PEDANG AWAN MERAH : JILID-16


Akan tetapi setelah mereka tiba di sana, tidak nampak Leng Si. Cin Mei cepat memasuki kamarnya dan menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Leng Si.

Sumoi dan Han Lin,

Karena suatu urusan penting, terpaksa aku tidak bisa ikut. Pergilah ke kota raja, sumoi, engkau mewakili aku. Pergilah dengan Han Lin ke kota raja untuk menyerahkan pedang itu kepada kaisar, dan mohonlah kepada kaisar agar ayahku dibebaskan. Aku berterima kasih sekali kepada kalian.

Dari: Cu Leng Si


“Siauw-moi, apakah enci Leng Si berada di kamarmu?” tanya Han Lin dari luar kamar.

Cin Mei keluar dan tanpa berkata apa-apa dia pun menyerahkan surat itu kepada Han Lin. Pemuda ini membacanya dengan alis berkerut, di dalam hatinya merasa sangat gembira akan tetapi tentu saja hal ini tidak diperlihatkan kepada Cin Mei walau pun dia tidak dapat menyembunyikan perasaan gembira itu dari suaranya yang terdengar mantap.

“Bagaimana pendapatmu dengan ini, siauw-moi?”

“Maksudmu?”

“Sudikah engkau pergi denganku ke kota raja untuk menyerahkan Ang-in Po-kiam kepada kaisar dan mohon pengampunan bagi ayah enci Leng Si?”

“Apa boleh buat, suci menghendaki demikian dan aku harus menghormati permintaannya itu. Kapan kita berangkat?”

“Besok pagi-pagi sekali.”

“Baiklah, toako. Sekarang, selamat tidur.”

“Selamat tidur, siauw-moi.”

Malam itu Han Lin tidur dengan nyenyak sekali. Bibirnya tersenyum, agaknya mimpi yang indah-indah menjadi bunga tidur malam itu. Berbeda dengan Cin Mei yang tidur gelisah di atas pembaringannya. Terjadi pertentangan dalam batinnya.

Dia harus mengakui diri sendiri bahwa dia juga mencinta pemuda itu, akan tetapi dia pun merasa iba kepada Mulani, juga kepada Bi Lan. Dia akan mengalah kepada wanita mana pun juga dalam hal cinta. Baginya cinta tidak harus menjadi suami-isteri. Dia masih dapat mencinta Han Lin, walau pun tidak menjadi isterinya atau kekasihnya.

“Toako, kita singgah dulu di Nan-yang. Aku ingin menengok guruku,” kata Cin Mei kepada Han Lin.

Kini mereka menunggang dua ekor kuda karena Han Lin membeli seekor kuda lagi untuk gadis itu dan mereka telah melakukan perjalanan jauh. Hari itu mereka sampai di luar kota Nan-yang dan Cin Mei mengusulkan untuk singgah di situ.

“Tentu saja, siauw-moi, kita tidak sedang tergesa-gesa. Ahh..., jadi gurumu, Thian-te Yok-sian, tinggal di kota ini?” jawab Han Lin senang.

Dia merasa alangkah bahagia hidupnya melakukan perjalanan bersama Cin Mei. Seolah-olah pemandangan alam menjadi jauh lebih cantik menarik dari pada biasanya. Matahari bersinar lebih cerah, kicau burung di pagi hari lebih merdu, bahkan ketika mereka makan bersama, makanan apa pun yang dimakannya terasa lebih nikmat.

Dia tahu bahwa semua itu terjadi karena cintanya kepada Cin Mei dan berdekatan dengan orang yang dicinta memang merupakan kenikmatan yang tiada taranya. Meski pun sikap Cin Mei biasa saja dan tidak pernah memperlihatkan perasaannya, akan tetapi dia dapat merasakan pula bahwa Cin Mei merasa tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakannya, yaitu berbahagia dan gembira sekali.

Cin Mei yang menunggang kuda berwarna coklat, memasuki kota lebih dulu karena Han Lin mengikuti di belakangnya. Gadis itu langsung saja menuju ke rumah gurunya, sebuah rumah yang pintunya selalu terbuka karena setiap hari ada saja orang mencarinya untuk berobat.

Akan tetapi Dewa Obat ini mempunyai suatu kebiasaan. Kalau yang datang itu menderita penyakit biasa saja, maka dia tidak mau mengobati bahkan mengusirnya untuk pergi saja ke tabib lain. Tetapi jika ada orang sakit yang amat parah, yang tidak dapat disembuhkan oleh tabib-tabib biasa, barulah dia mau mengobatinya dan kalau sudah mengobatinya, dia tidak pernah minta bayaran.

Mereka yang disembuhkan itu dengan suka rela kemudian mengirim bahan makanan atau pakaian kepada Dewa Obat ini, dan kalau demikian halnya, dia pun tidak menolak. Akan tetapi jangan ditanya berapa biayanya, karena dia akan marah sekali dan mengusir orang itu. Baginya, perjuangan yang berbahaya dan berat, serta kemenangannya atas penyakit yang berat itulah yang merupakan sumber kebahagiaannya. Kini usianya telah tujuh puluh tahun, namun dia masih nampak sehat dan cekatan ketika memeriksa pasien.

Ketika dua orang penunggang kuda itu sampai di depan rumah Yok-sian, mereka merasa heran melihat pintu rumah itu masih dalam keadaan tertutup. Padahal hari sudah cukup siang sehingga tidak mungkin kalau Dewa Obat itu masih tidur. Selagi mereka termangu, seorang anak-anak berusia dua belas tahun menghampiri dan melihat Cin Mei, dia segera berseru girang.

“Suci...!”

“Ahh, engkau ini, Kun Tek? Di mana suhu dan kenapa pintu rumahnya ditutup?” Cin Mei melompat turun dari kudanya diikuti oleh Han Lin.

“Aihh, panjang ceritanya, suci. Mari silakan masuk, kita bicara di dalam saja.”

Han Lin melihat bahwa biar pun masih kecil namun anak itu sudah nampak cerdik. Anak itu membuka daun pintu dengan kunci yang diambilnya dari saku bajunya, lantas mereka bertiga memasuki rumah itu setelah mengikat kendali kuda pada pohon di depan rumah.

Setelah duduk di ruangan dalam, tiba-tiba saja Kun Tek menjatuhkan diri di depan Cin Mei sambil menangis. Sekarang barulah benar-benar nampak bahwa dia masih kanak-kanak.

“Hushh, Kun Tek. Jangan menangis, ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi,” kata Cin Mei menghibur sambil mengangkat anak itu disuruh bangkit dan duduk kembali di kursi.

Kun Tek menyusut air matanya, lantas mulai bercerita. “Baru lima hari ini terjadinya, suci. Tadinya ada lima orang prajurit utusan Panglima Kwan dari Lok yang minta agar suhu ikut mereka untuk mengobati keluarga Panglima Kwan. Tentu saja suhu menolak karena suhu tidak pernah pergi mengunjungi pasien, harus pasien yang datang untuk berobat dan bagi suhu, peraturan ini berlaku untuk semua orang. Bahkan suhu pernah berkata bahwa biar kaisar sendiri, kalau membutuhkan pertolongannya tetap harus datang ke sini. Maka dia menolak keras dan menuntut bahwa apa bila pasien keluarga Panglima Kwan itu benar-benar sakit keras dan membutuhkan pertolongannya, harus dibawa ke sini. Lima orang itu lalu pergi dengan penasaran.”

“Lalu bagaimana?” tanya Cin Mei dengan suara tenang.

“Kemudian kemarin datang sebuah kereta dan Panglima Kwan sendiri datang. Dia marah-marah dan memaki-maki suhu, lalu memaksa suhu untuk ikut dengannya. Suhu menolak, tetapi para pengawal Panglima Kwan itu lalu menggunakan kekerasan, mereka menyeret suhu ke dalam kereta yang kemudian meninggalkan kota ini dan sampai sekarang belum ada kabarnya. Ahh, suci, tolonglah suhu, aku khawatir suhu mendapat celaka di sana.”

“Tenanglah, Kun Tek. Biar aku yang mengurus suhu. Engkau jaga saja rumah ini, rawat baik-baik agar kalau suhu pulang keadaannya tetap bersih.”

“Baik, suci.”

“Toako, mari kita menyusul suhu ke Lok-yang!” kata gadis itu dan Han Lin mengangguk. Mereka lalu keluar lagi, menunggang kuda dan keluar dari kota Nan-yang menuju ke Lok-yang dengan cepat.

“Panglima itu sudah bertindak sewenang-wenang terhadap suhu-mu, siauw-moi. Biar kita beri hajaran kepadanya!”

“Ahh, jangan begitu, toako. Pertama, dia adalah seorang panglima yang tentu mempunyai pasukan yang berjumlah puluhan ribu orang. Kedua, semua perbuatan pasti ada sebabnya dan sebelum mengetahui kenapa dia memaksa suhu, tidak baik kalau kita bertindak, apa lagi dengan kekerasan. Biarkan aku yang menangani persoalan ini, toako.”

Pada keesokan harinya barulah mereka memasuki kota Lok-yang yang besar karena kota Lok-yang merupakan kota raja kedua sesudah Tiang-an. Tidaklah sukar bagi kedua orang muda itu untuk mencari tahu di mana tempat tinggal Panglima Kwan. Dia adalah seorang di antara beberapa panglima di Lok-yang dan rumahnya merupakan gedung besar yang di luarnya dijaga oleh pasukan pengawal.

Cin Mei dan Han Lin merasa agak lega bahwa panglima itu tidak tinggal di dalam benteng, karena kalau demikian halnya tentu akan lebih sukar bagi mereka untuk menemuinya dan berusaha membebaskan Yok-sian yang dipaksa mengobati keluarga panglima itu.

“Berhenti! Siapakah kalian dan ada keperluan apakah kalian datang ke sini?!” bentak opsir penjaga yang bertugas jaga di depan gedung megah itu.

Walau pun pertanyaan itu diajukan kepada Han Lin, namun karena Cin Mei yang hendak menangani persoalan itu, Han Lin tidak menjawab melainkan menoleh kepada Cin Mei.

”Kami datang hendak menghadap Kwan-ciangkun. Saya adalah seorang ahli pengobatan bernama Lie Cin Mei dan kawanku ini bernama Sia Han Lin. Kami mendengar bahwa ada keluarga Kwan-ciangkun yang menderita sakit keras, maka saya hendak mencoba untuk mengobatinya.”

Mendengar ucapan itu, berubahlah sikap opsir itu. “Ahh, kalau begitu akan kami laporkan kepada ciangkun. Harap ji-wi (kalian berdua) menanti sebentar.”

Tidak lama kemudian opsir itu datang lagi lalu mempersilakan dua orang muda itu masuk. Mereka diterima oleh seorang panglima yang bertubuh tinggi besar dan bermuka merah. Sesudah dipersilakan duduk, panglima itu mengamati Cin Mei dan bertanya dengan suara meragu,

“Apakah nona yang mengatakan pandai mengobati orang sakit?”

“Benar, ciangkun. Saya mendengar bahwa ada keluarga ciangkun yang sedang menderita sakit, maka kalau boleh, saya hendak mencoba untuk memeriksa dan mengobatinya.”

“Apakah engkau berani tanggung bahwa engkau akan sanggup menyembuhkan puteraku yang menderita sakit itu, nona?”

“Ciangkun, bagaimana saya dapat menentukan sebelum memeriksanya?”

“Baik, mari kau periksa dia, kemudian beri dia obat sampai sembuh. Kalau engkau dapat menyembuhkannya, nanti akan besar hadiahnya untukmu.”

Sambil dikawal oleh selosin prajurit, panglima itu kemudian mengajak Cin Mei dan Han Lin masuk ke kamar di bagian belakang gedung yang besar itu. Baru tiba di depan kamar saja sudah tercium bau yang tidak enak sekali dari dalam kamar. Seperti bau bangkai.

“Nah, yang sakit adalah puteraku dan dia berada di dalam kamar ini. Silakan periksa dia, nona,” kata panglima itu.

Agaknya perhatian panglima itu tercurah kepada puteranya yang sakit sehingga dia tidak lagi menanyakan siapa nama kedua orang tamunya, walau pun tadi sudah dilaporkan oleh opsir penjaga.

Dengan menahan kemuakan oleh bau yang busuk itu, Cin Mei menghampiri pembaringan di mana rebah seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh tahun, akan tetapi seluruh tubuh pemuda itu timbul bisul kecil-kecil yang mengeluarkan bau busuk. Melihat Cin Mei, pemuda itu hendak bangkit dan menjulurkan kedua lengannya.

“Aduh, cantik manis! Marilah, manis, tidur bersamaku...!” suaranya lemah, akan tetapi dia berusaha bangkit untuk merangkul Cin Mei.

Han Lin cepat menggunakan tongkatnya menotok jalan darah pemuda itu sehingga rebah kembali dengan tubuh lemas.

Cin Mei lalu memeriksa nadinya. Tidak lama kemudian dia menggelengkan kepala sambil memberi isyarat kepada Han Lin agar keluar dari kamar. Han Lin menotokkan tongkatnya membebaskan pemuda itu, kemudian mereka keluar dari kamar itu. Di belakang mereka, pemuda yang sakit itu memanggil-manggil Cin Mei.

“Ke sinilah, manis. Jangan tinggalkan aku, sayang...!”

Gila, pikir Han Lin. Sudah sakit begitu hebat namun masih saja bersikap mata keranjang. Orang semacam itu pantasnya mati saja.

Sesudah gadis itu keluar dari dalam kamar si sakit, panglima itu kemudian mengajaknya ke ruangan tadi dan setelah duduk, dia bertanya, “Bagaimana, nona. Bagaimana keadaan anakku dan dapatkah engkau menyembuhkan?”

Han Lin melihat bahwa ruangan itu sudah dijaga oleh belasan orang pengawal, dan ketika dia memandang panglima itu, dia melihat wajah yang merah itu diliputi penuh kegelisahan.

“Ciangkun, puteramu itu terkena penyakit berat. Mungkin timbul karena dia terlalu banyak bergaul dengan pelacur-pelacur sehingga darahnya telah keracunan. Bahkan saya melihat racun itu sudah menjalar sampai ke otaknya.”

“Hemm, cocok dengan ucapan tabib itu!” kata Kwan-ciangkun.

“Saya juga melihat bahwa dia sudah mendapat obat penahan dan pengurang rasa nyeri. Kalau tidak mendapat obat itu, tentu dia tidak akan mampu menahan rasa sakit dan akan berteriak-teriak terus sepanjang waktu.”

“Kembali cocok, nona. Engkau memang pandai dan kuharap engkau dapat mengobatinya sampai sembuh betul, tidak seperti tabib itu yang hanya bisa memberi obat penahan rasa nyeri saja.”

“Ciangkun, sebelum saya menjawab dan memberi obat, saya ingin bertanya di mana tabib yang sudah memeriksa dan memberinya obat itu?”

“Di kamar tahanan! Dia mengaku sebagai Dewa Obat, akan tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menyembuhkan anakku. Maka dia kumasukkan tahanan dan kalau sampai anakku mati, maka dia juga akan ikut mati!” kata panglima itu dengan gemas.

“Harap ciangkun suka suruh panggil dia ke sini, karena saya perlu bertukar pikiran dengan dia untuk dapat mengobati puteramu.”

“Ah, benarkah engkau dapat menyembuhkan puteraku?” tanya panglima itu penuh harap.

“Mudah-mudahan saja, akan tetapi saya perlu bertukar pikiran dan pendapat dengan tabib itu.”

“Baik!” Panglima Kwan memanggil kepala pengawal, lalu memerintahkan agar membawa tabib tawanan itu datang ke situ.

Tak lama kemudian pengawal itu datang kembali sambil menggiring seorang kakek tinggi kurus. Melihat suhu-nya, Cin Mei lalu memberi hormat dan berkata,

“Saya mohon mendapat locianpwe untuk menentukan obat bagi putera Kwan-ciangkun.”

Tentu saja Thian-te Yok-sian mengenal muridnya. Dia tahu bahwa tidak seperti dia yang hanya tahu ilmu pengobatan, muridnya itu mempunyai ilmu silat tinggi dan tentu gadis ini datang untuk menolongnya. Dia khawatir sekali akan keselamatan muridnya itu, maka dia berkata,

“Mau tanya apa lagi? Penyakit Kwan-kongcu sudah sangat berat. Semua karena ulahnya sendiri bermain-main dengan para pelacur. Kini penyakit itu sudah menjalar ke otak.”

“Kalian harus dapat menyembuhkannya. Kalau tidak maka kalian bertiga takkan kuijinkan meninggalkan tempat ini!” bentak Kwan-ciangkun.

Han Lin yang sejak tadi diam saja lalu berkata, “Kami tahu kenapa ciangkun menghendaki begitu. Tentu ciangkun khawatir kalau di luaran kami akan menceritakan tentang keadaan penyakit Kwan-kongcu, bukan?”

“Tutup mulutmu, orang muda!” panglima itu membentak marah. “Pendeknya kalian harus dapat menyembuhkannya!”

Sekarang dengan suara tenang penuh kesabaran Cin Mei berkata, “Ciangkun, kami bukan Tuhan melankan manusia biasa. Yang menentukan mati hidup hanyalah Thian. Saya kira penyakit putera ciangkun sudah terlampau parah. Walau pun andai kata obat kami dapat menyelamatkan nyawanya, tetapi tidak mungkin dapat menyelamatkan otaknya. Dia bisa sembuh, akan tetapi akan menjadi... maaf, gila.”

“Apa...?!” bentak Kwan-ciangkun sambil berdiri dari tempat duduknya, mukanya pucat dan matanya terbelalak.

“Ohh, sebetulnya saya sudah tahu mengenai hal itu, akan tetapi tidak berani mengatakan kepada ciangkun. Menurut saya keadaan Kwan-kongcu sudah demikian parah, hidup pun akan menderita hebat. Maka hanya ada satu jalan yang terbaik baginya, yaitu kematian yang akan membebaskan dia dari semua rasa nyeri dan ancaman gila.”

“Tidak! Tidak! Kalian harus menyembuhkannya sama sekali atau kalau tidak, maka kalian akan kutahan dan kalau dia mati, kalian juga akan ikut mati!”

Mendadak Han Lin meloncat dan meski pun panglima itu menyambutnya dengan pukulan, tetap saja dia sudah dapat menotok panglima itu sehingga panglima itu menjadi lumpuh.

“Kwan-ciangkun, engkau keterlaluan,” bisik Han Lin.

Sementara itu belasan orang pengawal yang melihat ini telah menyerbu dengan golok dan tombak di tangan. Tapi begitu mereka menyerang ke arah Cin Mei dan Yok-sian, tiba-tiba nampak bayangan putih berkelebat kemudian berturut-turut mereka roboh tertotok diiringi suara golok dan tombak yang terlempar berkerontangan. Melihat lima orang prajurit roboh oleh wanita berpakaian putuh itu, para pengawal lain menjadi tertegun dan jeri.

Sementara itu Han Lin telah menekan leher Kwan-ciangkun. “Ciangkun, cepat perintahkan pengawalmu untuk mundur, kalau tidak terpaksa aku akan membunuhmu sekarang juga.”

Karena tak berdaya dan nyawanya berada di tangan orang, Kwan-ciangkun lalu berteriak, “Kalian semua mundur!” dan para pengawal itu pun tidak ada yang berani bergerak.

“Biarkan kami pergi dari sini dengan aman, ciangkun.”

“Buka jalan dan biarkan mereka pergi!” bentak pula Kwan-ciangkun.

Cin Mei menghampiri meja dan menuliskan resep obat dengan cepat, lalu berkata kepada panglima itu. “Ciang-kun, ini adalah resep obat untuk membuat puteramu merasa tenang dan tidak menderita nyeri, akan tetapi sama sekali bukan untuk menyembuhkan. Hanya kalau Thian menghendaki maka puteramu dapat sembuh. Mudah-mudahan saja.”

Mereka bertiga lalu melangkah keluar. Han Lin masih tetap memegangi lengan panglima itu yang dibawanya keluar sehingga tidak ada seorang pun pengawal berani mengganggu mereka.

“Siauw-moi, kau pergi dulu bersama suhu-mu, tunggu di luar kota,” bisik Han Lin kepada Cin Mei.

Gadis itu mengangguk. Sebenarnya dia tidak menyukai jalan kekerasan yang diambil oleh Han Lin, akan tetapi dia maklum bahwa inilah satu-satunya jalan untuk dapat lolos dengan selamat. Dengan cepat dia lalu membawa suhu-nya keluar dari situ, sambil menunggang kedua ekor kuda keluar dari kota kemudian menanti Han Lin.

Setelah menanti hingga beberapa saat barulah Han Lin melepaskan panglima itu. “Jangan mengejar kami, ciangkun. Kami telah bersikap baik padamu, bahkan meninggalkan resep obat untuk puteramu. Ingat, jika engkau mengirim pasukan mengejar, dengan mudah saja aku akan datang lagi untuk mencabut nyawamu.” Setelah berkata demikian, dia pun pergi dengan cepat. Sekali berkelebat dia pun lenyap dari situ.

Karena sibuk dengan puteranya panglima itu pun tidak melakukan pengejaran, melainkan menyuruh orang membeli obat dengan resep yang ditinggalkan oleh Cin Mei.

Cin Mei lalu mengajak Thian-te Yok-sian dan Kun Tek untuk mengungsi ke sebuah dusun yang menjadi kampung halaman Thian-te Yok-sian, sebuah dusun nelayan di tepi Huang-ho, di mana Thian-te Yok-sian masih mempunyai sebuah rumah dan selanjutnya dia hidup di situ, dilayani oleh Kun Tek dan kehidupannya ditunjang oleh keluarga nelayan di dusun itu karena mereka pun membutuhkan pertolongan Yok-sian untuk mengobati mereka yang menderita sakit…..

********************

Pemuda yang bercaping lebar itu tidak menarik perhatian orang, walau pun pedang yang berada di punggungnya menunjukkan bahwa dia seorang yang biasa menggunakan ilmu silat untuk menjaga diri. Dia seorang lelaki muda berusia dua puluh dua tahun, wajahnya tampan dan periang, akan tetapi pada saat itu sinar matanya muram.

Ketika memasuki rumah makan di kota Souw-ciu itu, dia melihat bahwa di situ sudah ada seorang pemuda lain yang nampak gagah berpakaian serba putih dan wajahnya tampan. Pemuda ini juga membawa sebatang pedang pada punggungnya dan usianya sekitar dua puluh lima tahun.

Mereka berdua hanya saling lirik saja, akan tetapi tidak saling menegur karena memang tidak saling mengenal. Pemuda yang bercaping lebar itu adalah Souw Kian Bu!

Seperti yang sudah diceritakan di bagian depan, dengan hati panas penuh cemburu Souw Kian Bu sudah meninggalkan isterinya. Putera Souw Hui San dan Yang Kui Lan ini pergi dengan hati remuk karena dia menyangka bahwa tentu dahulu isterinya menjadi kekasih suheng isterinya yang bernama Gu San Ki itu. Dia merasa telah dicurangi dan ditipu oleh isterinya!

Semenjak pergi meninggalkan isterinya, Kian Bu merasa amat kesepian dan berduka. Dia kehilangan isterinya, kehilangan kemesraan dan keramahan isterinya. Harus diakui bahwa isterinya bersikap ramah dan mesra, akan tetapi bayangan bahwa isterinya sudah bergaul dengan pria lain sebelum menikah dengannya, selalu menggerogoti dan meracuni hatinya dengan rasa cemburu.

Cemburu timbul kalau kita menganggap orang yang kita cinta sebagai milik kita. Seperti kalau kita memiliki suatu benda yang indah dan kita sayang, maka kita selalu cemburu dan tidak ingin orang lain memilikinya, menjaganya supaya benda itu selalu menjadi milik kita.

Benarkah bahwa tanpa cemburu bukanlah cinta namanya? Ataukah sebaliknya, apa bila ada cemburu maka bukanlah cinta sejati? Yang jelas, cemburu adalah sakitnya hati yang timbul karena merasa miliknya diambil orang.

Cinta yang sifatnya memiliki dan dimiliki tentu mengandung rasa cemburu. Padahal cinta berarti kepercayaan mutlak kepada yang dicinta. Kalau dua orang sudah saling mencinta, tentu ada kepercayaan yang tulus, karena cinta tidak mungkin bertepuk sebelah tangan. Kalau ada keraguan, ketidak percayaan, maka percuma saja orang mengaku cinta. Dan cemburu merupakan racun yang amat berbahaya bagi kehidupan suami isteri.


Kian Bu sedang diamuk cemburu. Dan orang yang cemburu selalu membayangkan yang bukan-bukan, segala kemungkinan yang tidak-tidak, yang diduganya mungkin dilakukan oleh orang yang dicinta dicemburuinya. Kian Bu mencinta Ji Kiang Bwe, namun dia ingin memiliki isterinya secara sepenuhnya, baik sekarang mau pun masa lampau dan masa mendatang. Dia hanya mencinta bayangan, yaitu bayangan wanita yang sempurna, tidak ternoda, dan bayangan itu diharapkan akan dapat terwujud dalam bentuk tubuh isterinya.

Kian Bu tersadar dari lamunannya ketika pelayan menghampirinya dan bertanya masakan apa yang hendak dipesannya. Dia memesan arak dan masakan mi.

Pada saat itu terdengar suara keras orang menggebrak meja dan seorang yang baru saja memasuki rumah makan itu menggebrak meja kemudian mengeluarkan teriakan nyaring. “Heiii, pelayan! Cepat sediakan arak, aku sudah haus sekali!”

Bergegas pelayan mendatangi meja itu sambil membawa seguci arak. Orang itu langsung membuka tutup guci, lalu menuangkan arak dari guci begitu saja ke mulutnya, tidak mau menggunakan cawan lagi.

Souw Kian Bu segera memperhatikan. Orang itu berusia lima puluh satu tahun, tubuhnya jangkung kurus, jangkung sekali sehingga lebih tinggi satu kepala dibandingkan orang lain dan pinggangnya dililit rantai baja yang nampaknya berat. Tentu seorang yang amat kuat, pikirnya dan melihat cara dia minum arak dapat diduga bahwa dia tentulah seorang kang-ouw yang terkenal pula.

Kian Bu baru saja hendak makan mi-nya ketika dia melihat pemuda berpakaian putih itu menggerakkan tangannya, dan sebatang sumpit meluncur seperti anak panah cepatnya, tepat mengenal guci yang isinya sedang dituangkan ke mulut kakek jangkung itu.

“Pyarrr...!” Guci itu pecah dan isinya berhamburan membasahi pakaian si jangkung.

Tentu saja si jangkung ini marah bukan main. Dia bangkit berdiri dan matanya langsung memandang ke kanan dari mana sumpit tadi menyambar gucinya. Dia bukan lain adalah Thian-kui, orang tertua dari Thian-te Siang-kui dan ketika dia melihat pemuda baju putih, dia marah sekali.

Dia segera mengenal Can Kok Han, pemuda dari Pek-eng Bu-koan yang sudah pernah bertanding dengannya, bahkan pemuda itu nyaris tewas oleh dia dan adiknya kalau saja tidak muncul Mulani yang melarang dia membunuhnya. Kini Mulani tidak ada, dan tidak ada orang yang akan melarangnya, maka tentu saja kemarahannya memuncak.

“Bocah sombong, berani engkau mengganggu mulut harimau? Tempo hari engkau masih dapat lolos dari tanganku, sekarang agaknya engkau memang sudah bosan hidup!”

“Thian-kui, manusia iblis, sekali ini justru akulah yang akan membunuhmu!” kata Kok Han, pemuda yang tidak mau merasa kalah oleh siapa pun juga itu.

Pada saat itu pula pemilik rumah makan tergopoh menghampiri pemuda baju putih itu. Dia agaknya sudah tahu siapa Thian-kui, seorang datuk yang sakti, maka dia tak berani minta kepada Thian-kui agar tidak berkelahi di tempat itu. Akan tetapi Kok Han adalah seorang pemuda tampan yang berpakaian bersih dan gerak-geriknya sopan, maka kepada pemuda inilah dia bermohon.

“Taihiap, kami mohon agar taihiap tidak berkelahi di tempat kami dan merusakkan perabot rumah makan kami, juga membikin takut para tamu kami.”

Sementara itu para tamu memang sudah ketakutan dan siap meninggalkan meja masing-masing agar tidak sampai terlibat perkelahian itu.

“Thian-kui! Bila engkau memang berani, maka aku menantangmu untuk bertanding di luar rumah makan!” kata Kok Han yang lalu melompat keluar dari dalam rumah makan itu.

“Pemuda tolol, engkau sudah bosan hidup!” kata Thian-kui, lalu dengan marah sekali dia cepat menyusul keluar.

Melihat ini, Souw Kian Bu yang tadi terkejut mendengar julukan Thian-kui, diam-diam ikut pula keluar. Tentu saja dia pernah mendengar julukan Thian-te Siang-kui dan dia khawatir sekali dengan nasib pemuda tampan itu. Dia pernah mendengar bahwa sepasang iblis itu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Walau pun dia belum tahu urusannya, tidak tahu mengapa kedua orang ini bermusuhan, akan tetapi karena dia tahu bahwa Thian-kui adalah seorang datuk sesat yang jahat, tentu saja pemuda itu berada di pihak benar yang patut untuk dibantunya bila terancam bahaya.

Selain Kian Bu, banyak juga yang keluar untuk menonton perkelahian walau pun mereka itu agak takut dan menonton sambil bernyanyi.

Kok Han sudah berhadapan dengan Thian-kui yang segera berkata, “Bocah ingusan, kau sudah gila barang kali. Sudah beberapa kali engkau hampir mampus dan sekarang masih hendak mengantarkan nyawa? Sekali ini jangan harap engkau akan dapat meloloskan diri dari tanganku!”

“Thian-kui, engkau tidak perlu banyak cakap lagi. Sekali ini engkaulah yang akan mampus di tanganku untuk menebus semua kejahatanmu!” kata pemuda itu dengan lagak gagah dan dia sudah mencabut pedangnya. Gerakannya ketika melompat keluar rumah makan dan ketika mencabut pedang memang meyakinkan, sehingga Kian Bu merasa agak lega karena agaknya pemuda ini memang seorang pendekar perkasa.

Thian-kui melolos rantai baja dari pinggangnya. Panjang rantai baja itu kurang lebih dua meter dan ketika dia gerakkan, terdengar suara berciutan, tanda bahwa senjata itu berat sekali dan tenaga yang menggerakkannya juga sangat besar.

Tetapi dengan lincahnya Kok Han meloncat ke belakang dan membalas dengan serangan yang dilakukan sambil meloncat laksana burung menyambar. Pedangnya menusuk ketika tubuhnya menukik.

Kian Bu merasa kagum. Pemuda ini memang boleh juga, namun dia meragukan apakah pemuda itu cukup tangguh untuk menandingi Thian-kui yang senjatanya lebih panjang dan gerakannya demikian kuat.

Setelah pertandingan berlanjut, maka tahulah Kian Bu bahwa seperti yang dikhawatirkan, pemuda itu bukanlah tandingan Thian-kui. Tenaganya jauh kalah kuat, dan hanya karena mempunyai kegesitan seperti seekor burung saja yang membuat pemuda itu masih dapat bertahan setelah mereka bertanding selama dua puluh jurus lamanya. Namun pemuda itu sudah terdesak hebat dan tinggal menanti saat robohnya saja.

Kian Bu telah bersiap-siap untuk membantu pemuda itu ketika tiba-tiba Kok Han meloncat jauh ke belakang kemudian tangan kirinya bergerak melempar benda ke dekat Thian-kui. Terdengar ledakan keras lantas asap tebal mengepul. Thian-kui mengeluarkan gerengan parau dan dia pun terhuyung lalu roboh!

Sesudah asap mulai menghilang, Kian Bu melihat Thian-kui sudah roboh terlentang, dan Kok Han menghampirinya dengan pedang di tangan, agaknya siap untuk membunuhnya. Sesungguhnya Kian Bu merasa tidak senang melihat ini. Kemenangan pemuda itu adalah kemenangan curang, apa lagi kini pemuda itu hendak membunuh musuhnya yang sudah pingsan, perbuatan yang sama sekali tidak dapat dibilang gagah.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner