PEDANG AWAN MERAH : JILID-01


Satu di antara puncak-puncak pegunungan Thai-san oleh para penghuni dusun-dusun di sebelah timur puncak itu disebut Puncak Awan Merah. Nama ini muncul karena keadaan puncak itu di waktu senja. Matahari selalu saja bersembunyi di balik puncak, di atas dan sekitar puncak, diliputi sinar matahari senja yang membuat awan-awan itu tampak merah.

Senja itu udara sangat cerah dan sinar kemerahan itu bagaikan emas berkilauan. Seperti biasa, puncak itu sunyi sekali karena memang puncak itu hanya indah dipandang namun tanahnya tidak subur karena mengandung kapur sehingga tidak nampak dusun di sekitar situ. Dusun-dusun kecil hanya terdapat di lereng dan di kaki pegunungan Thai-san. Hanya para pemburu binatang hutan saja yang kadang-kadang berkeliaran di tempat itu, tentu saja pada waktu siang hari.

Akan tetapi pada senja hari yang cerah dan indah itu kesunyian puncak terganggu oleh tiga orang yang mendaki puncak, sehingga burung-burung yang sudah mulai beterbangan pulang ke sarang menjadi terkejut kemudian kembali terbang pergi sambil memekik-mekik memperingatkan kawan-kawan mereka. Padahal kemunculan tiga orang itu tentu tak akan mendatangkan rasa takut bagi manusia pada umumnya, malah mendatangkan rasa aman karena mereka adalah tiga orang pendeta-pendeta.

Yang pertama adalah seorang kakek berusia lima puluh tahun, berpakaian sebagai tosu dengan jubah berwarna kuning, tubuhnya tinggi kurus dan ada pedang di punggungnya. Pada wajahnya yang kurus terbayang kesabaran dan kebijaksanaan seperti yang terdapat pada kebanyakan wajah para pertapa. Wajah yang nampak kurus itu bermata sipit sekali, hidungnya pesek dan mulutnya membayangkan senyum. Tangannya memegang sebuah hudtim (kebutan pertapa).

Orang kedua juga seorang kakek berusia lima puluhan tahun, tubuhnya tinggi besar dan pakaiannya pun jubah pendeta berwarna biru muda. Wajah si tinggi besar ini agak hitam, matanya lebar dan hidungnya besar, mulutnya yang lebar juga selalu tersenyum. Seperti rekannya, ia pun membawa pedang di punggung, akan tetapi tangannya tidak memegang hudtim melainkan sebatang tongkat bambu.

Ada pun orang ketiga adalah seorang wanita yang usianya juga sudah lima puluh lima tahun akan tetapi masih nampak segar dan bersih, tanpa keriput di wajahnya yang masih membayangkan kecantikan, gerak-geriknya pun lembut dan rambutnya digelung ke atas. Pakaiannya jubah pertapa yang berwarna putih dengan garis-garis kuning. Wanita itu pun membawa pedang di punggung dan tangannya memegang sebuah kebutan pula, dengan bulu-bulu warna putih.

Kalau ada orang kang-ouw kebetulan berada di situ dan melihat mereka, dia tentu akan terkejut dan mengenal mereka karena tiga orang ini adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang sangat terkenal. Kakak tinggi kurus itu berjuluk Tiong Sin Tojin, tokoh Kun-lun-pai yang terkenal di dunia persilatan karena mempunyai ilmu yang tinggi. Orang ke dua yang tinggi besar bermuka kehitaman juga tidak kalah terkenalnya, karena dia adalah Thian Gi Tosu, tokoh Go-bi-pai. Ada pun orang ketiga adalah seorang tokoh Kwan-im-pai yang berjuluk Lian Hwa Siankouw.

Tiga orang tokoh kang-ouw ini baru saja meninggalkan Thai-san-pai yang merayakan hari ulang tahun di mana mereka menjadi tamu dan di tempat itu mereka mendengar tentang keindahan Puncak Awan Merah, maka senja hari itu mereka bertiga berkunjung ke situ. Mereka mendengar bahwa Puncak Awan Merah amat indah untuk dikunjungi pada waktu senja dan kebetulan sekali senja itu cerah sekali.

Tiba-tiba Lian Hwa Siankouw menuding ke depan. “Lihat, bukankah itu sinar pedang?”

Dua orang rekannya memandang dan berseru kagum. “Kiam-sut yang hebat!” puji Tiong Sin Tojin.

“Mari kita lihat!” kata Thian Gi Tosu lalu mereka menggunakan ilmu berlari cepat mendaki puncak itu dari mana nampak sinar pedang bergulung-gulung.

Setelah tiba di puncak dan dapat melihat orang yang bermain pedang, ketiga orang yang berilmu tinggi itu menjadi tertegun dan kagum. Di sana, di bawah pohon besar, nampak seorang pemuda tengah bersilat pedang. Mereka terpesona sekali dengan keindahan ilmu silat pedang yang dimainkan pemuda itu.

Pemuda itu berusia dua puluh satu tahun, tubuhnya tinggi tegap dengan wajah tampan yang membayangkan kejantanan. Kulit mukanya putih, rambutnya hitam lebat, matanya mencorong tajam dan bibirnya membayangkan senyum, akan tetapi rahang dan dagunya keras membuat dia nampak jantan dan gagah. Pemuda ini bernama Sia Han Lin!

Dia bukan pemuda biasa karena dia adalah putera mendiang Sia Su Beng, pemberontak yang telah menjatuhkan kekuasaan pemberontak An Lu Shan dan puteranya. Namun Sia Su Beng akhirnya dipukul hancur oleh pasukan Kerajaan Tang yang menyusun kekuatan di Barat lantas kembali ke kota raja Tiang-an. Sia Su Beng gugur bersama isterinya yang bernama Yang Kui Bi dan putera tunggal mereka, yaitu Sia Han Lin, dapat diselamatkan dan dilarikan oleh seorang inang pengasuh.

Inilah pemuda itu, Sia Han Lin, kini telah menjadi seorang pemuda perkasa yang berilmu tinggi karena dia digembleng oleh Kong Hwi Hosiang, kemudian ilmunya disempurnakan di bawah gemblengan seorang kakek sakti yang hanya dikenalnya dengan sebutan Lo-jin (orang tua).

Dalam petualangannya sebagai seorang pendekar muda, Han Lin turut membasmi Hoat-kauw yang bersekutu dengan orang-orang Mongol yang dipimpin Sam Mo-ong. Sesudah pimpinan Hoat-kauw dapat dibasmi, Han Lin merampas pedang yang tadinya milik ketua Hoat-kauw. Dia menganggap pedang itu bagus sekali maka sayang kalau terbuang begitu saja, apa lagi kalau terjatuh ke tangan orang jahat.

Pedang itu diambilnya dengan maksud bila kelak Hoat-kauw sudah kembali ke jalan benar dan dipimpin seorang ketua baru yang baik dan bijaksana, dia tentu akan mengembalikan pedang itu yang dianggapnya menjadi hak pemimpin Hoat-kauw. Sementara ini dia yang akan menyimpan pedang itu.

Karena pedang itu ternyata cocok sekali dengannya, dia lantas menggubah ilmu pedang yang diambil dari sari semua ilmu silat yang telah dipelajarinya. Ada delapan belas jurus ilmu pedang itu dan dia beri nama sesuai dengan nama pedang itu, yaitu Ang-in Kiam-sut (Ilmu Pedang Awan Merah).

Ketika perantauannya membawa dia ke Thai-san dan dia mendengar tentang keindahan Puncak Awan Merah, tentu saja dia tertarik sekali. Nama puncak itu sama dengan nama pedangnya, oleh karena itu, pada senja hari itu dia berkunjung ke puncak dan tertarik oleh keindahan puncak yang sunyi sepi itu, dia lalu memainkan ilmu pedangnya dengan asyik sehingga dia tidak tahu akan kedatangan tiga orang yang berilmu tinggi itu.

Ilmu pedang itu memang dahsyat sekali. Sinar pedang merah bergulung-gulung, kadang lembut dan tanpa suara sedikit pun, namun kadang laksana badai mengamuk, suaranya berdesing dan berciutan. Hal ini tidak aneh karena ilmu pedang itu mengandung inti sari ilmu Khong-khi-ciang (Udara Kosong) dan ilmu Lui-tai-hong-tung (Ilmu Tongkat Hujan dan Badai).

Sesudah menyelesaikan ilmu pedangnya, bagian terakhir ilmu itu, Han Lin pun melompat menjauhi pohon kemudian membalik dan begitu tangannya bergerak, pedang itu meluncur bagaikan anak panah dan akhirnya menembus batang pohon sampai ke gagangnya! Dia tersenyum puas, menghampiri pohon lalu mencabut pedangnya.

Pada saat itulah tiga orang yang menonton sambil bersembunyi itu muncul. Han Lin kaget sekali dan tahu bahwa yang datang adalah orang-orang pandai sehingga dia tidak melihat atau mendengar ketika mereka datang tadi dan tahu-tahu telah berada dalam jarak dekat.

“Siancai..., siapa kira di sini kami bertemu dengan seorang pemuda yang amat lihai,” kata Tiong Sin Tojin memuji.

Akan tetapi Thian Gi Tosu sudah melangkah maju sambil berseru, “Heiii, bukankah yang kau pegang itu adalah Ang-in Po-kiam (Pedang Pusaka Awan Merah)?”

Han Lin terheran kemudian mengangguk. “Benar, totiang.”

“Bagus!” seru Lian Hwa Siankouw. “Kiranya di sini pencuri pedangnya. Anak muda, cepat kau kembalikan pedang itu kepada kami atau kami akan menangkapmu sebagai pencuri pedang pusaka.”

Melihat sikap tiga orang itu yang datang-datang sudah menuduhnya mencuri pedang, Han Lin tidak menjadi marah. Dia adalah seorang pemuda yang mempunyai kewaspadaan dan kesadaran tinggi sehingga nafsu amarah tidak mudah menguasai hatinya, dan wataknya menjadi lincah, jenaka, cerdik dan tahan uji.

“Sam-wi Locianpwe, tuduhan tanpa bukti dan saksi itu sama dengan fitnah, dan sam-wi tentu maklum bahwa fitnah itu sama kejinya dengan membunuh.”

Di antara tiga orang pendeta itu, Lian Hwa Siankouw yang paling galak. “Ang-in Po-kiam berada di tanganmu, itu merupakan bukti mutlak yang tidak dapat dipungkiri lagi. Engkau telah mencuri pedang itu, sekarang cepat serahkan kepada kami!”

Han Lin teringat bahwa pedang ini diambilnya dari mendiang Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw, dan sangat boleh jadi Hoat Lan Siansu mencuri pedang itu dari seseorang, maka dia pun tidak mau membantah pendeta wanita itu dan menjawab lantang.

“Saya bukan pencuri dan tidak pernah mencuri pedang. Pedang ini saya ambil dari tangan ketua Hoat-kauw.”

Mendengar ini, tiga orang itu saling pandang dan mereka nampak semakin penasaran.

“Siancai! Kiranya kami berhadapan dengan seorang tokoh Hoat-kauw? Hoat-kauw sudah bersekutu dengan orang Mongol dan telah merencanakan mengadu domba di antara para perkumpulan kang-ouw, juga membunuhi banyak tokoh. Maka tidak mengherankan kalau ternyata Hoat-kauw yang sudah mencuri pusaka yang hilang itu. Orang muda, kembalikan kepada pinto, dan mengingat engkau masih muda, maka pinto akan mengampunimu dan melepaskanmu,” kata Tiong Sin Tojin.

“Serahkan kepada pinto!” Thian Gi Tosu yang tinggi besar itu pun membentak.

Mendengar ini dan melihat sikap tiga orang tua itu, Han Lin tersenyum lalu menyarungkan pedangnya. Jelas nampak bahwa tiga orang itu seperti sedang berlomba memperebutkan pedang itu, masing-masing ingin mendahului kawan untuk menerima pedang itu darinya.

“Ehh, nanti dulu, sam-wi locianpwe. Benda yang berharga dan langka selalu sulit didapat. Pedang ini pun kuperoleh melalui perjuangan yang susah payah, dengan menggunakan ilmu. Apa bila ada yang hendak mengambilnya dari saya, maka harus pula mengandalkan ilmunya dan sanggup mengalahkan saya. Ini cukup adil, bukan? Tentu saja saya percaya bahwa orang-orang yang ingin merampasnya dari saya adalah orang-orang yang memiliki ilmu tinggi dan nama besar. Maka, bolehkah sebelumnya saya mengetahui nama besar sam-wi locianpwe? Nama saya sendiri adalah Han Lin, Sia Han Lin.”

“Pinto Tiong Sin Tojin dari Kun-lun-pai.”

“Dan pinto Thian Gi Tosu dari Go-bi-pai.”

“Pinni berjuluk Lian Hwa Siankouw, wakil ketua Kwan-im-pai.”

“Wah, seperti yang telah saya duga, sam-wi adalah tiga orang tokoh besar yang terkenal di dunia persilatan. Tentu tokoh-tokoh seperti sam-wi tidak sudi melakukan pengeroyokan terhadap seorang muda seperti saya, bukan?” kata Han Lin dengan cerdik.

“Hemmm, siapa yang mau mengeroyok? Orang muda, pinni yang akan mengambil Ang-in Po-kiam dari tanganmu. Majulah!” tantang Lian Hwa Siankouw.

Han Lin merasa gembira. Kini dia mendapat kesempatan bagus sekali untuk menguji ilmu pedangnya yang baru digubah itu dengan melawan orang-orang pandai. Kalau dia kalah, sudah tentu dia tidak akan kukuh mempertahankan pedang yang bukan menjadi haknya itu. Akan tetapi bila dia menang, maka dia akan tetap mempertahankan dan melanjutkan niatnya, yaitu menahan pedang itu sampai Hoat-kauw kembali ke jalan benar untuk kelak diserahkan kepada pimpinan Hoat-kauw yang baik.

Karena dia memang hendak menguji ilmu pedangnya, maka Han Lin lalu mencabut Ang-in Po-kiam. Nampak sinar kemerahan berkilat dan dia sudah berdiri memasang kuda-kuda, yaitu dengan tubuh tegak, tangan kiri miring di depan dada seperti memberi hormat dan pedangnya menuding lurus ke depan.

“Saya sudah siap!” katanya dengan gembira.

Melihat pemuda itu mempergunakan pedang pusakanya, Lian Hwa Siankouw tidak berani memandang rendah. Dia pun mencabut pedangnya yang tipis dan pendek dengan tangan kanannya sehingga sekarang dua tangan itu memegang pedang dan kebutan. Pedangnya mengeluarkan cahaya berkilauan seperti perak, tanda bahwa pedang itu juga merupakan pedang yang baik.

“Lihat serangan!” bentak pendeta wanita itu, kemudian pedangnya berkelebat seperti kilat menyambar.

Han Lin miringkan tubuh mengelak, akan tetapi gerakannya itu dikejar oleh sinar putih dari kebutan yang bulunya sudah berubah menjadi kaku dan menotok ke arah jalan darah di pundaknya. Maka tahulah Han Lin bahwa dia tidak boleh memandang rendah kebutan itu karena serangannya tidak kalah lihai dibandingkan pedang pendeta wanita itu. Dia segera menangkis dengan pedangnya untuk membabat bulu kebutan, akan tetapi bulu kebutan yang sudah menjadi kaku karena tenaga sinkang itu tidak dapat dibabat patah melainkan terpental oleh tangkisannya dan mengeluarkan bunyi nyaring.

Han Lin sadar bahwa dia tidak boleh setengah-setengah dalam menghadapi orang pandai, maka dia segera membalas dengan serangan ilmu pedangnya. Tiba-tiba angin berhembus kuat ke arah Lian Hwa Siankouw ketika pedang itu digerakkan secara aneh oleh Han Lin. Dalam terpaan angin itu nampak kilat menyambar, yaitu kilat dari pedang yang mencuat menyambar ke arah lawan. Seolah-olah dalam awan merah itu mendatangkan badai dan kilat!

Lian Hwa Siankouw terkejut bukan main dan dengan pengerahan tenaga sinkang-nya, dia mempertahankan diri, menangkis dengan pedang dibantu kebutannya. Namun tetap saja dia terhuyung ke belakang dan tiba-tiba suara angin lenyap, kilatan pedangnya lenyap lalu tanpa mengeluarkan suara, tahu-tahu pedang di tangan Han Lin sudah menempel pada batang lehernya!

Tentu saja ini merupakan bukti bahwa dia sudah kalah dengan mutlak karena kalau Han Lin menggerakkan pedang sedikit saja, batang leher pendeta wanita itu akan terpenggal. Dia terbelalak dengan muka berubah merah. Hanya kurang dari lima jurus saja dia sudah dikalahkan oleh pemuda itu.

“Engkau lihai sekali!” katanya sebagai tanda mengaku kalah.

Han Lin juga tidak mau berlagak dalam kemenangannya. Dia cepat meloncat ke belakang kemudian menjura kepada Lian Hwa Siankouw. “Terima kasih, locianpwe telah mengalah terhadap orang muda.”

Diam-diam pendeta wanita itu merasa senang dengan sikap itu. Apa bila pemuda itu ingin mempermalukan dia dengan kata-kata, tentu mudah sekali dan dia akan sangat terpukul. Selama hidupnya belum pernah dia dikalahkan lawan hanya dalam beberapa jurus saja, dan lawan itu seorang yang masih muda lagi!

Melihat kelihaian pemuda itu bermain pedang, Thian Gi Tosu bersikap cerdik. “Siancai...! Ilmu pedang yang hebat itu sungguh mengagumkan. Tetapi pinto segan untuk mengadu pedang karena senjata itu terlalu berbahaya, meleset sedikit saja dapat mencabut nyawa, padahal kita hanya mengadu ilmu. Maka pinto akan mempergunakan tongkat bambu ini saja.” Dia melintangkan tongkat bambunya dengan sikap siap siaga. Harapannya terkabul karena Han Lin juga menyarungkan pedangnya.

“Baik sekali, locianpwe. Kebetulan saya juga mempunyai sebatang tongkat butut dan saya pun hendak meniru locianpwe, akan menggunakan tongkat butut saya itu.” Dia mengambil tongkat butut pemberian Lo-jin, gurunya yang penuh rahasia itu.

Tongkat butut ini merupakan tongkat yang pendek, hanya sepanjang pedang dan terbuat dari bambu pula, namun agaknya bambu itu sudah membaja. Semacam bambu ular yang aslinya berwarna hijau akan tetapi saking tuanya sudah berubah kehitaman.

Dalam hati diam-diam Thian Gi Tosu terkejut dan heran sekali bahwa pemuda itu berani menghadapinya dengan tongkat sependek itu, berbeda dengan tongkatnya yang setinggi dirinya. Dia adalah seorang ahli bermain tongkat dan ilmu tongkat dari Go-bi-pai terkenal sekali di seluruh dunia. Maka dia girang sekali.

“Awas serangan tongkatku, orang muda!” dia membentak dan tongkatnya sudah bergerak cepat.

Gerakan tongkat tosu itu memang lihat sekali. Tongkat yang panjang itu berputar seperti kitiran dan membentuk gelombang yang menerkam ke arah Han Lin. Namun pemuda ini dengan sigapnya melompat ke belakang dan ketika dia mulai bersilat dengan Lui-tai-hong-tung (Ilmu Tongkat Hujan Badai), maka terkejutlah Thian Gi Tosu. Tongkat hitam butut itu mengeluarkan bunyi yang mengerikan, seolah-olah ada hujan badai menyambar-nyambar dengan kekuatan yang amat dahsyat.

Dia segera memutar tongkatnya lebih cepat lagi, akan tetapi gulungan sinar tongkat yang bertemu dengan badai itu menjadi terdorong ke belakang dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, ujung tongkat butut itu sudah menyerang dengan totokan ke arah tiga belas jalan darah di bagian depan badannya. Terpaksa dia mengelak sambil menangkis, akan tetapi tetap saja kedua lengannya tersentuh ujung tongkat butut. Sentuhan yang perlahan saja, tetapi cukup membuat kedua tangannya seperti lumpuh sesaat dan tahu-tahu tongkatnya sudah terkait tongkat butut kemudian berpindah tangan.

Han Lin sudah melompat ke belakang lantas menjulurkan tongkat itu, mengembalikannya kepada Thian Gi Tosu sambil berkata, “Terima kasih atas petunjuk locianpwe.”

Seperti halnya Lian Hwa Siankouw, Thian Gi Tosu hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Masa dia dikalahkan dalam waktu beberapa jurus saja oleh pemuda ini, yang hanya bersenjatakan tongkat pendek, melawan tongkat panjangnya? Dia hanya tahu bahwa pemuda itu cerdik sekali, dalam gebrakan pertama telah maju untuk mengatur jarak sedekat mungkin. Coba dia tidak mengatur jarak dekat, tentu tongkatnya yang lebih panjang akan memperoleh keuntungan.

Selama hidupnya dia pun baru sekali ini dikalahkan orang seperti itu. Akan tetapi karena sikap Han Lin yang cepat mengembalikan tongkat sambil membungkuk hormat kemudian mengucapkan terima kasih, dia pun menerima kembali tongkatnya sambil menarik napas panjang.

“Siancai...! Pinto mengaku kalah, orang muda. Engkau memang patut memiliki Ang-in Po-kiam itu.” Dia lalu mundur ke pinggir di dekat Lian Hwa Siankouw.

Kini tinggal Tiong Sin Tojin, tokoh Kun-lun-pai. Tadi dia memperhatikan dengan seksama ketika Han Lin menggunakan pedang, juga ketika pemuda itu bersilat dengan tongkatnya dan diam-diam dia kagum dan terheran-heran. Pengetahuannya tentang ilmu silat sudah cukup luas, tetapi secara jujur harus diakuinya bahwa selama hidupnya belum pernah dia melihat gerakan ilmu pedang atau ilmu tongkat seperti itu. Dia tidak mengenal sama sekali kedua ilmu yang dimainkan Han Lin dan inilah yang membuat dia jeri. Akan tetapi sebagai seorang tokoh besar, dia tentu malu untuk mundur dan dengan cerdik dia berkata dengan senyum ramah.

“Siancai, engkau sungguh hebat, orang muda. Ilmu pedang dan ilmu tongkatmu memang luar biasa sekali. Karena sudah menyaksikan kedua ilmu itu, kini pinto ingin sekali melihat bagaimana hebatnya ilmu silat tangan kosongmu. Nah, apakah engkau mau melayaniku dengan pertandingan silat tangan kosong?”

Tiong Sin Tojin tentu akan mengandalkan ilmu silat tangan kosong dari Kun-lun-pai yang cepat, dan juga tenaga sinkang-nya yang sudah tinggi tingkatnya dapat diharapkan untuk menang atau setidaknya bertahan lebih lama dari pada kedua orang rekannya.

Han Lin meletakkan tongkat bututnya di atas buntalan pakaian yang tergeletak di bawah pohon. “Locianpwe terlalu memuji. Saya mengharapkan banyak petunjuk dari locianpwe. Silakan!”

Diam-diam Han Lin mengendurkan otot-ototnya sambil memusatkan diri pada keringanan gerakannya. Sekarang dia hendak memainkan ilmu silat tangan kosong dari Lo-jin, yaitu Khong-khi-ciang (Tangan Udara Kosong). Dia berdiri begitu saja dengan santai.

“Bersiaplah, orang muda. Pinto akan mulai menyerangmu!” Tiong Sin Tojin berkata untuk memperingatkan pemuda itu karena dia tidak mau menyerang lawan yang belum bersiap.

Han Lin tersenyum. Dari sikap mereka, tahulah dia bahwa ketiga orang pendeta ini adalah orang-orang yang berwatak pendekar, biar pun jelas bahwa mereka menginginkan pedang pusakanya.

“Locianpwe, saya sudah bersiap. Mulailah!”

“Awas pukulan!” tosu itu pun tidak segan lagi karena Han Lin sudah menyatakan siap dan dia pun mulai menyerang.

Serangannya bergelombang karena dia tidak ingin dikalahkan hanya dalam waktu singkat. Ia hendak mendesak pemuda itu agar tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerang sehingga dengan begitu dia tidak akan dapat dikalahkan dengan mudah seperti kekalahan kedua orang rekannya itu. Ini sama saja dengan kenyataan bahwa bagaimana pun juga dia masih lebih tangguh dari pada mereka.

Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika serangannya yang menggelombang itu melanda Han Lin, semua serangannya kandas dan dia seolah memukul bayangan belaka. Dengan aneh sekali pemuda itu selalu dapat menghindar seolah sudah terdorong menjauh oleh hawa pukulannya, seolah dia menyerang sehelai bulu yang ringan sekali, dan ketika tangannya bertemu dengan tangan lawan, dia merasa seolah-olah tangannya memasuki udara kosong atau paling terasa seperti masuk ke dalam air sehingga tenaga sinkang-nya otomatis menjadi hilang. Itulah kehebatan ilmu Tangan Udara Kosong, tampaknya kosong akan tetapi berisi karena yang kosong itulah yang sebenarnya mengandung tenaga sakti yang amat kuat.

Kalau Han Lin berhadapan dengan orang yang sinkang-nya sudah mencapai tingkat tinggi sekali, tentu Tangan Udara Kosong itu akan ‘dimasuki’ lawan. Akan tetapi tingkat Tiong Sin Tojin belum sampai setinggi itu, maka dia tidak mampu memasuki dan tinggal di luar saja sama sekali tidak dapat memukul Han Lin.

Han Lin juga tidak mau mempermainkan lawan. Ketika gelombang serangan datang, dia cepat mengerahkan tenaga udara kosong sehingga lawan menjadi bingung karena semua pukulannya tenggelam, dan kebingungan yang sesaat itu cukup baginya untuk melakukan totokan pada pundak lawan yang membuat tubuh tosu itu seketika tidak bergerak seperti patung! Akan tetapi hanya sebentar saja karena Han Lin telah menepuk pundak itu sambil berkata,

“Ahh, harap totiang tidak main-main!”

Tepukan itu membebaskan Tiong Sin Tojin yang menjadi lega dan berterima kasih. Tadi dia terkejut bukan main karena selain dia telah dikalahkan dalam beberapa jurus saja, dia pun teriancam mendapat malu besar karena dibuat tidak mampu bergerak. Namun untung baginya pemuda itu segera membebaskannya kembali. Tentu saja dia cukup tahu diri dan sadar bahwa pemuda itu bukan lawannya, maka dia pun menghela napas panjang lantas berseru kagum.

“Siancai, belum pernah seumur hidup pinto menyaksikan seorang pemuda memiliki ilmu setinggi ini. Sia Han Lin, memang pantas kalau engkau yang menemukan pedang pusaka itu, akan tetapi kami hanya khawatir kalau pedang itu dipergunakan untuk kejahatan.”

“Sam-wi locianpwe, apakah sam-wi melihat kalau saya ini seorang yang suka melakukan kejahatan? Kalau boleh saya mengetahui, mengapa sam-wi locianpwe tadi menganggap bahwa saya mencuri pedang ini? Bukankah pedang ini milik Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw yang telah tiada?”

Tiong Sin Tojin yang segera menjawab, “Agaknya engkau belum mengetahuinya, orang muda yang gagah. Pedang pusaka ini adalah milik Kaisar, sudah setahun ini lenyap dicuri orang dari gudang pusaka. Kaisar telah mengutus banyak jagoan istana untuk mencarinya tetapi tak berhasil. Bahkan orang-orang dunia kang-ouw berlomba untuk menemukannya kembali, tanpa hasil pula. Karena itu, ketika kami melihat engkau bersilat dengan pedang itu, kami menduga bahwa engkaulah pencuri dari gudang pusaka istana itu.”

“Hemm, kalau Kaisar mengutus orang-orang mencari pedang pusaka yang dicuri orang, itu masih dapat dimengerti. Akan tetapi kenapa para tokoh dunia persilatan juga mencari dan memperebutkannya? Bukankah merampas dari seorang pencuri sama halnya dengan mencuri pula?”

“Memang ada tokoh-tokoh kang-ouw yang ingin sekali memiliki pedang itu, karena pedang itu disohorkan sangat ampuh dan berkhasiat. Mereka yang ingin memiliki pedang pusaka itu kebanyakan adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang termasuk golongan sesat. Para pendekar dan kami juga ikut mencari pedang itu, tetapi untuk dikembalikan kepada Kaisar yang menjanjikan hadiah besar kepada siapa yang dapat mengembalikan pedang pusaka itu.”

“Maaf, jadi sam-wi locianpwe juga bernafsu untuk mendapat hadiah besar dari Kaisar?”

Wajah ketiga orang itu menjadi merah. “Siancai…! Jangan menuduh sembarangan, orang muda!” kata Lian Hwa Siankouw. “Kami orang-orang yang tidak lagi mementingkan harta dunia, tak ingin mendapatkan harta benda dari Kaisar. Akan tetapi kami harus mengingat kepentingan perkumpulan kami. Kami hanya akan mengharapkan pengertian Kaisar agar perkumpulan kami diberi hak hidup yang layak di bawah pemerintah yang dipimpinnya dan supaya anak buah kami dibebaskan dari pada wajib kerja membangun Tembok Besar dan Terusan, karena hal itu kadang kala menimbulkan bentrok antara kami dengan petugas pemerintah. Kalau kami mengembalikan pedang dan menolak semua hadiah, tentu Kaisar akan mengabulkan permintaan kami itu.”

Kini mengertilah Han Lin. “Sayang sekali sam-wi locianpwe agaknya tak berjodoh dengan pedang ini. Akan tetapi, kalau sam-wi membawa perkumpulan ke jalan yang benar, selalu membantu pemerintah menghalau kekacauan, tentu pemerintah juga menghargai bantuan itu.”

“Dan engkau sendiri bagaimana, taihiap (pendekar besar)? Apa yang hendak kau lakukan dengan pokiam itu?” tanya Thian Gi Tosu tokoh Go-bi-pai.

“Pedang ini baru kurampas dari mendiang Hoat Lan Siansu. Saya merampasnya karena melihat Hoat-kauw dibawa ke jalan sesat oleh dia, dan ketika itu saya sama sekali tidak tahu bahwa pedang ini milik Kaisar yang dicuri olehnya. Ketika merampas pedang ini saya bermaksud untuk mengembalikan kepada pimpinan Hoat-kauw setelah perkumpulan itu kembali ke jalan benar dan dipimpin oleh seorang ketua yang bijaksana. Tetapi sesudah saya mengetahu bahwa pusaka ini ternyata adalah milik Kaisar, maka sudah sepatutnya kalau saya kembalikan sendiri kepada Kaisar.”

“Dan menuntut imbalan hadiah besar?” tanya Lian Hwa Siankouw.

Han Lin tersenyum. “Saya sendiri, walau pun bukan pendeta dan pertapa seperti sam-wi, tidak terlalu murka akan harta dunia. Kebutuhan hidup saya hanya kecil saja dan dengan tenaga saya, kiranya saya masih mampu untuk mencari nafkah hidup. Tidak, saya tidak menuntut harta benda dan entah apa yang akan saya minta sebagai pengganti pedang ini, bagaimana nanti sajalah.”

Sementara itu senja mulai terganti malam, maka Han Lin lalu minta diri dari tiga orang itu. “Maafkan saya, saya akan melanjutkan perjalanan saya,” katanya dan sekali meloncat pemuda itu telah lenyap dari depan tiga orang pendeta itu.

“Siancai…! Tentu dunia persilatan akan gempar dengan munculnya pendekar muda itu,” kata Tiong Sin Tojin.

“Ilmu silat yang sungguh aneh, dahsyat akan tetapi tidak mengandung unsur kesesatan,” sambung Thian Gi Tosu.

“Mudah-mudahan saja penilaian kita terhadap dirinya tidak keliru dan dia sungguh seorang pendekar muda yang tidak akan menggunakan ilmunya untuk kejahatan,” kata Lian Hwa Siankouw.

Tiga orang pendeta itu lalu menuruni puncak sebelum malam menjadi terlalu gelap…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner