KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-01


Mao-mao-San (Gunung Mao-mao) menjulang tinggi kurang lebih empat ribu meter hingga puncaknya terlihat menembus awan. Gunung ini terletak di sebelah dalam Tembok Besar, dekat perbatasan di sebelah utara Propinsi Gan-su dan Mongolia Dalam. Walau pun Mao-mao-san terletak di perbatasan, namun pegunungan ini tidak sepi benar. Kota Tian-ju dan Gu-lang terletak di kakinya sebelah barat dan utara, ada pun di kaki bagian timur terdapat kota Jing-tai.

Pegunungan ini mempunyai tanah yang subur, maka di kaki pegunungan serta di lereng-lereng bagian bawah terdapat banyak dusun pertanian di mana rakyat petani hidup cukup makmur, dalam arti kata tidak pernah kekurangan makan. Akan tetapi pada bagian lereng sebelah atas sampai ke puncak, Mao-mao-san jarang dikunjungi orang karena daerah ini penuh dengan hutan belantara yang dihuni banyak binatang buas. Bahkan para pemburu binatang pun hanya berani mencari untung sampai di lereng pertengahan saja.

Ada cerita tahyul beredar di kalangan rakyat petani bahwa di dekat puncak Mao-mao-san terdapat seekor naga siluman yang sangat jahat. Kabarnya banyak pemburu yang berani naik lebih tinggi, lenyap tanpa meninggalkan jejak dan dikabarkan menjadi mangsa naga siluman. Semenjak cerita itu tersiar, tidak ada seorang pun pemburu berani naik mendaki lereng yang berada di pertengahan gunung.

Pagi itu hari dimulai dengan cuaca yang amat cerah. Matahari pagi bebas memuntahkan sinarnya, membangunkan segala sesuatu yang masih bermalasan akibat terbius malam dingin. Embun pagi membubung dari hutan-hutan kemudian lenyap dibakar sinar matahari yang mulai terasa hangat.

Burung-burung mulai sibuk, berkicau saling memberi salam, berloncatan dari satu dahan ke dahan lain, merontokkan embun yang tadinya tergantung di ujung-ujung daun-daunan. Mereka itu dengan riang gembira menyambut sinar matahari dan bersiap-siap melakukan pekerjaan mereka mencari makan.

Binatang-binatang hutan yang lain juga mulai meninggalkan sarang mereka untuk mencari makan bagi diri sendiri dan bagi anak-anak mereka. Bunga-bunga bermekaran. Kupu-kupu beterbangan. Awan putih tipis bermacam bentuk berarak di angkasa. Semuanya bekerja! Matahari, awan, pohon-pohon, bunga, embun, burung, kupu-kupu, serta seluruh binatang hutan. Mereka semua mulai sibuk bekerja mencari makan.

Memang sebenarnyalah. Hidup adalah gerak dan gerak yang paling baik dan bermanfaat adalah bekerja. Seluruh alam dan isinya tiada henti-hentinya bekerja. Kekuasaan Tuhan selalu bekerja, tidak pernah berhenti sedetik pun juga. Kalau berhenti sedetik saja, maka akan kiamatlah dunia ini.

Dari lereng dekat puncak, masih di bawah awan, kita dapat melihat panorama yang amat indah. Sukar dilukiskan kebesaran dan keindahan alam. Sawah ladang terbentang luas di bawah kaki kita. Di sana-sini tampak air berkilauan memantulkan sinar matahari bagaikan cermin-cermin.

Mata bisa menikmati pemandangan yang amat indah. Telinga juga bisa menikmati suara-suara merdu, kicau burung, desah angin di puncak pepohonan, gemercik air. Hidung juga dapat menikmati aroma yang sangat segar, sedap dan alami. Aroma hutan, bunga, tanah basah, semuanya begitu dekat dan dikenal penciuman kita. Udara demikian sejuk segar, mengalir deras memenuhi paru-paru, membawa kesehatan dan kenyamanan perasaan. Alangkah indah dan nikmatnya hidup ini!

Pada lereng di bawah puncak yang sangat sunyi itu, yang hampir tidak pernah dikunjungi orang, pada pagi hari itu terjadi hal yang tidak seperti biasanya. Terdapat seorang laki-laki berjalan seorang diri menuruni puncak! Lelaki itu melangkah seperti di luar kesadarannya. Dia seolah bersatu dengan alam di sekelilingnya, matanya melahap semua yang nampak, matanya bersinar penuh bahagia, mulutnya tersenyum.

Pada saat seperti itu dia seolah-olah kehilangan jati dirinya karena sudah bersatu dengan alam. Dia adalah bagian dari pohon-pohon itu, bagian dari ratusan burung yang terbang di angkasa, bagian dari sekumpulan kupu-kupu yang mencari madu di antara bunga-bunga, bagian dari embun yang masih bergantung di ujung-ujung daun.

Dia berhenti melangkah. Di hadapannya terbentang sebuah jurang menganga. Di bawah kakinya sinar matahari membentuk bayang-bayang, memberi gairah hidup kepada segala sesuatu. Orang itu agaknya baru sadar akan dirinya dan dia pun menghirup napas dalam-dalam hingga dada dan perutnya mengembang. Seperti dengan sendirinya dia berdongak ke langit, lalu mulutnya berbisik.

"Terpujilah nama Yang Maha Kasih, yang menciptakan semua ini."

Sekarang dia melangkah lagi, perlahan-lahan, dengan santai. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun. Rambutnya yang masih hitam semua dan panjang digelung ke atas. Wajahnya halus belum ada kerut tuanya. Sepasang matanya mencorong tajam namun lembut sekali. Hidungnya mancung, dan mulutnya selalu tersenyum ramah penuh kesabaran dan pengertian. Wajahnya berbentuk bulat dengan dagu meruncing. Tubuhnya yang berukuran sedang kelihatan lemah. Pakaiannya amat sederhana, hanya sehelai kain panjang kuning yang dilibat-libatkan pada tubuhnya. Dia memakai sepatu kain tebal yang bagian bawahnya dilapisi besi sehingga awet sekali. Di punggungnya tergendong sebuah buntalan kuning yang besar dan tampaknya berat.

Pada waktu mudanya lelaki itu bernama Tiong Lee, seorang ahli sastra yang mendalami tentang pelajaran Khong-hu-cu, Lo-cu dan yang terakhir pelajaran Agama Buddha. Seperti sudah menjadi kebudayaan Cina di waktu abad ke sebelas, ketiga agama ini berbaur dan filsafat tiga agama ini dipilih yang cocok untuk menjadi dasar kehidupan Cina.

Karena sangat tertarik untuk mendalami pelajaran Agama Buddha, semenjak berusia dua puluh lima tahun Tiong Lee melakukan perjalanan ke India seperti yang pernah dilakukan oleh pendeta Hsuan Tsang pada abad ke tujuh. Di negara pusat Agama Buddha itu Tiong Lee mempelajari Agama Buddha secara mendalam. Di samping itu dia juga mempelajari tentang ilmu Yoga dan pembangkitan kekuatan sakti dalam tubuh yang disebut Kundalini Yoga. Dari pertapa-pertapa Hindu yang mempunyai kesaktian luar biasa, dia juga banyak mempelajari ilmu sihir bersih yang bertentangan dengan ilmu sihir hitam, yang biasanya dipergunakan untuk melakukan kejahatan.

Meski pun dia sudah menjadi seorang ahli dalam Agama Buddha, namun Tiong Lee tidak mencukur rambutnya, tidak menjadi hwesio (bhikkhu). Hanya pakaiannya saja sederhana seperti pakaian para pendeta. Rambutnya digelung dan diikat dengan pita kuning.

Karena ke mana pun dia pergi, dia mengajarkan tentang kehidupan yang benar dan baik, maka selanjutnya, setelah berusia lima puluh tahun, dia mendapat sebutan Tiong Lee Cin-jin. Sesudah berusia lima puluh tahun dan sudah dua puluh lima tahun merantau ke India dan Tibet, akhirnya Tiong Lee Cin-jin melakukan perjalanan ke timur untuk pulang ke Cina. Dia membawa banyak kitab-kitab suci, baik dari Agama Buddha mau pun Agama Hindu, dengan maksud untuk dibawa pulang ke negerinya lantas diterjemahkannya supaya dapat dipelajari oleh banyak orang di negerinya.

Pada suatu hari perjalanannya dari dunia barat sampai di pegunungan Mao-mao. Karena tertarik oleh keindahan gunung itu, dia pun mendaki sampai ke puncak lalu tinggal di sana selama satu malam. Pagi itu dia menuruni puncak dan menikmati keindahan alam. Dalam pesona kebesaran alam seperti itu, dia segera teringat akan kalimat bijaksana yang sukar sekali dimengerti akan tetapi mudah dirasakan dalam keadaan seperti keadaannya pada saat itu. Kalimat itu berbunyi: ‘Tidak memiliki apa pun berarti memiliki segalanya!

Kata memiliki yang pertama bermakna kemelekatan terhadap sesuatu yang dipunyai, dan kemelekatan kepada sesuatu, baik sesuatu itu berupa orang, barang atau pun nama dan kedudukan, pasti akan mendatangkan sengsara kehilangan. Ada pun kata memiliki yang kedua berarti manunggal, bersatu dengan segalanya.

Kita dapat menikmati merdunya kicau burung di pohon dan indah harumnya bunga tanpa takut kehilangan. Akan tetapi sekali kita memiliki burung itu dan mengurungnya di dalam sangkar, atau memiliki tanaman bunga itu dan mengelilinginya dengan pagar, maka suatu saat kita akan menderita kalau burung itu hilang atau bunga itu dipetik orang.


Tiong Lee Cin-jin tersenyum dan menundukkan mukanya seolah menghitung langkahnya satu-satu.

Mempunyai tetapi tidak memiliki, itulah seninya kehidupan. Mempunyai hanya secara lahir saja. Batin tidak memiliki dan tidak melekat sehingga tak akan merasa takut atau duka kalau kehilangan apa yang dipunyainya. Hanya Yang Maha Kuasa saja yang berwenang memiliki segala apa yang ada. Kita tidak memiliki apa-apa. Semua yang ada pada kita hanya pinjaman belaka. Bahkan badan ini pun bukan milik kita. Kita tak kuasa atasnya. Bahkan kita tidak kuasa untuk menghentikan tumbuhnya kuku atau sehelai rambut.

ADA yang menumbuhkan. Itulah Tao. Itulah kekuasaan Tuhan yang tak pernah berhenti bekerja walau sedetik pun.


Tiba-tiba, entah dari mana datangnya, tampak dua bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di hadapan Tiong Lee Cin-jin sudah berdiri dua orang pria tua. Kemunculan mereka yang seperti pandai menghilang atau terbang itu menyadarkan Tiong Lee Cin-jin bahwa dia berhadapan dengan dua orang yang memiliki ilmu kesaktian tinggi. Melihat dua orang itu, dia memandang penuh perhatian.

Orang pertama adalah seorang laki-laki yang usianya tentu telah enam puluh tahun lebih. Kumisnya yang putih itu pendek saja, tetapi jenggotnya yang juga sudah putih itu tumbuh dari bawah telinga kiri sampai ke bawah telinga kanan, lebat sekali. Rambut serta alisnya yang tebal juga sudah putih semua. Namun kulit mukanya yang banyak kerutan itu masih nampak kemerahan dan segar.

Dia mengenakan sebuah topi dari bulu binatang yang bentuknya seperti peci sederhana. Dari potongan baju serta celananya yang juga sederhana, Tiong Lee Cin-jin yang sudah banyak pengalaman itu tahu bahwa pria itu adalah seorang bersuku bangsa Uigur.

Orang kedua adalah seorang laki-laki yang lebih tua lagi. Usianya tentu sekitar tujuh puluh tahun kalau dilihat dari mukanya yang penuh keriput. Matanya sipit, kumisnya tipis saja, akan tetapi jenggotnya lebih tebal dari pada jenggot orang pertama, dan berwarna kelabu. Kepalanya memakai kain kepala berwarna putih yang dibelitkan seperti sorban.

Dilihat dari cara dia berpakaian Tiong Lee Cin-jin menduga bahwa kakek kedua ini tentu bersuku bangsa Hui yang sesungguhnya adalah bangsa Han juga, akan tetapi yang sudah berabad-abad tinggal di Mongolia Dalam. Kalau dilihat dari sorban pada kepalanya, dapat diduga bahwa kakek Hui ini beragama Islam. Memang sebagian besar orang bangsa Hui adalah Muslim.

Melihat dua orang yang lebih tua darinya dan mereka berdua agaknya memang sengaja menghadang di hadapannya, Tiong Lee Cin-jin cepat memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, lalu membungkuk dan berkata dalam bahasa Han dengan ramah sambil tersenyum.

"Selamat bertemu, saudara tua yang baik! Semoga Yang Maha Kuasa selalu memberkahi kalian berdua."

Kakek suku bangsa Uigur itu terkekeh. Tongkatnya yang kiranya adalah seekor ular cobra yang dikeringkan itu digerak-gerakkan ke atas, lalu dia pun menjawab, "Selamat bertemu, sobat!" katanya dalam bahasa Han.

Hampir bersamaan, kakek suku bangsa Hui memukul-mukulkan tongkatnya yang terbuat dari semacam bambu yang disebut Bambu Sislk Naga ke atas tanah lalu berkata lantang. "Mualaikum salam, semoga Allah memberkahi anda! Bukankah anda yang bernama Tiong Lee Cin-jin?" kata pula kakek suku bangsa Hui itu dengan bahasa Han yang lancar pula.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum. Dia tidak merasa heran jika kedua orang ini sudah mengenal namanya, Bagi dia, di dunia ini tidak ada yang aneh karena segala sesuatu itu pasti ada alasan dan sebabnya. "Benar sekali, saya adalah Tiong Lee Cin-jin. Sebaliknya, siapakah ji-wi (anda berdua), datang dari mana hendak ke mana?"

"Aku bernama Ouw Kan datang dari Sin-kiang barat," kakek suku Uigur yang memegang tongkat ular berkata.

"Dan aku adalah Ali Ahmed dari pedalaman Mongol. Kami berdua sengaja datang hendak bertemu denganmu, Tiong Lee Cin-jin. Kami mendengar bahwa engkau baru saja pulang dari India dan akan lewat di daerah ini, maka kami sengaja datang menghadangmu," kata kakek suku Hui.

Kembali Tiong Lee Cin-jin memberi hormat dengan merangkap dua tangan di depan dada, lalu berkata sambil tersenyum. "Sungguh merupakan penghormatan besar sekali bagiku. Setelah sekarang kita saling berjumpa di sini, apakah kiranya yang dapat saya bantu dan lakukan untuk ji-wi?"

"Heh-heh-heh, bagus sekali. Kiranya nama besar Tiong Lee Cin-jin sebagai seorang yang baik hati dan pemurah bukanlah kabar kosong belaka!" kata Ouw Kan sambil menggerak-gerakkan tongkat ular cobranya.

"Anda memang dapat membantu kami, Tiong Lee Cin-jin, yaitu serahkan dan tinggalkan buntalan yang kau gendong itu untuk kami."

Tiong Lee Cin-jin mengerutkan alisnya. "Sahabat berdua, isi buntalan ini hanya beberapa potong pakaian pengganti dan kitab-kitab yang saya bawa dari India. Kalau ji-wi memang menghendaki, silakan mengambil pakaian berikut sedikit bekal uang emas yang berada di buntalan ini, kemudian membiarkan saya melanjutkan perjalanan saya." Suaranya masih tetap lembut dan ramah karena baginya, tidak menjadi masalah apa bila harus kehilangan pakaian dan uang emas.

"Heh, Tiong Lee Cin-jin! Jangan kau bicara seenaknya saja! Apa kau kira kami berdua ini hanya sebangsa perampok hina?!" bentak Ouw Kan marah sambil menudingkan tongkat ular cobranya ke arah dada Tiong Lee Cin-jin.

"Lalu apa yang kau kehendaki, saudara Ouw Kan?" tanya Tiong Lee Cin-jin.

"Tiong Lee Cin-jin, kami tidak menginginkan harta benda milikmu. Haram bagi kami untuk mengambil harta orang lain. Kami hanya menghendaki agar engkau meninggalkan kitab-kitab itu kepada kami!" kata Ali Ahmed sambil menunjukkan telunjuknya ke arah buntalan yang berada di punggung Tiong Lee Cin-jin.

"Aneh sekali permintaanmu itu, Saudara Ali Ahmed. Kitab-kitab yang kubawa dari India ini adalah kitab-kitab Agama Buddha dan Hindu, sedangkari engkau adalah seorang Muslim. Apa gunanya kitab-kitab ini bagimu?" tanya Tiong Lee Cin-jin.

"Kami bukan ingin mempelajari agama, akan tetapi kami tahu bahwa di antara kitab suci yang kau bawa itu banyak yang mengandung pelajaran tentang ilmu silat tinggi dan itmu sihir. Bahkan ada sebuah kitab peninggalan Sang Budhi Dharma mengenai pelajaran silat yang sakti. Aku sangat membutuhkan kitab itu," kata Ouw Kan garang.

“Menurut surat wasiat Tat Mo Couwsu (Boddhi Dharma), kitab peninggalan guru besar itu diperuntukkan bagi biara Siauw-lim di Gunung Sung-san. Para hwesio Siauw-lim-pai yang berhak atas kitab itu, maka aku harus menyerahkannya kepada mereka. Amat tidak baik mengambil hak milik orang lain."

"Tidak peduli. Tinggalkan buntalan itu!" bentak Ouw Kan dan Ali Ahmed berbareng.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum sambil menarik napas panjang. Kemudian dengan perlahan-lahan dia melepaskan ujung kain buntalan yang diikatkan di depan dadanya, melepaskan gendongannya. Akhirnya buntalan itu diletakkan di atas tanah di depannya.

Melihat ini, dua orang itu lantas berpencar, melangkah maju menghampiri dari kanan kiri. Tiba-tiba Ali Ahmed menudingkan tongkat bambunya ke arah buntalan kain kuning sambil berseru, "Terbanglah ke sini!"

Tiba-tiba buntalan kain kuning itu melayang ke atas seperti ada tangan tak tampak yang mengangkatnya. Buntalan itu melayang perlahan ke arah Ali Ahmed.

Pada saat itu Ouw Kan juga mengangkat tongkat ular cobranya sambil berteriak, "Kembali kepadaku!" Tongkatnya ditudingkan ke arah buntalan yang sedang melayang ke arah Ali Ahmed dan tiba-tiba saja buntalan itu beralih arah, kini melayang ke arah Ouw Kan.

Ali Ahmed mengeluarkan suara menggeram. Tongkat bambu pada tangan kanannya tetap menuding ke arah buntalan dan kini tongkat itu bergetar keras.

"Ke sini!" bentaknya. Dan buntalan kain kuning ini kembali beralih arah, membalik ke arah kakek bersuku bangsa Hui itu.

"Ke sini!" bentak Ouw Kan dan tongkat ular cobranya juga tergetar hebat.

Sekarang buntalan itu bergerak ke kanan dan kiri seolah-olah terbetot oleh dua kekuatan dahsyat yang memperebutkannya. Tiong Lee Cin-jin yang menonton adu kekuatan sihir ini tersenyum.

"Sungguh sayang sekali!" katanya lirih namun suaranya mengandung kekuatan sehingga dapat terdengar jelas oleh dua orang yang sedang memperebutkan buntalan kain kuning dengan mengadu tenaga sihir itu. "Kalian berdua telah bersusah payah membuang waktu bertahun-tahun untuk menghimpun tenaga sakti. Namun ternyata hari ini tenaga sakti itu hanya kalian pergunakan untuk menuruti nafsu setan! Tidak sadarkah kalian bahwa begitu kalian menuruti keinginan, berarti kalian telah membiarkan diri sendiri dicengkeram nafsu setan dan akan menjadi permainannya? Sadarlah, wahai dua orang saudaraku, sebelum terlambat terjebak bujukan iblis yang akan menyeret kalian ke dalam kesengsaraan dan dosa!"

Mendengar ucapan Tiong Lee Cin-jin, kedua orang itu segera melepaskan buntalan yang mereka perebutkan sehingga buntalan itu meluncur ke bawah lantas jatuh ke atas tanah di depan Tiong Lee Cin-jin yang sudah duduk bersila di atas rumput.

"Tiong Lee Cin-jin, kata-katamu sangat menyesatkan. Aku ingin mendapatkan kitab-kitab agar bisa menemukan cara menyempurnakan diri mencapai penerangan dan kebahagiaan sejati!" kata Ouw Kan.

"Aku juga ingin mendapatkan ilmu agar kelak aku dapat masuk sorga!" kata Ali Ahmed.

"Aihh…, saudara-saudaraku yang baik! Insyaflah akan kesesatan kalian. Sadarilah bahwa semua pelajaran dalam agama apa pun juga pada dasarnya sama, yaitu membiarkan jiwa yang rindu kepada sumbernya seperti air rindu kepada samudera, melalui pikiran, ucapan dan perbuatan yang baik dan benar, yang sifatnya menjaga tidak merusak, membangun tidak meruntuhkan, membahagiakan tanpa menyengsarakan sesama hidup. Setiap saat kita mempersiapkan diri untuk menjadi alat yang membantu pekerjaan Yang Maha Kuasa pencipta alam semesta serta semua isinya. Bagaimana kita dapat melaksanakan semua ini? Melalui hati akal pikiran? Tidak mungkin. Hati akal pikiran telah dijadikan sarang nafsu setan yang selalu ingin mendapat sesuatu, apakah itu harta, atau nama besar, atau yang disebut kesempurnaan, sorga dan sebagainya lagi, semua itu sama saja. Yang diinginkan oleh hati akal pikiran itu adalah yang diinginkan nafsu setan, yaitu kesenangan! Baik itu disebut kesempurnaan atau kebahagiaan atau sorga, kalau sudah diinginkan, dicari, maka semua itu tiada lain hanyalah kesenangan saja. Kita membayangkan kesenangan dalam sorga atau kesempurnaan itu. Kesenangan itulah yang menarik kita supaya mengejar dan memperolehnya dan ini merupakan keinginan nafsu daya rendah. Menuruti keinginan nafsu daya rendah ini akan menyeret kita ke dalam kesesatan karena demi mencapai apa yang kita inginkan kita akan melakukan apa pun juga tanpa mempertimbangkan apakah cara yang kita pakai itu baik atau sesat."

"Heh-heh-heh, Tiong Lee Cin-jin, pendapatmu itu justru malah menyesatkan! Apa bila kita tidak menggunakan hati akal pikiran, mengisinya dengan pengertian, bagaimana mungkin kita dapat membedakan antara yang benar dan yang salah? Tanpa pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk, bagaimana kita akan mampu melawan daya pengaruh nafsu?" kata Ouw Kan.

"Hati akal pikiran memang merupakan anugerah khusus bagi manusia, karena tanpa itu klta akan hidup tiada bedanya dengan hewan. Hati akal pikiran memang perlu digunakan untuk menimba ilmu pengetahuan melalui pengalaman serta pelajaran, karena kehidupan manusia di dunia ini secara lahiriah membutuhkan ilmu pengetahuan. Akan tetapi bila ilmu pengetahuan atau kalau hati akal pikiran kita pergunakan untuk melawan daya pengaruh nafsu, kita akan kecelik! Coba kumpulkan semua maling di dunia ini lalu tanyalah, apakah ada seorang saja di antara mereka yang tidak tahu atau tidak mengerti bahwa perbuatan mencuri itu adalah perbuatan jahat dan tidak baik? Semua, tak terkecuali, tentu mengerti melalui hati akal dan pikirannya. Akan tetapi pengetahuan dan pengertian melalui hati akal pikiran itu tidak dapat menghentikan perbuatan mencuri itu! Malah sebaliknya. Hati akal pikiran yang sudah menjadi sarang bagi nafsu daya rendah itu bahkan menjadi pembela perbuatan mencuri itu dengan membisikkan berbagai alasan. Aku terpaksa melakukan ini, demi keluargaku, orang lain juga melakukan malah lebih besar dari pada aku. Demikianlah hati akal pikiran membisiki sehingga semua maling tidak merasa menyesal, tidak bertobat malah semakin menjadi-jadi."

"Hemm, agaknya engkau sama sekali tak mau memberi kesempatan kepada orang yang berbuat dosa untuk bertobat. Kalau begitu, apa yang harus dilakukan manusia agar tidak melakukan kesesatan?" Ouw Kan mengejar.

“Segala macam usaha untuk mengubah masih dalam lingkungan hati akal pikiran, masih di dalam lingkaran kekuasaan nafsu daya rendah yang selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik! Pamrih-pamrih ini yang menjebak kita sehingga terjadilah lingkaran setan. Ingin lebih baik, ingin lebih menyenangkan, ingin ini ingin itu yang akhirnya menyeret kita ke dalam kesesatan-kesesatan baru yang lain lagi. Semua usaha hati akal pikiran seperti itu tidak ada yang akan berhasil. Hanya ada satu kekuatan saja yang mampu menundukkan nafsu daya rendah. Kekuatan itu tidak lain adalah Kekuasaan Yang Maha Kasih. Dengan kekuasaan inilah kita akan bisa menaklukkan natsu setan yang bagaimana licik dan jahat pun! Kekuasaan ini akan memberi kekuatan kepada kita, akan menuntun kita. Kekuatan ini muncul kalau kita mau menyerah secara mutlak kepada Yang Maha Kuasa. Kalau hati sanubari kita kosong dan terbuka, kekuasaan mutlak itu akan masuk membangkitkan jiwa kita, memberi kita kekuatan sehingga nafsu-nafsu daya rendah akan kembali menduduki tugasnya semula, yaitu menjadi pelayan kita, menjadi hamba kita, bukan menjadi majikan kita."

"Semua uraianmu terdengar muluk-muluk dan indah. Akan tetapi aku merasa tidak setuju apa bila engkau menyebutkan bahwa mencari sorga sama dengan mencari harta. Semua orang, dari agama apa-pun juga, merindukan sorga. Kenapa engkau berani merendahkan sorga sedemikian rupa sehingga kau samakan dengan harta benda?" Ali Ahmed bertanya sambil mengerutkan alisnya yang tebal.

"Saudaraku yang baik. Sorga atau harta benda memang tidak ada bedanya jika keduanya itu dibayangkan sebagai sesuatu yang akan mendatangkan kesenangan lalu dikejar-kejar. Yang menginginkan kesenangan dan mengejar-ngejarnya adalah nafsu daya rendah. Sifat nafsu itu memang demikian, mencari kesenangan. Coba kita bertanya kepada diri sendiri. Andai kata sorga dibayangkan sebagai suatu tempat yang tidak enak, tak menyenangkan bahkan menyakitkan, apakah kita masih akan mengejarnya? Kurasa takkan ada seorang pun manusia yang akan mengejarnya! Apa bila kita membayangkan kesenangan, apa pun bentuknya, jelas bahwa itu merupakan ulah nafsu duniawi dan kedagingan, karena segala macam bentuk kesenangan adalah bentuk keenakan yang dapat dirasakan jasmani selagi berada di dunia. Dan selama ada kesenangan, di situ pasti ada pula kesusahan, saudara kembarnya yang tidak terpisahkan."

"Wah, Tiong Lee Cin-jin sengaja banyak berbicara untuk mengalihkan perhatian kita dari buntalan kitab-kitab itu, Ali Ahmed. Jangan dengarkan dia lagi!" kata Ouw Kan marah dan dia sudah bersiap dengan tongkat ular cobranya.

Ali Ahmed juga melompat ke belakang dan mengerutkan alisnya. "Benar, bahkan dia ingin mempengaruhi kita dengan ajaran-ajaran sesat! Tiong Lee Cin-jin kau serahkan atau tidak kitab-kitab itu? Ataukah kami harus mempergunakan kekerasan?" Orang bersuku bangsa Hui itu mengancam dengan tongkat bambunya yang diacungkan ke atas.

Tiong Lee Cin-jin yang masih duduk bersila itu tersenyum, kemudian melambaikan tangan kanannya ke arah buntalan yang tergeletak di atas tanah di depannya. "Sudah sejak tadi kulepaskan dari gendongan. Di antara kalian berdua, entah siapa yang berjodoh memiliki kitab-kitab itu."

"Aku yang berjodoh!" tiba-tiba Ouw Kan berseru.

Dia menggerakkan tangan kanan yang memegang tongkat ular cobra. Dengan tongkatnya itu dia hendak mengambil buntalan kitab. Akan tetapi tongkat bambu di tangan Ali Ahmed juga meluncur lantas menangkis tongkat ular cobra.

"Tidak, akulah yang berjodoh!" Orang Hui itu berseru.

"Trakkk!"

Tongkat mereka bertemu dan sungguh hebat sekali. Ketika tongkat ular cobra kering dan tongkat bambu itu saling bertemu, terdengar suara nyaring dan tampak bunga api berpijar seakan-akan yang bertemu itu adalah dua benda yang terbuat dari pada baja murni. Dari kenyataan ini saja sudah dapat diketahui bahwa kedua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kesaktian.

Ouw Kan lalu menyerang dengan gerakan silat yang nampak aneh bagi Tiong Lee Cin-jin. Gerakan Ouw Kan yang bertubuh sedang dan tegap ini meliuk-liuk seperti gerakan seekor ular, cocok sekali dengan senjatanya, yaitu sebatang tongkat ular cobra kering. Hebatnya, gerakannya yang cepat dengan serangan yang tidak terduga-duga datangnya itu diselingi dengan suara mendesis-desis yang keluar dari mulutnya yang diruncingkan, persis seekor ular yang menyemburkan uap beracun.

Tapi lawannya, Ali Ahmed, ternyata juga memiliki gerakan silat yang hebat. Gerakan dua kakinya jelas dipengaruhi oleh ilmu Siauw-lim-pai Utara. Tongkat bambunya menyambar-nyambar, diselingi tendangan silih berganti dari kedua kakinya yang tak kalah bahayanya bagi lawan dibanding tongkatnya. Mereka bergerak cepat dan tangkas, tongkat ular cobra dan tongkat bambu itu lenyap bentuknya berubah menjadi gulungan sinar hitam dan hijau. Hanya kadang-kadang kedua sinar itu bertemu kemudian meledaklah bunga api berpljar menyilaukan mata.

Tiong Lee Cin-jin masih tetap duduk bersila. Buntalan kain kuning yang kini diperebutkan orang itu masih terletak di atas tanah, di depannya. Sejak tadi Tiong Lee Cin-jin menonton pertandingan itu dan diam-diam dia harus mengakui bahwa tingkat kepandaian silat kedua orang itu sudah tinggi. Pantasnya mereka adalah datuk-datuk persilatan di daerah mereka sendiri.

Dia tidak merasa heran kalau ada orang-orang dunia persilatan yang mengetahui bahwa dia pulang ke Cina membawa kitab-kitab pusaka. Orang-orang dunia persilatan itu selalu haus akan pusaka-pusaka yang sekiranya dapat membuat mereka menjadi semakin lihai, seperti senjata-senjata ampuh atau kitab-kitab pelajaran ilmu yang tinggi.

Perkelahian antara Ouw Kan dan Ali Ahmed menjadi semakin seru. Kini keduanya tidak hanya mengandalkan ilmu silat untuk saling serang, namun juga menggunakan ilmu sihir. Ketika Ouw Kan mengeluarkan teriakan aneh, dari mulut ular cobra kering yang menjadi tongkatnya itu menyambar uap hitam yang berbau amis ke arah lawan!

Ali Ahmed tidak menjadi gugup. Dengan tangan kiri terbuka dia mendorong ke depan dan keluarlah uap putih dari telapak tangannya yang menyambut uap hitam. Kedua kakek itu terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung. Akan tetapi mereka sudah cepat mengatur keseimbangan tubuh mereka kembali dan telah siap untuk saling gempur lagi melanjutkan pertandingan tadi.

Akan tetapi keduanya tersentak kaget ketika tiba-tiba saja terdengar suara tawa bergelak yang datangnya seakan dari atas kepala mereka. Suara tawa bergelak itu datang secara bergelombang, makin lama semakin kuat mengandung daya serangan yang sangat kuat menerobos telinga mereka dan menjalar ke arah jantung!

Dua orang kakek itu kini berdiri bersedakap sambil memejamkan kedua mata mereka dan mengerahkan seluruh tenaga sakti untuk melindungi diri mereka dari serangan suara tawa yang sangat kuat itu. Suara tawa seperti itu yang mengandung tenaga khikang yang amat kuat, dapat merusak jantung atau setidaknya akan dapat mengacaukan jaringan syaraf di otak sehingga dapat membuat orang menjadi gila.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner