PEDANG AWAN MERAH : JILID-08


Begitu tongkat hitamnya bergerak, sinar hitam yang dahsyat menyambar di antara kedua orang yang tengah bertanding sehingga memaksa keduanya mundur dengan kaget sekali. Kiok Hwi memandang heran dan marah, akan tetapi Han Lin cepat berkata kepadanya,

“Nona, jangan layani dia. Dia ini seorang saksi palsu yang membuat kesaksian bohong!” suaranya lantang sehingga terdengar oleh semua orang. Kiok Hwi terkejut dan mundur.

Gak Toan tertawa mengejek. “Ha-ha-ha, agaknya ada orang yang takut kalau nona muda itu kalah maka sengaja membikin kacau. Orang muda, siapakah engkau dan apa maksud kata-katamu tadi?”

Han Lin tidak mempedulikan orang itu, justru menghadap kepada ketua Cin-ling-pai sambil berkata, “Pangcu, saya datang bukan untuk mengacau pertemuan yang diadakan Cin-ling-pai, tetapi untuk memberi kesaksian bahwa saksi ini adalah seorang pembohong besar, maka tidak perlu melayani dia.”

Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin tadi telah melihat gerakan tongkat Han Lin dan mengenal orang pandai, maka dia segera membalas penghormatan Han Lin sambil berkata, “Sobat muda, coba jelaskan kenapa engkau mengatakan dia pembohong besar. Kami juga tahu bahwa dia adalah pembohong besar, sayang kami tidak mempunyai bukti.”

“Ha-ha-ha, kalian menuduh aku berbohong, tetapi mana buktinya bahwa aku berbohong? Kalau Cin-ling-pai tidak dapat membuktikan bahwa mereka tidak mencuri Ang-in Po-kiam, maka itu hanya berarti bahwa desas-desus itu memang benar adanya!” kata Gak Toan dengan suara nyaring.

Agaknya banyak orang yang menyatakan setuju dengan pendapat Gak Toan ini sehingga Yap-pangcu nampak bingung kemudian memandang kepada Han Lin penuh harapan.

“Jelas bahwa Gak Toan ini pembohong besar kalau mengatakan telah melihat Yap-siocia memainkan ilmu dengan Pedang Awan Merah!” Han Lin berseru dengan nyaring. “Karena pedang pusaka itu selama ini berada di tanganku! Kalian lihat baik-baik, bukankah ini yang dinamakan Pedang Pusaka Awan Merah?” dia meraba buntalannya, lantas nampak sinar merah berkelebat ketika dia mencabut Ang-in Po-kiam.

Kembali orang-orang menjadi berisik akan tetapi semua orang mengakui bahwa itu adalah Pedang Pusaka Awan Merah. Melihat bahwa kebohongannya terbongkar, Gak Toan yang baru sekarang ingat bahwa pemuda ini dulu ikut menyerbu Hoat-kauw bersama pasukan pemerintah, segera mendapat akal baru.

“Saudara-saudara sekalian! Kalau begini buktinya, hanya ada dua kemungkinan! Pertama, mungkin pihak Cin-ling-pai sudah menitipkan pedang pusaka itu kepada pemuda ini, atau pemuda inilah yang sebenarnya menjadi pencuri pedang itu!”

Karena semua orang melihat bahwa pedang berada di tangan pemuda itu, maka ucapan ini agaknya dapat mereka terima. Kini mereka tampak bergerak dan agaknya siap hendak menerjang Han Lin.

“Omitohud...!” kata tokoh Siauw-lim-pai. Biar pun suaranya lembut tetapi bisa menembus suara kegaduhan yang kacau itu sehingga semua orang segera terdiam mendengarkan. “Orang muda, bagaimana pedang pusaka itu dapat berada di tanganmu? Jelaskanlah bila engkau tidak mau dituduh sebagai pencurinya dari gudang pusaka istana.”

“Benar…!” kata tosu tokoh Hoa-san-pai. “Harus dijelaskan benar siapa sebetulnya pencuri pedang dari kota raja supaya nama dunia persilatan tidak menjadi cemar. Harus diketahui dengan jelas siapa yang bersalah dalam peristiwa ini!”

“Saudara-saudara sekalian yang gagah perkasa,” kata Han Lin. “Pedang ini kudapatkan dari seseorang yang telah mencurinya dari gudang pusaka istana. Sebetulnya aku sedang dalam perjalanan menuju kota raja untuk menyerahkan kembali pedang pusaka ini kepada pemiliknya, yaitu Sribaginda Kaisar. Akan tetapi dalam perjalanan aku mendengar tentang desas-desus bahwa Cin-ling-pai yang mencuri pedang ini, dan bahwa Cin-ling-pai hari ini akan mengadakan pertemuan dengan para tokoh kang-ouw untuk membicarakan desas-desus itu. Mendengar ini aku sengaja datang ke sini untuk membantu Cin-ling-pai supaya dapat membersihkan namanya. Tidak kusangka muncul Gak Toan ini yang menceritakan kebohongan besar. Aku tahu kenapa dia berbuat demikian. Saudara sekalian, ketahuilah bahwa desas-desus untuk melakukan fitnah kepada Cin-ling-pai ini dilemparkan oleh pihak Hoat-kauw karena pencuri pedang yang sesungguhnya adalah mendiang Hoat Lan Siansu ketua Hoat-kauw yang sudah dibasmi oleh pasukan pemerintah karena bersekutu dengan bangsa Mongol untuk memberontak. Dan siapakah Gak Toan ini? Aku tadi sudah melihat permainan goloknya dan aku yakin dia pun seorang murid Hoat-kauw!”

Gak Toan yang tadi masih berdiri di atas panggung, tiba-tiba saja sudah melompat jauh kemudian menyusup di antara tamu, terus melarikan diri. Semua orang masih tercengang mendengar ucapan Han Lin sehingga tidak seorang pun yang sempat menghalangi larinya Gak Toan.

Ributlah semua orang setelah mendengar keterangan Han Lin ini. Akan tetapi masih ada juga yang merasa penasaran. “Bagaimana kita tahu bahwa cerita itu tidak bohong? Tadi pun cerita Gak Toan terdengar meyakinkan tapi ternyata dia berbohong. Lalu bagaimana dengan cerita yang ini? Tanpa saksi bagaimana kita dapat menerimanya begitu saja?”

Tiba-tiba terdengar suara dari bagian para tamu kehormatan di atas panggung. Seorang tosu tinggi kurus bermata sipit bangkit berdiri. “Siancai...! Pinto Tiong Sin Tojin dari Kun-lun-pai menjadi saksi akan kebenaran ucapan taihiap (pendekar besar) Sia Han Lin tadi!”

“Aku juga menjadi saksi akan kebenaran ucapannya!” terdengar suara melengking, lantas seorang pendeta wanita, yaitu Lian Hwa Siankouw wakil ketua dari Kwan-im-pai bangkit berdiri.

“Siancai! Pinto juga menjadi saksi. Apa yang dikatakan Sia-taihiap itu semuanya benar!” kini Thian Gi Tosu yang tinggi besar bermuka kehitaman, tokoh Go-bi-pai berseru dengan suaranya yang besar.

Melihat betapa tiga orang tokoh besar dunia persilatan ini memberikan kesaksian mereka, semua orang menjadi percaya dan kini lenyaplah keraguan mereka.

Yang paling gembira tentu saja pihak Cin-ling-pai. Ketua Cin-ling-pai sendiri, Bu-eng-kiam-hiam Yap Kong Sin segera menghampiri Han Lin lalu menarik tangan pemuda itu diajak duduk di tempat kehormatan. Semua orang mengelu-elukan Han Lin dan ketika pesta itu bubar, Han Lin ditahan oleh keluarga Cin-ling-pai, menjadi tamu terhormat di Cin-ling-pai.

“Kami seluruh keluarga Cin-ling-pai dibikin pusing oleh fitnah itu dan kami juga tidak tahu bagaimana cara membersihkan nama kami. Agaknya kami harus mempertahankan nama kami dengan pertumpahan darah kalau saja tidak muncul Sia-sicu yang membersihkan kembali nama kami. Tidak tahu bagaimana kami harus membalas budi kebaikan Sia-sicu,” kata ketua Cin-ling-pai itu ketika dia menjamu Han Lin. Para tokoh Cin-ling-pai yang hadir dalam pesta kecil itu menganggukkan kepala sambil memandang kagum kepada Han Lin.

“Ah, Paman Yap, harap jangan banyak sungkan. Perbuatan saya ini memang merupakan kewajiban yang harus saya lakukan, sama sekali bukan budi kebaikan. Semua orang yang menjunjung tinggi kegagahan tentu akan bertindak seperti saya, membersihkan nama Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan yang gagah perkasa.”

“Aku kagum sekali melihat gerakan Sia-taihiap ketika melerai pertandinganku melawan Gak Toan itu!” tiba-tiba Kiok Hwi berkata dengan gembira. “Karena itu aku mohon kepada Sia-taihiap untuk memberi petunjuk sejurus dua jurus dalam ilmu pedang!”

Han Lin berusaha untuk menolak halus, akan tetapi Yap-pangcu sendiri lalu bangkit dan memberi hormat kepada Han Lin.

“Harap Sia-sicu tidak terlalu pelit untuk memberi petunjuk kepada puteri kami.”

Terpaksa Han Lin melayani. Mereka semua lantas pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) milik Cin-ling-pai yang luas. Ketika berita ini terdengar oleh para anak buah Cin-ling-pai, berbondong-bondong mereka pun datang ke lian-bu-thia untuk menonton pertandingan untuk menguji ilmu silat itu dengan gembira.

Mereka semua maklum akan lihainya sumoi mereka, yaitu Yap Kiok Hwi yang menerima gemblengan khusus dari Yap-pangcu. Dan semua orang ingin melihat sendiri bagaimana hebatnya pemuda yang telah membersihkan nama Cin-ling-pai itu.

Dengan gembira Kiok Hwi mencabut pedangnya kemudian memasang kuda-kuda. Han Lin memegang tongkat bututnya dan melihat ini gadis itu lalu berkata, “Sia-taihiap, mengapa engkau tidak mencabut Ang-in Po-kiam?”

“Nona, kita hanya hendak main-main saja, bukan? Biarlah, aku rasa sudah cukup kalau aku menggunakan tongkatku ini. Jangan pandang rendah tongkatku ini, nona. Ini tongkat wasiat peninggalan guruku!”

Karena pada saat mengatakan ini suara Han Lin sungguh-sungguh, maka Kiok Hwi tidak merasa dipandang rendah dan ia mulai menggerakkan pedangnya dengan gerakan indah dari ilmu pedang Cin-ling-pai.

“Lihat pedang!” teriaknya dan dia pun mulai membuka serangan dengan tusukan pedang ke arah dada Han Lin.

Pemuda ini miringkan tubuhnya lalu tongkatnya meluncur ke arah lengan tangan gadis itu yang memegang pedang. Kiok Hwi mempunyai gerakan yang cukup gesit. Begitu melihat serangannya luput malah sebaliknya lengan kanan yang memegang pedang terancam, dia segera menarik kembali tangannya ke belakang, memutar tubuh ke kanan lalu pedangnya berkelebat menyambar, kini membacok ke arah leher Han Lin dengan kecepatan kilat.

Han Lin kagum bukan main. Ilmu pedang Cin-ling-pai memang hebat dan gadis itu sudah menguasainya dengan baik, juga memiliki kecepatan yang mengagumkan. Hanya dalam tenaga sinkang, gadis itu masih harus memperkuatnya lagi. Dia cepat menangkis dengan tongkatnya kemudian balas menyerang.

Namun Kiok Hwi juga dapat menghindarkan diri. Ketika tongkat Han Lin menyerampang ke arah kedua kakinya, gadis itu melompat ke atas, berjungkir balik dan ketika tubuhnya menukik turun, laksana seekor rajawali dia menyerang dari atas, pedangnya diputar cepat dan setelah dekat lantas menyambar ke arah dahi Han Lin!

“Bagus!” Han Lin cepat melempar tubuh ke samping dan berjungkir balik miring, kemudian tongkatnya diputar dan tepat dapat menangkis pedang gadis itu yang sudah berdiri sambil menyabetkan pedangnya.

“Tranggg...!”

Tampak bunga api terpercik dari pedang itu ketika tertangkis tongkat dan gadis itu merasa tangannya tergetar hebat. Namun dia masih belum puas dan kembali menyerang, kali ini mengandalkan kecepatannya sehingga nampaknya Han Lin terdesak hebat dan terhimpit oleh gulungan sinar pedang itu.

Tentu saja Han Lin sengaja mengalah. Dia bergerak mengimbangi gadis itu, dia tidak ingin mengalahkannya dalam waktu singkat agar tidak menyinggung harga diri nona itu. Maka pertandingan itu tampak seru dan seimbang hingga membuat girang hati Kiok Hwi karena dia merasa dapat mengimbangi penolong Cin-ling-pai. Hanya ayahnya yang tahu bahwa pemuda itu banyak mengalah. Para murid Cin-ling-pai pun tidak ada yang mengetahui dan memuji ilmu pedang sumoi mereka.

Sesudah merasa cukup, Han Lin ingin mengakhiri adu ilmu itu akan tetapi dia tidak ingin mengalahkan gadis itu secara mutlak. Maka dia pun mengubah ilmu tongkatnya dengan memainkan Lui-tai-hong-tung (Tongkat Kilat dan Badai) sehingga tiba-tiba saja tongkat itu mengeluarkan angin menderu-deru. Bukan hanya Kiok Hwi yang terkejut, juga ketua Cin-ling-pai terbelalak dan para murid Cin-ling-pai terkejut sekali.

Kiok Hwi mencoba menahan diri dan memutar pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu membentuk gulungan sinar yang seolah menjadi perisai baginya. Namun angin badai itu masih menembus perisai sinar itu sehingga membuatnya terhuyung ke belakang dan hampir saja terjengkang. Pada saat itu Yap-pangcu meloncat ke tengah di antara mereka dan dia pun harus mengerahkan sinkang-nya agar tidak sampai terdorong oleh angin yang menderu itu.

“Cukup, Sia-sicu...!” katanya akan tetapi Han Lin telah menghentikan gerakan tongkatnya sehingga angin menderu itu pun lenyap.

“Wah, sungguh luar biasa sekali ilmu tongkatmu tadi, sicu!” Yap-pangcu memuji sambil memberi hormat.

“Sia-taihiap, ilmu aneh apakah yang kau mainkan tadi? Menimbulkan angin badai!” kata pula Kiok Hwi kagum.

“Ahh, Yap-siocia telah mengalah kepadaku. Terima kasih.”

“Mari kita lanjutkan dengan makan minum, sicu,” kata ketua itu dengan girang sekali dan mereka kembali ke ruangan tamu. Di situ Yap-pangcu sendiri menuangkan anggur untuk memberi selamat dan hormat kepada tamunya.

Sementara itu secara diam-diam Kiok Hwi merasa tertarik sekali. Dia tahu bahwa pemuda itu hendak menjaga namanya, maka tongkatnya sama sekali tidak menyentuhnya ketika mengalahkannya. Pemuda itu mengalahkannya hanya dengan angin pukulan tongkatnya saja. Bagaimana kalau menyerang dengan tongkatnya, menyerang sehingga tongkat itu mengenai tubuhnya? Dia bergidik. Baru angin pukulannya saja sudah begitu hebat! Dia tertarik sekali dan ketika matanya memandang, dari matanya terpancar sinar yang aneh, bahkan dia nampak tersipu kalau kebetulan Han Lin memandang kepadanya.

Pernah satu kali Yap-pangcu memergoki puterinya tersipu, maka dia pun tersenyum. Dia adalah seorang laki-laki gagah perkasa yang berwatak jujur. Ketika timbul gagasan untuk menjodohkan puterinya dengan pemuda yang telah menolong Cin-ling-pai itu, segera saja dia mengajukan pertanyaan bertubi kepada Han Lin untuk mengetahui keadaannya.

“Sicu, kalau aku boleh bertanya, siapakah guru sicu yang sudah menurunkan ilmu-ilmu hebat itu?”

Han Lin sudah dipesan oleh Lo-jin agar jangan memperkenalkan namanya kepada orang lain, walau pun hanya Lo-jin (Orang Tua) saja, maka dia menjawab, “Mendiang suhu saya adalah Kong Hwi Hosiang.”

“Ahh…, hwesio pengembara itu. Aku pernah mendengar namanya yang terkenal sebagai seorang locianpwe yang sakti. Dan siapakah orang tuamu, sicu?”

Han Lin tersenyum untuk menutupi pedihnya hati mendengar ketua Cin-ling-pai bertanya tentang orang tuanya. “Ayah dan ibu saya telah tiada, paman. Saya seorang yatim piatu dan sebatang kara.”

“Maafkan aku, sicu, kalau aku bertanya tentang mereka sehingga membuatmu sedih.”

Han Lin tersenyum. “Tidak mengapa, paman. Kematian merupakan peristiwa yang sudah menjadi takdir, saya tidak lagi menyedihkan kematian mereka.”

“Dan... berapakah usiamu, sicu?” ketua Cin-ling-pai mulai memancing.

Han Lin masih menganggap pertanyaan itu wajar saja yang timbul dari keakraban, maka dia pun menjawab, “Dua puluh satu tahun lebih, paman.”

“Sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, dalam usia demikian tentu sicu sudah berumah tangga, bukan? Di mana tempat tinggal sicu, dan apakah sicu sudah mempunyai putera?” pancingan itu semakin jelas.

Akan tetapi Han Lin yang belum mempunyai pengalaman dalam urusan ini, masih belum mengerti. Wajahnya berubah sedikit kemerahan ketika dia menjawab, “Paman Yap Kong Sin, saya belum mempunyai anak, bahkan belum menikah.”

“Kenapa, sicu? Seorang pendekar seperti sicu, sudah sepantasnya berumah tangga dan membentuk keluarga agar kelak ada yang melanjutkan perjuangan sicu.”

“Aihh, paman. Saya seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai apa-apa, bagaimana saya berani memikirkan tentang perjodohan?”

Girang bukan main perasaan hati ketua Cin-ling-pai itu. Dia mengerling ke arah puterinya dan melihat dara itu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan. Semua tokoh Cin-ling-pai yang hadir di situ tersenyum-senyum. Semua orang sudah tahu arah pembicaraan itu, kecuali Han Lin sendiri.

“Sia-sicu, maafkan ucapanku ini. Aku memang orang yang biasa bicara secara terbuka, maka biarlah percakapan ini disaksikan dan didengar pula oleh para murid kepala serta sute-ku yang hadir di sini. Sicu, kami hanya mempunyai seorang anak, yaitu puteri kami Yap Kiok Hwi yang sekarang sudah berusia delapan belas tahun dan masih belum terikat perjodohan dengan siapa pun juga. Nah, kalau sicu setuju, maka kami bermaksud untuk menjodohkan kalian, yaitu sicu dan puteri kami.”

“Aihh, ayah...!” Kiok Hwi bangkit berdiri lalu tersipu-sipu lari ke dalam mencari ibunya.

Semua orang yang hadir di sana tersenyum melihat sikap Kiok Hwi. Dari sikap gadis itu saja sudah dapat diketahui bahwa Kiok Hwi tidak berkeberatan. Apa bila keberatan tentu gadis yang juga jujur dan terbuka itu seketika sudah menyatakan penolakannya atas usul perjodohan ayahnya. Akan tetapi dia berlari sambil tersipu malu, itu tidak lain artinya tentu bahwa gadis itu juga menyetujui.

“Bagaimana, Sia-sicu?” tanya Yap Kong Sin yang tadi tertawa gembira ketika melihat ulah puterinya. “Harap engkau tidak merasa sungkan dan malu-malu, kami sudah biasa untuk bicara secara terbuka begini.”

Tentu saja Han Lin tersipu dan merasa serba salah. Harus diakui bahwa Kiok Hwi adalah seorang gadis yang tak ada cacat celanya sebagai seorang calon isteri. Dia masih muda, cantik jelita, gagah perkasa, puteri seorang ketua perkumpulan para pendekar pula. Apa lagi yang kurang? Mau mencari yang bagaimana lagi? Dan gadis itu agaknya juga tertarik kepadanya. Betapa akan bahagianya menerima kasih sayang seorang gadis jelita seperti Kiok Hwi.

“Harap paman sekalian sudi memaafkan saya. Saya merasa sangat berterima kasih dan terharu sekali atas maksud hati paman yang baik dan merasa amat terhormat. Seorang yatim piatu dan miskin seperti saya telah mendapat kehormatan dan penghargaan paman. Akan tetapi, paman, perjodohan adalah suatu peristiwa yang amat suci dan penting sekali dalam kehidupan seorang manusia, karena itu harus dilakukan dengan keputusan hati yang bulat. Tetapi pada saat ini saya sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan, dan sama sekali belum ingin terikat tali kekeluargaan. Maka, maafkanlah saya yang tidak dapat menerima kehormatan besar ini.”

Yap Kong Sin menghela napas panjang. “Engkau benar, sicu. Agaknya kami yang terlalu tergesa-gesa. Karena itu biarlah kami tangguhkan dahulu hasrat hati kami ini sampai nanti pada saat sicu sudah benar-benar siap. Akan tetapi kami harap sicu tidak melupakan usul perjodohan kami ini sehingga kalau sicu sudah mengambil keputusan untuk berjodoh, sicu dapat mempertimbangkan keinginan kami.”

“Tentu saja, paman. Akan tetapi, saya harap paman tidak menganggap ini sebagai suatu ikatan. Kalau sampai nona Yap menemukan jodohnya, harap paman tidak ragu-ragu untuk menjodohkannya tanpa memikirkan saya. Dan sekarang saya kira telah cukup lama saya menunda keberangkatan saya, paman. Saya akan langsung ke kota raja menyerahkan Ang-in Po-kiam kepada Sribaginda Kaisar. Selamat tinggal.”

Han Lin bangkit lalu memberi hormat kepada tuan rumah, dan kepergiannya diantar oleh ketua itu sampai ke pintu gerbang depan.

Han Lin berjalan menuruni lereng meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai. Dari puncak bukit dia memandang ke bawah. Pagi hari itu matahari bersinar cerah dan pemandangan alam amatlah indahnya terbentang luas di bawah sana. Di sekitarnya nampak bukit-bukit menonjol dalam berbagai bentuk yang aneh-aneh. Di sana sini nampak kabut tipis yang membuat warna hijau pegunungan berubah menjadi kebiruan.

“Taihiap...!”

Seruan ini membuat Han Lin berhenti menahan langkahnya kemudian menoleh. Nampak olehnya Kiok Hwi berlari-larian menuruni lereng itu. Ketika tiba di depannya, gadis itu agak terengah-engah, mukanya menjadi kemerahan karena berlarian itu, rambutnya agak awut-awutan tertiup angin.

Mereka berdiri berhadapan, saling pandang dan Han Lin bertanya. “Nona Yap, mengapa engkau menyusulku? Apakah ada pesan yang kau bawa dari Paman Yap?”

Gadis itu menggeleng kepalanya, dan belum dapat menjawab.

“Lalu, apakah yang menyebabkan nona berlarian menyusulku?”

Gadis itu nampak tersipu. “Tidak ada yang menyuruh aku, taihiap.”

“Nona, tidak enak rasanya mendengar engkau menyebutku dengan sebutan taihiap. Aku sudah bersahabat dengan Cin-ling-pai, maka jangan engkau menggunakan sebutan yang sungkan itu.”

“Baiklah, Lin-ko (kakak Lin), akan tetapi engkau pun jangan menyebutku dengan sebutan nona seperti kita ini orang yang asing satu dengan yang lain.”

“Baik, Hwi-moi. Nah, katakan mengapa engkau menyusulku? Ada kepentingan apakah?”

“Tidak ada kepentingan apa-apa, Lin-ko. Tadi aku berada di kamar ibu ketika ayah datang memberi tahukan bahwa engkau sudah pergi meninggalkan Cin-ling-pai. Aku terkejut lalu segera menyusulmu. Aku tidak mengira bahwa engkau akan terus pergi begitu saja tanpa pamit kepadaku.”

Han Lin tersenyum lalu memberi hormat dengan kedua tangan di depan dada. “Maafkan aku kalau aku tidak sempat berpamit kepadamu, Hwi-moi. Aku agak tergesa karena harus cepat mengembalikan pedang pusaka kepada Sribaginda Kaisar, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan lagi atas diriku.”

“Aku tidak menyangka bahwa kita akan berpisah demikian cepatnya, Lin-ko.”

Han Lin tersenyum. “Setiap pertemuan pasti diakhiri perpisahan, Hwi-moi. Sekarang kita telah bertemu, maka aku ingin mengucapkan selamat tinggal dan berpamit kepadamu.”

“Lin-ko, aku... aku ingin sekali ikut bersamamu ke kota raja untuk mengembalikan pedang pusaka itu ke istana. Aku... aku khawatir kalau terjadi apa-apa denganmu dan aku ingin membantu. Biarkan aku menemanimu, Lin-ko.”

Han Lin mengerutkan alisnya. Dia terkejut sekali mendengar ucapan gadis itu. “Ahh, Hwi-moi, bagaimana mungkin itu? Orang tuamu tentu akan marah kepadaku kalau engkau ikut denganku.”

“Aku yang bertanggung jawab!”

“Tidak, Hwi-moi. Ini tidak baik. Seorang gadis seperti engkau pergi bersamaku, lalu apa kata orang terhadap diriku? Lagi pula aku tidak memerlukan bantuan, dan aku… aku tidak sanggup melindungimu. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu dengan dirimu? Ayahmu tentu akan menyalahkan aku.”

“Lin-ko, engkau... menolak permintaanku? Apakah engkau tidak sayang padaku, Lin-ko?”

Han Lin tersenyum dan jantungnya berdebar. Salahkah perkiraannya bahwa dengan kata-kata itu Kiok Hwi menghendaki bahwa dia sayang kepadanya?

“Bukan soal tidak sayang, Hwi-moi, tetapi soal kepantasan dan tanggung jawab. Maafkan aku, Hwi-moi, aku sungguh tidak dapat membawamu pergi bersama. Selamat tinggal dan terima kasih atas budi kebaikan keluargamu selama ini!” Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi Han Lin mempergunakan kepandaiannya untuk meloncat kemudian lenyap dari situ.

“Lin-ko...! Tunggu...!”

Terpaksa Han Lin menahan langkahnya lantas kembali ke depan gadis itu. “Ada apakah, Hwi-moi?”

Kiok Hwi melepaskan seuntai kalungnya yang terbuat dari emas dan digantungi mainan seekor burung Hong emas yang dihias permata indah. “Toako, kalau engkau tidak mau membawa diriku, kau bawalah kalungku ini.”

“Ehhh? Kalung? Untuk apa kalung itu bagiku?” tanyanya heran dan dia belum menerima kalung itu karena merasa bingung.

“Lin-ko, perjalananmu amat jauh sehingga membutuhkan biaya besar. Aku hanya mampu membekali perhiasan ini agar dapat kau jual untuk keperluanmu kalau engkau kekurangan biaya.”

Terpaksa Han Lin menerima kalung itu. Dia sudah menolak keinginan gadis itu untuk pergi menemaninya, jika sekarang dia menolak pula pemberiannya, tentu akan membuat gadis itu merasa kecewa.

“Terima kasih, Hwi-moi. Engkau sungguh terlalu baik untukku.”

“Baik? Aihh, Lin-ko. Kalau mau bicara tentang kebaikan, engkaulah yang sudah berbuat kebaikan yang tak ternilai harganya bagi Cin-ling-pai. Engkau sudah membersihkan nama dan kehormatan kami.”

“Sudah cukup, Hwi-moi, sekali lagi selamat tinggal dan sampaikan hormatku kepada ayah ibumu.” Setelah memberi hormat Han Lin membalikkan tubuhnya, lalu melangkah pergi.

Kiok Hwi mengikuti langkahnya dengan pandang mata sayu dan sepasang mata gadis itu menjadi basah. Ah, dia tidak bisa menipu diri sendiri. Dia telah jatuh cinta kepada pemuda sederhana itu…..

********************

Kim-kok-pang adalah sebuah perkumpulan para pendulang emas yang berhasil. Semenjak Kim-kok-pang ditinggal mati ketuanya bernama Ji Kim Ek yang terbunuh oleh orang-orang Hoat-kauw dan kedudukan ketua digantikan Ji Kiang Bwe, puterinya yang gagah perkasa, perkumpulan ini semakin maju. Apa lagi ketika Ji Kiang Bwee menikah dengan Souw Kian Bu, pendekar yang tinggi pula ilmu silatnya, kedudukan Kim-kok-pang di dunia persilatan semakin kokoh kuat. Di bawah bimbingan suami isteri pendekar ini, Kim-kok-pang bukan saja menjadi perkumpulan yang makmur karena penghasilan dari pendulangan emas itu ternyata cukup mendatangkan kemakmuran kepada para anggotanya, akan tetapi juga perkumpulan itu berkembang menjadi perkumpulan besar.

Kalau dulu ketika Ji Kiang Bwee pertama kali memegang kedudukan ketua menggantikan ayahnya yang tewas perkumpulan itu hanya memiliki anggota kurang lebih seratus orang, kini selama satu tahun, jumlah anggota mereka ada dua ratus keluarga lebih, yang berarti lebih dari lima ratus orang.

Sekarang perkampungan mereka menjadi makin luas, dengan bangunan pondok-pondok yang memadai biar pun tidak mewah. Pendeknya, setiap keluarga anggota Kim-kok-pang cukup sandang pangan dan papannya.

Dengan tekun Souw Kian Bu membantu isterinya. Bahkan atas kehendak Ji Kiang Bwee yang disebut ketua adalah suaminya dan dia sendiri menjadi ketua kedua atau pembantu ketua pertama!

Souw Kian Bu juga tak tinggal diam. Dia mewajibkan anak-anak keluarga itu untuk belajar membaca menulis, juga merangkai ilmu silat yang diambil dari inti sari ilmu-ilmu mereka, dan menamakan ilmu silat itu Kim-kok-kun (Silat Lembah Emas).

Ji Kiang Bwee tidak hanya mewarisi ilmu silat dari ayahnya, ketua pertama Kim-kok-pang, tetapi ia pun murid Pek Mau Siankouw, pertapa wanita yang sakti. Sedangkan suaminya, Souw Kian Bu, menerima gemblengan dari ayah ibunya sendiri.

Ayahnya adalah Souw Hui San, tokoh Go-bi-pai yang amat lihai, dan ibunya Yang Kui Lan adalah murid mendiang Kong Hwi Hosiang, maka tentu saja Souw Kian Bu memiliki ilmu silat yang lihai, bahkan hampir setingkat isterinya. Maka, ketika suami isteri ini kemudian merangkai sebuah ilmu silat, tentu saja ilmu silat itu hebat sekali. Dan kini semua anggota Kim-kok-pang diharuskan berlatih dengan ilmu Kim-kok-kun.

Kehidupan manusia di dunia ini tidak ada yang abadi, keadaannya pun tidak menentu. Seperti berputarnya roda, maka setiap orang manusia itu kadang berada di atas, kadang di bawah. Kadang tertawa bahagia, kadang menangis sedih. Kemujuran dan kemalangan silih berganti melanda kehidupan.

Dan semua ini sudah wajar, seperti wajarnya atas dan bawah, kanan dan kiri, terang dan gelap dan sebagainya lagi keadaan yang berlawanan. Seseorang tidak mungkin mengenal senang kalau dia tidak pernah mengenal susah, tidak pernah mengenal enak kalau tidak pernah mengenal tidak enak. Mana mungkin mengenal rasa manis kalau tidak ada rasa lain yang berlawanan?

Hidup adalah perjuangan. Perjuangan dalam menghadapi segala macam tantangan dan tentangan. Justru tantangan-tantangan itulah yang meramaikan hidup ini, memberi warna dan menjadi romantika kehidupan. Bayangkan, betapa monoton, tanpa irama dan hanya menimbulkan kejenuhan saja kalau kehidupan ini berjalan mulus tanpa adanya halangan dan rintangan sedikit pun. Orang akan menjadi malas dan tidak bergairah!

Bagaimana muaknya kalau setiap saat kita hanya makan yang manis melulu, tanpa ada rasa lain seperti pahit, getir, asin, masam sebagai imbangannya. Betapa membosankan apa bila segala sesuatu dapat dicapai secara mudah, tanpa kesukaran, tanpa halangan. Oleh karena itu berbahagialah orang yang dapat menghagai kesulitan seperti menghargai kemudahan, dapat mengambil hikmah dari kesengsaraan dan dapat melihat racun dalam kesenangan. Bukankah yang enak-enak itu biasanya mendatangkan penyakit dan obat itu hampir selalu terasa pahit.....?



Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner