PEDANG AWAN MERAH : JILID-03


Pada keesokan harinya, sesudah membersihkan badan di anak sungai yang airnya jernih, tak jauh dari kuil tua, Han Lin pun memasuki dusun. Tidak sukar baginya mencari tahu di mana rumahnya Ouw Ji Sun.

“Ahh, rumah Ouw-siucai? Itu, di ujung timur dusun,” kata seorang yang dia tanyai.

Dusun itu kecil saja dan sunyi sekali sehingga amat mengherankan mengapa seorang pria yang disebut siucai (pelajar) dapat tinggal di tempat yang sesunyi itu. Rumah di ujung itu pun terpencil, agak jauh dari tetangga.

Ketika Han Lin menghampiri rumah itu, dia mendengar suara gerakan orang bersilat yang datangnya dari belakang rumah itu. Dengan sangat hati-hati dia segera menghampiri dan melihat seorang pria sedang berlatih silat seorang diri. Orang itu mempergunakan senjata yang aneh, yaitu sebatang mouw-pit (pena bulu) bergagang panjang. Dia memperhatikan dan merasa yakin bahwa inilah orangnya yang dicarinya.

Usianya sekitar empat puluh lima tahun, wajahnya halus tanpa kumis dan jenggot, bentuk wajahnya bulat dan terang, matanya sipit namun cukup lebar dan daun telinganya besar. Wajah yang cukup tampan. Perawakannya juga gagah, tinggi besar, ada pun pakaiannya seperti pakaian sasterawan yang berlengan lebar.

Han Lin lalu memperhatikan gerakan silat orang itu. Ilmu silatnya jelas bersumber kepada ilmu silat Siauw-lim-pai, akan tetapi sudah bercampur dengan aliran lain. Hanya dasar dan gerakan kakinya saja yang menunjukkan ilmu silat Siauw-lim-pai. Gerakannya cukup gesit dan tusukan mouw-pit itu juga mengandung tenaga.

Han Lin membuat perbandingan dan tahulah dia bahwa Sim Ling Si tidak membual. Pria ini tidak akan pernah menang kalau bertanding melawan wanita itu, seperti juga wanita itu tidak akan pernah menang bila mengadu ilmu pengetahuan. Sebagai seorang siucai, tentu saja dia menimba banyak ilmu pengetahuan dari buku.

Sesudah orang itu selesai berlatih dan menghentikan gerakan silatnya, Han Lin bertepuk tangan memuji. “Ilmu silat yang bagus sekali!”

Orang itu membalikkan tubuhnya. Melihat seorang pemuda yang tidak dikenalnya berada di situ memuji permainan silatnya, dia pun agak tersipu.

“Aihhh, sobat muda. Aku baru belajar dan ilmu silatku masih rendah, bagaimana engkau memujinya? Belum berharga untuk dipuji.”

Mendengar ucapan itu dan melihat sikapnya, Han Lin merasa senang. Orang tinggi besar yang lembut ini ternyata seorang yang rendah hati, bukan dibuat-buat.

Dia lalu sengaja menyerang dengan kata-kata untuk menjajagi watak orang itu. “Engkau benar, bagaimana pun juga ilmu silatmu itu tidak akan pernah menang dibandingkan ilmu silat nona Sim Ling Si.”

Pria itu terbelalak, kaget dan heran, akan tetapi tidak menjadi marah seperti yang diduga Han Lin. “Engkau mengenal Sim Ling Si? Apa yang kau ketahui tentang dia?” tanyanya heran sekali.

Han Lin tersenyum. Hatinya merasa senang karena kalau orang ini berwatak buruk tentu sudah marah sekali mendengar ucapannya tadi.

“Aku tahu bahwa apa bila nona Sim Ling Si tidak dapat menebak dua teka-tekimu dalam waktu tiga bulan lagi, maka dia harus menerima pinanganmu. Akan tetapi kalau dia dapat menebak maka engkau harus mengalahkannya dalam ilmu silat. Seperti yang kusaksikan tadi, jangankan tiga bulan lagi, biar engkau belajar tiga tahun lagi pun engkau tidak akan menang melawannya, Ouw-toako.”

“Sobat muda, apakah engkau datang atas suruhan Sim Ling Si untuk mengejekku?” Ouw Ji Sun mengerutkan alisnya. “Bagaimana engkau bisa mengetahui namaku?”

“Sama sekali tidak, Ouw-toako. Aku tidak diutus oleh enci Ling Si, melainkan datang atas kehendakku sendiri. Engkau yang bernama Ouw Ji Sun, siucai yang meminang enci Ling Si dan memberinya soal hitungan dan catur, bukan?”

Ouw Ji Sun menjadi semakin heran. “Semua itu benar, sobat muda. Siapakah engkau dan apa sebenarnya maksud kedatanganmu?”

“Namaku Sia Han Lin dan kunjunganku ini tak lain dengan niat untuk menolongmu dalam perjodohanmu dengan nona Sim Ling Si.”

Ouw Ji Sun tertegun lalu tergopoh mempersilakan. “Kalau begitu sebaiknya kita bicara di dalam saja, Sia-te (Adik Sia),” katanya.

Han Lin mengangguk, kemudian mengikuti orang itu memasuki rumah dari pintu belakang. Melihat rumah itu cukup rapi dan sepi, Han Lin bertanya. “Apakah rumah ini kosong, tidak ada orang lain selain engkau, toako?”

“Benar, aku hanya hidup seorang diri dan sebatang kara. Sejak isteriku meninggal dunia lima tahun yang lalu tanpa meninggalkan anak, aku hidup seorang diri di dusun sunyi ini, mengajarkan ilmu membaca dan menulis kepada anak-anak di sini untuk mengisi waktu luangku. Mari silakan duduk, Sia-te.”

Mereka duduk di ruangan dalam, kemudian Ouw Ji Sun menyuguhkan sepoci teh. Setelah menuangkan teh pahit dan diminum tamunya, Ouw Ji Sun lantas berkata, “Nah, sekarang ceritakanlah apa dan bagaimana engkau hendak menolongku.”

“Kalau aku tidak salah duga, engkau sengaja memberikan dua soal yang sulit itu kepada enci Ling Si dengan tujuan agar selama setengah tahun ini engkau memiliki kesempatan untuk melatih ilmu silatmu agar engkau dapat keluar sebagai pemenang pada saat kalian harus bertanding. Benarkah demikian?”

Wajah tuan rumah itu berubah merah. “Agaknya engkau telah mengetahui semuanya dan dapat menduga maksud hatiku, Sia-te. Sekarang katakan, mengapa engkau mencampuri urusan kami dan apa hubunganmu dengan Sim Ling Si?”

Han Lin menghela napas panjang. “Sesungguhnya keterlibatanku dengan urusan kalian ini terjadi secara kebetulan saja, toako. Aku tersesat masuk ke dalam hutan bambu milik enci Ling Si...”

“Ahh...! Pertemuanku dengannya juga dimulai dengan aku terjebak di dalam hutan bambu itu!”

“Kami berkenalan ketika aku melihat dia tekun menghadapi papan catur dan katanya telah tiga bulan lamanya setiap malam dia menekuni papan catur untuk mencari jawabannya namun tidak juga bisa didapatkan.”

Ouw Ji Sun tersenyum. “Sungguh kasihan Ling Si. Memang aku sudah tahu bahwa wanita yang cerdik dan mampu membuat hutan bambu seperti itu biasanya sangat lemah dalam soal hitungan dan permainan catur. Karena itulah aku memberi soal catur dan hitungan agar dia pecahkan selama enam bulan. Lalu, bagaimana?”

“Aku memberi petunjuk kepadanya sehingga dia berhasil memecahkan rahasia permainan catur itu dan menyelamatkan Raja Putih...”

“Ahh...! Sia-te, berarti engkau hendak mencelakakan aku. Dan hitungan itu...”

“Dia sudah memberi tahukan kepadaku. Hitungan itu pun tak dapat dia menjawabnya. Aku minta waktu tiga hari untuk memberikan jawabannya.”

“Tiga hari? Kurasa engkau pasti mampu menjawab seketika.”

“Tentu saja, toako. Aku sengaja minta waktu tiga hari supaya dapat berkunjung kepadamu dan mengenalmu.”

“Aihh, Sia-te. Celakalah aku kalau begini. Tiga hari lagi dia akan mampu menjawab kedua persoalan itu, kemudian dia akan menantangku seperti yang telah kami janjikan. Padahal selama tiga bulan ini ilmuku belum memperoleh banyak kemajuan, bagaimana aku dapat menang? Ah, harapanku akan musnah, pinanganku pasti ditolak karena selain dia mampu menjawab dua persoalan yang kuajukan, juga dia akan menang dalam pertandingan kami. Ahh...”

“Tenanglah, Ouw-toako. Setelah sekarang mengenalmu, aku sudah mengambil keputusan untuk membantumu seperti yang kukatakan tadi.”

“Bagaimana engkau akan membantuku, Sia-te? Dengan tidak memberikan jawaban soal hitungan itu?”

“Bukan. Aku sudah berjanji, tentu harus kupenuhi. Jawaban itu akan kuberikan. Benarkah engkau mencintanya, toako?”

“Kalau aku tidak mencintanya, untuk apa aku meminangnya?”

“Kurasa dia tidak akan menolak, toako. Hanya saja enci Ling Si memiliki keangkuhan. Dia ingin menjaga harga dirinya, maka dia ingin sekali menang dalam teka-teki itu. Kalau dia sudah dapat menjawab keduanya dan berarti menang dalam syarat itu, tentu dia tak akan berkeras ingin menang pula dalam pertandingan silat.”

“Akan tetapi ilmu silatnya tinggi, sedangkan aku...”

“Selisihnya tak terlalu banyak, toako. Aku akan mengusahakan agar dalam pertandingan silat itu engkau yang keluar sebagai pemenang.”

“Hemm, mungkinkah itu?” tanya Ouw Ji Sun dengan ragu. “Bagaimana caranya?”

“Mari kita ke belakang, aku ingin mengajakmu berlatih dan mencari jalan agar engkau bisa menang. Bawa mouw-pitmu itu.”

Sekarang Han Lin mendahului bangkit dan keluar melalui pintu belakang, diikuti oleh Ouw Ji Sun yang merasa bimbang dan ragu. Namun melihat sikap Han Lin yang tegas seolah-olah akan mampu membantunya, timbul pula sedikit harapan di hatinya.

Sesudah berdiri saling berhadapan di kebun belakang, Han Lin lantas berkata, “Sekarang seranglah aku dengan mouw-pitmu itu. Ingat, keluarkan semua kepandaian dan tenagamu dan jangan ragu-ragu menyerangku. Mulailah!”

Ouw Ji Sun menurut lantas mulai menyerang. Mula-mula memang serangannya asal saja dan hanya dengan tenaga terbatas karena dia tidak ingin melukai pemuda itu yang belum diketahuinya apakah akan dapat mengatasi ilmu silatnya. Bagaimana pun juga tingkatnya masih jauh lebih tinggi kalau hanya dibandingkan dengan guru silat kebanyakan,.

Tetapi alangkah kagumnya ketika dengan amat mudahnya pemuda itu mengelak, apa lagi sesudah dia mulai mendesaknya, bahkan ketika dia menangkis, hampir saja mouw-pitnya terlepas dan tubuhnya terhuyung. Kini maklumlah dia bahwa pemuda itu bukan sekedar membual, maka dia pun menyerang dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan jurus-jurus simpanan sambil mengerahkan sinkang sekuatnya.

Akan tetapi pemuda yang mempergunakan tongkat bambu itu sama sekali tidak terdesak olehnya. Dengan jalan mengelak ke sana sini dan kadang saja menangkis, Han Lin dapat menghindarkan diri dari semua serangan sambil meneliti dan membandingkan ilmu silat Ouw Ji Sun dengan ilmu silat Sim Ling Si.

“Cukup, toako!” akhirnya dia berkata sambil melompat ke belakang.

“Hebat sekali! Ilmu silat dengan tongkat butut itu membuat aku sama sekali tak berdaya. Nah, kau lihat sendiri betapa rendahnya ilmu silatku, Sia-te. Bagaimana aku akan mampu menandingi Sim Ling Si?”

“Selisihnya tidak terlalu banyak. Seperti kukatakan tadi, enci Ling Si yang sudah menang dalam menjawab soal catur dan hitungan itu tentu tak akan begitu bersemangat lagi untuk mendapatkan kemenangan mutlak pula dalam ilmu silat. Aku akan melatihmu serangan-serangan yang tentu akan dapat mengalahkannya. Meski pun hanya tiga jurus saja, akan tetapi harus kau kuasai benar-benar agar tidak sampai gagal. Dan serangkaian serangan ini baru boleh kau lakukan setelah kalian bertanding lewat tiga puluh jurus.”

“Wah, bagaimana kalau sebelum tiga puluh jurus aku telah dirobohkannya?”

“Jangan khawatir, aku akan membujuknya agar jangan merobohkan engkau sebelum tiga puluh jurus. Nah, perhatikan baik-baik, toako. Engkau memegang mouw-pitmu begini, lalu memasang kuda-kuda begini, melompat ke arah kirinya dan menyerang begini.” Han Lin lalu memberi petunjuk dengan mouw-pit sambil dituruti oleh Ouw Ji Sun.

Demikianlah, mulai hari itu juga Han Lin mengajarkan tiga jurus gerakan silat yang sudah diperhitungkan tak akan dapat dipertahankan oleh Sim Ling Si yang sudah dia kenal pula ilmu dan titik-titik kelemahannya. Selama tiga hari itu Ouw Ji Sun berlatih dengan tekun, sementara Han Lin tinggal di rumah siucai tinggi besar itu.

Pada hari ketiga Han Lin meninggalkan Ouw Ji Sun, setelah yakin benar bahwa siucai itu sudah menguasai jurus-jurus barunya, lalu dia pergi ke lereng tempat tinggal Sim Ling Si. Dia meloncati rumpun bambu pertama, kedua dan ketiga, sehingga tibalah dia di depan pintu belakang rumah itu. Ternyata Sim Ling Si sudah menunggu di situ karena wanita itu sudah melihat dia datang dari luar hutan bambunya.

“Bagaimana, Han Lin? Sudahkah kau dapatkan...?” tanyanya penuh harap.

Han Lin tersenyum. “Jangan khawatir, enci. Sudah kudapatkan dengan mudah sekali.”

“Cepat beri tahukan kepadaku bagaimana cara menghitungnya!” kata wanita itu gembira, lalu dia menarik tangan Han Lin dan setengah berlari memasuki rumahnya. Mereka duduk menghadapi meja dan Ling Si sudah membawa catatan soal hitungan itu ke atas meja.

“Jawabannya begini, enci. Dua macam binatang itu berbaur dalam kandang. Kaki kambing berjumlah empat, sedangkan kaki bebek berjumlah dua. Seluruh binatang itu kakinya ada dua ratus empat puluh enam dan kepalanya delapan puluh delapan, bukan? Seandainya binatang itu kesemuanya kambing, maka kakinya akan berjumlah delapan puluh delapan kali empat, yaitu tiga ratus lima puluh dua. Padahal jumlah kakinya hanya ada dua ratus empat puluh enam, jadi selisihnya 352-246 sebanyak 106. Nah, selisih ini kita bagi dengan selisih antara kaki kedua binatang, yaitu 106:2=53. Karena perumpamaan tadi kita ambil dari kambing, maka yang 53 ini adalah bebeknya. Dan tentu saja kambingnya adalah 88-53=35. Atau kalau kita ambil perhitungan dari bebek, andai kata semua bintang itu bebek, maka kepala yang 88 itu dikalikan 2, jadi 176. Nah, selisihnya jadi 246-176=70. Karena tadi dihitung dari perumpamaan bebek, maka selisih yang 70 itu dibagi 2, sama dengan 35 dan itulah jumlah kambing.”

“Ahh, begitu mudahnya!” Sim Ling Si terheran-heran akan tetapi juga girang sekali.

“Sesungguhnya tidak ada persoalan sukar atau mudah, enci. Bagi yang belum tahu, tentu saja suatu persoalan dianggap sukar. Akan tetapi bagi yang sudah tahu, dianggap mudah. Juga tidak ada yang pandai atau bodoh karena yang sudah tahu tentu bisa, dan yang belum tahu tentu tidak bisa. Demikianlah keadaan di dunia ini, enci.”

“Kalau begitu sekarang juga aku mau menemui Ouw Ji Sun! Akan kupecahkan kedua soal yang dia ajukan itu sekarang juga, kemudian dia harus bertanding ilmu silat melayaniku!” Wanita itu nampak penuh semangat dan sangat bergembira. “Engkau harus ikut, Han Lin. Engkau harus menjadi saksinya bahwa akulah yang menang!”

Dengan gembira seperti seorang gadis remaja dia memasuki kamarnya, lalu berdandan! Han Lin tersenyum saja. Dia segera keluar dari pintu, mengagumi susunan hutan bambu yang aneh itu. Sukar dipercaya bahwa susunan rumpun bambu itu dapat membuat orang tersesat dan tidak mampu keluar lagi kalau sudah terjebak di dalamnya.

Sampai agak lama juga ia menanti, baru Sim Ling Si muncul dan begitu melihat gadis itu, hati Han Lin merasa geli. Wanita itu mengenakan pakaian baru, berbedak dan bergincu, rambutnya disisir dan digelung rapi. Seperti orang yang hendak bertemu dengan pacarnya saja, bukan orang yang hendak pergi bertanding melawan musuh. Maka dia pun semakin yakin bahwa diam-diam Sim Ling Si juga menaruh hati kepada Ouw Ji Sun.

“Mari kita berangkat!” kata Ling Si yang sudah membawa sepasang pedangnya.

Ling Si menyusup ke dalam hutan bambu, diikuti oleh Han Lin. Ia berkeliling beberapa kali dengan belokan-belokan aneh dan tahu-tahu mereka sudah berada di luar hutan bambu! Setelah berada di luar hutan bambu, keduanya lalu menggunakan ilmu lari cepat menuruni lereng menuju ke dusun kecil yang terletak di sebelah utara itu.

Penduduk dusun kecil itu terheran-heran melihat wanita cantik memasuki dusun mereka. Di antara mereka ada yang ingin tahu dan diam-diam mengikuti dari jauh ke mana wanita itu hendak pergi. Maka ketika Ling Si dan Han Lin tiba di depan rumah Ouw Ji Sun, ada beberapa orang yang melihatnya dan menonton dari kejauhan.

“Ouw Ji Sun, keluarlah! Aku datang untuk memenuhi syaratmu!” Ling Si berseru dengan suara lantang.

Ketika daun pintu terbuka dan sasterawan tinggi besar itu muncul, untuk kedua kalinya Han Lin merasa geli. Ouw Ji Sun juga mengenakan pakaian baru yang rapi, sama sekali bukan seperti orang yang hendak menemui musuh! Keduanya nampak seperti sepasang pengantin yang hendak melaksanakan pernikahan saja, pakaian mereka bagus-bagus!

“Sim Ling Si, benarkah engkau sudah dapat menjawab kedua pertanyaanku, sudah dapat memecahkan dua persoalan itu?”

Ling Si tersenyum mengejek. “Hemm, apa sukarnya dua persoalan yang amat sederhana itu? Keluarkan papan caturmu!”

“Baik, kau tunggu sebentar.” Ouw Ji Sun memasuki kembali rumahnya.

“Enci, aku ada permintaan lagi,” kata Han Lin lirih.

“Apa itu?”

“Karena aku yang telah memberi tahu jawaban itu kepadamu, berarti engkau telah berlaku tidak adil kepada Ouw Ji Sun. Oleh karena itu, kalau terjadi pertandingan, aku minta agar enci suka mengalah dan tidak mengalahkan dia kurang dari tiga puluh jurus. Bagaimana?”

Wanita itu tersenyum. Baginya jika dapat menjawab saja sudah merupakan kemenangan, tidak dianggap bodoh oleh sasterawan itu. Maka dia tidak keberatan atas permintaan itu. “Baik, aku akan mengalahkannya setelah lewat tiga puluh jurus.”

Agak lama Ouw Ji Sun mengambil papan catur karena bukan hanya itu yang dikerjakan. Dia juga membasahi bulu penanya dengan tinta kental hitam, kemudian membawa keluar pula senjatanya yang istimewa itu dengan memasang penutup pada kepala bulu penanya.

“Ini dia papan caturnya dan akan kupasang bidak-bidaknya sesuai dengan persoalan itu.” Dia meletakkan papan catur di atas tanah, lalu meletakkan bidak-bidak catur seperti yang diajukan kepada Ling Si tempo hari.

Ling Si tersenyum mengejek. “Soal yang kau ajukan ini terlampau mudah!”

“Sim Ling Si, sebaiknya kau coba pecahkan persoalan ini. Bagaimana langkahmu untuk dapat menyelamatkan Raja Putih yang sudah terkepung dan tinggal menanti kematiannya itu?” tantang Ouw Ji Sun, tentu saja sikapnya ini hanya pura-pura karena dia sudah tahu dari Han Lin bahwa Ling Si sudah dia beri tahu jalannya.

“Hemmm, Menteriku akan mengorbankan diri dengan nekat membunuh Panglima Hitam, maka dengan demikian kepungan akan terlepas dan Raja Putih dapat selamat!” katanya gembira sambil menjalankan bidak Menterinya mencaplok Panglima Hitam.

Ouw Ji Sun pura-pura terbelalak heran dan akhirnya dia hanya menghela napas berulang kali.

“Bagaimana, Ouw Ji Sun? Hayo jalankan bidak hitammu, aku hendak melihat bagaimana engkau akan menjatuhkan Rajaku!” Ling Si menantang.

“Hemm, memang inilah satu-satunya jalan yang tepat untuk menyelamatkan Raja Putih. Engkau sungguh pandai, Ling Si. Jawabanmu benar, tetapi masih ada satu soal lagi, yaitu mengenai hitungan itu. Kambing dan bebek berbaur menjadi satu. Jumlah kepala mereka semua delapan puluh delapan dan jumlah kaki mereka dua ratus empat puluh enam. Nah, berapa jumlah bebeknya dan berapa pula jumlah kambingnya?”

Ling Si tertawa sambul menutupi mulutnya, gayanya tertawa itu amat manis. “Hik-hik, apa sih sulitnya hitungan macam itu? Anak kecil pun bisa menjawabnya. Jawabannya adalah: jumlah kambingnya tiga puluh lima ekor dan jumlah bebeknya lima puluh tiga ekor. Betul tidak?”

Kembali Ouw Ji Sun nampak kaget. “Jawaban itu benar, akan tetapi bagaimana jalannya? Jangan main tebak secara ngawur saja.”

“Ihh, siapa ngawur? Apa sukarnya sih? Lihat ini!” Dia membuat coret-coret di atas tanah seperti yang telah dia pelajari dari Han Lin. Sesudah selesai dia memandang kepada Ouw Ji Sun dengan wajah berseri penuh kebanggaan.

“Nah, benar tidak begini?”

Ouw Ji Sun menghela napas. “Engkau menang lagi, Ling Si. Sekarang terserah padamu.”

“Sesuai perjanjian kita, kita harus bertanding ilmu silat. Ingin kulihat apakah engkau akan mampu menandingi aku dalam ilmu silat.”

“Baiklah, aku sudah siap!” katanya sambil mengambil mouw-pitnya lantas membuka tutup kepala mouw-pit itu.

“Hemm, apa artinya senjata seperti itu dibandingkan siang-kiamku?” Ling Si mengejek dan mencabut sepasang pedangnya.

“Kita lihat saja siapa yang lebih lihai, Ling Si. Mulailah!” tantang Ouw Ji Sun.

Wanita itu lalu menyerang dengan cepat, dihindarkan oleh Ouw Ji Sun dengan lompatan ke samping dan dia pun balas menyerang dengan mouw-pitnya yang juga ditangkis oleh pedang Ling Si. Demikianlah, disaksikan oleh Han Lin yang berdiri di bawah pohon, serta oleh beberapa penduduk dusun yang menonton dari jarak agak jauh, kini kedua orang itu saling serang.

Dari permulaan saja Han Lin tahu bahwa seperti yang diduga dan diharapkannya, Ling Si banyak mengalah. Agaknya wanita itu memegang janjinya dan tidak akan mengalahkan Ouw Ji Sun sebelum lewat tiga puluh jurus.

Akan tetapi setelah lewat tiga puluh jurus, tiba-tiba saja Ji Sun mengubah gerakan mouw-pitnya dan Ling Si terkejut sekali karena totokan mouw-pit itu demikian dahsyat, memilih titik-titik lemah dalam ilmu silatnya! Totokan mouw-pit yang pertama nyaris saja mengenai lehernya, bahkan totokan kedua lebih hebat lagi dan hampir mengenai pelipis kepalanya.

Ia tahu bahwa jika dilanjutkan serangan-serangan hebat itu akan membahayakan dirinya. Maka ketika melihat kekosongan pada gerakan lawan, cepat sekali pedangnya membuat gerakan menggunting dan pedang itu sudah menempel di kanan kiri leher Ouw Ji Sun. Akan tetapi tepat pada saat itu, seperti yang diajarkan oleh Han Lin, mouw-pit itu sudah menyambar dan membuat coretan pada dada kiri Ling Si, demikian halus sehingga tidak terasa oleh gadis itu bahwa baju di bagian dada kirinya telah terkena coretan tinta hitam!

Ling Si tersenyum mengejek. “Ouw Ji Sun, engkau kalah lagi. Dengan sepasang pedang menempel di kanan kiri lehermu, berarti engkau sudah kalah mutlak!”

Han Lin melangkah maju menghampiri mereka. “Enci Ling Si, jangan tergesa mengaku menang. Engkau tidak menang, akan tetapi kalah.”

Ling Si menarik sepasang pedangnya dan memandang pemuda itu dengan alis berkerut. “Han Lin, apa katamu? Bagaimana aku bisa kalah kalau pedangku sudah membuat dia tidak berdaya?”

“Enci yang baik, tengoklah baju di dadamu!” kata Han Lin sambil menunjuk dan tertawa.

Ling Si menunduk dan melihat betapa pada bajunya di dada kiri, tepat di atas buah dada kiri, terdapat coretan hitam yang jelas sekali.

“Enci, sebelum sepasang pedangmu membuat gerakan menggunting, lebih dulu mouw-pit Ouw-toako telah mencoret dadamu. Bila mana dia menghendaki, tentu mouw-pit itu bukan sekedar mencoret, akan tetapi menotok dan engkau tentu akan roboh. Tusukan mouw-pit itu tepat pada jantungmu, enci.”

“Ahh...!” Ling Si berseru dan wajahnya berubah merah sekali.

“Maafkan aku, Ling Si,” kata Ouw Ji Sun lirih karena dia merasa kasihan kepada wanita yang dicintanya itu.

“Aku... kau... telah menang...,” kata Ling Si sambil menundukkan mukanya. Sungguh tak disangkanya bahwa sasterawan itu memiliki jurus-jurus simpanan yang demikian dahsyat.

“Ouw-toako dan enci Ling Si, kalian sudah saling mengalahkan dan dikalahkan. Ini berarti bahwa agaknya Tuhan memang telah menjodohkan kalian. Dan aku sendiri melihat bahwa kalian berdua memang cocok sekali menjadi suami isteri. Enci Ling Si cantik dan pandai, juga Ouw-toako gagah perkasa dan ahli sastera. Kurasa kelak kalian akan dapat mendidik anak-anak kalian menjadi seorang pendekar yang juga sasterawan!”

“Ihh..., Han Lin!” bentak Ling Si tersipu.

Ouw Ji Sun tersenyum dan menggunakan kesempatan ini untuk mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam rumahnya.

“Silakan kalian masuk, kita bicara di dalam. Lihat, banyak orang menonton di sana.”

Dengan masih tersipu malu Ling Si mengikuti Ouw Ji Sun setelah ditarik oleh Han Lin dan mereka duduk di ruangan dalam. Sesudah menghidangkan teh, Ouw Ji Sun lalu bertanya langsung kepada Sim Ling Si.

“Adik Ling Si, kita berdua sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, tidak ada yang dapat menjadi wakil pembicara. Karena itu maafkanlah kelancanganku kalau aku hendak mohon keputusanmu. Bagaimana, apakah engkau dapat menerima pinanganku kepadamu?”

Ling Si tidak menjawab. Kepalanya semakin menunduk.

Melihat ini, Han Lin berkata, “Enci Ling Si, bagaimana kalau aku menjadi juru bicaramu? Kalau engkau tidak setuju dengan jawabanku, kau boleh melarangku atau membantah.”

Ling Si tersenyum-senyum malu dan mengangguk tanpa berani mengangkat mukanya.

“Ouw-toako, enci Ling Si merasa terharu dan berterima kasih sekali atas pinanganmu. Dia menerimanya dengan baik dan berharap supaya kalian berdua kelak akan dapat menjadi suami isteri yang berbahagia. Bukankah begitu, enci Ling Si?”

Muka itu semakin merah, akan tetapi kepala yang ditundukkan dan senyum malu-malu itu menunjukkan bahwa dia tidak membantah. Tentu saja Ouw Ji Sun merasa gembira sekali.

“Terima kasih, adik Ling Si. Kalau engkau sudah menyetujui, lalu kapan pernikahan kita akan dilangsungkan dan di mana?”

Sim Ling Si masih menunduk dan beberapa lamanya tidak mampu menjawab, akan tetapi dua titik air mata menetes turun ke atas pipinya. Ditanya demikian, dia teringat bahwa dia sebatang kara dan tidak mempunyai keluarga seorang pun. Akhirnya sengan suara parau dia menjawab lirih, “Terserah kepadamu...”

Han Lin ikut terharu dengan pinangan dan penerimaan yang amat bersahaja itu, dilakukan dua orang yang hidup menyendiri. Karena merasa ikut terlibat dengan perjodohan mereka, bahkan dia sudah membantu sehingga pejodohan itu berjalan lancar, Han Lin lalu berkata dengan gembira.

“Bagaimana kalau sekarang juga dilaksanakan? Kalian berdua telah mengenakan pakaian yang amat indah. Tinggal mencari pendetanya saja untuk mengesahkan dan mengundang penduduk dusun ini untuk merayakan!”

Kedua orang itu kelihatan berseri wajahnya dan Ouw Ji Sun berkata, “Aku mengenal Tong Hwi Hwesio di kuil tak jauh dari dusun ini. Dia tentu mau membantu kami setiap saat.”

“Aku juga mempunyai beberapa ekor babi dan ayam, cukuplah untuk pesta kecil-kecilan,” kata Sim Ling Si.

“Bagus!” Han Lin setengah bersorak. “Mau tunggu apa lagi? Mari kita bertiga pergi ke kuil itu dan aku yang akan menjadi saksinya, Ouw-toako dan enci Ling Si!”

Dua orang itu setuju dan dengan gembiranya tiga orang itu pergi ke kuil di luar dusun. Dan benar saja, Tong Hwi Hwesio yang menjadi sahabat baik sasterawan itu dengan senang hati melaksanakan upacara sembahyang pengantin. Mereka berdua bersembahyang dan berlutut, mengucapkan sumpah setia sebagai suami isteri, sambil disaksikan oleh Han Lin dan disahkan oleh pendeta Tong Hwi Hwesio.

Sesudah selesai melaksanakan upacara sembahyang pengantin, Han Lin menjadi orang pertama yang memberi selamat kepada mereka.

“Ouw-toako dan enci Ling Si, kionghi (selamat) atas pernikahan kalian, mudah-mudahan kalian akan hidup berbahagia dan mempunyai banyak anak!”

Suami isteri itu membalas penghormatan itu, kemudian Ouw Ji Sun merangkul Han Lin. “Terima kasih sekali, Sia-te, engkau telah melimpahkan budi yang tak ternilai kepada kami berdua, semoga kelak kami berkesempatan untuk membalasnya.”

Juga Tong Hwi Hwesio memberi selamat kepada temannya dan memberi doa restu untuk sepasang pengantin. Kemudian mereka bergegas kembali ke rumah Ouw Ji Sun untuk mengundang para tetangga atau seluruh penduduk dusun itu yang jumlahnya tidak lebih dari seratus orang untuk merayakan pesta pernikahan itu.

Pesta pernikahan dirayakan secara meriah. Semua wanita dusun itu terjun ke dapur untuk menyiapkan masakan. Perayaan itu berlangsung sampai malam dan setelah semua tamu pulang, Han Lin juga pamit dari sepasang suami isteri itu untuk melanjutkan perjalanan.

Suami isteri itu berusaha menahan, tetapi dengan lembut Han Lin menyatakan bahwa dia harus melanjutkan perjalanan malam itu juga. Ouw Ji Sun dan Sim Ling Si menghaturkan terima kasih lagi kepada penolong mereka yang masih muda ini, lalu mengantar kepergian Han Lin sampai di luar pekarangan rumah mereka.

Han Lin memanggul pedang dan buntalan pakaiannya, memegang tongkat bututnya, dan malam itu juga dia keluar dari dalam dusun…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner