PEDANG AWAN MERAH : JILID-09


Begitu pula dengan kehidupan Souw Kian Bu dan Ji Kiang Bwee yang tampaknya bahagia dan mulus. Baru pada malam pengantin pertama saja mereka sudah harus menghadapi tantangan yang membahayakan kelangsungan hidup berumah tangga mereka.

Biar pun Souw Kian Bu merupakan seorang pemuda yang sama sekali tidak mempunyai pengalaman dengan wanita, namun dari orang tuanya dia pernah mendapat pengertian mengenai tanda keperawanan seorang gadis. Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa gelisah dan kecewa hatinya ketika dia mendapat kenyataan di malam pengantin pertama itu bahwa isterinya, Ji Kiang Bwee, bukan perawan lagi. Tentu saja hal ini membuatnya menjadi murung, bahkan dia tidak mau menjawab ketika pada keesokan harinya isterinya mengajaknya bicara.

Akhirnya Ji Kiang Bwe mengetahui apa yang menyebabkan suaminya murung. “Bu-koko, aku mengerti bahwa aku sudah bukan perawan lagi, begitukah?”

Pertanyaan yang begitu terbuka dari isterinya membuat Kian Bu mengangkat muka lantas memandang wajah isterinya penuh selidik. Terdengarlah ucapannya yang bernada sangat dingin.

“Hemm, bila engkau sudah mengetahui dan mengerti, tentu engkau mengerti pula betapa pentingnya hal itu bagi kelangsungan suami isteri!”

“Suamiku, engkau boleh saja mencurigai dan menuduh karena itu memang hakmu. Akan tetapi tidak bijaksana kalau kau diamkan dan simpan saja di dalam hati. Kenapa tidak kau tanyakan sebabnya? Ada akibat tentulah ada sebabnya, bukankah begitu? Kalau engkau sudah mengetahui sebabnya, belum tentu engkau akan menyesali akibatnya.”

Melihat isterinya bersikap tenang saja, jelas bukan sikap seorang yang bersalah, Kian Bu menjadi agak dingin hatinya, maka dia pun bertanya, “Bwe-moi, antara suami isteri tidak semestinya ada rahasia. Dan urusan yang mengenai dirimu juga menyangkut diriku, maka sebaiknya jika engkau ceritakan semua kepadaku untuk kupertimbangkan masak-masak. Terus terang saja, bagaimana engkau kehilangan keperawananmu?”

Kiang Bwe tersenyum dan agak tersipu. “Suamiku, percayalah, bukan karena aku pernah berjinah dengan seseorang atau pernah diperkosa seseorang. Sama sekali bukan begitu, maka jauhkanlah bayangan itu dari pikiranmu. Aku sendiri tidak pernah menyadari bahwa peristiwa yang terjadi dahulu itu telah mengakibatkan aku kehilangan tanda keperawanan. Ketahuilah, ketika aku berlatih silat dengan ayahku, ayah melatihku dengan sangat keras, mengharuskan aku melakukan jurus tendangan berantai sampai benar-benar sempurna. Nah, dalam sebuah latihan aku mengalami pendarahan. Tentu peristiwa itulah yang telah mengakibatkan aku menjadi seperti ini.”

Kian Bu mengangguk-angguk dan tersenyum. “Nah, kalau kau jelaskan begitu, tentu saja hatiku tidak merasa penasaran.” Dia merangkul dan mencium isterinya.

Agaknya selesai sudah perkara itu. Akan tetapi ternyata belum. Kiang Bwe melihat kerut di antara alis mata suaminya sering kali muncul sehingga akhirnya dia tidak tahan lagi. Dia lalu mengajak suaminya berkunjung ke makam ayahnya.

Kian Bu hanya mengira bahwa isterinya mengajaknya bersembahyang. Akan tetapi ketika isterinya sudah memegang hio (dupa biting) yang membara dan berlutut di depan makam itu, dia mendengar isterinya berkata dengan suara lantang.

“Ayah, ayah mengetahui dan menjadi saksi ketika dahulu ayah memaksaku berlatih jurus tendangan berantai sampai aku terjatuh dan mengalami pendarahan. Ayah menjadi saksi dan aku bersumpah bahwa aku telah menceritakan keadaan yang sebetulnya....” Sampai di situ Kiang Bwe menangis.

“Bwe-moi…!” Kian Bu merangkulnya dan menghibur. “Bwe-moi, kenapa engkau bersikap seperti ini? Aku percaya kepadamu, Bwe-moi, aku percaya...!”

Kiang Bwe masih terisak. “Engkau jangan membohongi aku, koko. Aku bisa melihat pada wajahmu, betapa engkau kadang meragukan aku, kadang sangsi dan curiga...ahh, Bu-ko, betapa hatiku tidak akan sedih dicurigai suami sendiri?”

Masalah keperawanan seorang isteri memang terkadang mendatangkan persoalan besar. Dan sikap suami seperti ini hanya menunjukkan bahwa soal itu teramat penting baginya.

“Aku tidak mencurigaimu, Bwe-moi. Sungguh!”

“Koko, sebetulnya engkau mencintai aku atau tidak?”

“Kenapa masih kau tanyakan? Bukankah kita sudah menjadi suami isteri? Tentu saja aku cinta kepadamu, Bwe-moi.”

“Akan tetapi engkau sudah meributkan soal keperawanan. Engkau mencintai aku ataukah engkau mencintai keperawanan? Kalau engkau memang mencintaiku, maka keperawanan bukan menjadi masalah lagi. Kalau engkau mencintaiku, tentu akan mencintaiku dengan segala kekurangan dan keburukanku!”

“Maaf, Bwe-moi. Andai kata aku mencintaimu sebagai seorang janda, tentu soal itu tidak akan menjadi persoalan. Seorang suami selalu ingin memandang isterinya sebagai orang yang suci, atau setidaknya orang baik sesuai dengan apa yang dibayangkannya. Suami isteri memerlukan keterbukaan, tidak boleh ada rahasia yang tersembunyi, karena rahasia tersembunyi menunjukkan kekurang percayaan. Bahkan andai kata engkau dahulu pernah berhubungan dengan orang lain atau pernah diperkosa sekali pun, apa bila hal itu sudah kuketahui sebelumnya, tentu tak akan menjadi persoalan. Akan tetapi sekarang aku telah menyadari kesalahanku, dan aku akan mengusir semua keraguanku. Percayalah!”

Semenjak hari itu memang wajah Kian Bu tidak pernah lagi murung seperti yang sudah-sudah. Agaknya peristiwa di makam ayah isterinya itu telah membuat dia percaya penuh kepada isterinya.

Akan tetapi masih ada ganjalan lain di hati kedua suami isteri itu, yaitu mereka belum juga dikaruniai seorang anak walau pun sudah setahun lebih mereka menikah,.

Pada suatu hari, selagi Ji Kiang Bwe melatih ilmu silat kepada para anggota wanita Beng-kauw di taman belakang rumahnya, melatih tiga belas orang wanita itu mempergunakan senjata sabuk rantai sambil membentuk barisan sabuk rantai dengan tekun, tiba-tiba saja terdengar orang berseru,

“Bagus, sungguh merupakan barisan sabuk yang amat hebat!”

Kiang Bwe terkejut dan alisnya berkerut. Siapa yang begitu kurang ajar berani mengintai dia yang sedang melatih para anggotanya. Dia cepat membalikkan tubuhnya memandang ke arah orang yang mengeluarkan pujian itu. Dan dia terbelalak.

Dia melihat seorang laki-laki muda, berusia paling banyak dua puluh lima tahun, berwajah tampan berbadan tinggi tegap, berpakaian serba hitam, sedang berdiri sambil tersenyum memandangnya.

“Suheng....!” Akhirnya dia berseru gembira sekali.

“Sumoi, kau baik-baik saja?” Pria itu melangkah maju menghampiri.

Saking girangnya Kiang Bwe memegang kedua tangan pria yang ternyata suheng-nya itu. Pada waktu dia menjadi murid Pek Mau Siankouw selama lima tahun, gurunya itu sudah mempunyai murid laki-laki bernama Gu San Ki. Selama lima tahun Kiang Bwe belajar silat bersama suheng-nya yang banyak membimbingnya itu, maka tidaklah mengherankan apa bila hubungan mereka seperti kakak beradik saja.

“Suheng, angin apa yang membawamu datang ke sini? Dan bagaimana kabarnya dengan subo (ibu guru)?”

Gu San Ki tertawa dan sejenak mengamati sumoi-nya dari kepala sampai ke kaki, lantas berkata, “Engkau nampak sehat dan bahagia, sumoi. Syukurlah.”

Melihat para muridnya memandang kepada mereka, Kiang Bwe baru ingat dan berkata, “Ini adalah supek kalian. Beri hormat kepadanya. Dan tinggalkan kami.”

Tiga belas orang murid wanita itu segera memberi hormat kepada Gu San Ki, kemudian meninggalkan tempat itu.

“Duduklah, suheng, dan ceritakan segalanya,” kata wanita itu sambil tersenyum gembira.

San Ki memandang ke sekeliling lalu bertanya, “Nanti dulu, sumoi. Mana suamimu? Aku ingin berkenalan dengan dia.”

“Dia sedang mengurus panen di sawah, nanti juga dia pulang. Bagaimana kabarmu dan subo? Ceritakanlah, suheng, aku sudah rindu sekali kepada kalian.”

San Ki tersenyum. “Benarkah? Engkau nampak bahagia dan... makin cantik saja, sumoi. Maafkan aku yang tidak dapat hadir ketika engkau menikah, karena saat itu aku sedang tidak berada di rumah sedangkan subo sudah tua dan malas bepergian. Tentu suamimu gagah sekali bukan? Aku ingin berkenalan dengan pria yang beruntung sekali itu.”

“Beruntung?” tanya Kiang Bwe.

“Tentu saja. Pria yang berhasil menyuntingmu tentulah seorang pria yang paling beruntung di dunia ini!” kata San Ki dengan sikap sungguh-sungguh. “Engkau sudah menjadi ketua Kim-kok-pang, dan aku mendengar bahwa engkau sudah berhasil membimbing Kim-kok-pang ke jalan benar, berhasil memakmurkan anggotanya dan mempunyai seorang suami yang gagah perkasa dan mencinta.”

“Suheng, sudahlah. Aku ingin mendengar tentang subo. “Bagaimana subo sekarang?”

“Subo sudah tua, usianya sudah hampir delapan puluh tahun. Walau pun kesehatannya masih baik akan tetapi tubuhnya sudah lemah.”

“Ahh, aku rindu kepada subo,” kata Kiang Bwe menarik napas panjang.

“Dan tidak rindu padaku? Padahal aku rindu setengah mati kepadamu, sumoi,” kata San Ki sambil tersenyum. Kiang Bwe memandang wajah suheng-nya yang tampan gagah itu, kemudian tertawa.

“Tentu saja aku pun rindu kepadamu, suheng. Bagaimana keadaanmu sekarang? Kenapa sampai sekarang belum juga mengirim kartu merahmu kepadaku?”

“Ah, orang macam aku ini siapa yang sudi, sumoi? Setelah engkau menikah, rasanya aku tidak akan menikah selama hidupku...”

Mendengar ini dan melihat wajah suheng-nya nampak muram, Kiang Bwe terkejut sekali. Dia bangkit berdiri lantas menghampiri suheng-nya, meletakkan tangannya di atas pundak suheng-nya itu.

Suheng-nya ini selalu baik kepadanya dan ia menganggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri saja, maka kata-kata itu tentu saja sangat mengejutkan karena kata-kata itu jelas menyatakan bahwa suheng-nya mencintanya sebagai seorang pria mencinta wanita dan agaknya dahulu mengharapkannya menjadi isterinya akan tetapi kalah dulu oleh Kian Bu.

“Gu-suheng... ingat, aku adalah sumoi-mu dan sejak dulu kau sudah kuanggap sebagai kakak kandungku sendiri,” katanya lembut dan terharu.

San Ki menepuk-nepuk tangan yang berada di pundaknya itu. “Aku tahu, sumoi, memang sudah nasibku demikian...”

Pada saat itu terdengar suara orang. “Bagus sekali!”

Kiang Bwe meloncat saking kagetnya dan San Ki memutar tubuh dengan kaget. Di sana sudah berdiri Kiang Bu dengan muka merah dan mata mencorong.

“Ahh, Bu-koko, engkau sudah pulang? Perkenalkan, ini adalah suheng Gu San Ki yang pernah kuceritakan padamu. Sudah lama sekali, sejak aku meninggalkan subo, aku tidak pernah bertemu lagi dengan dia. Selama lima tahun kami berkumpul sebagai suheng dan sumoi dan....”

“Bagus, bagus sekali!” kata pula Kian Bu dan suara suaminya itu amat mengejutkan Kiang Bwe. “Ahh, sekarang aku mengerti. Alangkah bodohnya aku...” Dan Kian Bu berlari cepat memasuki rumah.

“Koko....!” Kiang Bwe mengejarnya masuk dan San Ki yang menjadi bingung dan khawatir juga mengejarnya.

Di dalam, Kian Bu sudah mengambil pedangnya serta buntalan pakaiannya. Dia bertemu dengan isterinya di ruangan depan.

“Koko, engkau hendak pergi ke mana?” teriak isterinya.

“Jangan pedulikan aku lagi. Aku tidak sudi merampas kekasih orang lain!”

“Apa maksud kata-katamu itu, koko?” tanya Kiang Bwe heran.

“Sudahlah, sekarang aku sudah mengerti semuanya. Aku telah menghancurkan hati dua orang kekasih. Sekarang engkau bebas, Kiang Bwe, dan aku tidak akan menghalanginya lagi. Engkau boleh kembali kepada kekasihmu yang lama...!” Sesudah berkata demikian, hatinya menjadi semakin panas.

Dia kini teringat bahwa isterinya itu sudah tidak perawan lagi ketika menikah dengannya. Dan suheng-nya itu sudah lima tahun hidup bersama Kiang Bwe, tentu suheng-nya itulah yang dahulu menjadi kekasihnya. Dia pun melompat pergi.

Di beranda depan dia bertemu dengan San Ki yang mencoba untuk menyadarkannya. “Saudara yang baik, harap jangan salah sangka. Aku....”

“Jangan engkau berani mencampuri urusanku!” bentak Kian Bu dan dia berlari terus.

Namun Kiang Bwe yang memiliki ginkang hebat itu sudah dapat menyusulnya di halaman depan. “Koko, engkau hendak pergi ke mana? Dengar dulu penjelasanku!”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, dan jangan menghalangiku kalau engkau tidak ingin mendengar makianku yang lebih keji lagi.”

“Koko..!” Akan tetapi Kian Bu sudah mengibaskan tangannya yang dipegang isterinya, lalu dia berlari cepat meninggalkan perkampungan Beng-kauw.

Kiang Bwe menangis sambil memasuki rumah. San Ki menyambutnya dengan prihatin.

“Sumoi, maafkan aku. Semua adalah kesalahanku belaka. Tidak seharusnya aku bersikap demikian... ahh… maafkan aku, sumoi.” Dia merasa menyesal bukan main sudah menjadi penyebab pertikaian antara suami isteri itu.

“Bukan salahmu, suheng. Sejak kami menikah memang Bu-koko telah bersikap cemburu dan penuh curiga. Ahhh...hu-hu-huhh....” Wanita muda itu lalu menangis tersedu-sedu.

Dia tahu bahwa perasaan cemburu Kian Bu makin menjadi-jadi. Dahulu suaminya itu mau menerima keterangannya di hadapan makam ayahnya dan sudah bersikap baik. Agaknya kecurigaannya itu kini muncul lagi bersama datangnya suheng-nya dan tentu suaminya itu menuduh bahwa dahulu dia menjadi kekasih suheng-nya.

Berat sekali pukulan bertubi yang diterimanya pagi itu. Pertama mendapatkan kenyataan bahwa suheng-nya mencintanya sebagai seorang laki-laki mencinta wanita, ini saja sudah merupakan pukulan yang berat baginya. Kemudian ditambah lagi dengan suaminya yang dipenuhi kecurigaan dan cemburu, dan kini pergi meninggalkan rumah.

San Ki menghela napas panjang. “Sumoi, akulah yang bersalah dan aku bersumpah untuk membawa suamimu kembali kepadamu.” Kemudian ia pun meninggalkan sumoi-nya yang masih menangis.

Kiang Bwe tidak mempedulikan kepergian suheng-nya. Bagaimana pun juga kedatangan suheng-nya itulah yang mengakibatkan kemarahan dan kepergian suaminya. Bahkan dia lalu berlari masuk ke dalam

Lebih satu jam lamanya Kiang Bwe menangis di ruangan dalam. Murid-muridnya merasa heran dan bingung melihat ketua mereka meninggalkan rumah dan ketua kedua atau isteri ketua itu menangis lantas masuk ke dalam rumah tidak keluar lagi. Itulah sebabnya ketika ada sepasang suami isteri datang berkunjung, mereka hanya mempersilakan kedua orang tamu itu duduk di ruangan tamu tanpa ada yang berani melapor ke dalam.

“Di mana ketua Souw Kian Bu?” tanya tamu pria kepada seorang murid yang menyambut mereka.

“Beliau sedang keluar,” jawabnya.

“Dan isterinya, Ji Kiang Bwe?” tanya tamu wanita.

“Ji-pangcu.....ehh, beliau berada di dalam...,” kata murid itu.

“Kalau begitu cepat laporkan. Katakan bahwa aku Yang Mei Li, dan suamiku, Sie Kwan Lee ketua Beng-kauw,” kata Yang Mei Li.

Mendengar bahwa tamunya itu ternyata adalah ketua Beng-kauw dan isterinya, murid itu terkejut sekali. Cepat dia memberanikan diri masuk ke dalam dan mendapatkan ketuanya sedang duduk termenung di dalam ruangan tengah.

Ji Kiang Bwe sudah berhenti menangis, namun masih duduk melamun dan dia pun marah melihat seorang murid berani masuk tanpa dipanggil.

“Mau apa engkau?!” bentaknya.

Murid itu segera menjatuhkan diri berlutut lantas melapor. “Maafkan saya, pangcu. Di luar datang dua orang tamu yang mengaku sebagai ketua Beng-kauw dan isterinya.”

Kiang Bwe meloncat bangun. “Ahh, mereka datang....?!”

Lupa akan keadaan dirinya, saking gembiranya Kiang Bwe langsung berlari keluar diikuti muridnya yang merasa lega bahwa ketuanya tidak jadi marah kepadanya.

“Mei Li...!”

“Kiang Bwe...!” Kedua orang wanita cantik itu saling rangkul dan saling mencium pipi.

Ketika mencium pipi Kiang Bwe inilah Mei Li melihat mata yang merah itu dan ada bekas air mata di pipinya. “Kiang Bwe, engkau... engkau baru menangis! Ada apakah? Di mana koko Souw Kian Bu...?”

Kiang Bwe merangkul, menahan isaknya. “Aku sedang bingung, Mei Li. Kebetulan engkau datang. Mari masuk, akan kuceritakan kepadamu. Ah, harap Sie-toako suka menunggu di sini dulu.” Dia memerintahkan muridnya untuk mengeluarkan minuman dan hidangan, lalu dia menarik Mei Li masuk ke dalam rumah.

Mei Li memberi isyarat kedipan mata kepada suaminya supaya suaminya maklum bahwa agaknya ada ‘urusan perempuan’ yang perlu dibicarakan mereka berdua. Sie Kwan Lee hanya mengangguk sambil tersenyum.

Sesudah tiba di ruangan dalam di mana tidak ada siapa-siapa kecuali mereka berdua, Mei Li dengan tidak sabar bertanya. “Kiang Bwe, apakah yang telah terjadi?”

“Duduklah, Mei Li, biarkan aku mengambil napas dulu. Semenjak tadi hatiku amat sesak dan tertekan. Ketahuilah, baru beberapa jam yang lalu suamiku pergi meninggalkan rumah dalam keadaan marah.”

“Ehh...? Rasanya tak mungkin Bu-koko segalak itu. Setahuku, Bu-koko orangnya periang dan sabar. Ada peristiwa apakah, Kiang Bwe?”

“Mula-mula suheng-ku datang saat Bu-koko berada di sawah. Kami girang sekali dengan pertemuan itu, karena semenjak aku meninggalkan subo, kami tidak pernah saling jumpa. Aku dan suheng-ku sudah seperti saudara saja sehingga pembicaraan kami akrab sekali. Kemudian suamiku datang dan melihat aku bicara akrab dengan suheng-ku, suamiku lalu menjadi marah-marah dan pergi meninggalkan aku.”

“Ahh, sukar dipercaya. Kakakku tidaklah semudah itu marah dan...agaknya dia cemburu. Akan tetapi kalau dia tahu bahwa pria itu suheng-mu, tidak semestinya dia cemburu.”

Kiang Bwe menghela napas panjang. “Bukan salah dia, Mei Li, akan tetapi kesalahannya terletak kepadaku.”

Mei Li mengerutkan alisnya. “Apa? Maksudmu engkau... dan suheng-mu itu...”

“Ihhh, jangan menduga yang bukan-bukan, Mei Li. Sejak pernikahan kami, saudaramu itu memang sudah menaruh cemburu kepadaku. Agaknya perasaan itu dipendamnya selama ini dan meledak ketika melihat aku bicara akrab dengan suheng.”

“Akan tetapi mengapa dia cemburu sejak menikah, Kiang Bwe? Tentu ada sebabnya.”

“Memang ada sebabnya. Pada malam pengantin yang pertama itu... dia... dia mengakui bahwa keperawananku sudah hilang.”

Mei Li melompat berdiri dan mukanya merah ketika dia menatap wajah Kiang Bwe. “Kiang Bwe, apa maksudmu? Kau maksudkan bahwa engkau... engkau... sudah...”

“Ya, Mei Li, akan tetapi jangan salah sangka seperti kakakmu itu. Aku telah menjelaskan kepadanya, malah bersumpah di depan makam ayahku yang menjadi satu-satunya saksi bahwa peristiwa itu terjadi karena ayah memaksaku berlatih tendangan berantai. Latihan itu terlalu keras sehingga aku terjatuh kemudian terjadi pendarahan. Bu-koko sudah dapat menerima alasan ini, dan selama ini agaknya dia sudah tidak mengingatnya lagi. Namun ketika dia melihat aku bercakap-cakap dengan suheng dan nampak amat akrab, agaknya cemburu itu muncul kembali dan dia... dia marah-marah lalu pergi...” Kiang Bwe menangis lagi.

Mei Li mengangguk-angguk. Mengertilah dia sekarang dan dia tidak terlalu menyalahkan kakaknya walau pun Kiang Bwe juga tidak bersalah. Sebuah keadaan yang sangat rumit akibat cemburu buta. Melihat Kiang Bwe menangis sedih, Mei Li maklum bahwa wanita ini amat mencinta suaminya dan ini merupakan pertanda baik baginya.

“Dan suheng-mu itu, di mana dia?” tanyanya.

“Suheng Gu San Ki juga melihat kepergian dan kemarahan suamiku. Dia merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kejadian itu. Dia lalu pergi dan berjanji akan mengembalikan suamiku kepadaku.”

Mei Li menghela napas panjang. “Sungguh mati tidak kusangka ada peristiwa seperti ini di sini. Sedangkan aku datang ini pun hendak menceritakan peristiwa gawat yang terjadi di Beng Kauw.”

Kiang Bwe seperti melupakan keadaannya sendiri. Dia berhenti menangis dan mengusap air matanya, memandang kepada Mei Li penuh perhatian. Ketika bertanya dia sudah tidak menangis lagi. “Mei Li, peristiwa gawat apakah yang menimpa engkau dan suamimu?”

“Bagaimana kalau sekarang kita ajak suamiku untuk turut bicara? Masalahmu sudah kau bicarakan kepadaku. Kalau bertemu dengan Bu-koko, aku berjanji akan membujuknya dan menjelaskan kepadanya bahwa cemburunya itu adalah cemburu buta. Sekarang kita bicarakan soal Beng-kauw, bersama suamiku.”

“Baiklah, Mei Li, mari kita bicara di ruang belakang dan kita persilakan suamimu masuk.” Dua orang wanita muda itu lalu mengundang Sie Kwan Lee menuju ke ruangan belakang di mana mereka bercakap-cakap tanpa diganggu orang lain.

“Nah, sekarang ceritakan apa yang telah terjadi di Beng-kauw,” kata Kiang Bwe sesudah suami isteri itu mengambil tempat duduk. “Sepanjang yang kudengar, kalian telah berhasil membawa Beng-kauw maju pesat dan membersihkan nama Beng-kauw. Mengapa kalian bilang terjadi hal yang gawat?”

“Kami telah diserbu oleh Kui-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong,” kata Mei Li.

Kiang Bwe membelalakkan kedua matanya. “Apa? Dua ekor kutu busuk itu masih berani membuat ribut? Hemm, mereka memang lihai, akan tetapi bukankah mereka telah kalah ketika terjadi penyerbuan di Hoat-kauw?”

“Mereka berdua datang dan bermaksud hendak membalas dendam atas kematian Tong Seng Gun, cucu dari Kui-jiauw Lo-mo. Akan tetapi kami berhasil mengusir mereka dengan kekuatan kami berdua beserta para pembantu kami. Mereka dapat diusir dan kami hanya menderita beberapa orang anggota kami yang terluka,” kata Sie Kwan Lee.

Kiang Bwe mengangguk. “Ahh, jadi mereka ingin membalas dendam atas kematian Tong Seng Gun yang tewas di tangan Sie-pangcu! Sungguh manusia tidak tahu malu. Cucunya yang sesat dan jahat, masih hendak dibalaskan kematiannya. Orang macam Tong Seng Gun itu, biar mati seratus kali juga masih belum sepadan dengan dosa-dosanya.”

“Orang-orang sesat macam mereka itu mana mungkin bisa menghentikan atau mengubah watak mereka yang buruk? Mereka sudah menjadi budak-budak nafsu, maka sampai mati pun agaknya akan tetap menjadi budak nafsu,” kata Mei Li.

“Lalu sekarang ke mana kalian hendak pergi?” tanya Kiang Bwe.

Yang menjawab adalah Sie Kwan Lee. “Kami hendak merantau, mengunjungi partai-partai persilatan besar untuk melihat bagaimana sikap tanggapan mereka terhadap Beng-kauw. Kami khawatir kalau orang-orang seperti Sam Mo-ong akan menggunakan siasat dengan memburuk-burukkan nama baik Beng-kauw.”

“Jika bertemu dengan Sam Mo-ong dan hendak menyerang mereka, kabarkan kepadaku. Tentu aku akan membantu kalian sekuat tenagaku,” kata ketua Kim-kok-pang itu dengan penuh semangat.

“Kalau kebetulan kami bertemu dengan mereka, tentu kami akan menentang mereka. Di mana-mana tentu terdapat orang gagah yang akan membantu kami menentang Sam Mo-ong. Perjalanan ini betujuan untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan partai-patai lain sesudah nama Beng-kauw dibersihkan, selagi kami belum memiliki anak sehingga dapat lebih leluasa mengadakan perjalanan,” kata Mei Li.

“Mungkin aku pun tidak akan lama tinggal di rumah,” Kiang Bwe mengeluh. “Kalau dalam waktu beberapa pekan ini suamiku belum juga pulang, maka aku akan mencarinya hingga dapat!” Kiang Bwe menahan tangisnya yang sudah berada di ujung bibirnya sehingga bibir itu nampak gemetar.

“Aku yakin bahwa Bu-koko pasti akan pulang, Kiang Bwe. Aku kenal betul wataknya. Dia bukan seorang yang kejam dan tidak dapat menyadari kesalahannya.”

Pasangan suami isteri Beng-kauw itu tinggal selama tiga hari di Kim-kok-pang, kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan dan meninggalkan Kiang Bwe yang masih tenggelam di dalam kesedihan karena kepergian suaminya tercinta…..

********************

Dengan sikap waspada Han Lin memasuki hutan di lereng bukit itu. Dia merasa betapa hutan yang lebat itu amat gawat. Pantasnya hutan lebat itu dihuni setan dan iblis. Seorang petani yang dia tanyai jalan memperingatkan agar dia tidak mengambil jalan melalui hutan itu, melainkan memutar dan mengelilingi bukit, akan tetapi jalan terdekat adalah melewati hutan yang merupakan jalan pintas. Jika dia melalui hutan itu, dalam waktu setengah hari dia akan sampai di Souw-ciu, sedangkan kalau memutari bukit, makan waktu satu hari.

“Jarang ada yang berani melewati hutan itu, orang muda. Banyak binatang buas, ular-ular besar, bahkan kabarnya semua pelarian dan buruan pemerintah, penjahat-penjahat kejam, selalu menyembunyikan diri ke dalam hutan itu dan sukar ditemukan lagi.”

“Paman, perampok atau orang jahat hanya mengincar harta. Kalau aku tidak mempunyai apa-apa, tentu tidak akan diganggu,” kata Han Lin dan pagi itu dia pun memasuki hutan dengan sikap waspada.

Dua jam kemudian dia tiba di tengah hutan yang lebat. Memang nampak beberapa ekor binatang hutan, akan tetapi mereka sama sekali tidak mengganggunya, bahkan mereka berlarian ketika dia muncul.

Akan tetapi tiba-tiba dia mencurahkan perhatian dan bersikap waspada. Di sebelah depan ada gerakan-gerakan yang bukan gerakan binatang. Dia segera berhenti melangkah dan benar saja, dari balik rumpun belukar serta pohon-pohon besar, bahkan dari atas pohon, berlompatan lima belas orang yang berpakaian hitam dan mereka semuanya memegang senjata, ada yang memegang golok, pedang atau tombak. Sikap mereka mengancam dan mereka segera bergerak mengepungnya.

Han Lin berdiri tenang dan penuh kewaspadaan namun sikapnya santai saja seolah tidak mengerti akan ancaman orang-orang itu. Sesudah melihat seorang yang berkumis serta berjenggot lebat, bertubuh tinggi besar berdiri di depannya, dia tahu bahwa itulah kepala gerombolan itu, maka dia bertanya dengan lagak bodoh.

“Saudara-saudara, selamat pagi. Kalian hendak ke manakah? Harap suka memberi jalan kepadaku.”

Semua orang tertawa seolah ucapan pemuda itu terdengar lucu, kemudian si kumis tebal membentak. “Orang muda, cepat serahkan semua milikmu kalau engkau tidak ingin kami bunuh!” Lantas si kumis tebal itu mengamangkan golok besarnya yang berkilauan saking tajamnya.

Han Lin bersikap tenang dan seperti orang bingung ia pun bertanya. “Saudara-saudara ini minta milikku! Milikku hanya pakaian tua, tidak ada harganya. Harap jangan mengganggu seorang miskin seperti aku. Lihat aku hanya mempunyai pakaian tua dan tongkat butut ini.”

“Ha-ha-ha-ha!” Si kumis tebal tertawa, mulutnya terbuka lebar sehingga bau memuakkan dari mulutnya menyergap hidung Han Lin. Maka terpaksa dia mundur dua langkah. “Orang muda, jangan berlagak tolol. Yang kami maksudkan, serahkan pedang di dalam buntalan itu!”

“Pedang...?” Han Lin masih berlagak tolol untuk memancing sampai di mana pengetahuan orang itu tentang Ang-in Po-kiam.

“Jangan berlagak bodoh. Pedang Awan Merah di punggungmu itu, serahkan kepada kami untuk ditukar dengan nyawamu!”

Han Lin tidak merasa heran. Setelah dia memperlihatkan pedang di dalam pertemuan Cin-ling-pai itu, tentu saja beritanya sudah tersebar luas. Dia pun tahu bahwa dia menghadapi bahaya karena tentu banyak orang yang berlomba untuk merampas pedang itu. Ada yang memang ingin memilikinya, ada pula yang ingin memperoleh hadiah besar dan kedudukan dari kaisar.

“Ahh, itu yang kau maksudkan? Tidak semudah itu, kawan. Sebaiknya kalian mundur saja karena aku tidak suka jika terpaksa harus memberi hajaran kepada kalian.” Sekarang dia melintangkan tongkat bututnya di depan dada.

Si kumis tebal lalu memberi aba-aba kepada kawan-kawannya yang serentak menyerbu kepada Han Lin. Banyak golok, pedang dan tombak meluncur ke arah tubuhnya. Han Lin menggerakkan tongkatnya dan... tiba-tiba saja angin badai bertiup menyambut lima belas orang itu.

Begitu tongkat butut itu digerakkan maka berpelantinganlah lima belas orang itu, ada yang terjengkang, ada yang tersungkur, ada yang terpelanting dan mereka semua mengaduh-aduh. Ada yang kepalanya benjol, ada yang giginya rontok, hidungnya berdarah, salah urat atau patah tulang. Sesudah semua orang roboh dalam waktu singkat sekali, Han Lin segera menghentikan gerakan tongkatnya.

“Kalian perampok-perampok cilik hanya mengganggu orang yang tidak bersalah. Sekali ini aku mengampunimu, akan tetapi lain kali jangan harap aku akan mau melepaskan kalian!” katanya sambil menggerakkan tongkat bututnya, dan datanglah angin besar seperti angin topan yang merontokkan daun-daun dari pohon di sekitar tempat itu. Melihat ini, tanpa menanti perintah para perampok itu segera melarikan diri cerai berai ke empat jurusan.

Han Lin melanjutkan perjalanan dan setelah matahari mulai condong ke barat, tibalah dia di luar kota Souw-ciu. Dia tidak mau segera memasuki kota karena dia menduga bahwa tentu banyak tokoh kang-ouw dari golongan hitam yang akan menghadangnya dan sudah menantinya di sana. Dia tidak ingin menimbulkan keributan di dalam kota, maka memilih sebuah kuil tua yang berdiri di luar kota itu untuk beristirahat.

Tadinya dia mengira bahwa kuil tua itu yang sudah tidak dipergunakan lagi. Namun begitu dia memasukinya, ternyata tiga orang hwesio penjaga kuil datang menyambutnya dengan sikap sopan akan tetapi mereka itu lebih banyak berdiam diri.

“Maafkan apa bila saya mengganggu, Sam-wi losuhu (tiga pendeta tua). Saya bermaksud untuk menginap satu malam di sini kalau sam-wi tidak berkeberatan.”

“Silakan, sicu. Akan tetapi di sini tidak tersedia makanan enak, hanya ada nasi dan sayur sederhana saja,” kata hwesio tertua yang usianya sekitar enam puluh lima tahun.

“Terima kasih, losuhu. Nasi dan sayur sederhana amat lezat bagi perut yang lapar,” kata Han Lin.

“Omitohud…, silahkan, sicu. Sicu boleh menempati kamar itu.”

Kamar itu kotor, hanya ada sebuah dipan. Agaknya lantainya baru saja dibersihkan dan temboknya sudah penuh lumut. Juga keadaan di ruangan lain kuil itu menunjukkan bahwa kuil itu memang tidak terawat.

Han Lin memasuki kamarnya dan menaruh buntalan pakaian di atas dipan karena di sana tidak ada meja. Dia mendengar hwesio tua tadi sedang membaca liam-keng (doa) sambil mengetuk-ngetuk kayu yang terdengar berirama.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner