PEDANG AWAN MERAH : JILID-14


Hek-bin Mo-ong terhuyung-huyung sambil tertawa-tawa. Ia telah terluka hebat, keracunan akibat pukulannya sendiri yang membalik ketika beradu tenaga dengan Han Lin. Kadang-kadang dia menggigil, dan napasnya sesak terengah-engah. Akan tetapi dia masih terus tertawa dan terkekeh. Luka di sebelah dalam yang mengandung racun itu agaknya sudah membuat Hek I Mo-ong menjadi gila!

Ketika dia mendaki bukit itu, setibanya di lereng bukit, akhirnya dia terhuyung lalu roboh pingsan. Ketika terjatuh dahinya menimpa batu sehingga berdarah, akan tetapi dia masih sempat mengeluarkan satu kali teriakan.

Pada saat itu pula dari puncak bukit turun seorang wanita. Wanita ini masih muda sekali, usianya delapan belas tahun lebih, cantik jelita dan lembut, langkahnya ringan dan seperti orang menari saja, pakaiannya serba putih terbuat dari sutera halus. Mengherankan sekali melihat wanita yang seperti puteri kerajaan itu berjalan seorang diri di tempat sunyi itu, di atas jalan yang tidak mudah dilalui.

Wanita itu bukan orang biasa, melainkan seorang ahli silat yang sangat lihai, juga seorang ahli obat yang sukar dicari bandingnya pada waktu itu. Ia adalah Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli (Dewi Kwan Im). Ia dijuluki orang demikian karena sepak terjangnya yang suka mengulurkan tangan menolong siapa saja tanpa pilih bulu.

Ketika dia sedang menuruni bukit sambil membawa sebuah keranjang obat yang penuh dengan daun-daun dan akar-akar obat, dia mendengar teriakan yang parau menyeramkan itu. Cepat dia pun melangkah menuju ke arah suara itu dan dia mendapatkan Hek-bin Mo-ong menggeletak pingsan di situ.

Sekali pandang saja Kwan Im Sianli Lie Cin Mei telah mengenal Hek-bin Mo-ong sebagai seorang datuk, seorang dari Sam Mo-ong yang sangat terkenal. Akan tetapi, menghadapi orang yang sedang sakit, dia tidak memandang siapa orangnya. Yang penting ada orang sakit dan membutuhkan pertolongannya. Ini saja yang masuk dalam pikirannya.

Cepat dia meletakkan keranjangnya lalu berjongkok, memeriksa nadi dan dada orang itu. Dan dia terkejut bukan main. Laki-laki gendut pendek bermuka hitam itu sudah keracunan hebat! Di dalam tubuhnya terdapat hawa dingin sekali berputaran, mengancam nyawanya setiap saat. Kalau tidak segera ditolong, orang ini jelas akan mati dalam waktu beberapa jam saja.

Lie Cin Mei cepat duduk bersila, menggulung lengan bajunya sehingga nampak sepasang lengannya yang berkulit putih mulus. Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan tentang pengobatan, dara ini segera menyadari bahwa untuk mengusir racun itu tak cukup hanya dengan mengolesi obat luar dan memberinya minum obat dalam, namun harus dilakukan dengan pengerahan sinkang yang akan menguras tenaganya.

Akan tetapi, dalam saat-saat seperti itu, Cin Mei tidak memperhitungkan untung ruginya. Saat itu yang paling penting baginya hanyalah menyelamatkan nyawa seorang manusia, tanpa membedakan siapa manusia itu. Baik dia seorang pengemis atau pembesar, baik dia kaya atau miskin, jahat atau budiman, ia tetap seorang manusia yang terancam maut dan harus diselamatkan.

Cin Mei mengeluarkan buntalan obat-obatan dan dari buntalan itu dia mengambil dua butir obat pulung kecil. Sambil menggenggam obat ia membuka mulut Hek-bin Mo-ong dengan menekan kedua sisi rahangnya, lantas memasukkan dua butir obat pulung ke dalam mulut datuk itu sehingga dua butir obat itu memasuki perutnya, kemudian menggunakan sejenis minyak untuk mengolesi dadanya yang berubah menghitam.

Kemudian dia menelungkupkan tubuh Hek-bin Mo-ong, dan setelah duduk bersila di dekat kakek itu, dia pun menjulurkan kedua lengannya, menempelkan sepasang telapak tangan pada punggungnya. Dan mulailah dia melakukan pengobatan dengan penyaluran sinkang untuk mengusir hawa dingin beracun itu dari dalam tubuh Hek-bin Mo-ong.

Dia merasa betapa hawa yang dingin sekali menyambut sepasang telapak tangannya. Dia cepat mengerahkan seluruh tenaganya sehingga tak lama kemudian hawa dingin itu mulai berkurang. Akan tetapi segera peluh membasahi dahinya. Dia bekerja terus sampai tubuh Hek-bin Mo-ong mulai menggetar dan tubuhnya sendiri juga tergetar hebat.

Satu jam lebih Cin Mei menyalurkan tenaganya hingga akhirnya Hek-bin Mo-ong muntah-muntah, gumpalan darah menghitam keluar dari mulutnya. Akhirnya dia siuman kemudian bergerak bangkit duduk.

Cin Mei merasa lega dan gembira karena dia tahu bahwa nyawa orang itu sudah berhasil diselamatkan. Sekarang Hek-bin Mo-ong tidak terancam maut lagi. Akan tetapi tubuhnya sendiri bergoyang-goyang dan dia merasa lemas sekali, kehabisan tenaga sinkang.

Hek-bin Mo-ong sadar akan keadaannya. Dia cepat melompat berdiri sambil menyambar bajunya yang tadi dilepas oleh Cin Mei. Ketika dia melihat seorang gadis berpakaian putih yang cantik jelita duduk bersila memejamkan mata, dia terbelalak. Hek-bin Mo-ong adalah seorang kakek yang cabul dan mata keranjang. Melihat seorang gadis demikian cantiknya duduk bersila di situ, tentu saja gairahnya segera berkobar bagaikan api yang membakar tubuhnya.

“Aihh, nona, engkau cantik seperti bidadari!” katanya sambil mendekati, berlutut kemudian hendak merangkul.

Kwan In Sianli Lie Cin Mei membuka mata, lalu menangkis dengan tangannya yang lemah dan berkata, “Hek-bin Mo-ong, jangan biarkan nafsu kotor menguasaimu. Baru saja aku menghabiskan tenaga untuk menyelamatkan nyawamu.”

Hek-bin Mo-ong tidak jadi merangkul dan dia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha, kiranya engkau inikah yang berjuluk Kwan Im Sianli, si tukang mengobati yang amat lihai?”

“Memang orang-orang menyebutku Kwan Im Sianli. Aku tadi melihat engkau menggeletak di sini, pingsan akibat keracunan, maka aku lalu mengobatimu.”

“Bagus, bagus! Aku memang mendengar bahwa Kwan Im Sianli cantik bagaikan bidadari dan ternyata berita itu benar. Karena aku telah berhutang nyawa kepadamu, maka hanya ada satu jalan saja untuk membalas budimu ini, yaitu menjadikan engkau sebagai isteriku tercinta!” Kembali dia hendak merangkul.

Tentu saja Cin Mei terkejut bukan main. Tidak disangkanya di dunia ini ada orang sejahat dan sekotor itu jalan pikirannya. Meski pun tenaganya sudah habis, akan tetapi dia masih memiliki sisa tenaga untuk melompat bangun dan menghindarkan diri dari rangkulan Hek-bin Mo-ong.

“Hek-bin Mo-ong, sadarlah! Aku tidak minta balasan dari pertolonganku, akan tetapi tidak sepatutnya kalau engkau melakukan hal ini kepadaku. Biarkan aku pergi dari sini, Hek-bin Mo-ong, dan semoga Thian memberkahimu.” Dia langsung melangkah pergi, akan tetapi sambil tertawa bergelak Hek-bin Mo-oong menubruk dan berhasil menangkapnya.

“Hek-bin Mo-ong, lepaskan aku!” Lie Cin Mei meronta sambil membentak.

“Ha-ha-ha, engkau harus menjadi isteriku agar aku tidak takut lagi menderita luka seperti tadi. Ha-ha-ha!”

“Hek-bin Mo-ong, lepaskan atau aku akan membunuh diri!” kata lagi Cin Mei.

Akan tetapi ucapan ini seperti mengingatkan saja kepada Hek-bin Mo-ong, maka dia pun cepat menotok gadis itu sehingga menjadi lemas dan tidak berdaya.

Sambil tertawa-tawa Hek-bin Mo-ong membawa tubuh Cin Mei pergi dari situ. Tapi belum seratus langkah dia pergi, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

“Hek-bin Mo-ong, lepaskan gadis itu!” dan sebatang tongkat butut sudah menyambar ke arah kepalanya.

Demikian hebat serangan itu dan demikian kaget hati Hek-bin Mo-ong mengenal suara itu sehingga dia terpaksa melepaskan tubuh yang dipanggulnya, kemudian dia melempar diri ke belakang dengan menggelinding seperti sebuah bola ditendang. Setelah dia melompat bangkit kembali, dia lantas memandang kepada Han Lin dengan mata mencorong penuh kemarahan.

Pemuda inilah yang membuatnya terluka parah pada beberapa bulan yang lalu sehingga hampir saja dia tewas. Namun, mengeroyok bersama dua orang rekannya saja dia masih belum mampu menang malah terluka, apa lagi jika sekarang harus bertanding satu lawan satu. Namun karena marah sekali melihat gadis yang sudah berada di mulut dan tinggal menelan saja itu lepas lagi, dia lantas menerjang dengan pukulan dingin beracunnya yang dahsyat. Akan tetapi Han Lin cepat menghindar ke samping dan ketika kakinya mencuat, paha Hek-bin Mo-ong sudah kena ditendangnya.

Tubuh Hek-bin Mo-ong terjengkang ke belakang dan dia menjadi jeri. Dilihatnya gadis itu sudah bangkit dan agaknya, entah bagaimana, gadis itu sudah berhasil membebaskan diri dari totokannya. Dia sudah mendengar bahwa selain ahli dalam ilmu pengobatan, gadis itu lihai pula ilmu silatnya. Kalau gadis itu maju mengeroyoknya, habislah dia. Maka, sambil mengeluarkan teriakan panjang seperti lolong serigala, dia meloncat lalu melarikan diri.

“Hek-bin Mo-ong, sekali ini engkau tidak akan lolos dari tanganku!” Han Lin mengejar.

“Jangan kejar dia...!” Cin Mei berseru dan gadis ini berkelebat di depan Han Lin. Dia telah menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk melompat ke depan Han Lin. “Jangan... jangan kau membunuh orang...!”

Han Lin terbelalak, apa lagi ketika melihat gadis itu terkulai lalu roboh pingsan. Cepat dia melompat dan menahan agar tubuh itu tidak sampai terbanting, dan mendapat kenyataan bahwa nadi tangannya berdetik lemah sekali.

Han Lin merebahkan gadis itu di atas rumput lalu menjaganya. Dari pemeriksaannya dia tahu bahwa Cin Mei tidak terluka, hanya tubuhnya lemah bukan main. Dengan diam-diam dia mengamati wajah gadis itu dan seketika jantungnya berdebar kencang.

Bukan main cantik jelitanya gadis ini, bahkan tak kalah cantik dibandingkan dengan Yang Mei Li, adik misannya yang pernah dicintanya itu. Dan betapa lembutnya, nampak agung dalam pakaiannya yang serba putih bersih. Pantas dia berjuluk Kwan Im Sianli, pikirnya.

Cin Mei belum juga membuka matanya, namun mulutnya yang kecil mungil itu mengeluh, “Jangan bunuh orang...”

Han Lin terharu. Heran sekali dia. Jelas bahwa Hek-bin Mo-ong tadi menggangu gadis ini, jelas bahwa iblis itu memiliki niat keji terhadapnya, akan tetapi mengapa malah melarang dia membunuh datuk sesat itu?

Kini Cin Mei membuka matanya, agaknya baru teringat setelah melihat Han Lin duduk di dekatnya. Dia segera bangkit duduk lantas bertanya. “Di mana Hek-bin Mo-ong? Engkau tidak membunuhnya, bukan?”

Han Lin menggelengkan kepalanya. “Dia sudah melarikan diri. Akan tetapi, apa yang telah terjadi, nona? Kenapa engkau ditawannya?”

“Ahh, manusia itu dikuasai nafsu rendahnya. Aku mendapatkan dia rebah pingsan dalam keadaan terluka oleh hawa beracun dingin dan nyaris saja mati. Aku lantas mengobatinya dengan mengerahkan sinkang untuk mengusir hawa beracun itu. Aku berhasil, akan tetapi tenagaku terkuras habis. Setelah dia sadar dan sembuh, dia malah hendak memaksa aku menjadi isterinya.”

“Jahanam busuk! Keparat engkau, Hek-bin Mo-ong!” seru Han Lin marah. “Tetapi kenapa engkau melarangku ketika aku hendak mengejar dan membunuhnya?”

“Kejahatannya itu merupakan suatu penyakit. Orang yang sakit sepantasnya diobati dan disembuhkan, bukan dibunuh!” jawab Cin Mei.

Han Lin tertegun. “Akan tetapi, dia membalas kebaikanmu dengan kejahatan. Membalas madu yang kau berikan dengan racun. Orang seperti itu sudah pantas kalau seratus kali dibunuh. Akan tetapi mengapa engkau malah membelanya?”

“Aku tidak membelanya. Aku melarang engkau membunuhnya bukan demi dia, melainkan demi engkau sendiri.”

“Ehhh...? Apa maksudmu?”

“Engkau telah menolong aku dari tangan Hek-bin Mo-ong...”

“Akan tetapi engkau pun pernah menolongku dari tangan Jeng-i Sianli Cu Leng Si, bahkan juga mengobati lukaku.”

“Jangan bicarakan itu, aku sudah lupa lagi. Maksudku, engkau seorang yang baik dan aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang pembunuh.”

Kembali Han Lin tertegun. Selama hidupnya belum pernah dia berjumpa dengan seorang gadis seperti ini. Betapa mulia hatinya, betapa lembut, halus dan agung.

“Nona Lie Cin Mei, aku belum memperkenalkan diriku. Namaku Sia Han Lin.”

“Engkau marga Sia? Aku teringat kepada seorang paman luarku yang juga bermarga Sia, bahkan dia pernah menjadi seorang yang amat terkenal di seluruh negeri.”

“Hemm, siapa nama pamanmu itu?”

“Sia Su Beng...”

“Ahhhh...!” Han Lin sampai melompat saking kagetnya.

“Kenapa engkau begitu terkejut?” Cin Mei bertanya heran.

“Karena... karena Sia Su Beng adalah mendiang ayah kandungku!” Setelah mengeluarkan kata-kata itu, barulah Han Lin teringat bahwa dia harus menyembunyikan keadaan dirinya. Entah mengapa, di depan gadis ini dia tidak dapat berbohong!

“Aihh, begitukah? Aku mendengar bahwa paman Sia Su Beng dan isterinya gugur ketika mempertahankan kota raja.”

“Benar, dan aku menjadi sebatang kara.”

“Kalau begitu kita masih ada hubungan keluarga, walau pun amat jauh karena mendiang Paman Sia Su Beng hanyalah saudara misan yang jauh dari ibuku. Bahkan mereka tidak pernah saling berhubungan, apa lagi sejak Paman Sia Su Beng menjadi penguasa di kota raja.”

“Siapakah nama ibumu?”

“Ibu adalah Wi Wi Siankouw, sejak muda sudah menjanda dan menjadi pendeta. Suci Cu Leng Si adalah murid ibu pula. Akan tetapi aku juga pernah menjadi murid Thian-te Yok-sian, dari siapa aku mempelajari ilmu pengobatan.”

“Wah, mereka adalah dua tokoh yang mempunyai nama besar di dunia persilatan. Sudah lama aku mendengar nama Wi Wi Siankouw disebut orang, juga nama Thian-te Yok-sian yang amat dikagumi kalangan kang-ouw.”

“Ya, mereka memang terkenal. Akan tetapi sayang, watak suci amat keras sehingga dulu itu hampir saja dia membunuhmu.”

“Tidak, sebetulnya dia seorang yang amat baik hati. Kau tahu, kini dia malah menjadi enci angkatku. Dia mengaku bahwa dahulu itu dia menyiksaku untuk mendapatkan Ang-in Po-kiam, karena dia sangat membutuhkan pedang itu untuk dihaturkan kepada kaisar supaya dapat membebaskan ayahnya dari tahanan kaisar karena fitnah.”

“Benarkah itu? Aku girang sekali engkau menjadi adik angkatnya. Memang suci seorang yang baik, akan tetapi hatinya sekeras baja. Aku juga mendengar tentang ayahnya itu dan bagaimana dengan pendang Ang-in Po-kiam?”

“Pedang itu tadinya dirampas oleh Sam Mo-ong, akan tetapi kini telah berada di tanganku lagi. Aku memang sedang mencari suci-mu, untuk kuajak bersama-sama menghaturkan pedang itu kepada kaisar, nona... ehh, sebaiknya kupanggil siauw-moi kepadamu karena engkau adalah keponakan luar mendiang ayahku.”

“Sebaiknya begitu, toako.”

“Aku hendak mencarinya ke Souw-ciu ketika di jalan aku melihat engkau sedang ditawan oleh Hek-bin Mo-ong.”

“Kalau begitu lanjutkanlah perjalananmu, toako, agar engkau dapat bertemu dengan suci kemudian mengajaknya bersamamu pergi ke kota raja. Aku ikut merasa gembira kalau dia berhasil membebaskan ayahnya. Sampai jumpa kembali, toako.”

“Tidak, tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu, siauw-moi!”

“Kenapa, toako?”

“Sekarang engkau sedang kehabisan tenaga sinkang, dan untuk memulihkannya kembali memerlukan waktu sedikitnya seminggu. Aku tak mau melepaskanmu begitu saja seorang diri melakukan perjalanan dalam keadaan tidak mampu membela diri.”

Gadis itu tersenyum, senyumnya demikian manis tetapi menyejukkan hati, bukan senyum yang menimbulkan gairah kepada yang memandangnya.

“Toako, selamanya aku tidak pernah memusuhi orang, siapa yang akan menggangguku?”

“Aih, aku percaya kepadamu, siauw-moi. Akan tetapi aku tidak percaya kepada orang lain. Buktinya baru saja tadi, sesudah engkau menyelamatkan nyawa Hek-bin Mo-ong, orang yang kau selamatkan itu malah berbalik hendak mencelakaimu.”

“Tetapi akhirnya aku terbebas, bukan? Aku percaya bahwa selama orang tidak membenci dan berpikiran buruk terhadap orang lain maka Thian akan selalu memberi perlindungan.”

“Akan tetapi aku akan menyesal selama hidupku kalau aku membiarkan engkau pergi dan kemudian terjadi sesuatu yang tak baik kepadamu. Tidak, siauw-moi, sebelum tenagamu pulih, aku tidak mau meninggalkanmu. Ke mana pun engkau pergi akan kutemani.”

Lin Cin Mei tertawa. “Wah, engkau pun memiliki kekerasan hati seperti suci. Pantas sekali engkau menjadi adik angkatnya. Baiklah, kalau begitu aku akan ikut denganmu ke Souw-ciu mencari suci.”

Bukan main girangnya hati Han Lin karena sesungguhnya bukan karena mengkhawatirkan keselamatan gadis itu saja yang membuat dia bersikeras menemani gadis itu, melainkan terutama sekali karena dia tidak ingin berpisah dari Cin Mei!

Mereka lalu melanjutkan perjalanan. Han Lin mengambil kudanya yang tadi dilepaskannya di luar hutan. Ia menyuruh Cin Mei menunggang kudanya, sedangkan dia sendiri berjalan sambil menuntun kuda itu. Cin Mei yang memang masih lemah, tidak menolak.

Dalam perjalanan bersama ini, yang dilakukan dengan santai, mereka saling menuturkan riwayat dan pengalamannya. Cin Mei bercerita bahwa dia tidak mengenal ayahnya karena menurut ibunya, sejak dia kecil ayahnya telah meninggal dunia. Dia hanya hidup bersama ibunya yang menjanda dan menjadi seorang tokouw (Pendeta Wanita To) berjuluk Wi Wi Siankouw. Bahkan ibunya tidak pernah memberi tahu siapa nama kecil ibunya dan siapa pula nama ayahnya.

Dia mendapat gemblengan ilmu silat dari ibunya bersama Cu Leng Si yang menjadi suci-nya, akan tetapi karena dia memiliki bakat yang sangat baik dalam ilmu pengobatan, oleh ibunya dia lalu diikutkan kepada Thian-te Yo-sian sahabat ibunya untuk digembleng dalam ilmu pengobatan selama tiga tahun.

“Sesudah menamatkan ilmu silat dan ilmu pengobatan, aku mulai pergi merantau supaya dapat menggunakan ilmuku untuk menolong orang yang membutuhkan,” kata Lie Cin Mei menutup ceritanya.

“Dan enci Leng Si juga ahli pengobatan?”

“Tidak, apakah dia tidak menceritakan kepadamu? Enci Leng Si lebih tekun mempelajari kitab dari ibu dibandingkan ilmu pengobatan.”

“Pantas dia amat pandai membaca sajak dari ayat-ayat suci. Akan tetapi engkau sungguh mengagumkan. Masih begini muda sudah pandai ilmu silat dan ilmu pengobatan.”

“Aihhh, sudahlah. Jangan terlalu banyak memuji, toako. Kini giliranmu untuk menceritakan riwayat dan pengalaman hidupmu,” kata Cin Mei sambil tersenyum.

Gadis ini memiliki kebiasaan untuk menutup kata-katanya dengan senyum. Heran sekali kenapa Hek-bin Mo-ong dapat begitu tega mengganggu seorang gadis seperti ini, padahal gadis ini telah menyelamatkan nyawanya.

Ditanya demikian, wajah Han Lin menjadi muram. “Aih, hanya kepahitan saja yang selama ini kualami, siauw-moi.”

“Pahit, getir dan manis adalah bumbu hidup, toako, tidak perlu disesalkan. Yang penting langkah yang kita ambil selalu benar dan tidak menyimpang dari kebenaran,” kata gadis itu bijaksana.

“Engkau benar. Sekarang dengarlah riwayatku yang penuh kepahitan itu. Ketika kota raja diserbu musuh, ayah dan ibu mempertahankan sampai titik darah terakhir. Pada saat itu aku baru berusia lima tahun. Ayah dan ibu menyuruh seorang inang pengasuh membawa aku mengungsi. Inang ini kemudian kuanggap sebagai pengganti ayah ibu sendiri karena kesetiaannya dan kasih sayangnya. Akan tetapi sungguh menyedihkan! Ketika Sam Mo-ong membuat kekacauan di dusun kami, dan melukai aku, inang pengasuhku itu akhirnya tewas karena hendak menolongku. Aku terjatuh ke jurang karena pukulan Hek-bin Mo-ong dan melihat aku terjatuh ke jurang, Liu Ma turut pula meloncat ke dalam jurang sehingga dia pun tewas.”

Han Lin berhenti sebentar, sedih mengenang peristiwa itu.

“Mati hidup sudah ditentukan Thian, toako. Tak ada yang perlu disesalkan dan disedihkan. Thian Maha Tahu, tahu apa yang terbaik untuk setiap orang.”

Han Lin memandang kagum. Heran sekali, ada gadis berusia delapan belas tahun sudah memiliki pandangan hidup seperti seorang pendeta saja.

“Aku berguru kepada Kong Hwi Hosiang, akan tetapi suhu juga tewas di tangan Sam Mo-ong. Sungguh, apa bila aku menuruti suara hati, maka dendamku terhadap Sam Mo-ong sudah setinggi gunung!”

“Dendam hanya meracuni hati, toako. Engkau boleh saja menentang kejahatan Sam Mo-ong, akan tetapi bukan karena benci atau dendam.”

“Aku tahu siauw-moi, kedua orang guruku sudah sering kali berkata seperti itu. Meski pun kadang amat sukar membendung suara hati yang meneriakkan dendam.”

“Dua orang gurumu, toako?”

“Ya, aku berguru lagi kepada seorang kakek yang luar biasa, yang tak mau mengenalkan namanya sehingga hanya kukenal dengan sebutan Lo-jin (orang tua) saja. Dari beliau aku memperdalam ilmu selama lima tahun. Kemudian beliau memisahkan diri, menyuruh aku untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang pernah kupelajari.”

“Luar biasa sekali!” seru Cin Mei kagum. “Engkau beruntung sekali dapat berguru kepada dua orang yang bijaksana, toako. Lalu bagaimana pengalaman hidupmu selanjutnya?”

Sungguh aneh. Selama ini belum pernah Han Lin bercerita mengenai Lo-jin kepada orang lain, akan tetapi sekali ini dia sudah menceritakan segalanya. Terhadap Cin Mei agaknya tak mungkin dia menyembunyikan sesuatu, dan dia pun tidak ingin merahasiakan sesuatu kepada gadis yang baru dikenalnya ini. Dia menceritakan semua pengalamannya, bahkan tentang Yang Mei Li yang pernah dicintanya akan tetapi gadis itu mencinta dan menikah dengan orang lain. Tentang bagaimana dia bisa mendapatkan Ang-in Po-kiam ketika ikut membasmi Hoat-kauw yang menyeleweng, mengambil pedang yang tadinya digunakan oleh Hoat-kauw Sian-su itu.

Cin Mei mendengarkan dengan tertarik sekali, tidak pernah memotong cerita Han Lin dan dia adalah seorang pendengar yang baik. Ketika Han Lin berhenti sebentar, dia pun lantas berkata, “Aku pernah mendengar tentang keributan mengenai Ang-in Po-kiam itu. Bahkan kabarnya Cin-ling-pai juga ikut terbawa-bawa. Bagaimana sebetulnya, toako?”

Han Lin lalu menceritakan semua yang diketahui dan dialaminya.

“Dan pedang itu terlepas dari tanganmu, toako? Siapa yang mengambilnya?”

Lalu diceritakannya bagaimana dia kehilangan Ang-in Po-kiam yang kemudian telah dicuri oleh Sam Mo-ong pula.

“Lalu bagaimana sekarang sudah berada di tanganmu kembali? Bukankah engkau hendak mengajak suci mengembalikan pedang itu kepada kaisar?”

Ditanya demikian, Han Lin menarik napas panjang. Dia pun teringat akan pengalamannya. Sungguh tidak enak menceritakan pengalamannya dengan Mulani kepada gadis ini, akan tetapi entah mengapa dia tidak dapat merahasiakannya.

“Telah terjadi sesuatu yang aneh tetapi merupakan suatu mala petaka bagiku, siauw-moi. Sampai sekarang pun aku masih merasa bingung dan sedih.”

“Aihh, aku tidak percaya orang seperti engkau ini dapat bingung dan bersedih, toako. Apa sih yang telah terjadi? Tentu hebat sekali kejadian itu.”

Dengan suara penuh duka lalu diceritakannya pertemuannya dengan Mulani. “Entah apa yang terjadi. Kami hanya mendengar bunyi ledakan kemudian kami tak ingat apa-apa lagi. Setelah kami sadar, kami berdua... telah... dalam keadaan telanjang bulat di hutan itu...”

“Hemm, aneh sekali, tentu ada yang sengaja melakukan hal itu.”

“Entahlah, tetapi yang paling hebat, Mulani mengatakan bahwa selagi dia dalam keadaan pingsan, dia telah digauli orang dan tentu saja dia menuduh aku yang melakukannya.”

“Hemm, dan engkau tidak melakukannya, toako?” Gadis ini memang sungguh luar biasa. Mungkin karena kedudukannya sebagai ahli pengobatan, membicarakan soal begituan dia merasa biasa saja, tidak canggung sama sekali.

“Bagaimana aku tahu, siauw-moi? Aku pun dalam keadaan pingsan dan ketika terbangun atau siuman, tahu-tahu kami berdua sudah dalam keadaan telanjang bulat.”

“Lalu bagaimana?”

“Dia menuntutku untuk mengawininya.”

“Dan engkau menerima?”

“Apa lagi yang dapat kulakukan, siauw-moi? Untuk menuduh orang lain, siapa yang harus kutuduh dan apa buktinya? Yang jelas, ketika siuman kami dalam keadaan telanjang bulat dan Mulani telah ternoda. Dengan bukti keadaan seperti itu, aku jadi tersudut dan sebagai seorang laki-laki aku harus bertanggung-jawab. Ahh, sungguh nasibku amat buruk, siauw-moi.”

“Kenapa? Bukankah Mulani itu seorang gadis yang baik dan cantik pula?”

“Memang demikian, aku kagum dan suka kepadanya, akan tetapi aku tidak mencintanya. Kami lalu menikah akan tetapi aku tak pernah menjamahnya. Aku memberi alasan bahwa aku hendak bersembahyang dahulu di hadapan makan orang tuaku sambil mengantarkan kembali pedang Awan Merah kepada kaisar. Hanya namanya saja kami suami isteri, akan tetapi sebenarnya tidak pernah ada hubungan apa pun di antara kami. Yang lebih celaka lagi, Mulani telah mengandung.”

“Mengandung?”

“Ya, agaknya sekali ternoda, dia langsung mengandung dan tentu saja aku yang dianggap menjadi ayah kandung anak itu.”

“Apakah bukan?”

“Mana aku tahu, siauw-moi? Sudah kukatakan bahwa aku tidak tahu apakah yang terjadi selagi kami pingsan itu, dan semenjak itu aku belum pernah menyentuh Mulani. Ahh, aku bingung sekali, siauw-moi, dan aku harus dapat memecahkan rahasia ini. Aku yakin ada seseorang yang melempar bahan peledak yang membius orang itu, kemudian ada yang menggunakan kesempatan selagi Mulani pingsan, menodainya, kemudian menelanjangiku agar aku yang dituduh melakukannya.”

“Hemm, agaknya begitu, toako. Aku sendiri tidak percaya kalau engkau dapat melakukan perbuatan keji itu.”

Bukan main girangnya hati Han Lin mendengar ini, wajahnya berseri dan kedua matanya bercahaya. Orang sejagat boleh menuduhnya, tetapi selama gadis ini percaya kepadanya, itu sudah lebih dari cukup.

“Terima kasih, siauw-moi...terima kasih. Engkau melegakan hatiku!” katanya girang.

“Toako, selama ini yang memusuhimu adalah Sam Mo-ong. Apakah bukan mereka, atau seorang di antara mereka yang melakukannya? Kurasa seorang seperti Hek-bin Mo-ong tidak akan segan melakukan kekejian seperti itu.”

“Tidak mungkin. Sam Mo-ong adalah pembantu-pembantu setia dari Ku Ma Khan, kepala suku Mongol yang menjadi ayah Mulani. Mereka amat menghormati Mulani. Bukan, bukan mereka, akan tetapi entah siapa.”

“Sudahlah, toako. Seperti yang kukatakan tadi, segala sesuatu yang telah terjadi tak perlu disesalkan lagi, yang terpenting engkau tidak melakukan kekejian itu.”

“Akan tetapi, siauw-moi. Aku terpaksa mengawini Mulani, padahal aku tidak suka...”

”Sudahlah, serahkan saja kepada Thian. Jika orang tidak bersalah, tentu suatu saat nanti akan terbukti juga. Dan kurasa Mulani tidak begitu bodoh untuk memaksa orang yang tak bersalah menjadi suaminya seperti yang dilakukan kepadamu sekarang.”

“Akan tetapi bukan hanya karena itu dia mengawini aku, siauw-moi. Pertama, karena dia mencintaku, kedua, karena terjadinya peristiwa terkutuk itu, dan ketiga, memang dia dan ayahnya hendak menggunakan aku sebagai mata-mata Mongol di istana Kaisar Kerajaan Tang.”

“Ahhh…! Ini gawat sekali!”

Han Lin lalu menceritakan pesan Ku Ma Khan pada saat mengembalikan Ang-in Po-kiam kepadanya.

“Aku menjadi serba salah, siauw-moi. Tentu saja aku tidak mungkin dapat mengkhianati kaisar, tetapi mereka bisa saja mencelakakan aku dengan menyiarkan bahwa aku adalah mantu Ku Ma Khan. Tentu kaisar akan mencurigaiku, bahkan mungkin menangkap aku.”

“Jangan khawatir, toako. Aku akan membela nama baikmu kalau sampai terjadi demikian. Mari kita mencari suci di Souw-ciu.”

Mereka melanjutkan perjalanan. Cin Mei menunggang kuda, sedangkan Han Lin berjalan di belakangnya. Ketika mereka tiba di sebuah hutan, tiba-tiba saja mereka dikepung oleh banyak sekali orang yang nampaknya galak dan garang. Jumlah mereka tidak kurang dari empat puluh orang, semua bersenjata pedang atau golok dan tombak!

Han Lin cepat melompat ke depan kuda yang ditunggangi Cin Mei, kemudian membentak kepada mereka, “Heii, siapa kalian yang menghadang perjalanan kami dan ada keperluan apakah?”

Semua orang itu tertawa bergelak. Seorang yang berkumis tebal, agaknya menjadi kepala mereka, lalu berkata, “Ha-ha-ha, kawan. Kami kebetulan lewat di sini dan bertemu kalian. Kami tidak minta apa-apa, hanya tinggalkan saja kuda bersama penunggangnya itu untuk kami. Engkau boleh melanjutkan perjalanan sendiri, tidak akan kami ganggu, ha-ha-ha!”

“Sobat, nona ini sedang sakit dan perlu menunggang kuda. Harap kalian mau berbaik hati dan jangan mengganggu kami.”

“Banyak cerewet! Tinggalkan nona ini berikut kudanya, atau kau ingin lebih dulu mampus di tangan kami?!” bentak si kumis tebal itu.

Han Lin menjadi marah. Dia memegang tongkatnya erat-erat. “Keparat, kalian ini sungguh tidak tahu aturan!” bentaknya.

“Toako, jangan membunuh orang!” kata Cin Mei lirih.

“Jangan khawatir, siauw-moi, akan tetapi orang-orang ini perlu diberi hajaran agar maklum bahwa mereka tidak boleh bertindak seenak hati sendiri. Akan tetapi engkau masih belum sembuh...”

Han Lin khawatir sekali. Jumlah musuh terlalu banyak dan bagaimana mungkin dia dapat melawan mereka sambil melindungi Cin Mei?

“Aku dapat menjaga diri, toako,” kata gadis itu tenang sekali.

“Bocah lancang mulut, engkaulah yang pantas diberi hajaran!” bentak si kumis tebal yang sudah menggerakkan goloknya menyerang, diikuti oleh puluhan orang anak buahnya.

Han Lin cepat memutar tongkatnya. Pedang dan golok lantas beterbangan ketika bertemu dengan tongkat bututnya. Melihat ini para pengeroyoknya menjadi penasaran, dan seperti samudera bergelombang mereka menyerang Han Lin, ada pula yang menubruk ke arah Cing Mei yang masih duduk di atas punggung kudanya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner