KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-07


Walau pun merasa rikuh dan canggung karena malu, Hong Yi duduk di depan pemuda itu, terhalang meja dan sejenak mereka saling pandang. Sesudah menatap pemuda itu penuh selidik seolah hendak menjenguk ke dalam dadanya, kemudian Hong Yi berkata lirih.

"Tiong-ko, benarkah keputusanmu sudah bulat bahwa engkau sudi menerima aku sebagai isterimu? Sudah kau pikirkan masak-masak dan engkau tak akan menyesal di kemudian hari? Ingat, Tiong-ko, aku adalah seorang….”

"...hushh..., Yi-moi, aku tidak mau dengar itu. Bagiku engkau seorang gadis yang baik dan halus budi," potong Si Tiong.

"Akan tetapi, engkau seorang pendekar gagah perkasa, sedangkan aku..."

"Engkau pun seorang gadis yang gagah perkasa, Yi-moi. Begitu bertemu denganmu, aku merasa kagum dan suka sekali. Sebab itu ketika bibi Lu mengusulkan tentang perjodohan denganmu, aku merasa seolah-olah kejatuhan rembulan! Aku hanya masih merasa ragu-ragu apakah kelak engkau tak akan menyesal menjadi isteriku, Yi-moi. Aku seorang yang hidup sebatang kara, tidak mempunyai apa-apa, tidak punya keluarga, tidak punya rumah, bahkan belum mempunyai pekerjaan! Bagaimana engkau dapat hidup berbahagia menjadi isteri seorang pengangguran seperti aku?"

"Tetapi tidak selamanya engkau menganggur, Tiong-ko. Kata bibi Lu-ma, engkau hendak pergi ke Lin-an untuk mencari pekerjaan."

"Benar, Yi-moi. Sesudah melangsungkan pernikahan, aku akan berangkat ke Lin-an untuk mencari pekerjaan. Aku mendengar pemerintah kerajaan sedang membutuhkan prajurit."

"Baik, aku akan ikut denganmu, Tiong-ko. Aku akan membantumu sekuat tenaga dan aku akan berusaha menjadi isterimu yang baik."

"Aku senang sekali, Yi-moi. Mudah-mudahan engkau pun tidak akan kecewa memilih aku sebagai suamimu."

Tidak ada janji muluk-muluk di antara mereka, tidak ada ucapan pernyataan cinta, namun pandang mata mereka menyinarkan hasrat untuk saling membahagiakan. Hasrat ini telah cukup kuat sebagai pengikat batin bagi dua orang yang akan hidup bersama selamanya, jauh lebih kuat dari pada ikatan cinta yang hanya didasari nafsu tertarik akan keindahan rupa atau berkilaunya kedudukan atau harta benda.

Upacara serta perayaan pernikahan itu diadakan secara sederhana namun cukup meriah. Lu-ma hanya mengundang para langganan yang baik dan sopan. Memang aneh bahwa sebuah rumah hiburan menjadi tempat perayaan pernikahan sepasang pengantin, apa lagi yang mempunyai kerja adalah si mucikari sendiri dan yang dinikahkan adalah Liang Hong Yi yang bagi beberapa orang pria tertentu, kebanyakan para bangsawan yang mengagumi Hong Yi, merupakan seorang gadis yang arnat menawan hati.

Salah satu di antara para bangsawan yang pernah dilayani Hong Yi adalah Ciang-kongcu (Tuan Muda Ciang). Dia merasa amat gembira dan terharu mendengar Hong Yi menikah. Dia memerlukan datang menghadiri perayaan dan ketika mendengar bahwa suami Hong Yi adalah seorang pendekar yang hendak mencari pekerjaan ke kota raja Lin-an, dia pun menulis sesampul surat lalu menyerahkannya kepada Hong Yi dan Si Tiong yang duduk di pelaminan.

"Aku hanya bisa memberi ini sebagai sumbangan, mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kalian. Selamat menempuh hidup baru di kota raja!" kata pemuda bangsawan itu.

"Terima kasih, Kongcu." kata Hong Yi dan Si Tiong juga mengucapkan terima-kasih.

“Surat itu untuk Ciang Goanswe (Jenderal Ciang). Dia adalah pamanku dan mungkin dia akan dapat membantu," kata pula Ciang-kongcu lalu dia kembali ke tempat duduknya.

Setelah menikah, kedua mempelai itu membuat persiapan untuk melakukan perjalanan ke Lin-an. Selama satu pekan mereka tinggal di rumah pelesir Bunga Seruni di dalam kamar Hong Yi. Keduanya merasa bahagia sekali sebab setelah menikah mereka berdua merasa cocok satu sama lain, merasa betapa masing-masing dihargai dan dihormati, dilayani dan diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kemesraan sehingga dari penghormatan dan kemesraan ini bertunaslah cinta kasih yang mendalam.

Lu-ma juga sibuk sekali membuat persiapan. Wanita yang sangat menyayangi Hong Yi itu menyiapkan segala macam perbekalan. Dengan hati tulus dia menguras banyak uangnya untuk membeli pakaian secukupnya bagi sepasang suami isteri itu. Bahkan dia menyewa sebuah kereta yang tentu saja cukup mahal untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh itu. Pada hari terakhir menjelang keberangkatan mereka, tiada hentinya Lu-ma menyusut air matanya.

Setelah selesai berkemas dan barang-barang yang hendak dibawa sudah dimasukkan ke dalam kereta yang dikusiri seorang lelaki setengah tua, Lu-ma merangkul dan menciumi pipi Hong Yi yang juga basah air mata. Gadis ini pun terharu sekali meninggalkan bibinya yang amat menyayanginya.

"Hong Yi, dan engkau juga Si Tiong, kuingatkan lagi pesanku kepada kalian. Jangan lupa untuk memberi kabar kepadaku apa bila kalian sudah tiba di Lin-an,. Ceritakan bagaimana keadaanmu dan apakah sudah memperoleh pekerjaan. Si Tiong, jaga baik-baik isterimu, dan Hong Yi, kalau kalian sudah mapan di Lin-an, jemputlah aku. Engkaulah satu-satunya orang yang kumiliki, engkau satu-satunya keponakan yang sudah kuanggap anakku. Ingin sekali aku melihat mimpiku menjadi kenyataan, hidup bersamamu dan mengasuh anak-anakmu." Lu-ma menangis dan menciumi Hong Yi.

Sepuluh orang gadis penghibur juga keluar untuk mengucapkan selamat jalan dan hampir semua dari mereka menangis terharu. Mereka semua merasa nelangsa, merasa kesepian dan merasa betapa sengsara hidup mereka, dan diam-diam mereka merasa iri terhadap Hong Yi yang memperoleh kebahagiaan di samping seorang suami.

Setelah puas mengucapkan selamat tinggal dan memeluk mereka semua satu demi satu, akhirnya Hong Yi dan Si Tiong memasuki kereta yang kemudian bergerak meninggalkan Rumah Hiburan Bunga Seruni, diiringi isak tangis Lu-ma dan lambaian tangan para gadis penghibur. Kereta terus meluncur keluar dari kota Cin-koan menuju ke kota raja Lin-an…..

********************

Seperti telah disinggung sedikit pada bagian depan kisah ini, Kerajaan Sung didirikan oleh Panglima Chao Kuang Yin yang kemudian menjadi kaisar pertama Kerajaan Sung berjuluk Kaisar Sung Thai Cu. Dengan susah payah kaisar ini berusaha mempersatukan kembali daratan Cina dan akhirnya usaha ini berhasil pada tahun 960M. Akan tetapi, seratus enam puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1126M, Kerajaan Sung menjadi berantakan dan terpaksa harus kehilangan hampir separuh wilayahnya sebelah utara.

Mula-mula, bangsa yang dianggap bangsa liar, yaitu bangsa Nunchen atau juga dikenal sebagai bangsa Kin atau Kim (Emas) yang tinggal di lembah Sungai Sungari di Mancuria, menghimpun kekuatan besar yang dahsyat dan mereka menyerang Kerajaan Liao, yaitu bangsa Khitan. Setelah melalui perang sengit, akhirnya Bangsa Kin berhasil menaklukkan kerajaan bangsa Khitan yaitu Kerajaan Liao. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1124.

Sisa bangsa Khitan yang tidak tewas melarikan diri ke barat dan mengungsi ke Turkestan Barat. Di sana bangsa Khitan tinggal di Lembah Ili dan kemudian mereka dikenal sebagai orang Kerait, Karakitan, Kitai atau Catai. Mereka mendirikan kerajaan kecil yang bertahan sampai akhirnya musnah karena kebangkitan bangsa Mongol kelak.

Ketika itu yang menjadi kaisar di dalam Kerajaan Sung adalah Kaisar Hui Cung. Kaisar ini berwatak lemah dan terlampau banyak menggantungkan keputusannya kepada perdana menterinya, yaitu Cai Ching. Kaisar Hui Cung dan para penasehatnya bersikap tidak acuh terhadap peristiwa penaklukan Kerajaan Liao oleh bangsa Kin itu.

Pada waktu bangsa Kin sudah menguasai hampir seluruh Kerajaan Liao, Gubernur Ping Chou sebagai pertahanan Kerajaan Liao terakhir, tidak mau tunduk kepada bangsa Kin, melainkan menyerahkan daerah itu kepada Kaisar Hui Cung. Tanpa pikir panjang Kaisar Hui Cung mengikuti nasehat Perdana Menteri Cai Ching, mengambil alih kekuasaan atas daerah Ping Chou kemudian mengirim pasukan untuk menjaga daerah yang dimasukkan ke wilayah Kerajaan Sung itu.

Hal ini membuat bangsa Kin marah sekali sehingga mereka lantas menyerbu ke selatan. Gelombang pasukan yang besar dan amat kuat, penuh dengan semangat berkobar, terus menyerbu kerajaan Sung sampai ke kota raja! Kembali Kaisar Hui Cung yang lemah itu mengikuti nasehat Perdana Menteri Cai Ching, yaitu memberi upeti yang berjumlah besar kepada pimpinan pasukan Kin. Tanda takluk ini nampaknya memuaskan bangsa Kin yang kemudian menarik kembali pasukannya, mundur ke utara.

Para menteri protes kepada Kaisar Hui Cung mengenai tindakan atau nasehat Perdana Menteri Cai Ching yang mendatangkan kerugian besar terhadap kerajaan. Atas desakan para menteri, Perdana Menteri Cai Ching lalu dihukum buang sebab dialah yang dianggap bertanggung jawab atas mala petaka yang menimpa kerajaan Sung.

Tapi Kaisar Hui Cung yang tidak memiliki pendirian tegas itu kembali membuat kesalahan yang besar sekali. Dia kembali mengikuti nasehat para pejabat tinggi yang menggantikan kedudukan Perdana Menteri Cai Ching. Para menteri itu menasehatkan bahwa Kaisar Hui Cung tidak seharusnya mengalah terhadap bangsa Kin yang liar. Membayar upeti kepada mereka berarti menerima penghinaan, maka sudah sepantasnya kalau mengirim pasukan mengejar dan menyerang mereka untuk membalas penghinaan ini serta mempertahankan kehormatan kerajaan Sung. Tanpa pikir panjang lagi Kaisar Hui Cung menerima nasehat ini kemudian mengirim pasukan melakukan pengejaran terhadap pasukan Kin yang ditarik mundur lalu menyerangnya.

Tentu saja bangsa Kin menjadi marah sekali. Mereka menghimpun kekuatan besar lantas kembali lagi ke selatan dan terjadilah perang besar-besaran. Akibatnya kota raja Kai-feng jatuh ke tangan bangsa Kin dan Kaisar Hui Cung bersama kurang lebih tiga ribu pembesar kerajaan Sung dibawa sebagai tawanan perang! Sisa keluarga istana bersama pasukan Sung yang kalah perang melarikan diri ke selatan, terus dikejar oleh pasukan Kin sampai menyeberangi Sungai Yang-ce dan tiba di kota Hang-chou dan Ning-po.

Pada saat itulah Kerajaan Sung mulai kehilangan wilayah yang luas sekali di bagian utara. Peristiwa ini terjadi sejak tahun 1126 sampai 1129. Dan mulai waktu itulah Kerajaan Sung mendapat sebutan Sung Selatan dan kota rajanya bernama Lin-an (Hang-chouw).

Kaisar Kao Tsung (1127-1162) berusaha keras untuk melawan kekuasaan bangsa Kin. Ia mengumumkan panggilan terhadap patriot-patriot yang gagah perkasa untuk memperkuat barisan kerajaan, untuk berbakti kepada negara dan bangsa…..

********************

Pada suatu hari, sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda memasuki pintu gerbang utara kota raja Lin-an. Melihat dua ekor kuda yang tampak sangat kelelahan serta kereta yang kotor berdebu, mudahlah diduga bahwa kereta itu tentu telah melakukan perjalanan yang jauh. Sesudah tiba di tengah kota kereta itu baru berhenti, lalu kusirnya turun memegangi kendali kuda.

"Sicu, kita telah masuk kota raja dan berada di tengah kota. Saya hanya dapat mengantar sicu berdua sampai di sini,” kata kusir itu kepada penumpangnya.

Penumpang kereta itu tidak lain adalah Han Si Tiong bersama isterinya, Liang Hong Yi. Si Tiong membuka tirai kereta dan memandang keluar. Kereta itu berhenti di depan deretan pertokoan.

"Paman, tolong bawalah kami ke sebuah rumah penginapan supaya tidak susah lagi kami mengangkut barang-barang bawaan kami," kata Si Tiong kepada kusir.

Kusir itu naik kembali kemudian menjalankan kereta. Sudah beberapa kali dia berkunjung ke kota raja Lian-an sehingga dia tahu di mana adanya rurnah penginapan. Setelah tiba di pekarangan sebuah rumah penginapan, Si Tiong dan Hong Yi menurunkan barang-barang bawaan mereka dari kereta. Setelah menerima uang pembayaran sewa kereta, kusir lalu menjalankan keretanya keluar dari pekarangan rumah penginapan itu.

Si Tiong dan Hong Yi mengangkuti barang-barang mereka, dibantu oleh seorang pelayan rumah penginapan. Setelah mendapatkan sebuah kamar, mereka lalu membawa barang-barang itu masuk kamar mereka.

Setelah mandi, bertukar pakaian bersih dan sarapan di dalam rumah makan yang menjadi bagian dari rumah penginapan itu juga, suami isteri itu keluar dari rumah penginapan itu. Di jalan raya depan rumah penginapan itu amat ramai orang berlalu lalang dan banyak di antara mereka adalah pemuda-pemuda yang bersikap gagah. Mereka adalah orang-orang yang datang ke kota raja karena tertarik oleh pengumuman pemerintah yang memerlukan orang-orang gagah untuk menjadi prajurit pasukan kerajaan.

"Yi-moi, kau keluarkan surat itu. Sebaiknya kita mencari alamat Ciang-goanswe itu," kata Si Tiong kepada isterinya yang menyimpan surat pemberian Ciang-kongcu yang menjadi tamu dalam perayaan pernikahan mereka tempo hari.

"Apakah tidak lebih baik kita berjalan-jalan dan melihat-lihat lebih dulu. Tiong-ko?"

"Tidak, Yi-moi. Kita harus dapat menemukan alamat itu dan menghadap Jenderal Ciang terlebih dahulu," kata Si Tiong dengan suara tegas sambil menatap tajam wajah isterinya. Tatapan mata yang mengandung penuh kasih sayang, tapi juga mengandung keteguhan kemauan keras.

Hong Yi tersenyum. "Kenapa begini tergesa-gesa, Tiong-ko?"

"Bukan tergesa-gesa, Yi-moi. Akan tetapi kita harus lebih mementingkan pekerjaan dari pada kesenangan. Bila urusan kita telah selesai dan kita berhasil memperoleh pekerjaan, masih banyak sekali waktu bagi kita untuk bersenang-senang dan berpelesir di kota raja ini. Bukankah engkau pikir juga begitu?"

Mendengar ucapan yang beralasan kuat dan tidak bisa dibantah tetapi diucapkan dengan lembut dan dengan senyum terbayang di mulut dan mata suaminya, Hong Yi hanya dapat mengangguk angguk dan tersenyum. Dia merasa sangat gembira menemukan suatu sisi lain yang mengagumkan hatinya dari laki-laki yang menjadi suaminya ini, yaitu sikap tegas dan kemauan yang teguh.

"Baiklah, suamiku. Isterimu selalu siap untuk melaksanakan semua kehendakmu," kata Hong Yi gembira.

"Nanti dulu, isteriku yang bijaksana! Aku tak ingin melihat isteriku tercinta seperti seekor domba yang hanya menurut ke mana engkau digiring. Engkau harus memiliki pandangan dan pendirian sendiri, juga dapat membantu dan mengingatkan aku kalau aku mengambil keputusan yang keliru. Kalau engkau hanya mengekor, lalu bagaimana kalau keputusanku keliru? Tentu kita berdua akan keliru pula."

Hong Yi memperlebar senyumnya. Dia merasa semakin bangga dan kagum.

"Jangan khawatir, suamiku. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku. Kita bekerja sama, bahu membahu, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, senang sama dinikmati, susah sama ditanggung."

”Bagus! Aku merasa bahagia sekali, Yi-moi, karena makin lama aku semakin yakin bahwa aku tidak salah memilih isteri. Nah, sekarang kita lihat alamat Jenderal Ciang itu.”

Hong Yi mengeluarkan sesampul surat pemberian Ciang-kongcu. Jenderal Ciang Sun Bo, seperti yang tertulis pada sampul surat itu, tinggal di bagian barat kota raja. Mereka lalu segera menuju ke sana setelah bertanya kepada penduduk di mana rumah jenderal itu. Ketika mereka berdua berjalan ke arah barat, mereka melihat banyak laki-laki muda juga berjalan menuju ke arah itu.

Setelah tiba di dekat gedung besar yang dikelilingi pagar tembok tinggi itu, mereka berdua mendapat kenyataan bahwa para orang muda itu pun memiliki tujuan yang sama dengan mereka, yaitu mendaftarkan diri masuk menjadi prajurit.

Mereka semua memasuki pintu gerbang yang dijaga oleh satu regu prajurit. Berbondong-bondong para pemuda itu masuk kemudian antri dalam ruangan depan di mana terdapat seorang petugas yang mencatat nama-nama mereka satu per satu. Yang namanya sudah didaftar lalu dipersilakan masuk ke ruangan berikutnya untuk pemeriksaan badan, riwayat hidup dan lain-lain.

Ketika Si Tiong dan Hong Yi ikut mengantri di ruangan depan, tentu saja Hong Yi menjadi perhatian semua orang. Bukan hanya karena dia seorang wanita yang cantik, melainkan terutama sekali karena semua pendaftar adalah kaum laki-laki, belum pernah ada seorang wanita yang turut mendaftarkan diri menjadi seorang calon prajurit. Hong Yi adalah wanita satu-satunya, maka tentu saja dia menimbulkan keheranan akan tetapi juga kegembiraan bagi para pria muda yang berada di situ.

Kaisar Kao Tsung memang sangat bersemangat untuk menyerang Kerajaan Kin di utara. Hal ini adalah karena dia merasa sakit hati, bukan hanya mendendam karena bangsa Kin sudah merebut wilayah utara yang sangat luas sehingga dia terpaksa harus melarikan diri sampai ke Hang-couw, namun terutama sekali karena ayahnya, Kaisar Hui Cung, ditawan oleh mereka sehingga meninggal dunia dalam tawanan.

Kaisar Kao Cung (Kao Tsung) ingin merebut kembali wilayah utara atau setidaknya ingin menyerang dan membalas dendam atas kekalahan Kerajaan Sung. Karena itu dia sendiri kemudian membuat pengumuman mengundang para muda untuk menjadi prajurit, bahkan memerintahkan panglimanya yang paling setia, yaitu Jenderal Gak Hui, untuk menyusun pasukan istimewa yang dipimpin oleh para pendekar yang berkepandaian tinggi. Beberapa orang panglima mendapat tugas menerima serta menampung para pemuda yang datang mendaftarkan diri. Jenderal Ciang Sun Bo adalah salah seorang di antara panglima yang ditugaskan itu.

Ketika tiba giliran Si Tiong dan Hong Yi mendaftar, petugas memandang mereka dengan kening berkerut. "Kalian maju berdua, siapakah yang hendak mendaftarkan diri?" tanya si petugas sambil menatap wajah Hong Yi yang cantik dengan kagum.

"Yang mendaftarkan diri adalah kami berdua," jawab Si Tiong dengan tenang.

Petugas itu menatap wajah Si Tiong, lalu kembali dia memandang Hong Yi.

"Siapakah dia ini? Adikmu?'

"Dia adalah isteriku."

Petugas itu mengerutkan alisnya "Kami belum pernah menerima seorang wanita menjadi prajurit. Juga kami tidak dapat menerima seorang prajurit yang membawa serta isterinya! Engkau ini hendak berperang ataukah hendak berbulan madu?"

Ucapan itu memancing tawa riuh rendah dari para calon prajurit yang berada di ruangan itu. Karena mendapat sambutan tawa, petugas itu merasa dirinya lucu dan menjadi pusat perhatian, maka dia menjadi semakin berani dan berkata lagi, "Kalau untuk mendaftarkan diri saja engkau takut sehingga minta ditemani dan diantar isteri, apa lagi jika berperang. Lebih baik engkau pulang saja, lalu bersembunyi di dalam kamar bersama isterimu, lebih enak dan asyik!" Kembali ucapannya disambut tawa.

Wajah Si Tiong sudah berubah kemerahan, tetapi Hong Yi segera menyentuh lengannya untuk memberi isyarat agar suaminya bersabar. Ia mengeluarkan sampul surat dari Ciang-kongcu kemudian menyodorkannya kepada petugas itu.

"Nanti leluconmu itu akan kusampaikan kepada Jenderal Ciang. Hendak kulihat apa yang akan dia lakukan sesudah mendengar kelakarmu yang tidak lucu kepada kami itu!" kata Hong Yi dengan suara dibuat bernada mengancam.

Petugas menerima sampul surat itu. Setelah membaca tulisan di sampul, matanya lantas terbelalak dan wajahnya pucat bukan main. Surat itu ditujukan untuk atasannya, Jenderal Ciang, datang dari keponakan jenderal itu yang tinggal di kota Cin-koan. Dia cepat bangkit berdiri dari tempat duduknya lantas merangkapkan kedua tangan di depan dada, memberi hormat sambil terbongkok-bongkok kepada Hong Yi dan Si Tiong. Ketika bicara suaranya terdengar agak gemetar.

"Maafkan,... ehh… ampunkan saya... karena tidak tahu bahwa ji-wi (anda berdua) adalah kerabat dari Ciang-goanswe, maka saya sudah berani kurang ajar dan berkelakar. Harap ampunkan saya... memang mulut ini patut ditampar..." Petugas itu lalu menampari kedua pipinya dengan kedua tangan sehingga terdengar suara plak-plok-plak-plok.

Semua orang tertawa melihat ulah petugas yang ketakutan itu. Hong Yi juga tersenyum geli dan merasa kasihan kepada petugas itu.

"Sudahlah, kami memaafkanmu."

Petugas itu berhenti menampari muka sendiri. Kini kedua pipinya menjadi merah karena tamparan itu dan dengan suara memohon dia berkata, "Akan tetapi saya mohon agar ji-wi tidak melaporkan perbuatan saya tadi kepada Ciang-goanswe..."

"Kami berjanji tidak akan melaporkan, akan tetapi sekarang cepat bawa kami menghadap beliau," kata Hong Yi yang mendahului suaminya karena dia takut kalau-kalau suaminya tidak sesabar dia dan akan marah kepada petugas itu.

"Baik, silakan tunggu sebentar, silakan duduk di sini, saya akan melaporkan dulu kepada Ciang-ciangkun (Panglima Ciang)," kata petugas itu sambil membungkuk-bungkuk.

Hong Yi duduk di atas kursi petugas tadi dan Si Tiong hanya berdiri saja karena memang tidak ada tempat duduk lain. Semua pemuda yang berada di situ kini memandang ke arah mereka, terutama kepada Hong Yi. Dengan tenang wanita ini duduk sambil tersenyum-senyum. Para pemuda itu memandang kagum, tetapi mereka tidak berani mengeluarkan kata-kata setelah tadi mendengar bahwa suami isteri itu masih kerabat sang jenderal!

Tidak lama kemudian petugas tadi sudah muncul kembali dan wajahnya tersenyum cerah ketika dia menghampiri Si Tiong dan Hong Yi.

"Ji-wi dipersilakan menghadap Ciang-goanswe. Mari, silakan mengikuti saya."

Petugas itu sendiri lalu mengantar suami isteri itu masuk ke sebelah dalam gedung besar itu. Dalam perjalanan ke dalam ini dia sempat berbisik, "Harap ji-wi tidak melupakan janji ji-wi dan tidak melaporkan perbuatan saya tadi kepada Jenderal Ciang."

Si Tiong berkata dengan tegas sambil mengerutkan alisnya. "Jangan katakan lagi urusan itu. Kami sudah berjanji dan seorang gagah akan selalu memegang janjinya!"

Setelah sampai di dalam sebuah ruangan yang luas dan tampak sunyi, petugas itu masuk seorang diri meninggalkan Suami isteri itu di luar pintu. Si Tiong dan Hong Yi mendengar percakapan pendek mereka yang berada di dalam ruangan.

"Lapor, tai-ciangkun. Suami isteri yang membawa surat sudah tiba di sini," kata petugas itu.

”Suruh mereka masuk!" terdengar suara keras yang bernada memerintah.

Petugas itu keluar dan mempersilakan suami isteri itu masuk, lalu dia pergi keluar lagi. Si Tiong dan Hong Yi masuk ke dalam ruangan itu dan melihat bahwa yang berada di dalam ruangan itu hanya seorang laki-laki saja.

Dia seorang laki-laki tinggi besar, berkulit agak kehitaman dan gagah, berusia sekitar lima puluh tahun. Dengan pakaian panglima yang mentereng, pria itu tampak gagah sekali dan berwibawa. Matanya yang lebar itu segera menyambut Hong Yi dengan pandangan mata yang membuat Hong Yi merasa tidak enak hati. Meski pun belum lama dia menjadi gadis penghibur dan tidak begitu banyak melayani pria, namun dia sudah hafal akan pandangan mata pria seperti mata panglima itu. Pandang mata yang mengandung nafsu birahi besar. Seorang pria mata keranjang! Melihat betapa mata yang lebar itu memandang kepadanya penuh kagum tanpa disembunyikan, Hong Yi segera menundukkan pandang matanya.

Si Tiong juga melihat pandangan mata panglima itu, akan tetapi sekarang dia sudah mulai terbiasa. Di sepanjang perjalanannya dari kota Cin-koan ke kota raja, hampir semua pria memandang isterinya seperti itu. Dia tahu benar bahwa isterinya memang cantik menarik, maka dia tidak dapat terlampau menyalahkan pandang mata para pria itu, bahkan kini ada perasaan bangga yang timbul dalam hatinya kalau ada pria memandang isterinya dengan kagum. Tadinya di ruangan pendaftaran dia diam-diam menikmati rasa bangganya melihat semua pemuda memandang Hong Yi dengah kagum. Hatinya berbisik bangga, "Wanita in1 isteriku! Milikku sendiri!"

Si Tiong dan Hong Yi kini sudah berdiri di depan Jenderal Ciang dan mereka mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat. Panglima itu membalas dengan lambaian tangan sambil lalu saja seperti biasanya sikap kebanyakan pembesar terhadap orang-orang yang dianggapnya jauh berada di bawahnya.

"Duduklah kalian!" katanya sambil menunjuk kursi-kursi yang berjajar di depannya.

Si Tiong dan Hong Yi mengucapkan terima kasih, lalu duduk berjajar di hadapan panglima itu. Kembali panglima itu memandang kepada Hong Yi penuh perhatian, lalu memandang kepada Si Tiong dengan sinar mata penuh selidik.

"Siapakah namamu?" tanyanya sambil memandang kepada Si Tiong,

"Nama saya Han Si Tiong, ciangkun," jawab Si Tiong dengan sikap tenang.

"Dan engkau siapa, nona?" panglima itu bertanya, kini memandang kepada Hong Yi, mata dan mulutnya tersenyum ramah, dan suaranya lebih lembut.

Mendengar ia disebut nona, Hong Yi lalu menjawab, "Nama saya Liang Hong Yi, dan saya adalah isterinya, ciangkun."

"Hemmm, menurut petugas tadi, kalian datang membawa surat dari Ciang-kongcu di Cin-koan, benarkah itu? Mana suratnya?"

Kembali Hong Yi mengeluarkan surat dari Caing Kongcu, kemudian dia bangkit berdiri dari kursinya, menghampiri panglima itu dan menyerahkan suratnya. Saat menerima surat itu, jari-jari tangan panglima itu menyentuh jari tangan Hong Yi dan dia tahu bahwa sentuhan itu sama sekali bukan kebetulan melainkan dilakukan dengan sengaja. Agaknya panglima itu menggunakan kesempatan ini untuk menyentuhnya dan hal ini saja telah membuktikan bahwa laki-laki itu adalah seorang mata keranjang.

Panglima Ciang membuka sampul dan membaca suratnya. Surat itu mengatakan bahwa Ciang-kongcu mengenal baik Liang Hong Yi dan dia berharap agar pamannya, Panglima Ciang Sun Bo suka membantu Hong Yi dan suaminya yang ingin bekerja menjadi prajurit di kota raja. Di dalam surat itu Ciang-kongcu juga memberi tahu pamannya bahwa suami Hong Yi adalah seorang pendekar.

Sesudah membaca surat itu, Panglima Ciang mengangguk-angguk. Pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya membuat Hong Yi terkejut.

"Nona Liang Hong Yi, bagaimana Ciang-kongcu dapat mengenalmu dengan baik?"

Hong Yi sempat tertegun. Tentu saja dia tak mungkin dapat menjawab bahwa dia pernah melayani kongcu itu sebagai seorang wanita penghibur! Akan tetapi hanya sejenak saja dia tertegun, lalu dengan tenang dia menjawab.

"Ciang-kongcu terkenal di kota Cin-koan kami sebagai seorang kongcu yang budiman dan hampir semua orang mengenalnya, ciangkun. Pada saat kami merayakan hari pernikahan kami, Ciang-kongcu hadir pula sebagai tamu undangan dan ketika dia mendengar bahwa kami berdua akan pergi mencari pekerjaan, Ciang-kongcu lalu memberi surat ini kepada kami."

Ciang Goanswe mengangguk-angguk lagi dan mengerutkan alisnya. Pertanyaannya yang kedua juga membuat kedua orang suami isteri itu tertegun.

"Han Si Tiong, benarkah engkau seorang pendekar yang pandai ilmu silat?"

Si Tiong agak tersipu-sipu. "Ciangkun, saya hanyalah orang biasa saja, akan tetapi saya akan selalu berada di pihak yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan."

"Ilmu silat aliran manakah yang kau pelajari?"

"Ilmu silat Siauw-lim-pai aliran utara, ciangkun."

"Dan sekarang engkau ingin menjadi seorang prajurit? Kalau benar begitu, apa alasanmu ingin menjadi prajurit?"

"Saya ingin menjadi prajurit agar dapat membantu kerajaan menghadapi bangsa Kin yang biadab, untuk membela bangsa dan tanah air," Si Tiong berkata dengan gagah dan penuh semangat.

"Bagus, engkau dapat kami terima sebagai prajurit. Hal itu dapat kami atur. Dan engkau, nona, mengapa engkau turut pula mencari pekerjaan? Apakah engkau juga ingin menjadi prajurit?" Panglima itu tersenyum sinis. "Sayang sekali, kami belum membentuk sebuah pasukan wanita."

Hemm, sudah tahu dia isteri orang, tapi masih saja memanggil nona, pikir Hong Yi. Akan tetapi Hong Yi tidak peduli dan menjawab, "Saya juga ingin berjuang membela negara dan bangsa membantu suami saya, ciangkun."

"Ehh? Apakah engkau juga pandai ilmu silat?"

"Saya pernah belajar dari subo (ibu guru) Bian Hui Nikouw selama beberapa tahun."

"Bagus kalau begitu! Nah, Han Si Tiong, engkau sekarang pergilah ke ruangan depan tadi untuk melengkapi pendaftaran kalian dengan data-data lengkap. Kalian dapat kami terima. Tetapi biarlah Liang Hong Yi di sini dulu, aku masih ingin memeriksanya. Nah, pergilah!" Panglima tinggi besar itu menuding ke arah pintu.

Si Tiong terpaksa bangkit dan keluar dari ruangan itu. Biar pun dia merasa heran kenapa isterinya ditahan, akan tetapi dia tak merasa khawatir karena dia percaya bahwa isterinya cukup mampu untuk membela diri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner