PEDANG AWAN MERAH : JILID-21


Sore itu Ting Bun datang berkunjung. Pada waktu Kiok Hwi diberi tahu bahwa pemuda itu datang, tadinya dia ingin menolak untuk menemuinya, akan tetapi lalu timbul penasaran di hatinya. Setidaknya dia akan membalas penghinaan pemuda itu atau menegurnya dengan keras. Sungguh tidak tahu diri dan tidak tahu malu, baru siang itu menghinanya, sorenya sudah berani muncul!

Dengan dada seperti terisi api membara dia membedaki mukanya yang pucat, kemudian sambil membusungkan dada dia melangkah keluar seperti orang yang akan menghadapi musuh besarnya!

Kalau menurutkan kata hatinya, ingin dia menangis, ingin dia berteriak, akan tetapi semua itu ditahannya karena pada dasarnya Kiok Hwi memiliki watak pendiam. Ia harus menjaga kewibawaannya dan dengan pandang mata dingin dia memandang kepada pemuda yang segera bangkit berdiri ketika melihat gadis itu keluar.

“Hwi-moi, baru sekarang aku datang dan... ehh, Hwi-moi, mengapa matamu kemerahan? Apakah engkau habis menangis dan apakah yang telah terjadi, Hwi-moi?”

Alangkah palsunya! Masih berpura-pura lagi. Agaknya pemuda itu sudah nekat dan tidak tahu malu sama sekali. Baik, dia pun akan bersandiwara dan pura-pura tidak tahu saja.

“Aku tidak apa-apa, Bun-koko. Engkau dari manakah, dan kenapa kemarin seharian tidak datang ke sini?” suaranya terdengar kering walau pun telah diusahakan supaya terdengar biasa.

“Aku mencari adikku hingga ke luar kota, Hwi-moi. Di luar kota aku memperoleh petunjuk, akan tetapi setelah kuikuti dan kususul, aku gagal mendapatkannya.”

Hati Kiok Hwi terasa semakin panas. Betapa enaknya orang ini berbohong, pikirnya. “Dan siang tadi engkau berada di manakah?”

“Aku masih berada di luar kota, baru saja aku masuk kota kemudian langsung saja ke sini karena tentu engkau bertanya-tanya kenapa aku tidak datang menjengukmu.”

“Siang ini engkau tidak pergi ke rumah makan?”

“Rumah makan? Tidak, apa maksudmu, Hwi-moi?”

Kiok Hwi tidak dapat menahan kemarahannya lagi. “Bun-ko, selama ini kuanggap engkau adalah seorang sahabat yang baik dan jujur, akan tetapi tidak kusangka engkau seorang pembohong besar dan seorang yang sombong dan pengecut. Aku melihat sendiri engkau bersama seorang wanita berpakaian merah muda di rumah makan, bahkan aku sengaja lewat di depanmu dan engkau melihatku, tetapi engkau pura-pura tidak melihat. Sekarang engkau malah menyangkal pergi ke rumah makan! Apakah begini sikap seorang sahabat baik? Kalau engkau sudah tidak ingin menjadi sahabatku, katakan saja terus terang!”

Ting Bun terbelalak, tidak marah bahkan kelihatan gembira. “Engkau melihatku di rumah makan bersama seorang wanita berpakaian merah? Cocok! Aku pun mendengar tentang wanita berpakaian merah muda itu. Hwi-moi, mari bawa aku ke rumah makan itu. Cepat, atau aku akan kehilangan jejaknya lagi!”

Ting Bun memegang tangan gadis itu kemudian ditariknya keluar, diajaknya berlari pergi ke rumah makan yang dimaksudkan Kiok Hwi tadi. Gadis ini merasa bingung, akan tetapi dia terpaksa mengikuti.

“Apa artinya ini, Bun-ko?”

“Yang kau lihat itu adikku!”

Jawaban singkat ini membuka semua kegelapan. Akan tetapi, jika benar adiknya, kenapa dapat begitu persis? Mereka berlari ke rumah makan itu, akan tetapi tentu saja yang dicari sudah tidak ada karena peristiwa pertemuan itu terjadi siang hari tadi, padahal sekarang sudah sore.

Akan tetapi Ting Bun tidak kehilangan akal. Dia menemui seorang pelayan dan bertanya, “Paman, apakah tadi paman melihat seorang yang mirip seperti aku datang berbelanja di sini bersama seorang nona berpakaian merah muda?”

Pelayan itu terbelalak. “Ehh, apakah bukan tuan sendiri yang datang tadi? Tadi memang ada, siang tadi, tetapi... kukira tuan sendiri.”

“Tahukah engkau ke mana mereka pergi?”

“Aku tidak tahu, tuan. Hanya tadi mereka sempat menanyakan rumah penginapan yang baik kepadaku, dan aku tunjukkan rumah penginapan Lok-an.”

Ting Bun langsung mengajak Kiok Hwi pergi untuk mencari ke rumah penginapan Lok-an. Kini Kiok Hwi bertambah yakin bahwa Ting Bun tidak berbohong. Dari keterangan pelayan rumah makan itu tadi saja menunjukkan bahwa siang tadi memang ada seorang pemuda yang persis Ting Bun datang ke situ bersama seorang gadis berpakaian merah muda.

Pada saat mereka memasuki halaman rumah penginapan itu, kebetulan sekali dari dalam keluar seorang pemuda yang amat persis dengan Ting Bun, hanya warna pakaiannya saja yang berbeda sehingga membuat Kiok Hwi bengong terlongong. Orang itu begitu persis Ting Bun, bagaikan pinang dibelah dua. Di sampingnya berjalan seorang gadis berpakaian merah muda, seperti yang dilihatnya di rumah makan tadi.

Ting Bun girang bukan main. “Bu-te...!” teriaknya.

“Bun-ko! Kau baru datang?”

“Wah, sudah kucari ke mana-mana baru sekarang bertemu. Mengapa engkau terlambat? Ke mana saja engkau dan siapakah nona ini?”

“Mari kita masuk dan bicara di dalam, Bun-ko. Ada urusan penting yang ingin kubicarakan denganmu.”

Mereka memasuki rumah penginapan itu. Pemuda yang diaku adik oleh Ting Bun itu lalu mengajak mereka semua memasuki kamarnya di mana mereka duduk mengelilingi meja setelah pintu dan jendela ditutup rapat-rapat.

“Bun-ko, ini adalah nona Can Bi Lan, puteri ketua Pek-eng Bu-koan, sahabat baikku. Lan-moi, inilah kakak kembarku seperti yang kuceritakan kepadamu.”

“Bu-te, ini adalah nona Yap Kiok Hwi, puteri ketua Cin-ling-pai. Kami juga kebetulan saja bertemu saling bantu menghadapi penjahat kemudian menjadi sahabat baik.”

Mereka yang diperkenalkan lalu saling memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan dada. Dengan singkat Ting Bun bercerita kepada adiknya tentang pertemuannya dengan Kiok Hwi yang kini menjadi sahabat baiknya.

“Dan bagaimana denganmu, Bu-te? Di mana engkau bertemu dengan nona Can Bi Lan ini dan urusan penting apakah yang hendak kau bicarakan?”

Ting Bu lalu bercerita. Dia adalah adik kembar dari Ting Bun dan memang kedua orang ini memiliki wajah dan bentuk tubuh yang mirip sekali sehingga kalau orang tidak mengenal mereka dengan akrab sekali tentu tak akan dapat memperbedakan mereka.

Kedua kakak beradik kembar ini menjadi murid Bu-tong-pai dan sesudah mereka selesai belajar, dua orang muda yang berusia dua puluh tiga tahun ini meninggalkan Bu-tong-pai untuk pulang ke rumah. Kemudian mereka mengambil keputusan hendak memanfaatkan ilmu silat yang mereka kuasai untuk memperoleh pekerjaan di kota raja, mengabdi kepada kerajaan. Untuk itulah mereka pergi ke Lok-yang dan kemudian kalau ternyata di tempat ini tidak berhasil, maka mereka akan melanjutkan ke ibu kota Tiang-an.

Untuk menghindari agar tidak selalu menjadi perhatian orang karena persamaan mereka, juga karena ingin menikmati perjalanan seorang diri, Ting Bu lalu meninggalkan kakaknya dan mereka melakukan perjalanan berpisah dengan janji akan bertemu di Lok-yang. Kalau Ting Bun mengambil jalan raya biasa, sebaliknya Ting Bu mengambil jalan pintas melalui gunung-gunung.

Pada suatu hari ketika baru saja tiba di luar kota Lok-yang, Ting Bu melihat seorang gadis berpakaian merah muda yang amat lihai tengah dikeroyok belasan orang yang berpakaian seperti orang Mongol. Para pengeroyok itu rata-rata memiliki ilmu golok yang hebat juga sehingga gadis yang mengamuk dengan pedangnya itu terdesak.

Melihat ini, tanpa diminta Ting Bu segera mencabut pedangnya lalu membantu gadis itu. Betapa pun juga yang dikeroyok itu seorang gadis Han, sedangkan para pengeroyoknya adalah orang-orang Mongol, maka tanpa ragu lagi dia segera membantu gadis itu. Andai kata para pengeroyoknya bukan orang Mongol, tetap saja dia akan membantu gadis itu. Tidak pantas belasan orang laki-laki mengeroyok seorang gadis muda.

Majunya Ting Bu membuat gadis itu mendapat semangat baru dan mereka berdua dapat membuat para pengeroyok kocar-kacir. Mereka lantas melarikan diri, tetapi ada dua orang yang justru melarikan diri menuju ke kota Lok-yang karena mereka telah salah mengambil langkah dan jurusan. Melihat ini, Ting Bu dan gadis itu kemudian melakukan pengejaran. Mereka ingin menangkap dua orang itu lantas menguras keterangan dari mereka.

Mereka merasa heran sekali bagaimana kedua orang itu dapat memasuki Lok-yang tanpa menimbulkan kecurigaan kepada para prajurit penjaga di pintu gerbang. Mereka mengejar terus dan di dalam keremangan senja dapat melihat kedua orang itu malah lari memasuki benteng pasukan! Tentu saja mereka tidak dapat masuk, terhalang oleh pasukan jaga.

“Sungguh luar biasa! Mereka memasuki benteng!” seru Ting Bu kepada gadis berpakaian merah itu ketika mereka meninggalkan benteng itu. “Mungkinkah mereka adalah pasukan yang menyamar?”

“Tidak mungkin, mereka memang orang Mongol asli, akan tetapi anehnya, mereka seolah mempunyai hubungan baik dengan pasukan di benteng itu.”

“Nona, engkau siapakah dan mengapa sampai dikeroyok mereka? Perkenalkan, namaku Ting Bu dan aku adalah murid Bu-tong-pai yang kebetulan lewat di sini kemudian melihat engkau dikeroyok tadi.”

Gadis itu memberi hormat. “Saudara Ting Bu, terima kasih atas bantuanmu tadi. Pantas saja engkau lihai, kiranya engkau adalah murid Bu-tong-pai yang besar. Aku sendiri hanya puteri seorang guru silat Pek-eng Bu-koan di kota raja, namaku Can Bi Lan.”

“Nona Bi Lan, atau boleh aku menyebut adik saja?”

“Tentu saja boleh, Bu-ko. Bukankah sebetulnya kita ini masih satu golongan, yaitu orang-orang yang menjunjung tinggi serta membela kebenaran dan keadilan?”

“Lan-moi, kenapa engkau sampai dikeroyok oleh orang-orang Mongol itu?”

Bi Lan menarik napas panjang. “Panjang ceritanya, Bu-ko, tapi biarlah kupersingkat saja. Aku mempunyai seorang kakak bernama Can Kok Han. Aku melihat kakakku itu terbunuh oleh seorang puteri Mongol, lantas aku membalaskan kematiannya dan puteri Mongol itu kubunuh. Orang-orang Mongol itu tentulah utusan raja Mongol untuk membalas kematian puterinya. Tadi mereka menghadangku dan sesudah tahu aku bernama Can Bi Lan, tanpa banyak cakap lagi mereka hendak menangkapku. Tentu saja aku melawan dan terjadilah pertempuran itu.”

“Ahh, begitukah kiranya? Akan tetapi bagaimana mungkin mereka itu memasuki Lok-yang tanpa dicurigai, bahkan kemudian menghilang di dalam benteng?”

“Ini memang aneh sekali, Bu-ko, karena itu sebaiknya kalau kita melakukan penyelidikan di kota Lok-yang ini. Agaknya aku mencium bau yang tidak enak, siapa tahu panglimanya mempunyai hubungan dengan orang Mongol?”

Demikianlah pengalaman Ting Bu yang bertemu lantas berkenalan dengan Bi Lan, seperti yang dia ceritakan kepada kakaknya.

“Dan siang tadi engkau bersama nona Bi Lan ini makan di rumah makan, Bu-te?”

“Benar, Bun-ko, bagaimana engkau dapat tahu?”

“Bukan aku yang melihatnya, melainkan Hwi-moi. Dia mengira bahwa engkau adalah aku sehingga dia merasa penasaran karena engkau tidak mengenalnya, seolah-olah aku yang pura-pura tidak mengenalnya.”

Kakak beradik itu lantas tertawa, juga Bi Lan ikut tertawa, sedangkan sepasang pipi Kiok Hwi menjadi kemerahan. Untuk menghilangkan rasa malu dan rikuh, ia lalu berkata,

“Sudahlah, sekarang kita perlu sekali membicarakan mengenai orang-orang Mongol yang menghilang ke dalam benteng pasukan kerajaan itu. Mungkin saja di situ dijadikan tempat rahasia untuk mereka, juga perlu sekali kita menyelidiki panglimanya. Aku menjadi curiga sekali kepada panglima yang mengepalai benteng itu.”

“Engkau benar, enci Kiok Hwi. Kalau tidak diselidiki dan hal ini dibiarkan saja, tentu akan sangat berbahaya. Siapa tahu panglima di sini mempunyai hubungan dengan orang-orang Mongol dan hendak melakukan pemberontakan,” kata Bi Lan.

“Sebaiknya nanti malam kita berempat melakukan penyelidikan. Tentu saja tidak mungkin menyelidiki benteng yang terjaga ketat di mana berdiam ribuan orang pasukan. Sekarang kita menyelidiki di mana rumah gedung panglimanya dan kita selidiki rumah panglima itu.”

Bi Lan dan Ting Bu mengajak Kiok Hwi dan Ting Bun bermalam saja di rumah penginapan itu, tak perlu menambah kamar karena Ting Bun dapat tinggal bersama adiknya, ada pun Kiok Hwi tinggal bersama Bi Lan. Karena mereka sekamar, tentu saja kedua orang gadis itu segera menjadi akrab sekali.

Ketika Ting Bun kembali dari penyelidikannya, dia memberi tahu bahwa rumah panglima itu berada di luar benteng dan bahwa yang menjadi komandan benteng Lok-yang adalah Kwan-ciangkun.

Malam hari itu mereka mengenakan pakaian hitam dan begitu mereka bertemu di luar, Bi Lan dan Kiok Hwi terkejut sekali karena sepasang saudara kembar itu kini mengenakan pakaian yang sama benar sehingga mereka tidak tahu lagi mana Ting Bun dan mana Ting Bu.

“Yang mana Bu-koko?” tanya Bi Lan.

Seorang di antara mereka tertawa dan menjawab. “Akulah, Lan-moi.”

“Ahh, Bu-ko, engkau harus memakai tanda khusus. Kalau tidak maka aku dan enci Kiok Hwi tentu menjadi bingung tidak dapat membedakan kalian karena kalian persis sama.”

Ting Bun tertawa. “Begini saja, Bu-te. Engkau memakai kain yang dilibatkan pada lengan kananmu.”

Ting Bu mengambil sapu tangan hitam lantas mengikatkan sapu tangan itu di lengannya, pada pergelangan, sehingga kini kedua orang gadis itu merasa lega karena mereka dapat membedakan dan mengenal mana kakaknya dan yang mana adiknya. Setelah itu mereka lalu menggunakan kepandaian mereka berkelebatan lenyap ditelan kegelapan malam dan melakukan perjalanan cepat menuju ke rumah Kwan-ciangkun.

Rumah gedung besar itu sangat sepi karena malam sudah larut. Empat sosok bayangan orang berada di atas genteng dan berindap-indap merayap menuju ke belakang. Setelah jelas tidak ada orang di sana, mereka lantas berlompatan, melayang masuk sehingga tiba di taman kecil di bagian belakang. Dari ruangan di belakang itu mereka melihat ada sinar terang menerobos dari jendela ruangan itu. Mereka saling memberi tanda lalu menyelinap mengintai dari balik jendela karena mendengar suara orang bercakap-cakap.

Ketika mereka mengintai ke dalam, di ruangan itu nampak ada belasan orang Mongol dan seorang berpakaian panglima. Mereka segera menduga bahwa panglima itu tentu Kwan-ciangkun. Akan tetapi yang membuat Bi Lan terkejut bukan main adalah ketika dia melihat Sam Mo-ong berada di situ pula.

“Itu Sam Mo-ong...!” bisiknya kepada Ting Bu yang berada di dekatnya.

Ting Bu lalu membisikkan pula kepada kakaknya dan Kiok Hwi. Tentu saja mereka kaget bukan main mendengar disebutnya nama tiga datuk yang sakti itu. Karena kaget mereka membuat sedikit gerakan dan ini sudah cukup bagi Sam Mo-ong untuk mendengarnya.

“Siapa di sana?!” bentak Kwi-jiauw Lo-mo dan tubuhnya sudah melayang keluar jendela, diikuti oleh Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong. Juga semua orang Mongol serta Kwan-ciangkun berbondong-bondong keluar dari ruangan itu, bahkan Kwan-ciangkun kemudian membunyikan peluit sehingga dari luar berlarian masuk pasukan pengawal!

Empat orang itu terkejut sekali. Bi Lan yang maklum betapa lihainya Sam Mo-ong, terlebih lagi di situ terdapat belasan orang Mongol dan pasukan pengawal, sudah berteriak.

“Kita lari...!”

“Kejar...!” teriak Kwi-jiauw Lo-mo.

Namun pada saat itu Bi Lan sudah melemparkan bahan peledaknya yang mengeluarkan asap tebal. Ketika para pengejarnya menyingkir kemudian memutari asap, keempat orang itu sudah lenyap dari situ.

“Wahh berbahaya sekali...!” kata Bi Lan kepada tiga orang kawannya setelah mereka tiba kembali ke kamar rumah penginapan. “Sam Mo-ong itu luar biasa saktinya. Aku pernah hampir tewas oleh seorang di antara mereka, yaitu Hek-bin Mo-ong. Pukulan beracunnya ampuh bukan main. Untung tadi aku masih memiliki sebuah alat peledak itu, kalau tidak, sukar bagi kita untuk menyelamatkan diri.”

“Ah, kalau begitu jelas bahwa Kwan-ciangkun bersekongkol dengan orang-orang Mongol,” kata Ting Bu.

“Itu jelas karena Sam Mo-ong adalah pembantu utama Ku Ma Khan, raja bangsa Mongol. Akan tetapi kita berempat saja tidak akan dapat berbuat apa-apa,” kata Bi Lan.

“Bagaimana kalau kita lapor kepada pemerintah?” tanya Ting Bun.

“Lapor kepada siapa? Kwan-ciangkun adalah komandan di sini, siapa yang lebih berkuasa darinya?” bantah Bi Lan.

“Bagaimana kalau kita melapor ke kota raja?” tanya Yap Kiok Hwi.

“Satu-satunya jalan tentu demikian. Akan tetapi karena kita tidak mempunyai bukti, maka kita harus menghubungi pembesar tinggi yang kiranya akan dapat mempercayai laporan kita untuk disampaikan kepada Kaisar,” kata Bi Lan. “Sebagai guru silat Pek-eng Bu-koan ayahku memiliki banyak kenalan pejabat yang berguru kepadanya. Mungkin ayahku dapat memberi jalan.”

“Bagus, kalau begitu sebaiknya kita minta bantuan ayahmu, Lan-moi,” kata Ting Bu. “Aku akan menemanimu ke kota raja.”

“Dan aku akan melapor kepada ayahku. Kurasa Cin-ling-pai dapat membantu pemerintah dalam menghalau orang-orang Mongol yang hendak membikin kacau,” kata Yap Kiok Hwi. “Kekuatan mereka terlampau besar kalau hanya kita yang menentangnya.”

“Engkau benar, Hwi-moi. Aku akan menemanimu ke Cin-ling-pai,” kata Ting Bun dengan cepat.

Demikianlah, pada keesokan paginya dua pasang orang muda itu lalu meninggalkan Lok-yang. Mereka maklum bahwa peristiwa semalam tentu akan berekor dan Kwan-ciangkun tentu akan menyebar anak buah untuk mencari mereka…..

********************

Langit dan bumi itu abadi
sebabnya Langit dan Bumi abadi
adalah karena mereka tidak hidup untuk diri sendiri
karena itu abadi!
Inilah sebabnya orang bijaksana
Membelakangi dirinya
Karena itu dirinya tampil terdepan
Dia tidak menghiraukan dirinya.
Karenanya dirinya menjadi seutuhnya
Orang bijaksana tidak mempunyai keinginan pribadi
Maka dia dapat menyempurnakan dirinya.


Han Lin dan Cin Mei berhenti melangkah. Mereka sedang melakukan perjalanan ke kota raja dan ketika tiba di bukit itu, mereka mendengar suara orang membaca ayat dari kitab To-tek-keng.

Han Lin tertarik sekali. Memang ayat yang dibacakan orang itu adalah ayat yang sangat dikenalnya, dari kitab To-tek-keng agama To. Ujar-ujar itu sendiri tidak aneh, akan tetapi caranya membacakan yang mengagumkan hatinya. Bukan saja dibacakan dengan suara mantap dan meyakinkan, tapi juga memang tepat sekali dengan keadaan di dalam negeri pada waktu itu.

Saat ini semua orang hendak menonjolkan diri, memperebutkan kekuasaan dan terjadilah persaingan. Para gubernur juga hendak memperebutkan kekuasaan dan mereka itu pun jatuh bangun.

Memang manusia akan mengalami pasang surut, jatuh bangun, akhirnya lenyap. Langit dan Bumi dikatakan abadi karena Langit dan Bumi tidak memiliki kehendak, tapi selaras dengan To, selaras dengan kehendak Tuhan, karena itu abadi. Jadi merusak itu adalah ‘keinginan pribadi’ karena keinginan pribadi ini adalah keinginan jasmani berupa nafsu-nafsu indera. Ingin senang sendiri, ingin berkuasa sendiri, ingin baik sendiri, ingin ini ingin itu semua untuk memuaskan nafsu daya rendah. Hanya manusia bijaksana yang dapat menyesuaikan diri dengan alam, tidak mementingkan diri, tidak menonjolkan diri. Justru inilah yang membuatnya menjadi seorang bijaksana, seorang manusia seutuhnya!

“Mei-moi, mari kita lihat siapa yang sepagi ini membaca sajak seperti itu!” kata Han Lin.

Cin Mei tersenyum, mengangguk dan mereka pun menyimpang ke kiri, ke arah suara itu. Setelah melalui dua tikungan, tibalah mereka di bawah rumpun bambu yang teduh dan di situ, di bawah rumpun bambu itulah nampak seorang setengah tua duduk seorang diri dan dialah yang membaca sajak dari ujar-ujar dalam To-tek-keng itu.

Pria itu berusia enam puluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan dari pakaiannya, jelas bahwa dia seorang sasterawan. Dia duduk di atas tanah berlandaskan daun-daun bambu kering dan di hadapannya terdapat sebuah tempat arak. Agaknya dia bersajak sambil meminum araknya.

“Selamat pagi, paman,” kata Han Lin dan Cin Mei sambil menghampiri orang itu.

Sasterawan itu menoleh lantas tersenyum. “Aihh…, dua orang muda yang gagah perkasa, selamat pagi dan apakah yang dapat aku lakukan untuk kalian maka kalian menghampiri aku?” Sungguh teratur dan sopan ucapan itu.

“Kami sedang lewat dan kebetulan mendengar paman membaca sajak tadi. Kami tertarik sekali paman, bukan karena sajaknya dari ujar-ujar dalam To-tek-keng itu, melainkan apa yang menjadi maknanya. Dapatkah paman memberikan penjelasan kepada kami kenapa sepagi ini paman membaca ujar-ujar itu?”

“Ha-ha-ha, luar biasa sekali. Engkau dapat menemukan bahwa di dalam ujar-ujar itu ada sesuatu yang bermakna? Orang muda, siapakah engkau dan siapa pula nona ini?”

“Paman, aku bernama Sia Han Li dan nona ini adalah Kwan Im Sianli Lie Cin Mei.”

“Wah-wah-wah, aku sudah mendengar nama besar Kwan Im Sianli. Bukankah nona yang pandai mengobati orang sakit?”

“Ahh, paman terlalu memuji, kepandaianku mengobati masih rendah sekali, paman.”

“Ha-ha-ha, sungguh bagus. Masih muda sudah pandai merendahkan hatinya. Duduklah, kalian dan mari kita bercakap-cakap. Pagi ini udaranya cerah sekali dan kalau mau kalian dapat menemani aku minum arak.”

“Maaf, paman. Kami berdua tidak biasa minum arak,” kata Han Lin yang segera duduk di atas tanah bertilamkan daun bambu kering, diturut pula oleh Cin Mei.

“Bagus! Arak adalah obat penyegar badan yang baik, juga kawan yang sangat baik untuk melupakan sesuatu yang mendatangkan duka. Akan tetapi kalau terlalu banyak diminum, maka akan menjadi musuh yang membahayakan kesehatan. Nah, sekarang apakah yang hendak kau tanyakan mengenai sajak itu?”

“Maaf, paman. Bukankah sajak itu ada hubungannya dengan keadaan negara di saat ini? Bahwa para pejabat berebut untuk menonjolkan diri, memperebutkan kekuasaan sehingga mereka semua akan mengalami kehancuran sendiri-sendiri?”

“Orang muda, engkau mempunyai pandangan yang luas. Sebenarnya keadaan seperti ini patut disesalkan, karena semua sumbernya terletak pada orang yang memegang tampuk kerajaan. Di waktu Kaisar Beng Ong masih memegang kekuasaan, aku dapat menikmati keadaan yang jauh lebih baik dari pada sekarang. Akan tetapi hanya karena semua orang menuruti kehendak pribadi, maka semua kebesaran itu akhirnya hancur lebur. Aku hanya merindukan keadaan yang aman sejahtera bagi rakyat jelata, murah sandang pangan dan papan, hidup damai aman tanpa kekerasan dan permusuhan. Betapa akan indahnya hidup ini kalau keadaannya seperti itu.”

“Akan tetapi maaf, paman,” kata Lie Cin Mei, “keadaan seperti itu tidak akan jatuh begitu saja dari langit, tanpa adanya usaha dari manusia sendiri.”

“Engkau memang benar, nona. Akan tetapi sayang, setiap usaha manusia selalu didasari kepentingan pribadi sehingga hasilnya pun kesenangan pribadi. Maka terjadilah bentrokan keinginan, bentrokan kepentingan, lantas usaha untuk mencapai keadaan damai sejahtera menjadi sia-sia, malah keadaan menjadi semakin kacau dengan adanya persaingan untuk mencari kesejahteraan itu. Terpecah belah antara golongan yang saling gontok-gontokan sendiri.”

“Maaf, paman. Paman dan para sasterawan yang mengetahui keadaan ini, apakah hanya cukup dengan melupakan semua itu tenggelam ke dalam uap arak sambil membaca sajak atau menuliskan syair? Masalah ini perlu dihadapi dengan penanganan langsung. Segala kejahatan harus ditentang dan kita mesti turun tangan, bukan hanya merengek yang tidak akan ada gunanya.”

“Ha-ha-ha-ha, itulah perbedaan antara golongan bu (silat) dengan golongan bun (sastera). Golongan bu hanya mengerti kekerasan saja, seolah-olah dengan kekerasan akan dapat meniadakan kejahatan dan penyelewengan. Ketahuilah, orang muda, biar pun andai kata engkau membunuhi semua penjahat yang ada, kejahatan tetap tidak akan lenyap selama manusia masih belum menyadari kemanusiaannya. Untuk menyadarkan manusia tentang kemanusiaannya adalah tugas kami golongan bun, dengan cara menulis syair, membaca sajak dan sebagainya.”

“Paman, orang jahat perlu dihajar barulah menjadi jera. Kalau hanya dinasehati saja maka tidak akan dapat memasuki telinga mereka,” bantah Han Lin.

“Lin-koko, kata-kata paman ini memang benar. Bukan hanya kekerasan saja yang mampu menghilangkan kejahatan. Keduanya harus jalan bersama. Di satu pihak kita menentang kejahatan dengan bu dan di lain pihak kita menyadarkan mereka dengan bun. Bukankah begitu, paman?”

“Ha-ha-ha, nona ini sungguh bijaksana. Memang selama ini terjadi pertentangan pendapat di antara kami sendiri. Ada yang mengandalkan usaha manusia seperti yang dikehendaki oleh Nabi Khong Cu, tetapi ada pula yang menyerahkan kepada Tuhan untuk memperoleh perubahan dan perbaikan. Dan nona mengajukan kerja sama antara keduanya. Sungguh bagus sekali!”

“Pada hakekatnya manusia hidup di dunia haruslah melaksanakan dua kodrat ini, paman,” berkata pula Han Lin. “Pertama, melaksanakan tugas kewajiban kita dengan semestinya. Kaisar tahu kewajibannya sebagai Kaisar, bawahan tahu kewajibannya sebagai bawahan, orang tua tahu kewajibannya sebagai orang tua, anak tahu kewajibannya sebagai anak, lalu semua orang melaksanakan kewajibannya dan tahu bahwa tugas kewajiban haruslah dilaksanakan dengan sebaiknya. Kemudian yang kedua, menyerahkan segalanya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Kepercayaan dan kepasrahan kepada Tuhan haruslah dibarengi dengan usaha dan ikhtiar. Ikhtiar belaka tanpa ingat kepada Tuhan akan dapat menimbulkan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, sebaliknya ingat saja kepada Tuhan tanpa melakukan apa-apa juga tidak akan menolong dirinya.”

“Benar, paman. Kita berusaha sebaik mungkin dilandasi kepasrahan yang selaras dengan kehendak dan kekuasaan Tuhan, maka hidup semacam itu sudah memenuhi syarat untuk menjadi manusia seutuhnya,” sambung Cin Mei.

“Ha-ha-ha, sungguh beruntung sekali aku Wang Wei hari ini bertemu dengan dua orang muda yang bijaksana.”

Bukan main kagetnya hati Han Lin dan Cin Mei ketika mendengar orang itu menyebutkan namanya. Wang Wei adalah nama dari seorang pujangga, penyair dan pelukis yang amat terkenal di masa itu, sejajar dengan nama pujangga Li Tai Po, Tu Fu dan yang lain-lain.

Cepat Han Lin dan Cin Mei bangkit kemudian memberi hormat kepada sasterawan itu.

“Kiranya paman adalah Pujangga Wang Wei yang mulia. Maafkan apa bila kami bersikap kurang hormat!” dua orang muda itu merasa malu sekali tadi telah ‘bicara besar’ terhadap seorang pujangga yang sangat terkenal!

Akan tetapi tiba-tiba saja wajah pujangga itu berkerut. “Nah-nah, akhirnya kalian juga tidak lepas dari pada penyakit yang sudah mendarah daging pada manusia. Begitu mendengar bahwa aku bernama Wang Wei, kalian lantas memberi hormat secara berlebihan. Andai kata aku ini seorang pengemis, agaknya tidak akan kalian pandang sebelah mata.”

“Ahh, tidak..., tidak..., paman,” kata Han Lin terkejut.

Akan tetapi pujangga itu telah bangkit membawa tempat araknya lantas melangkah pergi sambil bernyanyi-nyanyi!

Mereka berdua hanya dapat menatap kepergian kakek itu dan keduanya terkesan sekali. Tetapi karena maklum bahwa para pujangga besar itu, seperti juga para datuk persilatan, memiliki watak yang amat aneh, maka mereka pun tidak berani mengejar.

Han Lin menghela napas panjang, “Dia berkata benar, Mei-moi. Sebagian besar dari kita sudah ketularan kebiasaan umum. Kita menghormati nama, kedudukan, kepandaian, atau harta benda. Penghormatan seperti itu palsu adanya. Kita harus menghormati seseorang berdasarkan pribadinya, bukan nama, kedudukan, kepandaian dan harta yang bukan lain hanyalah pakaian belaka. Semua pakaian itu akan lenyap bersama kematian, akan tetapi budi kebaikan tidak akan pernah mati.”

“Engkau benar, Lin-ko. Mari kita lanjutkan perjalanan kita.”

Kemudian keduanya meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner