PEDANG AWAN MERAH : JILID-10


Setelah hari mulai gelap, seorang hwesio mempersilakan Han Lin untuk mandi. Bak mandi berada di belakang dan sudah terisi air, kata hwesio itu.

Han Lin merasa tidak enak kalau dia harus merepotkan para hwesio di situ. Maka dia pun menggendong buntalan pakaiannya, di dalam mana terdapat Pedang Awan Merah, lantas menjenguk ke tempat mandi. Ada tiga buah bak besar di situ, dua bak sudah terisi penuh, sedangkan yang satu bak lagi masih kosong.

Dia bertanya kepada hwesio itu di mana sumber airnya dan sesudah diberi tahu, dia lalu memanggul pikulan dengan dua buah tempat air dan pergi ke sumber air. Dengan cepat dia dapat memenuhi satu bak yang masih kosong, barulah dia mandi. Terasa segar dan sejuk sekali, rasa lelah bagaikan tercuci bersih bersama debu yang mengotori tubuh dan pakaiannya.

“Sicu, silakan makan,” kata hwesio tadi.

Dia pun mengikuti hwesio itu pergi ke ruangan tengah di mana tiga orang hwesio itu lalu duduk menghadapi meja makan. Han Lin waspada, khawatir kalau-kalau para hwesio itu orang jahat yang menyamar dan akan meracuninya.

Akan tetapi mereka mengambil nasi serta lauk sayur sederhana dari tempat yang sama. Dia tidak takut diracuni karena tubuhnya sudah kebal terhadap racun. Akan tetapi di dunia kang-ouw terdapat orang-orang yang sangat berbahaya, dan siapa tahu ada racun yang mampu menembus kekebalannya.

Sesudah melihat mereka makan dari nasi dan sayur yang sama, Han Lin lalu makan dan ternyata memang benar. Perut kosong ditambah kelelahan yang sudah diusir oleh mandi yang menyegarkan badan merupakan lauk yang paling lezat. Nasi biasa saja terasa amat harum dan gurih, apa lagi ditambah sayur.

Han Lin berterima kasih sekali kepada tiga orang hwesio itu, bukan saja karena dia telah mendapat makanan dan bisa membersihkan tubuh lalu akan diberikan pula tempat untuk melewatkan malam, akan tetapi terutama sekali karena mereka itu membuktikan bahwa mereka bukanlah komplotan yang akan mengganggunya atau mengincar pedangnya.

Malam itu Han Lin tidur dengan hati tenang. Dia meletakkan buntalan pakaiannya di dekat kepalanya, bahkan menggunakan pakaiannya sebagai ganjal kepala.

Dia tertidur pulas sekali sehingga tanpa diketahuinya, lewat tengah malam ada asap yang memasuki kamarnya lewat jendela! Asap itu berwarna hitam dan tebal. Kemudian tiba-tiba saja terdengar gembreng dan kaleng dipukul orang dengan gencar di luar pintu dan jendela kamar itu, menimbulkan suara yang berisik sekali.

Han Lin terkejut bukan main sehingga seketika itu pula terbangun dari tidurnya. Ketika dia meloncat turun dari dipan, dengan diselubungi asap hitam tebal, dia mendengar sambaran angin menuju ke arahnya.

Cepat dia menggerakkan kedua tangannya, mengerahkan sinkang dan memukul dengan hawa dari tenaga saktinya. Maka runtuhlah anak panah dan piauw yang menyambar dari segala penjuru itu. Tapi sambaran senjata rahasia datang semakin gencar sehingga Han Lin meraba tongkatnya yang berada di pembaringan, lantas memutar tongkatnya sambil melompat ke arah jendela dari mana masuk asap hitam itu.

“Brakkkk...!”

Daun pintu itu jebol, lantas tongkatnya meluncur mengenai dada seorang yang memegang bambu yang dipakai untuk menyemprotkan asap hitam itu.

“Aduhh...!” Orang itu terjengkang dan dari sinar lampu yang tergantung di luar, ternyata bahwa orang itu adalah hwesio kepala yang baik hati tadi.

Dari kanan kiri menyambar senjata golok. Gerakan dua golok itu cukup kuat sehingga Han Lin cepat melompat mundur untuk melihat siapa pengeroyoknya itu. Ternyata dua orang hwesio yang lain! Maka tahulah dia bahwa tiga orang hwesio itu memang penjahat yang menyamar seperti yang dikhawatirkannya.

Agaknya tadi mereka memang tidak memperlihatkan rahasia mereka sehingga Han Lin percaya penuh dan tidur nyenyak. Sesudah mengetahui bahwa mereka adalah tiga orang hwesio tadi, Han Lin lalu menggerakkan tongkatnya dua kali dan dua orang hwesio yang bersenjata golok itu pun roboh.

Han Lin teringat akan buntalan pakaiannya. Selagi dia hendak melompat masuk kembali tiba-tiba ada serangan yang demikian hebat sehingga terpaksa dia melompat mundur lagi. Serangan itu merupakan angin dingin menyusup tulang dan tenaganya hebat bukan main. Begitu dia melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari pukulan jarak jauh yang dahsyat itu, kembali dari kirinya menyambar pukulan yang amat panas.

“Sam Mo-ong...!” serunya kaget.

Dia tahu bahwa orang-orang yang dapat menyerang seperti itu hanyalah Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong, maka dia pun bersikap waspada karena cuaca demikian gelapnya. Setelah dia dapat mengelak dari dua pukulan itu, dia lalu memutar tongkatnya melindungi dirinya.

Terlihat bayangan banyak orang berkelebat yang mencoba menyerangnya dari kegelapan. Han Lin segera menggerakkan tongkatnya, memukul roboh beberapa orang dan tiba-tiba saja semua bayangan itu lenyap dalam kegelapan malam. Juga Hek bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong tidak nampak lagi.

Dengan gelisah Han Lin segera melompat ke dalam kamarnya melalui jendela. Kamar itu masih penuh dengan asap hitam sehingga Han Lin tidak dapat melihat apa pun. Dia cepat menghampiri dipan, meraba-raba dan... buntalan pakaiannya telah lenyap tanpa bekas!

Han Lin amat terkejut, kemudian marah bukan main setelah merasa yakin bahwa buntalan pakaian berikut Pedang Awan Merah sudah lenyap. Dia mengeluarkan suara melengking nyaring kemudian tubuhnya berkelebat keluar.

Akan tetapi setibanya di luar keadaan sunyi saja tidak nampak seorang pun manusia atau sesosok pun bayangan. Para hwesio dan beberapa orang yang dirobohkan tadi pun sudah lenyap. Dia tahu bahwa dia telah terjebak, dipancing keluar lalu pedangnya diambil orang.

“Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong pengecut curang!” teriaknya dengan suara lantang yang menggetar hingga bergema di seluruh hutan. “Sam Mo-ong, kembalikan pedangku! Kalau kalian memang gagah, hayo keluar dan kita bertanding secara gagah!”

Sia-sia saja dia berteriak-teriak sampai tenggorokannya serak. Yang menjawabnya hanya gema suaranya sendiri. Dengan lampu gantung di tangan, dia segera memeriksa seluruh bagian kuil. Ternyata itu memang kuil kosong yang dipakai untuk menjebaknya. Dengan mendongkol sekali terpaksa dia melewatkan malam di kamarnya yang tadi, karena tidak mungkin mengejar atau melakukan pencarian di hutan pada malam yang gelap pekat itu.

Pada keesokan harinya, sesudah terang tanah, dia keluar dari kuil dan betapa dongkolnya ketika melihat buntalan pakaiannya tergantung di ranting sebatang pohon di luar kuil. Dan tentu saja pedangnya sudah tidak berada di dalam buntalan.

“Jahanam busuk, bedebah pengecut!” makinya dengan gemas, gemas kepada diri sendiri yang begitu mudah percaya kepada tiga orang hwesio, mudah saja ditipu musuh sehingga pedang pusaka itu lenyap. Akan tetapi ke mana dia harus mencari?

Sudah dapat dipastikan bahwa serangan semalam itu dilakukan oleh Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong. Akan tetapi apakah yang lainnya itu adalah anak-anak buahnya, ataukah dari golongan lain? Siapa yang mencuri pedangnya itu, Sam Mo-ong ataukah orang lain? Dia tidak merasa heran kalau Sam Mo-ong mengetahui bahwa Ang-in Po-kiam berada di tangannya. Pertama, dulu Sam Mo-ong juga hadir ketika Hoat-kauw diserbu oleh pasukan dan kedua, tokoh Hoat-kauw yang hadir di pertemuan Cin-ling-pai itu tentu menceritakan segalanya kepada Sam Mo-ong.

Dengan langkah gontai karena hatinya merasa kecewa dan gelisah, Han Lin keluar dari hutan lebat hendak melanjutkan perjalanan ke Souw-ciu. Ke mana lagi mencari jejak Sam Mo-ong kalau tidak ke Souw-ciu. Kota itu merupakan kota terdekat dan kiranya para datuk itu tentu pergi ke sana sebelum melanjutkan perjalanan entah ke mana.

Ketika sudah berada di dekat kota Souw-ciu, dari arah belakangnya mendadak terdengar derap kaki kuda. Han Lin yang sedang murung tidak mempedulikan ini, hanya melangkah ke tepi. Seekor kuda putih yang besar dan kuat lewat dengan cepat, dan penunggangnya adalah seorang wanita muda yang berpakaian ringkas warna hijau. Rambutnya riap-riapan tertiup angin dan ketika lewat di dekat Han Lin, pemuda ini dapat mencium aroma harum yang menyengat hidung.

Dia menjadi tertarik lalu memperhatikan wanita itu. Tubuhnya ramping sekali dan melihat dia duduk di atas kuda yang membalap itu dengan enaknya, amat serasi dengan gerakan kuda, seolah dia adalah penunggang kuda yang mahir sekali.

Akan tetapi mendadak kuda itu berhenti, mengangkat kedua kaki depan sambil memutar tubuh. Sepasang mata yang seperti mata burung Hong itu menatapnya dan kuda itu pun dijalankan kembali menghampirinya.

Han Lin bersikap tenang namun hatinya merasa tegang juga. Gadis jelita ini jelas sedang menghampirinya dan sesudah kini menghadapnya, dia melihat betapa jelitanya gadis itu. Gadis itu kelihatannya baru berusia dua puluh tahun, tetapi pembawaannya sudah matang betul.

Pinggang ramping, pinggul besar dan tubuh itu memiliki lengkung lekuk yang menantang. Wajahnya bulat telur dan kulit mukanya putih kemerahan, dengan rambut hitam panjang terurai. Alisnya kecil hitam panjang melengkung, sepasang matanya indah seperti mata burung Hong, hidung mancung dan mulutnya mendebarkan hati Han Lin.

Entah mana yang lebih indah, matanya atau mulutnya karena kedua bagian muka ini yang memiliki daya tarik luar biasa. Dagunya runcing dihiasi setitik tahi lalat hitam. Pendeknya seorang gadis yang cantik jelita! Pakaiannya yang berwarna hijau amat ketat dan ringkas sehingga mencetak tubuhnya. Pada punggungnya tergantung sepasang pedang.

Kuda itu berhenti tepat di hadapan Han Lin sehingga membuat Han Lin terpaksa menahan langkahnya kemudian memandang dengan mata bertanya.

Gadis itu melompat turun dengan gerakan ringan seperti seekor burung dan dia melepas kudanya begitu saja. Tentu seekor kuda yang sudah terlatih dengan baik.

Melihat gadis yang jelas-jelas menghadangnya itu, Han Lin yang sedang murung menjadi jengkel. “Nona, apa maksudmu menghadang perjalananku?” tanyanya. Kalau saja Han Lin tidak sedang murung, tentu sukar bersikap dingin terhadap seorang gadis sejelita ini, akan tetapi dia sedang marah dan jengkel.

“Sia Han Lin, tidak perlu banyak cakap lagi. Serahkan Ang-in Po-kiam kepadaku!” berkata wanita itu dan cara bicaranya sungguh angkuh sekali. Mendengar ucapan ini, kemarahan hati Han Lin berubah menjadi kegelian hati dan dia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha... alangkah lucunya!”

Tentu saja gadis itu mengerutkan alisnya dan membentak. “Tidak perlu membadut di sini. Cepat serahkan pedang pusaka di buntalanmu itu atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!”

“Buntalan pakaianku ini? Engkau menghendaki ini?” Perlahan-lahan Han Lin menurunkan buntalannya kemudian melemparkannya ke arah gadis itu sambil berseru, “Nah, makanlah buntalan ini!”

Karena sedang jengkel, lalu mendengar wanita itu hendak merampas pedang yang telah dicuri orang, Han Lin pun sengaja mengerahkan tenaganya ketika melemparkan buntalan pakaiannya ke arah gadis itu. Wanita baju hijau itu dengan sigap menjulurkan tangan kiri menyambut, kemudian dengan mudahnya dia menerima lemparan buntalan pakaian itu.

Diam-diam Han Lin terkejut. Lemparannya mengandung tenaga sinkang yang cukup kuat, akan tetapi gadis itu menerimanya begitu mudah. Ini hanya membuktikan bahwa gadis ini bukan orang sembarangan, tetapi sudah memiliki tenaga sinkang yang kuat sekali.

Setelah menerima buntalan itu kemudian menekan-nekannya, gadis itu maklum bahwa di dalamnya tidak terdapat pedang, maka dia melontarkan buntalan kembali kepada Han Lin.

“Terimalah kembali barangmu!”

Han Lin menjulurkan tangan menangkap. Terasa olehnya betapa kuatnya tenaga lontaran itu. “Hemm, kukira engkau menghendaki pakaianku,” dia mengejek.

“Sobat, tidak baik bermain-main di depan Jeng-i Sianli (Dewi Baju Hijau) Cu Leng Si. Aku menghendaki Pedang Awan Merah. Hayo serahkan kepadaku!”

“Nama yang bagus, Cu Leng Si dan julukannya juga bagus, Dewi Baju Hijau, akan tetapi wataknya jauh dari pada bagus. Seorang gadis cantik jelita ingin merampok, mana patut?”

“Sudahlah, jangan banyak cerewet. Aku sangat membutuhkan pedang itu, dan pedang itu pun bukan milikmu. Di mana kau sembunyikan pedang pusaka itu?”

“Hemm, Cu Leng Si, dalam urusan rampok-merampok atau curi-mencuri agaknya engkau masih harus belajar banyak. Engkau telah didahului orang lain, semalam pedang itu telah dicuri oleh Sam Mo-ong. Sekarang aku juga sedang mencari mereka, tetapi engkau malah muncul untuk merampoknya dariku. Ha-ha-ha, bukanlah itu lucu sekali?”

Gadis itu mengerutkan alisnya yang hitam panjang melengkung seperti dilukis itu. Kedua matanya yang seindah mata burung Hong kini mencorong seperti mata naga.

“Aku tidak percaya! Tak perlu menggunakan nama Sam Mo-ong, aku tidak takut kepada mereka. Sia Han Lin, kuhitung sampai tiga, kalau engkau belum juga menyerahkan Ang-in Po-kiam kepadaku, jangan salahkan aku kalau pedangku akan memenggal lehermu!”

“Singg-singgg...!”

Nampak dua sinar berkelebat dan tahu-tahu kedua tangan wanita itu sudah memegang masing-masing sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

“Cu Leng Si, engkau sudah memiliki dua batang pedang yang amat baik, tetapi mengapa masih menghendaki Ang-in Po-kiam? Alangkah murkanya engkau. Terserah engkau mau percaya atau tidak percaya kepadaku. Kenyataannya pedang itu memang telah dicuri oleh Sam Mo-ong semalam, ketika aku bermalam di kuil tua itu!”

“Bohong! Sekali lagi aku mulai menghitung, satu... dua... tiga..!”

Dan sinar pedang itu mencuat, menyambar ke arah leher Han Lin dengan kecepatan kilat.

“Empat... lima... enam... tujuh...” Han Lin mengelak sambil melanjutkan hitungan gadis itu yang berhenti sampai tiga. “Wah, engkau sungguh ganas dan kejam sekali, Jeng-i Sianli. Benar-benar tidak sesuai dengan julukanmu. Engkau memakai julukan Sianli (Dewi), akan tetapi engkau galak seperti kuntilanak!”

“Kuntilanak? Kau... kau...!”

Dan kini Jeng-i Sianli Cu Leng Si mengamuk. Sepasang pedangnya menyambar-nyambar ganas. Kalau tadi dia hanya ingin menggertak saja supaya Han Lin menyerahkan pedang pusaka, kini dia menyerang dengan siang-kaimnya untuk membunuh!

Han Lin kagum sekali. Ilmu siang-kiam dari gadis ini hebat bukan main, mengingatkan dia kepada adik misannya Yang Mei Li yang berjuluk Hui-kiam Sianli (Dewi Pedang Terbang). Yang Mei Li juga menggunakan sepasang pedang terbang yang gerakannya sangat hebat dan cepat, bahkan sepasang pedangnya itu dapat ‘diterbangkan’ dengan dikendalikan tali sutera panjang.

Melihat pedang menyambar cepat dia pun meloncat ke belakang untuk mengelak. Ketika pedang kedua menyusulkan serangan yang makin ganas, Han Li menggerakkan tongkat hitamnya menangkis.

“Tranggg...!”

Keduanya merasa kagum. Jeng-i Sianli merasa betapa tangannya tergetar, demikian pula Han Lin. Wanita itu tidak lama tertegun, namun sudah menerjang lagi dengan tusukan dan bacokan pedangnya. Tongkat itu berputar cepat, menangkis dan balas menyerang. Ketika sepasang pedang bergerak semakin hebat dan nampak dua gulungan sinar kehijauan, Han Lin tidak ragu lagi untuk mengeluarkan kepandaiannya.

Gadis ini memang lihai, tidak kalah dibandingkan dengan seorang di antara Sam Mo-ong sekali pun! Maka dia lalu memainkan Tongkat Kilat dan Badai. Angin besar menyambar-nyambar hingga membuat baju hijau itu berkibar. Dan rambut hitam panjang yang hanya diikat dengan sutera merah itu juga berkibar-kibar seperti bendera hitam.

Jeng-i Sianli Cu Leng Si mengeluarkan teriakan melengking. Dia merasa kagum dan juga penasaran sekali. Sepasang pedangnya mengamuk bagaikan gelombang samudera. Han Lin merasa gembira mendapat lawan yang demikian tangguh. Dia mengubah gerakannya lagi dan mainkan tongkatnya dengan Khong-khi-ciang.

Sekarang tongkat Han Lin menyambar-nyambar tanpa menimbulkan angin pukulan sama sekali, tahu-tahu sudah mendekati sasaran dan mengancam jalan darah penting sehingga beberapa kali Cu Leng Si menjerit kaget. Tetapi gadis itu ternyata mampu menghindarkan semua serangan Han Lin.

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan bunyi seperti suling melengking-lengking, lalu dari balik belukar dan pohon-pohon di tepi jalan, belasan orang berlompatan dari atas kuda mereka dan langsung mengepung Han Lin. Mereka semua adalah wanita-wanita yang berusia dari dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun dan melihat gerakan mereka ternyata semua wanita itu gesit dan dapat bergerak cepat sekali!

Han Lin terheran-heran. Akan tetapi dia harus memutar tongkatnya karena belasan orang wanita itu sudah menggerakkan jala sutera yang menyerang dari berbagai jurusan, masih ditambah lagi serangan sepasang pedang Dewi Baju Hijau sendiri.

Betapa pun lihainya Han Lin, namun kalau dalam perkelahian dia tidak mau melukai atau membunuh para pengeroyoknya, tentu saja dia terdesak hebat. Kalau dia mau bertindak kejam, merobohkan para pengeroyoknya, kiranya tak mungkin Jeng-i Sianli dan lima belas orang anak buahnya itu akan mampu menangkapnya. Akan tetapi Han Lin merasa yakin bahwa mereka itu bukan orang-orang jahat, walau pun ilmu silat mereka hebat dan sikap mereka hendak menangkapnya.

Beberapa helai jala lantas menimpanya sehingga dia seperti seekor ikan besar dalam jala, meronta akan tetapi tak mampu keluar lagi. Tongkatnya bukan senjata tajam, tidak dapat membobol jala sutera yang kuat itu. Sebuah totokan dari Jeng-i Sianli yang istimewa telah membuat tubuh Han Lin menjadi lemas. Wanita itu lalu mengikatnya dalam gulungan jala bersama tongkatnya.

“Kalian pergilah, pulang lebih dulu dan siapkan kamar tahanan untuk orang ini!” katanya kepada belasan orang wanita itu yang segera menunggangi kuda mereka lalu lenyap ke dalam hutan di tepi jalan.

Cu Leng Si menghampiri Han Lin yang tidak mampu bergerak, hanya meringkuk di dalam jala. “Nah, sekarang engkau telah menjadi tawananku. Cepat katakan di mana Ang-in Po-kiam dan mungkin saja aku akan membebaskanmu!” katanya dengan ketus.

Totokan itu hanya membuat Han Lin tak mampu menggerakkan kaki dan tangannya. Dia pun tertawa mengejek. “Ha-ha-ha, baru sekali ini aku melihat seorang dewi berhati kejam seperti kuntilanak. Kita belum pernah saling mengenal, belum pernah berurusan, tidak ada permusuhan, tapi kenapa engkau bersikap kejam kepadaku? Engkau bersikap pengecut, mengeroyokku bersama belasan orang anak buahmu. Jeng-i Sianli Cu Leng Si, apakah engkau tidak malu ditertawakan orang sedunia?”

“Sia Han Lin manusia sombong. Engkaulah yang memaksa aku bersikap begini. Engkau keras kepala, tidak juga mau menyerahkan Ang-in Po-kiam kepadaku! Aku tak akan sudi melepaskanmu selama engkau belum mengaku di mana pedang itu dan menyerahkannya kepadaku!”

Ia meloncat ke atas kudanya sambil memegang tali jala, kemudian menjalankan kudanya dan menyeret tubuh Han Lin yang terbungkus jala. Tentu saja hal ini sangat menyakitkan karena Han Lin tak mampu mengerahkan sinkang untuk melindungi kulitnya yang terseret sehingga kulitnya lecet-lecet dan pakaiannya robek-robek.

“Mengakulah dan aku akan membebaskanmu!” kata Cu Leng Si.

“Kuntilanak, siluman rase, setan betina, apa yang harus kuakui?!” bentak Han Lin marah karena dia merasa dipermainkan dan dihina.

“Bagus, engkau keras kepala ya?” Cu Leng Si mempercepat langkah kudanya sehingga tubuh Han Lin terseret-seret semakin cepat. Gadis itu mengambil jalan simpangan, tidak melalui jalan besar menuju ke kota Souw-ciu, melainkan mendaki sebuah bukit.

Masih untung bagi Han Lin bahwa rebahnya tadi telentang sehingga hanya tubuh bagian belakangnya saja yang babak bundas dan bajunya robek-robek. Buntalan pakaiannya tadi sudah tergeser ke samping pundak ketika dia terseret. Han Lin terpaksa diam saja, hanya mengeraskan hatinya agar mulutnya jangan mengeluarkan rintihan.

Melihat pemuda itu diam saja, Leng Si menghentikan kudanya dan menengok. Alangkah kagetnya ketika ia melihat pemuda yang diseretnya itu rebah, telentang diam tak bergerak dengan mata terbalik dan lidah terjulur keluar.

“Celaka...!” teriaknya. Dia cepat melompat turun dari atas kuda lalu menghampiri Han Lin dan berlutut di dekatnya.

“Han Lin...! Han Lin...!” Dia mengguncang tubuh yang nampaknya sekarat itu.

Han Lin tetap tak bergerak dan Leng Si segera menotoknya, melepaskan totokannya tadi dari balik jala. Akan tetapi begitu totokannya terbebas, mendadak tangan Han Lin meraih dari dalam jala dan pergelangan tangan Leng Si sudah dipegangnya erat-erat!

“Nah, sekarang engkau menjadi tawananku!” katanya sambil tersenyum.

Leng Si terkejut setengah mati. Dengan cepat direnggutnya tangan itu dan dengan tangan kanannya dia segera menotok lagi. Han Lin yang belum dapat bergerak leluasa di dalam jala terkena totokan lagi sehingga kaki tangannya menjadi lemas.

Leng Si meloncat berdiri, membanting-banting kaki saking gemasnya. “Engkau menipuku, bedebah! Engkau patut dihajar!”

Dia meloncat ke atas punggung kudanya lagi dan kini menjalankan kudanya dengan cepat sehingga tubuh Han Lin terguncang-guncang dan terseret-seret!

Setelah lewat tiga li mereka memasuki hutan, Leng Si menengok dan melihat pemuda itu telentang sambil tersenyum-senyum, walau pun bajunya sudah robek-robek dan kulitnya babak bundas. Memang Han Lin merasa tenang saja karena dia amat yakin bahwa wanita itu tak bermaksud membunuhnya. Ketika tadi dia berpura-pura sekarat, wanita itu merasa khawatir dan berusaha menolongnya. Wanita yang aneh, agaknya tidak jahat akan tetapi hatinya keras seperti batu!

Leng Si melompat turun dari kudanya, lalu melihat ke kanan kiri. Sambil menyeret tubuh Han Lin dia menghampiri pohon besar, dan sekali loncat tubuhnya melayang naik sambil memegang ujung tali jala yang panjang, kemudian dia melompat turun setelah melibatkan tali jala itu. Dengan mengerahkan tenaganya dia mengerek tubuh Han Lin yang berada di dalam jala itu sehingga tubuh itu kini tergantung! Dia mengikatkan ujung tali jala ke batang pohon. Luar biasa sekali tali jala yang kecil itu sehingga mampu menahan tubuh Han Lin.

Han Lin nampak seperti seekor ikan dalam jala yang digantung akan tetapi dia diam saja, hanya melirik dan mencoba untuk memandang wanita yang berada di bawah itu.

“Han Lin, engkau belum juga hendak mengaku di mana pedang itu kau sembunyikan?”

“Tidak ada gunanya. Mengaku pun engkau tak akan percaya. Lebih baik diam dan engkau boleh melakukan apa saja terhadap diriku!”

“Kepala batu!” Leng Si memaki.

Dengan wajah muram dia mengeluarkan anggur, roti kering dan daging kering, lalu makan perlahan-lahan. Bau anggur membuat jakun Han Lin turun naik, namun dia tidak berkata apa-apa. Dia mengenang kembali rentetan peristiwa yang tidak menyenangkan hatinya.

Mula-mula ditipu tiga orang hwesio, malamnya diserbu musuh dan Ang-in Po-kiam lenyap dicuri orang. Kemudian dia dihadang perampok hingga akhirnya dapat ditawan oleh wanita ini. Dia belum tahu orang macam apa adanya Dewi Baju Hijau ini, dan apa maunya begitu bernafsu untuk mendapatkan Ang-in Po-kiam.

Padahal wanita ini cantik jelita dan pembawaannya menarik, halus lembut. Tapi dia dapat bersikap keras laksana baja, juga memiliki anak buah yang terlatih baik. Apakah seorang wanita yang demikian cantik jelita ini termasuk seorang penjahat? Ilmu silatnya tinggi, apa bila dia berwatak jahat sungguh merupakan hal yang patut disesalkan.

“Hemm, sayang...!” Ucapan hatinya itu tercetus keluar melalui mulutnya tanpa disengaja.

“Apa kau bilang? Apanya yang sayang?” kata Leng Si yang selalu memperhatikan kalau-kalau pemuda itu mau mengaku di mana adanya pedang pusaka yang dicarinya itu.

“Sayang seribu sayang bahwa gadis secantik engkau dapat melakukan perbuatan yang demikian kejam, menyiksa orang yang tidak bersalah.”

“Kalau engkau tidak mau mengaku, aku akan menggantungmu sampai mati di tempat ini!” kata Leng Si dengan gemas sekali.

“Demi Tuhan, kenapa engkau sekejam itu?” Suara ini terdengar amat lembut dan disusul meluncurnya sinar perak yang menyambar ke arah tali sutera yang menggantung jala. Tali sutera disambar piauw perak (gin-piauw) itu sehingga tubuh Han Lin yang berada di dalam jala segera jatuh berdebuk ke atas tanah.

Bagaikan seorang dewi yang turun dari kahyangan, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis lain yang berpakaian sutera putih berkembang kuning. Kebetulan Han Lin sedang menghadap kepada gadis itu dan dia pun terbelalak kagum.

Seorang gadis cantik lain lagi. Lebih muda, paling banyak sembilan belas tahun usianya, akan tetapi wajahnya yang cantik itu, sikapnya yang lembut lemah gemulai itu, rambutnya yang digelung ke atas itu, wah entah bagian mana yang terindah.

Tubuhnya langsing semampai, wajahnya bersinar lembut, sepasang matanya begitu indah dengan buu-bulu mata lentik dan tatapannya halus. Bibir itu selalu dihiasai senyum ramah penuh kesabaran. Tiba-tiba saja Han Lin teringat akan patung Dewi Kwan Im yang pernah dilihatnya di dalam kuil.

“Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im)...!” katanya di luar kesadarannya.

Gadis berpakaian putih itu cepat menengok kepadanya. “Ehhh, engkau sudah mengenal aku?”

Han Lin terbelalak. Jadi gadis ini benar-benar bukan manusia? Benarkah dia adalah Dewi Kwan Im? Dia bengong saja dan tidak mampu menjawab.

Sementara itu Leng Si segera melangkah maju dan nampak marah sekali kepada wanita yang baru datang. “Sumoi, aku minta sekali ini engkau tidak mencampuri urusanku!”

Gadis berpakaian putih itu tersenyum lebar, kemudian menjawab penuh kesabaran. “Suci, selamanya aku belum pernah mencampuri urusanmu. Aku hanya menjalankan kewajiban seperti yang diajarkan ibu kepada kita. Menentang kejahatan dan kekejaman, membela yang lemah dari penindasan. Katakan, kenapa engkau memperlakukan orang ini sekejam itu?”

“Bukan urusanmu!”

“Suci, aku tahu bahwa engkau bukan orang jahat, akan tetapi engkau keras hati dan tidak pernah mau menceritakan rahasiamu. Dengan sikapmu itu engkau akan menemui banyak kesulitan, suci.”

“Tidak peduli! Sumoi, sekali ini kuminta engkau pergi dan jangan mencampuri urusanku.”

“Aku tidak mau pergi kalau engkau belum menceritakan mengapa engkau menyiksa orang ini, suci. Lihat, dia luka-luka. Bahkan andai kata dia penjahat sekali pun, tak semestinya engkau menyiksanya. Perbuatanmu ini sangat kejam dan kalau sampai ibu tahu, tentu dia akan marah kepadamu.”

“Jangan mencampuri urusan pribadiku!” Leng Si menjerit marah. “Akan kuapakan orang ini, tidak ada sangkut pautnya denganmu. Pergilah!”

“Tidak, suci. Semua perbuatan kejam ada sangkut pautnya dengan aku, karena aku harus menentangnya!”

“Sumoi, engkau hendak melawan aku? Ketahuilah, aku bukanlah Jeng-i Sianli satu tahun yang lalu. Selama ini aku sudah memperdalam ilmuku, maka sekali ini mungkin pedangku akan mencelakanmu. Sebelum hal itu terjadi, sebaiknya engkau pergi saja.”

“Membela kebenaran tidak boleh setengah-setengah, suci. Kalau diperlukan bahkan boleh dipertaruhkan dengan nyawa.”

“Engkau hendak mempertaruhkan nyawamu demi membela seorang yang tidak kau kenal seperti dia itu?”

“Dia atau siapa pun juga manusia yang perlu dibela, apa bila tidak bersalah dan terancam perlakuan kejam maka harus dibela.”

“Cin Mei, engkau sudah keterlaluan!” bentak Leng Si dan dia telah mencabut siang-kiam (sepasang pedang) dari punggungnya. “Engkau benar-benar hendak melawanku? Cepat siapkan senjatamu!”

“Suci, apa gunanya ini? Aku hanya minta agar engkau menceritakan alasan perbuatanmu terhadap orang ini atau membebaskannya.”

“Tutup mulut dan cabut senjatamu!” bentak pula Leng Si dengan marah.

Gadis berpakaian putih itu menghela napas. “Engkau tidak akan dapat mengalahkan aku, suci.”

“Singgg...!” pedang kiri Leng Si menyambar dahsyat dengan serangan pertamanya.

Gadis bernama Lie Cin Mei itu menggerakkan kakinya dan tubuhnya melayang ke kanan, ke arah Han Lin, lalu sekali dia menggerakkan jari tangannya, totokan pada tubuh Han Lin telah terbebas!

Melihat ini, Jeng-i Sianli Cu Leng Si terkejut sekali dan juga maklum bahwa sekarang dia menghadapi bahaya. Baru melawan sumoi-nya saja belum tentu dia menang, apa lagi kini Han Lin yang dia sudah tahu kelihaiannya itu telah terbebas dari totokan. Kalau mereka maju berdua, dalam waktu singkat saja dia akan menderita kekalahan!

“Sumoi, engkau terlalu...!” katanya dengan isak tertahan dan sekali melompat, dia sudah berada di atas punggung kudanya yang segera dibalapkan lari meninggalkan tempat itu.

Cin Mei tidak mempedulikan lagi kepada suci-nya. Dia membantu Han Lin keluar dari jala itu sambil berkata lembut. “Rebahlah dulu, biar kuperiksa keadaanmu dan kuobati.”

Han Lin merasa terharu mendengar suara itu. Begitu lembut, begitu penuh kasih sayang seperti seorang ibu terhadap anaknya.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner