PEDANG AWAN MERAH : JILID-06


Can Kok Han melangkah seorang diri meninggalkan rumah penginapan itu. Adiknya masih marah-marah dan tidak mempedulikan dia, karena itu dia juga marah dan kini dia hendak keluar dari kota untuk mencari Sia Han Lin! Ia ingin menumpahkan kemarahannya kepada pemuda itu dan dia tidak takut. Bila perlu akan ditantangnya pemuda itu! Dengan langkah lebar dia keluar dari pintu gerbang kota, tidak tahu bahwa semenjak dari pintu gerbang itu sampai keluar kota, dia dibayangi orang.

Yang membayanginya adalah Mulani. Dara ini segera mengenalnya sebagai pemuda yang bersama adik perempuannya sudah menghajar pemuda berandalan anak buah Thian-te Siang-kui di rumah makan. Dia tertarik sekali.

Bukankah Thian-te Siang-kui tadinya mencari hendak menghajar pemuda ini dan adiknya, akan tetapi kemudian mereka dibela oleh Sia Han Lin? Siapa tahu pemuda baju putih ini hendak menemui Sia Han Lin. Maka dia lalu mambayangi.

Kok Han yang penasaran dan marah itu tiba di pinggir sebuah hutan. Tiba-tiba muncullah Thian-te Siang-kui yang berloncatan tiba di hadapannya. Thian-kui yang tubuhnya tinggi jangkung itu tertawa girang ketika melihat dan mengenal pemuda itu.

“Ha-ha-ha, ini namanya kelinci menyerahkan diri kepada harimau, ha-ha-ha!” kata Thian-kui.

“Orang muda, sekarang engkau tak akan dapat terlepas dari tangan kami. Engkau harus menebus perlakuanmu terhadap anak buah kami,” kata Tee-kui.

Kok Han terkejut sekali melihat mereka. Melawan seorang dari mereka saja dia kalah, apa lagi kini harus melawan keduanya. Akan tetapi dia adalah pemuda yang tinggi hati, tidak pernah mau mengaku kalah dan juga pemberani.

“Thian-te Siang-kui, mau apa kalian menghadangku?!” bentaknya, sedikit pun tidak terlihat takut.

“Ha-ha-ha, tadi aku hanya menghendaki engkau dan adikmu berlutut minta ampun kepada kami,” kata Thian-kui, “Akan tetapi sekarang, selain menyerah dan minta ampun, engkau juga harus mengatakan di mana kami dapat menemukan Sia Han Lin.”

“Persetan dengan Sia Han Lin! Aku tidak tahu dia berada di mana!” kata Kok Han yang masih mendongkol kepada Han Lin karena pemuda itulah yang membuat adiknya marah-marah kepadanya. Lagi pula, andai kata dia tahu, dia tidak akan memberi tahu karena dia khawatir kalau-kalau Pedang Awan Merah akan dirampas oleh sepasang siluman ini.

“Hemm, lagakmu sombong sekali!” kata Tee-kui pula. “Hayo cepat engkau menyerah dan berlutut!” Tee-kui memegang gagang sepasang goloknya dengan sikap mengancam.

Akan tetapi mendengar bentakan ini, Kok Han membusungkan dadanya. “Menyerah? Aku tidak memiliki kesalahan apa pun juga terhadap kalian. Yang bersalah adalah anak buah kalian, mengapa aku harus berlutut dan menyerah? Selama nyawaku masih terkandung di badan, aku tak akan sudi menyerah!” berkata demikian, Kok Han juga memegang gagang pedangnya, siap melawan.

Mulani bersembunyi sambil mengintai dari balik semak-semak, dan dia pun memandang kagum. Boleh juga pemuda itu, pikirnya. Demikian gagah berani.

Thian-te Siang-kui marah sekali melihat sikap Kok Han. Tee-kui lalu mencabut goloknya dan berkata, “Orang muda sombong, engkau memang sudah bosan hidup!”

Melihat ini Kok Han juga segera mencabut pedangnya. “Lebih baik mati sebagai harimau yang melawan sampai titik darah terakhir dari pada hidup seperti babi yang diperlakukan sesukanya olehmu!”

“Sombong...!” Thian-kui berteriak. “Tee-kui, tangkap dia hidup-hidup. Aku ingin memaksa dia untuk berlutut dan menyiksanya!”

Tee-kui lantas menyerang dengan goloknya. Kok Han menggerakkan pedangnya dan siap melawan mati-matian. Terjadilah pertandingan yang berat sebelah. Bagaimana pun juga tingkat kepandaian Kok Han masih terlalu jauh untuk dapat mengimbangi permainan golok lawannya. Bukan saja permainan pedangnya belum mampu mengimbangi, juga terutama sekali dalam adu kekuatan, tenaganya jauh kalah kuat oleh si katai ini setiap kali senjata mereka bertemu.

Belum sampai dua puluh jurus pedangnya sudah terpental lepas dari tangannya, disusul sebuah tendangan kaki kecil itu yang membuatnya jatuh terjengkang di dekat Thian-kui. Si jangkung ini cepat menyambutnya dengan totokan dan tubuh Kok Han lemas tak berdaya lagi.

Dua orang itu tertawa bergelak. Akan tetapi Kok Han yang rebah terlentang memandang dengan mata terbelalak penuh keberanian.

“Hayo cepat kau minta ampun, barang kali kami akan dapat mengampunimu!” kata Thian-kui sambil tertawa mengejek.

“Tidak sudi, lebih baik mati!” jawab Kok Han dengan nekat.

“Uh, orang sombong macam ini memang tidak ada gunanya dibiarkan hidup!” bentak Tee-kui dan dia mengangkat goloknya untuk membacok.

“Siang-kui, tahan dulu!” tiba-tiba Mulani muncul sambil berseru nyaring.

Golok yang sudah diangkat itu perlahan-lahan diturunkan kembali. Tentu saja dua orang datuk itu tidak takut kepada Mulani, akan tetapi karena gadis ini murid Sam Mo-ong, mau tidak mau mereka harus menghargainya.

“Nona, mengapa engkau menahan kami yang hendak membunuh si sombong ini?” tanya Tee-kui, nadanya memprotes.

“Thian-te Siang-kui, saudara ini adalah seorang pendekar yang gagah berani. Habiskan saja kesalah pahaman di antara kalian dan serahkan dia kepadaku. Biarlah aku saja yang menanganinya. Nah, tinggalkan kami!” nada suaranya memerintah.

Thian-te Siang-kui saling pandang. Kalau saja mereka tidak takut kepada Hek-bin Mo-ong yang mungkin berada tak jauh dari situ, tentu gadis ini akan mereka lawan. Akan tetapi akhirnya mereka pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menelan saja kedongkolan hati mereka.

Sesudah mereka berdua pergi, Mulani menghampiri Kok Han lalu menotok kedua pundak pemuda itu, membebaskannya. Kok Han cepat bangkit berdiri kemudian memberi hormat kepada Mulani.

“Nona, terima kasih atas pertolonganmu tadi,” katanya dengan kagum karena dia melihat betapa gadis ini dapat mengusir kedua orang datuk itu dengan begitu saja!

“Ahh, kongcu, harap jangan sungkan. Agaknya sudah ditakdirkan agar kita bekerja sama. Pertama kali berjumpa kita juga sudah bekerja sama ketika menghadapi pemuda-pemuda berandalan di dalam rumah makan itu, bukan?”

Kok Han terbelalak dan pandang matanya semakin kagum. “Ah, kiranya engkaukah yang menghajar kedua orang berandalan di rumah makan itu, nona? Senang sekali aku dapat berkenalan dengan nona.” Kok Han memberi hormat lagi, lantas melanjutkan. “Namaku Can Kok Han, putera ketua Pek-eng Bu-koan di kota raja. Bolehkah mengetahui namamu, nona?”

“Aihh, sungguh tidak enak bicara sambil berdiri saja. Mari kita duduk di sana,” ajak Mulani dan mereka pun kemudian duduk di atas batu-batu di bawah pohon.

“Nah, sekarang ceritakan tentang dirimu, nona. Siapa namamu, dari mana engkau datang dan bagaimana dua orang datuk seperti Thian-te Siang-kui begitu tunduk kepadamu?”

Mulani menghela napas panjang. “Sebelum aku menjawab, katakan dulu apakah engkau seorang dari mereka yang memandang rendah suku bangsa lain? Kalau begitu halnya, lebih baik kita tak usah saling berkenalan. Banyak orang memandang rendah sesamanya hanya karena dia memiliki suku bangsa yang berbeda.” Gadis itu nampak bersedih.

Kok Han yang sejak pertama kali tadi sudah merasa amat tertarik kepada Mulani, cepat-cepat menjawab. “Tidak, nona. Aku memandang seseorang dari pribadinya, bukan dari suku bangsanya atau pun kedudukannya.”

“Ahh, sudah kusangka. Engkau seorang pendekar budiman!” kata Mulani dengan girang. “Ketahuilah, kongcu, aku adalah seorang peranakan Mongol dan namaku adalah Mulani,” dia berhenti sebentar untuk melihat wajah pemuda itu. “Engkau tidak memandang rendah suku bangsa Mongol?”

Ternyata wajah pemuda itu tidak membayangkan perubahan sama sekali.

“Ahh, tidak, nona Mulani. Bukankah bangsa Mongol bahkan pernah membantu Kerajaan Tang mengusir pemberontak?” jawabnya tenang.

“Terima kasih! Ahh, engkau memang baik sekali. Nah, setelah kita berkenalan, kau sebut saja namaku Mulani, jangan sungkan-sungkan.”

Kok Han memandang kagum dan girang. Gadis ini sungguh ramah dan baik hati, pikirnya. “Baiklah, Mulani, kalau engkau memang suka bersahabat denganku.”

“Tentu saja aku suka bersahabat denganmu, Kok Han. Nah, lebih enak dan akrab kalau memanggil nama masing-masing, bukan? Siapa tidak suka bersahabat dengan seorang pendekar budiman seperti engkau ini?”

“Ahh, engkau terlalu memuji. Kalau tidak ada engkau, tentu aku sudah tewas di tangan Thian-te Siang-kui? Ini saja sudah menunjukkan bahwa tingkat kepandaianmu lebih tinggi dari pada mereka.”

“Mereka itu orang-orang sakti, walau pun belum pernah aku bertanding melawan mereka, akan tetapi belum tentu aku dapat menandingi mereka.”

“Akan tetapi mereka begitu tunduk padamu, kau dapat mengusir mereka begitu saja!”

“Hal ini adalah karena mereka itu sungkan dan takut kepada guruku. Kok Han, tadi aku mendengar mereka bertanya tentang Sia Han Lin kepadamu. Apakah engkau mengenal orang yang bernama Sia Han Lin itu?”

Kok Han mengerutkan alisnya. “Aku tidak bersahabat dengannya. Kami hanya kebetulan saja bertemu di rumah makan itu. Kenapa engkau menanyakan dia, Mulani?”

“Aku mendengar bahwa Sia Han Lin itu memiliki Ang-in Po-kiam, benarkah?”

“Itulah yang membuat aku benci kepadanya! Ternyata dia yang mencuri Ang-in Po-kiam, dan aku memang sedang mencarinya untuk merampas pedang itu dari tangannya.”

“Hemm, kalau sudah dapat kau rampas, untuk apa?” Mulani memandang tajam.

“Tentu saja untuk dikembalikan kepada Sribaginda Kaisar yang berhak,” kata Kok Han.

“Kalau begitu, aku akan membantumu, Kok Han.”

“Benarkah?” Kok Han memandang gembira. Dia menduga bahwa tentu ilmu kepandaian gadis ini hebat dan kalau membantunya tentu dia akan dapat mengalahkan Sia Han Lin. “Terima kasih, Mulani. Akan tetapi aku tidak tahu di mana si sombong itu berada.”

“Aku tahu, Kok Han. Aku mendengar bahwa dia berada di kuil tua dalam hutan di luar kota Han-cung sebelah barat.”

“Bagus! Kalau begitu, mari kita berangkat ke sana,” ajak Kok Han penuh semangat.

Mereka lalu berlari meninggalkan tempat itu. Kok Han sengaja menggunakan ilmu berlari cepat. Para murid Pek-eng Bu-koan memang mempunyai kepandaian khusus dalam ilmu meringankan tubuh sehingga Kok Han dapat berlari cepat sekali.

Akan tetapi dengan kagum dan girang dia mendapatkan kenyataan bahwa gadis Mongol itu dapat mengimbangi kecepatan larinya dengan santai saja. Tak salah dugaannya. Dara ini lihai sekali dan tentu akan menjadi pembantu yang amat baik dalam mengalahkan Han Lin dan merampas Ang-in Po-kiam.

Tak lama kemudian mereka telah tiba di depan kuil tua itu. Mulani hendak memasuki kuil, akan tetapi dicegah oleh Kok Han yang sudah tahu akan kelihaian Han Lin. Kemudian dia berteriak lantang.

“Sia Han Lin, keluarlah! Kami ingin bicara denganmu!”

Mereka tidak menanti lama. Han Lin melangkah keluar dari dalam kuil itu dengan tongkat butut di tangannya, dan dia pun tersenyum heran melihat pemuda berbaju putih itu sekali ini datang bersama gadis yang tadi dilihatnya bersama Hek-bin Mo-ong. Adik perempuan pemuda itu malah tidak nampak.

“Hemm, kiranya saudara Can Kok Han,” kata Han Lin dengan sikap tenang. “Ada urusan apakah engkau memanggilku keluar? Apa yang hendak kau bicarakan, saudara Can Kok Han?”

“Sia Han Lin, serahkan Ang-in Po-kiam kepadaku!” bentak Kok Han dengan suara ketus.

“Hemm, ada urusan apakah engkau dengan pedang itu? Dan alasan apa yang akan kau pakai untuk minta pedang itu kuserahkan kepadamu?” Han Lin tetap tersenyum.

Wajah Can Kok Han berubah merah. Tentu saja dia tidak mau menceritakan sebab yang sebenarnya, tidak dapat dia berterus terang mengatakan bahwa dia ingin mengembalikan pedang itu kepada Kaisar agar mendapatkan pahala besar!

“Pedang itu milik Kaisar dan engkau sudah mencurinya, maka aku harus merampasnya darimu supaya dapat kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar,” jawabnya karena merasa tersudut oleh pertanyaan itu.

“Can Kok Han, aku yang menemukan pedang ini, karena itu aku pula yang berhak untuk mengembalikannya kepada Kaisar. Aku akan mengembalikan sendiri.”

“Hemm, siapa percaya omonganmu? Kalau engkau memang hendak mengembalikannya, tentu sudah lama kau lakukan. Tidak, kau harus menyerahkan kepadaku, atau aku akan menggunakan kekerasan!”

Han Lin tersenyum. Orang tak tahu diri saking sombongnya, pikirnya. Kalau adik orang ini, Can Bi Lan, berada di situ, tentu gadis itu akan menegur kakaknya.

“Hemm, lalu dengan apa engkau hendak memaksaku?”

“Dengan ini!” Kok Han menggerakkan tangannya dan dia sudah mencabut pedangnya.

“Bagus, silakan!” kata Han Lin menantang, kemudian dia melintangkan tongkat bututnya di depan dada, pandang mata dan senyumnya seperti sikap seorang dewasa menghadapi seorang anak-anak yang nakal dan bandel.

Kok Han menoleh kepada Mulani lalu berkata, “Serang...!”

Kemudian dia sendiri telah menggerakkan pedangnya menyerang dengan sekuat tenaga. Mulani juga mencabut pedangnya pada saat Han Lin menangkis pedang Kok Han dengan tongkatnya yang membuat Kok Han terhuyung ke belakang.

“Lihat pedang...!” Mulani membentak dan dia pun menyerang dengan dahsyat.

Melihat gerakan gadis itu, tahulah Han Lin bahwa tingkat kepandaian gadis ini jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Kok Han. Dia pun segera mengelak dan kembali Kok Han menyerangnya dari belakang. Dengan mudah Han Lin mengelak pula.

Ketika Mulani menghujankan serangan bertubi-tubi, dia pun dapat menduga bahwa tentu gadis ini murid Hek-bin Mo-ong atau bahkan murid Sam Mo-ong karena ilmu silatnya tidak berselisih jauh dari tingkat para datuk sesat itu! Sayang sekali bahwa gadis begini cantik manis menjadi murid tiga orang datuk sesat yang amat jahat itu, pikirnya.

Han Lin mulai memutar tongkatnya dengan ilmu tongkat Badai dan Kilat. Begitu ilmu Liu-tay-hong-tung dimainkan, maka angin pukulan tongkat itu menyambar-nyambar bagaikan badai dan sinar tongkat kadang mencuat bagaikan kilat. Hanya dalam beberapa gebrakan saja pedang di tangan Kok Han terpental dan terlepas dari tangannya yang terasa panas dan pedih. Dia mundur untuk mengambil pedangnya yang terlempar jauh.

Mulani kagum bukan kepalang! Selama ini belum pernah dia bertemu dengan lawan yang sehebat ini. Gerakan pedangnya seolah terserap oleh angin badai itu, dan dia pun menjadi silau oleh sinar tongkat. Telinganya mendengar suara menderu keras sedangkan matanya berkunang melihat tongkat itu seperti berubah menjadi puluhan batang banyaknya.

Tapi tongkat itu tidak pernah menyerang dengan sungguh-sungguh, hanya mendesaknya. Maka tahulah dia bahwa pemuda di depannya yang bernama Sia Han Lin itu sama sekali tidak ingin melukainya. Mulailah dia merasa curiga dengan keterangan Kok Han. Pemuda seperti ini mana mungkin menjadi pencuri?

Kembali Kok Han nekat membantu tetapi untuk kedua kalinya pedangnya terlempar. Juga Mulani menerima tangkisan sehingga membuat pedangnya nyaris terlepas dari tangannya yang terasa amat panas. Mulani terkejut sekali lalu meloncat jauh ke belakang, dekat Kok Han yang sudah memungut kembali pedangnya.

“Kita tidak mampu menandinginya!” kata Mulani.

Gadis ini lalu meloncat jauh meninggalkan Han Lin, diikuti oleh Kok Han yang tahu benar bahwa kalau Mulani sudah mundur, dia pun tidak mungkin akan berhasil menandingi Han Lin, bahkan dia hanya akan menderita malu kalau nekat melawannya sendiri.

Han Lin menghela napas panjang. Diam-diam dia merasa kagum. Gadis tadi lihai sekali, bahkan jauh lebih lihai kalau dibandingkan Can Bi Lan. Sesudah melihat kedua orang itu menghilang di balik pohon-pohon di hutan itu, dia pun masuk ke dalam kuil tua lalu duduk melamun di lantai.

Pertemuannya dengan gadis murid Sam Mo-ong itu sudah membuatnya terkenang akan pertemuannya dengan Sam Mo-ong di masa lalu. Guru pertamanya, Kong Hwi Hosiang, tewas di tangan Sam Mo-ong. Pengasuh yang menjadi pengganti ibunya, Liu Ma, tewas pula akibat perbuatan Sam Mo-ong. Dan masih banyak lagi perbuatan tiga datuk sesat itu yang menimbulkan sakit hati.

Mengenang segala kejahatan yang dilakukan Sam Mo-ong, perbuatan yang menyakitkan hatinya, maka timbullah kebencian dalam hati pemuda ini. Han Lin mengepalkan tinjunya sambil menggigit giginya, dan api kemarahan mulai membakar hatinya.

Daya-daya rendah sering kali menyusup ke dalam hati akal pikiran, dan dari pikiran inilah timbulnya segala macam perasaan suka duka, malu dan marah. Tanpa adanya pikiran yang mengingat-ingat, mengenang, maka nafsu amarah pun tak akan muncul. Demikian pula, kedukaan datang mencengkeram perasaan hati kalau pikiran sudah mengenangkan hal-hal yang sudah terjadi di masa lalu, atau yang sudah terlewat.

Demikian pula halnya Han Lin. Ketika dia duduk melamun sambil mengenangkan semua peristiwa yang terjadi akibat perbuatan Sam Mo-ong, lalu timbullah amarah dan dendam.

Sebaliknya kenangan akan perbuatan orang lain yang menguntungkan kita menimbulkan perasaan berhutang budi. Namun dendam kebencian ini jauh lebih kuat dari pada hutang budi. Kadang-kadang seribu satu budi kebaikan yang dilimpahkan orang lain kepada kita dapat terhapus dalam sekejap oleh sebuah dendam sakit hati. Kalau dendam kebencian sudah mencengkeram hati kita, maka yang timbul hanyalah keinginan untuk membalas, keinginan untuk menyakiti orang yang dibencinya.

Han Lin seolah tenggelam ke dalam lautan dendam. Wajah Kong Hwi Hosiang dan wajah inang pengasuhnya bergantian muncul di depan matanya, terkenang dia ketika mengubur jenazah mereka, ketika menangisi kematian mereka.

Selagi kemarahan dan kebencian mengamuk di dalam hatinya, tiba-tiba saja seperti sinar mentari yang menerobos ke dalam awan gelap, ingatan Han Lin mendatangkan bayangan Lo-jin, gurunya yang kedua. Terngianglah suara gurunya ini yang menasehatinya bahwa musuh utamanya adalah pikirannya sendiri. Dia harus hati-hati dan waspada meneliti jalan pikirannya.

“Sudah menjadi tugasmu untuk menentang kejahatan, akan tetapi bila engkau menentang kejahatan dengan perasaan benci dan dendam di hati, maka berarti bahwa engkau pun jahat. Benci dan dendam membuat seseorang menjadi jahat dan perbuatanmu menentang kejahatan itu berubah menjadi pembalasan dendam semata. Ingatlah ini selalu!”

Bagaikan air hujan menyiram api, seketika rasa benci dan marah yang mengamuk di hati Han Lin juga padam seketika. Dia terkejut mendapatkan dirinya dalam lautan dendam dan kebencian itu, maka dia pun segera bersila dan melakukan siu-lian untuk menenteramkan hatinya.

Sampai berjam-jam Han Lin melakukan semedhi dan dia baru membuka matanya ketika pendengarannya yang amat tajam terganggu oleh langkah ringan seseorang yang datang dari depan kuil itu. Dia menjadi waspada dan siap menghadapi pendatang itu. Sementara itu matahari sudah mulai condong ke barat, tengah hari telah lewat tanpa dia rasakan.

“Han Lin, aku ingin bicara denganmu,” terdengar suara seorang wanita.

Han Lin terkejut dan terheran. Bukan suara Can Bi Lan, lantas suara siapa? Wanita mana yang menyebut namanya begitu saja dan datang hendak bicara dengannya? Karena ingin tahu sekali, Han Lin meloncat keluar dan kini dia telah berhadapan dengan Mulani!

“Hemm, engkau...?” Han Lin menegur sangsi dan ragu.

Tadi gadis ini datang bersama Kok Han dan sudah membantu pemuda sombong itu untuk mencoba merampas Ang-in Po-kiam dari tangannya. Kenapa dia datang kembali? Tentu saja dia merasa curiga, maka Han Lin memandang ke kanan kiri penuh kewaspadaan.

Mulani tertawa. “Tidak perlu mencari, tidak ada orang lain datang bersamaku. Aku datang seorang diri dan sengaja datang untuk bicara denganmu.”

Han Lin mengerutkan sepasang alisnya. “Nona, siapakah engkau dan keperluan apakah yang membawamu ke sini?” tanyanya.

Mulani tersenyum. “Aku tidak menyalahkanmu jika engkau merasa curiga dan tak senang padaku. Baru saja tadi aku membantu Can Kok Han untuk mengeroyokmu, dan sekarang aku muncul lagi. Akan tetapi, Han Lin, percayalah bahwa aku datang bukan dengan niat buruk. Perkenalkan, namaku Mulani, aku gadis Mongol, puteri kepala suku Ku Ma Khan.”

“Dan murid Sam Mo-ong!” sambung Han Lin.

Gadis itu mengangguk-angguk. “Pantas suhu Hek-bin Mo-ong nampak gentar kepadamu, ternyata engkau memang lihai dan cerdik. Benar, Sam Mo-ong adalah pembantu ayahku, maka mereka mengajarkan ilmu silat kepadaku. Han Lin, aku kagum melihat kepandaian dan sikapmu. Maukah engkau menganggap aku sebagai sahabatmu?”

Han Lin masih tetap curiga. Dara ini demikian lincah dan ramah, tampak cerdik sekali. Dia harus berhati-hati menghadapi gadis seperti ini.

“Mulani, baru beberapa jam yang lalu engkau datang bersama Kok Han dan mengeroyok aku. Bila aku tidak memiliki sedikit kepandaian mungkin sekarang aku telah menggeletak di sini dalam keadaan tidak bernyawa. Akan tetapi sekarang engkau mengatakan hendak bersahabat denganku! Apa artinya semua ini?”

“Aku tidak menyalahkanmu kalau engkau merasa curiga padaku, Han Lin. Ketahuilah, aku mendengar bahwa engkau telah mencuri pedang pusaka dari istana kaisar, yaitu Pedang Awan Merah. Mendengar ini aku menjadi tertarik dan bermaksud untuk merampas pedang yang diperebutkan seluruh tokoh dunia persilatan itu. Dalam perjalanan mencarimu, aku bertemu dengan Can Kok Han yang juga sedang mencarimu. Karena kami setujuan, yaitu mencarimu dan merampas pedang, maka kami pun bekerja sama. Akan tetapi kami telah gagal. Namun melihat cara engkau menghadapi kami, tidak ingin melukai kami, maka aku yakin bahwa engkau adalah seorang pendekar yang budiman, dan tidak mungkin menjadi pencuri pedang pusaka. Oleh karena itulah maka aku datang seorang diri ingin berkenalan denganmu, Han Lin.”

“Hemm, aku tidak pernah menolak persahabatan, dari mana pun juga datangnya, Mulani. Sekarang engkau sudah berhadapan dengan aku, katakanlah apa yang ingin kau katakan dan bicarakan.”

“Han Lin, aku percaya bahwa engkau tidak mencuri pedang itu. Akan tetapi bagaimana Pedang Awan Merah dapat jatuh ke tanganmu? Ingin aku mengetahui, kalau saja engkau tidak berkeberatan untuk memberi tahu kepadaku.”

“Pencuri pedang pusaka ini adalah mendiang Hoat Lan Siansu, ketua Hoat-kauw dan aku mengambil pedang ini darinya.”

Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya, dan Han Lin harus mengakui bahwa gadis itu memang manis sekali. “Aku percaya kepadamu, Han Lin. Tetapi kenapa engkau tidak mengembalikan pedang itu kepada Kaisar Kerajaan Tang? Apakah engkau ingin pedang itu menjadi milikmu selamanya?”

Pertanyaan itu diajukan dengan suara yang wajar, tak mengandung ejekan atau tuntutan, oleh karena itu Han Lin mau menjawabnya. “Pedang ini pasti akan kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar, tetapi aku mendengar bahwa Cin-ling-pai dikabarkan mencuri pedang ini, maka aku hendak lebih dahulu menghadiri pertemuan di Cin-ling-san untuk memberi tahu kepada semua orang dan membersihkan nama baik Cin-ling-pai.”

“Ahhh, begitukah? Sudah kuduga bahwa engkau tentu seorang pendekar gagah perkasa yang budiman.”

“Bagaimana dengan engkau sendiri, Mulani? Bagaimana seorang gadis cantik manis yang menjadi puteri kepala suku seperti engkau ini mau menjadi murid Sam Mo-ong, tiga orang datuk sesat yang jahat itu?”

“Aku hanya mempelajari ilmu silat dari mereka, bukan belajar kejahatan, Han Lin. Karena mereka itu membantu ayah, dengan sendirinya aku menjadi murid mereka.”

“Hemm, betapa pun juga, kalau guru-gurumu datuk-datuk sesat yang jahat, tentu engkau pun tak mungkin dipercaya orang. Katakan saja terus terang, apakah sekarang ini engkau hendak memancingku agar aku masuk perangkap? Sesungguhnya apa yang hendak kau lakukan?”

Sepasang mata itu bercahaya. “Han Lin, apakah kau kira aku serendah itu? Aku tidak...” gadis itu tak melanjutkan kata-katanya karena pada saat itu pula muncul tiga orang yang bukan lain adalah tiga orang gurunya, yaitu Hek-bin Mo-ong yang gendut bundar pendek, Pek-bin Mo-ong yang tinggi kurus dan Kwi-jiauw Lo-mo yang pendek gendut pula seperti bola. Sam Mo-ong lengkap kini berdiri di depan Han Lin sambil tertawa-tawa.

“Ha-ha-ha, bagus sekali engkau sudah dapat menemukannya, Mulani!” kata Hek-bin Mo-ong girang.

Han Lin memandang kepada Mulani dengan sinar mata tajam penuh teguran. Walau pun Han Lin tidak mengeluarkan ucapan, namun Mulani merasa benar pandang mata itu dan dia cepat-cepat menggeleng kepalanya,

“Tidak! Tidak! Aku tidak tahu... ahh, suhu sekalian, harap jangan ganggu Han Lin!” Mulani berteriak-teriak.

Akan tetapi tentu saja tidak dipedulikan oleh tiga orang datuk itu yang menganggap Han Lin sebagai musuh besar mereka.

“Mulani, seorang murid tentu tak akan jauh bedanya dengan guru-gurunya,” kata Han Lin sambil tersenyum mengejek. “Pergilah menjauh, aku tidak ingin membunuhmu. Engkau masih terlalu muda dan masih banyak kesempatan untuk mengubah jalan hidupmu yang sesat.”

“Han Lin, aku tidak... ahh, engkau takkan percaya...” gadis itu lalu mundur dan menangis.

Sekarang tiga orang datuk itu menghampiri Han Lin. Seperti diceritakan di bagian depan, Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui pergi dibantu Pek-bin Mo-ong untuk membalas dendam atas kematian cucunya yang bernama An Seng Gun yang tewas di tangan Sie Kwan Lee ketua Beng-kauw. Dua orang datuk itu datang mengamuk di Beng-kauw, namun balas dendam mereka itu gagal karena mendapat perlawanan gigih dari ketua Beng-kauw, Sie Kwan Lee bersama isterinya yang juga sangat lihai, yaitu Si Pedang Terbang Yang Mei Li, dibantu pula oleh tokoh-tokoh Beng-kauw yang cukup tangguh.

Kedua orang datuk itu dengan penasaran dan kecewa terpaksa meninggalkan Beng-kauw kemudian menuju ke Han-cung untuk menyusul rekannya, Hek-bin Mo-ong yang hendak menghadiri pertemuan di Cin-ling-pai itu. Dari Hek-bin Mo-ong mereka lantas mendengar bahwa musuh besar mereka, Sia Han Lin, berada di Han-cung, bahkan lebih menarik lagi, pemuda itu membawa Ang-in Po-kiam, pedang pusaka yang dijadikan rebutan itu. Tentu saja mereka tertarik, bukan saja untuk membalas dendam kekalahan mereka dari pemuda ini, akan tetapi juga untuk merampas Pedang Awan Merah.

Han Lin sudah dapat melenyapkan kebencian dan dendamnya terhadap tiga orang datuk yang menyebabkan kematian gurunya dan inang pengasuhnya ini. Kini dengan tenang dia menghadapi mereka, menegur lantang.

“Sam Mo-ong, ada urusan apakah kalian datang mencariku?”

Tiga orang datuk itu agak tertegun melihat ketenangan pemuda itu. Mereka tahu bahwa Han Lin amat lihai, namun kalau mereka bertiga mengeroyoknya, tidak mungkin pemuda itu akan mampu bertahan.

“Ha-ha-ha, Han Lin, engkau masih bertanya apa urusannya? Engkau telah menggagalkan semua usaha kami dan Hoat-kauw, maka untuk itu engkau sudah layak mampus!” kata Hek-bin Mo-ong sambil tertawa-tawa seperti biasa.

“Dan ternyata engkau pun telah merampas Ang-in Po-kiam dari tangan Hoat Lan Siansu, maka engkau harus menyerahkan pedang itu kepada kami!” kata Kwi-jiauw Lo-mo sambil menggerakkan kedua tangannya yang sudah disambung sepasang cakar setan.

“Hemm, kalian bertiga ini orang-orang tua masih juga belum jera. Kalian mengira aku yang menggagalkan semua usaha jahat kalian? Bukan aku, melainkan semua usaha yang jahat pasti akan hancur. Yang menghancurkan kalian adalah kejahatan kalian sendiri. Ternyata kalian masih belum jera dan sekarang masih melanjutkan kesesatan kalian. Pedang Ang-in Po-kiam adalah milik Sribaginda Kaisar, tidak akan kuserahkan kepada siapa pun juga kecuali kepada Sribaginda Kaisar.”

“Bocah setan, berani engkau menghadapi kami bertiga?!” bentak Pek-bin Mo-ong yang bermuka putih seperti kapur itu.

“Aku tak akan pernah mundur dalam menentang kejahatan!” jawab Han Lin dengan tegas dan tenang.

Dia tahu bahwa tiga orang ini berbahaya sekali. Jika melawan seorang dari mereka, atau paling banyak dua orang, mungkin dia masih dapat menandinginya. Akan tetapi tiga orang maju bersama? Sungguh merupakan lawan yang berat sekali. Tapi bagaimana pun juga dia tidak gentar karena sekarang dia sudah memiliki ilmu baru, yaitu ilmu pedang Ang-in Kiam-hoat (Ilmu Pedang Awan Merah) yang dia rangkai dari penggabungan inti sari Lui-tai-hong-tung dan Khong-khi-ciang.

“Sia Han Lin, sekali ini engkau tidak akan lepas dari kematian di tangan kami!” kata Hek-bin Mo-ong dan dia sudah mendahului rekan-rekannya, mengirim pukulan dingin beracun jari hitam. Terdengar angin bercicit ketika pukulan itu menerjang ke arah Han Lin.

Namun dengan gesitnya Han Lin meloncat ke samping, mengelak. Dia disambut pukulan jari merah oleh Pek-bin Mo-ong. Hawa panas beracun itu menyambar dengan hebatnya. Han Lin kembali mengelak.

Ketika sepasang cakar setan mengejarnya, dia tahu bahwa Kwi-jiauw Lo-mo juga sudah turun tangan. Tubuhnya mencelat ke atas belakang lantas dia bersalto tiga kali. Ketika dia turun lagi, tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang dan sinar merah nampak menyilaukan. Itulah Ang-in Po-kiam! Sedangkan tangan kirinya masih memegang tongkat butut yang tak pernah terpisah darinya itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner