KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-10


Pembantu wanita yang tadi dipesan oleh Lu-ma agar mengeluarkan minuman untuk tamu, kini muncul di pintu. Dia terbelalak melihat Lu-ma tergeletak di atas tanah, ada pun Bi Lan dipondong seorang kakek yang memegang sebatang tongkat ular, dan anak itu menangis tanpa suara. Poci dan cawan minuman yang dibawanya di atas baki terlepas dari tangan wanita itu kemudian jatuh mengeluarkan bunyi berkerontangan.

Melihat ini, sebelum pembantu wanita itu melarikan diri, Ouw Kan kembali menggerakkan tongkatnya yang menyambar dan mengenai leher wanita itu. Tanpa mengeluarkan suara lagi wanita itu pun roboh dan tewas seketika.

Sesudah membunuh dua orang wanita lemah itu, Ouw Kan lalu melangkah keluar sambil memondong Bi Lan yang tangisnya semakin deras sesudah melihat Lu-ma dan pembantu rumah tangganya dibunuh oleh kakek yang menculiknya. Karena khawatir kalau-kalau ada yang melihatnya dan menjadi curiga melihat anak yang dipondongnya itu mencucurkan air mata dan wajahnya jelas menunjukkan tangis walau pun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, Ouw Kan lantas menepuk tengkuk Bi Lan sehingga anak perempuan itu terkulai dalam keadaan pingsan, seperti tidur. Ouw Kan menyimpan tongkatnya, diselipkan di ikat pinggangnya, kemudian dengan langkah lebar hendak keluar dari pekarangan itu.

Akan tetapi tukang kebun yang tadi pertama kali menyambutnya melihat dia tergesa-gesa keluar sambil memondong Bi Lan. Tukang kebun itu tentu saja menjadi curiga. Dia cepat mengejar dan rnenghadang di depan kakek itu.

"Heii! Mau kau bawa ke mana Nona Bi Lan itu? Lepaskan!" Tukang kebun itu menerjang untuk merampas Bi Lan dari tangan Ouw Kan.

Datuk ini melihat betapa gerakan tukang kebun itu cukup kuat, menunjukkan bahwa dia pandai bermain silat. Akan tetapi tentu saja tingkat kepandaian tukang kebun itu tidak ada artinya dibandingkan tingkat Ouw Kan. Menghadapi terjangan tukang kebun itu, Ouw Kan menyambutnya dengan tendangan kaki kanannya. Cepat dan kuat sekali tendangan itu. Walau pun tukang kebun itu sudah berusaha mengelak, tetap saja ujung sepatu Ouw Kan masih menyambar iganya.

"Krekk...!"

Tukang kebun itu terpelanting keras lantas roboh tidak dapat bergerak lagi. Tulang-tulang iganya patah-patah dihantam tendangan kaki Ouw Kan itu! Karena khawatir kalau banyak orang akan melihatnya, dan merasa yakin bahwa tukang kebun itu juga tewas, Ouw Kan lalu cepat keluar dari pekarangan itu. Dengan cepat dia menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah utara.

Melihat seorang kakek menggendong seorang anak perempuan yang agaknya sakit atau sedang tertidur dipondong dengan sikap penuh kasih sayang, tentu saja tidak ada orang yang mencurigainya sehingga Ouw Kan dapat keluar dari kota raja dengan aman…..

********************

Sementara itu, sepergi Ouw Kan, Perdana Menteri Chin Kui segera berusaha keras untuk membujuk Kaisar Sung Kao Tsung, memperingatkan kaisar bahwa gerakan penyerbuan yang dilakukan Jenderal Gak Hui itu sesungguhnya salah sama sekali.

“Bangsa Kin yang berdiam di utara selama ini tidak pernah mengganggu daerah Sung di selatan sehingga kita berada dalam keadaan tenteram penuh damai, dapat bekerja untuk membangun kembali kerajaan di daerah selatan yang tanahnya lebih subur. Mengapa kini malah harus mencari permusuhan? Kalau nanti Kerajaan Kin membalas dan menyerbu ke selatan, bukankah hal itu akan mendatangkan kesengsaraan bagi kita? Hamba yang akan mengusahakan permintaan maaf dan hamba berani menanggung bahwa Sribaginda Raja Kin tidak akan melakukan balas dendam terhadap penyerbuan itu, asalkan paduka segera memerintahkan Jenderal Gak Hui supaya menghentikan penyerbuan dan menarik kembali bala tentara." Demikian Perdana Menteri Chin Kui mengakhiri bujukannya.

Kaisar Kao Tsung menurut, apa lagi setelah para menteri yang lain juga mendukung usul Perdana Menteri Chin Kui. Juga pada dasarnya Kaisar Kao Tsung memang seorang yang tidak suka perang. Maka dia pun segera mengambil keputusan dan mengirim utusan yang membawa perintahnya kepada Jenderal Gak Hui agar menghentikan penyerbuan ke utara dan menarik kembali barisannya ke daerah selatan…..

********************

Jenderal Gak Hui merasa kecewa, marah dan menyesal sekali. Dia sudah memenangkan pertempuran di banyak tempat hingga berhasil menguasai daerah yang luas. Tapi karena kesetiaannya terpaksa dia meninggalkan daerah yang sudah dikuasainya itu dan kemball ke selatan, diiringi tangis kecewa penduduk daerah yang ditinggalkannya.

Akan tetapi dia masih ragu untuk pulang ke kota raja, karena itu mereka lalu mendirikan perkemahan di daerah tapal batas. Dia hanya mengutus para perwiranya kembali ke kota raja untuk mengantar laporan tertulis yang ditujukan kepada Kaisar Kao Tsung.

Karena sudah tidak ada pertempuran lagi, maka Han Si Tiong dan Liang Hong Yi juga ikut pulang bersama sebagian dari pasukan dan para perwiranya. Pada sepanjang perjalanan, pasukan yang pulang ke kota raja membawa kemenangan ini disambut dengan gembira oleh rakyat, akan tetapi sesudah memasuki kota raja, dari pihak pemerintah malah tidak ada penyambutan sama sekali dan suasananya dingin saja. Hal ini adalah karena perintah dan pengaruh Perdana Menteri Chin Kui yang menganggap barlsan yang menang perang itu bahkan merugikan kerajaan!

Betapa pun juga, ketika menerima para perwira yang pulang dan menghadapnya, Kaisar Kao Tsung menerima mereka dengan baik. Bahkan dia lalu memberi anugerah pangkat kepada para perwira yang namanya disebut dalam daftar jasa yang dikirim Jenderal Gak Hui. Karena Han Si Tiong dan isterinya dipuji-puji oleh Jenderal Gak Hui, maka Kaisar Kao Tsung memberi anugerah kedudukan panglima muda kepada Han Si Tiong dan isterinya dan keduanya diangkat menjadi bangsawan!

Suami isteri ini kemudian pulang ke rumah mereka. Tadi begitu masuk kota raja, mereka bersama para perwira lain langsung menghadap kaisar. Ini merupakan peraturan yang tak boleh dilanggar oleh siapa pun juga.

Tentu saja mereka merasa gembira sekali, terutama sekali Hong Yi. Kalau diingat bahwa tadinya dia hidup di dalam rumah pelesir asuhan Lu-ma dan walau pun dia tidak diperas, namun tetap saja dia pernah menjadi seorang pelacur! Tetapi sekarang dia memperoleh seorang suami yang baik dan yang mencintainya, tidak memandang rendah sungguh pun suaminya tahu bahwa dia seorang bekas pelacur! Dan dia telah mempunyai seorang anak yang manis pula. Sekarang ditambah lagi anugerah dari Kaisar yang mengangkat dia dan suaminya menjadi bangsawan! Bangsawan yang memiliki kedudukan terhormat sebagai panglima muda!

Semua ini benar-benar cocok sekali dengan ramalan yang dia peroleh dari Kwan Im Bio, kuil dari Sang Dewi Welas Asih itu. Dengan hati dipenuhi kebanggaan dan kebahagiaan, bersama suaminya dia pulang membawa hadiah pedang bengkok bergagang emas untuk anak mereka.

Akan tetapi alangkah heran rasa hati mereka ketika mereka tiba di depan rumah mereka. Keadaan tempat tinggal mereka itu hampir tidak dapat mereka kenali lagi. Pekarangannya tak terawat, penuh dengan rumput liar dan daun-daun kering. Agaknya sudah lama sekali tidak pernah disapu dan dibersihkan. Dinding rumah itu pun kotor, dan semua pintu serta jendela di depan tertutup.

Rumah itu nampak sunyi bukan main. Sungguh aneh. Seluruh penduduk kota raja sudah mendengar bahwa sebagian pasukan yang pergi berperang sudah pulang. Mustahil kalau Lu-ma, pelayan wanita, tukang kebun dan Bi Lan belum mendengar tentang kepulangan mereka. Mereka tidak ada yang menyambut?

Dengan hati merasa heran dan tidak enak suami isteri itu berlari memasuki pekarangan. Sesudah hampir tiba di pintu depan, tiba-tiba muncul seorang prajurit dari pintu samping. Melihat Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, prajurit itu langsung memberi hormat. Tentu saja suami isteri ini bertambah heran melihat adanya seorang prajurit di situ.

Han Si Tiong langsung melompat ke hadapan prajurit itu. "Hei, siapa engkau dan kenapa berada di sini?"

"Han-ciangkun, hari ini saya memang bertugas menjaga rumah ciangkun," jawab prajurit itu.

"Menjaga rumah kami? Kenapa? Dan di manakah puteri kami? Di mana Lu-ma dan para pembantu?" tanya Si Tiong sambil mengerutkan alisnya.

Prajurit itu nampak bingung. Dia mengerti bahwa suami isteri perwira ini belum tahu akan mala petaka yang menimpa keluarga mereka dan agaknya dia adalah orang pertama yang harus menceritakannya! Dia merasa tidak enak sekali harus menyampaikan berita yang menyedihkan itu.

"Di rumah ini tidak ada siapa pun, ciangkun. Hanya ada saya yang sedang bertugas jaga hari ini. Kwe-ciangkun atasan saya yang memerintahkan agar kami melakukan penjagaan di sini secara bergantian dan hari ini tiba giliran saya."

"Akan tetapi kenapa? Apa yang telah terjadi? Ke mana perginya semua penghuni rumah ini? Di mana anakku?" tanya Liang Hong Yi yang sudah tak sabar lagi, di dalam suaranya mengandung kegelisahan.

Prajurit itu menelan ludah beberapa kali sebelum menjawab, kemudian memberanikan diri menjawab, "Ciangkun dan hujin, di rumah ini sudah terjadi peristiwa yang menyedihkan, kurang lebih satu bulan yang lalu..."

Han Si Tiong menangkap lengan prajurit itu kemudian mengguncangnya. "Apa yang telah terjadi? Hayo cepat ceritakan!"

Prajurit itu mengangguk-angguk. "Sekitar sebulan yang lalu, di rumah ini sudah ditemukan Lu-ma dan pelayan wanita yang telah tewas, juga tukang kebun yang terluka parah..."

"Dan anakku? Puteriku Bi Lan...?!" teriak Hong Yi, wajahnya menjadi pucat sekali.

"Dia... dia... hilang. Tidak ada yang tahu ke mana..."

"Aihhh...!" Hong Yi sudah melompat ke serambi depan dan mendorong daun pintu depan. Pintu itu terpalang dari dalam, akan tetapi dorongari kedua tangan Hong Yi yang disertai tenaga sakti itu membuat palang pintu jebol dan daun pintunya terbuka. Hong Yi berlari-lari memerlksa semua bagian dalam rumah. Kosong! Benar-benar telah kosong, tidak ada seorang pun di situ. Anaknya tidak ada di rumah itu!

"Bi Lan...! Bi Lan...! Bibi Lu-ma...!" Dia menjerit-jerit memanggil sambil berlari ke sana-sini mencari-cari, akan tetapi tidak ada yang menjawab. Tiba-tiba Si Tiong merangkulnya dan melihat suaminya, Hong Yi merangkul dan menangis.

"Tiong-ko... di mana Bi Lan? Dan bibi Lu-ma? Apa yang terjadi dengan mereka?" Dia pun menangis tersedu-sedu di atas dada suaminya.

Han Si Tiong mendekap kepala isterinya ke dadanya. "Yi-moi, tenangkan hatimu dahulu. Di dalam keadaan seperti ini kita harus menguatkan perasaan hati. Ingat sepak terjangmu dalam pertempuran. Engkau adalah seorang wanita gagah perkasa, harus kuat dan dapat menghadapi apa pun juga. Tenangkanlah hatimu."

Hong Yi menumpahkan kegelisahannya melalui tangis. Setelah tangisnya mereda dan dia mampu menguatkan hatinya, dia pun melepaskan rangkulannya. Dengan wajah pucat dan sepasang mata merah dia bertanya kepada suaminya,

"Tiong-ko, bagaimana dengan Bi Lan? Apa yang terjadi dengan anak kita itu?"

"Tenangkan hatimu, Yi-moi. Aku sudah mendengar cerita prajurit yang bertugas jaga tadi. Bibi Lu-ma dan pelayan wanita telah dibunuh orang. Tukang kebun kita terluka parah akan tetapi kata prajurit itu, sebelum tewas dia sempat dibawa oleh Kwee-ciangkun. Dan anak kita agaknya dibawa lari pembunuh itu."

"Ahhh...! Siapakah yang melakukan hal ini? Aku bersumpah akan membunuhnya dengan tanganku sendiri. Bi Lan, anak kita... bagaimana nasibnya...?"

"Tenangkan hatimu. Setidaknya, aku yakin Bi Lan masih hidup. Kalau penculik itu berniat membunuhnya, tentu sudah dilakukannya seperti ketika dia membunuh yang lainnya. Jika dia menculik anak kita, itu berarti dia menginginkan anak kita hidup-hidup dan selama Bi Lan masih hidup, ada harapan bagi kita untuk dapat berjumpa lagi dengannya."
,
"Akan tetapi siapakah yang melakukan kekejian ini? Siapakah yang memusuhi kita seperti ini?"

"Kita tunggu saja. Aku telah menyuruh prajurit tadi untuk mengundang Kwee-ciangkun ke sini. Engkau tahu, Kwee-ciangkun adalah sahabat kita yang baik. Tentu dia mengetahui lebih banyak dari tukang kebun kita itu."

Tak lama kemudian muncullah Kwee-ciangkun. Perwira Kwee ini tidak ikut pergi berperang karena dia bertugas sebagai perwira dari pasukan penjaga kota raja. Dia bersahabat baik dengan Han Si Tiong dan biar pun dia tidak termasuk anak buah Jenderal Gak Hui seperti halnya Si Tiong, akan tetapi Perwira Kwee ini pun seorang yang tak suka kepada Perdana Menteri Chin Kui.

Begitu diterima oleh Si Tiong dan Hong Yi, Kwee-ciangkun segera merangkul sahabatnya itu. "Han-ciangkun, aku merasa ikut prihatin atas mala petaka yang menimpa keluargamu selagi kalian pergi berjuang melawan penjajah Kin," katanya terharu.

"Terima kasih, Kwee-ciangkun. Duduklah dan ceritakan sejelasnya kepada kami apa yang telah terjadi di dalam rumah kami ini ketika kami pergi bertempur," kata Han Si Tiong.

Mereka bertiga duduk berhadapan.

“Kurang lebih sebulan yang lalu, atau tepatnya mungkin sudah tiga puluh lima hari, pada suatu pagi aku mendengar laporan dari anak buahku yang melakukan perondaan bahwa telah terjadi pernbunuhan di rumahmu ini. Mula-mula yang mengetahuinya adalah seorang tetanggamu yang melihat tukang kebunmu tergeletak di pekarangan. Mendengar bahwa pembunuhan itu terjadi di rumahmu, aku sendiri segera bergegas datang untuk melakukan pemeriksaan. Ternyata bukan hanya tukang kebun yang tergeletak dalam keadaan terluka parah, tetapi Lu-ma, bibi kalian itu, dan wanita pembantu rumah tangga kalian juga sudah tergeletak tewas di kamar tamu."

"Kwe-ciaogkun, siapa yang melakukan pembunuhan keji ini? Dan apa yang terjadi dengan anakku Bi Lan?" Hong Yi bertanya tak sabar.

"Tenanglah, Yi-moi. Biar Kwee-ciangkun melanjutkan ceritanya," Si Tiong menenangkan isterinya

Kwee-ciangkun yang bernama Kwee Gi itu, seorang pria tinggi besar gagah yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, menghela napas panjang dan memandang dengan sinar mata penuh iba kepada Hong Yi. "Pada saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Bi Lan yang tidak berada di rumah ini. Akan tetapi aku melihat tukang kebun itu masih hidup, maka aku lalu menyuruh orang memanggil tabib dan merawatnya. Dia terluka parah sekali karena semua tulang iganya patah-patah. Setelah dia siuman dari pingsannya, aku segera bertanya kepadanya apa yang sudah terjadi. Dan sebelum tewas dia bercerita kepadaku. Katanya pada pagi hari itu datang seorang lelaki berusia enam puluh tahun lebih, rambut, kumis serta jenggotnya lebat dan telah putih semua, mengenakan topi asing seperti yang biasa dipakai suku-suku asing di utara dan barat, memegang sebatang tongkat ular kobra kering, wajahnya menyeramkan dengan mata lebar dan liar, tubuhnya sedang dan tegap. Tamu itu datang mencari kalian berdua. Ketika dijawab bahwa kalian pergi, dia lalu minta bertemu dengan siapa saja yang berada di rumah. Tukang kebun itu lalu memberitahu Lu-ma, kemudian kembali bekerja di pekarangan depan. Ia tidak tahu lagi apa yang terjadi di dalam. Akan tetapi tak lama kemudian dia melihat laki-laki tua itu keluar dari dalam rumah sambil memondong Bi Lan. Anak itu kelihatan lemas dan menangis tanpa suara. Tukang kebun berusaha untuk merebut kembali anak itu, tetapi penculik itu sangat lihai. Sebuah tendangan yang sangat kuat mematahkan tulang-tulang iga tukang kebun itu sehingga dia roboh pingsan. Nah, demikianlah ceritanya. Sesudah menceritakan semuanya itu, dia pun menghembuskan napasnya terakhir. Ketika aku memeriksa jenazah Lu-ma serta pelayan itu, mereka berdua tewas dengan luka di ulu hati dan di leher. Luka itu kecil saja, agaknya tertusuk benda tumpul, akan tetapi di sekitar luka itu berwarna menghitam. Tentu mereka keracunan hebat sekali sehingga tewas seketika. Dari kenyataan itu, jelas bahwa laki-laki tua itu seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.”

Suasana ruang itu menjadi sunyi sekali setelah Kwee-ciangkun menyelesaikan ceritanya. Suami isteri itu saling berpandangan dan perlahan-lahan dari kedua mata Hong Yi kembali menetes-netes air mata.

"Tiong-ko, kenalkah engkau dengan jahanam itu?" Hong Yi bertanya sambil menahan isak tangisnya.

Sambil mengerutkan alisnya Han Si Tiong menggeleng kepala. "Aku tidak mengenalnya, tidak pernah melihatnya, bahkan mendengar pun belum. Kenapa orang yang tidak dikenal melakukan semua kekejaman ini?"

"Aku pun tidak mengenal orang dengan gambaran seperti itu. Tetapi kenapa dia menculik anakku?" Hong Yi mengepal kedua tangannya. Kegelisahan, kedukaan serta kemarahan memenuhi hatinya.

Kwee-ciangkun menghela napas panjang. "Kiranya tak akan salah lagi jika aku menduga bahwa perbuatan orang yang keji ini tentu merupakan suatu balas dendam"

“Akan tetapi kami berdua tidak pernah mengenal orang macam itu! Bagaimana dia dapat membalas dendam apa bila kita mengenalnya pun tidak? Ada urusan apa antara orang itu dengan kami?" kata Hong Yi penasaran sekali.

"Tidak selamanya orang yang mendendam kepada kita turun tangan sendiri. Bisa saja dia menyuruh orang lain yang amat lihai untuk melaksanakan balas dendamnya itu. Mungkin saja orang yang membunuh bibi kalian dan menculik puteri kalian adalah orang suruhan, seorang pembunuh bayaran," kata Kwee Gi.

Han Si Tiong mengangguk-angguk "Apa yang dikatakan Kwee-ciangkun itu benar sekali, Yi-moi. Tentu ada orang yang sakit hati terhadap kita, lantas secara pengecut membalas dendam kepada keluarga kita. Tetapi betapa pun juga masih ada harapan bagi kita bahwa mereka tidak akan mengganggu Bi Lan yang tidak bersalah apa pun terhadap mereka."

"Perkiraanmu itu kurasa benar sekali Han-ciangkun. Apa bila pembunuh itu menginginkan kematian anakmu, tentu hal itu sudah dilakukannya di sini, tidak perlu dia bersusah payah menculik anak itu keluar dari kota raja yang tentu saja mengandung resiko ketahuan."

"Aku bersumpah akan mencari penculik itu, lantas membunuhnya dan merampas kembali anakku. Aku tak akan berhenti sebelum dapat menemukannya!" Hong Yi berkata dengan tegas dan penuh kemarahan.

Si Tiong menghela napas panjang. "Tentu hal itu akan kita lakukan, Yi-moi, tetapi harus dengan persiapan matang. Dan sebagai seorang yang memegang kewajiban, kita harus mengembalikan dulu kedudukan yang dianugerahkan kepada kita. Ahh, sungguh bertubi-tubi mala petaka menimpa diri kami, Kwee-ciangkun. Pertama, kami harus turut berduka dan prihatin karena Jenderal Gak dipaksa menghentikan gerakannya dan menarik mundur pasukannya yang sudah mulai memperoleh kemenangan. Kemudian, setelah kami pulang dengan hati berat, kami bahkan dihadapkan dengan peristiwa pembunuhan bibi dan dua orang pembantu kami serta penculikan anak kami." Han Si Tiong menarik napas panjang lagi dengan wajah diliputi kedukaan.

"Aku mengerti, Han-ciangkun. Biar pun engkau dan isterimu mendapat anugerah pangkat panglima muda dan menjadi bangsawan, namun hati kalian diselimuti kedukaan. Aku juga mengerti akan keputusan Sribaginda Kaisar yang mengejutkan itu, yang memerintahkan Jenderal Gak agar menghentikan gerakan penyerbuan ke utara dan harus menarik mundur tentaranya. Semua ini gara-gara bujukan Perdana Meteri Chin Kui beserta para anteknya hingga Sri Baginda Kaisar mengambil keputusan seperti itu. Diam-diam aku sendiri sudah mengirim orang yang dapat kupercaya untuk mengabarkan mengenai perbuatan Perdana Menteri Chin Kui ini kepada Jenderal Gak Hui," kata Perwira Kwee Gi.

"Hemm, begitukah?" Han Si Tiong mengepal tinjunya. "Kasihan Jenderal Gak yang gagah perkasa dan budiman. Kasihan rakyat yang berdiam di sekitar perbatasan sebelah utara yang tadinya sudah dibebaskan oleh pasukan kita. Mereka mengantar penarikan mundur pasukan di bawah pimpinan Jenderal Gak dengan ratap tangis. Kalau demikian, untuk apa kami lebih lama lagi bertugas sebagai perwira? Kwee-ciangkun, kami berdua akan segera mengundurkan diri, kami akan pergi mencari puteri kami sampai dapat kami temukan."

Kwee-ciangkun dapat memaklumi keadaan sahabatnya.

Demikianlah, Han Si Tiong dan Liang Hong Yi lantas mohon ijin untuk mengundurkan diri dan berhenti dari jabatan mereka dengan alasan harus mencari puteri mereka yang hilang diculik orang. Tetapi permohonan berhenti ini hanya sampai di tangan Jenderal Ciang Sun Bo yang berhak menangani urusan ini.

Seperti kita ketahui, Jenderal Ciang itu adalah anak buah Perdana Menteri Chin Kui dan dia pernah bentrok dengan Si Tiong dan Liang Hong Yi karena dia tertarik oleh kecantikan Hong Yi. Dulu dia tidak berani mengganggu suami isteri itu karena mereka menjadi para pembantu Jenderal Gak Hui. Oleh karena itu, membaca permohonan suami isteri itu yang hendak berhenti dari pekerjaan mereka, tentu saja dia segera menyetujui.

Han Si Tiong dan Liang Hong Yi lalu berkemas, menjuali harta miliknya lalu meninggalkan kota raja. Mereka berdua merantau, mencari-cari puteri mereka. Akan tetapi penculik itu sama sekali tak meninggalkan jejak sehingga mereka tidak tahu harus mencari ke mana.

Dari ciri-ciri penculik itu seperti yang diceritakan oleh tukang kebun mereka kepada Kwee-ciangkun, mereka mendengar keterangan dari orang-orang kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan) bahwa yang dimaksud itu mungkin adalah seorang datuk yang bernama Ouw Kan dan berjuluk Toat-beng Coa-ong (Raja Ular Pencabut Nyawa). Namun selama bertahun-tahun ini datuk itu hanya dikenal sebagai orang yang datang dari Sin-kiang dan riamanya amat terkenal di utara, di daerah yang kini diduduki Kerajaan Kin. Karena itu Si Tiong dan Hong Yi pergi merantau ke utara, lalu ke Sin-kiang.

Sampai hampir dua tahun mereka merantau dan mencari-cari, akan tetapi semua usaha mereka sia-sia. Mereka tidak berhasil menemukan datuk yang mereka curigai itu, bahkan di daerah Sin-kiang akhirnya mereka mendengar bahwa datuk itu mungkin sekali sudah tewas, walau pun tak seorang pun dapat memastikan akan hal itu dan tidak ada pula yang tahu di mana kuburnya. Juga tidak ada orang yang dapat mengatakan di mana adanya Bi Lan yang diculik itu.

Akhirnya, setelah semua usaha mereka sia-sia, Si Tiong dan Hong Yi lalu menghentikan usaha mereka mencari puteri mereka. Dengan hati kecewa dan duka mereka lalu membeli sebidang tanah di dekat See-ouw (Telaga Barat) dan hidup sebagai petani, mengasingkan diri dari dunia ramai. Mereka hidup sederhana. Sang waktu akhirnya mengobati sakit hati dan kedukaan mereka. Mereka menerima nasib dan hidup sebagai petani, mendapatkan ketenteraman dan kedamaian di tempat yang sunyi dan indah itu.

Penduduk sekitar telaga yang indah itu kadang-kadang melihat sepasang suami isteri ini menunggang keledai mereka di sepanjang tepian telaga sambil menikmati pemandangan yang indah sekali dari tempat itu. Mereka hidup terasing dan jauh dari dusun, seperti dua orang pertapa. Bahkan para penduduk dusun di sekitar telaga tidak pernah tahu bahwa sepasang suami isteri itu adalah bekas panglima dan telah memperoleh gelar bangsawan dari Kaisar Sung Kao Tsung!

********************

Apa yang terjadi dengan Bi Lan? Mari kita ikuti perjalanan Ouw Kan, datuk yang terkenal dengan julukan Toat-beng Coa-ong itu, yang telah berhasil membawa Bi Lan yang ditotok pingsan dan dipondongnya itu keluar pintu gerbang kota raja sebelah utara. Orang-orang yang melihatnya tentu menduga bahwa kakek itu memondong cucunya yang sedang tidur.

Sesudah tiba jauh dari kota raja, Ouw Kan menurunkan Bi Lan kemudian membebaskan totokannya. Bi Lan merasa tubuhnya kaku dan lemah, maka dia pun jatuh terduduk. Kini dia telah terbebas dari totokan, dapat bergerak dan mengeluarkan suara. Begitu dia dapat menggerakkan tangan kakinya, tanpa mempedulikan tubuhnya yang masih terasa lemah, dia sudah meloncat bangun.

"Kakek jahat, engkau telah membunuh nenek, pelayan dan tukang kebun kami! Aku harus membalaskan kematian mereka!" Setelah mengeluarkan suara bentakan ini, dia langsung menerjang dan menyerang kakek itu kalang kabut!

Akan tetapi apalah artinya serangan seorang anak berusia tujuh tahun. Biar pun semenjak kecil Bi Lan sudah digembleng dasar-dasar ilmu silat oleh ayah ibunya, namun tentu saja kepandaiannya itu sama sekali tidak ada artinya dalam menghadapi seorang datuk seperti Ouw Kan. Sekali tangan kiri kakek itu menyambar, anak itu sudah terpelanting kemudian terbanting roboh.

"Hemm, anak bandel! Kalau engkau tidak mau menaatiku dan tidak mau berjalan sendiri dengan baik-baik, maka aku akan membuatmu tidak dapat bergerak seperti tadi kemudian aku akan menyeretmu!"

Bi Lan adalah seorang anak yang memiliki keberanian besar. Mendengar ancaman itu dia sama sekali tidak merasa takut, bahkan sekarang dia sudah bangkit lantas dengan nekat dia menyerang kembali! Ouw Kan menangkap lengan Bi Lan, akan tetapi anak itu cepat mendekatkan mukanya dan menggigit tangan kakek itu!

"Uhhh…!" Ouw Kan yang tak menyangka tergigit tangannya. Karena merasa nyeri dia lalu mengibaskan tangannya sehingga kembali Bi Lan terpelanting. Akan tetapi ia bangkit lagi, mukanya merah karena marah dan dia sama sekali tidak menangis,

"Kakek iblis! Kubunuh engkau!" teriaknya dan kembali dia menerjang.

Diam-diam Ouw Kan merasa kagum akan kenekatan dan keberanian anak itu, akan tetapi dia juga mulai merasa terganggu. Kini dia menggerakkan tangan dan sekali jari tangannya menotok, Bi Lan roboh dengan tubuh lemas dan kaki tangan lumpuh. Akan tetapi anak ini masih dapat mengeluarkan suara, maka dia pun memaki-maki.

"Kakek jahat! Kakek iblis! Muka jelek, hatimu lebih jelek lagi!"

"Hemm, engkau memang bandel dan keras kepala. Engkau mencari sakit sendiri. Disuruh berjalan sendiri baik-baik tidak mau, rasakan sekarang aku akan menyeretmu!"

Ouw Kan melepaskan pita rambut Bi Lan sehingga rambut yang panjang itu terurai lepas. Kemudian kakek itu menjambak rambut Bi Lan yang lebat dan hitam, lalu menyeret tubuh yang telentang itu di belakang.

Tentu saja Bi Lan merasa tersiksa bukan main. Belakang kedua lengan dan kakinya, juga punggung dan pinggulnya, terasa sakit-sakit karena terseret dan terantuk batu-batu yang berserak di jalan. Tubuh bagian belakang itu lecet-lecet, pakaiannya bagian belakang juga pecah-pecah. Rasa pedih menusuk tulang. Akan tetapi dia mengeraskan hatinya, tak mau berteriak, tidak mengeluh. Hanya matanya yang menjadi basah lalu air mata turun ke atas kedua pipinya.

Sesudah berjalan agak jauh, Ouw Kan merasa kesal juga harus menyeret tubuh anak itu. Sama tak enaknya dengan memondong. Dia berhenti lantas menoleh. Dilihatnya anak itu sama sekali tidak mengeluh, hanya mengertakkan gigi dan kedua matanya mengeluarkan air mata namun sedikit pun tidak terdengar tangisnya.

Anak yang luar biasa, pikirnya kagum. Bagian belakang tubuh anak itu sudah lecet-lecet berdarah, tetapi dia tidak pernah mengeluh. Dan sepasang mata yang jeli itu memandang kepadanya penuh kemarahan!

"Nah, tidak enak kalau kuseret, bukan? Apakah sekarang engkau masih keras kepala dan tidak mau berjalan sendiri?"

Bi Lan adalah seorang anak yang pemberani dan keras hati, akan tetapi di samping itu dia juga seorang anak yang cerdik bukan main. Pikirannya berjalan cepat. Dia sudah melihat untung ruginya. Kalau dia berkeras tidak menaati perintah penculiknya, dia akan tersiksa, terluka dan mungkin akan tewas. Jika begitu tentu dia tidak punya kesempatan lagi untuk membalas semua kejahatan yang telah dilakukan kakek itu.

Sebaliknya, jika dia menaati, selain penyiksaan yang menghina itu tak perlu dia rasakan, juga masih terbuka kesempatan baginya untuk membalas dan kalau mungkin membunuh kakek ini. Sesudah pikiran yang secepat kllat ini bekerja, dia lalu mengatakan keputusan hatinya.

"Baik, aku akan berjalan sendiri."

Ouw Kan tersenyum, merasa menang dan dia lalu membebaskan totokannya sehingga Bi Lan mampu bergerak kembali. Bi Lan maklum bahwa menyerang lagi dengan nekat akan sia-sia belaka. Dia harus menekan kemarahannya dan menahan kesabarannya, menanti terbukanya kesempatan yang baik untuk membalas dendam. Dia lalu bangkit dan merasa betapa bagian belakang tubuhnya nyeri sekali, panas dan pedih sehingga tak tertahankan lagi dia pun menyeringai kesakitan.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner