PEDANG AWAN MERAH : JILID-12


“Ayahku adalah seorang pejabat di kota raja. Karena ayah berani menentang kekuasaan Kui-thaikam yang menguasai istana, malah mempengaruhi Kaisar, maka Kui-thaikam lalu menjatuhkan fitnah kepadanya. Kini ayah menjadi tahanan atas perintah kaisar yang telah dihasut oleh Kui-thaikam. Nah, kalau aku mengembalikan pedang Awan Merah, aku dapat minta kepada Kaisar supaya ayahku dimaafkan dan dibebaskan, akan tetapi engkau tidak mau menyerahkan pedang itu.”

“Aku berani sumpah, enci. Pedang itu dicuri orang.” Han Lin lantas menceritakan tentang penyergapan atas dirinya di dalam kuil. “Agaknya Sam Mo-ong yang melakukannya dan pedang itu kini tentu berada di tangan mereka. Kalau pedang itu dapat kurampas kembali kemudian kuhaturkan kepada Sribaginda Kaisar, tentu aku akan memohon kepada beliau untuk membebaskan ayahmu. Siapakah nama ayahmu, enci?”

“Namanya Cu Kiat Hin, pejabat bagian perpustakaan istana,” jawab Leng Si. “Han Lin, kau maafkan aku atas kekasaranku kepadamu. Kiranya engkau baik sekali. Aku berjanji akan membantumu untuk mendapatkan kembali Ang-in Po-kiam, setelah itu kita bersama nanti menghadap kaisar. Kau mau memaafkan aku, bukan?”

“Sebelum ini telah kumaafkan, enci. Kwan Im Sianli juga telah memintakan maaf untukmu kepadaku.”

“Terima kasih. Ternyata engkau adalah seorang pendekar sejati. Kalau saja aku memiliki seorang adik sepertimu ini, tentu akan dapat bantu memikirkan keadaan ayahku.”

“Mengapa tidak, enci? Aku seorang yatim piatu dan sebatang kara, biarlah aku menjadi adikmu dan engkau menjadi enci-ku.”

“Terima kasih, adik Han Lin! Kini hatiku terasa lebih ringan. Agaknya timbul keyakinanku bahwa dengan bantuanmu, tentu ayahku akan dapat dibebaskan kembali. Sekarang aku akan membantu mencari keterangan tentang Sam Mo-ong.”

“Baiklah, enci. Kita masing-masing mencari dan kalau sudah berhasil, kita saling jumpa di Souw-ciu. Di taman bunga umum.”

“Baik, nah, selamat berpisah, adikku!”

“Selamat berpisah, enci-ku yang baik!”

Mereka pergi meninggalkan tempat itu, Leng Si menunggang lagi kudanya dan Han Lin berjalan kaki. Hatinya terasa senang dan kakinya terasa ringan. Pertemuannya dengan Leng Si yang akhirnya mengakuinya sebagai adik itu mendatangkan perasaan haru dan senang. Tahulah dia bahwa Cu Leng Si bukan wanita jahat. Kalau dulu dia bersikap kejam dan keras adalah karena dia dihimpit perasaan khawatir tentang ayahnya yang ditangkap atas fitnah Kui-thaikam.

Dalam perjalanannya mengejar dan mencari Sam Mo-ong, pada suatu hari Han Lin tiba di tepi Huang-ho (Sungai Kuning), di dekat kota Lan-chouw. Han Lin membeli sebuah perahu kecil kemudian mendayung perahu itu untuk menuju ke Yin-coan yang terletak di daerah Mongolia Dalam.

Sudah dua hari dua malam dia berperahu. Dia hanya berhenti untuk membeli makanan di dusun-dusun para nelayan di pinggir sungai. Pada hari ketiga, pagi-pagi sekali perahunya telah meluncur cepat. Kota Yin-coan tidak terlalu jauh lagi. Paling lambat pada besok pagi dia sudah akan sampai. Maksudnya kalau di Yin-coan dia tidak mendapatkan keterangan, dia akan terus mengejar sampai ke utara!

Tiba-tiba nampak banyak perahu hitam di depan. Tadinya Han Lin mengira bahwa mereka adalah para nelayan yang sedang mencari ikan. Akan tetapi dia mulai merasa curiga dan cepat bersiap siaga ketika mereka membentuk formasi menghadangnya. Setelah mereka dekat, dia merasa terkejut dan heran sekali.

Ada tujuh buah perahu, masing-masing ditumpangi lima orang dan mereka semua adalah para wanita! Yang berada paling depan dan berdiri di kepala perahu adalah seorang wanita yang berusia sekitar dua puluh lima tahun, cantik manis dan gagah sekali, dengan senjata golok telanjang terselip di pinggang!

”Hei, kenapa kalian menghadang di tengah? Minggirlah dan biarkan aku lewat!” teriak Han Lin.

Wanita cantik itu bertanya kepada anak buahnya yang berada di perahunya. “Benarkah dia? Kalian tidak salah lihat?”

“Tidak salah lagi, pangcu (ketua). Benar dialah pemuda yang mempunyai Ang-in Po-kiam dan dulu pernah ditawan Jeng-i Sianli Cu Leng Si!” jawab seorang anak buahnya.

Wanita itu lalu menudingkan golok yang sudah dicabut dari pinggangnya ke arah Han Lin. “Cepat kau serahkan Ang-in Po-kiam kepadaku kalau kau ingin lewat dengan selamat!”

Han Lin menjadi marah. Dia sudah kehilangan pedang dan kini sedang dicari-carinya, tapi ada saja orang yang hendak merampas pedang yang belum ditemukan kembali itu.

“Aku tidak punya Ang-in Po-kiam,” katanya terus terang.

“Bohong! Kalau engkau tidak mau mengaku maka engkau harus menyerah untuk menjadi tawanan kami sampai pedang itu dapat kami temukan!”

“Kalian ini orang-orang perempuan macam apa? Tidak ada hujan tidak ada angin hendak menawan orang!” Han Lin berseru marah dan kini dia sudah melintangkan tongkatnya di depan dada.

“Awas, pangcu. Dia lihai sekali. Bahkan Jeng-i Sianli tidak akan mampu mengalahkannya kalau tidak kami bantu dengan jala,” kata seorang anak buah.

Maka tahulah kini Han Lin bahwa para anak buah ini adalah mereka yang dulu membantu Cu Leng Si menangkapnya dengan jala.

“Semua perahu mundur, menjauhkan diri!” Tiba-tiba wanita cantik itu memberi aba-aba.

Han Lin menjadi lega melihat mereka semua mendayung perahu menjauhkan diri dan dia pun hendak melanjutkan perjalanan. Akan tetapi tiba-tiba dia melihat dengan kaget bahwa para wanita itu melompat ke dalam air kemudian menyelam. Kini mengertilah dia dengan terlambat bahwa perahu-perahu itu menjauhkan diri dari perahunya supaya dia tidak dapat melompat ke perahu mereka!

Han Lin segera maklum apa yang akan mereka lakukan, maka dia pun mulai mendayung perahunya untuk minggir dan mendarat. Akan tetapi usahanya terlambat sudah. Agaknya para wanita itu memang ahli renang yang pandai, karena sebentar saja dia sudah merasa perahunya terguncang-guncang ke kanan-kiri. Tentu diguncang dari bawah.

Dia tidak dapat menyerang mereka karena mereka tidak nampak, maka dia hanya berdiri mengatur keseimbangan badannya. Namun tiba-tiba perahunya miring kemudian terbalik sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya juga terjun ke dalam air.

Kalau hanya berenang biasa saja, Han Lin juga dapat. Akan tetapi dibandingkan dengan para wanita itu yang rata-rata dapat bergerak seperti ikan di dalam air, maka gerakannya tidak ada artinya. Tak lama kemudian dia sudah meronta-ronta karena kakinya ada yang memegangi dan menarik. Dia menendang-nendang, akan tetapi yang memegangi kakinya banyak sekali, dan tubuhnya sudah diseret masuk ke dalam air.

Han Lin gelagapan, mencoba menahan napas, namun akhirnya dia terpaksa minum air dan menjadi lemas. Dia sudah tidak sadarkan diri ketika ditarik ke atas perahu, kemudian tubuhnya dijungkirkan agar air dari dalam perutnya dapat keluar dari mulut.

Ketika sadar kembali, ternyata dia sudah berada di dalam sebuah rumah, rebah telentang di atas pembaringan dengan kaki tangan terbelenggu erat-erat. Han Lin maklum bahwa selain dibelenggu kaki tangannya, tubuhnya juga ditotok secara lihai sekali sehingga biar pun tidak lumpuh, namun dia merasa lemas dan ketika dia mencoba untuk mengerahkan sinkang-nya, maka lambungnya terasa nyeri.

“Bagus, engkau sudah bangun, tampan?” terdengar suara wanita.

Ketika Han Lin menengok keluar, seorang wanita sudah memasuki kamar itu. Dia adalah wanita yang tadi dilihatnya pada kepala perahu, wanita yang memimpin para wanita tadi. Sambil tersenyum memperlihatkan deretan gigi yang putih bersih, wanita cantik itu duduk di tepi pembaringan kemudian tangannya membelai rambut di kepala Han Lin.

Pemuda itu terkejut bukan main melihat kelancangan tangan wanita muda itu. Akan tetapi kelancangan itu ternyata bukan hanya sampai di situ. Wanita itu lantas membungkuk dan mencium pipi Han Lin dengan kecupan mesra.

“Ehh, apa yang kau lakukan ini, nona?” tegur Han Lin kaget dan marah.

“Yang kulakukan? Menciummu, apa lagi? Ini artinya bahwa aku cinta kepadamu. Menurut anak-anak buahku yang dulu membantu Enci Leng Si, namamu Sia Han Lin, bukan? Nah, perkenalkan, namaku Poa Siok Cin, aku ketua dari Liong-lio pang. Dan engkau... engkau telah kupilih menjadi calon suamiku!”

“Tidak, aku tidak mau!” kata Han Lin dengan perasaan ngeri. Agaknya wanita itu gila, atau tidak tahu malu?

“Hi-hik, makin keras kau menolak justru semakin menggairahkan. Aku tidak suka laki-laki yang mata keranjang, kalau diajak kawin, segera mau begitu saja. Engkau keras hati dan gagah, aku cinta sekali padamu, Han Lin! Pendeknya, mau atau tidak mau, engkau harus menjadi suamiku dan kalau engkau terus menolak, engkau akan tetap terbelenggu selama engkau dapat bertahan!”

Wanita itu membungkuk, lalu mencium lagi dan Han Lin sengaja membuang muka untuk menghindarkan ciuman, kemudian wanita itu pergi sambil tertawa-tawa gembira.

Ketika ada anggota wanita datang membawa makanan dan minuman, lantas menawarkan untuk menyuapinya, Han Lin menutup mulutnya dan menolak.

Dua hari dua malam lewat, dan Han Lin hampir tidak kuat lagi. Dia pikir kalau begini terus, jika dia tidak mau menerima makanan dan minuman, tentu tubuhnya akan semakin lemah sehingga tidak ada kemungkinan sama sekali untuk melawan. Juga dia dapat jatuh sakit dan malah mati kelaparan.

Maka pada hari ketiga, ketika anggota wanita itu mengantarkan makanan dan minuman, dia pun berkata, “Aku mau makan kalau kedua tanganku dilepaskan ikatannya. Aku tidak mau disuapi.”

Petugas wanita itu lalu pergi memberi tahu kepada ketuanya. Tidak lama kemudian Poa Siok Cin segera datang sendiri. “Kekasihku yang ganteng, engkau mau makan dan minta kedua tanganmu dibebaskan? Jangankan hanya dua tanganmu, juga kedua kakimu pasti akan kubebaskan kalau engkau menyatakan bersedia menikah denganku.”

Han Lin tidak menjawab, namun Siok Cin segera menotok beberapa jalan darah di tubuh belakangnya yang membuat Han Lin merasa lemas tak berdaya, dan sesudah itu barulah kedua tangannya dibebaskan dari ikatan. Biar pun kedua tangannya sudah bebas, tentu saja Han Lin tak mampu berbuat sesuatu untuk memberontak karena ketika dia mencoba mengerahkan sinkang-nya, lambungnya terasa nyeri sekali.

Maka dia pun tidak mau memberontak. Dia akan menanti saatnya yang baik. Han Lin lalu makan minum dengan lahapnya untuk memulihkan tenaga, tanpa mempedulikan wanita cantik itu menungguinya dan bahkan melayaninya, mengucapkan bujuk rayu yang manis menarik.

Karena Han Lin tampaknya tidak banyak membantah lagi, bahkan diam saja ketika dibelai dan dicium, maka kakinya pun dibebaskan. Namun tetap saja dia tidak berdaya. Kamar itu dijaga ketat oleh beberapa orang wanita dari luar kamar, dan tenaganya sama sekali tidak dapat dipergunakan.

Malam itu Han Lin merasa kegerahan. Tubuhnya terasa panas sementara kepalanya agak pening. Dalam benaknya terbayang wajah wanita-wanita cantik. Wajah Mulani, wajah Can Bi Lan, lalu wajah Kiok Hwi bergantian bermunculan di depan matanya. Kemudian muncul pula wajah Yang Mei Li yang sudah lama dia rindukan, lalu terganti wajah Cu Leng Si dan wajah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei. Bahkan yang terakhir wajah Poa Siok Cin!

Teringat dia betapa Siok Cin menciuminya penuh gairah. Seketika itu pula jantung Han Lin berdebar penuh gairah. Dia terkejut. Rangsangan yang hebat bergelombang menghantam perasaannya. Cepat dia duduk bersila di atas pembaringan sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya. Akan tetapi lambungnya terasa seperti ditusuk.

Dia lalu menghentikan pengerahan tenaga saktinya dan memusatkan seluruh ingatannya kepada Lo-jin sambil mengingat-ingat semua petuahnya tentang kehidupan. Dengan cara demikian barulah dia dapat mengaburkan serangan gairah yang amat kuat itu.

Namun tidak lama kemudian muncul Siok Cin. “Kekasihku, engkau belum tidur? Apakah engkau sedang menunggu aku? Kekasihku, besok kita akan melangsungkan pernikahan, aku sudah mengirim undangan ke mana-mana. Aihh, kita akan berbahagia sekali.” Wanita itu naik ke pembaringan kemudian merangkul tubuh Han Lin.

Begitu tubuh yang lunak dan hangat itu merengkulnya, rangsangan birahi makin berkobar di dada Han Lin. Samar-samar dia teringat bahwa perasaan ini mulai timbul sesudah tadi dia makan minum, berarti di dalam makanan atau minuman itu tentu mengandung obat perangsang. Kalau tidak demikian, tidak mungkin dia kini terangsang begitu hebatnya.

Dirangkul, dibelai dan dicium Siok Cin, Han Lin semakin rapat memejamkan matanya dan berulang kali menyebut nama Lo-jin, seakan-akan dia mohon kekuatan dari gurunya itu. Dan sungguh aneh, dia dapat melawan gelombang gairah yang amat kuat itu sesudah dia mengulang-ngulang sebutan Lo-jin!

Hal ini lambat laun menjengkelkan hati Siok Cin. Wanita ini tadinya sudah mengharapkan bahwa malam itu Han Lin pasti akan pasrah dan melayaninya dengan penuh gairah. Tidak tahunya pemuda itu tetap saja bersikap dingin walau pun seluruh tubuhnya terasa panas!

“Gila kau! Engkau memilih mati, barang kali?” Akhirnya didorongnya tubuh Han Lin dan ia pun melompat turun, wajahnya kemerahan karena nafsu birahi telah sampai ke ubun-ubun kepalanya namun tidak mendapat sambutan. “Kalau sampai besok engkau tetap berkeras menolakku, maka besok engkau akan kusiksa sampai mati!” Sesudah berkata demikian, Siok Cin meninggalkan kamar itu.

Han Lin menjatuhkan diri rebah telentang sambil terengah-engah. Untung wanita itu tidak tahu betapa tadi dia sudah nyaris menyerah! Betapa hatinya telah menyentak-nyentaknya ingin merangkul, ingin menciumi dan menyatakan cintanya kepada wanita itu. Hampir saja perisai pertahanannya jebol.

“Terima kasih, suhu...!” Berulang kali dia berbisik karena sesungguhnya nama Lo-jin yang telah menyelamatkannya. Nama itu menjadi pegangan terakhir yang digantunginya hingga dia tidak sampai terhanyut.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pelayan sudah datang mengantar sarapan pagi yang nampak lezat sekali, penuh sayur dan daging. Han Lin yang tidak peduli lagi, hanya mengingat bahwa dia harus menjaga kesehatan dan kekuatan tubuhnya, langsung makan dengan lahapnya. Akan tetapi ketika ada orang datang membawakan pakaian pengantin kemudian menyuruh dia memakainya, dia tidak mau.

“Aku tidak mau menikah dengan siapa pun juga. Cepat bawa pergi pakaian ini dan suruh saja pakai pria mana yang mau dipersuami ketuamu!”

Biar pun dibujuk dan diancam, tetap saja Han Lin menolak hingga akhirnya Poa Siok Cin sendiri datang membawa cambuk! “Orang tak tahu diuntung! Tak mengenal budi. Engkau berani menolak memakai pakaian pengantin? Hayo pakai atau aku akan mencambukimu sampai mati!”

Han Lin tidak peduli. “Lebih baik aku mati dari pada menjadi suamimu, pangcu,” katanya dingin.

“Buka bajunya, telanjangi punggungnya!” bentak Poa Siok Cin dengan wajah merah dan mata melotot.

Ini sudah keterlaluan, pikirnya. Masa segala bujukan, ancaman, bahkan obat perangsang tak mampu menundukkan pemuda ini? Dia memang suka kepada pemuda yang tahan uji dan keras hati, akan tetapi kalau ditolak terus akhirnya dia menjadi kehabisan kesabaran. Sebentar lagi para tamu, penduduk dusun di sekitar sini akan berdatangan, dan pengantin pria tetap tidak mau memakai pakaian pengantin. Lalu mau ditaruh ke mana mukanya?

Beberapa orang anak buahnya lantas menelanjangi baju atas Han Lin sampai pemuda itu telanjang mulai dari pinggang ke atas. Kedua tangannya dibelenggu ke belakang lalu dia diikat pada tiang pembaringan.

“Hayo katakan, apakah engkau masih juga tidak mau memenuhi kehendakku, menikah denganku?”

“Tidak sudi!” jawab Han Lin.

“Tar-tarr-tarrr...!” Pecut di tangan Siok Cin meledak-ledak sampai lima kali dan punggung yang putih itu terobek kulitnya sehingga berdarah-darah.

“Sudah cukupkah? Atau masih minta kutambahi lagi? Akan kuhancurkan punggungmu!” bentak Siok Cin.

“Orang muda, sebaiknya engkau menurut saja,” bujuk seorang anggota Liong-li-pang yang berusia empat puluhan tahun. “Pangcu amat sayang padamu dan kalau engkau menikah dengan pangcu maka engkau akan menjadi orang terhormat, apa pun yang kau inginkan tentu akan dipenuhi oleh pangcu. Selama ini belum pernah pangcu mencinta seorang pria seperti kepadamu, orang muda.”

“Poa Siok Cin, engkau wanita iblis. Engkau perempuan tak tahu malu. Lebih baik aku Sia Han Lin mati dari pada harus menjadi suami seorang siluman jahat seperti engkau!” Han Lin yang sudah tidak melihat jalan keluar memaki-maki. Lebih baik mati sebagai seekor harimau dari pada mati sebagai seekor domba yang mengembik minta dkasihani.

“Jahanam busuk!” Kembali cambuk itu melecut dengan lebih keras lagi, sebanyak sepuluh kali.

Kini punggung Han Lin telah merah semua. Dia tidak dapat mengerahkan sinkang untuk membuat kulitnya kebal karena dia tertotok secara istimewa oleh Siok Cin sehingga tiap kali mengerahkan sinkang, lambungnya terasa seperti ditusuk. Dia tahu bahwa itu adalah akibat totokan beracun amat lihai.

Rasa nyeri membuat pemuda ini hampir pingsan. Kekuatannya untuk menahan rasa nyeri sudah hampir melewati batas kemampuannya, namun sedikit pun tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya.

Melihat kekerasan hati ini, Siok Cin semakin kagum dan sayang. Ia berhenti memukul lalu memeluk punggung yang berdarah itu sehingga mukanya menjadi berlepotan darah dari punggung Han Lin.

“Han Lin, ahhh, Han Lin. Aku tidak kuat lagi. Kalau engkau tetap menolak maka terpaksa aku akan membunuhmu!” berkata demikian dia meloncat ke belakang dan…

“Singggg...!” golok itu sudah dicabutnya.

“Hemmm, siluman perempuan. Mau bunuh lekas bunuh. Siapa takut mati?” suara Han Lin dingin sekali dan dia sudah siap untuk mati.

“Keparat! Laki-laki tak berperasaan, laki-laki kejam tak tahu disayang orang. Kalau engkau memilih mati, nah matilah!” Golok itu diangkat lalu menyambar ke arah leher Han Lin.

“Trangggg...!”

Bayangan yang berkelebat masuk melalui jendela dan menangkis golok itu seperti burung garuda terbang saja. Tentu saja Siok Cin terkejut sekali ketika goloknya ditangkis orang sehingga terpental. Ketika dia melihat, ternyata yang berdiri di situ adalah Jeng-i Sianli Cu Leng Si!

Leng Si marah sekali ketika melihat keadaan Han Lin yang punggungnya berdarah-darah itu. “Siok Cin engkau iblis betina keparat! Berani engkau bertindak begini kejam terhadap adikku?”

Wajah Siok Cin agak pucat, akan tetapi perlahan-lahan menjadi merah kembali. Memang dia jeri kepada sahabatnya ini, akan tetapi gairahnya yang sudah memuncak membuat dia menjadi marah dan nekat apa bila bertemu halangan.

“Enci Leng Si, kali ini aku minta engkau jangan mencampuri. Ini adalah urusan antara aku dengan calon suamiku!” bentaknya.

“Apa?! Calon suamimu? Adik Han Lin, benarkah engkau calon suami Siok Cin?”

“Bohong, enci. Ia menawanku dengan menenggelamkan perahuku, kemudian ia memberi racun sehingga tubuhku menjadi lemah dan tidak bisa melawan. Akan tetapi aku menolak menikah dengan siluman ini sehingga dia hendak membunuhku!”

“Keparat engkau, Siok Cin! Kalau memang Han Lin suka menjadi suamimu, tentu aku tak akan mencampuri. Tetapi engkau memaksanya, dan dia adalah adikku, mengerti? Engkau harus bertanggung jawab atas kekejamanmu ini!”

“Leng Si, kau kira aku takut padamu?” Bentak Siok Cin dan dia sudah menyerang dengan goloknya.

Leng Si juga marah sekali. Dia cepat menangkis, lalu balas menyerang. Dua orang wanita itu saling serang seperti dua ekor singa betina berebutan anak. Akan tetapi segera dapat diketahui bahwa Siok Cin masih kalah tingkat. Sesudah dua puluh lima jurus berlalu, Siok Cin hanya mampu menangkis saja dan tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk membalas serangan lawannya.

Para anak buah Liong-li-pang berdiri bingung, tidak berani mencampuri. Mereka mengenal siapa Jeng-i Sianli. Biasanya Leng Si diterima sebagai tamu agung karena Leng Si sudah sering kali membantu bila Liong-li-pang menghadapi musuh. Bahkan ketua mereka sudah menganggap Leng Si sebagai kakak sendiri. Tapi kini keduanya berkelahi memperebutkan seorang pria. Mereka tidak berani ikut campur sebab mereka maklum bahwa mencampuri berarti akan mati konyol.

Siok Cin benar-benar telah nekat. Kekecewaan dan kemarahannya akibat ditolak Han Lin kini ditumpahkan kepada Leng Si yang dianggapnya sebagai penghalang. Bahkan timbul dugaannya bahwa Leng Si membela pemuda itu karena hendak memilikinya sendiri!

Akan tetapi bagaimana hebat pun dan nekatnya pun dia mengamuk, tetap saja dia sangat kewalahan hingga pada suatu ketika sebuah tendangan Leng Si telah membuat goloknya terpental. Sebetulnya Leng Si masih suka memaafkannya dan tidak akan membunuhnya. Akan tetapi Siok Cin yang sudah kebakaran api kemarahan itu, biar pun goloknya sudah terlepas, masih maju menubruk dan menggunakan kedua tangannya melakukan pukulan beracun ke arah Leng Si.

“Kau gila...!” kata Leng Si dan sepasang pedangnya berkelebat.

Darah muncrat dari leher Siok Cin dan ketua Liong-li-pang itu pun roboh tak bergerak lagi, tewas seketika karena lehernya hampir terpenggal oleh pedang Leng Si.

Semua anak buah Liong-li-pang terbelalak kaget, namun dengan tenang Leng Si berseru dengan lantang. “Urus jenazah ketua kalian. Kelak kalau aku singgah di sini, semua harus sudah beres dan jangan sampai Liong-li-pang dibawa menyeleweng!”

Setelah berkata demikian, wanita ini membebaskan totokan Han Lin lalu memapahnya ke pembaringan, mengenakan lagi pakaiannya. Setelah mengumpulkan pakaian Han Lin dan tidak lupa membawa tongkat bututnya, Leng Si lalu menaikkan Han Lin ke atas kudanya dan menuntun kudanya itu meninggalkan Liong-li-pang.

“Adikku yang malang...!”

Han Lin kini merintih, tidak menahan keluhannya karena punggungnya terasa perih ketika diobati oleh Leng Si. Mereka berada di kamar sebuah rumah penginapan di Yin-coan. Dan di kamar itu Leng Si mencuci luka pada punggung Han Lin lantas memberinya obat luka yang amat manjur.

“Aduh, perih sekali, enci...!”

“Tahanlah, adikku yang baik. Aduh, kasihan sekali engkau...! Siok Cin memang agak gila. Dia kejam bukan main...!”

“Tapi engkau sudah membunuhnya, enci.”

“Tentu saja, karena dia nekat terus dan tidak mau sudah. Kalau tidak kubunuh, tentu dia akan terus mengejarmu. Agaknya dia sudah tergila-gila kepadamu, adikku. Ahh, kasihan punggungmu.”

Tiba-tiba Han Lin terkejut bukan main ketika dia merasakan betapa bibir yang hangat dari Leng Si itu mengecup punggungnya yang berdarah.

“Enci, kau...kau...”

Tiba-tiba Leng Si merangkul leher Han Lin dari belakang, kemudian merebahkan mukanya di punggung yang sudah diobatinya itu.

“Ahh...Han Lin..., terus terang saja, selama hidupku aku belum pernah jatuh cinta kepada pria. Sekarang... sesudah bertemu denganmu... sejak pertama kali itu, aku sudah... jatuh cinta kepadamu. Ahh, sungguh memalukan sekali jatuh cinta kepada pria yang jauh lebih muda..., aku... aku memang malang....”

“Aihhh, enci Leng Si. Aku juga sayang kepadamu. Kita adalah kakak dan adik, ingatkah? Seorang kakak tentu saja akan mencinta adiknya, dan si adik juga menyayang kakaknya, bukankah begitu? Ingatlah, enci, jangan merusak hubungan kita yang sudah seperti kakak dan adik sendiri ini. Kumohon padamu, jangan dirusak, enci..”

Leng Si menangis. Menangis terisak-isak di atas pundak dan punggung Han Lin. Han Lin membiarkannya saja. Akhirnya tangis itu mereda lantas berhenti. Leng Si menyusut mata dan hidungnya dengan sapu tangan, kemudian tertawa, namun suara tawanya demikian menyedihkan dan mengharukan.

“Aih, Han Lin, ini namanya orang gila teriak orang lain gila. Aku mengatakan Siok Cin gila, tetapi aku sendiri tidak lebih baik. Aku tergila-gila kepadamu sampai lupa bahwa engkau adalah adikku. Engkau benar, engkau adalah adikku, adikku tercinta!”

Han Lin merasa begitu terharu sampai kedua matanya basah. “Dan engkau adalah enci-ku tersayang, enci Leng Si.”

“Sudah, jangan bicara lagi tentang Siok Cin. Mari kuselesaikan pengobatan punggungmu.”

Setelah pengobatan itu selesai, mereka lalu bicara tentang Sam Mo-ong.

“Aku sudah mendapatkan jejak mereka, Han Lin. Kita sudah mengambil jalan yang benar. Mereka itu pergi ke utara dan mereka tentu akan menyerahkan pedang itu kepada Ku Ma Khan, kepala suku Mongol yang mereka bantu. Kita ikuti saja mereka ke utara.”

“Akan tetapi di sana mereka itu kuat sekali, enci. Kita akan menghadapi pasukan Mongol.”

“Kita mencari jalan bila sudah berada di sana, Han Lin. Tentu saja kita tidak dapat terang-terangan minta kembali pedang, harus menggunakan siasat.”

“Baiklah, enci.”

“Engkau harus beristirahat dahulu, besok kita lanjutkan perjalanan kita ke utara. Aku akan membelikan seekor kuda untukmu.”

Han Lin merasa terharu. Wanita itu benar-benar bersikap seperti seorang kakak baginya.

Pada keesokan harinya, setelah mendapatkan seekor kuda untuk Han Lin, mereka segera melanjutkan perjalanan ke utara. Akan tetapi, baru saja keluar dari kota Yin-coan, mereka melihat tiga orang berjalan kaki dengan langkah cepat sekali. Setelah tiga orang itu dekat, Han Lin mengeluarkan seruan nyaring karena tiga orang itu ternyata adalah Sam Mo-ong yang dicari-cari! Leng Si sudah melompat turun dari atas kudanya. Han Lin juga melompat turun.

“Sam Mo-ong, tiga manusia curang!” bentak Han Lin marah. “Kembalikan Ang-in Po-kiam yang kalian curi dariku!”

Sam Mo-ong juga terkejut bukan main. Tak mereka sangka bahwa mereka akan bertemu dengan Han Lin di tempat itu. Mereka sudah tidak dapat menghindar lagi, maka mereka mengambil keputusan bahwa sekali ini mereka harus dapat membunuh pemuda itu kalau mereka tidak ingin mendapat banyak tentangan darinya di kemudian hari.

“Ha-ha-ha, Sia Han Lin. Engkau masih belum mampus juga? Sekarang kebetulan sekali kita bertemu di tempat sunyi ini. Sekali ini kami akan membunuhmu, tidak akan bekerja kepalang tanggung lagi!” kata Kwi-jiauw Lo-mo sambil tertawa.

Kwi-jiauw Lo-mo yang dibantu Pek-bin Mo-ong sudah gagal membalas dendam terhadap ketua Beng-kauw atas kematian cucunya. Hal itu membuatnya marah dan dongkol sekali, maka kini kemarahannya itu hendak ditumpahkan kepada Han Lin, musuh besarnya.

Tubuhnya yang pendek gendut itu memasang kuda-kuda dengan kaki mekangkang lebar seperti katak, dan mukanya yang kekuningan itu agak merah. Sepasang cakar setan telah tersambung pada kedua tangannya, agaknya dia telah mengambil keputusan untuk sekali ini benar-benar dapat membunuh Han Lin.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner