PEDANG AWAN MERAH : JILID-07


Dengan pedang di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri, Han Lin berdiri dikepung tiga orang lawan itu dari tiga jurusan. Han Lin berdiri tak bergerak, pedang di tangan kanannya melintang di atas kepala dan tongkat butut di tangan kirinya melintang di depan dada, siap untuk menyerang atau menangkis.

Dengan teriakan yang menggetarkan pohon-pohon di sekeliling tempat itu, Kwi-jiauw Lo-mo menerjang bagaimana seekor biruang kelaparan.

“Tranggg…! Tranggg...!”

Nampak bunga api berhamburan ketika cakar-cakar setan itu bertemu pedang dan Kwi-jiauw Lo-mo melompat ke belakang dengan kaget sekali. Tangannya tergetar hebat oleh pertemuan cakar dengan pedang itu.

Dari kanan kiri Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong kembali mengirim pukulan beracun. Han Lin memutar pedang dan tongkat sehingga dua pukulan itu terpaksa ditarik kembali. Perkelahian yang berat sebelah pun segera berlangsung.

Memang hebat permainan pedang Han Lin yang kadang dibantu tongkatnya. Akan tetapi ketiga lawannya juga sangat kuat. Sekali saja terkena pukulan dingin beracun atau panas beracun dari Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong dapat mengakibatkan celaka bagi Han Lin. Juga sepasang cakar itu selain bergerak cepat dan kuat, juga mengandung racun.

Memang Han Lin tidak gentar menghadapi racun karena tubuhnya sudah kebal terhadap segala macam racun. Dahulu ketika kecil dia pernah menerima pukulan dingin beracun dari Hek-bin Mo-ong dan pukulan panas beracun dari Pek-bin Mo-ong secara berbareng. Pada waktu dia sedang sekarat akibat dua macam hawa beracun itu, kakinya digigit ular beracun pula. Dan sungguh ajaib, kumpulan tiga macam racun yang masing-masing dapat mematikan itu berubah menjadi obat kuat yang sangat hebat, yang selain membuat tubuh Han Lin menjadi kebal terhadap segala macam racun, juga mendatangkan tenaga sinkang yang amat kuat.

Walau pun kebal terhadap racun, namun serangan tiga orang itu masih amat berbahaya karena tenaga sinkang ketiga orang lawannya itu sudah hampir setingkat dengan tenaga sinkang-nya sendiri. Han Lin segera mengandalkan kegesitannya, berkelebatan di antara tiga orang itu. Namun tetap saja dia hampir tidak bisa mendapat kesempatan untuk balas menyerang.

“Suhu, hentikan...! Hentikan serangan itu...!” Berkali-kali Mulani berteriak, akan tetapi tiga orang datuk itu seakan tidak mendengar teriakannya, bahkan menyerang semakin hebat.

Tiba-tiba saja berkelebat sesosok bayangan, dan seorang gadis dengan pedang di tangan muncul di situ. “Lin-toako, aku datang membantumu!”

Ternyata gadis itu adalah Can Bi Lan, dan dengan nekat dia sudah memutar pedangnya menyerang Hek-bin Mo-ong dengan tusukan ke arah lambungnya.

“Lan-moi, jangan...! Mundurlah...!” Han Lin berseru kaget, namun terlambat sudah. Bi Lan sudah menusukkan pedangnya ke arah lambung Hek-bin Mo-ong.

“Tukk...!”

Alangkah terkejutnya hati Bi Lan ketika pedangnya bertemu lambung yang keras dan kuat seperti baja. Pedangnya melengkung dan tidak dapat menembus kulit lambung lawan.

“Pergilah! Ha-ha-ha!” Hek-bin Mo-ong membentak, kemudian sekali tangannya menampar pundak, tubuh Bi Lan segera terlempar dan terguling-guling, tak mampu bergerak lagi.

“Lan-moi...!” Han Lin berseru sambil pedangnya bergerak sedemikian hebatnya sehingga ketiga orang pengeroyoknya terpaksa mundur.

Pada saat itu pula dengan pedang di tangan Mulani sudah melompat dan menghadang di tengah, menggerakkan pedangnya mengancam tiga orang gurunya.

“Suhu bertiga, hentikan serangan suhu atau terpaksa aku akan membelanya!”

“Mulani, apa yang kau lakukan ini?!” bentak Kwi-jiauw Lo-mo marah.

“Aku tidak suka melihat ketidak adilan ini. Suhu bertiga melakukan pengeroyokan, benar-benar merendahkan martabat. Biarkan dia pergi, atau aku akan melawan suhu bertiga!”

“Mulani, akan kulaporkan kepada ayahmu!” ancam Kwi-jiauw Lo-mo.

“Silakan, kalau ayah mendengar, suhu bertiga yang akan menerima teguran. Suhu bertiga sudah bertindak pengecut dan ayah paling tidak suka dengan orang yang pengecut. Han Lin, cepat pergi dari sini!” kata Mulani yang dengan pedang terhunus menghalangi ketiga orang datuk itu.

Karena melihat Bi Lan diam tidak bergerak, Han Lin menganggap yang terpenting adalah menolong gadis itu lebih dulu. Dia segera menghampiri dan ternyata Bi Lan masih hidup, biar pun hanya dapat merintih lirih. Pundaknya yang terpukul nampak menghitam, bajunya robek dan hangus. Dia memondong tubuh itu lalu menoleh.

“Terima kasih, Mulani.” Dan sekali meloncat dia pun lenyap dari situ.

Tiga orang datuk itu marah sekali. “Mulani, engkau membiarkan dia pergi, berarti Pedang Awan Merah tidak dapat kami rampas,” kata Pek-bin Mo-ong.

“Masih ada lain waktu untuk merampasnya, suhu, tapi bukan dengan cara pengeroyokan. Harus dengan adu kepandaian. Siapa yang lebih kuat dialah yang berhak memiliki Pedang Awan Merah,” kata Mulani yang diam-diam merasa tidak senang hatinya melihat betapa Han Lin tadi menolong dan memondong gadis yang terpukul pingsan oleh Hek-bin Mo-ong itu…..

********************

Bi Lan merintih lirih, maka Han Lin berhenti lalu merebahkan gadis itu di atas rumput.

“Bagaimana, Lan-moi? Apakah terasa nyeri sekali? Engkau terkena pukulan beracun dari Hek-bin Mo-ong.”

“Aduh, nyeri sekali, toako. Dingin sekali, ahh...” Gadis itu menggigil kedinginan.

Memang Hek-bin Mo-ong memiliki ilmu pukulan beracun yang dingin. Padahal tamparan pada pundak Bi Lan itu perlahan saja, tetapi racunnya telah menyerang pundak dan terus masuk ke dalam dada.

“Lan-moi, aku khawatir sekali. Luka pukulan itu amat berbahaya. Jika tidak cepat diobati maka hawa beracun ini akan menjalar masuk dan kalau sudah meracuni jantungmu, akan sukar menolongmu lagi.”

“Aku... aku tidak takut mati...”

“Tidak, engkau tidak akan mati, Lan-moi. Aku tidak akan membiarkan engkau mati karena engkau terluka ketika engkau mencoba menolongku dari pengeroyokan Sam Mo-ong. Aku masih dapat mengobatimu, Lan-moi. Akan tetapi...” Han Lin merasa ragu, bahkan untuk mengatakannya saja dia merasa sungkan.

“...bagaimana..., toako...?” suara itu mulai terengah.

“Begini, Lan-moi. Untuk mengusir hawa beracun itu maka aku harus menempelkan kedua telapak tanganku pada punggungmu, akan tetapi... harus langsung... tidak boleh tertutup kain...” Han Lin merasa mukanya panas karena malu.

Dia tidak berbohong. Tanpa menempel langsung pada punggung, maka penyaluran hawa murni dari tubuhnya tidak akan sempurna dan dia tidak akan dapat melihat apakah racun itu sudah menipis atau menghilang, atau belum.

“...kenapa ragu..., toako..., ahh...” gadis itu terkulai pingsan.

Sungguh kebetulan, pikir Han Lin. Sebaiknya begitu sehingga dia tidak akan merasa malu ketika mengobatinya, karena gadis itu tidak akan mengetahuinya.

Dengan hati-hati dia membalikkan tubuh gadis itu menelungkup, kemudian perlahan-lahan membuka bajunya dengan jari-jari tangan gemetar. Selama hidup belum pernah Han Lin berdekatan dengan wanita, apa lagi membuka bajunya!

Nampak kulit punggung yang putih mulus dan halus hangat. Gadis ini harus cepat-cepat ditolongnya, pundak itu telah menghitam dan sebagian punggungnya sudah dijalari warna kehitaman.

Dia duduk bersila dekat tubuh tertelungkup itu, lalu menempelkan kedua tangannya pada punggung Bi Lan. Merasa betapa telapak tangannya bertemu kulit yang halus hangat itu, Han Lin terkejut dan cepat mengangkat kembali kedua tangannya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Punggung itu nampak lebih putih lembut lagi, begitu bersi dan membuat dia tiba-tiba saja timbul keinginan untuk meraba dan menciumnya.

Di kepalanya dia mendengar suara parau, “Ingin raba, raba saja, cium saja, dia tidak akan tahu, tak seorang pun akan tahu!”

“Gila!” bentak Han Lin. “Aku bukan seorang yang berwatak bejat, kurang ajar dan tidak bersusila.”

“Hemm, kalau tidak ada orang melihat, siapa akan mengatakan engkau kurang ajar dan tidak bersusila? Lagi pula hanya meraba dan mencium saja apa salahnya? Dia tidak akan rugi apa-apa. Lihat, betapa mulusnya punggung itu, hemm, tentu sedap baunya...,” suara parau di kepalanya semakin mendesak sehingga tak tertahankan oleh Han Lin.

“Plakk!” Han Lin menampar kepalanya sendiri, seolah hendak memukul si suara parau itu. “Gila seribu kali gila! Kau bilang tidak ada orang melihat? Dan apakah kau anggap aku ini bukan orang? Juga Tuhan akan melihatnya. Setan kau! Iblis kau! Tidak, lekas pergi kau, iblis bedebah!” Han Lin menyumpah-nyumpahi diri sendiri.

Akhirnya suara parau itu seperti tertawa akan tetapi dari jauh dan hanya terdengar lapat-lapat. Dia menurunkan kedua tangannya, menempelkan pada punggung yang lembut itu sambil memejamkan kedua matanya agar tidak usah melihat punggung yang putih mulus itu. Hanya kadang-kadang saja dia membuka mata untuk melihat apakah pada punggung dan pundak itu masih ada warna menghitam.

Ketika mula-mula mengerahkan sinkang-nya, dia disambut hawa yang dingin sekali. Akan tetapi begitu dia mengerahkan tenaga, dengan cepat hawa dingin itu pun dapat diusirnya. Setelah menempelkan kedua tangannya di punggung Bi Lan selama hampir dua jam, dia merasa tubuh itu bergerak dan dia pun membuka kedua matanya. Ternyata warna hitam di pundak telah lenyap sama sekali, tanda bahwa gadis itu sudah terbebas dari pengaruh hawa beracun.

Akan tetapi dia harus yakin benar bahwa gadis itu sudah sembuh, maka dengan lirih dia berkata, “Lan-moi, engkau sudah hampir sembuh, rebahlah sebentar lagi agar sisa hawa beracun benar-benar bersih.”

“Terima kasih, Lin-toako. Engkau baik sekali...,” kata gadis itu dengan suara terharu.

Pada saat itu pula terdengar makian nyaring. “Sia Han Lin, manusia biadab! Apa yang kau lakukan terhadap adikku? Engkau memperkosanya!”

Pedang di tangan Kok Han itu meluncur menusuk ke arah punggung Han Lin. Pemuda ini yang sedang bersila dan menggunakan kedua tangan untuk tetap mengobati Bi Lan, tidak sempat menangkis. Dia hanya mengerahkan sinkang melindungi punggungnya.

“Brettt…!” robeklah baju di punggung Han Lin.

“Han-koko, engkau keterlaluan!” Bi Lan menjerit dan dia pun pingsan.

Han Lin menoleh dan berkata tenang, “Saudara Kok Han, tenanglah, adikmu terluka oleh pukulan beracun yang hampir merenggut nyawanya.”

Mendengar ini Kok Han terbelalak dan wajahnya menjadi agak pucat. Dia menyarungkan pedangnya kemudian berlutut di dekat tubuh adiknya. Akan tetapi alisnya masih berkerut melihat betapa kedua tangan Han Lin menempel di punggung adiknya yang tidak berbaju. Hal ini dianggapnya keterlaluan dan melanggar susila. Tetapi karena dia mengkhawatirkan adiknya, maka dia pun menahan kemarahannya.

“Siapa yang melukai adikku?” tanyanya dingin.

“Hek-bin Mo-ong,” jawab Han Lin singkat dan dia memusatkan perhatiannya pada kedua tangannya yang masih menempel di punggung gadis itu.

Kok Han terpaksa hanya menonton saja dan tidak mengganggu lagi biar pun dari kerutan alisnya menunjukkan bahwa dia tidak senang. Tak lama kemudian Han Lin menghentikan pengobatannya lalu bangkit berdiri.

“Sekarang bahaya telah lewat, adik Bi Lan telah sembuh, ketika siuman kembali pasti dia sudah sehat,” katanya.

“Sia Han Lin, bagaimana pun juga cara pengobatanmu ini sudah melanggar batas-batas kesopanan. Sekarang pergilah sebelum kesabaranku hilang. Jika tidak mengingat bahwa engkau sudah mengobati adikku, tentu aku tidak akan melepasmu begitu saja!”

Han Lin tersenyum. Pemuda putera ketua Pek-eng Bu-koan ini terlalu memandang tinggi diri sendiri dan suka meremehkan orang lain. Inilah yang membuat dia bersikap tinggi hati. Kelak kalau sudah banyak tersandung dan terjungkal karena sikap sendiri, apa bila sudah mengalami banyak hal, tentu dia akan berubah sendiri, pikirnya. Pikiran ini mendatangkan kesabaran sehingga meski pun dia diusir, dia tersenyum saja lantas pergi dari situ tanpa sepatah pun kata keluar dari mulutnya.

Sesudah Han Lin pergi, tidak lama kemudian Bi Lan membuka matanya. Ketika melihat kakaknya duduk tak jauh dari situ, dia lalu memandang ke kanan kiri, mencari-cari.

“Han-ko, ke mana dia?” tanyanya.

“Dia siapa?” tanya kakaknya dingin.

“Kakak Han Lin, tadi dia mengobati aku, menyelamatkan aku. Ke mana dia?”

“Hemm, dia sudah pergi,” jawab kakaknya dingin.

Bi Lan bangkit duduk dan kini dia teringat akan tuduhan kakaknya terhadap Han Lin yang bukan-bukan. Dia membetulkan bajunya dan berkata marah. “Han-ko, tentu engkau yang telah mengusirnya. Kalau tidak demikian, tentu dia menanti sampai aku terbangun.”

“Memang aku menyuruhnya pergi. Habis, ada urusan apa lagi bocah sombong itu?”

“Koko, sungguh engkau telah bersikap amat keterlaluan terhadap Han Lin koko. Dia telah menyelamatkan aku dari kematian di tangan Sam Mo-ong, bahkan sudah melarikan aku kemudian mengobati aku sampai sembuh. Tetapi engkau telah begitu tega menuduhnya melakukan perbuatan keji, bahkan telah mengusirnya!”

“Kenapa engkau sampai bertanding melawan Sam Mo-ong?” tanyanya. Dia teringat akan pengakuan Mulani sebelum berpisah darinya bahwa gadis Mongol itu adalah murid Sam Mo-ong. “Mana mungkin engkau mampu menandingi datuk-datuk sakti itu?”

“Bukan aku yang berkelahi dengan mereka, akan tetapi Lin-koko yang kulihat dikeroyok tiga orang datuk sesat itu. Melihat perkelahian tidak adil itu, Lin-ko dikeroyok tiga, aku lalu membantu Lin-ko. Akan tetapi aku terpukul dan kalau Lin-ko tidak menolongku, tentu aku sudah mati sekarang.”

“Celaka, lagi gara-gara anak jahat itu sampai engkau terluka! Dia berkelahi dengan Sam Mo-ong, mengapa engkau ikut-ikutan membantunya? Dia adalah pencuri pedang pusaka, tentu semua orang kang-ouw memusuhinya untuk merampas pedang itu.”

“Koko, engkaulah yang sombong, engkaulah yang jahat! Lin-ko bukan pencuri melainkan seorang pendekar budiman yang gagah...!”

“Bi Lan...!”

“Sudahlah, aku tidak mau lagi melakukan perjalanan denganmu. Kita ambil jalan sendiri-sendiri!”

“Lan-moi, nanti akan kuberi tahukan ayah!”

“Sesukamu, ayah tentu akan dapat mempertimbangkan dan tidak akan membelamu yang sombong dan jahat!” gadis itu lantas pergi meninggalkan kakaknya yang membanting kaki dengan marah…..

********************

Han Lin mendaki pegunungan Cin-ling-san. Dia hendak melihat-lihat keindahan alam di sekitar pegunungan itu sambil menanti saat diadakannya pertemuan Cin-ling-pai di kota Han-cung besok pagi. Dia berjalan dan lupa akan maksudnya untuk menikmati keindahan alam karena dia berjalan sambil melamun. Beberapa kali dia menghela napas panjang.

Dia teringat akan peristiwa ketika dia mengobati luka di pundak Bi Lan, diikuti munculnya kakak gadis itu. Can Kok Han tidak bersalah, pikirnya. Cara pengobatan seperti yang dia lakukan terhadap Bi Lan tadi memang tidak patut dan melanggar kesopanan. Buktinya, keadaan itu hampir saja menyeretnya pada perbuatan yang sesat. Membangkitkan nafsu dan kalau saja dia menuruti godaan setan, tentu dia sudah melakukan hal-hal yang tidak pantas, bahkan lebih lagi dari sekedar meraba dan mencium.

Dia menghela napas panjang. Memang Bi Lan seorang gadis cantik jelita sehingga mudah sekali membuat hati pria tertarik dan jatuh cinta.

Mendadak wajah Mulani juga muncul menggantikan wajah Bi Lan. Heran dia memikirkan gadis Mongol itu. Tadinya dia menyangka bahwa gadis yang tadinya membantu Kok Han mengeroyoknya itu datang dengan siasat halus untuk merampas pedang, apa lagi ketika Sam Mo-ong muncul, dia mengira bahwa gadis itu sengaja datang bersama guru-gurunya. Tetapi ketika gadis itu menggunakan pedang menentang guru-gurunya sendiri, mencegah guru-gurunya mendesak kemudian memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan Bi Lan yang terluka, baru dia tahu bahwa gadis itu tidak bermaksud buruk terhadap dirinya. Kenapa Mulani begitu nekat mati-matian membelanya?

Han Lin menghela napas panjang. Dulu pernah dia jatuh cinta pada seorang gadis, yaitu kepada Yang Mei Li yang kini menjadi nyonya ketua Beng-kauw, menjadi isteri Sie Kwan Lee yang gagah perkasa. Cintanya hanya bertepuk sebelah tangan karena gadis itu lebih mencinta Sie Kwan Lee. Semenjak itu dia merasa betapa pahit dan getirnya akibat cinta yang gagal, maka dia selalu menjaga diri agar tidak jatuh cinta kembali.

Pada keesokan paginya Han Lin telah hadir di antara banyak orang-orang kang-ouw yang memenuhi undangan ketua Cin-ling-pai. Banyak tokoh kang-ouw dari berbagai golongan yang datang untuk sekedar mendengar penjelasan mengenai Ang-in Po-kiam yang sangat menggemparkan itu.

Han Lin segera menyelinap di antara kerumunan pengunjung sehingga dia bisa setengah bersembunyi, ada pun Pedang Awan Merah dia sembunyikan di dalam buntalan pakaian yang digendongnya. Dari tempat dia duduk, dia memperhatikan ke atas panggung.

Nampak olehnya seorang pria berusia lima puluh tahun, tubuhnya tegap dan gagah sekali. Kumis serta jenggotnya terpelihara baik-baik dan masih hitam, sinar matanya tajam dan sikapnya berwibawa. Maka tahulah dia bahwa orang itu tentulah ketua Cin-ling-pai yang dia tahu bernama Yap Kong Sin dan berjuluk Bu-eng Kiam-hiap (Pendekar Pedang Tanpa Bayangan). Dari julukannya saja dia pun bisa menduga bahwa tentu ketua Cin-ling-pai itu seorang ahli pedang yang memiliki ginkang yang sudah sempurna sehingga dijuluki Tanpa Bayangan, tentu saking cepatnya gerakan silatnya.

Di sebelah kiri orang gagah ini duduk pula seorang gadis yang cantik dan gagah sekali. Usianya paling banyak delapan belas tahun, kulitnya putih dan tubuhnya langsing padat dengan wajah bundar seperti bulan purnama. Gadis cantik ini juga bersikap pendiam dan penuh wibawa. Sebatang pedang tergantung pada punggungnya. Dari seorang tamu yang duduk di dekatnya, Han Lin mendapat keterangan bahwa gadis itu bernama Yap Kiok Hwi, puteri dan anak tunggal dari Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin.

Para murid Cin-ling-pai yang rata-rata bersikap gagah perkasa itu berjaga di depan untuk menyambut tamu dan melayani mereka, dan ada pula sekelompok tokoh Cin-ling-pai yang tingkatnya sudah tinggi berkerumun di belakang tempat duduk guru mereka. Mereka itu berdiri dengan teratur dan sopan, membentuk barisan dengan kaki agak dipentangkan dan kedua tangan di belakang tubuh.

Sesudah semua tamu memperoleh tempat duduk dan ruangan yang disediakan itu sudah hampir penuh, ketua Cin-ling-pai lalu berdiri dari tempat duduknya dan melangkah maju ke tengah-tengah panggung yang tingginya sekitar satu setengah meter sehingga dia dapat terlihat jelas oleh semua yang hadir, baik yang duduk di bawah panggung mau pun yang mendapat kehormatan duduk di atas panggung, yaitu para ketua partai persilatan besar.

“Saudara sekalian yang terhormat,” demikian Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin membuka dengan suaranya yang mantap dan lantang. “Terima kasih atas kedatangan cu-wi (anda sekalian) memenuhi undangan kami. Maksud undangan kami kepada cu-wi, selain untuk mempererat persahabatan, juga yang terpenting sekali kami hendak membersihkan nama Cin-ling-pai dari desas-desus yang amat merugikan kami. Desas-desus yang memancing permusuhan dan hal ini harus dibersihkan sekarang juga. Desas-desus itu adalah bahwa pedang pusaka dari istana, yaitu Pedang Awan Merah, yang hilang dari gedung pusaka itu, dikabarkan dicuri oleh Cin-ling-pai. Di sini kami menyatakan bahwa desas-desus itu hanya fitnah dan bohong belaka. Agar para saudara di dunia persilatan dapat memaklumi bahwa kami orang-orang Cin-ling-pai bukanlah sebangsa maling dan perampok dan kami tidak pernah melakukan pencurian itu.”

Para tamu menyambut ucapan itu dengan saling bicara sehingga suasana menjadi gaduh. Terdengar teriakan-teriakan dari sana sini.

“Kalau ada asap tentu ada apinya. Kalau ada desas-desus tentu ada penyebabnya!”

“Mana ada di dunia ini pencuri yang mengaku pencuri?”

“Memang mudah melontarkan kepada orang lain, maling teriak maling!”

Bermacam-macam suara teriakan yang datangnya dari rombongan para tamu sehingga suasana menjadi gaduh dan panas. Agaknya banyak orang tak percaya akan keterangan ketua Cin-ling-pai itu.

“Omitohud...!” kata tokoh Siauw-lim-pai yang hadir dan duduk di tempat kehormatan atas panggung. “Yap-pangcu agaknya harus dapat meyakinkan hati mereka dengan bukti yang jelas!”

Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin sendiri kelihatan bingung melihat tanggapan para tamu yang agaknya tidak percaya kepadanya itu. Maka mendengar ucapan hwesio itu, dia pun berbalik tanya, “Kalau kami tidak mencurinya, bagaimana dapat membuktikannya?”

Gadis cantik yang tadi duduk di sebelahnya, yaitu Yap Kiok Hwi, mendadak meloncat ke dekat ayahnya lalu dengan suara melengking nyaring gadis itu berseru, “Cu-wi yang hadir jangan seenaknya saja menuduh orang! Tuduhan tanpa bukti merupakan fitnah keji, dan aku menantang siapa saja yang mencoba untuk memburukkan nama Cin-ling-pai! Kami minta bukti dan saksi!” tegas sekali ucapan gadis itu.

Ayahnya hanya mengangguk-angguk saja karena meski pun dia merasa betapa kata-kata puterinya itu terlalu keras, namun memang cocok dengan suara hatinya. Dia pun sangat mendongkol mendengar teriakan-teriakan tadi dan karena puterinya sudah mengambil alih pembicaraan, maka dia sengaja mundur untuk melihat perkembangan selanjutnya.

Han Lin memandang penuh kagum. Gadis itu mempunyai semangat dan keberanian yang luar biasa. Dia pun menahan diri, hendak melihat perkembangan terlebih dahulu sebelum tampil untuk mengakui bahwa pedang itu berada padanya, bahwa benar Cin-ling-pai tidak melakukan pencurian.

Mendadak terdengar suara lantang dari bawah panggung. “Saya bersedia menjadi saksi!” kemudian nampak orang meloncat ke atas panggung menghadapi Kiok Hwi.

Gadis itu memandang penuh perhatian. Pria itu berusia sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya kuning, di punggungnya terselip sebatang golok besar.

“Siapa engkau, sobat? Dan apa maksudmu mengatakan bersedia menjadi saksi?” tanya Kiok Hwi yang memaksa diri menghormati orang yang bagaimana pun juga menjadi tamu Cin-ling-pai itu.

“Saya bernama Gak Toan. Demi kelancaran persoalan ini, dan sama sekali bukan hendak memusuhi, nona, saya menjadi saksi bahwa pedang pusaka Ang-in Po-kiam itu memang berada di Cin-ling-pai!”

Maka gaduhlah para tamu, saling bicara sendiri ketika mendengar ada saksi mengatakan demikian. Kiok Hwi menjadi merah mukanya, akan tetapi dengan tenang gadis itu segera mengangkat kedua tangannya ke atas minta agar tamu yang hadir tidak membuat gaduh. Setelah suara berisik itu mereda, dara itu menghadapi Gak Toan dan memandang penuh selidik.

“Saudara Gak Toan, apakah engkau bersedia disumpah bahwa engkau benar-benar telah menyaksikan keberadaan pedang pusaka itu di Cin-ling-pai?”

“Saya bersumpah demi kehormatan saya, dan biarlah saya mati di ujung pedang apa bila saya berbohong!” jawab Gak Toan dengan suara lantang sambil membusungkan dadanya menghadap para tamu.

“Hemm, sekarang ceritakan di mana engkau melihat pedang itu, saudara Gak Toan!” kata pula Kiok Hwi dengan sikap menantang karena dia merasa yakin bahwa pedang itu tidak berada di Cin-ling-pai. Hanya ada dua kemungkinan, pikirnya. Orang ini berbohong atau dia sudah salah lihat.

Gak Toan memberi hormat kepada Kiok Hwi lantas berkata lantang, “Sudah saya katakan bahwa saya tak bermaksud untuk memusuhimu, nona. Saya katakan dengan sebenarnya saja. Kemarin, ketika saya tiba di sini, saya iseng-iseng naik ke Cin-ling-san lalu di suatu tempat saya melihat nona Yap Kiok Hwi sedang berlatih silat pedang. Dan pedang yang dipergunakan itu adalah jelas Ang-in Po-kiam!”

Gegerlah semua tamu mendengar ini dan Kiok Hwi sendiri memandang orang itu dengan mata terbelalak dan muka merah. Kembali dia mangangkat tangan minta agar para tamu menjadi tenang. Setelah suara gaduh itu mereda, dara itu segera mencabut pedang dari punggungnya, mengangkat pedang itu tinggi-tinggi dan berkata,

“Saudara Gak Toan, lihat baik-baik. Inilah pedangku yang biasa kupakai latihan!”

Pedang itu adalah sebatang pedang yang baik, akan tetapi mengeluarkan sinar putih pada saat dia gerakkan.

Gak Toan memandang, kemudian menggelengkan kepala. “Kemarin yang kulihat engkau tidak menggunakan pedang ini, nona. Jelas pedang itu adalah Ang-in Po-kiam sebab saya melihat sinarnya kemerahan.”

Kiok Hwi menjadi marah. “Saudara Gak Toan, hanya ada dua kenyataan dari ucapanmu itu. Engkau ngawur atau engkau berbohong, melempar fitnah kepadaku. Sekarang begini saja, karena saksinya hanya engkau seorang sedangkan ucapanmu berlawanan dengan pendapatku, maka siapa yang benar dan tidak berbohong akan kita tentukan dengan cara mengadu ilmu di sini, disaksikan oleh semua orang. Beranikah engkau mempertahankan tuduhanmu itu dengan senjata?”

Gak Toan tertawa kemudian berkata dengan suara dingin. “Nona, aku telah bicara dengan sesungguhnya dan tentu saja aku berani mempertanggung jawabkan kesungguhanku itu. Aku bukan orang yang lari menghadapi tantangan!”

“Bagus, keluarkan senjatamu!” tantang Kiok Hwi.

Memang merupakan pantangan bagi seorang ahli silat untuk menolak tantangan mengadu ilmu silat dari siapa pun, apa lagi kalau ditantang di depan para tokoh kang-ouw sebanyak itu, karena hal itu mempertaruhkan nama serta kehormatan. Maka orang yang bernama Gak Toan itu pun tidak menolak dan sekali tangannya meraba punggung, golok besarnya sudah terhunus.

Yap Kiok Hwi sudah marah sekali karena merasa difitnah oleh orang itu, maka dia segera berseru nyaring. “Lihat pedang!” dan pedangnya langsung meluncur dalam serangan yang cukup dahsyat.

Lawannya menggerakkan goloknya menangkis dan terdengar suara nyaring ketika kedua senjata itu bertemu di udara, menimbulkan percikan bunga api. Keduanya merasa betapa tangan mereka tergetar, bahkan Kiok Hwi terdorong mundur dua langkah. Ternyata dalam hal tenaga, orang she Gak itu lebih kuat dibandingkan lawannya, seorang gadis berusia delapan belas tahun.

Kiok Hwi membuka serangan lagi dengan jurus Sian-jin Hoan-eng (Dewa tukar bayangan), gerakannya cepat dan ringan sekali. Menghadapi serangan yang amat cepat ini, Gak Toan cepat membela diri dengan jurus Hwai-tiong Po-gwat (Peluk bulan depan dada), goloknya memukul pedang hingga terpental kemudian dia mendesak dengan balasan serangannya dengan jurus Coan-jiu Ciong-to (Luruskan tangan sembunyikan golok). Dengan jurus ini, bukan mata goloknya yang menyerang, namun tangan yang menggenggam gagang golok menghantam dengan kuat sekali.

Kiok Hwi meloncat ke belakang untuk mengelak, lalu mengelebatkan pedangnya dengan tubuh berputar dalam jurus serangan Sin-liong Tiauw-bwe (Naga sakti sabetkan ekornya). Namun lawannya juga dapat meloncat ketika kakinya diserampang pedang itu.

Mereka saling serang dan yang paling terkejut adalah Han Lin karena dia mengenal ilmu golok yang dimainkan Gak Toan itu. Tak salah lagi, itulah ilmu golok dari partai Hoat-kauw yang pernah dilihatnya dimainkan oleh mendiang Ang-sin-liong Yu Kiat, orang pertama Bu-tek Ngo-sin-liong dari Hoat-kauw!

Jelas Gak Toan ini murid Hoat-kauw, maka mengertilah dia sekarang mengapa Gak Toan mati-matian menuduh Kiok Hwi memegang Ang-in Po-kiam. Kini dia mengerti pula bahwa yang telah menyebarkan desas-desus bahwa Cin-ling-pai mencuri pedang pusaka adalah sisa orang-orang Hoat-kauw! Tentu dilakukan untuk mengadu domba antara orang-orang kang-ouw yang dulu tidak mau tunduk kepada Hoat-kauw seperti halnya Cin-ling-pai.

Dia melihat bahwa Gak Toan ini cukup lihai, tentu dia seorang murid dari Bu-tek Ngo-sin-liong atau mungkin murid dari mendiang Hoat Lan Siansu sendiri. Seorang anggota Hoat-kauw yang sudah tinggi tingkatnya. Kalau perkelahian itu dilanjutkan, meski pun Kiok Hwi juga lihai, akan tetapi gadis itu tentu akan kalah. Maka, tanpa menanti sampai Kiok Hwi kalah, Han Lin melompat dengan gerakan indah, membuat salto beberapa kali lalu tiba di atas panggung.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner