KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-05


"Ada apakah, bibi?" tanya Hong Yi sambil duduk di kursi berhadapan dengan bibinya dan hanya terhalang oleh sebuah meja kecil.

"Hong Yi, tadi malam aku bermimpi melihat engkau terbang sambil menari-nari di antara bintang-bintang!"

Hong Yi tertawa sambil menutupi mulutnya dengan lengan bajunya. "Hi-hik, bibi ini aneh-aneh saja. Mungkin semalam bibi keenakan tidur karena hawa udara malam tadi memang dingin sekali."

"Tidak, Hong Yi. Sesudah bangun pagi tadi aku segera mengadakan perhitungan ramalan dengan mencocokan hari tanggal lahirmu dan aku memperoleh kenyataan bahwa engkau kelak akan hidup sebagai orang besar!"

"Aihh, bibi. Orang macam aku bagaimana dapat menjadi orang besar?" Tanpa disengaja ucapan yang keluar dari bibir mungil itu bernada sedih.

Begitu mendengar ucapan keponakannya itu, Lu-ma segera meraih tangan Hong Yi yang tergeletak di atas meja. "Maafkan bibimu, Hong Yi. Mulai sekarang aku berjanji tidak akan menyuruhmu melayani pria lagi."

Wajah yang manis itu memandang kepada Lu-ma dengan mata terbelalak dan suaranya terdengar gembira. "Benarkah itu, bibi?"

"Percayalah, aku bersumpah. Akan tetapi jika engkau sudah menjadi orang besar, jangan kau lupakan aku, Hong Yi."

"Aku tidak pernah menyalahkan engkau karena aku menjadi seorang pelacur di sini, bibi. Engkau amat baik kepadaku dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu itu."

"Nah sekarang engkau berdandanlah."

"Sepagi ini harus melayani seorang pria, bibi?" Mata yang indah itu menjadi agak muram.

"Anak bodoh! Bukankah aku tadi sudah bersumpah tidak akan menyuruhmu melayani pria lagi? Tidak, bukan melayani pria. Akan tetapi aku ingin engkau pergi ke kuil Kwan-im-bio di tepi kota untuk bersembahyang dan mohon ramalan peruntunganmu."

Hong Yi tidak pernah membantah perintah bibinya, maka dia pun mengangguk.

"Baiklah, bibi. Aku akan berdandan dan segera berangkat."

Pada saat itu seorang pelayan wanita berdiri di ambang pintu kamar dan berkata kepada Lu-ma bahwa ada tamu yang hendak bertemu.

“Cepatlah berdandan dan segera berangkat, Hong Yi," kata Lu-ma yang lalu meninggalkan gadis itu.

Hong Yi segera berganti pakajan yang lebih baik walau pun masih tetap bersahaja, tidak memakai terlalu banyak perhiasan. Baru saja dia selesai berdandan, dia mendengar suara ribut-ribut dari depan, suara laki-laki yang terdengar marah-marah. Dia cepat melangkah keluar, berpapasan dengan pelayan yang ketakutan.

"Ada apa?" tanyanya kepada pelayan itu.

"Wah, celaka, nona Liang," kata pelayan itu. "Ada dua orang tamu marah-marah!"

Terdengar hiruk pikuk seperti barang-barang dibanting. Hong Yi cepat menuju ke ruangan depan. Dilihatnya Lu-ma berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat ketakutan. Tampak pula dua orang laki-laki yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun sedang mengamuk membantingi kursi dan bangku hingga kaki kursi dan bangku itu patah-patah.

"Hentikan itu!" bentak Hong Yi lantang. "Apa yang kalian lakukan itu?"

"Hong Yi, jangan masuk. Pergilah dari sini!" Lu-ma berseru sambil memberi tanda dengan tangannya agar Hong Yi pergi. Akan tetapi Hong Yi malah memasukl ruangan itu.

Dua orang laki-laki itu berhenti mengamuk dan kini keduanya memandang kepada Hong Yi dengan penuh perhatian. Keduanya menyeringai dan salah seorang di antara mereka yang kepalanya botak dan hidungnya besar melangkah maju lalu berkata, "Aha, ternyata ini yang bernama Hong Yi? Pantas, cantik dan manis. Akhirnya engkau mau keluar juga, sayang, untuk melayani kami berdua!"

Orang kedua yang tubuhnya tinggi besar, matanya lebar dan pada dahinya terdapat codet bekas luka memanjang tertawa. "Ha-ha-ha, nenek ini hendak menjual mahal. Kami berdua adalah kepala pengawal dari kota raja, dan sudah lama mendengar bahwa kembang dari rumah pelesir Bunga Seruni, bahkan juga kembang dari kota Cin-koan, bernama Hong Yi. Nah, kami ingin dilayani olehmu dan berapa pun bayarannya akan kami penuhi!"

"Aku adalah Hong Yi. Kalau bibi Lu-ma telah mengatakan tidak kepada tamu, biar dibayar berapa pun aku tidak akan mau melayaninya. Bibi Lu-ma sudah tidak membolehkan kalian mengajakku, maka kalian tidak boleh memaksa. Kenapa kalian mengamuk seperti orang-orang gila dan merusak prabotan di sini? Hayo cepat ganti kerusakan ini! Coba kuhitung... kalian ganti lima puluh tail perak. Cepat bayar lalu pergilah dari sini dan jangan sekali-kali berani datang lagi!" Ucapan Hong Yi itu bernada memerintah dan mengancam!

Lu-ma membelalakkan matanya, merasa heran dan terkejut, juga khawatir sekali melihat sikap dan mendengar ucapan Hong Yi itu. Anak ini mencari penyakit, pikirnya.

"Ha-ha-ha-ha, cantik manis dan galak! Aku senang dengan semangat itu. Engkau seperti seekor kuda betina liar dan kebetulan sekali aku suka menjinakkan kuda betina liar. Kami akan membayar ganti rugi sesudah engkau melayani dan menghibur kami berdua selama tiga hari tiga malam. Hayolah, manis, mari kita bersenang-senang!" kata si kepala botak hidung besar yang tubuhnya pendek gendut. Berkata demikian dia sudah melangkah lebar menghampiri Hong Yi sambil kedua lengannya dikembangkan siap untuk merangkul tubuh yang denok itu.

Namun dengan gerakan yang gesit sekali Hong Yi miringkan tubuh ke samping sehingga rangkulan itu luput, lalu dari samping tangannya menyambar dengan tamparan keras ke arah kepala si botak.

"Plakk!" Keras sekali tamparan itu sehingga tubuh si botak langsung terpelanting roboh.

Lu-ma terbelalak sambil kedua tangannya menutupi mulutnya yang ternganga supaya dia tidak mengeluarkan suara. Dia merasa seakan-akan sedang mimpi! Bagaimana mungkin keponakannya yang biasanya halus lembut dan tampak lemah itu tiba-tiba bisa membuat si gemuk pendek itu terpelanting roboh?

Si codet bertubuh tinggi besar itu marah sekali melihat kawannya ditampar hingga roboh. "Berani engkau memukul temanku?!" bentaknya, lantas tangan kanannya meluncur cepat. Lengan panjang itu penuh dengan tenaga raksasa dan tangan dengan jari-jari panjang itu mencengkeram ke arah pundak kiri Hong Yi.

Akan tetapi Hong Yi memutar tubuh mengelak sehingga cengkeraman itu luput, kemudian tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan itu dan sekali memutar tubuh sambil mengerahkan tenaga menyentak, tubuh si Codet yang tinggi besar itu langsung melayang dengan kaki di atas melewati atas pundak Hong Yi dan akhirnya terbanting ke atas lantai sampai terdengar bunyi berdebuk!

Dua orang kepala pengawal yang biasanya menjadi jagoan itu tentu saja merasa sangat penasaran. Mereka yang biasanya ditakuti orang itu kini roboh oleh seorang pelacur muda dalam satu gebrakan saja! Karena penasaran dan malu, mereka menjadi marah. Sesudah bangkit berdiri, keduanya segera mencabut pedang yang tadinya tergantung di punggung mereka. Dengan pedang terhunus yang berkilauan mereka berdua menghadapi Hong Yi.

"Hong Yi, larilah...!" Lu-ma menjerit dengan tubuh menggigil. Dia merasa ngeri sekali dan tidak ingin melihat keponakannya yang disayangnya itu terbunuh secara mengerikan.

Hong Yi menoleh ke arah Lu-ma sambil tersenyum senang. Dia gembira melihat betapa bibinya itu mengkhawatirkannya. "Jangan takut, bibi. Dua ekor anjing busuk ini memang sudah sepatutnya dihajar”.

Mendengar mereka dimaki sebagai anjing busuk, dua orang itu menjadi mata gelap saking marahnya.

"Mampus kau!" bentak si codet.

Si Codet sudah menyerang dengan pedangnya yang menyambar dan membacok ke arah leher yang berkulit putih mulus itu. Sementara si botak gendut juga sudah menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada. Agaknya dua orang ini sudah menjadi mata gelap dan bernafsu sekali untuk membunuh gadis yang molek itu.

Tapi di luar persangkaan Lu-ma dan para gadis penghibur yang mengintai dan menonton keributan itu, Hong Yi melangkah ke sana-sini dengan tenang namun cepat sekali seperti gerakan seekor burung walet. Langkah-langkahnya aneh namun nyatanya dua pedang itu tidak mampu menyentuhnya!

Dua orang penyerangnya menjadi makin penasaran dan mereka mengamuk, menyerang secara membabi buta. Dua batang pedang itu berkelebatan menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata. Tetapi tetap saja dua batang pedang itu tak mampu menyentuh tubuh Hong Yi yang seolah sudah berubah menjadi bayangan yang tidak mungkin dapat dibacok atau ditusuk pedang!

Semua mata yang menonton pertandingan itu, yang mula-mula memandang ngeri karena membayangkan tubuh padat ramping itu akan roboh mandi darah, sekarang memandang dengan takjub dan kagum.

Tiba-tiba saja Hong Yi mengeluarkan suara bentakan nyaring. “Lepaskan pedang!” Kedua tangannya menyambar dengan telapak tangan terbuka miring bagaikan golok membacok, hampir berbareng ke arah dua pergelangan tangan lawannya.

"Dukk! Dukk!"

Dua batang pedang terlepas dari pegangan dan dua orang pengeroyok itu menarik tangan kanan mereka karena merasa seolah tulang pergelangan tangan itu patah-patah.

Hong Yi tidak berhenti sampai di sana. Dua kakinya yang kecil panjang itu cepat mencuat bergantian, yang kiri menyambar ke arah kepala si pendek gendut disusul kaki kanannya menyambar ke arah dada si tinggi besar.

"Desss...! Desss...!"

Dua orang itu terjengkang dan terbanting keras ke atas lantai. Sejenak mereka merintih, lantas bangkit duduk. Si pendek botak memejamkan mata karena kepalanya puyeng dan segalanya tampak berputaran. Si tinggi besar memegangi dan menekan dadanya dengan kedua tangan karena dadanya terasa sesak bernapas!

Dengan kaki kirinya Hong Yi mencungkil sebatang pedang yang tadi terlepas. Pedang itu melayang ke atas dan segera disambar oleh tangan kanannya. Kemudian dia mencungkil pedang kedua yang disambar oeh tangan kirinya. Dengan sepasang pedang di tangan dia menghampiri dua orang yang masih duduk berdekatan itu, lantas menodong leher mereka dengan ujung pedang itu. Ujung pedang yang runcing menekan kulit leher mereka.

"Bersiaplah kalian untuk mampus!" bentak Hong Yi yang sekarang dari seorang dara yang lemah lembut berubah menjadi seorang wanita yang tampak gagah perkasa.

Dua orang jagoan itu menggigil ketakutan. "Ampun... ampuni kami...," mereka memohon dengan suara meratap, si botak masih puyeng dan si codet masih terengah-engah.

"Kalau begitu hayo cepat keluarkan lima puluh tail perak untuk mengganti perabotan yang rusak, kemudian cepat minggat dari sini!" bentak Hong Yi.

Walau pun napasnya masih terasa sesak, dengan jari-jari tangan gemetar si tinggi besar segera mengambil kantung uangnya lantas mengeluarkan lima puluh tail perak. Uang itu diletakkannya di atas lantai di depannya.

"Sekarang pergilah dan jangan berani muncul lagi di sini. Kalau lain kali muncul lagi, maka kedua tangan kalian akan kubuntungi!" hardik Hong Yi sambil menendang dua kali.

Tubuh dua orang jagoan itu terpental kemudian terguling keluar dari pintu ruangan depan. Mereka cepat bangkit, si codet tinggi besar masih menekan dadanya sedangkan si botak pendek gendut masih memegangi kepalanya. Seolah sedang berlomba, mereka kemudian lari pontang-panting meninggalkan rumah pelesir itu.

"Hong Yi...!" Lu-ma menghampiri gadis itu dan merangkulnya.

Hong Yi melempar sepasang pedang ke atas lantai lalu menghibur Lu-ma yang menangis. "Sudahlah, bibi. Bahaya sudah lewat dan aku yakin dua orang jahat itu tidak akan berani datang mengacau lagi."

"Hong Yi, mari... aku mau bicara..." kata Lu-ma.

Lu-ma memberi isyarat kepada seorang gadis anak buahnya untuk menyimpan uang lima puluh tail perak itu, lalu dia menggandeng tangan Hong Yi memasuki kamarnya. Sesudah menutupkan daun pintu, dia mengajak Hong Yi duduk berhadapan.

"Hong Yi, engkau sungguh mengherankan dan mengejutkan hatiku. Bagaimana engkau mampu mengalahkan dua orang jahat tadi? Bagaimana engkau yang biasanya lemah ini mendadak dapat berubah menjadi seorang pendekar wanita?"

Hong Yi tersenyum. "Aku bukan seorang pendekar wanita, bibi. Aku hanya pernah belajar ilmu silat dari seorang nikouw (bikkhuni) perantau yang dulu tinggal di dusun kami selama tujuh tahun."

"Tetapi engkau tidak pernah mengatakan hal itu kepadaku dan engkau juga belum pernah memperlihatkan kepandaian silatmu sama sekali."

"Ilmu silat bukan untuk pamer, bibi, melainkan untuk membela diri bila terancam bahaya."

"Akan tetapi engkau... ahh, betapa menyesal aku... mengapa engkau menurut saja ketika aku... menyuruhmu melayani para pria itu? Mengapa tidak kau tolak? Ahh... aku sungguh menyesal sekali..."

"Sudahlah, bibi. Engkau sudah menolongku. Engkau sudah mengurus pemakaman orang tuaku dan engkau mau menampung diriku yang yatim piatu dan sebatang kara. Jika tidak ada engkau, tentu aku akan menjadi seorang gadis yang terlantar dan entah bagaimana nasibku. Engkau sangat baik kepadaku, maka tentu saja aku menurut segala perintahmu. Aku tahu engkau menyayangku dan sebenarnya tidak ingin menjadikan aku seperti para gadis penghibur lainnya. Engkau memilih pria-pria terbaik untukku. Dan memang mereka itu bersikap lembut, menghormati dan menghargaiku. Aku tidak menyesal, bibi."

"Engkau seorang gadis yang luar biasa, Hong Yi. Aku agak terhibur mengingat bahwa aku sudah bersumpah untuk tidak menyuruh engkau melayani pria lagi. Sekarang pergilah ke kuil dan bersembahyanglah, Hong Yi. Mintalah berkah dari Kwan Im Pouwsat, sekaligus mintalah petunjuk dan ramalan. Apakah engkau perlu ditemani?"

"Tidak usah, bibi. Aku akan pergi sendiri, aku dapat menjaga diri."

Dengan membawa perlengkapan sembahyang seperti hioswa (dupa biting) dan lilin, Hong Yi lantas berangkat ke Kwan-im-bio yang berada di ujung kota Cin-koan sebelah selatan. Seorang nikouw tua menyambutnya dan Hong Yi lalu bersembahyang.

Sesuai pesan Lu-ma, sesudah selesai bersembahyang Hong Yi hendak melihat ramalan nasibnya. Maka dia mengocok tabung tempat nomor ramalan dan sesudah sebuah nomor keluar, nikouw pelayan mengambilkan ramalan tertulis itu kemudian memperlihatkannya.

Biar pun Hong Yi adalah seorang gadis kelahiran dusun, tetapi mendiang ayahnya adalah seorang terpelajar miskin yang dahulu pernah mengajarinya ilmu membaca dan menulis. Bahkan ketika selama tujuh tahun menjadi murid Bian Hui Nikouw, selain dilatih ilmu silat dia juga menerima pelajaran membaca kitab-kitab agama dari gurunya itu. Maka gadis ini pun pandai membaca dan menulis. Dia pun membaca ramalan tertulis itu.

Harimau putih bukan untuk ditakuti
seyogyanya menjadi teman sejati
temuilah seorang bermarga Han
bersamanya berjaya di Lin-an.


Meski dapat membaca sajak ramalan itu tapi Hong Yi tidak mengerti apa maksudnya. Dia tidak tahu apa yang dimaksudkan dengan Harimau Putih dan siapa pula orang bermarga Han yang harus diajaknya pergi ke kota raja itu. Akan tetapi karena kepergiannya ke kuil untuk minta ramalan itu bukan kehendak yang timbul dari hatinya sendiri melainkan untuk memenuhi permintaan Lu-ma, maka dia pun tidak mengambil pusing lagi.

Dia segera berpamit dari nikouw pelayan dan menuju pulang. Kuil Kwan-im-bio itu terletak di ujung kota yang sepi. Sebelum sampai di perumahan kota dia harus melewati sebuah ladang yang cukup luas dan bagian pinggir kota di situ sepi tak banyak dilewati orang.

Selagi dia berjalan di bawah sinar matahari yang mulai tinggi, tiba-tiba dia terkejut bukan main karena di atas jalan raya itu nampak seekor binatang menghadang perjalanannya. Ketika dia memandang penuh perhatian, dia makin heran dan terkejut karena binatang itu adalah seekor harimau yang bulunya berwarna putih.

Sebagal seorang yang mempunyai ilmu silat yang cukup tangguh dan penuh kepercayaan pada diri sendiri dalam menghadapi bahaya, Hong Yi cepat membungkuk lalu mengambil dua buah batu sebesar kepalan tangannya. Dia tidak memegang senjata, namun maklum bahwa harimau adalah sejenis binatang buas yang sangat kuat dan berbahaya. Dua buah batu itu cukup lumayan untuk dipakai membela diri.

Otomatis ia teringat akan isi ramalan dari kuil Kwan-im-bio tadi. Ramalan itu menyebutkan tentang harimau putih! Apa katanya tadi? ‘Harimau putih bukan untuk ditakuti!’

Tidak, dia tidak takut. Dia teringat bahwa anjing yang galak pun biasanya akan takut bila disambit batu, terutama kalau sambitan itu mengenai tubuhnya. Mungkin harimau ini pun akan ketakutan kalau dia sambit dengan batu, pikirnya. Setelah berpikir demikian, Hong Yi mengambil ancang-ancang, membidik ke arah sasaran lalu melontarkan sepotong batu ke arah tubuh harimau itu.

"Wuuuttt...! Dukkk!"

Sambitan itu tepat mengenai perut harimau putih. Binatang langka itu tampak terkejut lalu melompat dan melarikan diri ke kiri. Hong Yi yang masih mempunyai sepotong batu lagi, cepat mengejar lantas menyambitkan batu kedua. Harimau itu melompat ke balik semak-semak kemudian menghilang.

Hong Yi memungut sebuah batu lagi dari jalan kemudian menghampiri semak-semak itu. Dengan berindap-indap dia menghampiri semak-semak dan… dia pun tertegun. Dia tidak melihat harimau atau binatang apa pun juga, akan tetapi di balik semak-semak itu, di atas rumput hijau yang tebal, dia melihat seorang pria muda bangkit dari tidurnya, duduk lantas menggeliat seperti seekor harimau.

Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh jangkung tegap dan pada waktu menggeliat itu tampak kedua lengannya yang berotot. Wajahnya yang tampan juga membayangkan kegagahan dan kejantanan. Di dekatnya tergeletak sebuah buntalan kain kuning. Rambutnya yang hitam panjang itu ditekuk ke atas dan diikat dengan sehelai kain biru.

Tentu saja Hong Yi merasa kikuk dan tidak enak. Ia khawatir akan dikira mengintai orang yang sedang tidur. Maka dia pun segera melangkah mundur dan karena pemuda itu tidak langsung menghadapinya, maka dia dapat mundur tanpa terlihat.

Ketika dia telah sampai di jalan raya kembali, dia mendengar suara orang dari depan. Dia memandang dan melihat tujuh orang datang dengan cepat ke arahnya. Ia tidak menduga buruk dan menyangka mereka itu adalah orang-orang yang hendak pergi ke kuil. Dia tidak menaruh perhatian, apa lagi karena ia masih merasa heran akan peristiwa tadi.

Ke manakah perginya harimau putih yang aneh tadi? Dan laki-laki itu! Mengapa harimau putih itu tidak mengganggu orang itu? Padahal dia melihat betul betapa harimau itu lenyap di balik semak-semak dan orang laki-laki itu pun tidurnya di balik semak-semak. Pada waktu harimau putih tadi melompat ke balik semak-semak, sepantasnya menimpa tubuh laki-laki yang sedang tidur itu. Apakah laki-laki itu terbangun karena terinjak harimau?

Kini rombongan orang itu sudah tiba di depannya dan dia mendengar suara orang, "Inilah gadis siluman itu! Inilah pelacur laknat itu!"

Hong Yi terkejut dan memperhatikan. Dia segera mengenal si muka codet yang bertubuh tinggi besar dan si botak yang bertubuh pendek gendut itu. Dua orang yang pagi tadi telah mengamuk di rumah pelesir Bunga Seruni kemudian telah dirobohkan dan diusirnya. Dua orang itu kini datang bersama tujuh orang lain, entah hendak melakukan apa. Akan tetapi melihat sikap mereka dia dapat menduga bahwa mereka tentu tidak berniat baik terhadap dirinya. Dia pura-pura tak mengenal mereka dan menggerakkan kaki untuk pergi dari situ.

"Hei, berhenti dulu! Jangan pura-pura tidak kenal dengan kami. Bukankah engkau pelacur Hong Yi yang pagi tadi melawan kami di rumah pelesir Bunga Seruni?" si botak gendut bertanya dengan sikap beringas.

Hong Yi masih bersikap tenang walau pun dia maklum bahwa dua orang itu memang jelas mencarinya untuk membalas dendam dengan mengerahkan teman-temannya. "Betul, aku adalah Liang Hong Yi. Aku telah menghajar kalian berdua yang sudah membikin ribut dan mengacau di rumah hiburan Bunga Seruni! Sekarang kalian berdua mau apa?"

Si muka codet tinggi besar lalu berkata kepada seorang di antara mereka, "Twako (kakak terbesar), inilah gadis siluman itu! Harap twako memberi hajaran kepadanya agar dia tidak menjadi sombong!"

Orang itu mengangguk-angguk, lalu melangkah maju menghadapi Hong Yi.

"Nona engkau masih muda dan cantik, dan kabarnya engkau seorang pelacur yang biasa melayani dan menghibur kaum pria. Akan tetapi mengapa engkau mengandalkan sedikit ilmu silatmu untuk memukul dua orang rekanku ini?" tanya orang itu.

Hong Yi memandang orang itu penuh perhatian. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun. Tubuhnya jangkung kurus dan pakaiannya mewah, sikapnya halus akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam, mukanya berwarna agak kuning.

Meski pun pengalaman Hong Yi di dunia persilatan belum banyak, akan tetapi dia pernah digembleng seorang guru yang baik, yang banyak menceritakan keadaannya tentang ciri-ciri orang kang-ouw. Maka, melihat orang tinggi kurus itu, dia pun dapat menduga bahwa laki-laki ini tentu seorang ahli lweekang (tenaga dalam) yang tangguh. Oleh karena itu dia segera bersikap waspada.

"Orang-orang seperti mereka berdua itu tak akan pernah mengakui kesalahannya sendiri, melainkan akan menjatuhkan kesalahan kepada orang lain dan membenarkan diri mereka sendiri. Engkau mau tahu mengapa aku memukul dua orang itu? Mereka sudah membuat kekacauan di Rumah Pelesir Bunga Seruni dan hendak memaksa aku melayani mereka. Ketika ditolak mereka mengamuk dan merusak perabot rumah itu. Aku hanya minta agar mereka membayar ganti rugi, akan tetapi mereka malah mengeroyokku. Tidakkah sudah pantas kalau aku memberi sedikit pelajaran kepada mereka?"

"Hemm, akan tetapi bukankah engkau seorang pelacur yang harus melayani setiap orang laki-laki yang menginginimu dan mampu membayarmu?"

Hong Yi mengerutkan alisnya dan kulit kedua pipinya menjadi merah.

"Pelacur juga seorang manusia! Aku memang penjual jasa, akan tetapi secara suka rela dan tanpa ada paksaan. Aku berhak memilih dan menolak orang yang kusukai untuk aku layani!"

Si jangkung kurus itu mengerutkan alisnya. "Hemm, engkau memang seorang perempuan yang sombong. Akan tetapi mengingat bahwa engkau hanya seorang perempuan, maka aku akan mengampunimu kalau engkau suka berlutut dan minta ampun kepada dua orang rekanku ini. Kalau tidak, terpaksa aku Tiat-jiauw-eng (Garuda Cakar Besi) Ban Hok akan memberi hajaran keras kepadamu!"

Dari julukan orang itu Hong Yi pun segera tahu bahwa dia tentulah seorang ahli silat yang mengandalkan tenaga dalam dan jari-jari tangannya yang membentuk cakar. Oleh karena itu secara otomatis pandangan matanya tertuju kepada tangan orang itu dan dia melihat bahwa ujung jari-jari tangan itu tampak menghitam.

Akan tetapi dia segera teringat dengan pesan gurunya, Bian Hui Nikouw. "Jangan biarkan rasa takut dan kesombongan menguasai hatimu pada waktu engkau berhadapan dengan seorang lawan. Rasa takut bisa melemahkan sedangkan kesombongan akan membuatmu memandang rendah lawan dan engkau akan menjadi lengah. Hadapi kekerasan dengan kelembutan. Hindarkan perkelahian, kecuali kalau engkau terpaksa karena diserang."

"Paman Ban Hok, kalau aku memang bersalah, kepada seorang anak kecil sekali pun aku bersedia untuk minta maaf. Tetapi aku sama sekali tidak bersalah terhadap dua orang ini. Merekalah yang menyerangku. Tidak mungkin aku minta maaf. Kepadamu pun aku tidak ingin bermusuhan, tidak ingin berkelahl , dan harap engkau sebagai seorang tokoh kang-ouw suka mengerti dan memaafkan aku.”

Mendengar ucapan ini, Tiat-jiaw-eng Ban Hok tampak meragu. Dia adalah seorang piauw-su (pengawal barang kiriman) yang terkenal di kota raja dan dia diangkat sebagai sesepuh oleh para piauwsu yang mengawal barang ke kota Cin-koan ini. Tidak enak rasanya kalau sebagai seorang tokoh kang-ouw dia harus mendesak seorang wanita yang masih begitu muda lagi. Dia menoleh kepada dua orang kawannya itu dan berkata,

"Sudahlah, kurasa tidak ada gunanya urusan ini diperpanjang. Dia hanya seorang wanita muda dan seorang gadis penghibur pula. Alasannya tadi memang masuk akai. Kalian tak berhak memaksa seorang gadis penghibur melayani kalian kalau dia tidak suka. Jual beli memang dasarnya suka rela. Kalau si penjual tidak mau menjual barang dagangannya, si pembeli tidak boleh memaksa. Sebaliknya kalau si pembeli tidak mau membeli, si penjual pun tidak boleh memaksanya. Sudahlah, habiskan saja urusan ini.”

"Tetapi, Ban-twako! Kami sudah dihina oleh perempuan hina ini! Apakah sebagai sesepuh kami twako tidak hendak membela kami?" teriak si codet tinggi besar.

"Ya, apa artinya kami mempunyai seorang sesepuh bila tidak mau bertindak melihat kami diperhina orang? Ataukah Ban-twako merasa takut melawan gadis hina ini?" teriak pula Si gendut pendek.

Mendengar ucapan dua orang itu, hati Ban Hok terasa panas juga.

"Baiklah, aku akan membalaskan kekalahan kalian akan tetapi aku tidak mau mencederai seorang perempuan. Nona, mari kita main-main sebentar. Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!" Setelah berkata demikian, Ban Hok melangkah maju menghampiri Hong Yi dan memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang lebar, dua tangan membentuk cakar dan bergerak-gerak menyilang.

“Krekk-krekk!” jari-jari tangannya yang membentuk cakar itu mengeluarkan bunyi

Hong Yi waspada. Dia maklum bahwa sekali ini dia menghadapi seorang lawan tangguh. Ia pun segera memasang kuda-kuda miring, tangan kanannya di pinggang, tangan kirinya seperti menyembah di depan dada. Ini adalah pembukaan jurus yang disebut Menyembah Kwan Im Dengan Satu tangan'.

"Aku tidak ingin berkelahi, akan tetapi jika diserang, terpaksa aku membela diri," katanya tenang.

Tiat-jiauw-eng Ban Hok maklum bahwa gadis itu tidak mau mulai menyerang lebih dahulu, maka dia pun berseru, "Lihat seranganku!"

Dan dia pun menerjang maju, cakar kirinya mencengkeram ke arah pundak kiri gadis itu. Tetapi dengan cekatan sekali Hong Yi mengelak, miringkan tubuh sehingga cengkeraman itu pun luput. Namun dengan cepatnya cakar kanan Ban Hok menyusul, mencengkeram ke arah kepala!

Kembali Hong Yi mengelak, lantas dia pun membalas dengan tendangan dari samping ke arah lambung lawan.

"Wuuuttt...!"

Ban Hok menangkis dengan lengan kirinya dan Hong Yi merasa betapa kakinya terpental dan tergetar. Benar dugaannya. Orang tinggi kurus itu adalah seorang ahli tenaga dalam yang sangat kuat. Dia tahu bahwa dia akan kalah apa bila mengadu tenaga, maka dia pun mempergunakan kelebihannya yang dapat dia andalkan, yaitu ginkang (ilmu meringankan tubuh). Dari gurunya, dia memang mendapatkan ilmu ginkang yang cukup hebat sehingga dia mampu bergerak dengan amat cepatnya seperti seekor burung walet.

Maka terjadilah pertandingan yang seru. Ban Hok yang tadinya agak memandang rendah kepada gadis pelacur itu, kini merasa kecelik dan menjadi penasaran sekali. Tadinya dia mengira bahwa hanya dalam beberapa jurus saja dia akan mampu mengalahkan Hong Yi. Dia hanya ingin merobohkan gadis itu tanpa melukainya, hanya ingin mengalahkan untuk menebus kekalahan kedua orang rekannya. Tak tahunya, sekarang telah lewat dua puluh jurus tetapi sama sekali serangannya belum ada yang mampu menyentuh tubuh gadis itu, bahkan dia pun harus berhati-hati sekali sebab serangan balasan gadis itu ternyata cukup berbahaya.

Sekarang saking penasaran dia menjadi marah dan tidak ragu-ragu lagi untuk menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Kalau perlu dia harus merobohkan dan melukai gadis ini untuk memperoleh kemenangan.

Si codet dan si botak, diikuti pula oleh enam orang kawan mereka yang semua berjumlah delapan orang, tiba-tiba saja sudah menyerbu dan mengeroyok Hong Yi, bahkan mereka mempergunakan golok dan pedang untuk menyerang gadis itu!

"Jangan keroyok! Mundur!" teriak Tiat-jiauw-eng Ban Hok.

Akan tetapi delapan orang kawannya itu tidak mau mundur, bahkan menyerang membabi buta kepada Hong Yi yang terpaksa harus mengerahkan ginkang-nya untuk berkelebat dan menghindarkan diri dari hujan serangan pedang dan golok! Kini Hong Yi berada dalam bahaya maut!

Pada saat itu terdengar suara lantang yang terdengar laksana gerengan harimau marah. "Pengecut-pengecut hina! Dengan mengandalkan banyak orang lalu mengeroyok seorang gadis! Benar-benar tidak tahu malu dan patut dihajar!" Sesosok bayangan berkelebat dan orang itu menggerakkan tangan kakinya.


Terdengar teriakan-teriakan kesakitan lantas empat orang pengeroyok terpelanting roboh terkena tendangan dan tamparan orang yang datang membantu Hong Yi itu.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner