PEDANG AWAN MERAH : JILID-02


Han Lin melihat dari puncak bahwa ada api penerangan di lereng sebelah barat, maka dia berlari ke arah api itu. Tentu di sana terdapat sebuah dusun, pikirnya. Dia membutuhkan tempat untuk melewatkan malam yang dingin di pegunungan itu.

Sambil menuruni puncak dia masih terheran-heran akan peristiwa yang dialaminya. Orang tidak boleh menentukan sesuatu dan mengukuhinya. Dalam kehidupan ini segala sesuatu dapat saja berubah-ubah tanpa disangka-sangka, berubah secara tiba-tiba.

Tadinya dia mengambil keputusan hendak mengembalikan Pedang Awan Merah kepada para pimpinan Hoat-kauw kalau mereka sudah kembali ke jalan benar karena dia mengira bahwa pimpinan Hoat-kauw yang berhak mendapatkannya kembali sebagai peninggalan Hoat Lan Siansu. Namun siapa kira ternyata pedang pusaka itu sama sekali bukan milik pimpinan Hoat-kauw, melainkan milik Kaisar yang dicuri oleh Hoat-kauw! Maka dengan sendirinya, tentu saja Kaisarlah yang berhak menerimanya kembali.

Ketika menuruni puncak itu seorang diri dalam suasana yang sunyi dan cuaca yang mulai gelap, terasa benar di dalam hatinya betapa hidupnya sangat kesepian. Namun perasaan nelangsa ini hanya sebentar saja menyentuh hatinya. Kesadaran serta kewaspadaannya tidak mengijinkan kesedihan datang menguasai hatinya. Lo-jin sudah menggemblengnya lahir batin.

“Hadapilah saat ini, sekarang ini, detik ini dan jangan memikirkan masa silam atau masa depan. Masa silam hanyalah kenangan, sudah lewat, sudah mati. Masa depan hanyalah mimpi, khayalan. Sekarang inilah hidup, saat inilah yang penting, dan untuk menghadapi saat demi saat membutuhkan kewaspadaan mendalam.” Demikian antara lain ucapan Lo-jin yang masih menempel dalam ingatannya. Begitu kewaspadaannya dia curahkan pada saat sekarang, maka segala kenangan, segala harapan dan segala khayalan lenyap. Tak ada lagi penyebab timbulnya duka.

Sesudah memperhatikan keadaan, dia melihat bahwa api penerangan itu hanya sebuah. Mungkin di bawah itu hanya ada sebuah rumah saja. Akan tetapi sebuah rumah pun telah cukup. Mudah-mudahan pemiliknya akan berbaik hati untuk menerima dia bermalam di sana.

Dia mempercepat langkahnya dan sesudah tiba di lereng itu, ternyata api penerangan itu lenyap di balik rumpun bambu yang merupakan belukar dan padat sekali. Sebuah hutan bambu, pikirnya sambil memasuki hutan itu.

Akan tetapi semakin dalam dia masuk, maka semakin bingunglah dia. Ke mana pun dia melangkah, yang dihadapi adalah rumpun bambu belaka. Bahkan ketika hendak mencari jalan keluar, dia tidak bisa menemukannya. Dia hanya berputar-putar dan kadang kembali ke tempat semula. Berpuluh macam bambu tumbuh di situ dan agaknya tumbuhnya diatur secara aneh, seperti berpintu-pintu dan berlapis-lapis.

Han Lin berhenti melangkah lalu mengamati dengan teliti. Dalam keremangan senja yang larut itu samar-samar masih nampak bayangan api penerangan di luar hutan bambu. Akan tetapi dia tidak mampu keluar dari sana, karena jalannya berliku-liku dan selalu saja dia tertumbuk pada rumpun yang menghalang. Akhirnya dia menyadari bahwa tidak mungkin hutan bambu ini tumbuh secara alami. Ini pasti buatan orang, pikirnya.

Dia segera teringat akan keterangan Kong Hwi Hosiang gurunya yang pertama, bahwa di dunia persilatan banyak terdapat orang pandai dan aneh, dan di antara mereka ada yang dapat membuat jebakan-jebakan rahasia, barisan-barisan pohon atau bambu yang dapat menyesatkan orang yang memasuki barisan yang berupa hutan itu. Maka kini dia yakin bahwa hutan bambu ini pun dibuat orang pandai dan dia sudah terperangkap di dalamnya.

Dia merasa penasaran lalu mencabut pedangnya. Akan tetapi dia segera teringat bahwa sungguh tidak baik bila merusak barisan bambu yang dibuat orang. Bukan orang itu yang bersalah, melainkan dia sendiri karena dialah yang memasuki hutan itu. Berarti dia sudah memasuki wilayah orang lain tanpa ijin. Teringat akan ini Han Lin segera menyarungkan pedangnya kembali, lalu mengerahkan khikang dan berteriak, suaranya lantang bergema memenuhi hutan.

“Sobat pemilik hutan bambu! Maafkan kalau saya memasuki hutan tanpa ijin. Saya Sia Han Lin datang ke sini bukan dengan niat buruk!”

Suaranya bergema di seluruh hutan bambu itu dan tidak lama kemudian terdengar suara yang datangnya juga terdorong kekuatan khikang.

“Kalau tidak ada niat buruk, kenapa masuk ke sini? Apa maumu?”

Han Lin tertegun. Suara wanita! Suara yang sangat merdu dan nyaring, juga mengandung kecurigaan.

“Saya hanya ingin bermalam!” jawab Han Lin.

“Di sini bukan penginapan, tidak ada tempat bermalam. Kau telah masuk dengan lancang, maka tinggalah di situ satu malam ini!” jawaban itu terdengar ketus sekali.

Han Lin menyadari. Kalau wanita itu tinggal seorang diri, tentu dia tersinggung dan marah mendengar ada seorang lelaki yang minta numpang menginap. Dia menjadi serba salah. Bermalam di hutan itu? Wah, sungguh tak enak bila membayangkan harus tidur di antara rumpun bambu. Tempat seperti itu tentu banyak ularnya. Pula, kalau bambunya bermiang (berbulu halus) tentu akan mendatangkan gatal-gatal kalau tersentuh tangan.

“Nona, harap jangan menyiksa saya!” didengar dari suaranya, dia menduga bahwa wanita itu tentu masih muda, maka dia menyebut nona.

“Siapa suruh engkau lancang masuk ke sana? Sudah, aku mau tidur, jangan ganggu lagi atau aku akan mengirim pasukan ular ke tempatmu!”

Galak benar, pikir Han Lin. “Nona, jika engkau tidak membebaskan aku dari sini, terpaksa aku mengambil jalanku sendiri. Akan kubabat habis rumpun bambu yang indah ini!”

Hening sejenak. Agaknya ucapan Han Lin telah mengejutkan pemilik hutan bambu karena tidak lama kemudian terdengar wanita itu berkata lagi, “Jangan lakukan itu atau aku akan mengadu nyawa denganmu! Kalau ingin keluar, taati petunjukku. Maju dua langkah ke kiri, lalu maju belok ke kiri lagi tiga langkah, kemudian ke kanan empat langkah dan lompati rumpun bambu yang berada di depanmu. Kalau engkau tidak mampu maka akan kubakar hutan ini agar engkau hangus terbakar sebelum engkau membabati bambunya!”

Celaka, wanita itu berbalik mengancam! Ngeri rasa hati Han Lin memikirkan kemungkinan hutan itu dibakar. Tentu dia akan menjadi manusia panggang karena kalau terkurung api, bagaimana dia akan mampu meloloskan diri?

“Baik, akan kutaati petunjukmu!”

Dia lalu melangkah ke kiri dua kali, kemudian membelok ke kiri tiga langkah dan ke kanan empat langkah. Benar saja, kini dia berhadapan dengan rumpun bambu yang nampaknya tebal dan cukup tinggi. Bagaimana kalau dia melompat namun ternyata rumpun itu sangat tebal sehingga dia tidak mampu melampauinya?

Ia mengerahkan tenaga, lalu menggunakan ginkang untuk melompat. Tubuhnya melayang ke atas seperti burung, melampaui rumpun itu yang ternyata tipis saja. Ketika dia turun, ternyata dia sudah berada di luar hutan bambu! Wah, kalau saja dia tahu begitu tipisnya rumpun itu, tentu sejak tadi dia sudah dapat meloloskan diri. Bodohnya, atau pintarnya si pembuat susunan barisan bambu?

Dia melihat sebuah pondok kecil tak jauh dari situ dari mana menyorot keluar sinar lampu. Itulah yang dilihatnya dari puncak tadi. Dia lalu menghampiri, akan tetapi dengan hati-hati sekali karena maklum bahwa pemilik rumah adalah seorang ahli pembuat perangkap dan jebakan. Dia tidak mau terperangkap jebakan seperti seorang tikus.

Sudah kepalang, pikirnya. Nona dalam pondok itu telah mempermainkannya. Setidaknya dia harus membalas dengan godaan minta menginap di situ.

“Heii, nona yang berada di dalam pondok. Aku sudah berhasil melompati rumpun bambu. Apakah sekarang nona dapat memberikan tempat dalam pondok untuk aku melewatkan malam?”

Han Lin mengira bahwa nona itu pasti akan marah dan mendongkol, dan dia akan segera pergi meninggalkan pondok sambil menertawakannya. Tetapi sungguh di luar dugaannya, suara merdu lembut itu kembali terdengar dari dalam pondok.

“Daun pintu pondokku tidak terkunci. Masuklah tapi jangan mengganggu aku yang sedang sibuk!” Sungguh sebuah undangan yang aneh. Dipersilakan masuk akan tetapi tidak boleh mengganggu. Apa maksudnya?

Han Lin adalah seorang pemuda yang tengah dalam usia haus akan pengalaman, seorang petualang muda yang tidak gentar menghadapi kesukaran bagaimana pun juga. Maka dia lalu menghampiri pintu pondok itu, tentu saja langkahnya amat hati-hati dan seluruh urat syarafnya menegang, siap menghadapi bahaya. Namun ternyata tidak ada sesuatu yang mencurigakan, tidak ada jebakan menangkapnya dan daun pintu itu dengan mudah dapat didorongnya terbuka.

Dia berhenti melangkah lantas mengedip-ngedip matanya yang menjadi silau karena dari tempat gelap tiba-tiba bertemu dengan sinar lampu yang cukup terang. Setelah matanya agak terbiasa, ia melihat seorang gadis yang berpakaian indah tengah duduk menghadapi meja di mana terdapat sebuah papan catur dengan bidak-bidaknya yang berserakan.

Gadis itu cukup cantik, terutama rambutnya sangat hitam dan panjang, dibiarkan terurai sampai ke pinggulnya. Dia sedang menghadapi papan catur, dengan bertopang dagu dan dahinya yang halus itu berkerut, seperti sedang mengerahkan pikiran.

Han Lin melangkah maju menghampiri. Mendongkol juga melihat nona rumah sama sekali tidak mempedulikannya seolah yang masuk hanya angin belaka. Tadi Han Lin tidak lupa menutup kembali daun pintu dan sekarang, setelah berada di tempat terang, baru terlihat olehnya betapa tangannya yang tadi mendorong dan menutup pintu, nampak kehitaman. Kini dia tahu bahwa ternyata jebakan itu berupa racun pada daun pintu. Kalau ada orang lain yang mendorong pintu pasti akan keracunan hebat. Akan tetapi tubuhnya kebal racun, maka dia hanya tersenyum saja dan berkata sopan,

“Nona, aku sudah masuk ke dalam.”

Tanpa menengok, wanita itu berkata, “Kalau sudah masuk, bersiaplah untuk mati.”

“Ehh, kenapa? Aku tidak mau mati.”

“Lihatlah tanganmu yang tadi mendorong pintu. Engkau sudah keracunan hebat dan tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkanmu. Dalam waktu satu jam lagi engkau akan mati.”

“Kau maksudkan warna hitam pada tanganku ini, nona? Ahh, nona main-main, ini hanya warna hitam biasa saja, mudah sekali menghilangkannya!” kata Han Lin sambil mendekat.

Mendengar ini barulah wanita itu menengok. Begitu melihat bahwa dia berhadapan dengan seorang pemuda yang tampan dan ganteng, wanita itu agaknya terkejut, heran dan juga tertegun. Tadinya dia mengira bahwa yang datang tentulah orang-orang kasar yang suka mengganggu.

“Lihat tanganmu!” katanya.

Han Lin mengangkat tangan kanannya yang menghitam, lalu memperlihatkannya kepada wanita itu. Wanita itu tersenyum mengejek.

“Nah, tanganmu hitam tanda keracunan hebat. Tergantung dari sikapmu apakah aku mau mengobatimu atau tidak.”

“Warna hitam ini mudah saja hilang. Lihatlah, nona!” dengan tangan kirinya Han Lin lantas mengusap telapak tangan kanan yang menghitam itu sambil mengerahkan tenaga. Warna hitam itu seketika hilang tak berbekas lagi.

Melihat ini, wanita itu terbelalak kemudian bangkit berdiri. “Ah, tidak... tidak mungkin itu...! Itu adalah racun ular hitam yang sudah kujadikan bubuk hitam dan engkau sudah terkena dengan hebat. Bagaimana mungkin...”

Han Lin mengangkat tangan memberi hormat. “Nona, racun itu tidak akan mempengaruhi aku, dan sekarang aku mohon kebaikan hati nona untuk menerimaku satu malam ini saja. Aku kebetulan lewat dan kemalaman di sini, lalu kulihat pondok ini, maka...”

“Hemm, engkau dapat mengatasi racunku, itu sudah membuktikan bahwa engkau pantas menjadi tamuku. Nah, masuklah ke kamar itu dan mengasolah semalam ini. Dan jangan ganggu aku!” dan wanita itu sudah duduk kembali, dengan tekun mengamati bidak-bidak di atas papan caturnya.

Han Lin menengok ke sekeliling. Pondok itu kecil saja dan hanya memiliki sebuah kamar. Ini berarti bahwa kamar itu adalah kamar si wanita! Dan diberikan kepadanya. Tentu saja dia menjadi ragu untuk memakainya.

“Dan engkau sendiri, nona? Kamar itu kamarmu, bukan? Bagaimana aku berani memakai kamar tidurmu...?”

“Cerewet! Pakai saja, semalam ini aku tidak akan tidur. Sudahlah, apakah tidak kau lihat bahwa aku sedang sibuk?” Dia menekuni lagi papan caturnya.

Han Lin tertarik. Ada sebuah kursi dekat meja dan tanpa mengeluarkan suara agar jangan mengganggu konsentrasi wanita itu, dia pun duduk sambil menonton. Dia sendiri adalah seorang pemain catur yang pandai karena dahulu Kong Hwi Hosiang yang senang sekali bermain catur pernah mengajarinya bermain. Hampir setiap ada waktu terluang hwesio itu mengajaknya bertanding main catur. Pada tahun pertama dia selalu kalah oleh suhu-nya. Akan tetapi pada tahun-tahun berikutnya keadaan mereka seimbang sehingga Kong Hwi Hosiang senang sekali bermain catur dengannya.

Han Lin memandang papan catur dan melihat Raja putih sudah terkepung. Anak buahnya hanya tinggal sedikit, seolah-olah Raja Putih itu tinggal saatnya saja dibuat tidak berdaya kemudian kalah. Setelah mengamati beberapa lamanya, tahulah Han Lin bahwa wanita itu mencari pemecahannya agar Raja Putih tidak kalah dan dapat keluar dari kepungan. Dia mencoba beberapa langkah tetapi berulang kali dia menarik napas panjang.

Han Lin pun mengerahkan perhatiannya dan diam-diam ikut mencarikan jalan keluar untuk menolong Raja Putih. Setelah mengerahkan seluruh tenaga pikirannya dan melihat segala kemungkinan, akhirnya dia menemukan jalan itu.

“Orang bijaksana akan merelakan yang kecil untuk menolong yang besar,” katanya. “Jika dibiarkan Menteri berkorban sebagai menteri setia, menghantam Panglima musuh, tentu Raja Putih akan lolos dari kepungan dan selamat.”

Wanita itu nampak terkejut. Segera dicobanya langkah yang diusulkan Han Lin tadi dan... ia berhasil. Setelah Menterinya menyerang Panglima musuh dan mengorbankan diri, Raja Putih berhasil lolos. Langkah apa pun yang dilakukan pihak hitam, tetap saja Raja Putih berhasil lolos dan tidak dapat terkepung lagi, bahkan anak buahnya berkesempatan untuk balas menyerang!

Kini wanita itu menoleh kepada Han Lin, lalu memandang tajam penuh selidik dan penuh kekaguman. “Bukan main! Sudah tiga bulan lamanya setiap hari aku mencari jalan keluar, dan engkau mampu memecahkannya hanya dalam waktu setengah jam saja!”

“Aihh, nona. Kalau nona sudah berpengalaman dalam permainan catur ini, tentu langkah itu akan dapat nona temukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.”

“Bagus, engkau sudah membantu aku memecahkan masalah catur ini sehingga kelak aku dapat menertawakannya!” wanita itu tertawa, suara tawanya merdu dan lembut, ada pun gerakannya manis sekali ketika dia menutupi mulutnya yang tertawa.

“Menertawakan siapa, nona?”

“Menertawakan orang yang sudah memberi masalah itu, yang menantangku agar dapat memecahkan rahasianya. Eh, sobat, siapa namamu tadi?”

“Aku bernama Sia Han Lin, dan nona...”

“Sim Ling Si, itulah namaku. Eh, Sia Han Lin, engkau boleh bermalam di rumahku ini apa bila engkau dapat membantu aku untuk memecahkan sebuah masalah lagi.”

“Hemm, masalah catur lagi?”

“Bukan, kali ini masalah hitungan. Selama tiga bulan ini siang malam waktuku kuhabiskan untuk mencari pemecahan soal catur dan hitungan ini tanpa hasil. Dan aku harus cepat dapat memecahkan keduanya, karena jika tiga bulan lagi aku masih belum berhasil, maka berarti aku terpaksa harus... menikah dengannya!”

Han Lin menjadi tertarik sekali. “Ehh, sungguh luar biasa sekali. Nona. Kalau engkau mau menceritakan kepadaku apa sebenarnya yang terjadi, siapa yang memberi soal-soal untuk dipecahkan, tentu aku akan membantumu memecahkan soal hitungan itu.”

Wanita itu menghela napas panjang, lalu mengamati wajah Han Lin yang masih muda itu. “Engkau masih begini muda sudah dapat menolak racunku dan memecahkan soal catur tadi, sungguh mengagumkan sekali. Biarlah kuceritakan masalahku dengan dia.”

Wanita itu bercerita. Dia adalah seorang wanita sebatang kara, yatim piatu karena kedua orang tuanya telah tewas di tangan musuh. Dari ayahnya ia menerima pelajaran ilmu silat dan ilmu tentang racun, sedangkan dari ibunya ia menerima pelajaran tentang pembuatan benteng barisan bambu yang dapat menyesatkan itu. Dia tinggal di lereng itu, melindungi pondoknya dengan barisan hutan bambu sehingga dia akan tinggal aman di sana tanpa dapat diganggu siapa pun karena tidak banyak orang yang akan mampu lolos dari hutan bambu itu.

Pada suatu pagi ada seorang pria terjebak ke dalam hutan bambu, namun pria itu bahkan bernyanyi-nyanyi dan membaca sajak meski pun dia tidak mampu keluar. Hati Sim Ling Si menjadi sangat tertarik. Ternyata orang itu adalah seorang sasterawan yang juga pandai ilmu silat, bernama Ouw Ji Sun, seorang duda tanpa anak yang juga hidup seorang diri.

Ling Si lalu membebaskannya dan mereka pun berkenalan, bahkan saling tertarik. Sampai pada suatu hari, Ouw Ji Sun mengajukan pinangan kepada Sim Ling Si. Dia seorang duda berusia empat puluh lima tahun yang tidak mempunyai anak dan hidup menyendiri, ada pun Ling Si adalah seorang gadis berusia tiga puluh tahun yang juga hidup menyendiri.

Di dalam hatinya, sebenarnya Ling Si tertarik dan suka kepada pria itu, akan tetapi demi harga dirinya, dia mengajukan syarat, yaitu bahwa dia hanya akan menerima pinangan itu apa bila Ouw Ji Sun dapat mengalahkannya dalam ilmu silat. Mendengar ini Ouw Ji Sun lalu memberi dua macam soal itu kepadanya untuk dipecahkan. Kalau Sim Ling Si tidak mampu memecahkannya dalam waktu setengah tahun, dia harus menerima pinangan itu. Sebaliknya bila dia mampu memecahkannya sebelum setengah tahun, Ouw Ji Sun harus melayaninya bertanding untuk menentukan apakah pinangan itu diterima atau tidak.

“Demikianlah, Han Lin. Baru kepadamu urusan ini kuceritakan. Engkau telah membantuku memecahkan soal catur dan sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Nah, kuharap engkau juga dapat membantuku memecahkan soal hitungan ini agar dia melayani aku bertanding dan aku dapat mengejeknya karena aku berhasil memecahkan soal-soal yang dia ajukan!” katanya sebagai penutup dengan nada suara gembira.

Diam-diam Han Lin membuat perhitungan. Apa bila gadis ini memang tidak suka kepada Ouw Ji Sun, tentu pinangan itu ditolaknya mentah-mentah dan habis perkara. Namun dia mengajukan syarat, bahkan dia menerima pula syarat dari Ouw Ji Sun. Ini hanya berarti bahwa gadis ini sebetulnya mau menjadi isteri Ouw Ji Sun, hanya ingin menaikkan harga diri dan martabatnya. Dia ingin menang dalam pemecahan persoalan, dan tentu menang pula dalam adu silat sehingga kalau akhirnya dia menerima pinangan, dia berada di pihak pemenang dan dapat menguasai laki-laki yang akan menjadi suaminya itu! Tak salah lagi, tentu demikian, pikir Han Lin.

Kasihan Ouw Ji Sun. Dia harus menemui laki-laki itu, melihat bagaimana keadaannya dan wataknya. Kalau dia orang baik, haruslah dibantunya agar harga dirinya sebagai pria tidak akan jatuh dalam pandangan calon isterinya.

“Baik, aku akan mencoba membantumu, enci Ling Si,” katanya tanpa ragu menyebut enci karena gadis itu jauh lebih tua darinya dan tadi lebih dulu menyatakan telah menganggap dia sebagai adiknya sendiri.

Dengan gembira Ling Si lalu mengeluarkan sehelai kertas yang telah dicorat-coret dengan angka-angka, sebagai bukti bahwa gadis itu sudah memeras otaknya untuk menghitung. Sesudah Han Lin melihat soal hitungan itu, hampir dia tertawa bergelak. Seorang kanak-kanak pun akan dapat memecahkan soal hitungan itu!

Begitu mudahnya! Akan tetapi Sim Ling Si sudah mempergunakan waktu berbulan-bulan untuk mencari pemecahannya, tetapi belum berhasil. Sungguh luar biasa sekali. Seorang gadis yang begitu cerdik, yang telah mampu membuat hutan bambu yang demikian rumit, namun tidak mampu memecahkan ilmu hitung yang begitu sederhana!

Di atas kertas terdapat tulisan yang amat indah, tentu tulisan orang yang bernama Ouw Ji Sun itu, yang menyebutkan persoalan hitungan tadi. Bunyi tulisan itu begini:

Sejumlah bebek dan kambing bercampur baur menjadi satu dalam kandang. Yang dapat dihitung hanya seluruh kepala yang jumlahnya delapan puluh delapan, dan seluruh kaki yang jumlahnya dua ratus empat puluh enam. Pertanyaannya adalah: berapakah junlah bebek dan berapa pula jumlah kambingnya?

Bagi Han Lin yang sudah pernah mempelajari ilmu hitung dan ilmu pengetahuan umum lain dari Kong Hwi Hosiang, tentu saja hitungan itu amat mudah. Akan tetapi Ling Si yang belum tahu jalannya atau caranya memecahkan, persoalan itu amatlah rumitnya dan tidak juga dapat menemukan jawabannya.

Akan tetapi Han Lin pura-pura mengerutkan alis. Setelah beberapa lama dia memandang dan membaca tulisan itu, dia lalu menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya.

“Bagaimana, Han Lin? Apakah engkau dapat mencari jawabannya?” tanya Ling Si dengan khawatir kalau-kalau pemuda itu ternyata seperti dia, juga tidak mampu menghitung.

“Aihh, Ouw Ji Sun itu tentulah orang yang pandai, atau dia hanya ngawur saja. Mengapa menghitung bebek dan kambing bercampur baur begitu. Sukar dipecahkan, membutuhkan perhatian dan aku minta waktu tiga hari untuk dapat memecahkannya, enci Ling Si. Akan tetapi percayalah, dalam waktu tiga hari aku pasti akan dapat menemukan jawabannya.”

“Ahh, bagus sekali kalau begitu. Aku sampai pening dan sakit kepala mencari jawaban untuk kedua soal itu.”

“Akan tetapi aku minta engkau memenuhi dua buah syarat.”

“Hemm, Han Lin, ternyata engkau juga ikut-ikutan dengan kami, mengajukan syarat. Apa syaratmu?”

“Pertama, selama tiga hari ini bila aku keluar dari sini untuk mencari jawaban atas rahasia hitungan ini, harap engkau tidak mengikutiku, dan kau harus memberi tahu di mana Ouw Ji Sun itu tinggal.”

“Baik, syarat pertama kupenuhi. Ouw Ji Sun tinggal di bawah lereng, di sebelah utara.”

“Dan syarat kedua, aku ingin menguji kepandaian silat enci Ling Si. Engkau sangat lihai dalam menyusun barisan bambu, tentu engkau lihai pula dalam ilmu silat. Engkau boleh menggunakan senjata yang biasa kau pakai, sedangkan aku akan menggunakan tongkat bututku ini.”

“Hemmm, Han Lin, engkau boleh jadi mahir menebak teka-teki dan memecahkan rahasia hitungan, akan tetapi jangan main-main dengan ilmu silat. Sebaiknya engkau pergunakan pedangmu, karena yang akan kau lawan ini bukan pesilat sembarangan.”

Han Lin tersenyum. “Enci, kita hanya saling menguji kepandaian, bukan hendak berkelahi. Marilah kita latihan sebentar di luar pondok.”

Han Lin keluar dari pondok yang mempunyai pekarangan lebar. Ling Si mengikutinya dan gadis itu telah membawa sepasang pedang pendek namun gemerlapan saking tajamnya.

“Han Lin, sepasang pedangku ini sangat tajam. Dalam satu atau dua jurus saja tongkat bambumu itu tentu akan patah-patah.”

“Kita lihat saja, enci. Nah, aku mulai menyerangmu!” Han Li berseru kemudian tongkatnya melakukan gerakan menusuk.

Ling Si tersenyum, lantas cepat menangkis sambil mengerahkan tenaga dengan maksud agar sekali tangkis dia akan membabat putus tongkat bambu itu.

“Tranggg...!”

Ling Si terkejut bukan kepalang! Bukan saja tongkat itu tidak patah, bahkan dia merasa tangan kirinya kesemutan ketika pedangnya bertemu tongkat. Dia menjadi penasaran lalu membalas serangan itu dengan cepat sekali.

Memang gadis ini memiliki gerakan yang cepat dan ilmu pedangnya cukup baik dan kuat. Akan tetapi bagi Han Lin ilmu kepandaian silat wanita itu tidak ada artinya dan kalau dia memang menghendaki, dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja tentu dia akan dapat mengalahkannya. Tapi bukan maksudnya untuk mengalahkan wanita itu, melainkan untuk menemukan titik-titik kelemahan dalam ilmu silatnya.

Sesudah belasan jurus dia mengandalkan kelincahannya untuk mengimbangi permainan pedang Ling Si, akhirnya dia melihat titik-titik kelemahan dalam pertahanan Ling Si. Maka, ketika sepasang pedang itu melakukan gerakan menggunting dari udara, menyambar dari kanan kiri secara bersilang, tiba-tiba dia sengaja menangkis kedua pedang itu sehingga tongkatnya berada di tengah-tengah seperti terjepit dua mata gunting. Akan tetapi justru Ling Si yang terkejut bukan main karena sepasang pedangnya itu melekat pada tongkat dan beberapa kali diusahakannya untuk melepaskan pedang, akan tetapi sia-sia saja.

“Enci Ling Si, cukup sudah. Kiam-hoatmu sungguh hebat!” kata Han Lin sambil menarik kembali tenaga saktinya yang tadi dikerahkan untuk menyedot dan menempel sepasang pedang itu pada tongkatnya, lalu dia melangkah mundur.

Ling Si merasa betapa pedangnya terlepas dan dia pun berdiri tertegun sambil terheran-heran. Dia tidak tahu apa yang terjadi, mengapa tadi pedangnya tidak dapat ditarik lepas, dan ternyata pemuda itu yang menghentikan pertandingan dan memuji ilmu pedangnya. Walau pun tidak yakin benar, timbul dugaannya bahwa pemuda ini memiliki ilmu silat yang tinggi sekali. Ia menjadi kagum dan makin besar harapannya mendapat bantuan pemuda ini memecahkan segala persoalannya dengan Ouw Ji Sun.

“Jangan terlalu memuji, Han Lin. Ilmu silatku memang tidak seberapa, akan tetapi jangan harap Ouw Ji Sun akan dapat menang jika bertanding denganku. Bagaimana, kapan aku bisa mendapatkan jawaban pemecahan ilmu hitung itu?”

“Berilah aku waktu, enci. Selama tiga hari, aku akan menyendiri untuk mencari jawaban. Sesudah tiga hari aku akan kembali ke sini dan memberi tahu kepadamu. Nah, sekarang aku pamit dahulu, karena ternyata pondokmu hanya memiliki sebuah kamar dan sungguh tidak enak untuk mengganggumu.”

“Ahh, aku sudah menjanjikan untuk menerimamu menginap di sini. Aku tidak bisa menarik janjiku. Kau tidurlah di kamar, aku cukup di kursi ini.”

“Tidak, enci. Kau sangka aku orang yang tidak tahu malu? Engkau wanita, dan bermalam-malam engkau kurang tidur, mengasolah. Bagiku mudah saja, aku dapat tidur di bawah atau di atas pohon dengan membuat api unggun.”

“Akan tetapi engkau tidak akan dapat keluar dari hutan bambuku, juga tidak akan dapat masuk kembali. Mari kutunjukkan engkau rahasia jalan keluar masuknya.” Wanita itu lalu keluar sambil diikuti oleh Han Lin.

“Lihat, ini rumpun pertama yang harus kau lompati,” kata wanita itu dan menyuruh Han Lin mengikutinya. Mereka melompati rumpun bambu itu sehingga tiba di tengah-tengah hutan bambu.

“Dan ini rumpun kedua yang harus kau lompati.” Dia melompat lagi diikuti oleh Han Lin.

“Dan ini yang ketiga dan terakhir.” Dia melompat dan ketika Han Lin mengikutinya, benar saja mereka sudah berada di luar hutan! Begitu mudahnya. Bagi yang belum tahu, tentu akan ragu-ragu untuk melompati rumpun bambu dan kalau bukan rumpun yang mereka lompati tadi, maka mereka akan tetap berada di tengah-tengah hutan bambu.

“Terima kasih, enci. Aku berjanji tiga hari lagi aku akan datang kepadamu dan membuka rahasia pemecahan hitungan itu.”

“Aku percaya padamu, Han Lin,” kata wanita itu dan ketika pulang, ia menyusup di antara rumpun bambu kemudian lenyap seketika.

Han Lin menghela napas. Sungguh wanita yang luar biasa, pikirnya. Heran dia mengapa wanita yang nampaknya begitu pandai, namun bodoh dalam ilmu hitung dan permainan catur. Agaknya Ouw Ji Sun sudah mengetahui kelemahan wanita itu, maka menyodorkan persoalan yang membuat Ling Si pening tujuh keliling selama berbulan-bulan. Agaknya orang yang bernama Ouw Ji Sun itu amat cerdik!

Kegelapan malam berkurang dengan adanya jutaan bintang yang bersinar cemerlang di langit, indah laksana ratna mutu manikam menempel pada hamparan beludru hitam yang amat luas. Han Lin menuruni lereng menuju ke utara dan dari jauh sudah nampak sebuah dusun dengan kelap kelip lampunya.

Melihat sebuah kuil tua di tepi jalan di luar dusun, dia segera masuk ke kuil itu. Ternyata kuil itu kosong dan dia segera mengumpulkan kayu dan daun kering membuat api unggun di ruangan tengah kuil itu yang atapnya sudah berlubang besar. Tubuhnya terasa hangat, dan api unggun itu mengusir nyamuk. Dia membersihkan lantai dengan ranting berdaun, kemudian merebahkan diri mengusir lelah sampai dia tertidur…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner