KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-04


Sepuluh orang jagoan itu serentak menerjang maju. Namun kembali terjadi keanehan luar biasa yang disaksikan oleh orang-orang yang telah mulai berkumpul di pekarangan rumah Lurah Coa menonton keributan itu. Sepuluh orang jagoan itu sama sekali tidak menyerang Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin, juga mereka tidak menyerang kedua algojo yang masih mencambuki Lurah Coa, melainkan mereka itu saling gebuk dan saling tendang di antara mereka sendiri!

“Bak! Buk! Bak! Buk!”

Terdengar suara pukulan disertai teriakan-teriakan kesakitan dan kemarahan menjadi satu sehingga suasana hiruk pikuk sekali dan para penonton terbelalak keheranan. Sementara itu dua orang algojo masih asyik melontarkan cambuknya ke arah tubuh Lurah Coa sambil menghitung.

"Tarr-tarrr…!”

“Ke enam!”

“Tarr-tarrr…!”

“Ke tujuh!”

“Tarr-tarrr…!”

“Ke delapan...!"

Pemandangan disitu sungguh luar biasa sekali. Tampak Thian Liong masih merangkul dan menangisi neneknya. Tiong Lee Cin-jin masih berjongkok dekat anak itu sambil menoleh memandang orang-orang yang tengah sibuk sendiri itu. Lurah Coa masih mengaduh-aduh sambil menggeliat-geliat, bajunya robek-robek dan punggungnya beriepotan darah karena kulit punggungnya pecah-pecah oleh cambukan. Teriakannya sudah melemah dan kini dia mengaduh sambil menangis. Sedangkan sepuluh orang itu saling genjot, saling tonjok dan saling tendang. Ramai sekali keadaannya, ramai dan kacau.

"Tarr-tarrr…!”

“Ke sembilan!”

“Tarr-tarrr…!”

“Ke sepuluh...!"

Setelah masing-masing memukul sepuluh kali, barulah dua orang algojo itu menghentikan cambukan mereka. Sekarang mereka berdiri memandang kepada Lurah Coa dengan mata terbelalak seolah tak percaya dengan pandangan mata mereka sendiri. Tampak Lurah Coa bergulingan di atas tanah dengan tubuh berkelopotan darah dan agaknya mereka berdua baru menyadari dengan terkejut sekali bercampur heran dan bingung bahwa mereka tadi telah mencambuki Lurah Coa!

Sementara itu, sepuluh orang yang saling gebuk itu kini pun sudah lemas. Wajah mereka benjol-benjol dan matang biru, tidak ada seorang pun yang masih utuh karena tadi mereka saling gebuk tanpa memilih kawan mau pun lawan. Siapa saja yang berada di dekatnya tentu diserang. Dengan sendirinya mereka semua kebagian pukulan atau tendangan.

Namun anehnya, berbareng dengan berhentinya dua orang tukang cambuk tadi, sepuluh orang itu pun segera berhenti saling serang lantas mereka mengerang kesakitan dengan mata terbelalak keheranan karena baru sekarang mereka menyadari bahwa mereka tadi telah saling pukul di antara rekan sendiri!

Sekarang Lurah Coa sudah bangun. Kemarahannya memuncak ketika melihat dua orang yang tadi mencambukinya berdiri sambil menundukkan muka dan tampak ketakutan. Biar pun seluruh tubuhnya terasa nyeri dan pedih perih, dia cepat merampas sebatang cambuk dari tangan seorang di antara dua algojo itu kemudian mengayun cambuk itu mencambuki mereka berdua sekuat tenaganya!

"Tar-tar-tarrr...!"

Dia terus mengayun cambuk sekuat tenaga, mencambuki dua orang tukang pukulnya itu sekenanya, muka, kepala, dada sehingga dua orang itu menggeliat-geliat dan melindungi muka mereka dengan kedua tangan. Baju keduanya cabik-cabik dan kulit mereka pecah-pecah, darah mulai mewarnai baju mereka.

"Ampun, taijin... ampun...!" Mereka berdua meratap-ratap.

Namun Lurah Coa mencambuki terus sampai dia kehabisan tenaga dan napasnya hampir putus barulah dia berhenti karena tidak kuat lagi. Dia melempar cambuknya dan dengan tubuh lunglai dia menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah kursi.

Kini dia menyadari keadaan sepenuhnya. Walau pun masih tiada habis herannya melihat peristiwa yang telah menimpa dirinya beserta dua belas orang jagoannya, namun kini dia mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Thian Liong dan Tiong Lee Cin-jin. Dia masih belum menyadari bahwa kehadiran pendeta asing itulah yang menimbulkan peristiwa aneh tadi.

"Thian Liong! Engkau sudah membikin hilang anak kerbauku, oleh karena itu engkau akan dihukum! Dan engkau pendeta asing, engkau sudah memasuki dusun kami dan membuat onar di sini, membela anak yang bersalah ini. Mungkin engkau telah bersekongkol dengan dia untuk mencuri anak kerbauku. Karena itu engkau pun akan dihukum!

"Lurah Coa, engkau masih belum menyadari sikapmu yang selalu sewenang-wenang itu? Perbuatanmu yang suka menyiksa orang kini berbalik menimpa dirimu sendiri dan engkau masih juga belum jera?" kata Tiong Lee Cin-jin kepada kepala dusun itu.

Namun kepala dusun yang sudah terlanjur merasa seperti seorang raja kecil di dusunnya dan tidak pernah ada orang berani menentangnya itu langsung menudingkan telunjuknya kepada Tiong Lee Cin-jin dan Thian Liong, lalu berseru kepada anak buahnya.

"Hayo kalian tangkap dua orang ini! Cepattt…!"

Namun dua belas orang tukang pukul yang masih belum hilang kaget mereka dan seluruh tubuh mereka masih terasa nyeri-nyeri itu hanya memandang dan tidak ada yang berani bergerak. Mereka adalah orang-orang yang sedikit banyak sudah mempunyai pengalaman di dunia kang-ouw dan sekarang mereka sudah dapat menduga bahwa orang berpakaian seperti pendeta itu tentu seorang sakti maka terjadi peristiwa aneh-aneh seperti yang tadi mereka alami. Karena itu, mendengar perintah majlkan mereka itu, tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani bergerak.

"Hayo tangkap dua orang ini! Apakah kalian sudah tuli semuanya?" bentak lagi lurah yang masih menggigit bibir menahan rasa nyeri yang terasa di seluruh tubuhnya.

Mendengar perintah ulangan ini, dua belas orang tukang pukul tidak berani membangkang lagi dan mereka sudah meraba gagang golok yang tergantung di pinggang.

Melihat ini Tiong Lee Cin-jin memandang kepada mereka dan berkata, "Sebetulnya kalian ini adalah penjaga keamanan dusun, menjaga keamanan semua penduduk dusun, bukan melaksanakan perintah Lurah Coa untuk memukuli dan menyiksa orang. Apakah kalian masih belum mau bertobat dan hendak melanjutkan perkelahian di antara kalian sendiri menggunakan golok?"

Mendengar kata-kata Tiong Lee Cin-jin itu, dua belas orang tukang pukul kini yakin bahwa mereka tadi gontok-gontokan sendiri adalah karena telah dipengaruhi pendeta ini. Mereka menjadi jeri, menggelengkan kepala dan otomatis melepaskan lagi gagang golok mereka. Mereka membayangkan betapa ngerinya kalau mereka saling serang seperti tadi, dan kini menggunakan golok. Tentu di antara mereka akan banyak yang terluka parah atau malah tewas.

"Kalian masih belum turun tangan juga?!" bentak pula Lurah Coa.

"Lurah Coa, engkau sudah mendengar pengakuan kami bahwa anak kerbau itu dimakan ular, tetapi engkau masih belum mau percaya. Sekarang lihatlah sendiri, juga kalian para tukang pukul! Ular raksasa itu kini datang memperlihatkan diri kepada kalian agar kalian dapat percaya!"

Tiong Lee Cin-jin menggapai dengan tangannya dan Lurah Coa bersama dua belas orang tukang pukulnya terbelalak dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Mereka melihat ada seekor ular yang besar sekali, sebesar batang pohon siong, merayap datang menghampiri mereka!


Para penduduk dusun yang berkumpul di situ tidak melihat ular ini. Maka mereka menjadi terheran-heran melihat dua belas orang tukang pukul itu menggigil ketakutan menghampiri Lurah Coa lalu berdiri di belakangnya. Lurah itu pun menggigil ketakutan. Mereka mundur-mundur dan akhirnya menjatuhkan diri berlutut,

"Ampun... ampunkan saya..." Lurah Coa meratap.

”Ampunkan kami... kami tidak berani lagi..." Dua belas orang itu juga berseru ketakutan, menghadap ka arah Tiong Lee Cin-jin.

Tiong Lee Cin-jin mengibaskan tangannya dan ular itu pun lenyap. Kemudian dia bertanya kepada Lurah Coa dan anak buahnya. "Benarkah kalian semua sudah bertobat dan tidak akan mengulangi lagi sikap serta perbuatan kalian yang menindas rakyat dusun ini?"

"Saya tidak berani...” ratap lurah Coa.

"Kami bertobat..." Dua belas orang tukang pukul itu serempak berseru ketakutan.

"Bagus. Bertobat berarti membuka pintu yang menuju jalan kebenaran, tapi bertobat tidak ada artinya sama sekali kalau hanya diucapkan dengan mulut, melainkan harus menerima dalam hati sanubari dan tercermin dalam perbuatan. Bertobat hanya merupakan pemanis bibir dan palsu belaka jika tanpa pelaksanaan dalam perbuatan. Lurah Coa, seorang lurah bukan seorang pembesar yang hanya memperbesar perutnya sendiri, juga bukan seorang penguasa yang mempergunakan kekuasaannya untuk menindas orang lain dan mencari enaknya dan benarnya sendiri saja. Seorang lurah adalah seorang pemimpin rakyat yang mempunyai kewajiban untuk membimbing seluruh rakyatnya ke arah pembangunan dusun demi kesejahteraan rakyat, menjadi seorang bapak yang selalu memberi teladan kepada rakyat, kalau berdiri di depan harus memberi teladan, kalau berdiri di tengah harus bekerja sama dengan rakyat, dan kalau di belakang harus mengawasi dan memberi pengarahan. Ingat, engkau dapat menjadi lurah karena ada rakyat dusun, tanpa mereka engkau bukan apa-apa. Mulai sekarang jadilah pemimpin rakyat yang baik. Kembalikan sawah ladang mereka. Bebaskan hutang-hutang mereka. Ulurkan tangan dan bantulah kalau ada rakyat yang kekurangan. Kalau sudah demikian maka seluruh rakyat dusun akan cinta dan taat kepadamu, bukan taat karena terpaksa dan takut. Sanggupkah engkau membuktikan rasa bertobatmu dengan semua anjuran itu?"

"Saya sanggup," jawab Lurah Coa sambil menundukkan kepalanya.

Entah mengapa, mendengar kata-kata yang lembut namun penuh wibawa dan menggores hatinya itu, mendadak Lurah Coa teringat akan semua tindakannya yang lalu, sadar akan semua perbuatannya yang sewenang-wenang dan diam-diam dia menangis.

"Dan kalian, orang-orang gagah yang tadinya dianggap sebagai tukang-tukang pukul anak buah Lurah Coa. Kalian adalah orang-orang yang telah mempelajari ilmu silat, orang yang mempunyai tenaga yang kuat. Akan tetapi sayang, kalian malah menggunakan kelebihan ini untuk mendukung kesewenang-wenangan Lurah Coa. Kalian menakut-nakuti penduduk dusun, bahkan kalian tak segan untuk memukuli dan menyiksa mereka. Jika kalian benar-benar sudah bertobat, mulai sekarang jadilah pembantu lurah yang baik. Menjadi penjaga keamanan dusun dan keamanan warga dusun sehingga kehidupan di sini menjadi aman tenteram tanpa ada perbuatan kejahatan. Dengan demikian kalian akan menjadi sahabat bahkan saudara dari rakyat dan mereka akan merasa sayang dan segan terhadap kalian, bukan takut lagi. Mereka takkan melihat kalian sebagai iblis-iblis yang mengganggu lagi, tapi sebagai malaikat-malaikat pelindung. Nah, apakah kalian sanggup menjadi pelindung rakyat?"

"Kami sanggup!" seru dua belas orang itu serentak.

"Bagus, senang dan suka sekali hatiku mendengar kesanggupan kalian semua. Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, Lurah Coa. Engkau tahu bahwa Thian Liong hanya hidup berdua dengan neneknya dan keadaan mereka benar-benar miskin. Untuk makan sehari-hari mereka mengandalkan hasil kerja mereka di rumahmu. Sekarang Nenek Souw sudah meninggal dunia, apa yang akan kau lakukan?"

Lurah Coa mengangkat mukanya dan Tiong Lee Cin-jin melihat berapa muka yang masih ada bilur-bilur bekas cambukan itu kini tampak cerah dan tidak tertutup hawa gelap seperti tadi.

"Sebelum saya menjawab, bolehkah kami semua mengetahui lebih dulu siapa sebenarnya saudara pendeta ini?"

"Orang menyebutku Tiong Lee Cin-jin, seorang perantau yang kebetulan lewat di sini."

Lurah Coa merangkap kedua tangan di depan dada memberi hormat, lalu bangkit berdiri. "Ternyata Cin-jin seorang pendeta yang sakti dan bijaksana. Maafkan kami sekalian yang telah bersikap kurang hormat dan sudah berani bertindak jahat. Saya sudah bertobat dan menyadari dosa-dosa saya selama ini, Cin-jin. Saya akan mengurus penguburan jenazah Nenek Souw dengan sebaik-baiknya. Dan mengenai Thian Liong, saya akan memberinya pekerjaan dan menganggap seperti anak angkat saya."

Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk. "Bagus, dan terima kasih atas kebaikanmu, Lurah Coa. Kalau untuk selanjutnya engkau bersikap dan berbuat seperti ini, aku percaya bahwa dengan perbuatan baikmu yang akan datang maka engkau dapat mencuci kotoran yang timbul dari perbuatanmu yang sudah-sudah. Nah, selamat tinggal, aku harus melanjutkan perjalananku." Setelah berkata demikian Tiong Lee Cin-jin lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari pekarangan rumah Lurah Coa.

Akan tetapi tiba-tiba Thian Liong lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Tiong Lee Cin-jin. "Suhu, perkenankan saya ikut suhu!" katanya sambil membentur-benturkan dahinya di atas tanah.

"Thian Liong, jenazah nenekmu masih belum dikebumikan," kata Tiong Lee Cin-jin.

"Sudah ada Lurah Coa yang menyanggupi untuk mengurusnya, suhu, maka biarkan saya ikut dengan suhu."

"Akan tetapi aku hanyalah seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya. Engkau akan lebih senang tinggal di sini," kata pula Tiong Lee Cin-jin.

”Benar, Thian Liong. Engkau tinggal saja di sini bersama kami. Aku akan menganggapmu sebagai anak angkatku," kata Lurah Coa.

"Tidak, suhu. Satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini hanyalah nenekku. Sekarang dia sudah meninggal dunia. Suhu sudah menyelamatkan saya, maka sekarang saya ingin ikut dan melayani suhu untuk selamanya. Saya bersedia hidup melarat bersama suhu." Anak itu meratap.

Tiong Lee Cin-jin mengangguk-angguk dan tersenyum. Dia sudah merasa bahwa anak ini berjodoh dengannya dan amat baik kalau menjadi muridnya.

"Baiklah, engkau boleh ikut denganku, Thian Liong."

"Terima kasih, suhu!" Thian Liong segera bangkit lalu berlari menghampiri jenazah Nenek Souw dan berlutut di sampingnya. "Nenek, perkenankan aku ikut dengan suhu Tiong Lee Cin-jin. Jangan khawatir, nek, jenazahmu akan diurus sebaiknya oleh Lurah Coa. Selamat tinggal, nek." Sesudah mencium muka neneknya, dia lantas bangkit dan berlari mengejar Tiong Lee Cin-jin yang sudah berjalan meninggalkan pekarangan itu.

Lurah Coa mengikuti mereka dengan pandang matanya sampai dua orang itu tak nampak lagi. Dia lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mengurus jenazah Nenek Souw baik-baik dan dia masuk ke dalam rumah untuk mengobati luka-luka lecutan di tubuhnya.

Semenjak hari itu pula Lurah Coa berubah sama sekali. Ia berubah menjadi seorang lurah yang baik sehingga kehidupan penduduk di dusun itu menjadi benar-benar sejahtera dan berbahagia.

Dua belas orang jagoan itu sekarang menjadi sahabat rakyat, menjadi penjaga keamanan dalam arti yang sesungguhnya. Sesudah mengubah sama sekali jalan hidup mereka, kini mereka mendambakan suatu kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Mereka merasa aman tenteram dalam hidup mereka, sikap dan pandangan mata semua penduduk terhadap mereka demikian ramah tulus dan hormat, tidak dibuat-buat. Baru kini mereka dapat merasakan, betapa membuat bahagia orang lain jauh lebih menyenangkan dari pada membikin susah orang lain…..

********************

Sesudah berpuluh tahun berada dalam kekacauan dan pertentangan karena Cina dikuasai Lima Dinasti yang saling berperang dan berebutan kekuasaan, akhirnya pada tahun 960M berdirilah Dinasti Sung yang berhasil mempersatukan Cina kembali. Pendiri Dinasti Sung adalah seorang panglima dari satu di antara dinasti-dinasti yang pada jaman Lima Dinasti berkuasa di Cina, yaitu Dinasti Chou. Panglima ini bernama Chao Kuang Yin.

Panglima Chao Kuan Yin menjadi kaisar yang mendirikan Dinasti Sung dengan cara yang amat unik, aneh dan lucu. Pada masa itu Dinasti Chou membutuhkan seorang yang tepat untuk menjadi kaisar karena kaisarnya yang telah tua berada dalam keadaan sakit payah. Yang ditunjuk sebagai penggantinya adalah seorang pangeran yang masih kecil, seorang anak-anak! Hal ini mendatangkan rasa penasaran dan tidak puas dalam hati para perwira.

Secara diam-diam mereka kemudian mengadakan perundingan dan melakukan pemilihan siapa kiranya yang pantas ditunjuk untuk menjadi kaisar baru. Dengan suara bulat mereka memilih Panglima Chao Kuang Yin yang mereka kenal sebagai seorang panglima besar ahli perang yang pandai dan juga bijaksana dalam pergaulannya dengan para pembesar lainnya.

Begitulah, pada suatu malam, selagi Panglima Chao Kuang Yin masih tidur, para perwira bawahannya dan para pejabat tinggi memasuki kamarnya lalu membangunkannya. Ketika panglima itu terbangun, dia merasa kaget dan heran bukan main melihat para perwira dan pembesar mengerumuninya.

"Heii, apa-apaan ini? Apakah yang terjadi? Mau apa kalian menggugahku?" Panglima itu bertanya lalu duduk di atas kursi, memandang kepada mereka semua.

Ternyata mereka sudah menyalakan lampu sehingga kamar itu menjadi terang. Dengan heran dia melihat bahwa semua perwira tinggi yang menjadi pembantunya berada di situ, juga para pejabat tinggi yang memiliki kedudukan penting di pemerintahan.

Seorang perwira yang kedudukannya paling tinggi di antara semua perwira, yaitu Perwira Ciang yang merupakan pembantu utama Panglima Chao Kuang Yin, lantas mengeluarkan sebuah jubah dan mengembangkan jubah itu hendak menyelimuti kedua pundak Panglima Chao Kuang Yin. Ketika melihat bahwa jubah itu adalah jubah kebesaran Kaisar, panglima itu cepat bangkit berdiri dan menolak.

"Apa artinya ini? Apa maksud kalian?"

"Panglima Chao Kuang Yin, atas kesepakatan dan persetujuan kami semua, maka malam ini juga kami mengangkat paduka menjadi kaisar kami yang baru!" berkata Perwira Ciang Sui.

Panglima Chao Kuang Yin membelalakkan matanya. Wajahnya berubah merah dan kedua alisnya berkerut. "Apakah kalian semua telah menjadi gila? Aku adalah seorang panglima Kerajaan Chao yang setia kepada Kaisar! Aku tidak ingin menjadi pengkhianat!"

”Panglima Chao, tenanglah dan pikirkan baik-baik. Justru karena paduka adalah seorang patriot sejati, seorang yang selalu setia terhadap kerajaan, maka paduka harus menolong dan melindungi kerajaan kita. Kaisar yang baru diangkat itu adalah seorang kanak-kanak, mana mungkin dia dapat memerintah dengan baik dan semestinya? Apa bila keadaan ini dibiarkan saja, kerajaan kita pasti akan ambruk dan siapa lagi yang dapat menyelamatkan kerajaan ini kecuali paduka?"

"Tidak, aku tetap tidak mau!" bantah Panglima Chao Kuang Yin.

Seorang perwira tinggi lain berseru, "Kalau Panglima Chao Kuang Yin tidak mau, berarti dia ingin melihat kerajaan ini hancur. Dan ini berarti dia adalah seorang pengkhianat yang harus dihukum mati!" Dia lalu mencabut pedangnya, diikuti belasan orang perwira itu yang semuanya mencabut pedang, termasuk para pejabat tinggi. Mereka menodongkan pedang mereka kepada Panglima Chao Kuang Yin yang terbelalak keheranan.

Seorang pejabat tinggi bagian Sastera dan Budaya yang bernama Can Siong Tek berkata dengan suara lembut, “Panglima Chao Kuang Yin, harap paduka suka memperhatikannya baik-baik. Kerajaan dalam keadaan bahaya. Kaisar yang diangkat masih kanak-kanak, dia tentu akan dipengaruhi lalu jatuh ke dalam tangan para menteri korup dan para thai-kam (laki-laki kebiri) penjilat sehingga pemerintahan jatuh ke tangan mereka. Dapat dipastikan kerajaan ini akan segera runtuh. Sekarang paduka tinggal pilih. Mau menjadi kaisar untuk menyelamatkan negara dan rakyat, atau jika paduka menolak maka terpaksa kami bunuh karena penolakan itu berarti paduka menentang keputusan kami."

Chao Kuang Yin berdiam sampai lama, mempertimbangkan dan berpikir keras. Dia tahu benar bahwa kalau dia menolak dan melawan, dia pasti akan tewas di tangan mereka ini. Bukannya dia takut mati, akan tetapi apa artinya kematiannya? Hal itu tak akan menolong keadaan kerajaan. Sebaliknya, jika dia hidup dan mau menerima kedudukan kaisar, maka dia dapat berusaha untuk mempersatukan seluruh negeri dan menyudahi perang saudara yang tiada henti-hentinya menghantui dan menyengsarakan rakyat jelata.

Akhirnya dia pun berkata, "Baiklah. Akan tetapi kalian harus berjanji untuk membantu aku memperkuat kerajaan dan mempersatukan semua kekuatan yang sampai sekarang masih saja saling bertentangan."

"Hidup Kaisar!" Serentak mereka berseru kemudian mengenakan jubah kaisar pada tubuh Panglima Chao Kuang Yin.

Demikianlah, Panglima Chao Kuang Yin mendirikan Dinasti Sung dan dia menjadi kaisar yang pertama dengan nama Kaisar Sung Thai Cu (960-976 M). Mulai saat itulah Dinasti Sung berdiri sampai tiga abad lebih (960-1279 M) lamanya.

Ternyata kemudian bahwa pilihan para perwira tinggi dan pejabat tinggi itu tidaklah keliru. Panglima Chao Kuang Yin yang sekarang menjadi Kaisar Sung Thai Cu ternyata adalah seorang Kaisar yang amat cerdik pandai dalam persoalan politik, seorang yang bijaksana, tidak kejam dan tidak sewenang-wenang. Apa lagi dia adalah seorang bangsa Han. Hal ini masih ditambah sikap serta sepak terjangnya yang bijaksana membuat para kerajaan dan pemerintahan lain tunduk kepadanya. Juga rakyat sudah bosan dengan peperangan yang tidak ada hentinya selama puluhan tahun, bosan dengan pengaruh kekuasaan suku-suku bangsa liar yang berebutan kekuasaan.

Tadinya, di masa kekuasaan Lima Dinasti, para penguasa daerah berdiri sendiri sebagai kerajaan-kerajaan kecil yang tidak mau tunduk kepada pemerintah pusat. Sekarang, satu demi satu mereka menyatakan takluk dan kembali berdiri di bawah panji kerajaan Sung yang dipimpin oleh Kaisar Sung Thai Cu. Kaisar Sung tetap memberi kedudukan kepada para penguasa itu sebagai pejabat tinggi dari Kerajaan Sung, sebagai semacam gubernur.

Ada pula beberapa daerah yang tidak mau tunduk. Mereka dengan mudah diserang dan ditaklukkan. Tetapi bahkan kepada mereka yang menentang ini pun Kaisar Sung Thai Cu bermurah hati. Para pemimpinnya tidak dihukum, bahkan sesudah daerah itu ditaklukkan, mereka tetap diangkat menjadi pejabat.

Demikianlah, dalam waktu beberapa tahun saja seluruh Cina telah dapat dipersatukan dan sebagian besar dari mereka ditundukkan dengan cara halus. Hanya beberapa daerah saja yang terpaksa ditaklukkan dengan kekuatan pasukan tentara.

Semenjak Dinasti Sung berdiri dengan kokohnya, gangguan dari bangsa yang oleh rakyat Cina disebut ‘bangsa liar’ jadi banyak berkurang. Gangguan yang masih ada hanya datang dari bangsa Tartar yang mendirikan Liao (sekarang Mancuria), dan juga dari bangsa Hsia Hsia di Barat Laut.

Kejayaan Dinasti Sung yang dapat mempersatukan seluruh Cina itu hanya bertahan satu setengah abad lamanya. Kemakmuran serta gangguan keamanan yang hanya sedikit itu membuat Kaisar Hui Tsung lengah. Jerih payah yang dilakukan oleh Kaisar Sung Thai Cu itu akhirnya kandas pada tahun 1121.

Kaisar Hui Tsung lengah, tidak begitu memperhatikan ketika tetangganya yang berada di utara, yaitu kerajaan Liao, telah diserbu dan dikuasai oleh bangsa Kin yang kuat. Setelah menguasai kerajaan Liao (Mancuria), Bangsa Kin kemudian menghimpun kekuatan besar sekali dan menyerbu kerajaan Sung. Bala tentara Sung mengadakan perlawanan hebat, namun akhirnya mereka dikalahkan dan seluruh wilayah Sung bagian utara telah dikuasai bangsa Kin. Kaisar Hui Tsung bahkan ditawan oleh pasukan Kin.

Pemerintah Sung lalu melarikan diri ke selatan dan kota raja dipindah ke Lin-an (sekarang Hang-chow). Karena kepindahan ini maka Dinasti ini juga disebut Sung Selatan. Wilayah Dinasti Sung Selatan berada di sebelah selatan Sungai Yang-ce. Karena tanah di daerah selatan ini jauh lebih subur dibandingkan tanah di utara, maka kerajaan Sung Selatan ini tidaklah dapat dikatakan mundur dalam hal kesejahteraan.

Kisah ini terjadi pada jaman Dinasti Sung Selatan dan pada waktu itu yang menjadi kaisar adalah Kaisar Kao Tsung, yaitu seorang keponakan dari Kaisar Hui Tsung yang ditawan oleh suku bangsa Khitan dari Kerajaan Kin. Kaisar Kao Tsung bertekad untuk membalas dendam dan melakukan perang terhadap Bangsa Tartar Khitan yang kini telah menguasai daerah utara Sungai Yang-ce. Kaisar Kao Tsung menghimpun kekuatan, mengumumkan serta mengundang kaum muda untuk masuk menjadi tentara dan turut berjuang mengusir bangsa liar yang menguasai tanah air bagian utara itu.

Demikianlah sekilas mengenai keadaan Dinasti Sung Selatan. Jatuhnya daerah utara dan kota raja yang tadinya menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sung, yaitu kota raja Tiang-an atau Kaifeng, terjadi pada tahun 1121M.....

********************

Pada lembah Sungai Yang-ce sebelah selatan terdapat sebuah kota kecil Cin-koan. Kota kecil ini cukup ramai karena merupakan persinggahan para pedagang yang mengangkut barang dagangan mereka melalui Sungai Yang-ce. Daerah itu memang terkenal dengan rempah-rempahnya. Banyak pedagang datang ke kota Cin-koan untuk membeli rempah-rempah dan ada pula yang datang membawa dagangan ke kota itu berupa bahan pakaian dan segala macam keperluan lagi.

Maka tidak mengherankan apa bila kota Cin-koan berkembang menjadi kota yang ramai, dan mulailah bermunculan rumah penginapan serta rumah makan untuk menampung para pendatang dan pedagang yang setiap hari memenuhi kota Cin-koan. Juga tidak aneh bila bermunculan pula tempat-tempat hiburan seperti rurnah perjudian dan rumah pelacuran. Para pedagang yang berada jauh dari rumah dan yang memperoleh banyak keuntungan itu haus akan pelesiran dan mereka biasa membuang uang secara royal.

Rumah pelesir Bunga Seruni adalah tempat pelesir yang paling terkenal di kota Cin-koan. Rumah pelesir ini dikelola oleh seorang mucikari yang biasanya dipanggil Lu-ma, seorang wanita gemuk berusia lima puluhan tahun.

Pagi hari itu Lu ma sudah bangun dan setelah melakukan pemeriksaan terhadap belasan orang anak buahnya, yaitu gadis-gadis penghibur yang muda dan cantik, menyuruh agar mereka tidak bermalas-malasan, cepat mandi dan mengenakan pakaian bersih dan indah, dia lantas memasuki sebuah kamar yang terpisah dan berada di bagian belakang.

Hari itu merupakan hari istimewa karena akan datang serombongan pedagang dari kota raja. Jumlah mereka ada tiga puluh orang lebih dan hal ini merupakan rejeki besar karena di antara mereka tentu ada yang hendak berpelesir di rumah Bunga Seruni yang terkenal mempunyai banyak gadis penghibur yang cantik itu.

Lu-ma memasuki kamar di belakang itu dan seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun menyambutnya. Gadis itu cukup cantik dan pakaiannya sederhana, berbeda dengan para gadis penghibur. Gadis itu adalah seorang gadis yatim piatu, masih terhitung keponakan Lu-ma dan sudah setahun lamanya dia tinggal di rumah Lu-ma.

Lu-ma sayang sekali kepada gadis yang datang dari dusun ini karena dia sangat rajin dan pandai membawa diri. Saking sayangnya Lu-ma tidak mau memeras tenaga gadis itu. Dia hanya menyuruh gadis itu melayani pria-pria pilihan saja, yaitu pria yang lembut dan royal, bukan sebangsa pria kasar.

Oleh karena itu, biar pun dia menjadi seorang gadis penghibur atau pelacur, gadis itu tidak merasa terlampau tersiksa. Dia jarang diharuskan menerima tamu, hanya beberapa hari sekali kalau kebetulan ada pria yang menurut Lu-ma pantas untuk dilayani keponakannya saja. Karena tidak ingin rnemamerkan diri, maka gadis itu berdandan secara sederhana saja biar pun hal itu tidak bisa menyembunyikan kecantikannya. Gadis itu bernama Liang Hong Yi, baru setahun tinggal di situ dan baru beberapa bulan dia melayani laki-laki pilihan bibinya.

"Bibi,. sepagi ini sudah bangun?" Liang Hong Yi menyambut bibinya sambil tersenyum.

Gadis ini juga sayang dan menghormati bibinya. Walau pun bibinya sudah menjadikan dia seorang pelacur, hal yang tidak mungkin dielakkan lagi mengingat akan pekerjaan bibinya sebagai mucikari, tetapi dia tahu bahwa bibinya sayang kepadanya. Dia tidak diperas dan tidak harus melayani sembarang pria, tidak harus melayani sebanyak mungkin pria seperti para gadis penghibur itu.

"Duduklah, Hong Yi. Ada hal penting yang ingin kubicarakan kepadamu," kata Lu-ma.

Hong Yi yang baru berusia delapan belas tahun itu berwajah bulat telur. Dagunya runcing dan sepasang mata yang indah jeli seperti mata burung dara itu dilindungi oleh sepasang alis hitam yang kecil panjang melengkung. Hidungnya kecil mancung dan mulutnya manis bukan main dengan bibir yang selalu merah basah segar menantang. Setitik tahi lalat kecil hitam di dagunya menambah manis wajahnya yang berkulit putih kemerahan dan mulus. Rambutnya juga hitam lebat, dengan anak rambut halus berjuntai pada sekitar pelipis dan dahinya. Tubuhnya ramping, akan tetapi tidak terlalu kurus, bahkan padat dan sintal.

Wuihh, pokoknya mantap.....

Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner