KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-06


Hong Yi merasa girang, maka dia pun bergerak cepat merobohkan dua orang pengeroyok dengan tendangannya. Pada saat itu orang ke tujuh dan delapan juga roboh terpelanting oleh tamparan tangan penolongnya. Sekarang tinggal Tiat-jiauw-eng Ban Hok sendiri yang masih belum roboh. Tokoh ini menjadi marah sekali melihat delapan orang rekannya telah terpelanting dan agakhya menderita luka pukulan yang cukup parah sehingga mereka tak dapat segera bangkit.

"Mundurlah, nona. Biar kuhadapi orang ini." Laki-laki yang menolong Hong Yi itu berkata tanpa menoleh kepada gadis itu.

Hong Yi melompat ke belakang, berjaga-jaga supaya delapan orang yang sudah roboh itu tidak melakukan pengeroyokan. Ketika dia memandang dengan penuh perhatian, dia pun tertegun heran. Dia mengenal wajah itu! Dia pemuda yang tadi terbangun dari tidurnya di balik semak-semak, pemuda yang disangkanya terbangun dari tidur karena terinjak oleh harimau putih yang dikejarnya!

"Orang muda lancang, siapakah engkau yang berani mencampuri urusan kami?!" bentak Ban Hok yang merasa penasaran dan marah walau pun.

Pemuda itu menggeram, suaranya dalam dan menggetarkan jantung. "Bila urusan kalian itu patut, aku Han Si Tiong tidak akan sudi mencampuri. Akan tetapi kalian ini pengecut-pengecut hina yang mengeroyok seorang gadis. Tentu saja aku mencampurinya!"

"Manusia sombong! Engkau belum mengenal kelihaian Tiat-jiauw-eng Ban Hok! Sambut seranganku!" Ban Hok telah menyerang dengan sangat ganas karena sekali ini dia sudah marah bukan main dan ingin merobohkan pemuda yang telah membuat teman-temannya berpelantingan. Pemuda yang bernama Han Si Tiong itu mengelak lalu membalas dengan tidak kalah cepat dan kuatnya. Terjadi pertandingan yang lebih hebat lagi.

Mendengar pemuda itu menyebut namanya Han Si Tiong, Hong Yi kembali tertegun. Dia teringat akan ramalan di kuil Kwan-im-bio tadi. Dalam sajak ramalan itu pun disebut-sebut tentang seorang bermarga Han! Dia mengingat bunyi sajak itu.

Harimau putih bukan untuk ditakuti
seyogianya menjadi teman sejati
temuilah seorang bermarga Han
bersamanya berjaya di Lin-an
.’

Hong Yi menonton pertandingan itu dengan bengong. Mengapa bisa demikian kebetulan? Pada hari itu juga dia melihat seekor harimau putih dan bertemu dengan orang bermarga Han, sungguh cocok dengan bunyi ramalan tadi! Dia segera memperhatikan pemuda yang menolongnya itu.

Dia adalah seorang pemuda yang bertubuh tinggi tegap, berkulit agak gelap akibat banyak tersorot sinar matahari. Wajahnya tidak terlalu tampan namun membayangkan kejantanan dan tampak gagah sekali. Usianya sekitar dua puluh lima tahun.

Pakaiannya dari kain kasar dan sederhana, biar pun sudah agak lapuk pula menandakan bahwa pemuda itu adalah seorang miskin. Punggungnya menggendong sebuah buntalan dari kain kuning. Hal ini menunjukkan bahwa pemuda itu seorang yang sedang melakukan perjalanan jauh, seorang perantau.

Hong Yi memperhatikan gerakan silat pemuda itu. Meski pun dia hanya bertangan kosong menghadapi lawan yang memiliki sepasang tangan membentuk cakar yang menggiriskan, tetapi dia sama sekali tak terdesak. Hong Yi mengenal gerakan yang kokoh dari pemuda itu sebagai ilmu silat Siauw-lim-si, karena ilmu silat yang dia pelajari dari Bian Hui Nikouw juga bersumber dari ilmu silat Siauw-lim-pai walau pun sudah bercampur dengan ilmu silat lainnya.

Kini perkelahian itu berlangsung semakin seru. Hong Yi melihat betapa pemuda itu berani menangkis cengkeraman cakar tangan Ban Hok yang mengandung tenaga dalam sangat kuat itu. Setiap kali lengan mereka beradu, dia melihat betapa lengan Ban Hok terpental. Ini menunjukkan bahwa pemuda itu pun memiliki tenaga dalam yang sangat kuat, bahkan mungkin lebih kuat dari pada tenaga dalam yang dimiliki lawannya. Sudah tiga puluh jurus mereka bertanding dan Tiat-jiauw-eng Ban Hok mulai terdesak oleh tendangan-tendangan dahsyat pemuda itu yang menjadi ciri khas dari ilmu silat Siauw-lim-pai Utara.

"Haiiiitttt...!"

Tiba-tiba Ban Hok menyerang kembali dengan kedua tangannya yang membentuk cakar elang. Pemuda yang bernama Han Si Tiong itu memutar tubuh mengelak, lantas dengan putaran tubuhnya yang dilakukan amat cepat, kakinya mencuat dan terayun cepat sekali menyambar ke arah kepala lawan. Cepat bukan main kaki kanan itu menyambar dengan posisi terbalik. Inilah jurus Sin-liong Pai-bwe (Naga Sakti Melecutkan Ekornya). Ban Hok terkejut dari mencoba untuk mengelak dengan menarik kepalanya ke belakang.

"Bukkk!"

Tendangan kilat itu tidak mengenai kepalanya akan tetapi masih menghantam pundaknya sehingga dia terpelanting roboh. Dia bangkit kembali sambil meringis kesakitan, kemudian melihat betapa teman-temannya sudah menjauhkan diri, dia pun maklum bahwa dia tidak akan mampu mengalahkan pemuda itu.

Sebagai seorang piauwsu terkenal Ban Hok juga mempunyai pengetahuan tentang sopan santun dunia persilatan. Dia mengangkat dua tangannya di depan dada memberi hormat kepada Han Si Tiong sambil berkata,

"Engkau amat lihai, sobat. Aku mengaku kalah dan maafkan kelancangan teman-temanku yang tadi mengeroyok nona ini, hal itu terjadi bukan atas kehendakku." Sesudah berkata demikian, dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi.

Begitu bertemu dengan rekannya, Tiat-jiauw-eng Ban Hok memaki mereka habis-habisan. Bagi seorang kang-ouw, kalah menang pada sebuah pertandingan adalah hal biasa, tetapi para rekannya itu telah membuat dia malu karena mereka tadi melakukan pengeroyokan, terlebih lagi yang dikeroyok adalah seorang dara muda! Sudah kalah, mendapat malu dan nama buruk pula!

Sementara itu, melihat betapa pemuda itu telah berhasil mengusir pergi orang-orang yang tadi mengganggunya, Liang Hong Yi segera maju menghampiri dan memberi hormat.

"Taihiap (pendekar besar), saya Liang Hong Yi mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan taihiap. Tanpa bantuan taihiap, entah bagaimana nasibku tadi."

Han Si Tiong memandang Hong Yi dan dia merasa kagum sekali, tak disangkanya bahwa gadis yang dikeroyok banyak laki-laki tadi, yang melakukan perlawanan dengan gigih dan cukup tangkas, ternyata seorang gadis yang begini cantik jelita!

"Nona Liang Hong Yi, harap jangan sebut aku taihiap. Aku hanya seorang pemuda dusun biasa yang sedang merantau. Namaku Han Si Tiong, sebut saja namaku tanpa taihiap, nona, karena sebutan itu hanya membuat aku menjadi malu."

Hong Yi tersenyum manis, hatinya tertark sekali. Pemuda ini gagah perkasa. Meski tutur sapanya sederhana bahkan agak kasar, tapi seluruh sikap dan pribadinya membayangkan keterbukaan, kejujuran dan kesederhanaan. Alangkah jauh bedanya dengan para pemuda yang dikenalnya atau yang diperkenalkan Lu-ma kepadanya, bahkan yang sudah pernah dilayaninya. Pada umumnya mereka itu adalah pemuda yang tampan, kaya raya, pesolek, berlagak dan suka berpura-pura. Dia pun dapat menerima sikap jujur itu dengan gembira, lalu berkata sambil tersenyum manis.

"Baiklah, aku akan menyebutmu koko (kakak) Han Si Tiong. Akan tetapi, Tiong-ko (kakak Tiong), harap engkau pun tidak menyebutku nona. Aku pun hanya seorang... gadis biasa saja yang tidak pantas menerima penghormatan dari seorang gagah sepertimu."

"Aku akan menyebutmu adik. Yi-moi (adik Yi), bagaimana engkau seorang gadis berada di sini seorang diri dan dikeroyok oleh segerombolan orang jahat tadi?"

"Aku... aku diganggu mereka dan karena tidak mau melayani, mereka lalu mengeroyokku. Tiong-ko, banyak terima kasih atas pertolonganmu tadi." Tentu saja saja Hong Yi merasa rikuh sekali untuk mengaku terus terang apa yang menjadi sebab perkelahiannya dengan orang-orang tadi. Kalau menceritakan dengan terus terang, maka dia akan terpaksa harus menceritakan bahwa dia adalah seorang pelacur!

"Ahh, Yi-moi, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Jika ada seorang laki-laki melihat wanita dikeroyok banyak laki-iaki tanpa turun tangan menolong, dia adaiah seorang pengecut dan aku tidak mau disebut seorang pengecut. Sekarang mari kuantar engkau pulang. Di mana rumahmu?"

Hong Yi menuding ke depan di mana sudah tampak tembok kota Cin-koan. "Rumahku di kota Cin-koan itu, akan tetapi terima kasih, Tiong-ko, engkau tidak perlu menyusahkan diri mengantar aku pulang."

"Sama sekali tidak menyusahkan diri, Yi-moi, Aku akan mengantarmu sampai ke rumah dengan selamat. Aku khawatir bila orang-orang jahat tadi akan kembali menghadang dan mengganggumu. Karena itu aku harus mengantar dan mengawalmu, Yi-moi," kata Han Si Tiong dengan suara tegas.

Hong Yi menghela napas panjang. Dia merasa kasihan terhadap pemuda gagah itu kalau sampai ketahuan orang bahwa pemuda itu mengantar dia, seorang pelacur pulang. Untuk membuat pemuda itu mundur, terpaksa dia harus mengaku siapa dirinya.

"Tiong-ko, ketahuilah bahwa aku... aku... tidak sepantasnya engkau antarkan pulang. Aku tidak berharga untuk kau kawal, Tiong-ko. Hal itu hanya akan merendahkan namamu dan mencemarkan kehormatanmu."

Han Si Tiong terbelalak, lalu mengerutkan alisnya yang hitam tebal. "Ehh, apa maksudmu kata-katamu itu, Yi-moi? Apa artinya itu?"

"Tiong-ko, ketahuilah, aku sama sekali bukan seorang wanita terhormat seperti yang kau duga. Aku... aku hanya seorang gadis pelacur...! Dua orang di antara mereka tadi hendak memaksaku untuk melayani mereka, tetapi aku menolak sehingga mereka menjadi marah kemudian mengeroyokku. Nah, sekarang engkau sudah tahu siapa diriku, karena itu tidak sepantasnya engkau mengantar aku. Selamat tinggal…!” Hong Yi lalu membalikkan tubuh dan berjalan cepat meninggalkan Si Tiong menuju ke kota Cin-koan.

Akan tetapi dia mendengar langkah kaki di belakangnya. Hong Yi menengok dan ternyata pemuda itu berjalan mengikutinya tanpa bicara.

"Ehh, Tiong-ko, mengapa engkau mengikuti aku?"

"Aku harus mengawalmu pulang,” jawab pemuda itu singkat.

"Akan tetapi aku... aku..."

"Engkau juga seorang manusia, bukan? Selama engkau seorang manusia, engkau tidak ada bedanya dengan aku."

Hong Yi menghela napas kemudian melanjutkan langkahnya, tetap diikuti oleh Si Tiong.

"Akan tetapi pekerjaanku..."

"Aku tidak pernah menilai manusia dari pekerjaannya, kedudukannya atau keadaan harta dan kepintarannya, melainkan dari sikap serta perbuatannya. Dan aku melihat sikap serta tindakanmu terhadap orang-orang jahat tadi cukup baik dan mengagumkan, Yi-moi."

"Tiong-ko..." Hong Yi berkata lirih lalu terdiam dan melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Si Tiong. Mereka tidak bercakap-cakap lagi tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Han Si Tiong yang kini sudah berusia dua puluh lima tahun itu belum pernah bergaul dan berdekatan dengan wanita, bahkan belum pernah merasa tertarik kepada wanita. Namun sekali ini dia merasa tertarik dan kagum sekali kepada Hong Yi. Bukan hanya tertarik dan kagum akan kecantikan gadis itu dan kegagahannya yang berani melawan pengeroyokan banyak laki-laki, tetapi terutama sekali kagum mendengar pengakuan gadis itu bahwa dia adalah seorang pelacur. Pengakuan ini saja telah membuktikan bahwa gadis ini berwatak jujur dan tidak menyembunyikan keadaan dirinya agar dianggap terhormat.

Dia melihat dan merasakan bahwa walau pun gadis ini mengaku dirinya sebagai pelacur, akan tetapi sikapnya sama sekali tidak membayangkan sebagai seorang wanita yang tak mengenal kesusilaan. Kenyataan ini membuat hati Si Tiong menjadi penasaran sehingga dia ingin sekali mengetahui mengapa seorang gadis seperti Liang Hong Yi sampai menjadi seorang wanita penghibur pria.

Hong Yi juga melamun dan jantungnya merasa berdebar-debar. Dia sendiri belum pernah jatuh cinta kepada seorang pria. Walau pun dia terpaksa menyerahkan diri untuk melayani laki-laki, akan tetapi hal itu hanya dilakukan tubuhnya saja. Perasaan hatinya tidak pernah tersentuh oleh cinta nafsu.

Sekarang, sesudah dia mengetahui isi ramalan dari Kwan-im-bio mengenai pertemuannya dengan harimau putih dan seorang pria bermarga Han yang kemudian menjadi kenyataan, hatinya terguncang. Dia merasa seolah-olah kemunculan pemuda ini mempunyai arti yang teramat penting dalam kehidupannya, seolah pemuda ini akan mendatangkan perubahan besar dalam hidupnya. Dia sendiri tidak tahu apakah dia telah jatuh cinta, tapi yang jelas, dia merasa kagum dan berhutang budi kepada Han Si Tiong yang sekarang mengawalnya dengan langkah tegap di belakangnya.

Baru saja Hong Yi sampai di depan pintu rumah pelesir Bunga Seruni, Lu-ma telah keluar menyambut dengan wajah berseri dan mata mengandung penuh pertanyaan dan harapan. Saking tegangnya Lu-ma hanya memperhatikan Hong Yi dan seolah tidak melihat bahwa gadis itu datang bersama. Han Si Tong.

"Bagaimana, Hong Yi, ramalan apa yang kau dapatkan?" tanyanya penuh keinginan tahu.

Hong Yi tersenyum dan menoleh kepada Si Tiong lalu memperkenalkan pemuda itu. "Bibi, taihiap (pendekar besar) ini adalah Han Si Tiong yang sudah menyelamatkan aku ketika para piauwsu tadi mengeroyokku di jalan bersama teman-temannya. Tiong-ko, ini adalah bibiku Lu-ma."

Kini barulah Lu-ma memperhatikan pemuda itu dan mendengar bahwa pemuda itu sudah menyelamatkan Hong Yi dari pengeroyokan banyak orang, dia lantas bersikap ramah dan hormat walau pun alisnya berkerut melihat pemuda itu berpakaian kain kasar sederhana karena biasanya para pria yang berkunjung ke situ semua berpakaian mewah dan indah.

"Ah, Han-taihiap, silakan masuk dan silakan duduk." la mempersilakan pemuda itu masuk ke ruangan tamu.

Mereka bertiga kemudian memasuki ruangan tamu. Ketika Han Si Tiong melihat beberapa orang gadis muda dan cantik berpakaian indah duduk di ruangan itu, dia menjadi ragu lalu memandang kepada Hong Yi.

"Yi-moi, maafkan aku. Karena engkau sudah sampai di rumah dengan selamat, maka aku mohon pamit, hendak melanjutkan perjalananku." Dia dapat menduga bahwa empat orang gadis cantik yang tersenyum-senyum manis itu tentulah para gadis penghibur. Walau pun dia sendiri belum pernah berkunjung ke rumah hiburan, akan tetapi dia pernah mendengar tentang rumah pelacur semacam itu.

Hong Yi terkejut mendengar ini. "Nanti dulu, Tiong-ko. Harap engkau suka duduk dulu..."

Hong Yi melihat betapa pemuda itu melirik ke arah para gadis penghibur dengan dua alis berkerut, maka tahulah dia mengapa pemuda itu tergesa-gesa hendak pergi. Dia memberi isyarat kepada empat orang gadis itu untuk meninggalkan ruangan tamu. Empat gadis itu mengerti dan sambil tersenyum manis mereka kemudian meninggalkan ruangan tamu dan memasuki ruangan dalam.

“Silakan duduk dulu, Tiong-ko. Aku hendak bicara sebentar dengan Bibi Lu-ma." Hong Yi bertepuk tangan, kemudian muncullah seorang pelayan wanita setengah tua. "Bibi, harap hidangkan minuman dan makanan kering untuk tamu!" Setelah mengangguk lagi kepada Si Tiong, Hong Yi lalu menarik tangan Lu-ma, diajak masuk ke dalam kamarnya.

"Bibi, sudah terjadi hal yang aneh dan luar biasa sekali pada diriku!" kata Hong Yi sambil duduk di atas kursi dalam kamarnya dan Lu-ma duduk di sebelahnya.

"Apa yang telah terjadi? Engkau kelihatan begini tegang dan gembira," tanya Lu-ma yang memang sudah tak sabar karena ingin sekali mengetahui apa yang dialami Hong Yi ketika pergi ke kuil Kwan-im-bio.

“Aku telah sembahyang di Kwan-im-bio, juga minta ramalan. Dan inilah hasil ramalan itu." Hong Yi mengeluarkan sehelai kertas, lalu membacanya dengan lirih agar jangan sampai terdengar dari luar kamar.

Harimau putih bukan untuk ditakuti
seyogianya menjadi teman sejati
temuilah seorang bermarga Han
bersamanya berjaya di Lin-an.


”Wah, menarik sekali. Tetapi apanya yang luar biasa dan aneh?"

"Begini, bibi. Ketika aku pulang dan berada di jalan sunyi, tiba-tiba saja aku melihat seekor harimau putih yang amat besar.”

"Ehh? Lalu bagaimana?" Lu-ma semakin tertarik.

"Karena takut kalau-kalau harimau putih itu menyerangku, aku lalu menyambitnya dengan batu. Dia lari ke belakang semak-semak dan ketika aku mengejarnya, ternyata dia lenyap malah di belakang semak semak itu aku melihat seorang pemuda terbangun dari tidurnya. Kukira dia terinjak harimau itu, akan tetapi harimaunya tidak ada.”

”Hemmm, mungkin harimau putih itu adalah semangatnya yang keluar ketika dia tertidur,” kata Lu-ma. "Kemudian bagaimana?”.

"Aku lalu melanjutkan perjalanan tetapi tiba-tiba muncul delapan orang, di antaranya dua orang piauw-su (pengawal barang) yang kuhajar di sini, dan mereka mengeroyokku. Aku tentu celaka kalau saja tidak ditolong orang. Dan engkau tahu, bibi, siapa penolongku itu? Dia bukan lain adalah pemuda yang kulihat terbangun dari tidur di belakang semak-semak di mana harimau putih itu lenyap! Dan yang lebih aneh lagi, namanya Han Si Tiong, dia bermarga Han seperti yang dikatakan ramalan Kwan-im-bio itu! Dan dia itulah orangnya!" Hong Yi menudingkan telunjuknya ke arah luar di mana si Han Si Tiong duduk di ruangan tamu.

Lu-ma terbelalak. "Wah... cocok benar. Coba, bagaimana bunyi ramalan itu tadi? Harimau putih bukan untuk ditakuti, seyogianya menjadi teman sejati, temuilah seorang bermarga Han, bersamanya berjaya di Lin-an. Hemm..., sungguh cocok pula dengan mimpiku. Hong Yi, tidak salah lagi, dialah jodohmu. Kelak engkau bersama dia akan menjadi orang besar kalau kalian berdua pergi ke Lin-an!”

“Tapi, bibi..." terkejut juga hati Hong Yi mendengar kata-kata itu karena sebelumnya tidak pernah sedikit pun terpikir olehnya tentang kemungkinan perjodohan dengan seorang laki-laki yang baru saja dijumpainya.

"Tapi apa lagi, Hong Yi? Biar pun aku baru melihat sekejap, tetapi jelas dia masih muda, tubuhnya tegap dan wajahnya tidaklah buruk. Apa lagi dia adalah seorang pendekar yang telah menolongmu. Apakah engkau tidak mau menjadi isterinya?"

Hong Yi menghela napas panjang. "Entahlah, bibi. Akan tetapi yang perlu dipertanyakan, apakah dia mau menjadi suamiku?"

"Kalau begitu berarti engkau mau menjadi isterinya, bukan? Biar aku bertanya kepadanya sekarang juga. Hong Yi, firasatku mengatakan bahwa kelak engkau akan menjalani hidup mulia bersamanya. Semua cocok dengan mimpiku dan cocok pula dengan ramalan Kwan-im-bio."

Tanpa menanti jawaban Hong Yi, wanita itu lantas melangkah keluar dari kamar Hong Yi menuju ke ruangan tamu. Hong Yi tidak mencegah. Dia hanya bersikap pasrah. Bukankah masih jauh lebih baik menjadi isteri seorang pendekar budiman yang gagah perkasa dari pada menjadi seorang pelacur hina?

Pelacur hina? Hong Yi tercenung dan melamun!

Pertanyaan ini selalu menggores kalbunya. Pelacur dianggap oleh umum sebagai wanita yang kotor, rendah, dan hina sekali, bahkan nyaris tidak dipandang sebagai manusia lagi, melainkan sebagai sampah masyarakat yang selalu dikutuk dan dimaki. Orang tak peduli dan tidak mau tahu lagi tentang. alasan mengapa para wanita itu menjadi pelacur.

Dia sendiri yang langsung terjun ke dalam dunia pelacuran, sungguh pun belum lama dan hanya jarang saja dia diharuskan melayani pria, dia mengenal kehidupan mereka dan tahu kenapa mereka terpaksa menjadi pelacur. Sebagian besar dari mereka merupakan korban kemelaratan, korban kelemahan mereka dan korban laki-laki!

Seperti Siu Lin itu. Dia anak keluarga miskin di dusun yang telah tenggelam dalam hutang sampai ke leher mereka. Ayahnya terpaksa mentegakan hati menjual anak gadisnya itu ke rumah hiburan yang dikelola Lu-ma. Hasil penjualan anak gadisnya lalu dipakai untuk melunasi hutang-hutangnya, menebus sepetak sawah yang digadaikan sehingga keluarga itu dapat bercocok tanam lagi dan menghidupi semua anggota keluarga. Penghasilan ini pun masih tidak mencukupi kebutuhan perut suami isteri dengan sisa lima orang anaknya itu sehingga Siu Lin harus membantu keluarga orang tuanya, menyisihkan sebagian hasil pekerjaannya menjual diri untuk memungkinkan adik-adiknya makan setiap hari.

Nasib gadis penghibur yang bernama Si Hu juga tidak lebih baik dari pada Siu Lin. Kalau Siu Lin menjadi korban kemelaratan orang tuanya, Si Hu menjadi korban kekejaman dan kejahatan laki-laki. Dia pun dari keluarga melarat dan ketika dia berusia tujuh belas tahun, pada suatu hari yang naas baginya da diperkosa oleh seorang penjahat.

Penjahat itu kemudian melarikan diri, meninggalkan Si Hu yang bukan hanya kehilangan kehormatannya tapi juga kehilangan nama baik. Peristiwa itu membuat dia dicemooh dan dipandang rendah orang karena dia sudah bukan perawan lagi. Kaum wanita mencibirkan bibir kepadanya, ada pun kaum pria bersikap kurang ajar dan berusaha untuk menggoda dan mengganggunya, menganggap dia seorang wanita murahan!

Dalam keadaan seperti itu, para pemuda yang tadinya menaruh perhatian dan berhasrat untuk mempersuntingnya sebagai isteri, satu demi satu mengundurkan diri. Mereka tidak lagi berniat ingin memperisteri Si Hu, tapi hanya ingin menjinahi dan mempermainkannya. Lebih menghancurkan hatinya lagi, orang. tuanya merasa malu sehingga akhirnya dia pun meninggalkan dusunnya dan ditampung oleh Lu-ma untuk menjadi gadis penghibur atau pelacur.

Kui Nio lain lagi. Dia sudah bertunangan. Akan tetapi ketika tunangannya merayunya, dia jatuh dan menyerahkan dirinya digauli tunangannya sebelum mereka menikah. Kemudian, seperti seekor kumbang yang sudah menghisap sari madu setangkai bunga, tunangannya itu meninggalkannya begitu saja! Karena keadaannya yang sudah bukan perawan lagi itu tidak memungkinkan dia untuk dapat memperoleh suami, dia melarikan diri dari dusunnya untuk menghindarkan aib dan malu. Karena dia butuh sandang pangan dan tidak mampu bekerja lain, juga tidak bermodal uang, akhirnya terpaksa ia menjadi pelacur bermodalkan tubuhnya yang masih muda dan segar serta wajahnya yang cukup manis. Kui Nio ini pun menjadi pelacur akibat kejahatan laki-laki.

Siok Li dan Ceng Nio keduanya adalah janda muda beranak satu yang diceraikan suami mereka. Sebagai janda dengan anak satu mereka harus mencukupi kebutuhan anak dan diri mereka sendiri. Mereka pun tidak bisa bekerja lain kecuali memperdagangkan dirinya. Kembali kedua orang ini pun menjadi korban pria yang tidak bertanggung jawab.

Memang ada beberapa orang gadis penghibur, tetapi jumlahnya tidak banyak, yang terjun ke dunia pelacuran karena ingin hidup berkecukupan, ingin mencari uang dengan mudah. Ada pula, tetapi golongan ini hanya sedikit sekali jumlahnya, yang menjadi pelacur selain mencari uang mudah, juga untuk mencari kesenangan dan kepuasan diri.

Apa pun alasannya, orang tak mau mengerti dan tetap saja pelacur selalu dipandang hina dan rendah. Akan tetapi anehnya, kaum laki-laki yang datang melacur sama sekali tidak dipandang rendah atau hina! Padahal, dalam pandangan Hong Yi, para pria yang datang untuk melacur itu jauh lebih rendah dan hina ketimbang pelacurnya!

Sejahat-jahat dan sejelek-jeleknya pekerjaan seorang pelacur, dia masih memiliki banyak jasa. Ia menghibur hati pria yang sedang kesepian, dia menjadi tempat penampungan dan pelarian bagi pria yang sedang berduka atau patah hati, juga menjadi tempat penyaluran nafsu yang kalau tidak tersalur bisa saja menimbulkan adanya perkosaan atau perjinahan. Betapa pun rendahnya dipandang orang, apa yang dia lakukan adalah sebuah pekerjaan, sumber nafkah, dan di dalam melakukan pekerjaan itu dia tidak mengkhianati siapa-siapa, dia pun tidak memaksa orang untuk membeli tubuhnya. Semua terjadi dengan suka rela dan senang hati.

Tapi sebaliknya, para pria yang datang melacur tetap dihormati orang. Padahal apa yang mereka lakukan? Pria melacur karena iseng dan semata-mata untuk mencari kesenangan serta melampiaskan nafsunya. Dan yang lebih jahat lagi, dia mengkhianati tunangannya atau isterinya yang setia menunggunya di rumah!

Hong Yi menghela napas panjang. Dia menyadari sepenuhnya bahwa melacur itu adalah pekerjaan yang rendah dan hina. Akan tetapi apa daya seorang wanita? Dia sendiri adalah seorang yatim piatu yang sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. la tidak tahu bagaimana harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Pada waktu itu lapangan kerja untuk wanita sangat sempit dan sulit. Seorang gadis paling bisa akan diterima sebagai pembantu rumah tangga atau pelayan. Dan bukan rahasia lagi bahwa pembantu wanita yang muda, apa lagi cantik, pasti akan menjadi bahan permainan majikan prianya! Akibatnya tentu lebih payah lagi Seorang pelacur setidaknya masih bisa memilih pria mana yang akan dilayaninya. Akan tetapi seorang pelayan rumah tangga? la tiada ubahnya seorang budak belian.

Kembali Hong Yi menarik napas panjang. Apa pun alasannya, seorang pelacur tetap saja dipandang rendah oleh umum. Dia sendiri seorag pelacur, biar pun keadaannya jauh lebih baik dibandingkan para gadis pelacur lainnya karena Lu-ma sayang padanya, akan tetapi tetap saja dia adalah seorang pelacur. Kaum laki-laki hanya sayang dan suka kepadanya sebagai mainan yang menyenangkan, yang menghibur, akan tetapi tentu saja tidak akan ada laki-laki yang menghormatinya dan mau menerimanya sebagai seorang isteri!

Tetapi sekarang Lu-ma, bibinya itu, hendak menjodohkan dia dengan Han Si Tiong! Mana mungkin pemuda itu sudi menerimanya sebagai seorang isteri? Sungguh pun pemuda itu tampak miskin, namun dia seorang pemuda gagah perkasa, seorang pendekar! Kalau tadi Han Si Tiong tidak memandang rendah kepadanya dan mau mengantarnya pulang walau pun dia sudah mengaku bahwa dia adalah seorang pelacur, hal itu tentu hanya terdorong oleh kependekarannya yang ingin menolong seorang wanita yang diganggu orang-orang jahat. Akan tetapi menjadi suaminya? Ahh, rasanya tidak mungkin…..!

********************

Pada saat itu, di ruang tamu Han Si Tiong memandang wajah Lu-ma dengan kedua mata terbelalak dan hampir tidak dapat percaya akan apa yang didengarnya.

"Bibl Lu, tidak salahkah apa yang kudengar darimu tadi? Tolong ulangi lagi apa yang kau usulkan tadi, bibi. Aku khawatir kalau tadi aku salah mendengar," kata pemuda itu sambil menatap wajah wanita itu penuh selidik.

"Engkau tidak salah dengar, Han-taihiap. Ketahuilah, Liang Hong Yi adalah keponakanku yang kusayangi seperti anak kandungku sendiri. Sudah lama aku mengiginkan supaya dia dapat berjodoh dengan seorang pemuda yang baik, yang mampu melindunginya. Setelah bertemu denganmu, kami merasa yakin bahwa engkaulah orang yang kami tungu-tunggu, engkaulah jodoh yang terbaik untuk Hong Yi, taihiap."

Karena sudah mendengar untuk kedua kalinya, kini Si Tiong tidak terkejut lagi, akan tetapi tetap saja masih merasa heran dan ragu. Usul ini datangnya terlalu mendadak dan sama sekali tidak tersangka-sangka.

"Akan tetapi..."

Lu-ma mengira bahwa keraguan Si Tiong itu karena mengingat akan pekerjaan Hong Yi, maka dia pun segera memotong, "Han-taihiap, Hong Yi adalah keponakanku sendiri dan aku amat sayang kepadanya. Karena itu, meski pun dia pernah melayani pria, akan tetapi selalu kupilihkan lelaki yang terbaik untuknya dan itu pun jarang sekali terjadi. Dia bukan seperti para gadis penghibur lainnya, taihiap”.

"Bukan itu maksudku, bibi. Akan tetapi... ketahuilah bahwa aku adalah seorang pemuda yang tidak mempunyai apa-apa, rumah tiada, uang tiada, bahkan pekerjaan pun sedang kucari. Baru saja aku ditinggal mati ibuku, dan ayahku... sejak aku berusia sepuluh tahun sudah meninggalkan ibuku dan aku. Aku seorang yang hidup sebatang kara, miskin dan papa, bibi. Lantas bagaimana aku dapat berjodoh dengan adik Hong Yi? Bagaimana aku dapat menikah dengan keadaanku yang seperti ini?"

Hati Lu-ma terasa lega mendengar ucapan pemuda itu. Tadinya dia khawatir pemuda itu menolak karena Hong Yi adalah seorang pelacur, namun ternyata tidak. Bahkan pemuda itu merasa dirinya tidak berharga karena yatim piatu dan miskin.

"Oooh, kalau soal itu, taihiap tidak usah khawatir dan tidak perlu repot-repot. Kami hanya mengharapkan jodoh Hong Yi seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Kami tidak mencari lelaki kaya. Jangan khawatir, Han taihiap, kami tidak mengharapkan emas kawin sekeping pun darimu, bahkan untuk semua keperluan perayaan, termasuk pakaian untuk sepasang mempelai, kami sendiri yang akan membiayainya. Hanya satu yang ingin kami ketahui, taihiap. Sesungguhnya engkau sedang menuju ke manakah dalam perantauanmu ini?"

"Aku hendak mencari pekerjaan ke kota Lin-an (Hang-chow) di selatan bibi."

Lu-ma hampir bersorak. Cocok sekali dengan ramalan Kwan-im-bio itu.

"Bagus! Aku yakin bahwa bersama Hong Yi, engkau akan dapat memperoleh kedudukan yang baik dan tepat di Lin-an. Pernikahan kalian akan kita rayakan di sini, baru kemudian kalian berdua berangkat ke Lin-an!"

Ketika Hong Yi mendengar dari Lu-ma bahwa Han Si Tiong sudah menyetujui perjodohan itu, diam-diam dia merasa girang sekali. Akan tetapi dia adalah seorang gadis yang cukup bijaksana dan dia tidak puas dengan keterangan Lu-ma begitu saja. Sesudah mendengar dari Lu-ma bahwa Si Tiong sudah setuju, dia langsung menemui pemuda itu yang masih duduk di ruangan tamu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner