PEDANG AWAN MERAH : JILID-20


Souw Kian Bu sudah tiba di rumah orang tuanya. Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan tentu saja merasa girang akan tetapi juga heran sekali melihat putera mereka datang berkunjung seorang diri saja.

“Kian Bu, mana isterimu? Kenapa tidak ikut bersamamu berkunjung ke sini?” tanya ibunya heran.

“Dia sibuk dengan urusan Kim-kok-pang, ibu.”

“Ahh, Kian Bu, seharusnya engkau datang berkunjung bersama isterimu. Bagaimana bisa engkau meninggalkan dia begitu saja?” tanya ayahnya.

“Ayah, sudah kukatakan dia sibuk sekali, sedangkan aku sudah rindu sekali kepada ayah dan ibu, maka aku datang seorang diri saja.”

Akan tetapi suami isteri itu adalah dua orang yang sudah berpengalaman. Mereka segera saling pandang dan merasa tidak enak hati. Mereka khawatir kalau terjadi sesuatu antara putera dengan mantunya, setidaknya ada percekcokan. Walau pun hati mereka menduga demikian tetapi mereka tidak bertanya apa-apa lagi.

Kecurigaan mereka makin mendalam ketika mereka melihat sikap putera mereka selama berhari-hari tinggal di situ. Pada dasarnya Kian Bu adalah seorang muda yang berwatak periang, namun selama berada di situ selalu nampak murung, kalau pun memperlihatkan wajah gembira maka kegembiraan itu kelihatan dibuat-buat. Kerut di antara kedua alisnya tidak pernah hilang dan sinar matanya juga nampak muram.

Pada suatu pagi Kian Bu duduk termenung di pekarangan rumah yang berada di samping toko kain ayahnya. Dia tidak membantu toko, hanya termenung memandang pekarangan yang ditumbuhi bermacam bunga tanaman ibunya. Sementara itu ayah dan ibunya sibuk melayani pembeli di toko kain mereka.

“Bu-te (Adik Bu)...!”

Kian Bu terkejut mendengar panggilan lalu mengangkat mukanya. Di pekarangan itu telah masuk dua orang muda, yang seorang langsung dikenalnya sebagai Sia Han Lin saudara misannya, sedangkan yang kedua adalah seorang gadis cantik jelita yang sikapnya lemah lembut.

“Lin-toako...!” serunya girang dan dia pun bangkit berdiri lalu berlari menyongsong mereka di pekarangan.

“Bu-te, perkenalkan, dia adalah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei, dan adik Cin Mei, ini adalah adik misanku Souw Kian Bu.”

Kedua orang yang diperkenalkan itu saling memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada. Akan tetapi mereka berdua segera dicekam perasaan hati masing-masing.

“Lin-toako, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa sekarang aku sedang berada di rumah orang tuaku?” tanya Kian Bu.

“Bu-te, aku sudah berjumpa dengan Kiok Hwi. Dia yang mengatakan bahwa... Bu-te, apa yang telah terjadi?”

“Lin-ko, mari kita bicara di taman saja agar jangan ada orang lain mendengarnya. Nona, silakan nona duduk menanti di kamar tamu sementara aku dan Lin-toako...”

“Bu-te, tidak mengapa kalau adik Cin Mei mendengarnya. Dia sudah mengetahui semua. Ceritakan saja, aku tidak mempunyai rahasia apa pun terhadap adik Cin Mei.”

Ucapan Han Lin ini sudah cukup jelas bagi Kian Bu akan perasaan hati Han Lin terhadap Kwan Im Sianli, maka dia pun berkata, “Baiklah, mari kita masuk ke taman.”

Kian Bu lalu mendahului kedua tamunya memasuki taman bunga yang berada di sebelah kiri rumah itu, sebuah taman yang cukup indah karena terawat oleh tangan Yang Kui Lan yang memang mencintai bunga. Mereka duduk di bangku panjang dekat kolam ikan emas di tengah taman.

“Peristiwanya terjadi di kota Souw-ciu,” Kian Bu mulai bercerita. “Ketika sedang berada di rumah makan, aku melihat Thian-kui berkelahi dengan seorang pemuda yang belakangan kuketahui bernama Can Kok Han. Mereka bertanding akan tetapi keadaan mereka tidak seimbang.”

“Tentu saja, Can Kok Han tidak mungkin mampu menandingi Thian-kui yang lihai itu,” kata Han Lin.

“Tiba-tiba Kok Han melemparkan sesuatu yang meledak hingga membuat Thian-kui roboh pingsan. Kok Han hendak membunuhnya akan tetapi muncul Tee-kui yang menyerangnya dengan hebat sehingga Kok Han tidak sempat lagi menggunakan bahan peledaknya yang lihai itu. Aku lalu muncul membantunya dan Tee-kui segera lari membawa tubuh Thian-kui yang pingsan. Dan kau tahu bagaimana sikap Can Kok Han? Dia malah marah dan tidak senang terhadap bantuanku. Pemuda itu sungguh angkuh luar biasa.”

“Hemm, pemuda itu memang memiliki watak sombong,” kata Han Lin yang teringat akan pengalamannya dengan Bi Lan. “Lalu bagaimana, Bu-te?”

“Ketika aku hendak pergi, muncul seorang wanita Mongol...”

“Mulani...!”

“Benar, Lin-ko. Yang muncul adalah Mulani yang menegur Kok Han karena menggunakan obat pembius yang meledak itu, lalu menuduhnya dahulu juga melakukannya terhadap dia dan engkau. Kok Han mengakuinya dan pada saat itu pula, tanpa disangka-sangka Mulani menghujamkan pedangnya ke dada Kok Han sehingga tewas seketika.”

“Ahh...! Kiranya Kok Han pelakunya...!” Han Lin mengepal tinju dan dapat membayangkan betapa Kok Han melempar bahan peledak yang membius, kemudian pada waktu dia dan Mulani pingsan, pemuda itu memperkosa Mulani lalu menelanjangi dia dan Mulani untuk memberi kesan bahwa dialah yang memperkosa Mulani.

“Pada saat itu pula terdengar ledakan lain, lalu muncullah seorang gadis yang belakangan kuketahui bernama Can Bi Lan, adik dari Can Kok Han itu dan ketika Mulani terpengaruh peledak yang membius, Bi Lan menyerangnya dengan tusukan pedang.”

“Ahhh..., jadi Bi Lan yang membunuhnya!”

“Tenang, Lin-ko. Menurut aku, Can Bi Lan itu tidak dapat disalahkan. Dia tidak tahu duduk perkaranya dan melihat kakaknya dibunuh orang, wajar saja bila dia membalas kematian kakaknya itu. Setelah Mulani menceritakan semuanya, barulah Bi Lan sadar kemudian dia merasa menyesal sekali sudah membunuh Mulani, apa lagi ketika kakaknya sendiri yang mengaku telah memperkosa Mulani dan menjatuhkan fitnah kepadamu.”

“Ahh, Mulani...”

“Ketika itu Mulani masih sempat meninggalkan pesannya kepadaku bahwa dia minta maaf karena memaksamu menikahinya dan dia mengatakan bahwa engkau sudah bebas, tidak lagi menjadi suaminya karena bukan engkau yang melakukan perbuatan terkutuk itu.”

“Ahhh, Mulani...”

Melihat Han Lin seperti orang yang menyesal sekali, Kwan Im Sianli Lie Cin Mei berkata, “Lin-koko, tak perlu disesalkan lagi. Bagaimana pun juga mereka meninggal dunia setelah mengetahui duduk persoalannya. Engkau tidak bersalah, dan yang bersalah sudah tewas. Ada pun kematian Mulani, kurasa hal itu bahkan lebih baik baginya. Jika dia masih hidup dan mengetahui aib yang sudah menimpa dirinya itu, tentu hidupnya akan penuh dengan kegetiran dan kedukaan. Semuanya telah terjadi, koko, dan yang terpenting engkau tidak melakukan suatu kesalahan.”

“Adik ini berkata tepat sekali, toako. Kiranya tidak bijaksana apa bila engkau mendendam kepada Can Bi Lan.”

“Aku tidak mendendam kepada siapa pun, Bu-te, hanya aku kasihan sekali pada Mulani. Biar pun dia puteri kepala suku Mongol, harus diakui bahwa dia memiliki watak yang amat baik.”

Pada saat itu, asyik-asyiknya mereka membicarakan soal kematian Mulani, mereka tidak tahu bahwa ada seseorang laki-laki memasuki taman itu dan dia berseru, “Souw Kian Bu, aku hendak bicara denganmu!”

Semua orang menengok dan setelah Kian Bu mengenal siapa orang yang memanggilnya, dia pun langsung meloncat berdiri. Mukanya berubah merah sekali dan matanya melotot memandang pemuda yang datang itu, kemudian terdengar suaranya membentak nyaring.

“Engkau...?! Berani benar engkau datang ke sini! Apa maumu?”

Pemuda itu bukan lain adalah Gu San Ki, suheng isterinya yang dicemburuinya itu.

Gu San Ki tidak gentar menghadapi bentakan ini. “Souw Kian Bu, aku datang ke sini untuk membawamu pulang ke Kim-kok-pang, sekarang juga!”

“Apa?! Beraninya engkau berkata begitu! Dasar manusia kurang ajar, pengkhianat cabul, kembalilah engkau kepada kekasihmu itu, jahanam!”

Han Lin dan Cin Mei sampai kaget setengah mati melihat sikap Kian Bu. Pemuda periang yang selalu bersikap ramah dan sopan itu saat ini nampak seperti setan, begitu marahnya sampai memaki-maki orang yang baru datang.

Pada saat itu terdengar suara melengking nyaring. “Aihh, inikah orangnya yang bernama Souw Kian Bu? Pantas, sikapnya begini tengik dan tidak tahu diri!” dan muncullah Jeng-i Sianli Cu Leng Si di situ.

“Enci Leng Si...!” seru Han Lin.

“Suci...!” teriak Cin Mei.

“Han Lin, Cin Mei, jangan kalian berani ikut mencampuri. Aku harus membereskan lelaki sombong, suami yang tidak tahu diri ini!” bentak Leng Si dan dia pun sudah menghampiri Kian Bu yang menjadi semakin marah.

“Siapa engkau, wanita, yang datang-datang memaki orang?!” bentaknya marah.

“Dan kau kira engkau ini siapa begitu San Ki muncul lalu kau maki-maki seenak perutmu sendiri? Engkau suami pencemburu yang sudah tidak ketolongan lagi. Engkau berpikiran kotor, buruk, suka membayangkan yang bukan-bukan, mengukur baju orang lain dengan tubuh sendiri dan mengira semua laki-laki sebusuk engkau! Engkau mencumburui Gu San Ki dengan isterimu, bukan?”

Kian Bu demikian marahnya sehingga hampir dia tidak mampu menahan diri lagi. “Kalau memang benar demikian, engkau mau apa? Aku memiliki alasanku sendiri mencemburui dia! Engkau ini siapakah hendak mencampuri urusan kami?”

“Ketahuilah olehmu, Souw Kian Bu. Gu San Ki tidak perlu kau cemburui karena dia adalah tunanganku! Dan aku tidak rela tunanganku kau cemburui!”

Kian Bu terkejut sekali. Gu San Ki sudah mempunyai tunangan dan agaknya wanita galak ini dikenal baik oleh Han Lin dan bahkan disebut suci oleh Cin Mei?

“Enci Leng Si, harap bersabar dahulu!” kata Han Lin. “Souw Kian Bu adalah adik misanku, mengapa engkau caci maki seperti itu?”

“Sia Han Lin, tadi kau mendengar atau tidak? Dia yang lebih dulu memaki-maki Gu San Ki yang datang dengan baik-baik hendak mengajaknya pulang kepada isterinya.”

Souw Kian Bu yang biasanya pandai bicara, sekali ini merasa tidak berdaya menghadapi Leng Si yang galak seperti kucing sedang beranak itu. Pada saat itu pula ramai-ramai itu sudah terdengar dari luar taman, lantas muncullah Souw Hui San dan Yang Kui Lan.

“Kian Bu, ada apa ramai-ramai ini? Heiii, bukankah itu Sia Han Lin? Kapan kau datang?” tegur Yang Kui Lan.

Han Lin cepat memberi hormat kepada paman dan bibinya. “Paman dan bibi, maafkan jika saya belum sempat menghadap paman dan bibi, dan lebih dulu bercakap-cakap dengan Bu-te.”

“Tidak apa, Han Lin. Siapakah mereka semua ini? Dan ada apa ramai-ramai tadi? Kami masih sempat mendengar nona ini memaki-maki, siapa yang dimakinya?” tanya Souw Hui San.

“Apakah paman dan bibi ini orang tua Souw Kian Bu? Kalau begitu harap paman dan bibi dapat mengatur putera paman dan bibi ini yang telah bertindak keterlaluan!” kata Leng Si, kini mengatur kata-katanya dengan sopan.

Yang Kui Lan yang berwatak lembut itu mengerutkan alisnya. “Apa sebetulnya yang telah terjadi? Kian Bu, kenapa engkau diam saja? Katakan, apa yang telah terjadi?”

Han Lin segera berkata, “Bibi, agaknya persoalan ini memerlukan keterangan kedua belah pihak dan kurasa amat tidak baik bila kita bicara di tempat terbuka seperti ini. Bagaimana kalau kita semua bicara di dalam rumah?”

“Tepat sekali,” kata Souw Hui San. “Marilah, mari kalian semua ikut kami masuk ke dalam rumah dan bicara baik-baik seperti orang sopan.”

Mereka semua ikut masuk ke dalam rumah, kemudian memasuki ruangan belakang yang luas dan tertutup pintu dan jendelanya. Setelah semuanya duduk mengelilingi meja besar barulah Souw Hui San berkata, “Nah, sekarang harap kalian jelaskan, apa sesungguhnya yang telah terjadi.”

“Semua ini terjadi karena gara-gara kehadiran saya, oleh karena itu, kalau Souw Kian Bu mengijinkan, biarlah saya yang akan menceritakan semua. Kalau saya bicara salah, nanti Kian Bu boleh saja menyanggahnya. Apakah ini disetujui?” kata Gu San Ki.

Kian Bu mengerutkan keningnya namun tidak membantah. Kemudian Gu San Ki mulai bercerita. “Nama saya Gu San Ki dan saya masih terhitung suheng dari isteri Souw Kian Bu karena saya adalah murid subo Pek Mau Siankouw.”

“Ahh, kalau begitu masih terhitung suheng-ku sendiri!” kata Cin Mei. “Sekarang aku ingat, engkau adalah murid bibi guru Pek Mau Siankouw yang dahulu pernah datang berkunjung ke rumah kami!”

“Benar, sumoi,” kata San Ki. “Selama lima tahun saya belajar ilmu sambil tinggal di rumah subo bersama sumoi Ji Kiang Bwe, sebab itu saya dan sumoi Ji Kiang Bwe sudah seperti kakak beradik sendiri saja. Tetapi sejak sumoi meninggalkan perguruan, kami tak pernah saling jumpa lagi. Beberapa bulan yang lalu saya mendengar bahwa sumoi sudah menjadi ketua Kim-kok-pang dan sudah menikah, maka saya pun datang berkunjung. Pertemuan antara sumoi dengan saya terjadi penuh kegembiraan kedua pihak dan sumoi yang sudah menganggap saya sebagai kakak sendiri begitu gembira sampai sumoi memegang kedua tangan saya. Pada saat itulah muncul suaminya ini yang kemudian menjadi marah-marah, menyangka yang bukan-bukan lalu malah pergi meninggalkan isterinya. Sumoi menangis sedih sekali sehingga saya merasa sangat bersalah. Karena itu saya lalu berjanji kepada sumoi untuk mencari Souw Kian Bu sampai dapat kemudian membawanya pulang kepada isterinya!”

“Begitu Ki-koko muncul di sini, dia segera disambut dengan caci-maki oleh Souw Kian Bu, maka saya menjadi marah dan membalas memaki-maki dia. Sebagai tunangan Ki-koko saya tidak terima mendengar tunangan saya dicemburui dan dimaki-maki,” sambung Leng Si.

Han Lin dan Cin Mei memandang kepadanya dengan hati terheran-heran. Leng Si sudah bertunangan? Luar biasa sekali dan yang merasa paling gembira adalah Han Lin. Pemuda ini tahu bahwa kakak angkatnya dulu pernah menyatakan cinta kepadanya, maka kini dia gembira bahwa kakak angkatnya itu sudah mendapatkan seorang kekasih yang demikian gagah.

“Han Lin, benarkah engkau juga menyaksikan bahwa Kian Bu memaki-maki Gu San Ki ini sehingga dia dibalas makian oleh nona ini?” demikian Souw Hui San bertanya, karena dia hendak bersikap seadilnya.

“Betul sekali, paman. Hendaknya paman ketahui pula bahwa enci ini adalah kakak angkat saya sendiri. Dia adalah Jeng-i Sianli Cu Leng Si, murid dari Wi Wi Siankouw, dan adik ini adalah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei, puteri dari Wi Wi Siankouw. Memang enci Leng Si tak berbohong, demikian pula tunangannya.”

“Kian Bu, apa artinya semua ini? Benarkah engkau mencemburui isterimu dengan Gu San Ki ini? Dan benarkah engkau lari dari rumah meninggalkan isterimu sesudah menuduhnya berbuat yang bukan-bukan?”

Kian Bu menundukkan mukanya, merasa malu sekali dan kini barulah dia melihat bahwa sikapnya memang amat keterlaluan. Cemburunya memang tidak beralasan dan sekarang dia melihat dengan jelas bahwa cemburunya terhadap Gu San Ki itu hanyalah merupakan perkembangan atau kelanjutan saja dari rasa cemburunya pada malam pertama!

Kini dia bisa membayangkan betapa duka dan sengsara rasa hati isterinya yang tercinta. Padahal di lubuk hatinya dia percaya penuh akan kesetiaan isterinya dan percaya penuh bahwa isterinya dahulu belum pernah melakukan perbuatan yang mendatangkan aib.

“Aku memang bersalah, ibu. Aku terburu nafsu menuduh isteriku berbuat yang tidak-tidak. Gu-toako, di sini aku mohon maaf kepadamu. Aku sudah menuduhmu berbuat yang tidak benar, pada hal semua itu hanya terdorong nafsu cemburuku semata.”

Wajah Gu San Ki menjadi berseri. “Souw-te, sungguh bahagia rasanya hatiku. Ketahuilah bahwa isterimu merasa sangat berduka, maka kuharap engkau segera pulang dan minta maaf kepadanya.”

“Akan kulakukan itu. Ayah dan ibu, aku akan mengajak Bwe-moi datang ke sini, harap ibu suka menambahkan permintaan maafku kepadanya.”

“Bagus, kalau begitu semuanya beres. Ternyata kita berada di antara orang-orang sendiri dan hanya terjadi sedikit kesalah pahaman. Han Lin, ternyata sahabatmu ini, nona Lie Cin Mei, nona Cu Leng Si dan Gu San Ki masih terhitung saudara-saudara seperguruan dari mantuku. Maka pertemuan ini patut dirayakan!” kata Yang Kui Lan dengan gembira dan dia menahan orang-orang muda itu agar suka makan bersama.

Pesta kecil-kecilan ini bagi Souw Kian Bu juga terasa menggembirakan karena ganjalan hatinya karena cemburu itu telah lenyap sama sekali dan dia berjanji pada diri sendiri tidak akan lagi mencurigai atau mencemburukan isterinya yang tercinta.

Setelah selesai makan, empat muda-mudi itu lalu berpamit untuk melanjutkan perjalanan. Mereka diantar oleh Kian Bu sampai di luar kota Wu-han dan setelah mereka melanjutkan perjalanan, Leng Si bertanya,

“Han Lin dan sumoi, kalian sebetulnya hendak pergi ke manakah?”

“Kami hendak pergi ke kota raja, enci Leng Si,” kata Han Lin.

“Ahh, pedang pusaka itu belum juga kau kembalikan kepada Kaisar?”

“Belum, enci. Baru saja kami harus menolong dulu guru adik Cin Mei yang dipaksa Kwan-ciangkun di Lok-yang untuk mengobati puteranya.”

“Guru sumoi?”

Cin Mei lalu menceritakan tentang gurunya, yaitu Thian-te Yok-sian yang sekarang sudah diamankan dan kembali ke kampung halamannya di lembah Huang-ho.

“Dan engkau sendiri hendak pergi ke mana, suci?”

“Kami berdua juga hendak pergi ke kota raja. Kami telah bekerja kepada Gubernur Coan di Nan-yang.”

“Ehhh? Sungguh aneh kalau engkau bekerja pada gubernur di Nan-yang, enci Leng Si.”

“Kami hanya berpura-pura saja. Sebenarnya kami hendak menyelidiki karena Gubernur itu sudah menjadi anggota persekutuan yang dipimpin oleh Kui-thaikam dan mereka hendak memberontak.”

“Ahhh...!”

“Bahkan Sam Mo-ong juga sudah ikut menyusup ke sana, sebagai utusan Ku Ma Khan. Persekutuan itu bekerja sama pula dengan orang Mongol.”

“Wah, gawat kalau begitu,” kata Han Lin.

“Kebetulan kita dapat bekerja sama. Han Lin, sebaiknya engkau pergi menghadap Kaisar, menyerahkan pusaka kemudian mintalah kedudukan seperti yang dijanjikan, sebab hanya dengan memiliki kedudukan engkau akan dapat melindungi Kaisar. Sebaiknya kalau kalian bisa memperoleh kedudukan di dalam istana sehingga dapat langsung melindungi Kaisar. Kami yang akan menyelidiki perkembangan persekutuan itu dengan berpura-pura menjadi anak buah Gubernur Coan,” kata Leng Si.

“Baik sekali kalau begitu. Kami setuju,” kata Han Lin.

“Sebaiknya kita jangan masuk secara bersama-sama. Orang lain tidak boleh tahu bahwa kita saling mengenal, karena hal itu dapat membuka rahasia kami,” kata pula Leng Si.

Sebelum mereka berpisah, Cin Mei menggandeng tangan suci-nya kemudian diajak bicara menjauh dari Han Lin dan San Ki. “Eh, eh, engkau kenapa, sumoi. Mau bicara saja pakai menarik orang pergi menjauh. Ada rahasia apa sih?”

“Tidak ada apa-apa, suci. Aku hanya ingin menyampaikan terima kasihku atas usahamu mendekatkan aku dan Lin-koko.”

Leng Si tertawa dan mencubit lengan adiknya. “Aku juga ingin melihat kalian berbahagia, sumoi. Engkau memang merupakan satu-satunya wanita yang pantas untuk menjadi isteri adikku Han Lin dan aku pujikan semoga engkau berbahagia.”

“Terima kasih, suci. Dan aku juga menghaturkan selamat kepadamu atas pertunanganmu dengan kakak Gu San Ki yang gagah itu.”

Wajah Leng Si menjadi sedikit kemerahan. “Ahh, pernyataan tadi kukatakan hanya untuk memperkuat kedudukannya yang dituduh oleh Souw Kian Bu saja.”

“Tidak sungguh-sungguh? Tidak mungkin! Kalau berpura-pura engkau tentu tak akan sudi mengakui menjadi tunangannya. Dan agaknya Gu-toako juga tenang-tenang saja. Tidak, kalian tentu telah bersepakat untuk berjodoh. Kionghi (selamat), suci yang baik!”

Kembali Leng Si mencubit lengan sumoi-nya. “Sudahlah, engkau hendak menggoda orang tua?”

Dua pasang orang muda itu lantas melakukan perjalanan terpisah. Mereka tidak mau ada orang yang melihat bahwa mereka melakukan perjalanan bersama karena hal ini sungguh berbahaya sekali. Terutama bagi Leng Si dan San Ki yang sudah diterima menjadi ‘orang kepercayaan’ Gubernur Coan…..

********************

Yap Kiok Hwi berjalan-jalan di tengah kota Lok-yang. Sudah seminggu lamanya dia tinggal di rumah pamannya dan baru hari ini dia keluar dari rumah pamannya pergi berjalan-jalan. Sebetulnya dia bermaksud mencari Ting Bun, karena seharian kemarin pemuda itu tidak datang berkunjung ke rumah pamannya seperti biasa. Baru satu hari tidak dikunjungi dia sudah merasa tidak enak, merasa rindu! Maka, pagi itu dia pun berpamit kepada paman dan bibinya untuk pergi berjalan-jalan, tentu saja tanpa bilang bahwa dia hendak mencari sahabatnya itu.

Setelah berputar-putar sejak pagi, menjelang tengah hari dia telah merasa lelah, haus dan lapar, maka dimasukinya sebuah rumah makan besar untuk memesan makanan. Hatinya berdebar tegang ketika dia melihat Ting Bun. Pemuda itu tidak melihatnya karena duduk membelakanginya, namun dia segera mengenalnya. Dia sudah begitu hafal akan pemuda itu sehingga melihat dari jauh saja, meski pun dari belakang atau samping, dia akan dapat mengenalnya.

Yang membuat hatinya merasa tegang dan berdebar adalah ketika melihat seorang gadis cantik duduk berhadapan dengan Ting Bun. Dia lalu memandang penuh perhatian.

Usia gadis itu sebaya dengannya, berpakaian merah muda dan cantik sekali. Sepasang matanya lebar dan bersinar jeli, hidungnya mancung dan mulutnya selalu terenyum manis. Sebatang pedang berada pada punggungnya. Nampak mereka berdua sedang bercakap-cakap dengan demikian mesranya, berbisik-bisik dan diseling senyum manis.

Hatinya terasa panas bukan main, seperti dibakar! Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menegur, merasa malu karena dia tidak berhak melarang Ting Bun yang hanya sahabat biasa itu bergaul dengan siapa pun. Dia hanya memperkeras suaranya ketika memesan makanan dan minuman untuk menarik perhatian.

Usahanya berhasil. Ting Bun menoleh dan memandang kepadanya. Jelas Ting Bun orang itu, akan tetapi hanya sebentar saja memandang kepadanya lantas membuang muka lagi, pura-pura tidak mengenalnya! Hal ini yang membuat Kiok Hwi semakin panas. Mengapa harus pura-pura tidak melihatnya?

Hidangan itu menjadi tidak enak rasanya sehingga dia hanya makan sedikit saja. Sesudah minum tehnya, Kiok Hwi pun mengambil keputusan untuk pergi mendahului mereka. Akan tetapi dia sengaja berjalan memutari meja mereka sehingga mau tidak mau Ting Bun pasti melihatnya.

Dan benar saja! Pemuda itu mengangkat muka memandangnya, akan tetapi masih tetap berpura-pura tidak mengenalnya! Bahkan dia lalu mendengar pemuda itu berbisik kepada temannya.

“Lan-moi, engkau sungguh lucu... ha-ha!” dan keduanya tertawa, seolah menertawainya.

Ingin Kiok Hwi menendang meja mereka, akan tetapi dia masih dapat menguasai dirinya, bahkan masih dapat menggigit bibir menahan tangisnya yang sudah akan meledak-ledak. Dia segera kembali ke rumah pamannya, mengurung diri di dalam kamar untuk menangis sepuasnya. Dia merasa terhina sekali.

Kalau Ting Bun mencinta gadis lain, maka dia pun tidak mampu berbuat apa-apa. Antara dia dan Ting Bun, walau pun ada tanda-tanda saling jatuh hati, namun masih belum saling menyatakan cinta.

Jika tadi Ting Bun memperkenalkan gadis itu kepadanya, hal itu masih wajar. Akan tetapi Ting Bun tidak menghiraukannya, seolah-olah tidak mengenalnya, bahkan menertawainya bersama gadis cantik berpakaian merah muda itu! Hati siapa yang tidak menjadi mengkal dan kesal.....?


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner