PEDANG AWAN MERAH : JILID-11


Jari-jari tangan itu mulai memeriksa badannya, lecet-lecet di bagian belakang tubuhnya. Agaknya dara itu hanya memperhatikan keadaan lukanya dan seperti tidak melihat bahwa dia sedang setengah telanjang karena pakaian belakangnya robek-robek.

“Syukur kepada Tuhan...!” Gadis itu menghela napas panjang. “Engkau hanya luka lecet-lecet saja, tidak berbahaya. Aku mempunyai obat luka yang manjur sekali. Diamlah, akan kuobati tetapi agak perih rasanya.”

Dan ketika dia mengoleskan obat luka itu pada bagian belakang tubuh Han Lin yang lecet-lecet, memang terasa perih sekali. Tentu saja Han Lin dapat menahan rasa nyeri seperti itu, namun dia sengaja mengaduh dan merintih sehingga gadis itu merasa kasihan lantas dengan sentuhan lembut dia berusaha meringankan rasa nyeri itu.

“Cukup, dalam waktu beberapa jam saja luka-lukamu akan kering dan sembuh. Sekarang gantilah pakaianmu sebelum kita bicara.” Gadis itu bangkit berdiri kemudian membalikkan tubuhnya.

Han Lin merasa rikuh sekali, namun dia melihat bahwa gadis itu benar-benar membuang muka, sama sekali tidak melirik ke arahnya. Maka dia pun menanggalkan celana dan baju yang bagian belakangnya terkoyak-koyak itu, kemudian berganti dengan celana dan baju yang masih utuh dan bersih. Sampai dia selesai berpakaian gadis itu masih membalikkan diri membelakanginya.

Gadis yang hebat, pikirnya kagum. Melampaui gadis-gadis yang pernah dijumpainya, baik dalam kecantikan mau pun dalam sikap. Bahkan lebih anggun dibandingkan Dewi Pedang Terbang Yang Mei Li!

“Aku sudah berganti pakaian, nona,” katanya.

Gadis itu membalikkan tubuhnya dan begitu dia bertatap muka dengan Han Lin, pandang matanya menunjukkan keheranan sehingga pandang matanya menjelajahi tubuh Han Lin dari kepala sampai ke kaki. Dia memang merasa sangat heran karena baru sekarang ini dia melihat bahwa orang yang disiksa suci-nya itu ternyata adalah seorang pemuda yang amat tampan, yang menggendong buntalan pakaiannya dan memegang sebatang tongkat butut hitam.

“Apa yang akan kita bicarakan, nona?” tanya Han Lin ketika melihat gadis itu diam saja.

“Ohh, aku akan membicarakan tentang suci-ku tadi. Kenapa dia menyiksamu? Kesalahan apa yang kau lakukan kepadanya? Tidak biasanya suci menyiksa orang biar pun hatinya keras sekali.”

“Aku tidak mempunyai kesalahan apa-apa, nona, bahkan mengenalnya pun tidak. Begitu bertemu dengan aku, dia memaksa aku mengakui di mana aku menyembunyikan pedang pusaka, padahal aku sama sekali tidak menyembunyikannya.”

Gadis itu menghela napas panjang. “Kuharap engkau suka memaafkan suci-ku. Memang dia keras hati, bila ingin mendapatkan sesuatu harus terlaksana. Akan tetapi, kenapa dia menyangka engkau menyembunyikan pedang pusaka. Jika tidak ada alasannya, kiranya tidak mungkin dia menyangkamu begitu, dan pedang pusaka apakah itu?”

Melihat gadis itu bicara lembut dan nampaknya jujur sekali, timbullah kekaguman besar di hati Han Lin dan dia mengambil keputusan untuk berterus terang saja kepada gadis ini.

“Pedang itu adalah Pedang Awan Merah, nona...”

“Ang-in Po-kiam dari istana? Bagaimana dapat berada di tanganmu, atau bagaimana suci menyangka demikian?”

“Memang pedang itu terjatuh ke tanganku, nona. Aku menemukannya dari tangan Hoat Lan Sian-su yang tewas ketika terjadi penyerbuan pasukan kepada Hoat-kauw.”

“Hemm, luar biasa sekali. Lalu bagaimana?”

“Aku dalam perjalanan menuju ke kota raja karena aku bermaksud untuk mengembalikan pedang itu kepada Sribaginda Kaisar. Akan tetapi ketika mendengar Cin-ling-pai difitnah sebagai pencuri pedang oleh para tokoh kang-ouw, aku sengaja pergi ke sana dulu untuk membersihkan nama Cin-ling-pai yang aku tahu merupakan perkumpulan orang gagah itu.”

“Bagus, tindakanmu itu benar sekali.”

“Nah, setelah semua orang tahu bahwa pencurinya bukanlah orang Cin-ling-pai melainkan orang Hoat-kauw, aku lalu meninggalkan Cin-ling-pai untuk melanjutkan perjalanan ke kota raja. Akan tetapi di tengah perjalanan, aku diserbu banyak orang yang dipimpin oleh Sam Mo-ong kemudian pedang itu dirampas oleh Sam Mo-ong.”

“Ahh, tiga datuk sesat itu?” Si nona nampak terkejut sekali ketika mendengar disebutnya tiga datuk itu.

“Lebih celaka lagi, baru malam tadi aku kehilangan pedang, tetapi pagi ini sudah ditawan dan disiksa suci-mu yang baik hati seperti dewi itu!”

“Jangan berolok-olok, aku telah memintakan maaf untuk suci-ku, mengapa engkau masih mengejek juga? Jadi, jelas bahwa Sam Mo-ong yang merampas Ang-in Po-kiam darimu? Memang, menurut kata ibuku, di antara para datuk sesat, Sam Mo-ong yang paling jahat dan licik. Semoga Tuhan mengampuni dosa mereka. Tetapi sekali lagi aku mintakan maaf atas perbuatan suci kepadamu. Selamat tinggal.”

Sekali melompat gadis itu lenyap dari hadapan Han Lin dan pemuda itu semakin kagum. Siapa namanya?

“Ehh, nona tunggu dulu. Aku mempunyai pertanyaan yang penting sekali!”

Nampak bayangan putih berkelebat kemudian gadis itu telah berada di depannya kembali. Diam-diam Han Lin tersenyum di dalam hatinya. Jelas nona ini belum pergi jauh, mungkin hanya menyelinap di balik pohon kemudian mengintainya.

“Ada apakah?”

“Nona tadi mintakan maaf untuk suci nona kepadaku, benarkah itu?”

“Ya, benar. Kuharap engkau suka memaafkannya.”

“Aku akan memaafkannya asal saja nona suka memenuhi permintaanku atau menjawab pertanyaanku yang teramat penting sekali.”

Gadis itu tersenyum sehingga Han Lin merasa jantungnya melompat tinggi dan berjungkir balik. Alangkah manisnya!

“Pertanyaan apakah itu? Tanyalah!”

“Dan nona berjanji akan menjawab dengan sejujurnya, tidak berbohong kepadaku?”

Alis mata hitam itu berkerut sedikit. “Sobat, selama hidup aku tidak suka berbohong.”

“Bagus, aku punya dua pertanyaan. Pertama, ketika tadi untuk pertama kali nona muncul, nona bertanya apakah aku sudah mengenal nona. Apa maksud pertanyaan itu?”

“Eh, jadi engkau belum mengenalku. Kenapa tadi engkau mengatakan Kwan Im Powsat?”

“Ahh, apa hubungannya Dewi Kwan Im denganmu, nona? Ketika engkau muncul dengan pakaian putih, demikian cantik, demikian agung dan anggun, kukira engkau Dewi Kwan Im yang datang untuk menolongku!”

Wajah yang ayu itu kini menjadi agak kemerahan dan mulut yang aduhai itu tersenyum. “Tidak ada hubungan dan sangkut pautnya, tetapi orang-orang memberi julukan Kwan Im Sianli kepadaku.”

“Wah, tepat sekali! Memang pantas sekali julukan itu. Sekarang pertanyaan kedua, nona. Bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia?”

“Hemm…, namaku tidak mulia, biasa saja. Namaku Lie Cin Mei,” jawabnya singkat. “Nah, dua pertanyaan telah kujawab. Selamat tinggal!” Kembali dia berkelebat dan sekali ini Han Lin maklum bahwa gadis itu benar-benar telah pergi.

“Hemm, engkau tidak menanyakan namaku. Ah, lagi pula apa urusannya dengan namaku. Sekarang pun dia sudah lupa kepadaku,” demikian dia menggumam, hatinya tidak puas.

Akan tetapi dia segera teringat akan Sam Mo-ong dan dengan hati geram dia melanjutkan perjalanannya memasuki kota Souw-ciu…..

********************

Ku Ma Khan yang berusia lima puluh tahun itu duduk di kursi kebesarannya dengan sikap gagah. Pria yang tinggi besar ini mempunyai wibawa yang sangat kuat. Sebagai seorang kepala suku Mongol yang berdarah campuran Kazak, dia pandai memimpin rakyatnya, pandai pula menggunakan tenaga orang-orang pandai sehingga tidak mengherankan jika di antara pembantunya banyak terdapat orang-orang berkepandaian tinggi, bahkan Sam Mo-ong, tiga datuk yang sakti itu pun suka menjadi pembantunya.

Kwi-jiauw Lo-mo memang berdarah Mongol, peranakan Han, maka tidak mengherankan kalau dia menghambakan diri dengan setia kepada Ku Ma Khan. Hek-bin Mo-ong adalah peranakan Mancu, ada pun Pek-bin Mo-ong peranakan suku bangsa Hui yang juga sudah ditaklukkan oleh orang Mongol.

Pada hari itu Ku Ma Khan sedang menerima Sam Mo-ong yang datang bersama Mulani, puterinya. Dengan sikap manja dara itu segera merangkul ayahnya dan Ku Ma Khan yang amat sayang kepada anaknya itu, meraih kedua pundak Mulani lalu mengamati wajahnya sambil tertawa senang.

“Aihh, tidak melihat beberapa bulan saja engkau nampak lebih dewasa, lebih matang dan lebih cantik, Mulani. Bagaimana, apakah perjalananmu ke selatan menghasilkan banyak pengalaman hebat?”

“Aku senang sekali, ayah. Sekarang kami pulang sambil membawa oleh-oleh yang pasti akan membuat ayah juga merasa senang sekali.”

“Ha-ha-ha, oleh-oleh apakah itu Sam Mo-ong, kalian bertiga yang setia dan bijak? Oleh-oleh apa yang dikatakan puteriku tadi?” Ku Ma Khan tidak sabar menunggu penjelasan.

Dengan kedua tangannya Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui yang merupakan orang pertama dari Sam Mo-ong lantas menyerahkan sebatang pedang kepada Ku Ma Khan (Raja Ku Ma). “Khan Yang Mulia, inilah oleh-oleh dari kami, sebatang pedang pusaka.”

Ku Ma Khan mengerutkan alis, menerima pedang kemudian mencabutnya. Nampak sinar kemerahan ketika pedang tercabut. “Hemmm, pedang yang baik sekali, bersinar merah. Akan tetapi untuk apa pedang pusaka? Tanpa pedang pusaka pun aku mampu memimpin laksaan prajurit untuk menggempur musuh.” Dia terlihat agak kecewa melihat bahwa yang dikatakan oleh-oleh berharga itu hanya sebatang pedang lurus, pedang bangsa Han.

“Wah, ayah tidak tahu saja!” seru Mulani sambil memegang tangan kiri ayahnya. “Pedang pusaka ini bukan pedang biasa, tetapi sudah dijadikan perebutan oleh semua orang kang-ouw dan selatan karena pedang ini adalah pedang pusaka milik Kaisar Tang!”

“Ehh? Pedang milik Kaisar Tang? Lalu untuk apa aku memiliki pedang ini?”

“Khan yang mulia, pedang pusaka ini dicuri orang dari gudang pusaka Kerajaan Tang, dan karena pedang ini sangat dihargai kaisar, maka dijadikan rebutan oleh semua tokoh kang-ouw. Kaisar sendiri pernah mengumumkan bahwa siapa yang mengembalikan pedang ini akan diberi ganjaran harta dan kedudukan tinggi!”

Ku Ma Khan mengangguk-angguk, namun alisnya masih berkerut. “Akan tetapi, aku tidak mungkin mengharapkan ganjaran dan kedudukan tinggi di istana kaisar...”

“Khan yang mulia,” kata Hek-bin Mo-ong, “apa bila kita mengembalikan pedang ini kepada kaisar dan sebagai imbalannya kita minta syarat-syarat yang menguntungkan, bukankah hal itu akan baik sekali?”

“Benar sekali, yang mulia,” sambung Pek-bin Mo-ong, ”kita bisa menukar pedang dengan penetapan paduka sebagai raja muda di utara, atau dengan syarat bahwa rakyat kita bisa keluar masuk ke selatan dengan bebas, atau syarat lain yang dianggap menguntungkan paduka.”

“Hemm, semua tidak ada artinya. Kalau syarat itu sudah dipenuhi lalu diingkari, kita akan mampu berbuat apa? Tidak, kita harus dapat memanfaatkan pedang pusaka ini dengan sebaik-baiknya, kalau memang benar kaisar amat mengharapkan kembalinya.”

“Aku mempunyai usul yang baik, ayah.”

“Katakan, bagaimana usul itu, Mulani?” kata ayahnya dengan gembira. Memang puterinya biasanya amat cerdik dan sering kali memberi nasehat yang amat berharga kepadanya.

“Kita mengutus seseorang yang pandai tetapi tidak dikenal sebagai orang kita, dan orang itu harus kita percaya benar. Ia akan mewakili ayah menyerahkan kembali pedang kepada kaisar dan menerima jabatan tinggi. Dengan demikian, diam-diam dia akan amat berguna bagi ayah sebagai mata-mata sebab dia akan selalu dekat dengan kaisar. Dengan adanya seorang pembantu yang tangguh di dalam istana kaisar, siapa tahu dapat memudahkan perjuangan ayah untuk menguasai dunia selatan.”

Mendengar ucapan Mulani, Ku Ma Khan tertawa gembira dan menepuk lengan kursinya. “Ha-ha-ha, bagus, bagus! Ini baru usul yang baik sekali. Bagaimana pendapat kalian, Sam Mo-ong?”

“Sebuah usul yang bijaksana sekali, Yang Mulia. Memang akan amat menguntungkan kita apa bila ada seorang pejabat tinggi yang menjadi mata-mata kita di Kerajaan Tang. Tetapi siapakah yang patut kita utus?” kata Kwi-jiauw Lo-mo.

“Kalau mengutus seorang dari golongan kita, belum tentu kaisar mau memberi kedudukan tinggi, bahkan mungkin akan merasa curiga,” sambung Hek-bin Mo-ong.

“Sebaiknya memang harus bangsa Han, akan tetapi siapa?” kata pula Pek-bin Mo-ong.

Semua diam, bingung memikirkan pelaksanaan usul yang diajukan Mulani tadi. Akhirnya Mulani berkata lagi kepada ayahnya, “Ayah, jika aku mengajukan usul, maka sudah pasti telah kupikirkan cara pelaksanaannya dengan baik. Kurasa tidak ada orang lain yang lebih tepat untuk dijadikan mata-mata itu kecuali Sia Han Lin.”

Sam Mo-ong mengeluarkan seruan heran dan kaget ketika mendengar usul murid mereka itu. Bagaimana mungkin mengusulkan pemuda yang justru menjadi musuh besar mereka itu?

“Siapakah Sia Han Lin itu?” Ku Ma Khan bertanya sambil memandang kepada tiga orang pembantunya itu.

“Yang Mulia, usul itu sungguh tidak mungkin dilaksanakan. Yang bernama Sia Han Lin itu adalah seorang musuh besar hamba bertiga. Bahkan kami merampas pedang Ang-in Po-kiam ini dari tangannya. Hendaknya paduka ketahui bahwa yang mencuri pedang ini dari gudang pusaka kaisar adalah mendiang Hoat-Lan Sian-su ketua Hoat-kauw. Sesudah dia meninggal dunia, pedang itu lantas terjatuh ke tangan seorang pendekar muda bernama Sia Han Lin. Dengan susah payah kami berhasil merampas dari tangannya, bagaimana mungkin menjadikan pendekar itu mata-mata kita?” bantah Kwi-jiauw Lo-mo.

“Bagaimana Mulani? Jika penjelasan tadi benar, usulmu memang aneh sekali. Bagaimana seorang musuh hendak kau jadikan mata-mata? Apa alasanmu memilih orang itu, Mulani? Dan bagaimana pula caranya?”

“Begini, ayah. Aku sudah melihat sendiri betapa lihainya pendekar yang bernama Sia Han Lin itu. Bahkan ketiga suhu belum tentu mampu mengalahkannya. Dia masih muda, jujur dan bisa dipercaya. Kalau sampai dia membantu kita, wah, tentu ayah akan mendapatkan seorang pembantu yang amat hebat, apa lagi kalau dia yang mewakili ayah menyerahkan pedang pusaka dan menjadi mata-mata kita di istana kaisar Tang. Keuntungannya besar sekali.”

“Katakanlah semua keteranganmu tadi benar. Akan tetapi bagaimana caranya supaya dia mau membantu kita, padahal menurut Sam Mo-ong dia adalah musuh besar kita?”

“Akan tetapi musuh akan berbalik menjadi keluarga kalau dia... dia berhasil kubujuk untuk menjadi suamiku, ayah.”

“Hehh...?” Ku Ma Khan terperanjat sekali lalu memandang dengan mata terbelalak heran. “Menjadi... suamimu...?”

“Benar ayah. Seperti kukatakan tadi, kalau dia menjadi suamiku tentu saja dia dapat kita kirim ke kota raja untuk menyerahkan pedang, memiliki kedudukan tinggi sebagai hadiah, dan dapat menjadi mata-mata kita yang berguna sekali.”

“Tapi... tapi... bagaimana mungkin? Apakah dia mau?”

“Ayah, aku sudah pernah bertemu dengan dia, dan aku mempunyai perasaan bahwa dia suka kepadaku, ayah.”

“Dan engkau? Aku tidak ingin anakku mengorbankan diri. Aku tidak ingin anakku menikah dengan pria yang tidak disukainya.”

“Ayah, mengapa ayah begitu bodoh? Kalau aku tidak suka padanya, tentu aku tidak akan sudi biar ayah memaksaku dan menyiksaku sampai mati sekali pun.”

“Jadi, engkau cinta padanya?”

“Tidak usah ditanya lagi, ayah. Aku hanya mau menjadi isteri Sia Han Lin.”

“Ha-ha-ha-ha, kalau begitu baiklah. Aku memberi restu kepadamu karena aku yakin, pria yang engkau pilih sudah pasti seorang pria pilihan yang hebat. Aku hanya merasa sayang kalau engkau akan gagal, anakku. Tetapi masih ada jalan kedua, yaitu sebagai cadangan siasat kalau-kalau engkau gagal merebut hati pemuda itu. Dan Sam Mo-ong, kalian kami tugaskan untuk berusaha menjalin hubungan dengan pejabat-pejabat tinggi istana. Kami mendengar kabar bahwa sampai sekarang pun kaisar yang bodoh dari Kerajaan Tang itu masih saja dipermainkan oleh para thai-kam. Nah, jika kalian dapat menemukan thai-kam yang seperti itu, apa lagi kalau kedudukannya besar dan penting, kiranya tidak akan sulit untuk menyelundupkan mata-mata ke istana. Ini untuk menjaga kalau-kalau siasat yang direncanakan Mulani gagal.”

”Baik, Yang Mulia. Akan kami laksanakan sebaik mungkin,” jawab Kwi-jiauw Lo-mo.

Kembalinya Sam Mo-ong dan Mulani yang membawa pedang pusaka itu lantas disambut dengan pesta oleh Ku Ma Khan. Akan tetapi beberapa hari kemudian, baik Mulani mau pun Sam Mo-ong sudah pergi lagi untuk melaksanakan tugas mereka yang baru…..

********************

Han Lin memasuki kota Souw-ciu. Dia merasa penasaran sekali. Walau pun tidak melihat bukti tetapi dia hampir yakin bahwa yang mencuri pedangnya tentulah Sam Mo-ong. Yang membuat dia merasa sangat penasaran adalah caranya Sam Mo-ong mengambil pedang itu. Sungguh licik dan curang, bukan secara orang gagah!

Dia mengelilingi kota Souw-ciu, mendatangi semua rumah penginapan, namun tidak ada jejak atau berita tentang Sam Mo-ong. Tentu saja, pikirnya kesal, mereka juga tidak akan begitu bodoh meninggalkan jejak.

Semenjak pagi sampai siang Han Lin ke rumah-rumah penginapan tanpa hasil. Akhirnya dia duduk di bangku taman bunga umum kemudian melamun.

Entah mengapa dia merasa nelangsa dan kesepian. Semenjak dia berpisah dari gurunya, yaitu Lo-jin, hidupnya mengalami banyak kepahitan. Pernah satu kali dia merasa jatuh cinta, yaitu kepada Yang Mei Li Si Dewi Terbang, namun cintanya itu bertepuk sebelah tangan. Yang Mei Li mencinta putera Beng Kauw, Sie Kwan Lee yang kini telah menjadi suaminya.

Han Lin tidak merasa menyesal menghadapi kenyataan ini, bahkan turut merasa bahagia bahwa Yang Mei Li, gadis yang telah menjatuhkan hatinya itu bertemu jodoh yang cocok, yang memang tepat untuk menjadi suaminya. Dia hanya merasa nelangsa dan kesepian.

Kalau dikenang, maka hanya kepahitan yang dirasakan semenjak dia berpisah dari ayah bundanya, enam belas tahun yang lalu. Ketika berusia lima tahun dia harus berpisah dari ayah ibunya yang mempertahankan kota raja dari serangan musuh sehingga ayah ibunya gugur dalam perang itu.

Dalam usia lima tahun dia dilarikan lalu dirawat oleh Liu Ma, janda pengasuhnya sejak dia masih kecil yang kemudian dianggap sebagai pengganti ayah ibunya sendiri. Namun malang, Liu Ma tewas karena kejahatan Sam Mo-ong. Liu Ma melompat ke dalam jurang ketika melihat dia terjatuh ke dalam jurang itu. Dia selamat, akan tetapi Liu Ma menemui ajalnya.

Kemudian dia mendapat pengganti orang tua, yaitu gurunya yang pertama, yang bernama Kong Hwi Hosiang. Akan tetapi Hwesio yang baik hati ini pun tewas di tangan Sam Mo-ong! Akhirnya adia bertemu Lo-jin yang merawatnya dan menggemblengnya, akan tetapi akhirnya dia pun harus berpisah dari gurunya itu atas kehendak Lo-jin.

Banyak peristiwa yang dialaminya sampai ia bertemu dengan saudara-saudara misannya, kemudian jatuh cinta kepada Yang Mei Li, adik misannya pula. Namun terpaksa dia harus mundur ketika Mei Li memilih pria lain. Han Lin menarik napas panjang sambil bertopang dagu.

Duka timbul dari ingatan. Kalau kita mengenang masa lalu, mengingat hal-hal yang tidak menyenangkan dan merugikan, maka timbullah rasa sesal dan kecewa yang membawa kita ke dalam alam duka. Dan segala peristiwa berakhir dengan duka. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kita selalu terombang-ambing di antara suka dan duka, di mana duka memegang peran lebih banyak ketimbang suka.

“Apa itu duka? Kalau kita tidak mementingkan suka, maka tidak akan tersinggung duka. Duka hanyalah wajah lain dari suka, seperti uang bermuka dua, suka dan duka. Jangan biarkan diri terseret oleh gelombang dwi-muka yang berupa susah senang, sedih gembira, suka duka,” demikian antara lain Lo-jin memberi wejangan kepadanya.

Han Lin menegakkan duduknya. Untuk apa duka? Namun bagaimana mungkin manusia hidup tanpa menikmati suka atau menderita duka? Justru itulah hidup.

Merasakan suka dan duka, itulah romantika hidup, seperti mendayung biduk kehidupan ini di tengah samudera, diombang-ambingkan berbagai suka duka. Itulah seninya hidup dan kita harus dapat mengatasinya. Bukan tenggelam, baik tenggelam dalam suka mau pun duka. Duka atau suka itu hanya perasaan, diguncangkan oleh pikiran, mengenal hal-hal yang mendatangkan untung dan rugi. Biarkan saja perasaan dan pikiran mendapatkan permainan mereka, yang penting tidak tenggelam!

“Kalau engkau dapat menangis selagi bersuka, dan dapat tertawa selagi berduka, berarti engkau sudah menemukan kunci kehidupanmu,” demikian antara lain Lo-jin berkata.

Han Lin sadar akan dirinya. Mengapa mendadak dia merasa nelangsa, merasa berduka? Karena dia teringat akan hal-hal yang tidak menyenangkan! Kalau dia tidak teringat akan semua itu, adakah duka?

Ada lagi serangan kesepian. Rasa kesepian ini menggigit, membuat orang nelangsa pula. Kehidupan rasanya hanya pengulang-ulangan yang membosankan, karena membuat diri seperti kehilangan sesuatu yang lebih dari pada semua pengulangan ini. Akan tetapi apa? Diri ini rindu kepada sesuatu. Kesenangan? Akhirnya membosankan! Lalu apa? Apa yang dirindukan diri?

“Setiap orang akhirnya akan menyadari bahwa dirinya merindukan sesuatu, sesuatu yang rahasia, dan sesuatu itu merupakan sumbernya. Sesuatu itu adalah Sang Maha Pencipta, yang menciptakan diri, yang menghidupkan, mematikan, yang mengatur dan menentukan segalanya. Diri manusia bagaikan titik-titik air yang selalu rindu kepada asalnya, kepada sumbernya, yaitu samudera,” demikian kata Lo-jin.

“Ahh, sudahlah,” cela Han Lin kepada diri sendiri.

Untuk apa mengenangkan semua itu? Yang lalu biarlah berlalu tanpa kesan karena kesan masa lalu hanya mendatangkan kesedihan belaka. Yang terpenting sekarang menghadapi kenyataan apa adanya. Dia harus mencari kembali Ang-in Po-kiam yang dicuri orang!

Jelas bahwa di kota Souw-ciu dia tidak dapat menemukan jejak Sam Mo-ong, maka harus dicari di tempat lain. Maka dia pun bangkit berdiri, keluar dari taman dan keluar pula dari kota Souw-ciu. Dia akan mencari di kota lain yang berdekatan, atau kalau perlu dia akan mengejar sampai ke utara.

Ketika dia keluar dari kota Souw-ciu, suasana amat sunyi. Tetapi tiba-tiba dia mendengar suara kaki kuda dan setelah dia menoleh, benar saja ada orang menunggang kuda, akan tetapi kuda itu dijalankan perlahan oleh seseorang mengikutinya. Han Lin pura-pura tidak tahu saja dan berjalan terus menjauhi kota Souw-ciu menuju ke lapangan rumput. Tempat itu sunyi bukan main.

Setelah dia tiba di lapangan rumput, barulah penunggang kuda itu mempercepat jalannya kuda sehingga tak lama kemudian sudah dapat menyusulnya. Han Lin membalikkan tubuh memandang dan ternyata penunggang kuda itu bukan lain adalah Jeng-i Sianli Cu Leng Si, wanita berpakaian hijau yang lihai itu.

Han Lin mengerutkan keningnya. Wanita ini pernah menyiksanya dengan kejam dan kini muncul lagi. Apa maunya? Tiba-tiba saja dia teringat bahwa wanita ini berkeras hendak mencari Ang-in Po-kiam. Mungkinkah ada hubungannya dengan lenyapnya pedang?

“Hemmm, kiranya engkau Jeng-i... Mo-li! Mau apa engkau mengejar aku?” tanya Han Lin yang sengaja mengganti julukan Sianli (Dewi) menjadi Mo-li (Iblis betina).

“Sia Han Lin, cepat serahkan Ang-in Po-kiam kepadaku, atau terpaksa sekali ini aku tidak akan mengampunimu. Serahkan pedang atau serahkan nyawamu!”

“Bagus sekali! Pedangku hilang dicuri orang, tapi engkau nekat saja menanyakan pedang itu. Jangan-jangan engkau mempunyai hubungan dengan pencurinya, ya? Pergilah, jangan membuat aku marah.”

“Sombong, kalau engkau tidak mau mengaku maka sepasang pedangku ini akan minum darahmu!”

“Engkau iblis betina yang kejam. Cukup sudah engkau menghina dan menyiksaku. Aku tidak mendendam hanya menyuruh engkau pergi jangan menggangguku, itu sudah cukup sabar dan baik bagimu. Akan tetapi mengapa engkau masih terus mengganggu aku?”

“Sebelum engkau katakan di mana Ang-in Po-kiam, aku tak akan melepaskanmu!” bentak Cu Leng Si. Kini dia telah melompat turun dari atas kudanya dan langsung saja sepasang pedang itu menyambar-nyambar ke arah tubuh Han Lin.

Pemuda ini pun telah kehilangan kesabarannya. Dia pernah diseret-seret dan disiksa oleh wanita ini, bahkan kalau Kwan Im Sianli tidak segera muncul, mungkin dia sudah dibunuh mati. Bagaimana pun juga, perempuan kejam ini harus diberi hajaran!

“Bagus, engkau memang jahat dan kejam!” bentaknya dan Han Lin sudah menggerakkan tongkatnya dengan pengerahan tenaga, menangkis dan balas menyerang.

Maka terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Sekarang Cu Leng Si tidak dibantu oleh anak buah Liong-li-pang. Dahulu pun biar dibantu anak buah Liong-li-pang, dia tidak akan mampu mengalahkan Han Lin kalau saja mereka tidak menggunakan jala. Maka kini Han Lin yang memang ilmu kepandaiannya jauh lebih tinggi, dengan mudah mendesaknya dan ketika Leng Si agak terlambat menangkis, ujung tongkat di tangan Han Lin sudah berhasil menotok dengan cepat bertubi-tubi ke arah tiga jalan darahnya sehingga membuat wanita itu terkulai lemas.

Karena Han Lin tak ingin membunuh wanita itu dan tidak ingin melukainya pula, dia cepat menangkap tubuh yang terkulai itu agar tidak terluka pedangnya sendiri. Dia mengambil sepasang pedang, menyarungkan kembali ke punggung Cu Leng Si, kemudian membawa tubuh wanita itu menuju ke kuda yang sedang makan rumput. Tubuh wanita itu diletakkan melintang dan menelungkup di atas punggung kuda,. Dia sendiri lantas melompat ke atas kudanya dan menjalankan kudanya perlahan meninggalkan tempat itu.

Dia menawan Cu Leng Si untuk membujuknya supaya suka mengatakan di mana adanya Sam Mo-ong atau mengaku apakah wanita itu memang terlibat dalam pencurian pedang. Setidaknya dia akan dapat membalas perlakuan Leng Si ketika dulu menawannya, walau pun tentu saja dia tidak akan menyiksa wanita itu.

“Nah, rasakan kau sekarang. Dulu kau pernah menawan dan menyiksaku, sekarang kau menjadi tawananku!” kata Han Lin dengan hati penuh bangga rasa kemenangan. Namun tiba-tiba dia terkejut ketika mendengar wanita itu terisak menangis!

“Ehh? Kenapa menangis? Aku belum menyentuhmu, belum menyiksamu. Dahulu engkau menyeret aku di belakang kudamu, bahkan menggantungku. Sekarang engkau hanya aku bawa di atas kuda, kenapa menangis?”

Han Lin memang mempunyai kelemahan. Dia tidak tega mendengar wanita menangis. Dia pun menghentikan kudanya lantas melompat turun agar dapat melihat wajah Leng Si yang menelungkup melintang di atas punggung kuda.

Wanita itu benar-benar menangis. Air matanya bercucuran menuruni ke pipinya.

“Eh, Cu Leng Si, engkau kenapa? Aku tidak mengganggumu sama sekali, kenapa engkau menangis?” tanya Han Lin.

“Han Lin, kau bunuh saja aku. Tidak ada gunanya lagi hidup ini bagiku. Dari pada engkau hina seperti ini, lebih baik bunuh saja!” Dan tangisnya semakin mengguguk.

Lemas rasa hati Han Lin. Dia pun menepuk pundak wanita itu, membebaskan totokannya. “Wah, engkau tidak adil!” seru Han Lin. “Dahulu ketika engkau menawanku, apa yang kau lakukan padaku? Sudah lupakah engkau? Engkau menyeret-nyeret tubuhku dengan kuda, engkau menggantungku dan entah perbuatan apa lagi yang kau lakukan kepadaku kalau saja Kwan Im Sianli tidak muncul. Sekarang aku hanya menelungkupkanmu di atas kuda. tetapi engkau sudah menangis begitu sedih.”

Leng Si duduk di atas tanah sambil mengusap air matanya. “Aku sudah putus harapan. Kalau aku menyiksamu, karena aku memang sangat membutuhkan pedang itu. Mengapa engkau tidak mau berterus terang mengatakan di mana Ang-in Po-kiam? Kalau aku tidak mendapatkan pedang itu, ahh, celaka...!”

“Engkau ini bagaimana sih? Sudah kukatakan berulang kali bahwa pedang itu dicuri orang dan pencurinya mungkin Sam Mo-ong. Akan tetapi engkau tidak percaya kepadaku! Lagi pula, mengapa engkau mati-matian hendak mendapatkan pedang pusaka itu? Untuk apa bagimu?”

“Untuk kukembalikan kepada Sribaginda Kaisar agar ayahku dibebaskan.”

“Ehhh?! Ayahmu ditangkap? Kenapa? Apa yang terjadi? Enci yang baik, harap ceritakan kepadaku, siapa tahu akan dapat aku menolongmu.”

Cu Leng Si menghela napas panjang dan menghapus air matanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner