PEDANG AWAN MERAH : JILID-19


Sam Mo-ong pernah mencoba untuk mengacau dunia persilatan, mengadu domba antara partai-partai besar, namun akhirnya semua usaha itu mengalami kegagalan. Mereka juga gagal menyerang Beng-kauw, maka kini mereka melakukan usaha lain untuk melemahkan Kerajaan Tang.

Mereka menyebar orang-orang mereka untuk memimpin gerombolan para penjahat dalam melakukan perampokan atau lain kejahatan. Pendeknya untuk mengacaukan rakyat agar keadaan menjadi tidak aman sehingga kelak kalau tiba saatnya, rakyat akan setuju untuk mengganti Kaisarnya yang dianggap tidak becus mengatur pemerintahan.

Pada suatu pagi nampak seorang gadis cantik jelita berjalan seorang diri di luar kota Lok-yang. Dia masih muda, usianya tidak akan lebih dari sembilan belas tahun. Langkahnya gontai bagai seekor harimau betina, tubuhnya langsing dengan pinggang kecil dan pinggul besar, wajahnya bundar dengan kulit putih mulus. Sikapnya gagah dan berwibawa. Gadis cantik manis ini bukan lain adalah Yap Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kiok Hwi yang cantik ini jatuh hati kepada Han Lin dan ketika pemuda itu pergi, dia memberikan kalungnya kepada Han Lin dengan dalih bahwa kalau pemuda itu kehabisan biaya di perjalanan maka kalung itu dapat dijual untuk penambah biaya.

Sesudah Han Lin pergi, Kiok Hwi merasa kesepian. Semangatnya seakan-akan terbawa pergi oleh pemuda yang dikaguminya itu. Dia bisa bertahan sampai setengah tahun, akan tetapi sesudah selama itu tidak ada berita apa-apa dari pemuda yang dikasihinya, dia lalu mengambil keputusan untuk pergi merantau.

Kepada ayahnya dia menyatakan hendak mengunjungi seorang pamannya yang tinggal di Lok-yang. Pamannya itu bernama Yap Gun dan membuka toko obat di sana karena selain ahli dalam ilmu silat, Yap Gun juga seorang ahli pengobatan.

Demikianlah, ia meninggalkan Cin-ling-san melakukan perjalanan jauh seorang diri. Berkat ilmu silatnya yang tinggi, dia mampu mengatasi segala gangguan di dalam perjalanannya. Akan tetapi tentu saja dia tidak pernah berhenti bertanya-tanya orang tentang Sia Han Lin karena sebenarnya kepergiannya ini untuk mencari pria yang dirindukannya itu! Dia sama sekali tak pernah bermimpi bahwa pemuda yang amat dirindukannya itu telah mengalami berbagai macam pengalaman hebat, bahkan terpaksa menikah di utara dengan Mulani, puteri Ku Ma Khan, kepala suku bangsa Mongol!

Pada pagi hari itu dia berjalan dengan santai menuju kota ke Lok-yang dengan hati lemas karena selama ini dia tidak pernah mendengar sesuatu tentang Han Lin. Dia memasuki daerah yang berhutan, sementara kota Lok-yang masih berjarak sekitar dua puluh li dari tempat itu. Dia tidak tahu bahwa di tempat itu bersembunyi segerombolan penjahat yang merupakan salah satu di antara gerombolan bentukan Sam Mo-ong! Dan kebetulan sekali yang dipimpin oleh Tee-kui, orang kedua dari Thian-te Siang-kui yang kini sudah berhasil ditarik oleh Sam Mo-ong untuk bekerja kepada mereka.

Ketika Kiok Hwi sedang berjalan dengan santainya, tiba-tiba dari balik pohon dan semak belukar berlompatan tiga belas orang yang nampaknya buas dan liar. Mereka itu rata-rata bertubuh tinggi besar kokoh, tanda bahwa mereka memiliki tenaga yang kuat, berpakaian ringkas dan di punggung mereka nampak gagang golok.

Ketika tiga belas orang ini melihat bahwa yang mereka hadang adalah seorang gadis yang cantik jelita, mereka semua segera tertawa-tawa menyeringai dengan sikap yang kurang ajar dan menjemukan sekali.

“Aduh, cantiknya seperti bidadari!”

“Ahh, toako tentu akan senang sekali melihatnya!”

“Wah, kalau sudah jatuh ke tangan toako, kita tidak mungkin kebagian!”

“Ha-ha, nona manis membawa pedang di punggung, sungguh berani sekali mengadakan perjalanan seorang diri. Jangan-jangan dia lihai sekali!”

“Ha-ha-ha, makin lihai semakin menarik. Aku tidak suka dengan wanita yang lemah.”

“Kalau yang ini agaknya kuda liar, tentu toako akan gembira sekali.”

“Hayo tangkap gadis ini! Toako tentu akan memberi hadiah.”

Kiok Hwi mendiamkan saja mereka itu. Dia sudah terbiasa dengan godaan dari kaum pria, dan tidak gentar menghadapi orang-orang kasar yang dia duga tentu golongan perampok itu. Namun dia tidak tergesa-gesa menghajar mereka karena kelancangan mulut mereka yang tidak sopan, karena ia ingin mendengar kalau-kalau mereka itu mengetahui tentang Han Lin.

“Ehh, sobat, perlahan dulu. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian tahu di mana adanya seorang pemuda bernama Sia Han Lin?”

“Heiii, nona manis. Mengapa mencari yang namanya Sia Han Lin? Cari saja aku, namaku Bouw Mo Sin!” semua orang tertawa-tawa sampai bergelak.

Kiok Hwi mengerutkan alisnya. Orang-orang seperti ini tidak mungkin diajak bicara secara baik-baik. “Kalau tidak ada yang tahu, sudahlah. Kalian pergilah, jangan mengganggu aku atau aku akan marah dan tidak mengampuni kalian lagi!”

Ucapan ini mengandung ancaman, akan tetapi tiga belas orang yang biasa menggunakan kekerasan terhadap siapa pun juga itu, mana takut menghadapi ancaman seorang gadis jelita berusia kurang dari sembilan belas tahun? Mereka menganggap gadis itu membual dan bergurau saja, maka mereka pun terkekeh-kekeh.

“Aduh, bidadari manis. Kami minta ampun!”

“Minta cium... ha-ha-ha!”

Maka marahlah Kiok Hwi.

“Singgg...!”

Kini pedang telah terhunus di tangannya dan pedang yang terbuat dari baja yang baik itu berkilauan saking tajamnya.

“Wah-wah-wah, perempuan ini benar-benar berani. Hendak melawan kita? Ha-ha-ha! Hayo kawan, kita berlomba menangkap dan serahkan kepada toako!”

Tiga belas orang itu segera mengepung. Karena melihat pedang gadis itu demikian tajam berkilauan, untuk berjaga diri mereka pun cepat menghunus golok masing-masing lantas mengepung dengan sikap mengancam sekali.

“Kalian sendiri mencari mampus!” tiba-tiba Kiok Hwi berseru dan ketika dia menggerakkan pedangnya, namapk sinar berkelebat. Dia membalik dan menyerang orang yang berada di belakangnya, yang tidak menyangka-nyangka bahwa dialah yang akan diserang terlebih dulu. Karena itu tanpa dapat dihindarkan lagi pedang itu melukai pahanya. Dia mengaduh lantas terjengkang, darah mengucur dari pahanya yang tersayat pedang!

Semua orang menghentikan tawa mereka dan memandang marah karena seorang kawan mereka sudah dilukai. Salah seorang di antara mereka segera membentak.

“Perempuan setan, berani engkau melukai teman kami?!”

Dua belas orang itu lalu menyerang dengan golok mereka. Melihat darah membasahi paha seorang rekan agaknya telah membuat mereka lupa akan kecantikan gadis itu dan sekarang golok mereka menyambar-nyambar dahsyat laksana sekumpulan burung elang menyambari seekor kelinci yang diperebutkan.

Akan tetapi ternyata Kiok Hwi bukan kelinci melainkan seekor harimau betina. Segera dia mainkan ilmu pedang Cin-ling-pai yang sangat indah. Gerakannya lincah sekali, tubuhnya bagaikan seekor burung walet beterbangan ke sana sini, pedangnya menyambar-nyambar dan setelah lewat belasan jurus, sudah ada tiga orang yang terluka oleh sabetan pedang gadis ini sehingga tidak mampu melanjutkan pengeroyokan.

Sembilan orang penjahat sisanya menjadi marah dan juga berhati-hati. Rata-rata mereka memiliki ilmu silat yang cukup lumayan, maka setelah mereka berhati-hati dan melakukan pengeroyokan dengan teratur, mulailah Kiok Hwi terdesak. Akan tetapi gadis ini memutar pedang melindungi tubuhnya sehingga seluruh sambaran golok itu berhasil ditangkis oleh sinar pedangnya.

Pada saat itu mendadak terdengar bentakan nyaring, “Segerombolan laki-laki mengeroyok seorang gadis, sungguh tak tahu malu!” kemudian melompatlah seorang pemuda bertubuh sedang yang berpakaian serba biru

Begitu melompat pemuda ini segera menggerakkan pedangnya dan ternyata gerakannya mengandung tenaga yang cukup kuat. Tanpa banyak cakap lagi dia langsung mengamuk dan membantu Kiok Hwi yang tentu saja menjadi tambah bersemangat.

Mereka berdua mengamuk dan kembali tiga orang roboh akibat sabetan pedang Kiok Hwi dan pemuda itu. Enam orang yang masih dapat melanjutkan pengeroyokan mulai menjadi gentar karena kepandaian pemuda berbaju biru itu ternyata tidak kalah lihainya dibanding kepandaian si gadis cantik.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara tawa yang mengandung gema keras kemudian muncullah seorang pendek kurus yang memegang sepasang golok.

“Mundurlah kalian! Biarkan aku saja menghadapi mereka berdua!” teriak si cebol ini yang tak lain adalah Tee-kui, orang kedua dari Thian-te Siang-kui (Sepasang Iblis Langit Bumi).

Tee-kui atau iblis bumi ini bertubuh pendek kurus, akan tetapi ilmu kepandaiannya cukup tinggi dan dia pun seorang laki-laki yang cabul. Begitu melihat Kiok Hwi yang cantik jelita, mulutnya segera mengilar dan dia pun mengacungkan goloknya.

“Nona manis, siapakah engkau dan siapa pula pemuda ini?”

Timbul pula harapan di hati Kiok Hwi untuk dapat memperoleh keterangan tentang Han Lin dari si katai ini. Kalau anak buahnya tidak pernah mendengar tentang Han Lin, barang kali si katai yang menjadi pimpinan mereka ini pernah mendengarnya.

“Paman, kebetulan saja aku lewat di sini kemudian diganggu oleh anak buahmu. Saudara ini juga kebetulan saja datang menolong karena kami tidak saling mengenal. Paman, aku hanya ingin mengetahui apakah engkau mengenal seorang bernama Sia Han Lin dan tahu di mana dia sekarang?”

Tentu saja Tee-kui tahu siapa Sia Han Lin, Si Pendekar Pedang Awan Merah. Akan tetapi dia tidak mau mengakui, karena dia pun tidak tahu di mana adanya Han Lin.

“Heh-heh-heh, Sia Han Lin sudah mampus. Mengapa mencari dia? Lebih baik ikut dengan aku dan menjadi isteriku, pasti engkau akan senang!”

“Jahanam busuk!” bentak Kiok Hwi marah sekali bukan hanya karena ucapan kurang ajar itu, melainkan karena kata-katanya bahwa Han Lin telah tewas. Mendadak dara itu sudah menggerakkan pedangnya menyerang.

“Tranggg...!”

Tee-kui menangkis dan Kiok Hwi merasa betapa tangannya tergetar hebat, tanda bahwa si katai ini biar pun badannya kecil namun tenaganya besar sekali. Mereka lalu bertanding dan sepasang golok di tangan Tee-kui segera mengepung gadis itu.

Melihat ini, pemuda berpakaian biru itu sudah menggerakkan pedangnya pula membantu Kiok Hwi. Melihat Tee-kui dikeroyok dua, anak buahnya yang tinggal enam orang karena yang lainnya telah terluka itu segera maju membantu Tee-kui. Sekarang berbalik Kiok Hwi dan pemuda baju biru itu yang dikeroyok.

Kiok Hwi dan pemuda itu segera terdesak hebat. Baru menghadapi Tee-kui saja mereka sudah kalah tingkat, apa lagi Tee-kui dibantu oleh enam orang anak buahnya. Akan tetapi Kiok Hwi dan pemuda itu mengamuk dengan hebatnya, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan segenap kepandaiannya. Namun tetap saja mereka terdesak dan keadaan mereka sudah gawat.

“Bunuh pemuda ini akan tetapi jangan lukai gadis ini. Aku membutuhkannya, ha-ha-ha!” Tee-kui sudah tertawa-tawa girang, membayangkan betapa akan senangnya dia nanti jika mendapatkan gadis yang cantik jelita ini.

Akan tetapi pada saat itu pula muncul seorang pria muda bercaping lebar. “Setan katai di mana-mana selalu membikin kacau saja!” bentaknya dan dia sudah mencabut pedangnya lalu menerjang ke arah Tee-kui.

Tee-kui terkejut bukan main mengenal Souw Kian Bu yang pernah membantu ketika dia menyerang Can Kok Han. Dengan masuknya Souw Kian Bu yang lihai, dia merasa gentar maka dengan sigapnya dia lalu meloncat jauh dan melarikan diri. Anak buahnya tentu saja melarikan diri pontang panting ketika melihat pimpinan mereka sudah lebih dulu melarikan diri, termasuk mereka yang terluka, segera terseok-seok melarikan diri.

Kian Bu dan Kiok Hwi juga tidak mengejar, demikian pula pemuda berpakaian biru. Kiok Hwi mengangkat tangan memberi hormat kepada Kian Bu dan pemuda baju biru.

“Ji-wi sudah datang menolongku, sungguh merupakan budi yang besar sekali. Karena itu aku menghaturkan terima kasih.”

“Nona, tidak perlu berterima kasih. Sudah selayaknya kalau kita saling tolong menghadapi penjahat, bukan?” kata si baju biru. “Perkenalkan, nona, aku Ting Bun, secara kebetulan saja lewat di sini lalu melihat nona dikeroyok banyak orang. Dan saudara ini, siapakah?”

“Aku juga kebetulan sedang lewat di sini sehingga dapat membantu kalian. Namaku Souw Kian Bu. Tidak tahu siapakah nona yang kalau tidak salah, mempunyai ilmu pedang yang mirip ilmu pedang Cin-ling-pai?”

“Aku memang murid Cin-ling-pai!” Kiok Hwi berkata dengan gembira. “Ketua Cin-ling-pai adalah ayahku.”

“Ahh, jadi nona adalah puteri Bu-eng Kiam-hiap? Pantas saja ilmu pedang nona demikian bagus!” kata Souw Kian Bu memuji.

“Harap Souw-taihiap tidak terlalu memuji. Apa bila taihiap tidak keburu datang membantu, tentu aku dan Ting-taihiap akan kalah melawan si katai tadi. Entah siapa dia yang begitu lihainya.”

“Dia? Dia adalah Tee-kui, orang kedua dari Thian-te Siang-kui,” kata Souw Kian Bu.

“Ahh, pantas saja ilmu kepadaiannya demikian hebat!” seru Kiok Hwi terkejut dan kini dia teringat kepada Han Lin, maka kepada kedua orang itu dia bertanya. “Sekarang aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan, barang kali ji-wi bisa menjawabnya. Aku sedang mencari seorang bernama Sia Han Lin, apakah ji-wi mengetahui dia berada di mana?”

Ting Bun menggelengkan kepalanya. Pemuda yang berpakaian serba biru sederhana ini bertubuh sedang, berwajah tampan dan pendiam. Dia belum pernah mendengar nama Sia Han Lin, maka dia menggeleng kepala dengan hati kecewa karena dia ingin sekali dapat membantu nona yang sejak pertama kali melihatnya telah membuat hatinya jatuh bangun ini.

“Sia Han Lin? Nona, jika boleh aku bertanya, apakah hubunganmu dengan Sia Han Lin?”

Kiok Hwi memandang tajam, jantungnya berdebar kencang. Dari pertanyaan ini saja jelas bahwa pemuda bercaping ini sudah mengenal Han Lin.

“Aku sahabatnya, taihiap. Apakah taihiap mengenalnya? Di mana dia sekarang?”

Kian Bu adalah seorang laki-laki yang sudah berpengalaman. Dari sikap dan pertanyaan itu saja dia sudah dapat menduga bahwa Kiok Hwi tentu telah jatuh cinta kepada saudara misannya itu. Dia pun teringat kepada Can Bi Lan. Gadis puteri ketua Pek-eng Bu-koan itu juga jatuh cinta kepada Han Lin!

“Tentu saja aku mengenalnya karena dia adalah kakak misanku sendiri.”

“Ahhh... ohhh...!” Kiok Hwi menjadi girang sekali sampai ber-ah-oh-oh, “dapatkah engkau mengatakan di mana dia berada sekarang?”

“Aku sendiri juga sedang mencarinya, nona. Aku hendak menyampaikan berita yang amat buruk baginya.”

Wajah Kiok Hwi berubah. “Berita buruk? Apakah itu, taihiap? Boleh aku mengetahui berita buruk apa yang hendak kau sampaikan kepada Lin-koko?”

“Berita bahwa isterinya telah tewas,” kata Souw Kian Bu sambil memandang tajam.

Seketika itu pula wajah Kiok Hwi berubah menjadi pucat. “Is... isterinya...? Sejak kapan dia menikah, taihiap?”

“Dia sudah menikah dengan seorang gadis Mongol.”

“Ahh…, dan isterinya itu... tewas...?” suara Kiok Hwi bercampur isak. “Kasihan sekali, Lin-ko...”

Kian Bu menjadi lega. Bagaimana pun juga gadis ini berhati baik. Tidak memperlihatkan cemburu dan tidak marah, malah mengatakan kasihan. Tidak pencemburu, tidak seperti... dia!

“Nona, mati hidup seseorang telah ditentukan oleh Thian, karena itu tak perlu disesalkan,” kata Ting Bun dengan nada suara menghibur. “Harap nona tidak terlalu sedih mendengar nasib sahabatmu itu, nona.”

Mendengar ucapan itu, Kian Bu menghela napas panjang. “Benar yang dikatakan saudara Ting Bun ini. Segala sesuatu yang menimpa kehidupan setiap manusia sudah ditentukan sesuai dengan keadilan Thian, tidak perlu disesalkan. Akan tetapi betapa sukarnya... ahh, sudahlah, aku harus melanjutkan perjalananku. Nona, kalau sekali waktu engkau bertemu dengan Han Lin, tolong sampaikan pesanku kepadanya bahwa isterinya sudah tewas dan kalau dia hendak mengetahui lebih banyak agar mencari aku di Wu-han.”

“Baiklah, taihiap.”

“Nona, karena engkau adalah sahabat kakak misanku, maka engkau sahabatku pula dan tidak semestinya menyebut aku taihiap. Namaku Souw Kian Bu. Engkau dapat kuanggap seperti adikku.”

“Terima kasih, Bu-ko. Kelak pesanmu pasti akan kusampaikan kepada Lin-ko, kalau saja aku dapat bertemu dengannya.”

“Nah, selamat tinggal, Hwi-moi dan selamat tinggal, saudara Ting Bun.”

“Selamat jalan,” kata mereka berdua.

Sesudah Kian Bu pergi, barulah Kiok Hwi dan Ting Bun menyadari bahwa semenjak tadi mereka berdua diam saja, tidak bergerak dan tidak mengeluarkan suara.

Akhirnya Kiok Hwi yang bicara, “Taihiap...”

“Sudah sepatutnya kalau engkau juga jangan menyebut taihiap kepadaku, nona. Engkau dapat menyebut koko (kakak) kepada saudara Souw Kian Bu, kenapa kepadaku tidak?”

Kiok Hwi tersenyum. “Aku tidak berani, akan tetapi kalau engkau menghendaki...”

“Tentu saja, moi-moi, sebab bukankah kita telah menjadi sahabat setelah pertemuan yang kebetulan ini?”

“Baiklah, Bun-ko.”

“Hwi-moi, sekarang engkau hendak ke mana?”

“Aku hendak mengunjungi pamanku di Lok-yang.”

“Aihh, kebetulan sekali, Hwi-moi. Aku pun hendak pergi ke Lok-yang mencari saudaraku. Kalau begitu, jika engkau tidak berkeberatan, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama ke Lok-yang?”

“Tentu saja aku tidak keberatan, Bun-ko, bahkan girang sekali karena dengan melakukan perjalanan berdua, maka kita tidak perlu khawatir kalau seandainya Tee-kui menghadang dan mengganggu lagi.”

“Tepat sekali ucapanmu, Hwi-moi. Mari kita berangkat.”

Mereka kemudian melakukan perjalanan bersama. Dalam kesempatan ini mereka saling mempererat persahabatan dengan menceritakan keadaan diri masing-masing. Kiok Hwi bercerita bahwa dia hendak mengunjungi pamannya yang sudah lama tidak dijumpainya, sekalian merantau untuk meluaskan pengalamannya.

“Pamanku bernama Yap Gun. Dia membuka toko obat di Lok-yang dan sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan paman dan bibi.”

Ting Bun juga menceritakan keadaan dirinya. Pemuda ini telah yatim piatu dan sejak kecil menjadi murid Bu-tong-pai bersama adiknya yang bernama Ting Bu. Adiknya itu pergi ke Lok-yang dan sekarang dia sedang menyusulnya.

“Kami berdua juga sedang merantau untuk meluaskan pengalaman,” kata Ting Bun. “Dan adikku itu memang bandel, ingin berpisah supaya dapat memperoleh pengalaman hebat.” Dia tersenyum. “Karena itu, dari Tiang-an dia lalu berangkat mendahului aku ke Lok-yang. Kalau sekali ini dia tersusul olehku, maka takkan kubiarkan dia meliar sendiri. Ternyata di daerah ini terdapat banyak penjahat yang lihai dan berbahaya sekali.”

“Kalau adikmu juga menjadi murid Bu-tong-pai seperti engkau sendiri, kurasa tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia pasti mampu menjaga diri.”

“Benar juga katamu, Hwi-moi. Akan tetapi engkau melihat sendiri, gerombolan perampok yang mengganggu kita tadi amat berbahaya dan lihai sekali.”

“Aku pun heran, Bun-ko. Sekarang keadaan malah bertambah parah, dan di mana-mana bermunculan gerombolan perampok yang lihai.”

Ting Bun menghela napas panjang. “Demikianlah kalau pemerintah lemah. Para pejabat hanya berkorupsi tidak memperhatikan kesejahteraan rakyat. Penjagaan keamanan amat kurang, maka para penjahat berani merajalela dan keamanan hidup rakyat tidak terjamin.”

Mereka memasuki kota Lok-yang lantas berkunjung ke rumah Yap Gun, yaitu paman Kiok Hwi, adik dari Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sing.

Yap Gun seorang lelaki berusia empat puluh enam tahun, tinggal di kota Lok-yang berdua dengan isterinya karena dia tidak memiliki keturunan. Tubuhnya tinggi tegap, akan tetapi ilmu silatnya tidaklah sehebat ilmu kakaknya yang menjadi ketua Cin-ling-pai, sebab sejak muda dia lebih tekun mempelajari obat-obatan dan ilmu pengobatan dari pada ilmu silat. Yap Gun menerima kunjungan Kiok Hwi dan Ting Bun dengan alis terangkat karena dia merasa tidak mengenal dua orang muda itu.

“Gun-siok (paman Gun), lupakah paman kepadaku? Aku adalah Yap Kiok Hwi dari Cin-ling-pai!” seru Kiok Hwi yang geli melihat pamannya tidak mengenalnya.

Barulah lelaki itu bangkit dengan wajah berseri-seri. “Ahh, Kiok Hwi! Bagaimana aku dapat mengenalmu? Engkau sudah dewasa sekali sekarang!” lalu orang itu berteriak memanggil isterinya. Seorang wanita setengah tua muncul dan berbeda dengan suaminya, wanita ini segera mengenal Kiok Hwi dan langsung merangkulnya.

“Kiok Hwi, ahh…, betapa kami merindukanmu!” kata bibi itu yang memang sangat sayang kepada Kiok Hwi karena dia sendiri tidak mempunyai anak.

“Kiok Hwi, siapakah pemuda ini?” tanya Yap Gun.

“Oh ya, paman. Ini adalah saudara Ting Bun, seorang sahabatku yang kebetulan bertemu di jalan. Dia sudah membantuku ketika aku menghadapi serombongan perampok dan dia adalah murid Bu-tong-pai, paman.”

“Ahh, bagus. Aku mendengar bahwa Bu-tong-pai banyak mempunyai murid yang menjadi pendekar yang pandai.”

“Paman terlalu memuji,” kata Ting Bun merendah.

Mereka berempat kemudian masuk ke dalam. Yap Gun menyuruh para pegawainya untuk menjaga toko, sedangkan dia bersama isterinya lantas bercakap-cakap dengan Kiok Hwi dan Ting Bun di ruangan belakang.

Sesudah ditanya tentang perampokan itu dan Kiok Hwi menceritakan semuanya, gadis itu berbalik bertanya. “Bagaimana keadaan di Lok-yang sendiri, paman? Di luar kota banyak perampok, bagaimana dengan di dalam kota?”

“Ahh, sekarang di sini juga banyak sekali terjadi hal-hal yang amat menggelisahkan. Baru satu pekan yang lalu terjadi geger di tempat tinggal Kwan-ciangkun, panglima yang paling berkuasa di Lok-yang.”

“Apa yang terjadi?”

“Putera Kwan-ciangkun sakit parah. Aku juga pernah dipanggil, akan tetapi dengan terus terang aku mengatakan bahwa aku tidak mampu mengobatinya karena penyakitnya amat parah. Dan apa yang dilakukan Kwan-ciangkun? Dia menghukum aku dengan tiga puluh cambukan! Akhirnya terpaksa aku memberi tahu bahwa di Nan-yang terdapat sahabatku yang lebih ahli dalam hal pengobatan, yaitu Thian-te Yok-sian, dan agar puteranya dibawa ke situ untuk minta Thian-te Yok-sian mengobatinya. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Kwan-ciangkun? Dia mengirim pasukan memaksa dan menculik sahabatku itu dibawa ke sini dan disuruh mengobati, bahkan kalau gagal akan dibunuh!”

“Hemm, sungguh sewenang-wenang!” kata Kiok Hwi dan Ting Bun hampir berbareng.

“Seperti yang sudah kuduga, Thian-te Yok-sian sendiri agaknya tidak sanggup mengobati penyakit yang parah itu, penyakit kotor yang menjijikkan. Dengan dikawal pasukan, Thian-te Yok-sian lalu mengunjungi aku untuk mencari obat-obat yang paling manjur. Namun itu hanya bisa menolong sementara saja, tetapi keselamatan nyawa Thian-te Yok-sian tetap terancam. Akan tetapi, sepekan yang lalu muncullah muridnya bersama seorang pemuda yang kabarnya bernama Sia Han Lin...”

“Lin-ko...!” Kiok Hwi berseru girang.

“Engkau mengenalnya?”

“Tentu saja, paman. Dia pernah membersihkan nama baik Cin-ling-pai yang tercemar.”

“Karena kelihaian pemuda itu serta murid Thian-te Yok-sian, maka dewa obat itu berhasil dibawa menyingkir, dilarikan oleh kedua orang itu. Menurut desas-desus, mereka bahkan mengancam Kwan-ciangkun dan akan membunuhnya kalau tidak membebaskan si dewa obat.”

“Hebat!” seru Kiok Hwi gembira. “Dan sekarang mereka berada di mana, paman?”

“Kukira mereka tidak akan berani kembali ke Nan-yang karena tentu Kwan-ciangkun tidak akan tinggal diam. Tapi aku tahu bahwa Thian-te Yok-sian berasal dari daerah Huang-ho. Besar kemungkinan dia diantar ke Huang-ho oleh murid dan penyelamatnya.”

“Kalau begitu aku akan menyusul ke Huang-ho. Bun-ko, maukah engkau menemani aku pergi ke Huang-ho untuk menyusul mereka? Aku ingin sekali bertemu dengan Lin-ko!”

Ting Bun menghela napas panjang. Dia teringat kepada adiknya, akan tetapi dia pun lebih berat kepada Kiok Hwi biar pun hatinya merasa tidak enak sekali. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan Kiok Hwi begitu ingin bertemu dengan Han Lin.

“Kalau memang penting sekali pergi ke Huang-ho...”

“Bun-ko, apakah engkau lupa akan pesan dari Souw Kian Bu koko? Bukankah ada berita penting tentang kematian isterinya...”

Wajah pemuda itu tiba-tiba saja berseri. Kalau itu kepentingannya, tentu saja dia senang untuk menemani. Tadinya dia amat khawatir kalau-kalau Kiok Hwi hendak menyusul Han Lin karena mencinta pemuda itu.

Dia tidak tahu bahwa memang tadinya Kiok Hwi mencinta Han Lin, akan tetapi semenjak mendengar bahwa Han Lin telah menikah dengan gadis Mongol yang kemudian terbunuh, cintanya juga sudah menghilang, bahkan perhatian hatinya kini beralih kepada Ting Bun.

Malam itu mereka bermalam di rumah Yap Gun dan semalam itu dimanfaatkan oleh Ting Bun untuk berkeliaran di Lok-yang mencari adiknya. Akan tetapi usahanya sia-sia belaka, dia tidak berhasil menemukan adiknya itu. Maka pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, dia dan Kiok Hwi pergi meninggalkan Lok-yang menuju ke daerah Huang-ho.

Kiranya takkan mungkin dapat mencari seseorang yang tinggal di daerah Huang-ho kalau tidak diberi tahu daerah mana dan apa nama dusunnya. Panjang Huang-ho beribu-ribu mil dan daerahnya sangat luas meliputi beberapa propinsi. Tetapi Kiok Hwi sudah mendapat keterangan yang jelas dari pamannya. Thian-te Yok-sian berasal dari daerah Tong-beng, di lembah Huang-ho tak jauh dari Lok-yang, yaitu di sebelah timurnya. Maka mereka pun melakukan perjalanan cepat menuju ke Tong-beng.

Baru saja mereka tiba kurang lebih sepuluh li di sebelah barat Tong-beng, pada pagi hari itu selagi berjalan dengan Ting Bun, tiba-tiba Kiok Hwi berseru. “Lin-ko...!”

Ting Bun segera mengangkat muka memandang dan melihat dua orang sedang berjalan mendatangi dari depan. Seorang pemuda dan seorang gadis!

“Lin-ko...! Lin-ko...!” Kiok Hwi berlari menyambut pemuda dan gadis itu sehingga Ting Bun terpaksa mengikuti dari belakang.

Pemuda dan gadis itu memang benar Han Lin dan Lie Cin Mei adanya. Mereka baru saja mengantar guru Lie Cin Mei ke dusun kampung halamannya dan kini hendak melanjutkan perjalanan menuju kota raja. Tentu saja Han Lin segera mengenal gadis yang berteriak-teriak memanggilnya itu dan dia terheran-heran melihat Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai itu berada di situ, datang bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya.

“Hwi-moi...! Kau di sini? Hendak ke mana dan dari manakah engkau, Hwi-moi?”

“Aihh, Lin-ko… susah payah aku mencarimu. Ada berita penting yang harus kusampaikan kepadamu dan betapa girang hatiku dapat bertemu dengan engkau di sini...” akan tetapi Kiok Hwi memandang gadis jelita di samping Han Lin itu dengan penuh keraguan.

Han Lin menyadari akan kehadiran Cin Mei, maka dia cepat memperkenalkan, “Hwi-moi, perkenalkan. Ini adalah adik Lie Cin Mei yang berjuluk Kwan Im Sianli, murid dari paman Thian-te Yok-sian. Adik Cin Mei, dia adalah Yap Kiok Hwi, puteri dari Bu-eng Kiam-hiap Yap Kong Sin, ketua Cin-ling-pai.”

Dua orang gadis yang sama cantik jelita itu saling memberi hormat, kemudian Kiok Hwi juga teringat akan kehadiran Ting Bun, maka dia pun memperkenalkan. “Lin-ko, ini adalah saudara Ting Bun, murid Bu-tong-pai yang membantuku ketika aku diserang oleh Tee-kui dan anak buahnya. Bun-ko, inilah kakak Sia Han Lin yang kucari-cari.”

“Hwi-moi, berita penting apakah yang katanya hendak kau sampaikan kepadaku?”

“Boleh aku bicara sekarang?” tanya Kiok Hwi sambil melirik ke arah Cin Mei.

Gadis yang perasaannya halus ini lalu berkata lirih. “Kalau ingin bicara penting, lebih baik aku menjauhkan diri dari sini...” kemudian dia hendak melangkah pergi akan tetapi Han Lin segera memegang tangannya.

“Siauw-moi, jangan begitu. Tentu saja engkau boleh mendengarkan apa saja yang akan disampaikan oleh Kiok Hwi. Hwi-moi, katakanlah apa yang hendak kau bicarakan dengan aku.”

“Hal ini mengenai isterimu, Lin-ko,” kata Kiok Hwi lalu memandang tajam.

“Isteriku...?” Han Lin berseru heran karena dia sendiri merasa tidak pernah beristeri. Dia hampir lupa akan keadaan Mulani yang sudah menjadi isterinya.

“Perempuan Mongol itu…!” kata Kiok Hwi memperingatkan.

“Perempuan Mongol? Engkau sudah tahu tentang itu? Ada apakah dengannya, Hwi-moi?”

“Dia... dia telah tewas, Lin-ko.”

Han Lin terkejut setengah mati. Sungguh pun dia tidak mencinta Mulani sebagai seorang suami, akan tetapi dia sayang kepada gadis Mongol itu dan bagaimana pun juga gadis itu sudah menikah dengannya, walau pun hanya menikah upacara saja.

“Apa...? Apa yang telah terjadi dan bagaimana engkau dapat mengetahuinya? Dia berada di utara dan kau...”

“Lin-ko, aku pun hanya mendengar dari pemberi tahuan orang. Bun-koko ini yang menjadi saksi. Lin-ko, kenalkah engkau dengan orang yang bernama Souw Kian Bu?”

“Souw Kian Bu? Dia adalah saudara misanku.”

“Nah, kalau begitu benar sudah. Souw Kian Bu yang menceritakan kepadaku, memesan bahwa jika aku bertemu denganmu maka aku harus menyampaikan berita bahwa isterimu telah meninggal dunia, Lin-ko.”

Wajah Han Lin berubah layu. Kalau Souw Kian Bu yang menceritakan, tentu tidak dapat diragukan lagi. “Akan tetapi mengapa? Apa yang telah terjadi dengannya?”

Melihat ini Kiok Hwi merasa sangat iba. Wajah Han Lin nampak terkejut dan juga sedih. “Maafkan kalau aku membawa berita yang begini buruk bagimu, Lin-ko. Aku sendiri tidak tahu mengapa, karena kakak Souw Kian Bu juga tidak memberi tahu padaku. Dia hanya berpesan agar jika bertemu dengan Lin-ko, aku harus mengabarkan tentang kematian itu dan kalau Lin-ko ingin tahu lebih jelas lagi, katanya agar Lin-ko pergi menyusul dia ke Wu-han.”

“Wu-han?” Han Lin teringat bahwa orang tua Souw Kian Bu tinggal di Wu-han. “Baik, dan terima kasih banyak, Hwi-moi. Sekarang juga aku hendak menyusul ke Wu-han. Selamat berpisah, Hwi-moi, jaga dirimu baik-baik. Selamat tinggal, saudara Ting Bun.”

“Selamat jalan, Lin-ko, engkau juga jaga dirimu baik-baik!”

“Mari, siauw-moi,” ajak Han Lin kepada Cin Mei dan mereka bergegas pergi dari situ.

Kiok Hwi dan Ting Bun saling pandang. “Hwi-moi, engkau pernah sangat sayang kepada pemuda itu, bukan?” Ting Bun bertanya dengan jujur.

Melihat kejujuran pemuda ini dalam mengajukan pertanyaan, Kiok Hwi mengangguk. “Dia pernah menyelamatkan nama Cin-ling-pai, menyelamatkan kehormatan serta nama baik Cin-ling-pai. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepadanya, juga mengaguminya, akan tetapi sebelum aku mendengar bahwa dia telah menikah dengan wanita Mongol...”

“Aku girang sekali mendengar ini, Hwi-moi.”

“Ehh, kenapa girang?”

“Entahlah, tetapi aku merasa gembira sekali mendengar bahwa engkau tidak memikirkan dan mengharapkan dia lagi.”

Wajah Kiok Hwi menjadi merah sekali karena dia dapat merasakan apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu. “Bun-ko, sekarang engkau hendak pergi ke manakah? Mungkin kita harus berpisah di sini.”

“Ahh! Kenapa begitu? Engkau sendiri hendak ke mana, Hwi-moi?”

“Untuk sementara aku akan tinggal di rumah paman Yap Gun, untuk beberapa hari atau beberapa pekan.”

“Bagus, aku pun hendak ke Lok-yang karena aku belum berhasil menemukan adikku. Lagi pula, apakah engkau tidak tertarik akan halnya Kwan-ciangkun yang bertindak sewenang-wenang? Aku hendak melakukan penyelidikan dan kalau perlu menambah ancaman yang diberikan oleh saudara Sia Han Lin kepadanya. Orang semacam itu harus diberi hajaran, kalau tidak dia akan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata.”

“Aku setuju sekali, Bun-ko. Aku akan minta kepada paman Yap Gun agar membolehkan engkau sementara tinggal di rumahnya.”

“Ah, tidak, Hwi-moi. Hal itu akan amat mengganggu beliau, dan juga tidak pantas karena aku bukan sanak keluarganya. Biarlah aku mencari adikku lebih dahulu dan mudah bagiku untuk mencari tempat penginapan bersama adikku.”

Mereka lalu kembali ke Lok-yang. Tentu saja Yap Gun girang sekali menerima keponakan yang tersayang itu, begitu pula isterinya. Ting Bun tidak tinggal di situ dan segera mencari adiknya, akan tetapi hampir setiap hari dia datang berkunjung sehingga hubungan mereka semakin akrab.

Biar pun keduanya tidak pernah menyatakan cinta, namun keduanya sudah maklum akan isi hati masing-masing karena segala kemesraan itu dapat mudah dilihat dari pandangan mata mereka, dari suara mereka dan senyum mereka. Bila dua hati telah saling mencinta, maka dua orang itu mudah saja mengetahuinya sehingga tidak dibutuhkan lagi kata-kata yang hanya pandai merayu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner