PEDANG AWAN MERAH : JILID-13


Pek-bin Mo-ong juga maju ke samping Kwi-jiauw Lo-mo.

“Sia Han Lin bocah setan. Beberapa kali engkau luput dari maut di tangan kami, sekali ini kami tidak akan salah lagi!” kata Pek-bin Mo-ong yang tinggi kurus itu.

Mukanya yang putih seperti kapur, menjadi lebih putih lagi karena dia sudah mengerahkan sinkang-nya yang hebat, yang menimbulkan hawa panas beracun. Matanya yang sangat sipit sehingga hanya merupakan dua garis seperti menangis. Mantelnya berkibar dan jari tangannya berubah merah.

Maklum bahwa kedua lawan itu nampaknya hendak bertanding mati-matian, Han Lin juga sudah siap dengan tongkatnya, berdiri tegak dengan tongkat melintang di dada, matanya mencorong tajam mengamati gerak-gerik lawan.

Ada pun Hek-bin Mo-ong yang pendek gendut bermuka hitam itu telah menghampiri Leng Si. Dia tersenyum menyeringai lebar, matanya berkedip-kedip. “Ha-ha-he-he-he, Sia Han Lin. Ternyata engkau datang bersama seorang wanita yang begini cantik, begini bahenol, begini jelita. Bagus, biar aku yang menangkap perempuan menggairahkan ini!” Memang kakek pendek ini mata keranjang.

Leng Si memandang dengan wajah merah. “Hek-bin Mo-ong, iblis busuk. Buka matamu yang berminyak itu lebar-lebar dan lihat baik-baik dengan siapa engkau kini berhadapan. Sekali ini, aku Jeng-i Sianli akan mengirim engkau ke neraka!”

“Jeng-i Sianli? Wah-wah, pantas saja engkau berpakaian hijau, kiranya Jeng-i Sianli (Dewi Baju Hijau). Ha-ha-ha-ha, sebentar lagi aku akan membikin engkau menjadi Dewi Tanpa Baju, ha-ha-ha!”

“Jahanam busuk!” bentak Leng Si yang telah mencabut sepasang pedangnya lalu dia pun menyerang dengan dahsyatnya.

Wanita ini bukanlah seorang lemah, maka Hek I Mo-ong tidak berani memandang rendah. Dari sambaran sepasang pedang itu saja maklumlah dia bahwa wanita itu memliki tenaga sinkang yang cukup kuat. Bajunya yang selalu terbuka itu ujungnya menyambar ke depan dan itulah senjatanya, ujung lengan baju serta ujung baju itu sendiri yang berkibar cukup kuat untuk menangkis senjata tajam lawan, ada pun tangannya cepat menyambar sambil mengeluarkan hawa yang amat dingin beracun.

Ketika tangannya menyambar dan hawa dingin menerjang Leng Si, wanita itu tidak kaget. Dia sudah mendengar dari Han Lin tentang kehebatan tiga orang datuk itu, maka dia tidak membiarkan dirinya terkena pukulan dingin beracun. Dengan melompat ke sana-sini, dia dapat menghindarkan diri dari sambaran angin pukulan dingin, sambil membalas dengan sepasang pedangnya yang tidak kalah ampuhnya.

Han Lin dikeroyok dua oleh Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo. Walau pun dia sudah kehilangan pedang Ang-in Po-kiam, namun dia masih hebat sekali dengan tongkat hitam butut pemberian gurunya. Tongkat itu pendek saja, hanya sepanjang pedang dan dapat ia mainkan sebagai pedang. Maka dia pun menggerakkan tongkatnya dengan ilmu pedang Ang-in Kiam-sut yang digubahnya dari inti ilmu Lui-tai-hong-tung dan Khong-khi-ciang.

Hebat bukan main gerakan tongkatnya itu. Biar pun dikeroyok dua, namun Han Lin sama sekali tidak terdesak, bahkan dia mampu mengimbangi dua orang pengeroyoknya dengan serangan balasan yang tidak kalah dahsyatnya. Namun dia juga tidak mampu mendesak kedua orang datuk itu yang memang sudah tergolong sakti.

Kalau Han Lin hanya seimbang saja dengan kedua orang datuk itu, maka Leng Si mulai kewalahan menghadapi Hek-bin Mo-ong. Setelah lewat tiga puluh jurus, ia mulai terdesak. Sambaran angin pukulan yang dingin itu kadang membuatnya menggigil. Namun dengan penuh semangat Leng Si terus melawan. Sepasang pedangnya membentuk dua gulungan sinar yang sukar ditembus oleh Hek-bin Mo-ong.

Kadang-kadang Han Lin sempat mengerling ke arah Leng Si. Dia merasa khawatir bukan main melihat enci-nya itu amat kerepotan menandingi Hek-bin Mo-ong yang lihai sehingga karena perhatiannya terpecah, dia sendiri pun mulai terdesak.

Selagi kedua orang itu terdesak, tiba-tiba muncul banyak orang dan betapa kaget hati Han Lin setelah mengenal bahwa yang muncul itu adalah Thian-te Siang-kui yang juga sangat lihai! Bukan mereka berdua saja, bahkan masih ada belasan orang anak buah mereka!

Celaka, pikir Han Lin. Thian-kui segera membantu Kwi-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong, sedangkan Tee-kui juga maju mengeroyok Leng Si sambil mengeluarkan kata-kata cabul. Sementara itu belasan orang sudah mengepung tempat itu sehingga mereka berdua tidak mempunyai jalan keluar untuk melarikan diri.

Leng Si yang memang sudah cukup kewalahan menghadapi Hek-bin Mo-ong, ketika kini ditambah dengan Tee-kui, tentu saja dia menjadi semakin repot. Sepasang golok Tee-kui menyambut sepasang pedangnya sehingga kini mudah bagi Hek Bin Mo-ong untuk turun tangan. Namun agaknya Hek-bin Mo-ong tidak ingin membunuh wanita itu, hanya hendak merobohkannya saja dengan jarinya yang menghitam. Leng Si mengeluh karena totokan itu mengandung hawa beracun yang melumpuhkan.

Melihat Leng Si roboh, Han Lin marah sekali. Dengan teriakan melengking Han Lin seperti terbang melompat ke arah Hek-bin Mo-ong. Orang pendek gendut ini terkejut bukan main dan menyambut dengan dorongan kedua tangannya. Tetapi Han Lin sudah menggunakan Khong-khi-ciang sehingga tak dapat dicegah lagi tangan Hek-bin Mo-ong bertemu dengan ujung tongkat.

“Tukkk...!”

Hek bin Mo-ong mengeluarkan teriakan aneh, mulutnya muntahkan darah segar dan tiba-tiba dia tertawa kemudian lari tunggang langgang!

Akan tetapi, pada saat Han Lin menyerang Hek-bin Mo-ong, Kwi-jiauw Lo-mo juga sudah menghantam dengan cakar setannya yang mengenai pundak Han Lin sehingga pemuda ini pun terpelanting roboh, lalu disusul totokan oleh Pek-bin Mo-ong. Leng Si dan Han Lin segera dibelenggu.

“Ke mana Hek-bin Mo-ong?” tanya Kwi-jiauw Lo-mo.

“Wah, sudahlah. Orang itu susah diurus. Entah ke mana dan entah kenapa dia lari,” kata Pek-bin Mo-ong bersungut-sungut.

“Sudahlah,” kata Kwi-jiauw Lo-mo. “Kalau tidak dibunuh, tentu pemuda ini akan membikin repot saja di kemudian hari. Biar aku yang akan membunuhnya. Akan tetapi terlalu enak kalau dibunuh begitu saja. Akan kurusakkan seluruh jaringan otot dan tulangnya sehingga dia dalam keadaan mati tidak hidup pun bukan.”

“Lo-mo, serahkan gadis ini kepadaku sebelum dibunuh. Aku telah banyak membantu Sam Mo-ong dan baru sekali ini aku minta hadiah. Tentu boleh, kan?” kata Tee-kui yang cabul itu sambil memondong tubuh Leng Si yang sudah ditelikung tak berdaya itu.

“Hemm, bawalah. Akan tetapi jangan lupa, setelah puas langsung dibunuh saja. Dia pun akan membikin repot di kemudian hari.”

“Baik, Lo-mo. Terima kasih banyak!” Tee-kui bersorak girang dan hendak membawa pergi tubuh Leng Si.

“Tahan...!” Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan semua orang terkejut ketika melihat bahwa yang membentak adalah Mulani!

Tee-kui yang sudah kegirangan itu tidak jadi pergi. Mulani mengerutkan sepasang alisnya sambil memandang kepadanya.

“Tee-kui, lepaskan wanita itu!”

“Tapi, puteri... Kwi-jiauw Lo-mo telah memberikan...”

“Tutup mulut dan lepaskan wanita itu kataku!”

Tee-kui masih belum mau melepaskan wanita yang dipondongnya. Matanya mencari dan memandang kepada Kwi-jiauw Lo-mo. Kakek ini menghela napas panjang lantas berkata kepadanya,

“Lepaskan dia!”

Dengan kecewa dan marah Tee-kui segera melepaskan pondongannya sehingga Leng Si jatuh berdebuk di atas tanah, kemudian Thian-te Siang-kui dan anak buahnya pergi dari situ dengan alis berkerut akan tetapi tidak berani membantah.

“Akan tetapi Mulani...” bantah Kwi-jiauw Lo-mo. “Mereka ini akan berbahaya sekali kalau dibiarkan hidup!”

“Suhu, sudah lupakah suhu akan pembicaraan kita dengan ayah? Apakah suhu hendak melanggar perintah ayah? Suhu, bebaskan Han Lin dari totokannya dan tinggalkan kami pergi,” dengan suara lembut namun bernada memerintah Mulani berkata.

Kwi-jiauw Lo-mo tidak berani membangkang. Dia tahu betapa besar rasa sayang Ku Ma Khan kepada puterinya ini. Apa lagi dia memang sudah mendengar mengenai siasat yang hendak dijalankan Mulani terhadap pemuda itu. Dia lalu membebaskan totokan dari tubuh Han Lin.

Begitu terbebas dari totokan, Han Lin lalu melompat ke dekat Leng Si dan membebaskan gadis itu dari totokan. Sesudah Leng Si bebas, Mulani lalu berkata kepadanya, “Sekarang engkau telah bebas dan baru saja kuhindarkan engkau dari mala petaka yang lebih hebat dari pada maut. Nah, kuminta engkau segera pergi meninggalkan kami berdua.”

Leng Si mengerutkan alisnya hendak membantah. Namun ketika da memandang kepada Han Lin, pemuda ini mengangguk dan berkata, “Enci, harap engkau suka pergi lebih dulu, nanti aku menyusul,” kata-kata Han Lin ini terdengar tegas.

Maka tahulah Leng Si bahwa tidak ada pilihan lain baginya kecuali menurut kata-kata Han Lin. Bagaimana pun juga harus diakuinya bahwa gadis Mongol itu baru saja menolongnya dari bahaya yang mengerikan di tangan Tee-kui.

“Hemm, aku akan pergi, tetapi aku bersumpah kelak akan membalas kejahatan Thian-te Siang-kui dan antek-anteknya!” Sesudah berkata demikian dia membalikkan tubuhnya lalu berlari pergi dari tempat itu.

Setelah semua orang pergi, tinggal mereka berdua yang berada di situ, Mulani mendekati Han Lin lalu berkata, “Han Lin, kalau aku tidak datang menyelamatkanmu, tentu gadis itu sudah diperkosa oleh Tee-kui dan engkau sendiri sudah dibunuh oleh Kwe-jiauw Lo-mo. Apa katamu setelah kuselamatkan?” Mulani tersenyum sambil mendekati pemuda itu.

Han Lin memandang gadis itu dengan ramah dan tersenyum pula. “Mulani, bukan hanya sekali ini aku menerima pertolonganmu. Ketika aku dikeroyok oleh Sam Mo-ong dahulu, engkau pun sudah menyelamatkanku. Sehingga aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa engkau menentang guru-gurumu sendiri dan menyelamatkan aku?”

“Han Lin, apakah engkau masih juga belum tahu akan isi hatiku? Sejak dulu aku merasa kagum dan suka sekali kepadamu, dan sekarang aku bahkan jatuh cinta kepadamu. Han Lin, maukah engkau menjadi suamiku?”

Han Lin terbelalak, akan tetapi lalu teringat bahwa Mulani adalah suku Mongol. Dia pernah mendengar bahwa sudah menjadi kebiasaan suku Mongol bila seorang wanita meminang pria untuk menjadi suaminya.

“Mulani, sekarang bukan saatnya aku berbicara tentang perjodohan. Aku sedang mencari pedangku yang hilang dan sekali ini aku sangat yakin bahwa hilangnya pedang tentu ada hubungannya dengan perbuatan Sam Mo-ong. Kalau benar engkau beritikad baik padaku, tentu engkau juga tahu siapa yang mencuri Ang-in Po-kiam dan suka mengembalikannya kepadaku.”

“Han Lin, pedang itu pasti akan kukembalikan kepadamu, akan tetapi dengan syarat jika engkau suka menjadi suamiku. Pedang itu sudah berada di tangan ayah, dan aku hendak menggunakannya sebagai hadiah pernikahan kita. Bagaimana, Han Lin? Kau tentu tahu bahwa berulang aku menolongmu tentu ada sebabnya dan sebab itu adalah bahwa aku mencinta engkau.”

Han Lin terkejut. Jadi untuk itukah Mulani mengerahkan guru-gurunya mencuri Ang-in Po-kiam. Untuk memaksanya menikah dengannya? Dia menghela napas panjang.

“Mulani, aku kagum dan suka sekali padamu. Engkau adalah seorang gadis yang cantik dan sama sekali tidak jahat. Tapi sayangnya berguru kepada tiga orang datuk sesat maka ikut-ikutan menjadi sesat. Pernikahan harus dilakukan dengan suka rela, atas dasar rasa cinta kedua pihak. Engkau tidak dapat memaksakan pernikahan, Mulani.”

“Akan tetapi aku cinta kepadamu, Han Lin. Kalau engkau suka menikah denganku, pasti Ang-in Po-kiam akan kuberikan kepadamu!”

“Mulani, kalau engkau hendak memaksa seorang pria untuk menikah denganmu, padahal pria itu tidak mencintamu, maka engkau akan menjadi seorang wanita yang tak tahu malu, Mulani.”

“Plakkk...!” tamparan Mulani itu keras sekali.

Han Lin memang sengaja tidak mau menangkis atau mengelak sehingga ujung bibirnya pecah berdarah terkena tamparan Mulani. Kalau Han Lin tenang saja, adalah Mulani yang terbelalak dengan muka pucat, menatap wajah Han Lin yang bibirnya berdarah, kemudian mendadak dia menangis, lalu merangkul leher Han Lin dan menciumi mulut yang berdarah itu, mengisap darah dari bibir Han Lin sambil menangis.

“Han Lin... ahh…, tega benar engkau menolakku, menyakiti hatiku dengan kata-katamu... padahal aku sangat mencintamu, Han Lin...!” Mulani menangis dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar sandiwara agar dapat memanfaatkan Han Lin seperti yang diceritakannya kepada ayahnya.

Han Lin mengelus rambut Mulani. Dia tidak marah. Bahkan dia merasa iba kepada gadis ini, dapat merasakan betapa rasa cinta gadis Mongol ini kepadanya. Tapi di dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada gadis ini. Dia tahu bahwa jika dia menerima berdasarkan iba, maka berarti dia akan merusak hidup mereka berdua.

“Mulani, maafkanlah aku, Mulani. Seperti kukatakan tadi, aku kagum dan suka padamu, akan tetapi rasa cinta tidak dapat dipaksakan, Mulani!”

Han Lin dan Mulani begitu tenggelam di dalam perasaan masing-masing sehingga mereka tak menyadari betapa ada sepasang mata yang tengah mengintai mereka dari jarak yang tak begitu jauh. Pemilik sepasang mata ini adalah Can Kok Han.

Seperti yang kita ketahui, Can Kok Han masih merasa penasaran sekali melihat pedang di tangan Han Lin. Putera ketua Pek-eng Bu-koan ini ingin sekali mendapatkan pedang itu, maka dia pun mencari jejak Han Lin.

Ketika melihat Han Lin dan Leng Si dikeroyok, dia lantas menonton sambil bersembunyi. Hatinya yang telah diracuni kebencian terhadap Han Lin itu merasa girang melihat Han Lin dan Leng Si tertawan Sam Mo-ong. Akan tetapi betapa kecewanya melihat Mulani datang menolong Han Lin, terutama sekali ketika melihat Mulani merayu Han Lin, hatinya terasa seperti dibakar. Perasaan iri hati dan cemburu membakar dirinya, membuat kebenciannya terhadap Han Lin semakin menghebat.

Orang bijaksana harus selalu waspada terhadap diri sendiri dan selalu ingat bahwa nafsu adalah bisikan setan yang hanya dapat dikalahkan oleh kekuasaan Tuhan. Musuh yang terbesar berada di dalam hati akal pikiran kita sendiri yang bergelimang nafsu. Sekali saja pencuri-pencuri berupa bermacam nafsu itu dibiarkan masuk, maka celakalah kita.

Kok Han adalah putera ketua Pek-eng Bu-koan yang selalu menjunjung tinggi kegagahan. Akan tetapi sekali nafsu kebencian sudah merasuk hatinya, maka segala macam nilai dan norma kegagahan pun ditinggalkan demi tercapainya balas dendam kebenciannya.

Saat melihat Mulani menyatakan cintanya kepada Han Lin, Kok Han merasa iri hati sekali karena sejak pertama dia sudah tergila-gila kepada gadis Mongol ini. Kini melihat Mulani menciumi Han Lin dan merayunya, merengek minta dinikahi, hampir dia tak mampu lagi menahan kemarahan dan kebenciannya terhadap Han Lin.

Dia memiliki semacam obat peledak buatan ayahnya. Obat peledak ini mengandung daya bius dan menurut pesan ayahnya hanya boleh digunakan untuk menyelamatkan diri saja apa bila sudah terdesak. Ketika dahulu dia berkelahi melawan Tee-kui dan hampir celaka, dia tidak membawa obat peledak ini. Sejak pengalaman itu, dia pun selalu membekali diri dengan obat peledak itu untuk berjaga diri. Kini, melihat betapa Mulani merangkul Han Lin sambil menangis, tanpa disadarinya lagi tangannya mengambil dua buah obat peledak itu lalu dengan cepat dia membanting dua buah bola peledak itu dekat Han Lin dan Mulani.

Terdengar dua kali suara ledakan lantas nampak asap mengepul tebal menyelimuti tubuh Han Lin dan Mulani. Kok Han yakin sekali akan hasil senjata rahasianya, maka dia segera mendekat sambil menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Begitu melihat tubuh Mulani telah menggeletak telentang dalam keadaan pingsan, dia cepat memondong tubuh itu lalu membawanya keluar dari gumpalan asap pembius.

Dia merebahkan tubuh Mulani di atas rumput di dalam hutan kecil seberang jalan itu dan melihat tubuh itu, merasa betapa lembut serta hangat tubuh itu tadi dalam gendongannya, kemudian teringat betapa gadis yang membuatnya tergila-gila ini jatuh cinta kepada Han Lin, pemuda yang dibencinya, maka setan dan iblis merasuki hati Kok Han. Gairah birahi menggulungnya sehingga dia tak mampu bertahan lagi. Tanpa mempedulikan lagi segala akibatnya, dia lalu menanggalkan pakaian Mulani.

Maka terjadilah perbuatan keji yang terkutuk. Dengan sepenuh hati, dengan kasih sayang yang memuncak, Kok Han menggauli dan memperkosa gadis yang masih dalam keadaan terbius itu. Sesudah semuanya berakhir barulah dia sadar akan kejinya perbuatannya dan dia merasa menyesal bukan main. Akan tetapi sesal itu hanya melahirkan pemutaran otak bagaimana agar dia terhindar dari akibatnya.

Segera dia memondong tubuh yang telanjang dari Mulani, kembali ke tempat di mana Han Lin sedang rebah dalam keadaan pingsan. Dia mengambil pakaian Mulani, lantas ditaruh berserakan di tempat itu dan dia pun menelanjangi Han Lin. Sesudah menghapus semua tanda-tanda peledakan dua buah bola peledaknya, Kok Han lalu pergi dengan diam-diam.

Dia sudah menggauli Mulani. Walau pun akhirnya Mulani akan menikah dengan Han Lin, namun dia telah mendahului pemuda itu, telah memerawani Mulani. Iblis dalam benaknya tertawa-tawa penuh kegembiraan, menertawakan pemuda yang dibencinya dan sekaligus menertawakan gadis yang dicintanya tetapi malah mencinta pemuda yang dibencinya itu.

Pengaruh obat bius itu memang hebat. Tidak kurang dari empat jam Mulani dan Han Lin menggeletak pingsan dalam keadaan telanjang bulat. Sebelum pergi tadi, dengan cerdik Kok Han sudah menciumkan obat penawar dari sebuah botol kecil. Inilah yang membuat gadis itu lebih dulu siuman, seperti yang dikehendakinya.

Ketika Mulani sadar, dia menggigil kedinginan akan tetapi dia lalu terbelalak memandang tubuhnya sendiri yang telanjang bulat serta pakaiannya yang berserakan di sekelilingnya. Kemudian dia menjerit ketika melihat tubuh Han Lin menggeletak tak jauh dari situ dalam keadaan telanjang bulat pula.

Jerit tangis Mulani menyadarkan Han Lin dari pingsannya. Dia membuka matanya dan dia pun terkejut setengah mati ketika melihat dirinya telanjang bulat, demikian pula diri Mulani yang kini menangis sesenggukan. Dia cepat mengenakan pakaiannya kembali dan sambil membelakangi Mulani dia berkata,

“Mulani, kenakan pakaianmu, baru kita bicara.” Suaranya gemetar penuh kegelisahan.

Apa yang dilihatnya tadi membuatnya mengingat-ingat. Bagaimana mungkin tiba-tiba dia bertelanjang bulat bersama Mulani di tempat itu? Dia teringat betapa tadi Mulani menangis di pundaknya, minta diambil sebagai isteri, kemudian terdengar ledakan, timbul asap tebal dan dia pun tidak ingat apa-apa lagi. Bagaimana tahu-tahu kini mereka bertelanjang bulat bersama?

Mulani masih terisak saat dia mengenakan pakaiannya, kemudian berkata, “Han Lin, tidak kusangka engkau akan sekejam itu kepadaku. Yang kukehendaki bukan cara begini, akan tetapi kita menikah dulu dengan resmi, setelah itu baru kita dapat menjadi suami isteri...” Gadis itu menangis lagi. “Akan tetapi aku...kau...ahh, kau telah menodaiku...”

Han Lin terbelalak. “Mulani! Apa kau kata? Aku... aku tidak melakukan kekejian itu. Sejak tadi aku pingsan dan baru saja aku siuman!”

“Han Lin, apakah salah dugaanku selama ini bahwa engkau seorang jantan yang selalu mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Apakah engkau hanya seorang pengecut yang mempergunakan kesempatan kemudian tidak mau mengakui?”

“Tapi... tapi... aku tidak mengerti, Mulani.”

“Han Lin, begitu siuman aku mendapatkan diriku telanjang bulat dan sudah ternoda. Ada pun engkau… engkau rebah di sini, juga telanjang bulat. Haruskah aku menjelaskan lebih jauh lagi? Engkau tidak mau bertanggung jawab? Bagaimana jika seluruh dunia kangouw mendengar akan perbuatanmu ini?” Sambil berkata Mulani masih terus menangis.

Han Lin tertegun. Dia percaya pada Mulani. Jelas bahwa Mulani diperkosoa orang selagi pingsan seperti dia, tetapi siapa yang melakukannya, di luar kesadarannya? Rasanya tak mungkin. Akan tetapi siapa yang mau percaya kalau mendengar keadaan mereka berdua bertelanjang di tempat itu? Apakah asap pembius itu mengandung obat perangsang yang membuat dia lupa diri sehingga menggauli Mulani?

Melihat pemuda itu terlongong saja, Mulani menjerit sambil menangis tersedu-sedu. “Han Lin... engkau… engkau tak mau bertanggung jawab? Lebih baik aku mati, biar aku bunuh diri di depanmu!” Gadis itu lalu menyambar pedangnya.

Han Lin melompat dan merampas pedang itu. “Mulani, jangan berbuat bodoh. Tentu saja aku bertanggung jawab, kalau memang aku yang melakukan perbuatan itu.”

“Kalau benar melakukan perbuatan itu? Habis siapa lagi? Tidak ada orang lain di sini dan orang-orang pembantu ayahku tak mungkin berani melakukannya. Engkaulah pelakunya, kau sadari atau tidak. Engkaulah yang melakukannya!”

“Baiklah, Mulani. Aku adalah seorang laki-laki, kalau memang demikian halnya, tentu saja aku berani bertanggung jawab. Aku akan menikahimu.”

“Sekarang juga, Han Lin. Mari kuhadapkan engkau kepada ayahku agar pernikahan kita dapat segera dilangsungkan.”

Karena sudah tak berdaya dan tidak dapat menuduh siapa yang melakukan perbuatan itu selain dia sendiri, terpaksa Han Lin menurut. Kemudian dia bersama Mulani melakukan perjalanan cepat ke utara dengan menunggang kuda…..

********************

Ku Ma Khan tentu saja girang sekali menerima kedatangan puterinya yang menggandeng seorang pemuda tampan dan gagah yang diperkenalkannya sebagai Han Lin, kekasihnya yang sudah dipilihnya untuk menjadi suaminya. Seluruh keluarga itu bergembira, terutama Ku Ma Khan yang menyangka bahwa puterinya telah berhasil dengan siasat yang mereka rencanakan, yaitu membujuk Han Lin agar menjadi suami Mulani kemudian orang muda itu dapat dijadikan mata-mata setelah memperoleh hadiah kedudukan di kota raja.

Atas desakan Mulani, juga atas persetujuan Han Lin yang tidak dapat berbuat atau bicara banyak, pernikahan itu lalu dilangsungkan, tanpa menanti kembalinya Sam Mo-ong yang sedang melaksanakan tugas lainnya, yaitu menghubungi Kiu Thai-kam di istana Kerajaan Tang. Mulani yang mendesak agar tidak usah menanti mereka.

Setelah sebulan pernikahan dirayakan, Han Lin tetap tidak mau menggauli Mulani.

“Sekali saja, apa bila hal itu memang benar terjadi, merupakan perbuatan terkutuk dariku. Oleh karena itu, sebelum aku dapat menjadi suamimu dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, lebih dulu aku ingin bersembahyang di depan makam ayah bundaku untuk mohon ampun atas perbuatanku yang memalukan nama leluhur itu, Mulani.”

“Akan tetapi kita sudah menikah, Han Lin. Kini aku telah menjadi isterimu yang sah dan engkau sudah menjadi suamiku,” bantah Mulani yang tentu saja merasa tidak senang dengan sikap suaminya.

“Benar, akan tetapi sebelum aku bersembahyang di hadapan makam orang tuaku di kota raja, maka apa yang terjadi di hutan itu sungguh akan selalu menjadi kenangan terburuk dan mendatangkan perasaan berdosa dalam hatiku. Kuharap engkau suka bersabar dan memaklumi keadaanku, Mulani.”

Mulani tidak dapat memaksa, meski pun di dalam hatinya dia merasa amat gelisah karena ternyata dia sudah mengandung akibat hubungan badan yang terjadi di luar kesadarannya itu. Sebetulnya di dalam hati kecilnya dia juga meragu apakah benar Han Lin yang sudah menggaulinya. Melihat watak dan sikap Han Lin, agaknya sukar dipercaya bahwa Han Lin akan mengambil kesempatan seperti itu untuk bertindak keji.

Bahkan dia sendiri menyaksikan bahwa ketika dia sadar lebih dulu, Han Lin masih belum siuman. Akan tetapi, kalau tidak menuduh Han Lin, lalu menuduh siapa? Dan peristiwa itu bahkan telah menolongnya, menolong tercapainya siasat yang direncanakan.

Tentu saja dia merasa gembira sekali dengan terjadinya peristiwa yang menimpa dirinya. Peristiwa itu sudah mendatangkan dua hasil. Pertama, keinginannya untuk menjadi isteri Han Lin terkabul, dan ayahnya dapat menanam seorang mata-mata di istana Kaisar Tang. Sebagai seorang mantu tentu saja Han Lin dapat dipercaya.

Akan tetapi, sejak malam perayaan sampai sebulan lebih, Han Lin menolak menggaulinya sebagai seorang suami, dengan alasan hendak berziarah dahulu ke makam orang tuanya. Pagi hari itu, pasangan suami isteri yang dari luar nampak rukun itu duduk makan pagi di beranda depan. Dalam kesempatan ini Han Lin mengutarakan maksud hatinya.

“Mulani, kuharap engkau tidak melupakan janjimu tentang Ang-in Po-kiam,” dia mulai.

“Suamiku, aku pun ingin menagih hakku. Semenjak pernikahan kita, engkau belum benar-benar menjadi suamiku.”

“Mulani, bukankah sudah kuberi tahukan alasanku? Walau pun di luar kesadaranku, tetapi kita sudah pernah berhubungan sebagai suami isteri, bukan?”

Mulani menghela napas panjang. “Benar, dan yang satu kali itu telah diberkahi para dewa, suamiku. Aku telah mengandung sebagai akibat hubungan kita yang satu kali itu.”

“Apa...?!” Han Lin melompat berdiri.

“Suamiku, mengapa engkau terkejut? Sepatutnya engkau bergembira, bukankah kita akan mempunyai anak, mempunyai keturunanmu?”

Han Lin menghela napas panjang. “Memang seharusnya kita bergembira. Tadi aku hanya terkejut karena tak menyangka bahwa perbuatan di luar kesadaran itu akan membuahkan seorang anak.”

“Sekarang, keinginanmu bagaimana, Han Lin suamiku?”

“Seperti yang kukatakan tadi, aku menagih janjimu. Pedang itu harus kuserahkan kembali kepada kaisar dan sekalian aku akan mengunjungi makam keluargaku, ayah bundaku.”

“Kalau begitu, mari kita menghadap ayah, karena pedang itu disimpan oleh ayahku.”

Suami isteri ini lalu menghadap Ku Ma Khan. Mendengar permintaan puterinya agar Ang-in Po-kiam diserahkan kepada Han Lin, ketua suku Mongol itu kemudian berkata, “Tentu saja, Han Lin. Engkau adalah anak mantuku, maka sudah sepantasnya jika engkau yang mewakili aku untuk mengembalikan pedang kepada kaisar Thai Cung dari Kerajaan Tang. Engkau serahkan pedang ini, dan terimalah kedudukan tinggi di sana. Dengan demikian maka hubungan antara kaisar dan kami menjadi baik. Kami mengharapkan agar engkau menjadi jembatan hubungan baik itu demi kebaikan kedua pihak.”

Pada hari-hari sebelumnya Han Lin pernah mendengar dari Mulani bahwa ayahnya ingin agar dia mengembalikan Ang-in Po-kiam, kemudian menjadi penyelidik bangsa Mongol dan sebisa mungkin membujuk Kaisar agar bersikap bersahabat terhadap bangsa Mongol, terutama suku bangsa yang dipimpin oleh Ku Ma Khan.

Di dalam hatinya tak mungkin Han Lin mau berkhianat terhadap kaisar. Akan tetapi kalau hanya mengusahakan supaya kedua bangsa menjalin hubungan baik, tentu saja dia tidak keberatan. Dia pun menyatakan kesanggupannya dan berjanji bahwa setelah dia diterima kaisar dan memperoleh kedudukan, maka dia akan pulang kemudian memboyong Mulani.

“Suamiku, biarkan aku ikut pergi denganmu.” Mulani terus merengek karena dia tidak mau ditinggalkan suaminya tercinta.

“Mulani, perjalanan ini jauh dan berbahaya sedangkan engkau sedang mengandung. Amat berbahaya dan tidak baik kalau engkau ikut. Dan kita belum tahu bagaimana penerimaan kaisar kepadaku nanti. Tidak, engkau tinggal saja di sini dan aku berjanji bahwa aku akan memboyongmu ke sana kalau aku sudah berhasil,” kata Han Lin.

Ku Ma Khan membenarkan ucapan mantunya dan melarang Mulani ikut dengan suaminya yang akan membahayakan keselamatannya sendiri, bahkan mungkin akan menggagalkan tugas Han Lin.

Demikianlah, setelah menerima bekal dan seekor kuda dari ayah mertuanya, Han Lin lalu berangkat menuju ke selatan sambil membawa Ang-in Po-kiam. Sebelum dia berangkat, yang menjadi kenangannya sampai sekarang adalah pesan Ku Ma Khan bahwa kalau dia bertemu dengan Sam Mo-ong, agar dia dapat bekerja sama dengan mereka.

“Sam Mo-ong adalah pembantu kami, sedangkan engkau adalah menantuku, maka sudah sewajarnya kalau engkau bekerja sama dengan mereka, Han Lin.”

Jalan hidupnya sudah menyimpang, pikirnya. Dia berada dalam posisi yang terbalik sama sekali dari keadaannya sebelum menikah dengan Mulani. Pernikahan yang tiada artinya sama sekali baginya. Sampai sekarang pun dia belum pernah menyentuh isterinya itu.

Dia masih merasa ragu apakah ketika itu dia yang melakukan hubungan dengan Mulani, akan tetapi sukar sekali untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah. Yang jelas, Mulani telah diperkosa! Ini adalah kenyataan yang tak dapat dibantah lagi karena buktinya Mulani kini mengandung. Anaknyakah yang dikandungnya itu? Atau bukan? Dia menjadi pusing!

Dia memang suka dan kagum kepada gadis Mongol itu, akan tetapi dia tak ingin menjadi suaminya. Dia tidak ingin mempunyai perasaan cinta kasih untuk itu. Namun apa hendak dikata? Keadaan menghendaki lain dan kini dia sudah menjadi suami Mulani. Yang lebih membingungkan, dia mantu Ku Ma Khan yang menghendaki agar dia menjadi semacam mata-mata di istana Kaisar Kerajaan Tang…..!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner