PEDANG AWAN MERAH : JILID-15


Akan tetapi orang itu hanya menubruk punggung kuda sehingga hampir saja disepak oleh kuda yang terkejut itu, sebab gadis yang ditubruknya itu tahu-tahu sudah hilang melompat dan menyingkir. Walau pun sudah kehabisan tenaga sinkang namun Cin Mei masih dapat bergerak dengan ringan sekali sehingga tidaklah mudah untuk menangkapnya.

Akan tetapi jumlah lawan terlalu banyak. Kini belasan orang telah mengepung dan hendak menangkap Cin Mei sehingga gadis itu terpaksa berloncatan ke sana sini, maka sebentar saja dia yang masih lemah itu menjadi terengah-engah.

Han Lin juga mengamuk, namun karena dia selalu ingat akan pesan Cin Mei agar jangan membunuh orang, dia pun membatasi tenaganya dan karenanya, jumlah pengeroyok tidak pernah berkurang. Karena tidak terluka parah, yang sudah roboh mampu bangkit kembali sehingga dia pun diserang seperti seekor jangkerik dikeroyok banyak semut!

Pada saat yang gawat bagi Cin Mei yang sudah kelelahan itu, mendadak terdengar bunyi ledakan keras kemudian nampaklah asap mengepul tebal sekali. Han Lin terkejut, teringat akan asap pembius yang pernah membuatnya roboh pingsan bersama Mulani. Dia segera menahan napas, lantas cepat menyambar tubuh Cin Mei yang dibawanya meloncat keluar dari asap.

Banyak pengeroyok yang roboh bergelimpangan menjadi korban asap pembius, ada pun yang lain melarikan diri ketakutan. Han Lin dan Cin Mei selamat dari pengaruh asap dan ketika mereka memandang, Han Lin menjadi heran dan terkejut setelah mengenal bahwa yang melempar peledak berasap pembius itu adalah Can Bi Lan, gadis puteri ketua Pek-eng Bu-koan itu, gadis cantik jelita yang selalu berpakaian serba merah muda.

“Lan-moi...!” Han Lin berseru gembira, segera menghampiri sambil menggandeng tangan Cin Mei.

“Syukurlah engkau selamat, Lin-ko. Siapa sih begitu banyak orang yang mengeroyokmu?”

“Mereka hanya perampok biasa, Lan-moi. O ya, perkenalkan, ini adalah nona Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli dan inilah nona Can Bi Lan, puteri ketua Pek-eng Bu-koan.”

Dua orang gadis yang sama cantiknya itu saling memberi hormat dan Bi Lan memandang heran. “Kwan Im Sianli yang terkenal ahli pengobatan dan ahli silat itu? Tetapi tadi kulihat engkau terkepung dan terancam orang-orang tak berguna itu!”

“Lan-moi, saat ini adik Cin Mei sedang kehilangan tenaganya, kehabisan sinkang karena dipakai untuk mengobati orang, maka untuk sementara dia menjadi lemah.”

“Ahh... aku girang sekali kebetulan lewat di sini dan melihat engkau dikeroyok, Lin-ko.”

“Lan-moi, ada satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu. Engkau tadi menggunakan obat peledak yang mengandung bius, dari manakah engkau mendapatkan bahan peledak yang ampuh itu?”

“Ini buatan ayahku sendiri,” kata gadis itu bangga sambil memperlihatkan sebuah benda sebesar kepalan tangan yang tergantung di pinggangnya.

“Dahulu pada saat engkau dan kakakmu diserang Thian-te Siang-kui, kenapa tidak kalian menggunakannya?”

“Sebenarnya kami dilarang oleh ayah untuk sering menggunakan obat peledak ini, karena itu dahulu kami tidak membawanya. Akan tetapi sesudah pengalaman pahit itu, setiap kali pergi aku pasti membawa beberapa butir untuk persediaan kalau-kalau terancam bahaya.”

“Jadi orang yang memiliki dan pandai menggunakan peledak itu hanya engkau, kakakmu dan ayahmu?”

“Benar sekali, koko. Bahkan para murid ayah tidak ada yang diberi senjata ini.”

“Ahhh...!”

Han Lin berpikir keras. Tak salah lagi, Kok Han kakak gadis ini amat membencinya sejak pertama kali berjumpa. Mungkinkah Kok Han pelaku peledakan dan pemerkosaan itu?

“Kenapa, Lin-ko?”

“Tidak apa-apa, Lan-moi. Apakah kakakmu tidak melakukan perjalanan bersamamu?”

“Justru ayah menyuruhku pergi mencari Han-koko. Dia disuruh pulang oleh ayah. Apakah engkau tidak melihatnya, Lin-ko?”

“Tidak, aku tidak melihatnya, tetapi mungkin saja dia melakukan perjalanan ke utara.”

“Kenapa engkau menyangka demikian, Lin-ko?”

“Karena aku pernah melihat bekas ledakan seperti ini. Dia juga membawa bahan peledak seperti yang kau miliki itu, bukan?”

“Tentu saja.”

“Nah, kalau begitu carilah dia di utara, Lan-moi. Kami sendiri akan meneruskan perjalanan ke Souw-ciu untuk suatu keperluan.”

“Tapi, Lin-koko...”

“Ada apakah, Lan-moi?”

Bi Lan mengerling ke arah Cin Mei yang segera mengerti dan berkata, “Aku mau mencari kudaku yang tadi melarikan diri ketika terjadi ledakan.” Tanpa menunggu jawaban dia lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

“Ada apa, Lan Moi?” tanya Han Lin yang melihat gadis ini seperti hendak menyampaikan sesuatu akan tetapi tadi meragu karena ada Cin Mei di dekat mereka.

“Lin-ko, aku belum sempat menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu mengobatiku ketika itu.”

“Ahh, bukankah engkau juga menolongku ketika aku dikeroyok Sam Mo-ong?”

“Akan tetapi bantuanku tidak ada gunanya, malah aku terluka dan merepotkanmu.”

“Sama sekali tidak, Lan Moi. Jangan bicara tentang terima kasih karena kita sudah saling bantu.”

“Tetapi sikap kakakku sungguh menjemukan. Aku mohon maaf atas sikapnya yang tidak baik terhadapmu, koko.”

“Tidak mengapa, Lan-moi. Dia hanya salah paham saja.” Han Lin membayangkan tentang ledakan dan tentang perkosaan atas diri Mulani.

“Koko... kalau engkau ada waktu atau kebetulan lewat, kupersilakan singgah di rumahku, aku... aku ingin memperkenalkan engkau kepada ayah dan ibuku, koko...!” Wajah gadis itu kemerahan dan suaranya gemetar. Ucapan hendak memperkenalkan seorang pemuda kepada ayah bunda seorang gadis dapat mengandung makna yang mendalam, karena hal itu dapat diartikan bahwa si gadis menaruh hati atau menaksir si pemuda!

“Ahhh... baiklah, Lan-moi. Itu adik Cin Mei sudah mendapatkan kembali kudanya. Terima kasih atas pertolonganmu tadi, Lan-moi. Kita berpisah di sini dan selamat berpisah.”

“Lin-ko, tadi kau bilang di antara kita tidak perlu berterima kasih!”

“Oh, ya, maafkan aku lupa. Nah, selamat jalan dan selamat berpisah, Lan-moi yang baik.”

“Selamat berpisah, Lin-koko.”

“Ehh, engkau sudah hendak pergi, adik Bi Lan?” tanya Cin Mei yang sudah tiba di siitu.

“Aku hendak mengejar kakakku, enci Cin Mei. Engkau... engkau sangat beruntung dapat melakukan perjalanan bersama Lin-ko. Kalau saja aku tidak harus mencari kakakku, aku pun ingin melakukan perjalanan bersama kalian. Selamat jalan dan selamat berpisah.”

“Selamat berpisah, adik Bi Lan. Semoga engkau dapat segera menemukan kakakmu.”

Mereka kemudian berpisah dan sesudah melakukan perjalanan berdua, Cin Mei berkata, “Kasihan sekali adik Can Bi Lan itu.”

“Ehh, mengapa engkau mengatakan demikian, siauw-moi?”

“Ternyata dia telah jatuh cinta kepada suami orang.”

“Hemm, kau maksudkan aku? Aku belum menjadi suami yang sesungguhnya.”

“Dia amat mencintamu, Lin-ko.”

“Bagaimana engkau tahu?”

“Dari pandang matanya, caranya bicara kepadamu, sikapnya. Ah, semuanya begitu jelas, seperti sebuah kitab yang terbuka, tinggal membacanya saja.”

“Hemmm, engkau dapat membaca isi hati seorang wanita seperti membaca kitab terbuka. Apakah engkau juga bisa membaca hati seorang pria seperti sebuah kitab terbuka pula?”

Gadis itu tertawa. “Mengapa tidak? Pria justru lebih muda dibaca. Akan tetapi, mengenai bahan peledak itu, aku jadi teringat akan pengalamanmu saat menjadi korban pembiusan bahan peledak pula. Apakah ada hubungannya, toako?”

Karena pembicaraan dibelokkan kepada urusan yang menjadi bahan permikirannya, maka Han Lin menanggapinya dengan serius dan sudah melupakan lagi akan kemampuan Cin Mei membaca hati pria seperti kitab terbuka.

“Aku juga merasa curiga, Mei-moi. Ledakan itu persis yang kualami bersama Mulani dulu. Aku juga menjadi pingsan seperti beberapa orang perampok itu. Dan menurut keterangan Bi Lan tadi, kakaknya juga membawa bahan peledak seperti itu.”

“Jadi engkau menyangka kakaknya yang menjadi pelakunya?”

“Begitulah. Jika ada kemungkinan orang lain yang melakukan itu, maka kakaknya menjadi orang pertama yang kucurigai melakukannya.”

“Akan tetapi gadis itu amat baik dan mencintamu. Dia seorang gadis yang gagah, apakah kakaknya juga bukan seorang pendekar?”

“Memang orang-orang Pek-eng Bu-koan adalah kaum pendekar, akan tetapi pada waktu bertemu dengan aku lantas melihat bahwa aku membawa Ang-in Po-kiam, kakaknya yang bernama Can Kok Han itu sejak semula sudah merasa tidak suka padaku dan menuduh aku sebagai pencuri pedang di kota raja. Agaknya dia... dia memang membenciku, Mei-moi.”

Lalu Han Lin menceritakan segala sikap Kok Han yang pernah dilakukan terhadap dirinya. Bahkan ketika dia mengobati Bi Lan, Kok Han justru menyerangnya dan menganggapnya bermain gila terhadap adiknya.

“Hemmm, agaknya dia itu keras kepala dan pemarah. Orang semacam itu sangat mudah membenci dan mendendam, toako. Aku juga curiga bahwa dia yang melakukannya.”

“Hemm, kalau memang benar demikian, keadaan malah menjadi lebih sulit lagi. Aku tidak mau membuat hati Bi Lan menjadi hancur akibat perbuatan kakaknya.”

“Sudahlah, soal itu kita pikirkan nanti saja. Sebaiknya sekarang kita temukan dulu suci, kemudian kalian mengembalikan pedang kepada kaisar. Setelah itu baru kau pikirkan lagi urusanmu.”

“Baiklah, siauw-moi.”

Mereka melanjutkan perjalanan dan menjelang senja mereka memasuki kota Souw-ciu. Setelah menyewa dua buah kamar di rumah penginapan, Cin Mei lalu bersemedhi untuk memulihkan tenaga sinkang-nya. Ada pun Han Lin lalu meninggalkan rumah penginapan untuk mencari Jeng-i Sianli Cu Leng Si. Dia pergi berkunjung ke taman utama di kota itu dan benar saja, dari jauh dia sudah melihat wanita itu duduk seorang diri sambil melamun.

“Enci Leng Si..!” Han Lin menghampiri dan berseru memanggil dengan girang.

“Ahh, engkau, Han Lin!” kata wanita itu dengan wajah gembira bukan kepalang. “Alangkah lamanya aku menunggu di sini. Sudah sepekan lebih setiap hari aku datang ke taman ini untuk menantimu.”

“Maafkan aku enci. Maafkan aku telah membuat enci menunggu begitu lama. Aku sudah mengalami banyak hal yang amat pahit.”

“Nanti dulu, apakah engkau sudah mendapatkan pedang itu?”

Han Lin menepuk pedang yang tergantung di pinggangnya, pedang Ang-in Po-kiam yang memakai sarung pedang biasa agar tidak menarik perhatian orang.

“Itukah Ang-in Po-kiam?”

“Benar, enci.”

“Aihh, syukurlah, Han Lin. Kalau begitu dapat segera kita bawa ke kota raja!” kata Leng Si girang.

“Sabar, enci. Kita harus menanti beberapa hari lagi sampai sumoi-mu sembuh benar.”

“Apa? Sumoi...? Dia kenapa?”

“Panjang ceritanya, enci. Dengarkan dulu ceritaku bagaimana aku mendapatkan pedang ini.” Dia lalu menceritakan kepada Leng Si tentang pertemuannya dengan Mulani, tentang pernikahannya dengan Mulani yang membuatnya berduka.

“Aihh, goblok benar engkau! Apakah engkau telah menodai gadis itu?”

“Menurut keyakinanku, tentu saja tidak, enci. Walau pun ketika itu aku pingsan sehingga mana aku tahu pasti apa yang telah terjadi?”

“Goblok, adikku yang tolol! Bila aku berada di sana tentu gadis Mongol itu sudah kuhajar. Bagaimana dia boleh memaksa orang menjadi suaminya atas dasar peristiwa yang belum tentu siapa pelakunya itu! Kurang ajar benar dia berani memaksa adikku supaya menikah dengannya!”

“Aihh, enci. Bagaimana pun juga Mulani sudah menjadi korban perkosaan...”

“Korban perkosaan katamu? Kalau menurut aku, semua ini adalah siasatnya saja. Tidak ada siapa-siapa yang memperkosanya, dia memang sengaja memasang jebakan supaya engkau mau menikahinya. Tidak tahu malu. Biar pun dia mencintamu, kalau engkau tidak membalasnya, tidak semestinya dia menggunakan akal busuk seperti itu!”

“Tapi, enci, kenyataannya dia telah ternoda.”

“Ehh, bagaimana engkau bisa tahu dengan pasti?”

“Karena sebulan setelah kami menikah, walau pun aku tidak pernah menyentuhnya, tetapi dia telah... mengandung satu bulan. Peristiwa itu memang benar terjadi, karena buktinya dia mengandung.”

“Hemm, kalau begitu, tentu ada pelakunya. Tapi harus diselidiki, harus! Tidak semestinya engkau menikah begitu saja dengan gadis Mongol tak tahu malu itu!”

“Memang aku pun sedang melakukan penyelidikan, enci. Akan tetapi yang terpenting aku harus menyerahkan pedang ini dulu kepada kaisar.”

“Ahh, benar. Dan tentang sumoi itu...?”

Han Lin lantas menceritakan mengenai Cin Mei. Betapa Cin Mei menolong dan mengobati Hek-bin Mo-ong karena terluka parah, kemudian malah berbalik hendak dipaksa Hek-bin Mo-ong menjadi isterinya. Betapa dia menolongnya dan sampai kini Cin Mei masih harus memulihkan tenaganya yang terkuras ketika dia menyelamatkan Hek-bin Mo-ong.

“Huhh, babi macam apa itu mengapa tidak kau bunuh saja? Dia jahat, keji dan kalau aku bertemu dengannya, tentu kuajak bertanding sampai seorang dari kami menggeletak tak bernyawa lagi! Di mana sumoi sekarang?”

“Di rumah penginapan. Mari, enci, kita temui dia.”

Mereka lalu meninggalkan taman bunga umum dan kembali ke rumah penginapan. Ketika Leng Si memasuki kamar itu, dia mendapatkan adiknya sedang bersila dan bersemedhi, mengumpulkan hawa murni untuk mengembalikan tenaganya.

“Sumoi...!” Cu Leng Si memanggil sambil memasuki kamar.

“Suci...!” Cin Mei membuka matanya, segera turun dari pembaringan menyambut. “Suci, aku...”

“Sssttt, aku sudah tahu semuanya dari Han Lin. Bagaimana keadaanmu? Mari kuperiksa!” Cin Mei tersenyum dan membiarkan dirinya diperiksa oleh Cu Leng Si, nadinya, dadanya, dan perutnya.

“Syukur engkau tidak terluka, hanya kehilangan tenaga saja. Kukira dalam beberapa hari ini tenagamu sudah akan pulih kembali. Aihh, sumoi. Sejak dulu engkau terlalu baik hati.”

Cin Mei tersenyum. “Apakah jeleknya berbaik hati, suci?”

“Jelek, jelek sekali! Bahkan rugi jika engkau tidak memakai perhitungan. Buktinya engkau telah bersikap baik, menolong dan mengobati binatang macam Hek-bin Mo-ong itu. Tetapi bukan kebaikan dibalas dengan kebaikan, malah dibalas dengan kejahatan! Jika bertemu orang semacam dia sepantasnya bukan diobati, malah dibunuh saja!”

“Aihh, suci!”

“Aih-aih apa lagi! Dia seperti seekor ular berbisa, kalau engkau mencoba untuk mengobati ular berbisa yang sedang sakit, bukan kebaikan yang kau dapat, malah engkau digigitnya sampai mati. Huhh, kalau bertemu dengan binatang itu, pasti akan kubunuh dia!”

“Sudahlah, suci. Kalau semua orang bersikap seperti engkau, akan habislah semua orang di dunia ini, tinggal engkau seorang!” kelakar Cin Mei. “Semua orang di dunia ini tentu ada cacatnya, ada sifat buruknya. Kalau yang buruk dibunuh, tidak ada sisanya lagi. Tahukah engkau bahwa kita berdua ini pun memiliki sifat buruk?”

“Ehh? Kau mau bilang bahwa engkau dan aku ini jahat? Jangan ngaco engkau!”

“Aku tidak bilang jahat, melainkan memiliki sifat buruk. Lihat, engkau sendiri seorang yang keras hati dan terlampau mudah marah, mudah mengamuk. Tidak burukkah itu? Ingatkah engkau betapa dulu engkau hampir saja membunuh Lin-koko karena kekerasan hatimu?”

“Lin-koko...? Aha! Kau maksudkan adikku Han Lin? Bagus, bagimu dia adalah Lin-koko, ya? Sudah begitu akrabkah antara kalian?”

“Ihh, suci. Kami hanya bersahabat biasa. Dia telah menolongiku!”

“Ehm, aku hanya berkelakar, sumoi. Tapi apa salahnya bila kalian menjadi sahabat karib yang akrab? Dan sekarang coba katakan, orang macam engkau ini, mana sifat buruknya? Kalau aku memang keras dan pemarah.”

“Engkau tadi sudah menyebutkan bahwa aku terlalu lemah, terlalu baik hati, bukankah itu juga sifat yang buruk bagimu?”

“Memang buruk. Buruk bukan main! Orang berbuat baik haruslah melihat terhadap siapa kita berbuat baik. Kalau kita berbuat baik kepada penjahat, sama saja dengan membunuh diri. Kalau aku, setiap ada penjahat, apa lagi yang terlampau keji seperti Hek-bin Mo-ong, maka tanpa ragu-ragu lagi akan kucabut nyawanya!”

Cin Mei tertawa. Dia sudah mengenal betul suci-nya ini. Memang hatinya amat keras dan dapat berbuat ganas terhadap orang jahat, akan tetapi tidaklah begitu kejamnya.

“Suci, engkau sudah bertemu dengan Lin-koko?”

“Sudah, dia berada di kamarnya dan aku alan menginap di sini bersamamu. Dia memang benar. Kami tidak akan berangkat ke kota raja sebelum engkau sembuh.”

“Aku tidak sakit, suci.”

“Maksudku, sebelum tenaga sinkang-mu pulih kembali. Dalam keadaan seperti ini, kalau ada bahaya mengancam, bagaimana engkau akan mampu membela diri?”

“Suci, di sini ada pembelaku yang paling dapat dipercaya dan diandalkan, karena itu tidak perlu khawatir...”

“Aku tahu! Pembelamu itu tentu adikku Han Lin, bukan?”

“Ihhh, suci! Bukan dia yang kumaksudkan. Bukankah dia akan pergi bersama suci? Yang kumaksudkan, pembelaku yang paling bisa diandalkan adalah Thian! Siapa pun tidak ada yang dapat menggangguku selama Thian melindungiku.”

“Aihh, sejak dulu engkau selalu berpendapat begitu. Selalu mengandalkan Thian! Hemm, ketika engkau nyaris diperlakukan keji oleh Hek-bin Mo-ong, siapakah yang menolongmu? Apakah Thian?”

“Tentu saja, suci. Thian yang menolongku.”

“Tetapi tadi kau bilang ditolong oleh Lin-kokomu itu!”

“Memang benar, Lin-koko yang menolongku. Akan tetapi justru dia yang digerakkan oleh Thian untuk menolongku sehingga kebetulan sekali dia melihat aku dilarikan oleh Hek-bin Mo-ong.”

“Ahh, sudahlah. Engkau memang pandai sekali berdebat. Jika kita tidak berusaha sendiri, apakah Thian akan menolong kita? Bila kita lapar, tidak mau mencari nasi sendiri, apakah Thian akan menyuapi kita dengan nasi? Bila kita kehausan, tidak mau mencari minuman sendiri, apakah Thian yang akan menolong kita? Apa bila kita diserang penjahat dan tidak melawan dengan kekuatan sendiri, apakah Thian akan menolong kita?”

“Aduh, suci. Sudah berapa kali aku ingatkan kepadamu. Bukankah suci hafal akan semua ujar-ujar dalam berbagai kitab suci? Kenapa suci berkata demikian?”

“Karena pengalaman, sumoi. Segala macam ujar-ujar dalam kitab suci itu hanya dihafal, menjadi permainan kata-kata dan untuk pemanis bibir saja. Tapi yang jelas, tanpa usaha sendiri kita tidak akan dapat hidup!”

“Suci, justru usaha sendiri itu juga merupakan anugerah dan berkah dari Thian. Kita dapat melihat karena Thian memberi kita sepasang mata. Kita dapat mendengar karena Thian memberi kita sepasang telinga. Kita bekerja dengan tangan, membela diri dengan tangan kaki karena Thian memberi kita tangan kaki dan hati akan pikiran. Berkah dan pertolongan Thian sudah diberikan kepada kita sejak kita lahir, akan tetapi kita kadang melupakannya, mengira bahwa semua ini merupakan usaha kita sendiri. Suci, siapakah yang mengatur pernapasan suci ketika sedang tidur sekali pun? Apakah suci pernah mengatur jalannya darah yang dipompa dari jantung? Masih banyak lagi kenyataan-kenyataan yang tak bisa dibantah. Tanpa kekuasaan Thian yang melindungi kita, bagaimana kita dapat hidup?”

“Wah, wah, wah! Kalau sudah begitu tentu saja aku tidak dapat membantah lagi, sumoi. Akan tetapi bagaimana pun juga aku tidak mau pergi sebelum tenagamu pulih kembali, dan engkau tidak akan dapat memaksaku pergi!”

“Hei, suci. Kapankah engkau akan menanggalkan kekerasan hatimu itu?”

“Dan kapan engkau menanggalkan kelemahan hatimu? Sebaiknya engkau memberikan sedikit kelemahanmu kepadaku dan aku memberikan sedikit kekerasan hatiku kepadamu. Dengan demikian kita menjadi sama-sama sedang-sedang saja, bukan? Hi-hik-hik, tunggu aku akan mencarikan obat penguat darah kepadamu, agar tenagamu cepat pulih.”

“Baiklah, suci. Tadinya aku pun hendak membuat obat itu, sebab sebenarnya aku sudah punya semua kecuali tinggal satu bahan lagi, yaitu jin-som. Tolong belikan sepersepuluh kati saja, suci.”

“Baiklah, aku pergi. Engkau boleh bercakap-cakap dengan Lin-kokomu itu, hi-hik.”

“Ihh, suci ada-ada saja!” Cin Mei tersipu dan hal ini membuat Leng Si tertawa-tawa terus sampai di luar kamar.

Akan tetapi begitu keluar dari rumah penginapan untuk pergi membeli akar obat jin-som, Leng Si menghapus dua titik air mata yang membasahi pipinya. Dia menangis, akan tetapi mulutnya tersenyum!

“Biarlah... kalau aku gagal dengan cintaku, sumoi tidak boleh gagal. Biar pun dia beristeri, akan tetapi isterinya itu memaksanya, dan ini tidak sah! Aku harus menggagalkan suami isteri buatan itu. Dia harus menjadi suami sumoi-ku!”

Dengan tekun Leng Si merawat adik seperguruannya penuh kasih sayang, memasakkan obat penguat dan terus menemaninya. Sebenarnya enci dan adik seperguruan itu saling menyayang, hanya karena watak mereka jauh berbeda, malah berlawanan, maka kadang kala mereka kelihatan seperti bertentangan.

Lewat lima hari tenaga Cin Mei sudah pulih kembali. Selama lima hari itu kelihatan benar oleh Leng Si bahwa Han Lin mencinta adik seperguruannya. Malam itu, seorang diri dia menemui Han Lin. Cin Mei yang telah tidur ditinggalkannya dan dia mengetuk pintu kamar Han Lin.

“Han Lin, bukalah pintu,” dia memanggil perlahan.

“Ehh, enci Leng Si, ada apakah?”

“Mari ke taman di belakang, aku ingin bicara.”

Tentu saja Han Lin merasa heran melihat sikap gadis itu yang penuh rahasia, akan tetapi dia tidak membantah dan sesudah menutupkan daun pintu kamarnya, dia pun mengikuti Leng Si pergi ke taman di belakang penginapan itu, di mana terdapat penerangan lampu merah dan terdapat pula beberapa buah bangku. Leng Si mengajaknya duduk di situ dan setelah mereka duduk saling berhadapan, Leng Si langsung saja bertanya, nada suaranya menyerang.

“Han Lin, engkau seorang laki-laki yang seharusnya bersikap jantan, sebab itu tidak layak kalau engkau tidak berterus terang dan tidak jujur kepadaku.”

“Enci, apa kesalahanku...?”

“Tidak salah apa-apa, akan tetapi jawablah pertanyaanku ini sejujurnya. Apakah engkau mencinta sumoi?”

Ditanya seperti itu, Han Lin merasa seolah-olah dia ditodong dengan pedang yang runcing dan dia terbelalak sambil bangkit berdiri.

“Tidak usah terkejut, jawab saja yang sebenarnya kalau engkau tidak ingin kukatakan laki-laki pengecut dan palsu. Hayo jawab yang sejujurnya. Engkau adalah adik angkatku, dan dia adalah sumoi-ku. Dua-duanya kuberatkan maka engkau tidak boleh main-main, harus menjawab dengan jujur. Sekali lagi, apakah engkau mencinta sumoi Lie Cin Mei?”

“Wah, ini... ini...”

“Jawab, jangan mencla-mencle plintat-plintut!”

“Ampun, enci Leng Si. Bagaimana aku harus menjawab? Aku sama sekali tidak berhak! Engkau sudah tahu bahwa aku telah mempunyai isteri, telah menikah dan terikat...”

“Menikah macam apa itu? Mana ada ikatan yang dipaksakan? Itu sama saja dengan akal bulus. Aku bertanya tentang isi hatimu, tentang perasaanmu, tidak ada urusannya dengan berhak atau tidak berhak. Katakan, apakah engkau mencinta sumoi? Hayo jawab, jangan membikin aku hilang sabar sehingga berteriak-teriak membangunkan semua orang.”

Han Lin merasa ngeri akan ancaman ini. Kalau gadis ini sudah berteriak-teriak dan semua orang mendengar, apa lagi terdengar oleh Cin Mei, mau ditaruh ke mana mukanya?

“Ssstt, enci, jangan ribut-ribut. Aihh, enci telah mendesak dan menghimpitku, betapa tega hatimu, enci.”

“Hush, siapa menghimpitmu. Aku hanya ingin pengakuan jujur seorang jantan. Dan adikku haruslah berjiwa jantan, tidak plin-plan. Nah, lepas dari engkau telah menikah atau belum, katakanlah, apakah engkau mencinta Cin Mei?”

“Baiklah, aku akan mengaku terus terang, enci. Aku berani bersumpah bahwa selama ini aku tidak pernah jatuh cinta kepada wanita lain, sejak cintaku kepada adik misanku Yang Mei Li ditolak dan dia memilih untuk menikah dengan pria lain. Aku tak pernah jatuh cinta lagi, bahkan tadinya aku mengira tidak akan dapat jatuh cinta lagi kepada seorang wanita. Akan tetapi, semenjak Kwan Im Sianli Lie Cin Mei muncul, yaitu ketika dia membebaskan aku dari tanganmu, aku telah jatuh cinta kepadanya, enci. Aku tergila-gila padanya, tetapi ternyata nasib menghendaki lain. Secara tidak terduga-duga, terpaksa sekali aku menjadi suami Mulani dan tentu saja aku tidak berani mengharapkan sumoi-mu untuk...”

“Hushh, siapa bicara tentang nasib? Nasibmu berada di tanganmu sendiri, Han Lin. Thian tidak akan mengubah nasibmu bila engkau tidak berusaha mengubahnya. Kalau memang benar engkau mencinta sumoi, engkau adalah orang yang berbahagia karena sebenarnya sumoi juga mencintamu.”

“Ohhhh...!” terdengar jerit tertahan dan ketika menengok, Han Lin masih sempat melihat berkelebatnya bayangan putih yang melarikan diri pergi meninggalkan taman itu.

“Mei-moi...!” Han Lin cepat melompat mengejar, terkejut bukan main karena tidak mengira bahwa Cin Mei telah mengintai mereka, mendengarkan semua percakapan mereka.

Meski pun dia tersipu malu dan khawatir sekali, tetapi melihat gadis itu melarikan diri, dia menjadi amat gelisah dan segera mengejarnya untuk mohon ampun atas kelancangannya karena dia tahu bahwa percakapannya dengan Leng Si tadi tentu terdengar oleh Cin Mei dan betapa percakapan tentang diri Cin Mei itu tentu sangat menyinggung perasaan gadis itu.

Akan tetapi Cin Mei yang kekuatannya telah pulih kembali itu dapat berlari amat cepatnya sehingga Han Lin terpaksa harus mengerahkan tenaga sekuatnya untuk dapat menyusul gadis itu.

“Mei-moi, tunggu...!”

Akhirnya Cin Mei berhenti di tepi jalan yang sunyi itu. Malam itu bulan muncul sepotong, namun cukup memberi penerangan yang remang-remang.

“Mei-moi, maafkan aku...!” Han Lin menundukkan muka berdiri di depan Cin Mei.

“Tidak ada yang harus dimaafkan, toako.”

“Siauw-moi, aku memang bersalah. Aku sudah menyinggung perasaanmu yang suci, aku sudah merendahkanmu. Siauw-moi, kau ampunkan aku..., aku siap meneriima hukuman.” Dan saking gelisah dan terharunya Han Lin tidak segan-segan untuk menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Cin Mei!

“Aih, toako, jangan begitu. Bangitlah, toako, aku mohon kepadamu, bangkitlah dan jangan berlutut kepadaku,” suara itu terdengar sedih dan gemetar.

“Katakan dahulu bahwa engkau mengampuni semua ucapanku mengenai dirimu, baru aku mau bangkit berdiri.”

“Hanya Thian yang berhak mengampuni kesalahan manusia. Aku tidak berhak, apa lagi aku tidak merasa bahwa engkau bersalah kepadaku. Akan tetapi kalau engkau memaksa, baiklah. Aku maafkan engkau. Nah, bangkitlah.”

Han Lin bangkit dengan hati lega. “Terima kasih, siauw-moi. Alangkah bijaksana hatimu. Siauw-moi, tentu engkau telah mendengarkan semua percakapanku dengan enci Leng Si tadi, bukan?”

Gadis itu mengangguk. Biar pun sinar bulan hanya remang namun Han Lin dapat melihat betapa pucat wajah gadis itu.

“Aku tidak seharusnya bicara begitu. Aku yang bersalah, aku tidak berhak...”

“Tidak berhak apa, toako? Katakanlah.”

“Tidak berhak menyatakan cinta kepadamu. Ahhh...biarlah aku mengakui saja kepadamu. Aku cinta padamu, siauw-moi, sejak pertemuan kita yang pertama kali. Aku cinta padamu, walau pun sesungguhnya aku tidak berhak.”

“Toako, jangan berkata demikian, toako. Begitu banyak wanita yang mencintamu, engkau tinggal memilih saja. Di antara mereka adalah Mulani yang berkeras memaksamu menjadi suaminya, dan di sana masih ada Can Bi Lan yang sungguh mencintamu.”

“Siauw-moi, apakah ucapanmu itu berarti engkau ingin mengatakan bahwa engkau tidak cinta kepadaku?”

“Ahh, bukan begitu... tapi engkau sudah terikat dengan isterimu, toako. Jangan hancurkan hati wanita-wanita itu. Aku akan merasa berdosa terhadap mereka.”

“Siauw-moi, hatimu terlalu baik dan engkau selalu mengalah dalam segala hal. Aku tidak menuntut jawaban sekarang. Tetapi janganlah engkau pergi seperti ini. Mari kita kembali ke penginapan. Enci Leng Si tentu akan merasa bersalah kepadamu kalau engkau pergi meninggalkannya begitu saja, mengira engkau tentu marah kepada kami. Marilah, siauw-moi.”

“Aku mau kembali, akan tetapi dengan satu syarat bahwa engkau tidak akan bicara lagi tentang cinta.”

“Baiklah, aku tak akan bicara lagi tentang cinta yang hanya akan menimbulkan penasaran dan kedukaan di hatiku.”

Mereka kemudian berjalan perlahan kembali ke rumah penginapan. Karena tadi keduanya menggunakan ilmu berlari cepat, maka letak rumah penginapan itu sudah cukup jauh.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner