KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-02


Tiong Lee Cin-jin juga merasakan kehebatan pengaruh suara tawa itu. Tapi dengan wajah tetap sabar dan tenang, dengan bibir masih tersungging senyum lembut, dia memejamkan kedua matanya dan tenggelam ke dalam alam semesta. Suara tawa itu sama sekali tidak mengganggunya karena dia seolah telah bersatu dengan suara itu, hanyut bersama suara itu, sedikit pun tidak menentang sehingga suara itu sama sekali tidak mengganggu malah dia dapat merasakan keindahan dalam suara tawa yang bergelak-gelak dan bergema itu.

Inilah keadaan yang disebut ‘melebur dan membaur dengan segala’ sehingga tidak terjadi pertentangan, bagai sebatang pohon liu (cemara) yang tidak menentang datangnya badai sehingga meliuk-liuk menurutkan dorongan angin dan sama sekali tidak patah dahannya, tidak rontok daunnya dan tetap utuh sampai badai berlalu. Tidak seperti pohon siong yang kokoh menyambut badai dengan mengandalkan kekuatannya, tapi akhirnya tumbang dan roboh oleh hantaman badai yang jauh lebih kuat dari pada dirinya!

Tidak lama kemudian muncullah seorang kakek lain. Kemunculannya sangat aneh. Mula-mula nampak asap putih bergulung-gulung, kemudian barulah kakek itu nampak sesudah asap membubung dan menghilang.

Dia seorang kakek yang berusia kurang lebih enam puluh tahun. Jubahnya seperti jubah seorang hwesio, dari kain kuning berkotak-kotak merah. Kepalanya memakai sebuah peci kuning pula, menutupi kepalanya yang gundul.

Tubuhnya tinggi besar, perutnya gendut dan kancing jubahnya pada bagian dada terbuka hingga tampak dadanya yang gempal dan bidang, juga rambut hitam keriting yang tumbuh di atas ulu hatinya. Kepala gundul yang tertutup peci kuning itu besar dan bulat. Mukanya bundar dan segala anggota tubuh pendeta ini serba bundar. Sepasang matanya lebar dan bulat, hidungnya juga besar, demikian pula mulutnya, lebar dan selalu menyeringai. Kedua daun telinganya panjang dah lebar.

Begitu melihat pakaian kuning berkotak-kotak merah dan tongkat panjang berkepala naga itu, Tiong Lee Cin-jin tahu bahwa pendeta itu adalah seorang pendeta Lama dari Tibet.

Setelah memperlihatkan diri, pendeta itu berdiri tegak, tangan kirinya memegang tongkat berkepala naga yang tingginya sama dengan tinggi tubuhnya. Dia masih tertawa bergelak, akan tetapi sekarang tawanya wajar, tidak lagi mengandung khikang yang memiliki daya serang dahsyat seperti tadi.

”Hua-ha-ha-ha, kiranya di sini ada dua ekor anjing dari Sin-kiang dan Mongol yang saling berebutan tulang! Kalian ini orang Uigur dan Hui, bukan?"

"Setan jahanam!" Ali Ahmed menggeram marah karena dikatakan anjing oleh pendeta itu. "Memang benar aku datang dari Mongolia Dalam, namaku Ali Ahmed. Siapakah engkau, manusia sombong?"

"Dan aku adalah Ouw Kan dari Sin-kiang. Engkau pendeta Lama ini harap jangan turut campur dengan urusan kami," bentak Ouw Kan.

"Ha-ha-ha, aku Jit Kong Lama memang suka mencampuri urusan orang lain kalau urusan itu menyangkut diriku. Kalian ketahuilah, kitab-kitab dari Barat itu hanya aku yang berhak memiliki dan tidak boleh diambil oleh siapa pun juga, maka lebih baik kalian berdua cepat mengelinding pergi dari sini sebelum kepala kalian yang menggelinding terpisah dari tubuh kalian!" kata pendeta yang bernama Jit Kong Lama itu. Namanya sungguh besar karena Jit Kong berarti Sinar Matahari.

Ouw Kan dan Ali Ahmed yang tadi saling serang itu menjadi marah sekali. Mereka untuk sementara melupakan permusuhan di antara mereka dan bagaikan mendapat komando, keduanya membanting tongkat mereka ke atas tanah. Terdengar dua kali ledakan, diikuti asap mengepul, kemudian dua tongkat itu lenyap dan berubah menjadi dua ekor binatang yang menyeramkan.

Tongkat ular cobra milik Ouw Kan sekarang sudah menjadi seekor ular cobra yang sangat besar dan panjang, yang mengangkat kepala dan lehernya ke atas sehingga berdiri tegak, moncongnya agak terbuka, mendesis-desis dan ada uap hitam yang tersembur keluar dari moncongnya, lidahnya keluar masuk dan sepasang matanya seperti berapi. Ular cobra ini bergerak maju hendak menyerang Jit Kong Lama.

Ada pun tongkat bambu milik Ali Ahmed berubah menjadi seekor kelabang yang besarnya hampir sama ular cobra itu. Kulitnya berwarna merah darah, kakinya yang sangat banyak itu bergerak-gerak, sungutnya meraba-raba dan moncongnya juga siap untuk menggigit. Kaki yang sangat banyak itu bergerak-gerak membawa tubuh yang besar itu maju dengan cepat ke arah Jit Kong Lama.

Melihat kedua orang lawannya menyihir tongkat mereka menjadi ular dan kelabang yang akan menyerangnya, Jit Kong Lama hanya menyeringai dan memandang rendah.

"Ha-ha-ha, permainan kanak-kanak seperti itu kalian pamerkan kepadaku?" katanya dan sekali dia melempar tongkat kepala naga itu ke atas, tampak asap mengepul lalu tongkat itu sudah berubah menjadi seekor burung rajawali besar.

Dengan ganas dan buasnya burung itu sudah menyambar ke bawah lalu menyerang ular cobra dan kelabang itu dengan patuk dan cakarnya. Ular cobra dan kelabang itu melawan mati-matian, akan tetapi segera mereka menjadi kewalahan sekali karena burung rajawali itu menyambar-nyambar dari angkasa sehingga sukar bagi mereka untuk menyerangnya, sebaliknya burung itu dapat menyerang kedua lawannya dengan leluasa dari atas.

Tiong Lee Cin-jin tahu siapa Jit Kong Lama itu. Ketika dia meninggalkan daerah barat dan kembali ke Cina, dia sempat singgah di Tibet lantas mengadakan pertemuan dengan para pendeta Lama, bahkan selama satu jam dia diberi kesempatan untuk menghadap kepada Dalai Lama. Dari para tokoh pendeta Lama di Tibet, dia mendengar bahwa ada beberapa orang pendeta Lama Tibet yang melakukan penyelewengan, mengumpulkan harta benda dari rakyat untuk kepentingan pribadi dan melakukan pelanggaran pantangan berdekatan dengan wanita. Jit Kong Lama ini merupakan salah seorang di antara para pendeta Lama yang melakukan penyelewengan itu, bahkan dia adalah seorang tokoh besarnya.

Sesudah beberapa saat melihat adu kekuatan sihir antara pendeta Lama melawan kedua datuk dari suku bangsa Uigur dan Hui itu, maka Tiong Lee Cin-jin segera tahu bahwa Jit Kong Lama jauh lebih kuat dari pada dua orang lawannya.

Dugaannya ini memang benar. Ketika Ouw Kan dan Ali Ahmed melihat ular dan kelabang jadi-jadian milik mereka menjadi kewalahan menghadapi serangan gencar burung rajawali, keduanya lalu mengangkat tangan kanan ke atas dan mengerahkan tenaga sihir mereka. Ular dan kelabang itu mendadak terbang ke belakang dan sesudah tiba di tangan mereka, berubah kembali menjadi tongkat ular cobra dan tongkat bambu yang sudah lecet-lecet.

Sambil tertawa Jit Kong Lama juga memanggil burung rajawali jadi-jadian itu. Burung itu terbang ke tangannya lantas berubah pula menjadi tongkat panjang berkepala naga.

"Kalian masih juga belum minggat dari sini?" tegurnya dengan nada memandang rendah kepada dua orang lawannya itu.

Akan tetapi Ouw Kan dan Ali Ahmed adalah dua orang yang di daerah tempat tinggalnya dikenal sebagai datuk-datuk yang sulit dicari tandingannya, maka tentu saja mereka tidak mudah menyerah kalah. Meski pun dalam adu kekuatan sihir tadi mereka harus mengakui keunggulan Lama dari Tibet itu, namun mereka masih belum mau mundur.

Setelah saling bertukar pandang, seperti sedang menyatukan keinginan untuk menandingi pendeta Lama yang hendak menghalangi mereka memiliki kitab-kitab pusaka, dua orang datuk itu serentak bergerak maju, dengan cepat sekali mereka menerjang dan menyerang Jit Kong Lama. Serangan mereka ini bukan sekedar serangan dengan menggunakan ilmu silat saja, namun serangan yang diperkuat pula dengan ilmu sihir. Tubuh mereka lenyap, hanya tongkat ular cobra dan tongkat bambu itu saja yang tampak menyerang dan seperti terbang meluncur ke arah tubuh Jit Kong Lama!

Akan tetapi pendeta dari Tibet itu tak menjadi gentar. Dia sendiri adalah seorang ahli silat sekaligus ahli sihir yang sudah mencapai tingkat tinggi, maka dia pun mengeluarkan suara membaca mantera lantas tiba-tiba tubuhnya juga lenyap dan yang tampak hanya tongkat panjang berkepala naga yang bergerak cepat menyambut serangan dua batang tongkat yang mengeroyoknya itu.

Kalau saja di situ terdapat orang biasa yang menyaksikan pertandingan itu, tentu dia akan bengong terlongong saking herannya melihat ada dua batang tongkat pendek ‘berkelahi’ mengeroyok sebatang tongkat panjang! Tapi Tiong Lee Cin-jin adalah seorang yang telah mendapat gemblengan bermacam ilmu selama dua puluh lima tahun merantau ke daerah barat, yaitu ke daerah Bhutan, India, Nepal, Tibet, ditambah bertahun-tahun merantau ke daerah Himalaya dan bertemu dengan banyak pertapa-pertapa sakti, mempelajari banyak macam ilmu. Karena itu, biar pun tiga orang itu menggunakan ilmu sihir dan menghilang, dia masih dapat melihat mereka ketika mereka bertanding menggunakan tongkat mereka. Dengan jelas dia dapat melihat pertandingan itu.

Ouw Kan dan Ali Ahmed memainkan tongkat pendek mereka bagaikan seorang bermain pedang, sementara itu Jit Kong Lama memainkan tongkatnya yang panjang seperti orang bermain silai tongkat dengan kedua tangan. Pertandingan itu seru dan dahsyat sekali.

Ternyata ketiganya merupakan ahli-ahli silat tingkat tinggi, terutama sekali Jit Kong Lama, ilmu silatnya dahsyat sekali. Ketika dengan kedua tangan dia memainkan tongkat kepala naganya, dia tiada ubahnya bagaikan seekor naga yang melayang-layang. Setiap gerakan tongkatnya mendatangkan angin yang menyambar kuat!

Dua orang yang mengeroyok itu juga mempunyai ilmu silat yang tinggi. Gerakan mereka lincah dan tangkas, serangan mereka cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat. Akan tetapi setiap kali tongkat ular cobra atau tongkat bambu itu bertemu dengan tongkat panjang berkepala naga, dua tongkat yang lebih pendek itu langsung terpental keras.

Tiong Lee Cin-jin mengikuti jalannya pertandingan dengan penuh perhatian.

Lambat laun kedua orang pengeroyok itu mulai terdesak hebat. Sekarang tiga tongkat itu pun telah lenyap bentuknya. Yang tampak hanya dua gulungan sinar pendek mengeroyok segulung sinar panjang.

Namun tentu saja pandang mata Tiong Lee Cin-jin yang tajam terlatih itu dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan baik. Suatu saat dia melihat tongkat ular cobra menyambar dengan tusukan atau totokan ke arah leher Jit Kong Lama. Tusukan itu berbahaya sekali karena ujung tongkat yang menyerupai mulut ular cobra yang terpentang itu mengandung racun ular cobra yang amat ampuh. Jika tergores sedikit saja maka racun akan memasuki tubuh lewat luka goresan dan apa bila racun telah mencapai jantung, maka matilah orang itu!

Pada detik-detik berikutnya tongkat bambu di tangan Ali Ahmed juga sudah menyambar dan melakukan totokan ke arah jalan darah di lambung Jit Kong Lama! Ini pun merupakan serangan maut, karena apa bila jalan darah itu sampai terkena totokan tongkat yang dialiri sinkang (tenaga sakti) itu maka pendeta Lama itu tentu akan roboh dan tewas seketika.

Tiong Lee Cin-jin maklum betapa pendeta Lama itu sedang berada dalam ancaman maut. Akan tetapi pendeta gendut itu masih menyeringai. Tiba-tiba saja, secara tak terduga dan cepat sekali, tangan kirinya menangkap ujung tongkat ular cobra sedangkan kaki kirinya mencuat dalam tendangan kilat ke arah lengan tangan kanan Ouw Kan yang memegang tongkat.


Begitu cepatnya tendangan itu sehingga terpaksa Ouw Kan menarik tangannya dan pada saat itu pula Jit Kong Lama mengerahkan tenaga membetot tongkat ular cobra sehingga terlepas dari pegangan Ouw Kan. Pada saat itu tongkat bambu datang meluncur ke arah lambung. Jit Kong Lama tidak sempat menangkis atau mengelak lagi, tetapi dia sedikit memutar tubuhnya sehingga tongkat yang tadinya meluncur dan menyerang lambung, kini menusuk ke arah perut yang gendut itu!

"Cappp...!"

Tongkat bambu itu menancap pada perut Jit Kong Lama yang gendut. Ali Ahmed segera mengeluarkan seruan gembira karena mengira tongkatnya sudah memasuki perut lawan. Akan tetapi Tiong Lee Cin-jin berpendapat lain.

Jit Kong Lama menyeringai lebar, tangan kirinya melontarkan tongkat ular cobra ke arah Ouw Kan. Tongkat meluncur bagaikan anak panah menyambar, ke arah dada pemiliknya. Ouw Kan terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi tetap saja ujung tongkat menyerempet pundaknya.

"Aduhhh...!" Ouw Kan terhuyung.

Pada saat itu pula Jit Kong Lama berseru nyaring, "Pergilah!"

Tiba-tiba perutnya bergerak mengembung dan tongkat bambu yang masih dipegang oleh Ali Ahmed seperti didorong keras. Tubuh orang suku Hui itu turut terdorong sehingga dia roboh terjengkang. Cepat dia bangkit dan mukanya menjadi pucat sekali, di ujung bibirnya tampak darah sehingga mudah diketahui bahwa Ali Ahmed telah menderita luka dalam.

Sementara itu Ouw Kan segera menelan obat penawar untuk racun tongkat ular cobranya sendiri yang sudah melukai pundak dan meracuninya. Kini dua orang itu maklum, mereka tidak mungkin akan mampu menandingi Jit Kong Lama, maka keduanya tanpa berunding lagi sudah berloncatan jauh meninggalkan lereng itu!

"Ha-ha-ha-ha-ha! Cacing-cacing tanah semacam itu berani menjual lagak hendak memiliki kitab-kitab pusaka yang suci?!” Jit Kong Lama tertawa dan setelah berkata demikian, dia pun memutar tubuhnya lalu menghampiri Tiong Lee Cin-jin. Setelah mengamati pria yang masih duduk bersila itu sesaat lamanya, kemudian dia memandang ke arah buntalan kain kuning di depan orang itu, Jit Kong Lama lalu bertanya, "Engkaukah yang bernama Tiong Lee Cin-jin dan yang telah berhasil mengumpulkan banyak kitab pusaka penting untuk kau bawa ke Tiong-goan (Cina)?"

Perlahan-lahan Tiong Lee Cin-jin bangkit berdiri. mengebutkan bagian bawah kain kuning yang membalut tubuhnya, yang kotor terkena debu, kemudian mengangkat kedua tangan ke depan dada dan menyembah sebagai salam.

"Selamat berjumpa, Jit Kong Lama, semoga Yang Maha Kasih memberkatimu!"

"Hua-ha-ha! Tentu saja Yang Maha Kasih selalu memberkati aku. Buktinya baru saja aku dapat mengalahkan dan mengusir dua orang jahat itu!"

"Bukan, sayang sekali bukan kekuasaan Yang Maha Kasih yang tadi membantumu ketika mengalahkan Ouw Kan dan Ali Ahmed, Jit Kong Lama. Yang membantumu adalah ilmu-ilmumu sendiri, yang didorong oleh nafsu setan yang telah menguasai dirimu," kata Tiong Lee Cin-jin dengan sikap tenang dan suaranya terdengar lembut penuh kesabaran.

Sepasang mata yang besar bulat itu mencorong, alis yang tebal itu berkerut, dua lubang hidung yang lebar itu berkembang kempis. "Apa kau bilang? Apa maksudmu mengatakan bahwa kemenanganku tadi didorong oleh nafsu setan? Jangan seenaknya engkau bicara, Tiong Lee Cin-jin!"

"Tindakan dua orang tadi yang hendak menggunakan kekerasan untuk merampas kitab-kitabku jelas terdorong oleh nafsu setan. Mereka ingin memiliki barang yang sama sekali bukan hak mereka. Lalu engkau muncul dan engkau menentang mereka, bertanding dan mengalahkan mereka. Bukankah perbuatanmu itu juga terdorong nafsu yang sama, yaitu ingin memiliki kitab-kitabku seperti yang kau katakan kepada mereka tadi?"

Jit Kong Lama tertawa bergelak sehingga perutnya yang gendut bergoyang-goyang. "Hua-ha-ha-ha-ha! Engkau keliru, Tiong Lee Cin-jin. Memang aku menginginkan beberapa buah kitab, namun bukan dengan cara merampok atau merampas melainkan sebagai imbalan. Aku sudah menyelamatkan engkau dari perampokan yang dilakukan dua orang tadi, maka tentu saja aku berhak mendapat imbalan darimu. Aku tidak minta imbalan apa-apa kecuali beberapa buah kitab yang akan kupilih di antara kitab-kitabmu, Tiong Lee Cin-jin. Ha-ha-ha-ha!'

"Menolong dengan pamrih untuk memperoleh imbalan itu bukanlah pertolongan namanya, melainkan pemerasan," kata Tiong Lee Cin-jin lembut, seperti guru yang memberi nasihat kepada muridnya.

"Ha-ha-ha! Dan sebaliknya, ditolong akan tetapi tidak mau memberi keuntungan kepada si penolong, itu namanya tak mengenal budi! Sudahlah, aku akan memilih sendiri kitab-kitab mana yang akan kuambil sebagai imbalan pertolonganku tadi, Tiong Lee Cin-jin."

Tiong Lee Cin-jin melangkah maju, lalu dengan tangan kanannya dia mengusap buntalan kain kuning yang berisi kitab-kitabnya. "Semua kitab-kitabku berada di dalam buntalan ini, Jit Kong Lama," katanya.

"Akan kupilih, mana yang kusukai akan kuambil!" kata -Jit Kong Lama.

Dia menancapkan tongkat kepala naganya di atas tanah, lalu berjongkok untuk membuka empat ujung kain kuning yang disimpulkan di atas tumpukan kitab itu. Akan tetapi terjadi keanehan. Jari-jemari kedua tangannya yang kuat sekali itu tidak mampu membuka ikatan keempat ujung kain kuning yang hanya disimpulkan secara sederhana itu! Betapa pun dia mengerahkan tenaga mencobanya, tetap saja jari-jari tangannya tidak mampu membuka kain itu, seakan-akan semua jari tangannya kehilangan tenaganya dan menjadi kaku atau lumpuh!

Jit Kong Lama menjadi heran lalu penasaran dan marah sekali. Dia mengerahkan sinkang (tenaga sakti) sekuatnya, namun tetap saja jari-jarinya seperti sedang mogok, tidak dapat membuka simpul. Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya, akan tetapi sama saja. Jari-jari kedua tangannya seolah-olah memang tidak mau membuka simpul itu.

"Keparat!" Dia segera melompat bangun, berdiri menghadapi Tiong Lee Cin-jin. "Engkau menggunakan ilmu siluman untuk mencegah aku membuka buntalan kain ini!" bentaknya marah, matanya melotot dan mukanya berubah merah.

"Jit Kong Lama, aku sama sekali tidak memakai ilmu apa-apa. Aku hanya menyesuaikan diri, menerima keadaan dengan penyerahan kepada Yang Maha Kuasa. Jika Yang Maha Kuasa tidak menghendaki engkau membuka buntalan itu, meski engkau mempergunakan kekuatan apa pun yang ada di dunia, tetap saja engkau tak akan mampu membukanya," kata Tiong Lee Cin-jin dengan tenang dan penuh kesabaran.

"Tiong Lee Cin-jin, engkau menantang aku, Jit Kong Lama? Apakah untuk memiliki kitab-kitab ini aku harus menggunakan kekerasan terhadapmu?”.

"Tidak ada yang menantangmu selain nafsumu sendiri, Jit Kong Lama. Orang hanya akan memetik hasil yang ditanamnya. Menanam kekerasan akan memetik sendiri akibatnya."

"Sombong! Lihat naga hitamku menerkammu!" Jit Kong Lama membentak dan setelah itu dia melontarkan tongkat kepala naga ke atas.

Terdengar suara ledakan. Tongkat itu berubah menjadi asap hitam dan dari asap hitam itu muncul seekor naga yang sungguh menyeramkan. Matanya berkilat, moncongnya terbuka menyemburkan api, kedua lubang hidungnya mendengus mengeluarkan asap, dan cakar kedua kaki depannya siap menerkam. Naga itu meluncur turun, menerjang Tiong Lee Cin-jin dengan buas disertai suara gemuruh yang keluar dari mulut naga itu sehingga dapat menggetarkan dan menakutkan hati orang yang paling tabah sekali pun.

Akan tetapi Tiong Lee Cin-jin adalah seorang yang sudah mencapai tingkat kejiwaan yang amat tinggi. Dalam keadaan bagaimana pun juga dia telah menyerah sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Penyerahan sedemikian mutlak sehingga meniadakan akunya, mengesampingkan nafsu-nafsunya dan yang bekerja pada dirinya pada saat itu bukan lagi hati akal pikirannya, melainkan sepenuhnya diisi dengan Kekuasaan Tuhan yang mengalir masuk ke dalam jiwa raganya. Bila sudah demikian maka dia bukan lagi sebagai manusia dengan hati akal pikirannya, namun Roh Kekuasaan Tuhan yang bekerja menanggulangi apa saja yang datang menimpa dirinya.

Tiong Lee Cin-jin yang diserang oleh naga hitam jadi-jadian itu membungkukkan tubuhnya, tangan kanannya mengambil segenggam tanah lantas melontarkan tanah itu kepada naga hitam yang hendak menerkamnya, sambil mulutnya berkata lembut namun penuh wibawa yang menggetarkan, "Berasal dari tanah kembali kepada tanah!"

Segenggam tanah itu meluncur tepat mengenai kepala naga yang sedang menerkam itu.

"Blarrrrrr...!"

Terdengar suara ledakan disusul asap hitam bergulung-gulung. Naga itu terjatuh ke atas tanah dan begitu tiba di atas tanah, naga hitam itu telah berubah kembali menjadi tongkat berkepala naga milik Jit Kong Lama.

Pendeta Lama itu terkejut dan marah bukan main. Dia mengambil tongkatnya, kemudian menancapkan tongkat itu ke atas tanah dan pun dia membentak, "Tiong Lee Cin-jin, apa engkau menghendaki aku membunuhmu dengan tanganku ini? Lihatlah, apakah kepalamu lebih kuat dari pada batu ini?"

Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya. Uap putih segera mengepul dari kedua tangannya yang kini menjadi kemerahan laksana bara api. Dia menghampiri sebuah batu sebesar kerbau yang terletak tidak jauh dari situ, kemudian mengangkat kedua tangannya yang segera menghantam ke arah batu secara bergantian.

"Darr-darrr…!" Batu sebesar kerbau itu hancur berkeping-keping terkena hantaman kedua tangannya. Sungguh sebuah kekuatan yang amat dahsyat!

"Nah, Tiong Lee Cin-jin! Kau serahkan baik-baik semua kitab itu kepadaku atau aku harus menghancurkan dulu kepalamu dengan tanganku?" bentaknya sambil mengharnpiri Tiong Lee Cin-jin.

"Aku tidak menghalangi engkau mengambil kitab, namun kuperingatkan bahwa kitab-kitab ini bukan hak milikmu dan kalau engkau hendak nekad mengambilnya, maka hal itu sama saja dengan perampasan dan tentu saja hal itu amat tidak baik dan tidak patut dilakukan seorang pendeta sepertimu, Jit Kong Lama. Sepuluh ribu ayat kitab suci engkau hafalkan, namun satu saja tidak kau laksanakan, apakah artinya semua jerih payahmu itu?"

"Manusia sombong, engkau patut dihajar!" bentak Jit Kong Lama.

Dia lalu mengayun tangan kanannya yang merah seperti bara api itu, menampar ke arah muka Tiong Lee Cin-jin. Dapat dibayangkan betapa kepala itu akan hancur lebur dihantam tangan yang telah membuat batu besar pecah berkeping-keping ketika dipukul tadi!

Namun Tiong Lee Cin-jin sedikit pun tidak membuat gerakan mengelak atau menangkis, melainkan diam saja, hanya kedua matanya memandang kepada penyerangnya dengan sinar lembut tajam.

"Wuuuutttttt...!"

Terjadi keanehan yang luar biasa. Tangan itu menyambar ke arah pelipis kiri kepala Tiong Lee Cin-jin. Rambut kepala Tiong Lee Cin-jin sudah berkibar tertiup angin pukulan dahsyat itu. Akan tetapi ketika tangan itu sudah mendekati kepala, tinggal sejengkal lagi, tiba-tiba saja tangan itu luncurannya menyimpang dan membelok tidak mengenai sasarannya!

Jit Kong Lama terkejut dan heran bukan kepalang. Dia merasa seolah tangannya tertolak atau tertangkis oleh hawa yang lunak namun berat dan kuat bukan main, merasa seolah tangannya digerakkan di dalam air. Dia menjadi penasaran, lalu tangan kirinya menyusul, kini tangan kiri itu menyodok atau menusuk dengan jari-jari terbuka ke arah dada lawan.

"Wuuuuttt...!"

Kembali yang diserang diam saja, hanya memandang dengan senyumnya yang lembut. Dan untuk kedua kalinya tangan Jit Kong Lama tidak mengenai sasaran. Tusukan tangan itu pun seolah meleset karena tertepis hawa yang lunak berat dan kuat.

Jit Kong Lama melangkah mundur, matanya yang sudah besar itu dilebarkan terbelalak. Dia adalah seorang yang sudah mempelajari banyak ilmu dan sudah mempunyai banyak pengalaman bertanding melawan orang-orang sakti. Akan tetapi selamanya belum pernah dia mengalami hal seperti ini!

Jika tadi Tiong Lee Cin-jin membuat gerakan mengerahkan tenaga sakti untuk menangkis serangannya, bahkan jika Tiong Lee Cin-jin menggunakan ilmu kekebalan untuk menerima serangannya, maka hal itu tidak akan mengherankannya. Akan tetapi lawannya ini tidak membuat gerakan apa pun, juga tidak melakukan sihlr, tidak membaca mantera, bahkan sama sekali tidak mengeluarkan tanda-tanda melawan serangannya. Akan tetapi dua kali pukulannya yang dia tahu amat ampuh itu sama sekali tidak bisa menyentuh tubuh lawan. Dia merasa seolah-olah ada dinding hawa aneh yang menyelimuti tubuh Tiong Lee Cin-jin, atau seolah tangannya yang tidak mau memukul orang itu!

"Keparat! Lawanlah aku dengah ilmumu, jangan menggunakan ilmu siluman!" bentaknya marah.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum, lantas menjawab dengan suara yang halus. "Jit Kong Lama, semua ilmu akan menjadi ilmu siluman yang jahat apa bila dipergunakan untuk berbuat sewenang-wenang, menyerang untuk menyakiti atau membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah. Renungkanlah itu dan sadarlah. Mari kita berpisah sebagai saudara, bukan sebagai musuh."

Akan tetapi bagi Jit Kong Lama yang belum pernah dikalahkan orang, belum pernah pula mengalah terhadap orang lain, ucapan Tiong Lee Cin-jin itu dianggap sebagai ejekan yang merendahkan atau menghinanya. Orang yang menganggap diri sendiri terlalu tinggi dan terlalu penting selalu mudah tersinggung. Dia menyambar tongkat kepala naga yang tadi ditancapkan di atas tanah, kemudian membentak.

"Kita akan berpisah sebagai saudara kalau engkau menyerahkan kitab-kitab itu kepadaku! Jika tidak maka kita tetap akan berpisah sebagai musuh dan sebelum berpisah, aku akan menghancurkan kepalamu terlebih dahulu!" ucapan ini ditutup dengan sambaran tongkat kepala naga itu. Terdengar bunyi desir angin mengiuk ketika ujung tongkat menyambar ke arah kepala Tiong Lee Cin-jin.

Seperti tadi, Tiong Lee Cin-jin tidak menangkis mau pun mengelak, melainkan diam saja, hanya memandang dengan sorot rnatanya yang lembut sambil mulutnya tersenyum penuh kesabaran. Tongkat menyambar dan nampaknya sekali ini ujung tongkat akan mengenai sasaran.

Akan tetapi, sesudah hantaman tongkat itu tiba dekat kepala, hanya beberapa senti meter lagi jaraknya, tiba-tiba saja tongkat itu membalik seakan-akan bertemu dengan benda tak nampak yang sangat keras dan kuat. Tongkat itu lantas membalik dengan kekuatan yang sama dan memukul ke arah kepala Jit Kong Lama sendiri. Jit Kong Lama sangat terkejut dan cepat menggerakkan tongkat sehingga luput menghantam kepalanya sendiri.

"Segala sesuatu kembali ke asalnya semula. Kekerasan pun kembali kepada kekerasan. Lupakah engkau akan kenyataan itu, Jit Kong Lama?"

Jit Kong Lama berdiri terbelalak. Mukanya berubah pucat. Kini terbukalah matanya. Yang melindungi Tiong Lee Cin-jin bukanlah semacam ilmu yang dapat dipelalari oleh manusia. Teringatlah dia kepada dongeng yang pernah didengarnya tentang kesaktian Sang Budhi Dharma atau yang dikenal sebagai Tat Mo Couwsu.

Menurut dongeng, Sang Budhi Dharma juga memiliki kesaktian seperti yang dihadapinya sekarang. Tanpa bergerak menangkis atau mengelak Sang Budhi Dharma dapat terhindar dari segala serangan berupa kekerasan yang datang dari luar dirinya. Ada sesuatu yang melindunginya sehingga semua serangan tidak dapat menyentuh dirinya.

Menurut dongeng, sikap Sang Budhi Dharma itu disebut ‘Menyatu dengan Alam’. Dengan tidak melakukan perlawanan maka dia terlindung oleh kekuatan gaib yang menggerakkan seluruh alam maya pada ini. Kekuatan yang mengguncang air samudera, kekuatan yang menumbuhkan segala sesuatu, kekuatan yang menggerakkan awan-awan, kekuatan yang mengatur segala sesuatu yang tampak mau pun yang tidak tampak. Jika kekuatan seperti itu melindungi seseorang, maka kekuasaan apakah yang akan mampu menyentuh orang itu?

Teringat akan ini Jit Kong Lama mengerutkan alisnya, dengan gentar memandang kepada lelaki setengah tua yang berdiri dengan senyum lembutnya itu. Kemudian, dengan tangan kanan memegang tongkat kepala naga dan tangan kiri dimiringkan di depan dada dia pun berkata, "Tiong Lee Cin-jin, biarlah sekali ini aku mengaku kalah. Tetapi ingat, aku adalah seorang yang tidak dapat begitu saja menerima kekalahan. Tunggulah saatnya, aku akan menemuimu atau muridmu untuk membalas kekalahan hari ini!"

Setelah berkata demikian, tanpa menunggu jawaban, tubuhnya melompat dan terdengar bunyi ledakan. Asap mengepul tebal dan ketika asap membuyar, pendeta Lama itu sudah tidak tampak lagi bayangannya!

Tiong Lee Cin-jin menarik napas panjang. Dia mengambil buntalan kain kuning kemudian menggendongnya kembali dengan sikap tenang dan tidak tergesa-gesa. Sekali lagi kakek itu menarik napas panjang, lalu berkata lirih seorang diri. "Sayang, orang-orang yang telah menguasai banyak ilmu setinggi itu tidak mempergunakan ilmunya untuk menyebar benih kebaikan di dunia. Sungguh sayang...!”

Dia lalu melangkah menuruni lereng seolah tak pernah terjadi sesuatu. Ketika melangkah ini kepalanya bergoyang-goyang perlahan, matanya menerawang jauh dan dia mendengar detak jantungnya sendiri berbisik,

"Tuhan… Tuhan… Tuhan..." tiada henti-hentinya……

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner