan tenaga gajah, dan goloknya yang menyambar itu mengandung kekuatan dahsyat yang akan dapat merusak atau melepaskan senjata di tangan lawan.

Akan tetapi Ji Kiang Bwe yang bersenjata sabuk rantai baja putih itu cukup cerdik, tidak mau mengadu senjatanya dengan senjata lawan, melainkan mempergunakan kelincahan tubuhnya untuk mengelak dan membalas dengan serangan rantai baja putihnya. Demikian pula Souw Kian Bu. Pemuda ini memainkan pedangnya dengan ilmu pedang Sian-li Kiam-sut dan tidak mau mengadu pedangnya dengan golok lawan.

Inilah yang membuat Kwa Him menjadi kerepotan. Dua orang pengeroyoknya tak pernah menangkis goloknya dan tiap kali mereka menyerang dia pun tidak pernah dapat memukul senjata mereka. Juga biar pun tenaganya besar tetapi dia tidak begitu lincah, gerakannya agak lamban. Maka dalam waktu tiga puluh jurus saja telah dua kali pundak dan pahanya keserempet pedang lawan hingga kulitnya robek dan mengucurkan darah yang membuat dia menjadi semakin marah seperti harimau terluka.

Keadaan Hui-sin-liong (Naga Sakti Terbang) Mo Hwa yang bertanding melawan Sie Kwan Eng masih mending, karena dia dapat mengimbangi permainan pedang gadis Beng-kauw itu, malah dengan siang-kiamnya dia bisa lebih banyak melakukan serangan dibandingkan lawannya yang hanya berpedang tunggal.

Akan tetapi Sie Kwan Eng mempunyai ilmu pukulan Salju Putih yang ampuhnya sangat menggiriskan. Sudah dua kali Sie Kwan Eng menggerakkan tangan kirinya memukul, dan selalu Mo Hwa terhuyung sambil menggigil biar pun pukulan itu dapat dia elakkan. Hal ini membuat dia jeri, maka sepasang pedangnya tidak begitu mengurung lagi sebab dia agak menjauhkan diri, khawatir secara tiba-tiba diserang pukulan Salju Putih yang ampuh itu.

Tiat-sin-liong (Naga Sakti besi) Lai Cin didesak hebat oleh Kang Hin. Dengan permainan goloknya dalam ilmu Thian-te Sin-to, Kang Hin mendesak Lai Cin yang bersenjata tombak cagak ronce biru. Biar pun Lai Cin mempunyai kekebalan, tubuhnya laksana besi, namun menghadapi ilmu golok Thian-te Sin-to, dia tidak berani mengandalkan kekebalannya. Dia pun terdesak hebat oleh ketua Nam-kiang-pang yang baru ini.

Seperti juga tiga saudaranya yang lain, orang pertama dari Ngo Sin-liong, yaitu Ang-sin-liong (Naga sakti merah) Yu Kiat yang dihadapi Sie Kwan Lee, juga terdesak hebat. Ang-sin-liong Yu Kiat bersenjata golok gergaji, tapi betapa pun hebatnya permainan goloknya, dia sangat kewalahan menghadapi pedang Kwan Lee yang diselingi pukulan tangan kiri dengan ilmu Matahari Merah. Pukulan itu yang sering kali membuat dia terhuyung-huyung dan merasa seluruh tubuhnya panas, padahal pukulan itu tidak mengenainya dan berhasil dielakkannya.

Hoat Lan Siansu akhirnya tidak kuat menahan ilmu Lui-tai-hong-tung dari tongkat butut Han Lin dan akhirnya dia roboh ketika perutnya tertotok tongkat. Han Lin memang tidak berniat membunuhnya, hanya merobohkan untuk menangkap ketua Hoat-kauw itu. Akan tetapi kakek itu tidak mau ditangkap. Dalam keadaan tertotok dan setengah lumpuh itu dia menggunakan sisa-sisa tenaganya, membenamkan pedangnya ke dalam dadanya sendiri hingga menembus jantung dan dia pun tewas seketika.

Melihat tewasnya ketua atau paman guru mereka, empat orang dari Bu-tek Ngo-sin-liong menjadi semakln gentar dan satu demi satu mereka pun roboh di tangan para pendekar muda itu.

Pertempuran berakhir sesudah terjadi selama dua jam. Hanya sedikit saja orang-orang Mongol dan anak buah Hoat-kauw yang berhasil meloloskan diri dari kematian. Sebagian besar terbantai, tewas atau terluka-parah. Di pihak pasukan pemerintah dan orang-orang Nam-kiang-pang juga terdapat korban yang berjatuhan, tapi jumlahnya tidaklah sebanyak pihak musuh.

Sesudah mengumpulkan para prajuritnya, Bu-ciangkun lalu memerintahkan mereka untuk menggali lubang dan mengubur semua orang yang menjadi korban dalam pertempuran. Setelah itu dia pun membawa pasukannya untuk pulang ke benteng dan membuat laporan kepada Kaisar…..

********************

Kini mereka bertujuh duduk di bawah pohon, jauh dari tempat pertempuran tadi. Pedang merah milik Hoat Lan Siansu tadi disimpan oleh Han Lin.

"Pedang ini merupakan pusaka yang baik. Sayang kalau dibiarkan tergeletak di sana dan kelak terjatuh ke tangan orang jahat. Kelak, bila mana Hoat-kauw sudah kembali ke jalan benar, dipimpin oleh ketua yang baik, aku sendiri yang akan mengembalikan pedang ini kepada pangcu baru itu," demikian katanya kepada yang lain.

Ketika diperiksa dengan teliti, pedang itu diukir dengan tiga huruf yang berbunyi ‘Ang-in-kiam’ (Pedang Awan Merah). Sebuah nama yang sangat indah dan tepat karena sinar merah yang dikeluarkan pedang itu seolah-olah merahnya awan yang terbakar matahari di waktu senja.

Entah disengaja atau tidak, ketika tujuh orang itu duduk di bawah pohon bercakap-cakap, Sie Kwan Lee mendekati Yang Mei Li dan Sie Kwan Eng mendekati Ciu Kang Hin, ada pun Souw Kian Bu dengan sendirinya mendekati Ji Kiang Bwe yang dicintanya. Semua ini tak dapat lepas dari perhatian Han Lin.

Diam-diam dia merasa girang sekali melihat Souw Kian Bu begitu akrab dengan Ji Kiang Bwe karena dia dapat melihat bahwa gadis ketua Kim-kok-pang ini memang cukup pantas untuk menjadi jodoh adik misannya itu. Juga dia melihat bahwa Kang Hin sering bertukar pandang dengan Sie Kwan Eng, atau Sie Kwan Eng memandang kepada pemuda ketua Nam-kiang-pang itu dengan sinar mata berseri-seri yang mengandung perasaan kagum dan sayang.

Akan tetapi satu hal dirasakan seolah menusuk perasaannya, yaitu sikap Mei Li terhadap Sie Kwan Lee. Di antara kedua orang muda ini pun jelas terdapat hubungan batin yang mesra. Dia cepat menekan perasaannya, mengusir perasaan cemburu dan tidak senang yang menyesak di dalam dadanya.

Bodoh kau, dia menegur diri sendiri. Dara itu adalah adik misannya, bukan orang lain, jadi jangan mengharapkan yang bukan-bukan!

Tujuh orang muda itu lalu saling menceritakan pengalaman masing-masing dan ketika tiba giliran Han Lin, dia hanya menceritakan bahwa dia menjadi murid mendiang Kong Hwi Hosiang, kemudian memperdalam ilmu-ilmunya di dalam perantauannya. Sesuai dengan pesan Lo-jin, dia tidak berani bercerita tentang gurunya yang terakhir itu.

Ketika dengan alasan untuk membicarakan sesuatu tiga pasang orang muda itu menjauhi tempat itu, meninggalkan Han Lin seorang diri, pemuda ini duduk melamun dan menghela napas panjang. Dalam batinnya dia memanjatkan doa agar dua orang saudara misannya itu tidak akan salah memilih calon jodoh mereka masing-masing.

Souw Kian Bu yang berjalan berdua dengan Ji Kiang Bwe, berhenti di tempat sunyi lalu Kian Bu berkata, "Bwe-moi…“

Kiang Bwe berhenti dan menoleh. "Ada apakah, Bu-ko? Apa yang hendak kau bicarakan denganku maka engkau mengajak aku memisahkan diri dari yang lain?"

"Bwe-moi, terus terang saja aku hendak membicarakan urusan kita berdua. Bagaimana pendapatmu kalau pada suatu hari aku minta ayah bundaku datang ke tempat tinggalmu untuk mengajukan pinangan terhadap dirimu kepada keluargamu, wakil dari ayahmu dan juga kepada ibumu!"

Kiang Bwe tidak menjadi terkejut karena dia pun sudah menduga bahwa pemuda itu jatuh cinta kepadanya, hal yang diterimanya dengan bangga dan bahagia karena dia sendiri pun sangat tertarik kepada pemuda yang tampan, gagah perkasa dan sopan itu. Akan tetapi naluri kewanitaannya memaksa dia bermerah pipi mendengar ucapan yang terus terang itu.

"Sudahkah kau pikir baik-baik niatmu itu, Bu-koko? Dan apakah ayah ibumu sudah pasti akan menyetujuinya?"

"Sudan menjadi keputusan bulat hatiku, Bwe-moi. Tentang ayah ibuku..." tiba-tiba saja dia mengerutkan alisnya dan nampak gelisah sekali, "akan kubujuk mereka agar menyetujui. Mereka harus menyetujui!"

Mendengar ucapan yang nadanya keras ini, Kiang Bwe memandang kekasihnya.

"Ada apakah, Bu-koko? Apakah engkau sangsi akan persetujuan orang tuamu?"

Kian Bu menghela napas beberapa kali, kemudian menjawab. "Bwe-moi, aku tidak akan menyembunyikan apa pun juga darimu. Aku akan berterus terang saja. Sebenarnya ayah dan ibuku sudah menentukan jodohku sejak aku masih kanak-kanak. Tentu saja aku tidak setuju, bahkan gadis yang ditunangkan dengan aku pun tidak setuju sebab sesungguhnya di antara kami masih ada hubungan keluarga dekat. Engkau tentu sudah dapat menduga siapa orangnya."

Kiang Bwe terbelalak. "Kau maksudkan... Dewi Pedang Terbang Yang Mei Li?"

"Benar."

"Ahhh... tapi dia... dia gadis yang hebat, cantik jelita dan lihai sekali!"

"Bwe-moi, ingat, kami adalah saudara misan. Ayahnya adalah kakak dari ibuku. Sejak masih kecil, kalau kami saling jumpa dan bicara, kami berdua sudah tidak setuju dengan ikatan pedjodohan itu. Dan engkau bisa melihat sendiri, adik Mei Li nampak begitu akrab dengan Sie Kwan Lee, pemuda Beng-kauw itu! Bagaimana, moi-moi, kalau orang tuaku meminangmu, engkau tidak akan menolak, bukan?"

Sambil tersenyum dan tersipu Kiang Bwe memandang kekasihnya, lalu menggelengkan kepala. "Aku hanya sangsi apakah orang tuamu akan setuju, koko."

"Terima kasih, moi-moi. Tentang orang tuaku, jangan khawatir, aku dan adik Mei Li akan berusaha keras meyakinkan mereka bahwa kami tidak berjodoh dan kami sudah memiliki pilihan hati masing-masing."

Pada bagian lain dari tempat itu, Yang Mei Li juga bercakap-cakap dengan Sie Kwan Lee. Pemuda yang kulit mukanya gelap wajahnya tampan ganteng dan penuh kejantanan itu berkata seperti biasanya, tegas dan jujur namun lembut,

"Li-moi, kesempatan ini akan kugunakan untuk menyatakan perasaan hatiku kepadamu. Li-moi, kalau engkau berkenan menerimaku, aku cinta padamu dan aku ingin agar engkau menjadi isteriku!"

Mei Li tersenyum. Satu di antara banyak hal yang menarik hatinya dari pemuda ini adalah keterbukaan serta kejujurannya, seperti juga mendiang ayahnya. Hanya kalau mendiang Sie Wan Cu keterbukaannya itu kasar sehingga berkesan kurang ajar, sebaliknya pemuda ini jujur dengan teratur dan membatasi diri sehingga menjaga kesopanan.

"Aihh, hal itu keputusannya tergantung kepada ayah ibuku, twako."

"Tentu saja, Li-moi. Tetapi sebelum mereka memutuskan, lebih dulu aku ingin mendengar pendapatmu. Apakah engkau mau dan dapat menerima cintaku dan tidak keberatan kalau kelak aku meminangmu?"

"Aku... aku tidak keberatan dan akan merasa berbahagia sekali twako."

Bukan main gembiranya Sie Kwan Lee mendengar ini. Dengan lembut dia memegang dua tangan gadis itu, membawa tangan itu ke atas dan diciumnya dengan khidmat dan penuh perasaan. "Terima kasih, Li-moi. Ahh, engkau tidak tahu betapa besar kebahagiaan yang kurasakan saat ini!”

Mei Li terharu. Pemuda itu tetap menghargainya dan bersikap sopan. "Twako, kalau tadi aku mengatakan tergantung dari ayah ibuku, hal itu adalah sebenarnya. Ketahuilah, sejak aku masih kecil sekali, aku telah ditunangkan dengan pemuda lain."

Mei Li melihat betapa wajah itu menjadi pucat, tangannya dilepas dan pemuda itu mundur tiga langkah.

"Ahh, maafkan aku... maafkan kelancanganku."

"Jangan salah mengerti, twako. Biar pun kami sudah ditunangkan, akan tetapi kami tidak saling mencinta. Kami masih ada hubungan keluarga, dan sejak dahulu kami berdua telah mengambil keputusan untuk menolak kehendak orang tua dan membatalkan perjodohan. Engkau tentu dapat menduga siapa orangnya. Ya, dia adalah kakak Souw Kian Bu."

Wajah itu menjadi merah lagi. "Akan tetapi, kenapa kalian tidak setuju, Li-moi? Bukankah dia seorang pemuda yang hebat dan engkau seorang gadis yang hebat pula?"

"Twako, kami masih saudara misan. Sejak kecil kami sudah menganggap seperti saudara sendiri, kasih di antara kami adalah kasih sayang antara kakak dengan adik, bagaimana mungkin kita berjodoh?"

"Kalau begitu engkau engkau menerima cintaku?"

Kini barulah wajah Mei Li menjadi kemerahan dan dia mengangguk. Dia lalu menundukkan mukanya karena tersipu malu.

"Tetapi bagaimana dengan orang tuamu, Li-moi?"

"Akan kunyatakan terus terang bahwa aku tidak ingin berjodoh dengan Bu-koko, bahwa aku telah memiliki pilihan hati sendiri."

"Akukah orangnya?"

Mei Li mengangkat mukanya dan mengangguk.

Han Lin masih duduk melamun ketika dua pasang muda-mudi itu muncul. Dia tersenyum, akan tetapi pura-pura tidak tahu saja, biar pun dari wajah empat orang muda yang berseri serta sinar mata mereka yang penuh kasih itu dia tahu apa yang sudah terjadi di antara mereka. Tentu mereka telah menyatakan isi hati masing-masing.

"Lin-ko, kami datang untuk minta pertolonganmu!" kata Souw Kian Bu.

"Benar, Lin-koko. Hanya engkaulah yang akan dapat menolong kami," kata Mei Li.

Tadi gadis ini sudah mengadakan pembicaraan serius dengan Souw Kian Bu, disaksikan oleh kekasih masing-masing, dan mereka mengambil keputusan untuk minta pertolongan Han Lin.

Han Lin mengangkat alisnya kemudian tersenyum. "Aih, ada urusan apakah? Pertolongan apakah yang akan dapat kuberikan kepada kalian?"

Mei Li saling pandang dengan Kian Bu dan akhirnya Mei Li yang menjadi juru bicara. "Lin-koko, maafkan kami. Baru saja bertemu denganmu kami sudah membikin repot dan minta bantuanmu. Ketahuilah, koko, semenjak kecil aku dan koko Kian Bu telah dijodohkan oleh orang tua kita."

Meski pun dia tahu bahwa di sini timbul keruwetan karena masing-masing agaknya sudah memilih pasangan, Han Lin mengangguk-angguk tersenyum. "Wah, itu baik sekali!"

"Apanya yang baik?" kata Mei Li cemberut. "Sama sekali tidak baik, koko."

"Lho? Kenapa?" tanya Han Lin sambil menoleh, memandang kepada Kian Bu. Pemuda ini juga menggeleng kepalanya sambil menghela napas.

"Memang tidak baik, Lin-ko," katanya.

"Ehh? Kalian ini bagaimana sih? Dijodohkan orang tua, kenapa bilang tidak baik? Apakah Bu-te kurang tampan dan gagah? Apakah Li-moi kurang cantik jelita dan perkasa?"

"Bukan begitu, Lin-koko. Engkau tahu sendiri bahwa kami adalah kakak adik misan. Sejak kecil kami memang sudah tidak setuju karena kami berdua saling sayang sebagai kakak dan adik. Bagaimana mungkin kami bisa menjadi suami isteri?" kata Mei Li.

Han Lin mengangguk-angguk. "Ahh, begitukah? Nah, mengapa kalian minta pertolongan dariku? Apa yang dapat kulakukan untuk kalian dalam hal ini?"

Mei Li memandang Kian Bu. "Bu-koko, engkau saja yang menjelaskan kepada Lin-ko."

Kian Bu berkata kepada Han Lin, "Begini, Lin-ko. Kami tidak dapat menerima perjodohan itu dan terus terang saja, sekarang kami sudah menemukan pilihan hati masing-masing. Aku dan adik Ji Kiang Bwe telah bersepakat untuk membina rumah tangga, sedangkan Li-moi dan saudara Kwan Lee juga sudah saling mencinta untuk kemudian berjodoh."

Han Lin pun mengangguk-angguk. Dia tak merasa heran karena memang telah menduga demikian. "Kalau begitu, apa yang dapat kulakukan untuk kalian?"

"Begini, koko," kata Mei Li. "Nanti kami pasti akan mendapat tentangan dan kesulitan dari orang tua kami. Karena itu kami mohon agar engkau suka menjadi pembicara membela dan membantu kami di depan orang tua kami, membujuk mereka agar menyetujui pilihan hati kami masing-masing dan tidak memaksa aku dan Bu-ko saling berjodoh."

"Wah, aku kalian angkat menjadi comblang?" Han Lin bertanya sambil tertawa, lalu cepat disambungnya dengan sungguh-sungguh. "Baiklah, aku akan membantu kalian. Mudah-mudahan saja bantuanku ada gunanya."

"Terima kasih, Lin-ko."

"Terima kasih, Lin-koko."

"Akan tetapi kurasa hal ini tidak mudah. Apa lagi bagi adik Mei Li. Terus terang saja, kalau Bu-te hendak berjodoh dengan nona Ji Kiang Bwe yang menjadi ketua Kim-kok-pang, hal itu tidak akan ada masalahnya bagi orang tuanya, akan tetapi engkau, Li-moi. Maafkan aku, saudara Kwan Lee. Akan tetapi kalau orang tuamu mendengar bahwa engkau akan berjodoh dengan putera ketua Beng-kauw, aku sangsi apakah mereka mau menyetujui."

"Tidak apa-apa, Sia-taihiap. Aku menyadari keadaanku. Memang nama Beng-kauw telah menjadi demikian buruk di mata para pendekar, tetapi aku berani menghadapi kenyataan, bahkan andai kata aku ditampik sekali pun. Bagaimana pun, bila sudah dicoba, aku tidak akan menjadi penasaran."

"Jangan khawatir, Lee-ko, ayah ibu bukanlah orang yang kukuh. Aku yakin Lin-koko pasti akan mampu mencairkan hati mereka, sebab aku sendiri juga tidak mau dipaksa menikah dengan orang lain."

"Begitulah seharusnya sikap orang muda. Jangan menyerah sebelum diusahakan. Karena dalam hal ini pendapat Bu-te juga sangat diperlukan untuk memperkuat bujukan terhadap Paman Yang Cin Han, maka aku mengusulkan agar kalian berempat bersama aku pergi menghadap beliau dan bibi. Sesudah berhasil barulah pergi menghadap bibi Yang Kui Lan dan suaminya. Bagaimana pendapat kalian?"

Mei Li dan Kian Bu tentu saja menyetujui. Pada saat itu muncullah Kang Hin dan Kwan Eng. Wajah kedua orang ini menjadi kemerahan ketika lima muda-mudi itu memandang kepada mereka.

Kang Hin sudah melihat keakraban aritara Mei li dan Kwan Lee, maka dia maklum bahwa harapannya untuk berjodoh dengan Mei Li sia-sia belaka. Maka, ketika melihat Kwan Eng bersikap mesra kepadanya, dia langsung menyambutnya karena dia pun tertarik sekali kepada puteri Beng-kauw yang cantik manis itu.

Han Lin cepat mendahului yang lain. "Saudara Ciu Kang Hin, dan juga nona Kwan Eng, aku mengucapkan selamat kepada kalian!"

Dua orang itu terbelalak, dan kedua pipi mereka menjadi semakin merah. "Ehh, saudara Sia Han Lin, mengapa engkau mengucapkan selamat kepada kami berdua?"

Han Lin tidak menjawab melainkan tertawa, dan empat orang yang lain ikut pula tertawa. Melihat lima orang muda itu tertawa-tawa gembira, Kang Hin dan Kwan Eng hanya dapat saling pandang dengan tersipu. Lalu Kang Hin bicara dengan sejujurnya.

"Baiklah, terima kasih atas ucapan selamat itu. Memang aku dan nona Sie Kwan Eng telah bersepakat untuk menjadi suami isteri." Dia memandang kepada Mei Li dan gadis ini kelihatan paling gembira mendengar ucapan itu.

"Bagus dan selamat, Ciu-twako! Kalian memang merupakan jodoh yang cocok sekali!"

Kwan Lee yang memang tidak pernah menyimpan rahasia itu, kemudian berkata kepada adiknya, "Adik Eng, engkau pulanglah dulu dan beri tahukan kepada ibu bahwa aku akan pergi dulu kepada orang tua nona Yang Mei Li untuk membicarakan urusan perjodohan kami, bersama dengan saudara Sia Han Lin, saudara Souw Kian Bu dan nona Ji Kiang Bwe."

Kini Kang Hin yang menjadi girang sekali. Tadinya dia merasa agak sungkan kepada Mei Li karena belum begitu lama dia mengaku cinta kepada gadis itu dan sekarang dia telah menyatakan hendak berjodoh dengan gadis lain!

"Ahh, pilihan yang tepat sekali! Kionghi (selamat), kionghi!" katanya berulang-ulang.

Melihat mereka saling memberi selamat, Han Lin pun tertawa. "Kalian lupa untuk memberi selamat kepada pasangan ke tiga antara saudara Souw Kian Bu dan nona Ji Kiang Bwe."

Demikianlah, tiga pasang orang muda itu saling memberi selamat dalam suasana yang gembira dan bahkan tersipu. Dan selagi mereka berenam itu bergembira tertawa, secara diam-diam Han Lin merasa betapa sepinya hati ini.

Mereka lalu berangkat meninggalkan tempat itu. Ji Kiang Bwe bersama Souw Kian Bu, dan Mei Li bersama Kwan Lee, pergi bersama Han Lin. Sedangkan Ciu Kang Hin dan Sie Kwan Eng pergi berdua, menuju ke pusat Beng-kauw untuk menghadap ibu Kwan Eng, minta doa restu atas pilihan hatinya. Bagi Sie Kwan Eng tak ada halangan sesuatu karena memang sudah merupakan kebiasaan keluarganya di Beng-kauw untuk menentukan dan memilih sendiri calon jodohnya.

Atas bantuan Han Lin yang diterima oleh suami isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong dengan gembira, akhirnya suami isteri itu pun dapat menerima pilihan hati puteri mereka. Memang tadinya mereka merasa tidak enak sekali kepada Souw Kian Bu. Tetapi setelah melihat kenyataan bahwa Kian Bu juga mendapat pilihan hatinya sendiri, mereka pun tak dapat berkata apa-apa lagi.

Kenyataan bahwa puteri mereka memilih putera Beng-kauw menjadi calon suami sempat membuat suami isteri itu mengerutkan alis, akan tetapi kesaksian dan pembelaan Han Lin akan kebaikan calon mantu itu membuat mereka akhirnya menyetujui pula.

Sesudah orang tua Mei Li setuju, Han Lin mengantar mereka berlima menghadap Souw Hui San dan Yang Kui Lan. Juga di sini Han Lin memegang peran besar sebagai pembela dan pembujuk sehingga akhirnya suami isteri ini pun menyetujui.

Demikianlah, dua pasang kekasih itu, seperti juga halnya pasangan Ciu Kang Hin dan Sie Kwan Eng, akhirnya menikah dengan penuh kebahagiaan. Pernikahan tiga pasangan itu dihadiri oleh Sia Han Lin dan setelah selesai menghadiri undangan, Sia Han Lin lalu pergi seorang diri.

Sore itu dia tiba di puncak sebuah bukit yang sangat indah pemandangannya. Senja hari yang cerah. Matahari senja menciptakan pemandangan menakjubkan di langit barat. Han Lin berdiri termenung. Hatinya terasa sunyi, sepi, menyendiri dan seolah hidup ini kosong, sama sekali tidak ada artinya baginya. Akan tetapi, ketika tangannya meraba pinggang, tangan itu bertemu dengan pedang yang tergantung di pinggang.

Dia sadar dan mencabut pedangnya. Nampak sinar yang menyamai warna langit di barat. Han Lin memandang pedangnya, kemudian menancapkan tongkat bututnya di atas tanah. Digerakkan pedang itu dan pada lain saat dia telah bersilat pedang. Nampak sinar merah bergulung-gulung dan terdengar suara angin menderu-deru, dan daun-daun kering rontok seolah ditiup badai.

Han Lin terus bersilat memainkan pedangnya. Perlahan-lahan sinar merah di barat makin layu dan kegelapan makin menyelimuti bumi sampai Han Lin yang bermain pedang ditelan kegelapan malam…..

T A M A T



>>>>   PEDANG AWAN MERAH   <<<<
Bagian Ke-03 SERIAL MESTIKA BURUNG HONG KEMALA


Pilih JilidPILIH JUDULT A M A T
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner