PEDANG AWAN MERAH : JILID-05


Pemuda baju putih dan gadis baju merah muda yang tadi menghajar tiga orang pemuda berandal masih duduk di rumah makan. Agaknya mereka sengaja menunggu kalau-kalau kepala berandal akan datang untuk membuat perhitungan dan mereka sudah mengambil keputusan untuk membasmi mereka.

Mereka adalah pendekar-pendekar gagah, putera dan puteri ketua Pek-eng Bu-koan yang amat terkenal sebagai perguruan silat besar di kota raja. Bahkan banyak putera pembesar tinggi sampai pangeran menjadi murid bu-koan (perguruan silat) ini.

Pemuda itu bernama Can Kok Han, berusia dua puluh lima tahun. Dia tampan dan gagah, dan mungkin karena dia adalah putera dari ketua Pek-eng Bu-koan, dan saudara-saudara seperguruannya adalah pangeran-pangeran dan pemuda-pemuda bangsawan, maka Can Kok Han memiliki watak yang angkuh dan tinggi hati di samping kegagahannya.

Berbeda dengan kakaknya, gadis itu, Can Bi Lan yang berusia delapan belas tahun sama sekali tidak angkuh bahkan dia ramah sekali. Gadis yang selalu berpakaian merah muda ini memang cantik jelita, dengan mata lebar seperti bintang, hidungnya kecil mancung dan mulutnya selalu dihias senyum manis. Sepasang matanya menjadi daya tarik paling kuat karena mata itu seolah selalu tersenyum memancarkan cahaya kehidupan yang gembira.

Kedatangan mereka di kota Han-cung adalah untuk mewakili Pek-eng Bu-koan menghadiri pertemuan yang akan diadakan oleh Cin-ling-pai. Ketika bertemu dengan pemuda-pemuda berandalan di rumah makan, tentu saja mereka turun tangan memberi hajaran dan kini mereka masih menanti ancaman yang dilontarkan anak-anak berandal itu ketika mereka hendak pergi.

Mendadak pemilik rumah makan tergopoh menghampiri mereka sambil berkata, “Kongcu! Siocia! Celaka, mereka datang... harap ji-wi (kalian berdua) keluar dari sini supaya rumah makan kami tidak hancur berantakan!”

Sepasang muda-mudi itu bangkit berdiri.

“Baiklah, kami akan menyambut mereka di luar!” kata gadis itu lantas bersama kakaknya mereka keluar rumah makan.

Para tamu menjadi panik, namun mereka juga ingin menonton perkelahian maka dengan sembunyi-sembunyi mereka mengintai. Han Lin yang masih berada di sana juga tertarik sekali. Dia berjalan keluar sampai ambang pintu depan, berdiri di situ sambil memandang kagum kepada kakak beradik yang sudah berdiri tegak siap menanti datangnya lawan.

Tak lama kemudian tampaklah rombongan orang itu. Melihat dua orang aneh yang berada di depan, Han Lin dapat menduga bahwa tentu mereka inilah pemimpinnya. Yang seorang amat tinggi kurus, sedangkan seorang lagi kecil pendek, merupakan pasangan yang tidak seimbang. Di belakang mereka terdapat sepuluh orang laki-laki termasuk tiga orang yang tadi sudah dihajar oleh kakak beradik itu. Tiga orang inilah yang menuding-nuding ke arah kakak beradik itu untuk memberi tahu kawan-kawannya dan kedua orang pemimpinnya bahwa kakak beradik itu yang telah menghajar mereka tadi.

Si tinggi kurus dan si pendek kecil menggerakkan kakinya dan seperti terbang saja tahu-tahu mereka telah berhadapan dengan Can Kok Han dan Can Bi Lan. Dua orang muda ini melihat gerakan lawan ini bukanlah orang lemah, bahkan lihai sekali. Melihat perawakan dua orang itu serta gerakan mereka yang seperti terbang, maka teringatlah kakak beradik itu akan nama besar Thian-te Siang-kui sebagai datuk golongan hitam di seluruh lembah sungai Han. Akan tetapi sepasang siluman itu kabarnya jarang sekali keluar sendiri kalau tidak menghadapi urusan besar.

Mereka tidak tahu bahwa kebetulan sekali sepasang siluman itu sedang berada di Han-cung sehubungan dengan undangan Cin-ling-pai kepada tokoh-tokoh kang-ouw. Karena mereka berdua kebetulan berada di Han-cung, maka mendengar ada anak buah mereka dihajar, mereka sendiri lalu berangkat untuk menegakkan wibawa.

Thian-kui si tinggi kurus itu menuding ke arah Kok Han dan Bi Lan. “Hei, dua orang muda. Benarkah kalian yang telah memukul tiga orang anak buah kami ini? Siapakah kalian yang begitu berani berlagak jagoan di kota Han-cung ini?”

“Kalau tidak salah kami sedang berhadapan dengan Thian-te Siang-kui, benarkah?” tanya Can Kok Han dengan sikap tenang walau pun di dalam hatinya dia merasa tegang.

Dua orang datuk sesat itu tertawa. “He-heh-heh, kalau sudah tahu siapa kami, hayo cepat berlutut minta ampun karena kalian sudah memukuli orang-orang kami. Barang kali saja kami akan memaafkan kalian!” kata Tee-kui yang katai.

Tersinggung rasa harga diri Kok Han mendengar dia dan adiknya disuruh berlutut minta ampun.

“Hemm,” jawabnya dengan tegas. “Ketahuilah, aku bernama Can Kok Han dan ini adikku Can Bi Lan. Kami adalah putera-puteri ketua Pek-eng Bu-koan. Kami bukan orang-orang yang suka memukul orang lain tanpa sebab. Kalau tiga orang itu sampai bentrok dengan kami adalah karena mereka berani bersikap kurang ajar terhadap adikku.”

“Ahh, kalau laki-laki menegur wanita cantik, hal itu sudah biasa terjadi di dunia mana pun. Tetapi mengapa kalian main pukul? Berarti kalian tidak memandang mata kepada kami!” kata Thian-kui yang tinggi.

“Thian-te Siang-kui!” kata Can Bi Lan sambil tersenyum mengejek. “Aku telah mendengar banyak tentang kalian sebagai datuk-datuk yang berkedudukan tinggi, tapi pandanganmu ternyata masih sempit. Kami tidak tahu bahwa pemuda-pemuda berandalan itu anak buah kalian, dan kalau mereka kurang ajar kepadaku, apakah aku harus diam saja? Bagaimana kalau puteri kalian dikurang ajari laki-laki? Sepantasnya kalian menegur anak buah sendiri yang bersalah, bukan menyalahkan kami!”

Diam-diam Han Lin kagum. Gadis itu bukan main. Berani dan pandai bicara pula sehingga dengan ucapannya itu, yang didengar oleh banyak orang biar pun secara sembunyi, telah menyudutkan sepasang siluman itu.

Dengan marah Tee-kui mengacungkan kepalan tangan lalu berkata, “Dua bocah sombong, kalau tidak lekas berlutut minta ampun, apakah kalian berani menentang kami?”

“Kami tidak menentang, akan tetapi kami juga tidak pernah menolak tantangan!” kembali Can Bi Lan yang menjawab dengan tak kalah sengitnya. Dara ini memang pemberani dan sedikit pun tidak merasa gentar menghadapi datuk-datuk yang tersohor itu.

“Baik, kalau begitu kami berdua menantang kalian! Hayo, kita main-main sebentar!” kata si katai sambil maju menghampiri Bi Lan, sedangkan rekannya yang jangkung itu segera menghampiri Kok Han.

Kakak beradik ini maklum akan kelihaian dua orang datuk itu, maka sambil melangkah ke belakang mereka mencabut pedang yang tergantung di punggung untuk membela diri.

“Thian-te Siang-kui, di antara Pek-eng Bu-koan dan kalian tidak pernah ada permusuhan, tapi kalau sekarang kami yang muda-muda berani bersikap keras, ini adalah karena kalian yang tua terlampau mendesak dan menantang!” kata Kok Han yang bagaimana pun masih bimbang untuk melawan datuk tinggi kurus itu.

“Jangan banyak bicara. Kalau kalian ada kepandaian, majulah!” bentak Thian-kui dan dia pun sudah melolos senjatanya, yaitu sabuk rantai baja yang panjangnya ada dua meter. Begitu diayun, sabuk rantai itu menyambar dan mengeluarkan suara mengaung nyaring.

Kok Han maklum betapa besar tenaga yang terkandung pada rantai ini, karena itu dia pun tidak berani menangkis, khawatir kalau pedangnya rusak. Dia menggunakan ginkang-nya yang memang rata-rata dimiliki murid Pek-eng Bu-koan, bagaikan seekor burung garuda tubuhnya meloncat ke atas menghindarkan diri dari sambaran rantai, kemudian dia balas menyerang dengan pedangnya sambil berjungkir balik dan menukik ke arah lawan.

“Bagus!” kata Thian-kui.

Akan tetapi dengan mudahnya dia mengelak, lalu memegangi rantai dengan kedua tangan sehingga merupakan sepasang senjata yang panjangnya seperti pedang. Lantas terjadilah pertempuran yang seru di antara mereka.

Sementara itu Tee-kui telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sepasang golok dan ternyata si katai ini memiliki gerak yang gesit sekali, dapat mengimbangi gerakan Bi Lan yang juga sangat cepat. Pedang gadis itu bergerak membentuk gulungan sinar yang membungkus tubuhnya dan kadang dari gulungan sinar itu mencuat sinar pedang menyerang lawan.

Namun lawannya sangat lihai, dan setiap serangannya tentu bertemu dengan golok yang mengandung tenaga begitu kuatnya sehingga Bi Lan merasa pedangnya tergetar hebat. Hanya dalam waktu belasan jurus saja gadis ini sudah terdesak hebat sehingga terpaksa memutar pedangnya untuk melindungi dirinya.

Demikian pula dengan Kok Han. Lewat belasan jurus dia hanya mampu memutar pedang menangkis sambil terus bergerak mundur karena desakan lawannya yang tinggi kurus itu.

Han Lin yang menonton pertandingan itu, mengerutkan alisnya dengan khawatir, karena dia tahu bahwa kakak beradik itu bukanlah lawan sepasang siluman yang ternyata lihai sekali! Tingkat kepandaian kedua orang itu sudah mencapai tingkat para datuk, dan tidak lama lagi dua orang muda Pek-eng Bu-koan itu pasti akan kalah.

Dugaan Han Lin itu terbukti ketika sebuah tendangan kaki si jangkung membuat Kok Han terlempar walau pun dia masih memegangi pedangnya. Dan si katai itu sudah menangkis pedang Bi Lan ke samping lalu secepat kilat dia membalikkan gagang golok dan menotok tubuh Bi Lan sehingga tidak bergerak lagi.

“He-he-he, gadis nakal. Engkau harus menjadi tawanan kami sebelum kalian berdua mau berlutut minta ampun.” Si katai hendak menangkap gadis yang sudah tak dapat bergerak itu. Melihat ini Kok Han yang sudah bangkit kembali, meloncat dengan pedang di tangan, hendak menolong adiknya yang akan ditangkap.

“Lepaskan adikku!” Dia membentak sambil pedangnya menyambar ke arah si katai. Tee-kui tertawa dan goloknya menangkis keras sekali, membuat pedang pemuda itu terpental dan orangnya terhuyung.

“Kau ingin mampus...?!” bentak si katai dan dia mengejar untuk memberi bacokan kepada Kok Han. Dia mengayun golok kirinya.

“Tranggg...!”

Tee-kui terkejut sekali melihat sinar hitam menangkis goloknya dan membuat tangannya tergetar hebat. Dia melihat pemuda berpakaian sederhana dan memegang tongkat hitam, mengingatkan dia pada pesan Hek-bin Mo-ong agar dia berhati-hati menghadapi pemuda itu.

“Hemm, dua orang tua menghina orang-orang muda. Sungguh tidak tahu malu!” kata Han Lin. “Yang salah adalah anak-anak buah kalian, kenapa kalian malah membela anak buah yang berandalan suka menghina kaum wanita itu?”

Thian-te Siang-kui marah sekali. Biar pun mereka sudah mendapat peringatan dari Hek-bin Mo-ong agar berhati-hati menghadapi pemuda berpakaian sederhana yang membawa tongkat butut, akan tetapi sebagai datuk-datuk golongan hitam tentu saja mereka berdua memandang rendah seorang pemuda seperti Han Lin.

“Kurang ajar! Siapa engkau yang berani mencampuri urusan kami?!” bentak Thian-kui.

Sementara itu Kok Han cepat membebaskan totokan pada tubuh adiknya sehingga Bi Lan dapat bergerak kembali. Melihat seorang pemuda bertongkat menghadapi dua orang yang lihai itu, mereka lantas mundur sampai ke pinggiran dan berbalik menjadi penonton, akan tetapi mereka bersiap-siap untuk membantu pemuda yang membantu mereka.

“Siapa aku tidak penting dibicarakan,” kata Han Lin dengan tenang. “Yang perlu dibahas adalah sikap kalian yang sungguh tak sesuai dengan sikap datuk-datuk persilatan. Kalian hendak memaksa dua orang muda yang sama sekali tidak bersalah untuk berlutut minta ampun, padahal sepatutnya kalian yang minta maaf kepada mereka, mintakan maaf untuk anak buah kalian yang sudah berbuat kurang ajar. Aku sendiri saksi akan kekurang ajaran anak buahmu yang berandalan itu.”

“Bocah sombong! Kalau begitu biarlah engkau mampus tanpa nama!” bentak Thian-kui sambil memutar rantainya yang panjang.

Karena sudah mendapat peringatan dari Hek-bin Mo-ong dan merasakan sendiri hebatnya tenaga yang membuat tangannya sampai terpental hebat, Tee-kui juga tidak tinggal diam. Bagi dua orang datuk golongan hitam ini, tidak ada sesuatu apa pun yang dipantang. Biar mengeroyok seorang pemuda pun mereka tidak malu melakukannya.

“Haiiittttt...!”

Thian-kuo menerjang dengan rantai bajanya yang menyambar ganas ke arah kepala Han Lin. Pemuda ini meloncat ke samping untuk mengelak, akan tetapi sepasang golok Tee-kui menyambutnya sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan. Ketika dia bangkit kembali, dia maklum bahwa dilihat dari hebatnya serangan kedua orang itu, dia sekarang berhadapan dengan dua orang yang benar-benar lihai. Agaknya tingkat kepandaian mereka tidak kalah banyak dibandingkan dengan tingkat Sam Mo-ong!

Oleh karena itu, untuk menguji ilmu pedang yang baru saja dirangkainya dari sari seluruh ilmunya, dia meloncat bangun sambil mencabut pedangnya. Pedang itu diambilnya dari buntalan pakaiannya, dan kini dia lemparkan buntalan pakaian ke samping, lalu meloncat ke atas. Dengan lengkingan panjang dia menukik sambil pedangnya menyambar-nyambar ke arah kedua orang lawannya.

Dua orang itu terkejut sekali karena gulungan sinar pedang kemerahan itu mengeluarkan bunyi mendesir dan mendatangkan angin seperti badai menerpa mereka. Keduanya cepat menggerakkan senjata untuk menangkis dengan sekuat tenaga.

“Tranggg...! Trakkk...!”

Thian-kui melompat ke belakang ketika melihat rantai bajanya terputus sepotong, ada pun si katai itu menggelinding laksana bola ketika golok tangan kirinya patah disambar sinar merah. Han Lin melayang turun dan dua orang lawannya kini memandang dengan heran dan gentar.

“Ang-in Po-kiam...!” seru mereka hampir berbareng.

“Pedang Awan Merah...?” Kok Han dan Bi Lan juga berseru kaget dan heran.

Akan tetapi Thian-te Siang-kui telah menerjang lagi dengan penasaran. Thian-kui memutar rantai bajanya yang sudah terpotong ujungnya dan Tee-kui memutar goloknya yang tinggal sebuah.

Han Lin menyambut serangan mereka dengan tenang dan kini kedua orang lawan dibuat terkejut oleh gerakan pedang itu. Kalau tadinya pedang bergerak dahsyat mengeluarkan angin dan suara berdesir, kini pedang itu menyambar-nyambar tanpa suara sama sekali, tidak pula mendatangkan angin. Akan tetapi walau pun nampak bergerak perlahan, setiap kali bertemu senjata mereka mengandung kekuatan yang menggetarkan tangan mereka! Mereka mengeroyok dengan mengerahkan seluruh tenaga sinkang dan mempergunakan kecepatan gerakan mereka yang didukung ginkang yang sudah tinggi tingkatnya.

Namun Han Lin bersilat dengan hati-hati. Ke mana pun senjata lawan menyerang, selalu dapat dihindarkannya dengan elakan atau tangkisan. Dua orang itu sudah merasa gentar sekali terhadap pedang bersinar merah sehingga setiap kali mengadu senjata, mereka tak berani menggunakan tenaga karena khawatir senjata yang tinggal setengahnya itu akan rusak pula.

Karena itu mereka berdualah yang terdesak dan sesudah lewat dua puluh jurus, mereka berseru keras lantas berloncatan pergi, diikuti oleh sepuluh orang anak buah mereka yang lari ketakutan. Baik Han Lin mau pun dua kakak beradik itu tidak melakukan pengejaran.

Han Lin menyarungkan kembali pedangnya lalu mengambil buntalan pakaian dan tongkat bambunya, memasukkan pedang bersama sarungnya ke dalam buntalan. Pada saat itu pula Can Kok Han mendekatinya dan pemuda berpakaian putih itu menegur dengan alis berkerut,

“Jadi engkaukah pencuri pedang pusaka dari istana itu?”

Han Lin merasa heran. Maka dia menalikan buntalan pakaiannya di punggung kemudian bertanya, “Apa yang kau maksudkan?”

“Engkau yang mencuri Pedang Awan Merah dari gudang pusaka kerajaan di kota raja!” kembali Can Kok Han menuduh. Han Lin hanya tersenyum dan menoleh kepada Bi Lan yang juga menghampirinya.

“Koko, jangan sembarangan menuduh!” cela Bi Lan kepada kakaknya, lalu ia menghadapi Han Lin dan mengangkat kedua tangan depan dada.

“Sobat, banyak terima kasih atas bantuanmu tadi. Aku Can Bi Lan dan kakakku Can Kok Han berhutang budi kepadamu.”

“Aihh, nona, hutang pihutang budi hanya mendatangkan ikatan yang memusingkan. Dua orang datuk itu memang berlaku tidak pantas sehingga harus ditentang oleh siapa pun.”

“Akan tetapi, moi-moi, dia harus menerangkan dari mana dia mendapatkan Pedang Awan Merah yang dicuri dari gudang pusaka kerajaan itu!” Kok Han membantah dengan suara mengandung penasaran. “Kita harus setia kepada Kaisar dan berusaha mengembalikan pedang itu!”

Han Lin memandang kepada pemuda itu. Sungguh congkak, pikirnya. Akan tetapi adiknya begini ramah. Luar biasa sekali betapa dua kakak beradik ini mempunyai watak yang jauh berbeda.

“Lantas dengan cara bagaimana engkau hendak mendapatkan pedang ini? Apakah kalian berdua akan merampasnya dariku dengan kekerasan?”

“Kalau perlu...!”

“Koko, engkau sungguh tidak adil! Setidaknya biarkan dia menerangkan dulu bagaimana pedang pusaka itu berada padanya, bukannya mendesak dan menuduhnya!” kata pula Bi Lan membela Han Lin.

“Siauw-moi, kita harus mendahulukan kepentingan kerajaan daripada kepentingan pribadi. Demi nama dan kehormatan kerajaan kita harus dapat merampas kembali pedang pusaka itu kemudian mengembalikan ke istana!” Can Kok Han berkata ketus.

Han Lin memandang Bi Lan dengan sinar mata berterima kasih. “Aku tidak menghiraukan tuduhan siapa pun juga, nona. Akan tetapi dengan senang hati aku bersedia menceritakan kepadamu tentang pedang ini, kalau nona menghendaki.”

“Terima kasih kalau engkau percaya kepadaku. Terus terang saja, aku pun ingin sekali mengetahui, siapakah engkau yang sudah menolong kami dan bagaimana pula engkau dapat memiliki Pedang Awan Merah yang sudah menghebohkan seluruh dunia kang-ouw dan menggegerkan kota raja karena kehilangannya itu?”

“Namaku Sia Han Lin, nona Can Bi Lan. Aku sama sekali tidak pernah mencuri pedang atau mencuri apa pun...”

“Lalu bagaimana pedang yang lenyap dicuri orang bisa berada di tanganmu kalau engkau bukan pencurinya?” tanya Kok Han dengan nada suara tidak percaya.

“Aku tidak memberi keterangan kepadamu dan tidak akan menjawab pertanyaanmu,” kata Han Lin dan kemudian dia menghadapi Bi Lan kembali. “Nona, pedang ini kurampas dari mendiang ketua Hoat-kauw ketika aku membantu pasukan pemerintah menyerangnya. Kurasa orang-orang Hoat-kauw yang telah mencurinya dari gudang pusaka kerajaan dan aku baru mengambil darinya setelah dia roboh dan tewas.”

“Lantas memilikinya untuk dirimu sendiri? Itu sama saja dengan mencuri. Merampas dari pencuri lalu dimiliki sendiri sama saja dengan tukang tadah!”

“Koko, engkau benar-benar tak tahu malu! Saudara Sia Han Lin sudah mengatakan tidak mau bicara denganmu, akan tetapi engkau terus saja bicara ngaco tidak karuan. Di mana kehormatanmu?”

Wajah Can Kok Han berubah merah dan dia melotot kepada adiknya, mendengus marah lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan adiknya dan Han Lin memasuki rumah makan kembali. Adiknya tidak mempedulikan, kemudian bertanya kepada Han Lin,

“Saudara Sia Han Lin, bolehkah aku menyebutmu toako (kakak) saja? Usiaku delapan belas tahun, tentu lebih muda darimu.”

“Tentu saja boleh, siauw-moi,” kata Han Lin sambil tersenyum.

“Toako, kami berdua datang ke Han-cung untuk menghadiri undangan Cin-ling-pai yang pada esok hari akan mengadakan pertemuan penting. Apakah engkau juga datang untuk menghadiri pertemuan itu?”

“Terus terang saja aku sedang ke kota raja, tapi ketika lewat di sini aku mendengar akan pertemuan orang-orang kang-ouw itu. Aku tertarik dan ingin menonton pertemuan.”

Gadis itu menatap tajam. “Toako, tahukah engkau apa maksud Cin-ling-pai mengundang tokoh-tokoh dunia persilatan?”

Han Lin menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu.”

Bi Lan berkata, “Sungguh aneh. Engkau yang menguasai pedang itu, akan tetapi engkau justru tidak tahu apa yang akan dibicarakan. Ketua Cin-ling-pai yang melakukan pencurian Pedang Awan Merah itu sebagaimana didesas-desuskan dengan ramainya di dunia kang-ouw.”

“Ahh...! Ternyata pedang ini telah mendatangkan kehebohan yang luar biasa. Pantas saja kakakmu bersikap seperti itu.”

“Jangan hiraukan dia. Dia memang keras kepala sekali. Toako, Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan pendekar yang terhormat, karena itu tuduhan dan desas-desus bahwa Cin-ling-pai yang mencuri pedang, amat menjatuhkan nama besarnya. Maka besok pagi ketua Cin-ling-pai hendak menyangkal semua tuduhan di depan para tokoh kang-ouw.”

“Hemm, kalau begitu kebetulan sekali aku singgah di kota ini. Tadinya aku berniat pergi ke kota raja untuk...”

“Mengembalikan pedang kepada Kaisar?” sambung Bi Lan.

“Betul sekali. Setelah aku mendengar dari beberapa orang kang-ouw bahwa pedang yang tadinya kukira milik ketua Hoat-kauw ini ternyata pedang pusaka kerajaan, aku mengambil keputusan untuk mengembalikan ke istana.”

“Wah, tentunya engkau akan menerima hadiah besar sekali, toako. Kaisar yang sekarang juga sudah menjanjikan bahwa siapa yang dapat mengembalikan pedang itu, selain diberi harta benda yang banyak sekali, juga akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Engkau beruntung sekali, toako!” kata Bi Lan gembira.

Kini mengertilah Han Lin mengapa pedang itu dijadikan perebutan di antara orang-orang kang-ouw. Kiranya ada hadiahnya yang amat besar. Agaknya Can Kok Han juga merasa iri kepadanya dan ingin merampas pedang untuk mendapatkan hadiah itulah!

“Hemm, Lan-moi, kau kira aku terpikat oleh hadiah-hadiah itu? Kalau aku mengembalikan pedang itu, semata-mata adalah karena aku merasa bahwa yang berhak memiliki adalah kerajaan. Jadi bukan karena hadiah itu, sama sekali tidak, aku tidak mengharapkan itu.”

Gadis itu terbelalak. “Mengapa, toako? Bukankah itu adalah suatu kesempatan yang baik sekali untuk menjadi pejabat tinggi yang kaya raya?”

“Tidak, menjadi pejabat tinggi haruslah disesuaikan dengan kepandaian dan kemampuan, bukan dihadiahkan begitu saja. Dan untuk bisa mendapatkan harta benda yang berjumlah besar, orang harus berusaha, bekerja, bukan menuntut dari sesuatu yang sudah menjadi kewajibannya.”

“Wah, engkau orang yang aneh, toako. Akan tetapi pendapat dan pendirianmu ini menarik sekali, karena tidak lumrah, tidak biasa, tidak sama dengan pendirian orang lain.” Gadis itu memandang kagum.

Han Lin tersenyum. “Apa anehnya dengan pendirian seperti itu? Setiap orang seharusnya berpendirian begitu. Sudahlah, Lan-moi, kita berpisah di sini, sampai jumpa pula, mudah-mudahan.”

“Sampai jumpa pula di tempat pertemuan Cin-ling-pai, toako,” kata gadis itu penuh harap. Ingin dia berbicara panjang lebar dengan pemuda yang menarik perhatiannya itu, namun tidaklah pantas kalau sebagai gadis yang baru saja berkenalan dia menahan pemuda itu.

Setelah Han Lin pergi jauh sampai tak nampak lagi, baru Bi Lan memasuki rumah makan mencari kakaknya. Kok Han yang duduk di atas kursi menyambutnya dengan pandangan mata tak senang dan mulut cemberut.

“Koko, sikapmu tadi sungguh tidak patut sekali. Saudara Han Lin telah menolong bahkan menyelamatkan kita, akan tetapi engkau malah menghinanya. Dia merampas pedang itu dari pencurinya dan kini bermaksud hendak mengembalikan kepada Kaisar, tidak seperti yang kau tuduhkan.”

Kok Han tersenyum mengejek. “Hemm, siapa percaya omongan seorang yang tidak jelas asal usulnya? Engkau saja yang mudah percaya obrolannya.”

“Koko, kau terlalu...!”

“Sudahlah, kita sudah cukup membuat ribut. Mari kita mencari penginapan untuk menanti sampai besok. Kita membawa berita yang sangat baik untuk Cin-ling-pai dan para tokoh kang-ouw, yaitu kita telah mengetahui siapa pencuri pedang itu.”

Bi Lan menatap kakaknya dengan pandangan mata mengandung kemarahan, lalu tanpa menjawab dia membalikkan tubuhnya keluar dari rumah makan.

“Lan-moi...!” teriak Kok Han mengejar.

Namun Bi Lan berjalan terus tanpa menjawab dan tidak mau menoleh karena dia sudah marah sekali. Dia mencari rumah penginapan, tanpa mempedulikan kakaknya yang terus mengikutinya. Sesudah menemukan rumah penginapan yang cukup besar, dia memesan sebuah kamar dan seolah tidak mengenal kakaknya yang berada di belakangnya.

Terpaksa Kok Han juga memesan kamar di sebelah kamar adiknya itu. Dia maklum akan kekerasan hati Bi Lan. Kalau sudah mengambek begitu, adiknya tak akan mau bicara dulu kalau tidak ditegur.

Sementara itu Thian-te Siang-kui bersama sepuluh orang anak buahnya yang melarikan diri segera mencari Hek-bin Mo-ong dan Mulani yang juga bermalam pada sebuah rumah penginapan. Mudah bagi Thian-te Siang-kui untuk mengetahui di mana adanya Hek-bin Mo-ong.

Hek-bin Mo-ong menyambut mereka dengan heran ketika melihat kedua orang itu datang dengan napas terengah-engah dan wajah membayangkan ketegangan.

“Apa yang terjadi? Apakah kalian dikalahkan oleh pemuda yang memegang tongkat butut itu?” dia menduga, karena dia yang sudah tahu akan kelihaian Han Lin tidak akan merasa heran kalau Siang-kui dikalahkan oleh pemuda itu.

“Pemuda itu memang amat lihai, Mo-ong, akan tetapi dia belum sampai merobohkan kami dan bukan karena itulah kami mencarimu untuk melapor. Ada hal yang jauh lebih penting pula.”

“Hemm, apa itu?” tanya kakek gendut itu, matanya memandang penuh selidik.

“Pedang Awan Merah...” kata Thian-kui.

“Ang-in Po-kiam? Kenapa? Katakanlah yang jelas!”

“Pedang pusaka itu ternyata ada pada pemuda yang memegang tongkat butut itu. Ketika kami mengeroyoknya, dia telah mengeluarkan pedang itu sehingga mengejutkan kami dan senjata kami rusak oleh pedang itu!”

“Hemm, sudah kuduga tentu bocah setan itu yang mengambil Ang-in Po-kiam,” kata Hek-bin Mo-ong lirih.

“Suhu, bagaimana pusaka itu dapat terjatuh ke tangan pemuda itu? Siapa dia dan kenapa Ang-in Po-kiam dapat berada di tangannya? Bukankah kabarnya pedang pusaka kerajaan itu lenyap dicuri orang?”

Hek-bin Mo-ong mengangguk. “Tadinya aku pun tidak tahu siapa pencuri pedang pusaka istana. Ketika kami membantu Hoat-kauw menghadapi serbuan pasukan, baru kemudian diketahui bahwa pedang pusaka itu dimiliki oleh mendiang Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw. Kiranya dialah yang telah mencuri pedang itu dan merahasiakan hal ini. Kalau tidak dirahasiakan, tentu sudah lama dia diserbu banyak tokoh kang-ouw. Ketika dia bertanding melawan Sia Han Lin, dia terpaksa menggunakan Pedang Awan Merah itu. Tapi dia kalah dan tewas, Hoat-kauw dibasmi dan kami terpaksa menyelamatkan diri. Kemudian tak ada lagi kabar tentang pedang pusaka itu, dan aku sudah menduga bahwa pedang pusaka itu tentu diambil dan dibawa oleh bocah setan itu.”

“Akan tetapi suhu, kalau pedang itu diambil oleh... siapa nama pemuda itu?”

“Sia Han Lin,” kata gurunya.

“Kalau diambil olehnya, tentu Sia Han Lin sudah mengembalikan kepada Kaisar, karena seperti yang kudengar, bukankah kabarnya Kaisar Kerajaan Tang akan memberi hadiah besar dan kedudukan tinggi kepada siapa saja yang bisa mengembalikan pedang pusaka itu?”

“Pemuda itu memang aneh. Mungkin dengan bantuan pedang itu dia ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia persilatan,” kata Hek-bin Mo-ong.

“Aihh, menarik sekali. Aku ingin sekali bertemu pemuda itu!”

“Tadi dia duduk di rumah makan...”

“Jadi inikah sebabnya suhu tergesa-gesa pergi dari rumah makan itu? Suhu jeri bertemu dia...”

“Hushh, bukan jeri. Aku takut kalau dia membuka mulut sehingga semua tahu bahwa aku sekutu Hoat-kauw yang dimusuhi pemerintah.”

“Aku ingin bertemu dengannya, suhu. Aku ingin merampas Pedang Awan Merah!” Mulani berkata penuh semangat.

“Hemm, jangan gegabah, Mulani. Pemuda itu lihai sekali. Pedang itu memang harus kita rampas, akan tetapi lebih baik kita tunggu sampai kedua orang suhu-mu tiba di sini. Kalau kami bertiga maju bersama, kita tidak takut menghadapi Sia Han Lin itu. Kurasa hari ini mereka akan tiba di sini seperti yang telah kita rencanakan.”

“Bagaimana macamnya pemuda yang bernama Sia Han Lin itu, Siang-kui?” tanya Mulani kepada sepasang siluman itu.

“Dia seorang pemuda tampan, tinggi tegap dan jantan, rambutnya hitam lebat, mata tajam dan wajahnya selalu tersenyum. Pakaiannya seperti orang dusun biasa, sederhana sekali. Akan tetapi dia tidak pernah meninggalkan tongkatnya, tongkat butut warna hitam.” Thian-kui menerangkan. “Dan usianya sekitar dua puluh satu tahun.” Dia menambahkan.

“Suhu, aku harus mencarinya, aku akan merampas Pedang Awan Merah.”

“Dia berbahaya sekali, Mulani.”

“Aih, suhu. Dia belum pernah melihatku, apa bahayanya? Aku dapat mendekatinya tanpa dia menyangka buruk karena dia belum pernah mengenal aku.”

Biar pun Sam Mo-ong adalah gurunya, akan tetapi tiga orang datuk ini tidak pernah dapat mengendalikan Mulani yang tidak dapat dilarang lagi kalau sudah menghendaki sesuatu. Hek-bin Mo-ong juga tidak dapat melarang, hanya berpesan supaya muridnya itu berhati-hati.

Mulani kemudian meninggalkan suhu-nya, sesudah berjanji bahwa dia akan pergi mencari Pedang Awan Merah dan ketika hari mulai gelap dia tentu akan kembali…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner