KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-11


Melihat ini, Ouw Kan yang merasa kagum dan suka sekali melihat anak perempuan yang pemberani dan tahan uji itu mengeluarkan sebuah bungkusan dari sakunya.

"Menghadaplah ke sana, akan kuobati lecet-lecet itu!"'

Bi Lan tidak membantah, segera berdiri membelakangi kakek itu. Sementara itu Ouw Kan membuka bungkusan yang terisi obat bubuk berwarna kuning, lantas menaburkan bubuk kuning itu pada luka-luka di bagian belakang tubuh Bi Lan. Anak itu merasa betapa panas dan pedih di tubuhnya segera hilang terganti rasa dingin dan nyaman.

"Nah, sekarang mari kita lanjutkan perjalanan kita," kata Ouw Kan. Dia melangkah dan Bi Lan berjalan di sampingnya. Sesudah beberapa lamanya berjalan tanpa bicara, Bi Lan lalu bertanya, mengatur agar kemarahan tidak muncul dalam suaranya.

"Engkau ini siapakah, kek?"

Ouw Kan tersenyum sambil mengelus jenggot putihnya yang lebat. Dari suaranya, anak ini sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Sungguh seorang anak yang luar biasa!

"Hemm, mau tahu siapa aku? Aku bukan orang biasa saja. Namaku Ouw Kan, akan tetapi dunia persilatan mengenal aku sebagai Toat-beng Coa-ong!"

"Pantas tongkatmu ular kering!" kata Bi Lan sambil memandang ke arah tongkat yang kini dipegang tangan kanan kakek itu.

"Ha-ha-ha, engkau cerdik. Siapa namamu?"

"Namaku Han Bi Lan, kek."

"Han Bi Lan? Nama yang bagus." Ouw Kan mengangguk-angguk.

Datuk ini adalah seorang yang berwatak aneh dan terkenal kejam bukan main. Dia dapat membunuhi orang tanpa berkedip. Akan tetapi, betapa pun jahatnya, ada juga saatnya dia bersikap seperti seorang manusia biasa yang dapat saja merasa tertarik dan suka kepada seseorang seperti sekarang dia merasa suka sekali kepada anak perempuan yang sudah diculiknya ini. Sikap Bi Lan yang pemberani itu membuat dia kagum dan suka.

"Akan tetapi, kek. Engkau tidak mengenal aku, kenapa sekarang menculikku? Demikian pula dengan nenek Lu-ma, pembantu rumah tangga serta tukang kebun kami, apa salah mereka terhadapmu? Kenapa mereka kau bunuh?"

Dihujani pertanyaan ini, Ouw Kan tertawa. Dia adalah seorang manusia yang tidak pernah menyadari akan kesalahannya. Dia percaya bahwa segala yang dia lakukan adalah benar, tidak jahat, karena semua perbuatannya itu ada alasannya!

Nafsu daya rendah memang menjadikan hati akal pikiran sebagai sarangnya. Melalui hati akal pikiran inilah nafsu setan membisikkan alasan-alasan untuk membenarkan segala perbuatannya yang menyimpang dari kebenaran. Setan itu cerdik bukan main. Dia akan membela semua perbuatan sesat dengan berbagai alasan yang tampaknya masuk akal dan benar!

"Hemm, engkau ingin tahu mengapa aku melakukan penculikan dan pembunuhan itu, Bi Lan? Semua itu untuk menghukum kesalahan yang dilakukan ayah ibumu? Mereka sudah membunuh Pangeran Cu Si dalam pertempuran, maka Sribaginda Raja Kin lalu menyuruh aku untuk membalas dendam atas kematian puteranya."

"Akan tetapi, kenapa aku yang kau culik dan mereka yang kau bunuh? Kami tidak punya kesalahan apa pun!" Bi Lan membantah.

"Kalau ayah ibumu berada di rumah, tentu mereka yang akan kubunuh. Tapi mereka tidak berada di rumah. Yang ada hanya engkau puteri mereka dan orang-orang itu. Karena itu engkau yang kuculik dan mereka kubunuh sebagai pembalasan atas kematian Pangeran Cu Si."

Ketika itu pula terdengar suara derap kaki kuda datang dari belakang. Ouw Kan berhenti melangkah dan menengok. Bi Lan juga memutar tubuh. Mereka melihat seorang laki-laki menunggang kuda datang dari belakang. Ouw Kan segera berdiri menghadang di tengah jalan dan mengangkat tangan kiri ke atas sebagai tanda menghentikan penunggang kuda itu.

Kuda dihentikan, debu mengepul dan pria itu meloncat turun dari atas punggung kudanya. Dia adalah seorang laki-laki kurang lebih empat puluh tahun. Melihat sebatang golok yang terselip di punggungnya, dapat diduga bahwa dia adalah seorang yang siap menghadapi gangguan dengan kekerasan. Seorang tokoh kang-ouw yang mengandalkan ilmu silatnya untuk membela diri. Mukanya bulat, tubuhnya kokoh dan sinar matanya mencorong.

Alisnya berkerut ketika dia memandang kakek yang menghentikannya di tengah jalan itu. "Paman tua, ada keperluan apakah engkau menghadang perjalananku?" tanya laki-laki itu sambil memandang kepada Bi Lan yang berdiri di tepi jalan. "Apakah ada sesuatu yang perlu kubantu?"

"Heh-heh, memang ada yang perlu kau bantu, sobat. Aku sudah tua dan cucuku ini masih kecil. Kami membutuhkan kudamu untuk melanjutkan perjalanan kami, karena itu engkau harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tinggalkan kudamu untuk kami pakai," kata Ouw Kan dengan senyum.

"Dia bohong! Aku bukan cucunya. Dia bukan kakekku, dia menculikku!" mendadak Bi Lan berteriak. Dia melihat sikap gagah laki-laki itu dan mengharapkan pertolongan darinya.

Lelaki itu mengerutkan alisnya semakin dalam sambil menatap kepada Ouw Kan dengan tajam penuh selidik. "Ehh? Benarkah itu, paman tua?"

Kini sikap lembut Ouw Kan lenyap, terganti pandang mata mencorong dan suaranya juga ketus. "Jangan mencampuri urusanku. Berikan saja kudamu itu kepadaku!"

"Hemm, setelah menculik seorang anak perempuan, sekarang engkau hendak merampas kudaku? Orang tua, jangan engkau berani main-main di depanku! Engkau tidak tahu siapa aku? Aku adalah orang yang disebut Hui-liong Sin-to (Go-lok Sakti Naga Terbang)! Sebab itu minggirlah dan jangan ganggu aku lagi. Biarkan aku mengantarkan anak ini kembali ke orang tuanya, barulah aku mau mengampunimu!"

"He-he-he, kalau begitu terpaksa aku harus membunuhmu!" kata Ouw Kan tertawa sambil menggerakkan tongkat ularnya. Tongkat itu meluncur ke arah dada laki-laki itu.

Akan tetapi pria yang mengaku berjuluk Hui-liong Sin-to itu dengan tangkas dan gesitnya telah mengelak ke belakang dan sekali tangan kanannya meraba punggung, tampak sinar berkelebat dan sebatang golok yang amat tajam telah berada di tangan kanannya.

Ouw Kan tidak peduli. Serangan pertamanya yang tadi berhasil dihindarkan lawan sudah membuatnya penasaran dan dia pun menyerang lagi. Kini tongkat ular kobra itu membuat gerakan melayang dan melingkar-lingkar, menyerang ke arah titik-titik jalan darah maut di beberapa bagian tubuh lawannya.

Hui-liong Sin-to terkejut bukan main, mengenal serangan yang amat berbahaya. Dia cepat memutar goloknya, menangkis sambil mengerahkan tenaga sepenuhnya dengan maksud hendak mematahkan tongkat ular kobra kering itu.

"Tranggg...!''

Tampak bunga api berpijar namun bukan tongkat ular itu yang patah, melainkan golok itu yang terpental sehingga hampir saja lepas dari tangan pemegangnya. Laki-laki itu terkejut bukan main. Dia adalah seorang ahli silat yang kenamaan dan tergolong jagoan sehingga telah memperoleh julukan Golok Sakti Naga Terbang. Goloknya amat terkenal dan jarang menemukan tanding. Akan tetapi kali ini berhadapan dengan seorang kakek, tongkat ular kering kakek itu mampu membuat goloknya terpental! Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan sakti.

Akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk berpikir lebih jauh karena tongkat yang sudah berubah menjadi gulungan sinar hitam itu sudah menyambar lagi ke arahnya. Hui-liong Sin-to terpaksa menangkis kembali sambil terhuyung-huyung ke belakang. Ouw Kan menggerakkan tangan kirinya dan dengan telapak tangannya dia mendorong ke arah dada lawan.

"Robohlah!" bentaknya.

Serangkum tenaga dahsyat menyambar. Tubuh orang itu terpental ke belakang kemudian terbanting roboh. Goloknya terlepas dari tangannya dan tubuh itu terkulai lemas. Matanya terbelalak lebar memandang Ouw Kan yang berdiri sambil tersenyum mengejek. Telunjuk tangan kanannya diangkat menuding kemudian mulutnya yang mengeluarkan darah segar bertanya,

"Siapa... siapa... engkau...?"

"Namaku Toat-beng Coa-ong Ouw Kan!" kata Ouw Kan.

Orang itu tampak terkejut sekali. "Toat-beng Coa-ong...? Ahhhh ... mati aku...!"

Dia pun terkulai lagi dan sekali ini diam tak bergerak, tewas seketika karena pukulan Ouw Kan tadi mengandung hawa beracun yang amat dahsyat.

Bi Lan menonton dengan mata terbelalak dan hati merasa ngeri. Sekarang sadarlah anak ini bahwa penculiknya adalah seorang sakti yang amat berbahaya. Tahulah dia bahwa dia tidak mungkin akan dapat terlepas dari cengkeraman kakek ini dengan mempergunakan kekerasan. Dia menahan kebenciannya yang semakin mendalam melihat betapa kakek itu demikian mudahnya membunuh orang, hanya untuk merampas kudanya.

Ouw Kan menghampiri Bi Lan sambil tersenyum, lalu berkata dengan nada bangga. "Hah, orang semacam itu berani melawan aku! Dia mencari mampus sendiri. Hayo, Bi Lan, kita melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda."

Bi Lan tak membantah ketika dia diangkat kemudian didudukkan di atas punggung kuda. Kakek itu melompat dan duduk di belakangnya. Kuda dilarikan meninggalkan tempat itu. Bi Lan menoleh memandang ke arah pemilik kuda yang menggeletak tanpa nyawa di atas tanah dan dia mulai merasa ngeri.

"Bi Lan, kalau engkau bertemu orang lalu mengatakan bahwa aku menculikmu sehingga orang itu menantangku, maka orang itu tentu akan mati di tanganku dan engkaulah yang menyebabkan kematiannya itu," kata Ouw Kan.

Bi Lan merasa ngeri. Kakek ini lihai bukan kepalang dan dia tahu bahwa ucapan kakek itu bukan sekedar gertak kosong belaka.

"Lalu apa yang harus kukatakan kepada orang? Engkau memang menculikku," jawabnya. "Engkau akan membawaku ke mana, kek? Apa yang akan kau lakukan denganku? Kalau engkau hendak membunuhku, kenapa tidak kau lakukan sekarang?"

"Heh-heh-heh, aku suka melihatmu dan sayang kalau engkau dibunuh, Bi Lan. Aku akan membawamu ke utara dan menyerahkanmu kepada Sribaginda Raja Kin yang kematian puteranya. Terserah kepadanya apa yang akan dilakukannya terhadap dirimu."

Bi Lan mengerutkan keningnya. Hatinya merasa khawatir sekali. Raja Kin itu mendendam sakit hati terhadap ayah ibunya yang telah membunuh puteranya dalam perang. Kalau dia terjatuh ke tangan raja itu, tentu akan celaka hidupnya. Raja itu tentu akan melampiaskan dendamnya. Mungkin dia akan dibunuh, atau disiksa. Atau akan disandera dan dijadikan umpan untuk memancing kedatangan ayah ibunya! Ahh, gawat sekali kalau begitu. Akan tetapi dia diam saja.

Siang hari itu panasnya bukan main. Ouw Kan menghentikan kudanya lalu mereka turun dari atas punggung kuda. Setelah menambatkan tali kudanya pada sebatang pohon, Ouw Kan lalu mengajak Bi Lan duduk di bawah pohon yang teduh. Jalan pegunungan itu sunyi sekali.

"Perutku lapar, kita makan dulu," katanya sambil mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi roti kering dan daging kering. "Kita makan seadanya dan minum anggur ini." Kakek itu ternyata juga membawa seguci anggur.

"Aku tidak suka minum anggur. Di sana ada air, aku ingin minum air," kata Bi Lan sambil menunjuk ke arah air yang mengucur dari celah-celah batu padas.

Karena tidak ingin kelaparan dan kehabisan tenaga, Bi Lan makan roti dan daging kering, juga minum air yang ditampung dengan sepasang tangannya. Ouw Kan sendiri makan roti dan daging kering lalu minum anggur sampai habis setengah guci. Dalam keadaan hampir mabuk dia lalu merebahkan diri di atas rumput di bawah pohon itu dan sebentar saja dia sudah tidur mendengkur!

Bi Lan duduk di rumput sambil memandang kakek itu dengan jantung berdebar. Inilah dia saatnya, pikirnya. Saat yang memberi kesempatan baginya untuk meloloskan diri, untuk melarikan diri! Dengan sabar dia menanti sampai dengkur kakek itu terdengar teratur dan panjang-panjang, tanda bahwa tidurnya sudah pulas benar.

Kini dia bangkit berdiri, perlahan-lahan sambil terus mengamati kakek itu. Tak ada tanda-tanda bahwa kakek itu memperhatikannya. Dia memutar tubuhnya, kemudian berjingkat rnelangkah meninggalkan tempat itu. Akan tetapi baru belasan langkah dia berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya seperti ditarik oleh kekuatan yang tak nampak sehingga dia terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di tempatnya yang tadi!

Bi Lan cepat memutar tubuh dan melihat betapa kakek itu masih mendengkur! Ia menjadi amat penasaran. Kembali dia bangkit berdiri dengan hati-hati dan sekarang dia melangkah meninggalkan tempat itu sambil mundur, matanya tetap memandang ke arah kakek yang masih tidur mendengkur.

Setelah mundur belasan langkah, dia melihat kakek yang masih mendengkur itu tiba-tiba menggerakkan tangan ke arahnya dan... kembali ada tenaga yang amat kuat menariknya ke depan. Betapa pun dia berusaha untuk bertahan, tetap saja tubuhnya tertarik kembali ke depan sampai akhirnya dia jatuh terduduk di tempatnya yang tadi, tak jauh dari tubuh kakek yang rebah telentang dan tidur mendengkur itu!

Hati Bi Lan menjadi gemas bukan kepalang. Dan mengertilah dia bahwa kakek sakti itulah yang membuat tubuhnya selalu tertarik kembali. Entah bagaimana, dalam keadaan tidur mendengkur kakek itu dapat mencegahnya melarikan diri! Kemarahan membakar hatinya.

Sekarang inilah kesempatan itu terbuka baginya. Semakin lama dia akan semakin jauh di daerah utara dan akan semakin kecilah harapan untuk dapat meloloskan diri. Kalau dalam keadaan tidur saja kakek ini bisa menghalanginya melarikan diri, maka satu-satunya jalan adalah harus membunuhnya lebih dahulu!

Bi Lan menjadi nekat. Di dekatnya ada seborgkah batu sebesar kepalanya. la mengambil batu itu dan mengangkatnya dengan kedua tangannya, kemudian dia menghampiri Ouw Kan. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya dia membanting batu itu, menimpakannya ke arah muka Ouw Kan yang tidur telentang di atas rumput!


"Wuuuttt...! Bukkkk!"

Sungguh aneh. Kakek itu masih mendengkur, namun ketika batu itu menimpa, kepalanya bergerak ke samping sehingga batu itu menghantam tanah, tidak mengenai mukanya! Bi Lan menjadi penasaran sekali. Diambilnya lagi batu itu lalu ditimpakan lagi ke arah muka. Namun, sampai tiga kali dia mengulang, tetap saja hantamannya itu tak pernah mengenai muka kakek itu.

Bi Lan menjadi penasaran sekali! Untuk ke empat kalinya dia menimpakan batu itu sekuat tenaga, tetapi sekarang ke atas dada Ouw Kan! Sekali ini kakek itu tidak dapat mengelak sehingga batu itu tepat menghantam dadanya.

"Bukkk...!"

Bi Lan terpental sampai tiga meter, seperti dilontarkan tenaga yang amat kuat dan batu itu terlepas dan kedua tangannya, terpental lebih jauh lagi. Tubuh Bi Lan terbanting keras ke atas tanah sehingga pinggulnya terasa nyeri.

Ouw Kan bangkit duduk, menggosok-gosok dua matanya seperti orang baru bangun tidur, lalu memandang kepada Bi Lan dan bangkit berdiri. Bi Lan juga bangkit berdiri walau pun pinggulnya terasa nyeri. Dia maklum bahwa dia tidak mungkin dapat terbebas dari kakek ini. Kesempatan baik tadi telah dia gunakan, akan tetapi ternyata kakek itu seorang yang amat sakti.

Sedangkan dalam keadaan tidur saja kakek itu bisa menggagalkan usahanya menyerang untuk membebaskan diri, apa lagi dalam keadaan sadar. Dan dia dapat membayangkan betapa ngeri nasibnya kalau terjatuh ke dalam tangan Raja Kin yang mendendam kepada ayah ibunya.

"Tidak! Aku tidak mau kau bawa lagi! Walau pun engkau membunuh aku, aku tetap tidak mau ikut denganmu!" teriak Bi Lan dengan nekat.

Ouw Kan tertawa bergelak. Dia merasa semakin suka pada anak yang pemberani, nekat dan tidak takut mati ini. "Ha-ha-ha, Bi Lan. Apa kau kira engkau akan dapat menolak jika aku membawamu pergi?" Dia pun berkemak-kemik membaca mantera dan mengerahkan kekuatan sihirnya, lalu berkata dengan suara yang lembut tapi mengandung wibawa yang kuat sekali. "Bi Lan, anak baik, engkau harus patuh padaku. Ke sinilah dan ikut denganku ke mana pun engkau kubawa pergi!"

Ada sesuatu yang amat kuat mendorong Bi Lan, baik mendorong hatinya mau pun kedua kakinya sehingga dia melangkah maju menghampiri kakek itu. Namun baru tiga langkah dia berjalan, tiba-tiba terdengar suara tawa yang nyaring dan tiba-tiba saja kekuatan yang mendorong Bi Lan itu lenyap.

"Tidak, tidak!" Bi Lan berhenti dan menggeleng kepalanya. "Aku tak sudi ikut denganmu. Engkau kakek jahat, sudah membunuh nenek, pelayan dan tukang kebun kami. Aku benci padamut"

Ouw Kan merasa kaget sekali melihat betapa pengaruh sihirnya atas diri anak itu punah. Dia tahu bahwa suara tawa tadilah yang memunahkan kekuatan sihirnya. Dia merasakan getaran hebat terkandung di dalam suara tawa itu.

"Omitohud! Toat-beng Coa-ong Ouw Kan di mana-mana hanya mendatangkan kekacauan belaka. Anak sekecil ini pun hendak dipaksanya. Uh, sungguh memalukan sekali seorang datuk besar sampai dimaki-maki anak kecil!"

Ouw Kan cepat memutar tubuh ke kanan dan dia melihat kakek itu! Seorang kakek yang berusia sekitar enam puluh tahun, berjubah kuning dengan kotak-kotak merah, kepalanya gundul mengenakan peci kain kuning. Tubuhnya tinggi besar berperut gendut dan bajunya tidak terkancing sehingga dadanya kelihatan. Wajahnya bulat dan semua anggota tubuh kakek ini tampak kebulat-bulatan. Di tangan kanannya terdapat sebatang tongkat panjang berkepala naga.

Tentu saja Ouw Kan menjadi terkejut dan juga marah bukan main. Baru beberapa bulan dia bertemu dengan kakek ini yang bukan lain adalah Jit Kong Lama, pendeta Lama dari Tibet yang amat sakti itu. Pernah dia bersama Ali Ahmed datuk suku Hui itu berhadapan dengan Jit Kong Lama untuk memperebutkan kitab-kitab yang dibawa Tiong Lee Cin-jin, namun dia bersama Ali Ahmed kalah melawan kakek gundul dari Tibet ini.

"Jit Kong Lama!" bentak Ouw Kan marah. "Tidak malukah engkau sebagai seorang datuk besar hendak mencampuri urusan orang lain? Urusanku dengan anak ini sama sekali tak ada sangkui pautnya dengan dirimu, karena itu pergilah dan jangan mengganggu kami!"

"Ha-ha-ha! Ouw Kan, pinceng (aku) tidak sudi mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi pinceng ingin mencampuri urusan anak ini. Bila dia memang suka kau bawa pergi, maka pinceng tidak akan peduli. Akan tetapi kalau dia tidak mau kau bawa pergi, sesudah ada pinceng di sini, engkau tidak boleh memaksanya."

Mendengar ucapan hwesio gundul berjubah aneh itu, Bi Lan cepat berkata dengan suara lantang. "Losuhu yang baik, dia itu orang jahat sekali!" Jari telunjuknya menuding ke arah muka Ouw Kan. "Aku tidak sudi ikut dengan dia!"

Jit Kong Lama kembali tertawa. "Ha-ha-ha-ha, Ouw Kan, engkau telah mendengar sendiri dengan jelas! Anak ini tidak mau ikut denganmu, maka pergilah tinggalkan dia dan jangan menggunakan paksaan!”

Ouw Kan menjadi marah bukan main. Dia amat membutuhkan diri Bi Lan untuk dijadikan bukti keberhasilan tugasnya kepada Raja Kin. Dia tidak berhasil membunuh Han Si Tiong dan Liang Hong Yi, sekarang harus gagal lagi menculik anak mereka. Membunuhi nenek berikut kedua pelayan itu, tentu saja tidak ada artinya bagi pembalasan dendam kematian Pangeran Cu Si.

Akan tetapi dia pun bukan seorang bodoh. Baru beberapa bulan yang silam, bersama Ali Ahmed sekali pun mereka tidak mampu menandingi Jit Kong Lama. Apa lagi sekarang dia harus melawan seorang diri! Dia tidak sebodoh itu untuk mencari penyakit melawan orang yang jauh lebih kuat dari padanya.

“Aku yang membawa anak ini sampai di sini. Kalau dia tidak mau ikut, biar dia mampus saja!" Sesudah berkata demikian, tiba-tiba dengan gerakan cepat sekali tubuhnya sudah melompat ke arah Bi Lan dan tongkat ular kobra itu meluncur deras ke arah kepala anak perempuan itu.

"Trakkk!"

Tongkat itu bertemu ujung tongkat naga di tangan Jit Kong Lama sehingga terpental dan tubuh Ouw Kan agak terhuyung ketika dia terdorong ke belakang.

"Omitohud…! Apa kau kira pinceng ini patung? Anak ini tidak sudi kau bawa, apa lagi kau bunuh! Karena dia tidak mau, pinceng harus membelanya!" Jit Kong Lama melintangkan tongkat kepala naga di depan dadanya.

Ouw Kan memandang dengan mata berapi, akan tetapi dia menahan diri dan tidak berani menyerang. "Jit Kong Lama, kali ini aku mengalah kepadamu. Akan tetapi ingatlah bahwa sekarang aku bertugas sebagai utusan Sribaginda Raja Kin. Campur tanganmu ini berarti engkau telah berdosa terhadap Kerajaan Kin!"

"Ha-ha-ha, ancamanmu itu tidak ada artinya bagi pinceng. Pinceng bukan warga negara Kin, maka pinceng tidak berdosa kepada kerajaan mana pun!"

Sesudah melotot kepada pendeta Lama dan Bi Lan, Ouw Kan lantas memutar tubuhnya, berlari ke arah kuda yang ditambatkan di batang pohon, melepas kendali kuda kemudian melompat ke atas punggung binatang itu dan cepat meninggalkan tempat itu.

Sekarang pendeta Lama itu berdiri berhadapan dengan Bi Lan. Mereka saling pandang dan memperhatikan. Sebagai anak yang cerdik Bi Lan tahu bahwa kakek gundul ini telah menolongnya dan dia harus berterima kasih kepadanya. Maka dia pun maju menghampiri lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Jit Kong Lama. "Losuhu sudah menolong saya dan membebaskan saya dari tangan pembunuh dan penculik itu. Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada losuhu."

Jit Kong Hwesio membungkuk, lalu menggunakan tangan kirinya untuk meraba-raba dan menekan-nekan kepala, kedua pundak dan punggung Bi Lan. Anak itu merasa heran dan tidak enak diraba-raba seperti ku, akan tetapi dia diam saja.

"Bangkitlah, anak baik. Siapa namamu dan di mana tempat tinggalmu?"

Bi Lan bangkit berdiri. "Saya bernama Han Bi Lan dan tinggal di kota raja Hang-chou."

"Omitohud…! Begitu jauhnya dia membawamu? Dari Hang-chou ke sini? Wah, perjalanan dari sini ke Hang-chou dengan berjalan kaki akan makan waktu puluhan hari! Bagaimana engkau akan dapat pulang sendiri, Bi Lan? Dalam perjalanan sejauh itu, tentulah engkau akan bertemu dengan banyak orang jahat. Engkau mungil dan cantik, tentu banyak orang jahat tidak akan melepaskanmu begitu saja."

Mendengar ini, kembali Bi Lan menjatuhkan dirinya berlutut lagi. "Losuhu, mohon losuhu jangan kepalang menolong saya. Kalau losuhu sudi menolong mengantarkan saya pulang ke Hang-chou, pasti saya akan tiba di rumah dengan selamat dan kedua orang tua saya tentu akan berterima kasih sekali kepada losuhu." Bi Lan belum mau menyebutkan nama ayah dan ibunya, karena dia belum mengenal siapa kakek ini sesungguhnya dan dia tidak tahu apakah kakek ini musuh ayah ibunya atau bukan.

"Omltohud... untuk melindungimu maka engkau harus menjadi muridku. Pinceng melihat engkau bertulang baik, pantas sekali menjadi muridku..."

"Teecu suka menjadi murid suhu!" Cepat Bi Lan menyambar tawaran ini.

"Omitohud! Syaratnya tidak ringan untuk menjadi muridku, Bi Lan. Sampai hari ini pinceng belum pernah menerima murid. Kalau engkau memang berjodoh menjadi muridku, engkau harus memenuhi syarat itu."

"Apakah syarat itu, suhu? Teecu (murid) tentu akan bersedia untuk memenuhinya!" kata Bi Lan dengan penuh semangat.

"Ada dua buah syarat yang harus kau penuhi. Pertama, engkau harus mengikuti pinceng selama sepuluh tahun dan selama itu engkau tidak boleh pergi ke mana pun juga, tidak boleh pulang ke rumah orang tuamu. Dan syarat ke dua, sesudah sepuluh tahun menjadi muridku, engkau boleh pergi dan pulang kepada orang tuamu, akan tetapi engkau harus mencari sampai ketemu dan membunuh seorang musuh besarku yang bernama Tiong Lee Cin-jin. Nah, sanggupkah engkau memenuhi kedua syarat itu?"

Bi Lan yang masih berlutut itu tertegun. Syarat ke dua tidak perlu dia ragukan lagi. Siapa pun musuh gurunya, telah menjadi kewajibannya untuk menentang musuh besar gurunya. Akan tetapi syarat pertama itulah yang sangat berat.

Tadi dia mau menjadi murid Lama itu supaya dia dapat cepat diantar pulang. Akan tetapi syarat itu menghendaki agar selama sepuluh tahun dia tidak boleh pulang ke rumah orang tuanya! Dia lalu mempertimbangkan syarat itu.

Bila dia menolak, maka dia harus pulang sendiri, padahal Hang-chou begitu jauh dari sini, perjalanan begitu lama dan hampir bisa dipastikan dia akan celaka di tangan orang-orang jahat di sepanjang perjalanan jauh itu. Bila dia menerima, biar pun selama sepuluh tahun dia berpisah dari orang tuanya, akan tetapi sesudah sepuluh tahun lewat, dia akan dapat bertemu kembali dengan mereka. Selain itu, dia akan mendapatkan ilmu-ilmu yang tinggi dari gurunya.

"Hei, bagaimana ini? Kenapa diam saja? Kalau tidak mau, sudahlah, pinceng mau pergi."

"Mau, suhu! Teecu mau dan sanggup!" teriak Bi Lan cepat

"Benarkah engkau sanggup? Kalau begitu bersumpahlah, disaksikan Langit dan Bumi!"

Semenjak kecil Bi Lan sudah diajar sastra oleh kedua orang tuanya, karena itu dia pernah membaca tentang orang bersumpah. Sambil masih berlutut dia merangkap kedua tangan dan mengangkatnya ke atas, lantas bersumpah dengan suara lantang, "Disaksikan Langit dan Bumi, saya Han Bi Lan bersumpah akan menjadi murid dari suhu... Jit Kong Lama..." Sampai di sini Bi Lan berhenti sejenak lalu menoleh kepada kakek itu, dan Jit Kong Lama menganggukkan kepala membenarkan. "Saya akan menaati semua perintahnya, selama sepuluh tahun tidak akan meninggalkan suhu dan sesudah tamat belajar saya akan pergi mencari dan membunuh musuh besar suhu yang bernama Tiong Lee Cin-jin!"

Jit Kong Lama tertawa sambil mengangguk-angguk dengan gambira sekali. Tadi dia telah meraba dan menekan kepala serta tubuh anak itu dan dia mendapat kenyataan bahwa Bi Lan adalah seorang anak perempuan yang bertulang baik dan sangat berbakat. Dia akan menjadi seorang murid yang baik sekali.

Watak datuk ini memang aneh. Dia tidak ingin tahu siapakah orang tua anak itu. Dia tidak peduli. Yang terpenting baginya adalah anak itu, bukan orang tuanya. Maka dia pun tidak bertanya lagi siapa ayah ibu anak itu dan Bi Lan juga diam saja.

"Mari kita pergi, Bi Lan."

Jit Kong Lama menggandeng tangan anak itu, lalu dia berlari cepat sambil menggandeng. Bi Lan terkejut sekali. Dia merasa tubuhnya seakan melayang karena kadang kala kedua kakinya tidak menginjak tanah. Saking cepatnya mereka meluncur, Bi Lan memejamkan kedua matanya, apa lagi kalau kakek itu membawanya amelompati jurang yang lebar dan dalam.

Jit Kong Lama tidak berani kembali ke Tibet. Dia membawa Bi Lan ke sebuah di antara puncak-puncak yang terpencll di Pegunungan Kun-lun-san. Dusun-dusun di sekitar tempat itu dihuni sedikit penduduk yang bekerja sebagai petani dan mereka menganggap Jit Kong Lama sebagai seorang pendeta yang bertapa di puncak itu, ditemani oleh seorang murid perempuan. Jit Kong Lama dan Bi Lan hidup secara sederhana di puncak itu.

Mulai hari itu dia menggembleng muridnya dengan tekun. Bi Lan juga berlatih dengan rajin sekali. Anak perempuan kecil itu telah memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pendekar wanita agar kelak, selain bisa membalaskan dendam gurunya terhadap musuh besarnya, juga ia ingin mencari Ouw Kan untuk membalaskan kematian neneknya, juga pelayan dan tukang kebun mereka. Cita-cita inilah yang membuat anak itu dapat bertahan dan belajar dengan penuh semangat meski kadang dia merasa amat rindu kepada ayah ibunya…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner