PEDANG AWAN MERAH : JILID-17


Akan tetapi pada saat itu pula tampak seorang yang pendek kurus mengeluarkan teriakan melengking kemudian sudah menerjang kepada Kok Han dengan sepasang goloknya. Dia adalah Tee-kui yang hampir saja terlambat menolong kakaknya.

“Bocah sombong dan curang, kau rasakan tajamnya golokku!” Tee-kui menyerang dengan dahsyat sehingga repot Kok Han harus memutar pedangnya untuk menangkis.

Kini dia tidak sempat lagi untuk menyerang dengan bahan peledak karena Tee-kui sudah mengetahui akan kelihaian senjata rahasia itu, maka tidak memberi kesempatan kepada lawannya untuk menjauhkan diri. Sepasang goloknya berubah menjadi dua gulungan sinar yang menyilaukan mata dan mengurung Kok Han sehingga pemuda ini terdesak hebat.

Melihat keadaan itu, Kian Bu tidak dapat tinggal diam saja. Tidak bisa dia melihat pemuda baju putih itu terbunuh oleh Tee-kui yang demikian tangguh. Dia segera melompat sambil mencabut pedangnya, kemudian menyerang Tee-kui dari samping.

Mendengar suara pedang berdesing menyerangnya, Tee-kui terkejut sekali dan ketika dia menangkis dengan golok kirinya, dia merasa betapa tangan kirinya tergetar hebat, tanda bahwa penyerangnya memiliki tenaga sinkang yang tangguh. Hal ini membuat dia menjadi jeri karena harus menghadapi pengeroyokan dua orang.

Maka dia segera mengeluarkan gerengan dahsyat sambil sepasang goloknya menyerang sedemikian hebatnya sehingga Kok Han dan Kian Bu terpaksa melangkah mundur untuk menghindarkan diri dari sambaran sinar golok. Kesempatan ini dipergunakan oleh Tee-kui untuk meloncat ke dekat rekannya, kemudian ia memondong tubuh Thian-kui yang masih pingsan itu dan meloncat jauh untuk melarikan diri.

Kok Han memandang kepada Kian Bu. Dasar dia seorang yang congkak, apa lagi setelah dia berhasil merobohkan Thian-kui, maka dia tidak mau tahu akan kelemahan diri sendiri, tidak mau mengerti bahwa sebenarnya dia tadi sudah terancam bahaya di tangan Tee-kui. Dengan muka cemberut dia bukan berterima kasih kepada Kian Bu, malah menegur,

“Siapa minta engkau membantuku?”

Tentu saja Kian Bu mendongkol bukan main. Kalau dia tidak menyabarkan hatinya, tentu sudah diserangnya pemuda baju putih itu. Melihat sikap congkak itu, dia segera memutar tubuh hendak pergi meninggalkan pemuda itu begitu saja.

Pada saat itu terdengar seruan wanita, “Ahh, kiranya engkau pemilik bahan peledak yang mengandung racun pembius itu, Kok Han?”

Kok Han menoleh dan dia terkejut bukan kepalang melihat munculnya Mulani. “Apa... apa maksudmu, Mulani?” tanyanya dan nampak olehnya betapa cantiknya gadis Mongol itu.

“Jadi orang yang dulu meledakkan racun pembius sehingga aku dan Sia Han Lin menjadi pingsan adalah engkau? Mengaku saja, karena peledaknya sama benar dengan yang kau lepaskan untuk merobohkan Thian-kui tadi.”

Kok Han menggigit bibirnya. Dia tidak dapat mengelak lagi. “Benar, Mulani. Hatiku merasa panas melihat engkau dengan Han Lin... karena aku cinta padamu...”

“Jadi engkau... engkau yang melakukan... terhadap diriku...”

Kok Han adalah seorang yang biasanya melakukan kegagahan, menganggap diri sebagai pendekar, hanya cinta dan cemburu telah meracuninya. Kini dia merasa bahwa dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya terhadap Mulani.

“Terus terang saja, Mulani, aku tidak ingin engkau menjadi isteri Sia Han Lin...”

Tiba-tiba saja Mulani tersenyum manis lalu mendekati Kok Han. “Kalau begitu engkaulah suamiku yang sesungguhnya. Apakah engkau cinta benar kepadaku, Kok Han?”

Bukan main girangnya hati Kok Han. “Kalau aku tidak cinta kepadamu, lalu untuk apa aku melakukan semua itu, Mulani? Aku cinta kepadamu, aku tergila-gila pada...” Tiba-tiba saja ucapan Kok Han terhenti, matanya terbelalak, mulutnya terbuka lebar dan saat itu Mulani sudah melompat ke belakang.

“Mulani, kau... kau...!”

Pada saat itu pula terdengar bentakan melengking, “Perempuan iblis, engkau membunuh kakakku?!”

Kemudian sebuah benda meledak dekat Mulani yang tidak sempat menghindar sehingga dia terbatuk-batuk sambil terhuyung-huyung, dan seketika itu pula Bi Lan telah berkelebat menyerangnya dengan sebatang pedang. Wanita ini tak mampu menghindar lagi sehingga lambungnya tertembus pedang dan dia pun roboh mandi darah, tidak jauh dari tubuh Kok Han yang dadanya tertembus pedang yang ditusukkan Mulani.

Setelah asap membuyar, Bi Lan cepat berlutut dekat tubuh kakaknya. “Han-ko, Han-ko... engkau tidak apa-apa...?”

“Lan-moi, ahh, kenapa engkau lakukan itu? Mulani... tidak... berdosa... aku yang salah... aku telah memperkosanya selagi dia pingsan... aku... ahh...,” dia terkulai dan tewas.

Sementara itu, mendengar betapa tadi wanita itu menyebutkan nama Sia Han Lin, kakak misannya, Kian Bu juga sudah lompat mendekat dan berlutut di dekat tubuh Mulani yang sekarat.

“Nona, aku adalah anggota keluarga dari Sia Han Lin. Ada urusan apa antara engkau dan dia, dan di mana dia sekarang?”

Mulani membuka matanya, “...harap katakan kepada Han Lin, aku... aku minta maaf, dia tak bersalah, dia bukan pelakunya, pelakunya adalah Can Kok Han... ahh, dia... dia boleh bebas sekarang... katakan aku... aku cinta padanya...” dan Mulani juga terkulai, tewas.

Kian Bu dan Bi Lan saling pandang, tidak saling mengenal, tetapi Bi Lan bisa mendengar percakapan antara Kian Bu dan Mulani.

“Aku... menyesal sekali telah membunuh Mulani... melihat kakakku dibunuhnya...”

Tiba-tiba datang serombongan orang yang berpakaian seperti orang asing, jumlah mereka dua puluh orang lebih. Kian Bu segera melompat bangun dan siap siaga menjaga segala kemungkinan, begitu pula Bi Lan. Akan tetapi orang-orang itu tidak menggangu mereka, hanya mengangkat jenazah Mulani lalu dengan cepat pergi dari tempat itu dan terdengar suara mereka menangis.

Walau pun menjadi saksi utama dari serangkaian peristiwa tadi, Kian Bu dapat menduga bahwa Bi Lan bukanlah orang jahat. Kalau tadi gadis ini membunuh si wanita, itu adalah karena dia melihat kakaknya terbunuh dan dia tidak dapat menyalahkannya. Dia merasa kasihan juga melihat gadis itu menangis tanpa suara. Maka dia lalu berkata,

“Nona, mari kubantu engkau mengurus jenazah kakakmu ini.”

Ketika dia mengangkat jenazah itu, si gadis tidak mencegah dan memandang kepadanya dengan tatapan berterima kasih. Tadi dara ini sempat mendengar pengakuan pemuda ini sebagai saudara misan Han Lin. Mereka berdua lalu pergi ke luar kota membawa jenazah itu.

Bi Lan menangis di depan makam yang baru itu. Makam yang sederhana sekali, di lereng sebuah bukit di luar kota Souw-ciu. Souw Kian Bu juga berada di situ, dan orang muda itu membiarkan saja Bi Lan menangisi kematian kakaknya. Sesudah tangis Bi Lan mereda, gadis itu menoleh dan agaknya baru teringat bahwa di situ ada orang lain.

“Maafkan aku. Betapa hatiku tak akan sedih melihat kakak kandungku dibunuh orang dan bagaimana kelak aku harus memberi tahukan ayah ibu?”

“Wajar saja kalau engkau bersedih, nona. Aku pun ikut bersedih menyaksikan itu semua. Akan tetapi apa artinya semua ini? Bukan aku ingin mengetahui urusan orang lain, tetapi karena di sini agaknya tersangkut saudaraku Han Lin, maka aku ingin sekali mengetahui duduk perkaranya.”

“Aku sendiri juga tidak tahu. Tadi aku melihat betapa kakakku dibunuh secara curang oleh wanita itu, tentu aku tidak dapat menerimanya dan aku menggunakan obat peledak untuk membunuhnya. Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi, aku hanya mendengar pengakuan kakakku tadi. Ahh, sungguh sulit untuk dipercaya bahwa dia telah memperkosa wanita itu. Sekarang tidak ada lagi yang dapat ditanya karena keduanya telah meninggal dunia, ahh, aku menyesal sekali...”

“Kurasa kita masih dapat menanyakan kepada seseorang...”

“Maksudmu, Lin-koko?”

“Ehh, nona, apakah engkau juga mengenal Sia Han Lin?”

“Mengenal? Dia adalah seorang sahabat baikku!” kata Bi Lan penuh semangat, kemudian mukanya berubah kemerahan. “Tadi aku mendengar bahwa engkau adalah saudara...”

“Maksudku, bukan aku, melainkan ibuku yang masih enci dari ibu kakak Sia Han Lin.”

“Ah, begitukah? Kalau begitu aku harus memperkenalkan diri padamu. Aku bernama Can Bi Lan dan yang meninggal ini kakakkku bernama Can Kok Han. Kami adalah anak-anak dari ketua Pek-eng Bu-koan.”

“Nona Bi Lan, aku bernama Souw Kian Bu. Tahukah engkau di mana adanya kakak Sia Han Lin sekarang?”

“Aku tidak tahu, sebab sudah beberapa pekan kami berpisah. Aku sedang hendak pulang, ketika lewat tempat ini aku melihat peristiwa tadi. Sekarang aku harus cepat pulang untuk mengabarkan kepada ayah ibuku.” Dia memandang kepada gundukan tanah dan kembali matanya menjadi basah. “Pada waktu aku bertemu dengan Lin-koko, dia sedang hendak menuju ke Souw-ciu. Karena itu ketika aku tidak menemukan jejak kakakku di utara, aku pun menuju ke Souw-ciu dengan harapan dapat bertemu dengan Lin-koko, tidak tahunya aku malah bertemu dengan kakakku. Pada waktu aku bertemu dengannya, dia melakukan perjalanan bersama Kwan Im Sianli Lie Cin Mei.”

Kian Bu melihat betapa ketika menyebut nama Kwan Im Sianli, wajah gadis itu mendadak menjadi muram dan pandang matanya membayangkan kekeruhan, tanda bahwa dia tidak senang dengan wanita itu. Tentu cemburu! Apa lagi kalau bukan cemburu? Dia pun sudah pernah mendengar nama Kwan Im Sianli yang kabarnya selain ilmu silatnya sangat tinggi dan pandai mengobati orang, juga cantik jelita dan masih belum menikah.

“Ahh, kalau begitu aku akan pergi ke Souw-ciu. Barang kali saja aku akan dapat bertemu dengan dia di sana,” kata Kian Bu.

“Baiklah, saudara Souw Kian Bu. Kalau engkau bertemu dengan Lin-ko, tolong sampaikan salamku kepada dia, dan sekali lagi aku mintakan maaf jika mendiang kakakku bersalah kepadanya. Sekarang aku akan pulang melapor kepada orang tuaku, selamat berpisah.”

Mereka lalu berpisah dan Souw Kian Bu cepat-cepat pergi memasuki kota Souw-ciu lagi. Akan tetapi kalau saja dia datang lima hari yang lalu, tentu dia dapat bertemu dengan Han Lin. Dia sudah terlambat. Sesudah selama beberapa hari menanti dan mencari-cari tanpa hasil, maka dia pun meninggalkan kota itu. Dia lalu mengambil keputusan untuk pergi ke Wu-han, ke rumah orang tuanya yang membuka toko kain di kota itu.

Sebaiknya dia minta pendapat atau nasehat ayah ibunya tentang urusan dengan isterinya itu agar hatinya tidak menderita seperti sekarang ini. Semenjak meninggalkan isterinya, hidupnya terasa hampa tidak ada artinya. Setiap saat yang dirasakan hanyalah kesepian, duka dan penyesalan. Akan tetapi bagaimana mungkin dia bisa pulang kepada isterinya? Bayangan Gu San Ki selalu nampak di depan matanya.

Tidak, dia tidak akan kembali kepada isterinya. Biar pun dia menderita kalau perlu sampai mati, dia tidak akan kembali kepada isterinya, seperti seorang pengemis yang mengemis cinta. Betapa pun dia mencinta isterinya, jika isterinya mencinta orang lain, untuk apa dia merendahkan diri? Biar pun terasa menyedihkan, tetapi pikiran ini memberinya semangat untuk membusungkan dada, mendatangkan harga diri dan keangkuhan, dan mungkin bisa menjadi penunjang hidupnya agar dia tidak putus asa…..

********************

Pemuda itu memang ganteng sehingga menarik perhatian orang ketika memasuki rumah makan itu. Tetapi pemuda tinggi tegap yang berpembawaan gagah itu tidak peduli dengan pandangan orang-orang, dia terus melangkah dengan tegap dan mencari meja yang masih kosong. Akan tetapi semua meja sudah penuh, bahkan setiap meja sudah dikelilingi tiga atau empat orang, kecuali sebuah meja di sudut yang hanya dihadapi oleh seorang wanita saja. Wanita cantik berpakaian serba hijau.

Dengan langkah tegap pemuda itu menghampiri meja ini lalu mengangkat kedua tangan di depan dada. “Mohon maaf, nona. Karena tempat ini sudah penuh sekali, kalau sekiranya nona tidak keberatan dan suka menaruh kasihan kepada seorang yang sedang kelaparan, bolehkah aku menumpang duduk di sini untuk makan?”

Wanita itu mengangkat muka memandang. Mula-mula sepasang alisnya berkerut karena menganggap pria itu tidak sopan dan terlampau lancang berani minta menumpang duduk bersamanya di satu meja, padahal sama sekali belum mengenalnya. Akan tetapi ketika melihat laki-laki yang gagah itu, yang wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kekurang ajaran, bahkan sepasang mata itu memandang jujur, dia tidak menjadi marah.

“Boleh saja, ini memang tempat untuk umum, bukan?” kata wanita itu dengan dingin dan dia tidak memandang lagi.

“Terima kasih. Ternyata nona seorang yang bijaksana dan berbudi baik sekali,” kata pria itu yang lalu duduk di seberang. Seorang pelayan menghampiri dan pemuda itu berkata, “Aku memesan makanan dan minuman, dan karena kami semeja, maka pesananku sama dengan apa yang dipesan oleh nona ini.”

Wanita itu sama sekali tidak memperlihatkan bahwa dia memperhatikan atau mengambil peduli. Dan pemuda itu pun tidak berani berbicara lagi karena melihat sikap orang seolah tidak ingin diajak bicara. Dia hanya memandang dengan sopan, tidak langsung.

Wanita ini ternyata memang cantik jelita. Jika dilihat dari wajah dan tubuhnya maka wanita ini nampak baru berusia sekitar dua puluh tahun, walau pun kalau melihat sikapnya tentu sudah lebih banyak lagi. Wajahnya bulat telur dan kulit mukanya putih kemerahan.

Sepasang matanya sangat tajam dan indah seperti mata burung Hong. Rambutnya hitam panjang sampai ke pinggul diikat dengan pita kuning. Hidungnya mancung, dan mulutnya menantang dengan bibir merah basah. Dagunya runcing, ada tahi lalat di dagu itu. Alisnya indah sekali, kecil panjang melengkung. Tubuhnya padat ramping dengan lekuk lengkung sempurna. Sungguh seorang wanita cantik sekali, dan pakaiannya juga dari sutera mahal. Ketika duduk di depan wanita itu, ada bau semerbak harum datang dari wanita itu.

Diam-diam pemuda itu merasa kagum, sama sekali tidak tahu bahwa yang di hadapannya adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal sekali, yaitu Jeng-i Sianli (Dewi Baju Hijau) Cu Leng Si! Pendekar wanita berhati baja yang menjadi murid pendeta wanita sakti Wi Wi Siankouw.

Sementara itu, beberapa kali Leng Si memperhatikan pemuda itu dengan sudut matanya. Tinggi tegap dan gagah. Usianya paling tidak tentu sudah dua puluh lima tahun. Wajahnya jantan, hidungnya besar mancung dan dagunya berlekuk. Mata itu amat tajam, akan tetapi menyinarkan kejujuran dan pedang di punggungnya menunjukkan bahwa dia juga seorang ahli silat.

Leng Si tidak pernah mimpi bahwa dia sedang berhadapan dengan Gu San Ki, murid dari Pek Mau Siankouw bibi gurunya sendiri karena Pek Mau Siankouw adalah sumoi (adik seperguruan) Wi Wi Siankouw. Mereka memang tidak pernah saling jumpa, seperti juga guru mereka yang tidak pernah saling jumpa atau berhubungan.

Makanan yang dipesan Leng Si datang lebih dulu. Sebelum makan ia hanya mengangguk kepada San Ki. Pemuda ini pun hanya mengangguk kemudian membuang muka supaya jangan kelihatan bahwa dia memandangi orang yang sedang makan. Namun, mendengar wanita itu makan, mau tidak mau jakunnya naik turun karena beberapa kali dia menelan ludah. Perutnya sudah sangat lapar dan tenggorokannya sudah haus sekali.

Leng Si juga mengetahui hal ini, akan tetapi dia hanya melanjutkan makan sambil bibirnya mengembang ke arah senyum ditahan. Setelah makanan untuk San Ki datang, makanan yang sama, dia pun mengangguk kepada Leng Si dan mulailah dia makan dengan lahap. Melihat ini, Leng Si merasa geli.

“Lahap benar makanmu,” tegurnya.

San Ki hampir tersedak. Dia cepat minum untuk mendorong makanan yang mengganjal di tenggorokannya dan mukanya berubah kemerahan oleh teguran teman semeja yang tidak dikenalnya itu.

“Ahh, maafkan aku, nona. Sejak kemarin aku belum sempat makan.”

Mereka melanjutkan makan dan tidak bicara lagi. Akan tetapi keduanya maklum bahwa di meja sebelah, seorang berpakaian sebagai opsir pasukan bersama tiga orang prajuritnya sedang makan minum pula. Dan mereka itu seperti orang sedang berpesta saja. Makanan termahal dipesannya, dan mereka sudah banyak minum arak sehingga dari kepala yang bergoyang-goyang itu dapat diketahui bahwa mereka tentulah sudah setengah mabok.

Empat orang yang setengah mabok itu tampak berbisik-bisik, tetapi baik Leng Si mau pun San Ki yang mempunyai pendengaran terlatih dan tajam dapat menangkap perintah opsir itu kepada bawahannya supaya mengundang ‘gadis cantik berbaju hijau’ itu untuk makan bersama di mejanya. Namun mereka pura-pura tidak mendengar dan melanjutkan makan minum dengan tenang.

Salah satu di antara ketiga orang prajurit itu kini bangkit berdiri, kemudian dengan langkah gontai menghampiri meja Leng Si. “Nona, kapten kami minta kepada nona untuk makan bersamanya di meja sana, dan biarlah saya yang menemani saudara ini makan minum.”

Jika menuruti wataknya, Leng Si tentu sudah mengamuk. Akan tetapi karena di mejanya duduk pemuda itu, dia menahan diri dan cawan tehnya yang masih setengah itu tiba-tiba dia siramkan kepada prajurit itu.

Meski pun hanya air teh, akan tetapi karena yang menyiramkan adalah Jeng-i Sianli yang melakukannya dengan tenaga sinkang, maka prajurit itu merasa wajahnya seperti ditusuk-tusuk jarum. Dia pun berteriak, lalu terhuyung ke belakang sambil menutupi muka dengan kedua tangannya karena matanya tidak dapat dibukanya. Pedas dan perih rasanya.

Kapten itu bangkit berdiri dengan marah sekali. “Berani engkau memukul prajuritku?”

Leng Si sudah menyambar poci tehnya, tetapi sebuah tangan yang lembut namun kuat sekali telah menangkap tangannya. Ketika dengan marah dia memandang ke depannya, pemuda itu menggeleng kepala dan berkata lirih,

“Nona, poci teh ini dapat membunuhnya. Tidak baik membunuh prajurit, apa lagi seorang kapten.”

Leng Si teringat, lalu tangannya memegang sumpit, dengan cepat disumpitnya sepotong bakso. Pada saat itu sang perwira sudah memerintahkan dua orang prajuritnya yang lain.

“Tangkap wanita itu! Tang...” belum habis dia bicara, sepotong bakso meluncur bagaikan peluru, tepat memasuki mulutnya yang sedang terbuka dan bakso itu terus menyelonong ke dalam kerongkongannya. Dua bakso lain menyambar ke arah muka dua orang prajurit. Yang seorang terkena mata kirinya sehingga mata itu menjadi hitam, sedangkan seorang lagi terkena hidungnya sehingga bocorlah hidung itu keluar darahnya.

Biar pun mereka sendiri merasa kesakitan, namun melihat atasan mereka terbatuk-batuk karena ada bakso mengganjal kerongkongan, dua orang itu menolongnya dan menepuk-nepuk punggungnya sampai akhirnya bakso itu dapat tertelan.

Tentu saja perwira itu marah bukan main. Dia lari keluar diikuti tiga orang prajuritnya dan di luar dia segera berteriak-teriak memanggil pasukannya yang terdiri dari tiga losin orang yang cepat berlari-lari menghampiri kapten mereka yang memanggil mereka.

“Tangkap perempuan setan itu! Tangkap! Cepat!”

“Nona, sebaiknya kita keluar. Tidak baik kalau ribut di sini sehingga merusakkan perabot rumah makan.” San Ki berkata lembut.

Dan sungguh aneh sekali, tidak biasanya Leng Si yang berhati baja itu mau menurut kata-kata orang. Akan tetapi sekarang, untuk kedua kalinya dia pun mengangguk lalu mereka berdua melangkah keluar dengan tenangnya.

Sampai di luar, mereka dihadapi oleh puluhan orang prajurit yang sudah mencabut golok mereka. Namun tiga losin prajurit itu tentu saja merasa ragu. Mereka disuruh mengeroyok seorang gadis yang demikian cantik?

“Tangkap perempuan setan itu!” si perwira berseru lagi sambil menundingkan telunjuknya ke arah leng Si.

Sekarang para prajurit itu tidak ragu lagi. Bagaikan sedang berlomba mereka berbondong menghampiri Leng Si dengan golok di tangan untuk menakut-nakuti. Mereka lebih senang kalau disuruh menangkap hidup-hidup, sehingga mereka memperoleh kesempatan untuk memeluk dan menggerayangi tubuh yang denok itu.

Namun begitu mereka mendekat, Leng Si segera menggerakkan kaki tangannya sehingga robohlah empat orang yang berada paling depan. Semua orang menjadi kaget dan marah, dan kini mereka serentak menyerang dengan golok mereka. Leng Si mengamuk dengan tangan kosong saja karena dia memandang rendah pada pengeroyoknya.

Melihat gadis itu dikeroyok begitu banyak orang, San Ki memandang penuh perhatian dan terkejutlah dia. Tentu saja dia mengenal gerakan wanita itu. Itulah jurus kong-jiu-jip-pek-to (Tangan Kosong Menyerbu Ratusan Golok) yang amat dikenalnya karena itu merupakan satu jurus ampuh dari perguruannya untuk menghadapi pengeroyokan banyak orang yang bersenjata golok atau pedang! Karena wanita itu menggunakan jurus dari perguruannya, maka timbullah rasa akrab di hati San Ki dan dia pun cepat terjun ke dalam pertempuran, juga menggunakan jurus yang sama menghadapi para prajurit yang bergolok itu.

Gerakan mereka persis sama. Bahkan cara memutar tubuh dan menendang dengan dua kaki bergantian yang sekaligus merobohkan lima enam orang juga tidak berbeda. Leng Si juga melihat ini, maka dia pun tertegun. Jelas bahwa pria itu menggunakan ilmu silat yang sama dengan ilmu silatnya. Dia sengaja mengubah-ubah jurusnya, tetapi semua jurusnya dapat ditiru oleh pria itu dengan sempurna!

Leng Si bergerak mendekati pria itu. Para pengeroyok mulai jeri akan tetapi karena jumlah mereka sangat banyak, mereka masih mengepung dengan mengamang-amankan golok. Kesempatan selagi mereka tidak menyerang itu dipergunakan Leng Si untuk bicara.

“Sobat, engkau tentu murid bibi guru Pek Mau Siankouw, bukan?”

“Dan engkau tentu murid bibi guru Wi Wi Siankouw!”

“Benar, mari kita hajar mereka ini!”

“Akan tetapi jangan membunuh prajurit, bisa gawat!” San Ki memperingatkan.

Mereka lantas mencabut senjata masing-masing. Meski tanpa senjata pun mereka masih mampu menandingi tiga puluh lebih orang pengeroyoknya itu, akan tetapi bagaimana pun juga menghadapi banyak orang yang memegang senjata dapat berbahaya bagi mereka. Sesudah kini mereka memegang pedang, maka dengan mudah mereka dapat membabati golok para prajurit sehingga banyak golok beterbangan atau patah-patah.

Setelah mengetahui keadaan masing-masing sebagai saudara seperguruan, dua orang itu menjadi semakin gembira dan bersemangat. Dalam waktu kurang dari seperempat jam, semua golok sudah dapat mereka patahkan atau terbangkan.

Mendadak sebuah kereta berhenti dekat situ kemudian terdengar suara dari dalam kereta, “Berhenti, jangan serang lagi!”

Semua prajurit menengok dan setelah melihat orang yang memberi aba-aba, mereka lalu mundur sambil menggenggam golok buntung atau bahkan sudah tidak memegang senjata lagi. Mereka justru merasa sangat lega ketika disuruh berhenti menyerang karena mereka memang sudah merasa jeri sekali terhadap dua orang itu. Para penonton yang menonton dari kejauhan juga merasa kagum sekali melihat dua orang dapat memporak-porandakan tiga losin prajurit.

Leng Si dan San Ki sudah menyimpan kembali pedang mereka. Kini mereka memandang laki-laki yang berdiri di ambang pintu keretanya itu. Seorang pembesar dengan pakaian kebesarannya yang gemerlapan, dijaga oleh selosin pengawal yang kelihatannya kuat dan angker. Pembesar itu bertubuh tinggi kurus, usianya sekitar lima puluhan tahun, wajahnya nampak cerah dan dia sedang tersenyum sambil memandang kagum.

Dengan sikap bersahabat pembesar itu mengangkat kedua tangan untuk memberi hormat kepada Leng Si dan San Ki! Dua orang ini tentu saja merasa heran dan mereka pun cepat balas memberi hormat. Aneh rasanya pembesar yang kelihatannya berkedudukan tinggi itu memberi hormat lebih dahulu kepada mereka.

“Taihiap dan lihiap, harap maafkan pasukan yang berlaku keras dan lancang terhadap ji-wi (kalian berdua). Sebenarnya apakah yang menyebabkan dua orang pendekar seperti ji-wi sampai ribut dengan pasukan ini?”

Karena Leng Si nampaknya segan menjawab, San Ki kemudian mewakilinya menjawab, “Bukan kesalahan kami, taijin. Ketika kami sedang makan di rumah makan, ada seorang perwira hendak memaksa adik saya untuk menemaninya makan. Adik saya menolak dan terjadilah pengeroyokan ini.”

Pembesar itu kelihatan marah sekali. Dia menoleh ke arah pasukan. “Perwira mana yang melakukan kekurang ajaran itu? Hayo cepat maju ke sini!”

Perwira yang dijejali bakso oleh Leng Si tadi, segera maju dengan wajah pucat dan tubuh gemetar, diikuti oleh tiga orang prajuritnya. Mereka menghadap pembesar itu, lantas sang perwira memberi hormat diikuti tiga anak buahnya.

“Harap maafkan kami berempat, taijin. Tadinya kami hanya bermaksud main-main saja.”

“Keparat! Main-main dengan seorang pendekar wanita? Hayo kalian minta maaf kepada mereka dan siap menerima hukuman cambuk masing-masing dua puluh kali!”

Perwira itu cepat menghampiri Leng Si dan San Ki, memberi hormat dan berkata, “Harap maafkan kami, taihiap dan lihiap, kami mengaku bersalah.”

Leng Si hanya mendengus saja, sementara itu San Ki berkata, “Sudahlah, harap lain kali jangan suka menggangu orang.”

Pembesar itu lalu berkata kepada pengawalnya. “Gusur mereka dan beri cambukan dua puluh kali!”

Empat orang itu segera dibawa pergi oleh pasukan pengawal. Pembesar itu lalu berkata kepada San Ki dan Leng Si. “Harap ji-wi ketahui bahwa kami adalah Gubernur Coan dari Nan-yang. Kami amat menghargai orang-orang gagah di dunia kang-ouw dan kami kagum sekali melihat kegagahan ji-wi. Oleh karena itu kami mengundang ji-wi untuk naik kereta ini dan bersama kami datang berkunjung untuk bertukar pikiran.”

Sebetulnya kedua muda-mudi itu merasa tidak senang untuk berkenalan dengan seorang pembesar tinggi, akan tetapi karena Gubernur Coan sudah mengundang mereka dengan hormat, maka mereka pun merasa tidak enak kalau menolak. Kini Leng Si yang berbicara, suaranya hormat akan tetapi tegas.

“Banyak terima kasih atas undangan taijin, tetapi kami masih ada urusan. Oleh karena itu harap paduka pulang dulu dan lain hari kami berdua akan datang menghadap.”

Gubernur Coan menghela napas panjang, lalu mengangguk-angguk. Agaknya dia sudah mengenal watak yang aneh-aneh dari para pendekar.

“Baiklah, lihiap. Kunjungan ji-wi selalu kunantikan.” Dia pun memasuki keretanya kembali, lalu berjalanlah kereta itu meninggalkan Leng Si dan San Ki. Para penonton pada bubaran dan peristiwa itu menjadi bahan cerita mereka sampai berbulan-bulan.

“Sungguh pertemuan kita ini luar biasa sekali!” kata San Ki kepada Leng Si ketika mereka memasuki kembali rumah makan itu untuk bercakap-cakap tanpa gangguan.

Leng Si tersenyum memandang wajah yang jantan itu. “Gara-gara keceriwisanmu maka kita bisa bertemu kemudian bersama-sama menghadapi pengeroyokan pasukan, bahkan menemukan kenyataan bahwa kita merupakan saudara seperguruan,” kata Leng Si sambil tersenyum dan tidak nampak marah.

“Aku ceriwis? Aihh, kenapa? Karena semua meja penuh dan engkau makan seorang diri, dan aku pun sudah minta ijin kepadamu dan engkau sudah memperbolehkan dan...”

“Sudahlah. Bagaimana pun juga hal itu menguntungkan, bukan? Kalau tidak begitu maka kita tak akan saling mengenal. Bahkan gurumu yang bernama Pek Mau Siankouw itu baru kudengar namanya saja dari cerita subo. Siapa sih namamu?”

“Ahh, aku lupa belum memperkenalkan diri. Namaku Gu San Ki, yatim piatu dan sebatang kara maka aku diangkat murid oleh subo dan dianggap seperti anak sendiri. Dan siapakah namamu, sumoi?”

“Orang kang-ouw menyebut aku Jeng-i Sianli, namaku Cu Leng Si.”

San Ki tampak terkejut. “Ahh, jadi yang disebut Jeng-i Sianli itu adalah engkau? Pantas...! Namamu terkenal sekali, sumoi, dan aku sungguh kagum kepadamu.”

“Ki-suheng, sekarang engkau tinggal di mana? Engkau datang dari mana dan hendak ke mana?”

“Aku masih tinggal bersama subo. Kini subo sudah tua dan tidak ada yang mengurusnya. Tadinya ada sumoi Ji Kiang Bwe yang mengurus subo, akan tetapi setelah sumoi kembali kepada orang tuanya, apa lagi kini sudah menikah, maka terpaksa akulah yang menjaga dan merawat subo. Aku sedang dalam perjalanan mencari suami dari sumoi yang... pergi merantau.”

“Dan isterimu? Sudah berapa orang puteramu, suheng?”

San Ki menarik napas panjang. “Aku belum menikah, sumoi. Siapa sih yang mau menjadi isteri seorang melarat seperti aku ini? Oh ya, dan engkau sendiri, sumoi? Di mana engkau tinggal dan dengan siapa? Ke mana engkau hendak pergi?”

“Aku mempunyai tempat tinggal di lereng Tai-hang-san, tinggal seorang diri saja bersama beberapa orang pengikut dan pembantu rumah. Aku belum berkeluarga pula, suheng. Aku sedang merantau meluaskan pengalaman. Juga… aku sedang berusaha membebaskan ayahku yang ditahan oleh Kaisar.”

“Ahh… kenapa? Dan di mana ayahmu sekarang?”

“Ayahku bernama Cu Kiat Hin dan tadinya dia adalah pejabat bagian perpustakaan istana. Karena dia berani menentang seorang thaikam penjilat yang korup, maka dia difitnah oleh thaikam itu kemudian ditangkap.”

“Hemm, kalau begitu marilah kita berdua mendatangi thaikam itu lantas memberi hajaran kepadanya, memaksa dia untuk membebaskan ayahmu!” kata San Ki penuh semangat.

Hangat rasa hati Leng Si melihat sikap San Ki yang membela itu. “Terima kasih, suheng. Akan tetapi sekarang sudah ada seseorang yang sedang pergi kepada Kaisar dan akan menyelamatkan ayahku.”

“Siapa dia?”

“Namanya Sia Han Lin dan dialah yang telah menemukan Ang-in Po-kiam. Sekarang dia hendak menyerahkan kembali pedang itu kepada Kaisar yang sudah menjanjikan hadiah besar kepada siapa saja yang menemukan pedang itu. Nah, Sia Han Lin itu kini ditemani sumoi-ku hendak menghadap Kaisar dan mintakan ampun untuk ayahku.”

“Sumoi-mu?”

“Subo mempunyai seorang puteri yang bernama Lie Cin Mei dan berjuluk Kwan Im Sianli. Dialah sumoi-ku.”

“Ahh, aku sudah mendengar tentang Kwan Im Sianli. Bukankah yang memiliki kepandaian mengobati? Ternyata dia puteri bibi guru Wi Wi Siankouw? Subo pernah bercerita bahwa bibi guru mempunyai anak perempuan, akan tetapi subo sendiri tidak tahu namanya. Jadi dia bersama... siapa tadi, Sia Han Lin, kini pergi ke kota raja untuk menyerahkan pedang yang menghebohkan dunia kang-ouw itu dan minta agar ayahmu dibebaskan?”

“Benar, suheng.”

“Ahh, aku jadi teringat sekarang. Undangan Gubernur Coan itu mungkin berguna bagimu. Bukankah seorang gubernur itu dekat dengan Kaisar dan menjadi kepercayaan atau wakil Kaisar untuk memimpin dan menguasai daerah yang luas sekali? Tidak ada buruknya bila kita mengunjungi dia dan siapa tahu dia dapat pula menolong ayahmu.”

“Sebetulnya aku tidak suka berkenalan dengan segala macam pembesar, akan tetapi jika mengingat sikapnya yang baik dan mengingat ucapanmu tadi, memang sebaiknya kalau kita pergi ke sana untuk mendengar apa yang akan dibicarakan.”

Setelah membayar makanan mereka pun meninggalkan rumah makan itu, lalu melakukan perjalanan menuju ke Nan-yang. Mereka tidak saling berjanji, tidak saling bersepakat, tapi pergi berdua begitu saja seolah hal itu memang sudah semestinya. Baru sekali ini mereka sama-sama menemukan kawan baru yang amat cocok. Mereka masih terhitung saudara seperguruan, keduanya belum menikah dan keduanya saling tertarik dan saling kagum…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner