KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-03


Anak laki-laki itu usianya kurang lebih sepuluh tahun. Dia duduk di atas punggung seekor kerbau betina dengan santai sambil meniup sebatang suling bambu. Lagunya lagu kanak-kanak dusun yang sederhana, namun karena ditiup di lereng pegunungan yang sunyi itu, suaranya terdengar mengalun indah. Di tempat yang sunyi hening seperti itu, suara anjing menggonggong di kejauhan pun terdengar menyenangkan hati. Bahkan suara dedaunan di puncak pohon bergoyang-goyang sehingga menimbulkan desah gemerisik pun terdengar merdu menenangkan hati.

Tubuh anak itu sedang saja. Dia hanya mengenakan celana hitam sebatas lutut sehingga bagian atas tubuhnya yang telanjang itu menampakkan kulitnya yang kecoklatan terbakar terik matahari. Rambutnya dipotong pendek. Kepalanya dilindungi dengan sebuah caping lebar sehingga mukanya tertutup bayangan caping.

Wajah anak itu tampan dan cerah, berbentuk bulat telur dengan dagu sedikit meruncing. Sepasang alis matanya hitam tebal, melindungi sepasang mata yang bersinar terang dan yang memandang dunia ini dengan berseri-seri, sepasang mata yang putihnya jernih dan hitamnya legam. Hidungnya mancung dan mulutnya membayangkan kemauan yang kuat. Seperti kebanyakan anak dusun, anak ini pun membayangkan kejujuran dan keterbukaan sehingga nampak bodoh.

Dia meniup suling dan tenggelam dalam suara sulingnya sendiri sehingga dia seperti lupa akan keadaan dirinya, membiarkan kerbau yang ditungganginya itu berjalan sendiri. Anak kerbau di belakangnya mengikuti induk kerbau itu sambil kadang-kadang berloncatan dan mencoba segala macam rumput dan daun-daun yang ditemui di jalan.

Tiba-tiba anak itu menghentikan tiupan sulingnya. Induk kerbau itu mendadak berhenti lalu makan rumput yang tumbuh sangat subur dan gemuk di tempat itu. Sepasang mata anak ltu terbelalak memandang ke kanan kiri. Baru dia menyadari bahwa dia dibawa kerbaunya sampai ke pinggir hutan! Hutan yang ditakuti semua penduduk dusun di kaki pegunungan. Hutan terlarang dan yang kabarnya dihuni oleh para siluman. Pimpinannya adalah seekor naga siluman yang amat jahat!

"Belang, cepat klta turun, kita kembali!" Anak itu menendang-nendang dengan kakinya ke perut kerbau. Akan tetapi dia melihat anak kerbau itu justru berloncatan kemudian berlari memasuki hutan.

"Heii, Kecil! Cepat kembali, jangan masuk ke sana!" teriaknya.

Dia cepat melompat turun dari punggung kerbaunya lantas berlari mengejar anak kerbau yang berloncatan dan berlari masuk ke dalam hutan seperti tingkah anak kecil yang manja dan nakal.

Anak yang mengejar kerbaunya itu tiba-tiba terbelalak dan tersentak, berhenti dari larinya, memandang dengan wajah pucat ke depan. Tangan kirinya masih terulur ke depan untuk memanggil kerbaunya dan tangan kanannya menutup mulut supaya tidak mengeluarkan teriakan. Apa yang dilihatnya mendatangkan kengerian hebat di dalam hatinya.

Selagi anak kerbau itu berloncatan, dari atas pohon besar yang tumbuh di sana tiba-tiba meluncur kepala seekor ular yang luar biasa besarnya. Ular itu bergantungan pada dahan pohon, tubuhnya yang besar itu terjulur ke bawah dan moncongnya yang terbuka lebar itu menyambar lantas menggigit leher anak kerbau yang segera mengeluarkan suara parau penuh kesakitan dan ketakutan. Ular yang menggigit anak kerbau itu menariknya ke atas dan anak kerbau itu meronta ronta lemah dengan keempat kakinya.

Anak itu hampir berhenti bernapas. Ular itu besar sekali. Panjangnya belasan meter dan tubuhnya sebesar pohon siong. Sesudah anak kerbau itu dibawa sampai ke atas dahan, tubuh ular itu lalu melingkarinya dan menghimpitnya dengan kuat. Agaknya anak kerbau itu tewas seketika oleh tekanan himpitan yang kuat itu dan tidak bersuara lagi, hanya dua kaki belakangnya yang masih tampak itu berkelojotan dalam sekarat.

Sambil menangis anak itu berlari keluar dari hutan. Empat kali dia naik ke atas punggung induk kerbau kemudian turun lagi seperti yang kebingungan. Akhirnya dia menarik tanduk kerbau itu dan diajaknya beriari cepat meninggalkan pinggir hutan menuruni lereng sambil menangis sesenggukan.

Setelah menuruni sebuah lereng, anak itu melihat seorang laki-laki setengah tua berdiri di tengah jalan setapak sambil memandangnya. Melihat ada orang dewasa, anak itu segera menghentikan lari kerbaunya, kemudian menghampiri orang itu dan berkata dengan suara bercampur tangis.

“Paman, tolonglah saya, paman ... tolonglah anak kerbau saya..."

Laki-laki itu adalah Tiong Lee Cin-jin. Dia baru saja turun dari lereng bagian atas sesudah ditinggal pergi oleh Jit Kong Lama. Melihat ada seorang anak laki-laki berlari-lari menuntun kerbaunya sambil menangis, dia pun cepat menghadang, dan setelah mendengar ucapan anak itu yang minta tolong, dia lalu menjulurkan tangan, mengelus kepala anak itu sambil bertanya dengan suara lembut.

"Tenanglah, anak yang baik. Apa yang terjadi dengan anak kerbaumu?"

Anak itu menengok ke belakang, kemudian menuding ke arah hutan yang berada di lereng sebelah atasnya. "Ada naga jahat ... naga itu menangkap anak kerbau saya... di sana, di hutan itu...!"

"Ada naga..?" Tiong Lee Cin-jin mengulang sambil tersenyum. Mana mungkin ada naga di hutan itu atau di mana saja? Sepanjang pengetahuannya, naga hanya terdapat di dalam dongeng jaman dahulu, beribu tahun yang lalu. Lalu dia menduga. "Maksudmu ular?"

"Bukan, bukan ular, akan tetapi naga. Mana ada ular yang besarnya seperti itu? Paman, tolonglah saya. Kalau saya tidak membawa pulang anak kerbau itu, maka majikan saya pasti akan membunuh saya..."

"Hemm, mari kita lihat ke sana. Tambatkan saja kerbaumu di sini," kata Tiong Lee Cin-jin.

Karena tidak ingin kehilangan induk kerbaunya, anak itu lantas mengikat kerbau itu pada sebatang pohon besar. Setelah itu, bersama Tiong Lee Cin-jin dia mendaki lereng menuju ke hutan tadi.

Ular itu masih berada di atas dahan pohon. Moncongnya terbuka lebar-lebar seperti akan robek dalam usahanya menelan badan anak kerbau yang terlalu besar untuk moncongnya itu. Tubuh anak kerbau itu telah tertelan setengahnya dan sedikit demi sedikit badan anak kerbau itu tergeser masuk. Nampaknya akan makan waktu lama sebelum anak kerbau itu dapat masuk seluruhnya ke dalam perut ular. Tampak lehernya, di mana sebagian badan anak kerbau itu masuk, menggembung besar sekali.

Anak itu menudingkan telunjuknya ke atas. "Itu dia, paman! Naga jahat itu mulai menelan anak kerbauku! Tolonglah anak kerbauku, paman!"

Tiong Lee Cin-jin memandang dan dia pun merasa kagum. Ular itu memang besar sekali. Jarang dia melihat ular sebesar itu yang warna dan gambar kulitnya amat indah.

"Itu bukan naga, itu seekor ular kembang," katanya.

Rasa ngeri lenyap dari hati anak itu ketika mendengar bahwa binatang yang makan anak kerbaunya bukan naga melainkan seekor ular. Pada jaman itu naga merupakan makhluk keramat bagi rakyat, makhluk yang sangat dihormati dan ditakuti, maka ketika tadi anak itu menduga bahwa anak kerbaunya dimakan naga, dia menjadi ketakutan setengah mati. Sekarang sesudah dia mendengar bahwa yang makan anak kerbaunya itu hanya seekor ular, walau pun besar sekali, dia menjadi berani dan marah.

"Ular? Ular laknat, ular jahat, lepaskan anak kerbauku! Kubunuh engkau!"

Ia mengambil sebuah batu sebesar kepalan tangannya, kemudian menyambitkan batu itu ke atas, mengarah kepada ular yang tampaknya sama sekali tidak bergerak itu. Sambitan itu luput dan anak itu sudah mengambil sebuah batu lagi. Namun Tiong Lee Cin-jin sudah memegang lengannya.

"Sabarlah, anak baik. Jangan ganggu dia! Lihat, dia sedang menikmati makannya, kenapa diganggu? Andai kata engkau sedang makan masakan daging ayam lantas datang seekor ular mengganggumu, bagaimana?"

Anak itu tercengang sejenak mendengar ucapan yang dianggapnya amat aneh ini, namun dia segera membantah. "Akan tetapi, paman, ular itu jahat! Dia makan anak kerbauku, dia kejam, buas dan jahat!"

Tiong Lee Cin-jin tersenyum. "Bagaimana jika ketika engkau sedang makan daging ayam lantas ular itu mengatakan kepadamu bahwa manusia itu jahat, kejam dan buas. Manusia menyembelih ayam dan memasak lalu makan dagingnya! Nah, bagaimana jawabmu?"

"Akan tetapi, paman. Ayam memang makanan manusia!"

"Begitukah? Dengarlah, anak baik. Hewan-hewan kecil seperti anak kerbau, kijang, kelinci dan yang lain-lain itu memang makanan ular itu. Jika dia tidak mendapatkan makanan itu, maka dia akan mati kelaparan karena dia tidak dapat makan rumput atau buah atau daun-daunan. Ular makan anak kerbaumu bukan karena buas, kejam, rakus atau jahat. Sama sekali tidak! Dia makan anak kerbaumu itu karena memang itulah jenis makanannya dan dia makan itu supaya dia tidak mati kelaparan. Ular, singa, harimau dan sejenisnya dapat hidup karena makan binatang lain yang lebih lemah dan kecil. Lembu, kerbau, gajah dan sejenisnya makan rumput dan sayur-sayuran. Monyet, tupai dan sejenisnya makan buah-buahan. Sudah demikian kehendak Yang Menciptakan mereka. Kalau tidak mendapatkan makanan khas mereka maka mereka akan mati kelaparan. Coba pikirlah baik-baik, hanya manusia yang amat rakus, sebab hampir semua tumbuh-tumbuhan, semua buah-buahan, semua binatang yang ada di dunia ini menjadi makanannya, baik yang berada di darat, di udara, mau pun di laut. Siapa yang lebih buas dan kejam?"

Anak itu menjadi bengong hingga sejenak lupa akan anak kerbaunya. Dia menatap wajah Tiong Lee Cin-jin dengan pandang mata polos dan penuh keheranan.

"Akan tetapi... engkau sendiri makan apa, paman?"

Tiong Lee Cin-jin tertawa. Suara tawanya lembut dan sopan, tidak terbahak. "He-he-he-he, anak baik. Aku adalah seorang manusia juga, maka tentu saja makananku sama dengan manusia-manusia lainnya."

"Kalau begitu mengapa paman mencela makanan manusia?"

"Aku tak bermaksud mencela, hanya ingin mengingatkan engkau agar tidak menganggap bahwa ular itu jahat dan buas, karena dia sudah makan apa yang semestinya dia makan. Dia tidak akan suka makan bakmi atau cap-cai!"

"Tetapi dia mengambil anak kerbau milik saya! Bukankah itu berarti dia sudah merampas dan merampok?"

"Dia tak mengenal istilah hak milik, anak baik. Semua hewan yang berada di hutan, yang dapat menjadi mangsanya, bukan milik siapa-siapa. Dia tentu menganggap anak kerbau itu bukan milik siapa-siapa dan sudah wajar bila menjadi mangsanya untuk mencegah dia kelaparan. Jadi sesungguhnya kesalahanmu sendiri mengapa engkau menggembalakan kerbau di hutan ini, anak baik. Tempat ini penuh dengan binatang liar, bukan merupakan tempat untuk menggembala ternak."

Anak itu termanggu, lalu mengerutkan alisnya dan dia menjatuhkan dirinya duduk di atas tanah, tampak bingung dan sedih.

Tiong Lee Cin-jin juga ikut duduk di atas sebuah batu tidak jauh dari anak itu. Diam-diam dia memperhatikan. Seorang bocah berwajah tampan, membayangkan watak yang bersih dan jujur, seperti sebuah batu mulia asli yang belum digosok. Sinar matanya dan lekukan mulut itu menandakan bahwa anak ini mempunyai dasar watak yang baik. Tubuhnya juga membayangkan tubuh yang sehat, berdarah bersih. Perawakannya tegak lurus, dadanya bidang dan pundaknya rata.

"Akan tetapi, paman. Walau pun sekarang saya dapat memaklumi bahwa memang sudah sewajarnya ular itu makan anak kerbau saya dan dia tidak bisa dipersalahkan, bahwa hal ini terjadi karena kesalahan saya sendiri, akan tetapi perbuatannya itu telah menimbulkan korban. Korbannya adalah saya sendiri. Karena dia menjadikan anak kerbau itu sebagai mangsanya, maka sayalah yang akan menanggung akibatnya, kalau tidak mati sedikitnya saya akan mengalami pukulan dan siksaan, malah mungkin lebih dari pada itu. Akibatnya dapat pula menyengsarakan kehidupan nenek saya yang sudah tua itu."

"Bagaimana bisa begitu?" tanya Tiong Lee Cin-jin.

"Saya bekerja sebagai penggembala kerbau milik kepala dusun kami, paman. Kalau nanti saya pulang tidak membawa anak kerbau itu, tentu majikan saya akan marah sekali. Dia seorang yang sangat galak dan keras, mempunyai banyak tukang pukul. Saya tentu akan disiksa dan mungkin dibunuh. Kebetulan nenek saya juga bekerja sebagai tukang cuci di rumah majikan saya itu. Tentu dia akan menanggung akibatnya pula. Sekarang saya takut untuk pulang, paman." Kini anak tidak menangis lagi, akan tetapi menggunakan punggung tangan kirinya untuk mengusap beberapa tetes air mata yang mengalir keluar dari pelupuk matanya.

“Hemm, dan ayah ibumu?"

"Mereka sudah tiada, paman. Ayah dan ibu telah meninggal sejak saya berusia lima tahun dan sejak itu saya hanya hidup berdua dengan nenek saya."

Tiong Lee Cin-jin menghela napas panjang. Betapa banyaknya manusia di dunia ini yang hidup menderita karena kemiskinan, di samping hanya beberapa gelintir orang yang hidup berlebihan. Padahal seharusnya manusia dapat mengisi hidup dengan saling mengasihi, saling membantu, menjadi alat dari Kekuasaan Tuhan agar bermanfaat bagi orang-orang lain. Yang pandai membantu yang bodoh dengan pemikiran, yang kuat membantu yang lemah dengan kekuatan, sedangkan yang kaya membantu yang miskin dengan hartanya. Akan tetapi apa yang dilihatnya sejak dari India ke Cina? Yang pintar menipu yang bodoh, yang kuat menindas yang lemah, yang kaya memperbudak yang miskin.

"Sekarang bagaimana? Engkau harus pulang, setidaknya untuk mengembalikan kerbau ini kepada pemiliknya."

"Memang seharusnya begitu, paman. Akan tetapi saya tidak berani pulang karena saya pasti akan dipukuli, mungkin dibunuh oleh para tukang pukul Lurah Coa, bahkan nenekku tentu tidak akan luput dari hukuman pula."

"Jangan khawatir. Mari kuantar kau pulang dan aku yang akan menjadi saksi bahwa anak kerbau itu dimakan ular. Hayolah!"

Biar pun masih takut, tetapi mendengar ucapan dan melihat sikap Tiong Lee Cin-jin yang meyakinkan hatinya itu, dia pun mengangguk lantas mengikuti orang tua itu keluar dari hutan. Beberapa kali dia menenggok dan memandang ke arah ular besar yang berusaha dengan tenang untuk menelan anak kerbau yang terlalu besar bagi moncongnya itu.

Sesudah sampai di lereng di mana tadi mereka berjumpa, anak itu lalu melepaskan ikatan kerbaunya dan menuntunnya menuruni lereng bersama Tiong Lee Cin-jin. Pemandangan di bawah sana masih tetap indah mempesona. Sawah ladang yang luas hijau menguning terbentang di bawah sana, dan dari atas tampak rumah-rumah dusun sederhana di antara pohon-pohonan.

Tiong Lee Cin-jin memandang langit dan dia pun tersenyum, matanya bersinar, wajahnya berseri. Dia melihat awan putih yang membentuk seekor naga sedang terbang melayang, seperti seekor Naga Langit yang perkasa.

"Anak baik, siapakah namamu?" tanyanya sambil berjalan di samping anak itu meniti jalan setapak menuruni lereng.

"Marga saya Souw dan nama saya Thian Liong, paman."

Lelaki setengah tua itu melebarkan matanya, lalu kembali berdongak ke atas memandang awan yang berbentuk naga itu. "Thian Liong (Naga Langit)? Souw Thian Liong...?" Betapa kebetulan. Dia melihat Naga Langit di angkasa yang dibentuk oleh awan dan nama anak ini berarti Naga Langit pula!

"Ya benar, paman. Dan paman sendiri, siapakah nama paman?" tanya Thian Liong.

"Orang-orang menyebutku Tiong Lee Cin-jin. Kulihat engkau mempunyai sebatang suling yang terselip pada ikat pinggangmu. Maukah engkau meniupnya dan memainkan sebuah lagu untukku, Thian Liong?"

Dengan tatapan sedih anak itu memandang ke arah suling di pinggangnya, lalu berdongak memandang laki-laki itu dan berkata, "Paman, bagaimana aku dapat rneniup suling kalau hatiku sedang sedih dan dihimpit perasaan takut seperti ini?"

Tiong Lee Cin-jin mengelus kepala Thian Liong. "Jangan bersedih dan jangan takut, anak baik. Serahkan saja sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan segala urusan yang tidak bisa kau atasi. Kekuasaan Tuhan yang akan mengaturnya dan tidak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah diatur dan ditentukan oleh Tuhan'"

"Tuhan? Siapakah Tuhan itu, paman?"

Mereka saling pandang dan sinar mata Tiong Lee Cin-jin bertemu dengan sinar mata yang demikian polos dan jernih. Dia tersenyum. Ketidak tahuan yang murni dan suci. Seperti seorang bayi. Manusia lahir tanpa disertai pengetahuan, bahkan belum mengenal Tuhan. Sesudah pikirannya bekerja, mulailah dia bertanya-tanya dan jalan pikirannya dipengaruhi dari pemberitahuan dari luar.

"Tuhan adalah Yang Maha Kuasa, yang sudah menciptakan bumi, langit, angin, tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup, bulan, matahari, bintang dan segalanya. Segala yang ada, baik yang tampak mau pun tidak tampak, semuanya ini adalah ciptaan Tuhan. Bahkan engkau dan aku ini pun ciptaan-Nya, Thian Liong. Mengertikah engkau?"

Thian Liong menggaruk kepalanya sambil mengerutkan alisnya, memandang heran. "Akan tetapi orang-orang bercerita kepada saya bahwa semua itu ada dewa yang menjaganya, paman. Ada dewa matahari, dewa bulan, dewa bintang, dewa gunung, dewa sungai dan seterusnya, demikian yang saya dengar.”

Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk. Dia harus memberi jawaban yang sesuai dengan apa yang sudah didengar dan dipercaya oleh anak ini agar tidak membingungkan hatinya. "Katakanlah bahwa ada para dewa dan para malaikat yang menjaga semuanya itu, akan tetapi mereka itu hanyalah pelaksana dari kekuasaan Tuhan, Thian Liong. Mereka adalah Hulubalang, pembantu dan hamba Tuhan."

"Ahh, paman. Kalau begitu Tuhan itu seperti Rajanya dan para dewa itu para prajuritnya!"

Tiong Lee Cin-jin tersenyum kemudian mengangguk. Biarlah anak yang masih amat polos ini menganggapnya begitu agar pikirannya tidak menjadi bingung.

"Ya, demikianlah kira-kira. Tuhan adalah Raja dari segala raja, penguasa langit dan bumi serta segenap isinya."

Mereka tiba di dusun dan mulailah Thian Liong merasa takut lagi. Wajahnya pucat dan dia tampak kebingungan. Melihat ini Tiong Lee Cin-jin lantas berhenti di depan dusun itu dan bertanya,

"Thian Liong, takutkah engkau akan ancaman majikanmu?"

"Paman, aku tidak peduli akan keadaan diriku sendiri. Biarlah kalau dia mau menghukum aku, menyiksa atau membunuh sekali pun. Akan tetapi aku khawatir kalau nenekku yang sudah tua itu akan dihukumnya pula. Aku kasihan pada nenek, satu-satunya orang yang kumiliki."

Tiong Lee Cin-jin mengelus kepala anak itu. "Jangan takut, Thian Liong. Ingatkah engkau akan Raja di atas segala raja tadi?"

"Maksud paman... Tuhan?"

"Betul. Serahkan segalanya kepada Tuhan yang Maha Kuasa, Maha Adil Maha Kasih dan Maha Murah. Dia yang akan melindungi engkau dan nenekmu bila engkau mau berserah kepadaNya."

"Benarkah itu, paman?"

"Tentu saja benar dan akulah yang akan menanggung bahwa hal itu benar adanya. Kalau engkau mau percaya dan berserah diri, Tuhan tentu akan mengutus para dewa itu untuk melindungimu dari gangguan orang jahat."

Wajah anak itu tampak lega dan sinar matanya tidak ketakutan lagi.

"Kalau begitu, aku akan berserah diri kepadaNya, paman."

"Engkau tidak takut lagi?"

"Tidak, bukankah paman ada bersamaku? Dan para Dewa diutus Tuhan untuk melindungi aku dan nenek. Aku tidak takut lagi.”

"Kalau begitu mari kita masuk dan menemui majikanmu." Mereka memasuki dusun. Thian Liong menuntun kerbaunya berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.

Majikan anak itu adalah Lurah Coa Lun, seorang laki-laki berusia lima puluh tahun. Lurah Coa seolah menjadi seorang raja kecil di dusunnya, merupakan orang paling kaya di sana. Semua orang di dusun itu takut kepadanya, bahkan kehidupari mereka sangat bergantung kepada lurah ini. Hal itu karena semua penduduk telah terikat hutang kepada lurah Coa.

Ketika datang musim kemarau panjang, para petani itu terpaksa berhutang kepada Lurah Coa untuk dapat menyambung hidup dan sejak itu pula hutang mereka tidak pernah dapat terlunasi karena bunganya yang tinggi sekali. Pencicilan hutang dan bunganya berkejaran. Oleh karena itu semua penghuni dusun itu seolah-olah telah berada dalam cengkeraman tangan Lurah Coa dan karena itu mereka semua merasa takut dan hanya dapat mentaati semua perintah sang lurah. Selain itu Lurah Coa juga memperkuat kedudukannya dengan memelihara dua belas orang jagoan tukang pukul sehingga tak ada yang berani mencoba untuk menentangnya.

Lurah Coa memiliki tiga orang isteri. Akan tetapi tiga orang isteri ini agaknya masih belum mampu memuaskan nafsunya. Dia adalah seorang mata keranjang yang gila akan wanita muda dan cantik. Karena itu, kehidupan para wanita muda yang mempunyai wajah cantik di dusun itu, baik dia masih gadis mau pun sudah menjadi isteri orang, tidak aman.

Siapa yang diincar dan dikehendaki oleh sang lurah, pasti akan menjadi mangsanya. Baik secara halus mau pun kasar, lurah yang bejat moral itu pasti akan memperoleh wanita itu untuk beberapa lama sampai dia merasa bosan dan melepaskannya kembali. Karena itu banyak suami yang merasa memiliki isteri muda dan manis, diam-diam pergi mengungsi, pindah dari dusun itu. Keluarga yang memiliki anak gadis cantik juga mengungsikan anak gadisnya keluar dusun.

Hampir semua sawah ladang yang berada di dusun itu dan sekitarnya sudah menjadi milik Lurah Coa. Mereka yang dibebani hutang yang makin membengkak terpaksa merelakan tanahnya disita oleh sang lurah, kemudian mereka hanya menjadi buruh tani sang lurah saja sehingga kehidupan mereka semakin bergantung kepada sang lurah.

Ayah Souw Thian Liong yang bernama Souw Ki telah meninggal dunia sejak Thian Liong berusia lima tahun. Juga ibu anak itu sudah meninggal dunia. Kedua orang suami isteri itu meninggal dalam keadaan miskin dan terserang penyakit perut yang waktu itu menjadi wabah di dusun-dusun di sekitar daerah pegunungan itu. Mereka terserang penyakit, lalu meninggal dunia secara berturut-turut. Yang selamat hanya Thian Liong serta neneknya, yaitu Nenek Souw ibu dari mendiang Souw Ki. Semenjak itu, dalam usia lima tahun Thian Liong hidup bersama neneknya.

Nenek Souw yang sudah amat tua bekerja keras untuk dimakan berdua dengan cucunya. Dia bekerja sebagai tukang cuci pakaian di rumah keluarga Lurah Coa, dan setelah Thian Liong berusia delapan tahun, Nenek Souw mintakan pekerjaan untuk cucunya itu kepada sang lurah.

Kebetulan lurah itu baru saja menyita seekor kerbau dari seorang warga dusun yang tidak mampu membayar hutangnya, maka Thian Liong diberi pekerjaan menggembala kerbau itu. Sebelumnya Lurah Coa tidak memelihara kerbau karena dia telah mempunyai banyak buruh tani yang bekerja di sawah sehingga tidak memerlukan kerbau lagi.

Kerbau itu dipelihara dengan baik oleh Thian Liong, gemuk dan sehat. Thian Liong amat menyayang kerbau itu, apa lagi setelah kerbau itu melahirkan seekor anaknya. Karena itu dapat dibayangkan betapa sedih dan takut rasa hati Thian Liong menghadapi kemarahan Lurah Coa ketika kerbaunya yang kecil dimakan ular raksasa. Dia amat mengkhawatirkan nasib neneknya. Apa lagi neneknya sampai dihukum, bahkan baru dipecat saja kehidupan mereka berdua akan terancam bahaya kelaparan!

Lurah Coa menjadi marah sekali ketika dia dilapori bahwa Thian Liong pulang tanpa anak kerbaunya. Dia langsung melangkah keluar dengan mata terbuka lebar. Mukanya menjadi kemerahan ketika ia melihat Thian Liong berdiri di halaman rumah sambil menuntun induk kerbau tanpa anak kerbau dengan ditemani seorang lelaki setengah tua yang berpakaian seperti seorang pendeta dan menggendong sebuah buntalan besar.

"Thian Liong, mana anak kerbauku?!" tanya sang lurah dengan suara bentakan dan mata melotot.

Lurah itu bertubuh tinggi kurus, matanya sipit, daun telinganya kecil seperti telinga tikus, hidungnya pesek dan mulutnya lebar, dihias kumis kecil panjang yang menggantung pada kanan kiri mulut dan jenggotnya hanya beberapa helai saja.

Karena setiap kali diharuskan memberi penghormatan yang berlebihan kepada Lurah Coa, maka Thian Liong lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap sang lurah. "Ampunkan saya, taijin (tuan besar), anak kerbau itu dimakan ular di hutan..."

"Apa?! Dimakan ular di hutan? Gila kamu! Mana bisa anak kerbau dimakan ular di hutan. Memangnya kamu menggembala kerbau di dalam hutan?"

"Ampun, taijin. Anak kerbau itu berlompatan sambil berlari memasuki hutan. Ketika saya mengejarnya, tahu-tahu ada ular yang menangkapnya dan memakannya."

"Bohong! Mana ada ular bisa makan anak kerbau yang begitu besar? Tentu anak kerbau itu sudah kau jual atau kau sembunyikan! Hayo mengaku saja, atau harus dicambuki lebih dulu agar mau mengaku?"

Pada saat itu pula dari dalam rumah tampak berlari keluar seorang nenek yang sudah tua. Rambutnya telah putih semua, tubuhnya kurus kering seperti jerangkong, pakaiannya tua dan lusuh. Usianya tentu sudah hampir delapan puluh tahun. la berlari menghampiri Thian Liong yang berlutut kemudian menubruk anak itu sambil menangis.

"Aduh, cucuku Thian Liong...! Apa yang telah terjadi? Orang bilang anak kerbau yang kau gembalakan hilang dimakan ular? Betulkah itu, cucuku...?"

"Benar, nek," kata Thian Liong sambil memandang wajah neneknya yang sudah basah air mata itu dengan sedih.

"Aduh celaka, Thian Liong...!" Ia lalu berlutut di dekat kaki Lurah Coa dan berkata dengan suara gemetar. "Taijin... ampunkan hambamu ini... ampunkan cucu hamba Thian Liong...! Dia masih kecil, dia masih bodoh..., ampunkan dia taijin..."

"Minggir kau! Dia harus mengembalikan anak kerbauku itu atau aku akan mencambukinya sampai dia mengaku di mana dia menyembunyikan anak kerbauku itu!" hardik Lurah Coa dengan geram.

"Thian Liong...!" Nenek Souw menjerit sambil menubruk cucunya. Namun dia bergulingan dan roboh. Thian Liong cepat merangkul neneknya.

"Nenek...!" Anak itu berseru bingung ketika melihat neneknya megap-megap seperti ikan dilempar ke daratan.

"Thian Liong... jaga... dirimu... baik... baik..." dan dia pun terkulai lemas dalam rangkulan cucunya.

"Nenek...!" Thian Liong berteriak.

Tiong Lee Cin-jin mendekati anak itu, lantas berjongkok dan meraba leher Nenek Souw. "Thian Liong, nenekmu sudah meninggal...," katanya terharu.

”Me... ninggal...?" Thian Liong memandang wajah Tiong Lee Cin-jin terbelalak.

Tiong Lee Cin-jin mengangguk. "Dia meninggal karena jantungnya lemah. Dia mati karena memang dia sudah tua dan lemah, Thian Liong."

"Nenek...! Ah, nenek...!" Thian Liong menubruk dan menangisi neneknya, meratap-ratap.

Lurah Coa mengerutkan kedua alisnya dan menjadi semakin marah. Kematian nenek itu saja sudah sangat merugikannya! Selain kehilangan tenaga kerja, dia pun terpaksa harus mengeluarkan uang untuk mengubur jenazah nenek itu. Semua ini gara-gara Thian Liong yang melenyapkan anak kerbaunya!

"Beri hukuman anak keparat ini dengan dua puluh kali cambukan!" bentaknya kepada dua belas orang tukang pukulnya yang sudah berkumpul di situ.

Dua orang di antara mereka melangkah maju. Mereka adalah dua orang algojo yang telah biasa melaksanakan perintah untuk mencambuki orang. Mereka berdua menyeringai dan tangannya masing-masing memegang sebatang cambuk yang besar. Melihat ini Tiong Lee Cin-jin melangkah maju.

"Nanti dulu!" tegurnya dengan suara lembut namun penuh wibawa. "Coa-chungcu (Lurah Coa), anak kerbau itu memang benar dimakan seekor Coa (ular), mengapa anak ini yang dipersalahkan dan hendak dicambuk? Dia tentu akan mati kalau dicambuk dua puluh kali. Sepatutnya engkau sendiri yang dicambuk!"

"Apa kau bilang?! Keparat, berani engkau menghinaku?" Lurah itu merasa disindir seolah-olah orang berpakaian pendeta itu mengatakan bahwa dialah yang sudah memakan anak kerbaunya. Nama marganya Coa memang berbunyi seperti huruf ular. "Kalau begitu biar engkau yang menanggung setengahnya. Hayo, kalian hukum cambuk keduanya, masing-masing sepuluh kali cambukan yang kuat agar pecah-pecah kulit punggung mereka, biar tahu rasa!"

Dua orang algojo itu mengangkat cambuk mereka, siap untuk memukul Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin dengan cambuk mereka.

"Tarrr…! Tarrr…!"

Dua batang cambuk meledak di udara, lantas turun menyambar dengan cepat ke arah... Lurah Coa!

"Prattt! Pratt!”

“Aduhh...! Aduhh, gila kalian! Mengapa malah aku yang dicambuk?" Lurah Coa mengaduh dan berloncatan, akan tetapi cambuk-cambuk itu terus melecutinya dan dua orang algojo itu melecut penuh semangat!

"Aduhh…! Aduhhh...! Bunuh mereka! Bunuh mereka!" Lurah Coa memerintahkan sepuluh orang jagoannya yang lain untuk bertindak sambil dia menggeliat-geliat kesakitan.

Sepuluh orang tukang pukul itu pun merasa amat terheran-heran melihat dua orang rekan mereka malah mencambuki majikannya. Mereka menjadi bingung mendengar perintah itu. Ada yang menganggap perintah itu untuk membunuh dua orang rekan mereka, tetapi ada pula yang menganggap perintah itu untuk membunuh Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin. Mereka, sepuluh orang itu serentak bergerak. Mereka menganggap bahwa dengan tangan kosong saja mereka akan mampu membereskan orang-orang yang harus dibunuhnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner