KISAH SI NAGA LANGIT : JILID-12


Kalau tidak diperhatikan dan tidak drasakan, sang waktu melesat dengan amat cepatnya, lebih cepat dari pada apa pun juga. Tanpa terasa bertahun-tahun lewat seolah-olah baru beberapa hari saja. Seorang tua yang mengenang masa kanak-kanaknya, merasa seolah masa itu baru iewat beberapa hari saja, padahal sudah puluhan tahun berlalu. Sebaliknya, kalau diperhatikan dan dirasakan, maka sang waktu merayap lebih lambat dari pada siput sehingga satu hari rasanya seperti satu bulan. Menunggu sesuatu atau seseorang yang terlambat satu jam saja rasanya seperti sudah terlambat satu hari!

Demikianlah, tanpa terasa sepuluh tahun sudah lewat sejak Souw Thian Liong mengikuti Tiong Lee Cin-jin sebagai murid pertapa yang telah berkelana ke barat itu. Tiong Lee Cin-jin mengajak Thian Liong pergi ke Puncak Pelangi, yaitu sebuah di antara banyak puncak di Pegunungan Gobi.

Di puncak yang indah namun sunyi ini Tiong Lee Cin-jin membangun sebuah pondok yang terbuat dari kayu dan barnbu, yang sederhana namun kokoh kuat. Dibantu Thian Liong, dia membersihkan pondok itu dan bekerja mencangkul dengan tekun setiap hari sehingga beberapa bulan kemudian di halaman depan dan kanan kiri pondok terdapat taman yang penuh tanaman bunga beraneka warna, juga di belakang pondok terdapat sebuah kebun yang luas. Dia menanam segala macam sayuran, pohon-pohon buah dan tanaman obat-obatan.

Tiga empat tahun kemudian, karena kebiasaan dan kesukaan Tiong Lee Cin-jin menolong serta mengobati penduduk dusun di sekitar puncak itu yang menderita sakit, dan karena pengobatannya itu selalu berhasil menyembuhkan, maka dia dikenal sebagai Tabib Dewa! Kemudian berdatanganlah para penduduk membawa orang sakit ke Puncak Pelangi untuk minta obat kepada Tabib Dewa. Setelah dibutuhkan oleh banyak orang, Tiong Lee Cin-jin lalu menanam lebih banyak lagi tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat.

Setiap hari Thian Liong digembleng ilmu silat. Anak ini memang rajin sekali, bukan hanya rajin berlatih silat, melainkan juga rajin membantu suhu-nya sehingga dia pun hafal akan semua jenis tanaman obat. Akhirnya Thian Liong juga mempelajari ilmu pengobatan dan suhu-nya yang bijaksana juga mengajarkan ilmu sastera kepadanya.

Demikianlah, setelah lewat sepuluh tahun kini Thian Liong telah menjadi seorang pemuda dewasa yang berusia dua puluh tahun. Bentuk tubuhnya sedang dan tegap, kulitnya putih karena sejak kecil tinggal di puncak gunung. Rambutnya hitam panjang dan lebat, alisnya berbentuk golok, matanya tajam mencorong namun bersinar lembut, hidungnya mancung dan mulutnya selalu membayangkan senyum penuh pengertian dan kesabaran. Mukanya agak bulat tetapi dagunya runcing. Langkahnya tenang dengan tubuh tegak.

Pakaian dan sikapnya yang bersahaja dan rendah hati itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa pemuda ini adalah orang yang sudah memiliki ilmu yang tinggi, yang membuat dia menjadi seorang sakti yang amat lihai. Kerendahan hatinya itu wajar, sudah lahir batin dan mendarah daging, karena nasehat gurunya sudah meresap benar ke dalam jiwanya sebab berulang kali dijelaskan sejak dia pertama kali menjadi muridnya.

"Ingat selalu, Thian Liong. Kita manusia ini hanya merupakan seonggok darah daging dan tulang yang lemah dan tidak bisa apa-apa kalau tidak ada Kekuasaan Tuhan yang bekerja di dalam diri kita. Karena itu ingatlah selalu bahwa apa pun yang dapat kita lakukan dalam hidup ini, baik melalui pikiran, kata-kata dan perbuatan, semua itu hanya mungkin karena kemurahan Tuhan. Tuhanlah yang Maha Kuasa, Maha Pintar, Maha Bisa, Maha Ada, dan Maha Segalanya sejak dulu, sekarang, kelak dan selama-lamanya. Kita ini hanya menjadi alatNya. Maka ingatlah selalu supaya engkau menjadi alat Tuhan yang baik, karena kalau tidak, besar bahayanya onggokan darah daging dan tulang ini akan diperalat oleh iblis."

Nasehat ini sudah meresap di dalam jiwa dan hati sanubari Thian Liong, maka dia selalu merasa bahwa dirinya tidak bisa apa-apa dan kalau pun ada yang dapat dia lakukan, hal itu dapat terjadi karena Kekuasaan Tuhan yang membimbingnya.

Thian Liong mendapat kemajuan pesat dalam ilmu sastra karena gurunya memiliki banyak kitab kuno yang harus dibacanya sampai habis. Kitab pelajaran filsafat dan agama sudah dibacanya semua, dan sering kali Tiong Lee Cin-jin mengajak dia untuk merenungkan dan mempelajari inti pelajaran kitab-kitab itu.

Thian Liong tahu bahwa gurunya condong kepada To-kauw (Agama To) dan pandangan hidupnya banyak dipengaruhi filsafat di dalam kitab To-tek-keng. Akan tetapi gurunya juga tidak mengabaikan ajaran-ajaran dari agama-agama lain. Dia banyak mengambil ajaran-ajaran yang seirama dari agama-agama itu, sambil mengesampingkan sedikit perbedaan yang ada mengenai sejarah, kepercayaan, dan upacara.

"Ketahuilah Thian Liong. Yang kita sebut Thian atau Tuhan Yang Maha Kuasa itu mutlak Maha Ada dan Maha Benar. Apa bila orang saling membicarakan dan mempertentangkan maka akan timbul bentrokan dan perselisihan, karena yang mempertentangkan itu adalah hati akal pikiran kita yang sudah diperalat nafsu. Hati akal pikiran kita terlalu kecil untuk bisa mengukur Keberadaan, Kebesaran, dan KebenaranNya. Hati akal pikiran hanya akan membentuk aku yang selalu minta dibenarkan, aku yang selalu merasa pintar, yang selalu merasa benar sendiri, paling mengerti. Si-aku yang sebenarnya bukan lain adalah nafsu, kuasa iblis. Mana mungkin kebenaran hendak diperebutkan? Memperebutkan kebenaran itu sendiri sudah jelas tidak benar! Semua agama mengajarkan manusia untuk hidup baik dan bermanfaat bagi dunia dan manusia. Semua agama benar adanya karena merupakan wahyu dari Tuhan untuk membimbing manusia supaya tidak tersesat dan tidak melakukan kejahatan. Saat wahyu diturunkan, tentu saja manusia menerimanya disesuaikan dengan jamannya, kebudayaan bangsanya pada waktu itu, dengan tradisinya dan segalanya. Hal ini tentu akan membuat wahyu-wahyu itu tampak berbeda pada lahirnya. Pakaiannya atau bahasanya saja yang berbeda, dan setelah lewat ratusan atau ribuan tahun mungkin pula terjadi perubahan-perubahan dalam bahasa dan penafsirannya. Lalu, kenapa mesti dicari perbedaannya? Kenapa mesti dipertentangkan? Kenapa mesti membenarkan agama kita sendiri dan menyalahkan agama yang lainnya? Tuhan hanya satu. Bahkan satu di antara jutaan ciptaanNya, yaitu matahari, manfaatnya untuk semua manusia di permukaan bumi, apa lagi Tuhan sendiri! Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan semua manusia, tidak peduli berbangsa atau beragama apa pun, bahkan Tuhan bagi semua makhluk, yang kelihatan mau pun yang tidak kelihatan, baik yang bergerak mau pun yang tidak bergerak! Lihatlah sebintik lumut. Demikian kecil tak berarti, namun Kekuasaan Tuhan berada dalam dirinya, karena itu dia hidup!"

"Suhu, semuanya itu telah dapat teecu mengerti. Yang membuat teecu masih belum jelas adalah ucapan suhu dahulu bahwa kita tak akan dapat merasakan bekerjanya Kekuasaan Tuhan dengan jelas, tidak akan dapat mengerti kalau menggunakan hati akal pikiran kita. Lalu untuk mengerti kita harus bagaimana?"

"Hati akal dan pikiran hanya merupakan gudang penyimpan segala macam pengalaman. Dia hanya akan mengetahui dan rnengerti apa yang tersimpan di dalam ingatannya saja. Selebihnya dia tidak tahu apa-apa. Coba kau cari seorang yang belum pernah kau kenal, tidak kau ketahui namanya, tidak kau ketahui di mana tinggalnya, bisakah engkau? Tidak mungkin, bukan? Itu baru mencari seorang manusia! Apa lagi kalau mencari Tuhan dan KekuasaanNya! Bagaimana hati akal pikiran akan dapat menemukannya? Nah, karena itu hentikanlah mencari dengan hati akal pikiran, biarkan hening dan rohmu yang akan dapat berhubungan dengan Tuhan. Tuhan itu ROH adanya, bukan makhluk. Bagaimana melihat kekuasaanNya? Buka saja panca inderamu lalu perhatikan sekelilingmu. Di mana-mana di luar dirimu serta di dalam dirimu, Kekuasaan itu tidak pernah berhenti bekerja! Berkah itu terus mengalir tiada hentinya. Lihatlah betapa jika sebentar saja Kekuasaan itu, atau yang disebut To (Jalan) itu berhenti, akan musnalah alam semesta ini! Matamu dapat melihat, hidungmu dapat mencium, telingamu dapat mendengar, jantungmu selalu berdetik setiap saat, rambutmu dapat tumbuh dan segalanya itu, pekerjaan siapakah? Dapatkah engkau menghentikan tumbuhnya sehelai saja dari rambut di tubuhmu?"

Pembicaraan semacam inilah yang membuat Thian Liong menjadi rendah hati menghadap Tuhan dan menyerahkan diri sepenuhnya dalam bimbingan KekuasaanNya.

Pada pagi hari itu Tiong Lee Cin-jin memanggil Thian Liong. Dia baru saja selesai mencuci peralatan makan setelah melayani gurunya makan pagi. Suhu-nya telah duduk di serambi depan pondok mereka, duduk di atas sebuah bangku bambu. Tiong Lee Cin-jin kelihatan sedang termenung.

Thian Liong menghampiri gurunya, lalu duduk di atas bangku di hadapan kakek itu sambil memandang gurunya. Pagi itu gurunya tampak segar dan sehat walau pun usia-nya telah enam puluh tahun.

Sepasang matanya bersinar tajam penuh wibawa, senyumnya tidak pernah meninggalkan bibirnya. Rambutnya yang sudah dihiasi uban diikat dengan pita kuning. Pakaiannya amat sederhana, hanya kain kuning yang dilibatkan pada tubuhnya. Wajah itu tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya.

Thian Liong tahu bahwa ini adalah hasil dari ketenangan batin yang tidak pernah dilanda permasalahan hidup. Bukan berarti bahwa gurunya tidak pernah menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Sama sekali bukan.

Seperti kata-kata gurunya, manusia hidup tak mungkin terbebas dari pada masalah susah senang selama dia masih mempergunakan pikirannya karena susah senang ini memang permainan pikiran. Apa bila hati akal pikiran tidak bekerja, misalnya di waktu tidur, maka manusia tidak akan lagi merasakan susah atau senang. Gurunya sudah mempunyai batin yang kokoh kuat, tenang bagaikan gunung karang yang tidak tergoyahkan oleh hantaman gelombang suka dan duka.

Gurunya menghadapi semua kejadian yang menimpa dirinya sebagai suatu hal yang wajar saja sehingga dapat menerimanya sambil tersenyum, tidak mempengaruhi perasaan dan batinnya. Tidak ada lagi rugi untung bagi Tiong Lee Cin-jin. Bahkan tidak ada lagi susah senang yang mengikuti batinnya. Semua keadaan diterimanya dengan tenang dan seperti gunung karang menerima gelombang, susah senang lewat begitu saja tanpa bekas.

"Suhu memanggil teccu?'" tanya Thian Liong.

Tiong Lee Cin-jin memandang muridnya dengan sinar mata penuh sayang dan tersenyum. Ada kebanggaan yang sedikit memancar dari sinar matanya. Meski batinnya sudah begitu kuat, bagaimana pun juga tentu saja ada kebanggaan di dalam hati kakek itu.

Selama sepuluh tahun dia menggembleng murid tunggalnya ini dan dia melihat kemajuan yang luar biasa pada diri muridnya ini. Harus dia akui bahwa dia sendiri pada waktu muda tidak memiliki bakat sehebat muridnya ini. Dalam sepuluh tahun Thian Liong hampir dapat menguasai dengan baik semua ilmu yang dia ajarkan. Bukan hanya ilmu silat lahiriah saja, melainkan juga batiniah.

Pemuda itu bisa menghimpun tenaga sakti yang amat kuat. Selain itu batinnya juga kuat, pengetahuannya mendalam mengenai soal kerohanian. Bagaimana pun juga, kebanggaan ini hanya terdorong oleh kepuasan hatinya melihat kemajuan muridnya, sama sekali tidak membuat dia menjadi sombong atau tinggi hati, lebih tepat sebagai perasaan bangga dan puas dari seseorang yang melihat hasil pekerjaannya berbuah baik dan memuaskan.

"Thian Liong, engkau tentu sudah dapat menduga apa maksudku memanggilmu. Apa bila engkau lupa menghitung, aku ingatkan bahwa sudah sepuluh tahun engkau mempelajari ilmu dariku."

Thian Liong menelan ludah untuk menenangkan hatinya yang berdebar-debar. Tentu saja dia mengerti dan masih ingat ucapan gurunya dulu bahwa gurunya akan membimbingnya mempelajari ilmu selama sepuluh tahun.

"Apakah suhu maksudkan bahwa telah tiba saatnya bagi teecu untuk berpisah dari suhu?" tanyanya dengan suara tenang dan sikap biasa saja.

Gurunya mengangguk-angguk. "Benar, Thian Liong. Seperti pepatah dahulu mengatakan bahwa ada waktu berkumpul pasti akan tiba waktu berpisah. Tiada yang abadi di dunia ini dan memang kehidupan ini memerlukan perubahan. Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk saling berpisah, Thian Liong. Engkau harus turun gunung untuk mempraktekkan semua teori pelajaran yang pernah engkau terima dariku. Tanpa diamalkan, apa gunanya semua ilmu yang kau kuasai itu? Tanpa diamalkan maka sia-sia sajalah engkau bersusah payah selama sepuluh tahun mempelajarinya, Selain itu, aku juga akan memberi beberapa tugas untukmu."

"Teecu akan senantiasa menaati semua perintah suhu dan teecu akan selalu ingat akan semua nasehat suhu dan akan melaksanakannya dalam langkah kehidupan teecu. Tugas apakah yang hendak suhu berikan kepada teecu?"

"Tentu engkau masih ingat tentang tugas hidupmu setelah engkau menguasai ilmu yang seiama sepuluh tahun ini kau pelajari dengan tekun di sini. Tugas seorang pendekar yang membela kebenaran dan keadilan, membela mereka yang lemah tertindas dan menentang mereka yang kuat kuasa dan berbuat sewenang-wenang. Terutama sekali engkau jangan lupa untuk berbakti kepada bangsa dan kerajaan Sung, membantu kerajaan menghadapi kemurkaan bangsa Kin. Itu adalah tugas umum bagimu yang bisa kau lakukan sepanjang hidupmu. Aku masih memiliki dua buah tugas untukmu. Pertama, ada beberapa bingkisan kitab yang harus kau serahkan kepada ketua kuil Siauw-lim-pai, ketua partai Kun-lun-pai, dan ketua partai Bu-tong-pai. Kitab-kitab itu ada hubungannya dengan ilmu silat mereka, dapat memperdalam serta mematangkan ilmu mereka. Kemudian sisa kitab-kitab agama dan filsafat agar kau haturkan kepada Sribaginda Kaisar Sung Kao Tsung. Yang terakhir, dan ini penting sekali, engkau harus berusaha untuk menyelamatkan Kerajaan Sung dari pengaruh buruk Perdana Menteri Chin Kui.”

"Apakah kesalahan Perdana Menteri Chin Kui maka teecu harus menentangnya, suhu?"

"Thian Liong, aku belum menceritakan kepadamu mengenai Jenderal Gak Hui, patriot dan pahlawan sejati itu. Ketahuilah, Jenderal Gak berhasil membujuk Sribaginda Kaisar untuk memberi ijin kepadanya melakukan penyerbuan ke utara untuk merampas kembali daerah Sung yang telah dikuasai bangsa Kin. Sribaginda telah memberi ijinnya, lalu Jenderal Gak telah berhasil menyerbu ke utara dan mendapat kemenangan dalam banyak pertempuran. Akan tetapi apakah yang terjadi? Perdana Menteri Chin Kui justru membujuk Kaisar untuk memerintahkan Jenderal Gak Hui agar menghentikan serbuan ke utara dan cepat menarik mundur pasukannya!"

"Akan tetapi mengapa begitu, suhu?"

"Menurut berita rahasia yang sempat kudengar, agaknya antara Perdana Menteri Chin Kui dan Kerajaan Kin terdapat persekutuan rahasia. Karena itulah maka perdana menteri yang khianat itu membujuk kaisar dan karena dia mempunyai pengaruh yang amat besar maka kaisar berhasil dibujuknya.

"Akan tetapi apakah Jenderal Gak mau menarik mundur pasukannya?" tanya Thian Liong penasaran.

"Jenderal Gak adalah seorang panglima yang sangat setia dan jujur, maka apa pun yang diperintahkan kaisar pasti tak akan ditolaknya. Dia mematuhi perintah kaisar dan menarik mundur pasukannya walau pun ditangisi rakyat yang tadinya daerahnya telah dibebaskan dari cengkeraman bangsa Kin. Tentu saja hal itu amat menghancurkan hati Jenderal Gak sehingga dia tidak segera membawa barisannya kembali ke selatan, melainkan menahan sebagian dari barisannya dan membuat perkemahan di perbatasan."

"Kasihan sekali rakyat yang ditinggalkan dan kasihan Jenderal Gak Hui," kata Thian Liong sambil menarik napas panjang. "Kemudian apa yang terjadi selanjutnya, suhu?"

"Kisah selanjutnya sungguh membuat hati menjadi terharu, Thian Liong. Setelah pasukan Jenderal Gak Hui ditarik mundur, pasukan kerajaan Kin lantas melampiaskan dendamnya kepada rakyat yang tadinya menyambut pasukan Sung dengan penuh gembira. Mereka dianggap membantu pasukan Sung. Karena itu setelah mereka ditinggalkan, pasukan Kin lalu menghukum rakyat di wilayah yang telah dibebaskan tetapi kemudian ditinggalkan itu dengan kejam dan sewenang-wenang. Banyak rakyat tidak berdosa yang dibunuh. Para serdadu Kin mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan nafsu mereka dengan alasan untuk menghajar musuh. Mereka merampok, memperkosa dan tidak ada kekejaman yang pantang mereka lakukan."

"Hemm, begitulah kiranya apa bila nafsu sudah menguasai manusia, mengubah manusia menjadi lebih kejam dari pada binatang buas yang tidak mempunyai akal pikiran."

"Benar, Thian Liong. Ketika mendengar laporan ini Jenderal Gak Hui tidak dapat menahan kemarahan hatinya lagi. Dia lupa diri, bahkan juga berani melupakan perintah kaisar yang melarangnya menyerbu ke utara. Dia sendiri lalu memimpin pasukannya dan mengamuk, membasmi dan membunuh banyak sekali pasukan Kerajaan Kin."

"Sungguh seorang panglima yang gagah perkasa dan mencinta bangsanya." Thian Liong memuji dengan kagum.

"Memang begitulah. Akan tetapi akibatnya sungguh menyedihkan, Thian Liong. Perdana Menteri Chin Kui menjadi marah sekali. Dia segera menghasut kaisar, mengatakan bahwa Jenderal Gak Hui telah menentang perintah kaisar, berarti telah memberontak dan pantas dihukum mati."

"Ahh, suhu! Akan tetapi Jenderal Gak Hui yang gagah perkasa itu tentu tidak akan mudah ditangkap. Selain gagah perkasa, dia pun mempunyai pasukan yang amat kuat dan setia, Juga didukung rakyat yang mencintanya," kata Thian Liong penuh harapan,

Gurunya menggeleng-geleng kepala sambil menarik napas panjang. "Kenyataannya tidak demikian, Thian Liong. Jenderal Gak Hui di waktu mudanya pernah disumpah oleh ibunya untuk bersetia sampai mati, kalau perlu berkorban nyawa. Oleh karena itu, ketika Kaisar menjatuhkan hukuman mati kepada Jenderal Gak Hui, dia menerimanya dengan hati rela dan menyerahkan diri biar pun para pendukungnya berusaha keras untuk mencegahnya. Kawan-kawannya terdekat yang bertekad hendak menyelamatkannya dari hukuman mati, malah dibentak dan dimarahi oleh Jenderal Gak Hui sebagai orang-orang yang tidak setia kepada kaisar! Demikianlah, panglima besar yang sangat setia dan patriotik itu, panglima yang benar-benar seorang pahlawan, sudah menemui kematiannya secara menyedihkan, menjadi korban kelicikan Perdana Menteri Chin Kui."

Thian Liong menarik napas panjang. "Ahh, sekarang teecu baru mengerti mengapa suhu menugaskan teecu agar menentang pembesar lalim itu dan menyelamatkan kerajaan dari tangannya yang kotor. Teecu akan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan tugas yang suhu berikan kepada teecu."

"Sekarang kau ambillah peti dari kolong pembaringanku dan bawa peti itu ke mari," kata Tiong Lee Cin-jin.

Thian Liong mengangguk, kemudian bangkit dan berjalan memasuki kamar gurunya. Dari bawah pembaringan gurunya dia mengambil sebuah peti hitam, lalu membawanya keluar dan meletakkannya di depan Tiong Lee Cin-jin.

Tiong Lee Cin-jin membuka peti kayu hitam itu. Ternyata peti itu berisi banyak kitab yang sudah tua. Dia mengeluarkan tiga buah kitab.

"Ini adalah sebuah kitab Sam-jong Cin-keng berisi pelajaran dari Ji-lai-hud. Kitab ini harus kau serahkan kepada ketua Siauw-lim-pai karena kuil Siauw-lim yang berhak memiliki dan merawatnya, juga mempelajari isinya. Yang ke dua ini kitab Kiauw-ta Sin-na dan pelajaran ini sealiran dengan ilmu cengkeraman dari Bu-tong-pai, maka harus kau serahkan kepada ketua Bu-tong-pai. Dan yang ke tiga adalah kitab inti ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat, agar kau serahkan kepada ketua Kun-lun-pai. Dan ini," kakek itu mengeluarkan sebatang pedang dan belasan buah kitab. "Belasan kitab agama dan fllsafat ini harap kau haturkan kepada Sribaginda Kaisar agar dapat menambah pelajaran akhlak para pejabat, ada pun pedang ini, coba lihat nama pedang itu yang terukir pada pangkalnya."

Thian Liong mencabut pedang itu. Pedang itu ternyata tumpul, tidak tajam dan juga tidak runcing! Terbuat dari baja yang berwarna putih gelap seperti kapur. Dia melihat tiga huruf yang terukir di pangkal pedang itu dan setelah membaca tiga huruf itu, mata Thian Liong terbelalak lebar karena keheranan.

Dia membaca namanya sendiri di situ. Thian-liong-kiam (Pedang Naga Langit)! Mengapa pedang itu bernama persis seperti namanya? Dia menyarungkan pedang itu kembali dan memandang kepada gurunya dengan sinar mata mengandung pertanyaan.

Tiong Lee Cin-jin tersenyum, "Begitulah aku dahulu ketika untuk pertama kali mendengar engkau menyebutkan namamu. Seperti engkau sekarang, aku juga terheran-heran sekali. Apa lagi ketika itu, ketika kita pertama kali bertemu, aku memandang ke angkasa melihat awan-awan membentuk seekor naga yang sedang melayang di angkasa. Sungguh suatu kebetuian yang menakjubkan. Aku sudah menemukan pedang yang namanya Thian-liong-kiam, kemudian aku mendengar namamu juga Thian Liong dan melihat Thian-liong (Naga Langit) terbang di angkasa. Sebab itu maka aku mengambil keputusan untuk memberikan pedang ini kepadamu."

"Tetapi untuk apakah pedang ini, suhu? Suhu selalu mengajarkan bahwa semua anggota tubuh kita bisa dimanfaatkan untuk melindungi diri, dan benda apa pun juga yang tampak dapat kita pergunakan untuk rnembantu dan menjadi senjata kita."

"Benar sekali dan kenyataannya memang masih seperti itu, Thian Liong. Tetapi sebelum berjumpa denganmu, pedang ini sudah kutemukan lebih dulu dan benda ini buatan orang sakti, merupakan benda pusaka yang langka. Dan melihat pedang ini tumpul, tidak tajam dan tidak runcing, aku merasa yakin bahwa pembuatnya dahulu tidak mempunyai maksud agar pedang ini dipergunakan untuk melukai atau membunuh orang. Ambillah dan engkau dapat memanfaatkannya bila perlu. Ketahuilah bahwa selain pedang ini terbuat dari batu bintang yang lebih kuat dari pada baja, juga air rendamannya mampu menawarkan segala macam racun."

"Terima kasih, suhu. Kapan teecu harus berangkat?" Di dalam pertanyaan ini terkandung keharuan sebab mengingatkan dia bahwa sebentar lagi dia akan berpisah dari orang yang selama ini bukan saja menjadi gurunya, akan tetapi juga menjadi pengganti orang tuanya, menjadi satu-satunya orang yang menyayang dan disayangnya di dunia ini.

Selain merasa berat untuk berpisah dari orang yang amat dihormati dan disayangnya itu, dengan siapa selama sepuluh tahun dia hidup bersama, juga perasaan iba menyelubungi hatinya mengingat bahwa gurunya yang sudah tua itu akan dia tinggalkan sehingga harus hidup seorang diri, tidak akan ada yang membantu bekerja di kebun, tidak ada orang yang melayaninya lagi. Akan tetapi dengan batinnya yang telah menjadi kokoh kuat Thian Liong dapat menguasai perasaannya sehingga perasaan haru itu tidak kelihatan pada wajahnya dan tidak terdengar pada suaranya.

"Berkemaslah karena engkau harus berangkat hari ini juga. Hari ini cerah, indah dan baik sekali untuk memulai perjalananmu. Bungkus semua kitab ini dalam buntalan kain supaya mudah kau gendong. Jangan lupa bawa semua pakaianmu, juga semua uang penjualan hasil kebun dan sumbangan orang-orang yang berobat itu boleh kau bawa sebagai bekal dalam perjalanan."

"Baik, suhu."

Thian Liong segera berkemas, mengumpulkan semua kitab dan pakaiannya menjadi satu buntalan kain kuning. Pedang Thian-liong-kiam yang bergagang dan bersarung sederhana itu juga dimasukkan ke dalam buntalan, demikian pula uang pemberian suhu-nya. Setelah selesai, dia menggendong buntalan kain kuning di pungungnya lantas menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki suhu-nya.

"Suhu, haruskah teecu berangkat sekarang?"

"Berangkatlah sekarang juga, Thian Liong."

"Suhu, teecu mohon pamit."

"Mendekatlah, Thian Liong. Biarkan aku memelukmu."

Pemuda itu mendekat. Tiong Lee Cin-jin kemudian merangkulnya dan Thian Liong balas merangkul. Dalam rangkulan itu guru dan murid ini dapat merasakan betapa kasih sayang mereka menggetar menjalar di seluruh tubuh mereka, membuat tubuh mereka gemetar.

"Berhati-hatilah dalam perantauan, Thian Liong. Ingatlah selalu kepada Tuhan dan dasari semua tindakanmu dengan penyerahan sepenuhnya atas Kekuasaan Tuhan, waspadalah selalu gerak-gerik lahir batinmu sendiri."

"Akan teecu ingat semua itu, suhu. Harap suhu menjaga diri baik-baik. Selamat tinggal, suhu."

"Selamat jalan, muridku."

Thian Liong bangkit dan melangkah keluar, diikuti pandang mata gurunya. Dia melangkah terus, keluar dari pekarangan sambil beberapa kali menengok dan melihat gurunya berdiri di ambang pintu depan. Thian Liong melihat gurunya tersenyum. Dia pun tersenyum dan seketika rasa sedih serta haru karena perpisahan itu larut dalam senyum. Dia melangkah lebar dan dengan cepat meninggalkan Puncak Pelangi.

Tiong Lee Cin-jin memandang bayangan muridnya sampai lenyap ditelan pepohonan. Dia masih tersenyum, akan tetapi kedua matanya basah. Dia berkejap sehingga ada dua titik air mata yang turun di atas kedua pipinya. Diusapnya air mata itu dengah tangan kanan, kemudian dipandangnya tangan yang basah terkena air mata dan Tiong Lee Cin-jin tiba-tiba tertawa bergelak.

Dia menertawakan ulah nafsu yang mendatangkan iba diri, menertawakan kelemahan itu. Kemudian sambil masih tertawa dia masuk lagi ke dalam rumah, lalu duduk bersila di atas pembaringan dan bernyanyi dengan suara lantang.

'Setelah mengenal keindahan
dengan sendirinya mengenal keburukan.
Setelah tahu akan kebaikan
dengan sendirinya tahu pula akan kejahatan.

Sesungguhnya,
ada dan tiada saling melahirkan
sukar dan mudah saling melengkapi
panjang dan pendek saling mengadakan
tinggi dan rendah saling menunjang sunyi
dan suara saling mengisi dahulu
barulah kemudian saling menyusul.

Itulah sebabnya para bijaksana
bekerja tanpa pamrih mengajar tanpa bicara
segala terjadi tanpa dia mendorongnya tumbuh
tanpa dia ingin memilikinya
berbuat tanpa dia menjadi sandarannya.

Walau berjasa dia tidak menuntut
Justru tidak menuntut maka takkan musnah.
'

Suara Tiong Lee Cin-jin yang menyanyikan ayat-ayat dari kitab To-tek-keng ini perlahan saja, akan tetapi karena suara itu didorong tenaga khikang yang sangat kuat, maka suara itu mengandung getaran kuat sehingga bisa terdengar pula oleh Thian Liong yang sedang melangkah cepat menuruni Puncak Pelangi. Mendengar nyanyian yang sudah dikenalnya itu, Thian Liong tersenyum dan dia mempercepat langkahnya menuruni puncak…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner