KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-09


Si Tiong dan Hong Yi segera berkemas dan sesudah makan malam mereka mengatakan kepada Lu-ma dan Bi Lan bahwa besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari menyingsing mereka akan berangkat bertugas dan sekali ini mereka akan pergi untuk waktu yang lama dan belum dapat ditentukan berapa lamanya.

"Kalian akan berangkat ke mana dan melakukan tugas apakah maka memerlukan waktu yang lama?" tanya Lu-ma.

"Kami akan memimpin pasukan menuju ke utara untuk berperang mengusir bangsa Kin," kata Hong Yi.

Lu-ma melompat bangkit dari duduknya. "Berperang...? Ahh...!" Mata nenek itu terbelalak dan alisnya berkerut, wajahnya membayangkan kekhawatiran besar.

"Engkau kenapa, nek? Ayah dan ibu adalah prajurit-prarajurit patriot yang gagah perkasa, tentu saja mereka pergi berperang untuk mengusir penjajah,” kata Bi Lan yang memang sejak kecil telah diberi pengertian mendalam oleh ayah ibunya tentang kependekaran dan kepahlawanan. ”Kita sepatutnya merasa bangga, nek”.

Lu-ma masih tampak gelisah. "Akan tetapi... bertempur...?"

"Bibi, ucapan Bi Lan tadi benar sekali. Kami harus bertempur membela bangsa dan tanah air. Karena itu kami titip Bi Lan agar kau amati dia baik-baik selama kami pergi."

"Ibu, aku ingin ikut berperang melawan Bangsa Kin!" tiba-tiba Bi Lan berkata lantang.

Si Tiong tersenyum bangga. "Engkau masih terlampau kecil. Bi Lan. Engkau harus belajar dan berlatih dengan giat agar menjadi kuat sehingga mampu melawan musuh. Sekarang belum waktunya karena di pihak musuh pun tidak ada anak kecilnya."

“Kalau sudah besar aku boleh ikut bertempur, ayah?"

"Tentu saja…! Kelak sesudah besar engkau akan menjadi seorang pahlawan yang gagah perkasa dan ditakuti musuh."

Sesudah Bi Lan tidur, pada malam itu Han Si Tiong dan Liang Hong Yi bicara lebih serius kepada Lu-ma. "Kalau terjadi apa-apa dengan kami, andai kata kami gugur dalam perang, rawatlah Bi Lan baik-baik, bibi. Di lemari itu kami tinggalkan seluruh harta milik kami yang dapat engkau gunakan untuk membesarkan Bi Lan. Jangan lupa untuk mengundang guru silat dan guru sastera untuk mendidiknya," pesan Liang Hong Yi.

Lu-ma mengangguk-angguk sambil mengusap air matanya. Dia tak bisa menyembunyikan kegelisahan hatinya. Dia sangat sayang kepada Hong Yi, menganggap wanita itu seperti anak kandungnya sendiri. Membayangkan Hong Yi bertempur dalam perang, terluka atau bahkan tewas, hatinya merasa gelisah bukan main. Melihat nenek itu menahan isak dan mengusap air mata, Hong Yi lalu merangkulnya.

"Tenanglah dan jangan khawatir, bibi. Kami berdua akan menjaga diri dengan hati-hati dan percayalah, Jenderal Gak Hui akan membawa kami mencapai kemenangan yang gilang gemilang," kata Si Tiong dengan nada menghibur dan membesarkan hati.

"Benar, bibi. Jangan khawatir dan jangan memperlihatkan kesedihan kepada Bi Lan agar anak itu tidak ikut merasa khawatir dan bersedih. Kami berdua pasti akan pulang dengan selamat," kata Hong Yi.

Akhirnya Lu-ma dapat menenangkan hatinya. Akan tetapi malam itu dia tak mau berpisah dari Bi Lan dan menemani anak itu tidur di kamar Bi Lan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali suami isteri itu sudah selesai berkemas. Ketika saat keberangkatan tiba, mereka memasuki kamar Bi Lan dan ternyata sejak tadi Lu-ma juga sudah bangun. Mereka lantas menggugah Bi Lan, karena tadi malam anak itu sudah memesan dengan sangat kepada ayah ibunya agar dia digugah bila mana mereka hendak berangkat.

Bi Lan terbangun. Hong Yi merangkul anaknya.

"Anakku Bi Lan, engkau baik-baik menjaga diri di rumah. Taati semua petunjuk nenekmu dan jangan lupa untuk belajar dengan tekun, baik sastera mau pun silat."

"Jangan khawatir, ibu." Ketika dia melihat Lu-ma mengusap air matanya, Bi Lan menegur. "Ehh, kenapa nenek menangis? Jangan cengeng dan jangan khawatir, nek. Selama ayah dan ibu pergi, akulah yang akan menjagamu!"

Si Tiong juga merangkul anaknya. "Bi Lan, ingat, selama ayah dan ibu tidak ada di rumah, engkau jangan nakal. Jangan suka berkelahi dengan anak-anak lain."

"Ayah, ibu, kalau pulang jangan lupa membawa oleh-oleh!"

Hong Yi tersenyum. "Baik, akan tetapi oleh-oleh apa yang kau inginkan, Bi Lan?"

"Aku ingin ayah dan ibu pulang dengan membawa oleh-oleh sebatang pedang bengkok milik seorang panglima Bangsa Kin!"

Han Si Tiong saling bertukar pandang dengan Liang Hong Yi. Keduanya mengangguk.

"Baiklah, Bi Lan, aku akan mengusahakan agar dapat merobohkan seorang panglima Kin dan merampas pedangnya untukmu."

Suami isteri itu kemudian meninggalkan rumah, diantar sampai keluar pekarangan oleh Bi Lan dan Lu-ma. Bi Lan mengantar ayah ibunya dengan wajah cerah dan pandang mata bangga, tidak seperti Lu-ma yang mengusap air matanya yang selalu mengalir keluar dari sepasang matanya.

Sesudah suami isteri yang sering menoleh dan melambaikan tangan itu menghilang pada tikungan jalan, Bi Lan menggandeng tangan neneknya sambil mengomel. "Aihh, nenek ini cengeng benar sih! Sudah tua masih suka menangis! Ayah dan ibu akan pergi berjuang, sepatutnya kita bergembira dan berbangga, bukan menangis."

Lu-ma menyusut air matanya lantas tersenyum, mengelus rambut kepala cucunya yang amat disayangnya. "Aku juga gembira dan bangga, Bi Lan."

"Lalu kenapa nenek menangis?"

"Hemm… karena cengeng itulah!"

"Ehh...?" Bi Lan bingung tidak mengerti.

"Sudahlah, mari kita masuk ke rumah, mandi yang segar, berganti pakaian lalu sarapan." Lu-ma lalu menggandeng tangan cucunya dan mereka memasuki rumah yang bagi Lu-ma tiba-tiba terasa sangat sepi itu…..

********************

Sepasang suami isteri itu memang tampak gagah sekali ketika mereka menunggang kuda memimpin Pasukan Halilintar yang mereka bentuk. Terutama sekali Liang Hong Yi yang tampak cantik dan juga gagah perkasa. Wanita yang baru berusia dua puluh enam tahun ini tampak gagah dengan pakaian perangnya, dan melihat isteri komandan mereka ini ikut memimpin pasukan di samping suaminya, maka para prajurit anggota Pasukan Halilintar menjadi gembira dan bersemangat sekali!

Bala tentara Kerajaan Sung itu dipimpin sendiri oleh Jenderal Gak Hui. Sesudah barisan keluar dari kota raja, Jenderal Gak Hui kemudian membagi barisan besar itu menjadi lima pasukan, di antaranya Pasukan Halilintar yang bertugas sebagai pendobrak di garis paling depan.

Pasukan-pasukan itu kemudian berpencar, dengan tujuan agar dapat menyerang benteng pertahanan tentara Kin di utara dari berbagai jurusan. Siasat ini dilakukan untuk memecah perhatian musuh, membuyarkan pemusatan kekuatan musuh sambil menimbulkan kesan seolah-olah yang melakukan penyerbuan ke utara itu jauh lebih besar jumlahnya dari pada yang sebenarnya.

Ternyata penyerbuan besar-besaran yang dilakukan barisan yang dipimpin Jenderal Gak Hui ini amat mengejutkan barisan Kin. Apa lagi karena serbuan itu dilakukan dari berbagai jurusan. Mereka melakukan perlawanan mati-matian dan terjadilah pertempuran di mana-mana, pertempuran yang dahsyat sekali.

Si Tiong memperlihatkan kegagahannya. Pasukan Halilintar yang dipimpinnya merupakan pasukan yang membuat pihak musuh berantakan sehingga terpaksa mendatangkan bala bantuan lebih besar untuk menghadapi pasukan istimewa yang dipimpin Han Si Tiong dan isterinya.

Liang Hong Yi bertempur di samping suaminya. Di setiap pertempuran wanita muda ini mengamuk dengan pedangnya. Gelung rambutnya terlepas hingga rambutnya riap-riapan ketika dia mengamuk dan merobohkan banyak lawan.

Pada saat pertempuran tengah memuncak, tiba-tiba Hong Yi melihat suaminya bertanding melawan seorang lawan bertubuh tinggi besar yang dilihat dari pakaiannya dapat diketahui bahwa orang ini adalah seorang panglima. Panglima Kin ini memainkan sebatang pedang bengkok dan dia lihai bukan main. Han Si Tiong sendiri sampai kewalahan menghadapi lawan yang amat tangguh ini.

Agaknya sepak terjang panglima Kin ini mendatangkan semangat yang berkobar di pihak pasukan Kin. Apa lagi kemudian datang pula pasukan lain yang turut membantu sehingga selain jumlah pasukan Kin lebih besar, juga kedudukan mereka jauh lebih kuat.

Ketika itu Pasukan Halilintar berada di lereng sebuah bukit dan mereka sedang terkepung ketat oleh pasukan Kin. Mereka terdesak hebat dan melihat ini, Han Si Tiong bermaksud untuk mencari jalan terobosan agar pasukannya dapat diselamatkan dan untuk sementara mundur dulu dari kepungan dari pada pasukannya hancur dibinasakan pihak lawan yang amat kuat. Juga dia melihat betapa pasukannya sudah nampak kelelahan dan semangat mereka sudah mulai lemah.

Karena perhatiannya terpecah ini, hampir saja lehernya terkena sabetan pedang panglima musuh yang dilawannya. Dia cepat melompat ke belakang kemudian memutar pedangnya sehingga tubuhnya terlindung. Sekarang terpaksa dia mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menghadapi lawan yang tangguh itu. Karena desakan ini, maka Han Si Tiong belum mendapat kesempatan untuk memerintahkan pasukannya mundur.

Liang Hong Yi juga melihat keadaan Pasukan Halilintar yang sudah terjepit dan terdesak itu. Ia merasa amat khawatir melihat pasukannya yang tampak kelelahan dan kehilangan semangat. Perwira wanita ini tahu bahwa hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri dan memenangkan pertempuran berat sebelah itu, ialah dengan meningkatkan semangat pasukannya sehingga berapi-api.

Maka dia pun langsung berlari ke arah seorang prajurit yang bertugas membawa bendera Pasukan Halilintar. Setelah tiba dekat, dia lalu berseru, "Berikan bendera dan genderang itu!"

Dia merampas begitu saja bendera pasukan dan sebuah genderang perang, lalu berlari ke arah puncak bukit kecil tak jauh dari situ. Setelah tiba di puncak, dia menancapkan tiang bendera di puncak, lalu dia memukul gendereng dengan sekuat tenaga, mengisyaratkan penyerbuan.

Bunyi genderang bertalu-talu, amat nyaring hingga mengejutkan Pasukan Halilintar sendiri sekaligus juga pihak lawan. Ketika pasukan Kin melihat bahwa yang memukul genderang itu seorang wanita yang rambutnya riap-riapan dan berpakaian sebagai perwira, mereka lalu menghujankan anak panah ke arah Liang Hong Yi. Namun Hong Yi mempergunakan pedang di tangan kanan untuk menangkisi semua anak panah yang menyambar ke arah tubuhnya sedangkan tangan kirinya tetap memukuli genderang.

Melihat kegagahan Hong Yi, para prajurit Pasukan Halilintar menjadi kagum dan bangga sekali. Semangat mereka terbakar berkobar-kobar, mulut mereka mengeluarkan teriakan-teriakan nyaring, kemudian bagaikan kesetanan mereka mengamuk! Sepak terjang para prajurit Pasukan Halilintar ini hebat bukan main, bagaikan halilintar menyambar-nyambar dan para prajurit Kin roboh bergelimpangan!

Walau pun Hong Yi sudah menghentikan pemukulan genderang, namun bunyi genderang masih bertalu-talu karena ada prajurit penabuh genderang yang menggantikannya. Hong Yi sendiri kemudian berlari menuruni bukit kecil itu. Dia melihat betapa suaminya masih bertanding seru melawan panglima Kin dan kini suaminya mulai terdesak dan keadaannya telah berbahaya sekali. Maka, dengan pedang di tangan Hong Yi langsung melompat dan menerjang, membantu suaminya menyerang panglima itu.

Panglima itu terkejut karena gerakan pedang Hong Yi cukup dahsyat. Dia mengerahkan tenaga sambil mengeluarkan semua ilmu pedangnya, namun menghadapi pengeroyokan suami isteri itu, akhirnya dia pun roboh setelah terkena tusukan pedang di tangan Han Si Tiong. Tusukan itu mengenai dadanya dan dia pun roboh dalam keadaan tewas.

"Pangeran Cu Si gugur...!" terdengar seruan beberapa orang prajurit Kin yang bertempur tidak jauh dari situ. Berita ini terus menjalar dan robohnya panglima Kin yang ternyata seorang pangeran ini membuat pasukan Kin menjadi kacau dan panik.

Han Si Tiong teringat akan pesan puterinya. Dia segera mengambil pedang bengkok milik panglima atau pangeran yang tewas. itu. Sebatang pedang yang indah sekali, bergagang emas! Sesudah membuka sarung pedang yang tergantung di pinggang pangeran itu dan menggantung pedang itu di pinggangnya sendiri, bersama Hong Yi dia kembali memimpin pasukannya untuk mendesak pihak lawan yang sudah menjadi panik itu.

Akhirnya pasukan Kin mundur melarikan diri, meninggalkan banyak kawan mereka yang tewas. Mula-mula Pasukan Halilintar hendak mengejar, tapi mereka segera membatalkan niat mereka atas perintah Han Si Tiong. Mengejar terus di daerah lawan, selain membuat pasukannya yang sudah sangat lelah itu menjadi kehabisan tenaga, juga ada bahayanya mereka akan terjebak.

Pasukan Halilintar bersorak gegap-gempita menyatakan kegembiraan mereka. Hong Yi yang telah berhasil meningkatkan semangat pasukannya dengan cara yang gagah berani itu menjadi bahan percakapan pasukan yang merasa kagum dan bangga sekali.

Kemenangan demi kemenangan diperoleh pasukan yang dipimpin Jenderal Gak Hui dan Pasukan Halilintar memegang peran penting dalam pertempuran yang berhasil ini. Tentu saja Jenderal Gak Hui mencatat semua jasa Han Si Tiong dan juga Liang Hong Yi.

Akan tetapi, selagi Jenderal Gak Hui mulai berhasil dengan gerakan serangannya ke arah utara yang dikuasai kerajaan Kin, tiba-tiba saja datanglah utusan Kaisar Sung Kao Tsung yang membawa surat perintah kaisar untuk Jenderal Gak Hui. Alangkah terkejut rasa hati Jenderal Gak Hui ketika membaca surat perintah itu. Kaisar memerintahkan supaya dia menghentikan serangannya dan segera menarik barisannya kembali ke selatan.

Rasa terkejut, heran, penasaran dan marah memenuhi hati jenderal ini. Dia sudah mulai menyerang, memperoleh banyak kemenangan dan kemajuan. Jika dia diberi kesempatan, bukan mustahil dia akan mampu mengusir penjajah Kin keluar dari seluruh daerah Sung yang dirampas mereka karena di sepanjang daerah yang dapat direbutnya, seluruh rakyat menyambutnya dengan hangat dan siap membantunya sehingga dia dapat memperbesar dan memperkuat barisannya sambil berperang.

Akan tetapi, tanpa alasan apa pun tiba-tiba Kaisar memerintahkan agar dia menghentikan gerakannya dan menarik kembali seluruh pasukannya ke selatan! Biar pun hatinya penuh penyesalan, namun Gak Hui adalah seorang panglima yang amat setia kepada Kerajaan Sung. Berarti dia harus setia kepada Kaisar! Apa pun perintah kaisar harus ditaati, bahkan dia siap memberikan nyawanya kalau hal itu dikehendaki oleh kaisar!

Demikianlah kesetiaan Jenderal Gak Hui yang disanjung dan dipuji rakyat jelata. Jenderal Gak Hui sempat menitikkan air mata ketika dia berada seorang diri dalam kamarnya pada saat dia memerintahkan para perwiranya agar menarik kembali seluruh pasukan di bawah komandonya…..

********************

Sebenarnya apakah yang terjadi di kota raja, terutama di istana Kaisar? Mengapa Kaisar Sung Kao Tsung tiba-tiba memerintahkan Jenderal Gak Hui untuk menghentikan gerakan penyerbuannya mengusir penjajah Kin yang sudah mulai tampak hasilnya?

Semua ini adalah hasil persekutuan antara Raja Kin dan Perdana Menteri Chin Kui yang sudah terjalin selama bertahun-tahun. Perdana Menteri Chin Kui yang sudah bersahabat dengan Raja Kin ini selalu berusaha mencegah Kaisar Kao Tsung memerangi kerajaan Kin di wilayah Sung Utara. Namun sekali ini dia tidak berhasil sehingga Kaisar Kao Tsung mengijinkan Jenderal Gak untuk mengadakan gerakan penyerbuan ke utara seperti yang diusulkan Jenderal Gak itu.

Serangan mendadak itu mengejutkan Raja Kin. Apa lagi ketika seorang pangeran tewas di dalam pertempuran itu. Dia menjadi marah sekali dan segera dia memerintahkan seorang menterinya untuk memanggil seorang datuk yang tinggal di Sin-kiang, Datuk ini bukan lain adalah Ouw Kan, peranakan Uigur-Cina yang berilmu tinggi dan datuk ini memang sudah sering kali dimintai bantuan untuk melaksanakan tugas yang berat dengan imbalan besar. Pada bagian awal kisah ini kita sudah mengenal Ouw Kan, ketika datuk dari Sin-kiang ini mencoba untuk merampas kitab-kitab yang dibawa Tiong Lee Cin-jin dari negara India.

Tidak lama kemudian Ouw Kan sudah datang menghadap Raja Kin. Usianya sekitar enam puluh dua tahun. Rambut, kumis dan jenggotnya sudah berwarna putih. Tubuhnya sedang saja tapi masih tegak dan tegap seperti tubuh seorang muda. Tangannya selalu membawa sebatang tongkat dari ular cobra kering. Wajahnya tidak buruk, akan tetapi menyeramkan dan sepasang matanya yang lebar itu bergerak liar.

Raja Kin menyambutnya dengan girang. Datuk ini amat dihormati sehingga diperbolehkan menghadap raja sambil duduk di atas kursi, menghadap Raja Kin.

"Apakah yang dapat saya lakukan untuk paduka?" tanya Ouw Kan tanpa banyak upacara lagi.

Sikap datuk ini terhadap Raja Kin memang sangat berbeda dengan sikap para pembesar pada umumnya. Dia tidak pernah memberi hormat secara berlebihan kepada siapa pun juga dan hal ini pun dimaklumi oleh Raja Kin.

“Kami membutuhkan bantuanmu, Ouw-sicu (orang gagah Ouw), untuk suatu urusan yang teramat penting. Engkau akan kami beri surat kuasa lalu pergilah ke selatan, ke kota raja Hang-couw dan jumpai Perdana Menteri Chin Kui. Atas nama kami tegurlah dia mengapa bala tentara Sung Selatan yang dipimpin Jenderal Gak Hui sampai menyerang ke utara. Katakan bahwa dia harus dapat membujuk kaisar agar menghentikan serangan itu, kalau tidak maka kami akan memutuskan hubungan dan akan menyerang ke selatan."

"Tugas itu mudah sekali, Sribaginda. Tetapi mengapa untuk tugas sesederhana itu harus saya yang melakukannya? Paduka bisa saja mengutus sembarang orang," kata Ouw Kan yang merasa betapa tugas itu terlampau kecil, sama sekali tidak berarti bagi dirinya yang biasa melakukan tugas-tugas yang lebih besar dan sukar.

"Itu baru tugas pertama, Ouw-sicu. Ada tugas ke dua yang amat penting dan berat. Kami kira hanya engkaulah yang akan dapat melaksanakan dengan baik, Ouw-sicu," kata Raja Kin.

"Nah itu yang saya sukai, Sribaginda. Apakah tugas ke dua itu?"

"Ketahuilah bahwa putera kami sudah gugur dalam pertempuran ketika barisan Kerajaan Sung Selatan melakukan penyerbuan ke utara. Dia tewas di tangan perwira yang bernama Han Si Tiong dan isterinya yang bernama Liang Hong Yi. Nah, engkau carilah mereka dan engkau tentu telah paham apa yang harus kau lakukan terhadap mereka untuk membalas sakit hatiku karena kematian puteraku di tangan mereka."

Ouw Kan mengangguk-angguk. Wajahnya berseri dan mulutnya yang dikelilingi kumis dan jenggot itu tersenyum, hatinya gembira. "Baik, Sribaginda. Harap paduka jangan khawatir. Kedua tugas itu pasti akan dapat saya laksanakan dengan sebaiknya. Kapan saya harus berangkat?"

"Sekarang juga berangkatlah. Pilihlah kuda terbaik dan di sepanjang perjalanan sampai ke tapal batas, setiap pejabat tentu akan mengganti kudamu dengan yang baru asal engkau menunjukkan surat kuasa dari kami. Akan tetapi, Ouw sicu, jangan engkau melibatkan diri dalam pertempuran karena hal itu hanya akan menghambat terlaksananya tugasmu yang penting. Berangkatlah dan hadiah besar menantimu setelah engkau menyelesaikan tugas itu dengan baik."

Ouw Kan menerima surat kuasa dari Raja Kin, lalu berangkatlah dia menunggang seekor kuda pilihan yang baik. Demikianlah, selagi di perbatasan masih terjadi pertempuran, Ouw Kan memasuki kota raja Hang-couw. Tidak sulit baginya untuk menemukan gedung istana tempat tinggal Perdana Menteri Chin Kui.

Perdana Menteri Chin Kui tergopoh-gopoh menerima utusan Raja Kin, lalu mengajaknya bercakap-cakap di dalam ruangan rahasia yang tertutup rapat. Dia sudah pernah bertemu dengan Ouw Kan sebagai utusan Raja Kin, terlebih lagi setelah Ouw Kan memperlihatkan surat kuasanya, Chin Kui percaya sepenuhnya kepada datuk itu. Ia menyambut tamunya dengan jamuan makan dan setelah mereka makan minum, Perdana Menteri Chin Kui lalu menanyakan maksud kunjungan Ouw Kan.

"Saya datang diutus oleh Sribaginda Kerajaan Kin yang marah sekali karena barisan Sung sudah menyerang wilayah Kin. Kini saya diutus untuk menegur dan menanyakan kepada Chin-taijin (Pembesar Chin) mengapa hal seperti itu dapat terjadi. Sribaginda minta agar saya menyampaikan kepada Chin-taijin bahwa kalau taijin tidak segera membujuk Kaisar Sung agar cepat menghentikan serangan kemudian menarik kembali pasukan dari wilayah Kerajaan Kin, maka Sribaginda akan memutuskan hubungan dengan taijin kemudian akan menyerang dan membasmi Sung Selatan!"

Wajah Chin Kui berubah pucat dan dia menelan ludah beberapa kali sebelum menjawab. "Ouw-sicu, harap sampaikan kepada Sribaginda. Saya menghaturkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas penyerbuan itu. Percayalah, saya telah berusaha sekuatnya untuk mencegah penyerangan itu, akan tetapi semua ini gara-gara si kepala batu Jenderal Gak Hui. Dia berhasil mempengaruhi Kaisar sehingga Kaisar menyetujui penyerbuan itu. Akan tetapi saya akan berusaha mati-matian untuk membujuk Kaisar supaya barisan itu ditarik kembali. Tunggu dan lihatlah saja, saya yakin pasti akan berhasil."

"Hemm, saya harap saja janjimu ini akan dapat dipenuhi dengan cepat, Chin-taijin. Karena kalau tidak, tentu Sribaginda akan menganggap bahwa taijin mengkhianati persahabatan. Sesudah saya menyampaikan pesan-pesan Sribaginda, sekarang saya mohon diri karena akan melaksanakan tugas lain. Saya minta tolong kepada taijin agar suka memberi tahu di mana adanya rumah seorang perwira yang bernama Han Si Tiong, seorang perwira dalam barisan yang ikut menyerbu ke utara."

"Han Si Tiong? Ah, aku ingat. Dia adalah perwira baru yang ditugaskan untuk membentuk Pasukan Halilintar. Rumahnya terletak di sebelah barat Jembatan Rembulan, di pinggiran selatan kota, Ouw-sicu."

"Terima kasih, taijin dan saya mohon pamit." Ouw Kan bangkit berdiri lantas merangkap kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan.

"Sebentar, sicu!" Perdana Menteri Chin Kui mengambil sebuah kantung kain yang sudah dipersiapkan sejak tadi, lantas memberikan kantung itu kepada tamunya. "Ini ada sedikit hadiah dari kami untuk sicu."

Ouw Kan sudah biasa menerima hadiah atau bingkisan seperti ini, karena itu dia pun tidak sungkan lagi, menerima kantung kain yang cukup berat itu, lalu membungkuk dan keluar dari gedung besar itu.

Tak lama kemudian Ouw Kan sudah tiba di depan rumah Han Si Tiong. Dia menambatkan kudanya di sebatang pohon, kemudian dia memasuki pekarangan rumah itu. Seorang laki-laki setengah tua yang bekerja di pekarangan itu sebagai tukang kebun menghampirinya. Melihat seorang kakek menggendong buntalan kain kuning dan kepalanya memakai topi bulu, tukang kebun itu segera bertanya dengan sikap hormat.

"Tuan mencari siapakah?"

Ouw Kan memandang tukang kebun itu, kemudian menjawab, "Aku mencari tuan rumah, ada urusan yang penting sekali."

"Wah, sayang sekali, tuan. Majikan saya dan isterinya sedang pergi memimpin pasukan untuk berperang mengusir penjajah Kin!" kata tukang kebun itu dengan nada bangga.

Ouw Kan mengerutkan alisnya. "Hemmm, mereka pergi dan belum pulang? Kalau begitu, siapa saja yang tinggal di rumah?"

"Tinggal nyonya tua dan nona kecil.”

"Kalau begitu tolong panggil mereka keluar. Aku dapat menyampaikan urusan penting ini kepada mereka saja."

Karena melihat tamu ini sudah tua dan agaknya mempunyai urusan penting, maka tukang kebun tidak merasa curiga. "Baiklah, tuan. Silakan duduk menunggu di ruang tamu, saya akan melaporkan kepada nyonya tua."

Tukang kebun mengantar Ouw Kan memasuki ruangan tamu yang berada di bagian luar rumah itu, kemudian dia masuk ke dalam untuk melaporkan kedatangan tamu itu kepada Lu-ma. Ketika itu Lu-ma sedang berada di dapur membantu pelayan wanita setengah tua yang menjadi pelayan dalam keluarga itu.

Bi Lan juga ikut membantu. Anak berusia tujuh tahun ini memang ingin membantu segala pekerjaan yang dilakukan neneknya. Kini mereka sedang mempersiapkan masakan untuk makan siang nanti.

Ketika tukang kebun melaporkan bahwa di ruang tamu menunggu seorang tamu laki-laki tua yang mengatakan ada urusan amat penting untuk disampaikan kepada Lu-ma, nenek ini lalu mencuci tangannya.

"Siapakah, nek?"

"Tidak tahu siapa, mungkin tamu kenalan ayahmu." kata Lu-ma.

Lu-ma melangkah keluar dari dapur menuju ke ruangan tamu di depan. Bi Lan tidak mau ketinggalan, sambil menggandeng tangan neneknya ikut pergi ke ruangan tamu.

Sesudah Lu-ma dan Bi Lan memasuki ruangan tamu, mereka meiihat seorang laki-laki tua duduk di atas kursi sambil memandang kepada mereka dengan sinar mata penuh selidik. Ouw Kan bangklt berdiri dan segera bertanya,

"Aku ingin bertemu dengan Han Si Tiong dan isterinya. Di mana mereka?"

Lu-ma menduga bahwa tentu kakek ini adalah kenalan baik Han Si Tiong, maka dia pun menjawab, "Han Si Tiong dan isterinya tidak berada di rumah, mereka pergi perang dan belum pulang."

"Dan siapakah kalian ini?"

"Saya Lu-ma, bibi mereka dan ini Han Bi Lan, anak tunggal mereka."

Ouw Kan memandang anak perempuan itu. Benar-benar seorang anak perempuan yang manis dan mungil sekali. Apa bila dia membunuh anak ini, maka hal itu sudah merupakan pembalasan hebat yang akan menghancurkan hati Han Si Tiong dan isterinya. Akan tetapi dia meragu. Mungkin Sribaginda Raja Kin mempunyai rencana lain dengan anak musuh-musuhnya ini. Mungkin juga dapat dipergunakan untuk memaksa suami isteri itu datang! Sebaiknya dia culik dan bawa saja anak ini untuk diserahkan kepada Sribaginda Raja Kin. Setelah berpikir demikian, tiba-tiba dia menjulurkan tangan kanannya hendak menangkap lengan Bi Lan.

"Ehh...?" Ouw Kan terbelalak, kaget dan heran. Anak perempuan kecil itu dapat mengelak sehingga tangkapannya luput.

"Mau apa engkau?!" bentak Bi Lan dan anak ini sudah memasang kuda-kuda, siap untuk berkelahi! "Dia ini orang jahat, nek. Hati-hati, dia orang jahat!"

Ouw Kan merasa kagum juga. Hebat anak ini, pikirnya. Selain mempunyai bakat gerakan yang sangat gesit, juga tampaknya cerdik bukan main. Maka dia lalu melangkah maju dan kembali tangannya menyambar.

Bi Lan mengelak, akan tetapi apalah artinya kegesitan seorang anak perempuan berusia tujuh tahun terhadap datuk yang sakti itu. Sekali jari tangan Ouw Kan menyambar, Bi Lan sudah tertotok dan terkulai. Akan tetapi Ouw Kan segera menangkapnya sehingga anak itu tidak sampai roboh dan sekali angkat, Bi Lan sudah berada dalam pondongan lengan kinnya, terkulai lemas tanpa mampu bergerak atau bersuara!

Melihat ini Lu-ma terbelalak dan dia marah bukan main. Tadi pada saat cucunya berteriak mengatakan bahwa laki-laki itu jahat, tentu saja dia tak percaya. Akan tetapi sekarang dia marah sekali. Bagaikan seekor singa betina direbut anaknya, dia menyerbu dengan kedua tangan membentuk cakar ke arah Ouw Kan.

"Mau apa engkau dengan cucuku? Lepaskan dia! Lepaskan Bi Lan, engkau penjahat!"

Akan tetapi tangan kanan Ouw Kan yang memegang tongkat ular cobra kering bergerak. Maka robohlah Lu-ma tanpa dapat bersuara lagi karena totokan tongkat itu mengenai ulu hatinya sehingga dia tewas seketika. Walau pun tidak mampu bergerak dan bersuara, Bi Lan masih sadar dan dia melihat dengan mata terbelalak betapa neneknya roboh dan tak bergerak lagi. Dia tidak dapat mengeluarkan suara tangis, akan tetapi dari kedua matanya bercucuran air mata.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner